• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wawancara Langsung. P: Apa itu Borneo Dayak Forum?

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Wawancara Langsung. P: Apa itu Borneo Dayak Forum?"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Wawancara Langsung Nama: Agustinus Clarus

Pekerjaan: Sekertaris Jendral Borneo Dayak Forum Instansi: Borneo Dayak Forum

Waktu: 19 Juni 2019 Keterangan : P: Penulis

N: Narasumber

P: Apa itu Borneo Dayak Forum ?

N: BDF atau Borneo Dayak Forum merupkan organisasi masyarakat adat Dayak, yang saat ini sudah berstatus CSO atau Civil Society Organization. Untuk menyatukan kembali masyarakat Dayak di seluruh Borneo. Supaya mereka itu sadar bahwa, kami inilah indigenous people of Dayak di pulau Borneo. Dengan harapan untuk membangun rasa solidaritas kembali begitu. Melalui acara – acara cultural event, ada kesenian, begitulah, kerjaan saya tuh untuk mengkomunikasikan kembali Dayak – Dayak ini. Lalu pada tahun kemarin, muncul kembali kesadaran bersama bahwa, marilah kita ketok palu, lagu disepakatilah lagu kebangsaan Dayak. Lalu, salam yang kita buat sekitar 15 tahun lalu kita jadikan salam internasional Dayak dan bunga terung menjadi lambang kepemimpinan Dayak. Dan hari ini memang Dayak sudah menempatkan kata – kata Dayak di dalam nama sub etnik dan etnik mereka. Jadi misalnya, Dayak Bidayuh, Dayak Iban, dulu kan iban bukan Dayak tapi kami tuh bidayuh.

Lalu, kita buatlah acara seperti Rinyuank, sebagai adat dari Dayak Bidayuh, kita buat. Kita buatlah perjalanan-perjalanan kemana – mana, kita travel, tapi isinya untuk mempererat. Lalu disamping itu, saya pikir, setelah saya ke PBB lalu bertemu dengan Mike King namanya, saya tanya how mecanism to register, saya bilang Dayak. Ya, simpel saja lah. Lalu dia buat item – item. Item pertama kalau Dayak ini di sebut sebagai indigenous, tunjukan bahwa Dayak itu masih punya sistem, begitulah. Sistem adat, sistem budaya, sistem apa. Kalau Dayak mengatakan dia masih punya adat, tunjukan begitu. Rumah panjang, orang bidayuh masih hidup di hutan sekarang. Nah, lalu saya buat konfrensi di Sintang kemarin kongres Dayak pertama internasional, lalu kongres budaya di Bengkayang, lalu kemarin puncaknya adalah Kongres Tumenggung Internasional, kami membentuk internasional body, khusus menangani permasalahan – permasalahan adat. Nah, Thadeus terpilih menjadi secretary, untuk melakukan edukasi dan konsolidasi kepada para tumenggung adat. Kami membentuk Dayak Justice Court. Nah, itu nanti dokumen- dokumen penting, semua konferensi-konferensi ini nanti akan saya bawa ke sidang taunan PBB tahun depan. Nah, itu maksudnya, setelah PBB mencatat semuanya dengan baik, kita akan mengajukan satu namanya non-permanent seat indigenous people di bawah Indigenous people commission di United Nations. Nah kalau nanti Dayak sudah di internasional itu kita sudah mempunyai seat, non permanen lah ndak papa. Semua masyarakat Dayak ini akan di lindungi secara internasional. Indigenous right-nya, macam amborigin, seperti di Colombia, dan Filipina. Nah, itulah cerita om, makanya tidak terlalu terbuka. Terutama setelah saya Sekjen dan si Jeffrey Kitingan menjadi presiden, kami berdua ini sudah di akui sebagai politikus yang sedikit melenceng dari pemerintah yang ada. Ini saya terang-

(2)

terangan, bahwa presiden saya tuh pemimpin partai pembangkang. Kita di sebut membangkang karena sejak pembentukan ini kita memang menentang pemerintah yang tidak menghargai hak-hak orang asli.

P: Lalu hingga sekarang apakah belum ada peraturan khusus, atau peraturan daerah yang melindungi hak – hak orang Dayak?

N: Di Indonesia, kondisi lebih baik. Dari kami berjuang melalui bersama AMAN, bersama suku – suku indogenous di Indonesia, macam badui, bali, toraja dan seterusnya dan seterusnya. Sehingga 4 tahun lalu kita di ketok palu di Mahkamah Konstitusi bahwa hutan adat itu bukan hutan negara. Dan mulailah saya dengan beberapa bupati itu untuk mencatat hutan adat dan kita ajukan kepemerintah. Maka itu sudah terbitkan, di beberapa kabupaten ini sudah resmi itu hutan adat Batang Tarang, muara taih itu. Kemarin saya dengan gubernur kesana. Jadi di Indonesia kondisi hari ini melihat kami ini berjuang secara internasional cepat meratifikasi keputusan itu menjadi realisasi hutan adat – hutan adat, hutan sosial – hutan sosial,

bahkan undang – undang kehutanan sudah berubah tahun lalu. Jadi, jika kalian cari di google itu memang jarang berita dari kami, karna saya selaku sekjen memang melarang. Jadi tadi di awal om bilang, jika kamu mau menulis tentang BDF, bukannya om keberatan, tapi nantinya kamu akan menemukan masalah. Tapi jika kamu mau bahas masalah budaya, ada namanya itu BHF, Borneo Heritage Fondation. Nah ini sebenarnya yang boleh di explore lah atau diadakan riset. Yang ini tidak ada masalah dari pemerintah jadi aman.

P: Sebenarnya yang saya lihat disini adalah bagaimana strategi yang di lakukan BDF untuk mengadvokasi masyarakat Dayak. Dari situ berarti bisa kita lihat bahwa pemerintah tidak memberikan perhatian khusus pada masyarakat adat, lalu apa pentingnya sih masyarakat adat ini untuk pemerintah?

N: Oh, sebenarnya indonesia ini agak, bukan dia tidak, tapi mereka agak khawatir juga jika Dayak ini akan menjadi sangat kuat untuk menjadi apa namanya, menjadi basis posisi, bargaining posisi di pemerintah republik. Nanti dia akan kewalahan jika Dayak minta apa nanti ndak bisa di tunda – tunda lagi. Apalagi saat ini yang terbenam di dalam anak – anak muda kita adalah untuk mengembalikan nama Pulau Dayak. Tapi untuk memahami BDF secara seutuhnya kamu harus aktif secara penuh mengikuti event kami. Sehingga, nanti disana kamu bisa bertemu dengan orang – orang Dayak dari Sabah, Sawarak dan dari kalimantan lainnya. P: Selain untuk mengadvokasi masyarakat adat itu sendiri, kontribusi apa yang BDF berikan kepada negara – negara seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei?

N: Kami tidak ada yang lain, advokasi kami justru di sistem ini melalui bargaining power position. Jadi kami memperkuat diri, dan pemerintah juga dengan caranya sendiri, tapi akhirnya menimbulkan kedekatan, setelah menimbulkan kedekatan, kami akan mencari sendiri solusi bersamanya, teknik itu kita gunakan, jadi kita tidak bertumpu pada pemerintah jadi kita coba sama sama, tidak. Jadi kami masing- masing memperkuat diri. Setelah kami punya power,

(3)

lalu kita melihat, mana enpowering terbesar kami terhadap politik lah. Seperti di Malaysia nih, masih penuh dengan sepirit. Maka waktu kami bertemu, semua panglima – panglima yang kami bawa bertanya siapa kamu, jawabannya saya Dayak. Dimana kamu, saya disini di Borneo. Dengan yel-yel macam itu, government akan melihat.

Jadi jika hari ini Dayak ini mengatakan ini pulau Dayak, harusnya ndak ada orang yang berani bantah itu. Karena ribuan manusia di sabah, Sarawak, Kalimantan itu, sudah sangat bersatu. Jadi sekarang pemerintah, sudah banyak kawan saya pembangkang yang sudah di tarik ke government sekarang. Ada satu teman saya yang paling vokal di Kuching, kepala penasehat perfilman, pertelevisian dan radio republik federal malaysia. Karena televisi juga membahayakan kan. Lalu para aktor, aktris yang berada di bawah kepemimpinan saya, ditarik supaya film dokumenter-dokumenter Dayak, untuk di jadwalkan, di tayangkan secara teratur di televisi, dan sudah terjadi. Dan ini menjadi salah satu cara kita. Saya bilang mereka sudah terjebak dengan cara kita. Kalau dari kemarin kita ajak mereka bergaining, pasti kita nda dapat apa-apa. Lalu ada lawyer saya paling hebat namanya, Dr. Paul Raja sebentar lagi akan diangkat menjadi salah satu pengganti Kapil Singh, yang merupakan pengacara handal pemerintah. Jadi teknik kita melalui, apa namanya, enpowering masing- masing. Lalu akan mempertentangkan, maksudnya nanti masing-masing pihak menyadari, jalan keluarnya yang mana terhadap hak – hak masyarakat di malaysia.

Di Malaysia ada namanya NCR, Native courtnya di perkuat di malaysia. Makanya sekarang di Malaysia semua terkejut, sudah ada native court tapi tidak di manfaatkan. Sudah ada pengadilan anak negri tapi tidak di manfaatkan. Sekarang terkaget – kaget semua, mulai dari mereka menyuarakan sudah ada indigenous people. Di Indonesia pun pemerintah, mulailah ada hutan adat, ada hutan sosial. Lalu organisasi kita kan di, kalau di dunia itukan, saya ni sebenarnya yang tertinggi dengan Dr. jefrey Kitinggan itu. Saya yang paling tinggi, apa namanya, BDFI. Tapi namanya nda ada internasionalnya disitu jadi Borneo Dayak Forum saja sebenarnya, dalam aktenya. Lalu di nasional Indonesia itu ada MADN, Majelis Adat Dayak Nasional. Di dalamnya ada dewan adat dewan adat hingga tingkat kecamatan. Kalau di Malaysia-nya saya adalah BDF di bawahnya ada Sarawak Dayak United Union, SDNU namanya. Semua organisasi ini beda – beda namanya, tapi mereka semua ini tetap dalam satu payung BDF ini. Di Brunei sendiri belum berani meraka. Jadi masih hanya bergerak secara individu. Karena di Brunei kan keras. Jadi kalau mereka ketauan masuk organisasi kami, mereka akan di usir dari Brunei dan dipecat dari pejabat disana. Kita bisa email, bisa jadi peserta, tapi tidak bisa gabung dalam organisasi kami.

Disini kami ingin melakukan enpowering, suatu hari nanti agar menjadi Dayak nations. Jika sudah nations ini kita sudah berbicara politik. Sebenarnya BDF ini sudah seperti negara dengan adanya fungsi di dalamnya. Seperti kami ada departemen fungsi – fungsi khusus, yang diketuai oleh pak Kimha, untuk mengurusi kemampuan – kemampuas istimewa yang dimiliki orang Dayak. Misal kebal, gitu- gitu lah. Sehingga kalau kami mau bawa panglima tinggal bilang pak Kimha aja, karna panglima-panglima itu ada dibawah beliau. Jadi jika ditanya apa yang hubungan kepemerintah, kami justru sebagai jawaban tentang ketidak adilan pemerintah terhadap indigenous people, itu saja. Jadi gini, saat ini pemerintah belum mengakui kita sebagai indigenous people. Jadi, setelah kita meregister diri kita sebagai indigenous people di united nations, kita akan mendapatkan pengakuan yang lebih kuat. Makanya sekarang anak muda yang dalam pertambangan, semua ada data sama saya untuk persiapan mungkin suatu hari nanti

(4)

akan dimanfaatkan. Makanya saya sekarang pergi ke Eropan untuk bertemu dengan teman-teman dan memnbangun jejaring internasional di Swedia dengan Swedish, apa namanya, konvervasi alam, Swedish for Nature.

Tiga bulan yang lalu saya berangkat ke Ghana, untuk bicara tema-tema yang mungkin menyangkut dengan SGDs. Untuk mencapai SDGs itukan, sebenarnya semua stakeholder dan tidak terlupa pula NGO- NGO dan CSO-CSO berlomba – lomba untuk menyelesaikan SDGs itu tadi, dan makanya saya dan BDF termasuk diundang kepertemuan di Ghana. Nah saya bahkan mendapatkan kesempatan pertama untuk presentasi apa yang bisa disebut dengan Sustainable develop ini di Dayak. Saya bilang 70% Dayak belum bisa menjadi objek sustainable, walau sebenarnyapun Dayak tetap sustainable, bicara apa saja Dayak tetap sustainable saya bilang, sebab Dayak belum over population, dia punya alam masih mendukung kehidupan. Itulah mereka terkaget. Nah mereka kasi saya proyek, 6 bulan lalu. Itulah jadi jejaring internasionalnya bersama teman – teman di, saya agak segan menyebutnya, karena di Filipina mereka melawan Dutertes. Ada Belfery Loncit, ada Toni Tujan yang memang betul – betul aktivis yang didanai oleh internasional NGO juga, yang memang di jadikan PBB seagai alat checking balance terhadap, PBB memberi program kepada pemerintah, tetapi mereka juga mengkontrol dengan teman-teman disana. PBB juga cukup pintar sekarang, tidak mau menyerahkan begitu saja. Ada teman – teman yang mengkontrol. Kalau liat SDGs ni kan semua aspek dimasukin semua, di tanya sustainablenya seperti apa, kalau kata PBB kalau masyarakat tidak kembali kepada sistem pemerintah tradisional maka bisa akan mati. Sebab sekarang terbukti seperti Meksiko, seperti orang – orang indiana. Semua dikembali ke sistem ini seperti orang Aborigin, permasalahan malah hilang. Tidak seperti orang – orang Meksiko. Jadi PBB melihat sistem indigenous people, sistem tradisional political ini, boleh sebahgai jawaban terhadap SDGs begitu. Makanya kita mendapatkan perhatian dari PBB gerakan- gerakan ini. Jadi kita tidak datang kepemerintah mau menselaraskan tidak, kita mau sendiri berjalan dengan dukungan internasional dengan membangun relasi yang sangat banyak terhadap semua orang yang sama visi misi, membangun indigeous people dan disini kami juga tidak frantoal. Karena itu staknan dalam suatu aspek pemikiran maka satu-satunya jalan keluar adalah diskusi saja. Maka satu yang paling penting, kami juga bekerjasama dengan greetpeace. Karena informasi dari sayalah makanya greenpeace berani menahan sawit sinar mas itulah karena mengambil sebagian hutan adat. Makanya di kampung Jemongko, mulai tahun depan sudah kita jadikan sebagai proyek pembangunan penanaman padi dari PBB. Saya hitung sekitar 7000 hektar lah tanah itu. Kita juga sudah pikirkan sistem irigasinya itu. Karena persoalan 30 tahun kedepan kalau laporan-laporan SDGs itu kita baca, berbahaya. jadi kesimpulannya BDF adalah patner bukan lawan, sebagai patenr kita harus berpatner kita harus memiliki label kekuatan yang sama. Karena kalau berteman dengan berbeda label, berpatner dengan label yang berbeda label maka akan ada dominasi. Ketergantungan, berbicara ketergantungan itu berbahaya.

Berbicara uang, kami juga sudah ada funding. Funding 60% pribadi dari toko – toko Dayak yang sundah punya ekonomi yang bagus, 40% dari NGO-NGO luar yang peduli terhadap indigenous people, dan yang paling banyak dari Swedia. Swedia sampai 28% dari Swedia. Mungkin karena negara sosialis, macam eropa timur, Jerman, bantu kita. Tapi semua ini sudah emoney, ewallet semua jadi tidak dapat di kontrol, kita pake hp aja kalau minta uang.

(5)

Apalagi bitcoin, bisa dimana-mana bisa kita ambil. Di indonesia kita cuma di Bali bisa di ambil. Semua – semua pakai hp aja hari ini.

Bahkan kita mau bicara soal kalau BDF betul-betul sudah register, kita berencana untuk membeli blogchain dari sebuah satelit. Khusus blogchain indigenous peoloe. Bagaimana orang yang tidak memenuhi kodefikasi kita tidak dapat mengakses blogchain itu. Misal pemerintah mau akses ke blogchain kita, terus tidak memenuhi kodefikasi kita mereka juga tidak bisa akses. Misal masyarakat adat Bali, terus mereka mau akses, dan sesuai dengan database kita, maka dia bisa akses ke data kita. jadi harus bayar, karena blogchain ini sekarang menjadi situs yang paling mahal didunia.

P: Lalu, siapa saja aktor-aktor yang terlibat dalam proses advokasi ini?

N: Dari dulu kalau saya itung-itung kita ini ada 30an orang lah ya, man behind everything. Jadi aktor utamanya Dato Jefrey Kitingan, lalu saya Secgen. Saya nanti bisa bagi structure nama-nama aktor ini. Kami memang mau mengatakan kami berjuang secara manusia, bukan berjuang untuk menghancurkan orang lain. Proyek kami yang peling besar itu membesirkan sungai di seluruh Borneo. Kami ingin mengembalikan kefungsi yang sebenarnya. Kapuas, Mahakam semuanya lah. Agar ini dapat kembali kelingkungan yang asri. Disitulah kemengangan kita ketika orang – orang dapat menikmati air yang bersih dan tidak bau.

P: Apakah ada tahapan – tahapan atau target – target tertentu dalam kurun waktu tertentu yang di buat oleh BDFI ?

N: Sedikit-sedikit sudah kita ajak ngumpul. Misal kalau ada anak – anak muda Dayak kumpul-kumpul dirumah adat, misal tema ngopi-ngopi. Terus saya datang, 5 – 10 menit pasti saya cerita tentang BDF ini. Untuk youth sendiri itu ada Atama. Kalau Yoana Kitingan itu Women. Adrianus itu sebagai deputi presiden, di bawah jefrey. Lalau, dimasing-masing negara ini ada perwakilannya mulai indonesia. Kami memang tidak mau betul-betul terbuka, sampai kami benar-benar resmi di PBB. Yang sudah ada perwakilan Atama disana. Karena kalau terlalu terbuka berbaya, apa itu BDF gitu ya. Tapi kalau googling nama saya akan cukup banyak informasi yang keluar tentang BDF. Mungkin tahun 2007 itu banyak, ketika

amborigin memperjuangkan hak nya sebagai indigenous people. Saya juga diundang itu sebagai pembicara di Australi.

P: Apakah ada pelibatan media khusus?

N: Belum ada, kami memang tidak ada media khusus.

P: Lalu, bagaimana cara BDF dalam menyebarluaskan informasi dalam melakukan diadvokasi ini? Karena seperti yang kita tau, jika melihat konteks Dayak saja, banyak masyarakat Dayak yang hidup di daerah – daerah terpencil.

N: Cara kami begini, masyarkat Dayak ini kan masih hidup, walaupun kadang kita lihat tidak ada, tapi masyarakat Dayak ini masih sangat tergantung pada pemimpinnya. Memang kita tidak

(6)

banyak melibatkan orang, jadi kadang-kadang kita hanya melibatkan beberapa tokoh tapi nantikan misal dia udah pulang kemudian mereka akan menyebarkan informasikan. Nah untuk masalah bahasa, kita lihat sebenarnya bahasa Dayak ini hanya beda-beda logat saja. Tapi hanya 10 yang benar-benar berbeda. Tapi ketika kita bertemu seluru borneo, bahasannya itu mirip- mirip. Kesulitanya, belum banyak tokoh yang mau menerima, pemikiran kami. Pepatan kami itu kan, one island one voice, one island, one vision. Karena masih banyak yang menyadari borneo ya borneo, kalimantan ya kalimantan. Misalnya disini ketika saya mau ngadain kegiatan, MADN tidak menyokong, dan DAD pun tidak mendukung. Ada orang DAD yang tidak mau ikut, karena mereka bilang nanti suatu hari ini akan menjadi makar, ada banyak yang bilang. Padahal MADN itu dulu saya yang juga yang membentuk. Kesulitan selanjutnya dana, dana juga sangat sulit, kalau kita mau ada acara seperti kemarin, sebagaian kita mengumpulkan uang dari peserta, sebagian kita kumpulkan dari teman-teman NGO yang lain. Kalau kongres Dayak pertama kemarin, saya kemarin menghabiskan sekitar 3M di Pontianak, tapi itu dibantu oleh perusahaan Boksit China yang di Kendawang sana, dan sebagaian lagi dibantu Sinar Mas dan wilmar. Macam itulah, sebenarnya kalau kita mau bargaining-bergaining sedikit, banyak ssebenarnya sumber dana. Tapi saya kan disini tidak mau nanti orang bilang menjual Dayak itu lah, minta – minta, apalagi kata – kata negatif, melacur seperti itu lah. Kesulitan lain, yang ke empat adalah politik negara, karena ini tidak gampang. Cuma kitapun tidak kalah strategi, kita pun siapkan intel juga, untuk spying, itu kesulitannya.

P: Bagaimana cara agar masyarakat ini sadar dengan kesamaan identitas ini ?

N: Itu yang sangat mudah, tidak perlu teknik, karena saya percaya bahwa sebetulnya kita ini memang satu keturunan. Pas kita ketemu itu ya sama sebenarnya. Kita ketmu dalam bahasa yang sama. Nda ada cara yang saya tawarkan, tapi melalui mempertemukan mereka dan membuat mereka berkomunikasi satu sama lain. Dan disini tetap akan bergerak grass root dululah, karena memang tidak ada publikasi. lalu kebanyakan kita bergerak dalam bidang kebudayaan dan olahraga. Lalu kalau mau dalam bidang ekonomi, belum lah kita. Tapi cita-cita kita masyarakat Dayak ini juga bisa terlibat dalam aktivitas ekspor impor. Dimana masyarakat adat Dayak langsung menjual hasil dari ladang mereka. Kita juga akan menerapkan sistem barter, saling tukar menukar barang seperti itu. Dengan market tradisional Dayak ini adalah sebagai manifestasi dari sistem perdagangan Dayak, seperti itu.

(7)

Wawancara Via Telepon Nama: Thadeus Yus

Pekerjaan: Ketua Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat dan Sekertaris Jendral International Dayak Justice Congress

Instansi: Dewan Adat Dayak dan Borneo Dayak Forum Waktu: Kamis, 7 November 2019. Pukul, 18.01

Keterangan : P: Penulis N: Narasumber

P: Saya ingin tau om, sebenarnya bagaimana sih sejarah pembentukan BDF ?

N: Ini, dulukan kitakan berawal dari pembentukan dewan adat Dayak. Pada tahun 2006, kebetulan om terpilih menjadi ketua dewan adat Dayak ini. Kemudian, pada tahun 2007, kami mengadakan musyawarat adat Dayak tapi untuk seluruh kalimantan yang dilaksakan di Pontianak. Pada 2007 itu, kami ada MusDat se Kalimantan, dewan adat Dayak kalimantan namanya, atau disingkat dengan DAD Kalimantan. Nah lalu, mengundang teman – teman dari Sarawak. Lalu, Sarawak mengirimkan perwakilan organisasi mereka yang namanya Sarawak Dayak National Union yang disingkat SDNU dan mereka datang. Nah, sejak itulah lalu kenallah om pada waktu itu sebagai Ketua dan Sekertarisnya yang pada waktu itu diutus. Sejak itulah kita kontak-kontakan, dan akhirnya kita sering ada kunjungan dan segala macam. Hingga akhirnya kita terfikir bahwa kita ini adalah bagian, maksudnya satu rumput gitukan. Satu rumpun sesama Dayak tapi kan berbeda dalam hal politik, karena kita dipisahkan oleh garis politik ya kan.

Garis politik memisahkan kita, tapi secara etnisitas kita satu. Satu rumpun. Sebagai contoh misalnya, kita menyadari bahwa perbatasan itu kan di wilayah kalimantan indonesia dan wilayah borneo mereka kan, masih satu keluarga kan. Orang Bidayuh sama Bidayuh Iban di Sarawak ya sama. Lalu, mereka juga banyak belajar dari kita, karena di Kalimantan itu persatuan orang-orang kita cukup kuat ya, dengan label Dayak. Nahkan di Malaysia mereka, kami orang Iban, kami orang Bidayuh, kami orang Hulu, kami orang apa – apa gitu. Jadi, mereka tidak menggunakan label Dayak. Nah setelah mereka berkunjung beberapa kali, kita bertemu segala macam. Lalu, mereka pun punya kesadaran bahwa kita ini Dayak gitu kan. Barulah mereka mulai menyatakan diri disana bahwa mereka juga Dayak, Dayak iban, Dayak ini ini. Lalu kemudian, pasti kita perlu membentuk sebuah kerjasama kan. Kita perlu kerjasama budaya, kalau Gawai mereka kita datang, dan kalau kita undang mereka datang, sehingga terjadilah komunikasi yang baik. Sampai akhirnya kita berfikir kita perlu untuk membentuk satu lembaga bersama, lemabaga yang menaungi budaya yang sama tadi itu.

Tapi tetap kita dengan garis politik yang berbeda, sehingga kita buat lah, Borneo Dayak Forum. Itu adalah lembaga yang mempersatukan orang- orang Dayak dalam etnisitas ya. Se-pulau kalimantan, kita merasa bahwa kita ini satu rumpun satu etnis. Hanya kita dibedakan dengan batas politik. Tapi kan tidak menghilangkan kalau kita ini satu rumpun, satu nenek moyang, sehingga kita juga berfikir bahwa Dayak sana dan Dayak sini menyadari bahwa kita ini adalah indigenous people, penduduk asli kalimantan. Sehingga kita menganggap kitalah orang asli. Indigenous people of Borneo. Nah, oleh karena itu, timbulah keinginan kita untuk mendaftarkan orang Dayak yang ada di kalimantan itu ke PBB, supaya di akui sebagai

(8)

Indigenous. Kan ada konsesi mengenai Indigenous people tu kan. Sehingga kita ingin, kita juga diakui sebagai Indigineous People of Borneo. Tapi jika berbicara tentang Indigenous kan bukan hanya orang Dayak di Indonesia saja kan, tapi seluruh pulau kalimantan. Misal kita hanya indonesia mendaftar berarti kita hanay Indigenous di Indonesia, padahal di Malaysia juga ada Dayak. Sehingga bagaimana kita berfikir, kita satukan saja mendaftar Dayak sebagai etnis. Tidak ada beda Dayak malaysia, Dayak indonesia. Dayak sebuah kumpulan etnis, kita daftarkan sebagai indegnous people. Itulah tujuan kita agar kita di akui. Sehingga hak – hak kita sebagai indigenous people juga di akui oleh negara nantinya. Oleh negara masing – masing lebih tepatnya. Di Malaysia mereka di akui oleh pemerintah malaysia, di Indonesia juga diakui hak – hak mereka. Karena kita sudah mendaftarkan diri sebagai indigenous people di PBB itu dengan hak-hak yang berlaku, dengan ketentuan – ketentuan yang berlaku di indigenous people itu.

P: Berarti sampai sekarang, sudah ada legal framework untuk di PBB-nya ya om BDF ini ? N: Belum. Kita kan ya memang, sejak tahun 2010, kita sudah mulai itu punya gagasan. Lalu, kita beberapa kali pertemuan. Misalnya bulan Mei 2015, kita ada musyawarah adat Dayak nasional (MADN). Karena di kalimantan itu kita punya DAD, kita punya MAD yang sifatnya nasional. Yang tadinya dari dewan adat Dayak kalimantan, kita ubah namanya menjadi Majelis Adat Dayak Nasional. Kemudian, MADN itu mengadakan Musyawarah pada Mei 2015 di Palagkaraya. Di undang jugalah teman – teman dari SDNU, dari berbagai lembaga adat yang ada di Sarawak. Jadi mereka datang, jadilah BDF itu sebagai hasil. Kebetulan pada saat itu, presiden BDF itu, bapak Dr. Jefry Kitingan.jadi, waktu itu juga kita menyepakati bagaimana supaya ada kontribusi dari masing – masing daerah. Karena, untuk mendata kan ada biaya, termasuk biaya pengiriman utusan untuk ke PBB, perlu biaya. Itu yang sampai hari ini belum terkumpul. Karena di kami kan belum ada tokoh yang cukup kuat secara ekonomi yang bisa membiayai itu gitu kan.

P: Tapi, yang saya lihat bapak Atama Katama itu telah menjadi perwakilan BDF di PBB itu bagaimana om ?

N: Atama Katama itu, tadinya kan dia sebenarnya, itu Youth nya dia. Dia perwakilan pemuda Indigenous di PBB. Dia pernah menjabat sebagai ketua, tapi dari segi pemuda di PBB gitu kan. Setelah itu beralih, sekaligus juga, karena dia punya kedudukan disana dan punya kantor. Lalu, kita percayakan kepada dia untuk, karena dia juga sebagai pengurus BDF ini disitu.

P: Berarti awalnya dia bukan pengurus BDF yang di kirim, tetapi dia memang sudah berada PBB ?

N: Iya, jadi dia pemuda indigenous lah. Sedunia itu. Nanti untuk lebih detailnya bisa langsung tanyakan ke dia, nanti bisa kontak dia nanti. Bagaimana posisi dia bisa masuk ke pBB. Dia dulu pejabat apa – apa gitu kan. Dulu sudah habis, lalu skrng dia punya jabatan lagi saya tidak ingat persis. Tapi, nanti bisa kontak dia. Nah, akses dia yang begitu lapang ke PBB itu juga di manfaatkan oleh BDF untuk

(9)

sekaligus membantu BDF untuk memperlancar apa, persiapan dan segala macamnya. P: Lalu, untuk SK organisasi BDF itu sendiri apakah sekarang sudah ada om ?

N: SK nya ada-lah, Cuma saya ga pegang. Tingkatan nya itu sudah internasional. Tapi ada deputi – deputi di setiap negara. Dulu deputi untuk Indonesia, Adrianus. Lalu ada perwakilan setiap provinsi. Misal saya, adalah representasi untuk Kalimantan Barat. Nanti bisa kontak Agus lah, dia tau persis, karena dia pegang dokumennya.

P: Terus begini om, kan BDF itu sebagai organisasi advokasi orang Dayak, bisa di bilang seperti itu. Nah, sebenarnya apa sih yang di advokasi oleh BDF ini om?

N: Ya, tadikan pengakuan diri sebagai indigenous people serta hak – hak nya. P: Hak apa aja itu om?

N: Ya, hak – hak sosial budaya, hak kita terhadap sumber daya alam. Yang selama ini kan tidak di akui. Tanah – tanah kita itu kan diakui secara adat, oleh pemerintah dianggap tidak, karena tidak punya sertifikat segala macam gitu – gitu kan. Lalu hak kita terhadap sumber daya hutan, kita punya hutan adat segala macam, tidak diakui. Yang akhirnyakan keluar putusan MK itu. Bahwa, dulu hutan adat itu dianggap hutan negara. Dibuat lah oleh para Ngo itu, termasuk AMAN segala macam. Sampai akhirnya keluar keputusan bahwa hutan adat itu di keluarkan dari hutan negara, bukan sebagai sebagai hutan negara. Lalu hutan adat adalah hutan negara, berartikan negara punya wewenang untuk menggunakan hutan adat itu. Nah, sekarang sudah tidak, bagian hutan adat sudah terpisah, dan tidak menjadi bagian dari hutan negara. Sehingga perlu ada pengakuan lebih dalam terhadap itu. Maka sekarang mulailah di Kalimantan itu sudah lahir hutan – hutan adat. Seperti yang baru di resmikan di Batang Tarang itu, hutan adat bukit Tiongkandang, lalu ada lagi dimana gitu, di beberapa tempat. Dan sekarang, banyak di ajukan karena tadi, ya itulah, itu sebenarnya memang sudah menjadi hutan adat masyarakat gitu.

Minggu, 10 November 2019. Pukul, 20.55

P: Posisi BDF di masyarakat adat itu seperti apa sih om? Apakah BDF ini sudah diketahui oleh masyarakat Dayak seluruhnya atau seperti apa?

N: Kalau masyarakat awam sih mungkin nda lah. Tapi, orang – orang kita yang aktivis ya. Masyarakat awam keseluruhan mereka nda paham sama kita. Tapi untuk masyarakat yang aktif lah, DAD, itu mereka paham itu. Mereka sudah tau, kan BDF sering kali tampil dalam berbagai kegiatan – kegiatan di Indonesia, dalam Munas MADN. Kemarin yang Tumbang Anoi itu, BDF juga hadir, tau mereka. Artinya, orang – orang yang sering terlibat dalam kegiatan – kegiatan DAD itu, pasti tau mereka. Kalau masyarakat umum sih mungkin nda lah kan. Mereka nda terlalu paham dengan hal – hal itu gitu.

(10)

P: BDF ini kan pasti punya jejaring transnasional kan om, selain Indonesia dan Malaysia itu sendiri, kira – kira apakah ada patner lain BDF di Internasional?

N: Sejauh ini sih belum ya. Yang Atama rintis itu kan, nanti tanya Atama, dia lebih paham, organisasi apa saja yang sudah masuk ke dalam tingkat internasionalnya ya. Artinya gini Atama yang, karna dia yang lebih banyak ke internasional ya, keluar pulau itu. Mungkin, dia yang lebih tau kemana dia bawa nama BDF ke organisasi apa gitu yang terafiliasi dengan PBB itu .

P: Lalu, halangan apa aja yang di hadapi BDF dalam melakukan advokasi ?

N: Sejauh ini sih belum terlalu eksis langsung lah ya dalam advokasi apa gitu ya. Karna memang pertama kita ingin adalah bagaimana supaya, Dayak tuh terdaftar sebagai indigenous people. Lalu advokasi secara khusus sih belom ada sih, tapi itu tadi. Advokasi dalam rangka apa namanya, pengakuan terhadap hak – hak Dayak itu. Ya, karna advokasi – advokasi yang sifatnya lokal kan sudah ada DAD, MADN kalau di Malaysia kan udah ada SDNU dan segala macam kan. Kalau misalnya ada isu – isu yang perlu di advokasi, ya di kembalikan pada lembaga – lembaga di tingkat itu gitu. Kita lebih kepada, BDF itu tujuan utamanya adalah ya itu pengakuan internasional itu, terhadap Dayak sebagai indigenous people itu gitu.

P: Lalu begini om, BDF itu kan pasti tau masalah – masalah yang di hadapi oleh masyarakat adat itu seperti apa. Nah mungkin adakah cara untuk mendapatkan informasi dan fakta – fakta itu melalui apa om ? Apakah turun langsung kelapangan atau seperti apa?

N: BDF sih nda operasional sejauh itu ya, karena pengurusnya kan nda detail seperti yang di, karna intinya gini. BDF itukan payung untuk semua organisasi Dayak yang ada, misalnya kita di tingkat kecamatan itu kita ada DAD kecamatan, kabupate, provinsi, MADN kan. Di Sabah, Sarawak juga mereka punya itu. Yang untuk hal – hal berkaitan persoalan di bawah kan sudah di cover oleh lembaga – lembaga ini. BDF tidak campur langsung begitu. Diakan dah lembaga Dayak di tigkat paling atas di internasional kan. Jadi nda urus yang kebawah – bawah, hal – hal yang detail seperti itu gitu. Tapi ada koordinasi dengan DAD dengan MADN atau disana dengan SDNU atau apa yang ada di Sabah, Sarawak gitu. Itu persoalan – persoalan setempat itu, di handle oleh DAD masing – masing itu.

P: Terus, untuk pelibatan media masa dalam kampanye untuk pengakuan orang Dayak sebagai indigeous people itu ada tidak om ?

N: Sejauh ini sih belum ada sih.

P: Kenapa belum ada sampai sekarang ini om ?

N: Gini ya, secara spesifik misal DAD gitu ndak ada. Tapi, lembaga – lembaga lain seperti AMAN, ada dulu kelompok Pancur Kasih itu kan, adalah. Tapi tidak di bawah DAD, atau BDF seperti itu. Tapi itu, kalau Atama menyuarakan itu melalui yang itu, lembaga yang Atama itu, dia kan meyuarakan nama BDF juga di level internasional. Dia membaa bendera BDF juga.

(11)

Nah, cuma saya nda hapal posisi lembaganya indigenous youth people dunia itu. Apa namanya, nanti boleh di tanyakan ke Atama. Terus kedua, yang lebih tau tentang operasional BDF itu Agustinus Clarus, karna dia Secretary kan. Kalau om kan tidak terlibat langsung di BDF nya, karena om kan di DAD, MADN gitu kan. Jadi om dulu berkontribusi ketika membentuk BDF itu. Om salah satu pembentuknya. Tapi, operasionalnya sudah ada sekertariat si Agus yang di operasional itu. Tapi kan, ketika membentuk kan, om tau visi misi nya apa gitu kan. Tapi operasionalnya kan sudah di pengurus itu gitu. Yang banyak berkiprah disitu ya sekertaris lah. P: Lalu, apakah selalu ada perwakilan BDF di konverensi – konverensi di tingkat DAD atau MADN seperti itu?

N: Begini, kalau di MADN iya, karena MADN ni kan atasanya adalah BDF itulah di level internasionalnya kan. Kalau DAD kan atasannya MADN tadi, jadi kita nda ngundang BDF kalau level DAD. Karena kan ada jenjangnya, berjenjang dia kan.

P: sepengetahuan om, apaka ada kegiatan – kegiatan BDF yang secara khusus di perentukan untuk memberikan pressure ke pemerintah? istilahnya penuntutan terhadap hak – hak orang Dayak.

N: Sejauh ini belum ada sih. Karena juga pertimbangannya begini kalau BDF sebagai itu nantikan, akan timbul pertanyaan, BDF ni apa sih gitu kan. Kok macam berurusan dengan Indonesia. Tapi nanti jika kita sudah di akui secara PBB, nah kita bisa bersuara melalui PBB itu. Itu intinya, nah kitakan tetap dibatasi oleh garis politikkan. Lalu nanti ada tudingan nah ini organisasi separatis atau apa gitu loh. Cuma itu, ya kita itu berjuang. Initnya kita itu bukan persoalan politis, tapi budaya. Kita menyatakan bahwa kita ini satu rumpun satu apa, satu budaya satu apa, maka kita kembangkan sama – sama gitu kan. Lalu, kita perkuat bersama, perihal di negara masing – masing, ya negara itu lah memperjuangkannya. Misalnya lewat MADN kan dah tingkat nasional kan, melalui konsiderasi apa yang telah di bangun di PBB sana gitu. Karena BDF kan lembaga yang megadvokasi dua negara, sejauh mana BDF ini di akui pemerintah kan. Nah kalau dia berjuang internasional kan iya, karena di PBB gitu ya. Tapi karena di negara masing – masing ya melalui nagara masing – masing gitu lah. Karena kita kan, tetap kalau persoalan politik kita ke negara maisng – masing.

Referensi

Dokumen terkait