• Tidak ada hasil yang ditemukan

DOCRPIJM bc769a6d79 BAB VII07 RENCANA PEMBANGUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "DOCRPIJM bc769a6d79 BAB VII07 RENCANA PEMBANGUNAN"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN | 3-1

Bagian ini membahas mengenai rencana program investasi infrastruktur Bidang Cipta Karya untuk masing-masing sektor,

yaitu sektor Pengembangan Kawasan Permukiman, Penataan Bangunan dan Lingkungan, Pengembangan SPAM, dan Pengembangan PLP. Pada setiap sektor

dijelaskan kondisi eksisting, analisis kebutuhan, serta usulan kebutuhan program dan pendanaan masing-masing

sektor.

RPIJM

Kabupaten

Sumbawa

TAHUN 2017 - 2021

BAB 7.

RENCANA PEMBANGUNAN

INFRASTRUKTUR BIDANG

(2)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-2

7.1. SEKTOR PENGEMBNAGAN KAWASAN PERMUKIMAN

7.1.1. Umum

Kebutuhan akan tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar

manusia selain pangan dan sandang. Secara nasional keterbatasan

penyediaan dibandingkan dengan kebutuhan (backlog) perumahan mencapai

angka 8 (delapan) juta rumah. Belum lagi laju pertumbuhan penduduk dan

pergeseran interval didalam piramida penduduk secara nasional dan

bertambahnya keluarga baru dari tahun ke tahun ikut mempertajam backlog

perumahan. Belum lagi permasalahan bertumbuhnya jumlah rumah tidak layak

huni yang pada gilirannya membuat tantangan penyediaan rumah bagi

penduduk menjadi semakin berat.

Program pengembangan permukiman dilaksanakan dengan maksud

meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan/perkotaan melalui

peningkatan/perbaikan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan

infrastruktur dasar.

Program pengembangan permukiman memiliki tujuan, yaitu:

1). Meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap infrastruktur dasar di

wilayah perdesaan;

2). Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyediaan infrastruktur

perdesaan/perkotaan.

Sedangkan Sasaran Pengembangan Permukiman adalah:

1. Tersedianya infrastruktur perdesaan/perkotaan yang sesuai dengan

kebutuhan dan kemampuan masyarakat, berkualitas, berkelanjutan serta

berwawasan lingkungan;

2. Meningkatnya kemampuan masyarakat perdesaan/perkotaan dalam

(3)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-3

3. Menigkatnya jumlah penanganan desa tertinggal, permukiman kumuh

perkotaan serta permukiman kumuh pada kawasan permukiman nelayan,

dan sebagainya;

4. Meningkatnya kemampuan aparatur pemerintah daerah sebagai fasilitator

pembangunan di perdesaan;

5. Terlaksananya penyelenggaraan pembangunan infrastruktur perdesaan/

perkotaan yang partisipatif, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.

7.1.2. Pengembangan Permukiman Kabupaten Sumbawa

Pengembangan Permukiman Kabupaten Sumbawa dilaksanakan sesuai

dengan pertimbangan pengembangan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK)

dan sesuai dengan prioritas pengembangan dan fungsi kawasan yang meliputi

sebagai berikut :

1. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Agropolitan Alasutan, yang

termasuk dalam kawasan ini 5 (lima) kecamatan, yaitu Kecamatan Alas

Barat, Kecamatan Alas, Kecamatan Buer, Kecamatan Utan dan

Kecamatan Rhee;

2. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Agropolitan Emparano, yang

termasuk dalam kawasan ini 5 (lima) kecamatan, yaitu Kecamatan

Tarano, Kecamatan Empang, Kecamatan Lape, Kecamatan Moyo Hilir dan

Kecamatan Moyo Utara;

3. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) KTM Labangka, yang termasuk

dalam kawasan ini 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Labangka,

Kecamatan Plampang dan Kecamatan Maronge;

4. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Agropolitan Brang Pelat, yang

termasuk dalam kawasan ini 4 (empat) kecamatan, yaitu Kecamatan

Sumbawa, Kecamatan Lab. Badas, Kecamatan Unter Iwis dan Kecamatan

Batulanteh;

5. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Sumbawa Selatan, yang

(4)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-4

Lantung, Kecamatan Lenangguar, Kecamatan Ropang, Kecamatan Lopok,

Kecamatan Moyo Hulu, Kecamatan Lunyuk dan Kecamatan Orong Telu;

Kondisi wilayah dari masing – masing kawasan pengembangan adalah

sebagai berikut :

1. KSK Agropolitan Alasutan, dengan karakteristik sebagai berikut :

 Prasarana, Sarana dan Utilitas masih relatif terbatas;

 Dukungan infrastruktur jalan yang ada masih rendah;

 Sumber daya air cukup memadai, namun belum dimanfaatkan secara

optimal;

 Merupakan wilayah yang memiliki bahan tambang galian golongan C

yang cukup besar, seperti pasir dan batu kali;

 Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk mendukung sektor

perdagangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan pariwisata, dan

termasuk di dalam pengembangan kawasan pemukiman;

2. KSK Agropolitan Emparano, dengan karakteristik sebagai berikut :

 Mempunyai kawasan wisata bahari yang cukup potensial, namun belum

didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai;

 Dukungan infrastruktur dan aksesibilitas masih kurang;

 Sumber daya air cukup memadai, namun belum dimanfaatkan secara

optimal;

 Kawasan hulu sungai mulai terjadi degradasi, yang berakibat timbulnya

resiko bencana banjir;

 Pada kawasan pesisir mulai banyak dikembangkan usaha pertambakan

/ perikanan, yang akan berdampak pada terjadinya pencemaran daerah

(5)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-5

 Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk merndukung sektor

perdagangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan pariwisata,

termasuk didalam pengembangan kawasan permukiman;

3. KSK KTM Labangka, dengan karakteristik sebagai berikut :

 Dukungan infrastruktur dan aksesibilitas masih kurang;

 Sumber daya air cukup memadai, namun belum dimanfaatkan

secara optimal;

 Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk mendukung sektor

pertanian secara umum, terutama komoditas jagung;

4. KSK Agropolitan Brang Pelat, dengan karakteristik sebagai berikut :

 merupakan kawasan wisata yang cukup potensial, namun belum

didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai;

 Dukungan infrastruktur dan aksesibilitas masih kurang;

 Sumber daya air cukup memadai, namun belum dimanfaatkan secara

optimal;

 Kawasan hulu sungai mulai terjadi degradasi, yang dapat menimbulkan

resiko kekeringan sumber air yang dikarenakan hutan tidak dapat

sebagai kawasan tangkapan air;

 Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk mendukung sektor

perdagangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan pariwisata,

termasuk didalam pengembangan kawasan permukiman;

5. KSK Sumbawa Selatan, dengan karakteristik sebagai berikut :

 Dukungan infrastruktur dan aksesibilitas masih kurang;

(6)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-6

 Sebahagian dari kawasan tersebut merupakan daerah sulit air pada

musim kemarau, maka diperlukan adanya langkah pengadaan sumber

air baku;

 Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk mendukung sektor

perdagangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan pariwisata,

termasuk didalam pengembangan kawasan permukiman;

Secara umum kebijakan pengembangan permukiman di Kabupaten Sumbawa

diarahkan pada penyediaan sarana dan prasarana pendukung di kawasan

permukiman, terutama di ibukota-ibukota kecamatan di Kawasan Strategis

Kabupaten. Secara kasat mata perkembangan pemukiman di Kabupaten

sumbawa bersifat sporadis, mandiri dan swadaya sehingga arahan

pembangunan jangka menengah kabupaten sumbawa menegaskan bahwa

kawasan terbangun selama kurun waktu 5 (lima) tahun perencananaan dapat

lebih meng-cluster dengan pengembangan pemukiman berbasis kawasan.

Dalam rangka mengantisipasi perkembangan kependudukan dan demand

terhadap perumahan layak huni ke depan, pemerintah kabupaten sumbawa

pada akhir tahun anggaran 2011 akan mengalokasikan anggaran untuk

penyusunan dokumen RP4D (Rencana Pembangunan dan Pengembangan

Perumahan dan Permukiman di Daerah) guna menjadi acuan dalam

penentuan sasaran tahunan pembangunan permukiman dalam kurun waktu 20

tahun perencanaan.

7.2. SEKTOR PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

7.2.1. Umum

Kota Sumbawa Besar merupakan pusat kota Kabupaten sekaligus Pusat

Pemerintahan Kabupaten Sumbawa, juga memiliki kondisi pranata sosial dan

budaya yang sangat kuat sehingga memperkuat karakter sebagai pusat

pemerintahan dan pusat kebudayaan. Sebagian besar gedung perkantoran

(7)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-7

Kawasan Perkantoran. Gedung-gedung tersebut secara detail tidak terlepas

dari permasalahan keselamatan, keamanan dan kenyamanan sehingga

diperlukan penertiban dan penegakkan aturan dan tata tertib bangunan

gedung, termasuk dengan infrastruktur dan fasilitas penunjang kawasan

masih belum memadai.

Selain itu dalam melakukan penataan kawasan, pemerintah Kabupaten

Sumbawa juga telah mengupayakan pembuatan RTBL (Rencana Tata

Bangunan dan Lingkungan) di beberapa kawasan, terutama di wilayah Kota

Sumbawa Besar. Sampai dengan tahun 2011, pemerintah Kabupaten

Sumbawa telah menghasilkan 4 (empat) dokumen RTBL yaitu: RTBL

Kawasan Wisata Pantai Goa, RTBL Kawasan BWK (Bagian Wilayah Kota) IV,

RTBL Kawasan Pacuan Kuda Kerato dan RTBL Kawasan Pantai Batu Gong.

Dalam upaya mitigasi bencana kebakaran pemerintah kabupaten sumbawa

juga telah mengupayakan pengadaan kendaraan pemadam kebakaran.

Sampai dengan tahun 2011, kendaraan pemadam kebakaran yang masih

operasional sejumlah 3 (tiga) unit, dan untuk tahun anggaran 2012 dan

selanjutnya pemerintah Kabupaten Sumbawa merencanakan untuk

menambah jumlah unit pemadam kebakaran hingga menjadi 5 (lima) unit.

7.2.2. Permasalahan yang Dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan dan penataan bangunan

dan lingkungan di Kabupaten Sumbawa sebagai berikut :

a. Ketersediaan lahan yang terbatas dan kesulitan pembebasan tanah, karena

harga lahan / tanah cukup tinggi;

b. Keterbatasan dana yang disediakan melalui APBD, menyebabkan

beberapa bagian dari gedung perkantoran belum mendapatkan

penanganan dan termasuk penyediaan bangunan perkantoran baru;

c. Belum secara keseluruhan aturan mengenai 3K (Keselamatan, Keamanan

dan Kenyamanan) diterapkan pada bangunan gedung pemerintah maupun

gedung milik swasta yang digunakan bagi kepentingan pelayanan

(8)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-8

d. Prasarana dan sarana hidran kebakaran banyak yang tidak berfungsi dan

kurang mendapat perhatian.

e. Standar bangunan Pemerintah kabupaten merupakan bangunan

sederhana yang harga per-m2 nya rendah, sehingga tidak dapat memenuhi

standar keselamatan (pemadam kebakaran) karena biayanya cukup tinggi.

f. Penataan dan perbaikan permukiman – permukiman tradisional belum

secara maksimal dilakukan karena keterbatasan dana pembangunan yang

ada, mengingat kawasan tersebut menjadi potensi wisata yang perlu

dikembangkan.

g. Belum optimalnya pelaksanaan perencanaan daerah dan pengendalian

bangunan dan lingkungan yang merangsang tumbuhnya kesadaran

masyarakat dalam mematuhi aturan dan mengurus perijinannya.

7.2.3. Analisis Permasalahan dan Rekomendasi

a. Permasalahan Air Bersih

 Kebutuhan akan air bersih yang sebagian besar dari air PDAM masih belum mencukupi;

 Alternative yang ada untuk mendapatkan air bersih seperti pengadaan sumur galian masih belum bisa terlaksana sepenuhnya karena

kurangnya dana;

b. Permasalahan Persampahan

 Kurangnya kesadaran masyarakat tentang kebersihan, dimana sampah masih dibuang di sembarang tempat;

 Belum tersedianya sarana persampahan seperti bak sampah komunal, gerobak sampah dan Tempat Pembuangan Sementara (TPS);

 Sistem Persampahan yang masih belum berjalan sepenuhnya c. Permasalahan Drainase

 Sistem drainase masih belum optimal, diperlukan pelebaran karena prasarana drainase yang ada sekarang ini tidak bisa lagi menampung

debit air terutam pada musim hujan.

(9)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-9

 MCK komunal (jamak) yang tersedia sekarang ini belum mencukupi sebagaimana kebutuhan fasilitas yang seharusnya tersedia pada Kota

kabupaten.

 MCK yang tersedia sebagian sudah tidak layak digunakan. e. Permasalahan Jalan

 Banyak jalan setapak dan jalan lingkungan yang rusak sehingga memerlukan perbaikan untuk memperlancar transportasi dan distribusi

barang.

f. Permasalahan Kelistrikan

 Minimnya prasarana penerangan lingkungan (penerangan jalan);

 Penerangan jalan yang tersedia lebih banyak menggunakan Balon, sedangkan warga mengharapkan penggunaan lampu Neon supaya

penerangan pada malam hari lebih terang.

Dari permasalahan-permasalahan di atas, adapun pemecahan yang dapat

dilakukan adalah:

a. Optimalisasi pengunaan air PDAM serta pengadaan sumur galian di titik-titik

lokasi yang mengalami kekurangan air bersih.

b. Pengadaan dan persebaran sarana persampahan pada masing-masing

dusun terutama terkonsentrasi pada kawasan yang penduduknya padat.

Metode pengelolaan sampah yang dapat dlakukan sebagai berikut:

 Sampah pertama-tama di kumpulkan pada bak komunal yang akan disediakan di masing-masing kelompok permukiman; pada bak komunal

ini nanti sampah organic dan anorganik akan dipisahkan;

 Sampah yang terkumpul pada bak komunal akan di pidahkan dengan grobak sampah menuju TPS;

 Dari TPS, sampah akan diangkut ke pembuangan akhir dengan menggunakan truk sampah.

c. Penambahan saluran drainase pada kawasan-kawasan limpasan air dan

yang memiliki debit air yang besar disertai pelebaran saluran drainase yang

(10)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-10

d. Penambahan prasarana MCK komunal (bersama) pada masing-masing

dusun, dengan pertimbangan titik lokasi MCK harus dekat dengan sumber

air.

e. Perbaikan prasarana lingkungan dan jalan poros desa (jalan setapak),

yakni alternatif perkerasan berupa; paving blok dan rabat untuk jalan

setapak dengan lebar rata-rata 1,5-2 meter dan alternatif perkerasan

berupa aspal dan hotmig untuk jalan lingkungan dengan lebar di atas 3

meter.

f. Pengadaan lampu penerangan jalan (lingkungan) pada masing-masing

dusun, terutama di sudut-sudut jalan dan kawasan yang membutuhkan

penerangan.

7.2.4. Penataan “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional

1. Pengertian Penataan “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman

Tradisional

Revitalisasi kawasan adalah upaya untuk memaksimalkan kembali potensi

sumber daya kawasan baik itu potensi sumberdaya manusia, alam,

ekonomi, budaya, sosial dan lain-lain, yang pada masa silam pernah

berkembang pesat, atau mengendalikan dan mengembangkan kawasan

untuk menemukan kembali potensi yang dimiliki atau pernah dimiliki sebuah

kota sehingga diharapkan dapat memberikan peningkatan kualitas

lingkungan kota dan peningkatan ekonomi lokal kawasan yang pada

akhirnya berdampak pada kualitas hidup dari para penghuninya.

Tiap kota memiliki kawasan yang bernilai historis sebagai salah satu cikal

bakal dari pusat kegiatan masyarakat. Namun seiring dengan berjalannya

waktu dan gencarnya pembangunan dan pengembangan wilayah

perkotaan, kawasan ini justru sering terabaikan dan kehilangan

(11)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-11

Program penataan dan revitalisasi kawasan ditujukan untuk meningkatkan

vitalitas kawasan lama melalui intervensi yang mampu menciptakan

pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, terintegrasi dengan sistem

kawasan, layak huhuni, berkeadilan sosial, berwawasan budaya dan

lingkungan.

Oleh sebab itu penataan dan revitalisasi kawasan dilakukan melalui

pengembangan kawasan-kawasn tertentu yang layak untuk direvitalisasi

baik dari segi setting kawasan (bangunan dan ruang kawasan), kualitas

lingkungan, sarana, prasarana danutilitas kawasan, sosio kultural, sosio

ekonomi dan sosio politik.

Jadi maksud kegiatan penataan dan revitalisasi kawasan adalah agar

kawasan lebih terintegrasi dalam satu kesatuan yang utuh dengan sistem

kawasan, terberdayakan pertumbuhan ruang ekonominya sehingga dapat

meningkatkan aktifitas dan kenyamanan (amenitas) lingkungan kota, yang

pada akhirnya daoat berdampak pada peningkatan kualitas hidup

penghuhni bahkan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokalnya.

Wilayah pembangunan dapat tercapai apabila tiap wilayah memiliki satuan

wilayah pengembangan dimana wilayah pusat diharapkan dapat

menjalankan pembangunan yang adaterhadap wilayah sekitarnya. Bila

proses ini dapat berlangsung dengan baik maka masalah perkembangan

ekonomi wilayah dan pemeratan pembangunan akan lebih mudah dicapai,

baik secara konseptual maupun secara nyata.

Untuk mencapai hal ini dapat dilakukan dengan menetapkan struktur tata

ruang wilayah yang ideal. Dengan menerapkan sistem perwilayahan

pengembangan dan sistem perkotaan diharapkan mampu mendorong

perkembangan wilayah sekitarnya. Kota-kota kunci inilah yang nantinya

akan menjadi penentu perkembangan wilayah, tanpa harus mengorbankan

wilayah lainnya yang memiliki potensi untuk berkembang.

Guna mencapai hal tersebut maka pengembangan struktur tata ruang

wilayah ditetapkan menurut model regionalisasi atau pembentukan dalam

(12)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-12

kelengkapan beberapa fasilitas sosial ekonomi yang memadai dan dapat

mendukung percepatan pertuimbuhannya. Wilayah pusat ini juga harus

memiliki aksesibilitas yang tinggi pada wilayah sekitarnya dan akses ke kota

Sumbawa Besar sebagai pusat pelayanan secara regional. Berdasarkan

kondisi perkembangan wilayah Kabupaten Sumbawa, maka rencana sistem

perwilayahan dikembangkan berdasarkan skenario pengembangan jangka

panjang dengan asumsi, bahwa setiap wilayah mempunyai peluang yang

sama untuk berkembang, sehingga pada tahap tertentu masing-masing

wilayah dianggap mampu untuk mandiri dan melayani diri mereka sendiri,

sehingga tujuan akhir berupa Kemandirian wilayah dapat tercapai.

Revitalisasi pada prinsipnya tidak sekedar menyangkut masalah konservasi

bangunan dan ruang kawasan bersejarah saja, tetapi lebih kepada upaya

untuk mengembalikan atau menghidupkan kembali kawasan dalam konteks

kota yang tidak berfungsi atau menurun fungsinya agar berfungsi kembali,

atau menata dan mengembangkan lebih lanjut kawasan yang berkembang

sangat pesat namun kondisinya cenderung tidak terkendali.

2. Analisa Permasalahan, Alternatif Pemecahan dan Rekomendasi

Setelah dilakukan pengkajian dan analisa terhadap berbagai masalah yang

ada dapat dikemukan kondisi yang ada sebagai berikut :

 Kurangnya apresiasi pemerintah dan masyarakat akan pentingnya mempertahankan bangunan dan ruang kawasan yang memiliki nilai

Heritage, sebagai upaya mencegah hilangnya aset-aset kawasan yang

menandai rangkaian riwayat panjang perjalanan suatu kawasan beserta

masyarakat yang ada di dalamnya.

 Degradasi lingkungan di sebagian wilayah perkotaan Kabupaten Sumbawa dan sekitarnya semakin parah. Hal ini ditandai oleh makin

meningkatnya nilai-nilai budaya baru yang terus bergerak menggeser

nilai-nilai budaya masa silam.

 Masalah klasik, dianggap akibat keterbatasan dana dan SDM profesional, akan pentingnya mempertahankan bangunan dan ruang

(13)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-13

hilangnya aset-aset kawasan yang menandai rangkaian riwayat panjang

perjalanan suatu kawasan beserta masyarakat yang ada.

 Tidak terdapatnya bentuk kelembagaan yang sesuai dan efektif untuk pengelolaan, penyelenggaraan dan pengembangan (dari tingkat

perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian) revitalisasi

bangunan dan ruang kawasan yang memiliki nilai Heritage, sesuai

dengan paradigma tata pemerintahan yang baik (good governance).

3. Usulan Penataan “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional

Usulan Penataan “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional

meliputi kegiatan sebagai berikut :

1. Studi Identifikasi “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional

2. Detail Desain “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional

3. Pelaksanaan Fisik “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional

4. Supervisi “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional.

7.2.5. Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

1. Pengertian

a. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007

tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, Ruang

terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas

baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area

memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat

terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Ruang Terbuka Hijau

Kawasan Perkotaan yang adalah bagian dari ruang terbuka suatu

kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna

mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.

b. RTH adalah suatu lapang yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada

berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon

(14)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-14

c. RTH adalah sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang

mempunyai ukuran, bentuk dan batas geografis tertentu dengan

status penguasaan apapun, yang di dalamnya terdapat tetumbuhan

hijau berkayu dan tahunan (perennial woody plants), dengan

pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya

(perdu, semak, rerumputan, dan tumbuhan penutup tanah lainnya),

sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga

sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan.

Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari

ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH)

perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu

wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik

maupun introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial-budaya dan

arsitektural yang dapat memberikan manfaat ekonomi (kesejahteraan) bagi

masyarakatnya.

Sementara itu ruang terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang

diperkeras (paved) maupun ruang terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan

sungai, danau, maupun areal-areal yang diperuntukkan khusus sebagai area

genangan (retensi/retention basin).

2. Tujuan, Fungsi dan Manfaat RTH

Tujuan pembentukan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan adalah:

a. Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan

perkotaan;

b. Mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan

buatan di perkotaan; dan

c. Meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah,

bersih dan nyaman.

(15)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-15

a. Pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan;

b. Pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara;

c. Tempat perlindungan plasma nuftah dan keanekaragaman hayati;

d. Pengendali tata air; dan

e. Sarana estetika kota.

Manfaat yang dapat diperoleh dari Ruang Terbuka Hijau Kota antara lain:

a. Sarana untuk mencerminkan identitas daerah;

b. Sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan;

c. Sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial;

d. Meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan;

e. Menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah;

f. Sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula;

g. Sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat;

h. Memperbaiki iklim mikro; dan

i. Meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.

3. Analisa Permasalahan, Alternatif Pemecahan dan Rekomendasi

 Degradasi lingkungan di sebagian wilayah perkotaan Kabupaten Sumbawa semakin parah. Hal ini ditandai oleh makin meningkatnya suhu

udara di atas kawasan perkotaan, penurunan muka air tanah,

pencemaran air tanah, udara, dan suara (bising), amblasan permukaan

tanah, intrusi air laut, abrasi pantai, suasana gersang, monoton,

membosankan dan terjadinya tekanan psikologis penghuninya (stress).  Kurangnya apresiasi akan pentingnya RTH, inkonsistensi kebijakan dan

strategi Tata Ruang Kota Kabupaten Sumbawa yang sudah ditetapkan

dalam Rencana Induk Kota, serta lemahnya fungsi pengawasan (kontrol)

dalam pelaksanaan pembangunan kota menyebabkan kuantitas dan

kualitas RTH semakin berkurang. Nilai ekonomi dengan nilai ekologis,

keterbatasan luas lahan akibat benturan kepentingan dalam fenomena

(16)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-16

pembangunan sektor perindustrian dan perdagangan yang dianggap

mampu menyerap banyak tenaga kerja (atau demi kepentingan ekonomi

jangka pendek).

 Masalah klasik pengelolaan RTH, dianggap akibat keterbatasan dana dan SDM profesional, pemeliharaan RTH yang tidak konsisten, dan pemilihan

jenis tanaman tak sesuai persyaratan ekologis bagi masing-masing

lokasi, termasuk langkanya lahan pembibitan tanaman penghijauan.

Keterbatasan dana pembangunan dan pengelolaan RTH memerlukan

terobosan pengembangan pola kemitraan.

 RTH sering dianggap sebagai lahan tidak berguna, tempat sampah, atau sumber dan atau sarang vektor berbagai penyakit. Pemahaman serta

kesadaran masyarakat akan arti dan fungsi hakiki RTH, umumnya masih

sangat kurang. Minimnya fasilitas RTH khususnya bagi kelompok usia

tertentu, seperti lapangan olahraga, taman bermain anak, maupun taman

lansia, apalagi taman khusus bagi penyandang cacat. Penyediaan lahan

untuk pemakaman umum belum sesuai dengan harapan masyarakat

umum. Dalam penataan lansekap kota, etika, dan estetika, khusus

penempatan iklan/papan reklame belum ditata menurut kaidah penataan

ruang luar yang lebih sesuai.

 Bentuk kelembagaan yang sesuai dan efektif untuk pengelolaan, penyelenggaraan dan pengembangan (dari tingkat perencanaan,

pelaksanaan, pengawasan, pengendalian) RTH masih sangat kurang,

sehingga diperlukan koordinasi antara instansi yang terkait agar mampu

meningkatkan pelayanan pembangunan dan pengelolaan Selain perlu

adanya Pedoman Pembangunan dan Pengelolaan RTH di Kawasan

Perkotaan yang transparan dan akuntabel, dengan paradigma tata

pemerintahan yang baik (good governance).

4. Usulan Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Permasalahan yang ada dalam penataan ruang terbuka hijau di Kabupaten

Sumbawa tersebut di atas, maka diusulkan beberapa program Penataan

(17)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-17

1. Studi dan Master Plan Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) .

2. Detail Desain Ruang Terbuka Hijau (RTH).

3. Pelaksanaan Fisik Ruang Terbuka Hijau (RTH).

4. Supervisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) .

5. Pemantauan O&P secara berkala

7.3. SEKTOR

P

ENGEMBANGAN

P

ENYEHATAN LINGKUNGAN

7.3.1. RENCANA INVESTASI SUB-BIDANG AIR LIMBAH

7.3.1.1. Umum

Sesuai dengan semangat otonomi daerah maka visi Direktorat Jenderal Cipta

Karya adalah terwujudnya kemandirian daerah utk menyiapkan dan

menangani prasarana dan sarana ke Ciptakaryaan. Berdasarkan visi tersebut

maka salah satu misi Ditjen. Cipta Karya yaitu meningkatkan kapasitas

pemerintah daerah dan masyarakat dalam penyelenggaraan prasarana dan

sarana tersebut. Sehingga, untuk mencapai maksud tersebut maka

merupakan kewajiban pemerintah pusat melaksanakan pembinaan kepada

pemerintah daerah agar terselenggaranya pembangunan drainase,

persampahan dan air limbah permukiman untuk meningkatkan kualitas

kesehatan masyarakat dan perlindungan lingkungan.

Kondisi prasarana dan sarana (PS) sanitasi di Indonesia saat ini masih sangat

terbatas, dan akses masyarakat terhadap PS sanitasi dapat dilihat pada

(18)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-18

Gambar Diagram kondisi akses masyarakat pada sanitasi

Maka langkah awal dalam pembinaan adalah mendorong daerah dapat usaha

meningkatkan akses sanitasi dasar dan pelaksanaan konservasi Lingkungan.

Adapun cakupan kriteria yang harus dipenuhi dalam merencanakan

penanganan air limbah sebagai berikut :

 Prinsip dasar penanganan air limbah harus sesuai dengan yang ditangani  Azas yang digunakan dalam penanganan air limbah

 Landasan operasional yang digunakan untuk pelaksanaan sistem air limbah  Penerapan faktor lingkungan sosial dan ekonomi untuk penanganan air

limbah

 Konsep pemilihan teknologi yang digunakan untuk Penanganan limbah  Kriteria Teknis dari masing-masing teknologi pilihan

Konsepsi dasar dalam penanganan air limbah adalah bahwa penanganan air

limbah harus memenuhi prinsip-prinsip kesehatan (hygenic) dan kelestarian

Akses ke P&S 100%

Tak terditeksi 25,98%

Perkotaan 37,53%

Perdesaan 36,50%

Tanpa diolah 8,16%

On-site 28,10% Off-site 1,36%

Tanpa diolah 14,54%

On-site 21,96%

(19)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-19

lingkungan (environmental conservation). Artinya dari segi public health

mencegah penularan penyakit lewat air dan dari sisi lingkungan membantu

upaya konservasi SDA dengan mengurangi pencemaran limbah domestik

terhadap badan air. Air limbah merupakan urusan individual yang harus

dikelola sektor publik karena penanganan yang tidak layak akan menyebabkan

konflik kepentingan publik.

Azas Penanganan air limbah meliputi;

Azas pemerataan: bahwa Sanitasi adalah kebutuhan dasar untuk kesehatan maka hak setiap orang untuk memperoleh akses pada sanitasi

yang layak.

Azas kesehatan : mencegah kontaminasi langsung dan tidak langsung air limbah terhadap manusia dan kegiatannya.

Azas kelestarian lingkungan : bahwa kualitas lingkungan harus dipertahankan terhadap penurunan akibat pencemaran oleh air limbah.  Azas pencemaran membayar (polluter pays principal) : kewajiban retribusi

air limbah.

Azas internalisasi externalitas : faktor – faktor dampak lingkungan dimasukkan dalam biaya.

Landasan Oprasional sistem penanganan air limbah adalah :Maksimum Net

Benefit-Cost dan the Most Cost Effectiveness, artinya; Memilih sistem

penanganan air limbah memberikan manfaat yg besar terhadap lingkungan

dengan biaya yang kecil. Mencari alternatif penanganan untuk mencapai goal

yang tepat dengan biaya yang paling rendah, yaitu melalui pemilihan sistem

dalam pengelolaan air limbah domestik/permukiman yang terbagi atas:

a. Sanitasi sistim on-site atau dikenal dengan sistem sanitasi setempat yaitu

fasilitas sanitasi individual seperti septik tank atau cubluk.

b. Sanitasi sistem off-site atau dikenal dengan istilah sistem terpusat atau

(20)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-20

mengalirkan air limbah dari rumah-rumah secara bersamaan dan kemudian

dialirkan ke IPAL.

Persyaratan untuk pemilihan sistem seperti dijelaskan di bawah ini :

1. Sistem on site diterapkan pada:  Kepadatan < 100 org/ha

 Kepadatan > 100 org/ha sarana on site dilengkapi pengolahan tambahan

seperti kontak media dengan atau tanpa aerasi

 Jarak sumur dengan bidang resapan atau cubluk > 10 m

 Instalasi pengolahan lumpur tinja minimal untuk melayani penduduk

urban > 50.000 jiwa atau bergabung dengan kawasan urban lainnya

2. Sistem off site diterapkan pada kawasan

 Kepadatan > 100 org/ha

 Bagi kawasan berpenghasilan rendah dapat menggunakan sistem septik

tank komunal (descentralised water treatment) dan pengaliran dengan

konsep perpipaan shallow sewer. Dapat juga melalui sistem kota/modular

bila ada subsidi tarif.

 Bagi kawasan terbatas untuk pelayanan 500–1000 sambungan rumah

disarankan menggunakan basis modul. Sistem ini hanya menggunakan 2

atau 3 unit pengolahan limbah yg paralel.

7.3.1.2. Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Sumbawa

Sistem sarana dan prasarana pengelolaan air limbah belum optimal disebabkan belum

adanya pola penanganan teknis dari pemerintah dalam menerapkan pengelolaan air

limbah. Selain itu perilaku masyarakat yang masih memilih pola manual/setempat

(on-site system) mengingat potensi lahan yang masih sangat luas, baik di perkotaan ataupun dikawasan-kawasan pusat perekonomian. Kabupaten Sumbawa belum memiliki

Master Plan Pengelolaan Air Limbah, sehingga penanganan secara teknis yang tepat guna dan tepat sasaran belum dapat dilakukan. Kondisi saluran pembuangan air limbah

(21)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-21

dimana sebagai saluran drainase air hujan, jaringan irigasi dan untuk pembuangan air

limbah rumah tangga.

Tingkat kesehatan masyarakat yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan

dibeberapa kawasan mulai diterapkan sesuai standar, namun masih terjadi

penyakit menular melalui air (water borne diseases) karena kondisi sanitasi

yang belum layak. Hal ini disebabkan kondisi kualitas sumber air, baik air

permukaan maupun air tanah yang kurang bagus dani terjadi juga akibat

pencemaran oleh air limbah rumah tangga/permukiman.

Dengan memperhatikan kondisi tersebut diatas, pemerintah kabupaten

Sumbawa sedang merencanakan untuk mengalokasikan anggaran untuk

menyusun dokumen SSK (Strategi Sanitasi Kota) untuk tahun 2012 guna

mengantisipasi permasalahan-permasalah sanitasi terkait air limbah, sampah

dan air bersih dan drainase lingkungan.

7.3.1.3. Permasalahan yang dihadapi terhadap Penanganan Air

Limbah

1. Masih rendahnya desiminasi dan sosialisasi peraturan

perundang-undangan mengenai sistem pengelolaan air limbah.

2. Belum adanya Study dan Master Plan Sistem Pengelolaan Air Limbah.

3. Kurangnya Sumber Dana APBD II.

4. Kebiasaan dan Kesadaran Masyarakat yang masih rendah.

7.3.1.4. Usulan dan Prioritas Pengelolaan Air Limbah

Usulan penanganan program Pengelolaan Air Limbah di Kabupaten Sumbawa

yang meliputi :

1. Studi dan Master Plan Penataan Pengelolaan Air Limbah.

2. Detail Desain Pengelolaan Air Limbah.

3. Pelaksanaan Fisik Pengelolaan Air Limbah.

4. Supervisi Pengelolaan Air Limbah.

(22)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-22

7.3.2. RENCANA INVESTASI SUB-BIDANG PERSAMPAHAN

7.3.2.1. Umum

Pengelolaan sampah suatu kota bertujuan untuk melayani sampah yang

dihasilkan penduduknya, yang secara tidak langsung turut memelihara

kesehatan masyarakat serta menciptakan suatu lingkungan yang bersih, baik

dan sehat.

Pada awalnya, pemukiman seperti pedesaan memiliki kepadatan penduduk

yang masih sangat rendah. Secara alami tanah / alam masih dapat mengatasi

pembuangan sampah yang dilakukan secara sederhana (gali urug). Makin

padat penduduk suatu pemukiman atau kota dengan segala aktivitasnya,

sampah tidak dapat lagi diselesaikan di tempat; sampah harus dibawa keluar

dari lingkungan hunian atau lingkungan lainnya. Permasalahan sampah

semakin perlu untuk dikelola secara profesional.

Saat ini pengelolaan persampahan menghadapi banyak tekanan terutama

akibat semakin besarnya timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat baik

produsen maupun konsumen. Hal ini menjadi semakin berat dengan masih

dimilikinya paradigma lama pengelolaan yang mengandalkan kegiatan

pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan; yang kesemuanya

membutuhkan anggaran yang semakin besar dari waktu ke waktu; yang bila

tidak tersedia akan menimbulkan banyak masalah operasional seperti sampah

yang tidak terangkut, fasilitas yang tidak memenuhi syarat, cara

pengoperasian fasilitas yang tidak mengikuti ketentuan teknis.

Pada akhirnya berbagai masalah tersebut akan bermuara pada rendahnya

kuantitas dan kualitas pelayanan dan tidak diindahkannya perlindungan

lingkungan dalam pengelolaan; yang bila tidak segera dilakukan perbaikan

akan berdampak buruk terhadap kepercayaan dan kerjasama masyarakat

yang sangat diperlukan untuk menunjang pelayanan publik yang

mensejahterakan masyarakat.

Untuk dapat mengelola sampah pemukiman atau kota yang sampahnya

(23)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-23

system pengelolaan yang mencakup lembaga atau institusi yang dilengkapi

dengan peraturan, pembiayaan / pendanaan, peralatan penunjang yang

semuanya menjadikan suatu system, disamping kesadaran masyarakat yang

cukup tinggi.

a) Pendekatan Sistem Pengelolaan Persampahan

Beberapa Prinsip dan Pertimbangan

 Paradigma lama penanganan sampah secara konvensional yang

bertumpu pada proses pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan

akhir perlu diubah dengan mengedepankan proses pengurangan dan

pemanfaatan sampah.

 Pengurangan dan pemanfaatan sampah secara signifikan dapat

mengurangi kebutuhan pengelolaan sehingga sebaiknya dilakukan di

semua tahap yang memungkinkan baik sejak di sumber, TPS, Instalasi

Pengolahan, dan TPA.

 Pengurangan dan pemanfaatan sampah sejak sumber akan

memberikan dampak positif paling menguntungkan yang berarti peran

serta masyarakat perlu dijadikan target utama

 Sampah B3 rumah tangga perlu mendapat perhatian dalam

penanganannya agar tidak mengganggu lingkungan maupun kualitas

sampah dalam pengolahan di hilirnya.

 Karakteristik sampah dengan kandungan organik tinggi (70-80 %)

merupakan potensi sumber bahan baku kompos sebagai soil

conditioner dan energi (gas metan) melalui proses dekomposisi secara

anaerob

 Daur ulang oleh sektor informal sejauh memungkinkan diupayakan

menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah perkotaan

 Insinerator sebaiknya hanya dilakukan untuk kota-kota yang memiliki

tingkat kesulitan tinggi dalam penyediaan lokasi TPA dan memiliki

karakteristik sampah yang sesuai, serta menerapkan teknologi yang

(24)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-24

 Tempat Pembuangan Akhir merupakan alternatif terakhir penanganan

sampah mengingat potensi dampak negatif yang tinggi. Pemanfaatan

secara berulang sebaiknya diupayakan dengan memperhatikan kualitas

produk “kompos” yang dihasilkan.

Pada dasarnya pengelolaan sampah ada 2 macam, yaitu

pengelolaan/penanganan sampah setempat (individu) dan pengelolaan

sampah terpusat untuk suatu lingkungan pemukiman atau kota.

a. Penanganan Setempat

Penanganan setempat dimaksudkan penanganan yang dilaksanakan

sendiri oleh penghasil sampah dengan menanam dalam galian tanah

pekarangannya atau dengan cara lain yang masih dapat dibenarkan.

Hal ini dimungkinkan bila daya dukung lingkungan masih cukup tinggi

misalnya tersedianya lahan, kepadatan penduduk yang rendah, dll.

b. Pengelolaan Terpusat

Pengelolaan persampahan secara terpusat adalah suatu proses atau

kegiatan penanganan sampah yang terkoordinir untuk melayani suatu

wilayah / kota.

Pengelolaan sampah secara terpusat mempunyai kompleksitas yang besar

karena cakupan berbagai aspek yang terkait. Aspek – aspek tersebut

dikelompokkan dalam 5 aspek utama, yakni aspek institusi, hukum, teknis

operasional, pembiayaan dan retribusi serta aspek peran serta masyarakat.

7.3.2.2. Aspek Pengelolaan Sampah

1. Aspek Teknis Operasional

Komposisi Sampah

Komposisi fisik sampah mencakup prosentase dari komponen

pembentuk sampah yang secara fisik dapat dibedakan antara sampah

(25)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-25

digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan pilihan

kelayakan pengolahan sampah khususnya daur ulang dan pembuatan

kompos serta kemungkinan penggunaan gas landfill sebagai energi

alternatif.

Karakteristik Sampah

Data mengenai karakteristik kimia sampah dapat dilakukan dengan

cara analisa di laboratorium. Data ini erat kaitannya dengan komposisi

fisiknya, apabila komposisi organiknya tinggi, maka biasanya

kandungan airnya tinggi, nilai kalornya rendah, kadar abunya rendah,

berat jenisnya tinggi. Karakteristik sampah di Indonesia rata-rata

memiliki kadar air 60 %, nilai kalor 1000 – 1300 k.cal/kg, kadar abu 10

– 11 % dan berat jenis 250 kg/m3

Data ini penting dalam menentukan pertimbangan dalam memilih

alternatif pengolahan sampah dengan cara pembakaran (insinerator).

Sebagai contoh sampah yang memiliki kadar air tinggi (> 55 %), nilai

kalor rendah (< 1300 kcal / kg), berat jenis tinggi (> 200 kg / m3) tidak

layak untuk dibakar dengan insinerator.

Sumber Sampah

Ada beberapa kategori sumber sampah yang dapat digunakan sebagai

acuan, yaitu:

 Sumber sampah yang berasal dari daerah perumahan  Sumber sampah yang berasal dari daerah komersial  Sumber sampah yang berasal dari fasilitas umum  Sumber sampah yang berasal dari fasilitas sosial

Klasifikasi kategori sumber sampah tersebut pada dasarnya juga dapat

menggambarkan klasifikasi tingkat perekonomian yang dapat

digunakan untuk menilai tingkat kemampuan masyarakat dalam

(26)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-26

Daerah Perumahan (rumah tangga)

Sumber sampah didaerah perumahan dibagi atas :

 Perumahan masyarakat berpenghasilan tinggi (High income)

 Perumahan masyarakat berpenghasilan menengah (Middle income)  Perumahan masyarakat berpenghasilan rendah / daerah kumuh

(Low income / slum area)

Daerah komersial.

Daerah komersial umumnya didominasi oleh kawasan perniagaan,

hiburan dan lain-lain. Yang termasuk kategori komersial adalah pasar

pertokoan hotel restauran bioskop salon kecantikan industri dan

lain-lain.

Fasilitas umum

Fasilitas umum merupakan sarana / prasarana perkotaan yang

dipergunakan untuk kepentingan umum. Yang termasuk dalam kategori

fasilitas umum ini adalah perkantoran, sekolah, rumah sakit, apotik,

gedung olah raga, museum, taman, jalan, saluran / sungai dan lain-lain.

Fasilitas sosial

Fasilitas sosial merupakan sarana prasarana perkotaan yang digunakan

untuk kepentingan sosial atau bersifat sosial. Fasilitas sosial ini meliputi

panti-panti sosial (rumah jompo, panti asuhan) dan tempat-tempat

ibadah (mesjid, gereja pura, dan lain-lain)

Sumber lain

Dari klasifikasi sumber-sumber sampah tersebut, dapat dikembangkan

lagi jenis sumber-sumber sampah yang lain sesuai dengan kondisi

kotanya atau peruntukan tata guna lahannya. Sebagai contoh sampah

yang berasal dari tempat pemotongan hewan atau limbah pertanian

(27)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-27

catatan bahwa sampah atau limbah tersebut adalah bersifat padat dan

bukan kategori sampah.

2. Pola Operasional

Pola operasional penanganan sampah dari sumber sampai TPA

dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengumpulan, pemindahan,

pengolahan, pengangkutan dan pembuangan akhir.

Diagram Operasional Penanganan Sampah

Pewadahan

 Wadah sampah individual (disumber) disediakan oleh setiap penghasil sampah sendiri sedangkan wadah komunal dan pejalan

kaki disediakan oleh pengelola dan atau swasta. spesifikasi

wadah sedemikian rupa sehingga memudahkan operasionalnya,

Sumber Sampah

Pengumpulan

Pengolahan Pemindahan

Pengangkutan

Pembuangan Akhir

 Composting

 Daur Ulang

(28)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-28

tidak permanen dan higienis. Akan lebih baik apabila ada

pemisahan wadah untuk sampah basah dan sampah kering  Pengosongan sampah dari wadah individual dilakukan paling

lama 2 hari sekali sedangkan untuk wadah komunal harus

dilakukan setiap hari.

Pengumpulan

 Pengumpulan sampah dari sumber dapat dilakukan secara langsung dengan alat angkut (untuk sumber sampah besar atau

daerah yang memiliki kemiringan lahan cukup tinggi) atau tidak

langsung dengan menggunakan gerobak (untuk daerah teratur)

dan secara komunal oleh mayarakat sendiri (untuk daerah tidak

teratur)

 Penyapuan jalan diperlukan pada daerah pusat kota seperti ruas jalan protokol, pusat perdagangan, taman kota dan lain-lain

Pemindahan

 Pemindahan sampah dari alat pengumpul (gerobak) ke alat angkut (truk) dilakukan di trasnfer depo atau container untuk

meningkatkan efisiensi pengangkutan

 Lokasi pemindahan haru dekat dengan daerah pelayanan atau radius  500 m

 Pemindahan skala kota ke stasiun transfer diperlukan bila jarak ke lokasi TPA lebih besar dari 25 km

Pengangkutan

 Pengangkutan secara langsung dari setiap sumber harus dibatasi pada daerah pelayanan yang tidak memungkinkan cara operasi

lainnya atau pada daerah pelayanan tertentu berdasarkan

(29)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-29

memperhitungkan besarnya biaya operasi yang harus dibayar

oleh pengguna jasa

 Penetapan rute pengangkutan sampah harus didasarkan pada hasil survey time motion study untuk mendapatkan jalur yang

paling efisien.

 Jenis truk yang digunakan minimal dump truck yang memiliki kemampuan membongkar muatan secara hidrolis, efisien dan

cepat

 Penggunaan arm roll truck dan compactor truck harus mempertimbangkan kemampuan pemeliharaan

Pengolahan

 Pengolahan sampah dimaksudkan untuk mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke TPA serta meningkatkan efisiensi

penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan

 Teknologi pengolahan sampah dapat dilakukan melalui pembuatan kompos, pembakaran sampah secara aman (bebas

COx, SOx, NOx dan dioxin), pemanfaatan gas metan dan daur

ulang sampah. Khusus pemanfaatana gas metan TPA (landfill

gas), dapat masuk dalam CDM (clean developmant mechanism)

karena secara significan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca

yang berpengaruh pada iklim global.

 Skala pengolahan sampah mulai dari individual, komunal (kawasan), skala kota dan skala regional.

 Penerapan teknologi pengolahan harus memperhatikan aspek lingkungan, dana, SDM dan kemudahan operasional.

Pembuangan akhir

 Pemilihan lokasi TPA harus mengacu pada SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA. Agar keberadaan TPA

(30)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-30

penerima > 100m, ke perumahan terdekat > 500 m, ke airport

1500 m (untuk pesawat propeler) dan 3000 m (untuk pesawat jet).

Selain itu muka air tanah harus > 4 m, jenis tanah lempung

dengan nilai K < 10-6 cm/det.

 Metode pembuangan akhir minimal harus dilakukan dengan controlled landfill (untuk kota sedang dan kecil) dan sanitary

landfill (untuk kota besar dan metropolitan) dengan “sistem sel”  Prasarana dasar minimal yang harus disediakan adalah jalan

masuk, drainase keliling dan pagar pengaman (dapat berfungsi

sebagai buffer zone)

 Fasilitas perlindungan lingkungan yang harus disediakan meliputi lapisan dasar kedap air, jaringan pengumpul lindi,

pengolahan lindi dan ventilasi gas / flaring atau landfill gas

extraction untuk mengurangi emisi gas.

 Fasilitas operasional yang harus disediakan berupa alat berat (buldozer, excavator, loader dan atau landfill compactor) dan stok

tanah penutup

 Penutupan tanah harus dilakukan secara harian atau minimal secara berkala dengan ketebalan 20 - 30 cm

 Penyemprotan insektisida harus dilakukan apabila penutupan sampah tidak dapat dilakukan secara harian

 Penutupan tanah akhir harus dilakukan sesuai dengan peruntukan lahan bekas TPA

 Kegiatan pemantauan lingkungan harus tetap dilakukan meskipun TPA telah ditutup terutama untuk gas dan efluen leachate, karena

proses dekomposisi sampah menjadi gas dan leahate masih terus

terjadi sampai 25 tahun setelah penutupan TPA

 Manajemen pengelolaan TPA perlu dikendalikan secara cermat dan membutuhkan tenaga terdidik yang memadai

(31)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-31

3. Aspek Institusional

 Penyelenggara pembangunan prasarana dan sarana persampahan dapat dilakukan secara sendiri atau terpadu oleh Pemerintah Daerah,

BUMN/BUMD, Swasta dan masyarakat

 Bentuk institusi dan struktur organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, secara umum bentuk institusi yang ada adalah perusahaan

daerah kebersihan (PDK), Badan Penanaman Modal dan Lingkungan

(BPM – LH, UPT Persampahan dan lain-lain. Struktur organisasi

sebaiknya mencerminkan kegiatan utama penangan sampah dari

sumber sampei TPA termasuk memiliki bagian perencaan, retribusi,

penyuluhan dan lain-lain.

 Instansi pengelola persampahan sebaiknya memiliki pola kerja sama dengan instansi terkait termasuk PLN (untuk kerjasama penarikan

retribusi) dan kerja sama antar kota untuk pola penangangan sampah

secara regional dan kerja sama dengan masyarakat atau perguruan

tinggi.

 SDM sebaiknya memiliki keahlian bidang persampahan baik melalui pendidikan formal (ada staf yang memiliki latar belakang pendidikan

teknik lingkungan, ekonomi, ahli manajemen dll) dan training bidang

persampahan.

 Kegiatan pengelolaan sampah yang tidak dapat dilaksanakan oleh masyarakat, menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah

 Kegiatan sosialisasi atau penyuluhan harus dilaksanakan secara terpadu dan terus menerus dengan melibatkan instansi terkait, LSM dan

perguruan tinggi.

4. Aspek Pembiayaan

(32)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-32

 Pengelolaan persampahan dapat dibiayai dari swadaya masyarakat, investasi swasta dan APBN / APBD

 Tata cara pembiayaan mengikuti ketentuan yang berlaku

 Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan pembangunan prasarana dan sarana persampahan dalam bentuk dana maupun aset

kepada masyarakat

 Pembiayaan penyediaan dan pemeliharaan pewadahan individual menjadi tanggung jawab penghasil sampah

Tarif Retribusi

 Biaya untuk penyediaan prasarana dan sarana pengumpulan serta pengelolaannya yang dilakukan oleh masyarakat sendiri dikenakan

pada anggota masyarakat yang mendapat pelayanan dalam bentuk

iuran (besarnya ditentukan melalui musyawarah dan mufakat) dan

dikordinasikan dengan pihak instansi pengelola persampahan

 Biaya untuk pengelolaan persampahan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah atau swasta untuk kepentingan masyarakat dibebankan kepada

masyarakat dalam bentuk retribusi kebersihan. Biaya pengelolaan

tersebut meliputi biaya investasi dan biaya operasi dan pemeliharaan  Penentuan tarif retribusi disusun berdasarkan asas keterjangkauan

/willingness to pay (secara umum kemampuan masyarakat membayar

retribusi adalah 1 -2 % dari income) dan subsidi silang dari masyarakat

berpenghasilan tinggi ke masyarakat berpenghasilan rendah dan dari

sektor komersial ke non komersial tanpa meninggalkan prinsip ekonomi

/ cost recovery (minimal 80 %, 20 % merupakan subsidi Pemerintah

kota/kab untuk pembersihan fasilitas umum).

 Mekanisme penarikan retribusi selain dilakukan langsung oleh instansi pengelola juga dapat dilakukan melalui kerjasama dengan PLN, PDAM,

RT/RW dan lain-lain sesuai dengan kondisi daerah pelayanan.

(33)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-33

 Undang-Undang (UU) yang berkaitan dengan persampahan adalah UU No 7 / 2004 tentang Sumber Daya Air, UU No 32/2004 tentang Otonomi

Daerah, UU No 33 / 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan

Daerah, UU No 23/1997 tentang Pokok-Pokok Lingkungan Hidup, UU

No 24 /1992 tentang Penataan Ruang, UU No 23/1992 tentang

Kesehatan, UU No 2/1992 Perumahan dan Permukiman

 Peraturan Pemerintah (PP) yang berkaitan dengan masalah persampahan adalah PP tentang Badan Layanan Umum, PP No 16 /

2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum , PP No.27

tahun 1999 tentang Amdal, PP No. 18 jo 85/1999 tentang Limbah B3

dan PP 16/2005 tentang Pengembangan Sistem penyediaan Air Minum  Agenda 21 berkaitan dengan program optimaalisasi minimalisasi limbah secara bertahap sampai tahun 2020, Kyoto Protocol tentang CDM

(clean development mechanism), MDGs tentang upaya pencapaian

target pengurangan jumlah orang miskin dan akses terhadap air minum

dan sanitasi (target 10 dan 11)

 SNI yang berkaitan dengan pedoman persampahan adalah SNI 19-2454-1991 tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan,

SNI tentang Spesifikasi Controlled Landfill, SK SNI S-04-1992-03

tentang Spesifikasi Timbulan Sampah Kota Sedang dan Kota Kecil, SNI

03-3242-1994 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah Permukiman,

SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA, SNI

19-3964-1994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh

Timbulan dan Komposisi Sampah.

 Pengaturan penyelenggaraan pembangunan bidang persampahan dilakukan melalui peraturan daerah (perda) yang pada umumnya terdiri

dari perda pembentukan institusi, ketentuan umum kebersihan dan

retribusi. Selain itu juga diperlukan perda yang mengatur mengenai

(34)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-34

6. Aspek Peran Serta Masyarakat dan Kemitraan

Peran Serta Masyarakat

 Peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan diperlukan sejak dari perencanaan sampai dengan

operasi dan pemeliharaan

 Peran serta masyarakat berkaitan dengan penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan dapat berupa usulan, saran, pertimbangan,

keberatan serta bantuan lainnya atau pelaksanaan program 3R baik

untuk skala individual maupun skala kawasan.

 Peningkatan peran serta masyarakat dapat dilakukan melalui pendidikan formal sejak dini, penyuluhan yang intenssif, terpadu dan

terus menerus serta diterapkannya sistem insentif dan disinsentif  Masyarakat bertanggung jawab atas penyediaan dan pemeliharaan

fasilitas pewadahan dan atau meyelenggarakan pengumpulan /

pengolahan sampah

Kemitraan

 Pemerintah memberikan peluang kepada pihak swasta untuk menyelenggarakan pembangunan dan pengelolaan prasarana dan

sarana persampahan serta dapat menciptakan iklim investasi yang

kondusif

 Kemitraan dapat dilakukan terhadap sebagian atau seluruh kegiatan sistem pembangunan persampahan, termasuk melakukan upaya

pengendalian pencemaran lingkungan.

 Pola kemitraan dapat dilakukan melalui studi kelayakan dengan memperhatikan keterjangkauan masyarakat, kemampuan Pemda,

peluang usaha dan keuntungan swasta.

(35)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-35

7. Dampak Pencemaran Akibat Sampah

Potensi Dampak

Dalam kenyataannya banyak pengelola kebersihan menghadapi

berbagai masalah dan kendala sehingga mereka tidak dapat

menyediakan pelayanan yang baik sesuai dengan ketentuan teknis dan

harapan masyarakat. Disana sini sering terjadi pencemaran akibat

pengelolaan yang kurang baik sehingga menimbulkan berbagai masalah

pencemaran selama pelaksanaan kegiatan teknis penanganan

persampahan yang meliputi: pewadahan, pengumpulan, pemindahan,

pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan akhir. Berbagai potensi

yang menimbulkan berbagai dampak dapat meliputi :

a. Perkembangan vektor penyakit

Wadah sampah merupakan tempat yang sangat ideal bagi

pertumbuhan vektor penyakit terutama lalat dan tikus. Hal ini

disebabkan dalam wadah sampah tersedia sisa makanan dalam

jumlah yang besar.

Tempat Penampungan Sementara / Container juga merupakan

tempat berkembangnya vektor tersebut karena alasan yang sama.

Sudah barang tentu akan menurunkan kualitas kesehatan

lingkungan sekitarnya.

Vektor penyakit terutama lalat sangat potensial berkembangbiak di

lokasi TPA. Hal ini terutama disebabkan oleh frekwensi penutupan

sampah yang tidak dilakukan sesuai ketentuan sehingga siklus hidup

lalat dari telur menjadi larva telah berlangsung sebelum penutupan

dilaksanakan. Gangguan akibat lalat umumnya dapat ditemui sampai

radius 1-2 km dari lokasi TPA

b. Pencemaran Udara

Sampah yang menumpuk dan tidak segera terangkut merupakan

(36)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-36

sensitif sekitarnya seperti permukiman, perbelanjaan, rekreasi, dan

lain-lain. Pembakaran sampah seringkali terjadi pada sumber dan

lokasi pengumpulan terutama bila terjadi penundaan proses

pengangkutan sehingga menyebabkan kapasitas tempat

terlampaui. Asap yang timbul sangat potensial menimbulkan

gangguan bagi lingkungan sekitarnya.

Sarana pengangkutan yang tidak tertutup dengan baik juga sangat

berpotensi menimbulkan masalah bau di sepanjang jalur yang

dilalui, terutama akibat bercecerannya air lindi dari bak kendaraan.

Pada instalasi pengolahan terjadi berupa pelepasan zat pencemar

ke udara dari hasil pembuangan sampah yang tidak sempurna;

diantaranya berupa : partikulat, SO x, NO x, hidrokarbon, HCl,

dioksin, dan lain-lain.

Proses dekomposisi sampah di TPA secara kontinu akan

berlangsung dan dalam hal ini akan dihasilkan berbagai gas seperti

CO, CO2, CH4, H2S, dan lain-lain yang secara langsung akan

mengganggu komposisi gas alamiah di udara, mendorong

terjadinya pemanasan global, disamping efek yang merugikan

terhadap kesehatan manusia di sekitarnya.

Pembongkaran sampah dengan volume yang besar dalam lokasi

pengolahan berpotensi menimbulkan gangguan bau. Disamping itu

juga sangat mungkin terjadi pencemaran berupa asap bila sampah

dibakar pada instalasi yang tidak memenuhi syarat teknis.

Seperti halnya perkembangan populasi lalat, bau tak sedap di TPA

juga timbul akibat penutupan sampah yang tidak dilaksanakan

dengan baik.

Asap juga seringkali timbul di TPA akibat terbakarnya tumpukan

sampah baik secara sengaja maupun tidak. Produksi gas metan

(37)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-37

dipadamkan sehingga asap yang dihasilkan akan sangat

mengganggu daerah sekitarnya.

c. Pencemaran Air

Prasarana dan sarana pengumpulan yang terbuka sangat potensial

menghasilkan lindi terutama pada saat turun hujan. Aliran lindi ke

saluran atau tanah sekitarnya akan menyebabkan terjadinya

pencemaran.

Instalasi pengolahan berskala besar menampung sampah dalam

jumlah yang cukup besar pula sehingga potensi lindi yang dihasilkan

di instalasi juga cukup potensial untuk menimbulkan pencemaran

air dan tanah di sekitarnya.

Lindi yang timbul di TPA sangat mungkin mencemari lingkungan

sekitarnya baik berupa rembesan dari dasar TPA yang mencemari

air tanah di bawahnya. Pada lahan yang terletak di kemiringan,

kecepatan aliran air tanah akan cukup tinggi sehingga

dimungkinkan terjadi cemaran terhadap sumur penduduk yang

trerletak pada elevasi yang lebih rendah.

Pencemaran lindi juga dapat terjadi akibat efluen pengolahan yang

belum memenuhi syarat untuk dibuang ke badan air penerima.

Karakteristik pencemar lindi yang sangat besar akan sangat

mempengaruhi kondisi badan air penerima terutama air permukaan

yang dengan mudah mengalami kekurangan oksigen terlarut

sehingga mematikan biota yang ada.

d. Pencemaran Tanah

Pembuangan sampah yang tidak dilakukan dengan baik misalnya di

lahan kosong atau TPA yang dioperasikan secara sembarangan

akan menyebabkan lahan setempat mengalami pencemaran akibat

tertumpuknya sampah organik dan mungkin juga mengandung

Bahan Buangan Berbahaya (B3). Bila hal ini terjadi maka akan

(38)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-38

atau larut dari lokasi tersebut. Selama waktu itu lahan setempat

berpotensi menimbulkan pengaruh buruk terhadap manusia dan

lingkungan sekitarnya.

e. Gangguan Estetika

Lahan yang terisi sampah secara terbuka akan menimbulkan kesan

pandangan yang sangat buruk sehingga mempengaruhi estetika

lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat terjadi baik di lingkungan

permukiman atau juga lahan pembuangan sampah lainnya.

Proses pembongkaran dan pemuatan sampah di sekitar lokasi

pengumpulan sangat mungkin menimbulkan tumpahan sampah

yang bila tidak segera diatasi akan menyebabkan gangguan

lingkungan. Demikian pula dengan ceceran sampah dari kendaraan

pengangkut sering terjadi bila kendaraan tidak dilengkapi dengan

penutup yang memadai.

Di TPA ceceran sampah terutama berasal dari kegiatan

pembongkaran yang tertiup angin atau ceceran dari kendaraan

pengangkut. Pembongkaran sampah di dalam area pengolahan

maupun ceceran sampah dari truk pengangkut akan mengurangi

estetika lingkungan sekitarnya.

Sarana pengumpulan dan pengangkutan yang tidak terawat dengan

baik merupakan sumber pandangan yang tidak baik bagi daerah

yang dilalui.

Lokasi TPA umumnya didominasi oleh ceceran sampah baik akibat

pengangkutan yang kurang baik, aktivitas pemulung maupun tiupan

angin pada lokasi yang sedang dioperasikan. Hal ini menimbulkan

pandangan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat yang

melintasi / tinggal berdekatan dengan lokasi tersebut.

(39)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-39

Lokasi penempatan sarana / prasarana pengumpulan sampah yang

biasanya berdekatan dengan sumber potensial seperti pasar,

pertokoan, dan lain-lain serta kegiatan bongkar muat sampah

berpotensi menimbulkan gangguan terhadap arus lalu lintas.

Arus lalu lintas angkutan sampah terutama pada lokasi tertentu

seperti transfer station atau TPA berpotensi menjadi gerakan

kendaraan berat yang dapat mengganggu lalu lintas lain; terutama

bila tidak dilakukan upaya-upaya khusus untuk mengantisipasinya.

Arus kendaraan pengangkut sampah masuk dan keluar dari lokasi

pengolahan akan berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lalu

lintas di sekitarnya terutama berupa kemacetan pada jam-jam

kedatangan.

Pada TPA besar dengan frekwensi kedatangan truck yang tinggi

sering menimbulkan kemacetan pada jam puncak terutama bila

TPA terletak berdekatan dengan jalan umum.

g. Gangguan Kebisingan

Kebisingan akibat lalu lintas kendaraan berat / truck timbul dari

mesin-mesin, bunyi rem, gerakan bongkar muat hidrolik, dan

lain-lain yang dapat mengganggu daerah-daerah sensitif di sekitarnya.

Di instalasi pengolahan kebisingan timbul akibat lalu lintas

kendaraan truk sampah disamping akibat bunyi mesin pengolahan

(tertutama bila digunakan mesin pencacah sampah atau shredder).

Kebisingan di sekitar lokasi TPA timbul akibat lalu lintas kendaraan

pengangkut sampah menuju dan meninggalkan TPA; disamping

operasi alat berat yang ada.

h. Dampak Sosial

Hampir tidak ada orang yang akan merasa senang dengan adanya

pembangunan tempat pembuangan sampah di dekat

(40)

RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-40

menentang / oposisi dari masyarakat dan munculnya keresahan.

Sikap oposisi ini secara rasional akan terus meningkat seiring

dengan peningkatan pendidikan dan taraf hidup mereka, sehingga

sangat penting untuk mempertimbangkan dampak ini dan

mengambil langkah-langkah aktif untuk menghindarinya.

8. Resiko Lingkungan

Komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak akibat

adanya kegiatan pembangunan sistem penyediaan air bersih akan

mencakup:

a. Geo-fisik-Kimia; yang meliputi: kuantitas dan kualitas air

tanah/permukaan, kualitas udara, kondisi tanah, dan kebisingan

b. Biologis: baik keanekaragaman maupun kondisi flora/fauna

c. Sosioekonomibudaya; yang meliputi: kependudukan, kesehatan

masyarakat, pola kehidupan masyarakat, mata pencaharian, estetika,

kecemburuan masyarakat, persepsi masyarakat terhadap proyek, nilai

jual tanah, situs sejarah, adat, dan lain-lain

d. Prasarana umum: jalan, saluran drainase, jaringan PLN/Telkom,

perpipaan air bersih / air limbah, dll

7.3.2.3. Profil Persampahan

Jumlah penduduk Kabupaten Sumbawar berjumlah 406.888 jiwa, angka

tersebut meningkat cukup signifikan dalam kurun waktu 2 (dua) tahun

terakhir. Walaupun intensitas kesadaran masyarakat terhadap pengendalian

populasi penduduk sudah semakin baik, akan tetapi kesadaran untuk

mengikuti program “Dua Anak Cukup” belum terwujud secara nyata yang

menyebabkan perkembangan jumlah penduduk relatif tinggi.

Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan makin

banyaknya lahan – lahan baru yang dijadikan pemukiman, baik lahan sawah

maupun lahan kering. Beberapa tempat yang dianggap strategis akhirnya

Gambar

Gambar Diagram kondisi akses masyarakat pada sanitasi
Tabel Daftar Sarana Dan Prasarana Penunjang Kegiatan

Referensi

Dokumen terkait

Dalam keterkaitan itu, konflik otoritatif intra agama yang terjadi di Sampang antara aliran Sunni dan Syi‟ah merupakan prahara aliran yang telah

Manajemen menggunakan informasi untuk dua tujuan yaitu perencanaan dan pengawasan. Perencanaan terjadi sebelum pelaksanaan aktivitas organisasi. Tujuan yang ditentukan oleh

Dalam menentukan tingkat kepentingan dari elemen-elemen keputusan pada setiap tingkat hirarki keputusan, penilaian pendapat dilakukan dengan menggunakan fungsi berfikir,

Pada gambar 1 dijelaskan bahwa proses training digunakan untuk blok model Naive Bayes, dihubungkan dengan garis penghubung pada blok apply model dan blok performance

image produk PT. Biotech Farma di Kota Bandung. 2) Untuk menganalisa upaya yang perlu dilakukan oleh PT. Biotech Farma dari segi harga, untuk meningkatkan brand.

Setiap guru yang akan menggunakan fasilitas laboratorium harus di bekali dengan keterampilan atau pelatihan   bagimana menggunakan laboratorium bahasa dan menggunakan

Dengan adanya individual ownership akan meningkatkan monitoring terhadap perusahaan, hal ini dikarenakan investor individu memiliki motivasi yang lebih besar untuk

Abstrak Alat Permainan Edukatif adalah jenis permainan yang mengandung nilai pendidikan yang berfungsi untuk merangsang daya imajinasi anak dalam proses perkembangan kongnitif, proses