PENDAHULUAN | 3-1
Bagian ini membahas mengenai rencana program investasi infrastruktur Bidang Cipta Karya untuk masing-masing sektor,
yaitu sektor Pengembangan Kawasan Permukiman, Penataan Bangunan dan Lingkungan, Pengembangan SPAM, dan Pengembangan PLP. Pada setiap sektor
dijelaskan kondisi eksisting, analisis kebutuhan, serta usulan kebutuhan program dan pendanaan masing-masing
sektor.
RPIJM
Kabupaten
Sumbawa
TAHUN 2017 - 2021
BAB 7.
RENCANA PEMBANGUNAN
INFRASTRUKTUR BIDANG
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-2
7.1. SEKTOR PENGEMBNAGAN KAWASAN PERMUKIMAN
7.1.1. Umum
Kebutuhan akan tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar
manusia selain pangan dan sandang. Secara nasional keterbatasan
penyediaan dibandingkan dengan kebutuhan (backlog) perumahan mencapai
angka 8 (delapan) juta rumah. Belum lagi laju pertumbuhan penduduk dan
pergeseran interval didalam piramida penduduk secara nasional dan
bertambahnya keluarga baru dari tahun ke tahun ikut mempertajam backlog
perumahan. Belum lagi permasalahan bertumbuhnya jumlah rumah tidak layak
huni yang pada gilirannya membuat tantangan penyediaan rumah bagi
penduduk menjadi semakin berat.
Program pengembangan permukiman dilaksanakan dengan maksud
meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan/perkotaan melalui
peningkatan/perbaikan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan
infrastruktur dasar.
Program pengembangan permukiman memiliki tujuan, yaitu:
1). Meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap infrastruktur dasar di
wilayah perdesaan;
2). Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyediaan infrastruktur
perdesaan/perkotaan.
Sedangkan Sasaran Pengembangan Permukiman adalah:
1. Tersedianya infrastruktur perdesaan/perkotaan yang sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan masyarakat, berkualitas, berkelanjutan serta
berwawasan lingkungan;
2. Meningkatnya kemampuan masyarakat perdesaan/perkotaan dalam
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-3
3. Menigkatnya jumlah penanganan desa tertinggal, permukiman kumuh
perkotaan serta permukiman kumuh pada kawasan permukiman nelayan,
dan sebagainya;
4. Meningkatnya kemampuan aparatur pemerintah daerah sebagai fasilitator
pembangunan di perdesaan;
5. Terlaksananya penyelenggaraan pembangunan infrastruktur perdesaan/
perkotaan yang partisipatif, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.
7.1.2. Pengembangan Permukiman Kabupaten Sumbawa
Pengembangan Permukiman Kabupaten Sumbawa dilaksanakan sesuai
dengan pertimbangan pengembangan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK)
dan sesuai dengan prioritas pengembangan dan fungsi kawasan yang meliputi
sebagai berikut :
1. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Agropolitan Alasutan, yang
termasuk dalam kawasan ini 5 (lima) kecamatan, yaitu Kecamatan Alas
Barat, Kecamatan Alas, Kecamatan Buer, Kecamatan Utan dan
Kecamatan Rhee;
2. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Agropolitan Emparano, yang
termasuk dalam kawasan ini 5 (lima) kecamatan, yaitu Kecamatan
Tarano, Kecamatan Empang, Kecamatan Lape, Kecamatan Moyo Hilir dan
Kecamatan Moyo Utara;
3. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) KTM Labangka, yang termasuk
dalam kawasan ini 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Labangka,
Kecamatan Plampang dan Kecamatan Maronge;
4. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Agropolitan Brang Pelat, yang
termasuk dalam kawasan ini 4 (empat) kecamatan, yaitu Kecamatan
Sumbawa, Kecamatan Lab. Badas, Kecamatan Unter Iwis dan Kecamatan
Batulanteh;
5. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) Sumbawa Selatan, yang
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-4
Lantung, Kecamatan Lenangguar, Kecamatan Ropang, Kecamatan Lopok,
Kecamatan Moyo Hulu, Kecamatan Lunyuk dan Kecamatan Orong Telu;
Kondisi wilayah dari masing – masing kawasan pengembangan adalah
sebagai berikut :
1. KSK Agropolitan Alasutan, dengan karakteristik sebagai berikut :
Prasarana, Sarana dan Utilitas masih relatif terbatas;
Dukungan infrastruktur jalan yang ada masih rendah;
Sumber daya air cukup memadai, namun belum dimanfaatkan secara
optimal;
Merupakan wilayah yang memiliki bahan tambang galian golongan C
yang cukup besar, seperti pasir dan batu kali;
Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk mendukung sektor
perdagangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan pariwisata, dan
termasuk di dalam pengembangan kawasan pemukiman;
2. KSK Agropolitan Emparano, dengan karakteristik sebagai berikut :
Mempunyai kawasan wisata bahari yang cukup potensial, namun belum
didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai;
Dukungan infrastruktur dan aksesibilitas masih kurang;
Sumber daya air cukup memadai, namun belum dimanfaatkan secara
optimal;
Kawasan hulu sungai mulai terjadi degradasi, yang berakibat timbulnya
resiko bencana banjir;
Pada kawasan pesisir mulai banyak dikembangkan usaha pertambakan
/ perikanan, yang akan berdampak pada terjadinya pencemaran daerah
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-5
Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk merndukung sektor
perdagangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan pariwisata,
termasuk didalam pengembangan kawasan permukiman;
3. KSK KTM Labangka, dengan karakteristik sebagai berikut :
Dukungan infrastruktur dan aksesibilitas masih kurang;
Sumber daya air cukup memadai, namun belum dimanfaatkan
secara optimal;
Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk mendukung sektor
pertanian secara umum, terutama komoditas jagung;
4. KSK Agropolitan Brang Pelat, dengan karakteristik sebagai berikut :
merupakan kawasan wisata yang cukup potensial, namun belum
didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai;
Dukungan infrastruktur dan aksesibilitas masih kurang;
Sumber daya air cukup memadai, namun belum dimanfaatkan secara
optimal;
Kawasan hulu sungai mulai terjadi degradasi, yang dapat menimbulkan
resiko kekeringan sumber air yang dikarenakan hutan tidak dapat
sebagai kawasan tangkapan air;
Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk mendukung sektor
perdagangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan pariwisata,
termasuk didalam pengembangan kawasan permukiman;
5. KSK Sumbawa Selatan, dengan karakteristik sebagai berikut :
Dukungan infrastruktur dan aksesibilitas masih kurang;
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-6
Sebahagian dari kawasan tersebut merupakan daerah sulit air pada
musim kemarau, maka diperlukan adanya langkah pengadaan sumber
air baku;
Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk mendukung sektor
perdagangan, perkebunan, peternakan, pertanian dan pariwisata,
termasuk didalam pengembangan kawasan permukiman;
Secara umum kebijakan pengembangan permukiman di Kabupaten Sumbawa
diarahkan pada penyediaan sarana dan prasarana pendukung di kawasan
permukiman, terutama di ibukota-ibukota kecamatan di Kawasan Strategis
Kabupaten. Secara kasat mata perkembangan pemukiman di Kabupaten
sumbawa bersifat sporadis, mandiri dan swadaya sehingga arahan
pembangunan jangka menengah kabupaten sumbawa menegaskan bahwa
kawasan terbangun selama kurun waktu 5 (lima) tahun perencananaan dapat
lebih meng-cluster dengan pengembangan pemukiman berbasis kawasan.
Dalam rangka mengantisipasi perkembangan kependudukan dan demand
terhadap perumahan layak huni ke depan, pemerintah kabupaten sumbawa
pada akhir tahun anggaran 2011 akan mengalokasikan anggaran untuk
penyusunan dokumen RP4D (Rencana Pembangunan dan Pengembangan
Perumahan dan Permukiman di Daerah) guna menjadi acuan dalam
penentuan sasaran tahunan pembangunan permukiman dalam kurun waktu 20
tahun perencanaan.
7.2. SEKTOR PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
7.2.1. Umum
Kota Sumbawa Besar merupakan pusat kota Kabupaten sekaligus Pusat
Pemerintahan Kabupaten Sumbawa, juga memiliki kondisi pranata sosial dan
budaya yang sangat kuat sehingga memperkuat karakter sebagai pusat
pemerintahan dan pusat kebudayaan. Sebagian besar gedung perkantoran
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-7
Kawasan Perkantoran. Gedung-gedung tersebut secara detail tidak terlepas
dari permasalahan keselamatan, keamanan dan kenyamanan sehingga
diperlukan penertiban dan penegakkan aturan dan tata tertib bangunan
gedung, termasuk dengan infrastruktur dan fasilitas penunjang kawasan
masih belum memadai.
Selain itu dalam melakukan penataan kawasan, pemerintah Kabupaten
Sumbawa juga telah mengupayakan pembuatan RTBL (Rencana Tata
Bangunan dan Lingkungan) di beberapa kawasan, terutama di wilayah Kota
Sumbawa Besar. Sampai dengan tahun 2011, pemerintah Kabupaten
Sumbawa telah menghasilkan 4 (empat) dokumen RTBL yaitu: RTBL
Kawasan Wisata Pantai Goa, RTBL Kawasan BWK (Bagian Wilayah Kota) IV,
RTBL Kawasan Pacuan Kuda Kerato dan RTBL Kawasan Pantai Batu Gong.
Dalam upaya mitigasi bencana kebakaran pemerintah kabupaten sumbawa
juga telah mengupayakan pengadaan kendaraan pemadam kebakaran.
Sampai dengan tahun 2011, kendaraan pemadam kebakaran yang masih
operasional sejumlah 3 (tiga) unit, dan untuk tahun anggaran 2012 dan
selanjutnya pemerintah Kabupaten Sumbawa merencanakan untuk
menambah jumlah unit pemadam kebakaran hingga menjadi 5 (lima) unit.
7.2.2. Permasalahan yang Dihadapi
Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan dan penataan bangunan
dan lingkungan di Kabupaten Sumbawa sebagai berikut :
a. Ketersediaan lahan yang terbatas dan kesulitan pembebasan tanah, karena
harga lahan / tanah cukup tinggi;
b. Keterbatasan dana yang disediakan melalui APBD, menyebabkan
beberapa bagian dari gedung perkantoran belum mendapatkan
penanganan dan termasuk penyediaan bangunan perkantoran baru;
c. Belum secara keseluruhan aturan mengenai 3K (Keselamatan, Keamanan
dan Kenyamanan) diterapkan pada bangunan gedung pemerintah maupun
gedung milik swasta yang digunakan bagi kepentingan pelayanan
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-8
d. Prasarana dan sarana hidran kebakaran banyak yang tidak berfungsi dan
kurang mendapat perhatian.
e. Standar bangunan Pemerintah kabupaten merupakan bangunan
sederhana yang harga per-m2 nya rendah, sehingga tidak dapat memenuhi
standar keselamatan (pemadam kebakaran) karena biayanya cukup tinggi.
f. Penataan dan perbaikan permukiman – permukiman tradisional belum
secara maksimal dilakukan karena keterbatasan dana pembangunan yang
ada, mengingat kawasan tersebut menjadi potensi wisata yang perlu
dikembangkan.
g. Belum optimalnya pelaksanaan perencanaan daerah dan pengendalian
bangunan dan lingkungan yang merangsang tumbuhnya kesadaran
masyarakat dalam mematuhi aturan dan mengurus perijinannya.
7.2.3. Analisis Permasalahan dan Rekomendasi
a. Permasalahan Air Bersih
Kebutuhan akan air bersih yang sebagian besar dari air PDAM masih belum mencukupi;
Alternative yang ada untuk mendapatkan air bersih seperti pengadaan sumur galian masih belum bisa terlaksana sepenuhnya karena
kurangnya dana;
b. Permasalahan Persampahan
Kurangnya kesadaran masyarakat tentang kebersihan, dimana sampah masih dibuang di sembarang tempat;
Belum tersedianya sarana persampahan seperti bak sampah komunal, gerobak sampah dan Tempat Pembuangan Sementara (TPS);
Sistem Persampahan yang masih belum berjalan sepenuhnya c. Permasalahan Drainase
Sistem drainase masih belum optimal, diperlukan pelebaran karena prasarana drainase yang ada sekarang ini tidak bisa lagi menampung
debit air terutam pada musim hujan.
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-9
MCK komunal (jamak) yang tersedia sekarang ini belum mencukupi sebagaimana kebutuhan fasilitas yang seharusnya tersedia pada Kota
kabupaten.
MCK yang tersedia sebagian sudah tidak layak digunakan. e. Permasalahan Jalan
Banyak jalan setapak dan jalan lingkungan yang rusak sehingga memerlukan perbaikan untuk memperlancar transportasi dan distribusi
barang.
f. Permasalahan Kelistrikan
Minimnya prasarana penerangan lingkungan (penerangan jalan);
Penerangan jalan yang tersedia lebih banyak menggunakan Balon, sedangkan warga mengharapkan penggunaan lampu Neon supaya
penerangan pada malam hari lebih terang.
Dari permasalahan-permasalahan di atas, adapun pemecahan yang dapat
dilakukan adalah:
a. Optimalisasi pengunaan air PDAM serta pengadaan sumur galian di titik-titik
lokasi yang mengalami kekurangan air bersih.
b. Pengadaan dan persebaran sarana persampahan pada masing-masing
dusun terutama terkonsentrasi pada kawasan yang penduduknya padat.
Metode pengelolaan sampah yang dapat dlakukan sebagai berikut:
Sampah pertama-tama di kumpulkan pada bak komunal yang akan disediakan di masing-masing kelompok permukiman; pada bak komunal
ini nanti sampah organic dan anorganik akan dipisahkan;
Sampah yang terkumpul pada bak komunal akan di pidahkan dengan grobak sampah menuju TPS;
Dari TPS, sampah akan diangkut ke pembuangan akhir dengan menggunakan truk sampah.
c. Penambahan saluran drainase pada kawasan-kawasan limpasan air dan
yang memiliki debit air yang besar disertai pelebaran saluran drainase yang
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-10
d. Penambahan prasarana MCK komunal (bersama) pada masing-masing
dusun, dengan pertimbangan titik lokasi MCK harus dekat dengan sumber
air.
e. Perbaikan prasarana lingkungan dan jalan poros desa (jalan setapak),
yakni alternatif perkerasan berupa; paving blok dan rabat untuk jalan
setapak dengan lebar rata-rata 1,5-2 meter dan alternatif perkerasan
berupa aspal dan hotmig untuk jalan lingkungan dengan lebar di atas 3
meter.
f. Pengadaan lampu penerangan jalan (lingkungan) pada masing-masing
dusun, terutama di sudut-sudut jalan dan kawasan yang membutuhkan
penerangan.
7.2.4. Penataan “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional
1. Pengertian Penataan “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman
Tradisional
Revitalisasi kawasan adalah upaya untuk memaksimalkan kembali potensi
sumber daya kawasan baik itu potensi sumberdaya manusia, alam,
ekonomi, budaya, sosial dan lain-lain, yang pada masa silam pernah
berkembang pesat, atau mengendalikan dan mengembangkan kawasan
untuk menemukan kembali potensi yang dimiliki atau pernah dimiliki sebuah
kota sehingga diharapkan dapat memberikan peningkatan kualitas
lingkungan kota dan peningkatan ekonomi lokal kawasan yang pada
akhirnya berdampak pada kualitas hidup dari para penghuninya.
Tiap kota memiliki kawasan yang bernilai historis sebagai salah satu cikal
bakal dari pusat kegiatan masyarakat. Namun seiring dengan berjalannya
waktu dan gencarnya pembangunan dan pengembangan wilayah
perkotaan, kawasan ini justru sering terabaikan dan kehilangan
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-11
Program penataan dan revitalisasi kawasan ditujukan untuk meningkatkan
vitalitas kawasan lama melalui intervensi yang mampu menciptakan
pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, terintegrasi dengan sistem
kawasan, layak huhuni, berkeadilan sosial, berwawasan budaya dan
lingkungan.
Oleh sebab itu penataan dan revitalisasi kawasan dilakukan melalui
pengembangan kawasan-kawasn tertentu yang layak untuk direvitalisasi
baik dari segi setting kawasan (bangunan dan ruang kawasan), kualitas
lingkungan, sarana, prasarana danutilitas kawasan, sosio kultural, sosio
ekonomi dan sosio politik.
Jadi maksud kegiatan penataan dan revitalisasi kawasan adalah agar
kawasan lebih terintegrasi dalam satu kesatuan yang utuh dengan sistem
kawasan, terberdayakan pertumbuhan ruang ekonominya sehingga dapat
meningkatkan aktifitas dan kenyamanan (amenitas) lingkungan kota, yang
pada akhirnya daoat berdampak pada peningkatan kualitas hidup
penghuhni bahkan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokalnya.
Wilayah pembangunan dapat tercapai apabila tiap wilayah memiliki satuan
wilayah pengembangan dimana wilayah pusat diharapkan dapat
menjalankan pembangunan yang adaterhadap wilayah sekitarnya. Bila
proses ini dapat berlangsung dengan baik maka masalah perkembangan
ekonomi wilayah dan pemeratan pembangunan akan lebih mudah dicapai,
baik secara konseptual maupun secara nyata.
Untuk mencapai hal ini dapat dilakukan dengan menetapkan struktur tata
ruang wilayah yang ideal. Dengan menerapkan sistem perwilayahan
pengembangan dan sistem perkotaan diharapkan mampu mendorong
perkembangan wilayah sekitarnya. Kota-kota kunci inilah yang nantinya
akan menjadi penentu perkembangan wilayah, tanpa harus mengorbankan
wilayah lainnya yang memiliki potensi untuk berkembang.
Guna mencapai hal tersebut maka pengembangan struktur tata ruang
wilayah ditetapkan menurut model regionalisasi atau pembentukan dalam
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-12
kelengkapan beberapa fasilitas sosial ekonomi yang memadai dan dapat
mendukung percepatan pertuimbuhannya. Wilayah pusat ini juga harus
memiliki aksesibilitas yang tinggi pada wilayah sekitarnya dan akses ke kota
Sumbawa Besar sebagai pusat pelayanan secara regional. Berdasarkan
kondisi perkembangan wilayah Kabupaten Sumbawa, maka rencana sistem
perwilayahan dikembangkan berdasarkan skenario pengembangan jangka
panjang dengan asumsi, bahwa setiap wilayah mempunyai peluang yang
sama untuk berkembang, sehingga pada tahap tertentu masing-masing
wilayah dianggap mampu untuk mandiri dan melayani diri mereka sendiri,
sehingga tujuan akhir berupa Kemandirian wilayah dapat tercapai.
Revitalisasi pada prinsipnya tidak sekedar menyangkut masalah konservasi
bangunan dan ruang kawasan bersejarah saja, tetapi lebih kepada upaya
untuk mengembalikan atau menghidupkan kembali kawasan dalam konteks
kota yang tidak berfungsi atau menurun fungsinya agar berfungsi kembali,
atau menata dan mengembangkan lebih lanjut kawasan yang berkembang
sangat pesat namun kondisinya cenderung tidak terkendali.
2. Analisa Permasalahan, Alternatif Pemecahan dan Rekomendasi
Setelah dilakukan pengkajian dan analisa terhadap berbagai masalah yang
ada dapat dikemukan kondisi yang ada sebagai berikut :
Kurangnya apresiasi pemerintah dan masyarakat akan pentingnya mempertahankan bangunan dan ruang kawasan yang memiliki nilai
Heritage, sebagai upaya mencegah hilangnya aset-aset kawasan yang
menandai rangkaian riwayat panjang perjalanan suatu kawasan beserta
masyarakat yang ada di dalamnya.
Degradasi lingkungan di sebagian wilayah perkotaan Kabupaten Sumbawa dan sekitarnya semakin parah. Hal ini ditandai oleh makin
meningkatnya nilai-nilai budaya baru yang terus bergerak menggeser
nilai-nilai budaya masa silam.
Masalah klasik, dianggap akibat keterbatasan dana dan SDM profesional, akan pentingnya mempertahankan bangunan dan ruang
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-13
hilangnya aset-aset kawasan yang menandai rangkaian riwayat panjang
perjalanan suatu kawasan beserta masyarakat yang ada.
Tidak terdapatnya bentuk kelembagaan yang sesuai dan efektif untuk pengelolaan, penyelenggaraan dan pengembangan (dari tingkat
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian) revitalisasi
bangunan dan ruang kawasan yang memiliki nilai Heritage, sesuai
dengan paradigma tata pemerintahan yang baik (good governance).
3. Usulan Penataan “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional
Usulan Penataan “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional
meliputi kegiatan sebagai berikut :
1. Studi Identifikasi “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional
2. Detail Desain “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional
3. Pelaksanaan Fisik “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional
4. Supervisi “Revitalisasi” Lingkungan Permukiman Tradisional.
7.2.5. Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
1. Pengertian
a. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan, Ruang
terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas
baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area
memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat
terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkotaan yang adalah bagian dari ruang terbuka suatu
kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna
mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.
b. RTH adalah suatu lapang yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada
berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-14
c. RTH adalah sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang
mempunyai ukuran, bentuk dan batas geografis tertentu dengan
status penguasaan apapun, yang di dalamnya terdapat tetumbuhan
hijau berkayu dan tahunan (perennial woody plants), dengan
pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya
(perdu, semak, rerumputan, dan tumbuhan penutup tanah lainnya),
sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga
sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan.
Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari
ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu
wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik
maupun introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial-budaya dan
arsitektural yang dapat memberikan manfaat ekonomi (kesejahteraan) bagi
masyarakatnya.
Sementara itu ruang terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang
diperkeras (paved) maupun ruang terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan
sungai, danau, maupun areal-areal yang diperuntukkan khusus sebagai area
genangan (retensi/retention basin).
2. Tujuan, Fungsi dan Manfaat RTH
Tujuan pembentukan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan adalah:
a. Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan
perkotaan;
b. Mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan
buatan di perkotaan; dan
c. Meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah,
bersih dan nyaman.
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-15
a. Pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan;
b. Pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara;
c. Tempat perlindungan plasma nuftah dan keanekaragaman hayati;
d. Pengendali tata air; dan
e. Sarana estetika kota.
Manfaat yang dapat diperoleh dari Ruang Terbuka Hijau Kota antara lain:
a. Sarana untuk mencerminkan identitas daerah;
b. Sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan;
c. Sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial;
d. Meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan;
e. Menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah;
f. Sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula;
g. Sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat;
h. Memperbaiki iklim mikro; dan
i. Meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.
3. Analisa Permasalahan, Alternatif Pemecahan dan Rekomendasi
Degradasi lingkungan di sebagian wilayah perkotaan Kabupaten Sumbawa semakin parah. Hal ini ditandai oleh makin meningkatnya suhu
udara di atas kawasan perkotaan, penurunan muka air tanah,
pencemaran air tanah, udara, dan suara (bising), amblasan permukaan
tanah, intrusi air laut, abrasi pantai, suasana gersang, monoton,
membosankan dan terjadinya tekanan psikologis penghuninya (stress). Kurangnya apresiasi akan pentingnya RTH, inkonsistensi kebijakan dan
strategi Tata Ruang Kota Kabupaten Sumbawa yang sudah ditetapkan
dalam Rencana Induk Kota, serta lemahnya fungsi pengawasan (kontrol)
dalam pelaksanaan pembangunan kota menyebabkan kuantitas dan
kualitas RTH semakin berkurang. Nilai ekonomi dengan nilai ekologis,
keterbatasan luas lahan akibat benturan kepentingan dalam fenomena
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-16
pembangunan sektor perindustrian dan perdagangan yang dianggap
mampu menyerap banyak tenaga kerja (atau demi kepentingan ekonomi
jangka pendek).
Masalah klasik pengelolaan RTH, dianggap akibat keterbatasan dana dan SDM profesional, pemeliharaan RTH yang tidak konsisten, dan pemilihan
jenis tanaman tak sesuai persyaratan ekologis bagi masing-masing
lokasi, termasuk langkanya lahan pembibitan tanaman penghijauan.
Keterbatasan dana pembangunan dan pengelolaan RTH memerlukan
terobosan pengembangan pola kemitraan.
RTH sering dianggap sebagai lahan tidak berguna, tempat sampah, atau sumber dan atau sarang vektor berbagai penyakit. Pemahaman serta
kesadaran masyarakat akan arti dan fungsi hakiki RTH, umumnya masih
sangat kurang. Minimnya fasilitas RTH khususnya bagi kelompok usia
tertentu, seperti lapangan olahraga, taman bermain anak, maupun taman
lansia, apalagi taman khusus bagi penyandang cacat. Penyediaan lahan
untuk pemakaman umum belum sesuai dengan harapan masyarakat
umum. Dalam penataan lansekap kota, etika, dan estetika, khusus
penempatan iklan/papan reklame belum ditata menurut kaidah penataan
ruang luar yang lebih sesuai.
Bentuk kelembagaan yang sesuai dan efektif untuk pengelolaan, penyelenggaraan dan pengembangan (dari tingkat perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, pengendalian) RTH masih sangat kurang,
sehingga diperlukan koordinasi antara instansi yang terkait agar mampu
meningkatkan pelayanan pembangunan dan pengelolaan Selain perlu
adanya Pedoman Pembangunan dan Pengelolaan RTH di Kawasan
Perkotaan yang transparan dan akuntabel, dengan paradigma tata
pemerintahan yang baik (good governance).
4. Usulan Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Permasalahan yang ada dalam penataan ruang terbuka hijau di Kabupaten
Sumbawa tersebut di atas, maka diusulkan beberapa program Penataan
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-17
1. Studi dan Master Plan Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) .
2. Detail Desain Ruang Terbuka Hijau (RTH).
3. Pelaksanaan Fisik Ruang Terbuka Hijau (RTH).
4. Supervisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) .
5. Pemantauan O&P secara berkala
7.3. SEKTOR
P
ENGEMBANGANP
ENYEHATAN LINGKUNGAN7.3.1. RENCANA INVESTASI SUB-BIDANG AIR LIMBAH
7.3.1.1. Umum
Sesuai dengan semangat otonomi daerah maka visi Direktorat Jenderal Cipta
Karya adalah terwujudnya kemandirian daerah utk menyiapkan dan
menangani prasarana dan sarana ke Ciptakaryaan. Berdasarkan visi tersebut
maka salah satu misi Ditjen. Cipta Karya yaitu meningkatkan kapasitas
pemerintah daerah dan masyarakat dalam penyelenggaraan prasarana dan
sarana tersebut. Sehingga, untuk mencapai maksud tersebut maka
merupakan kewajiban pemerintah pusat melaksanakan pembinaan kepada
pemerintah daerah agar terselenggaranya pembangunan drainase,
persampahan dan air limbah permukiman untuk meningkatkan kualitas
kesehatan masyarakat dan perlindungan lingkungan.
Kondisi prasarana dan sarana (PS) sanitasi di Indonesia saat ini masih sangat
terbatas, dan akses masyarakat terhadap PS sanitasi dapat dilihat pada
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-18
Gambar Diagram kondisi akses masyarakat pada sanitasi
Maka langkah awal dalam pembinaan adalah mendorong daerah dapat usaha
meningkatkan akses sanitasi dasar dan pelaksanaan konservasi Lingkungan.
Adapun cakupan kriteria yang harus dipenuhi dalam merencanakan
penanganan air limbah sebagai berikut :
Prinsip dasar penanganan air limbah harus sesuai dengan yang ditangani Azas yang digunakan dalam penanganan air limbah
Landasan operasional yang digunakan untuk pelaksanaan sistem air limbah Penerapan faktor lingkungan sosial dan ekonomi untuk penanganan air
limbah
Konsep pemilihan teknologi yang digunakan untuk Penanganan limbah Kriteria Teknis dari masing-masing teknologi pilihan
Konsepsi dasar dalam penanganan air limbah adalah bahwa penanganan air
limbah harus memenuhi prinsip-prinsip kesehatan (hygenic) dan kelestarian
Akses ke P&S 100%
Tak terditeksi 25,98%
Perkotaan 37,53%
Perdesaan 36,50%
Tanpa diolah 8,16%
On-site 28,10% Off-site 1,36%
Tanpa diolah 14,54%
On-site 21,96%
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-19
lingkungan (environmental conservation). Artinya dari segi public health
mencegah penularan penyakit lewat air dan dari sisi lingkungan membantu
upaya konservasi SDA dengan mengurangi pencemaran limbah domestik
terhadap badan air. Air limbah merupakan urusan individual yang harus
dikelola sektor publik karena penanganan yang tidak layak akan menyebabkan
konflik kepentingan publik.
Azas Penanganan air limbah meliputi;
Azas pemerataan: bahwa Sanitasi adalah kebutuhan dasar untuk kesehatan maka hak setiap orang untuk memperoleh akses pada sanitasi
yang layak.
Azas kesehatan : mencegah kontaminasi langsung dan tidak langsung air limbah terhadap manusia dan kegiatannya.
Azas kelestarian lingkungan : bahwa kualitas lingkungan harus dipertahankan terhadap penurunan akibat pencemaran oleh air limbah. Azas pencemaran membayar (polluter pays principal) : kewajiban retribusi
air limbah.
Azas internalisasi externalitas : faktor – faktor dampak lingkungan dimasukkan dalam biaya.
Landasan Oprasional sistem penanganan air limbah adalah :Maksimum Net
Benefit-Cost dan the Most Cost Effectiveness, artinya; Memilih sistem
penanganan air limbah memberikan manfaat yg besar terhadap lingkungan
dengan biaya yang kecil. Mencari alternatif penanganan untuk mencapai goal
yang tepat dengan biaya yang paling rendah, yaitu melalui pemilihan sistem
dalam pengelolaan air limbah domestik/permukiman yang terbagi atas:
a. Sanitasi sistim on-site atau dikenal dengan sistem sanitasi setempat yaitu
fasilitas sanitasi individual seperti septik tank atau cubluk.
b. Sanitasi sistem off-site atau dikenal dengan istilah sistem terpusat atau
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-20
mengalirkan air limbah dari rumah-rumah secara bersamaan dan kemudian
dialirkan ke IPAL.
Persyaratan untuk pemilihan sistem seperti dijelaskan di bawah ini :
1. Sistem on site diterapkan pada: Kepadatan < 100 org/ha
Kepadatan > 100 org/ha sarana on site dilengkapi pengolahan tambahan
seperti kontak media dengan atau tanpa aerasi
Jarak sumur dengan bidang resapan atau cubluk > 10 m
Instalasi pengolahan lumpur tinja minimal untuk melayani penduduk
urban > 50.000 jiwa atau bergabung dengan kawasan urban lainnya
2. Sistem off site diterapkan pada kawasan
Kepadatan > 100 org/ha
Bagi kawasan berpenghasilan rendah dapat menggunakan sistem septik
tank komunal (descentralised water treatment) dan pengaliran dengan
konsep perpipaan shallow sewer. Dapat juga melalui sistem kota/modular
bila ada subsidi tarif.
Bagi kawasan terbatas untuk pelayanan 500–1000 sambungan rumah
disarankan menggunakan basis modul. Sistem ini hanya menggunakan 2
atau 3 unit pengolahan limbah yg paralel.
7.3.1.2. Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Sumbawa
Sistem sarana dan prasarana pengelolaan air limbah belum optimal disebabkan belum
adanya pola penanganan teknis dari pemerintah dalam menerapkan pengelolaan air
limbah. Selain itu perilaku masyarakat yang masih memilih pola manual/setempat
(on-site system) mengingat potensi lahan yang masih sangat luas, baik di perkotaan ataupun dikawasan-kawasan pusat perekonomian. Kabupaten Sumbawa belum memiliki
Master Plan Pengelolaan Air Limbah, sehingga penanganan secara teknis yang tepat guna dan tepat sasaran belum dapat dilakukan. Kondisi saluran pembuangan air limbah
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-21
dimana sebagai saluran drainase air hujan, jaringan irigasi dan untuk pembuangan air
limbah rumah tangga.
Tingkat kesehatan masyarakat yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan
dibeberapa kawasan mulai diterapkan sesuai standar, namun masih terjadi
penyakit menular melalui air (water borne diseases) karena kondisi sanitasi
yang belum layak. Hal ini disebabkan kondisi kualitas sumber air, baik air
permukaan maupun air tanah yang kurang bagus dani terjadi juga akibat
pencemaran oleh air limbah rumah tangga/permukiman.
Dengan memperhatikan kondisi tersebut diatas, pemerintah kabupaten
Sumbawa sedang merencanakan untuk mengalokasikan anggaran untuk
menyusun dokumen SSK (Strategi Sanitasi Kota) untuk tahun 2012 guna
mengantisipasi permasalahan-permasalah sanitasi terkait air limbah, sampah
dan air bersih dan drainase lingkungan.
7.3.1.3. Permasalahan yang dihadapi terhadap Penanganan Air
Limbah
1. Masih rendahnya desiminasi dan sosialisasi peraturan
perundang-undangan mengenai sistem pengelolaan air limbah.
2. Belum adanya Study dan Master Plan Sistem Pengelolaan Air Limbah.
3. Kurangnya Sumber Dana APBD II.
4. Kebiasaan dan Kesadaran Masyarakat yang masih rendah.
7.3.1.4. Usulan dan Prioritas Pengelolaan Air Limbah
Usulan penanganan program Pengelolaan Air Limbah di Kabupaten Sumbawa
yang meliputi :
1. Studi dan Master Plan Penataan Pengelolaan Air Limbah.
2. Detail Desain Pengelolaan Air Limbah.
3. Pelaksanaan Fisik Pengelolaan Air Limbah.
4. Supervisi Pengelolaan Air Limbah.
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-22
7.3.2. RENCANA INVESTASI SUB-BIDANG PERSAMPAHAN
7.3.2.1. Umum
Pengelolaan sampah suatu kota bertujuan untuk melayani sampah yang
dihasilkan penduduknya, yang secara tidak langsung turut memelihara
kesehatan masyarakat serta menciptakan suatu lingkungan yang bersih, baik
dan sehat.
Pada awalnya, pemukiman seperti pedesaan memiliki kepadatan penduduk
yang masih sangat rendah. Secara alami tanah / alam masih dapat mengatasi
pembuangan sampah yang dilakukan secara sederhana (gali urug). Makin
padat penduduk suatu pemukiman atau kota dengan segala aktivitasnya,
sampah tidak dapat lagi diselesaikan di tempat; sampah harus dibawa keluar
dari lingkungan hunian atau lingkungan lainnya. Permasalahan sampah
semakin perlu untuk dikelola secara profesional.
Saat ini pengelolaan persampahan menghadapi banyak tekanan terutama
akibat semakin besarnya timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat baik
produsen maupun konsumen. Hal ini menjadi semakin berat dengan masih
dimilikinya paradigma lama pengelolaan yang mengandalkan kegiatan
pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan; yang kesemuanya
membutuhkan anggaran yang semakin besar dari waktu ke waktu; yang bila
tidak tersedia akan menimbulkan banyak masalah operasional seperti sampah
yang tidak terangkut, fasilitas yang tidak memenuhi syarat, cara
pengoperasian fasilitas yang tidak mengikuti ketentuan teknis.
Pada akhirnya berbagai masalah tersebut akan bermuara pada rendahnya
kuantitas dan kualitas pelayanan dan tidak diindahkannya perlindungan
lingkungan dalam pengelolaan; yang bila tidak segera dilakukan perbaikan
akan berdampak buruk terhadap kepercayaan dan kerjasama masyarakat
yang sangat diperlukan untuk menunjang pelayanan publik yang
mensejahterakan masyarakat.
Untuk dapat mengelola sampah pemukiman atau kota yang sampahnya
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-23
system pengelolaan yang mencakup lembaga atau institusi yang dilengkapi
dengan peraturan, pembiayaan / pendanaan, peralatan penunjang yang
semuanya menjadikan suatu system, disamping kesadaran masyarakat yang
cukup tinggi.
a) Pendekatan Sistem Pengelolaan Persampahan
Beberapa Prinsip dan Pertimbangan
Paradigma lama penanganan sampah secara konvensional yang
bertumpu pada proses pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan
akhir perlu diubah dengan mengedepankan proses pengurangan dan
pemanfaatan sampah.
Pengurangan dan pemanfaatan sampah secara signifikan dapat
mengurangi kebutuhan pengelolaan sehingga sebaiknya dilakukan di
semua tahap yang memungkinkan baik sejak di sumber, TPS, Instalasi
Pengolahan, dan TPA.
Pengurangan dan pemanfaatan sampah sejak sumber akan
memberikan dampak positif paling menguntungkan yang berarti peran
serta masyarakat perlu dijadikan target utama
Sampah B3 rumah tangga perlu mendapat perhatian dalam
penanganannya agar tidak mengganggu lingkungan maupun kualitas
sampah dalam pengolahan di hilirnya.
Karakteristik sampah dengan kandungan organik tinggi (70-80 %)
merupakan potensi sumber bahan baku kompos sebagai soil
conditioner dan energi (gas metan) melalui proses dekomposisi secara
anaerob
Daur ulang oleh sektor informal sejauh memungkinkan diupayakan
menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah perkotaan
Insinerator sebaiknya hanya dilakukan untuk kota-kota yang memiliki
tingkat kesulitan tinggi dalam penyediaan lokasi TPA dan memiliki
karakteristik sampah yang sesuai, serta menerapkan teknologi yang
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-24
Tempat Pembuangan Akhir merupakan alternatif terakhir penanganan
sampah mengingat potensi dampak negatif yang tinggi. Pemanfaatan
secara berulang sebaiknya diupayakan dengan memperhatikan kualitas
produk “kompos” yang dihasilkan.
Pada dasarnya pengelolaan sampah ada 2 macam, yaitu
pengelolaan/penanganan sampah setempat (individu) dan pengelolaan
sampah terpusat untuk suatu lingkungan pemukiman atau kota.
a. Penanganan Setempat
Penanganan setempat dimaksudkan penanganan yang dilaksanakan
sendiri oleh penghasil sampah dengan menanam dalam galian tanah
pekarangannya atau dengan cara lain yang masih dapat dibenarkan.
Hal ini dimungkinkan bila daya dukung lingkungan masih cukup tinggi
misalnya tersedianya lahan, kepadatan penduduk yang rendah, dll.
b. Pengelolaan Terpusat
Pengelolaan persampahan secara terpusat adalah suatu proses atau
kegiatan penanganan sampah yang terkoordinir untuk melayani suatu
wilayah / kota.
Pengelolaan sampah secara terpusat mempunyai kompleksitas yang besar
karena cakupan berbagai aspek yang terkait. Aspek – aspek tersebut
dikelompokkan dalam 5 aspek utama, yakni aspek institusi, hukum, teknis
operasional, pembiayaan dan retribusi serta aspek peran serta masyarakat.
7.3.2.2. Aspek Pengelolaan Sampah
1. Aspek Teknis Operasional
Komposisi Sampah
Komposisi fisik sampah mencakup prosentase dari komponen
pembentuk sampah yang secara fisik dapat dibedakan antara sampah
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-25
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan pilihan
kelayakan pengolahan sampah khususnya daur ulang dan pembuatan
kompos serta kemungkinan penggunaan gas landfill sebagai energi
alternatif.
Karakteristik Sampah
Data mengenai karakteristik kimia sampah dapat dilakukan dengan
cara analisa di laboratorium. Data ini erat kaitannya dengan komposisi
fisiknya, apabila komposisi organiknya tinggi, maka biasanya
kandungan airnya tinggi, nilai kalornya rendah, kadar abunya rendah,
berat jenisnya tinggi. Karakteristik sampah di Indonesia rata-rata
memiliki kadar air 60 %, nilai kalor 1000 – 1300 k.cal/kg, kadar abu 10
– 11 % dan berat jenis 250 kg/m3
Data ini penting dalam menentukan pertimbangan dalam memilih
alternatif pengolahan sampah dengan cara pembakaran (insinerator).
Sebagai contoh sampah yang memiliki kadar air tinggi (> 55 %), nilai
kalor rendah (< 1300 kcal / kg), berat jenis tinggi (> 200 kg / m3) tidak
layak untuk dibakar dengan insinerator.
Sumber Sampah
Ada beberapa kategori sumber sampah yang dapat digunakan sebagai
acuan, yaitu:
Sumber sampah yang berasal dari daerah perumahan Sumber sampah yang berasal dari daerah komersial Sumber sampah yang berasal dari fasilitas umum Sumber sampah yang berasal dari fasilitas sosial
Klasifikasi kategori sumber sampah tersebut pada dasarnya juga dapat
menggambarkan klasifikasi tingkat perekonomian yang dapat
digunakan untuk menilai tingkat kemampuan masyarakat dalam
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-26
Daerah Perumahan (rumah tangga)
Sumber sampah didaerah perumahan dibagi atas :
Perumahan masyarakat berpenghasilan tinggi (High income)
Perumahan masyarakat berpenghasilan menengah (Middle income) Perumahan masyarakat berpenghasilan rendah / daerah kumuh
(Low income / slum area)
Daerah komersial.
Daerah komersial umumnya didominasi oleh kawasan perniagaan,
hiburan dan lain-lain. Yang termasuk kategori komersial adalah pasar
pertokoan hotel restauran bioskop salon kecantikan industri dan
lain-lain.
Fasilitas umum
Fasilitas umum merupakan sarana / prasarana perkotaan yang
dipergunakan untuk kepentingan umum. Yang termasuk dalam kategori
fasilitas umum ini adalah perkantoran, sekolah, rumah sakit, apotik,
gedung olah raga, museum, taman, jalan, saluran / sungai dan lain-lain.
Fasilitas sosial
Fasilitas sosial merupakan sarana prasarana perkotaan yang digunakan
untuk kepentingan sosial atau bersifat sosial. Fasilitas sosial ini meliputi
panti-panti sosial (rumah jompo, panti asuhan) dan tempat-tempat
ibadah (mesjid, gereja pura, dan lain-lain)
Sumber lain
Dari klasifikasi sumber-sumber sampah tersebut, dapat dikembangkan
lagi jenis sumber-sumber sampah yang lain sesuai dengan kondisi
kotanya atau peruntukan tata guna lahannya. Sebagai contoh sampah
yang berasal dari tempat pemotongan hewan atau limbah pertanian
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-27
catatan bahwa sampah atau limbah tersebut adalah bersifat padat dan
bukan kategori sampah.
2. Pola Operasional
Pola operasional penanganan sampah dari sumber sampai TPA
dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengumpulan, pemindahan,
pengolahan, pengangkutan dan pembuangan akhir.
Diagram Operasional Penanganan Sampah
Pewadahan
Wadah sampah individual (disumber) disediakan oleh setiap penghasil sampah sendiri sedangkan wadah komunal dan pejalan
kaki disediakan oleh pengelola dan atau swasta. spesifikasi
wadah sedemikian rupa sehingga memudahkan operasionalnya,
Sumber Sampah
Pengumpulan
Pengolahan Pemindahan
Pengangkutan
Pembuangan Akhir
Composting
Daur Ulang
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-28
tidak permanen dan higienis. Akan lebih baik apabila ada
pemisahan wadah untuk sampah basah dan sampah kering Pengosongan sampah dari wadah individual dilakukan paling
lama 2 hari sekali sedangkan untuk wadah komunal harus
dilakukan setiap hari.
Pengumpulan
Pengumpulan sampah dari sumber dapat dilakukan secara langsung dengan alat angkut (untuk sumber sampah besar atau
daerah yang memiliki kemiringan lahan cukup tinggi) atau tidak
langsung dengan menggunakan gerobak (untuk daerah teratur)
dan secara komunal oleh mayarakat sendiri (untuk daerah tidak
teratur)
Penyapuan jalan diperlukan pada daerah pusat kota seperti ruas jalan protokol, pusat perdagangan, taman kota dan lain-lain
Pemindahan
Pemindahan sampah dari alat pengumpul (gerobak) ke alat angkut (truk) dilakukan di trasnfer depo atau container untuk
meningkatkan efisiensi pengangkutan
Lokasi pemindahan haru dekat dengan daerah pelayanan atau radius 500 m
Pemindahan skala kota ke stasiun transfer diperlukan bila jarak ke lokasi TPA lebih besar dari 25 km
Pengangkutan
Pengangkutan secara langsung dari setiap sumber harus dibatasi pada daerah pelayanan yang tidak memungkinkan cara operasi
lainnya atau pada daerah pelayanan tertentu berdasarkan
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-29
memperhitungkan besarnya biaya operasi yang harus dibayar
oleh pengguna jasa
Penetapan rute pengangkutan sampah harus didasarkan pada hasil survey time motion study untuk mendapatkan jalur yang
paling efisien.
Jenis truk yang digunakan minimal dump truck yang memiliki kemampuan membongkar muatan secara hidrolis, efisien dan
cepat
Penggunaan arm roll truck dan compactor truck harus mempertimbangkan kemampuan pemeliharaan
Pengolahan
Pengolahan sampah dimaksudkan untuk mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke TPA serta meningkatkan efisiensi
penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan
Teknologi pengolahan sampah dapat dilakukan melalui pembuatan kompos, pembakaran sampah secara aman (bebas
COx, SOx, NOx dan dioxin), pemanfaatan gas metan dan daur
ulang sampah. Khusus pemanfaatana gas metan TPA (landfill
gas), dapat masuk dalam CDM (clean developmant mechanism)
karena secara significan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca
yang berpengaruh pada iklim global.
Skala pengolahan sampah mulai dari individual, komunal (kawasan), skala kota dan skala regional.
Penerapan teknologi pengolahan harus memperhatikan aspek lingkungan, dana, SDM dan kemudahan operasional.
Pembuangan akhir
Pemilihan lokasi TPA harus mengacu pada SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA. Agar keberadaan TPA
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-30
penerima > 100m, ke perumahan terdekat > 500 m, ke airport
1500 m (untuk pesawat propeler) dan 3000 m (untuk pesawat jet).
Selain itu muka air tanah harus > 4 m, jenis tanah lempung
dengan nilai K < 10-6 cm/det.
Metode pembuangan akhir minimal harus dilakukan dengan controlled landfill (untuk kota sedang dan kecil) dan sanitary
landfill (untuk kota besar dan metropolitan) dengan “sistem sel” Prasarana dasar minimal yang harus disediakan adalah jalan
masuk, drainase keliling dan pagar pengaman (dapat berfungsi
sebagai buffer zone)
Fasilitas perlindungan lingkungan yang harus disediakan meliputi lapisan dasar kedap air, jaringan pengumpul lindi,
pengolahan lindi dan ventilasi gas / flaring atau landfill gas
extraction untuk mengurangi emisi gas.
Fasilitas operasional yang harus disediakan berupa alat berat (buldozer, excavator, loader dan atau landfill compactor) dan stok
tanah penutup
Penutupan tanah harus dilakukan secara harian atau minimal secara berkala dengan ketebalan 20 - 30 cm
Penyemprotan insektisida harus dilakukan apabila penutupan sampah tidak dapat dilakukan secara harian
Penutupan tanah akhir harus dilakukan sesuai dengan peruntukan lahan bekas TPA
Kegiatan pemantauan lingkungan harus tetap dilakukan meskipun TPA telah ditutup terutama untuk gas dan efluen leachate, karena
proses dekomposisi sampah menjadi gas dan leahate masih terus
terjadi sampai 25 tahun setelah penutupan TPA
Manajemen pengelolaan TPA perlu dikendalikan secara cermat dan membutuhkan tenaga terdidik yang memadai
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-31
3. Aspek Institusional
Penyelenggara pembangunan prasarana dan sarana persampahan dapat dilakukan secara sendiri atau terpadu oleh Pemerintah Daerah,
BUMN/BUMD, Swasta dan masyarakat
Bentuk institusi dan struktur organisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, secara umum bentuk institusi yang ada adalah perusahaan
daerah kebersihan (PDK), Badan Penanaman Modal dan Lingkungan
(BPM – LH, UPT Persampahan dan lain-lain. Struktur organisasi
sebaiknya mencerminkan kegiatan utama penangan sampah dari
sumber sampei TPA termasuk memiliki bagian perencaan, retribusi,
penyuluhan dan lain-lain.
Instansi pengelola persampahan sebaiknya memiliki pola kerja sama dengan instansi terkait termasuk PLN (untuk kerjasama penarikan
retribusi) dan kerja sama antar kota untuk pola penangangan sampah
secara regional dan kerja sama dengan masyarakat atau perguruan
tinggi.
SDM sebaiknya memiliki keahlian bidang persampahan baik melalui pendidikan formal (ada staf yang memiliki latar belakang pendidikan
teknik lingkungan, ekonomi, ahli manajemen dll) dan training bidang
persampahan.
Kegiatan pengelolaan sampah yang tidak dapat dilaksanakan oleh masyarakat, menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah
Kegiatan sosialisasi atau penyuluhan harus dilaksanakan secara terpadu dan terus menerus dengan melibatkan instansi terkait, LSM dan
perguruan tinggi.
4. Aspek Pembiayaan
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-32
Pengelolaan persampahan dapat dibiayai dari swadaya masyarakat, investasi swasta dan APBN / APBD
Tata cara pembiayaan mengikuti ketentuan yang berlaku
Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan pembangunan prasarana dan sarana persampahan dalam bentuk dana maupun aset
kepada masyarakat
Pembiayaan penyediaan dan pemeliharaan pewadahan individual menjadi tanggung jawab penghasil sampah
Tarif Retribusi
Biaya untuk penyediaan prasarana dan sarana pengumpulan serta pengelolaannya yang dilakukan oleh masyarakat sendiri dikenakan
pada anggota masyarakat yang mendapat pelayanan dalam bentuk
iuran (besarnya ditentukan melalui musyawarah dan mufakat) dan
dikordinasikan dengan pihak instansi pengelola persampahan
Biaya untuk pengelolaan persampahan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah atau swasta untuk kepentingan masyarakat dibebankan kepada
masyarakat dalam bentuk retribusi kebersihan. Biaya pengelolaan
tersebut meliputi biaya investasi dan biaya operasi dan pemeliharaan Penentuan tarif retribusi disusun berdasarkan asas keterjangkauan
/willingness to pay (secara umum kemampuan masyarakat membayar
retribusi adalah 1 -2 % dari income) dan subsidi silang dari masyarakat
berpenghasilan tinggi ke masyarakat berpenghasilan rendah dan dari
sektor komersial ke non komersial tanpa meninggalkan prinsip ekonomi
/ cost recovery (minimal 80 %, 20 % merupakan subsidi Pemerintah
kota/kab untuk pembersihan fasilitas umum).
Mekanisme penarikan retribusi selain dilakukan langsung oleh instansi pengelola juga dapat dilakukan melalui kerjasama dengan PLN, PDAM,
RT/RW dan lain-lain sesuai dengan kondisi daerah pelayanan.
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-33
Undang-Undang (UU) yang berkaitan dengan persampahan adalah UU No 7 / 2004 tentang Sumber Daya Air, UU No 32/2004 tentang Otonomi
Daerah, UU No 33 / 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah, UU No 23/1997 tentang Pokok-Pokok Lingkungan Hidup, UU
No 24 /1992 tentang Penataan Ruang, UU No 23/1992 tentang
Kesehatan, UU No 2/1992 Perumahan dan Permukiman
Peraturan Pemerintah (PP) yang berkaitan dengan masalah persampahan adalah PP tentang Badan Layanan Umum, PP No 16 /
2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum , PP No.27
tahun 1999 tentang Amdal, PP No. 18 jo 85/1999 tentang Limbah B3
dan PP 16/2005 tentang Pengembangan Sistem penyediaan Air Minum Agenda 21 berkaitan dengan program optimaalisasi minimalisasi limbah secara bertahap sampai tahun 2020, Kyoto Protocol tentang CDM
(clean development mechanism), MDGs tentang upaya pencapaian
target pengurangan jumlah orang miskin dan akses terhadap air minum
dan sanitasi (target 10 dan 11)
SNI yang berkaitan dengan pedoman persampahan adalah SNI 19-2454-1991 tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan,
SNI tentang Spesifikasi Controlled Landfill, SK SNI S-04-1992-03
tentang Spesifikasi Timbulan Sampah Kota Sedang dan Kota Kecil, SNI
03-3242-1994 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah Permukiman,
SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA, SNI
19-3964-1994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh
Timbulan dan Komposisi Sampah.
Pengaturan penyelenggaraan pembangunan bidang persampahan dilakukan melalui peraturan daerah (perda) yang pada umumnya terdiri
dari perda pembentukan institusi, ketentuan umum kebersihan dan
retribusi. Selain itu juga diperlukan perda yang mengatur mengenai
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-34
6. Aspek Peran Serta Masyarakat dan Kemitraan
Peran Serta Masyarakat
Peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan diperlukan sejak dari perencanaan sampai dengan
operasi dan pemeliharaan
Peran serta masyarakat berkaitan dengan penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan dapat berupa usulan, saran, pertimbangan,
keberatan serta bantuan lainnya atau pelaksanaan program 3R baik
untuk skala individual maupun skala kawasan.
Peningkatan peran serta masyarakat dapat dilakukan melalui pendidikan formal sejak dini, penyuluhan yang intenssif, terpadu dan
terus menerus serta diterapkannya sistem insentif dan disinsentif Masyarakat bertanggung jawab atas penyediaan dan pemeliharaan
fasilitas pewadahan dan atau meyelenggarakan pengumpulan /
pengolahan sampah
Kemitraan
Pemerintah memberikan peluang kepada pihak swasta untuk menyelenggarakan pembangunan dan pengelolaan prasarana dan
sarana persampahan serta dapat menciptakan iklim investasi yang
kondusif
Kemitraan dapat dilakukan terhadap sebagian atau seluruh kegiatan sistem pembangunan persampahan, termasuk melakukan upaya
pengendalian pencemaran lingkungan.
Pola kemitraan dapat dilakukan melalui studi kelayakan dengan memperhatikan keterjangkauan masyarakat, kemampuan Pemda,
peluang usaha dan keuntungan swasta.
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-35
7. Dampak Pencemaran Akibat Sampah
Potensi Dampak
Dalam kenyataannya banyak pengelola kebersihan menghadapi
berbagai masalah dan kendala sehingga mereka tidak dapat
menyediakan pelayanan yang baik sesuai dengan ketentuan teknis dan
harapan masyarakat. Disana sini sering terjadi pencemaran akibat
pengelolaan yang kurang baik sehingga menimbulkan berbagai masalah
pencemaran selama pelaksanaan kegiatan teknis penanganan
persampahan yang meliputi: pewadahan, pengumpulan, pemindahan,
pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan akhir. Berbagai potensi
yang menimbulkan berbagai dampak dapat meliputi :
a. Perkembangan vektor penyakit
Wadah sampah merupakan tempat yang sangat ideal bagi
pertumbuhan vektor penyakit terutama lalat dan tikus. Hal ini
disebabkan dalam wadah sampah tersedia sisa makanan dalam
jumlah yang besar.
Tempat Penampungan Sementara / Container juga merupakan
tempat berkembangnya vektor tersebut karena alasan yang sama.
Sudah barang tentu akan menurunkan kualitas kesehatan
lingkungan sekitarnya.
Vektor penyakit terutama lalat sangat potensial berkembangbiak di
lokasi TPA. Hal ini terutama disebabkan oleh frekwensi penutupan
sampah yang tidak dilakukan sesuai ketentuan sehingga siklus hidup
lalat dari telur menjadi larva telah berlangsung sebelum penutupan
dilaksanakan. Gangguan akibat lalat umumnya dapat ditemui sampai
radius 1-2 km dari lokasi TPA
b. Pencemaran Udara
Sampah yang menumpuk dan tidak segera terangkut merupakan
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-36
sensitif sekitarnya seperti permukiman, perbelanjaan, rekreasi, dan
lain-lain. Pembakaran sampah seringkali terjadi pada sumber dan
lokasi pengumpulan terutama bila terjadi penundaan proses
pengangkutan sehingga menyebabkan kapasitas tempat
terlampaui. Asap yang timbul sangat potensial menimbulkan
gangguan bagi lingkungan sekitarnya.
Sarana pengangkutan yang tidak tertutup dengan baik juga sangat
berpotensi menimbulkan masalah bau di sepanjang jalur yang
dilalui, terutama akibat bercecerannya air lindi dari bak kendaraan.
Pada instalasi pengolahan terjadi berupa pelepasan zat pencemar
ke udara dari hasil pembuangan sampah yang tidak sempurna;
diantaranya berupa : partikulat, SO x, NO x, hidrokarbon, HCl,
dioksin, dan lain-lain.
Proses dekomposisi sampah di TPA secara kontinu akan
berlangsung dan dalam hal ini akan dihasilkan berbagai gas seperti
CO, CO2, CH4, H2S, dan lain-lain yang secara langsung akan
mengganggu komposisi gas alamiah di udara, mendorong
terjadinya pemanasan global, disamping efek yang merugikan
terhadap kesehatan manusia di sekitarnya.
Pembongkaran sampah dengan volume yang besar dalam lokasi
pengolahan berpotensi menimbulkan gangguan bau. Disamping itu
juga sangat mungkin terjadi pencemaran berupa asap bila sampah
dibakar pada instalasi yang tidak memenuhi syarat teknis.
Seperti halnya perkembangan populasi lalat, bau tak sedap di TPA
juga timbul akibat penutupan sampah yang tidak dilaksanakan
dengan baik.
Asap juga seringkali timbul di TPA akibat terbakarnya tumpukan
sampah baik secara sengaja maupun tidak. Produksi gas metan
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-37
dipadamkan sehingga asap yang dihasilkan akan sangat
mengganggu daerah sekitarnya.
c. Pencemaran Air
Prasarana dan sarana pengumpulan yang terbuka sangat potensial
menghasilkan lindi terutama pada saat turun hujan. Aliran lindi ke
saluran atau tanah sekitarnya akan menyebabkan terjadinya
pencemaran.
Instalasi pengolahan berskala besar menampung sampah dalam
jumlah yang cukup besar pula sehingga potensi lindi yang dihasilkan
di instalasi juga cukup potensial untuk menimbulkan pencemaran
air dan tanah di sekitarnya.
Lindi yang timbul di TPA sangat mungkin mencemari lingkungan
sekitarnya baik berupa rembesan dari dasar TPA yang mencemari
air tanah di bawahnya. Pada lahan yang terletak di kemiringan,
kecepatan aliran air tanah akan cukup tinggi sehingga
dimungkinkan terjadi cemaran terhadap sumur penduduk yang
trerletak pada elevasi yang lebih rendah.
Pencemaran lindi juga dapat terjadi akibat efluen pengolahan yang
belum memenuhi syarat untuk dibuang ke badan air penerima.
Karakteristik pencemar lindi yang sangat besar akan sangat
mempengaruhi kondisi badan air penerima terutama air permukaan
yang dengan mudah mengalami kekurangan oksigen terlarut
sehingga mematikan biota yang ada.
d. Pencemaran Tanah
Pembuangan sampah yang tidak dilakukan dengan baik misalnya di
lahan kosong atau TPA yang dioperasikan secara sembarangan
akan menyebabkan lahan setempat mengalami pencemaran akibat
tertumpuknya sampah organik dan mungkin juga mengandung
Bahan Buangan Berbahaya (B3). Bila hal ini terjadi maka akan
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-38
atau larut dari lokasi tersebut. Selama waktu itu lahan setempat
berpotensi menimbulkan pengaruh buruk terhadap manusia dan
lingkungan sekitarnya.
e. Gangguan Estetika
Lahan yang terisi sampah secara terbuka akan menimbulkan kesan
pandangan yang sangat buruk sehingga mempengaruhi estetika
lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat terjadi baik di lingkungan
permukiman atau juga lahan pembuangan sampah lainnya.
Proses pembongkaran dan pemuatan sampah di sekitar lokasi
pengumpulan sangat mungkin menimbulkan tumpahan sampah
yang bila tidak segera diatasi akan menyebabkan gangguan
lingkungan. Demikian pula dengan ceceran sampah dari kendaraan
pengangkut sering terjadi bila kendaraan tidak dilengkapi dengan
penutup yang memadai.
Di TPA ceceran sampah terutama berasal dari kegiatan
pembongkaran yang tertiup angin atau ceceran dari kendaraan
pengangkut. Pembongkaran sampah di dalam area pengolahan
maupun ceceran sampah dari truk pengangkut akan mengurangi
estetika lingkungan sekitarnya.
Sarana pengumpulan dan pengangkutan yang tidak terawat dengan
baik merupakan sumber pandangan yang tidak baik bagi daerah
yang dilalui.
Lokasi TPA umumnya didominasi oleh ceceran sampah baik akibat
pengangkutan yang kurang baik, aktivitas pemulung maupun tiupan
angin pada lokasi yang sedang dioperasikan. Hal ini menimbulkan
pandangan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat yang
melintasi / tinggal berdekatan dengan lokasi tersebut.
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-39
Lokasi penempatan sarana / prasarana pengumpulan sampah yang
biasanya berdekatan dengan sumber potensial seperti pasar,
pertokoan, dan lain-lain serta kegiatan bongkar muat sampah
berpotensi menimbulkan gangguan terhadap arus lalu lintas.
Arus lalu lintas angkutan sampah terutama pada lokasi tertentu
seperti transfer station atau TPA berpotensi menjadi gerakan
kendaraan berat yang dapat mengganggu lalu lintas lain; terutama
bila tidak dilakukan upaya-upaya khusus untuk mengantisipasinya.
Arus kendaraan pengangkut sampah masuk dan keluar dari lokasi
pengolahan akan berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lalu
lintas di sekitarnya terutama berupa kemacetan pada jam-jam
kedatangan.
Pada TPA besar dengan frekwensi kedatangan truck yang tinggi
sering menimbulkan kemacetan pada jam puncak terutama bila
TPA terletak berdekatan dengan jalan umum.
g. Gangguan Kebisingan
Kebisingan akibat lalu lintas kendaraan berat / truck timbul dari
mesin-mesin, bunyi rem, gerakan bongkar muat hidrolik, dan
lain-lain yang dapat mengganggu daerah-daerah sensitif di sekitarnya.
Di instalasi pengolahan kebisingan timbul akibat lalu lintas
kendaraan truk sampah disamping akibat bunyi mesin pengolahan
(tertutama bila digunakan mesin pencacah sampah atau shredder).
Kebisingan di sekitar lokasi TPA timbul akibat lalu lintas kendaraan
pengangkut sampah menuju dan meninggalkan TPA; disamping
operasi alat berat yang ada.
h. Dampak Sosial
Hampir tidak ada orang yang akan merasa senang dengan adanya
pembangunan tempat pembuangan sampah di dekat
RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA | 7-40
menentang / oposisi dari masyarakat dan munculnya keresahan.
Sikap oposisi ini secara rasional akan terus meningkat seiring
dengan peningkatan pendidikan dan taraf hidup mereka, sehingga
sangat penting untuk mempertimbangkan dampak ini dan
mengambil langkah-langkah aktif untuk menghindarinya.
8. Resiko Lingkungan
Komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak akibat
adanya kegiatan pembangunan sistem penyediaan air bersih akan
mencakup:
a. Geo-fisik-Kimia; yang meliputi: kuantitas dan kualitas air
tanah/permukaan, kualitas udara, kondisi tanah, dan kebisingan
b. Biologis: baik keanekaragaman maupun kondisi flora/fauna
c. Sosioekonomibudaya; yang meliputi: kependudukan, kesehatan
masyarakat, pola kehidupan masyarakat, mata pencaharian, estetika,
kecemburuan masyarakat, persepsi masyarakat terhadap proyek, nilai
jual tanah, situs sejarah, adat, dan lain-lain
d. Prasarana umum: jalan, saluran drainase, jaringan PLN/Telkom,
perpipaan air bersih / air limbah, dll
7.3.2.3. Profil Persampahan
Jumlah penduduk Kabupaten Sumbawar berjumlah 406.888 jiwa, angka
tersebut meningkat cukup signifikan dalam kurun waktu 2 (dua) tahun
terakhir. Walaupun intensitas kesadaran masyarakat terhadap pengendalian
populasi penduduk sudah semakin baik, akan tetapi kesadaran untuk
mengikuti program “Dua Anak Cukup” belum terwujud secara nyata yang
menyebabkan perkembangan jumlah penduduk relatif tinggi.
Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan makin
banyaknya lahan – lahan baru yang dijadikan pemukiman, baik lahan sawah
maupun lahan kering. Beberapa tempat yang dianggap strategis akhirnya