BAB II
BERDIRINYA SMK HKTI 1 PURWAREJA KLAMPOK
A. Latar Belakang Pendirian
Pada sekitar tahun 1965 di Kabupaten Banjarnegara khususnya Kecamatan Purwareja Klampok dan sekitarnya terjadi peningkatan jumlah pengangguran. Kurangnya pengetahuan akan dunia kerja serta kurangnya keahlian untuk terjun ke dalam dunia kerja menjadi salah satu faktor terciptanya banyak pengangguran di daerah tersebut. Selain itu masih minimnya lembaga kepelatihan dan pendidikan untuk menunjang kemampuan mereka agar bisa masuk dalam dunia kerja juga menjadi salah satu alasan semakin meningkatnya angka pengangguran. Kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang kebanyakan tidak mampu memberikan bekal pendidikan kepada anaknya untuk ke mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus dari SMP atau sederajat (wawancara Nadim, 25 Maret 2014).
Sekolah adalah penentu pendidikan dan BLKP Purwareja Klampok dengan dikepalai oleh Soegeng Diposoemarto serta didukung oleh rekan-rekannya yang juga para pegawai di BLKP Purwareja Klampok untuk mengembangkan program kerja dalam bentuk penyelenggaraan pendidikan yaitu SMK/STM. Gagasan tersebut dapat dijadikan koreksi dan solusi untuk meningkatkan kualitas masyarakat serta membangun masyarakat di daerah Purwareja Klampok dan sekitarnya.
SMK/STM merupakan salah satu jenjang pendidikan yang diorientaskan untuk mencetak tenaga profesional tingkat menengah. Tenaga profesional inilah yang nantinya diharapkan menjadi sumber daya manusia yang mampu mengolah sumber daya alam khususnya dibidang pertanian. Pentingnya pembangunan di bidang pertanian tersebut disadari betul oleh Soegeng Diposoemarto yang bertekad mencetak dan membangun teknologi serta SDM dibidang pertanian. Setelah melalui beberapa perundingan akhirnya ditetapkanlah keputusan dari para tokoh untuk mendirikan sebuah Sekolah Menengah Kejuruan dengan nama STM Pertanian.
mempunyai ide atau gagasan untuk mendirikan sebuah sekolah. Sekolah menengah kejuruan tersebut didirikan dalam rangka dapat melaksanakan pendidikan dan pelatihan yang efektif dan efisien yaitu STM Pertanian. Para tokoh tersebut antara lain Soegeng Diposoemarto selaku Kepala BLKP, kemudian Sitam selaku Wakil Kepala BLKP, Toro, Wandi dan Nadim selaku instruktur di BLKP (wawancara Nadim, 25 Maret 2014).
STM Pertanian didirikan atas dasar banyaknya pengangguran yang ada di daerah Purwareja Klampok dan sekitarnya. Mereka belum siap untuk terjun ke dunia kerja karena tidak mempunyai bekal keterampilan yang memadai untuk terjun ke dunia kerja. Meningkatnya jumlah orang yang berminat untuk mengikuti pelatihan kerja di Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP) Purwareja Klampok. Balai kepelatihan tersebut hanya memberikan pelatihan berupa kursus saja dan tidak memberikan pengetahuan ataupun pendidikan yang lebih. Sementara itu peminat dari masyarakat akan pendidikan yang memberikan bekal keterampilan semakin bertambah dari tahun ke tahunnya.
Pada awal berdirinya yaitu pada tanggal 1 Februari 1968 STM Pertanian tersebut belum memiliki gedung pribadi. Gedung yang dipergunakan masih berinduk atau bertempat di gedung Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP) Purwareja Klampok dan bekerjasama dengan BLKP Klampok. Baik dari tenaga pengajar, alat-alat praktek, serta lahan yang digunakan semua masih bekerjasama dengan BLKP Klampok (wawancara Nadim, 25 Maret 2014).
STM Pertanian tersebut dikepalai oleh Ir. Rustam yang sebelumnya adalah pegawai Pemerintah Daerah Banjarnegara yang ditugaskan untuk menjadi Kepala Sekolah di STM tersebut. Bahan atau materi yang diberikan di STM Pertanian ini sebagian besar sama dengan materi yang diajarkan pada Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP) tersebut. Selain bahan dan materi, sistem kurikulum yang dipakai oleh STM Pertanian juga sama dengan kurikulum di Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP), yaitu berbentuk kursus.
STM Pertanian ini hanya berjalan dua tahun di Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP), yaitu dari tahun 1968-1970. Pada tahun 1971 STM Pertanian tidak lagi berinduk atau berjalan di Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP), karena jumlah peminatnya dan jumlah siswanya semakin banyak. Maka dari itu gedung BLKP tidak dapat menampung banyaknya siswa setiap tahunnya (wawancara Indo Poestoko, 25 Maret 2014).
Sitam sebagai kepala Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP) yang baru setelah menggantikan R. Soegeng Diposoemarto bekerjasama dengan Camat Purwareja Klampok. Kemudian beliau menginstruksi bahwa STM Pertanian dipindahkan ke Gedung Aula Balai Desa Purwareja Klampok. Setelah mendapatkan instruksi tersebut para pengurus STM Pertanian kemudian memindahkan sementara kegiatan belajar mengajar di Aula Balai Desa Purwareja Klampok. Pindahnya STM Pertanian dari Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP) ke Aula Balai Desa Purwareja Klampok tidak menurunkan minat terhadap masyarakat untuk bersekolah di STM Pertanian ini. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya peserta didik yaitu sebanyak dua rombongan belajar ditahun ajaran baru 1970/1971 (wawancara Indo Poestoko, 25 Maret 2014).
rehabilitasi gedung. Sehingga tidak memungkinkan untuk tetap dilakukannya proses kegiatan belajar mengajar di gedung Aula Balai Desa Purwareja Klampok.
Mengetahui hal tersebut pengurus STM Pertanian yang dikepalai oleh Siam ini merencanakan untuk pindah dengan keinginan mengusulkan kepada pemerintah daerah. Beliau berencana mengusulkan agar sekolah ini bisa tetap berdiri serta mempunyai gedung sekolah secara resmi dan pribadi. Setelah melalui beberapa pertimbangan dan perundingan, kemudian Siam selaku Kepala Sekolah yang baru dan ketua pengurus dari STM Pertanian mengusulkan secara resmi kepada pemerintah daerah agar sekolah ini bisa terus berdiri dan mempunyai gedung pribadi (wawancara Siam Andarwaluyo, 27 Maret 2014).
Setelah STM Pertanian ini mempunyai gedung sendiri, sempat juga dari pihak pemerintah daerah Kabupaten Banjarnegara mengusulkan kepada pemerintah pusat agar STM Pertanian ini dapat dijadikan menjadi sekolah yang berstatus negeri. Namum dari pihak pengurus STM Pertanian itu sendiri tidak menghendaki sekolah ini untuk dijadikan menjadi sekolah negeri. Hal ini dikarenakan pada waktu itu status pemerintah sangat menekan. Dan akhirnya STM Pertanian ini tetap dinaungi oleh yayasan pertanian daerah (wawancara Siam Andarwaluyo, 27 Maret 2014).
Selang beberapa waktu sekolah ini berjalan, pada tahun 1974 mendapatkan pergantian kepala sekolah. Siam Andarwaluyo kembali ditugaskan di Dinas Pertanian Daerah setempat. Kemudian Siam Andarwaluyo digantikan oleh Ir. Tawan dari pengurus pertanian Kalibagor Banyumas. Guna keberlangsungan dari STM pertanian, Ir. Tawan selaku kepala STM Pertanian yang baru merencanakan mencari sumber yayasan pertanian pusat guna kelangsungan sekolah yang lebih maju.
nama menjadi SMK HKTI 1 Purwareja Klampok (wawancara Nadim dan Indo Poestoko, 25 Maret 2014).
B. Tokoh-Tokoh Pendiri
STM Pertanian yang terletak di daerah Purwareja Klampok didirikan pada tanggal 1 Februari 1968, dan berdirinya SMK ini diprakarsai oleh tokoh-tokoh yang pada waktu itu menjadi pegawai BLKP (Balai Latihan Kerja Pertanian). Tokoh pendiri STM Pertanian di antaranya adalah Soegeng Diposoemarto selaku Kepala BLKP, kemudian Sitam selaku Wakil Kepala BLKP, Toro, Wandi, dan selaku instruktur di BLKP. Berikut adalah biografi tokoh pendiri STM Pertanian.
Diahir kepemimpinanya di BLKP, yaitu tahun 1968 Soegeng Diposoemarto bersama rekan-rekannya sesama pegawai BLKP yaitu Sitam selaku Wakil Kepala BLKP, Toro, Nadim dan Wandi selaku instruktur di BLKP memprakarsai berdirinya sebuah STM Pertanian (wawancara Nadim, 25 Maret 2014).
Toro adalah pria kelahiran Banjarnegara 11 Mei 1926. Pria ini pernah berdomisili di Purwareja Klampok Banjarnegara, namun karena mengikuti jejak orangtua kemudian beliau pindah ke daerah kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga dan kemudian bertempat tinggal di Bobotsari Kabupaten Purbalingga. Semasa hidupnya beliau mengenyam pendidikan dasar atau yang pada masa itu adalah SR (Sekolah Rakyat) hingga pendidikan menengah di Kabupaten Purbalingga. Selang beberapa waktu setelah lulus dari sekolah rakyat, beliau menjadi pejuang republik Indonesia yang ikut mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia. Kemudian pada tahun 1965 Toro bekerja di BLKP (Balai Latihan Kerja Pertanian) Purwareja Klampok dan menjabat sebagai kepala seksi bidang pertanian, dan pada tahun 1968 beliau bersama rekan-rekanya yang bekerja di BLKP memprakarsai berdirinya sebuah STM Pertanian yang berada di daerah Purwareja Klampok (wawancara Nadim, 25 Maret 2014)
Nadim adalah pria kelahiran Purwokerto 2 Maret 1939. Beliau tumbuh besar dalam kalangan keluarga yang berkecukupan karena ayahnya adalah seorang lurah. Nadim menghabiskan masa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di daerah Purwokerto. Selang beberapa waktu setelah lulus dari SMA tepatnya pada tahun 1966 kemudian beliau bekerja di Balai Latihan Kerja Pertanian (BLKP) Purwareja Klampok dan menjabat sebagai Instruktur di BLKP, selain menjadi instruktur beliau juga dipercaya untuk mengajar mata pelajaran eksata di BLKP. Semasa kerjanya di BLKP beliau bersama rekan-rekanya sesama pegawai BLKP memprakarsai berdirinya sebuah STM Pertanian yang berdiri pada tahun 1968 di Kecamatan Purwareja Klampok. Setelah memprakarsai berdirinya sebuah sekolah, Nadim masih bekerja di BLKP hingga masa ahir kerjanya yaitu pada tahun 1995 (wawancara Nadim, 25 Maret 2014).
C. Perijinan
Pengurus perijinan pendirian STM Pertanian Purwareja Klampok tidak terdokumentasi dengan baik, namun berdasarkan penuturan Nadim selaku salah satu tokoh pengajar dari STM Pertanian bahwa dalam hal perijinan pendirian STM Pertanian Purwareja Klampok, yaitu dengan cara mengajukan permohonan ijin berupa sebuah proposal dengan berbagai lampiran persyaratan pendirian institusi pendidikan swasta setingkat sekolah menengah kepada Dinas Pendidikan setempat, yaitu Dinas Pendidikan tingkat kecamatan Purwareja Klampok. Setelah mengajukan perijinan ke Dinas Pendidikan Kecamatan, para pendiri kemudian bermusyawarah dengan pengurus Dinas Kecamatan untuk membahas perijinan ke tingkat yang lebih tinggi dan menentukan persyaratan yang wajib diurus (wawancara Nadim, 25 Maret 2014).
Setelah semuanya terurus dan semua persyaratan memadai, dari Dinas Pendidikan tingkat kecamatan ditindak lanjuti ke Dinas Pendidikan yang tarafnya lebih tinggi lagi yaitu Dinas Pendidikan tingkat Kabupaten Banjarnegara. Setelah mendapat persetujuan dari Dinas pendidikan tingkat Kabupaten kemudian dari Dinas Pendidikan Kabupaten di tindak lanjuti ke tingkat Dinas Pendidikan tingkat provinsi, yaitu provinsi Jawa Tengah. Perijinan diberikan secara tertulis dan diberikan secara resmi dari Dinas Kabupaten kepada pemohon sekolah. Selain memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah, pihak pendiri juga harus memenuhi berbagai ketentuan pengelolaan sekolah dibawah naungan yayasan.
harus wajib mematuhi kurikulum yang berlaku, pengelola wajib menyediakan ruang belajar, pengelola wajib menyediakan peralatan penunjang pembelajaran, dan pengelola wajib menyediakan tenaga pengajar yang berkompeten sesuai dengan bidangnya. Setelah semua syarat dan ketentuan untuk pendirian sekolah terpenuhi, dari Dinas Pendidikan Kabupaten menyetujui serangkaian persyaratan tersebut dan ditetapkanlah surat keputusan pendirian STM Pertanian pada tanggal 1 Februari 1968 (wawancara Indo Poestoko, 25 Maret 2014).
Setelah STM Pertanian berjalan beberapa tahun, kemudian pada tahun 1977 sekolah ini melakukan pendaftar ulangan. Berdasarkan piagam yang berlaku sebagai surat keputusan pendaftar ulangan sekolah swasta kejuruan di Jawa Tengah yang diberikan oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan kepada STM Pertanian Purwareja Klampok pada tanggal 3 Maret 1977 dengan nomor 00/06/77/030. Piagam ini diberikan kepada STM Pertanian dengan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi oleh STM Pertanian, berikut adalah ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi.
1. Sekolah wajib melaporkan data-data murid pada awal tahun, pertengahan tahun dan ahir tahun termasuk hasil EBTA.
2. Sekolah wajib melaporkan data-data guru, baik tetap maupun tidak tetap yang sekurang-kurangnya dilakukan sekali setahun pada tiap awal tahun.
4. Kepala sekolah atau guru yang diserahi pimpinan untuk sekolah swasta yang bersangkutan harus mendapat persetujuan dari Kepala Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan.
5. Administrasi sekolah harus dilaksanakan dengan tertib menurut pedoman yang
telah ditentukan oleh Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan.
6. Sekolah wajib mentaati segala ketentuan- ketentuan Kanwil yang pembinaanya dilaksanakan oleh Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan dalam rangka pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan.
7. Bagi sekolah- sekolah swasta yang bersangkutan yang ternyata tidak mentaati
D. Perekrutan Guru
Guru adalah aktor utama dalam dunia pendidikan. Peran guru atau tenaga pendidik diharapkan tidak hanya sebagai tenaga pengajar, melainkan juga sebagai tenaga pendidik yang dapat membentuk kepribadian peserta didik untuk hal yang lebih baik. Untuk menjamin mutu pendidikan maka diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Setelah STM Pertanian Resmi berdiri pada tanggal 1 Februari 1968, kemudian sekolah ini berinduk di BLKP Purwareja Klampok dan bekerja sama langsung dengan pihak BLKP Purwareja Klampok. Untuk menunjang proses pembelajaran di STM Pertanian, dari pihak pendiri STM Pertanian memohon bantuan dari staf pengajar BLKP untuk ikut bekerjasama dan memberikan pembelajaran pada peserta didik STM Pertanian. Staf pendidik dari BLKP memberikan pembelajaran seputar Pertanian kepada siswa-siswi STM Pertanian.