• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 BAB I PENDAHULUAN - Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Madrasah Aliyah Negeri Di Kab. Hulu Sungai Tengah (Studi Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam) - IDR UIN Antasari Banjarmasin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "1 BAB I PENDAHULUAN - Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Madrasah Aliyah Negeri Di Kab. Hulu Sungai Tengah (Studi Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam) - IDR UIN Antasari Banjarmasin"

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan harus direncanakan dan dikelola dengan baik oleh

pemegang tugas kependidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan maka

diperlukan kurikulum yang disusun pada tingkat pusat dan dilaksanakan

pada tingkat sekolah termasuk di dalamnya kurikulum yang disusun dan

dikembangkan oleh lembaga pendidikan.

Kurikulum sebagai komponen penting dalam pendidikan, sejak masa

kemerdekaan kurikulum pendidikan Nasional mengalami beberapa kali

perubahan dan penyempurnaan. Sejak awal kemerdekaan sampai tahun 1975,

kemudian pada tahun 1984, kurikulum mengalami perubahan, kemudian

tahun 1994 kurikulum kembali mengalami perubahan yang disebut

kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang menekankan pada isi dan

materi, berupa pengetahuan dan pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan

evaluasi di ambil dari bidang ilmu pengetahuan, target kompetensi siswa

pada Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) dan Tujuan Pembelajaran Khusus

(TPK). Di tahun 2004 kurikulum disempurnakan dengan nama Kurikulum

Berbasis Kompetensi (KBK) yang menekankan pada kemampuan atau

kompetensi tertentu berkaitan dengan peluang kerja atau kebutuhan yang ada

(2)

2

melahirkan keterampilan hidup. Kurikulum ini dikembangkan oleh tim Pusat

Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Sejak tahun 2006/2007

pemerintah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

KTSP dikembangkan oleh tim Badan Standar Nasional Pendidikan.

Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis

Kompetensi (KBK) yang diterapkan pada tahun 2004. Sekolah diberikan

wewenang dalam menambah dan mengembangkan muatan kurikulum yang

sudah ditentukan. Kurikulum ini memungkinkan sekolah mengefektifkan

potensi yang ada di masyarakat tempat sekolah berada, juga

mempertimbangkan output yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan

masyarakat.

KTSP adalah Kurikulum yang digunakan pada tingkat lembaga sekolah

dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah no. 19 Tahun 2005 tentang

Standar Nasional Pendidikan, bahwa “Setiap sekolah/madrasah mengembangkan kurikulum berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL)

dan Standar Isi (SI) dan berpedoman pada Badan Standar Nasional

Pendidikan (BSNP)”1. KTSP yang dikembangkan oleh sekolah bertujuan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24

Tahun 2006 “Mewajibkan setiap madrasah mengembangkan dan

menetapkan kurikulum tingkat Sekolah (KTSP) sesuai kebutuhannya dengan

memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pedidikan

1

(3)

3

(KTSP) dasar dan menengah yang disusun oleh Badan Standar Nasional

Pendidikan (BSNP).”2

Pada tahun 2013 pemerintah merencanakan menerapkan kurikulum

baru yang disebut Kurikulum 2013. Kurikulum ini dikeluarkan oleh BSNP

dengan dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap moral generasi muda

yang masih berstatus pelajar. Krisis moral yang terjadi membuat pemerintah

mengeluarkan kurikulum yang tidak hanya mengacu pada sains dan

teknologi, ditambah dengan penekanan pada pembentukan kepribadian yang

luhur.

Penekanan kurikulum 2013 pada jam pelajaran agama ditambah dari 2

jam pelajaran perminggu menjadi 4 jam pelajaran perminggu. Ada beberapa

mata pelajaran yang dipadatkan seperti pelajaran IPA dan IPS yang d igabung

dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Kurikulum 2013 telah diujicobakan pada

17 sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) di Indonesia.

Dimulai tahun 2013, kurikulum akan diterapkan di seluruh sekolah pada

kelas VII Sekolah Menengah Pertama dan kelas X Sekolah Menengah Atas.

Sekolah berciri khas agama Islam di Indonesia yaitu madrasah

menggunakan kurikulum yang telah ditentukan menurut Kementerian

Agama disamping kurikulum dari Kemendiknas. Pelajaran agama terdiri dari

empat cabang: Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fikih, dan Sejarah

Kebudayaan Islam. Keempat mata pelajaran tersebut adalah pokok bidang

ilmu yang ditetapkan untuk dipelajari peserta didik.

2Kementerian Agama RI,” Panduan Teknis Pengembangan Kurik ulum Madrasah Aliyah,”

(4)

4

Dalam Peraturan Menteri Agama no 16 disebutkan:

“Kurikulum pendidikan agama adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan agama yang mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Kelompok Mata Pelajaran Agama dan Akhlak Mulia.”3

Penulis akan melakukan penelitian terhadap Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) dengan berfokus pada implemetasi KTSP oleh guru mata

pelajaran Agama Madrasah Aliyah. Pada Permenag Nomor 2 Tahun 2008

ditetapkan tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam untuk Madrasah Aliyah. Meliputi mata pelajaran:

Qur’an Hadits, Fikih, Akidah Akhlak dan Sejarah Kebudayaan Islam pada

kelas X, kelas XI dan XII Program IPA dan IPS , serta mata pelajaran Akidah

Akhlak dan Sejarah Kebudayaan Islam kelas XI dan XII Program

Keagamaan oleh guru agama pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Kab.

Hulu Sungai Tengah.

Mata pelajaran agama yang meliputi empat macam tersebut adalah ciri

dari sekolah berciri khas keagamaan yang merupakan nilai lebih dibanding

sekolah umum. Kelebihan ini membuat minat masyarakat untuk

memasukkan anak ke dalam lembaga pendidikan berciri khas keagamaan

cukup tinggi.

Dari hasil pengamatan awal guru PAI yang bertugas pada MAN

umumnya implementasi KTSP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

3Peraturan Menteri Agama,”

(5)

5

belum sesuai dengan KTSP yang disusun. Ini disebabkan karena kurangnya

pemahaman mengenai KTSP.

Guru PAI pada MAN 1, 2, 3, 4 dan 5 Barabai selain mengajar mata

pelajaran agama juga menjadi pembimbing dalam kegiatan keagamaan dan

pengembangan diri yang bersifat keagamaan, seperti: peringatan hari besar

Islam, Shalat Dhuha berjama’ah, Shalat Zuhur bejama’ah, kegiatan

bimbingan agama, membaca syair Habsyi.

Pada umumnya guru tidak mengkaji Standar Isi yang ditetapkan oleh

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), dari wawancara awal guru

memberikan keterangan mengikuti Standar Kompetensi dan Kompetensi

Dasar yang telah ditetapkan. Pada bagian peran dan tanggungjawab guru

yang mencakup perencanaan, misalnya pada penyusunan silabus dan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menggunakan yang telah tersedia di

internet hanya mengganti nama dan tempat. Pelaksanaan pada umumnya

guru menerapkan memberikan catatan dan ceramah. pada tindak lanjut guru

melakukan remedial terhadap siswa yang belum mencapai nilai standar

minimal tanpa mengulangi bagian materi yang belum dikuasai siswa.

Tugas guru pada bagian perencanaan berkaitan dengan Standar Isi,

melingkupi bahan pelajaran yang memuat Standar Komp etensi dan

Kompetensi Dasar yang harus dicapai peserta didik. Kegiatan pelaksanaan

adalah bagian dari Standar Proses yang ditetapkan oleh BSNP. Dalam

kegiatan perencanaan guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, di

(6)

6

oleh guru ketika proses pembelajaran. Dalam Standar Proses guru

melaksanakan tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan untuk mencapai

standar kompetensi yang ditetapkan bagi peserta didik.

Semua madrasah telah melaksanakan KTSP tetapi masih banyak guru

yang belum mengerti dengan baik sehingga kurang mengacu pada KTSP.

Dalam KTSP bagian tugas dan tanggungjawab guru, misalnya berpartisipasi

aktif mengkaji SI, SKL, Standar Proses, Standar Penilaian, serta panduan

penyusunan KTSP, mengembangkan silabus.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, fokus penelitian ini adalah kinerja

guru PAI dalam menyusun/implemetasi KTSP pada mata pelajaran agama di

MAN Kab. Hulu Sungai Tengah yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan

sebagai berikut:

1. Bagaimana pemahaman guru PAI terhadap Standar Isi, Standar

Kompetensi Lulusan, Standar Proses dan Standar Penilaian kurikulum

mata pelajaran agama pada MAN di Kab. Hulu Sungai Tengah?

2. Bagaimana kinerja guru PAI dalam perencanaan KTSP pada mata

pelajaran agama pada MAN di Kab. Hulu Sungai Tengah?

3. Bagaimana pelaksanaan KTSP pada MAN mata pelajaran agama pada

MAN di Kab. Hulu Sungai Tengah?

4. Bagaimana guru PAI melakukan monitoring KTSP pada mata pelajaran

(7)

7

5. Bagaimana guru PAI mengevaluasi KTSP pada mata pelajaran agama

pada MAN di Kab. Hulu Sungai Tengah?

6. Bagaimana guru PAI menindaklanjuti KTSP pada mata pelajaran agama

pada MAN di Kab. Hulu Sungai Tengah?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengidentifikasi pemahaman guru terhadap Standar Isi dan Standar

Kompetensi Lulusan, Standar Proses dan Standar Penilaian kurikulum

mata pelajaran agama.

2. Mengetahui kinerja guru PAI dalam perencanaan KTSP pada mata

pelajaran agama.

3. Mengeksplorasi pelaksanaan KTSP pada mata pelajaran agama.

4. Mengetahui cara guru melakukan monitoring KTSP pada mata pelajaran

agama.

5. Mengetahui cara guru mengevaluasi KTSP pada mata pelajaran agama.

6. Mengetahui cara guru menindaklanjuti KTSP pada mata pelajaran agama.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Secara teoretis.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru PAI

dalam mengimplementasikan KTSP pada mata pelajaran keagamaan

(8)

8

2. Secara Praktis

a. Bagi Sekolah

Dapat memberikan informasi mengenai kinerja guru PAI dalam

mengimplementasikan KTSP pada mata pelajaran keagamaan

mencakup: Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fikih dan Sejarah

Kebudayaan Islam.

b. Bagi guru

Sebagai evaluasi bagi kepala sekolah, dan guru mengenai kinerja

guru PAI dalam mengimplementasikan KTSP pada mata pelajaran

agama, untuk dapat ditingkatkan agar lebih efektif.

E. Definisi Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap judul penelitian ini, maka

perlu diberikan definisi operasional terkait dengan hal yang akan diteliti.

1. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata implementasi bermakna

pelaksanaan atau penerapan. Implementasi yang dimaksud oleh peneliti

adalah pelaksanaan KTSP yang menjadi tugas dan tanggungjawab guru

mulai dari tahap pemahaman Standar Isi, Standar Proses, Standar

Kompetensi Lulusan dan Standar Penilaian Mata Pelajaran Agama.

Perencanaan meliputi perangkat pembelajaran yang disusun dan digunakan

dalam kegiatan pembelajaran: Program Tahunan, Program Semester,

Pengembangan Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan Kriteria

Ketuntasan Minimal. Kegiatan pelaksanaan pada proses pembelajaran

(9)

9

pembelajaran, kegiatan evaluasi hasil belajar siswa, dan tindaklanjut hasil

belajar oleh guru PAI pada MAN Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ialah Kurikulum Berbasis

Kompetensi yang disempurnakan. Kurikulum ini disusun oleh seluruh

satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di seluruh

Indonesia berdasarkan panduan Badan Standar Nasional Pendidikan

(BSNP) dengan mengacu pada PP No. 19 Tahun 2005, diterapkan sejak

tahun 2006. KTSP yang dimaksud adalah KTSP mata pelajaran agama

yang disusun dan dilaksanakan oleh Madrasah Aliyah Negeri Barabai di

Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

3. Madrasah Aliyah Negeri ialah: Salah satu bentuk satuan pendidikan formal

yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam

pada jenjang pendidikan lanjutan dari Sekolah Menengah

Pertama/Madrasah Tsanawiyah di dalam binaan menteri agama dengan

status negeri berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Agama. MAN

yang dimaksud yaitu MAN 1 Barabai, MAN 2 Barabai, MAN 3

Barabai, MAN 4 Barabai, dan MAN 5 Barabai yang berada di kab. Hulu

Sungai Tengah.

4. Kata kinerja bermakna 1) sesuatu yang dicapai, 2) prestasi yang

diperlihatkan guru, 3) kemampuan kerja. Maksud dari judul adalah kinerja

guru agama Islam dalam mengimplementasikan Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan (KTSP) mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada

(10)

10

perencanaan,yaitu: Pengkajian Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan,

Pengembangan KTSP meliputi penentuan Tujuan Mata Pelajaran,

Pembuatan KKM, analisis KD/SK, menyusun Prota dan Promes,

pengembangan silabus, menyusun RPP dan perangkat operasional yang

mendukung RPP. Tahap pelaksanaan yang sesuai prinsip KTSP,

Penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, Tahap Monitoring meliputi:

pemahaman indikator pelaksanaan kurikulum, pengembangan diri,

konsultasi dengan kepala madrasah/pengawas untuk mengatasi kendala,

dan saling mengoreksi dan memberi masukan sesama teman sejawat

terhadap proses dan hasil pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan evaluasi

mencakup jenis dan teknik evaluasi belajar yang dilakukan terhadap siswa

sampai tindak lanjut pada hasil pembelajaran siswa yang sesuai dengan

karakteristik KD dan prosedur yang ditetapkan dalam s tandar penilaian.

F. Penelitian Terdahulu

Mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan telah diteliti oleh H

Mubarak yang berfokus pada implementasinya. Tesis dengan judul

Implementasi kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dalam pembelajaran

kelompok Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah

Negeri Tenggarong Kab. Kutai Kartanegara meneliti untuk memberikan

deskripsi mengenai pembelajaran materi Agama Islam pada madrasah

tersebut.

Dalam penelitian kualitatif melalui teknik wa wancara dan studi

(11)

11

acuan Standar Isi dengan berdasar pada UU Sisdiknas no 20 Tahun 2003 dan

PP No. 19/2005 pada kelompok mata pelajaran agama Islam yang terdiri dari

Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fikih dan Sejarah Kebudayaan Islam pada

MAN Tenggarong diterapkan meliputi pengembangan silabus dan

penyusunan RPP mengacu pada KTSP.

Penelitian tesis yang dilakukan oleh Ahmad Juhaidi mengenai

Pemikiran Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan (Studi terhadap S urat

Kabar Harian di Banjarmasin) berfokus pada pemikiran pendidikan terutama

yang terkait dengan kurikulum khususnya mengenai pembelajaran materi

pendidikan Islam dan guru yang muncul da lam artikel di Koran harian di

Banjarmasin sejak tahun 2000 sampai 2004 . Mengenai kurikulum, ide yang

berkembang adalah keinginan kurikulum terus dikembangkan sesuai dengan

kebutuhan zaman dan peserta didik, menghilangkan dikotomi ilmu umum dan

ilmu agama, serta mampu mengembangkan kreatifitas peserta didik.

Penelitian tesis yang dilakukan oleh Ma’ruful Karfi berjudul Analisis manajemen sekolah dan kompetensi guru pendidikan agama Islm GPAI

sekolah dasar negeri SDN sekabupaten hulu sungai selatan berfokus pada

empat kompetensi yang harus dimiliki guru untuk meningkatkan mutu

pendidikan dewasa ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui lebih

mendalam tentang pelaksanaan manajemen sekolah dan penguasaan empat

kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,

kompetensi profesional dan kompetensi sosial bagi guru pendidikan agama

(12)

12

menyimpulkan bahwa dalam rangka untuk meningkatkan mutu sekolah

sebaiknya kepala sekolah berupa melaksanakan manajemen sekolah yang

baik, kemudian didukung oleh guru yang kompeten, berjiwa inovatif, kreatif,

untuk menjadikan lembaga pendidikan yang unggul kemudian menghasilkan

output yang handal, sehingga dapat menjadi sekolah favorit dan akhirnya

sekolah akan diminati oleh masyarakat dimana sekolah tersebut berada.

Penelitian tesis yang dilakukan oleh Kamaliah mengenai

Pengembangan dan Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Ta’limul Qur’an

di SMA Kabupaten Banjar (Tinjauan Terhadap Pelaksanaan Peraturan Daerah

Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Khatam Al-Qur’an di Kabupaten Banjar). Fokus penelitian adalah pengembangan dan implementasi kurikulum Muatan

Lokal Ta’limul Qur’an di SMA Kabupaten Banjar serta faktor pendukung dan

penghambat pengimplementasiannya. Peneliti menggunakan pendekatan

kualitatif fenomemologis. Perolehan data dilakukan dengan teknik

wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh

menunjukkan bahwa pengembangan dimulai dengan penyusunan kurikulum

Muatan Lokal Ta’limul Qur’an diikuti dengan kegiatan implementasi

meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran.

Faktor pendukung adalah kompetensi guru yang didukung oleh kepala

sekolah dan faktor penghambat adalah dari kemampuan siswa.

Penelitian ini memfokuskan penelitian pada kinerja guru dalam KTSP

meliputi: (1) Pemahaman (pengkajian) Standar Isi, SKL, Standar Proses, dan

(13)

13

Standar Kelulusan danTujuan Mata Pelajaran, analisis SK/KD dan pemetaan

KD, Penyusunan KKM, menyusun Prota dan Promes, pengembangan

silabus, menyusun RPP dan perangkat operasional yang mendukung RPP; (3)

Tahap pelaksanaan yang sesuai prinsip KTSP, Penciptaan lingkungan belajar

yang kondusif, melaksanakan pengembangan diri, penciptaan lingkungan

belajar yang menyenangkan, pelaksanaan penilaian, dan adanya dukungan

antara guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran dan pelaksanaan

KTSP; (4)Tahap monitoring pemahaman tentang indikator keberhasilan

pelaksanaan kurikulum, konsultasi dengan kepala madrasah/pengawas untuk

mengatasi kendala serta saling mengoreksi dan memberikan masukan dengan

teman sejawat dalam melaksanakan pembelajaran/penilaian; (5) Tahap

evaluasi yaitu menentukan jenis dan teknik penilaian hasil belajar serta

pengumpulan data pencapaian belajar siswa pada hasil pembelajaran siswa

menyesuaikan dengan karakteristik Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

dan prosedur yang ditetapkan dalam standar penilaian pada mata pelajaran

agama; (6) Tahap tindak lanjut meliputi pemilahan hasil analisis penilaian,

program remedial dan pengayaan kepada siswa, serta penyusunan laporan

hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru agama.

Penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Perolehan data akan dilakukan

melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi sehingga akan

(14)

14

G. Sistematika Penulisan

Agar memudahkan dalam penulisan tesis ini maka penulis membuat

sistematika penulisan yang terdiri dari enam bab, yaitu:

Bab I: Pendahuluan, yang meliputi: latar belakang masalah, fokus

penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional,

penelitian terdahulu, dan sistematika penulisan.

Bab II: Kajian Pustaka yang berisi tentang: Kurikulum, Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Implementasi KTSP di Madrasah, Guru

Profesional, Guru Pendidikan Agama, Peran dan Tanggungjawab guru dalam

implementasi KTSP, Prinsip Pengembangan KTSP pada Madrasah Aliyah,

Pendidikan Agama Islam pada Madrasah Aliyah, Tujuan Pendidikan Agama

Islam di Madrasah Aliyah, serta Muatan dan Isi kurikulum Madrasah Aliyah.

Bab III : Pendekatan dan jenis penelitian , lokasi penelitian,data dan

sumber data, teknik pengumpulan data, prosedur pengumpulan data, Analisis

data, dan pengecekan keabsahan data.

Bab IV: Paparan data penelitian. Hasil wawancara, observasi dan

dokumentasi dipaparkan dengan teknik deskriptif sesuai dengan data yang

sebenarnya.

Bab V: Pembahasan. Data yang dipaparkan diuraikan dan dianalisis

secara kualitatif dengan teori yang berkaitan.

Bab VI: Penutup berisi simpulan dan saran. Kesimpulan ditarik

berdasarkan data yang dianalisis. Peneliti memberikan saran yang diharapkan

(15)

15

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.Kurikulum

1. Pengertian Kurikulum

Dalam kamus Inggris Indonesia oleh John M. Echols, Hassan Shadily

Kurikulum berasal dari bahasa Yunani Kuno dari kata curir berarti pelari

dan kata currere berarti tempat berpacu/atau tempat berlomba. Secara

bahasa kata kurikulum berasal dari bahasa Inggris Curriculum yang berarti

rencana pelajaran.4

Menurut Binti Maunah: “Kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran di sekolah atau di akademi/college yang harus ditempuh oleh siswa untuk mencapai suatu degree (tingkatan) atau ijazah. Kurikulum merupakan salah satu faktor dalam proses pendidikan yang berperan seperti perangkat lunak dari proses tersebut. Kurikulum mempunyi peranan sentral karena menjadi arah menjadi titik pusat dari proses pendidikan.”5

Peter Mclaren menyebutkan bahwa “The curriculum favors certain forms of knowledge over others and affirms the dreams, desires, and values

of selects groups of students over other groups, often discriminatorily on

the basic of race, class, and gender.6

4

John M. Echols, Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta : Gra med ia, 2000), Cet. ke 25, h. 160.

5

Binti Maunah, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Yogyakarta : Te ras, 2009), h. 2.

(16)

16

Menurut Athur K. Ellis, John J. Cogan, Kennet R. Howey

“Curriculum is most commonly defined as the scope and sequence of

courses offered in school’s program.”7

Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai

bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan

dirancangkan secara sistemik atas dasar norma- norma yang dijadikan

pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta

didik untuk mencapai tujuan pendidikan.8

Dalam Panduan Teknis penyusunan KTSP oleh BSNP bahwa

kurikulum ialah: “Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakansebagai pedoman.

penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan

tertentu.”9

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa kurikulum adalah

sejumlah perangkat pendidikan yang terdiri dari tujuan, isi, dan

pengetahuan digunakan guru untuk membentuk siswa menjadi pribadi yang

sesuai dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan pada tingkat satuan

pendidikan ditentukan oleh masing- masing satuan pendidikan.

7

Athur K. Ellis, John J. Cogan, Kennet R. Howey, Introduction The Fondations Of Educations, (Ne w Je rsey: Prentice Ha ll), 1986, h.298.

8

Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), Cet. ke-2, h. 3

9

(17)

17

Ada tiga konsep tentang kurikulum menurut Nana Syaodih, yaitu

sebagai substansi, suatu sistem, dan sebagai bidang studi10.

a. Kurikulum sebagai substansi. Kurikulum adalah rencana kegiatan

belajar peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kurikulum

juga dimaksudkan untuk seperangkat dokumen pembelajaran yang

digunakan sebagai panduan dalam pelaksanaan pembelajaran.

Kurikulum dimaksudkan juga sebagai arahan yang diberikan oleh

penyusun kurikulum kepada pemegang kebijaksanaan pendidikan yang

berada ditingkat nasional, provinsi, daerah sampai lingkungan tertentu

ditingkat satuan pendidikan.

b. Kurikulum sebagai sistem. Meliputi cara menyusun, pelaksanaan,

evaluasi sampai penyempurnaan kurikulum.

c. Kurikulum sebagai bidang studi. Kurikulum dapat diartikan sebagai

sejumlah pelajaran yang diberikan kepada peserta didik.

2. Macam-Macam Kurikulum

Menurut Muhammad Ali, kurikulum terbagi dalam beberapa macam:

a. Kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran.

b. Kurikulum yang berlandaskan pada proses sosial dan fungsi

kehidupan.

c. Kurikulum yang berpusat pada kegiatan atau pengalaman.

d. Kurikulum inti atau core curriculum.11

10

Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurik ulum Teori dan Praktek, ( Bandung: Rosdakarya, 2011), Cet. ke -14, h.27

11

(18)

18

Kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran mengambil materi- materi

yang menjadi isi. Materi- materi disusun dalam bentuk mata pelajaran yang

terpisah (Separated Subject Curriculum), mata pelajaran yang dihubungkan

(Corelated Curriculum), dan mata pelajaran yang digabung antara materi

yang sejenis (Broad Field Curriculum).

Kurikulum yang berlandaskan pada proses sosial dan fungsi kehidupan

(Life Curriculum) diberikan mata pelajaran keterampilan yang bermanfaat

untuk hidup (Life Skill). Kurikulum ini diterapkan dengan tujuan agar peserta

didik mampu bekerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja

sebagai pemakai hasil pendidikan. Pada kurikulum ini anak diberikan

pengalaman pada suatu bidang kecakapan hidup. Mata pelajaran yang

diberikan berkaitan dengan kehidupan sosial dengan mempelajari budaya

yang berkembang di masyarakat. Kondisi sekolah diciptakan sebagai

masyarakat. Peserta didik diberikan materi seperti keagamaan sosial,

budaya, politik, dan ekonomi.

Pada kurikulum yang berpusat pada kegiatan atau pengalaman Peserta

didik diberikan pengalaman melalui kegiatan, seperti mengunjungi tempat

bersejarah, membuat kerajinan tangan. Anak terdorong untuk aktif karena

mendapat kesempatan mengamati dan melakukan. Pengalaman menjadikan

peserta didik mampu mengatasi masalah atau hambatan ketika proses

pembelajaran.

Kurikulum inti atau core curriculum adalah materi atau pengalaman

(19)

19

digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Inti kurikulum meliputi

mata pelajaran yang tidak terikat dengan mata pelajaran lain, mata pelajaran

yang berintegrasi dengan mata pelajaran lain, mata pelajaran yang

berhubungan dengan mata pelajaran lain, dan semua kegiatan yang

diprogram oleh sekolah atau guru.

Pembagian kurikulum menurut Nana Syaodih adalah Kurikulum subjek

akademis, kurikulum humanistik, kurikulum teknologis, dan kurikulum

rekonstruksi sosial.12

Kurikulum subjek akademis adalah kurikulum yang menekankan pada

isi pendidikan. Tujuan belajar adalah penguasaan ilmu. Pola pengorganisasian

kurikulum subjek akademis sebagai berikut:

a. Correlated curriculum. Materi dalam suatu pelajaran dikaitkan dengan

materi pada pelajaran lain.

b. Unified atau concentrated curriculum. Materi pelajaran disusun dalam

mata pelajaran tertentu.

c. Integrated curriculum. Materi pelajaran diintegrasikan berdasarkan aspek

tertentu dalam kehidupan.

d. Problem solving curriculum. Materi kurikulum adalah pemecahan masalah

yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan

keterampilan dari berbagai mata pelajaran yang diberikan.

Kurikulum humanistik menjadikan peserta didik sebagai faktor utama

pendidikan. Kurikulum yang menekankan pada hubungan emosional yang

(20)

20

dekat antara guru dan peserta didik. Kurikulum humanistik mengintegrasikan

intelektual, emosional, dan perilaku.

Kurikulum rekonstruksi sosial menekankan pada pemecahan masalah

yang dihadapi dalam masyarakat. Isi kurikulum melibatkan interaksi antara

guru, peserta dididik, dan orangorang lingkungan sekitar untuk memecahkan

masalah yang ada dimasyarakat agar terwujud masyarakat yang lebih baik.

Kurikulum teknologi menekankan pada kompetensi peserta didik

terhadap mata pelajaran yang merupakan isi kurikulum. Kurikulum mengarah

pada pembentukan perilaku berupa penguasaan keterampilan yang dapat

diukur.

B. KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

1. Pengertian KTSP

Dalam panduan Penyusunan KTSP oleh BSNP menyebutka n bahwa

“KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di

masing- masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan,

struktur muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan

dan silabus.”13

KTSP Dokumen1 disusun oleh tim yang dibentuk oleh satuan

pendidikan, terdiri dari komite sekolah dan guru yang bertugas di sekolah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Asy Syura/42:38.















































(21)

21















“ Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan

mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat

antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami

berikan kepada mereka.”

KTSP mulai diterapkan pada sekolah tingkat dasar dan menengah

diseluruh Indonesia mulai tahun pelajaran 2006/2007. Dalam KTSP guru

melaksanakan komponen-komponen yang tercantum pada Standar Isi

sebagaimana ditetapkan oleh Kemendiknas.

KTSP terdiri atas KTSP dokumen I dan KTSP dokumen II. KTSP

dokumen I berisi: pendahuluan, tujuan tingkat satuan pendidikan, visi dan

misi madrasah, tujuan madrasah, struktur dan muatan kurikulum, dan

kalender pendidikan. KTSP dokumen II berisi silabus dan Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) semua mata pelajaran yang telah ditetapkan

pada struktur kurikulum di KTSP dokumen I.

2. Dasar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

a. Dasar hukum

Penetapan KTSP berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 20 tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kemudian Peraturan Pemerintah

RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan

(22)

22

b. Dasar filosofis

Dasar kurikulum KTSP secara filo sofis adalah falsafah negara Pancasila

dan UUD 1945. Pendidikan di Indonesia mendasarkan Pancasila sebagai

tujuan pendidikan nasional: Mencerdaskan kehidupan bangsa dan

mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang

beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,

memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan ruhani,

kepribadian yang mantap dan mandiri, dan mempunyai rasa tanggungjawab

kemasyarakatan dan kebangsaan.

c. Dasar Sosiologis

Menurut S. Nasution: “lembaga- lembaga pendidikan dapat dipandang sebagai badan yang berfungsi bagi kepentingan masyarakat, mengadakan

perbaikan bahkan perombakan sosial.”14 Melalui lembaga pendidikan peserta didik dibentuk sesuai dengan tujuan pendidikan yang dirumuskan

oleh masing- masing satuan pendidikan dalam visi dan misi sekolah. Isi

kurikulum diharapkan mampu menjadikan peserta didik siap membangun

masyarakat yang berakhlak sesuai dengan ajaran agama.

d. Dasar Psikologis

Dasar KTSP dari aspek psikologis memperhatikan bagaimana siswa

belajar. Peserta didik adalah individu yang memiliki: motivasi yang

mempengaruhi minat, sikap dan aktifitas dalam kegiatan pembelajaran.

Kesiapan untuk menerima pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan

(23)

23

kecerdasan dan emosi. Kematangan intelektual sesuai dengan pertumbuhan

fisik dan perkembangan otak. Kematangan emosional mempengaruhi

penerimaan peserta didik terhadap pelajaran dan keterampilan yang

diberikan. Setiap peserta didik berasal dari lingkungan dengan pengalaman

yang berbeda. Teori- teori belajar, pengembangan emosional, dinamika

kelompok, perbedaan kemampuan individu, kepribadian, dan mengetahui

motivasi, berkaitan dalam merencanakan pengalaman-pengalaman

pendidikan.

C. Implementasi KTSP di Madrasah.

Muhammad Zaini mendefinisikan pengertian Implementasi

Kurikulum adalah:

“Merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi

dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap. Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses penerapan ide, konsep dan kebijakan kurikulum /kurikulum potensial dalam suatu aktifitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan”.15

Pengertian Implementasi Kurikulum dengan mengacu pada panduan

BSNP adalah melaksanakan semua rancangan yang telah disusun pada tahap

penyusunan kurikulum. Pada implementasi KTSP adalah kegiatan

pelaksanaan semua rancangan yang telah disusun dalam dokumen 1 dan

dokumen 2 dalam pendidikan di Madrasah, apakah dapat dilaksanakan

dengan baik. Implementasi tersebut meliputi:

1. Pelaksanaan pembelajaran merupakan realisasi pencapaian kompetensi dasar yang ada pada standar isi. Seluruh kegiatan pembelajaran yang

15

(24)

24

dilaksanakan mengacu pada pencapaian SK/KD pada standar Isi dengan alokasi waktu yang sesuai KTSP dokumen 1.

2. Pembelajaran menggunakan berbagai strategi dengan menekankan pada terjadinya (a) proses eksplorasi (peserta didik mengamati objek, alam, contoh dokumen-dokumen, mengamati/melakukan demonstrasi, membaca buku/internet, berwawancara dengan nara sumber, mendengarkan cerita/berita, dan sebagainya, (b) Proses elaborasi (menganalisis temuan, saling bertanya jawab tentang hasil pengamatan, mencoba melakukan suatu keterampilan/perilaku tertentu, mendiskusikan hasil pengamatan, membandingkan berbagai temuan, dan sebagainya), dan (c) Proses konfirmasi (guru memfasilitasi memberi balikan terhadap apa yang dikerjakan peserta didik, memberi penguatan, meluruskan yang kurang tepat, menyimpulkan secara umum, peserta didik bertanya jawab tentang hal- hal yang belum jelas, membuat rangkuman hasil temuan, dan sebagainya).

3. Proses pembelajaran menggunakan berbagai strategi yang dapat menumbuhkan kecakapan personal dan kecakapan sosial. Kecakapan personal mencakup pembiasaan kejujuran, keterbukaan terhadap kritik, kerja keras, tanggungjawab dan sebagainya. Kecakapan sosial mencakup kerjasama, mengkritik dengan santun, saling menghargai perbedaan, saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama, dan sebagainya. 4. Proses pembelajaran dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik

dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab terbuka untuk mengemukakan pendapat, merangsang kreatifitas, menyenangkan, dan selalu mendorong siswa aktif.

5. Menggunakan berbagai media. Pemilihan media/sumber pembelajaran harus memaksimalkan penggunaan lingkungan sekitar dan juga mempertimbangkan perkembangan IPTEK.16

Implementasi KTSP di madrasah terdapat silabus yang dijabarkan

dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam RPP disebutkan

berbagai kegiatan yag dilaksanakan selama proses belajar mengajar, yaitu;

jenis kegiatan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Dalam RPP disebutkan

pula berbagai karakter peserta didik yang aka n dibentuk melalui proses

pembelajaran. Karakter yang dimaksud misalnya: disiplin, bekerja sama,

toleransi, kejujuran, keterbukaan, dan sebagainya. Berbagai karakter ini

16

(25)

25

ditumbuhkembangkan oleh guru pada peserta didik di dalam dan di luar

proses pembelajaran.

Implementasi KTSP juga ada pada penggunaan media sebagai alat

bantu mengajar dan memotivasi siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran.

Termasuk implementasi KTSP adalah pemanfaatan lingkungan sekitar,

seperti membuat kerajinan tangan, pasar tempat siswa mencari informasi

yang berkaitan dengan ekonomi, dan sebagainya.

D. Guru Profesional

Menurut Martinis Yamin: “Konsep profesional memiliki aturan dan

teori, teori untuk dilaksanakan dalam praktik dan unjuk kerja, teori dan

praktik merupakan perpaduan yang tidak dapat dipisahkan.”17

Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dalam Penilaian

Akreditasi Madrasah mengenai persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang

guru no 52, 54 dan 56, menyatakan:

“Guru memiliki kesehatan jasmani dan rohani untuk menjalankan tugas mengajar dan tugas lainnya.

Guru memiliki integritas kepribadian dan bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, serta pengaturan dan ketentuan yang berlaku.

Guru menguasai materi pelajaran yang diajarkan serta mengembangkannya dengan metode ilmiah.”18

Unjuk kerja guru meliputi tiga hal, yaitu:

a. Kemampuan profesional mencakup:

1) Penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkannya itu.

17

Martinis Ya min , Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, (Jaka rta: Gaung Persada Press, 2008), Cet. ke- 5, h. 4

18

(26)

26

2) Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan.

3) Penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa.

b. Kemampuan personal (pribadi) mencakup:

1) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya.

2) Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai- nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru.

3) Penampilan upaya utuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.19

Oemar Hamalik dalam bukunya Proses Belajar Mengajar di dalam

Martinis Yamin menyebutkan persyaratan guru profesional meliputi:

1. Memiliki bakat sebagai guru. 2. Memiliki keahliansebagai guru.

3. Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi. 4. Memiliki mental yang sehat.

5. Berbadan sehat.

6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas. 7. Guru adalah manusia berjiwa pancasila.

8. Guru adalah seorang warga Negara yang baik.20

Dengan demikian yang dimaksud dengan guru profesional adalah

guru yang dipersiapkan, dididik dan dilatih pada bidangnya dalam jangka

waktu tertentu. Seorang guru profesional harus memiliki kesadaran dan

tanggungjawab bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan dan

keterampilan juga mengajarkan nilai agama dan kebangsaan serta nilai

moral baik dan benar yang berlaku di masyarakat. Seorang guru juga

teladan bagi peserta didik. Seorang guru harus berpenampilan fisik baik

19

Martinis Ya min , Ib id,h. 5.

(27)

27

dan berkepribadian baik disamping berpengetahuan luas terutama pada

bidang ilmu yang diajarkannnya.

Ada tujuh kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru,

yaitu:

1. Penyusunan rencana pembelajaran. 2. Pelaksanaan interaksi belajar mengajar. 3. Penilaian prestasi belajar peserta didik.

4. Pelaksanaan tindak lanjut penilaian prestasi belajar peserta didik. 5. Pengembangan profesi.

6. Pemahaman wawasan kependidikan.

7. Penguasaan bahan kajian akademik (sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan).21

Pada KTSP bagian tugas dan tanggungjawab guru yaitu,

perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan tindak lanjut

disebutkan ketujuh komponen tersebut. Kompetensi ini ditumbuhkan

sejak masa pendidikan. Setelah berada di sekolah kompetensi guru

dikembangkan dan dibina oleh penanggungjawab sekolah, kepala

sekolah, pengawas dan instansi yang terkait dengan pendidikan.

Menurut Suparlan, guru mempunyai berbagai peran sebagai:

”fasilitator, pembimbing, penyedia lingkungan, komunikator, model,

evaluator, inovator, agen moral dan politik, agen kognitif, dan

manajer.”22

1. Sebagai fasilitator; menyediakan kemudahan-kemudahan kepada

siswa dalam melakukan kegiatan belajar.

21

Suparlan, Guru Sebagai Profesi, (Yogyakarta : Hikayat, 2006), Cet.1, h. 86.

(28)

28

2. Sebagai pembimbing; membantu siswa mengatasi kesulitan pada

proses pembelajaran.

3. Sebagai penyedia lingkungan; menciptakan lingkungan yang

mendorong siswa mengikuti pembelajaran.

4. Sebagai komunikator; berkomunikasi dengan siswa dalam rangka

pendidikan dan berkomunikasi dengan masyarakat sebagai bagian

dari masyarakat.

5. Sebagai model; memberikan contoh teladan kepada siswa agar visi

pendidikan yaitu terbentuknya siswa yang berakhlak mulia dapat

tercapai.

6. Sebagai evaluator; melakukan penilaian kemajuan hasil pembelajaran

terhadap siswa.

7. Sebagai inovator; menyebarluaskan usaha pembaharuan mengarah

pada perbaikan masyarakat.

8. Sebagai agen moral dan politik; membina moral peserta didikdan

masyarakat serta mendukung pembangunan yang dilaksanakan di

sekolah dan masyarakat.

9. Sebagai agen kognitif; menyebarkan ilmu pengetahuan dan

keterampilan yang bermanfaat kepada peserta didik dan masyarakat.

10.Sebagai manajer; memimpin dalam kelompok siswa ketika proses

(29)

29

E. Guru Pendidikan Agama

Definisi mengenai Guru Pendidikan Agama terdapat dalam Peraturan

Menteri Agama no 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Agama

Pada Sekolah Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 2 menyebutkan: “Guru Pendidikan agama adalah pendidik professional dengan tugas utama

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, memberi teladan,

menilai dan mengevaluasi peserta didik.”23

Dalam pasal 13 disebutkan: “Guru Pendidikan Agama minimal memiliki kualifikasi akademik Strata 1/Diploma IV, dari program studi

pendidikan agama/program studi agama dari perguruan tinggi yang

terakreditasi dan memiliki sertifikat profesi guru pendidikan agama.”24

Menurut Muhaimin: “guru PAI di sekolah/madrasah adalah orang yang membantu seseorang atau sekelompok orang (peserta didik) dalam mengembangkan pandangan hidup Islami (bagaimana akan menjalani dan memanfaatkan hidup dan kehidupan sesuai dengan ajaran dan nilai- nilai Islam), sikap hidup Islam, yang dimanifestasikan dalam keterampilan hidup sehari- hari.”25

Dalam Q.S Luqman/31: 7 disebutkan:























































“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang

baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah

terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu

Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”

23

Peraturan Menteri Aga ma, Pengelolaan Pendidikan Agama pada Sek olah,Op. Cit. h 3

24

Peraturan Menteri Aga ma, Ibid, h. 8

25

(30)

30

Tugas guru PAI di sekolah/madrasah sebagai berikut:

1. mengembangkan profesionalismenya secara berkelanjutan;

2. mengembangkan pengetahuan teoretis, praktis dan fungsional bagi peserta didik;

3. menumbuhkembangkan kreatifitas, potensi-potensi, dan/atau fitrah peserta didik;

4. meningkatkan kualitas akhlak dan kepribadian, dan/atau menumbuhkembangkan nilai- nilai insan dan nilai ilahi;

5. menyiapkan tenaga kerja yang produktif;

6. membangun peradaban yang berkualitas (sesuai dengan nilai- nilai Islam) di masa depan;

7. membantu peserta didik dalam penyucian jiwa sehingga ia kembali kepada fitrahnya;

8. mewariskan nilai- nilai Ilahi dan nilai- nilai insan kepada peserta didik.26

Ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh guru pendidikan

agama tercantum Pada Bab IV Pendidik dan Tenaga Kependidikan Agama

pasal 16 menyebutkan:

1. Guru Pendidikan Agama harus memiliki kompetensi p edagogik, kepribadian, sosial, profesional, dan kepemimpinan.

2. Kompetensi pedagogik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Pemahaman karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,

sosial, kultural, emosional, dan intelektual;

b. penguasaan teori dan prinsip belajar pendidikan agama; c. pengembangan kurikulum pendidikan agama;

d. penyelenggaraan kegiatan pengembangan pendidikan agama; e. pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk

kepentingan penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan agama;

f. pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki dalam bidang pendidikan agama; g. komunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta

didik;

h. penyelenggaraan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar pendidikan agama;

i. pemanfaatan hasil penilaian dan evaluasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran;

j. tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran pendidikan agama.

3. Kompetensi kepribadian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

(31)

31

a. tindakan yang sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia;

b. penampilan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat;

c. penampilan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa;

d. kepemilikan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri; serta

e. penghormatan terhadap kode etik profesi guru.

4. Kompetensi profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang

mendukung mata pelajaran pendidikan agama;

b. penguasaan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran pendidikan agama;

c. pengembangan materi pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama secara kreatif;

d. pengembangan profesionalitas secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan kreatif; dan

e. pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

5. Kompetensi kepemimpinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. kemampuan membuat perencanaan pembudayaan pengamalan ajaran agama dan perilaku akhlak mulia pada komunitas sekolah sebagai bagian dari proses pembelajaran agama;

b. kemampuan mengorganisasikan potensi unsur sekolah secara sistematis untuk mendukung pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah;

c. kemampuan menjadi inovator, motivator, fasilitator, pembimbing dan konselor dalam pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah;

d. kemampuan menjaga, mengendalikan, dan mengarahkan pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komuitas sekolah dan menjaga keharmonisan hubungan antar pemeluk agama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.27

Mencermati pasal 16 tentang Pendidik dan Tenaga Kependidikan

bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi meliputi: pedagogik,

kepribadian, sosial, profesional dan kepemimpinan. Maka seorang guru

agama harus memiliki kelima kompetensi tersebut.

(32)

32

Muhaimin menyebutkan bahwa Guru PAI di sekolah/madrasah pada dasarnya melakukan kegiatan pendidikan Islam, yaitu “upaya normatif untuk membantu seseorang atau sekelompok orang (peserta didik) dalam mengembangkan pandangan hidup Islami (bagaimana akan menjalani dan memanfaatkan hidup dan kehidupan sesuai dengan ajaran dan nilai- nilai Islam), sikap hidup Islam, yang dimanifestasikan dala m keterampilan hidup sehari-hari.”28

Dari definisi yang telah disebutkan bahwa guru agama harus

mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai ilmu yang

diajarkannya, memiliki kepribadian Islami berlandaskan ajaran Islam,

mempunyai kepedulian sosial yang baik terhadap masyarakat dan

lingkungan sekitarnya bahkan diluar lingkungannya.

Guru agama adalah suatu profesi yang harus dipersiapkan dalam

jangka waktu tertentu pada jenjang pendidikan tinggi pendidikan agama

harus memenuhi standar minimal pendidikan sebagaimana yang ditetapkan

pada pasal 13 mengenai kualifikasi akademik Strata 1/Diploma IV.

Seorang guru agama mengutamakan dan disiplin serta bertanggungjawab

terhadap tugasnya, juga selayaknya memiliki kompetensi kepemimpinan

yang baik agar bisa mengarahkan dan membimbing peserta didik untuk

mencapai tujuan pendidikan agama. Membantu peserta didik untuk

memahami dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Membentuk peserta didik menjadi muslim yang menjadikan agama

sebagai pedoman hidup.

28

(33)

33

F. Peran dan Tanggungjawab guru dalam implementasi KTSP

Dalam mengimplementasikan KTSP tugas perencanaan guru PAI

dimadrasah adanya perangkat pembelajaran: (a) Pengembangan Silabus dan

Sistem Penilaian; (b)Program Tahunan (Prota); (c) Program Semester

(Promes); (d) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); (e) Perhitungan

hari/minggu Efektif.29

Pada panduan Penyusunan KTSP disebutkan mengenai

tanggungjawab guru, sebagai berikut:

1. Perencanaan

Pada kegiatan perencanaan guru berpartisipasi:

a. Aktif mengkaji Standar Isi yang berisi standar kompetensi dan

kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Standar proses berisi

panduan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar, Standar

Penilaian adalah acuan kriteria penilaian yang digunakan dalam

penilaian dengan mempertimbangkan kemampuan siswa, kondisi

sekolah dan kompetensi guru. Penyusunan panduan KTSP yang

ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan.

b. Mengembangkan KTSP dokumen 1 terutama untuk menentukan

Standar Kompetensi Lulusan/tujuan mata pelajaran, Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran.

29

(34)

34

c. Melakukan analisis terhadap Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar

yang ditetapkan serta melakukan pemetaan Kompetensi Dasar.

Analisis SK/KD dapat dilakukan oleh guru secara mandiri atau

kelompok. Analisis dan pemetaan dilakukan untuk memahami

SK/KD dan merumuskan tujuan yang sesuai.

d. Menyusun Program Tahunan yaitu rancangan pengajaran dalam satu

tahun ajaran dan Program Semester yaitu rancangan pengajaran

semester ganjil dan genap berdasarkan pada SK/KD dan kalender

pendidikan yang disusun masing- masing guru atau disusun melalui

kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran.

e. Mengembangkan silabus. Silabus adalah rencana pembelajaran pada

suatu mata pelajaran/tema tertentu mencakup standar kompetensi,

kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran,

indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan

sumber belajar. Guru mengembangkan silabus dengan berpedoman

pada prinsip-prinsip pengembangan silabus, yaitu:

1) Ilmiah. Keseluruhan materi dankegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

2) Relevan. Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spriritual peserta didik.

3) Sistematis. Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

(35)

35

5) Memadai. Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6) Aktual dan kontekstual. Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

7) Fleksibel. Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat.

8) Menyeluruh. Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah (kognitif, afektif, psikomotor)30

Pada pengembangan silabus guru dapat melakukannya secara

mandiri atau berkelompok. Pengembangan silabus disesuaikan dengan

fasilitas sekolah, tempat sekolah berada, kompetensi guru pengajar,

kondisi peserta didik, dan kebutuhan masyarakat.

Dalam silabus terurai secara garis besar misalnya: bagaimana

guru akan melaksanakan pembelajaran, materi yang diterapkan, dan

tujuan pembelajaran. Beberapa komponen dalam silabus mejadi

pegangan bagi guru untuk diuraikan dalam bentuk Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran.

f. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dilakukan

secara mandiri maupun bersama dalam MGMP dengan berpedoman

kepada silabus. Menyusun perangkat operasional yang mendukung

RPP seperti Lembar Kerja Siswa (LKS), bahan ajar dan media yang

sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat

dalam silabus.

30

(36)

36

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ialah perangkat

pembelajaran yang dibuat oleh guru untuk setiap atau beberapa

pertemuan kegiatan pembelajaran. Unsur pokok yang ada dalam RPP

adalah: (a)standar kompetensi, (b) kompetensi dasar, (c) materi

pembelajaran, (d) indikator, (e) strategi pembelajaran, (f) media

pembelajaran, (g) sumber pembelajaran, (h) prosedur penilaian. Lembar

Kerja Siswa (LKS) ialah perangkat berupa soal yang digunakan sebagai

latihan bagi peserta didik untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan.

Menurut Ali Mudlofir:

”Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Bahan ajar berisi materi pembelajaran (instructional materials) yang secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.”31

Bahan ajar misalnya berupa buku teks pelajaran yang sesuai

dengan kurikulum, lingkungan alam, dan internet. Media ialah alat yang

digunakan untuk menyampaikan pelajaran, misalnya papan tulis, media

audiovisual, alat peraga yang menunjang mencapai tujuan pembelajaran.

2. Pelaksanaan

Ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam

melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dalam

SK/KD, yaitu:

a. Pembelajaran berbasis masalah. Suatu pendekatan pembelajaran menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa

31

(37)

37

untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah.

b. Pembelajaran Berbasis Inkuiri. Belajar dengan cara mendorong dan membimbing siswa untuk menemukan sesuatu dari apa yang dipelajari.

c. Pembelajaran Kooperatif. Rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

d. Pembelajaran Konstekstual. Pembelajaran yang berpijak pada keinginan untuk menghidupkan suasana kelas.32

Setiap strategi memiliki ciri khas dalam kegiatan pembelajaran.

Beberapa strategi pembelajaran ini dapat diterapkan oleh guru dengan

mempertimbangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus

dikuasai oleh siswa.

Dalam panduan BSNP, pada kegiatan pelaksanaan guru

bertanggungjawab:

a. Melasanakan proses pembelajaran sesuai dengan prinsip pelaksanaan

KTSP, yaitu:

1) Dalam proses belajar mengajar guru menerapkan berbagai strategi yang sesuai dengan SK/KD atau materi pelajaran yang diberikan. 2) Memanfaatkan berbagai media/sumber belajar yang sesuai dengan

SK/KD dalam silabus mata pelajaran.

3) Dalam kegiatan belajar mengajar guru menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan bagi siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

4) Mendorong peserta didik aktif bereksplorasi untuk menguasai SK/KD yang terdapat dalam silabus.

5) Berelaborasi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. 6) konfirmasi untuk menguatkan kompetensi peserta didik.33

Dengan memperhatikan prinsip-prinsip tersebut strategi yang yang

diterapkan oleh guru diharapkan bisa mengarahkan siswa siswa aktif

32

Ali Mudlofir, Ibid, h. 64, 68, 57, 82.

(38)

38

dalam proses pembelajaran. Tujuan mata pelajaran diharapkan dapat

tercapai secara maksimal.

Guru dapat membuat atau menentukan sendiri media/sumber

belajar yang digunakan dalam proses pembelajaran atau menggunakan

fasilitas yang tersedia di sekolah. Misalnya: menggunakan media

teknologi, buku/sumber memuat materi yangditetapkan pada SK/KD.

Kondisi yang menyenangkan dapat menumbuhkan kreatifitas

peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. Mereka akan merasa

tertarik mengikuti pelajaran. Guru yang mampu menciptakan kondisi

yang menyenangkan, mata pelajaran yang diajarkan menjadi mudah

diterima. Hal ini tentu mengoptimalkan hasil belajar peserta didik.

Motivasi yang diberikan guru bisa dilakukan dengan cara:

a. Kebermaknaan.

1. Hubungan pengajaran dan pengalaman siswa.

2. Hubungan pengajaran dengan minat dan nilai siswa.

b. Modelling

c. Komunikasi terbuka34

Motivasi dengan cara memberikan nilai bagus, dengan isyarat

tangan atau wajah, gerakan badan, dan pujian berpengaruh pada minat

dan aktifitas belajar peserta didik. Seorang guru berusaha selalu

memberikan dorongan untuk bereksplorasi secara mandiri atau

34

(39)

39

kelompok. Pengetahuan bertambah dan berkembang. Ini dilakukan agar

SK/KD dalam silabus dapat tercapai.

Melalui kegiatan bersifat elaborasi, memberi kesempatan pada

peserta didik meingkatkan daya analisis, menemukan pengetahuan baru

yang bisa dipelajari yang ada kaitannya dengan materi pelajaran. Dalam

proses pembelajaran peserta didik akan mendapat kepastian mengenai

pengetahuan yang kurang dipahami dengan baik dan benar.

b. Melaksanakan pengembangan diri.

Menjadi guru Bimbingan Konseling (BK), bertugas membantu siswa

dalam masalah belajar maupun pribadi yang dapat mengganggu

aktifitas belajar peserta didik. Guru pembina ekstra kurikuler,

misalnya PMR, Pramuka, keagamaan. Koordinator pelak sanaan

pengembangan diri rutin/pembiasaan, seperti shalat dhuha, shalat

zuhur, dan muhadharah. Hal ini dilaksanakan dalam suasana

keakrapan dan berorientasi pada kebutuhan, minat, serta bakat peserta

didik. Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Guru

dapat menciptakan suasana yang kondusif ketika proses belajar

mengajar dengan menggunakan strategi dan metode yang sesuai

dengan SK/KD dan karakteristik siswa.

c. Melaksanakan penilaian sesuai dengan karakteristik KD dan prosedur

(40)

40

Pada dokumen 2 KTSP, pedoman penilaian adalah Kriteria Ketuntasan

Minimal yang ditetapkan oleh guru berdasarkan standar penilaian mata

pelajaran.

d. Saling mendukung antar guru dalam menyusun perangkat

pembelajaran dan pelaksanaan KTSP.

Perangkat disusun oleh guru secara mandiri, berkelompok pada mata

pelajaran yang serumpun ataupun dalam kegiatan Musyawarah Guru

Mata Pelajaran. KTSP dilaksanakan bersama dengan mengacu pada

visi, misi dan tujuan pendidikan sekolah.

3. Monitoring

Dalam kegiatan monitoring guru bertugas:

a. Memahami indikator keberhasilan kurikulum.

Pemahaman yang baik dan benar dapat memotivasi guru menerapkan

metode dan strategi pembelajaran yang mendorong siswa menjadi

aktif dalam proses pembelajaran. Indikator keberhasilan kurikulum

merupakan gambaran pencapaian tujuan pembelajaran.

b. Merefleksikan pelaksanaan proses pembelajaran dan pengembangan

diri yang dilakukan.

Dengan melakukan refleksi guru akan mengetahui kekurangan ketika

pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Hal tersebut akan dijadikan

pemikiran dan ditingkatkan pada proses pembelajaran selanjutnya.

(41)

41

belajar mengajar yang kemudian meningkatkan hasil belajar peserta

didik.

c. Berkonsultasi dengan kepala madrasah/pengawas untuk mengatasi

kendala.

Dalam menjalankan tugasnya, kadang-kadang guru secara

perseorangan ataupun kelompok menghadapi kendala yang tidak bisa

diatasi sendiri, sehingga perlu berkonsultasi dengan kepala

madrasah/pengawas untuk mengatasi kendala yang dihadapi.

d. Saling mengoreksi, memberi masukan kepada teman sejawat dalam

melaksanakan pembelajaran. Hal ini penting agar ada peningkatan

untuk mencapai tujuan pembelajaran. Supervisi dapat dilakukan

secara pribadi dan kelompok jika guru menghadapi masalah yang

sama.

Dalam Q.S. Asy Syura/42: 38 disebutkan:





































“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan

Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan)

dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan

sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.”

Menurut Lantip Diat Prasojo dan Sudiyono bahwa :

(42)

42

diduga sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama, dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka diberikan layaan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi.”35

4. Evaluasi

a. Menentukan jenis dan teknik penilaian hasil belajar.

Jenis penilaian yang digunakan adalah lisan dan tertulis. Teknik yang

dilakukan berupa soal tertulis, menjawab secara lisan, melakukan

diskusi kelas atau kelompok, melalui unjuk keterampilan, dan

sebagainya. Jenis dan teknik penilaian yang dipilih sesuai dengan

standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai peserta

didik.

b. Mengumpulkan data dampak pembelajaran terhadap proses dan hasil

belajar.

c. Mengumpulkan data kelancaran proses pembelajaran.

Data ini dapat berupa jurnal mengajar, yaitu catatan guru mengenai

hari/taggal mengajar, kelas yang diajar, Standar Kompetensi yang

diajarkan, materi pengajaran, tindak lanjut, data kehadiraan siswa dan

keterangan mengenai proses pembelajaran.

d. Melaksanakan penilaian diri terhadap silabus, RPP, dan pelaksanaan

pembelajaran yang telah dilakukan.

35

(43)

43

e. Membantu kepala madrasah mengumpukan data ketersediaan

perangkat pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran/

pengembangan diri (sesuai tugas yang diampu).

f. Melakukan penelitian tindakan kelas untuk menilai keefektifan

pembelajaran.

Penelitian ini dilakukan guru untuk meningkatkan dan

mengembangkan kinerja guru dalam rangka mencapai tujuan

pembelajaran.

g. Membantu mengumpulkan data-data untuk pencapaian hasil.

5. Tindak lanjut

Dalam kegiatan ini guru bertugas:

a. Memilah hasil analisis penilaian.

Dari hasil analisis diketahui kompetensi siswa yang telah d icapai.

Diketahui pula jumlah siswa yang belum memenuhi standar dan siswa

yang sudah mencapai standar kompetensi yang ditetapkan.

b. Melakukan remedial terhadap terhadap peserta didik yang belum

memenuhi target kompetensi yang telah ditentukan.

c. Memberikan pengayaan kepada peserta didik yang telah mencapai

target kompetensi.

d. Menyusun laporan hasil pembelajaran.

G.Prinsip Pengembangan KTSP pada Madrasah Aliyah

Pada pelaksanaan KTSP pada pelajaran PAI prinsip yang

(44)

44

1. Penggunaan metode dan strategi pembelajaran yang bervariasi sesuai

dengan kebutuhan Satuan Pendidikan.

2. Prinsip keutuhan dalam pembelajaran.

3. Prinsip empat pilar pendidikan (learning to know, learning to do,

learning live together, dan learning to be).36

Setiap mata pelajaran memiliki target kompetensi masing- masing.

Seorang guru harus memilih metode dan strategi pembelajaran yang tepat

untuk mencapai kompetensi yang ditentukan, disesuaikan dengan peserta didik

yang berada pada jenjang pendidikan dan visi misi yang ada pada madrasah.

Semua aspek dala

Referensi

Dokumen terkait

Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

Pengertian KURIKULUM Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan