Dinamika Dan Strategi
Pengembangan Sektor
Perikanan di Majene
Pag
e
2
A. Gambaran Umum Kabupaten Majene
Secara geografis Kabupaten Majene terletak antara 20 38’ 45” – 30 38’ 15” Lintang Selatan dan antara 1180 45’ 00” - 1190 4’ 45” Bujur Timur. Kabupaten Majene merupakan salah satu dari 5 kabupaten dalam wilayah Propinsi Sulawesi Barat yang terletak di pesisir pantai barat Propinsi Sulawesi Barat memanjang dari Selatan ke Utara. Jarak Kabupaten Majene ke ibukota Propinsi Sulawesi Barat (Kota Mamuju) kurang lebih 146 km.
Luas wilayah Kabupaten Majene adalah 947,84 km2 atau 5,6% dari luas Propinsi Sulawesi Barat dan terdiri atas 8 kecamatan. Adapun kecamatan di Kabupaten Majene adalah Kecamatan Banggae, Kecamatan Banggae Timur, Kecamatan Pamboang, Kecamatan Sendana, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kecamatan Tubo Sendana, Kecamatan Malunda dan Kecamatan Ulumanda. Secara administratif Kabupaten Majene berbatasan dengan wilayah-wilayah berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Mamuju
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Polewali Mandar dan Mamasa
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Mandar - Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar
Kecamatan Ulumanda merupakan wilayah kecamatan terluas dibanding dengan luas wilayah kecamatan lainnya yakni; 456,06 km2 atau 48,10%,
e
3
kemudian Kecamatan Malunda dengan luas wilayah 187,85 Km2 atau 19,81%, sedangkan wilayah kecamatan dengan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Banggae dan Banggae Timur, dengan luas wilayah masing-masing adalah Kecamatan Banggae 25,15 km2 atau 2,65% dan Kecamatan Banggae Timur 3,17% dari luas total wilayah Kabupaten Majene.
Berdasarkan klasifikasi bentang lahan Kecamatan Banggae dan Banggae Timur merupakan wilayah yang relatif lebih datar, sedangkan wilayah kecamatan lainnya lebih dominan berupa wilayah berbukit dan pegunungan. Berdasarkan klasifikasi wilayah menurut kelas ketinggian tempat dari permukaan laut, wilayah Kabupaten Majene yang berada pada kelas ketinggian 100 - 500 m dpl mencapai 38,7% luas wilayah kabupaten dan yang berada pada ketinggian 500 - 1000 m dpl mencapai 35,98%.
Kondisi iklim wilayah Kabupaten Majene dan sekitarnya secara umum ditandai dengan hari hujan dan curah hujan yang relatif tinggi dan sangat dipengaruhi oleh angin musim, hal ini dikarenakan wilayahnya berbatasan dengan laut lepas (Selat Makassar dan Teluk Mandar). Kondisi iklim di Kabupaten Majene memiliki rata-rata temperatur berkisar 270 C, dengan suhu minimum 220 C dan suhu maksimum 300 C. Jumlah curah hujan berkisar antara 1.148 – 1.653 mm/tahun dan jumlah hari hujan 167-199
Pag
e
4
Sektor perikanan salah satu sektor unggulan Kabupaten Majene. Hal ini didukung oleh yaitu berada di daerah pesisir dengan luas perairan mencapai 1.000 km2 dan total tambak seluas 450 Hektar dimana 270 Hektar di antaranya telah berproduksi. Jenis komoditi unggulan terdiri dari komoditi perikanan tangkap yaitu ikan tuna, cakalang, tongkol, layang, ikan terbang dan ikan layang, serta komoditi perikanan budidaya yang terdiri dari udang windu dan ikan bandeng. Jenis komoditi, jumlah produksi sentra sentra produksinya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Perkembangan Komoditi Unggulan Sektor Perikanan Kabupaten Majene kurun waktu 2006 – 2010. Sumber : RPJMD Majene 2012-2016
No Jenis
Komoditas/Potensi
Jumlah Produksi (Ton)
2006 2007 2008 2009 2010 1 Perikanan Tangkap Ikan Tuna 782,0 639,0 511,5 536,8 890,5 Cakalang 694,0 578,0 418,0 438,3 496,0 Tongkol 496,0 1252,0 1061,0 1114,0 1168,0 Layang 621,0 540,0 443,0 465,2 489,0 Ikan Terbang 730,2 657,5 407,0 427,3 467,5 2 Perikanan Budidaya Udang Windu 37,2 2,0 13,2 15,6 28,4 Ikan Bandeng 150,0 121,1 96,4 119,9 227,1
e
5
Produksi Perikanan Tangkap untuk jenis komoditi ikan tongkol tahun pada 2006 sebesar 496,0 ton mampu mengalami peningkatan yang cukup tinggi hingga mencapai 1168,0 ton pada tahun 2010. Produksi Perikanan Tangkap tertinggi kedua adalah jenis komoditi Ikan Tuna pada tahun 2006 sebesar 782,0 ton dapat ditingkatkan hingga mencapai 890,5 ton pada tahun 2010. Sebaliknya, pada tahun 2006 jenis komoditi ikan Cakalang, Layang, dan ikan terbang mengalami penurunan produksi pada tahun 2010 sampai masing-masing mencapai 496,0 ton, 489,0 ton, dan 467,5 ton. Produksi perikanan budidaya juga terlihat ada peningkatan meskipun belum signifikan dan sedikit fliktuatif tapi mampu ditingkatkan dari angka 150,0 ton pada tahun 2006 menjadi 227,1 ton pada tahun 2010
B. Potensi Produksi Perikanan Tangkap Kabupaten Majene
Potensi produksi perikanan tangkap yang disajikan pada gambar di bawah merupakan gambaran trend produksi yang direalese sejak tahun 2010 sampai tahun 2013. Data produksi yang disajikan adalah merupakan data produksi yang dianggap potensial untuk dikembangkan dengan produksi awal (t0) di atas 500 ton pada tahun 2010 dengan jenis ikan yaitu Ikan layang, ikan terbang, tongkol kromo, cakalang, tuna mata besar dan tuna madidihan.
Pada gambar yang divisualisasikan di bawah terlihat bahwa produksi tertinggi untuk jenis ikan terbang, tongkol kromo, dan tuna mata besar
Pag
e
6
pada tahun 2013. Adanya penurunan produksi tersebut belum diketahui penyebabnya sehingga menjadi penting untuk dianalisis lebih jauh faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga kebijakan yang diambil lebih efektif dan efisien.
Gambar 1. Trendline (2010-2013) produksi perikanan tangkap untuk jenis ikan yang dianggap potensial untuk dikembangkan. Sumber data : DKP Majene, 2014.
Pada gambar yang disajikan di atas dapat diketahui bahwa produksi ikan terbang pada tahun 2011 sebesar 623 ton berfluktuasi menurun menjadi 533,9 ton pada tahun 2013. Produksi tongkol kromo pada tahun 2010 sebesar 970 ton berfluktuasi menurun secara signifikan menjadi 553,2 ton pada tahun 2013. Produksi tuna mata besar pada tahun 2010 sebesar 508 ton berfluktuasi menurun menjadi 218 ton pada tahun 2013. Namun produksi ikan layang pada tahun 2010 sebesar 514 ton dan berfluktuasi
Ikan Layang Ikan Terbang Tongkol Kromo Cakalang Tuna mata besar Tuna madidihan 2010 514 623 970 410 508 2011 582 826 1045 504 613 2012 536 728.5 563.5 524.5 206.6 2013 541.5 543.9 553.2 512.7 218 642 0 200 400 600 800 1000 1200 Pr o d u ksi ( To n )
e
7
meningkat menjadi 541 ton pada tahun 2013. Hal yang sama juga terjadi pada jenis ikan cakalang dimana produksi tahun 2010 sebesar 410 ton berfluktuasi meningkat menjadi 512,7 ton pada tahun 2013. Produksi tuna madidihan yang baru dilakukan pendataan statistic pada tahun 2013 diperoleh produksi sebesar 642 ton.
C. Gambaran Dinamika Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan di Kelurahan/Desa Sentra Nelayan Di Kabupaten Majene
a. Kelurahan Baurung
Kelurahan Baurung adalah salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Banggae Timur. Berada di sebelah timur dengan jarak kurang lebih sekitar 2 kilometer dari pusat kota Majene. Sebagian besar penduduknya bekerja di sektor perikanan dengan jenis mata pencaharian sebagai nelayan tangkap serta pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Pada table berikut divisualisasikan jenis dan jumlah armada penangkapan ikan yang ada di kelurahan Baurung yang dianggap menguntungkan secara ekonomi :
Pag
e
8
Tabel 2. Jenis Dan Jumlah Armada Penangkapan Ikan Yang Dianggap Menguntungkan Secara Ekonomi Yang Ada Di Kelurahan Baurung. Sumber data : Data Primer diolah (2014)
Armada Anak Buah Kapal (Orang) Alat Penangkapan Ikan Alat Bantu Penangkapan Ikan Rata-Rata Lama Trip (Hari) Jenis Hasil tangkapan Jenis Jumlah Kapal Mesin Dalam (Bodi) 57 6 – 8 Pancing Rumpon Lampu 2 – 3 Tuna Tongkol Cakalang Kapal Purse Seine (Gae)
15 13 – 18 Purse Seine Rumpon Lampu
7 – 14 Layang
Pada table di atas dapat diketahui bahwa jenis kapal mesin dalam (dalam bahasa local dikenal dengan istilah Bodi) berjumlah 57 unit dengan jumlah Anak Buah Kapal (ABK) berkisar 6 – 8 orang per-unit sedangkan kapal Purse Seine (Gae) berjumlah 15 unit dengan jumlah ABK berkisar 13 – 18 orang per-unitnya. Pada musim angin barat yang terjadi pada bulan Januari sampai April sebagian besar nelayan pa’bodi dan pa’gae di kelurahan Baurung bermigrasi ke Kendari, hal ini disebabkan karena nelayan menganggap bahwa pada musim barat perairan di Kendari agak teduh dan aman untuk melakukan trip penangkapan ikan. Hasil tangkapan yang cukup banyak yang didukung oleh sistem pemasaran ikan yang efektif dimana banyak
e
9
perusahaan ikan di Kendari yang mampu membeli hasil tangkapan nelayan dalam jumlah yang banyak. Berbeda pada musim angin timur dimana nelayan pa’bodi dan pa’gae yang ada di kelurahan Baurung sebagian besar melakukan trip penangkapan ikan di wilayah perairan Mamuju dan menjual hasil tangkapannya kepada pengusaha pedagang ikan yang berasal dari Samarinda Dan Balikpapan dimana transaksi jual belinya seringkali dilakukan di tengah laut. Hal ini diduga disebabkan karena hasil tangkapan ikan pa’bodi dan pa’gae di kelurahan Baurung cukup banyak sementara belum ada perusahaan ikan atau pedagang ikan di Majene yang mampu membeli hasil tangkapan mereka dalam jumlah yang banyak.
b. Kelurahan Pangali-Ali
Kelurahan Pangali-Ali adalah salah satu kelurahan pesisir di kecamatan Banggae berjarak kurang lebih 1 kilometer dari pusat kota majene ke arah barat. Sebagian besar penduduknya bekerja di sektor perikanan tangkap dan pemasaran hasil perikanan.
Kelurahan Pangali-Ali memiliki 3 Lingkungan yang bersentuhan langsung dengan pesisir yaitu lingkungan Pangali-Ali dengan tipe nelayan Payang yang dikenal dengan sebutan “Panjala” dengan hasil tangkapan ikan Layang, lingkungan Cilallang dan Tanangan dengan tipe nelayan pemancing ikan pelagis seperti tuna, tongkol dan
Pag
e
10
Tabel 3. Jenis Dan Jumlah Armada Penangkapan Ikan Yang Dianggap Menguntungkan Secara Ekonomi Yang Ada Di Kelurahan Baurung. Sumber data : Data Primer diolah (2014)
Armada Anak Buah Kapal (Orang) Alat Penangkapan Ikan Alat Bantu Penangkapan Ikan Rata-Rata Lama Trip (Hari) Jenis Hasil tangkapan Jenis Jumlah Kapal Mesin Dalam (Bodi) 170 5 – 10 Pancing Payang Rumpon Lampu 1 – 4 Tuna Tongkol Cakalang Layang Kapal Purse Seine (Gae)
5 13 – 18 Purse Seine Rumpon Lampu
7 – 14 Layang
Perahu Katinting
140 1 – 2 Pancing Rumpon 1 Tuna
Tongkol Cakalang
Umumnya nelayan di Kelurahan Pangali-Ali baik Panjala maupun Pa’bodi menghabiskan waktu 1 hari untuk menangkap ikan namun ada juga yang menghabiskan waktu sampai 4 hari per-trip jika ikan yang ditangkap masih sedikit. Nelayan Panjala dan Pa’bodi yang ada di Kelurahan Pangali-Ali menangkap ikan di perairan Majene dengan jarak sekitar 40 – 80 mil dari daratan. Hasil tangkapan yang berkisar 500 – 1000 kg per-trip, kecuali perahu katinting hanya mencapai 100-150 kg per-trip. Di Kelurahan Pangali-Ali juga terdapat sekitar 5 unit
e
11
kapal Purse Seine (Gae) yang beroperasi di perbatasan perairan Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju.
c. Kelurahan Baru
Kelurahan Baru adalah salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Banggae Kabupaten Majene yang terletak sekitar 2 kilometer ke arah barat dari pusat kota Majene. Mata pencaharian penduduk di Kelurahan Baurung cukup beragam dimana sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan petani karena setengah dari wilayahnya bersentuhan dengan laut dan setengahnya lagi bersentuhan dengan pegunungan, sebagiannya lagi bekerja di sektor jasa dan perdagangan.
Pada table berikut disajikan jenis dan jumlah armada penangkapan ikan yang ada di kelurahan Baru yang dianggap menguntungkan secara ekonomi :
Tabel 4. Jenis Dan Jumlah Armada Penangkapan Ikan Yang Dianggap Menguntungkan Secara Ekonomi Yang Ada Di Kelurahan Baru. Sumber data : Data Primer diolah (2014)
Armada Anak Buah Kapal (Orang) Alat Penangkapan Ikan Alat Bantu Penangkapan Ikan Rata-Rata Lama Trip (Hari) Jenis Hasil tangkapan Jenis Jumlah Kapal Mesin Dalam (Bodi) 28 6 – 8 Pancing, Payang Rumpon Lampu 2 – 3 Layang Cakalang Tuna Tongkol
Pag
e
12
Nelayan Kapal Mesin Dalam (Bodi) yang ada di Kelurahan Baru terdiri atas nelayan payang (Panjala) dan nelayan pancing (Pa’bodi) dimana daerah fishing groundnya sepanjang tahun berada di wilayah perairan Kabupaten Majene. Nelayan payang sering disebut Panjala dalam bahasa local dimana alat tangkapnya menggunakan Payang. Panjala setiap harinya menangkap ikan Layang dengan menggunakan Payang namun seringkali di setiap akhir trip juga menggunakan pancing untuk menangkap ikan cakalang sebagai tangkapan sampingan. Berbeda dengan Pa’bodi yang hanya menggunakan pancing dalam proses penangkapan ikan dimana hasil tangkapannya berupa ikan tuna, cakalang dan ikan tongkol. Jika hasil tangkapan ikan melimpah para istri-istri nelayan menjual hasil tangkapan ikan di luar wilayah Kabupaten Majene, misalnya di Kabupaten Polewali Mandar.
d. Kelurahan Totoli
Kelurahan Totoli adalah salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Banggae dimana sebagian besar penduduknya bekerja di sektor perikanan terutama nelayan penangkap ikan pelagis seperti tuna, cakalang dan tongkol sementara para istri-istri nelayan yang bertugas memasarkan hasil tangkapan ikan.
Pada table berikut disajikan jenis dan jumlah armada penangkapan ikan yang ada di kelurahan Totoli yang dianggap menguntungkan secara ekonomi:
e
13
Tabel 5. Jenis Dan Jumlah Armada Penangkapan Ikan Yang Dianggap Menguntungkan Secara Ekonomi Yang Ada Di Kelurahan Totoli. Sumber data : Data Primer diolah (2014)
Armada Anak Buah Kapal (Orang) Alat Penangkapan Ikan Alat Bantu Penangkapan Ikan Rata-Rata Lama Trip (Hari) Jenis Hasil tangkapan Jenis Jumlah Kapal Mesin Dalam (Bodi) 63 4 – 6 Pancing Rumpon Lampu 3 – 4 Cakalang Tuna Tongkol Kapal Purse Seine (Gae)
1 13 – 18 Purse Seine Rumpon Lampu
7 – 14 Layang
Nelayan di Kelurahan Totoli seperti yang disajikan pada table di atas sebagian besar sebagai nelayan Pa’bodi dengan hasil tangkapan seperti Tuna, Cakalang dan Tongkol. Hampir sepanjang tahun nelayan Pa’bodi yang ada di Kelurahan Totoli melakukan trip penangkapan ikan tanpa mengenal cuaca dan musim. Nelayan Pa’bodi seringkali melakukan penangkapan ikan sampai di wilayah perairan Kepulauan Kapoposang Kabupaten Pangkep dengan waktu tempuh berkisar 7 jam. Meskipun jarak trip lebih dekat ke Makassar untuk memasarkan hasil tangkapan namun nelayan Pa’bodi lebih memilih untuk memasarkan hasil tangkapannya Kabupaten Majene. Menurut
Pag
e
14
penuturan Pa’bodi, hal ini dilakukan karena harga ikan di Kabupaten Majene lebih menguntungkan dibanding harga ikan di Makassar. Hasil tangkapan Ikan Tuna dijual kepada Punggawa sedangkan ikan cakalang dan tongkol dijual di pasar-pasar local.
e. Kelurahan Rangas
Kelurahan Rangas adalah salah satu kelurahan pesisir yang ada di kecamatan Banggae dimana sebagai besar penduduknya bekerja di sektor perikanan terutama nelayan penangkap ikan dan pemasaran ikan. Jarak tempuh dari pusat kota Majene sekitar 5 kilometer.
Tabel 6. Jenis Dan Jumlah Armada Penangkapan Ikan Yang Dianggap Menguntungkan Secara Ekonomi Yang Ada Di Kelurahan Rangas. Sumber data : Data Primer diolah (2014)
Armada Anak Buah Kapal (Orang) Alat Penangkapan Ikan Alat Bantu Penangkapan Ikan Rata-Rata Lama Trip (Hari) Jenis Hasil tangkapan Jenis Jumlah Kapal Mesin Dalam (Bodi) 220 4 – 6 Pancing Pukat Ikan Terbang Pancing Cumi Rumpon Lampu 2 – 4 Cakalang Tuna Tongkol Ikan Terbang Cumi
Nelayan Pa’bodi yang ada di kelurahan Rangas bisa dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu Pa’bodi yang berada di lingkungan Rangas Timur
e
15
Pa’bodi yang berada di lingkungan Rangas Timur memiliki tradisi menangkap Tuna, Cakalang, dan Tongkol sedangkan Pa’bodi yang ada di lingkungan Rangas Barat menangkap ikan terbang dan cumi (tergantung musim ikan). Namun kedua tipe nelayan Pa’bodi ini melakukan trip hanya di wilayah perairan kabupaten Majene dan memasarkan hasil tangkapan di pasar local.
f. Kelurahan Mosso
Kelurahan Mosso adalah salah satu kelurahan pesisir yang ada di Kecamatan Sendana dimana sebagian besar penduduknya bekerja di sektor perikanan sebagai nelayan penangkap ikan dan pemasaran hasil pengolahan ikan. Kelurahan Mosso yang dikenal dengan pusat kuliner olahan ikan terbang asap berjarak tempuh sekitar 30 kilometer dari pusat kota kabupaten Majene.
Pag
e
16
Tabel 7. Jenis Dan Jumlah Armada Penangkapan Ikan Yang Dianggap Menguntungkan Secara Ekonomi Yang Ada Di Kelurahan Mosso. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
Armada Anak Buah Kapal (Orang) Alat Penangkapan Ikan Alat Bantu Penangkapan Ikan Rata-Rata Lama Trip (Hari) Jenis Hasil tangkapan Jenis Jumlah Kapal Mesin Dalam (Bodi) 50 2 – 3 Pancing Pukat Ikan Terbang Pancing Cumi Rumpon Lampu 2 – 4 Tuna Ikan Terbang Cumi Perahu Katinting 200 1 – 2 Pukat Ikan Terbang
Rumpon 1 Ikan Terbang Cumi
Nelayan di kelurahan Mosso menangkap Ikan Terbang, Tuna dan Cumi yang tergantung pada musim ikan. Pada bulan Februari sampai bulan Mei nelayan lebih banyak menangkap ikan tuna, bulan Mei sampai bulan September lebih banyak menangkap cumi dan bulan September sampai bulan Mei lebih banyak menangkap ikan terbang. Pada bulan Juni sampai bulan Agustus sebagian nelayan di kelurahan Mosso menangkap ikan di wilayah perairan Mamuju dan memasarkan hasil tangkapan ikannya di Kabupaten Mamuju, sementara pada bulan September sampai Mei menangkap ikan di wilayah perairan Majene dan memasarkan hasil tangkapannya di pasar local Majene.
e
17
D. Investasi dan Produktivitas Nelayan Panjala, Pa’bodi, Pa’gae dan Pakkatinting
a. Investasi dan Produktivitas Nelayan Panjala
Nelayan panjala yang umumnya berada kelurahan Pangali-Ali adalah nelayan yang setiap harinya menangkap ikan layang di perairan Majene dengan menggunakan payang sebagai alat penangkapan ikan layang.
Berikut nilai investasi nelayan panjala dalam membiayai aktivitas penangkapan ikan.
Tabel 8. Jenis Biaya Investasi Nelayan Panjala. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Jenis Biaya Minimum Cost (Rp) Maximum Cost (Rp) A Biaya Tetap (Fixed Cost)
1 Pembuatan Kapal 100,000,000 120,000,000 2 Mesin Kapal 8,000,000 45,000,000 3 Payang 70,000,000 100,000,000 4 Peti Fiber 2,000,000 8,000,000 5 Rumpon stirofoam 8,000,000 12,000,000 Total 188,000,000 285,000,000
B Biaya Variabel (Variable Cost)
1 Biaya per-trip 500,000 700,000
Total 500,000 700,000
C Biaya Perawatan / Tahun
1 Maintenance cost 17,800,000 26,500,000
Pag
e
18
Pada table di atas divisualisasikan biaya investasi nelayan payang yang terdiri atas biaya tetap (fixed cost), biaya variable (variable cost) dan biaya perawatan (maintenance cost) per-tahun. Biaya tetap adalah investasi awal dimana biaya yang keluarkan hanya sekali selama proses produksi. Biaya variable adalah biaya yang sering dikeluarkan setiap melakukan trip penangkapan ikan. Sedangkan biaya perawatan adalah keseluruhan biaya perawatan kapal, mesin dan alat tangkap yang biasanya dikeluarkan sekali dalam setahun. Untuk biaya tetap diestimasi sebesar Rp.188.000.000,- sampai Rp.285.000.000,-. Untuk biaya variable yang dikeluarkan setiap kali melakukan trip penangkapan ikan sebesar Rp.500.000,- sampai Rp.700.000,-. Sedangkan biaya perawatan pertahun sebesar Rp.17.800.000,- sampai Rp.26.500.000,-.
Tabel 9. Nilai Penjualan Rata-Rata Panjala Per-Trip. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Jenis Ikan
Nilai Rata-Rata Penjualan Ikan Per-Trip
Minimum Maksimum
1 Layang 5,000,000 10,000,000
Pada table diatas disajikan nilai rata-rata penjualan ikan nelayan panjala per-trip dimana pendapatan berkisar sebesar Rp.5.000.000,- sampai Rp.10.000.000,- per-trip.
e
19
Tabel 10. Pendapatan Rata-Rata Panjala Per-Trip. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Uraian
Nilai (Rp)
Minimum Maksimum
1 Nilai Penjualan Ikan Per-Trip 5,000,000 10,000,000
2 Biaya Variabel Per-Trip 500,000 700,000
Pendapatan ( 1 – 2 ) 4.500.000 9.300.000
Pada table di atas disajikan pendapatan nelayan panjala dimana minimal pendapatan diestimasi sebesar Rp.4.500.000,- per-trip sedangkan pendapatan maksimal diestimasi sebesar Rp.9.300.000,- per-trip. Dengan nilai pendapatan tersebut dapat menjadi indicator bahwa aktivitas mata pencaharian sebagai nelayan panjala dapat dikategorikan produktif menguntungkan nelayan panjala.
b. Investasi dan Produktivitas Nelayan Pa’bodi
Nelayan Pa’bodi menyebar hampir di seluruh wilayah pesisir kabupaten Majene, namun pusat perkampungan nelayan Pa’bodi terbesar ada di Kelurahan Baurung, Kelurahan Pangali-Ali, Kelurahan Baru, Kelurahan Totoli, Kelurahan Rangas dan Kelurahan Mosso. Nelayan Pa’bodi memiliki jenis kapal yang hampir sama dengan panjala, yang membedakan hanyalah alat penangkapan ikan dan hasil tangkapannya dimana Pa’bodi menggunakan pancing sebagai alat penangkapan ikan dan hasil tangkapannya berupa ikan tuna, tongkol
Pag
e
20
Berikut nilai investasi nelayan panjala dalam membiayai aktivitas penangkapan ikan.
Tabel 11. Jenis Biaya Investasi Nelayan Pa’bodi. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Jenis Biaya Minimum Cost (Rp) Maximum Cost (Rp) A Biaya Tetap (Fixed Cost)
1 Pembuatan Kapal 100,000,000 120,000,000
2 Mesin Kapal 8,000,000 45,000,000
3 Pancing 4,000,000 5,000,000
4 Peti Fiber 2,000,000 8,000,000
5 Rumpon stirofoam 8,000,000 12,000,000
6 Perahu Sampan (Lepa-Lepa) 2,400,000 4,800,000
Total 124,400,000 194,800,000
B Biaya Variabel (Variable Cost)
1 Biaya per-trip 700,000 1,500,000
Total 700,000 1,500,000
C Biaya Perawatan / Tahun
1 Maintenance cost 13,000,000 20,000,000
Total 13,000,000 20,000,000
Pada tabel di atas diestimasi biaya tetap, biaya variable dan biaya maintenance untuk nelayan Pa’bodi dimana biaya tetap diestimasi sebesar Rp.124.400.000,- sampai Rp.194.800.000,-. Untuk biaya variable yang dikeluarkan setiap kali melakukan trip penangkapan ikan
e
21
sebesar Rp.700.000,- sampai Rp.1.500.000,-. Sedangkan biaya perawatan pertahun sebesar Rp.13.000.000,- sampai Rp.20.000.000,-.
Tabel 12. Nilai Penjualan Rata-Rata Pa’bodi Per-Trip Per-Jenis Hasil Tangkapan. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Jenis Ikan
Nilai Rata-Rata Penjualan Ikan Per-Trip
Minimum Maksimum
1 Tuna 3,800,000 25,600,000
2 Cakalang 3,000,000 16,000,000
3 Tongkol 9,000,000 18,000,000
4 Ikan Terbang 3,000,000 21,000,000
Pada table diatas disajikan nilai rata-rata penjualan ikan nelayan pa’bodi untuk nelayan penangkap ikan tuna diestimasi sebesar Rp.3.800.000,- sampai Rp.25.600.000,- per-trip. Nelayan Pa’bodi penangkap ikan cakalang dengan nilai penjualan sebesar Rp.3,000.000,- sampai Rp.16.000.000. Nelayan Pa’bodi penangkap ikan tongkol dengan nilai penjualan sebesar Rp.9.000.000,- sampai Rp.21.000.000. Dan Nelayan Pa’bodi penangkap ikan terbang dengan nilai penjualan sebesar Rp.3.000.000,- sampai Rp.21.000.000.
Pag
e
22
Tabel 13. Pendapatan Rata-Rata Pa’bodi Per-Trip. Sumber data: Data Primer diolah (2014) No Penjualan Ikan (1) Biaya Variabel (2) Pendapatan (1 – 2) Jenis Ikan Nilai Min Max
Min Max Min Max
1 Tuna 3,800,000 25,600,000 700,000 1,500,000 3,100,000 24,100,000 2 Cakalang 3,000,000 16,000,000 700,000 1,500,000 2,300,000 14,500,000 3 Tongkol 9,000,000 18,000,000 700,000 1,500,000 8,300,000 16,500,000 4 Ikan Terbang 3,000,000 21,000,000 700,000 1,500,000 2,300,000 19,500,000
Pada table di atas disajikan pendapatan nelayan pa’bodi untuk pendapatan nelayan penangkap tuna diestimasi sebesar Rp.3.100.000,- sampai Rp.24.100.000,-. Pendapatan nelayan penangkap ikan cakalang diestimasi sebesar Rp.2.300.000,- sampai Rp.14.500.000,-. Pendapatan nelayan penangkap tongkol diestimasi sebesar Rp.8.300.000,- sampai Rp.16.500.000,-. Dan pendapatan nelayan penangkap ikan terbang diestimasi sebesar Rp.2.300.000,- sampai Rp.19.500.000,-. Dari perhitungan estimasi pendapatan di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas penangkapan ikan untuk nelayan pa’bodi dikategorikan produktif menguntukan nelayan.
e
23
c. Investasi dan Produktivitas Nelayan Pa’gae
Nelayan Pa’gae adalah tipe nelayan yang bisa dipastikan sangat produktif dikarenakan kapasitas armada dan alat penangkapan ikan (purse seine) yang cukup besar dan membutuhkan banyak investasi. Dikarenakan nilai investasi yang cukup tinggi sehingga tidak banyak nelayan di kabupaten Majene yang memiliki. Dapat diestimasi hanya sekitar 20 unit kapal Pa’gae yang ada di kabupaten majene yang pemiiknya tersebar di kelurahan Baurung dan kelurahan Pangali-Ali.
Tabel 14. Jenis Biaya Investasi Nelayan Pa’gae. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Jenis Biaya Minimum Cost (Rp) Maximum Cost (Rp) A Biaya Tetap (Fixed Cost)
1 Pembuatan Kapal 170,000,000 300,000,000
2 Mesin Kapal 100,000,000 200,000,000
3 Purse seine 100,000,000 140,000,000
Mesin Penarik Purse seine 8,500,000 10,000,000
Mesin generator 2,500,000 3,000,000
4 Peti Fiber 5,000,000 10,000,000
5 Rumpon stirofoam 16,000,000 32,000,000
Total 402,000,000 695,000,000
B Biaya Variabel (Variable Cost)
1 Biaya per-trip 4,000,000 8,000,000
Total 4,000,000 8,000,000
C Biaya Perawatan / Tahun
1 Maintenance cost 40,000,000 60,000,000
Pag
e
24
Pada tabel di atas diestimasi biaya tetap, biaya variable dan biaya maintenance untuk nelayan Pa’gae dimana biaya tetap diestimasi sebesar Rp.402.000.000,- sampai Rp.695.000.000,-. Untuk biaya variable yang dikeluarkan setiap kali melakukan trip penangkapan ikan sebesar Rp.4.000.000,- sampai Rp.8.000.000,-. Sedangkan biaya perawatan pertahun sebesar Rp.40.000.000,- sampai Rp.60.000.000,-.
Tabel 15. Nilai Penjualan Rata-Rata Pa’gae Per-Trip Per-Jenis Hasil Tangkapan. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Jenis Ikan
Nilai Rata-Rata Penjualan Ikan Per-Trip
Minimum Maksimum
1 Layang 10,000,000 160,000,000
Pada table diatas disajikan nilai rata-rata penjualan ikan nelayan Pa’bodi per-trip dimana penjualan berkisar sebesar Rp.10.000.000,- sampai Rp.160.000.000,- per-trip dengan hasil tangkapan utama jenis ikan layang.
Tabel 16. Pendapatan Rata-Rata Pa’gae Per-Trip. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Uraian
Nilai (Rp)
Minimum Maksimum
1 Nilai Penjualan Ikan Per-Trip 10,000,000 160,000,000 2 Biaya Variabel Per-Trip 4,000,000 8,000,000
e
25
Pada table di atas disajikan pendapatan nelayan pa’gae dimana minimal pendapatan diestimasi sebesar Rp.2.000.000,- per-trip sedangkan pendapatan maksimal diestimasi sebesar Rp.152.000.000,- per-trip. Dengan nilai pendapatan tersebut dapat menjadi indicator bahwa aktivitas mata pencaharian sebagai nelayan Pa’gae dapat dikategorikan produktif menguntungkan nelayan Pa’gae. d. Investasi dan Produktivitas Nelayan Pakkatinting
Nelayan Pakkatinting di kabupaten Majene digolongkan sebagai tipe nelayan kecil, namun karena jumlahnya yang juga cukup banyak yang tersebar di Kecamatan Banggae dan Kecamatan Sendana sehingga dianggap penting untuk menggambarkan nilai investasi dan produktivitasnya.
Pada dasarnya, nelayan Pakkatinting yang ada di kabupaten Majene terdiri atas 2 tipe, yaitu nelayan katinting yang menggunakan pancing sebagai alat penangkapan ikan dan nelayan pakkatinting yang menggunakan pukat ikan terbang. Nelayan Pakkatinting yang menggunakan pancing umumnya terdapat di kecamatan Banggae sedangkan nelayan Pakkatinting yang menggunakan pukat ikan terbang umumnya terdapat di kecamatan sendana. Itulah sebabnya mengapa kecamatan Sendana diarahkan untuk menjadi pusat penangkapan dan kuliner ikan terbang.
Pag
e
26
Tabel 17. Jenis Biaya Investasi Nelayan Pakkatinting. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Jenis Biaya Minimum Cost (Rp) Maximum Cost (Rp) A Biaya Tetap (Fixed Cost)
1 Pembuatan Perahu 6,000,000 7,000,000
2 Mesin perahu 3,000,000 4,000,000
3 Pukat Ikan Terbang 300,000 400,000
4 Pancing 300,000 400,000
Total 9,600,000 11,800,000
B Biaya Variabel (Variable Cost)
1 Biaya per-trip 50,000 60,000
Total 50,000 60,000
C Biaya Perawatan / Tahun
1 Maintenance cost 900,000 1,000,000
Total 900,000 1,000,000
Pada tabel di atas diestimasi biaya tetap, biaya variable dan biaya maintenance untuk nelayan Pakkatinting dimana biaya tetap diestimasi sebesar Rp.9.600.000,- sampai Rp.11.800.000,-. Untuk biaya variable yang dikeluarkan setiap kali melakukan trip penangkapan ikan sebesar Rp.50.000,- sampai Rp.60.000,-. Sedangkan biaya perawatan pertahun sebesar Rp.900.000,- sampai Rp.1.000.000,-.
e
27
Tabel 12. Nilai Penjualan Rata-Rata Pakkatinting Per-Trip Per-Jenis Hasil Tangkapan. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
No Jenis Ikan
Nilai Rata-Rata Penjualan Ikan Per-Trip
Minimum Maksimum
1 Tuna 1,000,000 3,000,000
2 Cakalang 1,000,000 3,000,000
3 Tongkol 3,000,000 6,000,000
4 Ikan Terbang 1,000,000 3,200,000
Pada table diatas disajikan nilai rata-rata penjualan ikan nelayan Pakkatinting untuk nelayan penangkap ikan tuna diestimasi sebesar Rp.1,000.000,- sampai Rp.3.000.000,- per-trip. Nelayan Pakkatinting penangkap ikan cakalang dengan nilai penjualan sebesar Rp.1,000.000,- sampai Rp.3.000.000. Nelayan Pakkatinting penangkap ikan tongkol dengan nilai penjualan sebesar Rp.3.000.000,- sampai Rp.6.000.000. Dan Nelayan Pa’bodi penangkap ikan terbang dengan nilai penjualan sebesar Rp.1.000.000,- sampai Rp.3.200.000.
Pag
e
28
Tabel 13. Pendapatan Rata-Rata Pakkatinting Per-Trip. Sumber data: Data Primer diolah (2014) No Penjualan Ikan (1) Biaya Variabel (2) Pendapatan (1 – 2) Jenis Ikan Nilai Min Max
Min Max Min Max
1 Tuna 1,000,000 3,000,000 50,000 60,000 950,000 2,940,000 2 Cakalang 1,000,000 3,000,000 50,000 60,000 950,000 2,940,000 3 Tongkol 3,000,000 6,000,000 50,000 60,000 2,950,000 5,940,000 4 Ikan Terbang 1,000,000 3,200,000 50,000 60,000 950,000 3,140,000
Pada table di atas disajikan pendapatan nelayan Pakkatinting untuk pendapatan nelayan penangkap tuna diestimasi sebesar Rp.950.000,- sampai Rp.2.940.000,-. Pendapatan nelayan penangkap ikan cakalang diestimasi sebesar Rp. 950.000,- sampai Rp. Rp.2.940.000,-. Pendapatan nelayan penangkap tongkol diestimasi sebesar Rp.2.950.000,- sampai Rp.5.940.000,-. Dan pendapatan nelayan penangkap ikan terbang diestimasi sebesar Rp.950.000,- sampai Rp.3.140.000,-. Dari perhitungan estimasi pendapatan di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas penangkapan ikan untuk nelayan Pakkatinting dikategorikan produktif menguntungkan nelayan.
E. Peranan Wanita Nelayan
Berbeda dengan wanita nelayan atau istri-istri nelayan yang ada di Propinsi Sulawesi Selatan, para istri nelayan yang ada di Sulawesi Barat
e
29
khususnya di kabupaten Majene umumnya memegang peranan penting dalam proses produksi dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Para istri-istri nelayan yang ada di kabupaten Majene umumnya memiliki kebiasaan berperan dalam pemasaran hasil tangkapan ikan suaminya. Kebiasaan para istri nelayan memasarkan hasil tangkapan suaminya di pasar-pasar local dengan sistem bagi hasil dimana istri mendapatkan 10% keuntungan penjualan dari total pendapatan dan sisanya diberikan kepada suami sebagai pemilik kapal. Aktivitas memasarkan ikan hasil tangkapan suami dimulai sejak jam 5 subuh setelah para suami mendaratkan ikan hasil tangkapannya.
F. Dinamika Konflik Sumberdaya
Nelayan di Kabupaten Majene yang memperoleh keuntungan lebih secara ekonomi adalah nelayan Pa’bodi dan nelayan Pa’gae dimana pada setiap trip menggunakan alat bantu rumpon untuk memaksimalkan hasil tangkapan. Berbeda dengan nelayan perahu katinting yang lebih dikenal dengan “Pakkatinting” dimana hasil tangkapannya pada setiap trip tidak sebanyak Pa’bodi dan Pa’gae. Hal ini disebabkan karena ruang penyimpanan ikan hasil tangkapan Pakkatinting lebih kecil. Perbedaan kuantitas hasil tangkapan yang disebabkan karena jenis armada dan teknik penangkapan dimana nelayan Pa’bodi dan Pa’gae yang menggunakan alat bantu rumpon mendapatkan hasil tangkapan yang
Pag
e
30
pemanfaatan sumberdaya laut. Menurut penuturan salah satu nelayan yang ada di Kelurahan Baru Kecamatan Banggae bahwa seringkali nelayan Pakkatinting memutuskan tali rumpon nelayan Pa’bodi dan Pa’gae yang terpasang di tengah laut karena nelayan Pakkatinting kadang-kadang pada setiap trip tidak mendapatkan ikan. Hal ini menurut Pakkatinting terjadi karena Pa’bodi dan Pa’gae menggunakan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan yang eksploitatif.
G. Dinamika Otonomi Daerah dan Hubungannya Dengan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan
Hampir semua kebijakan pembangunan kesejahteraan masyarakat di setiap daerah yang ada di Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika otonomi daerah, tak terkecuali di kabupaten Majene. Dari hasil wawancara mendalam yang dilakukan tak sedikit ditemukan keluhan-keluhan oleh nelayan yang menganggap bahwa kebijakan Pemerintah tidak tepat sasaran terutama kebijakan pemberian bantuan nelayan, baik berupa bantuan mesin, alat tangkap maupun armada. Sebagian nelayan di kabupaten Majene menganggap bahwa kebijakan peningkatan kesejahteraan nelayan sedikit banyaknya berkaitan dengan dinamika politik dimana hanya kelompok nelayan yang sering melakukan komunikasi politik secara vertikal yang mendapatkan akses lebih terhadap program kebijakan peningkatan kesejahteraan nelayan sedangkan yang tidak memiliki akses kebijakan secara vertikal tidak pernah tersentuh oleh
e
31
kebijakan pemerintah. Olehnya demikian, menjadi penting dan mendesak bagi pemerintah untuk melakukan kaji ulang kebijakan demi untuk pemerataan dan peningkatan kesejahteraan nelayan. Untuk menemukenali secara detail persoalan-persoalan yang sangat mendasar sekaitan hubungan antara dinamika otonomi daerah dengan peningkatan kesejahteraan nelayan maka Pemerintah dapat melakukan survey sosial ekonomi. Hasil dari survey tersebut dapat dijadikan sebagai rekomendasi dalam merumuskan model kebijakan yang adil dan tepat sasaran.
H. Diskusi ; Pergeseran Kesadaran Nelayan Dan Tradisi Spritual Dalam Proses Penangkapan Ikan
Pada awalnya masyarakat Majene hanya menggunakan perahu yang dikenal dengan istilah “Sandeq” baik untuk keperluan transportasi maupun untuk keperluan ekonomi atau mata pencaharian. Sandeq adalah jenis perahu bercadik yang pipih dan panjang yang berwarna putih dengan layar berbentuk segitiga yang secara filosofis dipercaya sebagai symbol keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam dan hubungan alam dengan Tuhan, para filosof kadang menyebutnya dengan istilah kesadaran harmonis kosmosentris. Hubungan harmonis ini menjadi sebuah kesadaran bagi bagi masyarakat Majene khususnya masyarakat nelayan Sandeq atau yang dikenal dengan istilah “Passandeq”. Warna cat perahu yang berwarna putih
Pag
e
32
melambangkan kesucian dan kebeningan hati dalam mengarungi derasnya arus dan gelombang samudra.
Arus modernisasi teknologi ibarat pisau bermata ganda. Di satu sisi memudahkan pekerjaan namun di sisi lain dapat menjadi mesin eksploitatif yang destruktif terhadap sumberdaya jika tidak digunakan secara arif. Seiring kemajuan modernisasi dimana hasrat eksploitatif terhadap sumberdaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi semakin sulit dibendung sehingga Sandeq lambat laun ditinggalkan oleh nelayan digantikan dengan kapal yang lebih besar seperti kapal mesin dalam atau “Bodi” dan Kapal Purse seine atau “Gae” dengan daya tampung hasil tangkapan ikan yang lebih banyak dan alat penangkapan ikan yang lebih besar, namun ada pula nelayan yang hanya mampu memodifikasi Sandeq menjadi “Katinting” dimana layar yang fungsinya mendorong gerak laju perahu telah digantikan dengan mesin katinting. Secara filosofis perjumpaan kesadaran antara kesadaran harmonis kosmologis dengan kesadaran modernisasi telah melahirkan sebuah bentuk kesadaran “hybrid” bagi masyarakat nelayan Majene dimana bentuknya adalah nelayan tetap melakukan over-eksploitasi namun tetap percaya bahwa Tuhan tetap akan menyediakan ikan di laut untuk ditangkap. Kesadaran seperti ini sering disebut sebagai “common sense” atau pandangan bersama terhadap laut dimana laut adalah milik bersama dan ikan di laut tidak akan pernah habis meskipun ditangkap secara berlebihan. Dengan
e
33
kondisi seperti ini praktis benih-benih konflik akan semakin terpupuk dikarenakan adanya ketidakadilan dalam penggunaan teknologi penangkapan ikan serta akses terhadap sumberdaya laut.
Begitu pula dengan struktur “patron clien” yang ada di masyarakat nelayan Majene adalah merupakan bentuk baru yang lahir dari perjumpaan kesadaran harmonis kosmosentris dengan kesadaran modernisasi dimana tipe struktur patron clien diidentifikasi secara filosofis masih mendasarkan kesadarannya pada kesadaran harmonis yang manusiawi (kesetaran hak dan kewajiban) namun tetap melakukan akumulasi capital. Sebagai ilustrasi dimana Punggawa yang berperan menyediakan logistic bagi nelayan dan sebaliknya nelayan menjual hasil tangkapannya kepada punggawa dengan tetap mengkalkulasi selisih harga modal logistic yang diberikan oleh Punggawa. Pada kondisi seperti ini, Pemerintah menyadari bahwa siklus kemiskinan nelayan akan sulit dipotong jika tidak ada subsidi modal dari Pemerintah seperti program-program bantuan permodalan seperti Program Pengembangan Usaha Mina Perdesaan yang memberikan bantuan modal bagi kelompok nelayan penangkap ikan, kelompok nelayan pembudidaya serta kelompok nelayan pengolah hasil perikanan.
Satu-satunya tradisi yang tidak mengalami pergeseran di masyarakat nelayan Majene adalah tradisi spiritual “doa keselamatan” yang lebih
Pag
e
34
adalah sesuatu yang harus dilakukan pada saat pertama kali kapal akan bersentuhan langsung dengan air laut, namun ada juga nelayan yang percaya bahwa Kuliwa juga harus dilakukan pada saat kapal baru selesai dicat atau diperbaiki (maintenance). Tradisi Kuliwa pada saat pertama kali kapal akan diturunkan ke laut sering diikuti dengan ritual “Barsanji” atau ritual puji-pujian kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW.
I. Strategi Peningkatan Kesejahteraan Nelayan di Kabupaten Majene Rangkuti (2006) menyatakan bahwa, tahapan perencanaan strategis melalui 3 (tiga) tahapan : (1) Tahap pengumpulan data dengan mengevaluasi faktor-faktor eksternal dan faktor-faktor internal; (2) Tahap analisis dengan menggunakan matrik SWOT; dan (3) Tahap pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan hasil-hasil analisis.
1. Tahap identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal.
a. Faktor internal yang mempengaruhi kesejahteraan nelayan.
1) Semangat dan etos kerja nelayan dalam proses penangkapan ikan yang kadang tidak mengenal musim dan cuaca.
2) Umumnya pendapatan nelayan yang pada musim paceklik masih dapat mencukupi kebutuhan keluarga.
3) Hubungan antara juragan dengan nelayan dan antara punggawa dengan sawi atas dasar kepentingan ekonomi tentunya tidak dapat dihindari dikarenakan biaya-biaya produksi yang tidak dapat dihindari, namun hubungan ekonomi ini selalu
e
35
disandarkan pada kepentingan kohesifitas sosial sehingga harmonitas struktur patron-clien tetap harmonis.
4) Peranan istri nelayan yang dianggap lebih berperan dalam meningkatkan nilai tambah (added value) hasil tangkapan nelayan dalam proses pemasaran.
5) Manajemen keuangan nelayan yang dipengaruhi secara negative oleh culture dimana sangat jarang nelayan yang menabung pendapatannya untuk masa depan keluarga. Culture ini dipengaruhi oleh pandangan bahwa ikan di laut akan selalu ada untuk ditangkap dan dijual.
b. Faktor eksternal yang mempengaruhi kesejahteraan nelayan
1) Kebijakan pemerintah yang dipengaruhi oleh dinamika otonomi daerah yang sering tidak tepat sasaran.
2) Konflik ruang dan sumberdaya antara nelayan Pa’bodi/Pa’gae dengan nelayan Pakkatinting.
3) Harga ikan di pasaran yang relative mahal sangat menguntungkan nelayan.
4) Perusahaan ikan yang besar masih sangat sedikit sangat mempengaruhi fishing ground nelayan. Sebagai contoh, sebagian nelayan di Majene lebih memilih menangkap ikan di perairan Kabupaten Mamuju di karenakan transaksi hasil
Pag
e
36
dengan mudah dengan pengusaha ikan dari Kalimantan mengingat jarak Mamuju dan Kalimantan lebih dekat. Dampak dari situasi ini adalah berkurangnya pendapatan daerah yang menyebabkan semakin sedikitnya subsidi bagi nelayan di Majene.
2. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Hambatan a. Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan merupakan faktor internal yang dapat mempengaruhi kesejahteraan nelayan yang dalam hal ini berupa potensi yang dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1) Semangat dan etos kerja nelayan dalam proses penangkapan ikan yang kadang tidak mengenal musim dan cuaca.
2) Umumnya pendapatan nelayan yang pada musim paceklik masih dapat mencukupi kebutuhan keluarga.
3) Hubungan antara juragan dengan nelayan dan antara punggawa dengan sawi atas dasar kepentingan ekonomi tentunya tidak dapat dihindari dikarenakan biaya-biaya produksi yang tidak dapat dihindari, namun hubungan ekonomi ini selalu disandarkan pada kepentingan kohesifitas sosial sehingga harmonitas struktur patron-clien tetap harmonis.
e
37
4) Peranan istri nelayan yang dianggap lebih berperan dalam meningkatkan nilai tambah (added value) hasil tangkapan nelayan dalam proses pemasaran.
b. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan merupakan salah satu faktor internal yang harus dapat segera diantisipasi sebelum menimbulkan dampak negatif pada proses peningkatan kesejahteraan nelayan.
1) Manajemen keuangan nelayan yang dipengaruhi secara negative oleh culture dimana sangat jarang nelayan yang menabung pendapatannya untuk masa depan keluarga. Culture ini dipengaruhi oleh pandangan bahwa ikan di laut akan selalu ada untuk ditangkap dan dijual.
c. Peluang (Opportunities)
Peluang merupakan kesempatan yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Peluang biasanya datang bersamaan dengan perubahan-perubahan lingkungan eksternal.
1) Harga ikan di pasar lokal yang relative mahal sangat menguntungkan nelayan.
d. Ancaman (Threats)
Ancaman merupakan salah satu bagian dari faktor eksternal negative yang mempengaruhi lambatnya peningkatan
Pag
e
38
1) Kebijakan pemerintah yang dipengaruhi oleh dinamika otonomi daerah yang sering tidak tepat sasaran.
2) Konflik ruang dan sumberdaya antara nelayan Pa’bodi/Pa’gae dengan nelayan Pakkatinting.
3) Perusahaan ikan yang besar masih sangat sedikit sangat mempengaruhi fishing ground nelayan. Sebagai contoh, sebagian nelayan di Majene lebih memilih menangkap ikan di perairan Kabupaten Mamuju di karenakan transaksi hasil tangkapan ikan yang dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan mudah dengan pengusaha ikan dari Kalimantan mengingat jarak Mamuju dan Kalimantan lebih dekat. Dampak dari situasi ini adalah berkurangnya pendapatan daerah yang menyebabkan semakin sedikitnya subsidi bagi nelayan di Majene.
3. Analisis SWOT
Setelah mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan nelayan maka tahapan selanjutnya adalah menjabarkan hasil evaluasi tersebut dalam matrik SWOT. SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal Strenghts dan Weakness serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats) dengan faktor internal kekuatan (Strenghts) dan kelemahan
e
39
(Weakness) untuk mengetahui peluang yang dimiliki dan masalah-masalah yang dihadapi (Rangkuti, 2006) dalam proses meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Tabel 13. Matriks Analisis SWOT. Sumber data: Data Primer diolah (2014)
IFAS
EFAS
Kekuatan (Strenghts)
1. Semangat dan etos kerja
nelayan.
2. Umumnya pendapatan nelayan
yang pada musim paceklik masih dapat mencukupi kebutuhan keluarga.
3. Hubungan dan kepentingan
ekonomi dalam struktur patron-cline disandarkan pada harmonitas
4. Peranan istri nelayan dalam
meningkatkan nilai lebih produk.
Kelemahan (Weakness)
1. Manajemen keuangan nelayan
yang dipengaruhi secara negative oleh culture dimana sangat jarang nelayan yang menabung
pendapatannya untuk masa depan keluarga. Culture ini dipengaruhi oleh pandangan bahwa ikan di laut akan selalu ada untuk ditangkap dan dijual.
Peluang (Opportunities)
1. Harga ikan di pasar lokal yang
relative mahal sangat
menguntungkan nelayan.
Strategi SO
1. Meningkatkan kapasitas
faktor-faktor produksi nelayan melalui subsidi yang merata dan tepat sasaran
Strategi WO
1. Pendampingan dan penyuluhan
manajemen keuangan bagi nelayan.
Ancaman (Threats)
1. Kebijakan pemerintah yang
dipengaruhi oleh dinamika otonomi daerah yang sering tidak tepat sasaran.
2. Konflik ruang dan sumberdaya
antara nelayan Pa’bodi/Pa’gae dengan nelayan Pakkatinting.
3. Sedikitnya jumlah perusahaan
pengolahan ikan segar di Majene.
Strategi ST
1. Kaji ulang kebijakan peningkatan kesejahteraan nelayan melalui riset.
2. Pengelolaan pemanfaatan
ruang laut (zonasi)
Strategi WT
1. Mendorong dan mendukung secara
efektif tumbuhnya perusahaan pengolahan ikan segar.
Pag
e
40
J. Rekomendasi
Dari hasil analisis SWOT direkomendasikan beberapa hal, yaitu :
1. Meningkatkan kapasitas faktor-faktor produksi nelayan melalui subsidi yang merata dan tepat sasaran.
2. Pendampingan dan penyuluhan manajemen keuangan bagi nelayan. 3. Kaji ulang kebijakan peningkatan kesejahteraan nelayan melalui riset. 4. Pengelolaan pemanfaatan ruang laut (zonasi) untuk menghidari konflik
ruang dan sumberdaya yang lebih besar
Mendorong dan mendukung secara efektif tumbuhnya perusahaan pengolahan ikan segar.