• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI KTSP DALAM PEMBELAJARAN PAI DI SMP NEGERI I KLATEN TAHUN AJARAN 20072008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "IMPLEMENTASI KTSP DALAM PEMBELAJARAN PAI DI SMP NEGERI I KLATEN TAHUN AJARAN 20072008"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Dajukan Untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata I

Dalam Ilmu Tarbiyah

Disusun Oleh : ANWAR SANUSI

NIM : 11101027

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

(2)

Jl. Tentara Pelajar 02 Telp. (0298) 323706, 323433, Fa*. 323433 Salatiga 50721 Website : www.stainsalatiga.acid Email: [email protected]

DEKLARASI

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, peneliti menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau pernah diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.

Apabila di kemudian hari ternyata materi atau pikiran-pikiran orang lain diluar referensi yang peneliti cantumkan, maka peneliti sanggup mempertanggung jawabkan keaslian skripsi ini di hadapan sidang munaqasah skripsi.

Demikian deklarasi ini dibuat oleh peneliti untuk dapat dimaklumi.

Salatiga, Juli 2008

Peneliti

ANWAR SANUSI

111 01 027

(3)

Jl. Stadion No. 02 Salatiga telp. (0298) 323706, faks. 323444, Salatiga, 50712

NOTA PEMBIMBING Lamp : 3 Eksemplar Hal : Naskah Skripsi

Sdr. Anwar Sanusi Kepada

Yth. Ketua STAIN Salatiga Di Salatiga

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Setelah kami mengadakan pengarahan, bimbingan, dan perbaikan seperlunya, maka naskah skripsi saudara :

Nama : ANWAR SANUSI NIM :11101027

Jurusan : TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Judul : IMPLEMENTASI KTSP DALAM PEMBELAJARAN PAI DI SMP NEGERI 1 KLATEN TAHUN AJARAN 2007 / 2008

Dengan ini kami mohon agar naskah skripsi tersebut dapat segera dimunaqosahkan.

Demikian harap menjadikan periksa dan akhirnya kami sampaikan terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Salatiga, Juli 2008 Pembimbing

(4)

( STAIN ) SALATIGA

JL Stadion No. 03 Phone. (0298) 323433,323706 Salatiga 50721

P E N G E S A H A N

Skripsi Saudara : ANWAR SANUSI dengan Nomor Induk Mahasiswa 111 01 027 yang berjudul "IMPLEMENTASI KTSP DALAM PEMBELAJARAN PAI DI SMP NEGERI I KLATEN TAHUN AJARAN 2007/2008". Telah dimunaqosahkan dalam sidang panitia ujian, Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga, Pada hari Kamis, 28 Agustus 2008 M yang bertepatan dengan tanggal 26 Sya’ban 1429 H, dan telah diterima sebagai bagian dan syarat-syarat memperoleh gelar Sarjana dalam Ilmu Tarbiyah.

28 Agustus 2008 M Salatiga,

---26 Sya'ban 1429 H

Panitia Ujian

Sekretaris Sidang

r. Imam Sutomo, M.Ag / NIP. 150 216 8 1 4

Penguji I

Drs. AbduTSvukur, M.Si NIP. 150 268 212

Dr. Muh. Saerozi M.Ag NIP. 150 2 4 7 014

Penguji II

Maslikhah, M.Si NIP. 150 302 272 Pembimbing

FatcHurrohman, M.Pd dP. 150 303 024

(5)

...

ijly ij

f

^

js

»

j

V

'u!

"...Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah

nasibnya sendiri... ” (Q.S. Ar-Rad : 11)

(6)

Kupersembahkan Skripsi Ini Untuk :

1. Almamaterku tercinta yang menjadi tempat menimba ilmu yang akan menjadi penerang dalam perjuangan manegakkan agama Allah.

2. Bapak dan Ibu Ali Wardoyo yang telah tiada semoga diterima disisi Allah dan senantiasa ditempatkan di surga.

3. Untuk kakakku (Mbak Kus, Mbak Ida, Mbak Upik, Mbak Ninuk) tersayang yang telah menjadi saudara dan sahabat dalam hidupku.

4. Untuk bunga hati yang telah menyejukkan dan menghiasi taman impianku.

5. Untuk teman-temanku semua.

(7)

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang senantiasa kita jadikan uswatun hasanah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan juga saran dari berbagai pihak. Tanpa mereka mungkin penelitian ini tidak dapat selesai dengan baik dan lancar.

Pada kesempatan ini dengan ketulusan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Dr. Imam Sutomo, M.Ag selaku ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga yang telah memberi penulisan skripsi ini.

2. Fatchurrahman, M.Pd selaku pembimbing yang telah dengan ikhlas memberikan bimbingan, pengarahan dan saran sehingga skripsi ini bisa selesai dengan baik.

3. Bapak dan Ibu Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga beserta staf dan karyawan, Terima kasih atas semua bantuan yang diberikan kepada penulis.

4. Seluruh staf dan civitas akademik Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga yang tidak bisa penulis sebut satu persatu.

(8)

memberikan bantuan berupa data-data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini.

6. Keluargaku tercinta yang senantiasa memberikan dorongan dan juga doa restunya.

7. Teman-temanku serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan moril maupun materiil demi kelancaran penulisan skripsi ini.

Akhirnya penulis hanya dapat mendoakan semoga amal baik Bapak, Ibu serta saudara sekalian mendapatkan imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT dan somga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Amin.

Klaten, Juli 2008

(9)

HALAMAN JUDUL... i

DEKLARASI... ii

NOTA PEMBIMBING... iii

PENGESAHAN... iv

MOTTO... v

PERSEMBAHAN... vi

KATA PENGANTAR... vii

DAFTAR IS I... ix

DAFTAR TABEL... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Penegasan Istilah... 6

C. Perumusan Masalah... 8

D. Tujuan Penelitian... 8

E. Metode Penelitian... 9

F. Sistematika Skipsi... 9

-BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian K TSP... 11

1. Pengertian Kurikulum dan K T SP... 11

2. Karakteristik KTSP... 15

3. Asumsi KTSP... 16

4. Prinsip Pengembangan KTSP... 18

B. Penilaian ... 19

1. Mekanisme Penilaian... 20

2. Aspek Perilaku Yang Diukur... 21

3. Bentuk Penilaian Yang Digunakan... 22

C. Implementasi KTSP ... 32

(10)

1. Pengertian Belajar... 44

2. Pengertian Pembelajaran... 47

3. Faktor Yang Mempengaruhi Belajar... 48

E. Pendidikan Agama Islam ... 57

1. Pengertian PA I... 57

2. Dasar PAI... 58

3. Tujuan P A l... 59

BABIII METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 60

B. Tempat dan Waktu Penelitian... 60

C. Subjek dan Objek Penelitian... 60

D. Teknik Pengumpulan Data... 61

E. Teknik Analisis Data... 62

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum SMP Negeri I Klaten... 64

1. Letak dan Keadaan Gegrafis... 64

2. Sejarah Berdirinya... 65

3. Struktur Organisasi... 66

4. Keadaan guru dan Siswa... 69

5. Keadaan Sarana dan Prasarana... 75

B. Implementasi KTSP... 76

1. Persiapan Pembelajaran... 76

2. Kurikulum... 78

3. Faktor pendukung... 79

4. Faktor Pengahambat... 79

5. Upaya Untuk Mengatasi Hambatan... 80

6. Tingkat Keberhasilan Pelaksanaan KTSP... 80

C. Pembahasan... 80

1. Persiapan Pembelajaran... 80

(11)

4. Faktor Pengahambat... 83 5. Upaya Untuk Mengatasi Hambatan... 83 6. Tingkat Keberhasilan Pelaksanaan KTSP... 83

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN - SARAN

A. Kesimpulan... 84 B. Saran-Saran... 85 C. Penutup... 86

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN - LAMPIRAN

(12)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang mendasar. Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang baik dan berbudi pekerti luhur menurut cita-cita dan nilai-nilai dari masyarakat, serta untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu sarana untuk memperoleh pendidikan adalah melalui pendidikan formal.

Untuk mencapai tujuan pendidikan dengan teratur dan sistematis perlu adanya suatu kerangka acuan dengan pedoman implementasi proses pedidikan, yaitu berupa Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). GBPP yang digunakan harus sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Dari sini diharapkan proses pendidikan tersebut dapat membantu siswa untuk mengembangkan dirinya agar mampu menghadapi segala perubahan dan permasalahan dengan sikap terbuka serta pendekatan kreatif tanpa kehilangan

identitas dirinya.

Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2008 tentang setandar nasional pendidikan, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006 mengamanatkan setiap satuan pendidikan untuk membuat KTSP sebagai pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.

(13)

Sesuai dengan arah kebijakan pemerintah mengenai KTSP, sistem pembelajaran harus mengarah pada pembelajaran Tingkat Satuan Pendidikan. Pembelajaran Tingkat Satuan Pendidikan dapat diartikan sebagai sistem di mana hasil belajar berupa Satuan Pendidikan yang harus dikuasai oleh siswa perlu dirumuskan terlebih dahulu secara jelas. Hasil belajar yang dimaksud berupa kompetensi yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang diharapkan dicapai sebagai hasil pembelajaran. Hasil tesebut diukur berdasarkan indikator pencapaian kompetensi.1

Kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian merupakan tiga komponen penting dalam program pembelajaran. Ketiga komponen tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Kegiatan penilaian dilakukan untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian tujuan pembelajaran, serta kekuatan dan kelemahan yang ada pada proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran dan penyempurnaan kurikulum.

KTSP diasumsikan lebih global dibanding KBK, karena dilengkapi dengan pencapaian target yang jelas, materi pokok, standar hasil belajar siswa dan prosedur implementasi pembelajaran. Akan tetapi, keragaman sumber daya pendidikkan di Indonesia membuka ruang untuk munculnya variasi dalam pencapaian standar nasional kompetensi dasar seperti yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, penerapan KTSP perlu ditunjang dengan langkah

(14)

bench marking dalam mata pelajaran yang diujikan, termasuk pelajaran Pendidikam Agama Islam (PAI).

Sebagai “pemberi nilai spiritualitas”, efektifitas PAI sering dipertanyakan. Terjadinya krisis politik, ekonomi, sosial, hukum, retaknya relasi etnis, ras, golongan dan agama dianggap sebagai akibat akhir dari lemahnya kontribusi PAI dalam menanamkan integritas etik pada peserta didik sejak dini. Anggapan ini ada benarnya, sebab materi PAI termasuk di dalamnya bahan ajar akhlak seringkah lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik).

(15)

kebutuhan siswa yang beragam. Oleh karena itu, KTSP akan lebih akseptabel dan toleran terhadap perbedaan spesifik antar peserta didik.

Jika KTSP ini pada saatnya diterapkan, lebih-lebih dengan berpijak pada prinsip pengembangannya secara benar, sulit dibayangkan implementasi PAI dapat mengalami distorsi, misalnya ditandai oleh merosotnya aspek moralitas siswa. Dengan demikian, aplikasi KTSP akan berimplikasi positif dalam hal menanamkan nilai-nilai dan ajaran Islam kepada peserta didik. Jadi, melalui KTSP kita bisa lebih menekankan pada aspek pengamalan ajaran- ajaran Islam sebagaimana menjadi dambaan kita selama ini.

Bertitik tolak dari hal tersebut, maka peneliti berkeinginan untuk mengetahui sejauh mana Implementasi KTSP dalam pembelajaran PAI pada SMP N 1 Klaten. Sebagai diketahui bahwa SMP N 1 Klaten merupakan salah satu wahana uji coba KTSP. Walaupun uji coba KTSP tidak hanya dilaksanakan di SMP N 1 Klaten tetapi SMP N 1 Klaten, dijadikan tolak ukur lembaga pendidikan tingkat pertama di kabupaten Klaten. Oleh karena itu peneliti memilih SMP N 1 Klaten sebagai tempat penelitian.

Alasan pemilihan judul adalah suatu dasar bukti yang digunakan untuk menguatkan pendapat dalam memilih atau menentukan juduk skripsi maupun sebagai dasar peneliti dalam implementasi penelitian. Adapun alasan pemilihan judul skripsi yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut:

(16)

dilengkapi dengan pencapaian target kompetensi (attainment targets) dari pada penguasaan materi, lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia dan memberikan kebebasan lebih luas kepada pelaksana pendidikan dilapangan untuk mengembangkan serta melaksanakan program pembelajaran sesuai kebutuhan.

2. Implementasi KTSP perlu ditunjang dengan langkah bench marking dalam mata pelajaran yang diujikan, termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dianggap penanaman intregitas etik pada peserta didik sejak dini. Sehingga PAI juga harus menyesuaikan dengan kurikulum yang sekarang mulai berlaku yaitu KTSP. Dengan kata lain PAI memiliki kompetensi spesifik dalam menanamkan landasan Al Qur’an dan Sunnah Nabi agar siswa beriman dan bertakwa kepada Allah Swt, berakhlak mulia/berbudi pekerti luhur yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan alam sekitar. Jadi pembelajaran PAI model KTSP selain menitikberatkan pada penguasaan materi juga menitikberatkan pada pembentukan moral kepribadian peserta didik.

(17)

B. Penegasan Istilah 1. Implementasi

Implementasi secara sederhana diartikan sebagai pelaksanaan atau

a

penerapan. Dalam konteks kurikulum, implementasi merupakan desain yang mencakup aktifitas pengajaran dalam bentuk interaksi antara guru dan siswa dibawah naungan sekolah.2 3

2. Kurikulum

Pada mulanya istilah kurikulum dijumpai dalam dunia statistik pada zaman Yunani kuno, yang berasal dari kata curir yang artinya pelari, dan curere artinya tempat berpacu atau tempat berlomba. Sedangkan

curriculum mempunyai arti jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Dalam perkembangan selanjutnya istilah kurikulum dipakai dalam dunia pendidikan dan pengajaran, sebagai mana termuat dalam webster dictionare th. 1955, kurikulum didefinisikan sebagai berikut :“a course, especially a specifed fixed course o f study, as in a school or college, as

one leading to a degree

Definisi ini mengandung makna bahwa kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran di sekolah atau di akademi (college) yang harus ditempuh oleh siswa untuk mencapai degree (tingkat) atau ijazah.

Secara umum kurikulum diartikan tidak terbatas pada mata pelajaran saja, tetapi merupakan aktifitas apa saja yang dilakukan sekolah

2 WJS. Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, P. N. Balai Pustaka, Jakarta, 1985, hal 374

(18)

dalam rangka mempengaruhi anak dalam belajar untuk mencapai tujuan, dapat dinamakan kurikulum, termasuk di dalamnya kegiatan belajar- memgajar, mengatur strategi dalam proses belajar mengajar, cara mengevaluasi program pengembangan pengajaran dan sebagainya.4

3. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah Kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan.5

4. Pembelajaran

Pembelajaran mempunyai asal kata ajar yang bermakna :

a. Suatu upaya untuk memperoleh penguasaan kognitif, afektif dan psikomotor melalui proses interaksi antara individual dan lingkungan. b. Suatu tindakan atau pengalaman mengenai sesuatu yang dipelajari

seseorang.

Sedang belajar yang secara bahasa latin mempunyai a rti: studium, hal menuntut, hal mengusahakan mempelajari dan dalam bahasa Inggris disebut to learn6

Sedang pembelajaran dalam bahasa Inggris disebut learning yang berarti suatu kegiatan untuk memperoleh pengetahuan atau pemahaman atau ketrampilan (termasuk penguasaan kognitif, afektif dan psikomotor) melalui studi, pengajaran atau pengalaman.7

4 Ibid, hal 33-34

5 Khaeruddin, dkk, log. c it.

(19)

atau ketrampilan (termasuk penguasaan kognitif, afektif dan psikomotor) melalui studi, pengajaran atau pengalaman.7 8

5. Pendidikan agama Islam

Pendidikan Islam Berarti usaha-usaha sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran

o

agama Islam.

Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum ajaran Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian yang utama menurut ajaran Islam.9

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, di atas, maka dapat dilakukan perumusan masalah sebagai berikut:

1. Apa strategi implementasi KTSP dalam pembelajaran PAI di SMP N 1 Klaten?

2. Apa faktor pendukung dan faktor penghambat? 3. Apa upaya untuk mengatasi hambatan?

4. Bagaimana tingkat keberhasilan pelaksanaan KTSP di SMP N 1 Klaten?

D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Mengetahui strategi implementasi KTSP dalam pembelajaran PAI?

7 Ibid, hal 179

8 Zuhairini, Metode Khusus Pendidikan Agama, (Malang, Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 1981) hal 27

(20)

b. Mengetahui faktor pendukung, faktor penghambat c. Mengetahui upaya mengatasi hambatan?

d. Mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan KTSP di SMP N 1 Klaten?

E. Kegunaan Penelitian

a. Memberikan masukan kepada guru atau calon guru pendidik Agama Islam dalam melaksanakan KTSP.

b. Meningkatkan kualitas pembelajaran PAI seiring dengan diterapkannya KTSP.

c. Sebagai referensi, bahan pertimbangan, dan bahan masukan pada mata pelajaran yang lain atau pada studi kasus yang sejenis.

F. Sistematika Skripsi

Skripsi ini terdiri dari lima bab dengan sitematika sebagai berikut: Pada bagian pertama halaman sampul, halaman judul, halaman pengajuan skripsi, halaman pengesahan, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, halaman tabel.

Babi Pendahuluan yang meliputi: Latar belakang masalah, penegasan istilah judul, perumusan masalah, tujuan penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika skripsi

(21)

Bab III

Bab IV

Bab V

Pengertian Belajar, Pengertian pembelajaran, Faktor yang mempengaruhi belajar Mengajar, Prestasi Belajar, pengertian pembelajaran, belajar mengajar,pengertian pendidikan agama Islam, dasar Pendidikan Agama Islam.

Laporan hasil penelitian yeng terdiri dari: Gambaran umum SMP N 1 klaten yang meliputi: Letak geografis, sejarah berdirinya, struktur organisasi, keadaan guru dan siswa, sarana dan prasarana. Implementasi KTSP dalam pembelajaran PAI pada SMP N 1 Klaten

Analisis data yang meliputi implementasi KTSP dalam pembelajaran PAI pada SMP N 1 Klaten.

(22)

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 1. Pengertian Kurikulum dan KTSP

Dalam proses pendidikan, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Sebagai alat yang penting untuk mencapai tujuan, kurikulum hendaknya adaptif terhadap perubahan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan serta kecanggihan teknolgi. Disamping itu kurikulum harus bisa memberikan arahan dan patokan keahlian kepada peserta didik setelah menyelesaikan suatu program pengajaran pada suatu lembaga. Oleh karena itu, wajar bila kurikulum selalu berubah dan berkembang sesuai dengan kemajuan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang terjadi.

Pada mulanya istilah kurikulum dijumpai dalam dunia statistik pada zaman Yunani kuno, yang berasal dari kata cu rir yang artinya pelari, dan

cu rere artinya tempat berpacu atau tempat berlomba. Sedangkan

curriculum mempunyai arti jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Dalam perkembangan selanjutnya istilah kurikulum dipakai dalam dunia pendidikan dan pengajaran, sebagaimana termuat dalam Webster Dictionare

th. 1955, kurikulum didefinisikan sebagai berikut a course, especially a

(23)

specifed fixed course o f study, as in a school or college, as one leading to a degree

Definisi ini mengandung makna bahwa kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran di sekolah atau di akademik/co//ege yang harus ditempuh oleh siswa untuk mencapai degree (tingkat) atau ijazah. Secara umum kurikulum diartikan tidak terbatas pada mata pelajaran saja, tetapi merupakan aktifitas apa saja yang dilakukan sekolah dalam rangka mempengaruhi anak dalam belajar untuk mencapai tujuan, dapat dinamakan kurikulum, termasuk di dalamnya kegiatan belajar mengajar, cara mengevaluasi program pengembangan pengajaran dan sebagainya.10

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikilum yang disusun dan dilaksanakan dimasing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan kurikulum agar lebih familiar dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistem pendidikan nasional selalu relevan dan kompetitif. Hal tersebut juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan standar nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

(24)

Kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang saat ini berlaku adalah kurikulum 1994 yang ditetapkan melalui keputusan Mendikbud No. 060/U/1993 dan No.61/U/1993, setelah beberapa tahun kurikulum 1994 diimplementasikan, pemerintah memandang perlu dilakukan kajian dan penyempurnaan sesuai dengan antisipasi berbagai perkembangan dan perubahan yang terjadi baik di tingkat nasional maupun global. Oleh karena itu, sejak tahun 2006, Depdiknas melakukan serangkaian kegiatan-kegiatan untuk menyempurnakan kurikulum KB K dan melakukan perintisan (piloting) secara terbatas untuk validasi dan mendapatkan masukan empiris. Kurikulum ini disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), karena menggunakan pendekatan kompetensi, dan kemampuan minimal yang harus dicapai oleh peserta didik pada setiap tingkatan kelas dan pada akhir satuan pendidikan dirumuskan secara eksplisit. Disamping rumusan kompetensi, dirumuskan pula materi standar untuk mendukung pencapaian kompetensi dan indikator yang dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk melihat ketercapaian hasil pembelajaran.

(25)

Tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006. Standar Kompetensi Kelulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah telah disahkan oleh Menteri dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006. Disamping itu Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional juga telah mengeluarkan Peraturan No. 24 Tahun 2006 tanggal 2 Juni 2006 tentang pelaksanaan Permen No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi dan Permen No. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan tersebut diharapkan dilaksanakan mulai tahun Ajaran 2006/2007.

Berdasarkan Peraturan Menteri sebagaimana diuraikan di atas, Pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam kurikulum operasional Tingkat Satuan Pendidikan, merupakan tanggung jawab satuan pendidikan masing-masing. Oleh karena itu, sebutan untuk kurikulum ini adalah KTSP, singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, bukan “Kurikulum tanpa Sentuhan Pakar”.

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dikembangkan dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap dan mampu mengembangkannyan dengan memperhatikan Undang- Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36:

(26)

2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan di kembangkan dengan prinsip diversivikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.

3. Kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP.11

Kurikulum disusun sesuai jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak mulia, peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik, keragaman potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, agama, dinamika perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Sehubungan dengan itu, kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, IPA, IPS, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olah raga, keterampilan/kejujuran, dan muatan lokal.

2. Karakteristik KTSP

Karakteristik KTSP dapat diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesinalisme tenaga

(27)

pendidikan, serta sistem penilaian. Berdasarkan uraian diatas, dapat dikemukakan beberapa karakteristik KTSP sebagai berikut:

a. Pemberian otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan. b. Partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi.

c. Kepemimpinan yang demokratis dan profesional.

TlA

d. Tim kerja yang kompak dan transparan.

Disamping beberapa karakteristik di atas, terdapat beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan KTSP, terutama berkaitan dengan sistim informasi yang transparan, serta sistim penghargaan dan hukuman.

3. Asumsi KTSP

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, asumsi merupakan parameter untuk menentukan tujuan dan kompetensi yang akan dispesifikasikan. Konsistensi dan validitas setiap kompetensi harus sesuai dengan asumsi, meskipun tujuannya selalu diuji kembali berdasarkan masukan yang memungkinkan terjadinya perubahan.

Seperti telah diuraikan pada pembahasan di atas, bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing- masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan BSNP. Pengembangan KTSP diserahkan kepada para pelaksanaan pendidikan (guru, kepala sekolah,

(28)

komite sekolah dan dewan pendidikan) untuk mengembangkan berbagai t*

kompetensi pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) pada setiap satuan pendidikan, di sekolah dan daerah masing-masing.

Mengingat bahwa penyusunan KTSP diserahkan kepada satuan pendidikan, sekolah, dan daerah masing-masing, diasumsikan bahwa guru, kepala sekolah, komite sekolah, dan dewan pendidikan akan sangat bersahabat dengan kurikulum tersebut. Diasumsikan demikian karena mereka terlibat secara langsung dalam proses penyusunannya, dan guru yang akan melaksanakannya dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga memahami betul apa yang harus dilakukan dalam pembelajaran sehubungan dengan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan, yang dimiliki setiap oleh satuan pendidikan di daerah masing-masing. Mereka pula yang akan melakukan penilaian terhadap hasil pembelajaran yang dilakukannya, sehingga keberhasilan pembelajaran merupakan tanggung jawab guru secara profesional.

(29)

akan memiliki tanggung jawab yang besar untuk melaksanakan keputusan tersebut.13

4. Prinsip pengembangan KTSP

KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau sasaran pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departeman Agama Kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP.

KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan

peserta didik dan lingkungannya. b. Beragam dan terpadu.

c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. e. Menyeluruh dan berkesinambungan. f. Belajar sepanjang hayat.

(30)

g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.14

B. Penilaian

Penilaian atau asesmen adalah istilah umum yang mencakup semua metode yang biasa digunakan untuk menilai unjuk kerja individu siswa atau kelompok siswa. Penilaian hasil belajar dalam KTSP dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan

sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program.

PBK/PBKD dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain pengumpulan hasil kerja peserta didik {portofolio), hasil karya {produk), penugasan {proyek), kinerja {performance) dan tes tertulis {paper and pencil test). Dalam hal ini guru menilai kompetensi dan hasil belajar peserta didik berdasarkan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang dijabarkan lebih lanjut menjadi indikator-indikator pencapaian.

Pada saat guru melaksanakan penilaian berbasis kelas ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :

1. Valid artinya menilai yang seharusnya dinilai.

2. Mendidik, ada sumbangan positif terhadap pencapaian belajar peserta didik.

3. Berorientasi pada kompetensi, artinya menilai kompetensi yang ada pada kurikulum.

4. Adil, artinya tidak membedakan latar belakang peserta didik. 5. Terbuka, artinya kriteria dan acuannya jelas dan di informasikan

(31)

6. Menyeluruh, artinya meliputi teknik, prosedur, materi maupun aspeknya. 7. Menyeluruh, artinya meliputi teknik, prosedur, materi maupun aspeknya. 8. Bermakna, ditindak lanjuti oleh semua fihak. Kenyataan dilapangan

menunjukkan bahwa sistem dan pelaksanaan penilaian masih memiliki banyak kelemahan, antara lain perencanaan penilaian yang kurang baik, pemberian angka yang kurang standar, penilaian portofolio yang belum diterapkan dan sebagainya yang berdampak pada mutu pendidikan.'^

Sebelum menilai hasil belajar siswa yang berorientasi kecakapan hidup, hendaknya diperhatikan mekanisme dan prosedur penilaian tersebut, metode yang digunakan, aspek yang akan diukur, dan sebagainya.

1. Mekanisme Penilaian

Mekanisme atau langkah-langkah kegiatan yang harus dilakukan guru dalam penilaian proses dan hasil belajar berorientasi kecakapan hidup adalah sebagai berikut:

a. Melakukan penilaian terhadap proses pembelajaran yang dilakukan siswa sesuai dengan prosedur yang telah dirancang.

b. Melakukan penilaian terhadap hasil belajar yang dicapai siswa untuk mengukur ketercapaian tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan serta dampaknya.

c. Menganalisis hasil penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa yang dikaitkan dengan tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. 15

(32)

d. Melakukan penyesuaian dan penyempurnaan kegiatan pembelajaran berdasarkan analisis proses dan hasil belajar siswa, agar kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan siswa dan tujuan pembelajaran tercapai optimal.

e. Melakukan penyesuaian dan penyempurnaan instrumen penilaian proses dan hasil belajar sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. 2. Aspek Perilaku yang Diukur

Salah satu tujuan dari kegiatan pembelajaran di kelas adalah membentuk siswa-siswa yang dapat belajar mandiri (independent leaners).

Untuk itu, diperlukan tiga aspek perilaku yang diukur dalam kegiatan pembelajaran di kelas, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.

Aspek yang paling umum digunakan dalam penilaian kegiatan pembelajaran di kelas adalah kognitif, termasuk di dalamnya adalah kegiatan intelektual mengingat, memahami, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, atau befikir kritis.

Aspek afektif yang dinilai dalam proses pembelajaran adalah perasaan, tingkah laku, minat, kesukaan, emosi, dan motivasi. Walaupun biasanya penilaian aspek afektif ini dilakukan guru-guru di kelas secara tidak formal, untuk penilaian kecakapan hidup dilakukan secara formal, dalam arti perlu dibuatkan perencanaannya, instrumennya, analisisnya, dan pelaporannya.

(33)

kemampuan mengetik, kemampuan memainkan alat-alat musik, kemampuan salah satu atau beberapa cabang olahraga, kemampuan dalam kesenian, pekerjaan tangan, dan sebagainya.

3. Bentuk Penilaian yang Digunakan

Penilaian yang dilakukan pada penelitian ini adalah penilaian terhadap aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor. Masing- masing aspek dinilai secara terpisah (sendiri-sendiri). Berikut ini bentuk- bentuk penelitian yang biasa digunakan untuk ketiga aspek tersebut:

a. Penyusunan Tes Kognitif

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

1) Tes Lisan di Kelas

(34)

2) Bentuk Pilihan Ganda

Pedoman utama dalam pembuatan butir soal pilihan ganda adalah:

a) Pokok soal (stem) harus jelas.

b) Perumusan stem dan alternatif jawaban (option) merupakan pernyataan yang diperlukan saja.

c) Stem sedapat mungkin dirumuskan dengan pernyataan positif. d) Di dalam stem hendaknya dihindari penggunaan ungkapan atau

kata-kata yang bersifat tidak tentu {indefinite).

e) Tidak ada petunjuk jawaban benar. 1) Pilihan jawaban homogen dalam arti isi. g) Usahakan agar pengecoh mirip dengan kunci

h) Hendaknya dihindari penggunaan option terakhir berbunyi: “semua jawaban di atas salah” atau “semua jawaban di atas benar”.

i) Bila option berupa angka, hendaknya disusun secara berurutan mulai dari angka terkecil sampai angka terbesar, atau sebaliknya.

j) Hendaknya dihindari penggunaan agar jawaban butir soal yang satu tidak bergantung dari jawaban butir soal yang lain.

k) Taraf isi soal hendaknya diperhatikan, jangan hanya besifat hafalan saja.

(35)

m) Distribusi jawaban dalam seperangkat soal tes hendaknya merata.

n) Suatu butir soal diusahakan dalam halaman yang sama.

o) Susunan option sedapat mungkin berurutan jelas, sebaiknya disusun dari atas ke bawah (vertikal).16

3) Bentuk Uraian Obyektif

Bentuk soal uraian obyektif sangat tepat digunakan untuk bidang Matematika dan IPA, karena kunci jawabannya hanya satu. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkah-langkah tertentu. Setiap langkah ada skornya. Obyektif di sini dalam arti apabila diperiksa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penskorannya akan sama. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah, tafsirkan, buat kesimpulan, dan sebagainya.

4) Bentuk uraian Non Obyektif

Bentuk tes ini dikatakan non-obyektif karena penilaian yang dilakukan cenderung dipengaruhi sebyektivitas dari penilai. Bentuk tes ini menuntut kemampuan siswa untuk menyampaikan, memilih, menyusun, dan memadukan gagasan atau ide yang telah dimilikinya dengan menggunakan kata-kata sendiri. Keunggulan tes ini dapat mengukur tingkat berfikir dari yang rendah sampai

(36)

yang tinggi, yaitu mulai dari hafalan sampai dengan evaluasi dan relatif mudah membuatnya.

Kelemahan bentuk tes ini adalah: (1) penskorannya sering dipengaruhi subyektifitas penilai, (2) memerlukan waktu yang lama untuk memeriksa lembar jawaban, (3) cakupan materi yang diujikan sangat terbatas, dan (4) adanya efek bluffing. Untuk menghindari kelemahan tersebut cara yang ditempuh adalah: (1) jawaban tiap soal tidak panjang, sehingga bisa mencakup materi yang banyak, (2) tidak melihat nama peserta ujian, (3) memeriksa tiap butir tanpa istirahat, (4) menyiapkan pedoman penskoran. 5) Bentuk Jawaban Singkat

Bentuk jawaban singkat ditandai dengan adanya tempat kosong yang disediakan bagi pengambil tes untuk menuliskan jawabannya sesuai dengan petunjuk. Ada tiga jenis soal bentuk ini, yaitu: jenis pertanyaan, jenis melengkapi atau lisan, dan jenis identifikasi atau asosiasi.

6) Bentuk Menjodohkan

(37)

digunakan sebagai premis. Hal-hal yang sama dapat pula digunakan sebagai alternatif jawaban.

7) Unjuk Kerja/Performance

Penilaian unjuk kerja sering juga disebut dengan penilaian autentik atau penilaian alternatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah di kehidupan nyata. Penilaian unjuk kerja berdasarkan pada analisis pekerjaan. Penilaian ini menggunakan tes yang juga disebut dengan tes unjuk kerja. Hasil tes ini digunakan untuk perbaikan proses pembelajaran sehingga kemampuan siswa mencapai pada tingkat yang diinginkan. Tes unjuk kerja biasanya digunakan pada bidang studi yang batasnya jelas seperti fisika, kimia, dan biologi.

Bentuk tes ini dugunakan untuk mengukur status siswa berdasarkan hasil kerja dari suatu tugas. Pertanyaan pada butir soal bentuk tes ini cenderung pada tingkat aplikasi suatu prinsip atau konsep pada situasi yang baru. Permasalahan yang diujikan sedapat mungkin sama dengan masalah yang ada di kehidupan nyata. Inilah yang menjadi ciri utama perbedaan antara tes unjuk kerja dengan bentuk tes konvensional.

8) Portofolio

(38)

penilaian dengan skala yang luas. Hal yang penting pada penilaian portofolio adalah mampu mengukur kemampuan membaca dan menulis yang lebih luas, siswa menilai kemajuannya sendiri, mewakili sejumlah karya seseorang.

Prinsip penilaian portofolio adalah siswa dapat melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya di bahas. Bentuk ujiannya cenderung bentuk uraian, dan tugas-tugas rumah. Karya yang dinilai meliputi hasil ujian, tugas mengarang atau mengerjakan soal. Jadi portofolio adalah suatu metode pengukuran dengan melibatkan siswa untuk menilai kemajuannya dalam bidang studi tersebut.

b. Penyusunan Tes Afektif

Ranah afektif ikut menentukan keberhasilan belajar siswa. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Paling tidak ada dua komponen afektif yang diukur, yaitu sikap dan minat terhadap suatu pelajaran. Sikap siswa terhadap pelajaran bisa positif, bisa negatif atau netral. Tentu diharapkan sikap siswa terhadap mata pelajaran tertentu positif sehingga akan timbul minat untuk belajar atau mempelajarinya.’7

Siswa yang memiliki minat pada pelajaran tertentu bisa diharapkan prestasi belajarnya meningkat, bagi yang tidak berminat 17

(39)

sulit untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Oleh karena itu guru mempunyai tugas untuk membangkitkan minat kemudian meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran yang diampunya. Dengan demikian akan terjadi usaha yang sinergi untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Langkah pembuatan instrumen afektif termasuk sikap dan minat adalah sebagai berikut:

1) Memilih ranah afektif yang akan dinilai, misalnya sikap atau minat 2) Menentukan indikator minat: misalnya kehadiran di kelas, banyak

bertanya, tepat waktu mengumpulkan tugas, catatan di buku rapi, dan sebagainya. Hal ini selanjutnya ditanyakan pada siswa.

3) Memilih tipe skala yang digunakan, misalnya Likert dengan 5 skala: sangat senang, senang, sama saja, kurang, dan tidak senang. 4) Menelaah instrumen oleh sejawat.

5) Memperbaiki instrumen.

6) Menyiapkan inventori laporan diri.

7) Menganalisis hasil inventori skala minat dan skala sikap, c. Penyusunan Tes Psikomotor

1) Bentuk Tes psikomotor

(40)

(5) gerakan ketrampilan kompleks, dan (6) gerakan ekspresif dan interpretatif.

Tes untuk mengukur ranah psikomotor adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja {performance) yang telah dikuasai siswa. Tes tersebut yang diantaranya dapat berupa tes

paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja. a) Tes paper and pencil: walaupun bentuk aktifitasnya seperti tes

tulis, namun yang menjadi sasarannya adalah kemampuan siswa dalam menampilkan karya, misal berupa desain alat, desain grafis, dan sebagainya.

b) Tes identifikasi: tes ini lebih ditujukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengidentifikasi sesuatu hal, misal menemukan bagian yang rusak atau yang tidak berfungsi dari suatu alat.

c) Tes simulasi: tes ini dilakukan jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan siswa, sehingga dengan simulasi tetap dapat dinilai apakah seseorang sudah menguasai ketrampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah menggunakan suatu alat.

(41)

Tes penampilan/perbuatan, baik berupa tes identifikasi, tes simulasi, ataupun unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh datanya dengan menggunakan daftar cek (check-/»/) ataupun skala penilaian (rating scale). Daftar cek ataupun skala penilaian juga dapat dipakai sebagai “lembar penilaian” atau alat untuk observasi dalam rangka pengukuran yang bebas waktunya, dalam arti tidak dilakukan dalam suasana formal.

Daftar cek lebih praktis digunakan untuk menghadapi subyek dalam jumlah besar atau jika perbuatan yang dinilai memiliki resiko tinggi, misalnya dalam kegiatan praktek laboratorium yang menggunakan peralatan yang mahal, untuk menilai apakah seseorang sudah mampu menggunakan mikroskop akan lebih tepat menggunakan daftar cek.

2) Penyusunan Butir Soal Bentuk Daftar Cek

(42)

indikator-indikator yang dimaksud. Jika indikator-indikator tersebut muncul maka diberi tanda “v” atau tulis “ya” pada tempat yang telah disediakan. 3) Penyusunan Butir Soal Bentuk Skala Penilaian.

Pada prinsipnya penyusunan skala penilaian tidak berbeda dengan penyusunan daftar cek, yaitu mencari indikator-indikator yang mencerminkan ketrampilan yang akan diukur, yang berbeda adalah cara penyajiannya. Dalam skala penilaian setelah diperoleh indikator-indikator ketrampilan, selanjutnya ditentukan skala penilaian untuk setiap indikator. Misal, skala 5 jika suatu indikator dikerjakan dengan sangat tepat, 4 jika tepat, 3 jika agak tepat, 2 tidak tepat, dan 1 sangat tidak tepat. Jadi, pada prinsipnya ada tingkat-tingkat penampilan untuk setiap indikator ketrampilan ynag akan diukur.

Kelebihan dari bentuk skala penilaian adalah akan lebih akurat dalam mengukur indikator-indikator ketrampilan yang diinginkan, karena tiap butir direntang dari 1 sampai 5. Dengan demikian, penilai yang manapun akan dengan tepat dapat menilai karena sudah ada kriteria bahwa seseorang diberi skala 5 untuk langkah yang sangat tepat, 4 untuk langkah yang tepat dan seterusnya. Jadi jika dilakukan penilaian oleh banyak penilai ada keseragaman antar penilai.

(43)

kognisinya sebenarnya dalam kadar tertentu telah berubah pula sikap dan perilakunya.18

Carl Rogers berpendapat seseorang yang telah menguasai tingkat kognitif perilakunya sudah bisa diramalkan.19

Dalam proses belajar mengajar di sekolah saat ini, tipe hasil belajar kognitif lebih dominan jika dibandingkan dengan tipe hasil belajar tipe afektif dan psikomotor. Walaupun demikian tidak berarti bidang afektif dan psikomotor diabaikan sehingga tidak perlu dilakukan penilaian.

Yang menjadi persoalan ialah bagaimana menjabarkan tipe hasil belajar tersebut sehingga jelas apa yang harus dinilai. Tipe hasil belajar ranah afektif berkenaan dengan perasaan, minat dan perhatian, keinginan, penghargaan, dan lain-lain. Sedangkan tipe hasil belajar ranah psikomotor berkenaan dengan ketrampilan atau kemampuan bertindak setelah ia menerima pengalaman belajar tertentu.

C. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 1. Pengertian Implementasi Kurikukum

Implementasi secara sederhana diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan. Dalam konteks kurikulum, implementasi merupakan desain yang mencakup aktifitas pengajaran dalam bentuk interaksi antara guru dan siswa dibawah naungan sekolah.20

18 Ibid, hal 31 ■■'id, hal 32

(44)

Implementasi merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, lebih baik berupa perubahan pengetahuan, ketrampilan maupun nilai dan sikap.

Berdasarkan definisi tersebut, implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat didefisinikan sebagai suatu penerapan proses ide, konsep, dan kebijakan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktifitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan/1

Dalam implementasi kurikulum sedikitnya dipengaruhi oleh tiga faktor sebagai berikut:

a. Karekteristik kurikulum

Mencakup ruang lingkup ide baru suatu kurikulum dan kejelasannya bagi pengguna di lapangan.

b. Strategi implementasi

Mencakup berbagai strategi yang digunakan dalam implementasi, seperti diskusi profesi, seminar, penetaran, loka karya, penyediaan buku kurikulum dan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong penggunaan kurikulum di lapangan. 21

(45)

c. Karakteristik pengguna kurikulum

Meliputi pengetahuan ketrampilan, nilai dan sikap guru terhadap kurikulum serta kemampuan untuk merealisasikan kurikulum

(curriculum planning) dalam pembelajaran.

2. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

E. Mulyasa dalam bukunya mengemukakan garis-garis besar implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan mencakup tiga pokok, yakni:

a Pengembangan program

Pengembangan KTSP mencakup pengembangan program tahunan, program semester, program modul ( pokok bahasan ), program mingguan dan harian, program pengayaan dan remidial, serta program bimbingan dan konseling.

1) Program Tahunan.

Program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran dan menjadi pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya, yakni Program semester, Program mingguan, dan Program harian atau program pembelajaran setiap pokok bahasan, yang dalam KTSP dikenal dengan modul.

(46)

a) Daftar kompetensi standar (,standar competensi) sebagai konsensus nasional, yang dikembangkan dalam silabus setiap mata pelajaran yang akan dikembangkan.

b) Ruang lingkup dan urutan kompetensi. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan materi pembelajaran. Materi pembelajaran tersebut disusun dalam topik/tema dan sub topik/sub tema, yang mengandung ide-ide pokok sesuai dengan kompetensi dan tujuan pembelajaran. Pengembangan ruang lingkup dan urutan ini bisa dilakukan oleh masing-masing guru mata pelajaran, dan bisa dikembangkan dalam Kelompok Kerja Guru (KKG).

c) Kalender pendidikan. Penyusunan kalender pendidikan selam asatu tahun pelajaran mengacu pada efisiensi, efektifitas dan hak-hak peserta didik. Dalam kalender pendidikan dapat kita lihat berapa jam waktu efektif yang dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran, termasuk waktu libur, dan lain-lain. 2) Program Semester.

(47)

3) Program Mingguan dan Harian.

Untuk membantu kemajuan belajar peserta didik, disamping modul perlu dikembangkan program mingguan dan harian. Program ini merupakan penjabaran dari program semester dan program modul. Melalui program ini dapat diketahui tujuan- tujuan yang telah dicapai dan yang perlu diulang, bagi setiap peserta didik.Melalui program ini juga diidentifikasi kemajuan belajar setiap peserta didik, sehingga dapat diketahui peserta didik yang mendapat kesulitan, dalam setiap modul yang dikerjakan, dan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar diatas rata-rata kelas. Bagi peserta didik yang cepat bisa diberikan pengayaan, sedang bagi yang lambat dilakukan pengulangan modul untuk mencapai tujuan yang belum dicapai dengan menggunakan waktu cadangan. 4) Program Pengayaan dan Remedial.

(48)

yang wajib mengikuti remidial, dan yang mengikuti program pengayaan.

Berdasarkan teori belajar tuntas maka seorang peserta didik dipandang tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran. Sedangkan keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan atau mencapai minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut.

Sekolah perlu memberikan perlakuan khusus terhadap peserta didik yang mendapat kesulitan belajar melalui remidial. Peserta didik yang cemerlang diberikan kesempatan untuk tetap mempertahankan kecepatan belajarnya melalui kegiatan pengayaan. Kedua program itu dilakukan oleh sekolah karena lebih mengetahui dan memahami kemjuan belajar setiap peserta didik.

5) Program Pengembangan Diri.

(49)

berkoordinasi dengan guru bimbingan dan konseling secara rutin dan berkesinambungan,

b Pelaksanaan pembelajaran

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam diri individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan.

Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran berbasis KTSP mencakup tiga hal : pre tes, pembentukan kompetensi, dan post tes. Ketiga hal tersebut dijelaskan berikut ini.

1) Pre Tes (tes awal).

Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai dengan pre tes. Pre tes ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajagi proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh karena itu pre tes memegang peranan yang cukup penting dalam proses pembelajaran. Fungsi pre tes ini antara lain :

(50)

b) Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pre tes dengan post tes. c) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta

didik mengenai kompetensi dasar yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran.

d) Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai, kompetensi dasar mana yang telah dikuasai peserta didik, serta kompetensi dasar mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus.

Untuk mencapai fungsi yang ketiga dan keempat maka hasil pre tes harus segera diperiksa, sebelum pelaksanaan proses pembelajaran inti dilaksanakan. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara cepat dan cermat, jangan sampai mengganggu suasan belajar, dan jangan mengalihkan perhatian peserta didik. Untuk itu, pada waktu guru memeriksa pre tes, peserta didik harus diberikan kegiatan lain, misalnya membaca hand out, atau text books. Dalam hal ini pre tes sebaiknya dilakukan secara tertulis, meskipun bisa saja dilaksanakan secara lisan atau perbuatan.

2) Pembentukan Kompetensi.

(51)

direalisasikan. Proses pembelajaran dan pembentukkan kompetensi perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan., hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosial.

3) Post Test.

Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan post tes. Sama halnya dengan pre tes, post tes juga banyak memiliki kegunaan, terutam dalam melihat keberhasilan pembelajaran dan pembentukkan kompetensi. Fungsi post tes antara lain :

a) Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didikterhadap kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok.

b) Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasainya.

c) Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan remidial, dan yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar yang dihadapi.

(52)

telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi,

c Penilaian hasil belajar

Penilaian hasil belajar dalam KTSP dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program.

1) Penilaian kelas

Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir.

Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam kompetensi dasar tertentu. Ulangan harian ini terdiri dari seperangkat soal yang harus dijawab para peserta didik, dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan dengan konsep yang sedang dibahas. Ulangan harian ini ditujukan untuk memperbaiki program pembelajaran, tetapi tidak menutup kemungkinan digunakan untuk tujuan-tujuan lain, misalnya sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan nilai bagi para peserta didik.

Ulangan umum dilaksanakan setiap akhir semester, dengan bahan yang diujikan sebagai berikut:

(53)

b) Ulangan umum semester kedua soalnya merupakan gabungan dari materi semester pertama dan kedua, dengan penekanan pada materi semester kedua.

Ulangan umum dilaksanakan secara bersama untuk kelas- kelas paralel, dan pada umumnya dilakukan ulangan umum bersama, baik tingkat rayon, kecamatan, kabupaten maupun propinsi. Hal ini dilakukan terutama dimaksudkan untuk meningkatkan pemerataan mutu pendidikan dan untuk menjaga keakuratan soal-soal yang diujikan.

Ujian akhir dilaksanakan pada akhir program pendidikan. Bahan-bahan yang diujikan meliputi seluruh kompetensi dasar yang telah diberikan, dengan penekanan pada kompetensi dasar yang dibahas pada kelas-kelas tunggi. Hasil evaluasi ujian akhir ini terutama digunakan untuk menetukan kelulusan bagi setiap peserta didik, dan layak tidaknya untuk melanjutkan pada tingkat di atasnya.

Penilaian kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran, dan penetuan kenaikan kelas.

2) Tes kemampuan dasar

(54)

dalam rangka memperbaiki program pembelajaran ( program remidial). Tes kemampuan dasar dilakukan pada setiap akhir tahun kelas III.

3) Penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi

Pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran diselenggarakan kegiatan penilaian guna mendapatlkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu. Untuk keperluan sertifikasi, dan hasil belajar yang dicantumkan dalam Surat Tangda Tamat Belajar tidak semata-mata didasarkan atas hasil penilaian pada akhir jenjang sekolah.

4) Benchmarking.

Benchmarking merupakan suatu standar yang mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan. Ukuran keunggulan dapat ditentukan di tingkat sekolah, daerah, atau nasional. Penilaian dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga peserta didik dapat mencapai satuan tahap keunggulan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan usaha dan keuletannya.

(55)

kurikulum dan pendidikan secara keseluruhan, dan dapat digunakan untuk memberikan peringkat kelas, tetapi tidak untuk memberikan nilai akhir peserta didik. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu dasar untuk pembinaan guru dan kinerja sekolah.

5) Penilaian Program.

Penilaian program dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan secara kontinu dan berkesinambungan. Penilaian program dilakukan untuk mengetahui kesesuaian KTSP dengan dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan masyarakat, dan kemajuan zaman.

D. Belajar mengajar 1. Pengertian Belajar

Belajar memiliki arti yang bermacam-macam menurut teori-teori belajar yang dianut orang. Belajar selalu ada hubungannya dengan manusia, karena belajar merupakan salah satu aktivitas manusia yang penting semenjak manusia lahir sampai akhir hayat nanti. Belajar yang didefinisikan oleh beberapa ahli diantaranya dikemukakan beberapa definisi.

2 2

(56)

“Learning is shown by a change in behavior as a result o f experience”. Jadi belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami, dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan panca inderanya.2 J

Pendapat beberapa ahli mengenai belajar seperti yang dikutip oleh Ngalim Purwanto sebagai berikut:

a. Hilgard dan Bower, dalam buku Theories o f Learning (1975) mengemukakan:

“Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya)”

b. Gagne, dalam buku The Conditions o f Learning (1977) mengemukakan bahwa:

“Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.

c. Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978) mengemukakan bahwa: 23

(57)

“Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”, d. Witherington, dalam buku Education Psychology mengemukakan

bahwa: “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian”.24

Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu:

a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan

pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar, seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.

c. Untuk disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Ini berarti kita harus mengesampingkan

(58)

perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang yang biasanya berlangsung sementara.

d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.

Belajar yang diartikan bermacam-macam tetapi pada dasarnya belajar itu adalah:

a. Bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral change, aktual maupun potensial)

b. Bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru.

c. Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).25

Jadi secara institusional, belajar dipandang sebagai proses “validasi” atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi yang telah dipelajari. Hal ini dapat ditunjukkan bahwa semakin baik mutu guru mengajar akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor.

2. Pengertian pembelajaran

Sedang pembelajaran dalam bahasa inggris disebut learning yang berarti “Suatu kegiatan untuk memperoleh pengetahuan atau pemahaman

25

(59)

atau ketrampilan (termasuk penguasaan kognitif, afektif dan psikomotor) melalui study, pengajaran atau pengalaman/6

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik.26 27

Dipandang dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan memperoleh pengetahuan atau pengalaman atau ketrampilan antara peserta didik dengan lingkungannya yang mengubah perilaku kearah positif aktif, efektik fungsional dan intensional.

3. Faktor yang mempengaruhi belajar

Bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku seseorang, yang dimana diharapkan terjadi perubahan yang lebih baik, dipengaruhi oleh beberapa faktor.

a. Faktor individual yaitu faktor yang ada pada diri individu itu sendiri. 1) Kematangan atau pertumbuhan

Guru tidak dapat mengajar ilmu filsafat kepada anak-anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Karena pertumbuhan mentalnya belum untuk menerima pelajaran itu. Mengajarkan sesuatu baru dapat berhasil jika taraf pertumbuhan pribadi telah memungkinkan atau potensi-potensi jasmani atau rohaninya telah matang untuk itu.

(60)

2) Kecerdasan atau intelegensi

Di samping kematangan, dapat .tidaknya seseorang mempelajari sesuatu dengan berhasil baik ditentukan pula oleh taraf kecerdasannya.

3) Latihan dan ulangan

Karena seringnya mengulangi sesuatu, maka kecakapan dan pengetahuan yang dimilikinya dapat makin dikuasai dan mendalam. Sebaliknya, tanpa latihan pengalaman-pengalaman yang telah dimilikinya dapat menjadi hilang atau berkurang. Karena terlatih seseorang dapat timbul minatnya kepada sesuatu. Makin besar minat makin besar pula perhatiannya sehingga memperbesar hasratnya untuk mempelajarinya.

4) Motivasi

Motivasi merupakan pendorong bagi individu untuk melakukan sesuatu. Tidak mungkin seseorang mau berusaha mempelajari sesuatu dengan sebaik-baiknya tanpa mengetahui betapa pentingnya hasil yang akan dicapai dari belajarnya itu bagi dirinya. 5) Sifat-sifat dan pribadi seseorang

(61)

dicapai. Termasuk ke dalam sifat-sifat kepribadian ini adalah fisik kesehatan dan kondisi badan,

b. Faktor yang ada di luar individu atau faktor sosial 1) Keadaan keluarga

Ada keluarga yang miskin, ada pula keluarga yang kaya. Ada keluarga yang selalu diliputi oleh suasana tentram dan damai, tetapi ada pula yang sebaliknya. Ada keluarga yang terdiri dari ayah-ibu yang terpelajar dan ada pula yang kurang pengetahuan. Ada keluarga yang mempunyai cita-cita tinggi pada anaknya ada pula yang biasa saja. Suasana keluarga yang bermacam-macam itu mau tidak mau turut menentukan bagaimana dan sampai di mana belajar dialami dan dicapai oleh anak-anak. Termasuk dalam keluarga ini tersedia atau tidaknya fasilitas yang diperlukan dalam belajar turut memegang peranan penting.

2) Guru dan cara mengajar

Terutama dalam belajar di sekolah, sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan kepada anak didiknya adalah sangat penting.

3) Alat-alat pelajaran

(62)

perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu akan mempermudah dan mempercepat belajar anak.

4) Motivasi sosial

Karena belajar adalah suatu proses yang timbul dari dalam, maka faktor motivasi memegang peranan penting. Jika guru atau orang tua dapat memberikan motivasi yang baik pada anak timbullah dalam diri anak itu dorongan dan hasrat untuk belajar dan apa tujuan yang hendak dicapai dengan pelajaran itu, jika diberi motivasi yang baik dan sesuai. Motivasi sosial dapat timbul pada anak dari orang-orang lain di sekitarnya, seperti tetangga, saudara dan teman-temannya di sekolah ataupun di rumah. Pada umumnya motivasi semacam ini diterima anak dengan tidak sengaja, dan mungkin pula tidak sadar.

5) Lingkungan dan kesempatan

(63)

belajarnya, akibat dari adanya kesempatan yang disebabkan oleh sibuknya pekerjaan setiap hari, pengaruh lingkungan yang buruk.

Selain faktor-faktor di atas, yang juga berperan terhadap proses belajar di dalam kelas adalah faktor situasional, diantaranya: keadaan ekonomi, keadaan sosio-politik, keadaan musim dan iklim, ketentuan dari instansi-instansi negara yang berwenang terhadap pengelolaan

'J o

pendidikan sekolah, c. Mengajar

Dalam proses belajar mengajar siswa diharapkan berperan aktif di dalamnya. Arti mengajar disini sangat komplek dan bermacam- macam sesuai dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Dari beberapa definisi tersebut yang akan kita ambil adalah mengajar menurut pandangan Burton sejalan dengan Gagne dan Briggs (1979) yang menyatakan: “Instruction is a set o f events which affect learness in such way that learning is facilitated”. Jadi, yang penting dalam mengajar bukan upaya guru menyampaikan bahan, melainkan bagaimana siswa dapat mempelajari bahan sesuai dengan tujuan. Hal ini berarti bahwa upaya guru hanya merupakan serangkaian peristiwa yang dapat mempengaruhi siswa belajar. Dalam hal ini peranan guru berubah: guru bukan berperan sebagai penyampai informasi, melainkan 28

Gambar

DAFTAR KEADAAN GURU DAN KARYAWANTABEL 1
TABEL 2DAFTAR GURU YANG MENGAJAR PENDIDIKAN AGAMA
DATA MURID SMP N I KLATENTABEL 3

Referensi

Dokumen terkait

Receiver terdiri dari transduser ultrasonik menggunakan bahan piezoelektrik, yang berfungsi sebagai penerima gelombang pantulan yang berasal dari transmitter yang dikenakan

Tujuan penelitian (1) mendiskripsikan proses pembelajaran melalui pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) , dan (2) mendiskripsikan peningkatan pemahaman konsep

PENGARUH BENTUK PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP UPAYA REKLAMASI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN TIMAH DI KECAMATAN KELAPA KAMPIT KABUPATEN BELITUNG TIMUR.. Universitas Pendidikan Indonesia |

• Yang dimaksud dengan kota jenjang kedua ialah kota yang berperan melayani sebagian dari satuan wilayah pengembangannya dengan kemampuan pelayanan jasa yang lebih rendah dari

[r]

Metodologi siklus Plan-Do-Check-Act digunakan untuk membantu dalam melakukan audit (pemantauan, pengukuran, dan evaluasi) terhadap kualitas layanan atau QOS (Quality Of Service)

Adapun hipotesis pada penelitian ini adalah ada pengaruh nyata pada tingkat konsumsi pakan, Pertambahan berat badan yang lebih baik, nilai konversi pakan yang rendah,

Maka dari itu pihak bank harus menyadari bahwa promosi jabatan dapat dijadikan sarana dalam meningkatkan efektivitas kerja karyawan atau sebagai motivasi yang mendorong karyawan