Sosialisasi Politik DPD PKS Kota Medan
Pada Pemilu Legislatif 2009
ISMUHAR RAMADHAN
Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Medan, Jl. Dr. Sofyan No.1 Medan, 20155, Telepon: 061-8220760, Email:
Diterima tanggal 1 Februari 2013/Disetujui tanggal 4 Juni 2013
Political socialization is important in general election. It’s effects wheather the vote would be good or bad. Partai Keadilan Sejahtera also do this way to influence voters. This study discuss-es about the method of DPD Partai Keadilan Sejahtera Kota Medan to succdiscuss-essful legislative election in 2009. This study found there are three important method, that implemented by the the Partai Keadilan Sejahtera in political socialization. First, visit the community directly, par-ticular to each residence. Second, utilizing the approach of religious organizations; Third, uti-lizing the missionary activities in the mosques. The method this study is used qualitative de-scriptive. Colecting data of this study is using field research, eg. interview. The analysis using descriptive analysis techniques.
Keywords:Political party, Election, Political socialization. Pendahuluan
Demokrasi sebagai sebuah sistem yang banyak diterapkan oleh berbagai Negara dibelahan dunia berangkat dari asumsi bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat. Salah satu persyaratan dari terwujudnya demokrasi adalah adanya partai politik yang berfungsi maksimal dan efektif sebagai wadah aspirasi politik masyarakat, dan sebagai media untuk melakuakan bargaining kebijakan-kebijakan negara. Demi terwujudnya demokrasi dan tersalurkannya aspirasi publik, justru jauh lebih penting adalah meningkatkan kinerja dan efektifitas fungsi partai politk, dan jelas tidak bisa dilepaskan dari berdirinya partai politik, sebgai sebuah kebutuhan politik masyrakat1.
1
Koirudin, Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hal.8
Partai Politik merupakan sebagai dari suatu sistem politik yang sudah modern. Negara-negara barat, yang menganut paham demokrasi, gagasan mengenai partai politik dalam mana rakyat memiliki dasar ideologis bahwa rakyatlah turut menentukan proses politik. Maka dalam konteks ini partai politik menjadi ukuran dalam sistem politik2.
Dalam konteks politik Indonesia, munculnya partai-partai politik tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial belanda yang menerapkan kebijakan politik etis. Sebagai dampak dari kebijakan yang demikian, tidak saja yang berkaitan dengan lahirnya proyek-proyek pembangunan dan sosial, melainkan juga dengan adanya iklim kebebasan yang lebih luas kepada masyarakat. Kebebasan yang demikian, memberikan ruang kepada anggota masyarakat. Kebebasan yang demikian, memberikan ruang kepada anggota
2
masyarakat untuk membentuk organisasi-organisasi termasuk dalam kaitan ini adalah mendirikan partai politik. kemungkinan besar hal ini terkait dengan pemerintahan kolonial belanda membentuk “perwakilan politik” yang disebut dengan Volksraad3.
Di Indonesia sejarah partai politik dalam Pemilihan Umum telah ada sejak Pemilihan Umum Tahun 1955. Sistem kepartaian yang ada saat itu adalah sistem multi partai, yaitu terdapat banyak partai politik yang ikut serta dala pemilihan Umum. Namun hal lainnya ketika zaman Orde baru berkuasa, hanya ada tiga partai politik. (Golongan Karya, PDI, dan PPP). Sehingga tidak ada pilihan bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasi politiknya dalam Pemilihan Umum kecuali kepada ketiga partai politik yang pada saat itu4.
Penyiapan kader-kader yang sesuai dengan keinginan kelompok/partai politik selanjut-nya dapat dilakukan dengan melakukan sosialisais politik. Sosialisasi politik ini melibatkan segala komponen yang ada didalam masyarakat termasuk kelompok-kelompok kepentingan yang memiliki signifikansi terhadap pencapaian tujuan. Keberhasilan suatu sosialisai politik merupakan keberhasilan suatu kondisi masyarakat, artinya bahwa keberhasilan dalam sosialisasi politik sangat tergantung pada kerjasama masyarakat itu sendiri dan kondisi sosial masyarakat. Elemen-elemen pembangun dan penggerak kehidupan politik, memberikan sumbangan sesuai dengan kapasitasnya terhadap terjadinya perubahan-perubahan yang terjadi dalam percaturan politik, terutama dalam upaya kepemilikan kekuasaan yang akan menjadi agen perubahan system yang ada. Kesemuanya itu dibangun untuk mencipta-kan dominasi satu kelompok atas kelompok yang lain, dominasi adalah hal yang tidak bisa dibagi secara merata, otomatis yang memilikinya adalah satu kelompok tertentu dan hal itu hanya bisa dicapai dengan
3
Ibid; hal. 131. 4
Arifin Rahman,Sistem politik Indonesia dalam perspektif Struktural Fungsional,Surabaya: Penerbit SIC,1998, hal. 90.
kemenangan politik5.
Seperti halnya, Keadilan Kesejahteraan (PKS) dalam pemilihan Umum legislatif 2009, seperti apa dilaksanakan Keadilan Kesejahteraan (PKS) pada saat sosialisasi politik disampaikan terhadap calon pemilih di kota Medan?
Pemilu legislatif 2009 adalah merupakan pemilu langsung yang kedua kali dilaksanakan di Indonesia. Oleh sebab itu masyarakat belum seluruhnya mengerti pros-es atau mekanisme memilih dalam pemilu. Sehingga banyak masyarakat cendrung memilih untuk tidak memilih dalam arti Golput (Golongan Putih). Dengan permasalahan tersebut pada pemilihan legis-lative 2009 masyarakat perlu yang namanya sosialisasi politik untuk memberikan informasi politik tentang cara atau mekanis-me pemilu sekaligus untuk mekanis-menganjurkan kepada masyarakat memberikan pilihan terhadap partai politik atau calon wakil rakyat yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat dan Negara. Sehinggga pertarungan antara partai politik sudah lazim terjadi pada setiap pemilihan umum. Hal ini adalah konsekuensi dari dibukanya kran demokrasi bagi masyarakat pasca reformasi. Studi akan membahas tentang proses sosialisasi Partai Keadilan Kesejahteraan (PKS) dalam pemilu Legislatif 2009 di kota Medan. Mengingat Partai Keadilan Kesejahteraan (PKS) adalah salah satu partai politik yang berbasis massa Islam yang memiliki suara yang cukup besar dalam percaturan politik di Indonesia yang begitu berpengaruh terhadap pergolakan dan perkembangan perpolitikan Indonesia sejak lengsernya penguasa Orde Baru.
Berangkat dari sebuah program kerja dan aktivitas setiap partai politik untuk ikut serta sebagai peserta Pemilu, maka sosialisasi politik adalah sebuah keharusan bagi partai politik untuk menarik dukungan para pemilih. Dimana juga sedikit banyaknya pemilih yang didapat adalah sebuah konsekuensi dari kegiatan sosialisasi yang
5
http://masroed.wordpress.com/2010/05/27/pentin gnya-sosialisasi-politik-dalam-kehidupan-politik-masyarakat-di-indonesia/
dilakukan. Bagaimana proses pelaksanaan Sosialisasi Politik Partai Keadilan Kesejahteraan (PKS) sebelum pemilihan anggota legislatif 2009 di kota medan? Studi ini ingin mengetahui apakah perbedaan proses Sosialisasi politik Partai Kesejah-teraan Keadilan (PKS) terhadap masyarakat Islam dan Masyarakat Non-Islam? Seperti kita ketahui banyak masyarakat Indonesia menilai Partai (PKS) selalu identik dengan Partai Politik bagi masyarakat Islam. Oleh karena itu, penulis ingin mengetahui seperti apa proses sosialisasi politik yang dilaksana-kan Partai Keadilan Kesejahteraan (PKS) pada pemilihan umum legislatif 2009 di kota Medan terhadap masyarakat Islam dan terhadap Masyarakat Non-Islam.
Dalam perkembangan partai politik di Indo-nesia bahwa partai kader yang berbasis Islam belum bisa memaksimalisasi suara dalam pemilihan umum, mengingat banyak juga partai yang berbasis Islam. Akan tetapi Partai Amanat Nasional (PKS) dapat dikatakan sebuah partai besar yang berbasis massakan Islam terbukti pada setiap pemilu Partai Keadilan Kesejahteraan (PKS) dapat meraih beberapa kursi di parlemen. Itulah ang menjadi daya tarik penulis untk mengadakan penelitian tentang pelaksanaan sosialisasi yang dilaksanakan Partai Keadilan Kesejahteraan (PKS) sebelum pemilu sehingga partai (PKS) dapat meraih kursi di parlemen dengan maksimal.
Spirit dan persaingan partai politik merupakan bahagian integral didalam proses politik dan hal ini memang wajar terjadi mengingat keberhasilan dalam pemilihan Umum akan membawa partai politik yang bersangkutan menduduki posisi sebagai pemenang apabila sosialisasi yang dilakukan berjalan dengan baik. Ini berarti bahwa partai politik yang bersangkutan akan bisa berbuat banyak dalam mengendalikan negara dan Pemerintahan, memperkuat dan memper-juangkan Idiologi partainya.
Studi ini untuk lebih lengkapnya lebih terfokus tentang sosialisasi politik Keadilan Kesejahteraan (PKS) dalam Pemilihan Umum legislatif pada tahun 2009 yaitu kepada proses pelaksanaan sosialisasi politik
terhadap masyarakat Islam dan masyakat No-Islam.
Pendekatan dan Metode
Studi ini dilakukan dengan pendekatan kelembagaan. Fokusnya pada metode yang digunakan oleh partai politik dalam memperkuat simpati masyarakat terhadap partai politik pada saat pemilihan umum. Studi ini dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi lapangan yaitu metode wawancara, observasi dan studi dokumen. Analisis data mengguna-kan analisis deskriptif.
Profil Partai Keadilan Sejahtera
Pada 20 April 1998 PKS berdiri dengan nama awal Partai Keadilan (disingkat PK) dalam sebuah konferensi pers di Aula Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. Presiden (ketua) partai ini adalah Nurmahmudi Isma'il. Pada 20 Oktober 1999 PK menerima tawaran kursi kementerian Kehutanan dan Perke-bunan (Hutbun) dalam kabinet pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, dan menunjuk Nurmahmudi Isma'il (saat itu presiden partai) sebagai calon menteri. Nurmahmudi kemudian mengundurkan diri sebagai presiden partai dan digantikan oleh Hidayat Nur Wahid yang terpilih pada 21 Mei 2000. Pada 3 Agustus 2000 Delapan partai Islam (PPP, PBB, PK, Masyumi, PKU, PNU, PUI, PSII 1905) menggelar acara sarasehan dan silaturahmi partai-partai Islam di Masjid Al-Azhar dan meminta Piagam Jakarta masuk dalam Amandemen UUD 1945.
Akibat UU Pemilu Nomor 3 Tahun 1999 tentang syarat berlakunya batas minimum keikut sertaan parpol pada pemilu selanjutnya (electoral threshold) dua persen, maka PK harus merubah namanya untuk dapat ikut kembali di Pemilu berikutnya. Pada 2 Juli 2003, Partai Keadilan Sejahtera (PK Sejahtera) menyelesaikan seluruh proses verifikasi Departemen Kehakiman dan HAM (Depkehham) di tingkat Dewan Pimpinan Wilayah (setingkat Propinsi) dan Dewan Pimpinan Daerah (setingkat Kabupaten / Kota). Sehari kemudian, PK bergabung dengan PKS dan dengan penggabungan ini, seluruh hak milik PK menjadi milik PKS, termasuk anggota dewan dan para kadernya.
Dengan penggabungan ini maka PK (Partai Keadilan) resmi berubah nama menjadi PKS (Partai Keadilan Sejahtera).
Setelah Pemilu 2004, Hidayat Nur Wahid (Presiden PKS yang sedang menjabat) kemudian terpilih sebagai ketua MPR masa bakti 2004-2009 dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden PK Sejahtera. Pada Sidang Majelis Syuro I PKS pada 26 - 29 Mei 2005 di Jakarta, Tifatul Sembiring terpilih menjadi Presiden PK Sejahtera periode 2005-2010. Seperti Nurmahmudi Isma'il dan Hidayat Nur Wahid disaat Tifatul Sembiring dipercaya oleh Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Indonesia ke 6 sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika. Maka estafet kepemimpinan pun berpindah ke Luthfi Hasan Ishaq sebagai pjs Presiden PK Sejahtera. Pada Sidang Majelis Syuro PKS II pada 16 - 20 Juni 2010 di Jakarta, Luthfi Hasan Ishaq terpilih menjadi Presiden PK Sejahtera periode 2010-2015.6
Berkenaan dengan PKS di Kota Medan maka ada satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa perjuangan PKS merupakan kelanjutan perjuangan dari Partai Keadilan (PK). Dengan demikian sejarah berdirinya PKS di Kota Medan didahului dengan berdirinya Partai Keadilan yang dideklarasi-kan pada tanggal 10 Oktober 1998 di Asrama Haji Medan oleh beberapa anggota inti partai yakni Muhammad Nun, Sigit Pranomo Asri, dan FE. Astimen, dimana masa mejelang lahirnya partai ini beberapa aktivis dakwah di berbagai perguruan tinggi di Indonesia melakukan polling dan musyawarah serta menghasilkan persetujuan untuk melanjutkan perjuangan dakwah Islam melalui wadah partai.7
Kebijakan partai diperlukan sebagai sebuah perspektif dan kerangka kerja yang menjadi patokan dasar aktifitas partai serta menjadi guidence bagi aktifis dalam merespon dan mengantisipasi persoalan yang terjadi dalam aktifitas sosial politik. Dengan kebijakan dasar yang jelas dan diharapkan seluruh proses perjalanan partai dan aktifitasnya tetap berada dalam ideologi yang dianutnya.
6
(http://pkssemarang.org/profil-pks/read/sejarah-ringkas-partai-keadilan-sejahtera/
7
Arsip DPD PKS Kota Medan.
Kebijakan dasar Partai Keadilan Sejahtera ini dimaksudkan untuk: (1).Meletakkan perspek-tif dan kerangka kerja Partai dalam menyusun dan mengoperasionalkan pro-gram-program strategis; (2).Memberikan kerangka unum kepada Partai untuk memudahkan dalam penyusunan program aksi dan langkah-langkah operasionalnya; (3).Menjadi patokan umum dalam mem-posisikan Partai sebagai kekuatan politik dalam berinteraksi dengan berbagai kekuatan masyarakat; (4).Menjadi guidance bagi aktivis dalam rnerespons dan mengantisipasi persoalan yang terjadi dalam aktivitas sosial politik.
Secara umunya prinsip kebijakan dasar yang diambil oleh Partai Keadilan Sejahtera terefleksi utuh dalarn jati dirinya sebagai Partai Dakwah. Sedangkan dakwah yang diyakini Partai Keadilan Sejahtera adalah dakwah rabbaniyah yang rahmotan lil'alamin, yaitu dakwah yang membimbing manusia mengenal Tuhannya dan dakwah yang ditujukan kepada seluruh ummat manusia yang membawa solusi bagi permasalahan yang dihadapinya. Ia adalah dakwah yang menuju persaudaraan yang adil di kalangan ummat manusia, jauh dari bentuk-bentuk rasialisme atau fanatisme kesukuan, ras, atau etnisitas.
Atas dasar itu maka da'wah menjadi poros utama seluruh gerak partai juga sekaligus menjadi karakteristik perilaku para aktivisnya dalam berpolitik. Maka prinsip-prinsip yang mencerminkan watak da’wah berikut telah menjadi dasar dan prinsip setiap kebijakan politik dan langkah operasional-nya. Kebijakan dasar partai dapat dilihat dalam dua rumusan yaitu kebijakan umum dan strtegi umum. Kebijakan umum dijabar-kan dalam berbagai aspek yang merupadijabar-kan lingkup kehidupan sehari-hari partai yaitu Ideologi, politik, birokrasi, ekonomi dan kesejahteraan, sosial budaya, peran dan tugas wanita, iptek dan hukum. Sementara itu stategi umum ditemputr melalui dua hal yaitu kebijakan Internal dan Eksternal.8
8
MajelisPertimbanganPusatPKS,
PlatformKebijakanPembangunanPKS, 2008, hal. 79.
Mekanisme calon legislatif, tetap mengacu kepada Undang-Undang secara substantif yang mengananatkan bahwa rekrutmen calon dilakukan secara demokratis dan terbuka dengan sistem skorsing dan penilaian. Model ini dimaksudkan untuk menghasilkan calon-calon anggota legislatif yang memiliki kualitas dan integritas yang tinggi. Adapun proses rekrutmenn yang dilakukan partai politik dalam proses pencalonan anggota legislatif merupakan salah satu bagian penting. Dalam proses rekrutmen tersebut" mekanisme dan ukuran-ukurarr yang digunakan menjadi sangat relevan untuk metihat figur-figur seperti apa yang dihasilkan, termasuk kapabilitas mereka sebagai calon legislatif. Dalam konteks rekrutmen partai politik menerapkan sistem penjenjangan dari bawah (bottom up). Syarat terhadap Calon Legislatif (caleg) Partai Keadilan Sejahtera adalah sebagai berikut: (1).Telah menjadi anggota Partai Keadilan Sejahtera; (2).Berpegang teguh kepada nilai-nilai moral dar kebenaran, adil, bertaqwa dan kuat dalam (membela) kebenaran, serius dalam kemaslahatan dan persatuan bangsa, jauh dari fanatisme kepentingan pribadi dan golongan; (3).Memiliki wawasan politik hukum dan syari'at yang memungkinkannya melaksana-kan tugas; (4).Telah mengikuti pendidimelaksana-kan dan Pelatihan Kader yang diselenggarakan Partai Keadilan Sejahtera; (5).Telah menjadi kader inti partai yang sekurang-kurangnya dengan status anggota dewasa; (6).Mempu-nyai prestasi, dedikasi, disiplin, loyalitas dan tidak tercela; (7).Mempunyai pengaruh dan dukungan yang luas di daerah; (8).Pendidi-kan minimal SLTA Sederajat.
Adapun tatacara sistem perekrutan calon legislatif yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera yaitu didalam PKS ada sebuah kelompok kecil pengajian ,vang kemudian kelompok pengajian ini mengajukan calon legislatif yang mereka anggap berkompeten dan layak untuk dijadikan sebagai bakal calon legislatif yang kemudian diajukan kepada tingkat atas dan selanjutnya dirumuskan dan dirapatkan di tingkat DPD (Dewan Perwakilan Daerah), lalu selanjutnya diajukan kepada DPTD yang terdiri dari Majelis Pertimbangan Daerab Dewan Syariah Daerah dan Dewan
Perwakilan Daerah. hasil dari rangkuman rapat kemudian diajukan kepada Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) yang diusulkan kepada Dewan Perwakilan Pusat (DPP). Setelah diverifikasi oleh DPP kemudian DPP mengajukan nana calon legislatif yang terpilih kepada KPU untuk kemudian selanjutnya di verivikasi oleh KPU apakah calon legislatif yang diajukan oleh PKS layak atau tidak untuk ikut bertarung dalam pemilu calon legislatif.9
Sosialisasi Politik DPD PKS Kota Medan
Menurut Cal J. Fredrick, partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan dengan maksud mensejahterakan anggota-anggotanya, baik untuk kebijaksanaannya, keadilannya, maupun untuk hal-hal yang bersifat materil10. Oleh karena itu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan suatu partai politik yang terorganisir yang berpartisipasi dalam proses demokrasi di In-donesia yang secara khusus di Kota Medan. PKS memiliki tujuan organisasi yakni; “Partai Keadilan Sejahtera adalah partai dakwah yang bertujuan mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera yang diridhoi Allah SWT, dalam negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila” dengan visi dan misi; menciptakan masyarakat madani yang berperadapan tinggi. Dari tujuan dan visi misi inilah PKS mencoba merebut kekuasaan untuk mencapai tujuan partai.
Di dalam Pasal Undang-Undang No 31 Tahun 200111 , dijelaskan tentang tujuan dari pada partai politik dan PKS sudah memenuhi kriteris itu. Diantaranya PKS memiliki tujuan yang sesuai dengan isi Undang-Undang tersebut. Tujuan partai PKS diatur dalam Anggaran Dasar (AD) PKS. Terwujudnya cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagai mana dimaksud dengan pembukaan UUD
9
Arsip Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kota Medan.
10
http://setabasri01.blogspot.com/2009/02/budaya-dan-sosialisasi-politik.html
11
Koirudin, Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi; Pustaka Pelajar,2004,150.
1945 dan terwujudnya masyarakat madani yang adil dan sejahtera yang diridhoi oleh Allah SWT dalam Negara kesatuan ini. PKS menjalani pluralitas etnik dan agama masyarakat Indonesia yang mengisi wilayah beribu pulau dan beratus suku yang membentang dari sabang hingga marauke yang dilalui garis khatulistiwa.
Berbicara fungsi dari partai itu sendiri yakni mencari dan mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan program-program yang berdasarkan ideologinya. Cara yang digunakan suatu partai politik dalam sistem politik demokrasi adalah untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan melalui pemilu. Dalam melaksanakan fungsi tersebut, partai politik melakukan tiga kegiatan; yang meliputi seleksi calon, kampanye/sosialisasi politik dan melaksanakan fungsi pe-merintahan.
Dalam hal ini PKS mencoba memaparkan program-program berdasarkan ideologinya, dimana ideologinya memproyeksikan Islam sebagai landasan dasar perjuangan politik menuju masyarakat sejahtera lahir dan batin dengan ideologi Islam sebagai suatu perjuangan pembebasan manusia dari penghambaan antar sesam manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT. PKS menerapkan ideologinya untuk menjalankan fungsi dari partai politik dengan melaksanakan pemilu sebagai jalan untuk meraih kekuasaan guna mencapai tujuan dari pada partai.
Sesuai fungsi dari pada partai politik yaitu adanya sosialisasi politik. Partisipasi politik, rekrutmen politik12, komunikasi politik, artikulasi kepentigan dan PKS sudah melaksankan fungsi-fungsi tersebut diantara-nya melakukan sosialisasi politik dan rekrutmen politik. Hal ini merupakan batasan masalah yang saya teliti yang dilihat dari pola sosialiasasi PKS Kota Medan dalam pemilu legislatif 2009.
Dalam pemilu legislatif 2009 di Kota Medan, sistem partai yang dipakai adalah sistem Multy Party (Banyak Partai). Pola multi partai umumnya diperkuat oleh sistem pemilihan perwakilan berimbang yang
12
Khoirudin, hal. 86.
memberi kesempatan luas bagi pertumbuhan partai-partai dan golongan-golongan kecil13 . Dalam pemilu legislatif 2009, PKS menjadi peserta pemilu yang memperoleh 7 kursi di dewan legislatif DPRD Kota Medan. Dalam kesempatan ini penulis mencoba mengana-lisis konsep pola sosialisasi politik yang dilakukan DPD PKS Kota Medan dalam pemilu legislatif 2009.
Pentingnya pemilu dalam sebuah Negara demokrasi menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Melalui pemilihan umum (Pemilu) rakyat yang berdaulat memilih wakil-wakilnya yang diharapkan dapat memperjuangkan aspirasi dan kepentingan dalam suatu pemerintahan yang berkuasa. Pemerintahan yang berkuasa sendiri merupakan hasil dari pilihan maupun bentukan para wakil rakyat tadi untuk menjalankan kekuasaan Negara. Tugas para wakil memerintahkan yang berkuasa.
Secara umum Pemilu Legislatif yaitu pemilu memlilih DPR/DPRD provinsi kabupaten-kota. Melalui pemilihan umum, rakyat berdaulat memilih wakil-wakilnya yang diharapkan dapat memperjuangkan aspirasi dan kepentingan dalam pemilu. Pemilu dapat dipahami dalam Undang-Undang No 3 Tahun 1999 tentang pemilu diantanya, pertama, Negara Republik Indonesia adalah Negara kedaulatan rakyat. Kedua, pemilu merupakan sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam rangka keikut-sertaan rakyat dalam menyelenggarakan pemerintahan Negara. Dan ketiga, sebagai sarana tata kehidupan Negara yang dijiwai pancasila14.
Dalam proses pemilu legislatif, PKS memiliki proses rekrutmen calon legis-latifnya sendiri. Adapun mekanismenya tetap mengacu kepada undang-undang secara substantif dan dilakukan secara demokrasi dan terbuka dengan sistem skorsing dan penilaian. Adapun proses yang dilakukan partai politik dan proses pemilihanan
13
Miria Budiarjo, Demokrasi di Indone-sia,Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utam,1996, hal.209.
14
Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Politik, Jakar-ta:PT.Gramedia Pustaka Utama,2000,177.
legislatif merupakan salah satu bagian penting, dalam proses rekrutmen tersebut mekanisme dan ukuran-ukuran yang digunakan menjadi sangat relevan untuk melihat figure-figur seperti apa yang dihasilkan termasuk kapabilitas mereka sebagai calon legislatif..
Dalam proses legislative dibutuhkan sosialisasi politik dengan pola-pola yang diformalisasikan setiap partai politik dalam proses pemilu legislatif. Adapun pola sosialisasi politik yang terapakan oleh DPD PKS Kota Medan adalah pola dakwah adan beberapa kegiatan pendukung proses dakwah itu sendiri. Dakwah disini merupakan usaha untuk mengajak masyarakat untuk berbuat baik.
Dakwah Islam pada hakikatnya merupakan aktifitas terencana untuk mentransformasikan individu dan masyarakat dari kehidupan jahilliayah kearah kehidupan yang mencerminkan semangat Islam. Proses transformasi individu yaitu pembentukan pribadi-pribadi muslim sejati yang dilakukan dalam kerangka informasi sosia, sebab terbentuknya pribadi muslim sejati bukanlah tujuan akhir..
Dari pola sosialisasi politik tesebut, terbentuklah berbagai macam kegiatan-kegiatan dan gerakan-gerakan dari PKS. Dalam hal ini DPD PKS Kota Medan diantaranya adalah melakukan sosialisasi politik oleh kader-kader PKS dengan turun langsung kerumah-rumah masyarakat untuk menyampaikan maksud dan tujuan partai. Kegiatan kader ini merupakan kegiatan dari agen-agen sosialisasi politik yakni “agen partai politik” agen partai politik adalah agen Secondary Group, partai politik biasanya membawakan kepentingan-kepentingan nilai spesifik dari warga Negara, seperti agama, kebudayaan, keadilan, nasionalisme, dan sejenisnya15.
Dalam proses sosialisasi yang bervariasi menurut waktu serta yang selalu menyesuaikan dengan lingkungan yang memberikan kontribusi, berkaitan dengan sifat dari pemerintahan dan derajat sifat-sifat
15
ttp://setabasri01.blogspot.com/2009/02/budaya-dan-sosialisasi-politik.html.
dari perubahan. Masyarakat Indonesia yang secara khusus masyarakat Kota Medan merupakan ciri dari masyarakat berkembang dimana pertumbuhan penduduk dinegara berkembang dapat melampaui mereka untuk memodrenisasi keluarga tradisional lewat industrilisasi dan pendidikan. Diantara jenis kegiatan Sosialisasi Politik ditengah-tengah masyarakat berkembang dalam mening-katkan pendidikan yakni; melakukan bakti sosial yang bertujuan membantu per-masalahan masyarakat seperti pendidikan tentang pentingnya pendidikan lingkungan bersih. Melakukan Daurah keluarga yang dilakukan oleh perempuan termasuk ibu-ibu yang sudah berkeluarga, kegiatan ini bersifat bentuk pendidikan keluarga agar perempuan memiliki wawasan dalam berkeluarga. ,melakukan santunan anak yatim dan memberikan bantuan kepada siswa yang berprestasi, dalam kegiatan ini PKS mencoba menstimulus masyarakat untuk memper-hatikan pendidikan anak bangsa dan memperhatikan anak yatim.
Selain bentuk Sosialisasi Politik yang mengacu dalam pendidikan, PKS juga melaksanakan Sosialisasi Politik yang bersifat momentum diantaranya; membuka posko-posko penanggulangan bencana banjir dan kebakaran serta penyedian ambulan rakyat. Dari sekian kegiatan atau gerakan yang dilakukan DPD PKS Kota Medan merupakan serangkaian bentuk-bentuk dakwah Islam untuk mengajak kepada hal yang baik sesuai dengan tujuan visi dan misi Partai Keadilan Sejahtera. Berikut penuturan H. Salman Alfarizi Ls.MA:
… “bentuk-bentuk sosialisasi yang dilakukan PKS dilakuakan secara berdakwah dan berbagai macam kegiatan yang bersifat mengajak masyarakat. Diantaranya kegiatan melakukan aktifitas di mesjid-mesjid pengajian-pengajian, bakti sosial, menyediakan ambulan rakyat dll16”.
Adapun bentuk-bentuk sosialisasi politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah terdiri dari beberapa jenis kegiatan, dimana DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Medan melakukannya tidak hanya kepada
16
Wawancara dengan bapak H. Salman Alfarizi Ls.MA (Ketua fraksi PKS DPPRD PKS Kota Medan. Selasa 15 Januari 2013, di kantor Sekretariat DPD PKS Kota Medan.
penjelasan tentang Pemilihan Umum Legislatifl tetapi lebih kepada ruang lingkup yang lebih luas yaitu membentuk dan mendekatkan diri kepada masyarakat.
Partai Keadilan Sejahtera PKS seperti yang kita ketahui adalah salah satu partai Politik yang berbasiskan masyarakat muslim, maka kecenderungan bentuk sosialisasi politik yang dilakukan adalah lebih tampak dalam masyarakat muslim. Ditandai dengan metode sosialisasi politiknya yang cendrung bersifat dakwah atau mengajak setiap umat muslim untuk menjalani syiar Islam kepada masyarakat. Syiar dilakukan bukan hanya dimesjid-mesjid namun juga syiar dilaksana-kan di berbagai tempat diantaranya rumah kerumah dan kampus-kampus universitas.
Penutup
Pelaksanaan sosialisasi politik merupakan suatu kesempatan bagi partai politik sebagai peserta pemilu untuk memaparkan segala program atau memperkenalkan calon-calon legislatif kepada masyarakat luas dengan harapan dapat menarik simpati masyarakat dan menjatuhkan pilihan pada satu partai tertentu. Karenanya, seluruh parpol yang ada terlihat begitu antusias dengan berbagai cara mereka berusaha untuk merebut simpati masyarakat. Hal ini merupakan proses penting guna memberikan informasi, pandangan dan pengetahuan tentang kehidupan politik. Proses sosialisasi politik pemilu legislatif 2009 Partai Keadilan Se-jahtera (PKS) dapat terlaksana dengan baik dan benar dapat dibuktikan bahwa Partai Keadilan Sejahtera dapat meraih kursi disetiap daerah pemilihan yang ada di Kota Medan. Terdapat tiga hal penting yang menjadi cara tetap PKS dalam mensosialisa-sikan politiknya diantaranya pertama terjun langsung kerumah-rumah masyarakat, Kedua,bergerak lewat pengajian-pengajian; Ketiga, bergerak lewat dakwah-dakwah mesjid-kemesjid.
Daftar Pustaka
Arsip Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kota Medan
Arsip DPD PKS Kota Medan.
Budiarjo , Miriam. 1996. Demokrasi di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
_____________. 2000. Dasar-dasar Politik. Ja-karta:PT.Gramedia Pustaka Utama.
http://masroed.wordpress.com/2010/05/27/pentin gnya-sosialisasi-politik-dalam-kehidupan-politik-masyarakat-di-indonesia/ http://pkssemarang.org/profil-pks/read/sejarah-ringkas-partai-keadilan-sejahtera/ http://setabasri01.blogspot.com/2009/02/budaya-dan-sosialisasi-politik.html
Koirudin, 2004. Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
MajelisPertimbanganPusatPKS
PlatformKebijakanPembangunanPKS, 2008. Rahman, Arifin. 1998. Sistem politik Indonesia
dalam perspektif Struktural Fungsional. Su-rabaya: Penerbit SIC.
Wawancara dengan bapak H. Salman Alfarizi Ls.MA (Ketua fraksi PKS DPPRD PKS Kota Medan. Selasa 15 Januari 2013, di kantor Sekretariat DPD PKS Kota Medan.