• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal kesehatan masyarakat dan id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal kesehatan masyarakat dan id"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Efektifitas Penerapan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Revisi

VI Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang Tahun 2013

Effectiveness Analysis of Application of Hospital Information System (SIRS)

Revision VI Regional General Hospital (Hospital) Bangkinang Year 2013

Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes Hang Tuah Pekanbaru

ABSTRAK

Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) adalah suatu tatanan yang

berurusan dengan pengumpulan data, pengelolaan data, penyajian informasi,

analisa dan penyimpulan informasi serta penyampaian informasi yang dibutuhkan

untuk kegiatan rumah sakit dengan tujuan memberikan data dan informasi yang

lengkap, akurat, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan untuk proses

pengambilan keputusan diberbagai tingkat administrasi. Sistem Informasi Rumah

Sakit (SIRS) terdiri dari data rumah sakit, data ketenagaan, kegiatan rumah sakit,

data angka kesakitan dan kematian serta data kunjungan rumah sakit.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penerapan sistem

informasi rumah sakit (SIRS) Revisi VI yang dilihat dari struktur organisasi,

ketersediaan data, sumber daya manusia, peralatan serta Standar Operasional

Prosedur (SOP) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang Tahun 2013.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif

kualitatif dangan metode pengumpulan data berupa metode observasi, wawancara

(2)

penelitian ini adalah triangulasi dan analisis data yang digunakan adalah analisis

isi (content analysis).

Hasil dari penelitian ini menjelaskan masih terdapat format laporan di

instalasi/ruangan terkait yang belum dapat merekap seluruh jenis laporan, tenaga

pengelola SIRS tidak mempunyai disiplin ilmu administrasi maupun manajemen,

belum semua format laporan dalam bentuk link/aplikasi, Standar Operasional

Prosedur (SOP) tentang pengolahan SIRS di Kasi Perbendaharawan dan

Verifikasi tidak lengkap dan kurang sistematis, sedangkan SOP pengolahan data

di instalasi/ruangan terkait masih bentuk lisan.

Kesimpulan: penerapan sistem informasi rumah sakit (SIRS) Revisi VI di

Rumah Sakit Umum (RSUD) Bangkinang Tahun 2013 belum efektif, hal ini

disebabkan oleh kedudukan pengelola SIRS di kasi perbendaharawan ,ada

beberapa jenis format pelaporan instalasi/ruangan terkait belum sempurna, tidak

ada tenaga pengelola SIRS mempunyai disiplin ilmu administrasi maupun

manajemen, belum semuapengolahan data link/aplikasi atau masih ada secara

manual, SOP belum lengkap.

Daftar Pustaka : 24 (2009-2013)

Kata Kunci : Analisis, Efektivitas, Penerapan, SIRS, RSUD

Bangkinang

ABSTRACT

Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) adalah suatu tatanan yang

berurusan dengan pengumpulan data, pengelolaan data, penyajian informasi,

(3)

untuk kegiatan rumah sakit dengan tujuan memberikan data dan informasi yang

lengkap, akurat, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan untuk proses

pengambilan keputusan diberbagai tingkat administrasi. Sistem Informasi Rumah

Sakit (SIRS) terdiri dari data rumah sakit, data ketenagaan, kegiatan rumah sakit,

data angka kesakitan dan kematian serta data kunjungan rumah sakit.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penerapan sistem

informasi rumah sakit (SIRS) Revisi VI yang dilihat dari struktur organisasi,

ketersediaan data, sumber daya manusia, peralatan serta Standar Operasional

Prosedur (SOP) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang Tahun 2013.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif

kualitatif dangan metode pengumpulan data berupa metode observasi, wawancara

mendalam, dan studi dokumentasi. Pengolahan data yang digunakan pada

penelitian ini adalah triangulasi dan analisis data yang digunakan adalah analisis

isi (content analysis).

Hasil dari penelitian ini menjelaskan masih terdapat format laporan di

instalasi/ruangan terkait yang belum dapat merekap seluruh jenis laporan, tenaga

pengelola SIRS tidak mempunyai disiplin ilmu administrasi maupun manajemen,

belum semua format laporan dalam bentuk link/aplikasi, Standar Operasional

Prosedur (SOP) tentang pengolahan SIRS di Kasi Perbendaharawan dan

Verifikasi tidak lengkap dan kurang sistematis, sedangkan SOP pengolahan data

di instalasi/ruangan terkait masih bentuk lisan.

Kesimpulan: penerapan sistem informasi rumah sakit (SIRS) Revisi VI di

Rumah Sakit Umum (RSUD) Bangkinang Tahun 2013 belum efektif, hal ini

(4)

beberapa jenis format pelaporan instalasi/ruangan terkait belum sempurna, tidak

ada tenaga pengelola SIRS mempunyai disiplin ilmu administrasi maupun

manajemen, belum semuapengolahan data link/aplikasi atau masih ada secara

manual, SOP belum lengkap.

Bibliography: 24 (2009-2013)

Keywords: Analysis, Effectiveness, Implementation, SIRS, hospitals Bangkinang

PENDAHULUAN

Undang-Undang Dasar Negara RI, Tahun 1945 Pasal 29 dan 34 dinyatakan

bahwa negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan

dan fasilitas umum yang layak. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

bathin, bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat

serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan (Undang-Undang Dasar Negara RI,

Tahun 1945).

Undang-Undang RI No 36 tahun 2009, dinyatakan penyelenggaraan

pembangunan kesehatan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat,

perlindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan

non diskriminatif serta norma-norma agama. Tujuan dari pembangunan kesehatan

adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi

setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya,

sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara

nasional dan ekonomis.

Arahan dan acuan dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan harus sejalan

dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang

(5)

(RPJPK) Tahun 2005-2020. RPJPK Tahun 2005-2020 adalah rencana

pembangunan kesehatan nasional dibidang kesehatan untuk jangka waktu dua

puluh tahun kedepan, yang dijadikan sebagai arah sekaligus acuan bagi

pemerintah dan masyarakat termasuk swasta dalam mewujudkan pembangunan

kesehatan sesuai dengan dasar, visi, misi dan arah pembangunan kesehatan yang

telah disepakati (RPJPK, 2005-2020).

Bentuk nyata pelaksanaan pembangunan kesehatan tertuang dalam Sistem

Kesehatan Nasional (SKN) Tahun 2009 dijelaskan bentuk dan tata cara

penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya

bangsa Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan

pembangunan kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang dasar 1945. Visi dan misi

Indonesia Sehat Tahun 2014 yang tertuang dalam enam rencana strategis Tahun

2010-2014, salah satu misi yang tercantum adalah meningkatkan manajemen

kesehatan yang akuntabel, transparan, berdaya guna dan berhasil guna untuk

memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung jawab dalam setiap

tatanan pelayanan kesehatan baik tingkat pusat maupun daerah yang terlihat

dalam bentuk mutu pelayanan di institusi pelayanan kesehatan seperti puskesmas

maupun rumah sakit (Visi dan Misi Indonesia Sehat, Starategi ke 6 Tahun

2010-2014).

Menurut Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 rumah sakit adalah

institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karakteristik tersendiri yang

dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan, kemajuan teknologi

(6)

pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud

derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Rumah sakit merupakan

satu bagian dari sistem pelayanan kesehatan, mempunyai tiga pilar otoritas, ketiga

pilar tersebut adalah pemilik, profesional kesehatan dan manajemen. Keserasian

atau ketidakserasian antara ketiga pilar tersebut menentukan berhasil atau

tidaknya misi suatu rumah sakit, salah satu penentu suksesnya interaksi yang tidak

harmonis antara ketiga otoritas tersebut adalah data dan informasi. Salah satu

bentuk informasi yang berisi data dan kegiatan pada suatu rumah sakit adalah

sistem informasi rumah sakit (SIRS).

Sistem informasi rumah sakit (SIRS) adalah suatu proses pengumpulan,

pengelolaan dan penyajian data rumah sakit se Indonesia. Sistem informasi ini

mencakup semua rumah sakit umum maupun khusus, baik yang dikelola secara

publik maupun privat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 44

Tahun 2009 tentang rumah sakit. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun

2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) maka ketersediaan data dan

informasi mutlak dibutuhkan terutama oleh badan layanan umum seperti rumah

sakit, hal ini dibutuhkan karena data dan informasi dapat mengalami perubahan

seiring dengan perkembangan zaman (Juknis SIRS Revisi V, 2011).

Menurut Permenkes RI (2010) komponen penting yang akan menentukan

klasifikasi sebuah rumah sakit yang dapat diketahui oleh publik melalui sistem

informasi adalah struktur organisasi, data, sumber daya manusia (SDM), sarana

dan prasarana serta standar operasional prosedur (SOP). Struktur Organisasi

adalah kerangka atau susunan pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab

(7)

pengelolaan tertentu lalu menjadi keterangan/informasi. Ketenagaan adalah tenaga

yang bekerja di rumah sakit secara purna waktu dan berstatus pegawai. Sarana

adalah segala sesuatu benda fisik yang dapat tervisualisasi oleh mata maupun

teraba oleh panca-indera dan dengan mudah dapat dikenali oleh pasien dan

(umumnya) merupakan bagian dari suatu bangunan gedung ataupun bangunan

gedung itu sendiri. Prasarana adalah benda maupun jaringan / instansi yang

membuat suatu sarana yang ada bisa berfungsi sesuai dengan tujuan yang

diharapkan serta SOP adalah prosedur kerja disusun oleh para pelaksana

pelayanan di rumah sakit yang mengacu pada peraturan dan perundang-undangan

yang berlaku serta ditetapkan oleh keputusan direktur rumah sakit karena prosedur

kerja merupakan dokumen teknis operasional sebagai jabaran dari

dokumen-dokumen kebijakan yang dibuat oleh direktur rumah sakit

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang merupakan satu-satunya

rumah sakit pemerintah dan rumah sakit rujukan yang ada di Kabupaten Kampar.

RSUD Bangkinang merupakan rumah sakit warisan Hindia Belanda yang pada

Tanggal 05 Juni 1996 berdasarkan SK Menkes Nomor: 551/Menkes/SK/VI/1996

tentang Peningkatan Kelas RSUD Bangkinang Milik Pemerintah Kabupaten

Daerah Tingkat II Kampar, maka RSUD Bangkinang diakui sebagai rumah sakit

yang tergolong tipe C (Profil RSUD Bangkinang Tahun 2011).

Sistem informasi rumah sakit di RSUD Bangkinang telah dilaksanakan

sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2011 dengan menggunakan Sistem

Informasi Rumah Sakit Revisi V sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan

Nomor 1410/MENKES/SK/X/2003. Namun pada Bulan Januari Tahun 2011

(8)

1171/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Sistem Informasi Rumah Sakit, RSUD

Bangkinang menggunakan SIRS Revisi VI yang merupakan penyempurnaan dari

SIRS Revisi V (Juknis SIRS Revisi VI, 2011). Jenis formulir yang ada pada

sistem informasi rumah sakit (SIRS) Revisi VI dapat dilihat pada tabel 1.1 di

bawah ini:

Tabel 1.1

Jenis formulir Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Revisi VI

NO FORMULIR URAIAN KET NDR, GDR dan rata-rata kunjungan perhari selama 1 (satu) tahun serta rata-rata tiap indikator.

Formulir tempat tidur rawat inap 2 Formulir RL 2 Formulir data ketenagaan

3 Formulir RL 3

Formulir data kegiatan pelayanan rawat inap Formulir pelayanan gawat darurat

Formulir kegiatan kesehatan gigi dan mulut Formulir kegiatan kebidanan

Formulir kegiatan perinatologi Formulir kegiatan pembedahan Formulir kegiatan radiologi Formulir kegiatan laboratorium

Formulir kegiatan pelayanan rehabilitasi medik

(9)

Formulir RL 3.12 Formulir kegiatan obat, penulisan dan pelayanan resep

Formulir data morbiditas dan mortalitas pasien rawat inap rumah sakit

Formulir data keadaan morbiditas pasien rawat jalan rumah sakit

Formulir data 10 besar penyakit rawat inap Formulir data 10 besar penyakit rawat jalan Sumber: Juknis SIRS Revisi VI tahun 2011

Proses pengolahan data diatas dilakukan secara manual dan komputerisasi,

sistem manual dilakukan dengan cara merekapitulasi data-data yang sudah

terkumpul pada unit pengelolaan data untuk dibuat tabel atau grafik yang sesuai

dengan kebutuhan dengan menggunakan alat selain mesin yaitu berupa tulisan

tangan. Pengolahan data secara komputerisasi dilakukan dengan cara

menginput/entry data yang kemudian dilakukan pengolahan oleh komputer

dengan program masing-masing.

Sistem informasi rumah sakit di RSUD Bangkinang dengan menggunakan

SIRS Revisi VI pada Januari 2012 dilakukan dengan meminta bantuan pihak

(10)

pelatihan tentang sistem informasi rumah sakit untuk RSUD Bangkinang baru

dilakukan pada bulan Juni 2012, sedangkan beban yang diberikan kepada petugas

yang dilatih adalah membuat sistem informasi rumah sakit dari Bulan Januari

sampai dengan Desember 2012 sehingga memerlukan waktu yang cukup lama

dalam proses pembuatan maupun adaptasi terhadap sistem informasi rumah sakit

yang baru (peralihan dari SIRS Revisi V ke SIRS Revisi VI). Hasil survey awal

yang dilakukan oleh penulis sampai Bulan Januari 2013 belum seluruh jenis

sistem informasi rumah sakit di RSUD Bangkinang selesai oleh pihak ketiga,

perjanjian awal antara pihak RSUD Bangkinang dengan pihak ke tiga adalah

sampai akhir tahun 2012 seluruh sistem informasi rumah sakit sudah dalam

bentuk SIRS. Jenis formulir laporan sistem informasi rumah sakit yang selesai

adalah RL 4 dan RL 5 dalam bentuk SIRS yang belum begitu sempurna,

sedangkan formulir RL1 sampai dengan RL 3 masih menggunakan sistem

manual.

Hal diatas menyebabkan keterlambatan dan atau tidak sempurnanya bentuk

penyampaian laporan dari pihak RSUD Bangkinang kepihak eksternal seperti

Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, Dinas Kesehatan Propinsi Riau ataupun ke

Dirjen BUK Kementerian Kesehatan yang direncanakan data tersebut dapat

diakses secara on line. Dampak lain dari hal diatas adalah tersendatnya proses

penyajian data dan informasi yang akan mempersulit pihak manajemen dalam

mengambil keputusan, perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan,

pengawasan dan pengendalian kegiatan rumah sakit yang sering tidak tepat

(11)

Berdasarkan survey awal yang dilakukan penulis tentang penerapan Sistem

Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Bangkinang ke Dinas Kesehatan Propinsi dan ke DirJen BUK di Jakarta, dari

lima (5) jenis laporan (RL) yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Bangkinang baru laporan RL 5 yang bentuk pelaporannya dalam bentuk online,

sedangkan laporan RL1-RL4 masih dalam bentuk manual, Hal ini menyebabkan

keterlambatan pengiriman laporan dalam bentuk SIRS ke unit terkait serta Sistem

Informasi Rumah Sakit (SIRS) RSUD Bangkinang belum bisa diakses secara

online. Banyak hal yang diperkirakan peneliti menjadi penyebab permasalahan diatas diantaranya struktur organisasi yang tidak jelas, ketersediaan data, sumber

daya manusia, prasarana serta belum tersedianya Standar Operasional Prosedur

(SOP), dan lain sebaginya. Berdasarkan petunjuk yang dikeluarkan oleh

Kementrian Kesehatan RI DirJen BUK bahwa segala bentuk sistem informasi

rumah sakit harus bisa diakses secara online. Berdasarkan permasalahan diatas penulis tertarik mengadakan penelitian lebih lanjut tentang “Analisis Efektifitas

Penerapan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Revisi VI di Rumah Sakit

Umum Daerah (RSUD) Bangkinang Tahun 2013.”

METODE

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan

penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Rumah

Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang pada bulan Mei sampai dengan Juni

2013. Subjek dari penelitian ini berjumlah sebelas (11) orang informan. Analisa

(12)

sekunder untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang penerapan Sistem

Informasi Rumah Sakit (SIRS) Revisi VI di RSUD Bangkinang.

HASIL

1. Hasil Penelitian dari Observasi

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti selama 7 (tujuh)

hari pada Sub. Bagian Keungan Seksi Pembendaharaan dan Verifikasi serta unit

yang terkait seperti Instalansi Rekam Medik, Rawat Inap, Rawat Jalan, IGD,

Radiologi, Laboratorium, Rehabilitasi Medik, hasil yang diperoleh dari kegiatan

penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini:

Tabel 4.1

Hasil Checklist Pengolahan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang Tahun 2012

No Variabel yang Diamati Ya Tidak

1 Kebijakan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Bangkinang tentang Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS)

2 Kegiatan pengolahan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di

Sub. Bagian Keungan Kasi Pembendaharaan dan Verifikasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

5 Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanggung jawab Sistem

Informasi Rumah Sakit (SIRS) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

6 Kegiatan pengolahan data di unit terkait Rumah Sakit Umum

Daerah (RSUD) seperti Instalansi Rekam Medik, Rawat Inap, Rawat Jalan, IGD, Radiologi, Laboratorium, Rehabilitasi Medik

7 Penanggung jawab pengolahan data di unit terkait Rumah Sakit

Umum Daerah (RSUD) seperti Instalansi Rekam Medik, Rawat Inap, Rawat Jalan, IGD, Radiologi, Laboratorium, Rehabilitasi Medik

8 Standar Operasional Prosedur (SOP) pengolahan data di unit

(13)

Sumber : Data Primer Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang Tahun 2012

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa dari sembilan (9) variabel yang

diamati dalam pengolahan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Rumah Sakit

Umum Daerah (RSUD) Bangkinang diperoleh hasil tujuh (7) variabel ada

sedangkan dua (2) variabel tidak ada

2. Hasil Penelitian dari Wawancara

Tabel 4.2

Karakteristik Informan Wawancara Mendalam

di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang Tahun 2012 3.

No Jabatan Informan Lama Tugas

Dalam Jabatan Pendidikan Keterangan

1 Direktur 1 tahun,5 Bulan Magister

1 tahun,5 Bulan SKM .M.Si Penanggung Jawab SIRS 6 Petugas Pengelola Data Rawat

Inap

2 Tahun,5 Bulan S1 Keperawatan Penanggung Jawab SIRS unit terkait 7 Petugas Pengelola Data Rawat

Jalan

2 tahun,5 Bulan S1 Keperawatan Penanggung Jawab SIRS unit terkait 8 Petugas Pengelola Data IGD 2 tahun,5 Bulan DIII

Keperawatan

Penanggung Jawab SIRS unit terkait 9 Petugas Pengelola Data

Penunjang Medik (Radiologi)

2 tahun,5 Bulan S1 Keperawatan, SH

2 tahun,5 Bulan Analis Penanggung Jawab SIRS unit terkait

11 Petugas Pengelola Data Penunjang Medik (Rehabilitasi)

(14)

Sumber : Data Primer Penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang Tahun 2012

Berdasarkan tabel di atas dapat di lihat lama tugas informan dalam jabatan di

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang adalah berada pada rentang 1

s/d 2 tahun.Sedangkan tingkat pendidikan informan bervariasi mulai dari tingkat

SLTA sampai Pasca Sarjanayang terdiri dari berbagai disiplin ilmu.

a. Struktur Organisasi

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa secara struktural Rumah

Sakit Umum daerah (RSUD) Bangkinang di pimpin oleh seorang Direktur yang

membawahi empat (4) Bagian atau Bidang yaitu Bagian Administrasi Umum,

Bidang Keuangan, Bidang Pelayanan, Bidang Sumber Daya Manusia dan

Pendidikan. Selanjutnya setiap Bagian atau Bidang membawahi dua (2) atau tiga

(3) Sub Bagian atau Seksi.

b. Ketersedian data

Seluruh format data dan formulir data di unit terkait telah tersedia walaupun

masih terdapat beberapa formulir yang tidak dapat mengkoordinir seluruh

kebutuhan ruangan seperti masih adanya diagnosa medis yang belum sempurna

atau belum ada pada link/aplikasi sedangkan pada praktek dilapangan dijumpai,

namun proses pengisian data yang sering mengalami masalah seperti komputer

error atau oleh karena pengelola SIRS di unit terkait bukan petugas khusus

melainkan berasal dari perawat yang mempunyai tugas rangkap, sehingga proses

input data sering tidak tepat waktu karena perawat tersebut harus melakukan

(15)

c. Sumber daya manusia

1) Kuantitas sumber daya manusia

Kuantitas sumber daya manusia yang bertugas mengelola SIRS pada Sub.

Bagian Perbendaharawan dan Verifikasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Bangkinang masih dirasa cukup walaupun berasal dari berbagai disiplin ilmu yang

tidak sesuai dengan tugas yang dibebankan kepada mereka

2) Kualitas sumber daya manusia

Semua informan pernah mendapatkan pelatihan tentang Sistem Informasi

Rumah Sakit (SIRS)

3) Motivasi sumber daya manusia

Pihak manajemen belum pernah melakukan sejenis umpan balik atau

motivasi untuk meningkatkan kinerja petugas pengelola SIRS baik pada staf

pengelola SIRS maupun pada petugas pengelola data di unit terkait (Rekam

Medik, Rawat Inap, Rawat Jalan, IGD, Radiologi, Laboratorium, Rehabilitasi).

d. Peralatan pengolahan SIRS

Ketersediaan peralatan untuk pengolahan data SIRS semuanya sudah

menggunakan komputerisasi

e. Standar Operasional Prosedur (SOP)

Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang pengolahan SIRS pada Sub.

Bagian Perbendaharawan dan Verifikasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)

Bangkinang masih dalam proses penyempurnaan. Sedangkan SOP di unit terkait

(16)

PEMBAHASAN

1. Struktur Organisasi

Perubahan struktur organisasi yang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah

(RSUD) Bangkinang menurut sebagian informan telah sesuai dengan kebutuhan,

secara struktural Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang dipimpin oleh

seorang Direktur yang membawahi empat (4) Bagian atau Bidang yaitu Bagian

Administrasi Umum, Bidang Keuangan, Bidang Pelayanan, Bidang Sumber Daya

Manusia dan Pendidikan. Selanjutnya setiap Bagian atau Bidang membawahi dua

(2) atau tiga (3) Sub Bagian atau Seksi. Pengelolaan Sistem Informasi Rumah

Sakit (SIRS) berada di bawah Seksi Perbendaharawan dan Verifikasi yang

bertanggung jawab langsung kepada Kepala Bidang Keuangan.

Secara struktural telah sangat jelas bahwa yang bertanggung jawab pada

pengelolaan SIRS di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang adalah

Sub. Bagian Perbendaharawan dan Verifikasi yang bertanggung jawab langsung

kepada Kepala Bidang Keuangan yang selanjutnya untuk diteruskan kepada

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang. Pertimbangan

manajemen meletakkan pengelolaan SIRS di bawah Kepala Seksi

Perbendaharawan dan Verifikasi adalah untuk mempermudah melakukan

verifikasi kebenaran seluruh data yang ada pada SIRS serta untuk mendukung

program prioritas RSUD Bangkinang yaitu untuk menyempurnakan sistem

keuangan yang ditargetkan selesai dalam jangka waktu dua tahun.

Struktur organisasi yang dipergunakan di Rumah Sakit Umum Daerah

(17)

Prayitno (2005:17), struktur organisasi garis dan staf memiliki ciri-ciri seperti

organisasinya bersifat besar dan kompleks, jumlah karyawannya banyak, daerah

kerjanya luas, hubungan kerja yang bersifat langsung, pimpinan dan karyawan

tidak saling mengenal, spesialisasi yang beraneka ragam diperlukan dan

dipergunakan secara maksimal, terdapat tiga (3) komponen utama pada struktur

organisasi garis dan staf ini yaitu pimpinan, pembantu pimpinan/staf dan

pekerja/karyawan.

Walaupun struktur organisasi yang diterapkan di Rumah Sakit Umum

Daerah (RSUD) Bangkinang telah sesuai dengan kebutuhan, namun dalam hal

pelaksanaan pengelolaan SIRS perlu adanya uraian tugas yang jelas bagi staf

pengelola SIRS di Sub. Bagian Perbendaharawan dan Verifikasi maupun bagi

petugas pengelola data di unit terkait (Rekam Medik, Rawat Inap, Rawat Jalan,

IGD, Radiologi, Laboratorium, Rehabilitasi).

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Tarmizi (2009), tentang Analisis efektivitas pengelolaan laporan di

Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau, hasil penelitian diperoleh bahwa

penanggung jawab dalam pengelolaan data dan pelaporan di RSJ Tampan adalah

dibawah Sub. Bagian Data dan Pelaporan yang dinaungi oleh Bagian

Perencanaan.

Asumsi dari peneliti penyebab pengelola SIRS RSUD Bangkinang berada

di bawah Kabid Keuangan dan Kasi Verifikasi dan Perbendaharaan adalah karena

manajemen RSUD Bangkinang beranggapan SIRS merupakan sesuatu hal yang

sangat penting sehingga harus ditempatkan pada bidang yang penting pula.

(18)

dalam 2 tahun di RSUD Bangkinang dikerena bagian/bidang ini merupakan

sangat vital, sehingga diharapkan dengan sempurnanya bidang/bagian keuangan

maka Sistem Informasi Rumah Sakit Umum (RSUD) Bangkinang menjadi

sempurna.

2. Ketersediaan Data

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh informan didapatkan informasi

bahwa data yang tersedia di unit terkait untuk diteruskan kepada staf pengelola

SIRS RSUD Bangkinang sudah tersedia hal ini dapat dibuktikan dengan

tersedianya format pelaporan pada semua unit terkait, sistem pengolahan data

SIRS RSUD Bangkinang telah dilaksanakan dengan menggunakan bantuan sistem

komputerisasi, namun belum seluruh pengolahan data tersebut menggunakan

aplikasi/link, sehingga sebagian besar data masih diolah secara manual.

Walaupun hanya sebagain kecil dari unit terkait yang melaporkan tidak

semua jenis laporan mereka yang terekap pada sistem link/aplikasi, namun hal

tersebut sangat mempengaruhi efektivitas pengelolaan SIRS di Rumah Sakit

Umum Daerah (RSUD) Bangkinang, karena data yang di tampilkan dalam SIRS

tidak lengkap sehingga dapat mengurangi keakuratan data yang tersedia dalam

SIRS. Menurut Buku Petunjuk Teknis SIRS Revisi VI (2011), bahwa Sistem

Informasi Rumah Sakit (SIRS) data yang ditampilkan pada SIRS merupakan

gamabaran umum pelaksanaan seluruh kegiatan yang ada pada suatu rumah sakit.

Kelengkapan data yang dikirim oleh petugas unit terkait kepada staf

pengelola SIRS di Sub. Bagian Perbendaharawan dan Verifikasi sangat

mempengaruhi efektivitas pengelolaan SIRS sehingga dapat mempengaruhi

(19)

mengemukakan pendapat bahwa data merupakan ibarat bahan mentah yang

melalui pengelolaan tertentu lalu menjadi keterangan/informasi. Menurut

pendapat Sabarguna (2004:3), informasi adalah data yang telah diolah dan

dianalisa secara formal, dengan cara yang benar dan secara efektif, sehingga

hasilnya dapat bermanfaat dalam operasional dan manajemen. Menurut pendapat

Scott (2002:56), informasi yang baik memiliki kriteria dapat dipercaya, valid,

sesuai, akurat, bermanfaat ganda, dapat disediakan dan tepat waktu. Kriteria mutu

informasi yang dihasilkan sistem informasi manajemen adalah kecepatan,

relevansi, ketepatan, umpan balik dan ketersediaan data yang selektif.

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Tarmizi (2009), tentang Analisis efektivitas pengelolaan laporan di

Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau, hasil penelitian diperoleh bahwa

seluruh format pelaporan di RSJ Tampan telah tersedia, namun masih terdapat

beberapa ruangan yang terlambat mengirimkan laporannya sehingga hal ini dapat

mempengaruhi pengiriman laporan baik secara internal maupun secara eksternal.

Menurut asumsi peneliti penyebab lengkapnya jenis format laporan yang

ada di pengelola SIRS ataupun unit terkait adalah karena SIRS Revisi ke VI ini

merupakan penyempurnaan dari SIRS Revisi V yang isinya telah disesuaikan

dengan kebutuhan rumah sakit, penyebab tidak semua format pelaporan dapat

mewakili kebutuhan ruangan seperti diagnosa hal ini dikarenakan pola

perkembangan penyakit di tiap wilayah tidak sama, sedangkan jenis format

laporan yang ada dalam SIRS dibuat secara umum sehingga ada beberapa jenis

(20)

3. Sumber Daya Manusia Pengelola SIRS

a. Kuantitas Sumber Daya Manusia

Kuantitas sumber daya manusia di Sub. Bagian Perbendaharawan

dan Verifikasi, yang bertanggung jawab mengelola SIRS sudah cukup

karena dikerjakan oleh lima orang petugas, namun petugas yang ada tidak

berasal dari berbagai disiplin ilmu dan tidak ada petugas yang mempunyai

disiplin ilmu administrasi atau manajemen dikarenakan tidak adanya

ketersediaan tenaga tersebut.

Rumah sakit sering kali menghadapi masalah kekurangan tenaga,

untuk kalangan rumah sakit pemerintah, kebijakan zero growth sekarang

ini membuat mereka yang pensiun jadi sulit digantikan. Di pihak lain,

jumlah tenaga yang dibutuhkan di rumah sakit terus meningkat karena

pelayanan yang diberikan juga makin beragam serta semakin canggih.

Menurut pendapat Aditama (2007:42-43), bahwa kurangnya tenaga dapat

membuat beban kerja bertambah, sehingga akhirnya mutu kerja menurun.

Upaya menanggulangi keluhan kekurangan pegawai adalah dengan

menarik pegawai baru, memperbaiki kondisi lingkungan pekerjaan,

menaikan kompensasi serta membuat jenjang karier yang jelas. Sementara

itu penghitungan kebutuhan tenaga di rumah sakit dapat dinilai

berdasarkan sistem rasio yang dibandingkan dengan standar, berdasarkan

need dengan menghitung kebutuhan sesuai beban kerja dan dngan cara

menilai demand yang dihitung menurut kegiatan yang memang

(21)

Informasi yang diperoleh dari informan didapatkan informasi bahwa

kuantitas sumber daya manusia dalam pengolahan data di unit terkait

(Rekam Medik, Rawat Inap, Rawat Jalan, IGD, Radiologi, Laboratorium,

Rehabilitasi) sudah mencukupi, pengolahan data di setiap unit terkait

dilakukan oleh kepala instalasi/ruangan atau petugas yang telah ditunjuk,

namun mereka tetap mempunyai tugas rangkap yaitu melayani pasien dan

mengelola SIRS sehingga terjadi penumpukan pekerjaan yang secara tidak

langsung akan mempengaruhi efektifitas pengelolaan SIRS.

Berbicara masalah sumber daya manusia dapat dilihat dari dua (2)

asfek yaitu kuantitas dan kualitas. Pelaksanaan pengolahan SIRS

memerlukan sumber daya manusia baik dari segi kuantitas maupun

kualitas karena ke duanya merupakan komponen yang tidak dapat

dipisahkan. Tetapi apabila dipertanyakan manakah yang lebih penting dari

dua (2) hal diatas maka peneliti berpendapat asfek kualitas lebih penting

dari asfek kuantitas.

Kuantitas menyangkut jumlah sumber daya manusia, kurang penting

kontribusinya dalam pelaksanaan pengolahan SIRS jika dibandingkan

dengan asfek kualitas sumber daya manusia. Hal ini penting dalam

pelaksanaan pekerjaan tersebut diperlukan tenaga yang profesional atau

berkualitas baik.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa kuantitas sumber daya

manusia tidak mempengaruhi perbaikan dalam pelaksanaan pengolahan

SIRS jika tidak disertai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia

(22)

bahwa kuantitas sumber daya manusia tanpa disertai dengan peningkatan

kualitas akan menjadi beban pembangunan suatu bangsa.

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Tarmizi (2009), tentang Analisis efektivitas pengelolaan

laporan di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau, hasil penelitian

diperoleh bahwa kuantitas sumber daya manusia yang mengelola laporan

di RSJ Tampan masih kurang karena hanya dikerjakan oleh 1 orang staf.

Asumsi peneliti tentang kuantitas sumber daya manusia yang ada di

RSUD Bangkinang khususnya pada pengelolaan data SIRS dan unit terkait

yang tidak mempunyai disiplin ilmu administrasi dan manajemen

dikarenakan kurangnya tenaga yang mempunyai disiplin ilmu tersebut

sehingga pihak manajemen lebih banyak memanfaat tenaga perawat

sebagai pengelola SIRS atau pengelola data diunit terkait karena tenaga

perawat merupakan kualifikasi ketenagaan terbesar di RSUD Bangkinang.

b. Kualitas Sumber Daya Manusia

1) Pelatihan tentang Pengolahan SIRS

Menurut informasi yang didapat dari semua informan, didapatkan

informasi bahwa semua informan sudah pernah mengikuti pelatihan

tentang pengolahan SIRS ataupun pengolahan data yang dibutuhkan

SIRS. Namun berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan fakta bahwa

tidak semuanya petugas di unit terkait ahli dalam pengolahan data

SIRS. Menurut pendapat Notoatmodjo (2009:17), mengemukakan

bahwa pendidikan dan pelatihan dapat dipandang sebagai salah satu

(23)

berkembang maka pendidikan dan pelatihan bagi karyawannya harus

memperoleh perhatian dari pihak manajemen.

Menurut pendapat Hasibuan (2008:69), pelatihan adalah bagian

dari pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan

meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku

dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih

mengutamakan praktek dari pada teori.

Pendapat yang dikemukakan oleh Rachmawati (2008:117),

pendidikan dan pelatihan adalah unsur sentral dalam pengembangan

karyawan. Pelatihan dalam bentuk yang kompleks diberikan untuk

membantu karyawan mempelajari keterampilan yang akan

meningkatkan kinerja mereka dimana akan membantu organisasi

mencapai sasarannya. Sementara kegiatan pendidikan diberikan untuk

memperoleh pengetahuan yang akan meningkatkan kinerja karyawan

serta akan membantu organisasi mencapai sasaran.

Pendapat yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003:18),

pentingnya pendidikan dan pelatihan tersebut bukanlah semata-mata

bermanfaat bagi karyawan atau pegawai yang bersangkutan tetapi juga

keuntungan bagi organisasi. Dengan meningkatnya kemampuan atau

keterampilan para karyawan maka dapat meningkatkan produktivitas

kerja para karyawan. Produktivitas kerja para karyawan meningkat

berarti organisasi yang bersangkutan akan memperoleh keuntungan.

Menurut pendapat Siagian (2006:73), terdapat lima (5) alasan

(24)

terlihat gejala menurunnya produktivitas para karyawannya, para

karyawan banyak melakukan kesalahan dalam melakukan tugas, terlihat

gejala bahwa motivasi karyawan rendah, semangat kerja menurun dan

manajemen puncak menentukan strategi baru.

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian

yang dilakukan oleh Tarmizi (2009), tentang Analisis efektivitas

pengelolaan laporan di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau, hasil

penelitian diperoleh bahwa semua penanggung jawab pengolahan data

dan pelaporan RSJ Tampan belum pernah mendapatkan pelatihan.

Asumsi peneliti penyebab tidak semuanya petugas di unit terkait

ahli dalam pengolahan data SIRS sedangkan mereka telah pernah

mendapat pelatihan adalah rata-rata petugas yang mengola data SIRS di

unit terkait sudah tergolong tua dan baru tahap belajar sistem

komputerisasi, sehingga akan mempengaruhi kinerja mereka dalam

pengolahan SIRS.

Asumsi peneliti penyebab pihak manajemen tidak memberikan

umpan balik/reward kepada staf adalah karena pihak manajemen menilai

SIRS RSUD Bangkinang masih dalam proses penyempurnaan yang

melibatkan pihak ketiga, penyempurnaan ini meliputi sesegera mungkin

seluruh jenis format laporan sudah dalam bentuk link/aplikasi, hal ini

menjadi penyulit bagi pihak manajemen untuk memberikan penghargaan

kepada staf karena belum semua laporan yang dikerjakan oleh staf dalam

(25)

4. Peralatan Pengolahan SIRS

Dari hasil wawancara dengan informan didapatkan informasi bahwa

semua informan mengatakan ketersediaan peralatan untuk pengolahan

SIRS di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang belum

semuanya menggunakan sistem komputerisasi, namun belum semua

format laporan dalam bentuk link/aplikasi, hal ini menyebabkan masih

terdapat beberapa petugas pengelola data di unit terkait mengelola data

secara manual.

Peralatan merupakan salah satu unsur penting untuk mendukung

pelaksanaan pengolahan SIRS baik bagi staf pengelola SIRS di Sub.

Bagian Perbendaharawan dan Verifikasi maupun bagi petugas pengelola

data di unit terkait. Oleh karena itu ketersediaan peralatan mulai dari yang

sederhana sampai dengan teknologi canggih sangat penting pengaruhnya

terhadap penyelesaian suatu pekerjaan, pengolahan data dapat dilakukan

dengan cepat dan akurat apabila menggunakan peralatan yang memadai

seperti dengan menggunakan sistem komputerisasi.

Menurut pendapat Amsyah (2003:17), perkembangan peradaban

manusia tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan alat penghitung

atau alat pengolah data. Komputer adalah alat pengolah data elektronik

dan tidak bersifat mekanis, semua jenis pengolahan data dapat dilakukan

dengan menggunakan komputer. Selanjutnya menurut pendapat amsyah

(2003:117), menyatakan bahwa komputer dapat merekam dan mengolah

data dari yang sederhana sampai yang paling rumit untuk dijadikan

(26)

Menurut pendapat Sutabri (2005), penggunaan komputer didalam

SIRS sanagat banyak membantu para manajer dalam pengambilan suatu

keputusan. Komputer dalam SIRS dirumuskan sebagai suatu perlengkapan

elektronik yang mengolah data, mampu menerima masukan maupun

keluaran, memiliki kecepatan yang tinggi, ketelitian yang tinggi dan

mampu menyimpan instruksi untuk memecahkan suatu masalah, oleh

sebab itu komputer sangat penting dalam pengolahan data untuk jumlah

yang besar, pekerjaan yang berulang-ulang dan memerlukan proses yang

cepat.

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Tarmizi (2009), tentang Analisis efektivitas pengelolaan

laporan di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau, hasil penelitian

diperoleh bahwa ketersediaan peralatan pengolahan data dan pelaporan di

RSJ Tampan belum komputerisasi dan masih banyak yang menggunakan

alat bantu seperti alat tulis, kalkulator dan sebagainya.

Asumsi peneliti penyebab tidak semuanya format pelaporan dalam

SIRS dalam bentuk link/aplikasi adalah karena adanya perubahan bentuk

jenis pelaporan antara manajemen rumah sakit dengan pihak ketiga,

sehingga pihak ketiga harus kembali menyempurnakan aplikasi SIRS

sesuai dengan keinginan pihak manajemen RSUD Bangkinang, hal ini

memerlukan waktu yang cukup lama sehingga berdampak pada belum

(27)

5. Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengolahan SIRS

Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan

didapatkan informasi bahwa Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang

pengolahan SIRS di Sub. Bagian Perbendaharawan dan Verifikasi sudah

ada dan sudah diberlakukan semenjak SIRS di terapkan di RSUD

Bangkinang.

Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang pengolahan data di unit

terkait menurut pendapat semua informan tidak ada, SOP tentang

pengolahan SIRS di unit terkait pernah disampaikan secara lisan namun

secara tertulis belum ada sehingga petugas kurang mengetahui bagaimana

tata cara pengisian data yang benar.

Hal ini perlu mendapatkan perhatian karena dalam rangka

pelaksanaan pengolahan SIRS dan untuk menghasilkan suatu Sistem

Informasi Rumah Sakit (SIRS) yang akurat dan tepat hendaknya di

dasarkan pada suatu Standar Operasional Prosedur (SOP). Selain itu

Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dipergunakan hendaklah

lengkap dan mudah dipahami oleh petugas.

Menurut Sabarguna (2005:19), kelengkapan prosedur merupakan

bagian dari mutu pelayanan dan akreditasi suatu rumah sakit, dengan

adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) diharapkan dapat

meningkatkan mutu pelayanan dan pencapaian nilai akreditasi rumah

sakit. Prosedur yang sering disebut dengan PROTAP atau Prosedur Tetap

(28)

Menurut Sabarguna (2005:40), bahwa penerapan Standar

Operasional Prosedur (SOP) hendaklah diupayakan bahwa prosedur secara

resmi dibuat, dalam artian ada Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan

oleh Direktur, adanya petugas yang secara periodik bertugas mengawasi

agar petugas benar-benar menjalankan Standar Operasional Prosedur

(SOP), adanya dilakukan evaluasi tahunan bagi Standar Operasional

Prosedur (SOP) yang terprogram, sehingga upaya peningkatan dapat

berjalan.

Suatu prosedur tidak ada yang sempurna, apalagi keadaan teknologi

dan peralatan yang makin maju, maka tentunya suatu prosedur harus

mengikuti dan memperhatikan hal-hal berikut ini:

a. Jenis teknologi yang ada

Teknologi yang berubah dan semakin canggih perlu penyesuaian

prosedur yang relevan dan dapat mengikutinya.

b. Jenis peralatan

Peralatan khusus yang berbeda tentunya perlu prosedur yang

berbeda pula maka proses penyesuaian harus dilakukan.

c. Penggantian tugas

Petugas yang diganti atau petugas yang baru harus dilatih, jangan

samapi proses penggantian menjadi ganjalan bagi yang lain karena

ketidaktahuan.

Akhirnya peningkatn secara berkelanjutan harus menjadi bagian

dari upaya yang selalu dijalankan agar selalu lebih baik dan mengikuti

(29)

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Tarmizi (2009), tentang Analisis efektivitas pengelolaan

laporan di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau, hasil penelitian

diperoleh bahwa Standar Operasional Prosedur (SOP) di Sub. Bagian

Data dan Pelaporan sudah ada, sedangkan Standar Operasional

Prosedur (SOP) di unit terkait sebagian besar belum ada.

Asumsi peneliti penyebab belum lengkapnya SOP pengolahan

SIRS di Kasi Pembendaharaan dan Verifikasi dan tidak adanya SOP

diunit terkait adalah karena belum sempurnanya SIRS yang ada

sehingga pihak manajemen perlu mengkaji ulang SOP yang ada yang

disesuaikan dengan SIRS.

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Pengelolaan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Rumah Sakit

Umum Daerah (RSUD) Bangkinang belum efektif yang disebabkan oleh

beberapa faktor seperti berikut:

1. Dimana kedudukan pengelola SIRS berada di bawah Kasi

Perbendaharawan dan Verifikasi yang bertanggung jawab langsung

kepala bidang Keuangan. Pertimbangan manajemen meletakkan

pengelolaan SIRS di bawah Kasi Perbendaharawan dan Verifikasi adalah

untuk mempermudah melakukan verifikasi kebenaran seluruh data yang

ada pada SIRS serta untuk mendukung program prioritas RSUD

(30)

2. Ketersediaan data di instalasi/ruangan terkait telah tersedia, namun ada

beberapa jenis format pelaporan yang tidak dapat mewakili kebutuhan

suatu instalasi/ruangan seperti jenis format RL4a-4b (morbiditas,

mortaditas pasien jawat inap, rawat jalan)

3. Kuantitas sumber daya manusia di Kasi Perbendaharawan dan Verifikasi

yang bertugas mengelola SIRS dirasakan sudah cukup karena telah

dikerjakan oleh 4 orang, tetapi tidak mempunyai disiplin ilmu

administrasi dan manajemen sedangkan di instalasi/ruangan pengelola

dilakukan oleh kepala instalasi atau petugas yang ditunjuk .Secara

kualitatif sumber daya manusia sudah pernah mendapat pelatihan.Namum

petugas pengelola SIRS masih tahap belajar sistem komputerisasi,

sehingga akan mempengaruhi kinerja mereka dalam pengolahan SIRS.

4. Peralatan yang dipergunakan untuk pengelolaan data SIRS belum

semuanya menggunakan sistem komputerisasi atau masih ada mengelola

data secara manual

5. Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang pengolahan SIRS di kasi

Perbendaharawan dan Verifikasi sudah ada sedangkan SOP di beberapa

instalasi/ruangan terkait pengolahan data dalam bentuk lisan.

B. Saran

1. Perlu pengkajian ulang oleh pihak manajemen Rumah sakit Umum

daerah (RSUD) Bangkinang tentang kedudukan pengelola SIRS , di

bawah Kasi Perbendaharawan dan verifikasi sehinggan SIRS bisa

dikelola lebih efektif lagi.

(31)

2. Untuk kepentingan pengolahan data yang akurat diharapkan kepada

petugas pengelola SIRS segera mungkin dapat membuat semua jenis

format laporan dalam bentuk link/aplikasi sehingga akan mempermudah

proses pengolahan SIRS.

3. Kebutuhan sumber daya manusia pada Kasi Perbendaharawan dan

Verifikasi khususnya staf pengelola SIRS diusahakan berasal dari

disiplin ilmu yang sesuai, sehingga mereka dapat bekerja secara

profesional,begitu juga petugas pengelola data di instalasi/ruangan terkait

harus ada tenaga khusus disiplin ilmu administrasi .

4. Pihak manajemen diharapkan dapat meningkatkan program pelatihan di

dalam atau diluar rumah sakit khususnya pelatihan tentang pengolahan

SIRS sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas kinerjanya dalam

melakukan pengolahan data SIRS.

5. Perlu adanya standar Operasional Prosedur (SOP) tentang pengolahan

data SIRS bagi petugas pengelola data di instalasi/ruangan terkait yang

menjadi pedoman atau acuan dalam melaksanakan tugas dan tanggung

jawabnya dalam pengelolaan SIRS.

Gambar

Tabel 1.1
Tabel 4.1
Tabel 4.2 Karakteristik Informan Wawancara Mendalam

Referensi

Dokumen terkait

Terakhir adalah dahan Ken Angrok dengan Ken Umang yang menurunkan Tohjaya dan saudara-saudaranya, meskipun jalur ini tidak terekam secara baik dalam sejarah namun

Sedangkan Sasaran merupakan penjabaran dari Tujuan Dinas Bina Marga Sumber Daya Air Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Cilacap, yaitu hasil yang akan dicapai secara

(2014) bahwa dengan penerapan metode eksperimen berbasis inkuiri, peserta didik mendapatkan kesempatan untuk suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan

sebelumnya sebagai basis massanya. Kedua,Targeting Politik, kandidat lebih menfokuskan diri pada Mayoritas pemilih yang mendukung kemenangan kandidat adalah segmen

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas karunia dan rahmat-Nya yang telah menerangi jiwa dan pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan

Results: There were 12 themes in patients compliance based on King’s interacting systems theory; (1) true perception of pulmonary tuberculosis, (2) self-awareness, (3) optimal

Status hidrasi pada atlet dapat diketahui melalui berbagai macam parameter, antara lain perubahan berat badan sebelum dan sesudah latihan, pengukuran jumlah total

1.3 Hal-hal yang diperlukan dalam penilaian dan kondisi yang berpengaruh atas tercapainya kompetensi ini adalah tempat uji yang merepresentasikan tempat kerja,