KONSEPSI KELUARGA HUKUM INGGRIS A. PENDAHULUAN
1. Seperti halnya dengan struktur dalam konsepsi hukum juga terdapat perbedaan. Konsepsi hukum Romawi Jerman dan Inggris ini berkisar pada cara menyusun norma-norma hukum dikedua keluarga hukum tersebut karena maksud daripada konsepsi hukum tersebut adalah mengatur tingkah laku para anggota masyarakat dalam pergaulannya satu sama lain agar dapat dijamin ketertiban dalam masyarakat.
2. Yang menyusun norma-norma tersebut adalah pembentuk undang-undang,penyusunannya secara umum ,karena haru dapat menampung situasi masyarakat sebanyak mungkin.
B. ASAS PRESEDEN
1. Ases Preseden merupakan pelengkap dari Equity dan merupakan koreksi dari hukum Common Law. jika Common law dirasakan tidak adil ,misalnya dalam Common Law terjadi wan prestasi ,maka yang dapat dituntut hanya ganti rugi oleh pihak yang berpiutangmelebihi daripada gantirugi ,oleh karena ia sangant berkepentingan
2. Dalam Common Law pembayaran kembali melebihi apa yang dijanjikan adalah tidak mungkin,karena norma hukumnya tidak ada ,maka pihak-pihak yang berkepentingan menggunakan Equity . Dengan demikian Equity mengoreksi /melengkapi Common Law maka dari itu asas precedent harus diberlakukan dalam Equity ini.
3. Yurisprudensi di inggris merupakan sumber hukum yang paling penting sebagai bahan pembentukan hukum. Yurisprudensi di inggris (case law) terikat pada asas Share Decisis ialah suatu asas bahwa keputusan hakim yang terdahulu harus di ikuti oleh hakim yang membuat keputusan kemudian. Kalau di tinjau dari asas tersebut hukum di inggris tentunnya tidak mempunyai kemajuan. Di dalam kennyataannya tidak demikian dan hukum yang baru tetap terbentuk, karena hakim yang memutuskan kemudian mempunnyai ukuran ukuran tertentu.
4. Custom adalah kebiasaan yang sudah berlaku berabad-abad di inggris dan sudah merupakan sumber nilai-nilai. Dari nilai-nilai inilah hakim menggali serta membentuk norma-norma hukumnnya. Setelah custom itu di tuangkan dalam peraturan peradilan maka custom itu menjadi common law. Jadi terbentuknnya hukum di inggris itu adalah karena telah di tuangkannnya custom oleh hakim dalam suatu putusan pengadilan.
C. STATUTA
1. .Hukum Statuta adalah hukumtertulis dalam hukum Inggris akan tetapi ia mempunyai kekususan. 2. Kekhususan Statuta ini ialah bahwa statuta itu baru terintegrasi dalam system hukum Inggris.jikalau belum ditangkam dalam suatu putusan peradilan .
3. Statuta adalah suatu peraturan yang dibuat oleh parlemen Inggris.
5. HukumStatuta ini menjadi penting karena adanya kemajuan zaman dan semakin eratnya hubungan negate Inggris dengan Negara-negara lainnya.
6. pada umumnya yang dianggap sebagai hukum dalam art yang sebenarnya adalah Common law yang telah berkembang beerabad-abad dan menguasai sebagai besar daripada kehidupan hukum Inggris.jadi ,hukum menurut pandangan orng Inggris pada asasnya adalah hanya Common Law.
7. Lamban Laun huku yang tumbuh karena interpresentasi dari statute ini menjadi huku yang lebih penting daripada statute itu sendiri.
Hukum Inggris adalah sistem hukum di Inggris dan Wales,[1] sekaligus merupakan dasar
sistem hukum umum[2] yang dipakai oleh kebanyakan negara Persemakmuran (Commonwealth) [3] dan Amerika Serikat (sebagai lawan dari hukum perdata atau hukum plural di negara lain,
seperti hukum Skotlandia). Sistem hukum ini mulai dipakai saat Kerajaan Britania Raya dibangun dan dikelola, lalu membentuk sebuah dasar jurisprudensi di negara-negara Persemakmuran. Hukum Inggris yang dipakai di Amerika Serikat sejak zaman Revolusi juga termasuk bagian dari sistem Hukum Amerika Serikat, kecuali di Louisiana, dan merupakan dasar bagi kebijakan dan tradisi sistem hukum Amerika, walaupun jurisprudensi di sistem hukum Amerika Serikat tidak berganti.
Hukum Inggris diberlakukan secara ketat di Inggris dan Wales. Walaupun Wales telah memiliki sebuah Dewan Penyerahan, setiap legislasi yang diajukan oleh Dewan ini sudah diatur ketentuan pengajuannya dalam Undang-Undang Pemerintahan Wales tahun 2006, legislasi olehParlemen Britania Raya, dan oleh perintah sebuah dewan yang diberikan kewenangan oleh Undang-Undang Pemerintah Wales tahun 2006.Lebih jauh lagi bahwa legislasi, juga dengan peraturan yang dibuat oleh badan pemerintah di Inggris dan Wales, ditafsirkan oleh Dewan Hakim Bersama Inggris dan Wales.[4]
Esensi hukum umum Inggris adalah bahwa hukum ini dibuat oleh hakim yang duduk di pengadilan dengan menerapkan logika dan pengetahuan mereka tentang sistem hukum terdahulu (stare decisis). Keputusan pengadilan tertinggi di Inggris dan Wales bersifat mengikat bagi pengadilan-pengadilan di bawahnya. Sebagai contoh, tidak ada yang undang-undang parlementer yang
menyatakan bahwa pembunuhan itu ilegal karena pembunuhan merupakan kejahatan dalam hukum umum - jadi walaupun dalam UU Parlemen Inggris tidak tertulis bahwa pembunuhan itu ilegal, pembunuhan tetap ilegal dengan mengacu kepada kebijakan konstitusional pengadilan dan kasus-kasus terdahulu berkaitan dengan pembunuhan. Hukum umum dapat diubah dan dicabut oleh Parlemen, contohnya perubahan hukuman bagi pembunuh. Zaman dahulu pembunuh dihukum mati, tapi sekarang pembunuh mendapatkan kurungan seumur hidup.
Inggris dan Wales adalah konstituen dari Britania Raya, yang merupakan anggota dari Uni Eropa (UE) dan hukum UE juga berlaku di Britania Raya.[5] Uni Eropa terdiri dari negara-negara yang
Kehakiman Uni Eropa, sebuah pengadilan hukum perdata, memandu pengadilan di Inggris dan Wales untuk mengikuti hukum UE.
Hukum tertua dalam sistem hukum Inggris adalah Undang-Undang Marlborough yang dibuat pada tahun 1267.[6] 3 bagian dari Magna Carta yang merupakan sebuah perkembangan penting dalam
sistem hukum Inggris sebenarnya sudah disahkan pada tahun 1215, hanya saja disahkan kembali pada tahun 1295 karena para pembuat memutuskan untuk mengubah ulang isi Magna Carta.
C. Hukum Perkawinan Inggris
Perkawinan dapat dilakukan melalui gereja yang telah mendapatkan lisensi untuk melangsungkan perkawianan. Perkawinan yang dilangsungkan melalui gereja maka sertifikat perkawinannya dikeluarkan oleh gereja.
Sedangkan pernikahan yang dilakukan dikantor catatan sipil atau tempat lain yang mendapat izin dari pemerintah setempat maka sertifikat perkawinannya dikeluarkan kantor pencatatan tersebut. Terhadap perkawinan yang melalui kantor pencataan haruslah terlebih dahulu dipasang pengumuman selama lima belas hari dikantor register tersebut.
Batas usia minimal untuk dapat melakukan perkawinan adalah 18 tahun. Namun terhadap para pihak yang mengjukan perkawinan kurang dari usia tersebut tetap dapat melakukan perkawinan dengan adanya izin dari orang tua dan juga telah berusia 16 tahun.
Perkawianan poligami tidak dapat dilakukan di negara Inggris, dan bahkan dapat dianggap sebagai suatu kejahatan terhadap orang melakukan pernikahan poligami.
Terhadap perkawinan warga Negara Inggris yang dilakukan diluar negeri yang tidak termasuk kedalam negara persemakmuran tidak diharuskan untuk dicatatkan pada instansi pemerintah. Dan terhadap perkawinan yang dilakukan diluar negeri tersebut selama hukum Negara tersebut membenarkan perkawinan yang dilangsungkan maka perkawinan tersebut juga diakui di negara Inggris.
Hukum Keluarga
A. Pendahulua
Terbentuknya suatu keluarga itu karena adanya perkawinan. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk sebuah keluarga (rumah tangga) yang bahagia. Sehingga Keluarga dalam arti sempit artinya yaitu sepasang suami istri dan anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan itu, tetapi tidak mempunyai anak juga bisa dikatakan bahwa suami istri merupakan suatu keluarga.
Sedangkan definisi hukum kekeluargaan secara garis besar adalah hukum yang bersumber pada pertalian kekeluargaan. Pertalian kekeluargaan ini dapat terjadi karena pertalian darah, ataupun terjadi karena adanya sebuah perkawinan. Hubungan keluarga ini sangat penting karena ada sangkut paut nya dengan hubungan anak dan orang tua, hukum waris, perwalian dan pengampuan.
Istilah hukum keluarga berasal dari terjemahan kata familierecht (belanda) atau law of familie (inggris).[1]Istilah keluarga dalam arti sempit adalah orang seisi rumah, anak istri, sedangkan dalam arti luas keluarga berarti sanak saudara atau anggota kerabat dekat.[2] Ali affandi mengatakan bahwa hukum keluarga diartikan sebagai “Keseluruhan ketentuan yang mengatur hubungan hukum yang bersangkutan dengan kekeluargaan sedarah dan kekeluargaan karena perkawinan (perkawinan, kekuasaan orang tua, perwalian, pengampuan[3], keadaan tak hadir).[4]
Adapun pendapat-pendapat lain mengenai hukum keluarga, yaitu: a. Van Apeldoorn
Hukum keluarga adalah peraturan hubungan hukum yang timbul dari hubungan keluarga b. C.S.T Kansil
Hukum keluarga memuat rangkaian peraturan hukum yang timbul dari pergaulan hidup kekeluargaan
c. R. Subekti
Hukum keluarga adalah hukum yang mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang timbul dari hubungan kekeluargaan
d. Rachmadi Usman
Hukum kekeluargaan adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur mengenai hubungan antar pribadi alamiah yang berlainan jenis dalam suatu ikatan kekeluargaan
e. Djaja S. Meliala
Hukum keluarga adalah keseluruhan ketentuan yang mengatur hubungan hukum antara keluarga sedarah dan keluarga kerena terjadinya perkawinan
f. Sudarsono
Hukum kekeluargaan adalah keseluruhan ketentuan yang menyangkut hubungan hukum mengenai kekeluargaan sedarah dan kekeluargaan karena perkawinan[5]
Ada dua pokok kajian dalam definisi hukum keluarga yang dikemukakan oleh Ali Affiandi, yaitu mengatur hubungan hukum yang berkaitan:
1. Keluarga sedarah dan
2. Perkawinan
Pertalian keluarga karena turunan disebut keluarga sedarah,artinya sanak saudara yang senenek moyang. Keluarga sedarah ini ada yang ditarik menurut garis bapak yang disebut matrinial dan ada yang ditarik menurut garis ibu dan bapak yang disebutparental atau bilateral.
Pertalian keluarga karena perkawinan disebut keluarga semenda, artinya sanak saudara yang terjadi karena adanya ikatan perkawinan, yang terdiri dari sanak saudara suami dan sanak saudara istri. Sedangkan pertalian keluarga karena adat disebut keluarga adat, artinya yang terjadi karena adanya ikatan adat, misalnya saudara angkat.[6]
C. Sumber Hukum Keluarga
sumber hukum tak tertulis adalah sumber hukum yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Sumber hukum keluarga tertulis, dikemukakan berikut ini 1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata)
2. Peraturan Perkawinan Campuran (Regelijk op de Gemengdehuwelijk),Stb.1898 Nomor 158
3. Ordonasi perkawinan Indonesia, Kristen, Jawa, Minahasa, dan Ambon, Stb.1933 Nomor 74
4. UU Nomor 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (beragama Islam)
5. UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
6. PP Nomor 9 tahun 1975 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan
7. PP Nomor 10 Tahun 1983 jo.PP Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian
Bagi Pegawai Negeri Sipil
Selain itu yang 7 ini yang menjadi sumber hukum keluarga tertulis adalah Inpres Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Kompilasi Hukum Islam ini hanya berlaku bagi orang-orang yang beragama Islam saja.[7]
D. Asas-Asas Hukum keluarga
Berdasarkan hasil analisis terhadap KUH Perdata dan UU Nomor 1 tahun 1974 dirumuskan beberapa asas yang cukup prinsip dalam Hukum Keluarga, yaitu:
a. Asas monogamy,[8] asas ini mengandung makna bahwa seorang pria hanya boleh mempunyai
seorang istri, dan seorang istri hanya boleh mempunyai seorang suami.
b. Asas konsensual,[9] yakni asas yang mengandung makna bahwa perkawinan dapat dikatakan
sah apabila terdapat persetujuan atau consensus antara calon suami-istri yang akan melangsungkan perkawinan.
c. Asas persatuan bulat, yakni suatu asas dimana antara suami-istri terjadi persatuan harta benda
yang dimilikinya.(Pasal 119 KUHPerdata)
d. Asas proporsional,yaitu suatu asas dimana hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak
dan kewajiban suami dalam kehidupan rumah tangga dan di dalam pergaulan masyarakat.( Pasal 31 UUNo.1 Tahun 1974 tentang perkawinan)
e. Asas tak dapat dibagi-bagi,yaitu suatu asas yang menegaskan bahwa dalam tiap perwalian hanya
terdapat seorang wali. Pengecualian dari asas ini adalah
1. Jika perwalian itu dilakukan oleh ibu sebagai orang tua yang hidup lebih lama maka kalau ia
kawin lagi, suaminya menjadi wali serta/wali peserta[10]
2. Jika sampai ditunjuk pelaksana pengurusan yang mengurus barang-barang dari anak di bawah
umur di luar Indonesia[11]
f. Asas prinsip calon suami istri harus telah matang jiwa raganya.( Pasal 7 UU No.1 Tahun 1974)
g. Asas monogamy terbuka/poligami terbatas, asas yang mengandung makna bahwa seorang suami
dapat beristri lebih dari seorang dengan izin dari pengadilan setelah mendapat izin dari istrinya dengan dipenuhhinya syarat-syarat yang ketat[12]
h. Asas perkawinan agama, asas yang mengandung makna suatu perkawinan hanya sah apabila
i. Asas perkawinan sipil, asas yang mengandung makna bahwa perkawinan adalah sah apabila
dilaksanakan dan dicatat oleh pegawai pencatat sipil (kantor catatan sipil), perkawinan secara agama belum berakibat sahnya suatu perkawinan.[13]
E. Ruang Lingkup Hukum Keluarga
Setelah kita mengetahui apa pengertian hukum keluarga maka dapat kita ketahui bahwa apa-apa saja ruang lingkup dalam hukum keluarga. Ruang linkup dalam hukum keluarga itu meliputi: perkawinan, perceraian, harta benda dalam perkawinan, kekuasaan orang tua, pengampuan, dan perwalian. Namun di dalam bagian hukum keluarga hanya difokuskan pada kajian perkawinan, perceraian, dan harta benda dalam perkawinan.
F. Hak dan Kewajiban dalam Hukum Keluarga
Sebagai suatu hubungan hukum, perkawinan menimbulkan hak dan kewajiban suami istri. Yang dimaksud “hak” ialah sesuatu yang merupakan milik atau dapat dimiliki oleh suami atau istri yang timbul karena perkawinannya. Sedangkan “kewajiban” ialah sesuatu yang harus dilakukan atau diadakan oleh suami atau istri untuk memenuhi hak dan dari pihak yang lain.[14]
Hak dan kewajiban dalam hukum keluarga dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: a. Hak dan kewajiban antara suami istri
b. Hak dan kewajiban antara orang tua dengan anaknya
c. Hak dan kewajiban antara anak dengan orang tuanya manakala oarng tuanya telah mengalami
proses penuaan[15]
Hak dan kewajiban antara suami istri adalah hak dan kewajiban yang timbul karena adanya perkawinan antara mereka. Hak dan kewajiban suami istri diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.
1. Hak dan kewajiban antara suami istri adalah sebagai berikut:
a) Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi
dasar dari susunan masyarakat[16]
b) Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan
rumah tangga dan pergaulan hidup dalam masyarakat[17]
c) Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum( Pasal 31 ayat 2)
d) Suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga.( Pasal 31 ayat 3)
e) Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap,yang ditentukan bersama.( Pasal 31
ayat 4 dan Pasal 32 ayat 1)
f) Suami istri wajib saling mencintai , hormat-menghormati, setia dan member bantuan lahir batin
yang satu dengan yang lain.( Pasal 33)
g) Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah
tangga sesuai dengan kemampuannya.(Pasal 34 ayat 1)
h) Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.( Pasal 31 ayat 2)
i) Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan
kepada Pengadilan ( Pasal 31 ayat 3) [18]
Hak dan kewajiban suami istri yang diatur dalam dalam UU perkawinan pada dasarnya mengandung persamaan dengan hak dan kewajiban yang diatur dalam Hukum Islam.
a. Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal
urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama
b. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah
tangga dengan kemampuannya
c. Suami wajib memberi pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan belajar
pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa d. Sesuai dengan penghasilan suami menanggung:
1. Nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi si istri
2. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak
3. Biaya pendidikan bagi si anak
e. Kewajiban suami terhadap istrinya seperti tersebut pada ayat (4) huruf a dan b di atas mulai
berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari istrinya
f. Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya sebagaimana tersebut pada
ayat (4) huruf a dan b di atas
g. Kewajiban suami sebagaimana dimaksud pada ayat (5) gugur apabila istri nusyuz[19]
Selain itu , suami juga mempunyai kewajiban untuk menyediakan tempat kediaman untuk istri dan anak-anaknya. Di dalam Kompilasi Hukum Islam ditegaskan bahwa:
1. Suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknya atau bekas istri yang
masih iddah
2. Tempat kediaman adalah tempat tinggal yang layak untuk istri selama dalam ikatan perkawinan,
atau dalam iddah talak atau iddah wafat
3. Tempat kediaman disediakan untuk melindungi istri dan anak-anaknya dari gangguan pihak lain,
sehingga mereka merasa aman dan tentram. Tempat tinggal juga berfungsi sebagai tempat menyimpan harta kekayaan, sebagai tempat menata dan mengatur alat-alat rumah tangga
4. Suami wajib melengkapi tempat kediaman sesuai dengan kemampuannya serta disesuaikan
dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya, baik berupa alat perlengkapan rumah tangga maupun sarana penunjang lainnya
Adapun suami yang beristri lebih dari 1 orang, juga di atur dalam Kompilasi Hukum Islam
1. Suami yang mempunyai istri lebih dari seorang berkewajiban memberikan tempat tinggal dan
biaya hidup kepada masing-masing istri secara berimbang menurut besar kecilnya jumlah keluarga yang ditanggung masing-masing istri, kecuali jika ada perjanjian perkawinan
2. Dalam hal para istri ikhlas, suami dapat menempatkan istrinya dalam satu tempat kediaman
Di dalam Kompilasi Hukum Islam juga dijelaskan beberapa kewajiban bagi istri yang dianggap nusyuz[20]
a. Istri dapat dianggap nusyuz jika ia tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagaimana
dimaksud dalam pasal 83 ayat (1) kecuali dengan alasan yang sah
b. Selama istri dalam nusyuz, kewajiban suami terhadap istrinya tersebut pada pasal 80 ayat (4)
huruf a dan b tidak berlaku kecuali hal-hal untuk kepentingan anaknya
c. Kewajiban suami tersebut pada ayat (2) di atas berlaku kembali sesudah istri tidak nusyuz
Adapun dalam bukunya Lili Rasjidi juga membagi hak dan kewajiban suami istri dalam dua kategori,ada kewajiban umum antara suami istri dan ada pula kewajiban khusus baik suami maupun istri. Menurutnya, kewajiban umum di antara keduanya adalah:
a. Kedua pihak hendaknya saling hormat-menghormati, sopan santun dan penuh pengertian
b. Memelihara kepercayaan dan tidak membuka rahasia masing-masing walaupun pada saat ada
kericuhan
c. Masing-masing harus sabar atas kekurangan dan kelemahan yang ada pada tiap-tiap manusia,
sehingga tidak cepat-cepat marah, akan tetapi menunggu dengan tenang untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan hingga dapat diakhiri dengan kebijaksanaan dan pertimbangan
d. Jangan cemburu tanpa alasan, juga tidak mendengar hasutan orang, segala sesuatu periksa
terlebih dahulu
e. Menjauhi bibit-bibit percekcokan sehingga tidak terjadi perselisihan- perselisihan yang tidak
diinginkan, dan jika terjadi juga perselisihan, hadapilah dengan keadaan tenang
f. Rela berkorban untuk kepentingan suami istri dan saling menghormati keluarga masing-masing
g. Akhirnya kedua belah pihak harus berusaha menjadikan rumah tangganya sebagai muara yang
aman dan pelabuhan yang damai, tempat peristirahatan yang teduh untuk seluruh anggota keluarga, baik pada waktu suka maupun dalam keadaan duka, bersendikan tawakal dan iman kepada Allah swt dan syukur atas nikmatnya[21]
Sedangkan yang termasuk dalam kategori Kewajiban khusus bagi istri kepada suaminya adalah
a. Membantu suami dalam memimpin kesejahteraan dan keselamatan keluarga
b. Hormat dan patuh kepada suami dalam batas-batas tidak menyimpang dri ajaran agama
c. Meyenangkan dan berbakti kepada suami dengan tulus ikhlas, sedapat-dapatnya selalu bermuka
jernih dan manis
d. Menerima dan menghormati pemberian suami walaupun sedikit, serta mencukupkan nafkah
yang diberikan suami dengan kekuatan dan kemampunnya, hormat, cermat, dan bijaksana
e. Tidak mempersulit dan memberatkan suami akan tetapi bersifat ridha dan syukur. Istri utama
ialah yang dapat mengetahui kemauan suami sebelum dikatakan suami, jika terlihat tanda-tanda suami dalam kesusahan
f. Memelihara diri serta menjaga kehormatan dan harta benda suami, baik dihadapan atau
dibelakangnya
g. Memupuk rasa kasih saying dan tidak bertingkah laku yang dapat mendorong suami dapat
berbuat salah
h. Memelihara dan mendidik anak sebagai amanah Allah dan nikmatnya yang tak ternilai
i. Mengatur dan mengurus rumah tangga dan menjadikannya rumah tangga islam yang bahagia
dunia dan akhirat[22]
J. Istri adalah ibu rumah tangga (Pasal 79 ayat 1 Kompilasi Hukum Islam)
Adapun kewajiban khusus suami kepada istri menurut Lili Rasjidi, sebagai berikut: a. Jadilah seorang suami yang baik membimbing dan memimpin keluarga lahir batin
b. Memberi nafkah keluarga menurut kemampuan
c. Hormat dan sopan santun, apa lagi istri dalam keadaan kesulitan
e. Sabar akan kekurangan-kekurangan istri dan berrusaha menambah dan memperbaiki serta
mempertinggikan kecerdasan
f. Memberi kebebasan untuk berfikir dan bertindak sesuai dengan ajaran agama, tidak
mempersulit dan menyiksa pikiran, apa lagi mendorongnya untuk berbuat salah g. Penuh pengertian, disiplin dan berwibawa berdasarkan kasih saying dan cinta kasih
h. Berusaha dan membantu istri untuk menciptakan suasana yang damai dan kerukunan keluarga,
demi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat i. Hormat terhadap dan sopan keluarga istri
j. Dapat mengatasi keadaan dan mencari penyelesaian yang bijaksana jika terjadi perselisihan
k. Sabar, jujur dan memelihara kepercayaan serta dapat menyenangkan istri dengan cara yang halal
l. Jadilah suami yang baik dan simpatik pasti engkau akan mendapat istri yang baik dan
menarik[23]
Adapun Hak dan kewajiban antara orang tua dengan anak diatur dalamPasal 45 sampai dengan Pasal 49 UU No. 1 Tahun 1974.
Hak dan kewajiban orang tua dan anak, sebagai berikut:
1. Orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya. Kewajiban oarng
tua berlaku sampai anat itu kawin atau dapat berdiri sendiri
2. Anak wajib menghormati orang tua dan menaati kehendak mereka yang baik
3. Anak wajib memelihara dan membantu orang tuanya, manakala sudah tua
4. Anak yang belum dewasa, belum pernah melangsungkan perkawinan, ada di bawah kekuasaan
orang tua( Pasal 47 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974)
Orang tua mewakili anak dibawah umur dan belum dan belum pernah kawin mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan
5. Orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang
dimiliki anaknya yang belum 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, kecuali kepentingan si anak menghendakinya
Hak dan kewajiban yang ke tiga dalam keluarga,yakni Alimentasi. Antara orang tua dengan anak terdapat kewajiban,alimentasi yaitu kewajiban timbal balik antara orang tua dengan anak seperti yang ditentukan dalam pasal 45 dan 46 UU No. 1 Tahun 1974 dan Pasal KUH Per. Orang tua dibebani kewajiban untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya yang belum dewasa sesuai dengan kemampuan masing-masing, demikian sebaliknya anak yang telah dewasa wajib memelihara menurut kemampuannya, orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas bila mereka memerlukan bantuannya.[24]
KESIMPULAN
Dan Adapun sumber hukum dalam hukum keluarga tersebut ada dua macam, yaitusumber hukum tertulis dan tidak tertulis. Sedangkan Ruang lingkup dalam hukum keluarga itu meliputi: perkawinan, perceraian, harta benda dalam perkawinan, kekuasaan orang tua, pengampuan, dan perwalian. Namun di dalam bagian hukum keluarga hanya difokuskan pada kajian perkawinan, perceraian, dan harta benda dalam perkawinan.
Minggu, 23 November 2014
PERBANDINGAN HUKUM INGGRIS DAN JERMAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tiap negara mempunyai sistem hukumnya sendiri, karena hukum itu adalah gejala masyarakat, bagian daripada kebudayaan bangsa dan dipengaruhi oleh iklim, lingkungan dan cara kehidupan dalam masyarakat hukum yang bersangkutan. Dengan beragamnya sistem hukum tersebut maka sangat beratlah untuk mengetahui semua sistem-sistem hukum itu. Oleh karena itu comparatist harus mencari kemudahan dalam memproses perbandingan hukum yakni dengan mencari lebih dulu titik persamaan dan titik perbedaan. Untuk itu penulis dalam makalah ini akan membahas tentang perbandingan sejarah/perkembangan sistem hukum Inggris dengan sistem hukum Romawi Jerman dalam bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah dan perkembangan hukum Inggris?
2. Bagaimana sejarah dan perkembangan hukum Romawi Jerman?
C. Kegunaan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah dan perkembangan hukum Inggris.
2. Untuk mengetahui bagaimana sejarah dan perkembnagan hukum Romawi Jerman.
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Hukum Inggris dan Perkembangannya
1. Sejarah hukum Inggris
Perubahan-perubahan di Inggris dapat dikatakan evolusioner, sedangkan di Eropa Kontinental perubahannya berjalan secara revolusioner.
Pada waktu sekarang keadaan tersebut masih tampak pada parlemen Inggris yang terdiri dari House of Lord dan House of Common sesuai dengan susunan masyarakatnya yang didasarkan pada golongan aristocrat dan rakyat jelata dalam abad pertengahan. Sebaliknya di Eropa daratan susunan masyarakat dan negara yang feodalistik mencapai puncaknya menjadi absolutisme pada abad pertengahan yang secara drastis berubah menjadi negara konstitusional seperti yang terjadi pada revolusi Perancis. Ini berarti adanya perombakan secara revolusioner dari negara monarki absolute menjadi negara konstitusional.
Dengan kepribadiannya yang khusus terbentuklah hukum yang karakteristik. Inggris dengan corak yang khas yang berbeda dengan hukum di negara yang termasuk negara-negara Eropa Kontinental atau keluarga hukum Romawi Germania, meskipun hukum Inggris itu sendiri dari masa ke masa mengalami perubahan, sehubungan dengan adanya perkembangan pemikiran dari orang-orang Inggris sendiri. Hukum Inggris itu selain di Inggris sendiri juga berlaku di semua negara yang secara politis mempunyai ikatan dengan Inggris. Terhadap negara-negara tersebut hukum Inggris mempunyai pengaruh yang besar.
Dalam arti sempit dan murni hukum Inggris hanya berlaku di daerah yang dinamakan England dan Wales. Ia tidak berlaku di Irlandia Utara, Skotlandia, Kepulauan Cina dan Kepulauan Man. Hukum Inggris tersebut menduduki tempat yang penting dalam keluarga hukum Common law karena dianggap sebagai pola bagi perkembangan hukum di daerah-daerah lain dalam lingkungan hukum tersebut. Seperti halnya hukum Romawi-Jerman yang terbagi dalam dua kelompok hukum publik dan privat, maka hukum Inggris juga terbagi dalam dua kelompok hukum yakni hukum Common law dan hukum Equity di samping Statute law. Common law adalah bagian dari hukum Inggris. Sedangkan hukum Equity adalah hukum yang didasarkan pada natural justice, keadilan yang timbul dari hati nurani. Hukum ini mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan dengan Common law. Equity menciptakan hukum baru yang disebut doctrine undue influences yang pada hakikatnya merupakan suatu moral imperative dalam rangka melaksanakan hal-hal yang tidak dapat dilaksanakan oleh Common law. Putusan-putusan hukum Equity memperbaiki dan melengkapi Common law.
Adapun Statuta Law adalah hukum tertulis di Inggris yang dibuat oleh parlemen karena Common law yang didasarkan pada Yurisprudensi tidak dapat mengimbangi munculnya masalah-masalah yang baru (secara cepat) sesuai dengan perkembangan masyarakat. Untuk mengimbangi kelambatan yurisprudensi yang dibatasi oleh jumlah perkara yang diputus oleh hakim, maka dibuatlah peraturan-peraturan tertulis yang dapat disamakan dengan Undang-undang. Jadi Statuta Law berfungsi mengkoreksi dan melengkapi kekurangan-kekurangan daripada Common law. Adapun bagi orang Inggris sendiri sedikit banyak Statuta law dianggap sebagai hukum yang bercorak asing/tidak mempunyai corak Inggris dan pada asasnya hukum Inggris itu adalah Common law.
2. Keadaan sebelum abad 13
Dengan cara pemerintahan yang bersifat memusat (sentral) dan tanah di seluruh Inggris menjadi milik raja. Dengan cara pemerintahan yang feodalistis maka sistem pemerintahan di Inggris adalah pembagian dalam wilayah-wilayah yang dikuasakan kepada apa yang dinamakan Lord. Rakyat jelata yang ingin mengerjakan tanah, harus menyewa kepada Lord dan yang terakhir ini member upeti kepada raja. Lambat laun kekuasaan Lord sebagai tuan tanah menjadi sedemikian besarnya sehingga ia dapat mendirikan pengadilannya sendiri. Pengadilan ini namanya minorial court yang menjalankan tugasnya berdasarkan hukum kebiasaan setempat dan hukum yang ditetapkannya sendiri.[1]
Kemudian terjadi penyalahgunaan kekuasaan serta penyelewengan-penyelewengan yang merugikan rakyat. Keadaan tersebut yang semula tidak diketahui oleh raja, akhirnya tercium juga. Untuk mengatasi keadaan tersebut raja Henry II (1154-1189) mengambil beberapa kebijaksanaan yaitu:
a. Disusunlah suatu kitab yang memuat hukum Inggris pada waktu itu. agar mendapatkan
kepastian hukum kitab tersebut ditulis dalam bahasa latin oleh Glanvild chief justitior dari Henry II dengan judul Legibus Angliae.
b. Diberlakukannya sistem writ yakni surat perintah dari raja kepada tergugat agar membuktikan
bahwa hak-hak dari penggugat itu tidak benar. Dengan demikian tergugat mendapat kesempatan untuk membela diri.
c. Diadakan sentralisasi pengadilan (Royal Court) yang tidak mendasarkan pada hukum kebiasaan
setempat melainkan pada Common Law yang merupakan suatu unifikasi hukum kebiasaan yang sudah diputus oleh Hakim (Yurisprudensi). Hal ini merupakan suatu kemajuan yang semula hanya ada minorial court yang didirikan oleh para Lord.[2]
3. Timbulnya sistem Equity
Equity berasal dari bahasa Prancis equite, artinya justice atau fairness yaitu keadilan.
[3] Sedangkan sistem hukum equity adalah sistem hukum yang didasarkan pada hukum alam/keadilan yang timbulnya mempunyai sejarahnya sendiri.[4] Pada waktu pemerintahan raja Henry II pengadilan yang ada ialah Royal Court dan sistem writ yang memberlakukan Common Law yang bersumber pada yurisprudensi. Dengan sistem writ, maka perkara yang dapat diadili sangat terbatas dan banyak orang yang lari mencari keadilan pada pimpinan gereja atau Lord Chancellor. Pengadilan gereja tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku pada saat itu, hanya ada perbedaan antara kedua pengadilan yang ada di Inggris tersebut yakni bahwa pengadilan court of chancery didasarkan kepada hukum gereja/kanonik dan hakimnya adalah seorang rohaniawan.[5]
Lama kelamaan semakin banyak orang yang mencari keadilan kepada Lord of Chancellor dan akhirnya berkembang, sehingga terbentuklah pengadilan tersendiri menjadi apa yang dinamakan Court of Chancery di samping Royal court yang sudah ada. Court of Chancery tersebut merupakan suatu pengadilan yang sangat penting dalam mengadili masalah trust. Trust adalah hak waris yang diberikan kepada orang laki-laki oleh Common law. Orang wanita tidak berhak sebagai ahli waris meskipun ia sudah dewasa dan demikian pula anak-anak. Akibatnya ialah bahwa seorang suami yang ingin menjamin kehidupan anak dan isterinya, apabila ia sudah meninggal dunia terpaksa mewariskan/menitipkan harta kekayaannya kepada orang laki-laki lain untuk dijadikan cagak hidup anak dan isterinya yang ditinggalkan.
menjadi hidup terlantar. Untuk mengadu kepada Royal court tentang hal ini tidak mungkin, karena Common law justru melindungi hak kaum laki-laki tersebut (right in Common law). Sebaliknya para janda beserta anak-anaknya meminta keadilan kepada court of chancery yang menciptakan right in Equity bagi mereka berdasarkan natural justice (keadilan) dan hukum kanonik. Kemudian dengan adanya reorganisasi pengadilan di Inggris (judicature act pada tahun 1873-1875) pengadilan Royal Court dan Court of Chancery diletakkan di bawah satu atap. Tugas dalam penyelesaian perkara sudah tidak berbeda lagi. Artinya perkara-perkara Equity (cases at Equity) sama-sama dapat diajukan ke salah satu pengadilan tersebut. Namun demikian di dalam praktik orang-orang tidak mau mematuhinya. Mereka tetap mengajukan tuntutannya kepada masing-masing pengadilan sesuai denga jenis perkaranya.[6]
4. Faktor yang mempengaruhi perkembangan hukum di Inggris
Seperti telah diketahui asas daripada hukum Common law adalah stare decisisartinya bahwa hakim dalam memutuskan perkara harus mendasarkan pada putusan hakim sebelumnya (yurisprudensi). Dengan demikian pertumbuhan hukum di Inggris menjadi lambat karena disamping tergantung kepada jumlah serta macam perkara yang diputus oleh pengadilan, hakim tidak dapat mengembangkan pendapatnya. Di dalam kenyataannya pertumbuhan hukum Inggris tidak selambat seperti yang diperkirakan orang, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya yaitu:[7]
a. Faktor suasana
Kalau dilihat dari asas stare decisis saja memang pertumbuhan hukum di Inggris akan terlambat. Hal ini dapat terjadi apabila masalahnya sama dan segala-galanya sama pula (yurisprudensi). Tetapi dalam kenyataannya tidak ada suatu perkara yang keadaan seluruhnya sama. Jadi yang dapat diikuti oleh hakim berikutnya terbatas pada pokok perkaranya saja, sedangkan yang berhubungan dengan suasananya hakim yang belakangan mempunyai penilaian tersendiri. Dengan perkataan lain meskipun asas stare decisis diikuti, tetapi hakim terdahulu. Namun demikian menurut Soenarjati, putusan hakim tidak dapat dikatakan subjektif karena:
1) Seorang hakim telah mempelajari ilmu hukum yang mengandung nilai-nilai objektif.
2) Seorang hakim dalam memutuskan sesuatu juga memperhatikan pendapat-pendapat dari sarjana
lainnya.
3) Jika seorang hakim memutuskan perkara secara subjektif maka kemungkinan besar dalam
pengadilan banding putusannya akan ditolak.
b. Faktor reasonableness
Yang dimaksud dengan faktor reasonableness atau redelijlkheid adalah alasan yang pantas. Reasonable ini dinilai dalam kerangka system hukum yang bersangkutan, dalam rangka kemungkinan dan atau keadaan, sehingga putusan hakim lain putusan hakim berikutnya dapat berbeda dengan yurisprudensi.
c. Faktor statute low
Meskipun yurisprudensi juga memberikan kemungkinan terbentuknya hukum yang baru, namun mengingat banyaknya masalah yang dihadapi, pertumbuhan daripada hukum masih dianggap lambat. Maka dibuatlah apa yang dinamakan statute law ialah hukum yang dibentuk oleh parlemen (written law). Kewenangan parlemen dalam rangka pembentukan hukum memberikan berbagai keuntungan ialah:[8]
2) Parlemen dapat menyimpang dari hukum yang pernah diputus oleh hakim.
3) Parlemen dapat mengubah putusan pengadilan dengan suatu undnag-undang (undang-undang
dapat mengubah yurisprudensi).
KONSEPSI KELUARGA HUKUM INGGRIS
A. Asas Preseden
1. Merupakan pelengkap dari Equity dan merupakan koreksi dari hukum Common law, jikaCommon law dirasakan tidak adil, misalnya dalam Common law terjadi wanprestasi maka yang dapat dituntut hanya ganti rugi oleh pihak yang berpiutang , tapi sebenarnya kerugian pihak yang berpiutang melebihi daripada ganri rugi, oleh karena ia sangat berkepentingan.
2. Dalam Common law pembayaran kembali melebihi apa yang dijanjikan adalah tidak mungkin, karena norma hukumnya tidak ada, maka pihak-pihak yang berkepentingan menggunakan Equity. Equity mengkoreksi atau melengkapi Common law maka dari itu asas precedent harus diberlakukan dalam equity ini.
B. STATUTA
1. Hukum Statuta adalah hukum tertulis dalam bentuk tertulis dalam hukum Inggris mempunyai kekhususan
2. Kekhususan statuta ini bahwa statuta itu baru terintegrasi dalam sistem hukum Inggris jikalau belun dituangkan dalam putusan Peradilan (Jurisprudensi). Merupakan sumber hukum yang kedua dalam hukum Inggris
3. Statuta adalah suatu peraturan yang dibuat oleh parlemen Inggris, jadi dapat disamakan dengan peraturan yang berbentuk UU.