• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (USU) Angkatan 2009/2010 Megenai Obstructive Sleep Apnoea (OSA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (USU) Angkatan 2009/2010 Megenai Obstructive Sleep Apnoea (OSA)"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATRA UTARA ( USU ) ANGKATAN

2009 / 2010 MEGENAI OBSTRUCTIVE SLEEP APNOEA ( OSA )

Oleh:

EMTHADHULLAH B. SEENI MOHAMED NIM: 070100320

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATRA UTARA ( USU ) ANGKATAN

2009 / 2010 MEGENAI OBSTRUCTIVE SLEEP APNOEA ( OSA )

Nama : Emthadhullah B. Seeni Mohamed NIM : 070100320

Pembimbing Penguji

... ... ( dr. Andrina Rambe, Sp.THT ) ( dr. Juliandi Harahap MA )

NIP : NIP :

...

( dr. mahyono)

Medan, 1 December 2010 Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera

……….

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

Hasil Penelitian dengan Judul :

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATRA UTARA ( USU ) ANGKATAN

2009 / 2010 MENGENAI OBSTRUCTIVE SLEEP APNOEA ( OSA )

Yang dipersiapkan oleh :

EMTHADHULLAH B. SEENI MOHAMED 070100320

Hasil Penelitian ini telah diperiksa dan disetujui untuk dilanjutkan ke Lahan Penelitian

Medan, 27 November 2010 Disetujui,

Dosen Pembimbing

(4)

ABSTRAK

Obstructive Sleep Apnea (OSA) ditandai dengan episode berulang dari keruntuhan dan obstruksi jalan napas atas saat tidur. Episode obstruksi ini berhubungan dengan desaturasi oksihemoglobin secara berulang ketika tidur. OSA terkait dengan rasa kantuk di siang hari yang berlebihan. Kematian pada usia produktif sebagian besar dikarenakan menderita OSA yang kemudian mengalami komplikasi. OSA lebih banyak menyerang pria daripada wanita, dengan perbandingan 7:1. Pada usia kurang dari 40 tahun, OSA menyerang 25% pria dan 10-15% wanita, sedangkan di atas usia 40 tahun, OSA menyerang 60% pria dan 40% wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Sumatera Utara mengenai Obstructive Sleep Apnea.

Sebanyak 20 pertanyaan yang berisi tentang pengertian OSA, faktor-faktor resiko OSA dan pencegahan OSA digunakan untuk mengukur pengetahuan mahasiswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa tentang OSA yang diberikan kepada 82 mahasiswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45 (54.9%) responden mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang OSA, manakala 31 (37.8%) mahasiswa mempunyai tingkat pengetahuan yang sedang dan 6 (7.3%) responden mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang.

(5)

ABSTRACT

Obstructive Sleep Apnea (OSA) is characterized by repeated episodes of collapse and upper airway obstruction during sleep. Episode of obstruction is associated with desaturation of oxyhemoglobin repeatedly during sleep. OSA is associated with excessive daytime sleepiness. Dr. Syahrial MH Sp ENT, also said the death at productive age mainly due to suffering from OSA, who later suffered from complications. OSA is more common in men than women, with a ratio of 7:1. At the age of less than 40 years, OSA occured 25% of men and 10-15% of women, while over the age of 40 years, OSA occured 60% of men and 40% female. The objective of this study is to access the knowledge of students at the University of North Sumatara on Obstructive Sleep Apnea

Measure of knowledge was obtain via self-administrated questionnaires composed of 20 question. The questions were about definition of OSA, risk factor associated with OSA and the prevention of OSA. This study is a descriptive study with a cross-section design. A total of 82 students from 2009/2010 batch students were asked to fill the questionnaire.

The results showed that 45 (54.9%) of respondents have a high level of knowledge, 31 (37.8%) students have moderate level of knowledge about OSA. 6 (7.3%) respondents have low level of knowledge about OSA.

The conclusion is, student should be furnished wit the necessary information on risk factor for OSA and preventive measures that are applicable to the students. This knowledge should allow then to plan effective ways to prevent OSA in the future.

(6)

Kata Pengatar

Puji dan Syukur saya panjatkan kehidrat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, dan petunjuk sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini bertahap dengan judul ‘Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (USU) Angkatan 2009 / 2010 Mengenai Obstructive Sleep Apnoea (OSA) ‘.

Sekalipun tulisan ini bertujuan untuk mendapatkan gelaran Sarjana Kedokteran di Universitas Sumatra Utara tetapi saya berharap bahawa tulisan ini dapat memberikan manfaat pada para mahasiswa USU mengenai tingkat pengetahuan tetang OSA dan juga diharapkan tulisan ini dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh para peneliti selanjutnya.

Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan setinggi-tinggi terima kasih kepada dr. Andrina Rambe. Selaku dosen pembimbiing saya yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan masukan, bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan karya tulis ini. Tidak dilupakan juga saya mengucapkan terima kasih kepadanya:

1. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah siregar, Sp.PD – KGEH, selakuDekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatara Utara.

2. Seluruh dosen dari departemen CRP yang telah turut membimbing dan mengajarkannya cara – cara pengumpulan data.

3. Seluruh mahasiswa 2009 USU yang sudi berpartisipasi dalam penelitian ini.

4. Ayananda dan Ibunda ( Ayahanda: Seeni Mohamed dan Ibunda: Taj Nesa Begum) tercinta yang telah sentiasa memberikan doa dan dukungan yang tidak terhingga.

(7)

Semoga Tuhan merahmati dan membalas budi baik semua pihak yang telah berperan serta dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga ilmu yang diperoleh dari tulisan ini bermanfaat kepada orang lain dan khususnya kepada saya.

Penulis,

(8)

ULASAN RANCANGAN PENELITIAN

Latar Belakang : Apnea tidur obstruktif merupakan kelainan tidur yang paling umum. Dampaknya terlihat pada tidur yang terganggu, sering terjaga dan kualitas tidur yang rendah. Saat siang hari, pasien merasa mengantuk berlebihan, konsentrasi rendah, daya ingat turun dan mudah marah. Dalam jangka panjang kondisi ini memiliki konsekuensi medis seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke dan kematian mendadak selagi tertidur.

Jika pasien yang mendengkur merasakan gejala kelelahan, kurang konsentrasi, mengantuk pada siang hari, rasa tercekik pada malam hari, berarti dia mengalami masalah medis berat yang disebut Apnea Tidur Obstruktif (OSA, Obstructive Sleep Apnoea).

Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cendrung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan dan Sadock melaporkan kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan tidur kronik (10-15%) disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol.

Menurut data internasional of sleep disorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur adalah sebagai berikut: Penyakit asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan (40-50%), kram kaki malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah (5-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%), depresi (65). Demensia (5%), gangguan perubahan jadwal kerja (2-5%), gangguan obstruksi sesak saluran nafas (1-2%), penyakit ulkus peptikus (<1%), narcolepsy (mendadak tidur) (0,03%-0,16%)

Tujuan Penelitian : mengetahui gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara ( USU ) angkatan 2009/2010 mengenai Obstructive Sleep Apnoea ( OSA ).

Metode Penelitian : penelitian dilakukan secara deskriptif bersifat prospektif. Populasi penelitian : Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (

(9)

DAFTAR ISI 2.2.3 Patofisiologi Mendengkur dan OSA……….. 2.2.4 Klasifikasi……… BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 26

3.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 26

3.2 Variable dan Definisi Operasional ... 26

(10)

4.1 Jenis Penelitian ... 29

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 29

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 29

4.3.1 Populasi ... 29

4.3.2 Sampel ... 30

4.3.3 Data Primer ... 31

4.3.4 Data sekunder ... 31

4.4 Instrumen Penelitian ... 31

4.5 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 31

4.6 Teknik Penilaian/Skoring ... 32

4.7 Rencana Pengolahan dan Analisis Data ... 33

4.8 Langkah-langkah Penelitian ... 34

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Contoh Skoring pada Skala Kantuk Epworth 22 3.1 Variable, Definisi Operasional, Alat Ukur , 31

Hasil Ukur dan Skala Ukur

(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar 1 Faktor Yang Berperan Menyebabkan Patensi dan Kollaps Jalan Nafas

(13)

ABSTRAK

Obstructive Sleep Apnea (OSA) ditandai dengan episode berulang dari keruntuhan dan obstruksi jalan napas atas saat tidur. Episode obstruksi ini berhubungan dengan desaturasi oksihemoglobin secara berulang ketika tidur. OSA terkait dengan rasa kantuk di siang hari yang berlebihan. Kematian pada usia produktif sebagian besar dikarenakan menderita OSA yang kemudian mengalami komplikasi. OSA lebih banyak menyerang pria daripada wanita, dengan perbandingan 7:1. Pada usia kurang dari 40 tahun, OSA menyerang 25% pria dan 10-15% wanita, sedangkan di atas usia 40 tahun, OSA menyerang 60% pria dan 40% wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Sumatera Utara mengenai Obstructive Sleep Apnea.

Sebanyak 20 pertanyaan yang berisi tentang pengertian OSA, faktor-faktor resiko OSA dan pencegahan OSA digunakan untuk mengukur pengetahuan mahasiswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa tentang OSA yang diberikan kepada 82 mahasiswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45 (54.9%) responden mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang OSA, manakala 31 (37.8%) mahasiswa mempunyai tingkat pengetahuan yang sedang dan 6 (7.3%) responden mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang.

(14)

ABSTRACT

Obstructive Sleep Apnea (OSA) is characterized by repeated episodes of collapse and upper airway obstruction during sleep. Episode of obstruction is associated with desaturation of oxyhemoglobin repeatedly during sleep. OSA is associated with excessive daytime sleepiness. Dr. Syahrial MH Sp ENT, also said the death at productive age mainly due to suffering from OSA, who later suffered from complications. OSA is more common in men than women, with a ratio of 7:1. At the age of less than 40 years, OSA occured 25% of men and 10-15% of women, while over the age of 40 years, OSA occured 60% of men and 40% female. The objective of this study is to access the knowledge of students at the University of North Sumatara on Obstructive Sleep Apnea

Measure of knowledge was obtain via self-administrated questionnaires composed of 20 question. The questions were about definition of OSA, risk factor associated with OSA and the prevention of OSA. This study is a descriptive study with a cross-section design. A total of 82 students from 2009/2010 batch students were asked to fill the questionnaire.

The results showed that 45 (54.9%) of respondents have a high level of knowledge, 31 (37.8%) students have moderate level of knowledge about OSA. 6 (7.3%) respondents have low level of knowledge about OSA.

The conclusion is, student should be furnished wit the necessary information on risk factor for OSA and preventive measures that are applicable to the students. This knowledge should allow then to plan effective ways to prevent OSA in the future.

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obstructive Sleep Apnea (OSA) seringkali tidak terdiagnosis. Dokter

biasanya tidak dapat mendeteksi kondisi pasien dalam pemeriksaan rutin selama kunjungan. Juga tidak ada tes darah untuk mendeteksi. Kebanyakan orang yang telah mengalami gangguan OSA tidak menyadarinya karena hanya terjadi selama tidur. Salah seorang anggota keluarga atau pasangan tempat tidur yang mungkin pertama melihat tanda-tanda sleep apnea (National Heart Lung and Blood Institute, 2009).

Kantuk dapat berhubungan dengan kesulitan berkonsentrasi, kemunduran memori, kehilangan energi, kelelahan, kelesuan, dan ketidakstabilan emosional. Prevalensi masalah kantuk yang tinggi memiliki konsekuensi yang serius seperti, mengantuk saat mengemudi atau kecelakaan kerja (National Heart Lung and Blood Institute, 2009).

Kira-kira 100.000 mobil setiap tahun mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh pengemudi yang sedang tidur di belakang kemudi. Dalam sebuah survei terhadap sopir di New York State, sekitar 25 persen melaporkan bahwa mereka telah jatuh tertidur di mobil pada suatu waktu. Pengemudi yang tertidur terutama terjadi di kalangan sopir laki-laki berusia muda. Salah satu penelitian menemukan bahwa lebih dari 50 persen kecelakaan yang disebabkan tertidurnya supir dijumpai pada usia 25 tahun atau kurang (National Heart Lung and Blood Institute, 2009).

(16)

kesulitan dengan hubungan di sekolah dan pekerjaan. Selain itu, masalah mengantuk menyebabkan kecelakaan di tempat kerja (National Heart Lung and Blood Institute, 2009).

OSA berhubungan dengan penurunan kualitas hidup dan dapat memicu timbulnya sejumlah penyakit berbahaya seperti, meningkatkan risiko 2 kali terkena hipertensi, meningkatkan risiko 2 kali terkena penyakit jantung koroner, meningkatkan risiko 2 kali terkena stroke pada usia muda, disfungsi seksual bahkan kematian mendadak. Bagi orang mendengkur perlu dicermati dan diwaspadai. (Medicastore, 2010)

OSA pertama kali dipublikasikan pada tahun 1956 oleh Sidney Burwell, lebih dari 50 tahun yang lalu dan kepentingan klinisnya saat ini semakin dikenali. Prevalensi OSA di negara-negara maju diperkirakan mencapai 2-4% pada pria dan 1-2% pada wanita. Pria berumur 16-19 lebih sering mengalami OSA dan seringkali (tetapi tidak harus) juga menderita obesitas. Prevalensi OSA pada pria 2-3 kali lebih tinggi dari wanita. Belum diketahui mengapa OSA lebih jarang ditemukan pada wanita. Prevalensi OSA lebih rendah lagi pada wanita sebelum masa menopause dan wanita menopause yang mendapat terapi hormonal. (Saragih, 2007)

(17)

hasil yang hampir sama, di mana prevalensi mendengkur pada pria memuncak pada kelompok usia 50-60 tahun dan selanjutnya menurun. Sementara peneliti lain menemukan pada usia di atas 60 tahun, prevalensi OSA mencapai 45-62%. Di Nantes, Perancis, hampir 60% penduduk yang berusia 60-70 tahun mendengkur. (Saragih, 2007)

Kebanyakan penelitian epidemiologis dan klinis dilakukan pada populasi ras kulit putih di Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Beberapa penelitian terakhir yang dilakukan pada ras bukan kulit putih menunjukkan prevalensi OSA yang tinggi di beberapa negara walaupun faktor yang berperan berbeda-beda. Pada orang-orang Cina yang berasal dari Timur jauh, peran Body Mass Index (BMI) relatif kurang penting dan faktor yang lebih relevan untuk timbulnya OSA adalah struktur tulang kraniofasial. Begitu juga pada pria dari ras Polynesia di Selandia Baru, struktur tulang kraniofasial mempunyai peran utama dan kemungkinan juga berinteraksi dengan obesitas. Pada populasi kulit hitam di Amerika Serikat prevalensi OSA sama tingginya dengan pada ras kulit putih (Saragih, 2007)

Sleep apnea, juga disebut obstruktif sleep apnea (OSA), adalah kelainan umum yang mempengaruhi lebih dari 18 juta orang di Amerika Serikat. Kebanyakan dari orang-orang ini, tidak terdiagnosis. Prevalensi penderita OSA di USA, untuk usia di atas 40 tahun adalah 45% pria dan 10-15 % adalah wanita, sedangkan untuk usia di bawah 40 tahun adalah 60 % pria, 40 % wanita (Medicastore, 2010).

(18)

prevalensi dan faktor risiko OSA tidak diketahui. Obesitas merupakan faktor risiko OSA dalam populasi Barat, sejauh ini tidak ada penelitian mengenai faktor risiko OSA dalam populasi Malaysia (National Heart Lung and Blood Institute, 2009).

Menurut Dr. Damayanti Soetijpto,Sp.THT-KL (K), berdasarkan hasil studi di Indonesia, perbandingan penderita Snoring dan OSA di Indonesia pria dan wanita adalah 7 : 1 terutama kelompok umur 40-49 tahun. Hasil studi level obstruksi saluran nafas penyebab snoring & OSA pada penderita Indonesia yaitu: hidung (konka) sebanyak 76,14 %, velofaring (palatal) sebanyak 64,81 % dan orofaring (lidah) sebanyak 65,91 % (MFMER, 2009)

1.2 Rumusan Masalah

Seberapa jauh pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2009/2010 tentang Obstructive Sleep Apnoe (OSA)?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2009/2010 tentang Obstructive Sleep Apnoe (OSA).

1.3.2 Tujuan Khusus

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

(19)

2. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2009/2010 tentang faktor resiko yang mencetus Obstructive Sleep Apnoe (OSA).

3. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2009/2010 tentang pencegahan Obstructive Sleep Apnoe (OSA).

1.3.3 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk: 1. Data daripada hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi

sistem pengajaran dalam mengambil kebijakan lebih lanjut dalam meningkatkan tingkat pengetahuan tentang Obstructive Sleep Apnoe (OSA) dikalangan mahasiswa Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU).

2. Data atau informasi hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) dalam mengantisipasi diri dalam program pencegahan Obstructive Sleep Apnoe (OSA) yang dilaksanakan seperti beraktivitas.

(20)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2007) merupakan khasanah kekayaan mental secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Setiap pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistologi) dan untuk apa (aksiologi). Pengetahuan merupakan fungsi dari sikap, menurut fungsi ini manusia mempunyai dorongan dasar untuk ingin tahu, untuk mencapai penalaran dan untuk mengorganisasikan pengalaman.

Adanya unsur-unsur pengalaman yang semula tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu akan disusun, ditata kembali atau diubah sedemikian rupa sehingga tercapai suatu konsistensi sehingga sikap berfungsi sebagai suatu skema, suatu cara strukturisasi agar dunia disekitar tampak logis dan masuk akal untuk melakukan evaluasi tingkatan pengetahuan.

Ada enam tingkatan pengetahuan yaitu :

1. Tahu (know) adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah. atau diartikan sebagai pengikat materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Untuk mengukur tingkatan pengetahuan ini dipergunakan menyebutkan , menguraikan, menyatakan dan sebagainya.

(21)

menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap materi atau substansi yang dipelajari.

3. Aplikasi (application) adalah kemampuan menggunakan materi yang dipelajari berupa hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya pada kondisi nyata. Mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah metode bekerja pada suatu kasus dan masalah yang nyata misalnya mengerjakan, memanfaatkan, menggunakan dan mendemonstrasikan.

4. Analisis (analysis) atau sintetsis adalah kemampuan menggabungkan komponen-komponen yang terpisah-pisah sehingga membentuk suatu keseluruhan, misalnya menggabungkan, menyusun kembali dan mendiskusikannya.

5. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

6. Evaluasi (evaluation) adalah kemampuan melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu obyek atau materi. Evaluasi ini dilandaskan pada kriteria yang telah ada atau kriteria yang disusun yang bersangkutan misalnya mendukung, menentang dan merumuskan. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan tersebut diatas.

(22)

subjektif karena penilaian untuk pertanyaan ini melibatkan faktor subjektif dari nilai, sehingga nilainya akan berbeda dari seorang penilai yang satu dibandingkan dengan yang lain dan dari satu waktu ke waktu lainnya.

Pertanyaan pilihan ganda, betul-salah, menjodohkan disebut pertanyaan objektif karena pertanyaan-pertanyaan itu dapat dinilai secara pasti oleh penilainya tanpa melibatkan faktor subjektifitas dari penilai. Pertanyaan yang dapat dipergunakan untuk pengukuran pengetahuan secara umum yaitu pertanyaan subjektif dari peneliti. Pertanyaan objektif khususnya pertanyaan pilihan ganda lebih disukai dalam pengukuran pengetahuan karena lebih mudah disesuaikan dengan pengetahuan yang akan diukur dan penilaiannya akan lebih cepat.

Proses seseorang menghadapi pengetahuan menurut Notoatmodjo bahwa sebelum orang menghadapi perilaku baru, didalam diri seseorang terjadi proses berurutan yakni awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus. Interest (merasa tertarik) terhadap objek atau stimulus tersebut bagi

dirinya. Trail yaitu subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus .

2.2 Obstructive Sleep Apnea (OSA) 2.2.1 Definisi

Obstructive Sleep Apnea (OSA) ditandai dengan episode berulang

dari keruntuhan dan obstruksi jalan napas atas saat tidur. Episode obstruksi ini berhubungan dengan desaturasi oksihemoglobin secara berulang ketika tidur. OSA terkait dengan rasa kantuk di siang hari yang berlebihan, ini biasanya disebut sindrom Obstructive Sleep Apnea (OSA). Meskipun penyakit ini umum,

(23)

Definisi Obstructive Sleep Apnea menurut WHO merupakan gangguan klinis yang ditandai dengan berulangnya episode obstruksi saluran napas atas sehingga dapat mengurangi aliran udara pada hidung atau mulut. Episode ini biasanya disertai dengan dengkuran keras dan hipoksemia, dan biasanya diakhiri dengan terbangun secara berulang, yang menyebabkan fragmentasi tidur. Pasien dengan sindrom Obstructive Sleep Apnea biasanya tidak menyadari dirinya terbangun tetapi, mengakibatkan penurunan kualitas tidur yang menyebabkan kantuk di siang hari. Kebanyakan pasien sindrom Obstructive Sleep Apnea tidak terdeteksi kelainan pernafasan saat terjaga (WHO, 2007).

2.2.2 Epidemiologi

Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah penyakit yang umum di

Amerika Serikat. Data dari Wisconsin Cohort, studi menunjukkan prevalensi OSA pada orang berusia 30-60 tahun adalah 9-24% untuk pria dan 4-9% untuk perempuan. Estimasi prevalensi OSA adalah 2% untuk perempuan dan 4% untuk pria. Tujuh belas data serupa telah ditemukan dalam studi epidemiologi dari Pennsylvania (Rinaldi, 2010).

Prevalensi OSA dalam populasi non-Amerika hanya dipelajari pada pria dan telah ditemukan paling rendah 0,3% di Inggris dan paling tinggi 20-25% di Israel dan Australia (Rinaldi, 2010).

(24)

sedangkan di atas usia 40 tahun, OSA menyerang 60% pria dan 40% wanita (Wika, 2008).

2.2.3 Patofisiologi Mendengkur dan OSA

Secara konseptual, saluran napas bagian atas adalah lebih mudah dipengaruhi dan itu menyebabkan terjadi kollaps. Kebanyakan pasien dengan sindrom Obstructive Sleep Apnea (OSA) menunjukkan obstruksi jalan napas atas baik pada bahagian lembut (yaitu, nasopharynx) atau bahagian lidah (yakni, oropharynx). Penelitian menunjukkan bahwa anatomi dan neuromuskular merupakan faktor penting terjadinya OSA. Faktor anatomi misalnya pembesaran tonsil, luas permukaan lidah, jaringan lunak, atau dinding lateral faring, panjang dari bahagian lunak (posisi normal dari rahang atas dan rahang bawah) penurunan luas permukaan saluran napas atas meningkatkan tekanan udara sekitarnya yang mempengaruhi saluran nafas untuk kollaps (Rowley, 2009).

(25)

Aktivitas neuromuskuler saluran bahagian atas, termasuk aktivitas reflex akan menurun ketika tidur, dan penurunan ini akan lebih terasa pada pasien OSA. Berkurangnya ventilasi motor output pada otot saluran napas atas diyakini menjadi kejadian awal kritis untuk terjadinya obstruksi pada saluran napas bagian atas; efek ini yang paling menonjol pada pasien dengan jalan napas atas cenderung runtuh karena alasan anatomi (Rowley, 2009).

(Judarwanto, 2009).

2.2.4 Klasifikasi

Obstructive Sleep Apnea (OSA)

(26)

menyebabkan mendengkur (Health-Cares.Net, 2005; Schoenstadt, 2006).

Biasanya, individu akan bangun, berdengus kuat, lalu segera kembali tidur. OSA lebih umum di kalangan pria daripada wanita, yaitu 1 dari 100 orang antara usia 40 hingga 70. Pria yang kelebihan berat badan, bahkan dengan hanya beberapa pon, umumnya rentan untuk terjadinya OSA. Penyebab lain dari OSA termasuk hypothyroidism, tonsil membesar, atau penyempitan saluran hidung dan pernafasan karena alergi kronis atau cacat lahir (Health-Cares.Net, 2005; Schoenstadt, 2006).

Central Sleep Apnea

Kondisi ini kurang umum daripada OSA. Ini melibatkan masalah dalam jalur saraf yang merangsang dan mengontrol pernapasan. Di sini, pernapasan oral, tenggorokan dan upaya pernapasan perut secara bersamaan terganggu. Orang-orang dengan Central Sleep Apnea mungkin berhenti bernapas untuk jangka waktu beberapa

detik, napas mereka mungkin terlalu dangkal atau jarang menyediakan kebutuhan oksigen yang mencukupi untuk darah dan jaringan (Health-Cares.Net, 2005).

Mixed Apnea

Mixed Apnea, periode singkat Central Sleep Apnea diikuti dengan

jangka waktu yang lama terjadi Obstructive Sleep Apnea (ICBC.inc, 2007; Sunitha, 2010).

(27)

Sejarah

Obstructive Sleep Apnea (OSA) gejala umumnya mulai diam-diam

dan sering hadir selama bertahun-tahun sebelum pasien dirujuk untuk evaluasi (Rinaldi, 2010).

Gejala nocturnal

a. Mendengkur, biasanya keras, dan mengganggu orang lain b. Menyaksikan pasangan tidur apnea, yang sering mendengkur

dan diakhiri dengan mendengus

c. Sambil terengah-engah dan tersedak yang menimbulkan sensasi

pasien dari tidur gelisah

d. Pasien sering mengalami arousals dan melempar atau memutar

pada malam hari

Gejala pagi hari

a. Tidak merasa segar saat bangun b. Sakit kepala

c. Sakit atau rasa kering di tenggorokan

d. Mengantuk saat aktivitas yang memerlukan kewaspadaan

umum (misalnya, sekolah, bekerja, mengemudi).

e. Kelelahan: letih, kurang memiliki energy

f. Masalah dengan memori, konsentrasi, dan fungsi kognitif,

terutama fungsi eksekutif

Fisik

(28)

konsisten dengan OSA. Berikut adalah beberapa fitur telah dikaitkan dengan kehadiran OSA;

a. Lingkar leher: lebih besar dari 43 cm (17 inchi) pada pria dan

37 cm (15 inchi) pada wanita telah dikaitkan dengan peningkatan risiko OSA.

b. Mallampati skor; Skor ini telah digunakan selama

bertahun-tahun untuk mengidentifikasi pasien yang beresiko untuk intubasi trakea sulit. Klasifikasi memberikan skor 1-4 berdasarkan fitur anatomis jalan napas terlihat saat pasien membuka mulutnya dan lidah menonjol. Sebuah studi 2006 menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan 1 unit di nilai Mallampati, rasio kemungkinan memiliki OSA (didefinisikan oleh AHI> 5) meningkat sebanyak 2,5. Selain itu, AHI meningkat sebesar 5 Peristiwa per hour.

c. Tersempitnya dinding lateral saluran pernapasan, yang

merupakan prediktor independen terhadap keberadaan OSA pada pria tapi tidak pada wanita.

d. Pembesaran tonsil (3 + 4 +). e. Retrognathia atau micrognathia.

f. Tinggi lengkung langit-langit keras (Rinaldi, 2010; Kirk,

2003).

2.2.6 Faktor resiko

Jenis kelamin

Sleep apnea lebih sering terjadi pada pria dibandingkan pada

(29)

Usia

Sleep apnea pada orang dewasa paling umum terjadi pada usia

40-60 tahun. Namun demikian, sleep apnea dapat menimpa semua orang dari segala usia (Simon, 2009).

.

Ras dan Etnis

Afrika-Amerika menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk Sleep apnea dibandingkan kelompok etnis lainnya di Amerika Serikat.

Ada studi yang menunjukkan bahwa prevalensi OSA di Asia adalah sebanding dengan yang didokumentasikan di Amerika Utara dan Eropa. Pengamatan yang menarik dan tak terduga yang muncul adalah, bahwa orang Asia cenderung kurang obesitas dari kulit putih, prevalensi penyakit di Timur tidak kurang dari di Barat. Selain itu, untuk usia tertentu, jenis kelamin, dan BMI, Asia memiliki tingkat keparahan penyakit lebih besar dari kulit putih (Punjabi, 2009)

Riwayat Keluarga

Orang dengan riwayat keluarga OSA akan meningkatkan risiko terjadinya kondisi sleep apnea (Punjabi, 2009).

Kegemukan

(30)

Karakteristik Fisik Leher besar

Lingkar leher (17 inchi atau lebih besar pada pria dan 16 inchi atau lebih besar pada wanita) merupakan faktor risiko untuk sleep apnea (Mayoclinik, 2008).

Karakteristik wajah dan tengkorak.

Kelainan struktural di wajah dan tengkorak berkontribusi banyak pada kasus sleep apnea. Ini termasuk panjang bahagian bawah dari wajah. Brachycephaly, kelainan bawaan di mana kepala cenderung lebih pendek dan lebih luas dari rata-rata. Rahang atas sempit, dagu surut, overbite dan lidah lebih besar (Simon, 2009).

Karakteristik Langit-langit lunak

Beberapa orang memiliki kelainan khusus di daerah lunak (langit-langit) di bagian belakang mulut dan tenggorokan yang dapat menyebabkan sleep apnea. Kelainan ini meliputi langit-langit lunak lebih kaku, lebih besar dari biasanya, atau keduanya. Langit-langit lunak yang besar dapat menjadi faktor risiko yang signifikan untuk sleep apnea. Langit-langit lunak dan dinding tenggorokan di sekitarnya kollaps dengan mudah (Simon, 2009).

Merokok dan Penggunaan Alkohol

Perokok memiliki risiko lebih tinggi untuk sleep apnea. Orang yang merokok lebih dari 2 bungkus sehari memiliki risiko 40 kali lebih besar dibanding dengan bukan perokok. Minum alkohol juga dapat berhubungan dengan sleep apnea. Pasien didiagnosis dengan sleep apnea dianjurkan untuk tidak minum alkohol sebelum tidur

(31)

Kondisi Medis Terkait Sleep Apnea Diabetes

Diabetes dikaitkan dengan sleep apnea dan mendengkur. Hal ini tidak jelas apakah ada hubungan antara dua kondisi atau apakah obesitas merupakan faktor umum saja (Simon, 2009).

.

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

GERD adalah kondisi yang disebabkan oleh reflux asam lambung ke kerongkongan. GERD dan sleep apnea sering bersamaan. Penelitian menunjukkan bahwa cadangan asam lambung dalam GERD dapat menyebabkan spasme di pita suara (larynx), sehingga menghalangi aliran udara ke paru-paru dan menyebabkan apnea atau apnea itu sendiri dapat menyebabkan perubahan tekanan yang memicu GERD. Obesitas umum dijumpai pada kedua kondisi dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi asosiasi (Simon, 2009).

Sindrom Ovarium Poli Kistik (PCOS)

OSA dan kantuk siang hari yang berlebihan muncul pada sindrom ovarium polikistik (PCOS). Sekitar setengah dari pasien dengan PCOS juga memiliki diabetes. Obesitas dan diabetes terkait dengan sleep apnea dan PCOS (The New York Times, 2010; Simon,

2009).

2.2.7 Diagnosis

(32)

- Memiliki jam kerja yang berlebihan atau berbagai shift (malam, akhir pekan).

- Obat-obatan (penenang, obat tidur, antihistamin beta blockers.

- Penyalahgunaan alcohol.

- Kondisi medis (seperti hypothyroidism, hypercalcemia, dan hiponatremia / hipernatremia.

- gangguan tidur lain, seperti narkolepsi, insomnia atau gelisah.

- Sindrom kelelahan kronis. - Depresi atau dysthymia.

Gejala yang memerlukan evaluasi dari Spesialis THT-KL (Konsultan Gangguan Tidur) adalah:

- Kantuk mengganggu kualitas hidup pasien.

- Kantuk di tempat kerja (dapat menyebabkan bahaya pada pasien atau orang lain).

- Penyakit medis lainnya yang mungkin diperburuk oleh OSA.

- Anak-anak yang mendengkur mudah tersinggung, tidak berkembang tumbuh dengan baik, atau memiliki masalah perilaku.

(33)

Sejarah Tidur

Untuk membantu menentukan adanya sleep apnea, dokter akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut;

- Apakah pasien mengambil obat?

- Berapa banyak periode kantuk yang ada setiap hari dan kapan itu terjadi? (Pasien dengan apnea seringkali tidak menjelaskan gejala ini sebagai merasa "mengantuk". Mereka lebih tepat untuk menggambarkan perasaan ini sebagai "kekurangan energi" atau. "Merasa lelah sepanjang hari.") .

- Apakah sakit kepala terjadi secara teratur di pagi hari? - Apakah pasien mengambil stimulan seperti kopi atau

tembakau?

- Berapa banyak alkohol yang dikonsumsi per hari?

- Apakah pasien memiliki masalah dengan fungsi mental atau emosional?

- Apakah pasien menderita heartburn?

- Bagaimana kebiasaan posisi tidur (belakang, samping, atau telungkup)?

- Jika ada pasangan tidur, apakah ia mengeluh tentang pasien mendengkur dan terbangun (Sering kali sangat berguna untuk wawancara pasangan tidur).

- Apakah pasien tertidur dengan segera? (Mungkin menjadi tanda kurang tidur).

(34)

extended-play audio atau rekaman video dapat membantu dalam

mendiagnosa sleep apnea (Simon, 2009).

Pemeriksaan fisik

Untuk mendiagnosa sleep apnea, dokter akan memeriksa indikasi fisik sleep apnea, termasuk:

a. Kelainan di daerah lunak atau saluran udara bagian atas, termasuk tonsil membesar.

b. Obesitas (indeks massa tubuh [BMI]> 30): Ini merupakan faktor resiko utama sindrom apnea tidur obstruktif (OSA). Menurut studi Wisconsin Sleep Cohort, peningkatan 10% berat dikaitkan dengan risiko 6 kali lipat pengembangan pernapasan tidur-teratur (SDB) (Shanker, 2010).

c. Sebuah pengukuran lebar leher mengesampingkan gangguan lainnya Jika sleep apnea tidak jelas setelah pemeriksaan fisik dan sejarah, dokter akan perlu untuk menyingkirkan masalah lain. Ini termasuk gangguan tidur, (seperti narkolepsi, insomnia, gelisah atau gangguan kaki), atau kondisi medis atau psikologis (sindrom kelelahan kronis, depresi) yang dapat menyebabkan kantuk di siang hari (NHLBI, 2009).

Polisomnografi dan Home Sleep Studies

(35)

Epworth sleepiness scale (ESS)

Evaluasi subjektif kantuk di siang hari;

- Pasien sering kali meremehkan tingkat kantuk mereka, mungkin karena sleep apnea adalah suatu yang kronis, masalah tersembunyi tetapi berbahaya dan mereka menganggap normal pada masa itu. Epworth sleepiness scale (ESS) (lihat Tabel) adalah umum digunakan. Statistik

kuesioner divalidasi untuk mengantuk di siang hari. Beberapa situasi terdaftar, dan pasien diminta untuk mengevaluasi kantuk. Skala berikut ini kemudian digunakan untuk memilih jumlah yang paling sesuai dengan situasi masing-masing;

0 = kemungkinan tertidur jarang 1 = kemungkinan tertidur sebentar 2 = kemungkinan tertidur sedang 3 = kemungkinan tertidurn sering

Tabel 2.1: Contoh Skoring pada Skala Kantuk Epworth

Keadaan Kemungkinan tertidur

Duduk dan membaca

Menonton televisi

Duduk tidak aktif di tempat umum (misalnya, teater)

Sebagai penumpang mobil selama satu jam tanpa istirahat

(36)

Duduk dan berbicara dengan seseorang

Diam-diam duduk tenang setelah makan siang tanpa alcohol

Diam-diam duduk tenang setelah makan siang tanpa alkohol

Dalam mobil, sementara berhenti untuk beberapa menit dalam lalu lintas

Jumlah

Penafsiran yang berlaku umum Epworth sleepiness scale (ESS) adalah sebagai berikut:

• Skor 0-5 harus ditafsirkan sebagai luar biasa. • Skor 5-10 harus ditafsirkan sebagai normal. • Skor 10-15 harus ditafsirkan sebagai mengantuk.

• Skor 15-20 harus ditafsirkan sebagai sangat mengantuk. • Skor lebih dari 20 harus ditafsirkan sebagai berbahaya

kerana sangat mudah mengantuk (Shanker, 2010; Judarwanto, 2009 )

2.2.8 Pencegahan

Pencegahan yang dapat membantu mencegah OSA adalah ; a. Berhenti merokok

Nikotin dalam tembakau melemaskan otot-otot yang menjaga saluran udara terbuka. Jika tidak merokok, otot-otot cenderung tidak jatuh pada malam hari dan mempersempit saluran udara (Apneareport.com, 2010).

b. Posisi kepala

(37)

bantal leher rahim dapat membantu kepala tetap dalam posisi yang mengurangi sleep apnea. Menggunakan bantal reguler untuk mengangkat kepala dan tubuh bagian atas tidak akan bekerja. Segera mengobati masalah pernapasan, seperti hidung tersumbat disebabkan oleh alergi dingin atau hal ini dapat meningkatkan risiko mendengkur. Hindari konsumsi antihistamin, karena mereka dapat membuat mengantuk dan membuat episode apnea parah. Sebaliknya pengunaan dekongestan menyebabkan drainase akan menurun(Webmed, 2009).

c. Makan Sehat

Cara terbaik untuk mencegah apnea adalah tetap sehat. Seperti telah dibahas, orang gemuk lebih mungkin untuk menderita OSA. Oleh karena itu jaringan yang berlebihan yang terbentuk di tenggorokan. Solusinya adalah makan sehat dan berolahraga rutin untuk menjaga berat badan terkendali (Apneareport.com, 2010).

d. Monitor Tekanan Darah Anda

Individu dengan tekanan darah tinggi lebih mungkin untuk menderita sleep apnea dan sekitar 30% dari individu dengan tekanan darah tinggi juga memiliki apnea. Individu yang sudah memiliki sleep apnea lebih cenderung mengalami tekanan darah tinggi. Menjaga tekanan darah dan tetap sehat tidak hanya membantu mencegah apnea, malah mencegah penyakit lain (Apneareport.com, 2010).

e. Menghindari Alkohol dan Narkoba

(38)

ditingkatkan. Alkohol adalah depresan dan sementara mengkonsumsi alkohol dapat membantu tertidur, penarikan mendatang, sementara tidur dapat menambah masalah dan mengakibatkan OSA. Demikian pula, merokok dapat menyebabkan saluran napas bagian atas membengkak. Hal ini dapat menyebabkan mendengkur dan mengakibatkan OSA. Bagi mereka yang sudah mulai, berhenti merokok merupakan langkah utama untuk mencegah sleep apnea (Apneareport.com, 2010).

f. Mengubah Posisi Tidur Anda

Untuk seseorang yang cenderung OSA, tidur terlentang harus dihindari. Hal ini menyebabkan jaringan longgar untuk memblokir jalan napas. Posisi tidur terbaik untuk mencegah OSA adalah posisi samping. Bantal dan perangkat khusus dapat digunakan untuk membantu menjaga seseorang dari berguling ke posisi telentang dan mencegah OSA terjadi (Apneareport.com, 2010).

2.2.9 Terapi

2.2.9.1Terapi Non-Bedah

Continuous positive airway pressure (CPAP)

Continuous positive airway pressure (CPAP). Sleep apnea

yang parah dianjurkan sebuah mesin yang memberikan tekanan udara melalui masker yang ditempatkan di atas hidung saat tidur. Jenis yang paling umum disebut continuous positive airway pressure (CPAP). Dengan terapi ini, tekanan nafas

(39)

jalan napas di tenggorokan. Hal ini mencegah apnea dan mendengkur (Rowley, 2009; Medline.Plus, 2009)

CPAP adalah metode yang paling umum digunakan untuk mengobati sleep apnea. Namun, ada yang merasa canggung dan tidak nyaman. Kebanyakan orang belajar untuk menyesuaikan masker untuk mendapatkan cocok nyaman dan aman. Segelintir orang juga mendapat manfaat dari menggunakan humidifier bersama dengan sistem CPAP mereka (Rowley, 2009; Medline.Plus, 2009)

Mouthpiece (oral device) or Inter-oral devices (IODs)

Pilihan lain adalah mengunakan perangkat oral yang dirancang untuk menjaga tenggorokan terbuka. Peralatan oral merupakan alternatif yang sukses untuk segelintir pasien. Beberapa perangkat dirancang untuk membuka tenggorokan dengan membawa rahang ke depan. Kadang-kadang hal ini dapat menghilangkan mendengkur dan OSA ringan. Perangkat lain menahan lidah dalam posisi yang berbeda. Saran dari dokter gigi, pengalaman diperlukan untuk pemasangan dan terapi tindak lanjut perangkat (Medical News Today, 2010; AAOMS, 2008).

Stimulan

(40)

Obat yang disebut modafanil mungkin dianjurkan. Efek samping dari modfanil dapat mencakup pusing dan penglihatan kabur. Dalam situasi langka, modafanil dapat menyebabkan depresi dan membuat orang berpikir bunuh diri pikiran. Penggunaan jangka panjang obat-obat perangsang tidak dianjurkan karena mereka bisa menjadi kecanduan (Medical News Today, 2010).

Terapi Posisi

Kebanyak orang mendapat manfaat dengan posisi tidur pada elevasi 30 derajat dari tubuh bagian atas. Ini membantu mencegah keruntuhan gravitasi dari jalan napas. Sebuah elevasi 30 derajat dari tubuh bagian atas dapat dicapai dengan tempat tidur diatur, atau baji tempat tidur ditempatkan di bawah kasur. Pendekatan ini dapat dengan mudah digunakan dalam kombinasi dengan perawatan lain dan sangat efektif untuk orang yang gemuk. Posisi tidur lateral (tidur di sisi) juga dianjurkan

2.2.9.2Terapi bedah

Tujuan dari pembedahan adalah untuk membuang kelebihan jaringan dari hidung atau tenggorokan yang dapat bergetar dan menyebabkan mendengkur. Kelebihan jaringan mungkin memblokir saluran bahagian atas pernafasan dan menyebabkan sleep apnea.

Beberapa tindakan bedah antara lain : - Uvulopalatopharyngoplasty (UPPP)

(41)

bagian atas dibuang. Tonsil dan adenoid biasanya dibuang juga. UPPP biasanya dilakukan di rumah sakit dan memerlukan anestesi umum (Medical News Today, 2010; AAOMS, 2008).

- Koreksi rahang

Prosedur ini disebut kemajuan maxillomandibular. Tujuan tindakan ini adalah memperbesar ruang belakang lidah dan langit-langit lunak, membuat obstruksi kemungkinannya (Medical News Today, 2010).

- Implant

Prosedur implant adalah pengobatan minimal invasif. Ini melibatkan penempatan tiga batang poliester kecil di langit-langit lunak. Untuk mencegah jatuhnya palatum molle. Perawatan ini hanya disarankan untuk derajat ringan sampai sedang (Medical News Today, 2010).

.

- Laser-uvulopalatoplasty

(42)

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

3.2 Variabel dan Definisi Operasional

Aspek Pengukuran

Variable yang telah diukur adalah tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) tentang obstructive sleep apnoe (OSA).

1. Pengetahuan

Pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) akan diukur dengan menggunakan metode scoring terhadap jawaban yang telah diberikan bobot. Ukuran tingkat pengetahuan mahasiswa diukur berdasarkan jumlah nilai yang diperoleh responden menurut Pratomo (1990):

- Tingkat pengetahuan baik, bila skor responden lebih dari 75% dari seluruh pertanyaan.

- Tingkat pengetahuan sedang, bila skor responden antara 40% hingga 75% dari seluruh pertanyaan.

- Tingkat pengetahuan kurang bila skor responden kurang dari 40% dari seluruh pertanyaan.

(43)

Berdasarkan metode scorring pernilaian terhadap pengetahuan responden adalah apabila menjawab benar dari :

- 15 hingga 20 pertanyaan : Baik - 8 hingga 14 pertanyaan : Sedang - 0 hingga 7 pertanyaan : Kurang

Table 3.2. Variable , Definisi Oprasional, metode, cara Ukur , Hasil Ukur dan Skala Ukur

(44)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Desain penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan kuesioner mengenai pengetahuan obstructive sleep apnoe (OSA) dikalangan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2010.

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional yaitu pengamatan dilakukan sekali.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Mei – November 2010.

4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (setambuk 2009/2010) yang berjumlah 465 orang.

4.3.2 Sampel

Teknik pengambialan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Setiap anggota dari populasi mempunyai kesempatan yang sama

(45)

n = N / 1 + N ( d 2 )

Keterangan

N : Besar populasi n : besar sampel

d : Tingkat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan

Perkiraan sampel mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) adalah seperti dibawah ini.

n = 465 / 1 + 465 (0.1)2 n = 465 / 1 + 465 (0.01) n = 465 / 5.65

n = 82.3008 n =

4.3.4 Data Sekunder 82

Besar sample yang digunakan adalah sebanyak 82 orang mahasiswa.

4.3.3 Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kuisioner oleh responden yang dilakukan secara langsung oleh peneliti terhadap sampel penelitian. Data dikumpulkan dengan bantuan kuesioner yang mencakup pengetahuan mengenai obstructive sleep apnoe (OSA), yaitu pengertian, faktor risiko dan pencegahan obstructive sleep apnoe (OSA). Kemudian akan diberikan brosur tentang obstructive sleep apnoe (OSA) kepada semua responden sebagai langkah penyuluhan.

(46)

4.4 Instrumen Penelitian

Instrument penelitian yang digunakan adalah angket yang berupa kuisioner (daftar pertanyaan) yang terdiri dari 20 pertanyaan. Pertanyaan yang disediakan berupa close ended item di mana variasinya adalah multiple choice. Seluruh pertanyaan adalah untuk menilai tingkat pengetahuan mahasiswa mengenai obstructive sleep apnoe (OSA). Pengisian kuisioner oleh mahasiswa akan dilakukan secara langsung dengan diawasi oleh peneliti untuk memastikan tiada kecurangan sewaktu menjawab.

4.5 Uji Validitas dan Reliabilitas

Menurut Notoatmodjo sebelum kuesioner itu digunakan perlu diuji validitasnya. Uji validitas akan dilakukan pada 10 orang responden yang memiliki karakteristik yang mirip dengan sampel. Kemudian akan diuji korelasi antara skor tiap – tiap pertanyaan dengan skor total kuesioner tersebut. Teknik korelasi yang dipakai adalah teknik korelasi product moment.

Rumusnya adalah:

R = ( N ( Σ XY) − ( Σ XY )

√ {NΣX² −(ΣX)²}{NΣY²−(ΣY)²}

Keterangan : X = skor tiap responden untuk pertanyaan nomor n Y = skor total tiap responden untuk semua pertanyaan XY = skor pertanyaan nomor n dikali skor total pada tiap

responden

(47)

Untuk memastikan bahawa kuesioner dapat dipercayai, akan dilakukan uji reliabilitas dengan teknik tes– tes ulang. (Notoatmodjo, 2007)

4.6 Teknik Penilaian / Skoring

Kesemua 20 pertanyaan adalah pengetahuan tentang obstructive sleep apnoe (OSA). Apabila jawaban responden benar diberi nilai 1, jika

jawaban salah diberi nilai 0. Penilaian tingkat pengetahuan respoden berdasarkan sistem skor seperti berikut:

1 A= 0 B=1 C=0

2 A=0 B=1 C=0

3 A=1 B=0 C=0

4 A=0 B=1 C=0

5 A=0 B=1 C=0

6 A=0 B=0 C=1

7 A=1 B=0 C=0

8 A=1 B=0 C=0

9 A=1 B=0 C=0

10 A=1 B=0 C=0

11 A=0 B=1 C=0

12 A=1 B=0 C=0

13 A=0 B=0 C=0

14 A=0 B=0 C=1

15 A=1 B=0 C=0

16 A=0 B=0 C=1

17 A=1 B=0 C=0

18 A=0 B=1 C=0

(48)

20 A=1 B=0 C=0

4.6 Rencana Pengolahan dan Analisa Data

Data diperoleh dari penilaian jawaban kuisioner responden. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komput er yaitu Statistical Product and Service Solution, (SPSS) versi 13. Pada penelitian ini, variabel pengetahuan merupakan data kuantitatif yaitu score hasil pengisian kuesioner. Data ini kemudian kemudian akan diubah menjadi kualitatif yaitu, baik, sedang dan kurang melalui induktif .

4.7 Langkah – langkah Penelitian

Langkah – langkah penelitian untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) adalah seperti berikut :

1. Permohonan izin 2. Survai di lapangan 3. Pengedaran kuisioner

4. Pengumpulan kuisioner setelah 15 menit diedarkan 5. Analisa jawaban responden pada kuisioner

6. Mengolah dan meyusun laporan penelitian 7. Mendiskusikan laporan penelitian dengan dosen

pembimbing

(49)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian telah dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU). USU adalah sebua dan merupakan universitas negeri tertua di luar pertama di pulau Sumatra yang mempunyai Fakultas Kedokteran.Universitas Sumatera Utara telah didirikan pada tahun 1952. Kampus USU terletak di Jalan Dr, Mansyur No.5, 20155 Medan. Penelitian ini dilakukan di FK USU karena FK USU adalah salah satu Fakultas Kedokteran dengan mahasiswa yang cukup besar serta mempunyai variasi di kalangan mahasiswanya sehingga memenuhi penelitian ini. Tambahan pula, sejak tahun 2006, FKUSU telah mula menggunakan sistem KBK. Penelitian ini dijalankan pada mahasiswa angkatan 2006 yang berjumlah 426 orang dan kuesionaire telah didistribusikan ke setiap kelas A1, A2, B1 dan B2.

5.1.2. Distribusi Karakteristik Responden

Karakteristik responden telah dipisahkan mengikut jenis kelamin, dan untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1: Distribusi Karakteristik Responden

Karakteristik Jumlah (n) Persentase (%)

Jenis Kelamin

Lelaki 41 50.0

Perempuan 41 50.0

(50)

Populasi penelitian adalah mahasiswa FKUSU angkatan 2009 (responden) yang dipilah secara acak sebanyak 82 orang dari jumlah besar sebanyak 465 orang (17.6%). Dari Tabel 5.1, dapat diketahui responden perempuan yaitu sebanyak 41 orang (50.0%) sedangkan jumlah responden laki-laki adalah sebanyak 41 orang (50.0%). Dari pembagian kelas, walaupun responden dipilih secara acak, namun bilangan responden dari setiap kelas tidak jauh beda dengan jumlah antara 20 - 21 orang dari setiap kelas.

5.1.3. Pengetahuan Responden tentang Obstructive Sleep Apnea (OSA). Pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan responden digunakan 20 pertanyaan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2: Distribusi Pengetahuan Responden tentang OSA

(51)

16 Mencegah OSA 70 85.4 12 14.6 17 OSA dapat di sembuhkan 50 61.0 32 39.0

18 Pencegahan OSA 46 56.1 36 43.4

19 Pencegahan olahraga 57 69.5 25 30.5

20 Terapi bedah OSA 35 42.7 47 57.3

Dalam penelitian ini, responden diberikan kuesioner untuk mengukur pengetahuan mahasiswa tentang OSA. Menurut tabel 5.2, tahap pengetahuan dinilai dengan 20 pertanyaan. Pertanyaan yang paling banyak dijawab benar oleh responden adalah pertanyaan nomor empat tentang gejala nocturnal yang dapat dilihat pada penderita OSA yaitu sebanyak 75 orang (91.5%) responden. Ini diikuti oleh pertanyaan nomor sebelas mengenai resiko untuk menderita OSA, dimana 73 orang (89.0%) dari responden menjawab pertanyaan dengan benar. Sebanyak 72 orang (87.8%) dari responden menjawab dengan benar pertanyanan nomor satu mengenai OSA.

(52)

5.1.4. Tingkat Pengetahuan Responden tentang OSA

Tingkat pengetahuan responden dikategorikan kepada baik, sedang dan kurang. Hasil dari penelitian dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3: Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden tentang OSA

Dari tabel 5.3, hasil penelitian menunjukkan 45 orang (54.9%) dari responden mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Sebanyak 31 orang (37.8%) dari responden mempunyai tingkat pengetahuan yang sedang dan 6 orang (7.3%) responden yang mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang.

5.2 Pembahasan

Pada penelitian ini didapati bahwa tingkat pengetahuan responden tentang OSA telah diuji dengan 20 pertanyaan yang dapat memberikan suatu gambaran tentang pengetahuan mereka. Dalam penelitian ini, 72 responden (87.8%) mengetahui pengertian OSA. Responden mengetahui bahwa OSA adalah suatu obstruksi jalan nafas atas saat tidur. Dapat dikatakan bahwa responden mengetahui pathogenesis dari OSA yang menjadi dasar untuk memahami perjalanan penyakit ini.

Selain itu, hanya 36 orang (43.9%) dari responden mengetahui OSA lambat menimbulkan efek. Hal ini mungkin karena responden belum mendapat kan pengetahuan yang lebih mendalam tentang efek OSA. Tambahan pula, mengenal efek dapat membantu untuk mencegah penyakit ini dan sebagai calon dokter akan membantu mereka untuk memberi edukasi gaya hidup pada pasien.

Tingkat Pengetahuan Jumlah Persentase (%)

(53)

Responden peka dengan tempat terjadinya OSA yaitu nasopharynx dan oropharynx yaitu sebanyak 52 orang (63.4%), kemungkinan karena pemahaman yang lebih mendalam tentang anatomy. Hal ini disebankan penekanan yang diberikan pihak universitas dalam sistem KBK baru.

Di samping itu, sebanyak 75 orang (91.5%) responden mengetahui gejala nocturnal adalah mendengkur. Hal ini mungkin karena responden sadar bahwa mendengkur adalah gejala yang sering menganggu tidur dan menberikan efek pada pagi hari.

Dalam pertanyaan nomor lima, responden diuji untuk mengenal gejala pagi hari yaitu mengantuk saat beraktivitas. Sebanyak 62 (75.6%) responden mengetahui mengantuk saat beraktivitas dapat menggangu aktivitas harian dan menggangu konsentrasi. Hal ini menunjukkan responden mengenali salah satu tanda untuk dicurigai sebagai OSA. Banyak responden menjawab dengan benar, mungkin karena responden mengetahui gejala ini sering timbul jika ada gangguan pada tidur pada malam hari.

Dan, hanya sebanyak 40 (48.8%) responden mengetahui usia beresiko untuk mendapat OSA adalah yaitu diantara 40-60 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa responden mempunyai pengetahuan dasar tentang OSA karena OSA ini sering menimbulkan efek jangka panjang.

Jenis kelamin yang lebih sering mengalami OSA adalah pria. Sebanyak 56 (68.3%) responden menjawab benar tentang pertanyaan ini. Hal ini menunjukkan, responden mengetahui, pria lebih beresiko dapat OSA disebabkan lingkar leher lelaki lebih besar dan gaya hidup lelaki yang hisap rokok dan mengkonsumsi alkohol.

(54)

Selain itu 52 orang (63.4%) responden dan 73 orang (89.0%) responden masing-masing mengetahui bahwa merokok dan mengkonsumsi alkohol dapat memicu inflamasi dan kerusakkan mekanik dan saraf. Maka ini akan mengurangkan respiratory motor output dan meningkatkan resiko kolaps otot faring saat tidur dan menyebabkan OSA. Hal ini disebabkan gaya hidup yang tak sehat menyebabkan efek dan mengganggu anatomi dan fisiology tubuh.

Orang yang mempunyai kelainan pada langit-langit lunak dapat meyebabkan OSA, hal ini diketahui oleh 64 orang (78.0%) responden. Keadaan ini disebabkan karena penekanan materi kuliah yang diberikan pada subjek anatomi dan fisiology pada mahasiswa fakultas kedokteran menyebabkan mereka lebih memahami tentang bahagian anatominya.

Sebanyak 67 orang (81.7%) responden mengetahui bahwa GERD dapat menyebabkan OSA. GERD dapat menghalangi aliran udara ke paru-paru. Selain itu sebanyak 64 orang (78.0%) responden mengetahui bahwa skala yang digunakan adalah Epwort sleepiness scale. Kemungkinan hal ini diketahui karena hanya skala ini saja yang digunakan untuk mengukur OSA.

Sebanyak 64 orang (78.0%) mengetahuai bahwa OSA dapat dicegah. Selain itu, 70 orang (85.4%), 46 orang (56.1%) dan 57 orang (69.5%) masing-masing megetahui bahwa OSA dapat dicegah dengan tidak menggunakan alkohol, menghindari tidur terlentang dan berolahraga dan menjaga berat badan .

(55)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1) Sebahagian besar tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran USU angkatan 2009/2010 tentang OSA adalah baik dengan jumlah responden sebanyak 45 orang (54.9%) dan hanya 6 orang (7.3%) dengan tingkat pengetahuan kurang.

6.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran USU tentang OSA, maka disarankan:

1) Bagi mahasiswa

Ternyata masih banyak lagi kesempatan untuk melakukan perbaikan bagi mahasiswa kedokteran untuk memperoleh ilmu yang secukupnya supaya mempunyai kompetensi sebagai seorang dokter umum. Mahasiswa yang telah menjawab kuesioner penelitian ini dapat menguji pengetahuannya dan seharusnya selalu mengulang segala yang dipelajari supaya tidak mudah lupa.

Mahasiswa juga diharapkan agar lebih waspada, menjaga diri dan menambah pengetahuan tentang pentingnya topik ini kerana dapat diditeksi sedini mungkin, dapat dicegah komplikasi yang mungkin timbul serta peluang untuk sembuh akan lebih tinggi.

2) Bagi Fakultas Kedokteran

Dari hasil penelitian, pihak fakultas dapat melihat tingkat pengetahuan sebagian besar mahasiswa adalah baik. Pihak fakultas perlu memperbanyak literatur tentang OSA agar mahasiswa lebih mudah mencari informasi.

(56)
(57)

DAFTAR PUSTAKA

American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons (AAOMS)., 2008. Snoring and Sleep Apnea. Available from:

Carson-DeWitt, R., 2009. Risk Factors for Sleep Apnea Available from:

Health-Cares.Net., 2005. Obstructive sleep apnea: Clinical and diagnostic

features. Available from:

Judarwanto, W., 3 sept. 2009. Obstructive sleep apnea/hypopnea

syndrome (OSAHS). Available from:

Kirk, V.G., May 2003. Too Many Sleepless Nights. Available from:

Kumar, P,. Clark, M .,2006 : Diseases of the lower respiratory tract. In : Clinical Medicine, 6th edt, Elsevier Saunders Publication Ltd,: 907-908 Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER)., 4 june 2009. Obstructive sleep apnea. Available from:

Medicastore.com.,2010. Obstructive Sleep Apnea. Available from: Medical News Today., 09 Feb 2010. What Is Obstructive Sleep Apnea

(OSA). Available from:

National Heart Lung and Blood Institute., May 2009. Sleep apnea.

Available from:

Punjabi, N.M., 2008. The Epidemiology of Adult Obstructive Sleep Apnea. Available from Simon, H., 23 June 2009. Obstructive sleep apnea. Available from:

Rinaldi, V., Apr 1 2010. Snoring and Obstructive Sleep Apnea, CPAP. Available from: Rowley, J., Apr 2 2009. Obstructive Sleep Apnea-Hypopnea Syndrome. Available from:

Sankar, V., 14 Jan 2010. Mendengkur dan Sleep Apnea obstruktif,

(58)

Saragih, A.R., 1 Dec 2007. Mendengkur “The Silent Killer” Dan Upaya Penanganan Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup. Available from:

Sleep disorder channel., 2000. Obstructive Sleep Apnea (OSA). Available from :

Sunitha, C., Aravindkumar, S., 29 Jan 2010. Available from:

Victor, L.D.,15 Nov 1999. Obstructive Sleep Apnea. Available from:

WebMD., 09 July 2009. Sleep Apnea – Prevention. Available from:

WHO, 2007. Global surveillance, prevention and control of CHRONIC

RESPIRATORY DISEASES. Available from:

Wika, A., 1 Dec. 2008.Available

from:

Young, T., Peppard, P.E., Gottlieb, D.J., 2002. Epidemiology of Obstructive Sleep Apnea ,A Population Health

Perspective. Available from:

(59)

KUISIONER

JUDUL: GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATRA UTARA ( USU )

ANGKATAN 2009 / 2010 MEGENAI OBSTRUCTIVE SLEEP APNOEA ( OSA )

Saya adalah peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat pengetahuan mahasiswa USU angkatan 2009/2010.

Untuk mendukung penelitian ini, saya menyebarkan kuisioner ini untuk mendapatkan data – data yang dibutuhkan untuk melakukan analisis. Oleh itu saya berharap kesedian setiap partisipan untukmenjawab pertanyaan yang diberikan.

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar sesuai dengan nurani anda. Anda bebas memilih jawaban. Kerjasama partisipasi sangat dihargai.

DATA RESPONDAN Nama :

(60)

SURAT PERNYATAAN

PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN

(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama :

Umur :

Kelas :

Kelamin :

Setelah membaca/mendapatkan penjelasan dan saya memahami sepenuhnya tentang penelitian ini

Judul Penelitian : Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (USU) Angkatan 2009 / 2010 Mengenai Obstructive Sleep Apnoea (OSA)

Name Peneliti : EMTHADHULLAH B. SEENI MOHAMED Jenis Penelitian : Deskriptif dengan pendekatan cross sectional

Lokasi Penelitian : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan

Institusi yang melakukan Penelitian : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Dengan ini saya menyatakan bersedia mengikuti dalam penelitian,

Medan, ...2010

(61)

Lampiran Kuesioner

1. Menurut anda Obstructive sleep apnea (OSA) adalah A. nyenyak tidur

B. obstruksi jalan napas atas saat tidur C. mimpi indah

2. Dikatakan Obstructive sleep apnea (OSA) ……… A. Cepat menimbulkan efek

B. Lambat menimbulkan efek

C. Tidak menimbulkan efek pada penderita

3. Obstruksi jalan nafas paling sering terjadi pada A. Nasopharynx dan oropharynx

B. Laring C. Trackea

4. Apakah gejala nocturnal yang dapat dilihat pada penderita Obstructive sleep apnea (OSA)?

A. mendengkur B. Mengigil C. Deman tinggi

5. Apakah gejala pagi hari yang dapat dilihat pada penderita Obstructive sleep apnea (OSA)?

A. rasa segar saat bangun

(62)

6. Usia yang paling beresiko untuk mendapat Obstructive sleep apnea

(OSA)?

A. 20 – 30 tahun B. 30– 40 tahun C. 40 – 60 tahun

7. Siapa yang lebih sering terjadi Obstructive sleep apnea (OSA)

A. pria

B. wanita

C. kedua - duanya

8. Siapa yang beresiko untuk mendapat Obstructive sleep apnea

(OSA)?

A. Orang yang besar lehernya B. Orang yang tidak suka makan C. Orang yang kurang beraktivitas fisik

9. Apakah kegemukan dapat menyebabkan Obstructive sleep apnea

(OSA)? A. Ya B. Tidak C. Mungkin

10. Apakah merokok dapat menyebabkan Obstructive sleep apnea

(63)

11. Siapa sajakah yang mempunyai resiko untuk menderita Obstructive sleep apnea (OSA)?

A. Orang yang suka minum alkohol B. Orang yang gizi seimbang

C. Orang yang suka berolahraga

12. Yang mempunyai resiko untuk menderita Obstructive sleep apnea

(OSA)?

A. Orang yang mepunyai kelainan pada langit-langit lunak B. Orang yang kurus

C. Orang yang sering beraktivitas

13. Siapakah yang mempunyai resiko untuk menderita Obstructive sleep apnea (OSA)?

A. orang yang mengalami Gastroesophageal reflux disease (GERD)

B. orang yang suka minum air hangat C. orang yang berotot besar

14. Skala apa yang sering digunakan? A. Brussels coma scale

B. Glasgow coma scale

C. Epworth sleepiness scale (ESS)

15. Apakah Obstructive sleep apnea (OSA) dapat dicegah? A. Ya

(64)

16. Yang manakah dapat membantu untuk mencegah Obstructive sleep apnea (OSA)?

A. Sentiasa duduk

B. Orang yang kurang mengkonsumi makanan C. Tidak penggunaan alkohol dan obat-obatan

17. Adakah penderita Obstructive sleep apnea (OSA) dapat disembuhkan?

A. Ya B. Tidak C. Mungkin

18. Yang manakah dapat membantu untuk mencegah Obstructive sleep apnea (OSA)?

A. pola makan yang tidak sehat

D. menghindari tidur terlentang

E. menghindari beraktivitas berat

19. Menurut anda apakah dengan berolahraga dan menjaga berat badan dapat mencegah Obstructive sleep apnea (OSA)?

A. Ya B. Tidak C. Mungkin

20. Menurut anda apakah ada terapi bedah untuk Obstructive sleep apnea (OSA)?

Gambar

Tabel 2.1: Contoh Skoring pada Skala Kantuk Epworth
Table 3.2. Variable , Definisi Oprasional, metode, cara Ukur , Hasil
Tabel 5.1: Distribusi Karakteristik Responden
Tabel 5.2: Distribusi Pengetahuan Responden tentang OSA
+2

Referensi

Dokumen terkait

The Random Trees implementation available in eCognition was used to create 1000 trees for classifying high segments into buildings and trees and 1000 trees for

Muhammad Zein Painan akan melaksanakan Pelelangan Sederhana pascakualifikasi secara non elektronik untuk paket pekerjaan pengadaan Jasa Lainnya sebagai berikut:..

NIM NAMA MAHASISWA J/K NO.. NIM NAMA MAHASISWA

memasuki m:rsa puma tugas trnL l Oktober 2Ol7 s/d 1 Mei 2018 oleh Bank. fateng Cabang Wonogiri dengan

[r]

Lampiran 12.Spektrum 1 H-NMR Senyawa Flavonoida Pembanding untuk Senyawa Hasil Isolasi (Mabry, 1970).. Senyawa Hasil Isolasi

Di awal semester, mahasiswa mengisi KRS dan di akhir semester, mahasiswa mengisi kuesioner kinerja dosen untuk tiap-tiap dosen per mata kuliah, LPPM mengirimkan rekap

Hasil analisis penelitian didapatkan bahwa lebih dari separoh (60,0%) responden dengan tingkat pendidikan rendah, lebih dari separoh (57,1%) responden dengan sikap