TUGAS MATA KULIAH BAHASA INDONESIA
“ANALISIS PENGENDALIAN INTERN ATAS SISTEM PENERIMAAN
KAS TERHADAP PENJUALAN TUNAI PADA CV AGUNG HARTA
PALEMBANG”
Disusun Oleh :
Viola Wulandari
2APD
JURUSAN AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2015/2016
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya, serta shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada pembawa cahaya-Nya , Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, pengikutnya hingga akhir zaman.
Selama penulisan makalah ini, penulis sadar bahwa ini semua tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, petunjuk dan nasihat – nasihat yang tidak ternilai harganya dari semua pihak. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam – dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Dengan menyadari sepenuhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT , tentunya makalah ini sanagat jauh dari sempurna. Untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima dengan kerendahan hati. Akhir kata penulis ucapkan semoga kita semua senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.
Palembang, Mei 2016
Penulis
Halaman
HALAMAN JUDUL ………. i KATA PENGANTAR ……….. ii DAFTAR ISI ……….. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ……… 1 1.2 Rumusan Masalah ………... 2 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan ………... 3 1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan
1.4.1 Tujuan Penulisan ……… 3 1.4.2 Manfaat Penulisan ………. 4 1.5 Metode dan Sumber Pengumpulan Data
1.5.1 Metode Pengumpulan Data ………... 5 1.5.2 Sumber Pengumpulan Data ………... 5 1.6 Tinjauan Pustaka
1.6.1 Pengertian Pengendalian Intern 1.6.2 Tujuan Pengendalian Intern 1.7 Komponen Pengendalian Intern
1.8 Standar Profesional Akuntan Publik
1.9 Hubungan Pengendalian Intern dengan Pemeriksaan Audit 1.10 Sistem Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
1.11 Pengendalian Intern Terhadap Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai 1.11.1 Unsur Lingkungan Pengendalian
1.11.2 Unsur Penaksiran Risiko 1.11.3 Unsur Aktifitas Pengendalian 1.11.4 Unsur Informasi dan Komunikasi 1.11.5 Unsur Pemantauan
1.12 Gambaran Umum Perusahaan
1.12.1 Sejarah Singkat Perusahaan 1.13 Visi dan Misi Perusahaan
1.13.1 Visi Perusahaan 1.13.2 Misi Perusahaan
1.14.1 Struktur Organisasi 1.14.2 Uraian Tugas 1.15 Aktifitas Usaha
1.16 Prosedur dan Bagan Aliran Sistem Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai Yang diterapkan oleh Perusahaan
1.17 Pengendalian Intern Terhadap Sistem Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Analisis Pengendalian Intern Terhadap Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
2.1.1 Analisis atas Lingkungan Pengendalian 2.1.2 Analisis atas Aktivitas Pengendalian
2.2 Analisi Pengendalian Intern Terhadap Sistem Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai pada CV Agung Harta Palembang
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan 3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perusahaan merupakan organisasi yang didirikan oleh beberapa orang yang bekerjasama melaksanakan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.Dari kegiatan usaha yang dilakukan ada beberapa jenis perusahaan, diantaranya adalah perusahaan jasa, perusahaan industry atau manufaktur, dan perusahaan dagang.
Meskipun kegiatan usaha setiap perusahaan tersebut berbeda, tetapi tujuan utama dari perusahaan adalah memperoleh laba semaksimal mungkin secara terus – menerus dan terus melakukan operasional perusahaan untuk setiap periodenya. Semakin tinggi volume penjualan, maka semakin besar pula laba yang akan diperoleh perusahaan. Oleh karena itu, berbagai cara ditempuh oleh pihak manajemen untuk meningkatkan volume perusahaan.
Penjualan barang dan jasa perusahaan dapat dilakukan dengan penjualan secara tunai dan penjualan secara kredit. Penjualan tunai dapat berupa uang tunai yang dapat menjadi asset paling lancar yaitu kas. Kas yang diterima dari penjualan tunai biasanya lebih banyak pemasukkannya daripada kas yang diterima dari penjualan lain/
Perkembangan perusahaan menjadi satu-kesatuan yang relative besar, maka semakin kompleks pula masalah – masalah perusahaan yang timbul. Salah satunya ialah masalah keuangan yaitu terbatasnya kemampuan manager dalam mengawasi perusahaan. Semakin banyaknya aktifitas perusahaan,maka seorang manager tidak mungkin mengawasi seluruh aktifitas perusahaan yang dipimpinnya secara langsung. Banyak perusahaan kecil di Indonesia yang akuntansinya tidak banyak mengikuti siklus akuntansi yang berlaku pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Banyak di antara perusahaan-perusahaan kecil yang belum membuat pembukuan secara benar menurut akuntansi, mereka membuat catatan secara sederhana. Sehingga dari segi pemeriksaan akuntansi tentu sulit sekali untuk melakukan pemeriksaan dalam kondisi kelengkapan data. Risko yang dipikul juga lebih besar karena pengendalian internnya tidak memiliki banyak prinsip keandalan yang tinggi seperti perusahaan besar.
yang dapat merugikan perusahaan dan ketidakefesienan perusahaan dalam menghasilkan laba.
CV Agung Harta Palembang merupakan salah satu perusahaan yang tergolong kecil dalam manajemennya yang kegiatan utamanya begerak dibidang penerbitan Koran,majalah, dan tabloid. Tujuan umum perusahaan ini adalah melindungi aset-aset perusahaam dari pihak-pihak yang berkepentingan dari pelaksanaan praktek bisnis illegal dalam suatu perusahaan, memudahkan pihak luar melakukan kerjasama dengan perusahaan, dan agar dapat mengikuti prraktik bisnis yang sehat. Berdasarkan uraian diatas, penulis menyadari bahwa pengendalian intern merupakan hal pokok dalam perusahaan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan struktur organisasi dan bagan alir sistem penerimaan kas dari penjualan tunai serta didukung dengan wawancara kepada Pimpinan redaksi CV Agung Harta Palembang terdapat beberapa kelemahan, yaitu:
1. Terkait dengan komponen pengendalian intern pada dokumentasi yaitu lingkungan pengendalian harus menunjukan prosedur untuk persetujuan transaksi dan pengesahan Pada bagan alir penerimaan kas dari penjualan tunai CV Agung Harta Palembang tidak jelasnya pendistribusian dokumen dikarenakan penggambaran dokumen yang tidak ada tembusan sehingga tidak diketahui jumlah dokumen yang ada dan pengarsipan dokumen yang tidak jelas pada penerimaan kasnya. Terlihat dari dokumen nota penjualan dan surat pesanan yang digunakan oleh manajer pemasaraan saat pendistribusian dokumen tersebut.
2. Terkait dengan komponen pengendalian interm pada filosofi dan gaya operasi manajemen yaitu lingkungan pengendalian yang melakukan tindakan dalam membuat anggaran penjualan. Perusahaan belum memiliki target atas anggaran penjualan di daerah ataupun di kota lain. Hal ini terungkap dari hasil wawancara dengan manajer keuangan bahwa penjualan yang dilakukan perusahaan masih berdasarkan pesanan yang diminta oleh agen/pengecer.
kebijakan dalam pemisahan tugas untuk setiap karyawan, karena perusahaan belum mempunyai badan pengawas/ auditor internal.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diperoleh pokok permasalahan yang terdapat pada CV Agung Harta Palembang yaitu belum berfungsinya unsur lingkungan pengendalian dan aktifitas pengendalian dalam pengendalian intern terhadap sistem penerimaan kas dari penjualan tunai pada CV Agung Harta Palembang.
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Pada pembahasan makalah ini, penulis fokuskan pembahasan pada penerapan dua unsur pengendalian intern atas sistem penerimaan kas terhadap penjualan tunai pada CV Agung Harta Palembang yaitu meliputi lingkungan pengendalian dan aktifitas pengendalian serta pengawasan dalam lingkup audit operasional.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.4.1 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui apakah unsur lingkungan pengendalian dan aktifitas pengendalian dalam pengendalian intern atas penerimaan kas terhadap penjualan tunai yang diterapkan oleh CV Agung Harta Palembang telah berjalan dan berfungsi dengan efektif.
1.4.2 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penulisan ini adalah:
1. Bagi penulis, untuk mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana penerapan unsur-unsur pengendalian intern terhadap sistem penerimaan kas dari penjualan tunai.
2. Bagi perusahaan, sebagai sumbangan pemikiran yang berguna sebagai masukan atau bahan pertimbangan untuk mengantisipasi permasalahanpermasalahan yang dijumpai dalam kegiatan perusahaan di kemudian hari.
3. Diharapkan dapat memberikan suatu informasi baru dan masukan yang bermanfaat bagi pihak lain untuk dapat menambah wawasan ilnu pengetahuan dan juga untuk mendapat gambaran tentang masalah yang diteliti oleh penulis.
1.5 Metode dan Sumber Pengumpulan Data 1.5.1 Metode Pengumpulan Data
1. Riset Lapangan (Field Research)
a. Interview (Wawancara), Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila peneliti melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti,dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil.
b. Kuesioner (Angket) Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara member seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
c. Pengamatan (Observation), adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan terhadap objek penelitian atau elemen langsung untuk mengetahui kegiatan operasional perusahaan.
2. Studi Kepustakaan (Library Research)
Dengan menggunakan metode ini penulis mendapatkan informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan, ketetapanketetapan, ensiklopedia dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik lain.
Berdasarkan metode-metode di atas, penulis melakukan teknik pengumpulan data dengan wawancara kepada pimpinan dan karyawan CV Agung Harta Palembang secara langsung, dan memberikan kuesioner kepada pimpinan CV Agung Harta Palembang yang kemudian data tersebut dianalisa dengan menggunakan teori-teori yang ada.
1.5.2 Sumber Pengumpulan Data
Berdasarkan cara memperolehnya, menurut J. Supranto (2003:20) data dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
1. Data Primer (primary data)
Yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau suatu organisasi langsung melalui objeknya.
2. Data Sekunder (secondary data)
Yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi berupa publikasi.
singkat perusahaan, aktifitas perusahaan, dan struktur organisasi serta uraian tugas dari tiap-tiap bagian dalam struktur organisasi, dokumen-dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai, dan bagan alir sistem penerimaan kas dari penjualan tunai CV Agung Harta Palembang
1.6 Tinjauan Pustaka
1.6.1 Pengertian Pengendalian Intern
Pengendalian intern merupakan bagian yang sangat penting dalam suatu perusahaan karena hal tersebut sangat mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan, sehingga memerlukan pengendalian intern yang baik dalam menjalankan tugasnya.
Menurut Institut Akuntan Publik Indonesia (2011:319.2) mendifinisikan pengendalian intern sebagai:
Suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain entitas-yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapain tiga golongan tujuan berikut (a) keandalan laporan keuangan, (b) efektivitas dan efesiensi laporan, (c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Menurut iswandi dalam jurnal Binus Business Review Vol.2 No.2 November (2011:826) menyatakan :
Pengendalian internal (internal control) merupakan suatu teknik pengawasan yaitu pengawasan keseluruhan dari kegiatan operasi perusahaan, baik mengenai organisasinya maupun sistem atau cara – cara yang digunakan untuk menjalankan perusahaan dan juga alat – alat yang digunakan perusahaan.
Berdasrkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengendalian intern merupakan suatu proses yang dirancang untuk dapat membantu manajemen dalam menjalankan kegiatan perusahaan, mencegah terjadi kecurangan dan penyelewengan serta mendorong dipatuhinya kebijakan yang telah ditetapkan manajemen.
1.6.2 Tujuan Pengendalian Intern
Perusahaan perlu memiliki suatu sistem pengendalian intern untuk menjamin tercapainya tujuan yang telah direncanakan oleh pemilik perusahaan. Untuk dapat mencapai tujuan dari perusahaan maka dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan harus diawasi dan sumber ekonomi yang dimiliki harus dikerahkan dan digunakan sebaik mungkin.
1. Keandalan Laporan Keuangan
Umumnya, pengendalian yang relevan dengan suatu audit adalah berkaitan dengan tujuan entitas dalam membuat laporan keuangan bagi pihak luar yang disajikan secra wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Efektivitas dan Efesiensi Operasi
Pengendalian yang berkaitan dengan tujuan operasi dan kepatuhan mungkin relevan dengan suatu audit jika kedua tujuan tersebut berkaitan dengan data yang dievaluasi dan digunakan auditor dalam proses audit.
3. Kepatuhan Terhadap Hukum dan Peraturan Yang Berlaku
Suatu entitas umumnya mempunyai pengendalian yang berkaitan dengan tujuan yang tidak relevan dengan suatu audit dan oleh karena itu tidak perlu dipertimbangkan. Menurut Rama dan Jones(2008:134-135),tujuan pengendalian internal mencakup berikut ini :
1. Efektivitas dan efesiensi operasi 2. Keandalan pelaporan keuangan
3. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku 4. Pengamanan asset
Pengendalian internal memberikan jaminan yang memadai bahwa : 1. Tujuan perusahaan yang ditetapkan akan dapat dicapai
2. Laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan dapat dipercaya
3. Kegiatan perusahaan sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku
Pengendalian internal dapat melindungi asset dari pencurian, penggelapan, penyalahgunaan, atau penempatan asset pada lokasi yang tidak tepat. Tindakan menipu ini biasa mengambil bentuk mulai dari pelaporan beban yang berlebihan atau ongkos perjalanan agar mendapat penggantian yang lebih besar dari kantor. Informasi bisnis yang akurat diperlukan demi keberhasilan usaha dan penjagaan asset dan informasi yang akurat seiring berjalan. Sebabnya adalah karena karyawan yang ingin menggelapkan asset juga perlu menutupi penipuan tersebut dengan menyesuaikan catatan akuntansi.
1.7 Komponen – Komponen Pengendalian Intern
Pengendalian intern terdiri atas 5 (lima) komponen dasar kebijakan dan prosedur yang diracang dan digunakan oleh manajemen untuk memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan pengendalian dapat dipenuhi.
Menurut IAPI (2011:319.2), pengendalian intern terdiri dari lima komponen yang saling berkaitan berikut ini:
1. Lingkungan pengendali menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalian orang orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur. Sejumlah faktor membentuk lingkungan pengendalian dalam suatu entitas sebagai berikut:
a. Integritas dan nilai etika
Integritas dan nilai etika merupakan unsur pokok lingkungan pengendalian, yang mempengaruhi penyusunan dan pemantaun komponen yang lain.
b. Komitmen terhadap kompetensi
Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan manajemen mengenai pengetahuan dan keahlian yang diperlukan, dan bauran dari intelegensi, pelatihan dan pengalaman yang diperlukan untuk mengembangkan kompetensi tersebut. c. Dewan direksi dan komite audit
Komposisi dari dewan direksi dan komite audit dan cara mereka melaksanakan tanggung jawab atas kekuasaan dan kekeliruan memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan pengendalian,
d. Filosofi dan gaya operasi manajemen
Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar yang menjadi parameter bagi perusahaan dan karyawannya. Gaya operasional adalah mencerminkan ide manajer tentang bagaimana kegiatan operasi suatu perusahan harus dikerjakan e. Struktur organisasi
Struktur organiasi berkontribusi terhadap kemampuan suatu entitas untuk memenuhi tujuan dengan menyediakan kerangka kerja menyeluruh atas perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemantauan aktivitas suatu entitas. f. Penetapan wewenang dan tanggung jawab
(1) bagaimana tindakannya saling berhubungan dengan individu lainnya dalam memberikan kontribusi (2) setiap individu akan bertanggung jawab atas hal apa. g. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
Praktik tersebut mencakup kebijakan merekrut karyawan dan proses penyeleksian yang dikembangkan dengan baik.
2. Penaksiran resiko adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap resiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana resiko harus dikelola. Penilaian resiko oleh manajemen juga harus mencakup pertimbangan khusus atas resiko yang dapat muncul dari perubahan kondisi seperti : (a) Perubahan dalam lingkungan operasi, (b) Personel baru, (c) Sistem informasi yang baru atau dimodifikasi, (d) Pertumbuhan yang cepat, (e) Teknologi baru, (f) Lini, produk, atau aktivitas baru, (g) Restrukturisasi perusahaan, (h) Operasi diluar negeri dan (i) Pernyataan akuntansi.
3. Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Aktivitas pengendalian yang relevan dengan audit laporan keuangan dapat dikategorikan dalam berbagai cara yaitu: (a) Pemisahan tugas, (b) Pengendalian pemrosesan informasi, (c) Pengendalian fisik, dan (d) Review kinerja.
4. Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasian, penangkapan, dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka.
5. Pemantauan adalah proses yang menentukan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan melibatkan penilaian rancangan dan pengoperasian pengendalian dengan dasar waktu dan mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan.
1.8 Standar Profesional Akuntan Publik
a. Standar umum
1. Audit harus dilakukan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.
2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
b. Standar pekerjaan lapangan
1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
3. Bukti audit kompoten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapatan atas laporan keuangan yang diaudit.
c. Standar pelaporan
1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Laporan auditor harus menunjukan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan standar akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan standar akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
4. Laporan audit harus memuat suatu pernyataan pendapatan mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasanya harus dinyatakan. Laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan.
1.9 Hubungan Pengendalian Intern Terhadap Pemeriksaan Audit
Jika pengendalian intern suatu usaha lemah, maka kemungkinan terjadinya kesalahan, ketidakakuratan atau kecurangan dalam perusahaan sangat besar. Bagi akuntan public, hal tersebut menimbulkan resiko yang besar, jika auditor kurang hati – hati dalam melakukan pemeriksaan dan tidak cukup banyak mengumpulkan bukti-bukti mendukung pendapat yang diberikan.
Untuk mencegah kemungkinan tersebut, auditor harus memperluas ruang lingkup pemeriksaannya pada waktu melakukan substantive test. Misalnya pada waktu mengirim konfirmasi piutang, jumlah konfirmasi yang dikirimkan harus lebih banyak, dan atau pada waktu melakukan observasi atas stock opname, tes atas perhitungan fisik persediaan harus lebih banyak. Sebaliknya jika auditor menyimpulkan bahwa pengendalian intern berjalan efektif, maka ruang lingkup pemeriksaan pada waktu melakukan substantive test bisa dipersempit.
1.10 Sistem Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
Penerimaan kas menurut Mulyadi (2008:455) adalah sebagai berikut:
Penerimaan kas perusahaan berasal dari dua sumber utama: penerimaan kas dari penjualan tunai dan penerimaan kas dari piutang.
Menurut Mulyadi (2008:456-461) sistem penerimaan kas dari penjualan tunai dibagi menjadi tiga prosedur berikut ini:
1. Prosedur penerimaan kas dari over-the-counter sales.
Dalam over-the-counter sale ini, perusahaan menerima uang tunai, cek pribadi (personal check), atau pembayaran langsung dari pembeli dengan credit card, sebelum barang diserahkan kepada pembeli. Penerimaan kas dari over-the-counter sales dilaksanakan melalui prosedur berikut ini:
a) Pembeli memesan barang langsung kepada wiraniaga (sales person) di Bagian Penjualan.
b) Bagian kasa menerima pembayaran dari pembeli, yang dapat berupa uang tunai, cek pribadi (personal check), atau kartu kredit.
c) Bagian Penjualan memerintahkan Bagian Pengiriman untuk menyerahkan barang kepada pembeli.
d) Bagian Pengiriman menyerahkan barang kepada pembeli. e) Bagian Kasa menyetorkan kas yang diterima ke bank.
g) Bagian Akuntansi mencatat penerimaan kas dari penjualan tunai dalam jurnal penerimaan kas.
2. Prosedur penerimaan kas dari cash-on-delivery sales (COD Sales)
Cash-on-delivery sales (COD Sales) adalah transaksi penjualan yang melibatkan kantor pos, perusahaan angkutan umum, atau angkutan sendiri dalam penyerahan dan penerimaan kas dari hasil penjualan. COD Sales merupakan sarana untuk memperluas daerah pemasaran dan untuk memberikan jaminan penyerahan barang bagi pembeli dan jaminan penerimaan kas bagi perusahaan penjual.
3. Prosedur penerimaan kas dari credit card sales
Sebenarnya credit card bukan merupakan suatu tipe penjualan namun merupakan salah satu cara pembayaran bagi pembeli dan sara penagihan bagi penjual, yang memberikan kemudahan baik bagi pembeli maupun bagi penjual. Kartu kredit dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Kartu kredit bank (bank cards)
Kartu kredit ini diterbitkan oleh bank atau lembaga keuangan yang lain. Kartu kredit bank yang banyak beredar adalah Visa dan Master Card. Perusahaan yang menerima pembayaran melalui kartu kredit dapat memperoleh uang tunai segera dari bank dengan menukarkan copy credit card sales slip ke bank yang menerbitkan kartu kredit yang bersangkutan. Bank yang menerbitkan kartu kredit biasanya menagih pemegang kartu kredit sebulan sekali, untuk transaksi pembelian dengan menggunakn kartu kredit yang dilakukan oleh pemegang kartu kredit dalam jangka watu sebulan sebelumnya.
2. Kartu kredit perusahaan (company cards)
Kartu ini diterbitkan oleh perusahaan tertentu untuk para pelanggannya. Pelanggan dapat menggunakan kartu kredit ini untuk membeli barang hanya ke perusahaan yang menerbitkan kartu kredit tersebut. Pada akhir bulan atau pada tanggal tertentu, perusahaan menagih jumlah harga barang yang dibeli oleh pemegang kartu kredit selama jangka waktu tertentu yang telah lewat.
perusahaan yang menerbitkan kartu kredit tersebut. Jurnal untuk mencatat penjualan dengan penerimaan kartu kredit jenis ini tidak berbeda dengan jurnal penjualan dengan menerima kartu kredit bank.
Menurut Mulyadi (2008:469-470) jaringan prosedur yang membentuk sistem penerimaan kas dari penjualan tunai adalah sebagi berikut:
1. Prosedur Order Penjualan Dalam prosedur ini fungsi penjualan menerima order dari pembeli dan membuat faktu penjualan tunai untuk memungkinkan pembeli melakukan pembayaran harga barang ke fungsi kas dan untuk memungkinkan fungsi gudang dan fungsi pengiriman menyiapkan barang yang akan diserahkan kepada pembeli.
2. Prosedur Penerimaan Kas
Dalam prosedur ini fungsi kas menerima pembayaran harga barang dari pembeli dan memberikan tanda pembayaran (berupa pita register dan cap “lunas” pada faktur penjualn tunai) kepada pembeli untuk memungkinkan pembeli tersebut melakukan pengambilan barang yng dibelinya dari fungsi pengiriman.
3. Prosedur Penyerahan Barang
Dalam prosedur ini fungsi pengiriman menyerahkan barang kepada pembeli.
4. Prosedur Pencatatan Penjualan Tunai
Dalam prosedur ini fungsi akuntansi melakukan pencatatan transaksi penjualan tunai dalam jurnal penjualn dan jurnal penerimaan kas.
5. Prosedur Penyetoran Kas ke Bank
Sistem pengendalian intern terhadap kas mengharuskan penyetoran dengan segera ke bank semua kas yang diterima pada suatu hari. Dalam prosedur ini fungsi kas menyetorkan kas yang diterima dari penjualn tunai ke bank melalui fungsi kas.
6. Prosedur Pencatatan Penerimaan Kas
Dalam prosedur ini, fungsi akuntansi mencatat penerimaan kas ke dalam jurnal penrimaan kas berdasar bukti setor bank yang diterima dari bank melalui fungsi kas.
7. Prosedur Pencatatan Harga Pokok Penjualan
memorial sebagi dokumen sumber untuk pencatatan harag pokok penjualan ke dalam jurnal umum.
Menurut Mulyadi (2008:462) ada beberapa fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai, yaitu:
1. Fungsi Penjualan Fungsi ini bertanggung jawab untuk menerima order dari pembeli, mengisi faktur penjualan tunai, dan menyerahkan faktur tersebut kepada pembeli untuk kepentingan pembayaran harga barang ke fungsi kas, dalam struktur organisasi, fungsi ini berada di tangan Bagian Order Penjualan.
2. Fungsi Kas
Fungsi ini bertanggung jawab sebagai penerima kas dari pembeli. Dalam struktur organisasi, fungsi ini berada di Bagian Kasa.
3. Fungsi Gudang
Fungsi ini bertanggung jawab untuk menyiapkan barang yang dipesan oleh pembeli, serta menyerahkan barang tersebut ke fungsi pengiriman. Dalam struktur organisasi, fungsi ini berada di Bagian Gudang.
4. Fungsi Pengiriman
Fungsi ini bertanggung jawab untuk membungkus barang dan menyerahkan barang yang telah dibayar harganya kepada pembeli. Dalam struktur organisasi, fungsi ini berada di Bagian Pengiriman.
5. Fungsi Akuntansi
Fungsi ini bertanggung jawab sebagai pencatat transaksi penjualan dan penerimaan kas dan pembuat laporan keuangan. Dalam struktur organisasi, fungsi ini berada di Bagian Jurnal.
Dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai, terdapat tujuh dokumen penting yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai menurut Mulyadi (2008:463-468) adalah sebagai berikut:
1. Faktur Penjualan Tunai
kepada pembeli yang telah melaksanakan pembayaran harga barang ke fungsi kas. Tembusan faktur ini juga berfungsi sebagai slip pembungkus (packing slip) yang ditempelkan oleh fungsi pengiriman di atas pembungkus sebagai alat identifikasi bungkusan barang.
2. Pita register kas (Cash Register Tape)
Dokumen ini dihasilkan oleh fungsi kas dengan cara mengoperasikan mesin register kas (cash register). Pita register kas ini merupakan bukti penerimaan kas yang dikeluarkan oleh fungsi kas dan merupakan dokumen pendukung faktur penjualan tunai yang dicatat dalam jurnal penjualan.
3. Credit Card Sales Slip
Dokumen ini dicetak oleh cerdit card bank yang menerbitkan kartu kredit dan diserahkan kepada perusahaan (disebut merchant) yang menjadi anggota kartu kredit. Bagi perusahaan yang menjual barang atau jasa, dokumen ni diisi oleh fungsi kas dan berfungsi sebagai alat untuk menagih uang tunai dari bank yang mengeluarkan kartu kredit, untuk transaksi penjualan yang telah dilakukan kepada pemegang kartu kredit.
4. Bill of Lading
Dokumen ini merupakan bukti penyerahan barang dari perusahaan penjualan barang kepada perusahaan angkutan umum. Dokumen ini digunakan oleh fungsi pengiriman dalam penjualan COD yang penyerahan barangnya dilakukan oleh perusahaan angkutan umum.
5. Faktur Penjualan COD
Dokemen ini digunakan untuk merekam penjualan COD. Tembusan faktur penjualn COD diserahkan kepada pelanggan melalui bagian angkutan perusahaan, kantor pos, atau perusahaan angkutan umum dan dimintakan tanda tangan penerimaan barang dari pelanggan sebagi bukti telah diterimanya barang oleh pelanggan. Tembusan faktur penjualan COD digunakan oleh perusahaan untuk menagih kas yang harus dibayar oleh pelanggan pada saat penyerahan barang yang dipesan oleh pelanggan.
6. Bukti Setor Bank
oleh bank sebagai bukti penyetoran kas ke bank. Bukti setor bank diserahkan oleh fungsi kas kepada fungsi akuntansi, dan dipakai oleh fungsi akuntansi sebagai dokumen sumber untuk pencatatn transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai ke dalam jurnal penerimaan kas.
7. Rekap Harga Pokok Penjualan
Dokumen ini digunakan oleh fungsi akuntansi untuk meringkas harga pokok produk yang dijual selama satu periode (misalnya satu bulan). Data yang direkam dalam dokumen ini berasal dari kolom “jumlah harga” dalam kolom “pemakaian”. Dokumen ini digunakan oleh fungsi akuntansi sebagai dokumen pendukung bagi pembuatan bukti memorial untuk mencatat harga pokok produk yang dijual.
1.11 Pengendalian Intern Atas Terhadap Sistem Penerimaan Kas Terhadap Penjualan Tunai
1.11.1 Unsur Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian ini meliputi seluruh kegiatan sehari-hari perusahaan, dimulai dari penerimaan kas dari penjualan secara tunai pada perusahaan, pencatatan dan pengolahan kas sampai dengan pengiriman barang. Untuk itu perlu bagi seorang auditor pemahaman atas lingkungan pengendalian ini yang mencakup pemahaman atas berbagai faktor dan kondisi yang mempengaruhi efektivitas pengendalian dalam prosedur pencatatan dan pengolahan kas tersebut sehingga tujuan perusahaan akan tercapai.
1.11.2 Unsur Penaksiran Risiko
Penaksiran risiko terhadap sistem dan prosedur pencatatan dan pengolahan kas dan penjualan adalah identifikasi dan analisis oleh pihak manajemen atas risiko-risiko pencatatan dan pengolahan kas dan penjualan yang tidak relevan yang nantinya dapat mempengaruhi laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Penaksiran ini dibuat untuk dapat menghindari salah saji dan kekeliruan serta menghindari adanya risiko penyalahgunaan kas.
1.11.3 Unsur Aktifitas Pengendalian
1. Organisasi
a. Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi kas. b. Fungsi kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.
c. Transaksi penjualan tunai harus dilaksanakan oleh fungsi penjualan, fungsi kas, fungsi pengiriman, dan fungsi akuntansi.
2. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan
a. Penerimaan order dari pembelian diotorisasi oleh fungsi penjualan dengan menggunakan formulir faktur penjualan tunai.
b. Penerimaan kas diotorisasi oleh fungsi kas dengan cara membubuhkan cap “lunas” pada faktur penjualan tunai dan penmpelan pita register kas pada faktur tersebut.
c. Penjualan dengan kartu kredit bank didahului dengan permintaan otorisasi dari bank penerbit kartu kredit.
d. Penyerahan barang diotorisasi oleh fungsi pengiriman dengan cara membubuhkan cap “sudah diserahkan” pada faktur penjualan tunai.
e. Pencatatan ke dalam buku jurnal diotorisasi oleh fungsi akuntansi dengan cara memberikan tanda pada faktur penjualn tunai.
3. Praktik yang Sehat
a. Faktur penjualan tunai bernomor urut tercetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi penjualan.
b. Jumlah kas yang diterima dari penjualan tunai disetor seluruhnnya ke bank pada hari yang sama dengan transaksi penjualan tunai satu hari kerja berikutnya.
c. Perhitungan saldo kas yang ada ditangan fungsi kas secara periodik dan secara mendadak oleh fungsi pengawasan intern.
1.11.4 Unsur Informasi dan Komunikasi
1. Mengidentifikasi dan mencatat semua transaksi yang sah. Tujuan ini beraitan dengan asersi laporan keuangan mengenai eksistensi atau keterjadian dan kelengkapan.
2. Menggambarkan transaksi secara rinci atas dasar ketepatan waktu untuk memenuhi klasifikasi yang tepat pada pelaporan keuangan. Tujuan ini berkaiatan dengan asersi laporan keuangan mengenai penyajian dan pengungkapan.
3. Mengukur nilai transaksi dengan metode yang memungkinkan pencatatan nilai moneter pada pelaporan keuangan. Tujuan ini berkaitan dengan asersi laporan keuangan mengenai penilaian dan alokasi.
4. Menentukan periode dimana transaksi terjadi untuk memungkinkan pencatatan transaksi dalam periode akuntansi yang tepat. Tujuan ini berkaitan dengan asersi laporan keauangan mengenai eksistensi atau kejadian dan kelengakapan.
5. Menyajikan transaksi dan pengungkapan yang berkaitan dengan tepat dalam laporan keuangan. Tujuan ini berkaitan dengan asersi laporan keuangan mengenai hak dan kewajiban serta penyajian dan pengungkapan.
1.11.5 Unsur Pemantauan
Pemantauan adalah aktivitas yang berkaitan dengan suatu penilaian atas rancangan dan pelaksanaan dari pengendalian intern secara periodik oleh pihak manajemen. Hal ini digunakan untuk melihat apakah pengendalian tersebut telah dilaksanakan dengan semestinya dan apakah sudah diperbaiki sesuai dengan ketetapan yang berlaku umum. Aktivitas pemantauan ini dilakukan oleh badan pengawas yang dibentuk oleh perusahaan sendiri
1.12 Gambaran Umum Perusahaan 1.12.1 Sejarah Singkat Perusahaan
1.13 Visi dan Misi CV Agung Harta Palembang 1.13.1 Visi CV Agung Harta Palembang
Menjadi perusahaan yang terpercaya dan mampu meningkatkan loyalitas perusahaan serta mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas yang efektif dan efisien serta mampu bersaing dan berkembang dalam menciptakan inovasi-inovasi terbaru.
1.13.2 Misi CV Agung Harta Palembang
1. Menghasilkan laba yang pantas untuk mendukung pengembangan perusahan serta memberikan dividen yang memuaskan bagi para pemegang saham.
2. Memproduksi hasil cetakan dengan mutu, harga, dan pasokan yang berdaya saing tinggi melalui pengelolaan yang profesional demi kepuasan pelanggan.
3. Memberikan penghargaan kepada para pegawai melaui pemberian kesejahteraan yang memadai, menyediakan kesempatan untuk mengembangkan karier serta melakukan inovasi.
4. Menjalin kemitraan kerja sama dengan pemasok dan penyalur yang saling menguntungkan. Memberikan perhatian yang tulus kepada masyarakat melalui penciptaan lapangan pekerjaan, serta dukungan pembinaan sosial dan lingkungan.
1.14 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas 1.14.1 Struktur Organisasi
Struktur organisasi pada CV Agung Harta Palembang adalah berbentuk garis, dimana masing-masing bagian yang terdapat dalam struktur organisasi ini saling melengkapi guna menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan organisasi serta seluruh bagian yang ada bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan. Pada CV Agung Harta Palembang dipimpin oleh pimpinan dibantu langsung memimpin bawahan-bawahannya dalam menjalankan tugasnya. Bawahan- bawahan yang bertanggung jawab kepada pimpinan antara lain manajer produksi, manajer pemasaran/penjualan, manajer keuangan, manajer SDM, dan manajer administrasi dan umum.
1.14.2 Uraian Tugas
1. Direktur CV Agung Harta Palembang mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
a. Memimpin perusahaan dalam mengatur pelakasanaan kerja, penetapan kerja, melakukan pengawasan serta menilai hasil kerja bawahannya.
b. Mencari informasi baik di dalam maupun di luar perusahaan. c. Mengkoordinasi pekerjaan dari manajemen perusahaan.
d. Menetapkan tanggung jawab masing-masing bagian dan menyerahkan sebagian haknya serta kewajibannya.
e. Menguasai sepenuhnya segala sesuatu yang berkaitan dengan aset lancar perusahaan.
2. Manajer Pemasaran dibawahi sub penjualan serta pembelian dan pergudangan, yang bertugas sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan administrasi penjualan, mencatat dan melaporkan transaksi yang berhubungan dengan penjualan.
b. Mengadakan kegiatan penjualan baik yang dilakukan melaui pemesanan maupun pengecer.
3. Manajer Produksi bertanggung jawab atas kualitas dari produksi dan pemakaian bahan baku dan memberikan laporan atas produksi yang dihasilkan.
4. Manajer Administrasi dan Umum bertugas mengatur administrasi suratmenyurat, menyusun dan mengatur berkas-berkas perusahaan, menyeleksi dan melaksanakan pelatihan setiap ada perekrutan calon karyawan baru maupun karyawan lama dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia, menyiapkan daftar gaji harian dan bulanan pada tanggal yang telah ditentukan.
5. Manajer keuangan bertanggungjawab atas pelaksanaan pengiriman kas ke bank, serta gaji karyawan, dan menyusun laporan keuangan tahunan.
6. Manajer Sumber Daya Manusia mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Merencanakan, mengembangkan dan mengimplementasi strategi perusahaan di bidang pengelolaan SDM termasuk perekrutan dan pemilihan kebijakan, kedisplinan, keluhan, konseling, upah dan persyaratan kontrak-kontrak, pelatihan dan pengembangan, perencanaan moril dan motivasi, pengembangan prestasi dan mutu dan lain-lain.
c. Memantau, mengukur, dan melaporkan permasalahan, peluang, rencana pengembangan dan pencapaian dalam skala waktu yang telah disepakati. 7. Sub Pengolahan bertugas dibawah manajer produksi yaitu menyediakan semua
bahan baku yang akan dipergunakan dalam proses produksi pembuatan barang.
1.15 Aktifitas Usaha
Aktifitas CV Agung Harta Palembang berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan No. 4153/RKM/SITU/KPPT/2011 tanggal 10 Juni 2011 adalah melakukan kegiatan perdagangan barang dan jasa yang meliputi kegiatan penerbitan, percetakan, dan penjualan koran “Suara Nusantara”, majalah, tabloid, dan lain-lain.
1.16 Prosedur dan Bagan Alir Sistem Penerimaan Kas Terhadap Penjualan Tunai yang Diterapkan oleh CV Agung Harta Palembang
Prosedur sistem penerimaan kas ini berkaitan dengan transaksi penjualan tunai yang dilakukan oleh perusahaan.Untuk melaksanakan prosedur yang meliputi sistem pencatatan dan penerimaan kas dari penjualan tunai yang memiliki fungsi-fungsi terkait, yaitu: fungsi pencatatan yang dilakukan oleh fungsi keuangan (akuntansi) dan fungsi penerimaan kas dilakukan oleh fungsi kassa (kasir) yang ada di dalam fungsi keuangan. Dokumen dan catatan akuntansi yang digunakan dalam pencatatan transaksi penjualan adalah:
a. Surat pesanan, digunakan sebagai dokumen pengambilan barang.
b. Buku penerimaan kas, digunakan untuk mencatat jumlah kas yang diterima atas penjualan.
Prosedur yang dilakukan dalam menjalankan sistem penerimaan kas dari penjualan tunai pada CV Agung Harta Palembang adalah
1 Bagian order penjualan menerima surat pesanan lembar ke 1 dari pembeli dan juga mengambil surat pesanan (lembar ke 2) yang sama yang sudah diarsip oleh bagian order penjualan dan dicocokkan, lalu oleh bagian order penjualan surat pesanan (lembar ke 1) diserahkan ke bagian produksi dan surat pesanan (lembar ke 2) diserahkan ke bagian kassa.
3 Bagian kassa menerima surat pesanan lembar ke 1 dan lembar ke 3 beserta barang dari bagian produksi, dan juga menerima surat pesanan lembar ke 2 dari bagian order penjualan, lalu mencocokkan surat pesanan tersebut, setelah pencocokan yang dilakukan sama kemudian menerima pembayaran dari pelanggan, membubuhkan cap lunas pada surat pesanan tersebut. Surat pesanan lembar ke 1 beserta barang diserahkan kepada pelanggan, lembar ke 2 dikembalikan ke bagian order penjualan lalu oleh bagian order penjualan di arsip, surat pesanan lembar ke 3 diserahkan ke bagian akuntansi.
4 Bagian akuntansi menerima surat pesanan lembar ke 3 dari bagian kassa lalu mencatatnya ke dalam buku penerimaan kas dan terakhir diarsip.
1.17 Pengendalian Intern Atas Penerimaan Kas terhadap Penjualan Tunai
Pengendalian intern atas penerimaan kas dari penjualan tunai CV Agung Harta Palembang akan diuraikan berdasarkan unsur-unsur pengendalian intern yang meliputi.
1. Lingkungan pengendalian.
Bagian dari elemen lingkungan pengendalian dari transaksi penerimaan kas adalah sebagai berikut:
a. Integritas dan nilai-nilai etika. Pengendalian ini dipakai oleh karyawan untuk membentuk suatu perilaku yang diinginkan dan berdasarkan nilai integritas dan nilai etika.
b. Komitmen terhadap kompetensi. Perusahaan menempatkan karyawan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kompetensi dari bidang ahlinya masing- masing. Hal ini ditujukan agar karyawan tersebut melakukan tugasnya secara efektif sesuai dengan tanggungjawab mereka serta dapat menghasilkan data akuntansi yang andal.
c. Partisipasi dewan komisaris atau komite audit. Dewan komisaris yang efektif adalah yang independen dari manajemen dan anggota-anggotanya aktif dalam menilai aktivitas manajemen.
d. Struktur organisasi. CV Agung Harta Palembang memiliki struktur organisasi yang memberikan gambaran jelas yang ada didalam perusahaan serta menunjukan pola tanggung jawab yang tepat didalam perusahaan. e. Pemberian wewenang dan tanggung jawab. Tujuannya adalah agar
f. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia. Pada CV Agung Harta Palembang tidak menerapkan kebijakan yang menempatkan karyawan dalam tiap bagiannya sehingga tidak dapat menghasilkan data akuntansi dan laporan keuangan yang relevan dan akurat yang dapat dihasilkan oleh karyawan yang baik dan kompeten pada bidangnya.
2. Aktivitas pengendalian. Aktivitas pengendalian yang akan dilakukan oleh perusahaan yang relevan dengan audit dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Review terhadap kinerja. Pada CV Agung Harta Palembang, aktivitas meninjau kembali kinerja adalah dengan target penjualan dan anggaran serta perkiraan yang telah dibuat tahun lalu dengan tahun sekarang.
b. Pengolahan informasi. Pengolahan informasi pada CV Agung Harta Palembang dapat dilihat dari otorisasi yang pantas atas transaksi dan aktivitas, perancangan dan penggunaan dokumen yang memadai, serta pengecekan secara independen. Pada CV Agung Harta Palembang belum melakukan otorisasi dengan baik ,yang mana dapat dilihat dari dokumen dan catatan akuntansi yang digunakan dalam transaksi penjualan sampai penerimaannya, yaitu format yang digunakan dalam surat pesanan dan nota penjualan masih tergolong sederhana. Dalam pengecekan independen atas transaksi yang terjadi diperusahaan tersebut dilakukan dengan cara membandingkan antara jumlah yang dicatat dengan nilai realisasinya. c. Pengendalian fisik. Cara yang digunakan dalam pengendalian fisik kekayaan
atas catatan yang dilakukan perusahaan adalah dengan menyediakan gudang sebagai tempat penyimpanan barang yang akan dijual dan penyediaan barang tempat khusus untuk menyimpan catatan dan dokumen yang telah digunakan saat transaksi penjualan.
BAB II PEMBAHASAN
CV Agung Harta Palembang adalah salah satu perusahaan swasta yang berada di kota Palembang yang bergerak di bidang usaha dagang dan jasa penerbitan media massa yang berupa koran, majalah, tabloid, dan lain-lain.
Permasalahan pokok yang dihadapi oleh CV Agung Harta Palembang adalah belum berfungsinya penerapan pengendalian intern yang baik atas penerimaan kas dari penjualan tunai pada perusahaan.
Permasalahan selanjutnya yang dihadapi oleh CV Agung Harta Palembang adalah perusahaan belum memiliki target atas anggaran penjualan. Perusahaan juga belum memiliki audit internal/badan pengawas yang bertugas untuk membantu manajemen dalam menunjang keefektifan dan keefisiensian pengendalian intern tas penerimaan kas dari penjualan tunai dalam mengatasi persaingan yang cukup ketat.
Sehubungan dengan permasalah di atas, dalam pembahasan ini akan dibatasi dan terfokus pada beberapa komponen pengendalian intern yaitu pada komponen lingkungan pengendalian dan aktivitas pengendalian atas penerimaan kas dari penjualan tunai. Pelaksanaan analisis pengendalian intern atas penerimaan kas dari penjualan tunai dilakukan untuk mengetahui kelemahan dari pengendalian intern tersebut. Pembahasan hasil analisis dalam bab ini menggunakan hasil dari kuesioner dan wawancara. Pada laporan akhir ini penulis menggunakan beberapa teknik analisis untuk menjawab dan membuktikan permasalahan yang ada yaitu:
1. Analisis atas Lingkungan Pengendalian 2. Analisis atas Aktivitas Pengendalian
3. Analisis pengendalian intern atas penerimaan kas dari penjualan tunai
2.1 Analisis Pengendalian Intern Atas Penerimaan Kas Terhadap Penjualan Tunai
Pemahaman atas pengendalian intern dan tingkat risiko pengendalian intern merupakan langkah bagi seorang auditor dalam menentukan sifat, saat, dan luas pengujian pengendalian dan substantif untuk asersi laporan keuangan. Berikut ini analisis pengendalian intern berdasarkan lima komponennya.
2.1.1 Analisis atas Lingkungan Pengendalian Lingkungan
komponen pengendalian intern yang lain, menyediakan disiplin dan struktur. Pemahaman mengenai lingkungan pengendalian ini terdapat beberapa unsur, yaitu:
1 Integritas dan nilai etika
Unsur yang berkaitan dengan integritas dan nilai etika merupakan permasalahan paling penting strategis dikarenakan seseorang memiliki kecenderungan untuk melakukan kecurangan dan permasalahan ini sulit untuk dideteksi sejauh mana perluasan penyimpangan yang terjadi dalam suatu perusahaan. Kecurangannya dapat dilakukan oleh manajemen tingkat atas sampai manajemen tingkat bawah. Semakin tinggi posisi pelaku kecurangan, maka semakin besar pula kerugian yang diakibatkannya atau sebaliknya semakin tinggi posisi semakin jarang melakukan kecurangan. Pengendalian intern perusahaan yang baik mengisyaratkan dapat mengendalikan setiap penyimpangan yang dapat terjadi. Dalam hal ini sebaiknya perusahaan lebih meningkatkan peranan manajemen dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya serta memberikan informasi yang jelas agar terwujudnya komunikasi yang baik antara auditor independen dan pihak manajemen perusahaan. Lingkungan pengendalian pada CV Agung Harta Palembang tidak dapat terwujud karena tidak adanya auditor independen yang bertugas sebagai dewan pengawas. Namun peraturan-peraturan dan kebijakan pada prosedur penerimaan kas dibuat dan disusun dengan baik karena peraturan tersebut didesain serta dijalankan oleh orang-orang yang menjunjung tinggi integritas dan nilai-nilai etika.
2. Komitmen terhadap kompetensi
Kompetensi adalah pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada setiap individu. Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan manajemen atas tingkat kompetensi untuk pekerjaan tertentu dan bagaimana tingkatan tersebut diterjemahkan kedalam persyaratan keterampilan dan pengetahuan. Pada CV. Agung Harta Palembang telah menempatkan sebagian besar karyawannya sesuai dengan keahlian dan keterampilan mereka masing-masing. Terlihat dari tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan telah dilaksanakan baik oleh setiap bagian.
3. Partisipasi dewan komisaris dan komite audit
pengendalian intern dan ketaatan terhadap kebijakan perusahaan. Badan pengawas adalah orang yang memiliki wewenang untuk mengawasi aktivitas dan kegiatan perusahaan dalam kurun waktu tertentu yang telah ditetapkan. Akan tetapi, badan pengawas di CV Agung Harta Palembang belum ada karena selama ini yang menjadi pimpinan merangkap tugas sebagai dewan pengawas. Jadi dewan pengawas belum melakukan tugasnya dengan baik.
4. Filosofi dan gaya operasi manajemen
Filosofi manajemen dan gaya operasi dapat meliputi pendekatan manajemen dalam mengambil dan memantau risiko usaha, sikap dan tindakan manajemen terhadap pelaporan keuangan dan upaya manajemen untuk mencapai tujuan usaha itu sendiri serta sasaran operasi lainnya. Filosofi yang diterapkan oleh CV Agung Harta Palembang adalah bahwa perusahaan berkeyakinan terhadap integritas yang merupakan landasan dari semua hubungan bisnis. Oleh karena itu, setiap karyawan pada perusahaan diharapkan dapat jujur dalam melakukan pelayanan pelanggan, pembukuan, dan penerimaan uang dan dengan semua pihak yang berhubungan dengan perusahaan. Gaya operasi yang diterapkan oleh perusahaan adalah gaya operasi yang menekankan pada pentingnya pelayanan, pelaporan keuangan, penyusunan, dan penggunaan anggaran sebagai alat pengukur kinerja dan pencapaian tujuan yang telah direncanakan oleh perusahaan.
5. Struktur organisasi
kekeliruan yang pada akhirnya akan menimbulkan salah saji pada laporan keuangan perusahaan.
6. Pemberian wewenang dan tanggung jawab
Pendelegasian wewenang dan tanggungjawab merupakan perluasan lebih lanjut dari struktur organisasi yang dimiliki oleh perusahaan. Dengan pemberian wewenang yang jelas, diharapkan tidak akan terjadi perangkapan tugas atau tidak berfungsinya suatu bagian, organisasi akan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya yang dimilikinya dan sebaliknya dalam hal ini akan memudahkan pertanggungjawaban oleh sumber daya organisasi tersebut dalam pencapaian tujuan organisasi. Pada CV Agung Harta Palembang, telah menetapkan tugas dan tanggungjawab dari setiap karyawan sesuai dengan keahlian masing-masing.. Dengan tidak adanya pemberian wewenang dan tangggung jawab yang tegas dan jelas, maka akan memberikan kesempatan masing-masing bagian tersebut untuk melakukan penyelewenangan aset yang berupa kas perusahaan yang berasal dari penjualan tunai.
7. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
Karyawan merupakan faktor penting dalam setiap pengendalian intern. Jika suatu perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur unsur pengendalian intern yang lain dapat dikurangi sampai batas minimum daan laporan keuangan yang handal akan dapat dihasilkan oleh perusahaan, untuk menghasilkan laporan keuangan yang akurat dan relevan maka perusahaan melakukan metode yang baik dalam menerima karyawannya, mengembangkan kompetensi mereka, menilai prestasi dan kompensasi atas prestasi mereka.
2.1.2 Analisis atas Aktifitas Pengendalian
1. Dalam review terhadap kinerja, pengendalian intern pada CV Agung Harta Palembang sudah baik dan memadai karena selalu menghubungkan dengan kinerja perusahaan pada kinerja yang telah dianggarkan, dan pada kinerja pada periode sebelumnya. Jadi, dengan menajemen mempelajari kinerja perusahaan pada periode sebelumnya dan didasarkan pada kinerja yang telah dianggarkan, pihak manajemen dapat mengetahui bagian mana dari pengendalian intern tersebut yang harus diperbaiki. Meninjau kembali kinerja yang dilakukan perusahaan adalah dengan adanya pengawasan dan pemeriksaan secara periodik tiap tahunnya oleh badan pengawas.
2. Pengolahan informasi dilaksanakan untuk mengecek ketepatan, kelengkapan otorisasi transaksi untuk menghasilkan informasi yang tepat lengkap atas transaksi tersebut. Perusahaan perlu menggunakan dokumen dan catatan yang memadai. Dalam hal ini CV Agung Harta Palembang belum dapat dikatakan memadai karena dalam aplikasinya pada prosedur penerimaan kas masih terdapat tugas dan fungsi yang belum efektif. Berikut ini beberapa unsur yang terdapat dalam pengolahan informasi, yaitu:
a. Otorisasi yang pantas atas transaksi dan aktifitas.
Pada CV Agung Harta Palembang, sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, pendapatan, dan biaya belum dilaksanakan dengan baik. Hal ini dikarenakan pada CV Agung Harta Palembang masih adanya perangkapan tugas dan fungsi yang dilakukan oleh karyawan dibagiannya. Seperti bagian penjualan merangkap tugas fungsi gudang dan pimpinan dapat menerima kas hasil dari penjualan dan pembayaran sedangkan tugas tersebut merupakan tugas dari bendahara (kasir) perusahaan. Hal-hal tersebut rentan akan kecurangan dan penyelewengan.
b. Perancangan dan penggunaan dokumen yang memadai.
Perancangan dan penggunaan dokumen yang digunakan CV Agung Harta Palembang belum memadai dikarenakan dokumen dan catatan akuntansi yang digunakan dalam transaksi penjualan hanya berupa 40 surat pesanan dan nota penjualan saja, format yang digunakan juga masih tergolong sederhana. c. Pengecekan secara independen.
jumlah yang dicatat dengan nilai realisasinya dan juga pengecekan terhadap nilai-nilai yang tercantum didalam dokumen dan catatan akuntansi perusahaan.
3. Pengendalian fisik pada CV Agung Harta Palembang belum baik. Oleh karena itu pemeriksaan ini, diharapkan agar tidak terjadi kecurangan ataupun penyimpangan yang dapat dilakukan oleh para pegawai.
4. Pemisahan tugas sangat diperlukan karena apabila satu orang menjalankan dua fungsi sekaligus, maka risiko untuk terjadinya penyelewengan dan penyalahgunaan wewenang sangat besar. Pengendalian intern yang baik pada prinsipnya melakukan pemisahan tugas antara fungsi otorisasi transaksi, fungsi gudang dan fungsi akuntansi. Tujuan dari pemisahan tugas ini adalah untuk mencegah dan untuk dapat mendeteksi segera atas kesalahan dan ketidakberesan dalam pelaksanaan tugas yang dibebankan kepada seseorang. Pada CV Agung Harta Palembang, belum memadai karena di lapangan masih terdapat perangkapan fungsi yang dilakukan oleh karyawan dan masih adanya bagian-bagian yang menjalankan tugas dari bagian lain.
2.2 Analisis Pengendalian Intern Atas Sistem Penerimaan Kas terhadap Penjualan Tunai pada CV Agung Harta Palembang
intern tersebut auditor melakukan pengujian pengendalian. Pengetahuan yang memberikan auditor pemahaman yang mencukupi tentang pengendalian internal untuk merencanakan audit berasal dari berbagai sumber. Pengalaman masa lalu auditor yang klien merupakan salah satu sumber pengetahuan ini. Misalnya, dari audit terdahulu, auditor dapat mengetahui struktur organisasi klien, kelas-kelas utama transaksi dan aktivitas pengendalian yang digunakan klien. Auditor juga menggunakan berbagai prosedur selama audit untuk memperoleh pengetahuan tentang perancangan pengendalian internal dan apakah pengendalian tersebut telah ditempatkan dalam operasi. Salah satu prosedur ini adalah melakukan penyelidikan terhadap manajemen terkait, bagian pengawasan, dan staf personalia dalam entitas klien. Auditor akan melakukan pengujian pengendalian dengan berbagai cara antara lain dengan permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi, dan pelaksanaan ulang pengendalian berkaiatan dengan suatu asersi. Pengamatan dilaksanakan oleh auditor terhadap pelaksanaan pekerjaan personel tanpa sepengetahuan konsumen yang diamati dan bersifat mendadak. Inspeksi dilakukan terhadap dokumen dan laporan yang menunjukan kinerja pengendalian. Pelaksanaan kembali dilakukan oleh auditor dengan melaksanakan kembali prosedur tertentu dari suatu pengendalian intern perusahaan. Hasil pemahaman auditor atas pengendalian intern perusahaan akan dicantumkan kendala suatu kertas kerja yang berisi kelemahan dan kekuatan pengendalian intern tersebut terhadap luas prosedur audit yang akan dilaksanakan dan rekomendasi yang ditujukan kepada klien untuk memperbaiki bagian-bagian yang lemah dalam pengendalian intern perusahaan. Berdasarkan hasil analisis penulis, berikut ini akan dipaparkan beberapa kelemahan tersebut antara lain:
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan dari hasil analisis yang penulis lakukan pada CV Agung Harta Palembang sebagaimana yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka selanjutnya dapat ditarik kesimpulan terhadap keadaan di perusahaan. Setelah ditarik kesimpulan selanjutnya penulis akan memberikan saran dengan harapan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan untuk diterapkan sesuai dengan kondisi perusahaan.
3.1 Simpulan
Berdasarkan analisa dari pengendalian intern atas sistem penerimaan kas terhadap penjualan tunai pada CV Agung Harta Palembang dengan menggunakan komponen pengendalian intern. Perusahaan masih memiliki kelemahan dalam pengendalian internnya. Beberapa kelemahan utama dalam kegiatan penerimaan kas adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan belum memiliki target untuk anggaran penjualan sehingga pada tiap akhir tahun perusahaan tidak ada peninjauan kembali terhadap kinerja untuk mengetahui penjualan yang terealisasi pada tahun berjalan dengan anggaran penjualan perusahaan.
2. Perusahaan juga belum melakukan perputaran jabatan.
3. Perusahaan tidak memiliki audit internal dikarenakan perusahaan ini adalah perusahaan keluarga sehingga pimpinan telah mempercayakan pengawasan hanya dilakukan oleh para karyawan atau manajer-manajer yang berperan juga sebagai pengawas perusahaan dan pemegang saham perusahaan.
3.2 Saran
Dari kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam pengendalian intern atas penerimaan kas dari penjualan tunai yang dilakukan oleh perusahaan di atas,maka penulis menyarankan perusahaan untuk:
1. Sebaiknya perusahaan pada awal tahun melakukan pembuatan anggaran penjualan sehingga perusahaan dapat mengetahui peningkatan penjualan tiap tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno, 2012, Auditing: Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan Oleh Akuntan Publik, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Arens, Alvin A, Elder, Randal J, Beasley, Mark S. Beasley, 2010, Auditing and Assurance Service, An Integrated Approach, 19th Edition, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
Harahap, Sofyan Syafri, 1995, Auditing Perusahaan Kecil, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
Institut Akuntan Publik Indonesia, 2011, Standar Profesional Akuntan Publik, Per1 Maret 2011, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Mulyadi, 2001, Sistem Akuntansi, Penerbit Balemba Empat, Jakarta.
Politeknik Negeri Sriwijaya, 2008, Pedoman Pembuatan dan Penilaian Laporan Akhir, Palembang.