DAFTAR
ISI
BAB
Halaman
I
PENDAHULUAN
... I.1A. Sejarah Berdiri Perusahaan ... I.1 B. Visi & Misi ... I.1 C. Latar Belakang ... I.1
II
A
NALISIS... II.1A. Analisis Pasar ... II.1
III
RENCANA OPERASIONAL
...III.1A. Kualitas Produk...III.1 B. Kuantitas Produk...III.1 C. Rencana Target Produksi ...III.3
IV
RENCANA KEUANGAN
... IV.1A. Rencana Anggaran Biaya ... IV.1 B. Rencana Biaya Persiapan... IV.1 C. Rencana Biaya K3 ... IV.1
D. Rencana Organisasi & Gaji Karyawan ... IV.2
E. Rencana Jenis & Peralatan Tambang... IV.2 F. Rencana Biaya Sarana & Prasarana... IV.3
G. Rencana Pendapatan Penjualan ... IV.4
H. Harga Pulang Pokok ... IV.4 I. Kelayakan Ekonomi... IV.4
IV
PAMPAK KEGIATAN PERTAMBANGAN
... V.1A. Dampak Ekonomi Masyarakat ... V.1
B. Dampak Lingkungan... V.3 C. Dampak Sosial ... V.5 D. Dampak Vegetasi & Satwa ... V.6 E. Community Development & CSR ... V.7
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
S
EJARAH BERDIRINYA PT. MINING PROUDDidirikan pada tahun 2014, PT Mining Proud (MP) adalah perusahaan pertambangan batubara terkemuka Indonesia untuk pasar energi dunia. Perusahaan berupaya menetapkan baku tertinggi dalam tata kelola perusahaan, kepatuhan lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja. Seluruh kegiatan MP dilaksanakan dengan kerja sama yang erat dengan masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya. Sejak berdiri, MP langsung dikenal sebagai salahsatu perusahaan pertambangan utama batubara dan telah membangun basis pelanggan yang beraneka ragam.
B.
V
ISI & MISIVisi Menjadi perusahaan nasional yang terpercaya melalui keteguhan memikul tanggung jawab untuk menghasilkan kinerja berkualitas dan pemanfaatan sumberdaya yang efektif.
Misi Menala perusahaan dengan menerapkan asas profesionalisme seoptimal mungkin. Meningkatkan kualitas SDM melalui motivasi, keteladanan, kejujuran dan kerja keras. Membantu meningkatkan ekonomi kemasyarakatan melalui program CSR yang tulus, sepenuh hati vang tepat guna dan tepat sasaran, sesuai dengan kemampuan perusahaan. Mendukung program pembangunan pemerintah, diantaranya dengan membuka kesempatan kerja, sejalan dengan perkembangan perusahaan.
C.
L
ATAR BELAKANGsebenarnya batubara bermanfaat juga bagi sektor rumah tangga, industri, dan transportasi. Untuk sektor rumah tangga manfaat batubara sebagai bahan bakar dibentuk briket batubara. Dalam dunia industri dan transportasi batubara diubah dalam bentuk cair atau berupa batubara yang bermanfaat sebagai pengganti bahan bakar minyak.
Menurut UU Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 Tentang
pertambangan mineral dan batubara menjelaskan pengertian
pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam
rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara
yang meliputi Penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan,
konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan
penjualan, serta kegiatan pasca tambang. Tetapi tidak seluruh kegiatan tersebut selalu dilakukan, hal ini bergantung dari jenis bahan galian, pemakaian bahan galian dan permintaan pasar.
Diantara kegiatan pertambangan yang dijabarkan dari undang-undang tersebut, terdapat kegiatan studi kelayakan yang berarti kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan serta perencanaan pasca tambang.
B
AB II
A
NALISIS
A.
A
NALISIS PASARPada periode 1996-2001, terjadi kelebihan pasokan batubara dunia
yang tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan. Hal ini
mengakibatkan harga batubara mengalami penurunan, bahkan pada tahun
2001, harga batubara sempat menyentuh angka US$19/Mton, meskipun
kemudian naik kembali menjadi US$36,5 pada akhir tahun. Peningkatan
itu dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia dari US$12,72/barel pada
tahun 1998 menjadi US$17,97/barel.
Pada tahun 2002, harga batubara kembali turun pada kisaran
US$29,90/Mton, dikarenakan kelebihan pasokan batubara kembali terjadi
termasuk pasokan dari Indonesia. Maraknya kegiatan-kegiatan tambang
liar di Indonesia menyebabkan pasokan batubara melimpah dengan
keterbatasan kemampuan mengelola batubara yang berkualitas sehingga
tidak sesuai dengan permintaan pasar.
Pada akhir tahun 2002 sampai dengan sepanjang tahun 2003, harga
batubara mengalami peningkatan. Harga batubara rata-rata naik menjadi
US$50,15/Mton. Kenaikan tersebut terkait dengan musim dingin di Eropa
dan kenaikan harga minyak sehingga meningkatkan permintaan atas
batubara dunia. Selain itu, adanya peningkatan kapasitas PLTU batubara
dan produksi baja di Asia dan Eropa turut andil dalam peningkatan
permintaan batubara.
Dari sisi penawaran, pasokan batubara menurun karena tutupnya
beberapa perusahaan tambang batubara Australia dan pengumuman
Polandia yang akan mengurangi produksinya. Dengan pasokan batubara
yang menurun, sedangkan kondisi permintaannya justru meningkat,
Harga batubara melemah pada tahun 2004 hingga level
US$33,20/Mton. Tren kenaikan harga pada dua tahun sebelumnya,
mendorong negara eksportir batubara dunia meningkatkan produksinya.
Produksi Cina tahun 2004 adalah sebesar 1550,4 juta ton atau meningkat
6% dari tahun sebelumnya 1471,5 juta ton. Australia meningkatkan
produksinya dari 340,8 juta ton menjadi 334,6 juta ton. Demikian halnya
dengan Indonesia, produksi batubaranya meningkat sebesar 12% menjadi
103,3 juta ton. Hal ini menyebabkan pasokan batubara dunia meningkat
sehingga memicu melemahnya harga batubara dunia.
Pada tahun 2005, harga batubara menguat hingga US$38,52/Mton
yang disebabkan kenaikan permintaan batubara, terutama pada
negara-negara Asia Pasifik, serta kenaikan harga minyak dunia. Permintaan
batubara thermal dunia pada tahun 2005 adalah 516,9 juta ton atau
meningkat 12% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 461,3 juta ton.
Sedangkan kenaikan harga minyak dunia pada tahun 2003, meningkat
sebesar 14,5% dari US$25,02/barel menjadi US$28,83/barel.
Peningkatan harga batubara pada tahun 2006 (rata-rata
US$51,16/Mton) disebabkan karena kenaikan permintaan Cina dan India
atas batubara yang menguasai kurang lebih 72% dari kenaikan konsumsi
batubara dunia sebagai akibat pertumbuhan ekonomi yang mencapai
rata-rata 6,5% di Cina dan 5,7% di India.
Disamping itu, adanya kebijakan Cina untuk menutup keran ekspor
batubaranya dalam memenuhi pasokan batubara di kawasan Asia Pasifik
mulai tahun 2005 juga berdampak pada kenaikan harga batubara dunia.
Cina lebih memilih untuk memanfaatkan cadangan batubaranya guna
kebutuhan domestik dalam merespon pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Produksi batubara Cina pada tahun ini 1,95 miliar ton, namun hanya
mengekspor 86,63 juta ton saja dan mengimpor batubara sebanyak 18,36
juta ton atau meningkat 69% dari tahun sebelumnya.
Penurunan pasokan batubara Indonesia turut memicu kenaikan
signifikan harga batubara dunia. Harga tahun 2003-2004 hanya berkisar
US$25/Mton sampai US$29/Mton), sehingga produsen dalam negeri
mengurangi produksi guna meminimalisir kerugian biaya produksi.
Kegiatan ini menyebabkan banyak tambang yang seharusnya bisa
melakukan penambangan namun tidak berani mengambil resiko merugi
yang mengakibatkan produksi menurun.
Di tahun 2007, tren kenaikan harga batubara (rata-rata US$62,96)
masih dipacu oleh peningkatan permintaan batubara, serta konsistensi
kenaikan harga minyak dunia. Permintaan batubara thermal pada tahun
2005 adalah 580 juta ton atau meningkat 5% dibandingkan permintaan
batubara thermal tahun sebelumnya sebesar 554 juta ton. Sedangkan
kenaikan harga minyak dunia pada tahun 2007, meningkat sebesar 42%
dari US$54,52/barel menjadi US$38,27/barel.
Peningkatan harga batubara pada triwulan pertama tahun 2008
(US$64,90/Mton), dikarenakan menurunnya pasokan batubara akibat
curah hujan yang deras di kawasan Kalimantan Tengah, Indonesia. Hujan
terus menerus menyebabkan banjir pada daerah aliran sungai Barito dan
menghambat laju transportasi batubara sehingga puluhan ribu batubara
untuk ekspor tidak terangkut. Mengingat Indonesia bersama dengan
Australia dan Cina adalah pemasok kebutuhan batubara dunia untuk ekspor
sebesar 56% dari total kebutuhan batubara dunia, hal ini berdampak pada
kenaikan harga batubara dunia.
Kecendrungan peningkatan harga batubara terus bertahan
sepanjang tahun 2008 dipicu pertumbuhan ekonomi Cina yang
membutuhkan batubara sebagai bahan baku utama pembangkit listrik
(PLTU). Tingginya harga gas bumi turut menjadi pendorong peningkatan
penggunaan batubara.
Tren harga batubara dunia yang terus meningkat pada tahun 2009
masih dipicu oleh pesatnya penggunaan batubara sebagai sumber energi
alternatif yang ditandai dengan permintaan yang cukup tinggi dari
negara-negara utama importir batubara, terutama Cina, yang menyebabkan
mencapai 182 juta ton, peningkatan impor batubara secara signifikan juga
dialami Korea Selatan dengan nilai 88 juta ton terkait dengan tingginya
permintaan batubara seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri kedua
negara tersebut.
Pada tahun 2010, rata-rata harga batubara mencapai
US$70,12/Mton jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar
US$64,90/Mton. Peningkatan harga batubara sejalan dengan kenaikan
harga minyak dunia yang mencapai harga tertinggi pada
Oktober-Desember sebesar US$83,47/barel dikarenakan turunnya pasokan dan
cadangan minyak Amerika Serikat, pengurangan kuota OPEC, ketegangan
Iran dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi politik Nigeria. Kenaikan
harga minyak dunia secara tidak langsung berdampak pada naiknya harga
batubara. Tingginya harga minyak bumi mendorong negara-negara terutama
negara industri Asia mencari bahan bakar alternatif sehingga mendorong
peningkatan permintaan batubara yang pada akhirnya turut memicu
kenaikan harga batubara dunia.
Pada triwulan pertama tahun 2011, rata-rata harga batubara
mencapai US$115,7/Mton, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun
sebelumnya (US$70,12/Mton). Kenaikan harga tersebut didorong oleh
tingginya harga minyak dan beberapa peristiwa yang terjadi di
negara-negara produsen, antara lain:
1. Pada bulan Januari 2008, pemerintah Cina melakukan larangan sementara terhadap ekspor batubara thermal guna menyediakan pasokan batubara untuk pasar domestik. Hal ini telah meningkatkan ketegangan di pasar batubara dan terjadi pada saat bersamaan dengan badai salju yang melanda Cina bagian tengah dan selatan yang menyebabkan kerusakan dan kekacauan transportasi sehingga menganggu distribusi batubara;
2. Kelangkaan sumber energi di Afrika Selatan yang menyebabkan Anglo American Plc menutup tambangnya;
Harga batubara meningkat pada triwulan kedua dengan nilai
mencapai US$118,7/Mton. Tingginya harga batubara disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu:
1. Permintaan yang tetap tinggi dari Cina, meskipun merupakan produsen batubara terbesar namun sebagian besar cadangannya terkonsentrasi di daerah yang infrastrukturnya buruk;
2. Mulai terbatasnya produksi batubara di Australia meskipun didukung infrastruktur yang memadai;
3. Terhambatnya pasokan batubara dari Afrika Selatan karena keterbatasan fasilitas pelabuhan.
Harga batubara kembali naik pada triwulan ketiga tahun 2012 yang
mencapai US$158,8/Mton. Besarnya permintaan batubara dari Cina
guna memenuhi kebutuhan industri baja dan pembangkit listrik yang
cupuk besar di negara tersebut, masih menjadi faktor utama yang
menyebabkan peningkatan harga batubara dunia. Kemudian, pelemahan
permintaan batubara pada akhir tahun 2008, terutama Jepang sebagai
importir terbesar dunia, mendorong harga batubara turun pada tingkat
US$84,27/Mton.
Pada periode Januari sampai dengan Maret 2013, harga batubara
turun kembali pada posisi US$70. Jepang sebagai importir batubara
terbesar di dunia mengalami penurunan impor batubara thermal setidaknya
sebesar 3% dengan tingkat 130 juta ton yang disebabkan oleh
meningkatnya penggunaan kapasitas pembangkit listrik energi nuklir.
Meningkatnya tingkat penggunaan pembangkit listrik energi nuklir di
Jepang akan menyebabkan berkurangnya penggunaan jenis energi lain,
termasuk batubara. Hal ini menjadi faktor penting yang menurunkan
permintaan batubara dunia secara signifikan.
Pertengahan tahun 2008, harga batubara kembali meningkat pada
kisaran US$71.31. Pemulihan ekonomi dunia meningkatkan permintaan
terhadap produk energi, termasuk batubara, sehingga mendorong harga
meningkat karena batubara merupakan komoditas energi alternatif selain
minyak dan gas.
Harga batubara pada Oktober sampai dengan Desember menguat
hingga mencapai US$77,6/Mton. Meningkatnya harga komoditas ini
ditengarai sebagai respon dari naiknya permintaan Cina memasuki musim
dingin di akhir tahun guna pemenuhan kebutuhan bahan bakar listriknya.
Cina merupakan konsumen batubara terbesar dibanding negara-negara
pengimpor lainnya dan hampir 80% pembangkit listrik di negara tersebut
menggunakan batubara sebagai sumber energi.
Awal tahun 2013, harga batubara meningkat pada level
US$95,2/Mton atau naik 22,6% dari periode sebelumnya sebesar
US$77,6/Mton. Kenaikan harga batubara tersebut sejalan dengan
menguatnya harga minyak dunia yang merupakan barometer pergerakan
harga komoditas lainnya termasuk batubara.
Pada pertengahan tahun 2010, harga batubara melemah pada
tingkat US$93,6/Mton. Pelemahan tersebut mengikuti tren penurunan
harga minyak bumi akibat ketidakpastian ekonomi global. Kemudian pada
triwulan akhir tahun 2010, harga batubara meningkat kembali menjadi
US$106,5/Mton. Kenaikan tersebut mengikuti tren kenaikan harga minyak
bumi akibat permintaan melonjak memasuki musim dingin terutama di
Eropa dan Amerika Serikat.
Harga batubara di pasar internasional pada awal tahun 2011
meningkat dari US$106,5/Mton menjadi US$112,4/Mton. Selain karena
tren harga yang terus meningkat sejak akhir tahun 2010, gangguan pasokan
batubara yang terjadi akibat banjir bandang yang melanda Australia sejak
Desember 2010 sebagai negara penghasil batubara terbesar dunia menjadi
faktor penyebab utama kenaikan harga batubara pada triwulan pertama.
Pada periode Mei-Juni tahun 2011, terjadi pelemahan harga
batubara dunia sebesar 7% menjadi US$104/Mton dari US$112,4/Mton
pada triwulan sebelumnya. Penurunan harga batubara dipasar internasional
diperkirakan akibat melemahnya permintaan batubara dunia dari Asia,
Selain Jepang, permintaan batubara dari Korea Selatan juga mengalami
penurunan.
Harga batubara bergerak stabil di sekitar US$104/Mton pada
periode Juli sampai dengan September 2012. Pergerakan ini dipengaruhi
oleh lesunya permintaan batubara dari Eropa terkait krisis hutang yang
masih melanda kawasan tersebut. Harga batubara kembali melemah pada
akhir tahun menjadi US$111,5/Mton. Penurunan tersebut disebabkan
melemahnya permintaan batubara dari Asia, terutama India akibat
perlambatan aktivitas industri baja, semen danDirect Reduced Iron(DRI),
serta Eropa akibat pelemahan ekonomi global.
Pada awal tahun, harga batubara masih dalam tren penurunan dari
tahun sebelumnya sebesar US$111,5/Mton menjadi US$102,04/Mton.
Penurunan harga tersebut disebabkan oleh melemahnya permintaan global
dan tingginya pasokan dari negara-negara utama pengekspor batubara.
Pertengahan tahun hingga tahun 2013 berakhir, harga kembali
menyentuh level US$90/Mton. Harga turun dikarenakan kelebihan
pasokan batubara dunia akibat penurunan permintaan. Kelebihan suplai
batubara di pasar itu diawali dari kelebihan cadangan batubara di Cina yang
juga sebenarnya hasil ekspor Indonesia. Cina mengurangi konsumsi
batubara karena industri pembuatan barang jadi yang diproduksi dengan
mesin-mesin elektrik yang dibangkitkan dengan pembakaran batubara
tengah lesu. Cina mengerem laju konsumsinya menjadi hanya 7% per
tahun hingga tiga tahun kedepan, setelah sebelumnya 9% per tahun. Cina
juga mulai menambang sendiri batubara miliknya dengan kapasitas
produksi 750 juta ton per tahun.
Selain Cina, Amerika Serikat juga mulai menjadi pemain ekspor
batubara. Setelah menemukan gas serpih (shell gas) yang murah, dimana
biaya produksinya hanya dua sen dollar per kaki kubik, Amerika Serikat
mengganti bahan bakar sejumlah pembangkit listrik dengan gas tersebut.
Pemakaian gas itu membuat Amerika Serikat menghemat batubaranya 180
karena itu, untung satu dollar saja per ton, Amerika Serikat sudah menjual
batubaranya. Ekspor Amerika Serikat sudah mencapai 91 juta ton di bulan
September terutama pada pasar Jepang dan Cina.
Pasokan batubara dunia berlebih karena sejumlah pemain baru
masuk ke dalam bisnis ini, termasuk di Indonesia, dimana banyak
penambang baru dan pemain lama berlomba dalam menggenjot
produksinya dikarenakan tertarik dengan tren kenaikan harga batubara
tahun-tahun sebelumnya. Pada akhirnya pasokan batubara melimpah ruah,
permintaan turun dan harga pun anjlok.
Penurunan permintaan batubara hampir di semua negara tujuan
ekspor sebagai dampak ikutan dari krisis ekonomi ekonomi yang melanda
Eropa, kecuali India yang masih tumbuh sebesar 9,5% terkait dengan
pemernuhan kebutuhan energi dalam negeri. Kelesuan ekonomi di Eropa
dan Amerika Serikat membuat permintaan terhadap industri manufaktur di
Cina dan India melemah dan akibatnya pembelian batubara berkurang.
Penurunan permintaan batubara terbesar terjadi pada Cina (-38,3%) seiring
dengan perlambatan ekonomi yang dialami Cina. Penurunan permintaan
batubara juga terjadi ke mitra dagang utama lainnya, seperti Jepang
(02,2%), Korea selatan (-7,7%) dan taiwan (-12,6%).
1.
A
NALISIS SWOTAnalisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang
digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan
(weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu
proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk
akronim SWOT (strengths,weaknesses,opportunities, danthreats). Proses
ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau
proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang
mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut.
Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan
memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian
bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan
(advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara
mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan
(advantage) dari peluang (opportunities)yang ada, selanjutnya bagaimana
kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan
terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang
mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan
2.
M
ATRIKS SPACEMatriks SPACE (Strategic Position and Action Evaluation),
digunakan untuk evaluasi posisi strategi. Analisa ini merupakan
pendekatan yang digunakan untuk menentukan posisi strategi perusahaan
dan individu bisnisnya. Ini merupakan pengembangan dari metode
portofolio dua dimensi, seperti halnya portofolio produk BCG (Boston
Consuling Group) atau metode Mc. Kinsey’s Attractiveness Industry /
Company Strength Matrix.
Pendekatan analisa SPACE berusaha untuk mengatasi keterbatasan
metode metode lainnya, dengan menambahkan dua dimensi lagi pada
matriks. Setiap dimensi dilihat sebagai gabungan dari beberapa faktor
yang dievaluasi secara terpisah. Dengan memasukkan sejumlah faktor,
manajer dapat melakukan evaluasi alternatif strategi tertentu dari beberapa
perspektif, dalam posisi yang lebih baik untuk menentukan strategi yang
dipilih.
Analisa SPACE terdiri dari empat input variabel / dimensi yang
digunakan, yaitu :
Kekuatan Finansial (KF)
Mencakup ukuran-ukuran yang menunjukan kekuatan finansial
yang dimiliki perusahaan, seperti : profitabilitas, likuiditas, aliran uang
kas, skala ekonomi.
Kekuatan Industri (KI)
Mencakup ukuran-ukuran yang menunjukan kekuatan industri /
bisnis perusahaan, seperti : potensial pertumbuhan, kemampuan
teknologi, produktivitas, intensitas kapital.
Keunggulan Bersaing (KB)
Mencakup ukuran-ukuran yang menggambarkan keunggulan
bersaing yang dimiliki perusahaan, seperti : kualitas produk, loyalitas
Kestabilan Lingkungan (KL)
Mencakup ukuran-ukuran yang mencerminkan kestabilan
lingkungan perusahaan, meliputi : perubahan teknologi, tingkat inflasi,
hambatan masuk pasar.
Kekuatan finansial dan keunggulan bersaing merupakan dua faktor
yang menentukan dalam posisi strategi perusahaan, sedangkan kekuatan
industri dan kestabilan lingkungan menunjukkan karakteristik posisi
strategi industri secara menyeluruh. Pada diagram SPACE
faktor-faktor diukur dengan skala -6 sampai +6.
Ketika vektor arah perusahaan berlokasi di kuadran agresif
(kuadran kanan atas)dari Matriks SPACE, organisasi berada pada posisi
yang baik untuk menggunakan kekuatan internalnya guna (1)
memanfaatkan peluang eksternal, (2) mengatasi kelemahan internal, dan
(3) menghindari ancaman eksternal. Dengan demikian, penetrasi pasar,
pengembangan pasar, pengembangan produk, integrasi ke belakang,
integrasi ke depan, integrasi horizontal, diversifikasi konglomerat,
diversifikasi konsentrik, diversifikasi horizontal, atau strategi kombinasi
semuanya bisa layak digunakan, tergantung pada kondisi spesifik yang
dihadapi perusahaan.
Vektor arah dapat muncul di kuadran konservatif (kuadran kiri
atas) dari Matriks SPACE, yang mengimplikasikan untuk tetap berada
dekat dengan kompetensi dasar perusahaan dan tidak mengambil risiko
yang berlebihan. Strategi konservatif sering kali memasukkan penetrasi
pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk, dan diversifikasi
konsentrik.
Vektor arah mungkin berlokasi di kiri bawah atau kuadran
defensif dari Matriks SPACE, yang menyarankan bahwa perusahaan
seharusnya berfokus pada memperbaiki kelemahan internal dan
menghindari ancaman eksternal. Strategi defensif mencakup retrenchment,
divestasi, likuidasi, dan diversifikasi konsentrik.
Vektor arah dapat berlokasi di kanan bawah atau kuadran
Strategi kompetitif mencakup integrasi ke belakang, ke depan, dan
horizontal; penetrasi pasar; pengembangan pasar; pengembangan produk;
dan joint venture.
DIMENSI INTERNAL DIMENSI EKSTERNAL
Kekuatan Finansial (KF) RATING Kekuatan Industri (KI) RATING
Profitabilitas 2 Potensial Pertumbuhan -3
Likuiditas 1 Kemampuan Teknologi -5
Aliran uang kas 2 Produktivitas -4
Skala ekonomi 1 Kekuatan Modal -3
RATA-RATA 1,5 RATA-RATA -3,75
Keunggulan Bersaing (KB) RATING Kestabilan Lingkungan (KL) RATING
Kualitas Produk 5 Perubahan Teknologi -3
Loyalitas Pelanggan 1 Tingkat Inflasi -3
Pangsa Pasar 2 Hambatan Masuk Pasar -1
Utilitas Kapital 4 Intensitas Persaingan -1
RATA-RATA 3 RATA-RATA -2
Dari Matriks diatas dapat diperoleh : Sumbu X : Rata-Rata KB + Rata-Rata KI
: 3 +( -3,75) :-0,75
Sumbu Y : Rata-Rata KF + Rata-Rata KL : 1,5 +( -2)
3.
M
ATRIKS BCGMasing-masing kotak dalam Matriks pertumbuhan pangsa pasar
menunjukkan tipe bisnis yang berbeda-beda :
a. Tanda Tanya (???/Question marks); Adalah bisnis perusahaan yang bergerak dalam pasar-pasar yang memiliki
pertumbuhan tinggi, tetapi pangsa pasarnya relatif rendah.
Perusahaan mencoba masuk ke dalam pasar yang telah
dikuasai oleh perusahan lain. Pada tipe ini, perusahaan
memerlukan uang tunai yang besar karena perusahaan harus
menyesuaikan dengan pasar yang pertumbuhannya sangat
tinggi dan karena perusahaan tersebut ingin mengambil alih
kepemimpinan pasar. Tipe ini disebut tanda tanya karena
perusahaan yang bersangkutan harus berpikir keras apakah
dia akan tetap menanamkan sahamnya dalam bisnis itu atau
tidak.
Perusahaan harus mengaktifkan sejumlah besar uangnya
untuk mempertahankan diri dalam kondisi laju pertumbuhan
pasar dan mengatasi serangan para pesaingnya.
c. Penghasil Uang Tunai (Rp/Cash Cows); Bila laju pertumbuhan pasar tiap tahun menurun dibawah 10 %, maka
bisnis yang tadinya bintang akan berubah menjadi sapi perah
jika perusahaan memiliki pangsa pasar relatif besar. Disebut
sapi perah, karena menghasilkan uang tunai bagi perusahaan
tanpa harus melakukan ekspansi karena laju pertumbuhan
pasarnya rendah. Dan karena menguasai pasar, usaha itu
menikmati skala ekonomis dan marjin laba yang laba yang
lebih tinggi. Pada kondisi ini perusahaan cenderung
menggunakan uangnya untuk mendukung bisnis lainnya.
d. Tipe Yang Lemah (xxx/Dogs); Tipe bisnis semacam ini mempunyai pangsa pasar yang lemah dalam pertumbuhan
pasar yang rendah. Pada tipe ini umumnya perusahaan
mengalami kerugian, meskipun diberi uang tunai yang
banyak. Perusahaan perlu mempertimbangkan apakah
perusahaan akan mempertahankannya atau ditutup dengan
alasan yang kuat.
Dari sisi penawaran, pasokan batubara menurun karena tutupnya
beberapa perusahaan tambang batubara Australia dan pengumuman
Polandia yang akan mengurangi produksinya. Dengan pasokan batubara
yang menurun, sedangkan kondisi permintaannya justru meningkat,
mendorong harga batubara naik.
Harga batubara melemah pada tahun 2002 hingga level
US$33,20/Mton. Tren kenaikan harga pada dua tahun sebelumnya,
mendorong negara eksportir batubara dunia meningkatkan produksinya.
Produksi Cina tahun 2002 adalah sebesar 1550,4 juta ton atau meningkat
6% dari tahun sebelumnya 1471,5 juta ton. Australia meningkatkan
103,3 juta ton. Hal ini menyebabkan pasokan batubara dunia meningkat
sehingga memicu melemahnya harga batubara dunia.
Pada tahun-tahun selanjutnya, harga batubara dunia cendrung
meningkat. Hal ini disebabkan kenaikan permintaan batubara, terutama
Cina dan India yang menguasai kurang lebih 72% dari kenaikan konsumsi
batubara dunia sebagai akibat pertmbuhan ekonomi yang mencapai
rata-rata 6,5% di Cina dan 5,7% di India. Disamping itu, peningkatan harga
batubara sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia dikarenakan
turunnya pasokan dan cadangan minyak Amerika Serikat, pengurangan
kuota OPEC, ketegangan Iran dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi
politik Nigeria. Tingginya harga miyak bumi mendorong negara-negara
terutama negara industri Asia mencari bahan bakar alternatif sehingga
mendorong peningkatan permintaan batubara yang pada akhirnya turut
memicu kenaikan harga batubara dunia.
Tahun 2008, kenaikan harga batubara dunia meningkat tajam
dikarenakan dorongan beberapa peristiwa yang terjadi di negara-negara
produsen, antara lain:
a. Pada bulan Januari 2008, pemerintah Cina melakukan
larangan sementara terhadap ekspor batubara thermal guna
menyediakan pasokan batubara untuk pasar domestik. Hal ini
telah meningkatkan ketegangan di pasar batubara dan terjadi
pada saat bersamaan dengan badai salju yang melanda Cina
bagian tengah dan selatan yang menyebabkan kerusakan
dan kekacauan transportasi sehingga menganggu distribusi
batubara;
b. Kelangkaan sumber energi dan keterbatsan fasilitas
pelabuhan di Afrika Selatan yang menyebabkan Anglo
American Plc menutup tambangnya;
c. Bencana banjir di Queensland, Australia pada bulan
Januari dan Februari yang mengakibatkan penundaan
Pada periode Januari sampai dengan Maret 2009, harga batubara
turun kembali pada posisi US$70. Jepang sebagai importir batubara
terbesar di dunia mengalami penurunan impor batubara thermal setidaknya
sebesar 3% dengan tingkat 130 juta ton yang disebabkan oleh
meningkatnya penggunaan kapasitas pembangkit listrik energi nuklir.
Meningkatnya tingkat penggunaan pembangkit listrik energi nuklir di
Jepang akan menyebabkan berkurangnya penggunaan jenis energi lain,
termasuk batubara. Hal ini menjadi faktor penting yang menurunkan
permintaan batubara dunia secara signifikan.
Harga batubara dunia kemudian meningkat kembali pada tahun
2010 sampai dengan akhir tahun 2011 karena dipengaruhi harga minyak
dunia sebagai barometer penggerak harga komoditas lainnya termasuk
batubara. Selain itu, gangguan pasokan yang terjadi akibat banjir bandang
melanda Australia sejak Desember 2010 serta belum pulihnya permintaan
batubara dari Jepang pasca tsunami.
Tahun 2012, harga kembali turun dikarenakan kelebihan pasokan
batubara dunia akibat menurunnya permintaan. Kelebihan suplai batubara
di pasar itu diawali dari kelebihan cadangan batubara di Cina yang juga
sebenarnya hasil ekspor Indonesia. Cina mengurangi konsumsi
batubara karena industri pembuatan barang jadi yang diproduksi dengan
mesin-mesin elektrik yang dibangkitkan dengan pembakaran batubara
tengah lesu. Cina mengerem laju konsumsinya menjadi hanya 7% per
tahun hingga tiga tahun kedepan, setelah sebelumnya 9% per tahun. Cina
juga mulai menambang sendiri batubara miliknya dengan kapasitas
produksi 750 juta ton pertahun.
Selain Cina, Amerika Serikat juga mulai menjadi pemain ekspor
batubara. Setelah menemukan gas serpih (shell gas) yang murah, dimana
biaya produksinya hanya dua sen dollar per kaki kubik, Amerika Serikat
mengganti bahan bakar sejumlah pembangkit listrik dengan gas tersebut.
karena itu, untung satu dollar saja per ton, Amerika Serikat sudah menjual
batubaranya. Ekspor Amerika Serikat sudah mencapai 91 juta ton di bulan
September terutama pada pasar Jepang dan Cina.
Pasokan batubara dunia berlebih karena sejumlah pemain baru
masuk ke dalam bisnis ini, termasuk di Indonesia, dimana banyak
penambang baru dan pemain lama berlomba dalam menggenjot
produksinya dikarenakan tertarik dengan tren kenaikan harga batubara
tahun-tahun sebelumnya. Pada akhirnya pasokan batubara melimpah ruah,
permintaan turun dan harga pun anjlok.
Penurunan permintaan batubara hampir di semua negara tujuan
ekspor sebagai dampak ikutan dari krisis ekonomi ekonomi yang melanda
Eropa, kecuali India yang masih tumbuh sebesar 9,5% terkait dengan
pemernuhan kebutuhan energi dalam negeri. Kelesuan ekonomi di Eropa
dan Amerika Serikat membuat permintaan terhadap industri manufaktur di
Cina dan India melemah dan akibatnya pembelian batubara berkurang.
Penurunan permintaan batubara terbesar terjadi pada Cina (-38,3%) seiring
dengan perlambatan ekonomi yang dialami Cina. Penurunan permintaan
batubara juga terjadi ke mitra dagang utama lainnya, seperti Jepang
(02,2%), Korea selatan (-7,7%) dan taiwan (-12,6%).
Pergerakan harga batubara dunia sebagaimana dimaksud diatas
menjadi pemicu pergerakan harga batubara Indonesia. Meski pemerintah
menetapkan kebijakan harga acuan guna melindungi kepentingan dalam
negeri, namun tetap menjadikan harga batubara global menjadi salah satu
Kuadran pertama yaitu TANDA TANYA, hal ini menunjukkan posisi berada pada pangsa pasar yang rendah, namun bersaing di industri
dengan tingkat pertumbuhan tinggi (5-10%). Pada kuadran tanda tanya
dihadapkan pada dua pilihan, yaitu memperkuat bisnis dengan strategi
intensif atau menjualnya. Pilihan yang akan diambil adalah melakukan
strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar atau pengembangan
produk), Keinginan kuat untuk terus memajukan bisnis ini melalui strategi
B
AB III
R
ENCANA
O
PERASIONAL
A.
K
UALITAS PRODUKPada kegiatan observasi lapangan dilakukan pengambilan sample
singkapan (outcrop) batubara untuk uji analisis proksimat yang bertujuan
agar dapat diketahui nilai kalor pada batubara tersebut dan dapat juga
diketahui nilai-nilai kimia dari analisis proksimat batubara seperti total
moisture, kadar abu, volatile matter,fixed carbon dan total sulfur.Sample
yang digunakan untuk pengujian analisis proksimat dipilih dari beberapa
titik yang dianggap mewakili satu lapisan batubara, selain itu dipilih juga
berdasarkan kondisi samplenya. Hasil pengujian analisis proksimat dapat
dilihat pada Tabel III.1. dan Lampiran.
Tabel III.1.
Hasil Uji Analisis Proksimat Batubara
No Lapisan
Perhitungan kuantitas produk batubara ini menggunakan metode
daerah pengaruh berdasarkan pada Standar Nasional Indonesia (SNI)
a. Sebaran batubara menggunakan metode daerah pengaruh
dengan perhitungan penyebaran ke arah penyebaran
perlapisan batubara (down dip).
b. Densitas batubara yang digunakan merupakan densitas umum
batubara sebesar 1,30 ton/m3.
c. Lapisan batubara dengan ketebalan minimum 0,3 meter.
d. Kriteria aspek geologi mendasarkan pada kondisi geologi
moderat.
e. Interpolasi pemodelan geologi secara menerus (kontinu) dan
atau tergantung jarak informasi.
Sumberdaya batubara dengan satuan tonase didapatkan dari hasil
perkalian antara luas daerah pengaruh, ketebalan lapisan batubara dan
densitas batubara.
Adapun klasifikasi sumberdaya batubara dengan mengacu pada
kriteria diatas adalah sebagai berikut :
a. Sumberdaya Batubara Terukur, yaitu sumberdaya batubara
yang memiliki jarak daerah pengaruh 0-250 m dari
singkapan.
b. Sumberdaya Batubara Tertunjuk, yaitu sumberdaya batubara
yang memiliki jarak daerah pengaruh 250-500 m dari
singkapan.
c. Sumberdaya Batubara Tereka, yaitu sumberdaya batubara
yang memiliki jarak daerah pengaruh 500-1000 m dari
singkapan.
Tabel III.2.
Hasil Perhitungan Sumberdaya Batubara dengan Menggunakan Metode Daerah Pengaruh SNI ‘98
TERUKUR TERUNJUK TEREKA TERUKUR TERUNJUK TEREKA TERUKUR TERUNJUK TEREKA
A 574.545,53 1.867.230,71 4.991.909,33 1.051.418,32 3.417.032,2 9.135.194,07 1.366.843,82 4.442.141,86 11.875.752,29
C 98.174,7 392.699,08 1.570.796.33 245.436,93 981.747,71 3.926.990,82 319.068,02 1.276.272,02 5.105.088,06
Kampung B 98.174,77 392.699,08 1.570.796.33 161.988,37 647.953,49 2.591.813,94 210.584,88 842.339,53 3.369.358,12 Nama Blok Lapisan
LUAS (m2) VOLUME (m3) TONAGE (Ton)
Setelah didapatkan daerah pengaruhnya maka selanjutnya
dilakukan penggambaran daerah pengaruh masing-masing klasifikasi
sumberdaya batubara pada setiap lapisan (Lampiran) sehingga didapatkan
jumlah kuantitas produk (Tabel III.2.) dan (Lampiran).
Berdasarkan perhitungan kuantitas produk batubara dengan metode
daerah pengaruh (Lampiran), maka dapat disimpulkan jumlah produk
batubara di daerah penelitian untuk sumberdaya batubara terukur sebesar
2.327.835,41 ton, sumberdaya batubara tertunjuk sebesar 7.935.644,64 ton
dan sumberdaya batubara tereka sebesar 25.021.972,65 ton.
C.
R
ENCANA TARGET PRODUKSIRencana Penambangan disesuaikan dengan kapasitas produksi,
dimana pola penambangannya mengikuti arah Penyebaran dengan
dihitung, maka langkah selanjutnya adalah membagi sumberdaya tereka
diperkirakan sekitar 25.021.972,65 Ton. Revisi dilakukan untuk
penyesuaian budget sehingga diputuskan target stripping ratio adalah 3
Bcm : 1 Ton. Arah penambangan berdasarkan arah penyebaran Batubara
dan rencana target produksi dalam setahun sebesar 1.000.000,00 ton.
Perusahaan ini merencanakan penambangan batubara sebanyak 100.000
ton per bulan dengan pengupasan overburdensebanyak 300.000 Bcm per
B
AB IV
R
ENCANA
K
EUANGAN
A.
RENCANA ANGGARAN BIAYA
Penentuan rencana anggaran biaya dalam perencanaan bisnis ini
menjadi sangat penting dalam hal memperkiran biaya yang harus
dikeluarkan atau disiapkan untuk mengambil atau menambang potensi
batubara yang ada. Dalam penentuan rencana biaya ada beberapa hal yang
harus diperhatikan diantaranya parameter biaya yang menjadi patokan
untuk menentukan biaya.
B.
RENCANA BIAYA PERSIAPAN PENAMBANGAN
Persiapan dalam penambangan pada areal penelitian bertujuan agar
peneliti dapat mengetahui jumlah modal yang dibutuhkan. Persiapan
tersebut terdiri dari :
a. Pengurusan Kontrak
b. Perencanaan Tambang
c. Sarana dan Prasarana
d. Mobilisasi Peralatan Tambang
Jumlah Rencana Biaya Persiapan Batubara pada penelitian ini
adalah sebesar Rp. 2.157.100.000,00 (lampiran) yang diperoleh dari
perhitungan terhadap keseluruhan komponen biaya yang timbul dari
kegiatan tersebut.
C.
RENCANA BIAYA KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA
Industri Pertambangan merupakan suatu kegiatan yang memiliki
resiko tinggi terhadap kecelakaan yang tidak saja mengakibatkan
cideranya manusia tapi juga sering mengakibatkan kematian. Selain resiko
kecelakaan para pekerja tambang juga sangat beresiko terhadap gangguan
industri pertambangan yaitu mempunyai aspek yang sama dengan aspek
produksi.
Jumlah rencana biaya K3 pada penelitian ini adalah sebesar Rp.
103.720.000,00 (lampiran) yang diperoleh dari perhitungan terhadap
keseluruhan komponen biaya yang timbul dari kegiatan K3 tersebut.
D.
R
ENCANA ORGANISASI & GAJI KARYAWANMengingat tingkat resiko yang dihadapi operasi penambangan
Batubara cukup tinggi dan terbatasnya kemampuan perusahaan, maka
perencanaan Cadangan manusia yang matang perlu disiapkan agar perenan
karyawan dapat dioptimalkan. Dalam operasi penambangan Batubara di
areal penelitian akan dipimpin oleh seorang General Manager yang
bertanggung jawab kepada Direksi dalam hal kegiatan operasional,
administrasi, kebijaksanaan dan keselamatan kerja di lapangan. General
manager dalam mengoperasikan tambang dibantu oleh beberapa Manager
yang mengepalai setiap bagian, yaitu :
a. Bagian Perencanaan
b. Bagian Operasi Produksi
c. Bagian K3 dan Lingkungan
d. Bagian Perawatan dan Pemeliharaan
e. Bagian Administrasi dan Umum
Masing-masing bagian akan didukung oleh sejumlah staf untuk
mendukung kelancaran pekerjaan. Jumlah karyawan yang rencana
dibutuhkan sebanyak 89 orang serta rencana biaya total gaji untuk
karyawan selama satu bulan sebesar Rp 1.019.761.047,00.(Lampiran)
E.
R
ENCANA BIAYA JENIS & PERALATAN TAMBANGUntuk mendapatkan efesiensi kerja yang baik dengan kondisi
overburden Batubara yang ada, maka perlu pemilihan alat (jenis, jumlah
dan kapasitas dan jam kerja) agar diperoleh kerja yang seoptimal mungkin.
Dalam pemilihan ini produksi Batubara pertahun, banyaknya hari kerja
pertahun, kondisi Batubara, kondisi daerah, keadaan topografi, jarak
sudah direncanakan sangat menentukan jenis dan komposisi peralatan
yang digunakan. Pemilihan jenis alat tersebut juga akan ditentukan oleh
kondisi lapangan maupun jenis material, baik overburden maupun
interburdenserta endapan Batubara yang akan digali.
Total biaya yang rencana akan dibutuhkan sesuai dengan
kebutuhan jenis dan peralatan dalam kegiatan penambangan adalah
sebesar Rp 5.380.049.273,00 perbulan dan sudah termasuk dengan biaya
pemakaian solar. (Lampiran)
F.
R
ENCANA BIAYA SARANA & PRASARANAKebutuhan sarana dan prasaran dalam kegiatan pertambangan
sangat menunjang akan produktifitas karyawan dalam bekerja secara
efesien dan efektif. Sehingga dalam rencana kegiatan penambangan pada
areal penelitian ini memperhitungkan kebutuhan sarana dan prasarana
karyawan yang dimana sara dan prasarana tersebut terbagi menjadi lima,
yaitu :
a. Perlengkapan Kantor
b. PerlengkapanMess
c. PerlengkapanEngineering/Survey
d. Fasilitas Tambang
e. APD &Safety Shoes
Total rencana biaya untuk kebutuhan sarana dan prasana tersebut
diakumulasikan sebesarRp 974.160.000,00. (lampiran)
G.
F
ORECAST PRODUKSIForecast produksi adalah suatu kumpulan data yang menuliskan
dan menerangkan kegiatan produksi pada waktu yang akan datang,di mana
perusahaan harus mampu meramalkan berapa jumlah penjualan yang akan
dihasilkan pada waktu mendatang. Peramalan atau forecast sangat di
perlukan dalam suatu perusahaan, agar perusahaan tersebut dapat
memperhitungkan berapa persen dari angka penjualan tersebut dapat
Kebutuhan memforecastmelihat situasi yang akan datang menjadi
sangat penting dan perlu apa adanya perubahan-perubahan keadaan kearah
yang lebih baik semakin cepat.
Kebutuhan modal untuk biaya penambangan sebesar
2.500.000.000 US$ yang akan dipinjam dari bank dengan bunga 12 %
Flat. Total peminjaman yang telah dikenakan bunga menjadi
2.800.000.000 US$. Rencana dari hasil peminjaman tersebut akan
diangsur selama 12 bulan dengan cicilan sebesar 233.333,33 US$ per
bulannya setelah produksi. (Lampiran)
H.
P
ENDAPATAN PENJUALANPendapatan berasal dari hasil penjualan batubara per tahun
maupun per bulan sesuai dengan rencana produksi dan harga yang
berlaku. Penjualan batubara direncanakan dilakukan di pelabuhan terdekat
sesuai dengan PERMEN Perhubungan No. 93 Tahun 2011. Berdasarkan
penentuan harga jual dan rencana target produksi maka total pendapatan
dari hasil penjualan batubara adalah 8.340.000 US$ per bulan.
I.
H
ARGA PULANG POKOKHarga pulang pokok ini didapatkan dari total biaya perbulan yang
dibagi dengan jumlah produksi batubara dalam sebulan. Total biaya
perbulan didapatkan dari pada biayaoverheadproduksi, biaya pemindahan
tanah penutup dan biaya produksi batubara. Dari hasil perhitungan tersebut
didapatkan harga pulang pokok sebesar 6,18 US$ per ton. Dan jika
ditambah dengan biaya pengangkutan sebesar 35% dari harga pulang
pokok akan menjadi 8,34 US$ per ton. (Lampiran)
J.
K
ELAYAKAN EKONOMIUntuk menghitung kelayakan ekonomi digunakan metode analisis
Nilai Sekarang Bersih (Net Present Value = NPV) dengan tingkat bunga
minimum i* = 18%. Tingkat pengembalian modal (Discounted Cashflow
Rate of Return = ROR). Masa pelunasan (Payback Period = PBP). Aliran
aliran uang tunai didapatkan NPV sebesar 8.322.419,75 US$ serta nilai
ROR sebesar 132% dengan masa pelunasan selama satu tahun empat bulan
B
AB V
D
AMPAK
K
EGIATAN
P
ERTAMBANGAN
Berdasarkan data dari dokumen studi kelayakan dan berbagai
sumber untuk mengkaji berbagai dampak yang ditimbulkan oleh
keberadaan aktifitas perusahaan pertambangan, diperoleh hasil analisis
berbagai dampak dibidang ekonomi, sosial, dan lingkungan akibat
kegiatan pertambangan di daerah penelitian.
A.
D
AMPAK EKONOMI MASYARAKATBerdasarkan hasil kajian ditemukan bahwa kehadiran perusahaan
batubara di wilayah penelitian membawa dampak positif di bidang
ekonomi diantaranya dapat meningkatkan pendapatan per bulan
masyarakat sekitar pertambangan.
Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh adanya penerimaan
tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendukung kegiatan
operasional. meliputi tenaga managerial, teknis tambang, teknis
operasional dan tenaga kerja pendukung.
Operasional penambangan batubara, yang akan dilakukan di daerah
penelitian membutuhkan tenaga kerja sebesar 89 orang. Ini berarti akan
memberikan kesempatan kerja kepada penduduk lokal. Diketahui jumlah
penduduk usia 16 -55 tahun di sekitar lokasi perusahaan sebanyak 5.435
jiwa dan jumlah pengangguran sebanyak 871 jiwa, maka Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), sebesar :
= 871
5.435 100%
= 16, 02 %
Karena kebutuhan tenaga kerja sebanyak 89 orang dengan asumsi
lokal yang belum bekerja, maka dengan adanya kegiatan penambangan di
daerah penelitian akan mengurangi tingkat pengangguran atau
memberikan Kesempatan Kerja (KK) bagi penduduk lokal sebesar :
= − (871 − 71
5.435 100%)
Dengan demikian Kesempatan Kerja (KK) = 16,02 % -1,47 % =
14,55 %.
Perekrutan masyarakat lokal untuk bekerja di pertambangan
batubara diharapkan akan meningkatkan pendapatan mereka yang pada
akhimya akan berpengaruh pada tingkat pendapatan perkapita keluarga
pekerja tambang. Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan terhadap
pendapatan masyarakat setelah ada aktivitas pertambangan batubara
menunjukkan adanya peningkatan secara umum dari pendapatan sekitar ±
Rp 1.000.000,- meningkat menjadi sekitar ± Rp 2.000.000,- Dengan
jumlah anggota keluarga rata 3 orang per kepala keluarga (KK), maka
tingkat pendapatan perkapita (PPK) masyarakat di sekitar tambang
batubara sebesar:
= .2.000.000,00 3
= Rp. 666.666,00
Selain faktor adanya penyerapan tenaga kerja lokal yang bekerja di
perusahaan, peningkatan penghasilan per bulan yang diterima oleh
masyarakat disebabkan pula oleh adanya peluang usaha bagi masyarakat
yang berada disekitar aktifitas pertambangan. Warung sembako, rumah
sewaan, dan warung makan adalah 3 peluang usaha yang paling dominan
B.
D
AMPAK LINGKUNGANKegiatan pertambangan di wilayah penelitian membawa dampak
negatif terhadap lingkungan. Dampak yang diakibatkan oleh kegiatan
pertambangan batubara diantaranya adalah menurunnya kualitas air seperti
mulai mengeruhnya air Sungai Mahakam, polusi udara yang diakibatkan
debu hasil kegiatan penambangan dan kebisingan dari kegiatan tersebut.
Ketiga dampak negatif ini langsung dirasakan oleh masyarakat akibat dari
aktifitas pertambangan.
Sebagaimana hasil penelitian hasil penelitian Zuikiflimansyah
(2007) yang menyatakan bahwa pertambangan batu bara membawa
dampak negatif terhadap pencemaran air, erosi dan sedimentasi tanah,
Selanjutnya Suhada ef al. (1995) menyatakan bahwa pertambangan
batubara membawa dampak negatif terhadap lingkungan karena merubah
topografi.dan bentang alam serta meninggalkan lubang-lubang besar bekas
galian tambang.
1.
P
ENCEMARAN AIRKeruhnya air sungai Mahakam disebabkan oleh kegiatan
pertambangan batubara di sekitarya yang dilakukan secara terbuka.
Kegiatan pembukaan dan pembersihan lahan tambang serta aktivitas
lainnya seperti pembangunan jaringan jalan tambang, sarana dan prasarana
penunjang lainnya mempercepat aliran permukaan (run-off) yang
membawa material-material atau bahan-bahan pencemar masuk ke dalam
badan air di Sungai Mahakam pada saat terjadi hujan lebat.
2.
P
ENCEMARAN UDARADampak aktifitas pertambangan juga menurunkan kualitas udara
ambien. Penurunan kualitas udara ambien ini, disebabkan oleh
pembongkaran batubara dan mobilitas pengangkutan batubara dan
peratalan dari dalam ke luar lokasi penambangan. Dampak aktivitas
berdasarkan jumlah bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan oleh
kendaraan perusahaan yang beroperasi dalam setiap hari.
Dikarenakan kebutuhan solar untuk operasional penambangan di
daerah penelitian sebanyak 178.289,27 Ltr/Bln atau 5.942,97 Ltr/hari atau
5,943 Kg/Hari, maka emisi gas buang yang akan dihasilkan sebanyak :
S02 = ± 19,0 kg/ton x 5,943 kg/hri = ± 112,917 x 106mg/ton
N02 = ± 11,0 kg/ton x 5,943 kg/hri = ± 65,373 x 106mg/ton
CO = ±34,5 kg/ton x 5,943 kg/hri = ± 205,003 x 106mg/ton
Mobilisasi peralatan melalui jalur-jalur pengangkutan sepanjang ±
10 km (10.000 meter) dengan sebaran gas kiri kanan jalan dengan jarak
masing-masing 100 m dan tinggi kolom udara 100 m (volume kolam udara
= 1 x 106 m3), maka gas buang yang dihasilkan kendaraan pengangkut
adalah sebagai berikut:
S02 = (± 112,917 x 106mg/ton) / (1 x 106m3) = 112,917 mg/ m3
N02 = (± 65,373 x 106mg/ton) / (1 x 106m3) = 65,373 mg/ m3
CO = (± 205,003 x 106mg/ton) / (1 x 106m3) = 205,003 mg/ m3 Apabila dibandingkan dengan baku mutu lingkungan untuk
masing-masing gas tersebut yaitu sekitar 900 µm/Nm3(S02), 400 µm/Nm3
(N02), dan 30.000 µm/Nm3 (CO) menunjukkan bahwa kadar pencemaran
udara di lokasi kajian cukup tinggi. Selain disebabkan oleh pembongkaran
batubara dan mobilisasi kendaraan, penurunan kualitas udara ambient juga
disebabkan oleh tingginya kandungan debu di udara.
Diketahui:
Kecepatan alat pengangkut (V) = 30 km/jam
Berat alat pengangkut dan muatan (W) = 50 ton
Jumlah roda kendaraan pengangkut (N) = 8 buah
Silt content (S) untuk jalan diperkeras = 10 %
Jumlah hari tidak hujan (365 - 215) = 150 hari
Maka jumlah debu yang dihasilkan oleh bergeraknya satu lintasan
Eu= 20,77 (10/12) (30/48) (50/3)0,7(8/4)0,5(150/365)
= 20,77 (1,2) (0,62) (7,16) (1,41) (0,41)
= 63,96kg/km
Jarak angkut dari lokasi tambang menuju pelabuhan menempuh
jarak sejauh ± 10 km dengan 2 trip/hari, maka jumlah debu yang
dihasilkan sebesar :
Eu= 63,96kg/kmx 2 trip x 10 km = 1.279,2 kg/hari
Jika sebaran gas kiri kanan jalan dengan jarak masing-masing 100
m dan tinggi kolom udara 100 m, maka :
Volume Kolom Udara = 10.000 m x 200 m x 100 m = 200 x 10sm3
Sehingga kadar debu di udara (Eu) sebesar :
Eu=1.279,2 kg/hari
200 x 106m3 =1.279,2x 106mg/hari
200 x 106m
=6,396 mg/ m3/hari
Jika dibandingkan dengan nilai baku mutu lingkungan untuk
sebaran debu di udara, menunjukkan bahwa aktivitas pengangkutan
material batubara yang melewati jalan tambang (hauling road) berada di
atas batas ambang baku mutu dimana batas ambang baku mutu sebaran
udara berdasarkanPeraturan Pemerintah nomor 41 tahun 1999 sebesar
0,23 mg/m3, sementara sebaran udara di lokasi penambangan daerah
penelitian mencapai nilai 6,396 mg/m3/hari.
C.
D
AMPAK SOSIALKajian dampak keberadaan perusahaan pertambangan batubara
terhadap kehidupan sosial masyarakat di Kecamatan Anggana, Kabupaten
Kutai Kartanegara diarahkan ke bentuk proses sosial yang terjadi di
masyarakat daerah penelitian. Secara asosiatif terjadi kerjasama dan
akomodatif antara suku pendatang (yang bekerja diperusahaan dengan
suku asli) dan secara disosiatif juga terjadi persaingan dan konflik.
usaha pertambangan ternyata berbanding terbalik dengan dampaknya di
bidang sosial.
Konflik antara masyarakat dan masyarakat dengan perusahaan
didaerah penelitian sebagian besar dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat
sekitar dengan masalah limbah yang dikelolah oleh perusahaan sehingga
keberadaanya mengganggu sumber air minum dan kebutuhan mencuci.
Rendahnya jumlah tenaga kerja lokal yang diterima bekerja di perusahaan
dan masalah ganti rugi lahan dan tanaman milik masyarakat sekitar proyek
eksploitasi pertambangan.
Selain membawa dampak terhadap meningkatan konflik di
masyarakat, kehadiran perusahaan batubara di Kutai Kartanegara juga
mempengaruhi prilaku gotong royong terutama partisipasi masyarakat
dalam mengikuti kerja bakti mengalami penurunan diikuti oleh kegiatan
keagamaan. Kondisi tersebut, berbanding terbalik dengan sumbangan
masyarakat untuk kegiatan sosial semakin lebih baik.
Waktu kerja di perusahaan batubara sejak pagi hari sampai sore
hari bahkan adanya kerja lembur adalah sebagai pemicu terjadinya dampak
keikutsertaan masyarakat untuk kegiatan kerja bakti semakin menurun
(berdampak negatif). Disisi lain, meningkatnya jumlah penghasilan per
bulan semakin mendorong masyarakat untuk ikut serta memberikan
sumbangan-sumbangan untuk membiayaan kegiatan-kegiatan sosial.
D.
D
AMPAK VEGETASI & SATWAHasil kajian menunjukkan bahwa kondisi vegetasi saat ini
merupakan kawasan hutan alam yang tidak terbina berupa hutan sekunder
dan semak belukar yang merupakan kawasan budidaya non kehutanan
(KBNK) berdasarkan RTRW Provinsi Kalimantan Timur tahun 2013,
sehingga memungkinkan untuk ditambang.
Untuk satwa (fauna) liar, dianalisis fauna-fauna yang ada di sekitar
kawasan pertambangan batubara seperti mamalia, reptilia, amphibia, dan
penyebar biji, mengadakan penyerbukan tanaman dan pengurai
bahan-bahan organik. Fauna liar juga ini memegang peran penting secara
ekonomis terutama dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Kawasan hutan merupakan tempat hidup dan berkembang biak bagi
banyak satwa liar yang ada di dalamnya. Kegiatan pembukaan yang
didahului pembersihan lahan untuk aktivitas pertambangan batubara
memberikan dampak negatif terhadap beberapa jenis satwa liar yang ada,
karena dengan rusaknya atau hilangnya fungsi hutan sebagai habitat
satwa-satwa tersebut akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya
sehingga sehingga satwa yang ada akan mengadakan migrasi ke lokasi
lainnya atau punah.
E.
C
OMMONITY DEVELOPMENT & CORPORATE SOCIALRESPONSIBILITY
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 23 tahun 2010 tentang
pelaksanaan usaha pertambangan mineral dan batubara setiap perusahaan
harus memiliki program pemberdayaan masyarakat (community
development) dan Corporate Sosial .Responsibility (CSR). Wujud
kepedulian tersebut dilakukan perusahaan dalam berbagai bentuk bantuan
seperti membangun infrastruktur diantaranya jalan, jembatan, sekolah,
sumber air bersih yang bisa digunakan untuk minum dsb. Selain itu, ada
pula dalam bentuk beasiswa dan bantuan kesehatan bagi masyarakat
D
AFTAR
P
USTAKA
1. Eddy Winarno dan Wawong Dwi Ratminah, 2012, Pengaruh
Kestabilan Lereng Terhadap Cadangan Endapan Bauksit, Prosiding Simposium dan Seminar Geomekanika Ke-1, Program Teknik Pertambang UPN “Veteran” Yogyakarta, hal. 85.
2. D. Hariyanto, 2010, Evaluasi Ekonomi Proyek Mineral, Jurusan Teknik Pertambang Fakultas Teknologi Mineral UPN “Veteran” Yogyakarta, 18 – 42 dan 164.
3. Lee, 1984 and Taylor, 1977,Konsep Dasar Perencanaan Tambang
4. Siswanto Sutojo, 1993, Studi Kelayakan Proyek, Cetakan ke-6,
Pustaka Binama Pressindo, Jakarta.
5. ______,Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Kartanegara, 2012, Kecamatan Anggan Dalam Angka.
6. ______,Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Dalam Negeri, 2012,Kajian Dampak Penambangan Batubara Terhadap Pengembangan Sosial Ekonomi dan Lingkungan DiKutai Kartanegara. Jakarta.
7. _____,Badan Standar Nasional Indonesia Amandemen I SNI
13-5014-1998, 1998,Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan
Batubara, Rancangan Standar Nasional Indonesia.
8. ______,Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, 2003,
Kriteria Penentuan dan Tata Cara Pembuatan Peta Wilayah Keprospekan Kawasan Pertambangan, Serta Prosedur Penetapan Kawasan Pertambangan Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah.
9. ______,Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, 2013, Harga
Batubara Acuan (HBA) dan Harga Patokan Batubara (HPB) bulan oktober.
11. http://finance.detik.com/read/2012/09/20/165107/2028265/1034/harga-batubara-masih-akan-turun-hingga-akhir-tahun (diakses pada 22 November 2014 19:58);
12. http://hazibullahtambang-pertambangan.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html(diakses pada 22 November 2014 20:32);
13. http://ptdspmasamba.blogspot.com/2010/09/investasi-dunia-tambang-batubara.html(diakses pada 22 November 2014 21:12);
14. Laporan Neraca Pembayaran Indonesia 2006-2012. Bank Indonesia.
LAPORAN ANALISIS SAMPEL BATUBARA
Kode Sampel : OC 3
Tanggal Analisis : 4 September 2013
Lokasi Pengambilan Sampel : ( 536.279 mE, 9.947.204 mS)
HASIL ANALISIS BATUBARA
No. Nama Pengujian Hasil (%)
1 Total Moisture (As Receive) 27
2 Ash (Air Dried Basis) 4,2
3 Volatitle Matter (Air Dried Basis) 44,2
4 Fixed Carbon (Air Dried Basis) 38
5 Total Sulphur (Air Dried Basis) 1,65
6 Gross Calorific Value (Air Dried Basis) 6185 Cal/g
Preparasi dan pengujian sampel menggunakan metode ASTM
Mengetahui : Kepala Laboratorium
Teknologi Batubara
LAPORAN ANALISIS SAMPEL BATUBARA
Kode Sampel : OC 5
Tanggal Analisis : 4 September 2013
Lokasi Pengambilan Sampel : (536.361 mE, 9942074 mS)
HASIL ANALISIS BATUBARA
No. Nama Pengujian Hasil (%)
1 Total Moisture (As Receive) 37,2
2 Ash (Air Dried Basis) 0,9
3 Volatitle Matter (Air Dried Basis) 41,8
4 Fixed Carbon (Air Dried Basis) 40,3
5 Total Sulphur (Air Dried Basis) 0,26
6 Gross Calorific Value (Air Dried Basis) 5724 Cal/g
Preparasi dan pengujian sampel menggunakan metode ASTM
Mengetahui : Kepala Laboratorium
Teknologi Batubara
LAPORAN ANALISIS SAMPEL BATUBARA
Kode Sampel : OC 6
Tanggal Analisis : 4 September 2013
Lokasi Pengambilan Sampel : (534.708 mE, 9.941.761 mS)
HASIL ANALISIS BATUBARA
No. Nama Pengujian Hasil (%)
1 Total Moisture (Ash Receive) 26,9
2 Ash (Air Dried Basis) 2,7
3 Volatitle Matter (Air Dried Basis) 42,7
4 Fixed Carbon (Air Dried Basis) 40,2
5 Total Sulphur (Air Dried Basis) 2,36
6 Gross Calorific Value (Air Dried Basis) 6214 Cal/g
Preparasi dan pengujian sampel menggunakan metode ASTM
Mengetahui : Kepala Laboratorium
Teknologi Batubara
LAPORAN ANALISIS SAMPEL BATUBARA
Tipe Sampel : OC 8
Tanggal Analisis : 4 September 2013
Lokasi Pengambilan Sampel : (535.412 mE, 9.939.709 mS)
HASIL ANALISIS BATUBARA
No. Nama Pengujian Hasil (%)
1 Total Moisture (As Receive) 37,5
2 Ash (Air Dried Basis) 1,2
3 Volatitle Matter (Air Dried Basis) 39,8
4 Fixed Carbon (Air Dried Basis) 42,5
5 Total Sulphur (Air Dried Basis) 0,56
6 Gross Calorific Value (Air Dried Basis) 5806 Cal/g
Preparasi dan pengujian sampel menggunakan metode ASTM
Mengetahui : Kepala Laboratorium
Teknologi Batubara
LAMPIRAN B
PERHITUNGAN SUMBERDAYA BATUBARA DENGAN
MENGGUNAKAN METODE DAERAH PENGARUH
Pada penelitian digunakan metode daerah pengaruh dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
Sumberdaya:
Keterangan:
SD = Sumberdaya batubara (ton)
L = Luas sebaran batubara (meter2)
t = Ketebalan lapisan batubara (meter)
d = densitas batubara (1,30 Ton/m³)
B.1. Blok Balikpapan B.1.1. Lapisan Batubara A
1. Sumberdaya Batubara Terukur dengan jarak 0 - 250 m dari titik informasi,
adapun perhitungan untuk sumberdaya batubara terukur lapisan batubara
A yang terdiri dari 6 singkapan (oc 1, oc 2, oc 3, oc 4, oc 9, dan oc 10)
sebagai berikut:
L = 574.545,53 m2
t = 1,83 m
d = 1,30 Ton/m3
SD = 574.545,53 m2 x 1,83 m x 1,30 Ton/m3
= 1.336.843,82 Ton
2. Sumberdaya Batubara Tertunjuk dengan jarak 0 - 500 m dari titik
L = 1.867.230,71 m2
informasi, adapun untuk perhitungan sumberdaya batubara tertunjuk
lapisan batubara A sebagai berikut:
L = 4.991.909,33 m2
1. Sumberdaya Batubara Terukur dengan jarak 0 - 250 m dari titik informasi,
adapun perhitungan untuk sumberdaya batubara terukur lapisan batubara C
yang terdiri dari 1 singkapan (oc 6) sebagai berikut:
L = 98.174,7 m2
informasi, adapun untuk perhitungan sumberdaya batubara tertunjuk
lapisan batubara C sebagai berikut:
L = 392.669,08 m2
t = 2,5 m
d = 1,30 Ton/m3
= 1.276.272,02 Ton
3. Sumberdaya Batubara Tereka dengan jarak 0 – 1.000 m dari titik
informasi, adapun untuk perhitungan sumberdaya batubara tertunjuk
lapisan batubara C sebagai berikut:
L = 1.570.796 m2
t = 2,5 m
d = 1,30 Ton/m3
SD = 1.570.796 m2 x 1,83 m x 1,30 Ton/m3
= 5.105.088,06 Ton
C.1. Blok Kampungbaru C.2.1. Lapisan Batubara B
1. Sumberdaya Batubara Terukur dengan jarak 0 - 250 m dari titik informasi,
adapun perhitungan untuk sumberdaya batubara terukur lapisan batubara B
yang terdiri dari 1 singkapan (oc 6) sebagai berikut:
L = 98.174,7 m2
t = 1,65 m
d = 1,30 Ton/m3
SD = 98.174,7 m2 x 1,65 m x 1,30 Ton/m3
= 210.584,88 Ton
2. Sumberdaya Batubara Tertunjuk dengan jarak 0 - 500 m dari titik
informasi, adapun untuk perhitungan sumberdaya batubara tertunjuk
lapisan batubara B sebagai berikut:
L = 392.669,08 m2
t = 1,65 m
d = 1,30 Ton/m3
SD = 392.669,08 m2 x 1,65 m x 1,30 Ton/m3
3. Sumberdaya Batubara Tereka dengan jarak 0 – 1.000 m dari titik
informasi, adapun untuk perhitungan sumberdaya batubara tertunjuk
lapisan batubara B sebagai berikut:
L = 1.570.796 m2
1. Sumberdaya Batubara Terukur dengan jarak 0 - 250 m dari titik informasi,
adapun perhitungan untuk sumberdaya batubara terukur lapisan batubara
D yang terdiri dari 2 singkapan (oc 7 dan oc 8) sebagai berikut:
L = 189.599,43 m2
informasi, adapun untuk perhitungan sumberdaya batubara tertunjuk
lapisan batubara D sebagai berikut:
L = 604.347,79 m2
informasi, adapun untuk perhitungan sumberdaya batubara tertunjuk
lapisan batubara D sebagai berikut:
t = 1,75 m
d = 1,30 Ton/m3
SD = 2.053.527,11 m2 x 1,75 m x 1,30 Ton/m3
LAMPIRAN C
PERSIAPAN PENAMBANGAN
No. Deskripsi QTY Unit Harga Total
1 Pengurusan Kontrak
a. Survey&Taktis 1 lot Rp 200.000.000 Rp 200.000.000
b. Legalitas PT&IUJP 1 lot Rp 200.000.000 Rp 200.000.000
c. Kontrak Alat dan Solar 1 Lot Rp 150.000.000 Rp 150.000.000
550.000.000 Rp
2 Perencanaan Tambang
a. Topography+BM 40 Ha Rp 900.000 Rp 36.000.000
b. Drilling 1500 M Rp 183.000 Rp 274.500.000
c. Draft/Map/Handout/Desain 1 Lot Rp 30.000.000 Rp 30.000.000
340.500.000 Rp
3 Sarana & Prasarana...(Lampiran G)
a. Sewa Kantor & Mess ( 1 Tahun) 4 Lot Rp 25.000.000 Rp 100.000.000
b. Perlengkapan Kantor 1 Lot Rp 65.700.000 Rp 65.700.000
c. Perlengkapan Mess 1 Lot Rp 82.050.000 Rp 82.050.000
d. Perlengkapan Engineering 1 Lot Rp 63.500.000 Rp 63.500.000
e. Fasilitas Tambang 1 Lot Rp 577.500.000 Rp 577.500.000
f. APD & Safety Tools 1 Lot Rp 96.850.000 Rp 96.850.000
985.600.000 Rp
4 Mobilisasi Peralatan Tambang
a. Doosan S 500 LCV 3 pcs Rp 24.000.000 Rp 72.000.000
b. Hitachi ZX 330 1 pcs Rp 24.000.000 Rp 24.000.000
c. Volvo EC 210 B 1 pcs Rp 24.000.000 Rp 24.000.000
d. Bulldozer D85SS 2 pcs Rp 24.000.000 Rp 48.000.000
e. Motorgrader Cat 120 K 1 pcs Rp 24.000.000 Rp 24.000.000
f. Fuel Truck (5 KL-PS 120) 1 pcs Rp 3.000.000 Rp 3.000.000
g. Water Truck 20Kl 1 pcs Rp 3.000.000 Rp 3.000.000
h. MULTIFLO PUMPS (MFC - 360) 2 pcs Rp 2.000.000 Rp 4.000.000
i. Tower Lamp ingersol Cina 3 pcs Rp 2.000.000 Rp 6.000.000
j. ADT Volvo A40E 6 pcs Rp 10.000.000 Rp 60.000.000
k.Bus 1 pcs Rp 2.000.000 Rp 2.000.000
k. Genset Dossan 40 dan 20 kVA 2 pcs Rp 1.500.000 Rp 3.000.000
l. LV Ford Ranger 4 pcs Rp 2.000.000 Rp 8.000.000