• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPER PSIKOLOGI ABK PEMBERDAYAAN PENYAND

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PAPER PSIKOLOGI ABK PEMBERDAYAAN PENYAND"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PAPER PSIKOLOGI ABK

PEMBERDAYAAN PENYANDANG DISABILITAS DALAM DUNIA

KERJA

Dosen Pengampu Matakuliah: Dr. Idris Ahmad, M.Pd dan Khofidhotur Rofi’Ah, M.Pd

OLEH:

(Tri Budi Sasongko)

NIM. 17010044045

PENDIDIKAN LUAR BIASA

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

(2)

PEMBERDAYAAN PENYANDANG DISABILITAS DALAM DUNIA

mengerjakan sesuatu. Usaha yang dilakukan bisa secara mental atau fisik, serta secara sukarela atau terpaksa. Selanjutnya penyelesaian yang dilakukan bisa sampai tuntas atau hanya sebagian saja.

Sedangkan, Menurut B. Renita (2006;125) kerja dipandang dari sudut sosial merupakan kegiatan yang dilakukan dalam upaya untuk mewujudkan kesejahteraan umum, terutama bagi orang-orang terdekat (keluarga) dan masyarakat, untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan, sedangkan dari sudut rohani atau religius, kerja adalah suatu upaya untuk mengatur dunia sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Dalam hal ini, bekerja merupakan suatu komitmen hidup yang harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan.

Dari kedua pemaparan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, Kerja yaitu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyelesaikan atau mengerjakan sesuatu yang menghasilkan alat/produk untuk memenuhi kebutuhan yang ada seperti barang atau jasa dan memperoleh bayaran atau upah.

Merujuk pada topik pembahasan paper ini, Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang Disabilitas, penyandang disabilitas yaitu orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak.

(3)

dengan permasalahan sangat kompleks, sehingga fungsi-fungsi kognitifnya mengalami gangguan.

Di seluruh belahan dunia, para penyandang disabilitas berpartisipasi dan memberikan sumbangan berarti pada dunia kerja di segala tingkatan. Namun, banyak penyandang disabilitas yang ingin bekerja tetapi tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh pekerjaan karena berbagai hambatan.

Maka dari itu, sangat penting bagi pemerintah maupun pihak perusahaan swasta menjamin hak-hak kepegawaian bagi para pekerja dengan disabilitas sebagaimana mestinya seperti pekerja/pegawai normal pada umumnya. Seperti yang diatur dalam aturan-aturan yang telah dibuat.

B. FOKUS MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, dapat dirumuskan permasalahan yaitu: “apa landasan hukum yang menjamin kesejahteraan penyandang disabilitas dalam pemenuhan kebutuhan hidup dalam dunia kerja? Serta bagaimana perlakuan yang tepat dalam memperkerjakan penyandang disabilitas?”

C. PEMBAHASAN 1. Pengertian

Pekerja disabilitas adalah setiap orang berkebutuhan khusus yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan layaknya orang normal pada umumnya sesuai dengan karakteristik atau kualifikasi pekerjaan masing-masing sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Pekerja disabilitas harus diberikan perlindungan yang khusus terkait dengan aksesibilitas dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari berkenaan dengan hak untuk memperoleh pekerjaan. Hak memperoleh pekerjaan adalah hak setiap orang yang merupakan perwujudan hak asasi manusia dalam hal pemenuhan kebutuhan hidupnya guna untuk melangsungkan kehidupannya secara layak.

(4)

2. Landasan Hukum

Pengakuan dari hukum nasional sendiri, Undang-Undang No. 4/1997 mengenai Penyandang Disabilitas, dan peraturan pelaksanaannya yaitu Peraturan Pemerintah No.43/1998 (Upaya untuk Meningkatkan Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Disabilitas) dan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan & Transmigrasi No.205/1995 merupakan dua kebijakan pokok yang memperhatikan penyandang disabilitas. Sedangkan untuk pasal yang menyangkut ketenagakerjaan, ketentuan kuota (Pasal 14) menyatakan “bahwa pengusaha/majikan harus mempekerjakan satu penyandang disabilitas untuk setiap 100 orang pekerja”. Pasal 28 menetapkan sanksi (sekitar USD 20,000) bagi perusahaan yang gagal memenuhi ketentuan kuota tersebut.

Sedangkan dari pengakuan konvensi internasional, Terdapat beberapa instrumen pokok dalam hukum internasional yang mengatur hak kerja penyandang disabilitas.

a. Konvensi PBB mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas (2006) beserta Optional Protocol-nya merupakan pencapaian tersukses untuk instrumen hukum internasional di bidang disabilitas. Indonesia turut meratifikasi konvensi PBB tersebut pada November 2011. (Undang-undang No.19 tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Hak Penyandang Disabilitas).

b. Kemudian Pasal 27 dari UNCPRD mengenai hak pekerjaan dan lapangan kerja bagi penyandang disabilitas, yaitu menegaskan beberapa hal berikut; Non-diskriminasi, Promosi pekerjaan di sektor swasta, dan Memastikan akomodasi yang layak.

Akomodasi yang layak berarti modifikasi dan penyesuaian yang diperlukan dan cocok, dengan tidak memberikan beban tambahan yang tidak proporsional atau tidak semestinya, apabila diperlukan dalam kasus tertentu, guna menjamin kenyamanan atau pelaksanaan semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental penyandang disabilitas berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.

(5)

a. Didasarkan pada hak (human right);

b. Pemerintah, Pemerintah Daerah, BUMN, dan BUMD wajib mempekerjakan penyandang disabilitas 2 % dari total pegawai

c. Swasta wajib mempekerjakan penyandang disabilitas 1 % dari total pegawai

d. Terdapat insentif bagi perusahaan yang mempekerjakan penyandang disabilitas.

3. Manfaat Memperkerjakan Penyandang Disabilitas

Penyandang disabilitas merupakan pekerja yang baik dan dapat diandalkan. Banyak dokumen kasus yang menunjukkan perbandingan bahwa pekerja disabilitas lebih baik dalam hal produktifitas, tingkat kecelakaan yang lebih rendah, dan kemauan yang lebih kuat untuk mempertahankan pekerjaan, dibandingkan dengan tenaga kerja perusahaan pada umumnya.

Penyandang disabilitas juga menunjukkan bahwa mereka memiliki sumber keahlian dan bakat yang belum dimanfaatkan, termasuk keahlian teknis jika mereka memiliki akses ke pelatihan, dan keahlian pemecahan masalah yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Merekrut penyandang disabilitas dapat berkontribusi pada keberagaman, kreativitas, dan semangat kerja secara keseluruhan, serta meningkatkan reputasi perusahaan di kalangan pekerjanya, di masyarakat, dan di kalangan konsumen.

4. Integrasi dan layanan Pekerja Disabilitas Dalam Lingkungan Kerja

(6)

Berikut adalah bentuk penyesuain tempat kerja bagi pekerja disabilitas:

Akomodasi Fisik yang Layak

a. Tempat kerja yang bersih dan rapi

b. Menata koridor yang luas dan bebas hambatan c. Menata koridor yang luas dan bebas hambatan

d. fasilitas kamar kecil dapat diakses oleh penyandang disabilitas

e. menambah jalur melandai (ramps) atau susuran tangan dimana akan merupakan bentuk pemenuhan hak bagi pekerja disabilitas.

Bentuk kenaikan jabatan atas dasar prestasi juga akan meningkatkan kinerja para pekerja dengan disabilitas

5. Hubungan Pekerja Normal Dan Pekerja Dengan Disabilitas Dalam Tempat Kerja

Peningkatan kesadaran para karyawan mengenai disabilitas merupakan sebuah langkah penting menuju pemahaman yang lebih baik, keberagaman, dan memotivasi lingkungan kerja serta mempromosikan non-diskriminasi di tempat kerja yang lebih baik bagi penyandang disabilitas. Hal ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi perusahaan tetapi juga seluruh masyarakat dengan membuat mereka mengubah pola pikir mereka dan menghilangkan stigma negatif.

Berikut beberapa cara yang dapat diterapakan untuk menjalin hubungan harmonis antara pekerja normal dan dengan disabilitas / menciptakan lingkungan kerja tanpa diskriminasi:

(7)

Penting untuk melakukan meeting antara para manajer dan para pekerja. Presentasi, video testimoni dari penyandang disabilitas dan beberapa latihan praktek adalah cara yang baik untuk meningkatkan kesadaran. Undang para karyawan untuk mencoba berkeliling menggunakan kursi roda atau menggunakan kacamata untuk menghalangi indera penglihatan mereka (Orientasi Mobilitas). Hal ini merupakan latihan sederhana yang menunjukkan secara konkrit apa yang dialami oleh penyandang disabilitas di kehidupan mereka sehari-hari. Berkolaborasi dengan OPD (Organisasi Penyandang Disabilitas) dalam pelatihan ini akan menghasilkan pelatihan yang tepat berdasarkan pengalaman nyata. b. Menyediakan Informasi Berkelanjutan Berkenaan Disabilitas

Menyedikan informasi disabilitas, termasuk undang-undang disabilitas nasional dan internasional yang terkait dengan disabilitas. Informasi ini dapat diberikan secara reguler di dalam situs web perusahaan, surat kabar, dan saluran media lainnya. Pemberitaan yang rutin mengenai informasi disabilitas sangatlah penting untuk meningkatkan pembicaraan penting dalam lingkungan kerja.

c. Membentuk Jaringan Pendukung Disabilitas

Semua pekerja perlu untuk berpartisipasi penuh dalam menyediakan pelayanan dan pendampingan bagi pekerja disabilitas untuk berkontribusi pada tercapainya lingkungan nondiskriminasi di dalam perusahaan atau pabrik.

6. Contoh Kasus

(8)

Sampai sejauh ini pemerintah memberi dukungan pada penyandang disabilitas dengan memberi himbauan pada perusahaan-perusahaan agar menyediakan ruang untuk penyandang disabilitas sekurang-kurangnya 1 orang dari 100 pekerja pada perusahaannya. Saat ini perusahaan-perusahaan yang menerima penyandang disabilitas bekerja menempatkan mereka di bagian administrasi atau keuangan, sedangkan untuk bagian lain sesuai dengan skill yang dimiliki penyandang disabilitas. pekerjaan untuk disabilitas di perusahaan haruslah sesuai dengan tingkat dan derajat kecacatannya.

Perusahaan-perusahaan kadang terkendala juga oleh hal ini, belum lagi skill yang dimiliki penyandang disabilitas kadang tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Hal inilah yang menyebabkan sampai saat ini masih sedikit perusahaan yang menerima penyandang disabilitas sebagai pegawainya.

Ironisnya selain salah satu masalah diatas, masih banyak ketimpangan yang terjadi berbanding terbalik dengan aturan/regulasi yang ditetapkan. Diantaranya ketidaksediaan pihak perusahaan untuk pengadaan akomodasi yang mendukung akses pekerja disabilitas dengan alasan anggaran yang dikeluarkan, pemberhentian secara sepihak karyawan dengan disabilitas karena tidak mampu memenuhi target akibat keterbatasannya, kurang adanya bahkan nyaris tidak ada sama sekali sosialisasi akan lowongan pekerjaan yang memberikan kuota bagi penyandang disabilitas dari pihak perusahaan swasta maupun pemerintah.

D. KESIMPULAN

(9)

Dengan berdasarkan ketentuan Undang-undang di atas tersebut, maka pekerja dengan disabilitas mendapat perlindungan hukum secara optimal terhadap hak memperoleh pekerjaan serta tindakan diskriminasi yang dilakukan perusahaan-perusahaan swasta maupun pemerintah terhadap pekerja disabilitas terkait dengan hak untuk memperoleh pekerjaan dapat diminimalisir.

E. SARAN

Berdasarkan penulisan paper “Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Dalam Dunia Kerja”, Penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut;

a. Bagi Pihak Perusahaan swasta maupun Pemerintah

Alangkah baiknya regulasi atau aturan yang telah ditetapkan, harus diimplementasikan sebagaimana mestinya. Mulai dari penyediaan fasilitas yang mendukung untuk aksesbilitas para pekerja dengan disabilitas, jaminan UMR bahkan jaminan kesehatan sebagaiman pekerja normal pada umumnya, serta mengadakan job training pula juga demi meningkatkan skill pegawai disabilitas dan meningkatkan mutu hasil produksi secara tidak langsung. b. Bagi pembaca

Diharapkan paper ini dapat menjadi referensi keilmuan tentang disabilitas terutama kesetaraan dalam dunia kerja, selain itu melalui paper ini diharapkan meningkatkan minat pembaca dalam mengkampanyekan kesetaraan penyandang disabilitas.

F. DAFTAR PUSTAKA

(10)

Mahmud Marzuki,Peter, 2011, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta.

Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi 4, Balai Pustaka, Jakarta.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Indonesia, Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 9

Indonesia, Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penanganan ikan tongkol segar dengan penambahan hancuran es 1:4 (25% bb) yang menghasilkan suhu ± 18 0

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Analisis Energi Proses Penyulingan Minyak Akar Wangi dengan Peningkatan Tekanan dan Laju Alir Uap Air Secara Bertahap

Data tahap prasiklus, secara terperinci motivasi siswa pada tahap prasiklus (sebelum ada tindakan) dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan materi perkembangan

Frasa kerja pasif diri pertama ialah frasa yang terdiri daripada kata kerja yang tidak berawalan men- tetapi didahului oleh kata ganti diri pertama aku, kami, kita, saya

Ketentuan pasal 248 dalam KUHP ini perzinahan adalah hubungan seksual (persetubuhan) di luar pernikahan hanya merupakan suatu kejahatan (delik perzinahan) apabila

Hasil perhitungan analisis menunjukkan bahwa pengaruh kegiatan ekstrakurikuler keagamaan terhadap akhlak mulia siswa sebesar 57 %, jika dibandingkan dengan r tabel

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul

Tujuan dari penelitian mengenai analisis pengaruh penggunaan atraktor cahaya warna merah dan perbedaan waktu pengoperasian alat tangkap bubu karang terhadap hasil tangkapan ikan