• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebangkitan Gerakan Sayap Kanan di Eropa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kebangkitan Gerakan Sayap Kanan di Eropa"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Naomi Resti Anditya diskriminatif dari sebuah kelompok besar masyarakat, termasuk di benua Eropa yang telah lama mencoba untuk menegakkan demokrasi, kebebasan, dan HAM. Terakhir kali Eropa menyaksikan sebuah kebijakan yang diskriminatif dan berujung pada genosida dan perang dunia adalah pada masa kejayaan Nazi di bawah Adolf Hitler. Era itu telah menjadi kemaluan dan trauma besar bagi Eropa sehingga tidak ada negara Eropa yang hendak membangkitkan Nazi kembali. Akan tetapi, di abad ke-21 ini, kelompok-kelompok dan partai-partai “neo-Nazi” sepertinya tampil kembali dengan wajah baru dan berhadapan dengan subyek yang berbeda, yaitu Islam. Dalam beberapa tahun belakangan, 1.3 juta imigran Muslim dari Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) terus berdatangan karena tanah airnya dilanda perang sipil besar, seperti Suriah. Perubahan demografi di Eropa tidak serta merta diterima dengan tangan terbuka, karena ternyata resistensi publik juga besar. Mereka yang merasa negaranya tidak lagi menjadi milik ‘orang Eropa’ biasanya juga mengembangkan sikap yang selaras dengan gerakan sayap kanan dan utamanya, memilih partai politik yang secara ideologi berada di posisi far-right. Terdapat sedikitnya 9 partai politik yang berideologi kanan dan memperoleh panggungnya tahun ini—bersaing ketat dengan partai progresif maupun partai liberal di daratan Eropa. Mereka dapat memobilisasi penduduk dan mendulang suara bagi dirinya, di saat yang bersamaan juga membuat ketegangan di antara orang Eropa dan imigran meruncing. Hal ini, bersamaan dengan terpilihnya Trump di Amerika Serikat, menguatkan asumsi sebagian orang bahwa demokrasi di Barat secara substansi mengalami defisit. Hal ini pun berimbas pada ketidakpuasan populer terhadap kebijakan imigrasi Uni Eropa yang diprakarsai oleh Angela Merkel.

(2)

bisa jadi banyak sekali, akan tetapi tulisan ini akan secara spesifik menekankan pada aktor politik, yaitu kelompok elit yang paling penting di level nasional, yaitu partai politik. Dengan menggunakan pendekatan realisme kristis (critical realism) Bhaskarian yang telah dioperasionalisasikan oleh David J. Bailey, tulisan ini berargumen bahwa publik mengembangkan sikap (attitude) yang buruk terhadap imigran Muslim karena elit politik, yaitu partai berideologi ekstrim kanan me-reproduksi ide dan realita sosial yang lebih buruk daripada kenyataan yang sebenarnya mengenai imigran Muslim di Eropa. Hal ini juga membuat gerakan sayap kanan semakin berkembang di Eropa. Partai politik bersayap kanan yang terus bangkit dan bersaing kuat di level nasional mulai menggunakan strategi populis dan terus me-reproduksi ide ini sebagai cara untuk memenangkan kursi elektoral pula, dibuktikan dengan memanasnya isu mengenai kebijakan terkait pengungsi setiap pemilihan umum, dan yang terakhir memuncak pada tahun 2016-2017.

Landasan Konseptual: Critical Realism (David J. Bailey)

(3)

Selain mengutip Colin Hay, Bailey juga mengutip ‘bapak realisme kritis’ yaitu Roy Bhaskar. Ia melihat bahwa realitas sosial direproduksi oleh aktivitas-aktivitas dari individu-individu yang melekat secara sosial (socially-embedded) pada basis dari ide mengenai masyarakat tersebut; sebuah aksi disebut sebagai kebenaran atas dasar keyakinan mengenai dampak yang mungkin terjadi dari aksi tersebut terhadap realita sosial. Proses ini membuat realitas dapat me-reproduksi dirinya. Selain itu, realita sosial juga disebut concept-dependent karena ia mempertahankan diirnya di atas dasar ide yang dipegang teguh oleh anggota-anggotanya; struktur sosial hanya hadir dalam konsepsi mengenai masyarakat mengenai apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka kelola, yaitu dalam teori-teori atas aktivitas mereka sendiri. Terakhir, realita sosial bagi Bhaskar juga knowledge-independent karena entitas sosial (termasuk ide) bisa jadi tidak diketahui secara akurat, bahkan bisa jadi menyesatkan. Bagi Bhaskar, inilah yang mendorong aktivitas investigasi dan riset saintifik; mereka menganggap bahwa pengetahuan tidak pernah lengkap, sehingga mereka akan mencari rasional di baliknya.

Dengan petunjuk dari penelitian David J. Bailey berdasarkan asumsi Bhaskarian, maka tulisan ini hendak melihat bahwa ketidaksetujuan dan ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan imigrasi serta gerakan sayap kanan yang berkembang disebabkan oleh, salah satunya, pengetahuan dan ide yang direproduksi oleh elit politik, yaitu partai, yang pengetahuannya sendiri tidak lengkap atau bahkan tidak benar [ CITATION Dav08 \l 1033 ].

Persepsi terhadap Imigran oleh Publik

(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

Berbagai chart yang saya tampilkan di atas merupakan persepsi publik yang telah disurvei oleh Pew Research Center, yaitu perusahaan ternama yang rutin melakukan survei terhadap sikap sosial masyarakat [ CITATION Wik16 \l 1033 ], dan infografis terbesar pada bagian kedua berasal dari The Economist. Melalui berbagai charts tersebut, saya ingin mendiskusikan 4 (empat) poin yang penting berkaitan dengan persepsi publik terhadap imigran Muslim pada puncak krisis pengungsi tahun lalu:

1. Muslim selalu dianggap berbeda dan terpisah. Hal ini berkaitan dengan sikap orang-orang Eropa yang cenderung ingin semua yang berada di Eropa harus mengadopsi kultur yang sama, yaitu ‘kultur Eropa’. Dalam sejarahnya, orang-orang Eropa seringkali menganggap Islam tidak kompatibel dengan Eropa yang budayanya didominasi oleh tradisi Kekristenan.

(9)

ekstrim. Sedangkan negara-negara lain menunjukkan sikap yang lebih ramah dan terbuka pada imigran Muslim. Meskipun demikian, bukan berarti gerakan sayap kanan dan semangat diskriminatif tidak ada di negara-negara Eropa Barat dan Selatan. Kelompok-kelompok ini pun semakin mendapatkan konstituen politik yang besar seiring dengan dihembusnya angin pemilihan pemimpin.

3. Meskipun pengungsi Muslim dianggap sebagai sinyal dari ancaman terorisme, namun publik tidak menganggap bawah pengungsi berpotensi menambah kriminalitas. Memang pengungsi Muslim dari MENA, terutama Irak dan Suriah, dianggap sebagai ancaman, sebagian karena ketakutan terhadap jaringan ISIS, namun kriminalitas tidak serta merta dikaitkan dengan bertambahnya jumlah imigran Muslim dari MENA. Artinya, pengungsi sebesar itu hanya dikaitkan dengan jaringan dari negara asalnya dengan motif terror yang berbasis agama, namun tidak dipersepsi sebagai ancaman kejahatan yang lebih independen dari terorisme.

4. Persepsi negatif terhadap Muslim paling terlihat di kalangan kelompok sayap kanan. Mereka yang secara ideologi berada di kanan dan mendukung partai politik berideologi kanan lebih banyak melihat pengungsi Muslim sebagai ancaman ketimbang sebagai peluang. Hal ini akan dibahas pada bagian selanjutnya.

(10)

Sweden Democrats Party (SD) diberitakan selalu merespon ide mengenai imigrasi yang telah membuat identitas Swedia mengalami erosi. Kent Ekeroth, anggota parlemen dari SD mengatakan bahwa kebanyakan imigran berada di Swedia karena ingin mengambil manfaat dari sistem kesejahteraannya dan mencoba menggunakan ‘uang Swedia’ untuk diri mereka sendiri. Opini semacam ini hampir tidak pernah ada di Swedia, paling tidak marjinal. Swedia selalu dibanggakan sebagai negara yang menerima pengungsi semakin banyak dari negara-negara Eropa lain. Pada tahun 2006, SD hanya mendapat 2.9% suara, namun tahun 2015 lalu, SD mendapat 13% suara, dan polling terakhir menunjukkan ia mendapat 20% suara. sekarang SD menjadi partai kedua terbesar di Swedia, yang memperoleh konstituen dari berbagai kelas. Hal demikian juga terjadi dengan National Front di Prancis. Begitu pula dengan partai PiS di Polandia, di Belanda, di Denmark, Jerman dan Hungaria, yang tidak hanya menciptakan persepsi anti-Islam tetapi juga mengembangkan sikap Euroskeptis semakin intensif. Seluruh partai ini mendukung calon pemimpin populis, yang menargetkan kelompok spesifik dalam negara tersebut. Biasanya konstituennya lebih tua, tidak memperoleh pendidikan di universitas, kelas pekerja, kulit putih dan laki-laki. Namun beberapa kali kriterianya tidak selalu menunjukkan demikian, karena ia bisa melintas kelas dan identitas. Orang-orang ini merasa tidak mendapat banyak manfaat dari keanggotaan di Uni Eropa, tetapi mereka merasakan dampak dari krisis Euro: kenaikan pajak, pemotongan keuntungan, dan pengangguran [ CITATION The1517 \l 1033 ]. Argumen ini memang sering diberikan untuk menunjukkan bahwa faktor ekonomi berpengaruh terhadap kebencian dan diskriminasi, tetapi ia hanya satu dari sekian faktor. Populisme, dalam bahasa Laclau yaitu sebuah penanda (signifier) sosial-politik terhadap ‘kita’—the people—dan ‘mereka’, memberikan dampak yang lebih masif dari argument ekonomi. Kita dapat mengaitkan strategi populisme dengan strategi nativisme dalam kaitannya dengan sentiment anti-Muslim dan anti-imigran dalam tabel yang telah diberikan sebelumnya. Populisme di Eropa kebetulan digunakan oleh peternak politik (political enterpreneur) dengan menggunakan marker identitas ‘Eropa’ dan ‘bukan Eropa/Islam’.

(11)

ditekankan pula bahwa tidak semua yang mengungsi ke negara lain, termasuk Eropa, benar-benar ingin menetap di sana. Pengungsi ini sebenar-benarnya juga tidak ingin menjadi beban (mereka yang sampai di negara lain biasanya bukanlah gelandangan, tetapi orang-orang yang memiliki modal dan dapat bekerja) bagi negara host dan lebih senang bersama-sama dengan keluarga dalam kultur yang mendukung mereka.

Meskipun demikian, kelompok elit sayap kanan cenderung mengabaikan persoalan ini dan membesarkan isu bahwa pengungsi dan imigran hendak menjadikan Eropa sebagai negara Islam, paling tidak negara yang didominasi oleh komunitas Muslim. Ada beberapa partai sayap kanan yang gencar membingkai pengungsi dalam bingkai yang cenderung concept-dependent, knowledge-independent, dan berasal dari individu yang socially-embedded (meskipun yang ketiga tidak dapat saya buktikan secara pasti).

Marine Le Pen dari Front National—yang baru saja kalah dari Emmanuel Macron— mengatakan bahwa pengungsi adalah virus Ebola yang hendak menyebar dan melakukan Islamifikasi terhadap Prancis. Ia selalu mengaitkan Muslim sebagai kelompok yang memberontak terhadap peraturan sekularisasi di Prancis, padahal tidak semua Muslim memiliki intensi tersebut. Di Jerman ada National Democratic Praty (AFD) yang terkenal rasis dan juga anti-semit. Yunani terkenal dengan Golden Dawn yang baru kali ini memiliki kursi di parlemen. Mereka mengatakan, kesuksesannya meraih kursi ini selalu dikaitkan dengan alasan agar ‘kami dapat membersihkan tanah ini dari kotoran’ (baca: orang-orang bukan Yunani). Di Finlandia, ada True Finns yang juga mulai berjaya. Di Denmark, ada Danish People Party yang mendapatkan 27% kursi di parlemen. Pemimpin DPP, Pia Kjærsgaard mengatakan, “If they want to turn Stockholm, Gothenburg or Malmö into a Scandinavian Beirut, with clan wars, honour killings and gang rapes, let them do it. We can always put a barrier on the Øresund Bridge.

(12)

terkenal sangat resisten terhadap peraturan kuota imigran. Viktor Orban, PM Hungaria sejak 2010 memperoleh kenaikan popularitas dari 28% di bulan April dan menanjak ke 43% di bulan Oktober, karena kebijakannya membangun pagar tinggi untuk membatasi imigran. Argumen yang paling banyak digunakan adalah ketakutan mereka terhadap kesejahteraan ekonomi. Di Austria pun ada Austria Freedom yang mendapatkan 1/5 suara karena isu imigran yang terus dihembuskan oleh kelompok elitnya. Pemimpinnya, Heiz-Christian Strache mengatakan “If there are immigrants, from Turkey, who complain there is a cross hanging in the classroom at school, then I say to them: ‘go back home’”. Kutipan ini memberikan kesan bahwa ia mempersepsikan Muslim sebagai kelompok yang tidak menerima perbedaan dan tidak mau berintegrasi dengan orang-orang Kristen Eropa. Di Italia, kelompok sayap kanan juga berkembang, dengan Lega Nord (Northern League) dengan pemimpinnya, Matteo Salvini, sebagai partai besarnya yang mendapatkan 6% suara. Terakhir, Di Inggris ada UKIP (UK Independence Party) yang meskipun kalah, tetapi cukup kuat di parlemen dan bahkan sukses memobilisasi banyak orang untuk memilih leave pada referendum lalu tahun 2016. UKIP akan kembali berlaga pada pemilihan umum selanjutnya di Inggris untuk mencari pengganti Theresa May [ CITATION Huf14 \l 1033 ]. Selain narasi mengenai Islamifikasi, kelompok elit ini juga menciptakan ide bahwa pengungsi diperlakukan lebih baik daripada warga biasa. Narasi ini dikembangkan oleh SD di Sweden, oleh Le Pen dan Wilders. Para populis dan elit politik ini terus mengeluarkan kalimat-kalimat yang mereka rasa terlalu politically correct bagi banyak orang.

(13)

Reproduksi Realita Sosial oleh Kelompok Elit (Tingkat Nasional)

Tentu tidak aneh apabila isu imigran dan persepsi buruk terhadap imigran Muslim mendapatkan momentumnya sesuai dengan gelombang pemilihan nasional (national elections) di Eropa. Partai politik dengan tokoh-tokoh kunci populis tersebut mencoba untuk menciptakan dan membentuk realitas sosial sedemikian rupa yang diharapkan dapat membentuk sebuah aksi politik tertentu, baik dalam bentuk perlawanan, protes, atau yang paling sederhana, dukungan bagi kursi electoral bagi partai tertentu yang berideologi far-right. Realita sosial ini, seperti ketiga ciri yang dikemukakan Bhaskar sebelumnya, cenderung tidak utuh, tidak sesuai kenyataan, bahkan bisa jadi merupakan hasil dari mispersepsi oleh elit politik ini. Dalam pembahasan sebelumnya telah didiskusikan bahwa para tokoh populis dan partai sayap kanan ini menciptakan persepsi bahwa pengungsi hendak melakukan Islamifikasi Eropa dan juga persepsi bahwa pengungsi diperlakukan lebih baik daripada warga biasa yang konsekuensi pada kemunduran kesejahteraan.

(14)

Melalui tabel ini dapat dilihat bahwa dalam sebuah situasi yang multikultural dan adanya gelombang penerimaan imigran yang besar, maka seseorang bisa memiliki sebuah pandangan (wordlview) spesifik mengenai ‘kultur siapa’ dan ‘kultur apa’ yang harus diterima dalam sebuah komunitas politik imajiner. Tidak berhenti hanya dalam tataran ide saja, tetapi pandangan atau worldview itu biasanya diterjemahkan ke dalam beberapa rencana kebijakan, seperti dapat dilihat di kolom sebelah kanan. Sejauh pengamatan. strategi yang dipakai oleh kelompok ini ada 2: konservasi dan apa yang biasa disebut naming and shaming.

(15)

Kedua strategi ini dapat dikatakan selalu muncul dalam narasi imigran dan anti-Muslim di Eropa yang terus dihembus oleh tokoh-tokoh kunci dalam kelompok elit, yaitu partai politik nasional, dalam badai pemilihan nasional. Bagi mereka yang mengikuti jejak realisme kritis, xenophobia adalah sebuah buatan. Ketakutan, kebencian, serta sensitivitas dipolitisiasi dan terus dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah komoditas yang baik bagi partai politik. Dehumanisasi terhadap kelompok tertentu adalah kepentingan elektoral [ CITATION Reu15 \l 1033 ]. Menurut Nougayrède, dalam politik post-truth ini, tidak hanya apa yang terjadi sekarang yang telah di-distorsi, tetapi juga apa yang tertulis di masa lalu. Tersebar secara daring video-video rasis yang menggambarkan fantasi Eropa sebelum dan setelah migrasi. ‘Sebelum’ digambarkan pada tahun 1950an sebuah jalanan yang rapi dengan toko-toko dan taman yang dipenuhi oleh populasi kulit putih yang bermain dengan gembira, sedangkan ‘setelah’ digambarkan dengan sekelompok orang-orang berkulit gelap menyerang perempuan, merusuh melawan polisi, meneriakkan “Allahu Akbar” [ CITATION Nat16 \l 1033 ]. Pemilihan yang selektif dan tidak utuh terhadap masa lalu dan apa yang terjadi sekarang telah menciptakan insentif buruk bagi perlakukan ke sesame manusia. Bahkan bagi beberapa warga Eropa, keberagaman di masa ini telah memberikan ketakutan alih-alih peluang. Bagi mereka, semakin banyak orang, maka semakin buruk suatu keadaan dan suatu tempat [ CITATION Exp16 \l 1033 ].

(16)

Survei ini menggambarkan bagaimana warga Eropa melebih-lebihkan jumlah populasi Islam di negara Barat, sangat mungkin terjadi karena berbagai kampanye dan gerakan sayap kanan selalu membawa isu anti-Muslim dan anti-imigran sehingga identitas Islam itu seakan menggambarkan sebuah ancaman, yang pertama-tama tergambar dari pergeseran demografi. Jelas bahwa persepsi ini dibuat dan dibentuk oleh berbagai elemen politik.

(17)

.

Chatam House dalam surveinya mengatakan bahwa dalam setiap negara, setidaknya 38% dari sampel menunjuk ‘sangat setuju’ terhadap pernyataan tersebut. Terkecuali Polandia, negara-negara ini berada di pusat dari krisis pengungsi atau mengalami serangan terorisme di beberapa tahun belakangan. Perlu juga diketahui bahwa di negara-negara ini, kelompok radikal kanan mengakar sebagai kekuatan politik dan mencari cara untuk memobilisasi ketakutan dan kemarahan atas Islam ke dalam kotak suara, baik untuk pemilihan tahun 2017 maupun untuk pemilihan-pemilihan selanjutnya [ CITATION Cha17 \l 1033 ].

Kesimpulan

(18)

nasional, dengan wacana dominan mengenai kebijakan anti-pengungsi. Melalui pendekatan realisme kritis Bhaskarian oleh David Bailey, tulisan ini berargumen bahwa publik mengembangkan sikap (attitude) yang buruk terhadap imigran Muslim karena elit politik, secara spesifik partai berideologi ekstrim kanan, me-reproduksi ide dan realita sosial yang lebih buruk daripada kenyataan yang sebenarnya mengenai imigran Muslim di Eropa. Dalam perspektif Bhaskarian, ide tidak hanya memilik makna tetapi juga kekuatan untuk memberi dampak (causal power) pada suatu tindakan politik dan juga mampu berinteraksi dan dapat mengubah realita sosial. Sifatnya adalah socially embedded, concept-dependent, dan knowledge-independent. Mispersepsi dari elit politik dapat menciptakan realita sosial yang timpang, tidak lengkap, bahkan salah. Dalam tulisan ini, narasi dan persepsi yang dibangun oleh elit politik, yaitu partai far-right, mengenai imigran Muslim menghambat penerimaan dan sikap terbuka orang-orang Eropa bagi pengungsi. Elit politik ini selalu menarasikan pengungsi Muslim sebagai alarm atas Islamifikasi Eropa dan pengambilan kesejahteraan oleh pengungsi, sementara realitanya tidak selalu demikian, karena pada dasarnya pengungsi hanya mencari tempat untuk berlindung dari persekusi di tanah kelahirannya.

Tulisan ini telah memberikan beberapa data berbentuk charts dan narasi mengenai persepsi publik yang buruk terhadap pengungsi Muslim. Meskipun mereka (masih) menerima pengungsi, namun kebanyakan dari publik menganggap pengungsi Muslim ingin hidup secara distingtif dari masyarakat Eropa dan mereka juga takut akan ancaman terorisme, terkait jaringan ISIS. Ada sebuah divide besar dalam persepsi publik di Eropa mengenai imigran Muslim dan hal ini sangat berkaitan dengan ideologi yang mereka pegang (concept-dependent dan socially-embedded) dan partai apa yang mereka pilih.

(19)

yang menggelisahkan dan mengkomodifikasi ketakutan untuk mendulang suara. Tokoh-tokoh elit di Eropa ini disatukan oleh pemahaman bahwa imigran Muslim hendak melakukan islamifikasi Eropa dan mengambil kesejahteraan serta kekayaan orang-orang Eropa, karena mereka digambarkan sebagai orang-orang yang selalu mendapatkan privilese dan kemudahan terlebih dahulu, tidak seperti orang-orang Eropa. Kenyataannya, para imigran ini lari dari negaranya, menderita, mengorbankan banyak hal, dan terlebih lagi, mereka yang sampai di Eropa biasanya orang-orang yang berpendidikan dan bisa bekerja, meski terkendala bahasa.

Dalam reproduksi realita sosial itu, tulisan ini melihat bahwa dalam situasi multikultural dan penerimaan gelombang pengungsi yang besar, seseorang bisa memiliki sebuah pandangan (wordlview) spesifik mengenai ‘kultur siapa’ dan ‘kultur apa’ yang harus diterima dalam sebuah komunitas politik imajiner. Tidak berhenti hanya dalam tataran ide saja, tetapi pandangan atau worldview itu biasanya diterjemahkan ke dalam beberapa rencana kebijakan, misalnya konservasi dan naming-and-shaming. Konservasi berarti ada sebuah enclosure dan perlindungan bagi suatu pengetahuan, budaya, dan aset politik tertentu di dalam komunitas politik, supaya mereka tidak mengalami degradasi. Dalam strategi naming-and-shaming ini, komunitas politik akan melakukan eksklusi terhadap bagian dari komunitasnya yang tidak memiliki visi yang sama dengan mereka, yaitu dengan memberikannya label atau nama sebagai ‘yang lain’ (the other) dan dipermalukan sedemikian rupa dengan menjadikan mereka sebagai komunitas yang secara moral dan etika mengalami degradasi. Kedua strategi ini dapat dikatakan selalu muncul dalam narasi anti-imigran dan anti-Muslim di Eropa yang terus dihembus oleh tokoh-tokoh kunci dalam kelompok elit, yaitu partai politik nasional, dalam badai pemilihan nasional. Bagi mereka yang mengikuti jejak realisme kritis, xenophobia adalah sebuah buatan. Ketakutan, kebencian, serta sensitivitas dipolitisiasi dan terus dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah komoditas yang baik bagi partai politik. Tidak hanya realita sosial yang terjadi sekarang, tetapi juga yang terjadi di masa lalu. Inilah yang disebut dengan politik post-truth.

Daftar Pustaka

Bailey, D. J. (2008). Misperceiving Matters: Elite Ideas and the Failure. Comparative European Politics, 33–60.

(20)

CNBC News. (2017, February 8). Europe’s fear of Muslim immigration revealed in widespread survey. Retrieved June 6, 2017, from CNBC News: http://www.cnbc.com/2017/02/08/europes-fear-of-muslim-immigration-revealed-in-widespread-survey.html

Express UK. (2016, February 3). Migrant crisis countries see quality of life plummet, European Commission study finds. Retrieved June 7, 2017, from Express UK:

http://www.express.co.uk/news/world/640791/migrant-crisis-survey

Guia, A. (2016). The Concept of Nativism and Anti-Immigrant Sentiments in. European University Institute: Max Weber Working Paper, 6.

Huffington Post. (2014, May 25). European Elections: 9 Scariest Far-Right Parties Now In The European Parliament. Retrieved June 6, 2017, from Huffington Post:

http://www.huffingtonpost.co.uk/2014/05/26/far-right-europe-election_n_5391873.html

Huffington Post. (2017, April 21). Why Are Far Right Parties Increasing Their Support Across Europe? A Note On The French Election. Retrieved June 6, 2017, from Huffington Post:

http://www.huffingtonpost.co.uk/daphne-halikiopoulou/french-election-far-right_b_16140574.html

Laclau, E. (2005). Populism: What's in a Name? In F. Panizza, Populism and the Mirror of Democracy (p. 32). London: Verso Book.

Nougayrède, N. (2016, October 31). Refugees aren’t the problem. Europe’s identity crisis is. Retrieved June 7, 2017, from The Guardian:

https://www.theguardian.com/commentisfree/2016/oct/31/refugees-problem-europe-identity-crisis-migration

Reuters. (2015, September 4). ‘EU migrant crisis created by political elite for electoral benefits’. Retrieved June 7, 2017, from Reuters: https://www.rt.com/op-edge/314396-migrants-refugees-europe-crisis/

The Economist. (2015, December 10). The march of Europe’s little Trumps. Retrieved June 6, 2017, from The Economist: http://www.economist.com/news/europe/21679855-xenophobic-parties-have-long-been-ostracised-mainstream-politicians-may-no-longer-be

The Economist. (2016, May 23). Islam in Europe: perception and reality. Retrieved June 6, 2017, from The Economist: http://www.economist.com/blogs/graphicdetail/2016/03/daily-chart-15

The Guardian. (2016, December 13). Europeans greatly overestimate Muslim population, poll shows. Retrieved June 6, 2017, from The Guardian:

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu metode yang diterapkan oleh seorang guru akan berdaya guna dan berhasil guna jika mampu dipergunakan sebaik mungkin dalam mencapai tujuan pendidikan yang

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menginden- tifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan intervensi keperawatan dalam meng- atasi masalah

Hasil penelitian adalah jemaat mengenal dan mengetahui (meskipun tidak hafal), serta memahami tema tahunan GPIB, khususnya pada tema tahun 2015/2016 dan 2016/2017,

Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari referensi ilmiah,seperti buku perpajakan, Undang-Undang Perpajakan yang bertujuan untuk pengumpulan laporan Praktik Kerja

Pengaruh Kepemimpinan dan Motivasi terhadap Kinerja CV.Kharisma Antashena

dengan arah yang berlawanan dengan elektron pada panel surya silikon. 3) Gabungan / susunan beberapa panel surya mengubah energi surya menjadi.. sumber daya listrik dc, yang

Bagaimana tidak gelisah sepanjang masa, karena menurut sumber yang layak dipercaya, Kadirun suaminya kini sedang punya WIL. “Tahu

Analisis lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat anggapan produk adalah glisidol, dapat dilihat bahwa peak literatur dari glisidol dan gliserol karbonat memiliki