PENERAPAN INDEKS KEAMANAN INFORMASI BERBASIS ISO 27001 UNTUK
MENGUKUR TINGKAT KESIAPAN PENGAMANAN INFORMASI
PADA INSTITUSI PENDIDIKAN TINGGI
1Sajadin Sembiring,2 Solly Ariza Lubis
1Teknik Informatika STT Harapan Medan, 2Teknik Elektro Universitas Panca Budi Meda
Jl. H.M Jhoni No 70 Medan, Sumatera Utara
1
Abstrak
Informasi merupakan asset yang sangat bernilai bagi sebuah
institusi bisnis dan pemerintah. Informasi merupakan hasil
pengolahan data yang menjadi basis pengetahuan bagi
pemiliknya dan merupakan bahan dasar utama dalam proses
pengambilan kebijakan untuk pengembangan bisnis,
pererencanaan operasi maupun strategis, analisis, control dan
koreksi yang mengarahkan untuk optimalisasi kinerja
organisasi. Perguruan tinggi merupakan salah satu institusi yang
memiliki berbagai informasi yang terkait dengan managemen,
keuangan, proses akademik, kemahasiswaan, penelitian, asset
dan lain sebagainya dimana sebahagian besar dari informasi
tersebut bersifat rahasia atau perlu dijaga keasliannya. Dalam
makalah ini diuraikan model penerapan Indeks Keamanan
Informasi (KAMI) yang di sesuaikan dengan ISO 27001
tentang Information security management system (ISMS)
untuk mengukur tingkat keamanan informasi dan kematangan
suatu institusi perguruan tinggi dalam pengelolaan keamanan
informasi institusinya. Pada makalah ini juga diuraikan hasil
penerapan Indeks KAMI juga dapat dijadikan sebagai bahan
evaluasi diri bagi institusi perguruan tinggi terhadap pengelolaan
keamanan informasinya.
Kata Kunci : Indeks KAMI, Keamanan Informasi, Institusi
Pendidikan Tinggi. ISO 27001
I. Pendahuluan
Informasi merupakan aset yang penting bagi suatu
organisasi yang perlu dilindungi dari risiko keamanannya baik
dari pihak luar ataupun dari dalam organisasi [ ].
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah
menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari aktivitas
keseharian institusi pendidikan tinggi. Sejalan dengan
perkembangan pemanfaatannya, ancaman terhadap aspek
keamanan informasi juga turut meningkat. Serangan virus,
worm, dan malware dapat melumpuhkan bahkan
menghancurkan suatu sistem informasi pada institusi
pendidikan tinggi yang telah dibangun dan dikembangkan
dengan susah payah. Disamping itu, penyusup dan „‟crackers‟‟
sangat aktif mencari celah untuk dapat masuk kedalam suatu
sistem informasi dan melakukan berbagai tindak kejahatan
„‟cyber‟‟. Kerugian dari segala ancaman serangan terhadap keamanan informasi ini tidak terhitung nilainya, baik dari segi
materil maupun moril, apalagi yang menyangkut informasi
rahasia pada institusi tersebut. Keamanan informasi tidak cukup
hanya disandarkan pada kehandalan tools atau teknologi
keamanan informasi yang digunakan, tetapi juga diperlukan
pemahaman yang baik oleh organisasi tentang apa yang harus
dilindungi dan menentukan secara tepat solusi yang dapat
menangani permasalahan kebutuhan keamanan informasi.
Untuk itu dibutuhkan managemen keamanan informasi yang
sistemik dan komprehensif.
Dalam praktik bisnis mencapai tujuan seringkali organisasi
bisnis hanya mengandalkan Teknologi Informasi (TI) yang
terpasang dalam mengelola informasi sebagai basis dalam
usaha untuk memberikan layanan yang berkualitas kepada
customer ataupun dalam optimalisasi proses bisnisnya.
Tingkat ketergantungan organisasi pada system informasi
juga sejalan dengan tingkat resiko yang mungkin timbul seiring
dengan perkembangan organisasi bisnis untuk tersebut. Salah
satu risiko yang mungkin timbul adalah risiko keamanan
informasi, dimana informasi sebagai asset organisasi menjadi
penting yang harus tetap tersedia dan dapat digunakan pada saat
dibutuhkan.
Institusi Pendidikan Tinggi merupakan organisasi yang
memiliki berbagai jenis informasi penting dan bersifat rahasia
atau informasi yang mesti dijaga keasliannya. Misalnya
informasi tentang proses akademik mahasiswa, pengelolaan
Asset Perguruan Tinggi, Keuangan, Informasi Penelitian,
Pengabdian Masyarakat, Beasiswa, kealumnian dan lain
sebagainya. Tingkat ketergantungan institusi pendidikan tinggi
tinggi dan telah terbukti dapat meningkatkan efektifitas dan
efisiensi dalam proses pencapaian visi, misi dan tujuan
berdirinya organisasi tersebut. Seiring dengan hal tersebut
tingkat resiko keamanan informasi yang dimiliki oleh institusi
pendidikan tinggi juga semakin tinggi.
Berkaitan dengan pentingnya menjaga keamanan
informasi ini, pemerintah melalui UU No 11 Tahun 2008
Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik telah menetapkan
bahwa setiap penyelenggara system elektronik harus
menyelenggarakan system elektronik yang handal dan aman
serta bertanggung jawab terhadap beroperasisnya system
elektronik sebagaimana mestinya [ ].
II. Model Managemen Keamanan Informasi
Keamanan informasi bukan hanya berkaitan dengan aspek
teknologi dan aspek sumber daya manusia saja tetapi juga terkait
dengan berbagai aspek lain, seperti aspek manajemen termasuk
kebijakan organisasi, sistem manajemen dan perilaku manusia.
Untuk itu diperlukan pengelolaan keamanan informasi yang
sistemik dan komprehensif. Dalam membangun system
pengelolaan keamanan informasi di institusi pendidikan tinggi
harus memperhatikan aspek-aspek keamanan informasi secara
umum paling tidak memuat tiga unsur penting yaitu:
a. Confidentiality (kerahasiaan) yaitu aspek yang
menjamin kerahasiaan data atau informasi,
memastikan bahwa informasi hanya dapat diakses oleh
orang yang berwenang dan menjamin kerahasiaan
data yang dikirim, diterima dan disimpan.
b. Integrity (integritas) yaitu aspek yang menjamin
bahwa data tidak dirubah tanpa ada ijin pihak yang
berwenang (authorized), harus terjaga keakuratan dan
keutuhan informasi.
c. Availability (ketersediaan) yaitu aspek yang menjamin
bahwa data akan tersedia saat dibutuhkan, memastikan
user yang berhak dapat menggunakan informasi dan
perangkat terkait jika diperlukan.
Model managemen keamanan informasi dengan
pertimbangan terhadap ketiga aspek keamanan informasi
pada institusi pendidikan tinggi dapat mengadopsi metode-yang
sudah umum digunakan pada industry seperti metode
OCTAVE ((The Operationally Critical Threat, Asset, and
Vulnerability Evaluation) yang dikembangkan oleh Software
Engineering Institute, Carnegie Mellon University.[ ]
Metode OCTAVE merupakan pendekatan sistem
terhadap evaluasi risiko keamanan informasi yang
komprehensif, sistematik, terarah, dan dapat dilakukan sendiri.
Pendekatannya disusun dalam satu set kriteria yang
mendefinisikan elemen esensial dari evaluasi risiko keamanan
informasi. Gambar 1 menunjukkan kerangka managemen
keamanan informasi dengan metode OCTAVE.
Gambar 1 : Framework Model OCTAVE
Sumber: Supradono, 2009
Model managemen resiko keamanan informasi yang di
usulkann oleh General Accounting Office (GAO) dengan
siklus framework yang dilaksanakan secara kontinu, berkaitang
dengan meningkatnya resiko yang selalu mengancam [ ].
Gambar 2 menunjukkan model framework managemen
resiko keamanan informasi model GAO.
Gambar 2: Siklus Framework Model GAO
Sumber: GAO, 1998
Indeks Keamanan Informasi (KAMI) merupakan model
pengukuran terhadap kesiapan/kematangan suatu instansi
dalam pengamanan informasi. Indeks KAMI umumnya
digunakan untuk pengukuran kesiapan/kematangan instansi
pemerintah dalam pengamanan informasi, namun tidak terbatas
hanya untuk instansi pemerintah saja. Indeks KAMI juga dapat
untuk mengidentifikasi kondisi saat ini, identifikasi keperluan
pembenahan dan prioritasnya, pemetaan kesiapan/kematangan
instansi dalam pengamanan informasi. Disamping itu Indeks
KAMI juga dapat dimanfaatkan untuk kelengkapan
pengamanan informasi sesuai dengan kesiapan sertifikasi (ISO
27001 ISMS).
.Standar Nasional Indonesia (SNI) 27001 yang
mengadopsi ISO 27001 telah mensyaratkan kebutuhan
pencapaian ambang batas minimum dan meminta semua
pengamanan wajib dan control yang relevan diterapkan secara
konsisten dan efektif oleh institusi/instansi dalam proses
pengamanan informasi. Dalam tulisan ini proses penerapan
ISO 27001 digunakan untuk keperluan indeks KAMI yang
berkaitan dengan evaluasi yang dilakukan terhadap
kelengkapan dan konsistensi bentuk pengamanan informasi
sesuai dengan ISO 27001. Disamping itu juga diperlukan untuk
identifikasi tingkat kematangan yang dilakukan dengan
menggunakan pengelompokan bentuk pengamanan (security
control) sesuai kompleksitas dan tahapan penerapannya yang di
petakan terhadap tingkat kematangan tertentu.
Framework Indeks KAMI dalam pengukuran tingkat
kematangan pengamanan informasi pada institusi pendidikan
tinggi dapat uraikan sebagai berikut:
a. Analisis tingkat kepentingan atau peran TIK pada
institusi pendidikan tinggi. Ketegorisasi tingkat
kepentingan atau peran TIK ini digunakan untuk
memudahkan proses pembandingan dan pemberian
saran pencapaian tingkat kelengkapan dan
kematangan yang berbeda, sesuai dengan
kepentingan/peran TIK pada institusi tersebut.
Skoring terhadap peran dan tingkat kepentingan TIK
institusi berdasarkan skor dari responden yang di
kategorisasi dengan “Rendah” (skor: 0-12), “Sedang” (skor: 13-24), “Tinggi” (25-36), “kritis” (37-48).
Gambar 3 menunjukkan model scoring peran dan
tingkat kepentingan TIK di Institusi.
Gambar 3: Skoring Peran dan Kepentingan TIK
b. Evaluasi kelengkapan dan kematangan pengamanan
informasi untuk 6 area sesuai dengan ISO 27001
ISMS (Information Security Managemen System)
yaitu: (1) Peran TIK dalam institusi, (2) Tata Kelola
Keamanan Informasi,(3) Pengelolaan Resiko
keamanan informasi, (4) Kerangka Kerja Keamanan
Informasi, (5) Pengelolaan Asset Informasi dan (5)
Teknologi dan Keamanan Informasi.
Tingkat Kematangan Institusi terhadap pengamanan
informasi untuk 6 area tersebut dikelompokkan
berdasarkan skor tingkat kematangan dan kategori
(pengelompokan) kelengkapan seperti yang
ditunjukkan oleh Tabel 1.
Tabel 1. Skor tingkat kematangan dengan kategori kelengkapan
c. Evaluasi hasil Indeks KAMI dengan dashboard untuk
prensentasi skor kelengkapan pengamanan informasi
dan tingkat kematangan pengamanan informasi
dengan rentang metric kematangan institusi dalam
pengamanan informasi. Gambar 4 menunjukkan
dashboard hasil indeks KAMI yang memberikan
informasi tentang tingkat kematangan institusi dan
tingkat kelengkapan penerapan Standar ISO 27001
Gambar 4: Dashboard Hasil Indeks KAMI
Framework implementasi managemen keamanan
informasi berbasis Indeks KAMI sesuai dengan standard ISO
27001 pada institusi pendidikan tinggi dapat dilihat pada
Gambar 5 berikut:
Gambar 5: Framework Managemen Keamanan Informasi
berbasis Indeks KAMI.
IV.Penerapan Indeks KAMI Pada Sekolah Tinggi Teknik Harapan (STTH) Medan
Indeks KAMI sebagai tools untuk pengukuran tingkat
kesiapan/ kematangan institusi dalam pengamanan informasi
telah coba pada STTH Medan sebagai sample institusi
pendidikan tinggi.
Gambar 6 menujukkan identitas institusi pendidikan tinggi
dan ruang lingkup yang sedang di ukur tingkat kematangan
pengamanan informasinya . Pemilihan ruang lingkup .
didasarkan pada fungsi dan peran, batasan (fisik dan non-fisik)
Gambar 6; Tampilan Identitas pada aplikasi Indeks KAMI
Hasil pengujian terhadap tingkat kematangan Institusi
dalam pengamanan informasi pada STTH Medan
menggunakan Indeks KAMI dapat dilihat pada Gambar 7
berikut::
Gambar 7: Hasil Evaluasi Indeks KAMI terhadap Pengamanan
Informasi di STTH Medan
Dashboard merupakan hasil evaluasi terhadap
pengamanan informasi di STTH Medan menunjukkan bahwa
Peran TIK pada institusi pendidikan STTH Medan
menunjukkan tingkat ketergantungan Tinggi dengan skor 32.
Tingkat Kematangan pengamanan Informasi oleh institusi
pendidikan tinggi STTH Medan berada pada kategori I yang
menunjukkan bahwa tingkat kematangan berada pada Kondisi
Awal yaitu menyatakan bahwa STTH Medan masih berada
dalam area yang terkait dengan bentuk kerangka kerja dasar
keamanan informasi. Sementara rentang kelengkapan
pengamanan berada pada wilayah “merah” menunjukkan
bahwa kelengkapan pengamanan informasi saat ini di STTH
masuk dalam rentang “Tidak layak”
Mendefenisikan Ruang Lingkup Keamanan
Informasi
Menetapkan Peran TIK Pada Institusi
Menilai Kelengkapan Pengamanan Informasi
5 Area dengan Indeks KAMI
Evaluasi Hasil Indeks KAMI Menetapkan Langkah
Perbaikan Penetapan Prioritas tindakan managemen
INSTITUSI
PENDIDIKAN
:.Dashboard dengan radar Chart Indeks KAMI
memberikan gambaran kepada pimpinan Institusi Pendidikan
Tinggi kondisi saat ini berkaitan dengan seluruh aspek
managemen keamanan informasi. Radar chart ini juga
menunjukkan gambaran kematangan institusi dalam
pengelolaan pengamanan informasi. Dashboard radar chat hasil
pengukuran pada STTH Medan seperti yang di tunjukkan oleh
Gambar 8 berikut
Gambar 8: Radar Chart Indeks KAMI STTH Medan
Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa hasil responden pada
pengukuran tingkat kesiapan/kematangan institusi STTH
Medan terhadap pengamanan informasi masih berada pada
wilayah “kerangka kerja dasar”. Hasil ini dapat memberikan
gambaran kepada para pengambil keputusan sebagai bahan
evaluasi diri untuk dapat membuat perencanaan untuk
perbaikan, sehingga secara bertahap diharapkan dapat
memenuhi standar ISO 27001 dan selanjutnya institusi siap
untuk di sertifikasi ISO 27001 Information Security
Managemen System (ISMS).
V. Kesimpulan
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Indeks KAMI dapat
dijadikan sebagai tools untuk menilai tingkat kesiapan/
kematangan institusi pendidikan tinggi terhadap pengelolaan
pengamanan informasi yang di miliki oleh institusi tersebut.
Evaluasi hasil Indeks KAMI pada Institusi Pendidikan
Tinggi dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi diri institusi
khususnya tentang managemen keamanan informasi serta
sebagai kompas penunjuk arah institusi untuk persiapan
pemenuhan persyaratan yang ditetapkan oleh ISO 27001.
Untuk rekomendasi penelitian selanjutnya, Indeks KAMI
dapat dijadikan sebagai Aplikasi dengan desain interface yang
mempermudah pengguna dalam melaksanakan pengukuran
secara mandiri (Assessment by self) yang memberikan
manfaat kepada institusi pendidikan tinggi dalam proses
pengambilan kebijakan dan prioritas tindakan perbaikan.
VI. Daftar Referensi
1. Alberts, Christopher and Dorofee, Audrey, 2002. Managing
Information Security Risks: The OCTAVESM Approach, .
2. Alberts, Christopher and Dorofee, Audrey. 2001.
Operationally Critical Threat, Asset, and Vulnerability
Evaluation (OCTAVE ) Criteria
(CMU/SEI-01-TR-016). Pittsburgh, PA: Software
Engineering Institute, Carnegie Mellon University, 2001.
Available online: <
http://www.sei.cmu.edu/publications/docum
ents/01.reports/01tr016/01tr016abstract.html>.
3. Direktorat Jendral Aplikasi Telematika, Departemen
Komunikasi dan Informatika, 2007. Pedoman Praktis
Managemen Keamanan Informasi bagi Pimpinan
Organisasi.
4. Direktorat Jendral Aplikasi Telematika, Direktoran
Keamanan Informasi Kementerian Komunikasi dan
Informatika, 2012. “ Indeks KAMI “.Panduan Bimtek Indeks KAMI .
5. Supradono, B. 2009 Managemen Resiko Keamanan
Informasi dengan Metode OCTAVE. . Media Elektrika,
Vol. 2, No. 1, 2009 : 4 - 8
6. United States General Accounting Office. Executive Guide:
Information Security Management (GAO/AIMD-98-68).