• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK VARIASI JENIS NEPENTHES BERDASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ABSTRAK VARIASI JENIS NEPENTHES BERDASAR"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

VARIASI JENIS NEPENTHES BERDASARKAN HABITAT DI KABUPATEN TABALONG

Oleh : Mahrudin

Nepenthes tergolong tumbuhan karnivora yang dapat memakan hewan terutama kelompok serangga. Keberadaan Nepenthes biasanya spesifik terutama pada tanah atau habitat tertentu, termasuk tumbuhan merambat di tanah, ranting-ranting pohon, berumah dua. Pertumbuhan Nepenthes merambat dan menempel pada pohon, memiliki sebuah alat berupa kantung yang merupakan perubahan bentuk dari ujung daun yang memiliki fungsi menjadi perangkap serangga Selain itu, memerlukan kelembapan tinggi, sehingga biasanya senang dekat air, hutan gambut, atau padang savana. Hal ini menyebabkan munculnya variasi Nepenthes pada habitat yang berbeda-beda. Nepenthes tersebar dari dataran rendah rendah sampai daratan tinggi (0 – 700 mdpl), bahkan pada ketinggian 1000 m.dpl. Pada Kabupaten Tabalong berdasarkan survey ditemukan ada lima habitat yang dapat ditumbuhi Nepenthes yaitu hutan kerangas, semak belukar, rawa, kebun karet dan tanah merah. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi jenis Nepenthes di Kabupaten Tabalong berdasarkan habitat. Penelitian ini bersifat eksploratif dengan teknik observasi, yaitu terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pengamatan dan pengambilan sampel untuk mengetahui variasi jenis Nepenthes pada 5 habitat dengan metode transek secara teratur berjarak pada tiga kecamatan yaitu Kecamatan Tanta, Murung Pudak dan Jaro pada Kabupaten Tanjung. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa untuk jenis Nepenthes yang ditemukan di Kabupaten Tabalong ditemukan 10 jenis yang tersebar pada lima habitat berbeda yaitu Nepenthes mirabilis, N. gracillis, N. adnata, N. reinwardtiana, N. gracillis x N. mirabilis, N. rafflesiana, N. reinwardtiana x gracillis, N. benstonei, N. bicalcarata, dan N. stenophylla. Keberadaan pada habitat semak, kebun karet, rawa dan

kerangas ada 8 jenis, sedangkan untuk habitat tanah merah ada 6 jenis.

(2)

PENDAHULUAN

Tumbuhan yang ada di alam sangatlah beragam jenisnya yang tumbuh dalam suatu area atau wilayah. Keragaman tumbuhan ini berdasarkan atas habitat yang dihuninya, baik pada daratan maupun perairan. Keberadaan tumbuhan yang hidup dalam suatu habitat kecendrungan ada saling keterkaitan satu sama lainnya, dan juga berhubungan dengan lingkungan yang ditempatinya. Keterkaitan ini dapat dipelajari dengan menganalisis vegetasi yang tumbuh di suatu wilayah dengan mengdeskripsikan jenis-jenis yang terdapat di dalamnya berdasarkan habitat yang ditempatinya.

Tumbuhan yang ada di alam sering kita kenal manfaatnya terutama bagi kehidupan manusia, baik dalam menunjang keperluan hidup masyarakat maupun dalam hal menambah nilai ekonomi, sehingga tumbuhan tersebut sering diburu atau dieksploitasi. Adanya eksploitasi besar-besaran tanpa mempertimbangkan kelestarian bagi tumbuhan tersebut, akan dapat menyebabkan menghilangkan jenis tumbuhan ataupun dapat mengurangi jumlah keberadaannya di alam.

(3)

menjadi perangkap serangga atau binatang kecil lainnya. (Alamendah, 2007).

Kehidupan Nepenthes memang dapat dilihat spesifik, baik dilihat dari faktor abiotik dan edafik tanah dan habitatnya. Selain itu, tanaman Nepenthes butuh kelembapan tinggi, karena Nepenthes senang dekat air, hutan gambut, atau padang savana. "Nepenthes juga senang suhu yang bervariasi (Azwar et al, 2006). Menurut Mansur (2006) Nepenthes

memiliki habitat yang spesifik, dilihat faktor lingkungan abiotik dan edafik tanah. Hal inilah yang menyebabkan munculnya variasi Nepenthes pada habitat yang berbeda-beda. Adapun habitat Nepenthes tersebut antara lain; hutan hujan tropik, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, padang savana dan danau. Sedangkan menurut Karjono et al. (2006) Nepenthes tersebar dari dataran rendah rendah

samapi daratan tinggi (0 – 700 mdpl), bahkan ada yang hidup pada ketinggian 1000 mdpl. Habitat tumbuhnya dapat berupa hutan kerangas, semak belukar, padang ilalang, hutan gambut dan bahkan ada yang tumbuh pada hutan-hutan primer. Demikian juga menurut Azwar et al.

(2006) kantong semar hidup di tempat-tempat terbuka atau agak terlindung di habitat yang miskin unsur hara dan memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi. Tanaman ini bisa hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, dan padang savana.

Pemanfaatan Nepenthes sekarang ini kebanyakan sebagai tanaman hias yang harganya cukup tinggi. Selain itu, pada beberapa daerah, Nepenthes juga dapat digunakan sebagai obat-obatan, serta juga sebagai perangkap serangga rumah. Demikian juga pada masyarakat Kabupaten Tabalong, Nepenthes banyak digunakan sebagai tanaman hias, yang dapat menanbah nilai ekonomi masyarakat.

(4)

Nepenthes yang masih tertutup dapat berguna untuk persalinan, serta dapat menyembuhkan obat sakit mata, batuk dan maag.

Pemanfaatan Nepenthes yang semakian banyak dikenal masyarakat, menyebabkan Nepenthes banyak dieksploitasi. Eksploitasi Nepenthes oleh masyarakat awam dapat menimbulkan suatu ancaman bagi keberadaan dan kelangsungan hidup Nepenthes di alam. Masyarakat pada umumnya hanya mengambil saja tumbuhan ini dan jarang untuk menanam kembali, untuk menjaga kelestarian akan berbagai jenis Nepenthes, terutama jenis-jenis yang telah langka. Demikian juga yang terjadi pada masyarakat Tabalong pada umumnya. Mereka mencari Nepenthes yang ada di hutan, kemudian dijual untuk menambah ekonominya, tanpa adanya pembibitan kembali.

Hasil wawancara dan survei yang dilakukan didapatkan informasi bahwa mereka hanya mengambilnya di hutan atau semak belukar, kemudian mereka memindahkankan Nepenthes pada suatu wadah untuk dijual-belikan. Mereka berpendapat bahwa tidak ada usaha untuk melestarikannya, dengan cara penanaman kembali, karena nilainya cukup tinggi. Hal inilah yang dapat menyebabkan kelangkaan pada Nepenthes yang hidup secara alami. Ancaman yang terjadi pada Nepenthes karena adanya eksploitasi besar-besaran oleh masyarakat awam dapat mengakibatkan hilangnya jenis-jenis yang dianggap langka, serta adanya pembukaan lahan pertanian atau perkebunan oleh masyarakat, dapat mengganggu kehidupan Nepenthes. Kegiatan ini umumnya dilakukan masyarakat yang berada didataran tinggi, yang pekerjaannya bercocok tanam, atau membuka lahan atau hutan. Mereka akan membabat hutan tanpa menghiraukan adanya tanaman yang harus dilindungi.

(5)

pada lahan yang kritis atau lahan yang kurang unsur hara, misalnya rawa gambut. Kabupaten Tabalong adalah salah satu kabupetan di Kalimantan Selatan, yang berjarak sekitar 250 Km dari ibukota provinsi. Daerah ini merupakan salah satu daerah yang memiliki pegunungan dan dataran tinggi yang cukup luas. Habitat yang ada di daerah ini, sangat beragam, baik pertanian, perkebunan, semak belukar, hutan kerangas, gunung kapur, dan juga hutan pegunungan, yang banyak memiliki keragaman flora dan fauna yang cukup banyak, dan ada juga flora yang khas, diantaranya adalah tumbuhan Nepenthes. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa keragaman jenis Nepenthes yang ada tersebar dari dataran rendah di daerah ini sampai pada dataran tinggi dan pegunungan. Sehingga untuk memperkaya pengetahuan tentang Nepenthes yang ada di Kalimantan Selatan, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang “Variasi Jenis Nepenthes di Kabupaten Tabalong Berdasarkan Habitat”.

Berdasarkan uraian di atas dirumuskan suatu masalah yaitu Variasi Jenis Nepenthes Apa saja yang terdapat di Kabupaten Tabalong. Sedangkan untuk tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Variasi Jenis Nepenthes Apa saja yang terdapat di Kabupaten Tabalong

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat eksploratif dengan teknik observasi, yaitu terjun langsung ke lapangan untuk melakukan pengamatan dan pengambilan sampel untuk mengetahui variasi jenis Nepenthes pada 5 habitat pengamatan dengan metode transek dengan penentuan titik sampel secara teratur berjarak pada setiap daerah pengamatan, serta mengukur semua faktor edafik tanah pada tiap jenis kanton semar yang ditemukan di setiap daaerah pengamatan.

(6)

kerangas) dan Mabuun (habitat semak) dan Kecamatan Jaro yaitu Desa Namun (habitat rawa air tawar) dan Muang (habitat kebun karet). Waktu yang digunakan dalam penelitian ini selama 8 bulan yaitu dari bulan Desember 2010 – Juli 2011.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Alat penukur Kondisi fisik lingkungan (Anemometer, Luxmeter, Hygrometer, Soil tester, Altimeter, dan Termometer) dan untuk pengujian tanah dilakukan dengan alat Spectrofotometer.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang akan dilakukan sebagai berikut:

1) Observasi daerah penelitian yang meliputi 3 daerah yang terdapat Nepenthes, dimana ditemukan 5 (lima) habitat yaitu semak, kebun karet, rawa air tawar, kerangas dan tanah merah.

2) Menetapkan daerah penelitian seluas 1 ha (100 m x 100 m) pada tiap habitat pengamatan. Penetapan kawasan ini didasarkan atas keberadaan Nepenthes.

3) Menetapkan 10 titik garis transek di tiap habitat pengamatan secara teratur berjarak 5 meter antar kuadran, dengan ukuran memanjang 5 m x 100 m. (lampiran 5)

4) Melakukan pengamatan pada tiap titik garis transek dengan cara jelajah.

5) Mengambil sampel tiap jenis Nepenthes yang ditemukan pada tiap titik pengamatan pada masing-masing daerah.

6) Mentabulasi data yang didapatkan.

7) Melakukan identifikasi jenis yang ditemukan dengan melakukan pertelaan jenis. (lampiran 6). Untuk penentuan nama spesies, sampel herbarium di kirim ke herbarium Samboja.

(7)

tanah antara lain N, P, K, dan Ca. Kemudian sampel tanah diserahkan ke Balitra Banjarbaru untuk dilakukan pengujian unsur yang diinginkan. 9) Menganalisis data yang didapatkan.

Analisis Data

Untuk Data hasil pengamatan dilakukan analisis terutaman penentuan jenis dan variasi menggunakan teknik identifikasi menggunakan pustaka, yaitu Handoyo & Moloedyn (2006), Mansur (2000), Sujayanto et al.

(2006) dan Sumber- sumber internet (website).

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan beberapa jenis Nepenthes yang tersebar di kelima daerah pengamatan yakni sema, kebun karet, rawa, kerangas dan tanah merah dapat dilihat tabel 1 dibawah ini:

Tabel 1. Jenis-jenis Nepenthes yang ditemukan pada daerah penelitian. No Nama Spesies Terdapat pada daerah

Semak Kebun Karet

Rawa

Air tawar

Kerangas Tanah merah

1 Nepenthes mirabilis** √ √ √ √ √

2 Nepenthes gracilis** √ √ √ √

3 Nepenthes bicalcarata √ √ √

4 Nepenthes reinwardtiana** √ √ √ √ √

5 Nepenthes gracillis x N. mirabilis

*

√ √ √ √ √

6 Nepenthes rafflesiana √ √ √ √ √

7 Nepenthes stenophylla √ √

(8)

gracillis*

9 Nepenthes adnata

10 Nepenthes benstonei ** √ √ √ √ √

Jumlah 8 8 8 8 6

Keterangan = * hybrid

** memiliki pertumbuhan sebatang

Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa untuk jenis Nepenthes yang ditemukan di Kabupaten Tabalong pada lima habitat yang berbeda adalah sebagai berikut pada daerah semak ada 8 jenis yaitu Nepenthes mirabilis, N. gracillis, N. adnata, N. reinwardtiana, N. gracillis x N. mirabilis, N. rafflesiana, N. reinwardtiana x gracillis, danN. benstonei; daerah rawa

yaitu Nepenthes mirabilis, N. gracillis, N. bicalcarata, N. reinwardtiana, N. gracillis x N. mirabilis, N. rafflesiana, N. reinwardtiana x N. gracillis,dan N. benstonei; pada daerah kebun karet dan rawa air tawar ditemukan ada 8

jenis yaitu Nepenthes mirabilis, N. gracillis, N. bicalcarata, N. reinwardtiana, N. gracillis x N. mirabilis, N. rafflesiana, N. reinwardtiana x N. gracillis, dan N. benstonei ; pada daerah kerangas ada 8 jenis yaitu Nepenthes mirabilis, N. gracillis, N. bicalcarata, N. reinwardtiana, N. gracillis x N. mirabilis, N. rafflesiana, N. stenophylla, danN. benstonei; dan

pada daerah tanah merah ada 6 jenis yaitu Nepenthes mirabilis, N. reinwardtiana, N. gracillis x mirabilis, N. rafflesiana, N. stenophylla, dan N. benstonei.

Adapun deskripsi jenis-jenis yang ditemukan adalah sebagai berikut :

1) Nepenthes mirabilis

(9)

kerangas dan tanah merah. Jenis tanah berwarna kecoklatan, tanah putih bercampur pasir atau bercampur batuan.

2) Nepenthes gracillis

Deskripsi jenis ini adalah memiliki kantong bagian bawah berbentuk oval dan bagian atas bentuk silender berwarna hijau dengan bercak merah ke bagian atas kantong, panjang mencapai 11 cm dengan diameter 3 cm. Warna tutup kantong hijau, berbentuk bundar. Tumbuh pada semak, kebun karet, rawa, dan kerangas. Jenis tanah berwarna kecoklatan, tanah gembur, gambut bercampur pasir, berwarna coklat, tanah putih.

3) Nepenthes bicalcarata

Berdasarkan pengamatan jenis memiliki kantong bagian bawah berbentuk tempayan berwana hijau dengan bercak merah dan bagian atas memanjang berwarna hijau dengan bercak-bercak merah mengecil ke bagian atas kantong, panjang mencapai 22 cm dengan diamter 12 cm. Warna tutup kantong hijau bercak merah. Tumbuh pada kebun karet, rawa, dan kerangas. Jenis tanah gembur berwarna kecoklatan, tanah putih bercampur pasir.

4) Nepenthes reinwardtiana

Berdasarkan pengamatan jenis memiliki kantong bagian bawah berbentuk oval berwana hijau dan bagian atas memanjang berwarna hijau, panjang mencapai 12 cm dengan diamter 4 cm. Bagian dalam kanntong berwarna hijau. Warna tutup kantong hijau. Tumbuh pada semak, kebun karet, rawa, tanah merah dan kerangas. Jenis tanah gembur berwarna kecoklatan, tanah putih bercampur pasir.

5) Nepenthes gracillis x N. mirabilis

(10)

6) Nepenthes rafflesiana

Berdasarkan pengamatan jenis memiliki kantong bagian bawah berbentuk oval berwana merah maron dan bagian atas bentuk bulat berwarna merah, panjang mencapai 16 cm dengan diamter 5 cm. Warna tutup kantong merah bercak hitam. Tumbuh pada kebun karet, rawa, kerangas dan tanah merah. Jenis tanah gambut, berpasir dan tanah merah berwarna kecoklatan, tanah putih bercampur pasir.

7) Nepenthes adnata

Berdasarkan pengamatan jenis memiliki Kantong bagian bawah berbentuk oval berwana merah bercak hitam dan bagian atas corong berwarna kemerahan, panjang mencapai 12 cm dengan diamter 3 cm. Warna tutup kantong merah. Tumbuh pada semak, kebun karet dan rawa, jenis tanah gembur, gambut berpasir, berwarna kecoklatan.

8) Nepenthes stenophylla

Berdasarkan pengamatan jenis memiliki kantong bagian bawah berbentuk silender berwana hijau dengan bercak merah dan bagian atas memanjang berwarna hijau dengan bercak-bercak merah, panjang mencapai 12 cm dengan diamter 5cm. Warna tutup kantong hijau bercak merah. Tumbuh pada kerangas dan tanah merah. Jenis tanah gambut, berwarna kecoklatan dan putih, tanah putih bercampur pasir.

9) N. reinwardtiana x N. gracillis

Berdasarkan pengamatan jenis memiliki kantong bagian bawah berbentuk oval berwana hijau tua dan bagian atas memanjang berwarna hijau bentuk panjang, panjang mencapai 19 cm dengan diamter 6 cm. Warna tutup kantong hijau. Tumbuh pada kebun karet, rawa, dan semak. Jenis tanah gembur, gambut dan serasah, berwarna kecoklatan.

10) Nepenthes benstonei

(11)

garis merah bentuk bulat, pada bagian dalam berwarna hijau dengan bercak merah. Tumbuh pada semak, kebun karet, rawa, kerangas dan tanah merah. Jenis tanah gembur berwarna kecoklatan, tanah putih bercampur pasir.

4.1 Pengukuran Parameter Lingkungan pada Daerah Pengamatan Kehidupan suatu tumbuhan di alam, tidak akan dapat dipisahkan dari faktor lingkungan sekitarnya, baik fiisik dan kimia. Adapun hasil pengukuran faktor fisik dan daerah penelitian dapat dilihat dari tabel dibawah ini :

Tabel 6. Hasil pengukuran parameter lingkungan di tiap daerah pengamatan

No Parameter lingkungan Hasil pengukuran pada habitat (kisaran)

dan satuanya Semak Kebun karet Rawa Kerangas Tanah merah

1 Suhu udara (oC) 29 – 33 29 - 31 30 - 33 29 – 33 29 -32

2 Kelembaban udara (%) 72 – 86 78 – 92 70 - 82 74 – 86 78 -86

3 Kelembaban tanah (%) 45 – 70 45 - 75 45 - 98 40 – 65 45 – 65

4 pH tanah 6,0 – 6,6 6,2 – 6,8 6,4 – 6,8 6,2 – 6,6 6,2 – 6,8

5 Intensitas cahaya (K.Lux)

4,08 – 11,21 4,46 – 9,13 9,23 – 11,36 4,98 – 10,63 6,45 – 10,61

6 Kecepatan angin (m/s) 0,42 – 0,87 0,36 – 1,23 0,41 – 1,14 0,38 – 0,94 0,36 -1,04

7 Ketinggian tempat (mdpl)

60 120 110 60 20

8 Jenis tanah Tanah Litosol

Tanah litosol Tanah lumpur

Tanah gembur berbatu

(12)

9 Warna tanah kecoklatan Coklat kemerahan

kecoklatan Kecoklatan berbatu putih

Merah

berpasir

10 Unsur tanah :

N total (%) 0,336 0,467 0,315 0,210 0,098

P totral

(mg/100mgP2O5)

49,194 171,233 86,346 27,264 16,839

K total (mg/100gr K2O) 31,350 39,930 21,567 17,020 5,190

C organik (%) 1,98 2,77 2,07 0,920 0,320

Na (C mol(+)/kg 0,136 0,200 0,184 0,132 0,152

Ca (C mol(+)/kg 17,467 21,175 17,913 7,747 1,154

Aldd (C mol(+)/kg 0,0001 0,0001 0,0001 0,0001 2,600

11 Tektur tanah :

Pasir 9,09 15,04 11,09 20,71 25,18

Debu 48,17 38,18 37,25 62,80 10,68

Liat 42,74 46,78 42,12 16,49 64,16

Desa Mabu’un Muang Namun K.kuning Dahur

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan didapatkan bahwa untuk jenis yang ditemukan ada 10 jenis Nepenthes yang tersebar di lima daerah pengamatan, Keberadaan Nepenthes ternyata tersebar hampir merata di semua daerah pengamatan, hal tersebut ditunjukkan dengan ditemukannya sebagian besar spesies ada yang dapat tumbuh di semua daerah pengamatan, misalnya Nepenthes mirabilis, Nepenthes reinwardtiana, Nepenthes benstonei, Nepenthes rafflesiana dan Nepenthes gracillis x N. mirabilis yang ditemukan tumbuh pada semua

(13)

sesuai di semua daerah pengamatan tidak jauh berbeda antara semua daerah pengamatan, terutama faktor fisik baik suhu udara yang masih tergolong optimal, kelembaban udara dan kelembaban tanah yang cukup, dan ketinggian tempat semua daerah pengamatan yang masih termasuk dalam dataran rendah yang memang masih cocok bagi pertumbuhan jenis ini.

Menurut Mansur (2006) menjelaskan bahwa untuk jenis Nepenthes mirabilis, Nepenthes reinwardtiana, Nepenthes benstonei, dan Nepenthes rafflesiana, dapat tumbuh pada dataran rendah dari 0 – 1500 mdpl. selain

itu juga jenis-jenis tersebut, dapat tumbuh baik pada penyinaran matahari yang tidak penuh yaitu dengan penaungan 55% sampai 65%. Disamping itu juga kelembaban udara yang baik bagi pertumbuhan kantong jenis minimal 70%.

Hal tersebut sesuai dengan pengamatan dimana untuk penyinaran sinar matahari tidak penuh karena masih ada naungan dan juga kelembaban udara yang tergolong cukup lembab, dan habitat tumbuhnya masih tergolong dalam dataran rendah yaitu dari 20 – 120 m.dpl. Selain itu juga ada sebagian kecil yang hanya di temukan di daerah tertentu atau menempati daerah yang spesifik, misalnya Nepenthes gracilis yang tidak

ditemukan pada daerah tanah merah. Hal tersebut diduga karena faktor habitat spesies ini tidak bisa tumbuh pada daerah yang berbatu dengan tanah yang kurang subur, di mana dari pengukuran dapat dilihat bahwa untuk kandungan unsur kimia tanah pada daerah tanah merah lebih rendah dibandingkan dengan daerah lainnya. Selain itu juga disebabkan karena daerah ini yang agak kering, oleh karena kebanyakan tekstur tanahnya yang banya mengandung pasir dan batuan.

Menurut Sujayanto (2006) Nepenthes gracillis, bisa tumbuh di

(14)

(2006) menyatakan bahwa jenis Nepenthes gracillis banyak tumbuh di

wilayah hutan yang basah.

Jenis Nepenthes stenophylla termasuk jenis yang lebih mudah

tumbuh pada daerah kerangas, dimana habitat kerangas yang dominan tanahnya bercampur dengan pasir atau batuan putih ataupun tanah yang bercampur dengan batuan, dimana untuk daerah kerangas lebih dominan struktur tanah yang berpasir atau berbatu, (pada desa Dahur untuk kerangas dengan tanah merah dan desa Kambang kuning untuk daerah kerangas berpasir putih). Menurut Sujayanto et all(2006) jenis Nepenthes

ini memang sering ditemukan di dataran rendah dengan ketinggian 400 m.dpl, dan akhir-akhir ini penelitian dari LIPI Bogor,menemukan jenis ini di Hulu Sungai Barito dengan habitat kerangas. Menurut Mansur (2006)

Nepenthes stenophylla memang memiliki habitat kerangas yang

merupakan daerah yang berbatu atau berpasir, Nepenthes adnata

merupakan jenis Nepenthes yang tumbuh pada dataran rendah sampai menengah, dan dapat tumbuh di dataran rendah dengan kondisi habitatnya sesuai dengan alam pegunungan, dimana juga lebih menyenangi spagnum sebagai media tumbuh.

Berdasarkan pengamatan untuk jenis Nepenthes adnata, hanya

ditemukan pada desa semak (desa Ma’buun) dengan ketinggian 60 mdpl, dengan tektur tanah yang gembur kecoklatan, hal ini disebabkan karena tanah tersebut merupakan tanah subur hasil dari lapukan serasah yang tinggi dari tumbuhan semak. Kandungan unsur tanah cukup tinggi terutama, N, P, K, Ca dan Na. Sehingga unusr-unsur pendukung pertumbuhannya cukup tersedia. Biasanya kandungan unsur tanah ini mencirikan tanah pegunungan yang cukup subur karena banyak mengandung humus dengan kondisi yang lembab.

(15)

disebabkan oleh karena Nepenthes mempunyai kemampuan adaptasi hidup yang spesifik dibandingkan dengan tumbuhan lain, serta antar Nepenthes lain. Adanya perbedaan tersebut juga disebabkan karena kondisi habitat yang memang beda antar jenis lainnya

Keadaan ini didukung oleh habitat yang sesuai serta keadaan lingkungan yang sesuai, sehingga dapat tumbuh baik dan terdapat menyebar hampir merata di daerah pengamatan. Kondisi pendukung hidup tumbuhan, selain kespesifikan tumbuh pada habitat yang sesuai, juga didukung faktor lingkungan yang baik. Sebagai contoh yang mendominasi dataran rendah diantaranya adalah N. mirabilis, N. rafflesia, dan N. reinwardtiana, dimana jenis-jenis ini memang cocok tumbuh pada

dataran rendah, yang memang dalam kondisi habitat tanah yang gembur dan juga tanah yang berbatu atau berpasir, sehingga jenis-jenis ini tumbuh dengan baik dan mendominasi di daerah pengamatan. Selain itu juga habitat tumbuhnya pada daerah kerangas misalnya Nepenthes stenophylla.

Menurut Mansur (2006) menyatakan bahwa Nepenthes rafflesia,

habitatnya tumbuhnya pada tempat-tempat terbuka atau terlindung, yang basah atau kering seperti hutan rawa gambut dan hutan kerangas dan

Nepenthes reinwardtianahabitat berbagai tanah kapur, tanah granit, tanah

berpasir dan tanah gambut, ditempat-tempat terbuka maupun terlindung. Umumnya baik pada daerah dataran rendah. Demikian juga dengan

Nepenthes stenophylla di Borneo, sering ditemukan pada habitat

kerangas. Sedangkan untuk Nepenthes adnata biasanya hidup

ditempat-tempat terlindung dengan kelembaban udara cukup tinggi, pada substrat lumut dan berbatu pasir

Menurut Mansur (2006) jenis-jenis yang banyak tumbuh pada dataran rendah diantaranya adalah N. mirabilis, N. rafflesia, dan N. reinwardtiana yang ditemukan pada daerah pegunungan, dan sampai

(16)

tumbuh pada dataran rendah terutama daerah kerangas, yang ditemukan di wilayah Hulu Sungai Barito Utara.

Menurut Karjono (2006) menyatakan bahwa jenis Nepenthes benstonei memang dapat tumbuh pada dataran rendah sampai

menengah, akan tetapi habitat aslinya ada di ketinggian 400 – 600 m.dpl, dan adaptif dalam berbagai media tumbuh, namun media yang diinginkannya adalah “spagnum moss”.

Selain itu juga bagi jenis-jenis Nepenthes yang hibrid, memiliki kemampuan tumbuh yang terbatas karena disebabkan sifat yang diinginkan lebih spesifek akibat dari gabungan sifat gen yang dibawa masing-masing individu. Jenis Nepenthes hibrid Nepenthes reinwartiana x mirabilis juga merupakan jenis yang memiliki NP terendah di daerah

rawa dan Nepenthes gracillis x N. mirabilis pada daerah kerangas. Hal ini

berkaitan dengan kemampuan hidupnya yang memang hasil dari persilangan alami, menyebabkan pertumbuhan terhambat, karena masing-masing jenis Nepenthes membawa sifat yang berlainan, sehingga untuk tumbuh baik memang memerlukan suatu kondisi yang sesuai dari sifat-sifat yang dibawanya.

(17)

– 31 oC, kelembaban udara berada di atas 70%, serta intensitas cahaya yang tidak terlalu tinggi terutama bagi Nepenthes dataran tinggi. Selain itu juga unsur kimia tanah yang cukup tersedia, dapat menunjang bagi pertumbuhan tanaman terutama Nepenthes.

Menurut Karjono (2006) menjelaskan bahwa kelembaban sangat penting kantong semar. Tanpa kelembaban yang memadai, minimal 70%, maka kantongnya tidak muncul. Jadi, jika Nepenthes tidak berkantong, arah dugaan pertama adalah kelembaban. Ketinggian tempat sangat berkaitan dengan suhu lingkungan. Nepenthes dataran rendah biasanya hidup pada suhu udara 20oC – 35oC, sedang dataran tinggi menghendaki kisaran suhu udara 10oC – 30oC.

Sedangkan untuk hasil pengukuran unsure pada daerah penelitian yaitu untuk habitat rawa, selain terdiri dari jenis tanah dan tekstur tanah yang termasuk jenis tanah subur dan lempung, juga ketersediaan unsur hara yang cukup tinggi dibandingkan dengan daerah tanah merah. Unsur hara tanah pada daerah rawa adalah sebagai berikut; N total (0,315), P total (86,346), K total (21,567), C organik (2,07), tekstur tanah pasir (11,09), debu (37,25) dan liat (42,12). Sedangkan pada daerah tanah merah N total (0,098), P total (16,839), K total (5,190), C organik (0,320), tekstur tanah pasir (25,18), debu (10,68) dan liat (64,16) (tabel 6). Dengan demikian jelas bahwa unsur kimia tanah pada daerah tanah termasuk tanah podzolik yang memang agak kering. Menurut Mansur (2006) umumnya Nepenthes yang hidup teresterial di dataran rendah tumbuh di tempat-tempat yang berair atau dekat sumber air, seperti yang ditemukan di hutan-hutan rawa gambut. Selain itu juga menurut Karjono (2006) hutan gambut, hutan hujan tropis dan daerah rawa merupakan tempat tumbuh Nepenthes yang sudah pasti lembab, dan juga daerah kerangas.

(18)

juga yang tumbuh memang spesifik. Faktor tersebut antara lain suhu udara, kelembaban udara dan tanah, pH tanah, serta intensitas cahaya.

Berdasarkan hasil pengukuran diketahui bahwa untuk jenis tanah adalah habitat kebun karet dan rawa termasuk tanah gembur yang berwarna kecoklatan, karena mengandung serasah, dan tekstur tanah, yaitu baik kandungan debu, liat dan pasir, selain itu juga untuk unsur yang terkandung dalam tanah tidak jauh beda.

Hasil pengukuran didapatkan bahwa unsur hara tanah pada daerah rawa adalah sebagai berikut; N total (0,315), P total (86,346), K total (21,567), C organik (2,07), tekstur tanah pasir (11,09), debu (37,25) dan liat (42,12). Sedangkan pada habitat kebun karet N-total (0,467), P total (171,233), K total (39,93), C organik (2,77), tekstur tanah pasir (15,04), debu (38,18) dan liat (46,78) (tabel 6). Dengan demikian jelas bahwa unsur kimia tanah dan tekstur tanah tidak jauh beda, sehingga Nepenthes yang tumbuh di kedua habitat tersebut, memiliki kesamaan jenis yang besar.

Dengan demikian jelas bahwa unsur kimia tanah pada daerah tanah termasuk tanah podzolik yang memang agak kering. Sedangkan untuk daerah kerangas tanah merah lebih dominan komposisi oleh tanah berpasir dan tanah liat yang besar, dan komposisi debu yang rendah. Hal ini menandakan bahwa daerah ini lebih dominan tanah berpasir atau berbatu dengan campuran tanah merah.

PENUTUP

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut : Variasi Nepenthes yang ditemukan di Kabupaten Tabalong ada 10 jenis yang tersebar di lima habitat pengamatan, yaitu daerah kebun karet, semak, rawa, kerangas dan tanah merah. Adapun jenis tersebut adalah sebagai berikut :

(19)

daerah rawa yaitu Nepenthes mirabilis, N. gracillis, N. bicalcarata, N. reinwardtiana, N. gracillis x N. mirabilis, N. rafflesiana, N. adnata, N. reinwardtiana x N. gracillis, N. Stenophylla, danN. benstonei.

Saran - saran

1) Mengingat hasil penelitian ini hanya menemukan beberapa jenis yang ada di KabupatenTabalong, maka perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang komposisi, struktur dan Nilai Keterhidupan Minimum Nepenthes ini di daerah kabupaten lain yang ada di Kalimantan Selatan, mengingat penelitian-penelitian Nepenthes di daerah ini belum ada yang dipublikasikan.

2) Sehubungan dengan ditemukannya 5 habitat saja yang ada di Kabupaten Tabalong untuk Nepenthes, maka perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang jenis-jenis Nepenthes yang ada di Kalimantan Selatan berdasarkan habitat yang lainnya guna mengetahui kespesifikan tumbuh Nepenthes yang ada di daerah ini.

3) Perlu adanya penelitian tingkat molokuler untuk melanjutkan penelitian dari jenis-jenis yang ditemukan.

4) Penelitian ini dilakukan pada musim hujan, sehingga perlu adanya penelitian lanjutan pada musim kemarau.

DAFTAR PUSTAKA

Alamendah. 2007. Nepenthes Tanaman Karnivora. http://www.carnivorousplans.com.

Anonim, 2008.Tabalong dalam Atlas.BPPS Kab. Tabalong.

Azwar Fatahul, Adi Kunarso, Teten Rahman S. 2006. Nepenthes (Nepenthes sp.) di Hutan Sumatera, Tanaman Unik yang Semakin Langka. Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan. Padang. http://www.exticplantplus.com.

Brook. W, Lochran W. Trailla, Corey J.A. Bradshawb, Barry. 2007.

(20)

published estimates. www.elsevier.com/locate/biocon. Biologycal

Conservations Journal.

Dasuki Undang Ahmad. 1994. Sistematik Tumbuhan Tinggi. Pusat Antar

Universitas Bidang Ilmu Hayati. ITB. Bandung

Fachrul, M. F. 2006.Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Jakarta

Hardjosuwarno Sunarto. 1990. Ekologi Tumbuhan (Konsep Dasar).

Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta.

Handoyo F & Moloedyn S (2006), Perawatan Nepenthes. Agromedia

Pustaka. Jakarta.

Indrawan, M. Premark, R.B, Supriyatna, J. 2007. Biologi Konservasi. Pn

yayasan Obor Indonesia. Jakarta

Karjono, Utami Kartika Putri, 2006, Nepenthes vol 5, PT Trubus Swadaya.

Jakarta.

Mansur, M . 2006. Nepenthes “Kantong Semar yang Unik. Penebar

Swadaya. Jakarta

Michael P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Koester UI Press. Jakarta.

Polunin, N, 1990. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu SerumpuNepenthesGadjah Mada Unversity Press. Yogyakarta.

Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.

Osunkoya Olusegun O, Siti Dayanawati Daud,and Franz L. Wimmer Longevity, 2008 Lignin Content and Construction Cost of the Assimilatory Organs of Nepenthes Species. Published by Oxford

University Press on behalf of the Annals of Botany Company. [email protected]

Resosoedarmo. S, Kuswoto. K, dan Apriliani, 1990.Pengantar Ekologi. PT

Remaja Rosda Karya. Bandung.

Syafi’e E. S & Taufiqurrahman, 1994, Pengantar Ekologi Tumbuhan

Fakultas MIPA ITB. Bandung.

Sujayanto, G Budi Suswanto. 2006, Tanaman Buas dan Unik. PT

(21)

Tjitrosoepomo Gembong. 2000. Taksonomi Tumbuhan (Spermatopyhta).

Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Tri Handayani, Dian Latifah, Dodo, 2005, Diversity and Growth Behavior of Nepenthes (Pitcher Plant) in Tanjung Puting natinal Park, Central Kalimantan Province.Journal Biodiversity. Bogor.

Wilcock, C.C. & SWAINE, M.D. 1992 Kajian Ekologi Dan Penyebaran Nepenthes Di Kalmantan. Skotlandia, Departemen Ilmu Tanaman &

Tanah, University of Aberdeen

Anonim, 2006. www. greenculturesg.com/ forum/ index.php?/

Gambar

Tabel 1. Jenis-jenis Nepenthes yang ditemukan pada daerah penelitian.
Tabel 6. Hasil pengukuran parameter lingkungan di tiap daerah

Referensi

Dokumen terkait

pisang pada semua perlakukan bersifat plastis (kenyal) sehingga sesuai dengan karakteristik fruit leather meskipun kadar air nya lebih tinggi dari standar yang

Dari hasil pengamatan selama 10 minggu, Famili Thripidae memiliki tingkat kehadiran yang paling tertiggi di semua varietas dikarenakan famili ini merupakan hama penting

Blotong yaitu endapan nira kotor yang diperoleh dari proses pemurnian nira pabrik gula. Penumpukan limbah secara terus-menerus dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Limbah blotong berpotensi untuk dijadikan bahan pupuk organik dengan metode vermicomposting (pengomposan dengan bantuan cacing tanah). Blotong mengandung Nitrogen, P2O5, humus, dan lain-lain, kandungan tersebut bisa dimanfaatkan untuk menyuburbakan tanah dan memperbaiki struktur tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis cacing terhadap kecepatan dekomposisi limbah blotong dan mengetahui kualitas vermikompos sesuai SNI:261-2019 tentang spesifikasi pupuk organik padat. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 3 ulangan yang dilakukan secara berseri. Seri pengamatan yaitu 2 MSP, 3 MSP, dan 4 MSP (Minggu Setelah Pemberian). Faktor penelitian yaitu jenis cacing yang terdiri dari Eisenia foetida (C1), Eudrilus eugeniae (C2), dan Lumbricus sp. (C3). Penelitian ini bersifat destruktif (tidak dikembalikan lagi untuk pengamatan selanjutnya). Hasil penelitian menunjukkan pengomposan dengan jenis cacing Eisenia foetida memiliki kandungan yang lebih baik yaitu C-Organik (35.84%), pH (7.26), N-total (2.36%), Nisbah C/N (15.19). Peningkatan massa cacing terbanyak terdapat pada jenis cacing Eisenia foetida yang memiliki kenaikan 7.11 g. Berdasarkan hasil tersebut pupuk limbah blotong tebu memenuhi persyaratan SNI