Ujian Akhir Semester Geoekonomi Joshua F. Aristyawan / 071112031
Perbandingan Kontribusi Demografi Usia Produktif Pada Pertumbuhan Ekonomi di Cina dan Indonesia
Menurut proyeksi terbari dari Persatuan Bangsa Bangsa, populasi penduduk dunia yang berusia diatas 60 tahun akan mencapai jumlah 2 milyar pada tahun 2050. Dengan semakin menuanya populasi di hampir seluruh negara, muncul kekhawatiran tentang dampak dari perubahan dalam demografi terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemampuan negara untuk memberikan dukungan bagi populasi lanjut usianya terutama karena penduduk lanjut usia yang berusia diatas 65 tahun secara umum kurang produktif secara ekonomi dibandingkan dengan penduduk yang termasuk dalam kategori usia produktif (Banister et al, 2010). Semakin meningkatnya populasi lanjut usia dapat menimbulkan dua akibat yaitu semakin melambatnya atau bahkan terjadi stagnansi dalam pertumbuhan ekonomi karena produktifitas yang menurun dan muncul beban yang sangat berat bagi penduduk usia produktif yang jumlahnya semakin mengecil untuk menyokong penduduk usia lanjut sehingga memunculkan tingkat dependensi yang sangat tinggi yang akan menghambat pertumbuhan ekonomi.
jumlah penduduk berusia produktif yang berusia antara 20 sampai dengan 64 tahun setiap tahunnya. Ditambah lagi rendahnya juga tingkat kematian dari populasi yang sudah ada sebelum kebijakan tersebut dijalankan sehingga Cina memiliki populasi usia lanjut atau usia tidak produktif yang tinggi, sedangkan rendahnya tingkat kelahiran sejak kebijakan satu anak dijalankan berarti semakin banyak jumlah penduduk usia non produktif yang harus disokong oleh negara dan penduduk usia produktif yang jumlahnya semakin menipis dalam waktu beberapa tahun kedepan.
Jika tren ini terus berlanjut, maka diperkirakan sekitar komposisi demografi penduduk berusia diatas 60 tahun di Cina akan mencapai 30% dari total populasi Cina pada tahun 2050 (Banister et al, 2010). Hal ini menjadi permasalahan ketika Cina berusaha untuk bangkit sebagai sebuah kekuatan ekonomi baru karena tenaga kerja menjadi aset yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Tanpa adanya tenaga kerja yang memadai, maka pertumbuhan ekonomi suatu negara akan melambat dan justru dapat mengalami kemunduran. Karena itu jumlah penduduk usia produktif sangatlah penting bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara termasuk Cina. Meskipun begitu bukan berarti bahwa hal ini bisa menghentikan upaya Cina untuk bangkit sebagai kekuatan ekonomi baru karena bahkan sejak diberlakukannya kebijakan satu anak, tingkat pertumbuhan penduduk di Cina masih tetap tinggi karena memiliki basis jumlah penduduk awal yang sudah kuat.
1. Cina
Pada awal berdirinya Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, pemerintah Cina sangat mendukung pertumbuhan penduduknya karena didasari oleh kepercayaan bahwa jumlah penduduk yang tinggi akan memperkuat negara. Karena itu Cina memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi sejak tahun 1949 sampai dengan 1976 dimana populasi Cina saat itu mencapai 940 juta jiwa. Pada saat kebijakan satu anak mulai dijalankan pada tahun 1979, Cina sudah terlanjur memiliki basis jumlah penduduk yang besar karena itu meskipun tingkat persentase pertumbuhan penduduk di Cina berkurang namun jumlahnya masih terus mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Hal ini sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Cina yang meningkat secara positif dimulai pada tahun 1990 dan akhirnya mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2005 melonjak lebih tinggi lagi pada tahun 2010 (www.tradingeconomics.com).
Tabel 1.1 Peningkatan Gross Domestic Product Cina Periode 1989 - 2014
Tabel 1.2 Piramida Penduduk Cina 1990 - 2010
Pada tahun 2000, tren demografi penduduk usia produktif masih mengalami peningkatan dengan total 59,3 % dari jumlah populasi saat itu. Komposisi demografi penduduk usia produktif Cina pada tahun 2000 adalah 7,5 % pada kategori usia 20 sampai dengan 24 tahun, 9,4 % pada kategori usia 25 sampai dengan 29 tahun, 9,7% pada kategori usia 30 sampai dengan 34 tahun, 8,2 % pada kategori usia 35 sampai dengan 39 tahun, 6,5 % pada kategori usia 40 sampai dengan 44 tahun, 6,7 % pada kategori usia 45 sampai dengan 49 tahun, 4,7 % pada kategori usia 50 sampai dengan 54 tahun, 3,5 % pada kategori usia 55 sampai dengan 60 tahun, dan 3,1 % pada kategori usia 60 sampai dengan 64 tahun. Pada tahun 2005 dan 2010 populasi penduduk usia produktif Cina juga terus mengalami peningkatan dengan jumlah mencapai 61,7 % dari total populasi Cina pada tahun 2005 dan 65,7 % pada tahun 2010. Komposisi demografi penduduk usia produktif Cina pada tahun 2005 terdiri dari 8 % pada kategori usia 20 sampai dengan 24 tahun, 7,2 % pada kategori usia 25 sampai dengan 29 tahun, 9 % pada kategori usia 30 sampai dengan 34 tahun, 9,3 % pada kategori usia 35 sampai dengan 39 tahun, 7,8 % pada kategori usia 40 sampai dengan 44 tahun, 6,2 % pada kategori usia 45 sampai dengan 49 tahun, 6,3 % pada kategori usia 50 sampai dengan 54 tahun, 4,4 % pada kategori usia 55 sampai dengan 59 tahun, 3,3 % pada kategori usia 60 sampai dengan 64 tahun.
ekonomi Cina dimana jumlah penduduk usia produktif yang tinggi ditambah dengan tingkat pengangguran yang rendah berarti Cina memiliki tenaga kerja produktif dalam jumlah tinggi yang kemudian dapat merangasang perekonomian agar dapat bertumbuh dan hal itu dapat dilihat dari peningkatan Gross Domestic Product Cina yang terus meningkat. Selain itu dengan adanya suplai tenaga kerja dalam jumlah yang tinggi maka Cina memiliki competitive edge dalam division of labor yaitu tenaga kerja yang murah karena suplainya yang banyak sehingga juga dapat menarik banyak investor asing untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Cina terutama setelah Cina melakukan liberalisasi ekonomi dan membuka pasar domestiknya kepada kapital asing.
2. Indonesia
Tabel 2.1 Peningkatan Gross Domestic Product Indonesia Periode 1989 – 2014
Tabel 2.2 Piramida Penduduk Indonesia Periode 1990 – 2010
Dari grafik piramida penduduk diatas dapat dilihat bahwa tren demografi penduduk usia produktif di Indonesia mirip dengan Cina dimana secara progresif sejak tahun 1990 jumlah penduduk usia produktif semakin meningkat. Terlihat pada tahun 1990 jumlah penduduk usia produktif Indonesia berjumlah sebanyak 48,8 % dari total populasi Indonesia saat itu dan terus mengalami peningkatan dalam periode 20 tahun selanjutnya. Pada tahun 1995, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia mencapai 51,4 % dari total populasi Indonesia, 53,3 % pada tahun 2000, 55,6 % pada tahun 2005, dan 56,5 % pada tahun 2010. Komposisi demografi penduduk usia produktif Indonesia pada tahun 1990 terdiri dari 9,9% pada kategori usia 20 sampai dengan 24 tahun, 8,7 % pada kategori usia 25 sampai dengan 29 tahun, 7,3 % pada kategori usia 30 sampai dengan 34 tahun, 5,6 % pada kategori usia 35 sampai dengan 39 tahun, 4,3 % pada kategori usia 40 sampai dengan 44 tahun, 4,0 % pada kategori usia 45 sampai dengan 49 tahun, 3,7 % pada kategori usia 50 sampai dengan 54 tahun, 3 % pada kategori usia 55 sampai dengan 59 tahun dan 2,3 % pada kategori usia 60 sampai dengan 64 tahun (United Nations, 2012).
kategori usia 60 sampai dengan 64 tahun. Pada tahun 2000, komposisi demografi usia penduduk Indonesia terdiri dari 9,9 % pada kategori usia 20 sampai dengan 24 tahun, 9,1 % pada kategori usia 25 sampai dengan 29 tahun, 8,2 % pada kategori usia 30 sampai dengan 34 tahun, 7,2 % pada kategori usia 35 sampai dengan 39 tahun, 6 % pada kategori usia 40 sampai dengan 44 tahun, 4,6 % pada kategori usia 45 sampai dengan 49 tahun, 3,6 % pada kategori usia 50 sampai dengan 54 tahun, 3,1 % pada kategori usia 55 sampai 59 tahun dan 2,5 % pada kategori usia 60 sampai dengan 64 tahun.
sampai dengan 64 tahun.
Tabel 2.3 Grafik Tingkat Pengangguran Indonesia Periode 1990 - 2012
Jika dibandingkan dengan tingkat pengangguran Indonesia yang ada pada tabel 2.3, maka dapat dilihat dan dibandingkan dengan grafik peningkatan GDP Indonesia pada tabel 2.1, setiap kali tingkat pengangguran mengalami penurunan, maka GDP Indonesia meningkat. Hal ini dikarenakan saat tingkat pengangguran menurun maka jumlah penduduk usia produktif yang bekerja semakin meningkat dan berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia seperti dapat dilihat melalui indikator GDP Indonesia. Hal yang sama juga dapat dilihat pada kasus Cina seperti yang telah dijelaskan diatas.
Kesimpulan
karena sebuah perekonomian harus didasari adanya jumlah tenaga kerja domestik yang memadai karena sebuah negara yang memiliki dependency ratio yang tinggi akan membebani negara karena terlalu banyaknya penduduk yang tidak produktif sehingga negara harus menyokong mereka dan mempersulit pertumbuhan ekonomi.
Refrensi
Anonymous. 2013. "Total population, CBR, CDR, NIR and TFR of China (1949–2000)". China Daily. Retrieved 2015-01-11.
Banister, Judith; Bloom, David. E; Rosenberg, Larry. 2010. “Population Aging and Economic Growth in China”. PGDA Working Paper no. 53
United Nations. 2012. “World Population Prospects: The 2012 Revision”. Department of Economic and Social Affairs, Population Division.
www.tradingeconomics.com
www.indexmundi.com