• Tidak ada hasil yang ditemukan

peran kementrian luar negeri dalam upaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "peran kementrian luar negeri dalam upaya"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Judul:

PERAN KEMENTRIAN LUAR NEGERI DALAM UPAYA PERLINDUNGAN DAN PENANGANAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI. ( studi di Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia)

1.2 Latar Belakang

Dewasa ini telah terjadi pergeseran konsep mengenai keamanan

terhadap manusia (human security). Pada masa lalu saat perang masih

berkecamuk, ancaman terhadap keamanan manusia selalu diartikan dengan

ancaman dari luar negara, sehingga keamanan manusia difokuskan pada

pengamanan negara seperti pengamanan masalah perbatasan, uji coba senjata

dan peralatan militer dan pencegahan perang. Saat ini keamanan manusia

lebih mengarah kepada warga negera atau individu dibandingkan terhadap

negara. Isu-isu seperti kemiskinan, penghormatan terhadap Hak Asasi

Manusia (HAM) termasuk didalamnya perlindungan terhadap warga negara

mendapatkan perhatian yang lebih besar.

Warga negara merupakan salah satu unsur hakiki dan unsur pokok

suatu negara. Status kewarganegaraan menimbulkan hubungan timbal balik

(2)

antara warga negara dan negaranya. Setiap warga negara mempunyai hak dan

kewajiban terhadap negaranya. Sebaliknya negara mempunyai kewajiban

memberikan perlindungan terhadap warganya.1 Dalam undang-undang nomor

12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan republik Indonesia terdapat asas

perlindungan maksimum. Asas perlindungan maksimum adalah asas yang

menentukan bahwa pemerintah wajib memberikan perlindungan penuh

terhadap setiap warga Negara Indonesia dalam keadaan apapun baik di dalam

maupun di luar negeri.2

Berdasarkan asas perlindungan maksimum negara wajib memberikan

perlindungan terhadap warga negara. Namun, pada kenyataannya seringkali

terjadi negara tidak mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan

memberikan perlindungan sebagaimana mestinya, bahkan negara yang

bersangkutan justru melakukan tindakan penindasan terhadap warga

negaranya. Ketika negara yang bersangkutan tidak mau (unwilling) atau tidak

mampu (unable) memberikan perlindungan terhadap warga negaranya

seringkali terjadi seseorang mengalami penindasan yang serius atas hak-hak

dasarnya.3

Di lain pihak, negara juga mempunyai kewajiban untuk melindungi

warga negaranya yang tinggal (berada) di luar negeri. Hal tersebut sesuai

dengan prinsip kewarganegaraan pasif yang menetapkan bahwa suatu negara

mempunyai yurisdiksi atas orang yang melakukan pelanggaran hukum di

wilayah negara lain, yang akibat hukumnya menimpa warga negaranya. Oleh

1 Kansil, Hukum Tata Negara Republik Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta, 2008, hlm. 206. 2 Ibid,. Hlm. 207.

(3)

karena itu, jika negara tempat terjadinya pelanggaran tidak mampu dan tidak

mau menghukum pelaku pelanggaran, maka negara yang warga negaranya

dirugikan berwenang untuk menghukum. Tanggung jawab dan kewajiban

suatu negara untuk melindungi warga negaranya yang berada di luar negeri

diemban oleh fungsi diplomatik dan konsuler suatu negara.

Fungsi diplomatik dalam melindungi warga negara suatu negara

terdapat dalam fungsi Perlindungan (protection). Gerhard Von Glahn

memberikan batasan mengenai istilah proteksi “the diplomatic has a duty to

look after the interest person and property of citizens of his own state in the

recieving state. He must be ready to assist them, they get into trouble abroad,

may have to take charge of their bodies and effect if they happen to die on a

trip and in general act as a trouble shooter for his fellow nationals in the

recieving state”. Ternyata, apa yang dikemukakan oleh Von Glahn tersebut

sebenarnya telah ditentukan oleh konvensi wiena 1961. Dalam konvensi

tersebut ditegaskan bahwa perwakilan diplomatik berfungsi melindungi

kepentingan-kepentingan negara pengirim serta warga negaranya di dalam

wilayah di mana ia di diakreditasikan dalam batas-batas yang diperkenankan

oleh hukum internasional.4

Fungsi Konsuler di atur dalam Pasal 5 Konvensi Wina 1963 tentang

Hubungan Konsuler. Dalam salah satu butir Pasal 5 Konvensi Wina 1963

tersebut dinyatakan bahwa, “Consular functioning consit in: protecting in the

receiving State the interests of sending state and of its nationals, both

individuals and bodies corporate, within the limits permitted by international

(4)

law”. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa sesungguhnya

perwakilan konsuler negara pengirim di negara penerima berkewajiban untuk

melindungi warga negaranya dan kepentingan mereka.

Berbicara mengenai status hukum, status hukum seseorang yang

mendiami suatu negara disebut dengan warga negara. Status warga negara

perlu dipergunakan untuk keperluan serta melindungi setiap individu secara

hukum. Instrument internasional sebatas mengantisipasi relasi warga negara

dengan warga negara lain atau negara dengan warga negara lain. Warga

negara merupakan warga dari suatu negara. Seseorang disebut warga negara

suatu negara bukan ditentukan oleh hukum positif dari masing-masing

negara. Misalnya yang disebut sebagai warga negara Indonesia tentunya akan

diatur berdasarakan hukum positif Indonesia. Pada akhirnya warga negara

menjadi penting dalam suatu negara karena ia merupakan salah satu unsur inti

dari negara. Pada sisi lain, status warga negara menimbulkan hubungan

timbal balik antara negara dengan warga negaranya.5

Warga negara Indonesia di luar negeri pada tahun 2013 diperkirakan

mencapai 5.313.000 (lima juta tiga ratus tiga belas ribu) jiwa dari enam belas

negara yang memiliki kawasan populasi yang signifikan6. Di negara Malaysia

memiliki jimlah terbanyak sekitar 2.500.000 (dua juta lima ratus ribu) jiwa

warga negara Indonesia yang bekerja maupun belajar.7 Apabila seorang warga

negara Indonesia mengalami suatu masalah di negara penerima maka

5 Penjelasan umum undang-undang nomor 12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan Republik Indonesia.

6 Orang Indonesia Perantauan (online),

http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Indonesia_perantauan. (30 april 2014).

(5)

perwakilan konsuler negara Indonesia di negara penerima harus memberikan

bantuan dan pertolongan. Bantuan dan pertolongan dapat berupa sosialisasi,

perlindungan hukum dan lain sebagainya.

Warga negara Indonesia di luar negeri memiliki berbagai kepentingan

yang berbeda yang menimbulkan berbagai permasalahan berbeda terutama

disebabkan oleh Kurangnya pengetahuan akan hukum internasional dan

hukum yang berada di berbagai negara di luar negeri. Hal tersebut dapat

menimbulkan berbagai masalah terhadap warga negara indonesia di luar

negeri. Permasalahan yang kerap terjadi bagi warga negara Indonesia yang

berada di luar negeri adalah kasus perdata, atau pidana dan administrasi

negara.

Permasalahan warga negara Indonesia di luar negeri kerap terjadi di

berbagai negara. Dalam kurun waktu Juli 2011 hingga Desember 2012,

sejumlah 328 WNI di luar negeri terancam hukuman mati. Sebanyak 203

orang di antaranya terancam hukuman mati terkait tindak pidana narkoba.8

Sedikitnya 48 warga negara Indonesia (WNI) yang tengah berada di luar

negeri terancam hukuman mati di Arab Saudi dengan berbagai kasus tindak

pidana. Berdasarkan data dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu), jelasnya,

selain didakwa kasus pembunuhan, banyak WNI yang kebanyakan adalah

(TKI) itu didakwa kasus berzina dan menyalahgunaan obat terlarang.9

8 Umi, 2012, 6 Bulan 203 WNI Diancam Mati di Luar Negeri Akibat Narkoba (online),

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/377655-6-bulan--203-wni-diancam-mati-di-luar-negeri-akibat-narkoba, (8 mei 2014).

9 Ashari, 2014, 48 WNI Terancam Hukuman Mati di Arab Saudi, (online),

(6)

Beberapa tahun terakhir ini masalah perlindungan WNI di Luar negeri

memang mendapat sorotan yang cukup tajam. Betapa tidak, dalam rentang

beberapa tahun tercatat sudah cukup banyak tindakan kesewenang-wenangan

yang menimpa WNI di luar negeri, terutama tenaga kerja Indonesia (TKI).

Pengusiran tenaga kerja asal Indonesia dari Malaysia adalah satu dari

sejumlah kasus lainnya. Tercatat pula sejumlah kasus penganiayaan dan

pelecehan seksual terhadap pekerja Indonesia di negeri orang.10

Pemerintah Indonesia pada tanggal 18 oktober 2004 telah

memberlakukan UU No. 39/2004 tentang penempatan dan perrlindungan

Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. UU No. 39/2004 menjelaskan bahwa

pekerjaan mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan manusia

sehingga setiap orang membutuhkan pekerjaan. Pekerjaan dapat juga

dimaknai sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi

dirinya dan keluarganya. Oleh karena itu hak atas pekerjaan merupakan hak

asasi yang melekat pada diri orang yang wajib dijunjung tinggi dan

dihormati.11

Dari tahun ke tahun jumlah TKI di luar negeri semakin meningkat.

Besarnya animo tenaga kerja yang akan bekerja ke luar negeri dan besarnya

jumlah TKI yang sedang bekerja di luar negeri di satu segi mempunyai sisi

positif, yaitu mengatasi sebagian masalah pengangguran di dalam negeri

namun mempunyai pula sisi negatif berupa risiko kemungkinan terjadinya

perlakuan yang tidak manusiawi terhadap TKI.

10 Hadi Setya, memahami Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Harvindo, jakarta, 2013, hlm 561.

(7)

Risiko tersebut dapat dialami oleh TKI baik selama proses

keberangkatan, selama bekerja di luar negeri maupun setelah pulang ke

Indonesia. Dengan demikian diperlukan pengaturan agar risiko perlakuan

yang tidak manusiawi terhadap TKI dapat dihindari atau minimal dikurangi.

Pada hakikatnya ketentuan hukum yang dibutuhkan dalam masalah ini

adalah ketentuan yang mampu mengatur pemberian pelayanan penempatan

bagi tenaga kerja secara baik. Pemberian pelayanan penempatan secara baik

didalamnya mengandung prinsip murah, cepat, tidak berbelit-belit dan aman.

Pengaturan yang bertentangan dengan prinsip tersebut memicu terjadinya

penempatan tenaga kerja ilegal yang tentunya berdampak kepada minimnya

perlindungan bagi tenaga kerja yang bersangkutan.12

Selama ini, secara yuridis peraturan perundang-undangan yang

menjadi dasar penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri adalah

Ordonansi tentang Pengarahan Orang Indonesia Untuk Melakukan Pekerjaan

Di Luar Indonesia (Staatsblad Tahun 1887 Nomor 8) dan keputusan menteri

serta peraturan pelaksanaannya. Ketentuan dalam ordonansi sangat sederhana

sehingga secara praktis tidak memenuhi kebutuhan yang berkembang.

Kelemahan ordonansi itu dan tidak adannya undang-undang yang mengatur

perlindungan dan penempatan TKI di luar negeri selama ini diatasi melalui

pengaturan dalam Keputusan Menteri serta peraturan pelaksanaannya.13

Dikaitkan dengan praktik penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia

masalah penempatan dan perlindungan TKI ke luar negeri, menyangkut juga

(8)

hubungan antar negara, maka sudah sewajarnya apabila kewenangan

penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri merupakan kewenangan

pemerintah namun pemerintah tidak dapat bertindak sendiri, karena itu perlu

melibatkan pemerintah provinsi maupun kabupaten atau kota serta intitusi

swasta. Di lain pihak karena masalah penempatan dan perlindungan tenaga

kerja Indonesia langsung berhubungan dengan masalah nyawa dan

kehormatan yang sangat azasi bagi manusia, maka institusi swasta yang

terkait tentunya haruslah mereka yang mampu, baik dari aspek komitmen,

profesionalisme maupun secara ekonomis, dapat menjamin hak-hak azasi

warga negara yang bekerja di luar negeri tetap terlindungi.14

Dengan mempertimbangkan kondisi yang ada serta peraturan

perundang-undangan, termasuk didalamnya Undang-undang Nomor 1 Tahun

1982 tentang Pengesahan Konvensi Wina 1961 mengenai Hubungan

Konsuler, Undang-undang Nomor 2 Tahun 1982 tentang Pengesahan

Konvensi mengenai Misi Khusus (Special Missions) Tahun 1969, dan

Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang hubungan Luar Negeri.

Undang-undang tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja

Indonesia di Luar Negeri dirumuskan dengan semangat untuk menempatkan

TKI pada jabatan yang tepat sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya,

dengan tetap melindungi hak-hak TKI. 15

Selain peran wakil diplomatik dan konsuler Indonesia yang berada

di luar negeri, Kemeterian Luar Negeri RI sebagai pemerintah merupakan

institusi terdepan dalam menangani berbagai permasalahan tenaga kerja 14 Ibid., hlm. 268-269

(9)

Indonesia di luar negeri. Kewajiban kementrian luar negeri dalam menangani

dan melindungi TKI sangat dibutuhkan untuk kesejahteraan dan keamanan

TKI diluar negeri.

1.3 Rumusan Masalah

Dalam pengamatan ini ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan oleh

penulis yaitu :

a. Apa saja perlindungan dan penanganan TKI diluar negeri yang telah

dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia ?

b. Bagaimana mekanisme dalam memberikan perlindungan dan

penanganan TKI di luar negeri ?

c. Apa hambatan yang dialami oleh Kementerian Luar Negeri RI dalam

penanganan tersebut ?

1.4 Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup dari kegiatan KKL ini berfungsi untuk membatasi

kegiatan dalam Kuliah Kerja Lapangan yang akan dilaksanakan agar tujuan

dari penulisan ini dapat tercapai dengan maksimal. Dalam kegiatan

pengamatan ini penulis akan mengidentifikasi beberapa hal, antara lain:

a. Nama kantor lembaga tempat KKL yaitu Kementerian Luar Negeri RI .

b. Fungsi dan tugas Kementerian Luar Negeri RI.

c. Mekanisme bekerjanya Kementerian Luar Negeri RI pada saat ini.

d. Kendala yang dihadapi dalam bekerjanya Kementerian Luar Negeri RI.

e. Upaya yang sudah dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri RI.

f. Rekomendasi yang diberikan oleh mahasiswa peserta KKL untuk

perbaikan dan/atau alternatif pemecahan problematik yang dihadapi

(10)

1.5 Tujuan Kegiatan

a. Untuk mengidentifikasi fungsi dan tugas Kementerian Luar Negeri RI

dalam hal yang berkaitan dengan perlindungan dan penanganan tenaga

kerja Indonesia yang berada di luar negeri.

b. Untuk mengetahui kordinasi Indonesia dengan negara penerima TKI

dalam penanganan dan perlindungan TKI di luar negeri dan peran

Kementerian Luar Negeri RI dalam hal tersebut.

c. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi Kementerian Luar

Negeri RI dalam melaksanakan kinerjanya, terutama yang berkaitan

dengan proses perlindungan dan penangan tenaga kerja Indonesia di luar

hegeri.

d. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan Kementerian Luar Negeri RI

dalam meningkatkan perlindungan dan penanganan tenaga kerja Indonesia

di luar negeri mengingat sering terjadinya kasus terhadap tenaga kerja

Indonesia di luar negeri.

1.6 Manfaat Kegiatan

a. Manfaat Teoritis

Pengamatan ini diharapkan berguna untuk pengembangan teoritis

di bidang Hukum terutama Hukum Internasional yang berkaitan dengan

perlindungan dan penanganan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Selain

itu, pengamatan ini juga diharapkan dapat memberikan solusi untuk

(11)

sehingga dapat mengurangi permasalahan tersebut. Dari segi hukum,

pengamatan ini juga diharapkan membawa manfaat terutama dalam hal

diplomatik dan konsuler serta perjanjian internasional yang berkaitan erat

dengan perjanjian antar negara dalam hal mengatasi masalah warga

negaranya di luar negeri.

b. Kegunaan Praktis

a) Bagi Pemerintah

Pengamatan ini diharapkan dapat berguna untuk dijadikan

masukan bagi Pemerintah terutama para stake holder yang menagani

masalah TKI yang berada di luar negeri, untuk dijadikan bahan

dalam merumuskan prosedur perlindungan dan penanganan tenaga

kerja Indonesia yang ada di luar negeri dan menemukan sistem

penanganan yang lebih jelas, tertulis, dan juga mempunyai kekuatan

hukum.

b) Bagi masyarakat

Pengamatan ini diharapkan dapat berguna untuk masyarakat

dalam hal perlindungan dan penanganan TKI yang berada di luar

negeri terutama dalam hal memahami prosedur-prosedur,

penanganan, undang-undang yang mengatur, dan para stake holder

yang berwenang dalam mengatasi masalah TKI di luar negeri.

1.7 Metode Kegiatan

(12)

Mahasiswa peserta KKL terlibat langsung dalam proses kegiatan

yang dilakukan oleh lembaga tempat KKL.

b. Metode wawancara

Mahasiswa peserta KKL mencari informasi yang terkait dengan

materi KKL melalui wawancara terhadap informan kunci (sumber

informasi) yang terdapat dalam lembaga tempat KKL.

c. Studi dokumentasi

Mahasiswa peserta KKL menelusuri pustaka dan peraturan

perundag-undangan terkait

d. Metode observasi

Mahasiswa peserta KKL melakukan pengamatan terhadap kegiatan

dan/atau objek yang dituju.

1.8 Tahapan Kegiatan

a. Tahap persiapan

b. Tahap pelaksanaan

c. Tahap evaluasi

BAB II

(13)

2.1 Pengertian Tenaga Kerja Indonesia

Ada beberapa pendapat mengenai pengertian Tenaga Kerja Indonesia

(TKI), Menurut Pasal 1 bagian (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004

tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar

Negeri, TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat

untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu

tertentu dengan menerima upah.16

Sedangkan menurut buku pedoman pengawasam perusahaan jasa

tenaga kerja Indonesia adalah warga negara Indonesia baik laki-laki maupun

perempuan yang melakukan kegiatan di bidang perekonomian, sosial,

keilmuan, kesenian, dan olahraga profesional serta mengikuti pelatihan kerja

di luar negeri baik di darat, laut maupun udara dalam jangka waktu

tertentuberdasarkan perjanjian kerja yaitu suatu perjanjian antara pekerja dan

pengusaha secara lisan dan atau tertulis baik untuk waktu tertentu maupun

untuk waktu tidak tertentu yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan

kewajiban para pihak.

Dengan adanya perjanjian kerja ini TKI akan lebih terlindungi apabila

nantinya dikemudian hari pihak majikan atau pihak perusahaan tmpat TKI

bekerja “wanprestasi”maka TKI dapat menentukan sesuai perjanjian kerja

yang telah dibuat sebelumnya.

(14)

Sementara itu dalam Pasal 1 Kep. Manakertran RI No:

Kep104A/Men/2002 tentang penempatan TKI keluar negeri disebutkan

bahwa TKI adalah baik laki-laki maupun perempuan yang bekerja di luar

negeri dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja melalui

prosedur penempatan TKI. Prosedur penempatan TKI ini harus benar-benar

diperhatikan oleh calon TKI yang ingin bekerja ke luar negeri tetapi tidak

melalui prosedur yang benar dan sah maka TKI tersebut nantinya akan

menghadapi masalah di negara tempat ia bekerja karena TKI tersebut

dikatakan TKI ilegal karena datang ke negara tujuan tidak melalui prosedur

penempatan TKI yang benar.17

2.2 Pengertian Tenaga Kerja Migran

Dalam ranah hukum internasional ada beberapa definisi tentang

Tenaga Kerja Migran. Menurut Konvensi ILO No.97 tentang Migrasi Demi

Pekerjaan ialah “a person who migrates from one country to another with a

view to being employed otherwise than his own account and includes any

person regularly admitted as a migrant for employment”.

Departemen Perburuhan Amerika Serikat mendefinisikan Pekerja

Migran sebagai “workers who occasionally or habitually move, with or

without their families, to seek or engage in seasonal or temporary

employment, and who do not have the status of residents in the localities of

expected job opportunity or employment”.

(15)

Konvensi internasional tentang perlindungan pekerja migran dan

anggota keluarganya mengarikan pekerja migran (migrant worker) adalah

orang yang akan, sedang, atau sudah pernah terlibat dalam suatu kegiatan

yang menghasilkan upah bagi dirinya di suatu negara, dalam keadaan dimana

ia tidak menjadi warga negara di negara tersebut.18

Dalam konvensi internasional, istilah migrant worker dikenal juga

dengan istilah migrant for employment yang artinya orang yang bermigrasi

dari suatu negara ke negara lain untuk mendapatkan pekerjaan mencakup juga

orang-orang yang secara utuh diterima sebagai orang yang bermigrasi untuk

mendapatkan pekerjaan.19

Berdasarkan beberapa pengertian TKI tersebut, maka dapat

dikemukakan bahwa TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang

memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam jangka waktu tertentu

berdasarkan perjanjian kerja melalui prosedur penempatan TKI dengan

menerima upah.

2.3 Pengertian calon TKI

Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004

tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar

Negeri, Calon Tenaga Kerja Indonesia adalah setiap warga negara Indonesia

yang memenuhi syarat sebagi pencari kerja yang akan bekerja di luar negeri

18 Article 2 The International Convention on The Protection of All Migrant Workers and Members of Their Families 1990

(16)

dan terdaftar di instansi pemerintah kabupaten/kota yang bertanggung jawab

di bidang ketenagakerjaan.

2.4 Pengertian perlindungan TKI

Berdasarkan pasal 1 ayat (4) Undang-undang nomor 39 tahun2004

tentang penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia adalah segala

upaya untuk melindungi kepentingan calon TKI/TKI dalam undangan, baik

sebelum selama maupun sesudah bekerja. Dalam pasal 77 ayat (2)

perlindungan TKI dilaksanakan mulai dari pra penempatan, masa

penempatan, sampai dengan purna penempatan20

2.5 Pengertian Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Perutusan Tetap

Republik Indonesia merupakan perwakilan diplomatik adalah yang

melakukan kegiatan diplomatik di seluruh wilayah Negara Penerima dan/atau

pada Organisasi Internasional untuk mewakili dan memperjuangkan

kepentingan Bangsa, Negara dan Pemerintah Republik Indonesia. Dipimpin

oleh seorang Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, dan Wakil Tetap

Republik Indonesia, diangkat oleh Presiden untuk mewakili dan

memperjuangkan kepentingan Bangsa, Negara, dan Pemerintah Republik

Indonesia serta menjadi wakil pribadi Presiden Republik Indonesia di satu

Negara Penerima atau lebih atau pada Organisasi Internasional, bertanggung

jawab kepada Presiden melalui Menteri Luar Negeri.

(17)

2.6 Pengertian Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI)

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan Konsulat Republik

Indonesia adalah Perwakilan Konsuler adalah yang melakukan kegiatan

konsuler di wilayah kerja di dalam wilayah Negara Penerima untuk mewakili

dan memperjuangkan kepentingan Bangsa, Negara, dan Pemerintah Republik

Indonesia, dipimpin oleh Konsul Jenderal dan Konsul yang memimpin

Perwakilan Konsuler adalah Jabatan Negeri yang diisi oleh Pejabat Dinas

Luar Negeri dan/atau Pegawai Negeri lain yang memenuhi syarat, diangkat

oleh Presiden atas usul Menteri Luar Negeri, bertanggung jawab secara

operasional kepada Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh yang

(18)

BAB III HASIL KEGIATAN

3.1 Nama dan Kedudukan Lembaga

Nama lembaga tempat dilaksanakannya kegiatan Kuliah Kerja

Lapangan (KKL), yaitu di direktorat jendral protokol dan konsuler

kementrian luar negeri tepatnya di sub direktorat perlindungan WNI dan BHI.

Berdasarkan Peraturan presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010

TentangKedudukan, Tugas, Dan Fungsi Kementrian Negara Serta Susunan

Organisasi, Tugas, Dan Fungsi Eselon I Kementrian Negara, Direktorat

Jendral Protokol dan Konsuler memiliki tugas merumuskan serta

melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang protokol dan

konsuler.21 Direktorat Jendral Protokol dan Konsuler sendiri terdiri dari

beberapa bagian, yaitu terdiri dari:

a. Direktorat Protokol

b. Direktorat konsuler

c. Direktorat fasilitas diplomatik

d. Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan

Hukum Indonesia (BHI)

Tempat dilaksanakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) oleh penulis

ini bertempat di Direktorat perlindungan WNI dan BHI, pada saat

(19)

berlangsungnya KKL penulis ditempatkan pada sub direktorat II atau subdit 2

(dua) bagian menangani permasalahan WNI di luar negeri.

3.2 Sejarah dan Latar Belakang Lembaga

Pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini dewasa ini telah

memacu semakin intensifnya ineraksi antar negara dan antar negara dan antar

bangsa di dunia. Meningkatnya intensitas interaksi tersebut telah

mempengaruhi pula potensi kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya

Indonesia dengan pihak luar, baik itu dilalkukan oleh Pemerintah, organisasi,

organisasi non-pemerintah, swasta dan perseorangan. Kenyataan ini menuntut

tersedianya suatu perangkat ketentuan untuk mengatur interaksi tersebut

selain ditujukan untuk melindungi kepentingan warga negara dan negara serta

pada gilirannya memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.22

Bangsa Indonesia Menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17

Agustus 1945 dan sejarah menunjukkan adanya reaksi yang begitu hebat

terhadap kemerdekaan yang dinyatakan tersebut. Agar dunia internasional

segera mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, maka dari itu dibentuklah

suatu lembaga khusus yaitu Kementerian Luar Negeri RI pada tanggal 19

Agustus 1945 sebagai organisasi kementerian pertama di Indonesia dan

Ahmad Subarjo ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri yang pertama. Kantor

pertama Kementerian Luar Negeri berlokasi di Jl Cikini Raya No. 80-82

Jakarta yang merupakan rumah pribadi dari Ahmad Subarjo.

(20)

Saat Soetan Sjahrir ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri kedua

maka kantor Kementerian Luar Negeri untuk pertama kali secara resmi

menempati Jl Cilacap No. 4 yang merupakan bekas gedung Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan di zaman penjajahan Belanda dan semasa

pendudukan Jepang. Setelah mengalami perpindahan beberapa kali pada

akhirnya setelah Konferensi Meja Bundar usai dan kedaulatan diserahkan

kepada Republik Indonesia Serikat akhir tahun 1949, pada awal tahun 1950

Kementerian Luar Negeri memperoleh gedung di Jl Taman Pejambon No. 6

yang hingga sekarang menjadi kantor Kementerian Luar Negeri RI yang

besar dan modern.

Dalam sejarah perkembangan Kementerian luar negeri dapat

dijelaskan bahwa:23

a. Tahun 1945-1950

Tugas utama Kemlu melalui diplomasi:

a) Mengusahakan simpati dan dukungan masyarakat internasional,

menggalang solidaritas teman-teman disegala bidang dan dengan

berbagai macam upaya memperoleh dukungan dan pengakuan atas

kemerdekaan Indonesia

b) Melakukan perundingan dan membuat persetujuan :

1) Persetujuan Linggarjati – pengakuan atas RI meliputi Jawa dan

Madura

(21)

2) 1948 Perjanjian Renville – pengakuan atas RI meliputi Jawa

dan Sumatera

3) 1949 Perjanjian KMB – Indonesia dalam bentuk negara

Federal

4) 1950 Diplomasi Indonesia berhasil mengembalikan keutuhan

wilayah RI dengan membatalkan Perjanjian Konferensi Meja

Bundar (KMB)

Masa 5 tahun pertama kemerdekaan Indonesia merupakan masa yang

menentukan dalam perjuangan penegakan kemerdekaan yang merupakan

bagian sejarah yang menentukan Karakter atau Watak politik luar negeri

Indonesia. Semangat Diplomasi Perjuangan yang memungkinkan Indonesia

pada akhirnya meraih dukungan luas masyarakat internasional di PBB pada

tahun 1950.

b. Tahun 1966-1998

Tugas diplomasi Kemlu yang menonjol antara lain :

a) Pengakuan Irian Barat

b) Pengakuan terhadap Indonesia sebagai negara kepulauan dalam

perjuangan hukum laut - UNCLOS (United Nation Convention on

Law of the Sea)

c) Meningkatkan Kerjasama ASEAN

d) Mencari Pengakuan internasional thd Timtim

e) Ketua Gerakan Non Blok untuk memperjuangkan kepentingan

(22)

f) Ketua APEC dan G-15

g) Meningkatkan kerjasama pembangunan

c. Tahun 1998 – Sekarang

Tugas utama Kemlu diarahkan untuk :

a) Memagari potensi disintegrasi bangsa

b) Upaya membantu pemulihan ekonomi

c) Upaya peningkatan citra Indonesia

d) Meningkatkan kualitas pelayanan dan perlindungan WNI

3.3 Visi dan Misi Lembaga

a. Visi

Visi Kementerian Luar Negeri republik Indonesia adalah Visi

Pembangunan Nasional. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 5

Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

Tahun 2010-2014, Pemerintah telah menetapkan “Visi Indonesia 2014”,

yaitu:24

“Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan”

dengan penjelasan sebagai berikut:

(23)

a) Kesejahteraan Rakyat: Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat, melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada

keunggulan daya saing, kekayaan sumber daya alam, sumber daya

manusia dan budaya bangsa. Tujuan penting ini dikelola melalui

kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

b) Demokrasi : Terwujudnya masyarakat, bangsa dan negara yang demokratis, berbudaya, bermartabat dan menjunjung

tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia.

c) Keadilan : Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata, yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara

aktif, yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.

Dimana selanjutnya, RPJMN 2010-2014 ini selanjutnya menjadi

pedoman bagi kementerian/lembaga dalam menyusun Rencana Strategis

kementerian/lembaga (Renstra-KL) dan menjadi bahan pertimbangan bagi

pemerintah daerah dalam menyusun/menyesuaikan rencana pembangunan

daerahnya masing-masing dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan

nasional.

Setelah mengadaptasi dari Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor

5 tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

Tahun 2010-2014, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

mempunyai Visi sebagai berikut:25

“Memajukan Kepentingan Nasional Melalui Diplomasi Total”

(24)

a) Memajukan : adalah mencapai atau membawa kepada suatu keadaan yang lebih baik.

b) Kepentingan Nasional : merupakan amanat yang telah tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan pada periode

2010-2014 difokuskan pada pencapaian Indonesia yang sejahtera,

demokratis dan berkeadilan.

c) Diplomasi Total : adalah instrumen dan cara yang digunakan dalam diplomasi dengan melibatkan seluruh

komponen stakeholder dan memanfaatkan seluruh lini kekuatan

(multi-track diplomacy).

Pernyataan visi di atas menggambarkan komitmen yang akan

diperjuangkan dan diwujudkan oleh Kementerian Luar Negeri, terutama

melalui pelaksanaan tugas dan fungsinya (core competency), sebagai

institusi penyelenggara hubungan dan pelaksana politik luar negeri.

Pernyataan visi Kementerian Luar Negeri tersebut sejalan dengan visi

nasional seperti tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Nasional (RPJMN) 2010-2014 yang menyiratkan pentingnya

penyelenggaraan hubungan dan pelaksanaan politik yang dikelola dan

dilaksanakan melalui diplomasi total sebagai strategi untuk mewujudkan

visi nasional, yaitu ‘Indonesia yang Sejahtera, Demokratis dan

Berkeadilan’.

b. Misi

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia juga

(25)

adalah misi Pembangunan Nasional. Misi pembangunan 2010-2014 adalah

rumusan dari usaha-usaha yang diperlukan untuk mencapai Visi Indonesia

2014, yaitu terwujudnya Indonesia Sejahtera, Demokratis dan Berkeadilan,

namun tidak dapat terlepas dari kondisi dan tantangan lingkungan global

dan domestik pada kurun waktu 2010-2014 yang mempengaruhinya. Misi

pemerintah dalam periode 2010-2014 diarahkan untuk mewujudkan

Indonesia yang lebih sejahtera, aman dan damai, serta meletakkan fondasi

yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis.

Usaha-usaha Perwujudan Visi Indonesia 2014 akan dijabarkan

dalam 3 (tiga) misi pemerintah tahun 2010-2014 sebagai berikut:26 a) Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera b) Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi

c) Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang

3.4 Tugas dan Fungsi Lembaga

a. Tugas

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 37 Tahun 1999 tentang

Hubungan Luar Negeri dijelaskan mengenai Hubungan Luar Negeri.

Hubungan Luar Negeri adalah setiap kegiatan yang menyangkut aspek

regional dan internasional yang dilakukan oleh Pemerintah di tingkat pusat

dan daerah, atau lembaga-lembaganya, lembaga negara, badan usaha,

organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat,

(26)

atau warga negara Indonesia, dimana kemudian Kementerian Luar Negeri

mempunyai tugas sebagai berikut:27

a) Penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar

negeri, termasuk sarana dan mekanisme pelaksanaannya, koordinasi

di pusat dan perwakilan, wewenang dan pelimpahan wewenang

dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan

politik luar negeri.

b) Ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok mengenai pembuatan dan

pengesahan perjanjian internasional, yang pengaturannya secara

lebih rinci, termasuk kriteria perjanjian internasional yang

pengesahannya memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat,

ditetapkan dengan undang-undang tersendiri.

c) Perlindungan kepada warga negara Indonesia, termasuk pemberian

bantuan dan penyuluhan hukum, serta pelayanan konsuler.

d) Aparatur hubungan luar negeri.

Hal yang sama juga ditegaskan dalam Pasal 31 Peraturan Presiden

(Perpres) RI Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,

Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik

Indonesia, dan Pasal 7 Undang-Undang (UU) RI Nomor 39 Tahun 2008

tentang Kementerian Negara yang menjelaskan bahwa Kementerian Luar

Negeri mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan

sebagian urusan pemerintahan di bidang politik dan hubungan luar negeri..

(27)

Lebih spesifik lagi mengenai Direktorat perlindungan WNI dan BHI

yang merupakan bagian dari Direktorat Jendral Protokol dan Konsuler,

memiliki tugas yang diatur dalam Peraturan Menteri Luar Negeri RI Nomor

01/A/ OT/I/2006/01 Tahun 2006, Direktorat Perlindungan Warga Negara

Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI) bertugas

memberikan perlindungan WNI di dalam dan luar negeri, badan hukum

Indonesia di luar negeri, pengawasan kekonsuleran, serta bantuan sosial dan

repatriasi WNI.

Berkaitan dengan tugas tersebut Direktorat PWNI dan BHI

menyelenggarakan fungsi :

a) penyiapan perumusan kebijakan dan standarisasi ;

b) koordinasi dan pelaksanaan kebijakan dan standarisasi teknis ; c) perundingan dalam kaitan perlindungan ;

d) penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria dan prosedur di bidang

perlindungan ;

e) pemberian bimbingan teknis, informasi, evaluasi dan pelaporan di

bidang perlindungan ; dan pelaksanaan administrasi Direktorat. f)

Direktorat PWNI dan BHI terdiri dari :

a) Subdirektorat PWNI dan BHI di luar negeri, b) Subdirektorat PWNI di Indonesia,

c) Subdirektorat Pengawasan Kekonsuleran,

d) Subdirektorat Bantuan Sosial dan Repatriasi WNI, dan e) Subbagian Tata Usaha.

Subdirektorat PWNI dan BHI di luar negeri bertugas antara lain di

(28)

a) bantuan hukum di bidang perdata dan pidana kepada WNI dan BHI di

luar negeri;

b) bantuan hukum di bidang ketatanegaraan pada WNI di luar negeri yang

berkaitan dengan permasalahan job order, perjanjian kerja, hak asuransi,

gaji, syarat dan kondisi kerja ; c) keimigrasian dan kewarganegaraan ; d) kependudukan;

e) fasilitasi komunikasi;

f) penanganan WNI/ TKI bermasalah yang terlantar ; g) permasalahan perlindungan nelayan dan pelaut WNI ;

h) penyampaian dokumen ke luar/ dalam negeri berkaitan dengan

perceraian, hak perwalian anak, wanprestasi, keimigrasian dan

kewarganegaraan ;

i) proses adopsi anak WNI oleh WNA yang ada di Indonesia.

Subdirektorat Pengawasan Kekonsuleran antara lain bertugas

menangani pelayanan publik dan akses konsuler terkait dengan data dan

penyampaian informasi, serta pelayanan dan perlindungan hak-hak WNI

terkait masalah keimigrasian, kewarganegaraan, dan kependudukan. Hak-hak

WNI yang bermasalah atau terlantar, perlindungan hak-hak pelaut Indonesia

yang menghadapi masalah di kapal angkut asing dan atau di luar negeri,

hak-hak pelaut dan nelayan Indonesia yang menghadapi masalah di kapal

penangkap ikan asing dan atau di luar negeri, penyelesaian permasalahan

WNI dan BHI di luar negeri.

Subdirektorat Bantuan Sosial dan Repatriasi WNI bertugas menangani

pelayanan di bidang bantuan kemanusiaan, pemulangan WNI bermasalah dan

atau terlantar di luar negeri, antara lain mengenai pemberian uang santunan,

kompensasi, asuransi dan proses pemulangan ke daerah asal, pemberian

(29)

melakukan monitoring terhadap WNI/TKI korban human trafficking dan

transnasional crimes lainnya. Subbagian Tata Usaha adalah sebagai unsur

pendukung yang bertugas melaksanakan ketatausahaan dan

kerumahtanggaan, seperti perencanaan dan pelaporan kinerja, administrasi

keuangan, administrasi kepegawaian, dan administrasi perlengkapan.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Perlindungan TKI Di Luar Negeri

Untuk dapat menangani perlindungan TKI berdasarkan definisi

perlindungan TKI yang terdapat dalam UU nomor 39 tahun 2004 tentang

penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri, mencakup segala upaya

(30)

dan kewajiban serta yang berkaitan dengan pekerjaannya agar dapat hidup,

tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat

dan martabakemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan,

diskriminasi dan ekploitasi.

a. Perlindungan Secara Preventif/Educatif

Perlindungan seperti ini dapat diwujudkan dengan membuat

perangkat hukum yang melindungi tenaga kerja Indonesia, seperti :

a) Membuat Undang-Undang yang mengatur penempatan tenaga kerja

Indonesia (Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 Tentang

Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar

Negeri) yang perlu dilengkapi dengan peraturan pelaksanaannya.

b) Kesepakatan bilateral atau multilateral dengan pengguna tenaga

kerja Indonesia yang juga membuat mekanisme penempatan TKI dan

perlindungannya.

c) Mengupayakan lembaga organisasi tenaga kerja Indonesia melalui

organisasi pekerja Negara penempatan.

b. Perlindungan Represif atau Kuratif

a) Mendirikan krisis centre (terutama di Negara penempatan tenaga

kerja Indonesia dan di dalam negeri untuk tenaga kerja Indonesia

yang menghadapi masalah hukum, ketenagakerjaan, sosial budaya

dan sebagainya.

b) Mengikutsertakan tenaga kerja Indonesia dalam program asuransi

yang dapat meng-cover seluruh resiko (all risk) kerja sesuai dengan

(31)

c) Moratorium.

Dengan perlindungan secara preventif dan represif maka, mekanisme

Perlindungan TKI di Luar Negeri yang dilakukan pemerintah Republik

Indonesia secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut:

Proses tersebut diatas menggambarkan bahwa perlindungan TKI di

luar negeri berawal dari adanya peraturan di Indonesia maupun di luar negeri

yang mengatur mengenai perlindungan TKI di luar negeri. Peraturan tersebut

di implikasikan oleh instansi-instansi terkait yang menangani calon TKI

dalam menangani perlindungan TKI di luar negeri.

(32)

maupun luar negeri berdasarkan peraturan yang telah ada. Dari peraturan

yang telah ada di dalam maupun luar negeri mengenai perlindungan TKI

menjadi rujukan atau acuan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan

perlindungan hak dan kewajiban TKI di luar negeri.

Pada instansi tempat KKL yaitu kementrian luar negeri, menangani

TKI yang bermasalah dan memiliki kepentingan di negara tempat pengiriman

TKI tersebut. Permasalahan yang ditangani kementrian luar negeri dan

KBRI/atau KJRI antara lain kasus pidana, overstayers ( melampaui masa

tinggal) dan Human trafficking (perdagangan manusia).

a. Perlindungan dan penanganan TKI terpidana

Dalam masalah TKI yang melakukan tindak pidana diluar negeri

ialah pemerintah indonesia tidak dapat menangkap dan mengadili TKI

tersebut karena pemerintah Indonesia tidak memiliki yurisdiksi atau

wilayah hukum di luar negeri. Oleh karena itu Untuk mewujudkan negera

yang bertanggung jawab atas hak dan keselamatan warga negeranya

maka, Indonesia melalui kementrian luar negeri khususnya direktorat

WNI dan BHI melakukan berbagai upaya untuk melindungi WNI/TKI di

luar negeri. Mekanisme yang dilakukan kementrian luar negeri dan

KBRI/atau KJRI untuk melindungi TKI di luar negeri secara umum

(33)

Dari proses diatas digambarkan sejak KBRI atau KJRI mengetahui

ada TKI yang melakukan tindak pidana di luar negeri, maka KBRI/atau

KJRI di negara setempat langsung melaporkan hal tersebut kepada utusan kementrian luar negeri mengantarkan TKI pulang ke Republik

Indonesia

kementrian luar negeri melakukan segala perlindungan hukum sesuai dengan hukum negara setempat

KBRI/atau KJRI mendampingi dalam Persidangan

kementrian luar negeri dan KBRI/KJRI menghadirkan saksi-saksi dalam persidangan untuk meringankan hukuman bagi TKI bersangkutan KBRI/atau KJRI mengunjungi keluarga korban meminta untuk memberikan

maaf

kementrian luar negeri mengutus utusannya dan keluarga TKI tersebut untuk menemui TKI di penjara negara bersangkutan dan ke negara tempat TKI

terpidana

kementrian luar negeri bekerjasama dengan pemerintah daerah dan keluarga TKI untuk mendukung pembelaan TKI bersangkutan

kementrian luar negeri mengutus staffnya untuk menemui dan mengabarkan keluarga TKI bersangkutan

presiden memberikan surat kepada kepala negara atau pemerintahan negara penerima TKI untuk meminta ampunan

KBRI/atau KJRI melaporkan ke kementrian luar negeri

(34)

kementrian luar negeri dan mencarikan advokat atau pengacara untuk TKI

terpidana tersebut.

Disini letak peran kementrian luar negeri yaitu sejak mendapatkan

laporan dari KBRI/atau KJRI bahwa adanya TKI yang bermasalah di luar

negeri. Kementrian luar negeri segera mengabari keluarga TKI tersebut

dan mengutus utusannya untuk datang ke negara tempat TKI tersebut

terpidana. Utusan kementrian luar negeri mengajak anggota keluarga untuk

menjenguk TKI yang terpidana. Setelah itu kementrian luar negeri

meminta dukungan dari pemerintah daerah dan keluarga TKI terpidana

untuk pembebasan TKI tersebut.

Dalam persidangan kementrian luar negeri akan menghadirkan

saksi-saksi pendukung yang dapat meringankan hukuman atas tindak

pidana TKI tersebut. Dalam semua proses tersebut kementrian luar negeri

melakukan perlindungan penuh sesuai dengan hukum negara setempat

termasuk melakukan banding dan kasasi apabila TKI terpidana tidak

diringankan bebannya. Kementrian luar negeri akan mengantar pulang TKI

terpidana ke Indonesia apabila TKI tersebut diputuskan bebas Semua

proses tersebut dapat berhenti disalah satu tahap apabila permintaan

ampunan presiden Republik Indonesia di terima oleh negara penerima TKI

tersebut.

b. Perlindungan dan penanganan TKI Overstayers

WNI/TKI Overstayers merupakan WNI/TKI yang berada di luar

(35)

berlakunya atau tidak mempunyai dokumen perjalanan resmi baik berupa

paspor maupun dokumen perjalanan lainnya. Penyebab terjadinya TKI

overstayers di luar negeri dapat disebabkan karena faktor-faktor sebagai

berikut:

a) TKI yang lari dari majikan disebabkan oleh berbagai faktor seperti;

tidak betah bekerja karena alasan tidak cocok dengan majikan,

beban kerja dan lain sebagainya.

b) TKI yang mengalami tindakan-tindakan dari majikan seperti gaji

tidak dibayar atau mendapat perlakuan yang tidak baik seperti

pelecehan, penganiayaan dan lain sebagainya. Namun larinya

mereka dari majikan karena ketidakpahaman, dimanfaatkan oleh

pihak-pihak tertentu.

c) ulah sindikat yang mempengaruhi para TKI yang bekerja secara

prosedural dengan mengiming-imingi gaji lebih besar, sehingga

para TKI berpindah majikan tanpa menyadari resiko status

keimigrasian yang sangat merugikan TKI tersebut.

d) WNI yang masuk dengan visa kunjungan dan bekerja secara ilegal

e) WNI yang masuk dengan calling visa langsung dari majikan (tanpa

melewati PJTKI/PJTKA) dan kemudian kabur dari majikannya.

Oleh sebab faktor-faktor diatas banyak WNI/TKI yang ditangkap

dan dikarantina di tempat karantina imigrasi di negara setempat. Maka dari

itu untuk menanganai TKI overstayers, pemerintah melakukan berbagai

(36)

c. Penanganan TKI yang menjadi korban human trafficking

Dengan adanya undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang

pemberantasan tindak pidana perdagangan orang yang dengan jelas

menyebutkan bahwa human trafficking tindak pidana. Karena hal tersebut

hukum acara yang berlaku adalah hukum acara pidana dimana perangkat

hukum yang bertindak menangani pelaku kejahatan human trafficking

adalah kepolisian Republik Indonesia. Tetapi mengenai masalah Perundingan dengan Pemerintah negara setempat untuk mencari penyelesaian

yang menyeluruh masalah WNI/TKI overstayers.

Mendorong pihak imigrasi negara setempat untuk memulangkan sebanyak mungkin WNI/TKI Overstayers sesuai dengan kesepakatan hasil perundingan

Mempercepat proses pemberian surat perjalanan laksana paspor (SPLP) dengan menugaskan staf KJRI/KBRI

memulangkan TKI yang telah mendapatkan SPLP

Memperketat pengiriman TKI sektor rumah tangga dengan hanya mengirimkan TKI yang sesuai dengan kriteria dan telah memiliki ketrampilan yang memadai

untuk bekerja di luar negeri

Melakukan law enforcement di dalam negeri kepada oknum-oknum yang melakukan penyimpangan dalam proses perekrutan, pelatihan dan penempatan TKI ke luar negeri sehingga tidak menimbulkan efek jera.

Memperketat pengiriman TKI sektor rumah tangga dengan hanya mengirimkan TKI yang sesuai dengan kriteria dan telah memiliki ketrampilan

(37)

penanganan korban human trafficking yang telah berada di luar negeri

khususnya dalam hal ini adalah TKI yang menjadi korban, maka hal

tersebut ditangani oleh beberapa instansi pemerintah Indonesia yaitu

KBRI/KJRI, kementrian luar negeri, kepolisian, dan dinas sosial.

Kordinasi antara lembaga-lembaga tersebut dapat digambarkan

sebagai berikut:

Dari bagan diatas dapat dijelaskan bahwa penangan human

trafficking diawali dengan adanya laporan dari KBRI/KJRI RI di negara

setempat dan melaporan ke kementrian luar negeri untuk di data dan

kepolisian Dinas sosial

Kementrian luar negeri menerima laporan KBRI menerima Laporan adanya human

(38)

mengurus pengantaran TKI korban human trafficking bersama dengan

KBRI. setelah sampainya di tanah air, kementrian luar negeri melaporkan

kepada dinas sosial dan kepolisian untuk membina dan menangani kasus

TKI yang menjadi korban human trafficking.

4.2 Prosedur penanganan dan bantuan perlindungan WNI/TKI

Kementrian luar negeri khususnya Direktorat perlindungan WNI dan

BHI yang menangani WNI atau TKI di luar negeri memberikan pelayanan

untuk WNI bermasalah atau memiliki kepentingan. Jenis jenis pelayanan

yang diberikan antara lain:

a. Pemberian perlindungan WNI di luar negeri

b. Pemberian perlindungan WNI yang bekerja di entitas asing c. Pemberian bantuan sosial dan repatriasi WNI

d. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi perlindungan WNI

Dari berbagai perlindungan diatas, perlu melakukan tahap-tahap untuk

mendapatkan bantuan perlindungan dari kementrian luar negeri yang

digambar dalam bagan sebagai berikut:

DIREKTUR Formulir

pengaduan pelaporan

kasus

PWK (KBRI/KJRI)

Staf Dit. PWNI dan

(39)

Pelapor/

Pemohon

Digambarkan bahwa untuk mendapatkan penanganan dan bantuan

perlindungan dari kementrian luar negeri diawali dengan pemohon

melakukan registrasi pengaduan atau laporan serta surat permohonan. Untuk

melakukan registrasi pemohon diharapkan untuk membawa berbagai

dokumen sebagai syarat-syarat pemohon. Dokumen tersebut adalah sebagai

begrikut:

a. Identitas diri pemohon/korban (paspor, KTP, dll)

b. Dokumen pendukung (perjanjian kerja, surat pengesahan instansi, surat

terjemahan, surat pengantar desa, dll) c. Kronologis kasus

d. Permohonan/tuntutan

setelah pemohon melengkapi dokumen-dokumen tersebut, pemohon

dapat melakukan registrasi dan mendapatkan formulir pengaduan serta surat

permohonan yang akan disampaikan kepada Direktorat Perlindungan WNI

dan BHI. Setelah itu Direktorat Perlindungan WNI dan BHI akan memproses

permohonan atau tuntutan yang diberikan oleh pemohon dan melaporkan

kepada perwakilan Republik Indonesia di negara setempat serta kepada

LSM/ SWASTA

Surat permohonan

Instansi terkait

(40)

instansi-instansi terkait. Hasil dari penanganan akan disampaikan kepada

pemohon.

4.3 Masalah yang dihadapi lembaga

Hambatan dan permasalahan yang dihadapi oleh kementrian luar

negeri Khususnya direktorat perlindungan WNI dan BHI dalam menangani

dan memberikan bantuan perlindungan adalah tidak adanya data yang

dimiliki oleh kementrian luar negeri. Data WNI/TKI yang berada di luar

negeri ada pada kantor imigrasi Indonesia, oleh sebab itu kementrian luar

negeri tidak mengetahui siapa saja dan berapa saja TKI yang berada diluar

negeri.Dengan tidak adanya data tersebut kementrian luar negeri sulit untuk

menangani permasalahan dan memberikan perlindungan terhadap TKI di luar

negeri. Dengan begitu penangan dan pemberian perlindungan dari kementrian

akan memakan waktu yang cukup lama dan menjadi kurang kondusif.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dalam masalah penanganan dan perlindungan TKI yang dilakukan

oleh Kementerian Luar Negeri RI lebih mengatasi pada perlindungan

kepentingan TKI yang bermasalah seperti masalah pidana, overstayer dan

(41)

pemberian perlindungan TKI di luar negeri dalam hal ini ada lembaga lain

yang ikut serta menangani yaitu KBRI, KJRI, BNP2TKI, dan instansi-instansi

lain yang berwenang dan bertanggung jawab. Dalam penanganan tersebut

Kementerian Luar Negeri RI sudah melaksanakan tugasnya sebagai

perwakilan Republik Indonesia terlebih lagi dalam tataran kebijakan dan

kerjasama internasional, meskipun dalam pelaksanaannya masih ada

hambatan yang dialami.

Dalam mekanisme atau prosedur untuk mendapatkan bantuan

perlindungan bagi TKI di luar negeri, kementrian luar negeri telah

memberikan paparan dengan jelas prosedur yang harus dilakukan oleh

pemohon untuk mendapatkan bantuan tersebut. Dimana prosedur tersebut

cukup dengan melapor kasus atau permasalahan kepada kementrian luar

negeri dengan membawa dokumen serta kelengkapan yang diperlukan untuk

selanjutnya akan mendapatkan formulir pengaduan pelaporan kasus dan surat

permohonan yang selanjutnya akan diproses oleh kementrian luar negeri

sampai dengan selesai. Kementrian luar negeri akan memberitahukan hasil

dari penanganan TKI yang bermasalah tersebut kepada pemohon/pelapor

5.2 Saran

Sebagai mahasiswa yang menuntut ilmu di Fakultas Hukum, penulis

disini menyarankan untuk membuat pengaturan yang lebih spesifik mengenai

perlindungan TKI di luar negeri terutama dengan cara melakukan perjanjian

(42)

sehingga adanya kepastian bagi TKI untuk mendapatkan perlindungan ketika

berada di luar negeri terutama TKI yang bermasalah.

Dalam hal mekanisme atau prosedur untuk mendapatkan bantuan

perlindungan dari kementrian luar negeri, penulis hanya merekomendasikan

agar mekanisme tersebut disosialisasikan dan dipublikasikan dalam

media-media seperti televisi, majalah, internet, dan lain sebagainya, agar TKI

maupun keluarga dapat segera melakukan prosedur tersebut apabila

mendapatkan masalah.

Dalam masalah hambatan penulis menyarankan adanya kordinasi dan

memiliki satu unit data antara kementrian luar negeri dengan instansi lain

yang menangani TKI. Dengan begitu kementrian luar negeri dapat mendata

Referensi

Dokumen terkait

[r]

1.) Aktivitas peneliti menunjukkan tingkat keberhasilan 85% dengan kriteria baik. Oleh sebab itu, aktivitas peneliti perlu ditingkatkan. 2.) Aktivitas siswa menunjukkan

Kuliah AGRO B 09:30 - 12:00 TELAAH KURIKULUM DAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN. PENDIDIKAN TEKNOLOGI AGROINDUSTRI 3

Dari hasil penelitian diperoleh pelaksanaan evaluasi tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini di TK se-Kecamatan Payung Sekaki Kota Pekanbaru secara keseluruhan dan

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 54 Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya Nomor 6A Tahun 2009 tentang Perusahaan Daerah Pasar Resik Kota Tasikmalaya,

Diisi dengan nama paket pekerjaan, lokasi tempat pelaksanaan pekerjaan, nama dan alamat/telepon dari pemberi tugas/Pejabat Pembuat Komitmen, nomor/tanggal dan nilai kontrak,

perdesaan masing-masing sebesar 0,63 dan 1,23 sedangkan keadaan September 2012 di daerah perkotaan naik menjadi 1,11 dan perdesaan naik menjadi 1,30 namun pada bulan Maret