• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI SOSIAL DAN SKETSA PENELANJANGAN DI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TEORI SOSIAL DAN SKETSA PENELANJANGAN DI"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

TEORI SOSIAL DAN SKETSA PENELANJANGAN DIRI Oleh Aprinus Salam

(1)

Pada awalnya, ketika menjadi mahasiswa awal dan mulai menyenangi belajar teori-teori sosial, dan terutama teori-teori-teori-teori sastra, sejauh yang bisa saya pahami, teori-teori tersebut saya harapkan bisa membantu saya untuk mengkaji atau menganalisis berbagai permasalahan sosial (masyarakat). Saya tidak ingat persis tulisan-tulisan apa saja yang saya baca. Yang saya ingat kebanyakan buku-buku berupa kumpulan tulisan, teori yang sepenggal-sepenggal.

Ada dua tema yang bisa saya ingat, yakni tulisan-tulisan tentang pembangunan dan peranan agama dalam kehidupan masyarakat. Ada kecenderungan tertentu, ilmu sosial sa gat te atik berkaita de ga kuasa rezi sehi gga saya ya g mahasiswa juga belajar apa yang menjadi kecenderungan tersebut. Pemahaman yang sepenggal-sepenggal itu tentu saja membuat saya sering panik jika menjawab pertanyaan yang saya buat sendiri.

Dalam pamahaman yang sangat terbatas itu, saya memposisikan diri sebagai orang kebanyakan (rakyat) yang melihat dari dekat ataupun dari jauh, berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tida cukup banyak hal yang menjadi perhatian saya. Di antara yang menarik persoalan dan coba saya analisis adalah masalah ketidakadilan. Muncul pertanyaan, di antaranya, kenapa begitu banyak orang miskin dan kenapa sangat sedikit orang kaya. Pertanyaan lain yang kadang mengganggu kenapa orang banyak berbicara, tapi tidak sesuai kenyataan. Mengapa orang melakukan tindakan tertentu dan untuk apa.

(2)

ekonomi yang hanya menguntungkan pengusaha besar. Ekonomi dan kekuasaan memegang kendali penting dalam struktur kekuasaan. Konstelasi yang kabur itu terus berjalan.

Dalam perjalanan waktu, sempat juga saya terombang-ambi g u tuk e ga bil posisi pribadi seperti apa ya g bisa saya a bil. “eju lah te a sukses e jadi penyair dan cerpenis/sastrawan. Karya-karya mereka berkibar di media massa, dan sejumlah buku karya mereka terbit. Banyak tema yang mereka tawarkan, mulai dari hal-hal yang relijius hingga kritik sosial. Pada umumnya, secara umum mereka menempatkan diri sebagai satu barisan yang kecewa terhadap negara dan kekuasaan.

Sekali dua saya menulis puisi dan cerpen. Tidak pernah ada puisi atau cerpen saya yang memuaskan. Pernah juga saya menulis naskah drama. Walaupun sempat diterbitkan dalam sebuah antologi, dan pernah juga dipentaskan, saya merasa tidak layak untuk menjadi penyair atau sastrawan. Aktif di satu komunitas teater juga tidak memberikan banyak hal yang signifikan dalam hidup saya, selain mendapatkan sejumlah teman.

Beberapa teman ya g lai sukses e jadi sarja a ya g baik da tertib. Mereka melakukan berbagai penelitian, mengajar dengan baik, dan dengan tertib pula mengurus kenaikan pangkat. Tentu tidak semua teman dosen mampu berjalan dengan mulus. Ada yang mungkin punya kesibukan indivial, sehingga profesi kesarjanaan mereka kadang sedikit terlantar. Akan tetapi, status kesarjanaan telah memberi kedudukan stuas sosial yang memadai di masyarakat.

(2)

(3)

saya dimuat di media massa, tapi saya tahu tulisan saya itu banyak yang ngawur, sensasional, hampir tidak memiliki perspektif yang dapat dipertangungjawabkan. Akan tetapi, kadang saya berpikir menarik juga berbicara agak ngawur. Itulah masa-masa saya merasa banyak mengekplorasi diri. Hal yang saya yakini pada waktu itu adalah ada semacam soft ware dalam diri saya yang terus bekerja meng-upgrade diri, baik dalam keadaan terjaga maupun di kala tidur. Saya tidak tahu di

mana letak soft ware itu bersembunyi. Akan tetapi, menurut keyakinan saya waktu itu, dan mungkin hingga kini, dia terletak antara otak/pikiran dan hati/perasaan. Soft ware inilah yang kemudian menjadi ciri khas seseorang, sesuatu pada diri dan

pribadi. Ia merupakan satu proses panjang kehidupan, sesuatu yang bersifat rasional sekaligus emosional, sesuatu yang bersifat indrawi sekaligus non-indrawi, sesuatu yang bertumpang tindih berbagai nilai, di satu sisi mungkin terstruktur, di sisi lain sedikit rumit. Dia menyerap, sekaligus mengeluarkan. Ada sirkulasi keluar masuk yang membentuk dan bertransformasi, bermetamorfosis. Dia serba tergantung, tapi ada sesuatu yang sangat mandiri dan tidak tersentuh, bisa sesuatu yang sadar, tetapi kadang tidak sadar.

(4)

Hal yang menarik adalah bagaimana soft ware pribadi bekerja menghadapi, e ga tisipasi, atau bersiasat e perbarui diri berhadapa de ga berbagai nilai, norma-norma, aturan-aturan, atau menghadapi berbagai event/multiple (meminjam istilah Alain Badiou). Bagaimana soft ware terinkoporasi atau berinkoporasi dengan dan dalam perjalanan hidupnya dan berproses untuk menjadi subjektivasi baru.

Pemahaman itulah yang saya sebut sebagai proses-proses ke arah penelanjangan diri karena perlahan semakin mengetahui posisi hidup saya di mana, mengapa saya melakukan berbagai hal, dan kenapa saya punya harapan. Itu pula sebabnya, kadang saya merasa geli sendiri ketika mengetahui bahwa dalam perspektif Gramsci, saya itu lebih dalam posisi intelektual. Pertanyaannya, misalnya, apakah hal yang saya lakukan lebih sebagai upaya perecokan terhadap kesadaran kelas subaltern atau justru melegitimasi dan memapankan kekeuasaan. Jangan-jangan

justru hal kedua yang selama ini terjadi.

Ini pula yang dalam beberapa tulisan saya yang lain, saya berusaha mengingatkan, terutama pada diri sendiri (wah sok berdakwah saya, sialan) bahwa kadang berbagai kritik sosial itu justru menguatkan pihak yang dikritik. Kritik terhadap pemerintah, sesuatu yang dibutuhkan sekaligus dibenci, justru menguatkan pemerintah karena pemerintah akan bekerja menguatkan diri berdasarkan masukan kritik terhadap dirinya. Kapitalisme akan memperkuat dirinya karena dikritik terus sehingga kapitalisme terus menerus melakukan transformasi atau bermetamorfosis sehingga ideologi dan praksinya justru semakin hadir dalam kehidupan kita.

(5)

membuat kita tidak tahu soft ware kita meng-upgrade diri, bermetamorfosis, ke hal yang mana.

Pengertian itu mengingatkan kita bahwa diri dan pribadi kita yang ada sekarang ini, tidak sepenuhnya sesuatu yang kita harapkan, sesuatu yang sesuai dengan rencana, sesuatu berdasarkan kehendak kita (terimakasih Bang Ali Shahab atas diskusinya). Itulah sebabnya, selalu ada ketegangan antara harapan dan kenyataan. Dalam medan itulah sebetulnya kita terus melakukan berbagai sikap dan tindakan, dalam berbagai pengertiannya yang beragam.

Hal yang bisa kita lakukan adalah mengontrol diri agar kesadaran tetap terjaga, walaupun berbagai event yang akan terjadi tidak pernah diketahui. Hal yang bisa kita lakukan adalah bahwa berbagai proses, negosiasi, ataupun inkorporasi yang terjadi sangat sering di luar perhitungan dan semakin membungkus dan memanipulasi diri kita. Pemahaman terhadap teori sosial, yang semakin relijius dan mistis, akan menelanjangi bungkus-bungkus dan manipulasi itu. Kita telah mengalami banyak hal yang membuat kita semakin tidak mengenal diri kita sendiri, semakin jauh dari kemanusiaan kita. Proses-proses itulah yang akan terjadi. Tentu kita berharap bahwa kelak kita menjadi subjek yang dalam istilah Badiou disebut subjek yakin (faithful subject).

(3)

Referensi

Dokumen terkait

jasa Raharja (Persero) Perwakilan Tangerang pada pelaksanaan sistem informasi DASI-JR dalam peningkatan pelayanan pembayaran dana santunan kepada masyarakat di Wilayah Tangerang

Dampak positif dari perkembangan teknologi adalah perkembangan sektor ekonomi, namun perkembangan teknologi juga memiliki dampak negatif yaitu menghasilkan limbah

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024)

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024)

Subjek dari penelitian ini adalah sistem yang dibangun dalam sebuah sistem pengendali jarak jauh dengan memanfaatkan radio transceiver 2 meter untuk mentransmisikan data yang

Ditinjau dari sudut metode yang dipakai maka penelitian ini dapat digolongkan dalam jenis penelitian hukum sosiologis (empiris), di mana yang dimaksud dengan penelitian

Nah, bagi kamu yang berada di kawasan Jakarta, Bogor, Bandung, Purwakarta dan sekitarnya memilih Taman Wisata Matahari sebagai tempat membuat event atau acara besar khusus kelompok

Hasil yang diperoleh setelah tes awal yang peneliti dari jumlah siswa kelas V SDN Tampanombo yang berjumlah 32 orang 5 siswa diantaranya mendapatkan nilai 70 dan siswa