Nihilisme Gagasan Spiritualitas Tanpa Tuhan; Komentar Terhadap Buku “Spiritualitas Tanpa Tuhan” Andre Comte Sponville
Oleh :Faiz Al-zawahir
Membaca dan menyelami argumen filosof yang mengakui dirinya atheis "manusia bisa hidup tanpa tuhan namun manusia tidak akan bisa hidup tanpa spiritualitas karena ketika seseorang mengaku atheis bukan berarti dia mengkebiri ruhnya" sebuah argumentasi yang janggal bagi kita yg hidup di wilayah timur di satu sisi dia menolak adanya tuhan tapi di sisi lain di menegaskan adanya ruh. lantas kalo tuhan tidak ada siapa yang menciptakan ruh? argumentasi yang lemah meskipun keluar dari mulut Andre Comte Sponville guru besar filsafat universitas sorbonne paris, francis
A. Sekilas tentang filosofi Spiritualitas tanpa Tuhan.
“Roh bukanlah substansi. Lebih tepatnya roh merupakan sebuah fungsi, kapasitas, tindakan (tindakan berpikir, berkehendak, berimajinasi, membuat lelucon cerdik) – dan tindakan ini, setidaknya tidak dapat disangkal karena tidak ada yang dapat dibuktikan keliru
tanpanya. Kita adalah makhluk fana yang terbuka terhadap keabadian, dan mahluk relatif yang terbuka pada yang absolut. Keterbukaan ini adalah roh itu sendiri. Semua agama melibatkan spiritualitas, paling tidak sampai pada titik tertentu. Tetapi tidak semua agama bentuk spiritualitas bersifat keagamaan. Menjadi seorang ateis bukan berarti mengingkari
eksistensi yang absolut, melainkan lebih kepada mengingkari aspek transendensinya, spiritualitasnya, dan sifat-sifat yang dimilikinya, yakni mengingkari bahwa yang absolut
adalah Tuhan.”
(Andre Comte-Sponville).
Rangkaian kalimat pembuka di atas adalah sebuah ringkasan yang sangat lengkap untuk mewakili keseluruhan intisari dari filosofi yang dukenal sebagai SPIRITUALITAS TANPA TUHAN.
spiritualitas yang mereka inginkan inginkan bukanlah pemenuhan spirit yang berasal dari sesuatu yang lain, baik dari agama maupun Tuhan.
Manusia, kata Sponville bisa hidup tanpa agama, tapi ia tidak bisa hidup tanpa komune, ketaatan atau cinta. Bahkan manusia tidak bisa hidup tanpa spiritualitas. Inilah landasan asasi mengapa Sponville tetap menginginkan hidupnya diwarnai spiritualitas.
Spiritualitas menurut Sponville adalah kehidupan dengan roh. Roh itu sendiri, dengan meminjam uraiannya Rene Descartes dikatakan Sponville sebagai sesuatu yang berpikir. Roh itulah yang berpikir, mencecap, mengetahui, merasakan, dan sebagainya. Sesuatu itu dalam pandangan Sponville adalah otak sementara Descartes meyakininya sebagai substansi material.
Kebutuhan akan spiritualitas itulah yang kemudian mendorong Sponville menawarkan spiritualitas tanpa Tuhan atau spiritualitas ateis. Kebutuhan akan spirit atau roh bukanlah kepentingan akan sesuatu yang ada di luar manusia. Tuhan atau agama tidak selalu memberikan spirit. Karena itulah spiritualitas bisa dipenuhitanpa melibatkan agen eksternal.
André Comte-Sponville, penulis buku ini sepertinya ingin memisahkan konsep spiritualitas lepas dari lembaga agama dan entitas Tuhan. Menurutnya (Comte) pandangan ini tidak mereduksi atau hendak menafikan hakikat kehidupan spiritual, dalam arti yang sebenarnya (an-sich). Kendati demikian, disatu sisi kita juga tidak perlu menolak nilai-nilai dan tradisi-tradisi kuno, semisal Islam, Kristen, dan Yahudi yang telah menjadi bagian dari warisan kita, dan mengkristal, mendarah-daging dalam kehidupan kita hingga saat ini. Tetapi, kita mesti memikir ulang relasi kita dengan nilai-nilai tersebut seraya bertanya apakah nilai-nilai itu signifikan bagi kebutuhan manusia untuk berhubungan antara satu dengan lainnya dan alam semesta, kata Comte.
Pada sebagian besar bagian, pandangan spiritualitas tanpa Tuhan, yang notabene dpt diklasifikasikan sebagai ateis ini, teramat sangat mirip (klu tdk boleh dibilang identik) bahkan mungkinberakar dari pandangan kaum liberalis-modernis.
Bisakah kita hidup tanpa agama ? Dapatkah kita beretika tanpa Tuhan ? Atau, adakah sesuatu yang dapat disebut sebagai spiritualitas Ateis?
Pertanyaan- pertanyaan mendasar itu menjadi sebuah bagian dari perjalanan pemikiran dan spiritualitas banyak orang, kususnya penganuh ateis saat ini. Dan sepertinya pemahaman akan adanya “spiritualitas tanpa Tuhan ” setidaknya tidak hanya menjadi ajang perdebatan lagi , namun semakin diyakini . Hal itu ditunjukkan dengan semakin berkembangnya penganut ateis dan semakin diterimanya pemikiran ini.
“Spiritualitas Tanpa Tuhan “Adakah , atau benarkah ? . Sebuah pertanyaan yang umum dipertanyakan oleh banyak orang. Sebelum menjawabnya , sebaiknya kita memahami arti spiritualitas itu sendiri dan arti bertuhan itu sendiri.
Spiritualitas dalam pandangan Andre Comte berbeda dengan agama. Dalam pemikirannya setidaknya kita dapat menyimpulkan bahwa tanpa agama kita bisa memiliki spiritualitas namun kita tidak bisa beragama tanpa spiritualitas . Jadi spiritualitas bersifatinternal dan natural yang hadir dalam diri kita sedangkan agama bersifat doktrinal dan selamanya berdiri sendiri diluar spiritualitas sejati diri kita sendiri. Termasuk Tuhan sendiri , adalah eksistensi yang tidak ada hubungannya dengan spiritualitas kita. Tuhan berdiri sendiri diluar spiritualitas kita.
B. Nihilisme Gagasan Spiritualitas Tanpa Tuhan
Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain. Gagasan spiritualitas tanpa tuhan sebagaimana diungkapkan oleh Andre Comte Sponville ketika dipegang dan dilaksanakan oleh manusia pada akhirnya manusia hanya akan berakhir dalam kehampaan nilai, berakhir dengan hidup yang nihil.
Gagasan spiritualitas tanpa tuhan sebagaimana diungkapkan oleh Andre Comte Sponville menurut saya hanya sebagai bentuk kekecewaan terhadap kehidupan beragama manusia di lingkungannya, hal itu sama dengan yang di alami oleh Friedrich Nietzsche yang menyatakan Tuhan Telah mati sebagai bentuk kekecewaan terhadap orang-orang beragama dilingkungannya. Yang saya fahami tuhan tidak akan pernah mati akan tetapi nilai-nilai ketuhanan dalam diri manusialah yang akan senantiasa mati ketika setiap individu tersebut hidup tidak sesuai dengan fitrah ilahiyahsertafitrah insaniyahdalam kehidupannya sehari-hari.
Pendapat Andre Comte Sponville yang menyatakan manusia bisa hidup tanpa Tuhan. Adalah argumentasi yang lemah dan hanya berdasarkan asfek sosiologis saja. Dalam kehidupan social memang manusia yang mengaku tidak bertuhan atheis pun bisa hidup dan menjalani kehidupan dengan baik. Namun yang harus di fahamai dalam diri manusia dimensi social hanyalah satu asfek dari manusia. Dalam diri manusia ada yang dinamakan dimensi individual yang didalamnya ada akal,hati dan nafsu yang menjadikan manusia makhluk yang sempurna dibanding makhluk yang lainnya. Bahkan menurut saya tidak ada argumentasii manusia yang sangat logis yang bisa membantahkan tentang adanya tuhan.
ketuhanan. Karena dalam diri semua manusia ada yang dinamakn dengan dimensi ilahiyahatau nilai-nilai ketuhanan.Wanafakhtu minkum ruhii.
Gagasan spiritualitas tanpa tuhan adalah sebuah hal yangabsurd yang akan menjadikan manusia terjebak dalam nihilisme.dalam kehidupannya. Karena Spiritualitas erat hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu.
Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek :
Berhubungan dengan sesuatau yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan, Menemukan arti dan tujuan hidup,
Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha tinggi.
Menurut comte spiritualitas adalah kehidupan ruh (comte 2007 : 156). Pandangan tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Sayyed Hosseein Nash salah seorang spiritualis Islam mendefinisikan spiritual sebagai sesuatu yang mengacu pada apa yang terkait dengan dunia ruh, dekat dengan Ilahi, mengandung kebatinan dan interioritas yang disamakan dengan yang hakiki.³ selain dari itu menurut Ibn ‘Arabi adalah pengerahan segenap potensi rohaniyah dalam diri manusia yang harus tunduk pada ketentuan syar’I dalam melihat segala macam bentuk realitas baik dalam dunia empiris maupun dalam dunia kebatinan.
Ketika comte berpendapat bahwa spiritualitas itu adalah kehidupan ruh. Lantas mungkinkah kehidupan ruh manusia berjalan dengan baik dan damai ketika tidak disandarkan pada nilai-nilai ketuhanan. Jawabannya adalah tidak mungkin karena dimensiruhaniyahmanusia tidak mungkin bisa lepas dan menolak keberadaan tuhan.
ranah spiritual esensinya bukanlah materi atau jasadiah akan tetapi ia merupakan konsep metafisika yang pengkajiannya melalui pendalaman kejiwaan yang seringkali disandarkan pada wilayah agama. Islam sebagai salah satu agama yang diturunkan oleh Allah SWT juga tidak terlepas dari ajaran spiritual yang melambangkan kesalahenan pribadi seorang muslim.
Dalam hal ini, Allah SWT menjelaskan dalam surat Asy-Syams ayat 7-10 sebagai berikut:
“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (perilaku) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan
sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (Qs. asy-Syams/91: 7-10).
Pada ayat di atas, setelah bersumpah dengan matahari, bulan, siang, malam, langit, dan bumi, Allah bersumpah atas nama jati diri/jiwa manusia dan penciptaannya yang sempurna. Lalu Allah mengilhamkan kefasikan dan ketakwaan ke dalam jiwa/diri manusia.
Al-Qurthubimengatakan bahwa sebagian ulama mengartikan kata ‘nafs’ sebagaiNabi Adam, namun sebagian yang lain mengartikannya secara umum, yaitu jati diri manusia itu sendiri.
Menurut Ibn ‘Asyur, kata ‘nafs’ dalam ayat berbentuknakirah(tanpaalif lam ta‘rif), ini menunjukkan nama jenis, sehingga mencakup jati diri seluruh manusia. Hal ini senada dengan penggunaan kata yang sama secaranakirahdalam ayat 5 surat al-Infithar:
ْتَﺮﱠﺧَأَو ْﺖَﻣﱠﺪَﻗ ﺎَﻣ ٌﺲْﻔَﻧ ْﺖَﻤِﻠَﻋ
Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. (Q. S.
al-Infithar [82]:
Oleh karena itu kata ‘wa ma sawwaha’ mengandung penjelasan bahwa Allah menciptakan diri setiap manusia dalam kondisi yang sama, tidak berbeda antar satu dengan lainnya. Sebab kesempurnaan bentuk manusia (taswiyyah) tercapai setelah proses pembentukan janin sempurna, yaitu pada awal masa kanak-kanak.
Karenataswiyyahmerupakan pembentukan fisik manusia, penyiapan kemampuan motorik, dan intelektual. Seiring pertumbuhannya, potensi dalam diri manusia meningkat sehingga ia siap menerima ilham dari Allah.