• Tidak ada hasil yang ditemukan

HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN HASIL PENELITIAN MANDIRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN HASIL PENELITIAN MANDIRI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN MANDIRI

Sintesa Dan Karakterisasi Kitosan Bergugus Fungsi Schiff Base-Fe3O4 Serta Aplikasinya Sebagai Anti JamurCandida albicans

Oleh :

Ahmad Fatoni, M.Si

DIBIAYAI OLEH : MANDIRI

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI BHAKTI PERTIWI

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN HASIL PENELITIAN MANDIRI

1.Judul penelitian : Sintesa Dan Karakterisasi Kitosan Bergugus Fungsi Schiff Base-Fe3O4 Serta Aplikasinya Sebagai Anti Jamur Candida albicans

2. Bidang Ilmu Penelitian : Kimia (Farmasi) 3. Ketua peneliti

a. Nama lengkap dan gelar : Ahmad Fatoni, M.Si b. Jenis kelamin : Laki-laki

c. NIP : 197008102000121001

d. Pangkat / Golongan : Pembina / IV/a e. Jabatan fugsional : Lektor Kepala f. Fakultas / Jurusan : Farmasi 4. Jumlah tim peneliti : 0 orang

5. Lokasi penelitian : Laboratorium Penelitian STIFI Bhakti Pertiwi 6. Bila penelitian ini merupakan kerjasama kelembagaan :

a. Nama instansi :

-b. Alamat :

-7. Waktu penelitian : 4 Bulan

8. Biaya : MANDIRI

Palembang, Juli 2016 Mengetahui,

Pembantu Ketua I STIFI Bhakti Pertiwi Ketua peneliti,

Erjon, M.Kes., Apt. Ahmad Fatoni, M.Si

NIP. 197008102000121001

Mengetahui, Ketua LPPM STIFI Bhakti Pertiwi

(3)

RINGKASAN DAN SUMMARY

Sintesa Dan Karakterisasi Kitosan Bergugus Fungsi Schiff Base-Fe3O4 Serta Aplikasinya Sebagai Anti JamurCandida albicans

Ahmad Fatoni

STIFI Bhakti Pertiwi Palembang Jln. Ariodillah 3 No. 22 A Palembang

Telah dilakukan penelitian sintesis dan karakterisasi kitosan bergugus fungsi schiff base-Fe3O4 serta aplikasinya sebagai senyawa anti jamur Candida albicans.Tujuan penelitian ini mensintesis dan melakukan karakterisasi gugus fungsi kitosanschiff base-Fe3O4 dengan alat spektrofotometer FT.IR serta mengetahui aktivitasnya sebagai anti jamur Candida albicans . Senyawa kitosan Schiff base-Fe3O4 disintesis dari reaksi antara kitosan, 2 hidroksi benzildehid dan Fe3O4.Uji aktivitas senyawa kitosan Schiff

base-Fe3O4 terhadap Candida albicans dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukan telah terjadi reaksi kimia antara kitosan, 2 hidroksi benzildehid dan Fe3O4

membentuk senyawa kitosan bergugus fungsi schiff base-Fe3O4. Karakterisasi gugus fungsi kitosan bergugus fungsischiff base-Fe3O4pada bilangan gelombang 1581,63 cm

-1

. Daya hambat senyawa kitosan bergugus fungsi schiff base-Fe3O4 terhadap jamur Candida albicans pada konsentrasi 50 x 103 ppm dan 100 x 103 ppm mempunyai diameter hambat berturut-turut 21,73 ± 1,22 dan 25,88 ± 0,69 mm.

(4)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT, karena atas rahmat

dan hidayahNya maka laporan penelitian Mandiri dengan judul Sintesa Dan Karakterisasi Kitosan Bertgugus Fungsi Schiff Base-Fe3O4 Serta Aplikasinya

Sebagai Anti Jamur Candida albicansdapat terselesaikan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang

sebanyak-banyaknya kepada :

1. Bapak Drs. Noprizon, M.Kes., Apt selaku Ketua Yayasan Notari Bhakti Pertiwi

2. Bapak Ketua STIFI Bhakti Pertiwi Palembang dan stafnya.

3. Ibu ketua LPPM STIFI Bhakti Pertiwi Palembang

4. Rekan-rekan dosen di pogram studi S1 dan D3 Farmasi STIFI Bhakti Pertiwi

Palembang

Atas bantuannya, baik secara material, moril dan saran dari awal penelitian

hingga terselesainya laporan ini sehingga dapat berjalan dengan lancar.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu

penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca demi

kesempurnaan laporan penelitian ini. Semoga laporan penelitian ini bermanfaat bagi

kita semua, amin…

Palembang, Agustus 2016

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Pengesahan i

Surat Keterangan Selesai Penelitian Mandiri ii Berita Acara Seminar Hasil Penelitian iii Halaman Pengesahan Validasi Karya Ilmiah v Surat Pernyataan Keabsahan Karya Ilmiah vi

Kontrak Penelitian MANDIRI vii

Ringkasan dan Summary ix

Kata Pengantar x

Daftar Isi xi

Daftar Gambar xii

Daftar Tabel xiii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Rumusan Masalah 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Basa-basa Schiff 3

2.2. Struktur kimia kitosa 3

2.3. 2-hidroksi benzildehid 4

2.4. Logam besi oksida (Fe3O4) 4

2.5. Jamur Candida albicans 4

2.5. Spektrofotometer FT.IR 5

BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan 7

3.2. Manfaat Penelitian 7

BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Waktu dan Tempat Penelitian 8

4.2. Alat dan Bahan Penelitian 8

4.3. Prosedur Penelitian 8

4.4. Analisis data 11

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil 13

5.2 Pembahasan 14

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan 19

6.2. Saran-saran 19

DAFTAR PUSTAKA 20

(6)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Gambar 2.1. Struktur kimia (a) kitin dan (b) kitosan 4

2. Gambar 2. 2. Jamur Candida albicans 5

3. Gambar 5.1. Reaksi kimia kitosan Schiff base 15 4. Gambar 5.2. Reaksi kimia kitosan Schiff base dengan Fe3O4 15

(7)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Tabel 5.1. Rata-rata diameter hambat sampel uji (konsentrasi 50 x 103ppm (5% b/v)) dan

pembanding terhadap jamurCandida albicans 13 2. Tabel 5.2. Rata-rata diameter hambat sampel uji

(konsentrasi 100 x 103ppm (5% b/v)) dan

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Lampiran 1. Zona bening yang dihasilkan oleh

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kitosan merupakan polisakarida berbentuk linier yang terdiri dari

monomer N-asetilglukosamin (GlcNAc) dan D-glukosamin (GlcN). Kitosan

dibentuk dari derivatif deasetilasi dari polimer kitin

(poli-β(1-4)-N-asetil-D-glukosamin) (Oshita, dkk,. 2008). Kitosan memiliki gugus fungsional amino yang

sangat reaktif dan dapat bersifat sebagai antibakteri (Chetan, dkk., 2013).

Kitosan merupakan polimer alam, polikationik yang bersifat

biodegradable, biokompatible, aman, tidak beracun, bisa membentuk film

(lapisan tipis) serta mempunyai kemampuan adsorpsi terhadap logam atau nono

logam (Guibal, 2004). Kitosan mempunyai 2 gugus fungsi yang aktif yaitu gugus

fungsi –OH (hidroksida) yang terikat pada atom C ke- 6 dan gugus fungsi –NH2

(amina primer) yang terikat pada atom C ke-2. Beberapa penelitian juga telah

memodifikasi gugus fungsi –NH2 pada kitosan. Mohamed dan Fekri (2011),

memodifikasi gugus fungsi -NH2kitosan dan gugus aldehid dari krotonaldehid

menjadi kitosan yang bergugus fungsi Schiff Base(-C=N-). Senyawa dasarSchiff

Base mengandung gugus amina dan dibentuk dari kondensasi dari amino primer

dengan sebuah karbonil aktif. Senyawa ini memiliki aktivitas yang sangat baik

dalam bidang antibakteri dan antivirus. Schiff Base diperoleh dari kelompok

amina primer, kitosan dan senyawa karbonil aktif seperti aldehida atau keton.

Beberapa tahun terakhir ini, suatu senyawa Fe3O4 dapat dijadikan sebagai

antibakteri. Hasil penelitian Behera dkk (2012), menyimpulkan bahwa besi oksida

(Fe3O4) nanopartikel menunjukan mempunyai zona penghambatan yang

sebanding dengan nanopartikel lainnya (Ag) serta menunjukan aktivitas

bakterisida yang baik pada bakteri gram positif dibanding bakteri gram negatif.

Penelitian terbaru Prabhu, dkk. (2015), menyatakan senyawa Fe3O4 nanopartikel

menunjukan sifat antibakteri terhadap bakteri gram positif dan gram negatif.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mensintesa kitosan

(10)

serta Fe3O4. Hasil atau produk sintesa yang dihasilkan digunakan sebagai anti

jamurCandida albicans.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sintesa kitosan bergugus fungsi Schiff Base-Fe3O4 dari reaksi

antara kitosan, 2-hidroksi benzildehid dan Fe3O4?

2. Bagaimana karakterisasi gugus fungsi kitosan bergugus fungsi Schiff

Base-Fe3O4dengan Alat Spektrofotometer FT.IR ?.

3. Apakah kitosan bergugus fungsi Schiff Base-Fe3O4 dapat diaplikasikan

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Basa-basa Schiff (Schiff base)

Schiff base adalah senyawa dengan gugus fungsi yang mengandung ikatan

rangkap karbon-nitrogen (-N=C-) dimana atom karbon terhubung (terikat) dengan

gugus aril atau alkil, tidak dengan hidrogen. Gugus fungsi Schiff base dapat

disintesa dari amina aromatik dan senyawa karbonil dengan adisi nukleofilik

membentuk hemiaminal, diikuti dengan dehidrasi untuk menghasilkan imin

(http://en.wikipedia.org/wiki/Schiff_base). Ikatan rangkap karbon-nitrogen

(-N=C-) jika dikarakterisasi dengan menggunakan spektrofotometri FT. IR

mempunyai wilayah absorpsi antara 1900-1500 cm-1(Silvesrtein, dkk., 1991).

2.2. Struktur Kimia Kitosan

Proses terbentuknya kitosan (dari sebelum terbentuknya kitin) meliputi

demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi. Demineralisasi dilakukan dengan

menggunakan larutan asam lemah yang bertujuan untuk menghilangkan mineral

yang terkandung dalam bahan baku. Deproteinasi dilakukan dengan menggunakan

larutan basa lemah untuk menghilangkan sisa-sisa protein yang masih terdapat

dalam bahan baku. Struktur kimia kitin dan kitosan seperti pada gambar 2.1.

O H NH C=O CH3 H H HO H CH2OH

H

O H HO

CH2OH

(12)

3 2 O H NH2 H H HO H CH2OH H

O

O H H

CH2OH H NH2 H HO O n 1 4 5 6 (b)

Gambar 2.1 Struktur kimia (a) kitin dan (b) kitosan (Guibal, 2004)

2.3. 2-hidroksi benzildehid

Senyawa 2 hidroksi benzildehid adalah senyawa kimia dengan rumus

C6H4C(OH)2. Berat molekul 122,12 gr/mol, berat jenis 1,146 g/cm3dan titik didih

196-197oC. Cairan minyak tidak berwarna ini memiliki bau almond yang pahit

pada konsentrasi rendah. Larut dalam air, larut alkohol, dan eter (Gangolli, 1999).

2.4. Logam Besi Oksida (Fe3O4)

Nanopartikel magnetit (Fe3O4) adalah salah satu jenis nanopartikel

magnetik yang paling sering digunakan. Nanopartikel magnetit secara luas

digunakan dalam imobilisasi dan pemisahan protein atau enzim, pemberian obat

dan pemurnian DNA (Deoxyribonucleic Acid). Selain itu juga digunakan untuk

katalis, dan menghilangkan unsur-unsur beracun dari limbah industri (Chen, dkk.,

2013). Beberapa tahun terakhir ini, senyawa Fe3O4 mulai dikembangkan sebagai

antibakteri. Penelitian Behera dkk (2012) dan Prabhu dkk (2015), menyimpulkan

bahwa penerapan besi oksida (Fe3O4) nanopartikel menunjukan sifat antibakteri

pada bakteri gram positif dan gram negatif.

(13)

Bentuk Candida albicans yaitu bulat, lonjong, atau bulat lonjong, ukuran

2-5 μ x 3-6 μ hingga 2-5,5 μ x 5-28,5 μ, dengan permukaan halus, licin atau

berlipat-lipat, berwarna putih kekuning-kuningan dan berbau ragi. Candida

albicans memiliki dua jenis morfologi yaitu seperti khamir dan hifa. Gambar

Candida albicansseperti dalam gambar 2.2.

Gambar 2.2. Jamur Candida albicans ((Dwidjoseputro, 2005).

KlasifikasiCandida albicansmenurut Waluyo, (2004) adalah:

Kingdom : Fungi

Division : Thallophyta

Subdivision : Fungi

Class : Deuteromycetes

Order : Moniliales

Family : Cryptococcaceae

Genus : Candida

Species :Candida albicans

2.6. Spektrofotometer FTIR(Fourier-Transform Infrared Spectroscopy) Radiasi inframerah mengandung beberapa range frekuensi yang tidak

dapat dilihat oleh mata. Pengukuran pada spektrum inframerah dilakukan pada

cahaya inframerah tengah (mid-infrared) yaitu pada panjang gelombang 2,5 – 50

µm atau bilangan gelombang 4000 – 200 cm-1. Energi yang dihasilkan oleh radiasi

ini akan menyebabkan vibrasi atau getaran pada molekul. Pita absorbsi inframerah

sangat khas dan spesifik untuk tiap tipe ikatan kimia atau gugus fungsi. Metode

(14)

suatu senyawa organik dan mengetahui informasi struktur suatu senyawa organik

dengan membandingkan daerah sidik jarinya (Dachriyanus, 2004).

Mekanisme kerja dari spektrofotometer FTIR ini adalah jika suatu

frekuensi tertentu dari radiasi inframerah dilewatkan pada sampel suatu senyawa

organik maka akan terjadi penyerapan frekuensi oleh senyawa tersebut. Detektor

yang ditempatkan pada sisi lain senyawa akan mendeteksi frekuensi yang

dilewatkan pada sampel yang tidak diserap oleh senyawa. Banyaknya frekuensi

yang melewati senyawa (yang tidak diserap) akan diukur sebagai suatu persen

(15)

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan

1. Mensintesa kitosan bergugus fungsi Schiff Base-Fe3O4 dari reaksi antara

kitosan, 2 hidroksi benzildehid dan Fe3O4.

2. Untuk mengetahui gugus fungsi kitosan yang telah bergugus fungsi Schiff

Base-Fe3O4 dengan alat spektrofotometer FT.IR.

3. Untuk mengetahui senyawa kitosan bergugus fungsi Schiff Base-Fe3O4

sebagai anti jamurCandida albicans.

3.2.Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Memanfaatkan salah satu sifat terpenting dari kitosan sebagai antibakteri dan

jamur.

2. Memodifikasi gugus fungsi kitosan dengan senyawa 2-hidroksi benzildehid

(16)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2016 di

Laboratorium Penelitian STIFI Bhakti Pertiwi Palembang dan untuk karakterisasi

gugus fungsi kitosan, kitosan Schiff base dan kitosan Schiff base-Fe3O4dilakukan

di laboratorium Kimia F.MIPA UGM.

4.2.Alat dan Bahan

4.2.1. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini alat-alat gelas standar

laboratorium, rak tabung reaksi, timbangan analitik (DJ-BH CHO), alumunium

foil, oven (JINHONG XMTB-8000), autoklaf (KAIPU YXQ.SG41.280), labu

takar (pyrex), cawan petri (pyrex), jarum ose, laminary air flow/Meja Steril,

jangka sorong/mistar millimeter (Tricle Brand 0-150 mm, Shanghai China),

spektrofotometer FT IR (SHIMADZU), dan spektrofotometer UV-Vis (BEL

Photonics UV-M51) serta alat pendukung lainnya.

4.2.2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kitosan, etanol PA

asam asetat glasial (CH3COOH), NaOH, 2 Hidroksi Benzildehid (C6H4

CHO-2-OH) (Merck), FeCl36H2O, Fe2SO4.7H2O, Dimetil Sulfoksida (DMSO), Aquadest

(H2O), Cakram steril, kapas, kasa steril, NaCl fisiologis, Medium Potato

Dekstrose Agar siap pakai (PDA), kertas saring, kertas label dan jamur Candida

(17)

150 ml larutan NaOH 0,13 M hingga campuran mempunyai pH 11 hingga

terbentuk endapan hitam. Endapan hitam yang diperoleh kemudian dicuci dengan

aquades beberapa kali hingga filtrat campuran memiliki pH netral, kemudian

endapan disaring dan dikeringkan dalam oven pada suhu 70°C selama 3 jam

(Chen dkk, 2013).

4.3.2. Sintesa KitosanSchiff Base

Senyawa kitosan Schiff Base dibuat dalam beker gelas dengan cara

mencampurkan kitosan 0,5 gram yang dilarutkan dalam 50 ml asam asetat 3%

(v/v) ) dan 1 mL 2-hidroksi benzildehid yang dilarutkan dalam etanol PA

sebanyak 9 ml. Campuran dipanaskan pada suhu 35°C dan diaduk dengan

mangnetik stirer selama 3 jam. Setelah 3 jam diperoleh endapan berwarna kuning.

Selanjutnya endapan berwarna kuning tersebut disaring, dibilas dengan etanol pa

beberapa kali dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60°C, hingga diperoleh

produk yang berwarna kuning (Mohammed dan Fekry, 2011).

4.3.3 Sintesa kitosanSchiff Base-Fe3O4

0,25 gram kitosan dilarutkan dalam 15 ml asam asetat 3% (v/v) dan diaduk

dengan mangnetik stirer selama 30 menit pada suhu kamar. Setelah terbentuk gel

tambahkan 0,25 gram Fe3O4kemudian diaduk kembali selama 30 menit pada suhu

kamar. Setelah 30 menit dan terbentuk gel hitam yang homogen, tambahkan 1 ml

2-hidroksi benzildehid yang dilarutkan dalam 4 ml etanol pa, aduk kembali

menggunakan magnetik stirer pada suhu 70°C selama 1 jam hingga diperoleh

endapan coklat yang memadat. Endapan yang terbentuk dicuci dengan etanol pa

sebanyak 10 ml dan dicuci dengan aquadest sebanyak 0,5 L hingga diperoleh

filtrat dengan pH netral, endapan (ampas) yang telah netral dikeringkan dalam

oven pada suhu 60°C selama 7 jam (Naghipour dan Fakhri, 2015).

4.3.4. Karakterisasi gugus fungsi dengan menggunakan spektrofotometer

FT.IR

Karakterisasi gugus fungsi dengan menggunakan spektrofotometer FT.IR

meliputi senyawa kitosan murni, kitosan Schiff base dan kitosan Schiff

(18)

4.3.5. Uji senyawa kitosan Schiff base-Fe3O4 sebagai anti jamur Candida

albicans.

4.3.5.1. Pembuatan konsentrasi sampel uji.

Sampel uji (hasil sintesa) dibuat dengan konsentrasi :

a. 10 % (b/v) yang dibuat dengan melarutkan 0,1 gr senyawa kitosan Schiff

base-Fe3O4 dilarutkan dalam campuran asam asetat 1 % (v.v) dan DMSO

(1:4) hingga 1 ml.

b. 5 % (b/v) yang dibuat dengan melarutkan 0,1 gr senyawa kitosan Schiff

base-Fe3O4 dilarutkan dalam campuran asam asetat 1 % (v.v) dan DMSO

(1:4) hingga 2 ml.

Sebagai pembanding :

a. Kitosan 10% (b/v) yang dibuat dengan melarutkan 0,1 gr senyawa kitosan

murni dalam asam asetat 1 % (v.v) hingga1 ml.

b. Kitosan 5 % (b/v) yang dibuat dengan melarutkan 0,1 gr senyawa kitosan

murni dalam asam asetat 1 % (v.v) hingga 2 ml.

c. Fe3O4 10% (b/v) yang dibuat dengan melarutkan 0,1 gr senyawa Fe3O4

dalam aquades hingga1 ml.

d. Fe3O4 5 % (b/v) yang dibuat dengan melarutkan 0,1 gr senyawa Fe3O4

dalam aquades hingga 1 ml.

e. Asam asetat 1 % (v/v)

f. aquades

4.3.5.2. Penyiapan Medium Potato Dextrose Agar (PDA)

Disiapkan medium PDA sintetik, lalu ditimbang dengan timbangan analitik

sebanyak 39 g kemudian dimasukan dalam erlenmeyer 250 mL yang berisi

(19)

4.3.5.4. Pembuatan Suspensi Jamur

Diambil koloni jamur dari media agar miring sebanyak 1 – 2 ose

kemudian disuspensikan kedalam NaCl fisiologis (0,9%) sebanyak 5 ml dalam

tabung reaksi dan dikocok homogen, lalu dipindahkan ke kuvet. Kekeruhan

suspensi jamur uji diukur dengan alat spektrofotometer UV-Vis pada panjang

gelombang (λ) 580 nm dengan transmitan 90% (Depkes, 1995).

4.3.5.5. Uji Daya Hambat Pertumbuhan Jamur

Pengujian dilakukan dengan metode difusi agar yang menggunakan

cakram berdiameter dalam 6 mm, diameter luas 8 mm, dan tinggi 10 mm.

Medium potato dekstrose agar (PDA) 10 ml steril pada cawan petri didinginkan

pada suhu 40°C-45°C. Diteteskan suspensi jamur sebanyak 1 ml ke dalam tabung

reaksi yang telah berisi media PDA sebanyak 10 ml. Setelah homogen, tuang

diatas cawan petri yang berisi 10 ml media nutrien agar yang telah memadat lalu

diratakan. Cawan petri tersebut digoyang beberapa kali secara horizontal agar

suspensi jamur ini merata pada seluruh permukaan agar. Kemudian dibiarkan

pada suhu kamar selama 15 menit. Suspensi jamur yang telah diencerkan tadi

ditempatkan pada cawan petri untuk masing-masing larutan zat uji dan pengujian

dilakukan sebanyak tiga kali (triplo).

Cakram yang telah steril dicelupkan ke dalam masing-masing

perbandingan larutan zat uji yang telah disiapkan, kemudian diletakkan pada

permukaan media agar yang telah diinokulasi dengan jamur. Semua cawan petri

diinkubasi di dalam inkubator pada suhu 30°C – 37°C selama 24 – 48 jam.

Kemudian diukur diameter zona bening (clear zone) dengan menggunakan jangka

sorong atau penggaris millimeter (Kandoli dkk, 2016).

4.4.Analisis Data

Analisis data meliputi :

a. Berat kering hasil senyawa sintesa

b. Analisa gugus fungsi dari spektra FT.IR kitosan, kitosan Schiff Base dan

(20)

c. Pengukuran zona bening (Clear Zone) sebagai diameter hambat

pertumbuhan jamur yang dihasilkan.dari sampel uji dan pembanding serta

(21)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.Hasil

Hasil penelitian yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut :

1. Hasil sintesa senyawa Fe3O4adalah berupa serbuk hitam sebanyak 1,310 gram.

2. Hasil sintesa senyawa kitosan Schiff Base adalah berupa lempengan film tipis

berwarna kuning sebanyak 0,560 gram setelah dikeringkan.

3. Hasil sintesa kitosan Schiff Base-Fe3O4 adalah berupa serbuk coklat sebanyak

0,411 gram setelah dikeringkan.

4. Karakterisasi senyawa Fe3O4 menggunakan spektrofotometer UV-Vis ditandai

dengan terbentuknya puncak pada panjang gelombang 369 nm.

5. Karakterisasi gugus fungsi dari kitosan Schiff Base dengan spektrofotometer

FTIR adalah munculnya gugus fungsi azomethine pada bilangan gelombang

1635,64 cm-1.

6. Karakterisasi gugus fungsi dari kitosan Schiff Base-Fe3O4 menggunakan

spektrofotometer FTIR adalah adanya interaksi kimia antara gugus fungsi

azomethinedengan Fe3O4pada bilangan gelombang 1581,63 cm-1.

7. Hasil pengujian aktivitas antijamur senyawa hasil sintesa dan

pembandingseperti pada tabel 5.1 dan 5.2.

Tabel 5.1 Rata-rata diameter hambat sampel uji (konsentrasi 50 x 103ppm (5% b/v)) dan pembanding terhadap jamurCandida albicans

Sampel

Diameter Hambat (mm) pada

cawan

Diameter Hambat Rata-Rata (mm)± SD

1 2 3

Kitosan*) 11,47 12,34 12,34 12,05 ± 0,5

KitosanSchiff Base*) 16,33 15,46 14,21 15,33 ± 1,06

Fe₃O₄*) 0 0 0 0 ± 0

KitosanSchiff Base-Fe₃O₄

**) 22,44 20,32 22,44

21,73 ± 1,22

Asam Asetat 1 % (v/v)***) 0 0 0 0 ± 0

As. Asetat 1% (v/v) 1 : 4

(22)

Keterangan : *)

= Pembanding positif **)

= sampel uji ***)

= Pembanding negatif

Tabel 5.2 Rata-rata diameter hambat sampel uji konsentrasi 100 x 103ppm (5 % b/v)) dan pembanding terhadap jamurCandida albicans

Keterangan : *)

= Pembanding positif **)

= sampel uji ***)

= Pembanding negatif

5.2. Pembahasan

5.2.1. Sintesa Fe3O4

Sintesa Fe3O4 melalui reaksi antara senyawa Fe3+ (FeCl3 6H2O) dengan

Fe2+ (Fe2SO4.7H2O) dalam suasana basa (NaOH), dengan reaksi kimia seperti di

bawah ini (Behera dkk, 2012).

Fe2++ 2Fe3++ 8OH- Fe3O4 + 4H2O Sampel

Diameter Hambat (mm) pada

cawan

Diameter Hambat Rata-Rata (mm)± SD

1 2 3

Kitosan*) 14,21 13,59 14,21 14,00 ± 0,35

KitosanSchiff Base*) 22,44 19,6 22,44 21,49 ± 1,63

Fe₃O₄*) 6,23 0 6,23 6,23 ± 0,23

KitosanSchiff Base-Fe₃O₄

**) 26,68 25,56 25,42

25,88 ± 0,69

Asam Asetat 1 % (v/v)***) 0 0 0 0 ± 0

As. Asetat 1% (v/v)1 : 4

DMSO***) 0 0 0 0 ± 0

(23)

O O HO NH2 OH + C O H OH O O HO N OH C H OH

+ H2O

Kitosan 2-hidroksi benzildehid

Kitosan Schiff base

Gambar 5.1. Reaksi kimia kitosan Schiff base

5.2.3. Sintesa kitosan Schiff Base-Fe3O4

Sintesa kitosan Schiff Base-Fe3O4 terjadi melalui reaksi antara gugus

fungsi –C=N- dengan Fe3O4seperti dalam gambar 5.2.

O O HO NH 2 OH + C O H OH O O HO N OH C H OH O O HO N OH C H OH Fe3O4

Fe3O4

Kitosan 2 hidroksi

benzildehid

Kitosan Schiff base Kitosan Schiff base -Fe3O4

Gambar 5.2. Reaksi kimia kitosan Schiff base dengan Fe3O4

5.2.4. Karakterisasi gugus fungsional

Karakterisasi gugus fungsional kitosan, kitosan Schiff base dan kitosan

(24)

Gambar 5.3. Spektra kitosan

(25)

Gambar 5.5. Spektra kitosan Schiff Base-Fe3O4

Spektra FTIR kitosan seperti dalam gambar 5.3 menjelaskan bahwa

muncul pita serapan pada bilangan gelombang 3441,01 cm-1 yang menunjukkan

tumpang tindih vibrasi rentangan (ulur) gugus fungsi –OH dan N-H. Pita serapan

pada bilangan gelombang 2924,09 cm-1 menunjukkan vibrasi rentangan C-H. Pita

serapan pada bilangan gelombang 1095,57 cm-1 menunjukkan vibrasi rentangan

C-C. Gugus fungsi C-O teridentifikasi pada rentangan bilangan gelombang

1604,77 cm-1, rentangan C-O bisa berasal dari C-OC atau C-O-H (Dachriyanus,

2004).

Spektra FTIR kitosan Schiff base (gambar 5.4.) muncul pita serapan pada

bilangan gelombang 3441,01 cm-1 yang menunjukkan tumpang tindih vibrasi

rentangan gugus fungsi –OH dan N-H. Pita serapan pada bilangan gelombang

2924,09 cm-1 menunjukkan vibrasi rentangan gugus fungsi C-H pada

CH2-alifatik. Gugus fungsi azometin (C=N) teridentifikasi pada bilangan gelombang

1635,64 cm-1. Menurut Sari, dkk., (2003) dan Mohamed dan Fekri (2011)

dijelaskan bahwa gugus fungsi C=N akan muncul pada bilangan gelombang

antara 1632-1612 cm-1.

Spektra FTIR kitosan Schiff base-Fe3O4 seperti dalam gambar 5.5,

(26)

H. Pita serapan pada bilangan gelombang 2924,09 cm-1 menunjukkan vibrasi

rentangan gugus fungsi C-H pada CH2- alifatik yang diperkuat dengan munculnya

serapan vibrasi bengkokan –CH2 – pada bilangan gelombang 2337,72 cm-1.

Vibrasi ulur gugus fungsi C=N teridentifikasi pada bilangan gelombang 1581,63

cm-1 dengan intensitas lemah yang menunjukkan adanya ikatan dengan Fe3O4.

Vibrasi rentangan gugus fungsi C-O teridentifikasi pada bilangan gelombang

1373,32 cm-1, rentangan C-O bisa berasal dari C-OC atau C-O-H (Dachriyanus,

2004).

5.2.5. Uji aktifitas senyawa kitosan Schiff base-Fe3O4 sebagai anti jamur

Candida albicans.

Senyawa hasil sintesa (kitosan Schiff base-Fe3O4) dengan konsentrasi 5 %

(b/v) dan 10 % (b/v) mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan jamur

candida alibican berturut-turut sebesar 21,73 ± 1,22 dan 25,88 ± 0,69 mm.

Diameter daya hambat tersebut ternyata lebih besar bila dibandingkan dengan

daya hambat kitosan, kitosan schiff base dan Fe3O4 saja pada konsentrasi yang

sama (Tabel 4.1 dan 4.2). Hal ini menunjukan bahwa jika kitosan dimodifikasi

dengan senyawa 2-hidroksi benzildehid dan Fe3O4 menjadi kitosan bergugus

fungsi schiff base-Fe2O3 akan mempunyai sifat yang lebih besar dalam

(27)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Senyawa kitosanSchiff Base-Fe3O4dapat disintesa dari reaksi antara Kitosan,

2 hidroksi benzildehid dan Fe3O4.

2. Karakterisasi gugus fungsi kitosan Schiff Base-Fe3O4 menggunakan

spektrofotometer FTIR menunjukkan bahwa senyawa senyawa tersebut

terbentuk, ditandai dengan adanya serapan pada bilangan gelombang 1581,63

cm-1.

3. Senyawa kitosan Schiff Base-Fe3O4 dapat diaplikasikan sebagai antijamur

Candida albicans. Pada konsentrasi 50 x 103 ppm dan 100 x 103 ppm

mempunyai diameter hambat berturut-turut 21,73 ± 1,22 dan 25,88 ± 0,69

mm.

6.2. Saran

1. Karakterisasi senyawa hasil sintesa dilakukan dengan menggunakan

Spektrofotometer Massa (MS), Spektrofotometer Resonansi Magnet Inti H

NMR), SEM dan XRD (X-Ray Difraktrometer).

2. Pengujian aktivitas antijamur senyawa hasil sintesa dengan menggunakan

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Behera, S. S., Patra, J. K., Pramanik, K, Panda, N., and Thatoi, H. 2012. Characterization and evaluation of antibacterial activities of chemically synthesized iron oxide nanoparticles. World journal of nano science and engineering,2, 196-200.

Brooks, Geo. 2013.Medical microbiology.EGC, Jakarta.

Chen, Daimei., Li, Wa., Wu, Yanru., Zhu, Qian., Zhijin, Lu., and Du, Gaoxiang. 2013. Preparation and characterization of chitosan/montmorillonite magnetic miscrospheres and its application for the removal of Cr (VI).

Chemical Engineering Journal,221, 8-15.

Chetan, P.D., Vishalakshi, B., Sathish, L., Ananda, K. And Poojary, B., 2013, Preaparation of Substituted Quaternized Arylfuran Chitosan Derivatives and Their Antimicrobial Activity, International Journal of Biological Macromolecules59 : 158-164

Dachriyanus. 2004. Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektroskopi. Andalas University Press, Padang.

Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia. (Edisi IV). Dirjen POM RI. Jakarta

Dwidjoseputro, D., 2005,Dasar-Dasar Mikrobiologi,Djambatan, Jakarta

Gangolli, S.D.(ed), 1999, The Dictionary of Substances and their Effects (DOSE) : O-S, Vol. 6, second edition, The Royal Society of Chemistry, Cambridge

Guibal, E., 2004, Interaction of metal ions with chitosan-based sorbent : a review,

Separation and Purification Technology,38 (1) : 43-74.

(29)

Prabhu, Y. T. Rao, K. V. Kumari, B. S. Kumar, V. S. S. and Pavani, T. 2015. Synthesis of Fe3O4nanoparticles and its antibacterial application. Int. Nano. lett, 5, 85–92.

Sari, N., Arslan, S., Logoglu, E., and Sakiyan, I., 2003, Antibacterial Activities of Some New Amino Acid Schiff Base,G.U Journal of science, 16(2) : 283-288.

Silverstain, Robert., Basseler, G. Clayton, and Morrill, C, Terence. 1991.

Spectrometric Identification of Organic Compounds (5th Edition), John Wiley and Son, Inc. New York.

(30)

Lampiran 1. Zona bening yang dihasilkan oleh sampel hasil sintesa

Keterangan :1. Konsetrasi 50 x 103ppm (5 % (b/v)) 2. Konsentrasi 100 x 103ppm (10 % (b/v)) (a) Kitosan dengan konsentrasi 5 dan 10 % (b/v)

(b) KitosanSchiff Basedengan konsentrasi 5 dan 10 % (b/v) (c) Fe3O4dengan konsentrasi 5 dan 10 % (b/v)

(d) KitosanSchiff Base-Fe3O4dengan konsentrasi 5 dan 10% (b/v)

(e) Asam Asetat 1% (v/v)

(f) As. Asetat 1% (v/v) 1 : 4 DMSO (g) Aquadest

a

b c

e

d f g

a

b c

g e

f d

Gambar

Gambar 2.1 Struktur kimia (a) kitin dan  (b) kitosan (Guibal, 2004)
Gambar 2.2. Jamur Candida albicans ((Dwidjoseputro, 2005).
Tabel 5.1 Rata-rata diameter hambat sampel uji (konsentrasi 50 x 10 (5% b/v)) dan pembanding terhadap jamur3ppm Candida albicans
Tabel 5.2 Rata-rata diameter hambat sampel uji konsentrasi 100 x 103 ppm (5
+4

Referensi

Dokumen terkait