• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

Budidaya dan Teknologi

Pascapanen Jahe

Hapsoh Yaya Hasanah

(2)

USU Press

Art Design, Publishing & Printing

Gedung F,

Jl. Universitas No. 9, Kampus USU Medan, Indonesia

Telp. 061-8213737; Fax 061-8213737 Kunjungi kami di:

http://usupress.usu.ac.id Terbitan Pertama 2008 © USU Press 2010

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang; dilarang memperbanyak menyalin, merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

ISBN 979 458 369 3

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Hapsoh

Budidaya dan teknologi pascapanen jahe / Hapsoh, Yaya Hasanah, dan Elisa Julianti. – Medan: USU Press, 2010.

viii, 112 p. ; ilus. ; 28 cm. Bibliografi, Indeks

ISBN: 979-458-369-3

1. Budidaya tanaman I. Hasanah, Yaya II. Julianti, Elisa III. Judul 633.83 ddc22

(3)

PRAKATA

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan tanaman rempah dan obat yang bernilai ekonomi tinggi. Rimpang jahe memiliki multiguna sebagai minuman penghangat, bumbu dapur, penambah rasa, bahan baku obat tradisional bahkan pestisida alami.

Sebagian besar produk jahe diekspor ke luar negeri dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk, awetan jahe dan hasil olahan jahe seperti minyak atsiri dan oleoresin. Ekspor komoditas jahe Indonesia mengalami penurunan sejak 1994 hingga sekarang. Salah satu penyebab penurunan ekspor jahe adalah rendahnya produktivitas dan mutu karena tidak tersedianya benih unggul bermutu serta rentannya terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama penyakit layu bakteri karena Ralstonia solanacearum.

Khalayak pengguna buku ini adalah kalangan dosen pertanian dengan tujuan untuk memperkaya wawasan ilmiah dalam mata kuliah Tanaman Obat dan Tanaman Rempah serta Pangan Fungsional, kalangan mahasiswa pertanian dengan tujuan memperkaya sarana belajar dan pemahaman ilmu dalam mata kuliah Tanaman Rempah dan Obat serta Pangan Fungsional, petani jahe sebagai bahan acuan dalam teknik budidaya jahe sistem keranjang, para praktisi maupun khalayak pembaca umum yang memiliki ketertarikan dalam dunia pertanian khususnya budidaya jahe.

Struktur buku ini terdiri atas bab-bab yang mengupas tanaman jahe secara keseluruhan dimulai dari sejarah singkat tanaman jahe, manfaat tanaman jahe, syarat tumbuh tanaman jahe, budidaya jahe secara umum, budidaya jahe sistem keranjang, prospek budidaya jahe sistem keranjang, hingga permasalahan budidaya jahe sistem keranjang. Setiap bab dilengkapi dengan tujuan intruksional yang akan memandu pembaca mengenai arah tujuan pada setiap bab.

Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi para pengguna dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan mengenai budidaya jahe secara umum dan budidaya jahe sistem keranjang serta teknologi pascapanennya sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan ekspor komoditas jahe Indonesia yang akhir-akhir ini semakin menurun.

Medan, Agustus 2008

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

Prakata iii

Daftar Isi iv

Daftar Tabel vi

Daftar Gambar viii

BAB I. SEJARAH SINGKAT TANAMAN JAHE - Pendahuluan

- Asal Usul dan Penyebaran Tanaman Jahe - Nama Daerah Tanaman Jahe

- Nama Asing Tanaman Jahe - Klasifikasi Tanaman Jahe - Deskripsi Tanaman Jahe - Jenis Tanaman Jahe

1 BAB II. MANFAAT TANAMAN JAHE

- Kandungan Senyawa Kimia pada Jahe - Manfaat Jahe dalam Makanan dan Minuman - Efek Farmakologis Jahe

11 12 13 14 BAB III. SYARAT TUMBUH TANAMAN JAHE

- Keadaaan Iklim dan Tanah - Lingkungan Biotik (Fisik)

20 20 23 BAB IV. BUDIDAYA JAHE SECARA UMUM

- Pembibitan - Persiapan Lahan

- Teknik Penanaman Jahe - Pemberian Mulsa - Pemeliharaan Tanaman

- Pengendalian Hama dan Penyakit

24 BAB V. BUDIDAYA JAHE SISTEM KERANJANG

- Pembibitan - Persiapan Lahan

- Persiapan Media Tanam Jahe Sistem Keranjang

- Penanaman Jahe Sistem Keranjang - Pemeliharaan

- Pembumbunan dan Penambahan Media Tanam - Pengairan (Penyiraman)

(5)

BAB VI. PANEN DAN PASCAPANEN JAHE - Panen

- Penanganan Pascapanen - Standar Mutu Jahe - Pengujian Mutu Jahe - Pengambilan Contoh - Petugas Pengambil Contoh

57 BAB VII. PENGOLAHAN JAHE

- Jahe Kering - Simplisia Jahe - Bubuk Jahe

- Jahe Awet atau Jahe Olahan - Minyak Atsiri Jahe

- Oleoresin Jahe - Manisan Jahe - Jahe Kristal - Sirup Jahe - Jahe Instant

- Formulasi Ekstrak Jahe - Anggur Jahe BAB VIII. PROSPEK BUDIDAYA JAHE

(6)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

1. Nomor-Nomor Koleksi Jahe Hasil Eksplorasi dan Koleksi dari Beberapa Daerah Sebelum Tahun 1997

6 2. Nomor-Nomor Jahe Hasil Eksplorasi dan Pengumpulan Mulai Tahun

1997

7 3. Keragaan Sifat Morfologi, Hasil dan Mutu Tiga Tipe Jahe 8 4. Penampilan Hasil Rerata Bobot dan Tinggi Rimpang Tiga Jenis Tipe

Jahe pada Berbagai Lokasi dengan Ketinggian Berbeda

9 5. Rerata Bobot Rimpang per Rumpun 18 Nomor Jahe pada Beberapa

Lokasi

10 6. Bahan Aktif dan Efek Farmakologis Jahe Merah 19 7. Persentase Daya Tumbuh Bibit Jahe pada Pertanaman I dan II 22 8. Pertumbuhan dan Produksi Jahe (3.5 Bulan Setelah Tanam) pada Media

Humus dan Pupuk Kandang

28 9. Pengaruh Pupuk Organik terhadap Bobot Rimpang Kering per Rumpun

dan per Ha

28 10. Rerata Bobot Rimpang Jahe Basah dengan Perlakuan Pemberian

Dolomit dan Waktu Pemberian Dolomit

29 11. Pengaruh Jarak Tanam Jahe Badak dengan Berbagai Variasi Jarak

Tanam

31 12. Dosis Kebutuhan Pupuk Selama Satu Musim Jahe 34 13. Produksi Rimpang Jahe Sunti pada Umur 150 dan 180 Hari bila

Dipupuk Urea

34 14. Bobot Rimpang Jahe Umur 4 Bulan dengan Penambahan Pupuk NPK

(15-15-15)

35 15. Bobot Rimpang Jahe dengan Kombinasi Pemupukan Fosfor dan

Kalium pada Umur 16 Minggu

35 16. Bobot Rimpang Jahe Akibat Pemberian Pupuk NHS 36 17. Jumlah Telur yang Ditemukan pada Tanaman Sehat dan Tanaman Sakit

di Lapangan

36 18. Serangan Lalat M. coeruleifrons pada Tanaman Jahe yang Diinokulasi

dan Tanpa Dikurung

37 19. Rerata Larva dan Pupa M. coeruleifrons pada Berbagai Kombinasi

Perlakuan Pola Tanam Jahe

37 20. Pengaruh Abu Sekam dan Masa Inkubasi dan Intensitas Layu Fusarium 37 21. Kategori Ketahanan Tanaman Jahe terhadap Penyakit Layu Bakteri 38 22. Daya Antagonis Mikroba Rizosfer Hasil Isolat dari Pertanaman Jahe di

Lahan Terinfeksi

39 23. Daya Patogenitas Mikroba Rizosfer Hasil terhadap Rimpang Jahe 39 24. Pengaruh Pemberian Mikroba Rizosfer Antagonis terhadap

Pertumbuhan dan Penghambatan Penyakit Layu Bakteri

40 25. Pengaruh Pupuk Organik terhadap Indeks Panen 45 26. Bobot Segar Rimpang Jahe Umur 4 Bulan dengan Perlakuan Pemberian

Bahan Organik pada Tanah PMK

(7)

27. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Dosis Urea terhadap Bobot Rimpang Basah per Rumpun Tanaman Jahe Gajah Umur 16 Minggu Setelah Tanam

51

28. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Dosis Urea terhadap Bobot Rimpang Kering per Rumpun Tanaman Jahe Gajah Umur 16 Minggu Setelah Tanam

51

29. Pengaruh Dosis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan Jahe (Zingiber officinale) di Keranjang

52 30. Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang terhadap Bobot Segar Akar,

Batang, Daun, Rimpang dan Diameter Rimpang Jahe

54 31. Kesehatan Jahe pada Umur 3 Bulan Setelah Tanam pada Berbagai

Pemberian Bahan Organik

56 32. Rataan Bobot Rimpang dari Perlakuan Pupuk Organik dan Media Tanam 56 33. Kadar Air dan Kadar Minyak Atsiri Jahe Merah, Jahe Gajah, dan Jahe

Emprit pada Berbagai Umur Panen

57

34. Syarat Umum Standar Mutu Jahe 61

35. Spesifikasi Persyaratan Mutu Benih (Rimpang) yang Siap Tanam (SNI 01-7153-2006)

62 36. Persyaratan Khusus Mutu Benih Jahe (SNI 01-7153-2006) 62

37. Syarat Mutu Jahe Kering (SNI 01-3393-1994) 68

38. Pengaruh Ketebalan Irisan Jahe terhadap Kadar Air Akhir Jahe Merah yang Dikeringkan secara Kemoreaksi

71 39. Pengaruh Ketebalan Irisan Jahe terhadap Kadar Air Akhir Jahe Gajah

yang Dikeringkan secara Kemoreaksi

71 40. Pengaruh Ketebalan Irisan Jahe terhadap Kadar Air Akhir Jahe Emprit

yang Dikeringkan secara Kemoreaksi

71 41. Pengaruh Metode Pengeringan terhadap Kadar Air dan Kadar Minyak

Atsiri Jahe Merah

73 42. Pengaruh Metode Pengeringan terhadap Kadar Air dan Kadar Minyak

Atsiri Jahe Gajah

74 43. Pengaruh Metode Pengeringan terhadap Kadar Air dan Kadar Minyak

Atsiri Jahe Emprit

74 44. Kadar Air dan Kadar Minyak Atsiri Jahe Merah, Jahe Gajah, dan Jahe

Emprit yang Dikeringkan secara Kemoreaksi dengan Perbandingan antara Kapur Api dan Jahe 3 : 1

74

45. Spesifikasi Persyaratan Umum Simplisia Jahe (SNI 01-7084-2005) 75

46. Standar Mutu Simplisia Jahe 76

47. Spesifikasi Persyaratan Khusus Simplisia Jahe (SNI 01-7084-2005) 76 48. Persyaratan Mutu Jahe Berdasarkan Permintaan Pembeli di Australia 79

49. Standar Mutu Minyak Atsiri Jahe 82

50. Produksi Tanaman Biofarmaka di Indonesia Tahun 1999-2003 92 51. Analisis Usahatani Budidaya Jahe Sistem Keranjang 93 52. Jenis Biofarmaka yang Dominan Dipasok Negara Industri Farmasi 94 53. Kebutuhan Industri Obat Tradisional Akan Berbagai Jenis Biofarmaka 95 54. Nilai Ekspor Jahe Dunia dan Ekspor 10 Negara Pesaing Tahun 2000 96

55 Analisis Biaya Pembuatan Kompos 97

(8)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

1. Rimpang Jahe Gajah 4

2. Rimpang Jahe Merah 4

3. Komponen Non Volatile pada Jahe 13

4. Pembersihan Rimpang Jahe untuk Bakal Bibit 25

5. Rimpang Jahe Ditiriskan Setelah Dicuci Bersih 25 6. Rimpang Jahe Direndam Setelah Dicuci dalam Larutan Fungisida 25

7. Penutupan Rimpang Jahe di Pesemaian 26

8. Tanaman Jahe Umur 2 Bulan yang Diberi Naungan Tanaman Ubi Kayu 42 9. Penggunaan Keranjang dengan Anyaman Bambu Jarang 43 10. Penggunaan Keranjang dengan Anyaman Bambu Rapat 43 11. Alternatif Lain Budidaya Jahe Sistem Keranjang 44

12. Bibit Jahe Siap untuk Ditanam 46

13. Awal Gejala Penyakit Bercak Daun 49

14. Perluasan Gejala Penyakit Bercak Daun, Daun Mulai Menguning 49

15. Alat Pengering Tenaga Surya Model AIT 67

16. Diagram Alir Proses Pengolahan Simplisia Jahe 70

(9)

BAB I

SEJARAH SINGKAT TANAMAN JAHE

Tujuan Instruksional: Menjelaskan asal usul dan penyebaran tanaman, nama daerah dan nama asing, klasifikasi, deskripsi dan jenis-jenis tanaman jahe.

Pendahuluan

Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan salah satu dari temu-temuan suku Zingiberaceae yang menempati posisi sangat penting dalam perekonomian masyarakat Indonesia. Jahe berperan penting dalam berbagai aspek berupa kegunaan, perdagangan, kehidupan, adat kebiasaan, kepercayaan dalam masyarakat bangsa Indonesia yang sifatnya majemuk dan terpencar-pencar. Jahe juga termasuk komoditas yang sudah ribuan tahun digunakan sebagai bagian dari ramuan rempah-rempah yang diperdagangkan secara luas di dunia ini. Walaupun tidak terlalu menyolok, penggunaan komoditas jahe berkembang dari waktu ke waktu, baik itu mengenai jumlah, variasi, kegunaan maupun mengenai nilai ekonominya.

Asal Usul dan Penyebaran Tanaman Jahe

Jahe merupakan tanaman obat dan rempah berupa tumbuhan rumpun berbatang semu dan merupakan rimpang dari tanaman bernama ilmiah Zingiber officinale Rosc. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional.

Tanaman jahe di dunia tersebar di daerah tropis, di benua Asia dan Kepulauan Pasifik. Akhir-akhir ini jahe dikembangkan di Jamaica, Brazil, Hawai,Afrika, India, China dan Jepang, Filipina, Australia, Selandia Baru, Thailand dan Indonesia. Jahe tumbuh di Indonesia ditemukan di semua wilayah Indonesia yang ditanam secara monokultur dan polikultur (Hasanah, et al., 2004)

Dalam dunia perdagangan, penamaan jahe didasarkan kepada daerah asalnya, misal jahe Afrika, jahe Chochin atau jahe Jamika. Sejak 250 tahun yang lalu, jahe di Cina sudah digunakan sebagai bumbu dapur dan obat. Di Malaysia, Filipina, dan Indonesia jahe banyak digunakan sebagai obat tradisional. Sedangkan di Eropa pada abad pertengahan, jahe digunakan sebagai aroma pada bir (Hardianto, 2005).

(10)

Tengah (Magelang, Boyolali, Salatiga), Jawa Timur (Malang Probolinggo, Pacitan), Sumatera Utara (Simalungun), Bengkulu dan lain-lain (Hasanah, et. al, 2004).

Nama Daerah Tanaman Jahe

Sumatera : halia (Aceh), beuing (Gayo), bahing (Batak Karo), pege (Toba), sipode (Mandailing), lahia (Nias), alia jae (Melayu), sipadeh (Minangkabau), pege (Lubu), jahi (Lampung).

Jawa : Jahe (Sunda), jae (Jawa), jhai (Madura), jae (Kangean) Bali : jae, jahya, lahya, ciplakan

Kalimantan : lai (Dayak)

Nusa Tenggara : reja (Bima), alia (Sumba), lea (Flores)

Sulawesi : luya (Mongondow), moyuman (Boros), melito (Gorontalo), yuyo (Buol), kuya (Baree), goraka (Manado), pase (Bugis)

Maluku : Laiasehi, sehi (Hila), sehil (Nusa laut), siwei (Buru), geraka (Ternate), gora (Tidore), laian (Aru), leya (Arafuru), pusu, seeia, sehi (Ambon), hairalo (Amahai.

Papua : lali (Kalana Fat), Marman (Kapaaur)

Nama Asing Tanaman Jahe

Halia, haliya padi, haliya udang (Malaysia) ; luya, allam (Filipina) ; adu, ale, ada (India) ; sanyabil (Arab) ; chiang p’I, khan ciang, kiang, sheng chiang (Cina), gember (Belanda) ; ginger (Inggris) ; gingembre, herbe au giingembre (Perancis).

Keanekaragaman nama tanaman jahe menunjukkan bahwa penyebaran jahe telah meluas ke berbagai belahan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa telah banyak orang yang mengetahui dan menggunakan jahe sejak zaman dahulu.

Klasifikasi Tanaman Jahe

Divisi : Spermatophyta Sub-divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Zingiberales Famili : Zingiberaceae Genus : Zingiber

Species : Zingiber officinale Rosc.

(11)

Nama Zingiber berasal dari bahasa Sansekerta ”Singeberi”. Kata ”Singeberi” dalam Bahasa Sansekerta itu berasal dari Bahasa Arab ”Zanzabil” atau Bahasa Yunani ”Zingiberi”.

Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Curcuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain.

Deskripsi Tanaman Jahe

Tanaman jahe tergolong terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Rimpang jahe berkulit agak tebal membungkus daging umbi yang berserat dan berwarna coklat beraroma khas. Bentuk daun bulat panjang dan tidak lebar (sempit). Berdaun tunggal, berbentuk lanset dengan panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm; bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm. Bunga memiliki 2 kelamin dengan 1 benang sari dan 3 putik bunga daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 – 1,75 cm; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm; tangkai putik ada 2.

Jenis Tanaman Jahe

Berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya dikenal 3 jenis jahe yaitu jahe putih/ kuning besar atau sering disebut jahe gajah, jahe putih kecil/jahe emprit dan jahe merah. Berikut dijelaskan gambaran umum ketiga jenis jahe tersebut.

1. Jahe putih/kuning besar/jahe gajah/jahe badak

Varietas jahe ini banyak ditanam di masyarakat dan dikenal dengan nama Zingiber officinale var. officinale. Batang jahe gajah berbentuk bulat, berwarna hijau muda, diselubungi pelepah daun, sehingga agak keras. Tinggi tanaman 55.88-88,38 cm. Daun tersusun secara berselang-seling dan teratur, permukaan daun bagian atas berwarna hijau muda jika dibandingkan dengan bagian bawah. Luas daun 24.87-27.52 cm2 dengan ukuran panjang 17.42-21.99 cm, lebar 2.00-2.45 cm, lebar tajuk antara 41.05-53.81 cm dan jumlah daun dalam satu tanaman mencapai 25-31 lembar.

(12)

kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bisa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.

Akar jahe gajah ini memiliki serat yang sedikit lembut dengan kisaran panjang akar 4.53-6.30 cm dan diameter mencapai kisaran 4.53-6.30 mm. Rimpang memiliki aroma yang kurang tajam dan rasanya kurang pedas. Kandungan minyak atsiri pada jahe gajah 0.82-1.66%, kadar pati 55.10%, kadar serat 6.89% dan kadar abu 6.6-7,5%.

Jahe gajah diperdagangkan sebagai rimpang segar setelah dipanen pada umur 8-9 bulan. Rimpang tua ini padat berisi. Ukuran rimpangnya 150-200 gram/rumpun. Ruasnya utuh; daging rimpangnya cerah; bebas luka dan bersih dari batang semu, akar, serangga tanah dan kotoran yang melekat.

Gambar 1. Rimpang Jahe Gajah Gambar 2. Rimpang Jahe Merah

2. Jahe putih/kuning kecil/jahe sunti/jahe emprit

Jahe ini dikenal dengan nama Latin Zingiber officinale var. rubrum, memiliki rimpang dengan bobot berkisar antara 0.5-0.7 kg/rumpun. Struktur rimpang kecil-kecil dan berlapis. Daging rimpang berwarna putih kekuningan. Tinggi rimpangnya dapat mencapai 11 cm dengan panjang antara 6-30 cm dan diameter antara 3.27-4.05 cm. Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Akar yang keluar dari rimpang berbentuk bulat. Panjang dapat mencapai 26 cm dan diameternya berkisar antara 3.91-5.90 cm. Akar yang banyak dikumpulkan dari satu rumpun dapat mencapai 70 g lebih banyak dari akar jahe besar.

Tinggi tanaman jika diukur dari permukaan tanah sekitar 40-60 cm sedikit lebih pendek dari jahe besar. Bentuk batang bulat dan warna batang hijau muda hampir sama dengan jahe besar, hanya penampilannya lebih ramping dan jumlah batangnya lebih banyak.

(13)

Kandungan dalam rimpang jahe emprit yaitu minyak atsiri 1,5-3,5%, kadar pati 54,70%, kadar serat 6,59% dan kadar abu 7,39-8,90%. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.

3. Jahe merah atau jahe sunti

Jahe merah/jahe sunti (Zingiber officinale var. amarum) memiliki rimpang dengan bobot antara 0.5-0.7 kg/rumpun. Struktur rimpang jahe merah, kecil berlapis-lapis dan daging rimpangnya berwarna merah jingga sampai merah, ukuran lebih kecil dari jahe kecil. Diameter rimpang dapat mencapai 4 cm dan tingginya antara 5,26-10,40 cm. Panjang rimpang dapat mencapai 12.50 cm. Jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi dibandingkan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.

Akar yang keluar dari rimpang berbentuk bulat, berdiameter antara 2,9-5,71 cm dan panjangnya dapat mencapai 40 cm. Akar yang dikumpulkan dalam satu rumpun jahe merah dapat mencapai 300 gram, jauh lebih banyak dari jahe gajah dan jahe emprit.

Susunan daun terletak berselang-seling teratur, berbentuk lancet dan berwarna hijau muda hingga hijau tua. Panjang daun dapat mencapai 25 cm dengan lebar antara 27-31 cm. Kandungan dalam rimpang jahe merah antara lain minyak atsiri 2,58-3,90%, kadar pati 44,99%, dan kadar abu 7,46%.

Jahe merah memiliki kegunaan yang paling banyak jika dibandingkan jenis jahe yang lain. Jahe ini merupakan bahan penting dalam industri jamu tradisional dan umumnya dipasarkan dalam bentuk segar dan kering.

(14)

Tabel 1. Nomor-Nomor Koleksi Jahe Hasil Eksplorasi dan Koleksi dari Beberapa Daerah Sebelum Tahun 1997

No. Nomor koleksi Nama lokal/daerah Daerah asal 1. Pasir Madang, Jawa Barat Pasir Madang, Jawa Barat Minahasa, Sulut

(15)

Tabel 2. Nomor-Nomor Jahe Hasil Eksplorasi dan Pengumpulan Mulai Tahun 1997

Sumber: Bermawie et al., 2003

(16)

Tabel 3. Keragaan Sifat Morfologi, Hasil, dan Mutu Tiga Tipe Jahe

No. Bagian tanaman Jahe besar Jahe kecil Jahe merah 1. Kadar sari dalam air Kadar sari dalam etanol

(17)

Tabel 4. Penampilan Hasil Rerata Bobot dan Tinggi Rimpang Tiga Jenis Tipe Jahe pada Berbagai Lokasi dengan Ketinggian Berbeda

Tipe jahe/lokasi Bobot rimpang/rumpun (g) Tinggi rimpang (cm)

Jahe putih besar

Cikampek (85 m dpl)

Cimanggu (240 m dpl)

Sukamulya (450 m dpl)

Cicurug (650 m dpl)

Manoko (1000 m dpl)

Gunung Putri (1200 m dpl)

Jahe putih kecil

Cikampek (85 m dpl)

Cimanggu (240 m dpl)

Sukamulya (450 m dpl)

Cicurug (650 m dpl)

Manoko (1000 m dpl)

Gunung Putri (1200 m dpl)

Jahe merah

Cikampek (85 m dpl)

Cimanggu (240 m dpl)

Sukamulya (450 m dpl)

Cicurug (650 m dpl)

Manoko (1000 m dpl)

Gunung Putri (1200 m dpl)

1080

(18)

Tabel 5. Rerata Bobot Rimpang per Rumpun 18 Nomor Jahe pada Beberapa Lokasi

Keterangan: JPB 13 lokasi, JPK 8 lokasi (kecuali JPK3 dan JPK7-3 lokasi) dan JM 3 lokasi

Sumber: Bermawie et al., 1999;2000;2001;2002, Hadad, 2000 dalam Bermawie et al., (2003)

Bermawie et al., (2003) menyimpulkan program perbaikan varietas melalui pemuliaan terbentur pada rendahnya keragaman genetik jahe. Upaya peningkatan keragaman genetik melalui eksplorasi ke berbagai daerah menghasilkan 44 nomor aksesi, namun nomor tersebut hilang akibat kurang rutinnya rejuvensi dan serangan penyakit layu bakteri. Eksplorasi lanjutan menghasilkan 36 nomor, diantaranya terpilih sebagai nomor harapan yang merupakan bahan untuk menghasilkan varietas unggul.

(19)

BAB II

MANFAAT TANAMAN JAHE

Tujuan Instruksional: Menjelaskan manfaat tanaman jahe dari segi makanan, minuman dan efek farmakologi.

Jahe merupakan salah satu tanaman obat komersial yang sudah banyak dikenal masyarakat karena banyak manfaatnya. Manfaat jahe yang sudah dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat baik di Indonesia maupun di negara-negara lain adalah sebagai obat gosok untuk penyakit encok, obat gosok untuk sakit kepala, bahan obat, bumbu masak, penyedap, minuman penyegar, manisan, penghangat badan, menghilangkan flu, masuk angin, mengatasi keracunan, mengatasi lemah syahwat, antioksidan, antimikroba dan antitusif. Sebagian besar kepercayaan masyarakat terhadap khasiat jahe ini sudah dapat dibuktikan secara ilmiah.

Penggunaan rimpang jahe tergantung pada klon (jenisnya). Jahe putih besar (gajah/badak) mempunyai rasa yang tidak terlalu pedas, dan umumnya digunakan sebagai bahan makanan seperti manisan, asinan atau minuman segar. Jahe putih kecil (jahe emprit) mempunyai rasa yang lebih pedas, umumnya digunakan untuk bumbu masak, sumber minyak atsiri dan pembuatan oleoresin sedangkan bubuknya dimanfaatkan dalam ramuan obat tradisional (jamu). Jahe merah (jahe sunti) mempunyai kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi (Yuliani et al, 1991) dan banyak digunakan sebagai obat tradisional, tetapi di Sulawesi dan Maluku klon ini justru digunakan sebagai bumbu masak.

Jahe merupakan tanaman multiguna. Rimpang jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman (bandrek, sekoteng, dan sirup). Jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibuat acar dan lalap. Bahkan dewasa ini para petani cabe menggunakan jahe sebagai pestisida alami.

(20)

Kandungan Senyawa Kimia pada Jahe

Komposisi kimia jahe terdiri dari minyak atsiri 2 - 3%, pati, resin, asam-asam organik, asam malat, asam oksalat dan gingerin (Depkes, 1989). Di samping itu, rimpang jahe juga mengandung lemak, lilin, karbohidrat, vitamin A, B dan C, mineral senyawa-senyawa flavonoid dan polifenol. Rimpang jahe juga mengandung enzim proteolitik yang disebut zingibain. Bahan aktif pada rimpang jahe terdiri atas:

• minyak atsiri 2-3% • Zingiberin

• kamfena • limonene • borneol • sineol • zingiberal • linalool • geraniol • gingerin

• kavikol • zingiberen • zingiberol • gingerol • Shogaol • minyak damar • pati

• asam malat • asam oksalat

Minyak atsiri merupakan campuran senyawa organik mudah menguap (volatile oil), tidak larut air dan mempunyai bau khas. Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 – 3 persen. Minyak ini kebanyakan mengandung terpen, fellandren, dextrokamfen, bahan sesquiterpen yang dinamakan zingiberen, zingeron damar, pati. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen (35%), kurkumin (18%), farnesene (10%) serta

bisabolene dan b-sesquiphellandrene dalam jumlah kecil. Di samping itu juga terdapat sedikitnya 40 hidrokarbon monoterpenoid yang berbeda seperti 1,8-cineole, linalool, borneol, neral dan geraniol (Govindarajan, 1982).

Kandungan minyak atsiri pada jahe merah yaitu sekitar 2,58-3,90%, dihitung berdasarkan berat kering. Kandungan atsiri pada jahe putih adalah 0.82-1.68%, sedangkan pada jahe putih kecil yaitu 1,5-3,3%. Senyawa minyak atsiri pada umumnya berwarna kuning, sedikit kental dan merupakan senyawa yang memberikan aroma pada jahe.

Kandungan minyak atsiri pada jahe sangat dipengaruhi umur tanaman dan umur panen. Semakin tua umur jahe maka semakin tinggi kandungan minyak atsirinya. Akan tetapi, selama dan sesudah pembungaan, persentase kandungan minyak atsiri berkurang sehingga tidak dianjurkan jahe dipanen pada saat itu.

(21)

Kandungan oleoresin pada tiap jenis jahe juga berbeda-beda. Oleoresin bisa mencapai 3% tergantung jenis jahe. Jahe merah rasa pedasnya tinggi karena kandungan oleoresinnya tinggi sedangkan jahe gajah dan jahe emprit rasa pedasnya kurang karena kadar oleoresinnya rendah.

Gambar 3. Komponen non Volatile pada Jahe

Persepsi sensori dari jahe di dalam mulut dan di hidung disebabkan komponen volatile

(minyak atsiri) dan non volatile (oleoresin). Minyak atsiri menimbulkan aroma harum pada jahe, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Minyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas.

Manfaat Jahe dalam Makanan dan Minuman

Saat ini pangan telah diandalkan sebagai pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh. Bahkan bila dimungkinkan, pangan harus dapat menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari penyakit tertentu. Dari sinilah lahir konsep pangan fungsional (functional foods), yang akhir-akhir ini sangat populer di kalangan masyarakat dunia. Pangan fungsional merupakan produk pangan yang memberikan keuntungan terhadap kesehatan. Pangan fungsional dapat mencegah atau mengobati penyakit (Goldberg, 1994).

(22)

serta dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya.

Rempah-rempah umumnya mengandung komponen bioaktif yang bersifat antioksidan (zat pencegah radikal bebas yang menimbulkan kerusakan pada sel-sel tubuh), dan dapat berinteraksi dengan reaksi-reaksi fisiologis, sehingga mempunyai kapasitas antimikroba, anti pertumbuhan sel kanker, dan sebagainya. Dari kelompok bahan pangan rempah-rempah, jahe merupakan komoditi yang paling banyak digunakan dan berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional. Luasnya penggunaan jahe disebabkan karena aroma yang khas, dapat diterima, dan dinikmati dalam lauk, kue, manisan, permen, maupun minuman.

Jahe merupakan jenis rempah-rempah yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi karena rimpangnya paling banyak digunakan baik sebagai bumbu dalam berbagai resep makanan, pemberi rasa dan aroma pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula maupun sebagai bahan dasar dalam pembuatan minuman. Jahe juga digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional atau diolah menjadi asinan jahe dan acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup.

Di Jepang, rebung atau tunas jahe dijadikan bahan sayur, acar, atau asinan. Hasil olahan itu sangat populer karena aroma dan cita rasanya yang khas. Terhadap tubuh, makanan dari rebung jahe membantu menyehatkan badan, memperlancar air seni, dan memperbaiki sistem pencernaan. Di Indonesia, mungkin baru orang Manado yang memanfaatkan rebung jahe sebagai salah satu pendamping nasi untuk lalapan didampingi sambal pedas. Cara memakannya selalu diikuti dengan meminum saguer (semacam tuak). Terkadang rebung jahe terlebih dahulu dimasukkan ke dalam saguer, dan supaya awet ke dalamnya diberi sedikit garam. Lalapan ini dipercaya dapat membuat tenaga menjadi berlipat ganda.

Efek Farmakologis Jahe

Rimpang jahe sudah digunakan sebagai obat di negara-negara Asia termasuk Indonesia, Cina, Arab dan India. Secara turun temurun jahe biasa digunakan masyarakat sebagai obat masuk angin, gangguan pencernaan, sebagai analgesik, antipiretik, anti-inflamasi, menurunkan kadar kolesterol, mencegah depresi, impotensia dan lain-lain. Di Cina jahe sudah digunakan secara intensif sejak lebih dari 2500 tahun yang lalu untuk mengobati sakit kepala, mual/muntah dan batuk (Grant and Lutz, 2000).

Menurut Farmakope Belanda, Zingiber rhizoma yang berupa rimpang mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering dipakai sebagai rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia. Di negara Malaysia, Filipina dan Indonesia telah banyak ditemukan manfaat therapeutis.

(23)

a. Anti Inflamasi, Antioksidasi dan Anti Kanker

Hasil uji farmakologi menunjukkan bahwa jahe mempunyai aktivitas sebagai anti inflamasi. Uji laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak jahe dalam air panas menghambat aktivitas

siklooksigenase dan lipoksigenase sehingga menurunkan kadar prostaglandin dan leukotriena

(mediator inflamasi). Pemberian secara per oral dari ekstrak jahe pada tikus menurunkan bengkak.

Hasil penelitian membuktikan bahwa secara in-vitro komponen aktif pada jahe dapat digunakan sebagai anti inflamasi (Kiuchi et al., 1982; Mascolo et al., 1989). Kemampuan sebagai antioksidan dan anti inflamantori jahe ini berkontribusi terhadap aktivitasnya sebagai antikarsinogenik dan antimutagenik.

Antioksidan merupakan senyawa berberat molekul kecil yang dapat bereaksi dengan oksidan sehingga reaksi oksidasi yang merusak biomolekul dapat dihambat (Langseth, 1995). Beberapa macam penyakit yang disebabkan oleh oksidan seperti kardiovaskular, kanker, dan katarak dapat dihambat oleh antioksidan (Supari, 1996). Kebanyakan efek membahayakan yang potensial dari oksidan berasal dari spesies oksigen reaktif (ROS) seperti radikal bebas, yang dapat berasal dari polusi, debu, maupun diproduksi secara kontinyu sebagai konsekuensi metabolisme normal.

Jahe mengandung komponen kimia turunan fenol yang dapat bersifat sebagai antioksidan, antara lain gingerol dan zingeberon. Senyawa-senyawa ini mampu menginaktifkan atau menetralisir Reactive Oxygen Species, penyebab stress oksidatif dalam tubuh, sehingga tidak sempat bereaksi dengan komponen-komponen biologis baik seluler, subseluler, sel imun, molekuler maupun jaringan. Senyawa-senyawa antioksidan jahe ini mempunyai aktivitas antioksidan di atas vitamin E (Kikuzaki and Nakatani 1993). Konsumsi jahe setiap hari dapat meningkatkan aktivitas sel T dan daya tahan limfosit terhadap stres oksidatif (Nurrahman et al., 1999).

Antioksidan dari jahe dapat diekstraksi dengan menggunakan pelarut diklorometan ataupun etanol. Penelitian yang dilakukan oleh Kikuzaki dan Nakatani (1993) menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak diklorometana jahe fraksi 1 sampai 11 yang dipisahkan dengan kolom kromatografi dan HPLC dan a-tokoferol lebih besar dibandingkan ekstrak etanol jahe. Antioksidan jahe juga dapat diekstraksi dengan menggunakan air, meskipun aktivitas antioksidannya lebih kecil dari pada aktivitas antioksidan jahe yang diekstraksi dengan diklorometana. Hasil penelitian Septiana et al., (2002) menunjukkan bahwa ekstrak air jahe yang berasal dari jahe segar maupun ekstrak air jahe dari jahe bubuk dan ekstrak diklorometana jahe mempunyai aktivitas antioksidan terhadap asam linoleat terbukti dari kemampuannya dalam menghambat pembentukan malonaldehida. Hal ini memungkinkan untuk diperolehnya manfaat antioksidan dari jahe dengan cara mengkonsumsi sari jahe ataupun sirup jahe.

(24)

diklorometana yang lebih besar dibandingkan ekstrak air jahe juga berhubungan dengan kadar Fe ekstrak diklorometana yang lebih kecil dibandingkan ekstrak air jahe. Kadar Fe ekstrak diklorometana jahe, ekstrak air dari jahe segar, dan ekstrak air dari jahe bubuk masing-masing adalah 2,4, 30,8 dan 32,0 mg/g (Septiana et al., 2002). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa antioksidan fenolik pada jahe dapat digunakan untuk menghambat autooksidasi dari lemak dan minyak. Antioksidan ini dapat menangkap radikal bebas yang dihasilkan selama tahap propagasi dari lemak atau minyak dengan cara mendonasikan radikal hydrogen sehingga radikal lemak tidak aktif melaksanakan tahap propagasi yang akan merusak lemak.

Beberapa hasil penelitian yang menunjukkan kemampuan jahe mencegah kanker adalah sebagai berikut:

• Ekstrak alkohol dari jahe dengan konsentrasi 0.2-1 mg/ml dapat menghambat pertumbuhan sel tumor pada manusia dan harmster secara in-vitro (Unnikrishnan and

Kuttan, 1988).

• Beberapa komponen yang terdapat di dalam jahe dapat mencegah pertumbuhan kanker dengan cara mentransformasi sel kanker. Oleoresin jahe yang terdiri dari 6-gingerol, vaniloid dan 6-paradol dapat menekan proliferasi sel kanker pada manusia melalui proses apoptosis (Lee and Surh, 1998, Lee et al., 1998), serta dapat menurunkan viabilitas sel HL-60 (promyelocytic leukemia) pada manusia (Lee and Surh, 1998).

• β-elemene adalah obat antikanker terbaru yang diekstrak dari tanaman jahe. Bahan ini dapat memicu apoptosis dari sel kanker paru-paru melalui pelepasan mitokondrial dari jalur apoptosi pada sitokrom-c (Shukla and Singh, 2007).

• Derivatif gingerdion yaitu 1-(3,4-Dimetoksifenil)-3,5-dodesenedion efektif digunakan sebagai bahan antitumor pada sel leukemia manusia (Hsu et al., 2005).

• Komponen zerumbone dari jahe mempunyai aktivitas sebagai antiproliferatif dan antiinflamasi (Takada et al., 2005).

• Gingerol pada jahe juga mempunyai kemampuan untuk menekan pertumbuhan karsinogenesis pada kulit tikus (Katiyar et al., 1996, Park et al., 1998).

• Jahe telah lama digunakan dalam mecegah berbagai penyakit pencernaan dan jahe juga mempunyai aktivitas sebagai bahan pencegah kanker usus (chemopreventive dan/atau chemotherapeutic) (Bode, 2003, Dias et al., 2006).

• Pemberian ekstrak air panas dari jahe secara terus menerus pada tikus dapat mencegah perkembangan kanker payudara (Nagasawa et al., 2002).

• Komponen bioaktif jahe dapat meningkatkan respons sitolitik dari sel Natural Killer (NK cell) dalam menghancurkan sel kanker

b. Meningkatkan Sistem Kekebalan dan Daya Tahan Tubuh

Ekstrak jahe dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang direfleksikan dalam sistem kekebalan, yaitu memberikan respons kekebalan inang terhadap mikroba pangan yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini disebabkan karena ekstrak jahe dapat memacu proliferasi limfosit dan menekan limfosit yang mati (Zakaria et al.1996) serta meningkatkan aktivitas fagositas makrofag (Zakaria dan Rajab 1999). Ekstrak jahe juga mampu meningkatkan aktivitas salah satu sel darah putih, yaitu sel natural killer (NK) dalam melisis sel targetnya, yaitu sel tumor dan sel yang terinfeksi virus (Zakaria et al., 1999). Studi pada mahasiswa yang diberi minuman jahe menunjukkan adanya perbaikan sistem imun (kekebalan tubuh) (Zakaria et al.,

(25)

Hasil penelitian mendukung keyakinan masyarakat bahwa jahe mempunyai kapasitas sebagai anti masuk angin, suatu gejala menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang virus misalnya influenza. Peningkatan aktivitas sel NK membuat tubuh tahan terhadap serangan virus karena sel ini secara khusus mampu menghancurkan sel yang terinfeksi oleh virus. Dari hasil penelitian diketahui bahwa komponen bioaktif jahe yaitu oleoresin, gingerol dan shogaol dapat meningkatkan kadar glutation di dalam limfosit yang mengalami stress oksidatif. Glutation (γ-glutamil-sisteinil-glisin) adalah komponen non protein yang terdapat di dalam jaringan hewan dan sel-sel eukariotik, dan berperan dalam fungsi-fungsi sel seperti sintesis DNA dan protein, detoksifikasi komponen xenobiotik serta menjaga fungsi imun (Tejasari dan Zakaria, 2006).

Jahe juga mempunyai aktivitas antiemetik dan digunakan untuk mencegah mabuk perjalanan. Komponen gingerol dan shogaol pada jahe juga mempunyai aktivitas antirematik sehingga jahe dapat berfungsi sebagai anti-inflamasi rematik arthritis kronis (Kimura et al., 1997). Hasil penelitian di Cina melaporkan bahwa pada 113 penderita rematik dan sakit punggung kronis yang disuntik 5 – 10% ekstrak jahe memberikan efek pengurangan rasa sakit, menurunkan pembengkakan tulang sendi. Pemberian secara per oral serbuk jahe pada penderita rematik dan musculoskeletal dilaporkan menurunkan rasa sakit dan pembengkakan.

c. Menambah Nafsu Makan dan Memperbaiki Pencernaan

Khasiat lain dari jahe adalah sebagai antiemetik (antimuntah) dan sangat berguna pada ibu hamil untuk mengurangi morning sickness. Suatu penelitian melaporkan bahwa jahe sangat efektif menurunkan metoklopamid senyawa penginduksi nusea (mual) dan muntah.

Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Hal ini dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan usus oleh minyak atsiri yang dikeluarkan rimpang jahe. Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda. Jahe mampu memblok serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual termasuk mual akibat mabok perjalanan. Mengunyah jahe dapat merangsang pengeluaran air liur dan cairan pencernaan, juga mengurangi mual dan muntah. Wanita hamil juga dianjurkan agar mengonsumsi jahe untuk menghilangkan rasa mual dan muntah selama kehamilan. Pembuktian ilmiah telah dilakukan di Inggris yang menunjukkan jahe efektif mengurangi mual bahkan mual yang timbul setelah operasi.

Jahe juga dapat membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan membantu mengeluarkan angin. Rasa jahe yang tajam merangsang nafsu makan, memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung. Enzim pencernaan yaitu protease dan lipase yang terdapat pada jahe juga membantu meningkatkan proses pencernaan.

d. Menstimulasi Sistem Saraf Pusat

(26)

Contoh senyawa yang digunakan sebagai stimulant SSP adalah kafein dan amfetamin (Mushler and Bird, 1969). Penggunaan stimulant SSP dapat menimbulkan perasaan nyaman, meningkatkan kepercayaan diri, kekuatan, keberanian dan daya pikir, disamping mengurangi rasa lelah dan mengantuk.

Rimpang jahe digunakan sebagai minuman penyegar untuk menghilangkan rasa letih dan penat sejak dahulu oleh kalangan masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya (Wijayakusumah, 2001). Hal ini dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Suwendar et al., (2004) yang menyatakan bahwa pemberian infusa rimpang jahe yang diberikan secara oral memberikan efek stimulan sistem saraf pusat berupa peningkatan rasa ingin tahu dan aktivitas motorik berdasarkan uji sangkar putar pada mencit. Sediaan infusa jahe dibuat dengan cara memanaskan 10 gram simplisia kering jahe di dalam 100 ml air di atas penangas air bersuhu 90oC selama 15 menit sambil diaduk. Infusa ini diberikan kepada mencit putih jantan galur Swiss-Webster dengan berat antara 20-27 gram berumur 4-6 minggu. Dosis infusa rimpang jahe uji yang diberikan adalah 305 mg/kg bb (dosis I); 610 mg/kg bb (dosis II) dan 1220 mg/kg bb (dosis III). Aktivitas motorik dan rasa ingin tahu mencit diuji dengan menggunakan metode sangkar putar, metode ketahanan berenang, metode papan datar dan metode meja miring.

Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa infusa rimpang jahe yang diberikan secara oral memberikan efek stimulan sistem saraf pusat berupa peningkatan rasa ingin tahu dan aktivitas motorik berdasarkan uji sangkar putar. Infusa rimpang jahe dosis 305 mg/kg bb dan 1220 mg/kg bb meningkatkan jumlah putaran pada uji roda sangkar putar pada menit ke-60 sampai ke-90. Infusa rimpang jahe dengan dosis 610 mg/kg bb dapat meningkatkan jumlah putaran pada uji roda sangkar putar pada menit ke 75-90. Pada metode meja datar, pemberian infusa rimpang jahe dapat meningkatkan rasa ingin tahu pada dosis 1220 mg/kg bb yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah jengukan. Pada metode papan miring pemberian infusa rimpang jahe dapat mempercepat waktu pertama kali mencit menaiki papan pada dosis 1220 mg/kg bb.

Efek yang ditimbulkan oleh infus rimpang jahe lebih mendekati kerja amfetamin dibanding kafein (Suwendar et al., 2004). Amfetamin sebagai stimulan SSP bekerja menstimulasi pelepasan neurotransmitter katekolamin seperti dopamin atau noradrenalin dengan menghambat ambilan kembali dan memfasilitasi kerja (membebaskan) katekolamin sehingga efek terhadap perilaku adalah dapat meningkatkan kewaspadaan, menekan perasaan letih, mengurangi nafsu makan, menimbulkan perasaan kemampuan diri berlebih, insomnia, meningkatkan inisiatif serta euphoria, sehingga amfetamin lebih berefek kepada peningkatan rasa ingin tahu.

e. Antikoagulan

Gingerol pada jahe bersifat sebagai antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah sehingga dapat mencegah tersumbatnya pembuluh darah yang menjadi penyebab utama stroke, dan serangan jantung. Gingerol juga diduga membantu menurunkan kadar kolesterol di dalam darah.

(27)

f. Pestisida Alami

Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman umumnya dilakukan dengan menggunakan pestisida. Petani sebagai pelaku utama kegiatan pertanian sering menggunakan pestisida sintetis secara berlebihan terutama untuk penyakit-penyakit tanaman yang sulit dikendalikan. Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana seringkali menimbulkan masalah kesehatan, pencemaran lingkungan dan gangguan keseimbangan ekologis. Oleh karena itu perhatian pada alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan semakin besar untuk menurunkan penggunaan pestisida sintetis (Reintjes et al, 1999), misalnya dengan penggunaan pestisida alami.

Jahe merupakan salah satu bahan alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida karena kemampuannya untuk menghambat perkembangan penyakit pada tanaman, misalnya pada tanaman cabe.

Tabel 6. Bahan Aktif dan Efek Farmakologis Jahe Merah

No. Nama zat aktif Efek farmakologis

1.

Menghambat jamur Candida albicans, antikholinesterase, obat flu.

Mengatasi ejakulasi prematur anestetik, antikolinesterase, perangsang aktivitas syaraf pusat, merangsang ereksi, merangsang keluarnya keringat dan penguat hepar.

Merangsang keluarnya ASI, menghambat kerja enzim siklo-oksigenase, penekan prostaglandin.

Anti pendarahan di luar haid, merangsang kekebalan tubuh, merangsang produksi getah bening

Mencegah kemandulan, memperkuat daya tahan sperma

Perangsang syaraf, penyegar

Perangsang hormon androgen, menghambat hormon estrogen, mencegah per-lipoprotein, melemahkan bahan baku sperma, bahan baku feroid.

Anti jamur Candida albicans

Merangsang ereksi, menghambat keluarnya enzim 5-lipoksigenase dan siklooksigenase, meningkatkan aktivitas kelenjar endokrin

Mencegah poses penuaan, merangsang regenerasi sel kulit, farnesal.

Bahan pewangi makanan, parfum, merangsang regenerasi sel normal

(28)

BAB III

SYARAT TUMBUH TANAMAN JAHE

Tujuan Instruksional: Menjelaskan lingkungan tumbuh yang sesuai bagi tanaman jahe ditinjau dari lingkungan abiotik (keadaan iklim dan tanah) dan lingkungan biotik (keberadaan hama, patogen dan gulma).

Agroekosistem sangat berperan penting dalam keberhasilan budidaya suatu jenis tanaman. Pertumbuhan jahe sangat dipengaruhi kondisi lingkungan abiotik dan biotik. Kondisi abiotik seperti iklim dan tanah memegang peranan yang sangat penting. Jahe pada umumnya cocok ditanam pada tanah yang subur dan gembur, banyak mengandung bahan organik (humus) dengan drainase dan aerasi bagus.

Lingkungan abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi jahe meliputi semua makhluk hidup seperti hama, patogen dan gulma yang mengganggu pertanaman jahe.

Keadaan Iklim dan Tanah

Faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman jahe adalah iklim yang meliputi curah hujan, ketinggian tempat, suhu dan kelembaban udara. Faktor-faktor lingkungan yang kurang sesuai dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi rimpang jahe. Oleh karena itu, perlu dilakukan beberapa manipulasi sehingga diperoleh kondisi lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan jahe.

Iklim

Menurut Oldeman tipe iklim di Indonesia yaitu tipe A, B, C, D dan E. Tipe iklim yang paling sesuai untuk tanaman jahe adalah tipe iklim A, B dan C1. Contohnya pada daerah Sukabumi, Bengkulu, Lampung dan Sumatera Barat. Berikut akan dijelaskan syarat tumbuh tanaman jahe ditinjau dari faktor-faktor iklim:

a. Curah hujan

(29)

b. Sinar matahari

Cahaya matahari mempengaruhi pertumbuhan dan produksi melalui fotosintesis dan reaksi fotoperiodisitas. Pengaruh intensitas penyinaran terhadap pertumbuhan tanaman lebih besar dibandingkan dengan pengaruh mutu penyinaran. Pada tanaman jahe sinar matahari diperlukan dalam pertumbuhan tanaman dan untuk mendapatkan rimpang yang baik terutama pada saat pembentukan rumpun/anakan.

Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.

Hasil penelitian Prasetyo, et al., (2006) menyatakan tanaman jahe merah masih dapat tumbuh hingga intensitas naungan 50% di bawah tegakan pohon karet (umur 25 tahun). Entang et al., (2002) melaporkan bahwa penggunaan naungan paranet dengan intensitas naungan 25 dan 50% lebih mempengaruhi pertumbuhan dan hasil jahe merah sedangkan jahe emprit tumbuh baik pada intensitas naungan 50%.

c. Suhu udara

Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 25-35°C. Temperatur di atas 35oC dapat menyebabkan daun menjadi hangus dan mengering. Suhu yang semakin rendah mengakibatkan umur jahe semakin panjang.

d. Ketinggian tempat

Jahe tumbuh baik umumnya pada ketinggian antara 300-900 m di atas permukaan laut (dpl). Walaupun demikian, budidaya jahe pada lahan dengan ketinggian 1.200 m dpl merupakan salah satu alternatif usaha agar memperoleh pertanaman jahe sehat. Hal tersebut karena pada ketinggian tersebut bakteri Pseudomonas solanacearum penyebab penyakit layu bakteri kurang berkembang, terlebih lagi jika didukung oleh pengolahan tanah yang baik. Karena itu dataran tinggi sangat cocok bagi kebun benih jahe. Pada ketinggian > 1.200 m di atas permukaan laut dengan suhu di bawah 24oC tanaman jahe akan tumbuh lebih lambat.

Tanah

Tanah yang akan dipergunakan untuk produksi jahe harus memenuhi beberapa syarat yaitu: 1. Lahan bebas dari infeksi penyakit tular tanah (soil borne) dan tular benih (seed borne).

Lahan lokasi pertanaman yang telah terinfeksi penyakit layu bakteri yang merupakan salah satu penyakit soil borne, hanya bisa diusahakan setelah 5 tahun. Lokasi pertanaman jahe yang dibudidayakan secara organik dilakukan secara terpisah dengan pertanaman jahe tidak organik.

2. Lahan bersih dari gulma agar mencegah persaingan dalam penyerapan unsur hara, air dan sinar matahari.

(30)

Senyawa toksik yang ada dalam tanah karena adanya tanaman jahe yang mendahului dapat terbentuk dari senyawa-senyawa yang dilepaskan oleh tanaman tersebut dalam bentuk eksudat akar, baik yang bersifat toksik atau yang potensial toksik, pelepasan senyawa-senyawa organik dari bagian tanaman di atas tanah. Senyawa tersebut dapat juga terdapat pada tanah oleh aktivitas mikroorganisme yang merombak bahan-bahan organik dalam tanah (Borner, 1960; Tukey, 1969).

Pengaruh senyawa toksik tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit jahe pada pertanaman kedua di lapangan (Tabel 7). Fenomena tersebut karena jumlah senyawa toksik dalam tanah telah berkurang setelah melewati selang waktu 5-8 bulan setelah panen pertanaman pertama. Berkurangnya senyawa toksik tersebut bisa terjadi karena pencucian dan aktivitas mikroorganisme yang mengubah senyawa toksik menjadi non toksik.

Tabel 7. Persentase Daya Tumbuh Bibit Jahe pada Pertanaman I dan II

Status tanaman Populasi tanaman/ha

50.000 62,500 125.000

Tanaman I 58,79 53,47 55,37

Tanaman II * 63,43 56,60 55,37

Tanaman II ** 62,04 60,07 58,53

Keterangan:

* = ditanam 8 bulan setelah panen tanaman I ** = ditanam 5 bulan setelah panen tanaman I

4. Tanaman jahe menghendaki lahan subur, gembur dengan drainase dan aerasi baik, banyak mengandung bahan organik. Jenis tanah yang umum digunakan pada pertanaman jahe adalah tanah andosol, latosol merah coklat, asosiasi andosol latosol merah coklat, terutama pada lahan hutan yang baru dibuka.

Jenis tanah Andosol memiliki tingkat kesuburan yang paling baik dibandingkan jenis tanah lainnya. Jenis tanah Latosol merah coklat memiliki kesuburan yang sedang, tetapi struktur tanahnya relatif gembur.

Tekstur tanah juga akan mendukung pertumbuhan rimpang yang baik. Rimpang jahe akan berkembang baik pada struktur tanah gembur dengan fraksi liat, debu dan pasir yang relatif seimbang. Tekstur tanah dapat mempengaruhi bentuk, ukuran dan keutuhan saat rimpang dipanen.

5. Derajat kemasaman (pH) tanah yang toleran bagi jahe 4.3-7.4 dan pH optimum 6.8-7.0. Jika tanah belum memiliki kisaran pH tersebut maka perlu dilakukan pengapuran.

6. Tanaman jahe tidak cocok ditanam di tanah rawa dan tanah berat yang banyak mengandung fraksi liat dan pada tanah yang didominasi kandungan pasir kasar. Jahe juga tidak menghendaki tanah dengan sistem drainase jelek dan tergenang air. Genangan air dapat mengakibatkan rimpang menjadi busuk.

(31)

Lingkungan Biotik (Fisik)

Lingkungan biotik yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi jahe ada tidaknya serangan hama dan patogen serta persaingan dengan gulma.

Hama

Hama-hama yang sering di jumpai pada pertanaman jahe antara lain:

1. Kepik (Epilahra sp.) menyerang daun dan menyebabkan daun berlubang-lubang. 2. Hama penggerek pucuk batang dan ulat penggerek akar (Dichorcrotis puntiferalis)

menyerang akar tanaman sehingga menyebabkan daun dan tanaman layu akhirnya mati dan kering..

3. Lalat rimpang (Eumerus figurans Walker. dan Mimegrala coeruleifrons). Hama ini cukup serius dalam merusak pertanaman jahe dan mengakibatkan tanaman layu mengering dengan rimpang membusuk.

4. Lalat gudang yang bersifat saprofagus (Lamprolonchase sp. dan Chaetonerius sp. menyerang rimpang mulai dari pertanaman sampai gudang penyimpanan.

5. Kumbang Sitodrepa panacea dan Lesioderma serricorne merupakan hama gudang yang menyerang rimpang jahe di gudang penyimpanan.

Penyakit

Penyakit-penyakit yang sering menyerang tanaman jahe adalah: 1. Penyakit Busuk Rimpang

Penyakit busuk rimpang dapat mengakibatkan kegagalan panen. Penyebab busuk rimpang di Indonesia yaitu Fusarium sp. Seperti Fusarium oxysporum Schleht dan Fusarium sp.

zingiberi. Penyebab busuk rimpang di India yaitu Pythium aphanidermatum dan di Jepang

Pythium zingiberi, di Fiji Pythium gracile, di Thailand Pythium sp dan Phytophtora sp. Gejala penyakit dimulai dengan tanaman tampak layu pada umur 3 bulan, dimulai dengan menguningnya sisi-sisi tulang daun yang kemudian meluas ke seluruh helaian daun dan akhirnya mengering; pangkal batang membusuk dan mengeluarkan lendir. Penyakit ini cepat menjalar ke seluruh bagian tanaman. Hingga saat ini belum ada cara yang benar-benar efektif dalam mengendalikan penyakit busuk rimpang.

2. Penyakit layu bakteri

Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum pada tanaman jahe merupakan penyakit penting di beberapa negara di Asia, Australia dan Afrika, termasuk di Indonesia (Semangun, 2000). Di Indonesia penyakit ini dilaporkan pertama kali di Kuningan, Jawa Barat kemudian menyebar ke daerah lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi, Lampung, Sumatera Utara dan Bengkulu (Januwati, 1999). Gejalanya dimulai dari terlihatnya satu atau beberapa batang berubah menjadi layu dan daun-daun menguning, kering atau hitam mengatup. Dalam 2-4 hari batang mati rebah. Kemudian, secara berangsur-angsur gejala ini menular ke rumpun yang lain.

(32)

BAB IV

BUDIDAYA JAHE SECARA UMUM

Tujuan Instruksional: Menjelaskan budidaya jahe secara umum di lapangan yang meliputi pembibitan, persiapan lahan, persiapan media tanam, penanaman, pemeliharaan, penyulaman, pengendalian hama penyakit tanaman dan gulma, pembumbunan dan pemupukan.

Pembibitan

a. Pemilihan Bibit

Bibit jahe berkualitas adalah bibit yang memenuhi mutu genetik, mutu fisiologi (persentase daya tumbuh yang tinggi) dan mutu fisik. Mutu fisik pada bibit jahe yaitu bibit harus bebas hama dan penyakit, kriteria yang harus dipenuhi untuk mutu fisik antara lain bibit jahe yang dipilih berasal dari tanaman induk yang sehat dan berumur 9-12 bulan, bibit jahe diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar) dan telah mengalami penyimpanan selama 1-1.5 bulan. Rimpang bakal bibit harus dalam kondisi baik, kulit rimpang mulus (tidak terluka dan lecet), tidak memar, tidak terserang penyakit layu bakteri, busuk rimpang dan hama lalat rimpang serta mempunyai mata tunas. Volume kebutuhan bibit jahe per ha lahan adalah 1.2 – 3 ton, tergantung jarak tanam, pola tanam dan jenis jahe yang ditanam.

b. Teknik Persemaian Bibit Jahe

Bibit jahe harus dikecambahkan terlebih dahulu (tidak langsung ditanam di lapangan) supaya mendapatkan pertumbuhan tanaman yang serentak dan seragam. Karena itu perlu persiapan bibit untuk persemaian, cara penyemaian bibit dan teknik pemeliharaan persemaian.

Persiapan Bibit untuk Persemaian

Bibit jahe terpilih yang memenuhi kriteria mutu fisik, genetik dan fisiologi berupa rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering) kemudian disimpan kira-kira 1 – 1,5 bulan. Rimpang jahe yang akan disemaikan dicuci bersih kemudian ditiriskan hingga kering (Gambar 4 dan 5). Bibit jahe yang telah kering direndam dalam larutan fungisida (Dithane M-45) selama 0,5-1 jam kemudian ditiriskan kembali (Gambar 6). Selanjutnya bibit jahe dipatahkan dengan tangan atau dipotong dengan pisau dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas.

Cara Persemaian Bibit Jahe

Secara umum persemaian bibit jahe dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu persemaian pada peti kayu dan persemaian pada bedengan.

a. Persemaian pada peti kayu

(33)

peti kayu diletakkan bakal bibit selapis kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Lama persemaian kira-kira 2-4 minggu.

Gambar 4. Pembersihan Rimpang Jahe untuk Bakal Bibit

Gambar 5. Rimpang Jahe Ditiriskan Setelah Dicuci Bersih

(34)

b. Persemaian pada Bedengan

Persemaian pada bedengan dilakukan dengan pembuatan rumah persemaian sederhana. Ukuran rumah bedengan sebesar 10 x 8 m dapat digunakan untuk menyemaikan 1 ton jahe gajah. Rumah persemaian diberi naungan tepas untuk menghindari dari sinar matahari dan guyuran air hujan secara langsung. Bagian bawahnya dialasi tepas yang diberi alas batu bata untuk menjaga agar drainase lancar. Di atas tepas pada alas bedengan dihamparkan media persemaian berupa kompos dan pasir (3 : 1) secara merata kemudian rimpang jahe yang telah diberi perlakuan fungisida dan zat pengatur tumbuh disemaikan dengan cara disusun di atas hamparan media tanam dengan bakal tunas berada di atas. Lama persemaian pada bedengan kira-kira 1 bulan. Bedengan persemaian ditutup dengan pelepah kelapa sawit/kelapa untuk mempercepat perkecambahan. Jika bibit jahe telah mulai berkecambah maka tutup pelepah kelapa sawit/kelapa segera dibuka (Gambar 7).

Gambar 7. Penutupan Rimpang Jahe di Persemaian

Teknik Pemeliharaan Persemaian

Pemeliharaan bibit jahe di persemaian meliputi penyiraman dan pemupukan. Penyiraman pada persemaian bedengan dilakukan secara bersamaan 1-2 hari sekali pada sore hari sesuai kondisi cuaca. Pemupukan dilakukan dengan cara menyemprotkan pupuk organik cair (20 cc pupuk organik cair/10 liter air) secara merata menggunakan gembor siraman dengan frekuensi 1 minggu sekali.

Persiapan Lahan

(35)

a. Penentuan Lahan

Jahe cocok untuk diusahakan di lahan tegalan kering, karena bebas genangan air. Pertanaman jahe bisa juga menggunakan lokasi lahan sawah, dengan syarat dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu. Tanah sawah umumnya liat dan padat ketika kering dan cenderung bersifat asam (pH) rendah. Oleh karena itu dalam pengolahannya perlu masukan pupuk organik dan kapur yang banyak. Lokasi pertanaman jahe diusahakan merupakan lokasi yang sehat, tidak bekas pertanaman rimpang yang ada gejala penyakit layu bakteri, pisang-pisangan, solanacaeae, kacang-kacangan, atau tanaman inang pembawa layu bakteri. Lahan pertanaman maksimal hanya bisa ditanam 2 kali. Lokasi lahan yang dipilih untuk pertanaman jahe harus memenuhi kriteria syarat tumbuh dan kesesuaian lahan, yaitu diantaranya ketinggian tempat, curah hujan, suhu udara, pH, struktur dan tekstur tanah, kemiringan lahan dan ketersediaan naungan (Lihat Bab III Syarat Tumbuh Tanaman Jahe).

b. Pembukaan dan pengolahan Lahan

Pengolahan tanah merupakan persiapan yang pertama kali harus dikerjakan dengan matang. Seminggu sebelum tanam tanah harus telah siap diolah. Pengolahan tanah dilakukan 1-2 kali pembalikan agar tanah gembur. Cara pengolahan tanah yaitu tanah dibersihkan dari rumput dan gulma, kotoran kemudian dibajak (ditraktor) sedalam 20 cm. Pembajakan bertujuan untuk mendapatkan kondisi tanah gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu (gulma). Bersihkan akar dan kotoran yang terselip dalam bongkahan tanah. Selanjutnya tanah dihaluskan agar gembur dan remah, kemudian diratakan.

Di daerah banyak hujan, lahan perlu dibajak beberapa kali. Pembajakan itu akan membuat tanah lebih gembur, air tidak tergenang dan mudah meresap. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam dan sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg. Pemberian pupuk kandang disesuaikan dengan kondisi kesuburan tanah.

Hasil penelitian Trisilawati dan Gusmaini (1997) menunjukkan bahwa penggunaan humus yang berasal dari Bengkulu (ketebalan 5-20 cm) dan pupuk kandang (20-40 ton kotoran sapi/ha) sebagai media tanam jahe berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (tinggi, jumlah daun dan jumlah anakan), bobot rimpang segar dan bobot tanaman berumur 5 bulan (Tabel 8). Media tanam dengan ketebalan humus 20 cm menghasilkan kenaikan bobot rimpang segar, bobot tanaman dan jumlah anakan sebesar 772%, 548% dan 189% dibandingkan kontrol (media tanah). Penggunaan media humus dengan ketebalan 5 cm ternyata sudah memberikan pengaruh lebih baik terhadap parameter pertumbuhan (kecuali tinggi tanaman) dan produksi jahe dibandingkan media pupuk kandang.

(36)

kering per ha. Bobot rimpang basah dan rimpang kering tertinggi dihasilkan oleh pemberian pupuk kandang ayam, sedangkan terendah pada perlakuan bokashi (Tabel 9)

Tabel 8. Pertumbuhan dan Produksi Jahe (3.5 Bulan Setelah Tanam) pada Media Humus dan Pupuk Kandang (Trisilawati dan Gusmaini, 1997)

Perlakuan Tinggi

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) 5%.

Tabel 9. Pengaruh Pupuk Organik terhadap Bobot Rimpang Kering per Rumpun dan per Ha (Patmawati, 2007)

Perlakuan Bobot rimpang kering

per rumpun (g) per ha (ton)

Pupuk kandang ayam (25 ton/ha) 48,21 a 4,02 a

Pupuk kompos jerami (16.8 ton/ha) 31,51 b 2,63 b

Bokashi (26.3 ton/ha) 24,72 b 2,06 b

Solid (19.3 ton/ha) 27,16 b 2,25 b

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama adalah tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%.

c. Pembentukan Bedengan

Jahe dapat ditanam tanpa atau dengan bedengan. Penanaman tanpa bedengan dapat dilakukan di tempat-tempat yang jarang hujan dan lahannya rata. Pada lahan miring perlu dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 80-120 cm, ukuran tinggi 20-30 cm, sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak antar bedengan 30-50 cm. Pembuatan jarak antar bedengan juga bermanfaat sebagai saluran pembuangan air hujan yang berlebihan. Pada tempat-tempat miring, bedengan dibuat sejajar dengan kontur lahan untuk menghindari erosi. Pembuangan air harus diperhatikan karena jahe sentitif terhadap genangan air berlebihan. d. Pengapuran

Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, terutama fosfor (P) dan kalsium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit

(37)

biji. Gardner et al., (1991) menyatakan bahwa kalsium mempengaruhi ketersediaan nutrisi tanah yang lain dan ketersediaan nutrisi tanah. Meningkatnya ketersediaan nutrisi bagi tanaman didukung dengan perbaikan pH dan lingkungan perakaran yang menyebabkan peningkatan serapan hara yang berlangsung dengan baik. Efisiensi penyerapan akan meningkatkan biomassa tanaman yang berdampak pada peningkatan berat berangkasan tanaman.

Kebutuhan dolomit pada tanaman jahe disesuaikan dengan derajat keasaman (pH) tanah sebagai berikut:

a. pH < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha. b. pH 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.

c. pH 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.

Penelitian yang dilakukan oleh Damanik (2003) tentang Efek Kapur dan Waktu Pemberiannya terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jahe (Zingiber officinale Rosc) pada Medium Gambut menunjukkan bahwa pemberian 2 ton dolomit/ha pada waktu 4 minggu sebelum tanam memberikan bobot rimpang jahe basah terbaik (207.13 kg), jika diberikan 3 ton dolomit/ha menunjukkan kecenderungan penurunan bobot rimpang basah (Tabel 10).

Tabel 10. Rerata Bobot Rimpang Jahe Basah dengan Perlakuan Pemberian Dolomit dan Waktu Pemberian Dolomit (Damanik, 2003)

Perlakuan Waktu pemberian (Minggu Sebelum Tanam) Rerata

0 2 4

0 ton dolomit/ha 23,69 g 83,99 f 126,99 de 78,22 c

1 ton dolomit/ha 110,61 e 127,03 de 146,98 cd 128,21 b

2 ton dolomit/ha 165,68 b 140,65 d 207,13 a 171,15 a

3 ton dolomit/ha 160,73 bc 140,51 d 200,72 a 167,32 ab

Rerata 115,18 b 123,04 b 170,46 a

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji BNT

e. Pemberian Pupuk Dasar

Manfaat pemberian pupuk dasar adalah untuk mempertahankan kegemburan tanah, meningkatkan unsur hara dan membuat aerasi dan drainase lancar. Pada saat pembuatan bedengan atau meratakan tanah, lahan diberi pupuk dasar berupa pupuk kandang, kompos, blotong (ampas pabrik gula) dan bokashi. Pupuk organik yang digunakan harus benar-benar matang, tandanya berwarna hitam, tidak menggumpal (remah) dan tidak berbau.

(38)

f. Tanaman Pelindung (Naungan)

Tanaman jahe tidak menghendaki cahaya matahari penuh, sehingga perlu diberi naungan. Menurut Januwati dan Muhammad (1997) naungan dapat menurunkan suhu udara di sekitar tanaman jahe sehingga mengurangi laju respirasi. Jika suhu terlalu rendah maka umur tanaman menjadi semakin panjang. Prasetyo, et. al (2006) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat penaungan, suhu udara dan cahaya matahari di bawah naungan semakin rendah akan tetapi kelembaban udara semakin meningkat.

Untuk menghemat biaya maka lahan budidaya jahe dibuat di bawah tegakan tanaman tahunan (kelapa sawit, kelapa, karet, sengon, kopi) sehingga tidak perlu menanam tanaman naungan. Penelitian yang dilakukan Januwati et. al. (2000) mengemukakan bahwa naungan yang cocok tanaman jahe di bawah tegakan pohon kelapa berkisar antara 40-50%. Hasil penelitian Prasetyo, et. al (2006) menyatakan tanaman jahe merah masih dapat tumbuh hingga intensitas naungan 50% di bawah tegakan pohon karet (umur 25 tahun). Entang, et. al. (2002) melaporkan bahwa penggunaan naungan paranet dengan intensitas naungan 25 dan 50% lebih mempengaruhi pertumbuhan dan hasil jahe merah sedangkan jahe emprit tumbuh baik pada intensitas naungan 50%.

Teknik Penanaman Jahe

a. Waktu Tanam

Waktu tanam yang tepat untuk menanam jahe di tegalan adalah awal musim hujan, sekitar bulan September-Oktober. Hal ini dengan tujuan agar air terpenuhi untuk pertumbuhan rimpang jahe, sehingga dalam setahun hanya bisa menaman jahe satu kali saja. Akan tetapi, pada daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi sepanjang tahun maka waktu tanam dapat dilakukan sepanjang tahun.

Waktu tanam yang baik yaitu pada pagi hari sekitar jam 10 pagi atau sore hari setelah matahari tidak terik lagi. Penanaman jahe pada siang hari dikhawatirkan tunas akan mengalami stress sehingga layu dan mati.

b. Penentuan Pola Tanam

Tanaman jahe dapat dilakukan secara monokultur dan polikultur (tumpang sari). Pembudidayaan jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional, karena mampu memberikan produksi tinggi. Namun terkadang pembudidayaan tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian. Penanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan untuk mengurangi kerugian akibat naik turunnya harga, menekan biaya kerja (tenaga kerja, pemeliharaan tanaman, meningkatkan produktivitas lahan, memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma).

(39)

- Pola Tanam Monokultur

Jarak tanam jahe secara monokultur sangat tergantung kepada tujuan akhir panen jahe. Jarak tanam jahe untuk panen tua dengan menggunakan bedengan adalah jarak alur-alurnya 60 cm, bibit yang telah bertunas ditanam dalam alur sedalam 5-10 cm dengan jarak tanam 30 cm x 60 cm. Jarak tanam bisa dirapatkan, jika jahe akan dipanen muda. Jahe umumnya ditanam dengan potongan rimpang yang bertunas dengan arah mata tunas menuju ke lebar jarak tanam yang 60 cm, bukan ke arah yang 30 cm, agar rimpang dapat tumbuh leluasa menjadi besar. Penanaman diusahakan tidak terlalu dangkal dan terlalu dalam. Penanaman yang terlalu dalam akan mengakibatkan rimpang yang kurus dan panjang, sedangkan penanaman yang terlalu dangkal mengakibatkan rimpang mudah terkena matahari dan hujan. Jika terkena hujan maka rimpang akan berwarna hijau sedangkan jika terkena matahari maka rimpang akan keriput dan pertumbuhannya lambat. Oleh karena itu, bibit jahe umumnya ditanam sedalam 5 cm.

Setelah bibit ditanam dalam lubang tanam, maka rimpang ditutup dengan jerami padi tipis-tipis dan ditaburi dengan tanah halus hingga lubang tanamnya tertutup dan sejajar permukaan bedengan. Secara keseluruhan, permukaan lubang tanam dihaluskan dan diatasnya dihamparkan jerami padi untuk menghambat gulma dan menjaga kelembaban. Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) tentang penanaman jahe badak secara monokultur pada berbagai jarak tanam menunjukkan bahwa jarak tanam yang efisien adalah 40 cm x 40 cm dengan jumlah bibit 45.000 tanaman/ha. Jarak tanam itu menghemat penggunaan bibit hingga 25% dibandingkan jarak tanam 40 x 30 cm yang jumlahnya 60.000 tanaman/ha (Tabel 11).

Tabel 11. Pengaruh Jarak Tanam Jahe Badak dengan Berbagai Variasi Jarak Tanam (Agromedia Pustaka, 2007)

Jarak Tanam Populasi tanaman/ha Hasil Rimpang Segar/ha 40 x 30 cm

40 x 40 cm 60 x 30 cm 40 x 50 cm

60.000 45.000 40.000 36.000

22,33 ton 22,07 ton 19,52 ton 18,30 ton

- Pola Tanam Polikultur

Pola penanaman jahe secara polikultur biasanya dilakukan bersama tanaman bawang merah, kacang panjang, buncis, cabai rawit, mentimun, jagung atau papaya. Tujuannya untuk meningkatkan hasil per satuan luas tanam dan menjaga adanya fluktuasi harga yang tinggi pada jahe. Pengaruh negatif dari pola tanam polikultur hampir tidak ada, kecuali memerlukan pemeliharaan yang teliti sehingga menambah waktu kerja.

Beberapa pekebun jahe biasanya melakukan pola tanam polikultur dengan cara sebagai berikut:

Hari pertama : Jahe ditanam bersama mentimun dalam satu bedengan.

Hari ke-40 : Panen pertama tanaman mentimun. Saat jahe telah membentuk rumpun.

Gambar

Tabel 1.  Nomor-Nomor Koleksi Jahe Hasil Eksplorasi dan Koleksi dari Beberapa Daerah Sebelum Tahun 1997
Tabel 2. Nomor-Nomor Jahe Hasil Eksplorasi dan Pengumpulan Mulai Tahun 1997
Tabel 3. Keragaan Sifat Morfologi, Hasil, dan Mutu Tiga Tipe Jahe
Tabel 4. Penampilan Hasil Rerata Bobot dan Tinggi Rimpang Tiga Jenis Tipe Jahe pada Berbagai Lokasi dengan Ketinggian Berbeda
+7

Referensi

Dokumen terkait