• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Potensi Udang Karang Crustacea Dec

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Studi Potensi Udang Karang Crustacea Dec"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI POTENSI UDANG KARANG (CRUSTACEA: DECAPODA) HASIL TANGKAPAN NELAYAN DESA KARANGWANGI CIANJUR JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan laut yang melimpah.

Wilayah perairan laut Indonesia memiliki sumber daya alam khususnya sumber daya hayati

yang berlimpah dan beraneka ragam. Berdasarkan luas lautan yang dimiliki, banyak potensi

kekayaan laut yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Berbagai jenis

hewan laut yang ada seperti ikan, udang dan kerang masih sangat dimanfaatkan bukan hanya

oleh warga Indonesia melainkan seluruh warga di dunia.

Salah satu potensi kelautan Indonesia adalah udang. Saat ini, udang Indonesia

menjadi komoditas ekspor unggulan di pasar internasional. Hal ini terjadi karena permintaan

ekspor dan stok udang yang bisa disiapkan oleh nelayan tidak berimbang. Udang yang saat

ini diminati yaitu udang karang atau udang barong. Nilai jual dari udang karang di dalam

negeri juga relatif tinggi dibandingkan jenis udang lainnya. Di Indonesia paling tidak terdapat

6 jenis lobster dari marga Panulirus (Nuraini dan Sumiono, 2008). Salah satu jenis lobster

yang potensial adalah lobster pasir (Panulirus homarus), hidup di perairan berkarang yang

dangkal, dalam lubang-lubang batu dan juga sering ditemukan berkelompok dalam jumlah

banyak.

Beberapa tempat penangkapan lobster di Pantai Selatan Jawa di Pantai Pangandaran,

Pantai Selatan DI Yogyakarta, Cilacap dan Kebumen (Dradjat, 2004). Masih banyak pantai di

selatan pulau jawa yang belum di eksplor secara intensif dan memiliki potensi besar udang

karang untuk memenuhi kebutuhan ekspor Indonesia. Contohnya Pantai Batu Kukumbung

(2)

Nelayan yang menangkap udang karang di Pantai Batu Kumbung berasal dari Desa

Karangwangi. Nelayan masih menggunakan alat sederhana untuk menangkap udang karang.

Pengetahuan nelayan juga masih minim tentang udang karang, hal ini terbukti dari cara

penangkapannya yang masih sederhana dan tidak adanya tempat budidaya udang karang yang

lebih meningkatkan produktifitas udang karang dan berdampak pada meningkatnya

perekonomian masyarakat di kawasan tersebut. Informasi terkait jenis udang karang di

wilayah penangkapan udang karang termasuk pengetahuan masyarakat atau nelayan Desa

Karangwangi terkait jenis-jenis udang karang di wilayah tersebut pun masih terbatas. Ditinjau

dari segi perekonomian, kegiatan jual beli udang karang di kawasan ini juga belum

berkembang dengan baik. Hal ini terlihat dari kegiatan jual beli udang karang di TPI Udang

tidak selalu berjalan setiap hari, hanya buka setiap hari pada musim udang karang saja.

Oleh karena itu, masalah ini yang melatarbelakangi penelitian tentang ”Studi Potensi

Udang Karang (Crustacea: Decapoda) Hasil Tangkapan Nelayan Desa Karangwangi, Cianjur,

Jawa Barat”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, identifikasi masalah yang dapat

peroleh adalah:

1) Mengidentifikasi jenis udang karang yang ditangkap oleh nelayan dari Desa

Karangwangi.

2) Mengetahui potensi ekonomi udang karang apa saja yang dimanfaatkan oleh

masyarakat Desa Karangwangi.

(3)

Maksud dari penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis udang karang apa saja yang

ditangkap oleh nelayan dari Desa Karangwangi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui jenis udang karang dan pemanfaatannya oleh masyarakat sekitar Desa

Karangwangi.

1.4 Kegunaan Penelitian

1. Sebagai sumber informasi dasar atau database jenis udang karang yang terdapat di

Cagar Alam Bojonglarang Jayanti.

2. Memberikan informasi tentang pemanfaatan udang karang oleh masyarakat sekitar

Cagar Alam Bojonglarang Jayanti.

1.5 Metodologi Penelitian

Penelitian ini bersifat penelitian eksploratif. Metode yang digunakan untuk penelitian

ada dua metode, yaitu metode survey dan metode wawancara. Metode survey untuk

mendapatkan jenis udang karang di lokasi penelitian dengan cara mendatangi tempat-tempat

dimana udang karang didaratkan, dilelang dan dijual baik dalam keadaan segar maupun

masak. Metode wawancara dilakukan dengan melakukan wawancara langsung kepada

nelayan, bakul, penjual baik di restoran maupun pasar ikan dan masyarakat sekitar.

1.6 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Karangwangi RW 01 dan RW 06 yang berada di

Referensi

Dokumen terkait

Jurnlah jenis karang batu di lndonesia yang tercatat berjurnlah 362 jenis, yang didominasi oleh karang dari genus Acropora (62 jenis), Montipora (29 jenis) dan Porites ( I 4

Tttiuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh letak mulut dan periode pemasangan bubu terhadap hasil tangkapan udang karang hijau pasir (Panulirus homarus) serta

Dimana sampel yang menjadi bahan penelitian sebanyak 5 ekor dari setiap jenis udang yang tertangkap oleh nelayan sungai Blang Balee, kemudian sampel tersebut

Budidaya tradisional menghasilkan 0 kg — 1000 kg/ha/tahun dan mengandalkan bibit berupa pasca burayak yang ditangkap dari alam atau burayak dari beberapa jenis udang yang

Di Balai Benih Ikan Pantai Sundak, Gunungkidul, anakan udang karang (<100 g) yang dipelihara di dalam bak beton dengan diberi pakan kerang dan bulu babi

Jenis ikan karang yang dominan di Desa Kampung Baru pada kedalaman 3 meter adalah dari jenis Plotosus lineatus (sembilang karang ) ditemu­ kan sebanyak 330

Berdasarkan hasil studi ini dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya karang hias di Indonesia sudah berjalan dengan baik dan tingkat keberhasilannya sudah baik pada jenis karang

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis udang hasil tangkapan nelayan di kawasan pesisir Kuala Langsa, Kota