• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. Peran Pemerintah terhadap Industri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "III. Peran Pemerintah terhadap Industri"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Peran Pemerintah terhadap Industri Kecil dan Menengah di MEA Oleh:

Novindra,SP, M.si

Pendahuluan

Negara-negara yang tergabung di dalam ASEAN kaya dengan sumberdaya alam.ASEAN juga merupakan emerging market dengan pasar sekitar 500 juta penduduk.Kemudian, ASEAN juga merupakan Counter balance dominasi ekonomi Jepang dan Amerika Serikat.

Perdagangan intra dan ekstra ASEAN terus berkembangsehinggatumbuh kesadaran untuk menjaga sentralitas ASEANdalam peta dunia yang semakin mengarah pada regionalism.Hal-hal yang mendorong perwujudanASEAN Economic Community(AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) antara

lain: (1) meningkatkan daya saing dan daya tarik vis a visRepublik Rakyat Tiongkok (RRT) dan India; (2) meningkatkan kesatuan dan posisi tawar ASEAN dalam rangka perundingan ASEAN+1 (RRT, Korea, Jepang, Australia-NZ, India) danarsitektur regional baru(ASEAN+3/ASEAN+6/ASEAN+8);dan(3)merespon meningkatnya trend regionalism vs multilateralism.

Pada KTT ASEAN 2007 di Singapura, AEC Blueprint 2015 disahkan, bersama penandatanganan ASEAN Charter. Terdapat 12 sektor integrasi yang diprioritaskan dalam AEC, yaitu: 7 sektor barang dan 5 sektor jasa-jasa. Sektor tersebut adalah (1) Agro-based products, (2) Air travel, (3) Automotive, (4) E-ASEAN, (5) Electronics, (6) Fisheries, (7) Healthcare, (8) Rubber-based products,

(9) Textiles & apparels, (10) Tourism, (11) Wood-based products, (12) Logistics Services.

(2)

2 Tabel 1.Kinerja Perdagangan Indonesia-ASEAN dan Indonesia-Dunia

Uraian 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

(jan-jun)

Ekspor Indonesia (INA) ke

ASEAN 10,725.30 12,994.20 15,823.70 18,483.10 22,292.10 27,170.80 24,623.90 16,550.55

Impor Indonesia dari

ASEAN 7,729.80 11,494.40 17,039.90 19,379.20 23,792.10 40,991.70 27,722.00 18,781.94

Neraca Perdagangan (INA -

ASEAN) 2,995.50 1,499.80 -1,216.20 -896.10 -1,500.00 -13,820.90 -3,098.10 -2,231.39

Ekspor Indonesia ke Dunia

61,058.20 71,584.60 85,660 100,798.60 114,100 137,020.40 116,510.03 72,558.68

Impor Indonesia dari

Dunia 32,550.70 46,524.50 57,700.90 61,065.50 74,473.40 129,197.30 96,829.24 62,937.38

Neraca Perdagangan (INA -

Dunia) 28,507.50 25,060.10 27,959.10 39,733.10 39,626.60 7,823.10 19,680.79 9,621.30

(3)

3

PermasalahanIndonesia dalam Menghadapi MEA

Tingkat daya saing yang belum memuaskan dan iklim investasi yang belum sepenuhnya mendukung kalangan dunia usaha, harus menjadi prioritas masalah yang harus diselesaikan.Juga kesiapan para pelaku usaha di bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)termasuk Industri Kecil dan Menengah (IKM)yang merupakan bagian dari sektor UMKM bidang industri, perlu menjadi perhatian serius pemerintah menghadapi persaingan yang ketat dengan pelaku UMKM dan IKM di negara-negara ASEAN lainnya. Banyak para pelaku UMKM dan IKM di daerah-daerah yang belum memahami apa dan seperti apa ASEAN Economic Community (MEA) 2015.

Permasalahan umum UMKM dalam menghadapi MEA, yaitu: (1) persaingan yang makin tajam, termasuk dalam memperolehsumber daya, (2) menjaga dan meningkatkan daya saing UMKM sebagai industrikreatif dan inovatif, (3) meningkatkan standar, desain dan kualitas produk agar sesuaiketentuan ASEAN (Misal ISO-26000), (4) diversifikasi output dan stabilitas pendapatan usaha mikro agar tidak “jatuh” ke kelompok masyarakat miskin, (5) meningkatkan kemampuan UMKM agar mampumemanfaatkan fasilitas pembiayaan yang ada, termasuk dalamkerangka kerjasama ASEAN. Adapunpermasalahan khusus yang bersifat sistemik yang menjadi kendala Indonesia maupun UMKM dalam menghadapi MEA (Sumber: Warta Ekonomi No. 26 Tahun XXI,28 Desember 2009-10 Januari 2010 dan Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK):

1. Infrastruktur

 Jalan-raya 34.000 km, sebagian besar peninggalan jaman Belanda.

 Jalan tol hanya 1,82% dari total jalan raya; pertumbuhan dalam 1 dekade terakhir hanya 3% per tahun.

 Neraca listrik PLN defisit 10,95 gigawatt.

 Rasio panjang jalan dan jumlah pelabuhan adalah 4,5 ribu km/pelabuhan. 2. Regulasi

(4)

4 credit,(6) protecting investors, (7) paying taxes, (8) trading across

borders, (9)Enforcing contracts, (10) closing business.

3. Konsumerisme

 Pertumbuhan ekonomi semakin ditopang oleh konsumsi publik yang secara agregat tidak memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan negara.  Perilaku konsumtif disebabkan oleh tingkat pendidikan rendah, perkembanganIT yang mempengaruhi gaya hidup, iklan yang semakin gencar mendorong kearah konsumsi.

4. Daya Saing dan Akses Pasar

Berdasarkan laporan Global Competitive Report 2012-2014, Indonesia menempati urutan ke-38 dari 148 negara untuk daya saing industri logistik. Adapun data Bank Dunia menyebutkan Indonesia berada di urutan 59 dari 155 negara pada 2012 dan data Trading Economics pada 2013 menempatkan Indonesia di urutan 61 dari 165 negara.

 Kurang paham akan FTAs – implikasi dan manfaatnya.  Aktivitas promosi ekspor terbatas.

Penggunaan e-channeldane-commerce belum meluas.  Masih ada hambatan non-tarif.

 Kurang faham akan fasilitas perdagangan prosedurkepabeanan.  Tidak ada market intelligence di ASEAN dan luarASEAN.

 Mahalnya biaya untuk menyesuaikan standar dansertifikasi internasional (seperti: HACCP, GMP, halal, ISO,analisa sertifikasi).

5. Infrastruktur Teknologi serta Jasa Konsultasi dan informasi

 Pertumbuhan jaringan telepon per 1.000 orang dan pemakaian teleponbergerak per 1.000 orang masih rendah dibanding Malaysia, Singapura dan Thailand.

 Berdampak pada ketertinggalan pelaku usaha dalam hal akses kepada datadan informasi pasar.

 Informasi masih belum terpusat.

 Biaya membuat sistem informasi virtual secarakomprehensif dan terpusat masih mahal.

(5)

5  Kurang faham akan tersedianya layanankonsultasi.

 Perlu pengembangan template standar, misalperencanaan bisnis dan pemasaran bagi UMKM.

6. Akses Permodalan

 Data World Bank 2008 menunjukkan bahwa akses pada permodalan masih lebih baik daripada China dan India, namun masih berada di bawah Malaysia, Thailand dan Singapura. Tetapi masalaah utama adalah tingkat suku bunga (Indonesia adalah yang tertinggi di ASEAN), maksudnya tingkat suku bunga yang tinggi bagi UMKM.

 Bank masih ragu memberikan pinjaman kepada UMKM,khususnya untuk pengusaha pemula dan UKM inovatif.

 Kewajiban penggunaan jaminan dalam pinjaman.  Lembaga jaminan kredit belum ada atau terbatas.

 Pemeringkat kredit dan sistem informasi kredit tidak ada.

Lembaga keuangan non-bank kurang berkembang (sepertiventure capital, angel investment, factoring dan leasing).

 Sebagian terbesar UMKM tergantung pada lembagakeuangan informal. 7. Kualitas Sumberdaya Manusia (SDM)

 Salah satu faktor hambatan utama bagi sektor UMKM dan IKM untuk

bersaing dalam era pasar bebas adalah kualitas sumberdaya manusia (SDM) pelaku UMKM dan IKM yang secara umum masih rendah.

8. Teknologi dan inovasi

 Investasi UMKM untuk R&D masih rendahsehingga produktivitas dan

efisiensinyarendah.

 Dana untuk komersialisasi R&D tidak tersediakarena ketidakpastian

permintaan, pasar dancash flow.

 Apresiasi dan promosi UKM inovatif belumberkembang luas.

(6)

6

Peran Pemerintah dalam Peningkatan Dayasaing UMKM di Era MEA

Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki pelaku UMKM di ASEAN.Indonesia memiliki sekitar 57,9 juta pelaku UMKM. Untuk tingkat ASEAN, sebanyak 96 persen perusahaan di Indonesia yang bergerak di sektor UMKM dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 30-57 persen dan kontribusi dalam penyerapan tenaga kerja 50-98 persen. Namun hal tersebut tidak dibarengi dengan kualitas pendidikan pelaku UMKM yang tinggi.Karena rendahnya pendidikan pelaku UMKM, diperlukan adanya perlindungan hukum bagi mereka sehubungan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Guna meningkatkan kualitas pelaku UMKM, pemerintah perlu melaksanakan berbagai pembinaan dan pelatihan, baik yang bersifat teknis maupun manajerial.Juga melakukan pembinaan dan pemberdayaan UMKM yang diarahkan pada peningkatan kualitas dan standar produk, agar mampu meningkatkan kinerja UMKM untuk menghasilkan produk-produk yang berdaya saing tinggi.Sektor UMKM yang paling penting untuk dikembangkan dalam menghadapi MEA 2015 adalah industri kreatif dan inovatif, handicraft, home industry, dan teknologi informasi.

Pemerintah melalui kerja sama dengan pihak swasta, juga harus berupaya meningkatkan akses dan transfer teknologiinformasi dan komunikasiguna mengembangkan pelaku UMKM inovatif sehingga nantinya mampu bersaing dengan pelaku UMKM asing.Juga bersama pihak swasta,pemerintah membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan pengembanganklaster UMKM untuk peningkatan daya saing.

(7)

7 dieskpor.Oleh karena itu, pemerintah harus meningkatkan koordinasi dan konsolidasi antar lembaga dan kementerian sehingga faktor penghambat dalam menghadapi MEA dapat diturunkan.

Pemerintah juga harus selalu memfasilitasi peran sektor UMKMdalam memperkenalkan produk khas dalam negeri di kancah Internasional termasuk di pasar ASEAN.Sehubungan dengan era MEA, pelaku UMKM membutuhkan payung hukum sebagai perlindungan dalam persaingan di pasar bebas.Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan perlindungan hukum terhadap pelaku UMKM yang memberikan keadilan, kepastian serta manfaat.

Pemerintah juga perlu mengaturtentang fasilitas pendukung bagi pelaku UMKM dalam menghadapi persaingan. Fasilitas yang akan diberikan baik dari dalam negeri maupun negara anggota ASEAN yang dituju.Bentuk fasilitasi dalam negeri, misalnya pajak dikurangi selama dia bisa ekspor atau membangun industri UMKM ke negara ASEAN tujuan.Selain fasilitas dalam negeri, pemerintah juga harus memfasilitasi pemberian kompensasi dari negara ASEAN tujuan ekspor.

Gambar

Tabel 1.Kinerja Perdagangan Indonesia-ASEAN dan Indonesia-Dunia

Referensi

Dokumen terkait

Desa Malang Rapat salah satu desa yang ada di Kabupaten Bintan dengan potensi alam pantai yang luar biasa belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan

Dalam bisnis waralaba yang sudah berjalan dan kemudian terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu orang atau mitra ini harus segera diselesaikan dengan melihat fatwa

pengendalian risiko diperukan, jika ditemukan potensi risiko yang membahayakan harus segera dilakukan upaya tindakan perbaikan hal ini belum diterapkan sepenuhnya

pemeriksaan yang memadai untuk meyakini nilai persediaan tersebut. d) Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menyajikan Investasi Non Permanen Dana Bergulir yang belum

Adanya penyelenggaran pelayanan terpadu satu pintu tekait dengan kegiatan investasi merupakan salah satu upaya untuk mencipatakan iklim investasi yang sangat diminati

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja sektor industri di Indonesia adalah meningkatkan

Servant leadership tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja pendamping PKH Aceh Utara karena masih ada hal-hal yang belum sepenuhnya dapat diselesaikan,

Namun, sistem self-assessment belum sepenuhnya efektif, yang mengarah ke peluang penghindaran pajak Darmayasa, Sudarma, Achin, 2018.Oleh karena itu, Wajib Pajak harus termotivasi untuk