PENDAHULUAN
Indonesia terletak di be-lahan bumi yang dilewati garis khatulistiwa, yang dikenal dengan ungkapan kata bagaikan untaian ratna mutu-manikam di garis khatulistiwa. Letak geografis ini menyebab-kan Indonesia beriklim tropis yang mempunyai perbedaan dua musim yang sangat jelas. Tingginya curah hujan dan panasnya pancaran sinar mata hari, sangat bermanfaat bagi sumber kehidupan. Oleh kare-na itu merupakan hal wajar apabila Indonesia merupakan mega-biodiversity di lapisan biosfer ini. Kondisi ini telah dimanfaatkan manusia untuk mengembangkan tanaman
per-tanian, sehingga Indonesia dikenal pula sebagai negara agraris.
Namun demikian, sebutan negara agraris tidak tercermin dari kenyataan yang dialami negeri ini. Untuk kebutuhan pokok dalam negeri pun masih harus mengimpor dari negara-negara tetangga. Hal ini antara lain disebabkan oleh rendanya pengetahuan dan penguasaan teknologi dari para pelaku per-tanian.
Apabila berbicara tentang masalah pertanian, maka di In-donesia adalah identik dengan pedesaan, karena sebagian be-sar wilayah pertanian berada di pedesaan. Ditinjau dari sudut kepariwisataan, desa
merupa-POTENSI DAN PELUANG USAHA DALAM
PENGEMBANGAN PARIWISATA GUNUNG
SALAK ENDAH
OLEH:
HIMAWAN BRAHMANTYO dan KUSMAYADI
S A R I
a kan asset yang tak ternilai
har-ganya. Sumber daya desa di Indonesia memiliki unsur keindahan (natural-beauty), keaslian (originality), ke-langkaan (scarcity) dan keutu-han (wholesomeness). Di sam-ping itu, desa juga memiliki keanekaragaman flora dan fau-na, agroekosistem dan gejala alam, adat-istiadat yang dapat dijadikan sebagai objek daya tarik wisata bila dikemas secara profesional.
Keadaan yang seperti digambarkan di atas, merupa-kan keunggulan dan keandalan pariwisata Indonesia. Keu-nikan dan kekhasan seni-budaya dan keadaan ekosistem desa setempat merupakan arah selera dunia masa kini. Oleh karena itu harus dilestarikan, dikembangkan, dipromosikan dengan penuh percaya diri guna memperkokoh jati diri de-sa.
Untuk itu, maka telah dil-akukan penelitian mengenai identifikasi peluang-peluang yang ada di desa untuk dikem-bangkan ke arah pariwisata desa.
Identifikasi ini penelitian deskriptif yang dilakukan di wilayah Desa Gunungsari Kecamatan Pamijahan Kabu-paten Bogor.
GAM BARAN UM UM LOKASI PENELITIAN
Kondisi Geografis
Desa Gunung Sari berada di dataran Bogor dengan ketinggian antara 600 sampai dengan 800 meter di atas per-mukaan laut (dpl). Keragaman elevasi ini menunjukkan suatu potensi yang memungkinkan untuk dikembangkan diversifi-kasi produk pariwisata, antara lain agrowisata dengan komod-itas tanaman dataran rendah sampai dataran tinggi. Curah hujan rata-rata per tahun ada-lah 2000-3000 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 205 hari. Suhu rata-rata berkisar antara 20 oC pada malam hari dan 28oC pada siang hari.
W ilayah Adminstratif Desa
Gunung sari dan Gunung Sa-lak Endah
Secara administratif, Desa Gunung Sari yang terletak di belahan Barat Gunung Salak termasuk Kecamatan Pamija-han dengan batas-batas wila-yah adalah sebagai berikut: sebelah Utara Desa Pamijahan, sebelah Selatan tanah kehu-tanan, sebelah Barat Desa Ciasihan dan sebelah Timur Desa Gunung Picung.
Di wilayah ini ditetapkan suatu kawasan wisata yang di-namakan Gunung Salak Endah (GSE). Yang dinamakan Kawa-san Gunung Salak Endah mempunyai luas sektar 256,7 hektar berpusat di Kampung Lokapurna, yaitu suatu kawa-san yang pada awalnya dikelola oleh Perum Perhutani. Namun dalam perkembangannya, mu-lai tahun 1992, kawasan ini di-canangkan sebagai Daerah Tujuan Wisata melalui Kepu-tusan Bupati KDT II Bogor yang berkaitan dengan Perda No. 13 tahun 1992 tentang Retribusi Usaha Sarana Pariwisata dan Masuk ke Objek dan Daya Tarik Wisata.
Secara administratif dan kependudukan, kawasan GSE berada di bawah pemerintahan
Desa Gunung Sari, walaupun kepemilikan lahan di wilayah tersebut tidak termasuk ke da-lam wilayah pembangunan me-lalui APBD (Anggaran, Penda-patan dan Belanja Desa) karena status kepemilikan lahan yang sampai saat ini belum tuntas dipindahkan dari pihak Perhutani kepada Yayasan Vet-eran Lokapurna.
Sehubungan dengan hal di atas, maka dapat dipahami apabila perkembangan kawa-san ini kawa-sangat lambat. Oleh ka-rena itu, maka upaya mengem-bangan kawasan tersebut perlu dilakukan koordinasi dan kese-pakatan pengelolaan dengan pihak-pihak yang terkait.
Luas W ilayah dan
Penggunaan Lahan di Desa Gunung Sari
pem-a ukiman seluas 44,03 ha dan
selainnya digunakan untuk:
! Perkantoran = 0,65 ha ! Sekolah = 1,20 ha
! Pasar = 0,20 ha
! Tempat ibadah = 1,50 ha ! Kuburan = 2,00 ha
! Jalan = 11,50 ha
! Lainnya = 251,00 ha Di samping itu, terdapat pula lahan sebagai kawasan hutan lindung seluas 333.330 hektar. Keberadaan hutan lin-dung di wilayah ini merupakan salah satu potensi yang sangat besar bagi pengembangan pa-riwisata baik wisata alam ter-buka maupun wisata ekologi di wilayah ini. Namun, berdasar-kan informasi dari masyarakat setempat, keutuhan hutan lin-dung ini sudah mulai terganggu oleh aktivitas masyarakat yang semakin meningkat sebagai akibat dari tekanan kebutuhan ekonomi. Oleh karena itu, pembangunan pariwisata di daerah ini perlu memper-hatikan keberlangsungan ling-kungannya.
Aksesibilitas W ilayah
Lokasi pusat pemerintahan desa berdekatan dengan pusat pemerintahan Kecamatan Pamijahan yaitu lebih kurang 50 meter. Sedangkan jarak ke
ibu kota kabupaten lebih ku-rang 50 kilo meter dengan waktu tempuh 1,5 jam.
Untuk menuju lokasi Desa Gunung Sari dapat ditempuh melalui beberapa alternatif an-tara lain melalui Cibatok, dari jalan raya dapat ditempuh dengan kendaraan umum angkutan pedesaan sampai di lokasi desa. Alternatif lainnn-ya, dapat ditempuh melalui jalur Tapos II (KUNAK). Demikian pula angkutan dari kota kabupaten Bogor, lalu-lintas kendaraan tidak pernah berhenti selama 24 jam.
Kondisi jalan dari jalan raya menuju lokasi cukup baik, na-mun lebar badan jalan masih dianggap kurang, sehingga perpapasan kendaraan dari arah yang berlawanan sering agak terhambat.
Sarana dan Prasarana
kondisinya masih terbuat dari
batu dan 2 km jalan tanah. Sarana transportasi umum yang digunakan masyarakat terdiri atas kendaraan roda empat sebanyak 30 buah dan kendaraan roda dua sebanyak 152 buah. Saran ini digunakan sebagai sarana angkutan darat yang untuk mobilitas penduduk ke luar dan ke dalam desa.
Sarana komunikasi dan in-formasi di lokasi terdiri atas telepon, televisi dan radio dan surat kabar. Sarana komu-nikasi telepon terdiri atas 62 milik pribadi dan tiga unit se-bagai sarana pelayanan umum. Sedangkan sarana informasi teridiri atas 756 televisi dan 1232 unit radio, kesemuanya milik pribadi. Di samping itu, jangkauan telepon bergerak ke lokasi juga cukup baik sehing-ga masalah komunikasi ke lo-kasi ini tidak menjadi masalah.
KONDISI SUM BER DAYA M ANUSIA
Kependudukan
Penduduk merupakan sum-ber daya yang sangat menen-tukan di dalam pembangunan termasuk pengembangan pari-wisata. Oleh karena itu, pengenalan terhadap kondisi sumber daya manusia di
wila-yah pengembangan sangat
di-perlukan. Variabel
kependudukan, sering juga disebut faktor demografi dapat ditinjau dari berbagai aspek antara lain; faktor jumlah, usia, kelamin, pendidikan, dan mata pencaharian.
Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Pada tahun 1998, penduduk Desa Gunung Sari berjumlah 9.184 orang dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 1.858 KK. Dengan demikian kepadatan penduduk mencapai 74 orang per km persegi.
Identifikasi sumber daya manusia berdasarkan klasifi-kasi umur, berkaitan erat dengan identifikasi angkatan kerja dan partisipasi angkatan kerja di wilayah desa penelitian.
a Apabila diamati,
penyeba-ran penduduk menurut ke-lompok umur seperti pada tabel di atas, maka distri-businya relatif seragam, di ma-na jumlah terbesar penduduk berada pada kelompok usia anak-anak yaitu 7-12 tahun. Dengan melihat kondisi di atas, maka usia tersebut tergolong usia sekolah (non produktif) sehingga beban tanggungan usia kerja di desa ini cukup be-sar.
Pemahaman komposisi penduduk menurut jenis ke-lamin sangat bermanfaat di da-lam melaksanakan identifikasi sumber daya manusia terutama bila dikaitkan dengan kajian gender. Jenis kelamin adalah perbedaan bentuk, sifat dan fungsi biologi laki-laki dan per-empuan yang membentuk perbedaan peran mereka. Se-dangkan kajian gender meru-pakan pembagian peran, kedudukan dan tugas antara TABEL 1.
Jumlah penduduk Desa Gunung Sari Menurut Umur dan jenis kelamin, tahun 1998
UMUR (ta-hun)
Laki-laki Perempuan Laki-laki dan per-empuan
Jumlah Persen Jumlah Persen Jumlah Persen
< 1 59 1,26 54 1,20 113 1,23 1 – 4 544 11,59 506 11,27 1.050 11,43 5 – 6 284 6,05 261 5,81 545 5,93 7 – 12 728 15,51 672 14,96 1.400 15,24 13 – 15 292 6,22 292 6,50 584 6,36 16 – 18 259 5,52 258 5,74 517 5,63 19 – 25 402 8,57 399 8,88 801 8,72 26 – 35 540 11,51 498 11,09 1.038 11,30 36 – 45 540 11,51 500 11,13 1.040 11,32 46 – 50 339 7,22 311 6,92 650 7,08 51 – 60 529 11,27 494 11,00 1.023 11,14 61 – 75 157 3,35 178 3,96 335 3,65
76+ 20 0,43 68 1,51 88 0,96
laki-laki dan perempuan yang
ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas menurut norma-norma, adat-istiadat, kepercayaan atau kebiasaan masyarakat.
Pengkajian gender sangat berguna di dalam daur suatu program, supaya tidak terjadi
ketimpangan peranan antara laki-laki dan perempuan. Komposisi laki-laki dan per-empuan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 di atas.
Perbandingan antara penduduk laki-laki dan per-empuan di Desa Gunung Sari terdiri atas 51,10 persen
laki-laki dan 48,90 persen per-empuan atau 1 : 0,96 dengan demikian jumlah penduduk (termasuk balita) di desa ini laki-laki lebih banyak dari per-empuan.
Apabila dihubungkan dengan umur, jumlah penduduk laki-laki selalu lebih tinggi pada setiap kelompok umur kecuali
pada kelompok umur 61-75 ta-hun. Sebagai konsekuensinya adalah, upaya penciptaan lapangan kerja bagi tenaga ker-ja perempuan di desa ini san-gat diperlukan supaya partisipasi angkatan kerja per-empuan di desa ini dapat dit-ingkatkan.
Tabel 2
Jumlah penduduk Desa Gunung Sari Menurut pendidikan terakhir yang ditamatkan, tahun 1998
Pendidikan Desa Gunung Sari Dusun Lokapurna Jumlah Persen Jumlah Persen
Buta aksara 27 0,34 - -
Belum/tidak tamat SD 93 1,15 - -
Tamat SD 6,892 85,54 156 79,19
SLTP 618 7,67 27 13,71
SLTA 421 5,23 12 6,09
Diploma 5 0,06 - -
Universitas 1 0,01 2 1,02
Jumlah 8,057 100,00 197 100,00
a
Penduduk Menurut Pendidikan
Partisipasi masyarakat di dalam pembangunan salah satunya dipengaruhi oleh faktor tingkat pendidikan yang dicapai. Pada dasarnya se-makin tinggi pendidikan formal yang dicapai seseorang akan semakin tinggi partisipasinya di dalam pembangunan. Tingkat pendidikan dapat menjadikan orang mempunyai kreativitas tinggi mempunyai adaptabilitas tinggi terhadap perubahan-perubahan di dalam pem-bangunan.
Di desa lokasi penelitian, sebagian besar (85,54%) penduduk mempunyai prestasi pendidikan hanya tamat SD, dan masih ada sebagian kecil (0,34%) penduduk yang sama sekali belum bisa baca tulis atau buta aksara.
Dengan menelaah kondisi
sumber daya manusia seperti pada tabel di atas, maka kuali-tas sumber daya manusia di kawasan GSE masih relatif rendah, sehingga di dalam mengembangkan pariwisata di kawasan ini perlu membertim-bangkan aspek sumber daya manusia. Artinya pengem-bangan pariwisata tersebut ha-rus disertai dengan pengem-bangan sumber daya manusia (masyarakat) setempat dari berbagai aspek kehidupannya.
Penduduk Menurut Mata Pen-caharian
Membicarakan mata pen-caharian penduduk, sangat erat kaitannya dengan angkatan kerja yang tersedia, karena mata pencaharian menyangkut jenis pekerjaan utama yang dilakukan oleh seorang tenaga kerja. Dari to-tal jumlah penduduk di desa
Tabel 3
Jumlah angkatan kerja menurut pendidikan terakhir yang ditamatkan, ta-hun 1998
Tingkat pendidi-kan
Angkatan Kerja Penduduk usia kerja
Laki-laki Perempuan Jumlah
SD/sederajat 2.014 1.506 3.520 6.892
SLTP 433 185 618 618
SLTA 316 105 421 421
PT 5 5 6
Jumlah 2.768 1.796 4.564 7.937
Gunung Sari, yang tergolong
usia kerja berjumlah 7.937 orang. Yang dimaksud dengan penduduk usia kerja adalah bagian dari penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Namun penduduk usia kerja ini dibedakan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan ker-ja. Yang digolongkan ke dalam kategori angkatan kerja di sini
adalah penduduk usia kerja yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan secara aktif dan mampu baik secara fisik maupun yuridis. Sedangkan penduduk usia kerja yang se-dang bersekolah, yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang jompo dan pen-erima pendapatan lainnya, di-golongkan ke dalam bukan
angkatan kerja. Keadaan angkatan kerja menurut pen-didikan dan jenis kelamin di desa Gunung Sari seperti disajikan pada tabel 3.
Tabel 3. mencerminkan bahwa kualitas angkatan kerja di desa ini masih rendah yang dicirikan oleh rendahnya ting-kat pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Ciri ini masih
cukup relevan dijadikan se-bagai alasan mengingat tingkat pendidikan formal yang dicapai seseorang menunjukan tingkat kemampuan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan wawa-san yang dimilikinya.
Kualitas sumber daya manusia seperti digambarkan di atas, pada umumnya tidak cukup memiliki keterampilan Tabel 4.
Jumlah penduduk dan struktur angkatan kerja Desa Gunung Sari, tahun 1998
Uraian Jumlah % dari jumlah
penduduk
% dari angkatan kerja
Jumlah penduduk 9.184
Angkatan Kerja 4.564 49,70%
! Petani 2.669 29,06% 58,48%
! Sektor lain 1.105 12,03% 24,21%
! Belum bekerja 790 8,60% 17,31%
a untuk memasuki lapangan
pekerjaan yang memperyarat-kan keahlian tertentu, sehingga biasanya mereka terjun sektor pertanian tradisional atau jasa yang tidak memerlukan keahl-ian tertentu.
Sebagai daerah agraris, maka struktur mata pencahari-an penduduk desa lokasi penelitian sebagaian besar be-rada di sektor pertanian, kemudian sektor jasa dan sektor industri. Dari 9.184 orang penduduk, hanya 49,70 persen yang termasuk angkatan kerja sedangkan selebihnya (50,30%) termasuk bukan angkatan kerja.
Tabel 4. menunjukkan bahwa 58,48 persen dari angkatan kerja atau 29,06 per-sen dari jumlah penduduk, bekerja di sektor pertanian, sedangkan sisa yang sudah bekerja, mempunyai mata pen-caharian di sektor lain (jasa, industri, pegawai dan lain-lain).
Hal yang menarik dari keadaan di atas adalah, bahwa meskipun sebagian besar angkatan kerja bekerja di sektor pertanian, ternyata han-ya 62,74 persen han-yang memiliki lahan pertanian. Dengan demikian 37,26 persen diduga hanya sebagai buruh di sektor ini. Bila ditelusuri lebih jauh, luas pemilikan lahan oleh
Sempitnya pengusasaan
lahan oleh petani ini antara lain disebabkan oleh semakin
meningkatnya jumlah
penduduk yang bermukim di desa tersebut, baik perkem-bangan penduduk asli maupun pendatang. Pertambahan jumlah penduduk telah me-nyebabkan alih fungsi lahan pertanian untuk pemukiman
dan kegiatan lainnya. Fenome-na lain penyebab sempitnya penguasaan lahan di lokasi penelitian adalah banyak pem-ilik lahan yang berasal dari luar desa, atau kecamatan yang memilikinya untuk pemukiman.
Setelah ditelusuri lebih jauh, para petani tersebut ke-banyakan berusaha pada per-tanian tanaman pangan seperti
padi dan palawija. Sedangkan hasil-hasil pertanian tersebut relatif kurang menguntungkan.
Kondisi Internal Responden
Kondisi Psikografik
Unsur lain dari sumber daya manusia yang mendapat perhatian dalam pengkajian ini adalah potensi internal yang meliputi: aspirasi, motivasi,
pengambilan keputusan, wa-wasan, dan kemampuan.
Aspirasi dan Motivasi Terhadap Pem-bangunan Kepariwisataan
Aspirasi dan motivasi re-sponden terhadap pem-bangunan kepariwisataan cukup tinggi, hal ini tercermin dari keinginan untuk menjadi-kan daerahnya sebagai daerah tujuan wisata yang menarik Tabel 4.5
Luas Pemilikan Lahan Oleh Petani Di Desa Lokasi, Tahun 1998
Pemilikan lahan (ha) Jumlah Persentase Persen kumulatif
-0,2 742 44,32 44,32
0,2-0,5 556 33,21 77,54
0,6-1,0 242 14,46 92,00
1,1-2,0 129 7,71 99,70
3,0-5,0 5 0,30 100,00
Jumlah 1674 100,00
a wisatawan baik wisatawan
nusantara maupun mancanega-ra. Di samping keinginan ter-sebut, responden berharap dapat meningkatkan kese-jahteraan hidupnya dari per-kembangan pariwisata di dae-rahnya tersebut. Hanya saja berbagai keterbatasan yang ada seperti: rendahnya tingkat pendidikan, kemampuan/-ketrampilan usaha di sektor kepariwisataan, dan pemilikan modal, merupakan kendala be-rat yang dihadapi hadapi se-hingga jenis pekerjaan yang dilakukan saat ini memang merupakan alternatif pekerjaan yang dapat dilaksanakan. Pekerjaan tersebut pada umumnya lebih mementingkan tenaga dari pada modal dan keterampilan.
Aspirasi masyarakat ter-hadap pendidikan anak juga cukup tinggi. Mereka menya-dari arti pentingnya sekolah atau pendidikan untuk
mening-katkan
kemampu-an/ketrampilan mereka di masa yang akan datang. Mereka menginginkan agar anak-anaknya dapat mengecap pen-didikan yang lebih baik. Tetapi karena keterbatasan biaya, sa-rana pendidikan yang memadai di daerahnya, masih banyak ditemui anak-anak usia sekolah tidak lagi duduk di bangku
sekolah, tetapi bekerja mem-bantu orang tuanya untuk me-menuhi kebutuhan hidup keluarga.
Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan berusaha sebagian masyarakat tidak didasarkan atas peluang usaha yang ada di daerahnya. Untuk keputusan berusaha tani misalnya, bagi petani peng-garap tidak sepenuhnya kepu-tusan diambil sendiri melain-kan banyak ditentumelain-kan oleh pemilik lahan. Terlebih lagi posisi sorang buruh tani, kepu-tusan berusaha sepenuhnya tergantung kepada orang lain, mereka kurang atau bahkan tidak mempunyai kekuatan da-lam pengambilan keputusan, terutama di bidang usahatani atau teknologi baru. Kepu-tusan lebih ditentukan oleh pemilik tanah atau pemilik modal pula halnya jika ada
permasalahan yang
menyangkut usahatani yang dikelola, mereka hanya mela-por kepada pemilik, sedang keputusan mengenai langkah-langkah yang akan diambil semuanya diserahkan kepada pemilik.
Wawasan Terhadap Keadaan di Luar Sistem Sosial
Wawasan masyarakat ter-hadap keadaan di luar sistem
sosialnya sudah cukup tinggi.
Hal ini ditunjang dengan aksesibilitas ke luar wilayah yang cukup mudah, tingkat pendidikan dan kemampuan baca tulis. Walaupun demikian, pendapatan yang rendah be-rakibat pada rendahnya “daya jangkau” terhadap dunia luar, apalagi untuk hal-hal yang ber-sifat pengetahuan maupun ket-erampilan. Pemamfaatan me-dia massa masih terbatas un-tuk hiburan (khususnya radio dan telvisi). Dengan demikian proses pertukaran informasi yang bersifat pengetahuan dan keterampilan masih terbatas. Mobilitas ke daerah lain banyak dilakukan oleh penduduk usia muda, yang bekerja sebagai buruh di ibu kota kecamatan, kabupaten atau sebagai pega-wai pabrik. Terdapat pula tenaga kerja usia muda yang bekerja di desa lain sebagai pendulang emas, namun kare-na penguasaan teknologi yang masih rendah tidak dapat berkembang.
Kemampuan/Ketrampilan
Kemampuan sebagian be-sar masyarakat terbatas pada hal-hal teknis yang secara tradisional telah biasa mereka lakukan secara turun-temurun. Kemampuan yang bersifat
manejerial seperti
perencanaan usaha, pencata-tan usaha, analisis usaha dan pengolahan kurang dikuasai. Kerjasama maupun komunikasi dan kerjasama dengan masyarakat lain atau pembina (baik pembina tingkat desa maupun kecamatan) relatif terbatas.
Demikian pula kemampuan di dalam menciptakan atau menangkap peluang usaha ba-ru yang ada di daerahnya, masih relatif rendah. Di dalam pengembangan pariwisata di daerah ini, akan banyak men-ciptakan peluang usaha baru, namun perlu disiapkan sumber daya manusia yang akan men-ciptakan dan membuka pelu-ang usaha baru tersebut.
Keadaan Sosial
Pelapisan Sosial
Masyarakat di desa sampel dapat dibedakan ke dalam tiga lapisan dalam sistem sosial yaitu lapisan atas, lapisan menengah dan lapisan bawah. Adanya stara ini dapat dilihat dari segi kekayaan, kondisi pe-rumahan dan mata pencahari-an. Untuk lebih jelasnya beri-kut ini akan diuraikan ciri-ciri tiap stara yang dapat dijumpai.
a dan permanen, pemilikan tanah
yang luas serta jenis usaha umumnya pertanian besar, pedagang besar atau pemilik usaha yang mempekerjakan buruh. Di dalam usaha per-tanian, mereka menjalankan fungsi sebagai pengelola (ma-najer) baik tradisional maupun modern. Kelas ini pada umumnya tidak terlibat di da-lam kerja kasar, karena se-luruhnya diupahkan kepada bu-ruh.
Kelompok ini jumlahnya hanya sedikit, akan tetapi ke-lompok inilah yang menen-tukan jenis kegiatan ke-masyarakatan. Di samping itu kelompok ini menginginkan peranan yang penting baik pos-itif maupun negatif dalam se-tiap kegiatan di desa, dalam arti mereka selalu terlibat da-lam kegiatan itu sebagai pen-dukung maupun sebagai lawan baik secara terbuka maupun secara tersembunyi.
Ciri lapisan menengah ter-lihat dari kondisi rumah yang permanen atau semi permanen tetapi cukup kokoh, dengan ukuran yang sedang. Mereka umumnya memiliki tanah dengan luas-sedang. Mata pencaharian umumnya petani pemilik, pegawai negeri atau pedagang yang memiliki kios di daerahnya. Dalam berusaha
tani umumnya mereka terjun langsung dengan dibantu oleh tenaga upahan (buruh) atau tenaga keluarga. Dalam pen-erapan teknologi kelas ini cenderung mengikuti per-kembangan, namun dalam ba-tas-batas kemungkinan ke-mampuan modal (uang) yang dimilikinya.
Lapisan bawah terlihat jelas dari kondisi rumah yang kecil sekali, terbuat dari bambu atau kayu, atap dari genting atau seng dan ada yang ber-lantaikan tanah. Mata pen-caharian kelompok ini umumnya sebagai petani (ber-lahanan sempit), buruh tani dan buruh bangunan. Jika dilihat jumlahnya maka kelas ini menduduki posisi terbesar dari masyarakat desa.
Dalam hubungan dengan lapisan bawah, lapisan atas menduduki posisi tuan ter-hadap pelayanannya (patron-klien). Dalam hubungan ini kaum bawah yang umumnya para buruh, telah terikat kepa-da tuannya dengan kebiasaan berhutang materi atau hutang jasa, mengingat pada ken-yataannya ada diantara mereka yang tinggal di atas tanah milik tuannya.
buka dalam arti bahwa mereka
yang berasal dari lapisan bawah mempunyai peluang naik ke lapisan atas asal mempunyai kemampuan untuk itu. Akan tetapi peluang itu nampaknya hanya pada lapisan menengah, sedangkan bagi lapisan bawah sulit sekali.
Kecilnya peluang dari ka-langan bawah untuk naik ke lapisan yang lebih tinggi antara lain disebabkan karena sikap-sikap atau sifat-sifat yang ada di kalangan mereka sendiri, di-antaranya:
1. Sikap yang menyerah pada nasib. Lapisan bawah sebenarnya ingin memper-baiki keadaan, tetapi tidak tahu caranya, karena tidak memiliki lahan, modal, dan keterampilan yang cukup. Akhirnya mereka keku-rangan inisiatif, dan kreatifi-tas untuk usaha. Modal yang ada hanya keinginan dan semangat untuk bekerja tanpa tahu apa yang mau dikerjakannya.
2. Hubungan Patron-klien. Bentuk hubungan patron-klien yang tumbuh di masyarakat yaitu antara pemilik modal sebagai pa-tron dan petani-buruh se-bagai klien cenderung memperlemah posisi
masyarakat kelas bawah. Mulai dari bentuk pengam-bilan keputusan hingga pa-da pembagian hasil yang
lebih banyak
menguntungkan pem-ilik/penguasa lahan. Bagi buruh tani umumnya telah terikat bekerja pada pem-ilik/penguasa lahan tertentu dan sulit untuk berpindah kerja kepada yang lain. Hal ini disebabkan karena tidak jarang dari kelas ini mendapatkan bantuan atau pinjaman untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Penggarap atau penyakap nasibnya tidak jauh berbeda dengan buruh tani, karena pengambilan keputusan dan penentuan bagi hasil umumnya masih kurang menguntungkan. Akibatnya penggarap atau penyakap lebih berperan sebagai “ bu-ruhterselubung”. Akibat po-la hubungan ini peluang penggarap penyakap mau-pun buruh tani, untuk lebih maju menjadi kurang ter-buka.
a terjadi dalam bentuk usaha
lain, karena keadaan demikian dipertahankan un-tuk menarik keuntungan dari pihak lain. Keter-belakangan dan ketergan-tungan kalangan bawah dapat dimanfaatkan untuk memperkaya diri, sehingga terlihat sekelompok kecil orang yang hidup kaya raya diantara kemiskinan orang banyak.
Kerjasama Dalam Masyarakat
Kerjasama anggota masyarakat di dalam bidang kemasyarakatan masih terjalin dengan baik. Hal ini tercermin dari adanya kegiatan gotong-royong dalam pembangunan sarana-prasarana untuk kegiatan umum dan keaga-maan yang dilakukan secara swadaya. Kerjasama lain yang terlihat cukup menonjol adalah dalam bidang upacara keaga-maan seperti memperingati peringatan hari besar.
Berbeda dengan hal di atas, kerjasama dalam kegiatan ekonomi belum terlihat dengan kuat. Kegiatan perekonomian cenderung dilakukan individu-al, dan berjalan sendiri-sendiri. Kekompakan ( kohesive-ness) masyarakat desa cukup kuat, terutama bagi mereka yang tinggal berdekatan dalam
satu lokasi pemukiman, tetapi kekompakan antara kelompok satu dengan yang lain dalam masyarakat luas cenderung ku-rang kuat.
Kepemimpinan Dalam Masyarakat
Terdapat dua bentuk kepemimpinan di desa sampel yaitu pemimpin formal dan pemimpin non formal. Peranan kepala desa yang merupakan pemimpin formal terlihat cukup berperan apabila dikaitkan dengan anjuran atau instruksi pelaksanaan kegiatan yang ha-rus dilakukan masyarakat desa, terutama pelaksanaan kegiatan-kegiatan sosial seper-ti pembangunan, perbaikan jalan desa atau saluran air. Sedangkan peranan ‘kiyai’ atau tokoh masyarakat lainnya yang merupakan pemimpin non for-mal tampak dominan terhadap hal-hal yang menyangkut keagamaan dan kegiatan ritual lainnya. Namun demikian, menurut beberapa anggota masyarakat, peran pemimpin agama, dewasa ini sangat be-sar di dalam pelaksanaan pem-bangunan.
Demikian pula untuk
pelaksa-naan kegiatan sosial dalam masyarakat desa, masih lebih efektif menggunakan sistem komando dari tokoh masyara-kat tersebut.
Peran kepemimpinan in-formal di lokasi penelitian ter-lihat dari tingginya prakarsa untuk memelihara keutuhan lingkungan dan kelestarian ekosistem di wilayahnya. Kegiatan ini diberikan dalam bentuk penyadaran masyarakat terhadap pentingnya kelestari-an alam sebagai habitat mkelestari-anu- manu-sia dan mahluk hidup lainnya, melalui media pengajian, ce-ramah jum’at, dan kesempatan-kesempatan pertemuan lainnya.
Kelembagaan
Selain kelembagaan yang ada di suatu desa pada umumnya seperti LKMD, LMD, PKK dan lain-lain, di lokasi penelitian terdapat pula ke-lompok swadaya masyarakat yang disebut Kelompok Peng-gerak Pariwisata (Kompepar). Kelompok ini dibentuk ber-tujuan untuk mengembangkan kegiatan kepariwisataan, yang merupakan mitra kerja Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten Bogor. Di kawasan Gunung Sa-lak Endah (GSE), lembaga ini
telah berperan di dalam me-melihara dan mengembangkan objek-objek wisatanya, walau sampai saat ini belum optimal.
Kegiatan yang telah dil-akukan kelompok ini antara lain; secara gotong royong memperbaiki sarana jalan menuju objek wisata pemandi-an air ppemandi-anas dpemandi-an membuka lapangan kerja bagi pemuda setempat di dalam pengefek-tipan retribusi masuk ke kawa-san wisata GSE.
Perubahan Sosial
Perubahan sosial yang ter-jadi di desa lokasi berjalan relatif cepat. Hal ini dapat di-jelaskan sebagai akibat aksesi-bilitas ke luar daerah yang relatif mudah sehingga mobili-tas masyarakat cukup tinggi. Tingkat adaptasi masyarakat terhadap perubahan dan pola berpikir telah lebih maju, yang melahirkan kreatifitas dalam hal pengelolaan lingkungan. Beberapa perubahan sosial yang telah terjadi antara lain:
a di dalam maupun ke luar
desanya.
! Beralihnya sistem gotong royong dalam berusahatani kepada sistem upah, serta mulai melunturnya toleransi sosial dan bergeser ke hal yang bersifat eksploitatif. ! Munculnya sekelompok
masyarakat yang sadar akan kelangsungan ekosistem dan pemeliharaan ling-kungannya sebagai asset bagi peningkatan kese-jahteraan dan kelangsungan hidup umat manusia.
Keadaan Budaya
Usahatani umumnya masih dilaksanakan secara tradision-al. Untuk beberapa hal masyarakat sudah mulai men-erapkan teknologi yang di-anjurkan. Aspek budaya lain yang penting untuk dikemuka-kan adalah mental masyarakat yang di dalamnya berisi sistem nilai budaya (culturalvalue sys-tem) dan sikap (attitudes).
Dari hasil observasi dan wawancara terungkap bahwa hakekat hidup bagi sebagian kalangan bawah adalah sesua-tu kodrat yang sulit unsesua-tuk diu-bah. Mereka merasa terlahir untuk menyerah pada nasib ka-rena kondisi orang tuanya me-mang hidup susah. Mereka menyadari keadaan itu dan
mengantisipasinya dengan hidup prihatin dan ikhtiar. Tid-ak sedikit yang masih menganggap bekerja untuk hidup, orientasinya hanya asal cukup untuk makan saja, be-lum memikirkan sesuatu yang lebih atau untuk memenuhi kebutuhan lain yang dapat mengangkat derajat ke-hidupannya.
Orientasi hidup mereka masih hanya untuk saat ini dan belum berorientasi jauh ke de-pan, sehingga masih ada ang-gota masyarakat yang masih bersifat santai, kurang ulet dan boros. Hal ini terjadi karena kurangnya pendidikan dan sempitnya wawasan mereka.
Dalam hubungannya dengan alam, sudah terlihat adanya keinginan untuk
me-manfaatkan dan
me-nyesuaikannya dengan keadaan alam di sekitarnya. Di antranya ada yang telah be-rusaha dengan gigih untuk memanfaatkan alam sebesar-besarnya. Dalam hubungan dengan sesamanya, mereka selalu berusaha menyesuaikan diri dengan mengikuti norma yang berlaku.
Keadaan Ekonom i
pertanian, baik sebagai
peng-garap atau buruh tani dan han-ya sedikit han-yang bekerja di luar sektor pertanian, misalnya di bidang pertukangan dan jasa lainnya.
Keadaan lahan yang kurang menguntungkan ditambah dengan rata-rata pemilikan yang sempit telah menggiring masyarakat, khususnya re-sponden untuk mencari penghasilan tambahan di luar usahatani yang dikelolanya. Namun akibat berbagai kendala yang ada, mereka mengalami kesulitan dalam mencari tam-bahan pendapatan. Berbagai kendala tersebut antra lain tingkat pendidikan yang relatif rendah, keterampilan yang minim dan pemilikan modal yang sangat terbatas.
Tipologi lokasi penelitian yang berfungsi sebagi lahan pertanian, tetapi banyaknya petani tak memiliki lahan hingga terpaksa berperan se-bagai buruh tani. Dampaknya adalah timbul persaingan dan kesulitan memperoleh peker-jaan di bidang pertanian. Ka-rena itu pada musim-musim tertentu di mana pekerjaan di usahatani sudah banyak berku-rang (biasanya pada saat kegiatan usahatani lebih ban-yak membutuhkan tenaga kerja
wanita), banyak buruh tani/tenaga kerja pria yang pergi ke luar desa atau kota lain (Jakarta dan sekitarnya) untuk bekerja sebagai buruh bangunan, pertukangan di dae-rahnya menjadi sopir ojeg.
Pemasaran hasil usaha petani dilakukan tidak lang-sung kepada konsumen melainkan kebanyakan dijual melalui tengkulak. Dalam hal ini biasanya tengkulak yang da-tang ke petani. Rantai pemasaran yang ditempuh juga tidak terlalu panjang karena tengkulak langsung menjualnya ke pasar.
a samping itu responden juga
ku-rang mampu meningkatkan nilai tambah dari produk-produk usahatani yang dihasilkannya.
OBJEK DAN POTENSI PENGEM BANGAN W ISATA GSE
Kawah Ratu
Keadaan Umum Lokasi
Kawah ratu berada di gunung Salak bagian Barat, terletak pada ketinggian 900 m dpl. Suhu di sekitar kawah berkisar atara 22oC hingga 28oC. Di lokasi kawah, dapat dilihat semburan asap putih dan desingan suara semburan asap panas yang memancar ke udara.
Pemandangan di sekitar kawah terdiri atas hutan hujan tropis yang dengan berragam vegetasi hutan antara lain, pohon pinus (pinus sp), manii, dan lain-lain.
Untuk menuju lokasi yang hanya berjarak 2,5 km dari ba-tas jalan kendaraan, diperlukan waktu lebih 1,5-2 jam dengan berjalan kaki. Perjalanan menuju lokasi kawah dapat memperoleh nilai dan penga-laman ilmiah yang sangat berguna, karena selama dalam perjalanan para pengunjung dapat diberikan berbagai
in-formasi ilmiah mengenai veg-etasi hutan hujan tropis.
Potensi Pengembangan Objek
Kawah Ratu mempunyai Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) berupa pemandangan (keindahan alam), olah raga; berjalan kaki, dan petualangan ilmiah.
Keindahan alam kawah ratu dicirikan dari luasnya jangkau-an batas pjangkau-andjangkau-ang terutama ke arah Jakarta. Di samping itu, udara segar dan suara alam yang masih asli dapat diperoleh di sekitar lokasi ini. Petua-langan ilmiah dapat diperoleh melalui pengamatan terhadap hutan hujan tropis dengan ekosistemnya dan fenomena geologi dari gunung berapi yang masih aktif. Melalui teknik pemanduan yang standar, peluang usaha bagi pemandu lokal akan terbuka lebar dengan catatan ada kesepakatan dari masyarakat dan pengelola kawasan, untuk membatasi pemandu asing.
Air Terjun
Terdapat tiga lokasi air ter-jun yang satu sama lain mempunyai keunggulan tersendiri. Dua air terjun ber-lokasi dekat dengan perkam-pungan penduduk yaitu Curug Cigamea dan Curug Ciumpet, sedangkan Curug Sarebu be-rada jauh dari perkampungan.
Untuk menuju Curug Ciga-mea dan Curug Ciumpet, dapat dijangkau dengan kendaraan, hanya sedikit berjalan kaki, se-dangkan menuju lokasi Curug Sarebu diperlukan waktu 1,5 sampai 2 jam menempuh jalan setapak.
Daya tarik wisata terutama di Curug Sarebu selain gemuruh suara semburan air, juga dapat dini’mati udara segar dan petualangan perjal-anan di hutan hujan tropis.
Pemandian Air Panas
Pemandian air panas di Lo-kapurna ini mempunyai ciri khas tersendiri karena sumber airnya berada di sungai yang relatif besar. Kondisi pemandian air panas saat ini masih terbuka, walaupun su-dah banyak dikunjungi dan di-pergunakan pengunjung. Selain utuk mandi, air panas ini
juga dipercaya masyarakat se-bagai tempat pengobatan.
Untuk menuju lokasi cukup dengan berjalan kaki selama 5 menit dari tempat pemberhen-tian terakhir kendaraan. Sela-ma di perjalanan, pengunjung dapat meni’mati pemandangan alam yang sangat indah, udara segar, tebing dan bebatuan yang mengisi sungai Ciku-luwung.
Keunggulan pemandian ini berada di pinggir kali, sehingga pengunjung dapat berendam di air panas dan di air kali yang dingin. Sinar mata hari cukup lama, dengan bebatuan yang lebar-lebar sehingga memung-kinkan pengunjung untuk ber-jemur lebih lama.
Pengetahuan tentang beba-tuan dan gejala-gejala air panas dapat dikaitkan dengan gejala volcanologi di kawah ra-tu, dapat dikemas sebagai sua-tu informasi yang sangat menarik bagi petualang ilmiah.
Areal Perkemahan (Camping Ground)
a tersendiri karena selain udara
bersih, pemandangan indah, mudah dijangkau, dan dekat dengan akomodasi.
PELUANG USAHA DAN KESEM PATAN KERJA
Berdasarkan uraian tentang lokasi pengkajian, maka beri-kut ini disajikan uraian mengenai peluang usaha kes-empatan kerja yang mungkin dilakukan dan dapat dikem-bangkan. Di samping berpe-doman kepada keadaan potensi wilayah, penelusuran peluang usaha dan kesempatan kerja ini juga dilakukan dengan ber-pedoman kepada kebijakan pembangunan di daerah setempat yang dicanangkan oleh pemerintah derah. Dengan demikian diharapkan dapat ditemukan model pengembangan sumberdaya yang tepat dengan kondisi wilayah yang bersangkutan.
Berdasarkan hal-hal terse-but, maka peluang-peluang usaha dan kesempatan kerja yang mungkin dilaksanakan dan dapat dikembangkan di GSE, baik di sektor pertanian maupun non-pertanian, dibagi ke dalam peluang umum dan khusus. Secara umum berarti peluang-peluang tersebut ber-laku bagi masyarakat dalam ar-ti luas. Sedangkan secara
khusus dimaksudkan sebagai peluang yang dapat dijangkau, dilakukan dan atau diusahakan oleh kelompok masyarakat ter-tentu.
Peluang dan Kesempatan Kerja “Um um ”
Secara umum, berbagai peluang yang mungkin dil-akukan atau dapat dikem-bangkan antara lain sektor per-tanian dan sektor kehutanan yaitu:
Sektor Pertanian
Sektor pertanian di lokasi penelitian masih mungkin un-tuk tetap dikembangkan, mengingat sebagian besar anggota masyarakat masih menggantungkan hidup dari sektor ini. Namun upaya untuk meningkatkan produktivitas, kualitas dan kuantitas usa-hataninya perlu terus dil-akukan. Karena kalau tidak, maka anggota masyarakat petani akan tetap tertinggal oleh kemajuan masyarakat lainnya. Peluang usaha di sektor pertanian dapat dibedakan menurut sub sektor yaitu; sub sektor tanaman pan-gan dan hortikultura, sub sektor perikanan dan peter-nakan.
Komoditi tanaman pangan
di desa penelitian, yang saat ini dikembangkan antara lain; padi dan palawija (singkong, ubi rambat, dan talas). Menurut data produksi pertanian di desa lokasi penelitian, produktivitas tanaman padi rata-rata enam ton per ha, singkong 12 ton per ha dan ubi rambat 10 ton per hektar. Karena pengelolaann-ya belum skala ekonomi, maka secara ekonomi, hasil yang didapatkan oleh petani tidak memperoleh keuntungan.
Buah-buahan yang meru-pakan komoditas hortikultura yang banyak dihasilkan adalah pisang. Terdapat berbagai jenis pisang yang dibudidaya-kan di desa ini antara lain; pi-sang ambon (musa sp.), pisang ambon lumut, pisang tanduk, pisang oli dan pisang raja. Produksi pisang di desa ini masih merupakan tanaman sela, belum diusahakan secara ekonomi, sehingga kualitas dan kontinyuitas buah belum diper-hatikan.
Tanaman hortikultura dari jenis sayuran yang banyak ditanaman oleh para petani an-tara lain; buncis, cabe, terung, baby corn dan mentimun. Na-mun seperti halnya pisang dan budidaya tanaman lainnya, pengusahaan sayur-sayuran
juga belum memperhitungkan skala ekonomi, sehingga hasil-nya pun hahasil-nya untuk sekedar keperluan keluarga dan hanya sebagian kecil yang dijual.
Apabila melihat limbah penggergajian dari desa tetangga, maka komoditas jamur kayu sangat memung-kinkan untuk dikembangkan, baik untuk produksi maupun untuk salah satu atraksi pari-wisata. Mengemas budidaya jamur kayu sebagai bagian dari agrowisata di GSE cukup beralasan, karena selain se-bagai wacana ilmiah, juga kon-disi alam yang cocok untuk budidaya tersebut.
Tanaman hias, yang masih tergolong tanaman hortikultura belum ada yang mengu-sahakan, padahal potensi un-tuk pengembangannya cukup memungkinkan. Demikian pula untuk tanaman rempah dan obat, lokasi ini mempunyai po-tensi yang cocok untuk be-berapa jenis tanaman obat.
Sub Sektor Perikanan
a
Intensifikasi Kolam Air Deras
Peluang untuk mengem-bangkan budi daya ikan pada kolam air deras ini sangat memungkinkan, mengingat ketersediaan sumber air yang cukup melimpah, selain airnya bersih, juga debitnya cukup besar. Budi daya ikan air de-ras, merupakan bagian dari agrowisata yang dapat dikem-bangkan selain sebagai atraksi tersendiri, juga sebagai penye-dia bahan makanan bagi wisatawan.
Pemanfaatan Empang/kolam untuk Budidaya dan Pemancingan
Terdapat pula lahan yang dapat dijadikan sebagai ko-lam/empang untuk budidaya dan pemancingan. Budi daya ikan di empang dapat dijadikan atraksi wisata melalui
pemancingan. Dengan
pemandangan alam yang indah, suhu udara yang nyaman, dan suasana yang sunyi memung-kinkan memancing menjadi sa-lah satu atraksi yang dapat dikembangkan.
Sub Sektor Peternakan
Beternak Lebah
Dengan mengacu kepada potensi sumber daya alam yang tersedia, maka beternak lebah, merupakan salah satu agrow-isata di kawasan GSE. Adanya hutan lindung, dan
menguta-makan pelestarian alam di GSE, merupakan sumber ma-kanan bagi peternakan lebah.
Sebagai suatu atraksi wisata, budidaya lebah dapat memberikan nilai ilmiah bagi wisatawan, sedangkan produksi madu dapat mem-berikan penghasilan bagi masyarakat lokal.
Bagi kelestarian ekosistem, para peternak akan berusaha menjaga vegetasi agar tetap terjaga supaya bahan makanan bagi ternak lebahnya dapat tetap tersedia.
Lebih jauh dapat dikem-bangkan industri dari hasil sampingan lebah misalnya malam/wax yang dapat diolah menjadi obat dan bahan kosmetik, bila produksinya memadai.
Ternak Kuda
lainnya. Dapat pula dijadikan
sebagai kendaraan bagi mere-ka yang hobi menunggang ku-da. Walaupun demikian pelu-ang usaha ini perlu dikaji lebih mendalam sehubungan peter-nakan ini merupakan hal baru di desa ini.
Sektor Perhutanan dan Perke-bunan
Budidaya tanaman kopi di desa Gunung Sari saat ini masih merupakan tanaman sela, sehingga produksinya pun tidak menjamin kontinyuitas dan memadai. Namun melihat potensi yang ada, maka budi daya tanaman kopi sebagai tanaman pokok dapat dikem-bangkan. Upaya ini akan san-gat mendukung industri rumah tangga pengolahan kopi dan mempersiapkan budaya minum kopi di kawasan GSE.
Jenis tanaman kopi yang saat ini ditanam masyarakat antara lain kopi arabika, dan kopi robusta. Di samping itu jenis kopi Toraja-Arabika ada juga yang ditanam di wilayah ini.
Sebagai bahan baku bagi industri pengolahan kopi tradi-sional, budi daya kopi yang lebih luas oleh masyarakat per-lu dilakukan, karena perke-bunan kopi mempunyai
ket-erkaitan yang cukup besar ter-hadap peluang peternakan leb-ah dikembangkan oleh masyarakat.
Sektor Industri
Industri pengolahan kopi, makanan dan minuman serta industri kerajinan merupakan peluang-peluang usaha yang mungkin dapat dikembangkan seiring dengan pengembangan pariwisata-ekologi di kawasan GSE.
Peluang dan Kesempatan Kerja Sektor Pariwisata
Walaupun di atas telah dikemukakan peluang-peluang usaha yang mungkin dapat dikembangkan di sektor per-tanian, namun apabila dikemas dengan informasi yang me-menuhi kebutuhan wisatawan, maka peluang-peluang terse-but dapat dikatakan sebagai paket pariwisata.
Usaha di Bidang Fasilitas Pari-wisata
a Fasilitas kepariwisataan
antara lain tersedianya sarana akomodasi baik penginapan maupun makanan dan minu-man. Oleh karena itu peluang usaha di bidang ini antara lain sebagai berikut:
Penyediaan Penginapan
Usaha penyediaan
penginapan sehubungan dengan pengembangan GSE perlu dipertimbangkan yang sesuai dengan pengembangan wisata ekologi. Penginaman yang disediakan harus memen-uhi persyaratan keamanan, kebersihan dan kenyamanan.
Kondisi yang cocok di ka-wasan GSE tidak memper-syaratkan kemewahan, melain-kan kesederhanaan dan keserasian dengan ekosistem di kawasan tersebut.
Saat ini, bagi wisatawan yang berkunjung ke wilayah GSE telah tersedia pengina-pan-penginapan milik masyarakat setempat, namun pengelolaannya penginapan yang ada belum seluruhnya di-tangani secara profesional. Yang dimaksudkan profesional di sini adalah penanganan tamu-tamu benar-benar diper-hatikan dari segi keamanan, kenyamanan dan ketersediaan makanan selama berada di GSE.
Sebagai contoh yang dapat dijadikan sebagai prototipe peluang usaha di bidang
penginapan adalah
PADEPOKAN CIPARAY, di ma-na tamu dilayani sebagai cus-tomer baik untuk menginap maupun makan dan minumnya.
Penyediaan Makanan dan Minuman
Penyediaan makanan tidak dapat dipisahkan dari pengem-bangan pariwisata. Jenis-jenis makanan lokal yang mempu-nyai ciri khas dan bahan baku lokal adalah sangat cocok un-tuk wisata ekologi.
Rumah makan ‘khas Sun-da’, ikan hasil budidaya dan la-labnya, merupakan ciri lokal yang dapat dikembangkan. Di samping itu, pembudayaan mi-num kopi asli GunungSalak ha-rus menjadi kebiasaan yang dan ciri khas berkunjung ke wilayah ini. Kopi yang disajikan tidak boleh dida-tangkan dari luar, melainkan harus berasal dari kopi yang dibudidayakan dan diolah oleh masyarakat setempat.
Penyediaan Angkutan
kinkan untuk dikembangkan.
Jenis angkutan yang cocok un-tuk akses ke kawasan adalah kendaraan yang diciptakan ramah lingkungan, dengan demikian, perlu dilakukan pengaturan angkutan menuju lokasi.
Jasa Layanan Pariwisata
Penyediaan informasi yang lengkap, memadai dan menarik tentang wisata-ekologi di GSE merupakan salah satu peluang usaha di bidang layanan pari-wisata. Jenis informasi yang perlu disediakan antara lain, keberadaan kawasan ditinjau dari berbagai aspek, jenis-jenis atraksi yang ada dan manfaat bagi kelestarian lingkungan. Informasi juga harus diberikan sebagai pendidikan masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungannya.
Tersedianya informasi yang memadai akan membuka lapangan kerja bagi Pemandu Lokal, di kawasan GSE. Demikian pula bagi usaha penyewaan peralatan untuk menuju kawah, perkemahan remaja dan jasa penjagaan keamanan dan ketertiban. Peluang usaha lain di bidang ini adalah terbukanya kesem-patan bagi para pemotret muda yang dapat mengabadikan
pet-ualangan para wisatawan di kawasan GSE.
Mementos/kenang-kenangan
Untuk menyediakan sesua-tu yang dapat dibawa pulang berupa kenang-kenangan, ter-buka luas kesempatan bagi pengrajin dan seniman. Mengamati ketersediaan bahan baku kerajinan yang sangat melimpah, seperti bambu dan manjah, sangat terbuka pelu-ang usaha di bidpelu-ang kerajinan ini.
Kerajinan yang dihasilkan harus mewakili kesan yang di-peroleh wisatawan selama berkunjung ke GSE. Guna meningkatkan pemasaran hasil kerajinan di kalangan wisatawan GSE, perlu dicip-takan suatu model kerajinan yang berguna selama bertu-alang dan berkesan setelah pu-lang.
a yang diciptakan untuk
melindungi pernapasan pada saat berada di objek kawah ra-tu atau di pemandian air panas, katakanlah masker.
Untuk meningkatkan penjualan produk kerajinan tersebut, maka budaya menggunakan tongkat atau masker tersebut harus dimulai oleh masyarakat lokal setem-pat. Mereka membuat brand penggunaan hasil kerajinan mereka akan berguna selama berada di GSE.
Atraksi Pariwisata
Selain daya tarik wisata alam yang akan diuraikan kemudian, maka untuk mem-buka peluang usaha di sektor pariwisata ini perlu diciptakan antraksi-atraksi lokal yang didasarkan atas potensi lokal.
Seperti telah diuraikan di muka, bahwa tofografi kawasan GSE mulai dari dataran, berge-lombang sampai berbukit. To-fografi perbukitan menyebab-kan angin lembah bertiup ken-cang di atas perbukitan. Kon-disi ini sangat berpeluang bagi pengembangan atraksi festival layang-layang dan festival ko-lecer1. Namun karena
1 Kolecer adalah baling-baling yang
ter-buat dari kayu atau bambu, yang pu-tarannya menggunakan tenaga angin.
nya pepohonan di GSE, yang paling tepat untuk dijadikan sebagai kalender tahunan ada-lah festival kolecer.
Saat ini, masyarakat lokal banyak membuat kolecer se-bagai hiburan. Belum dibuat kriteria-kriteria yang menjadi-kan festival kolecer sebagai even pariwisata di kawasan GSE.
Apabila even ini berhasil menjadi satu kalender tahunan, maka peluang berusaha di bi-dang perkoleceran akan men-ciptakan pengrajin-pengrajin yang akan tampil dalam setiap festival.
KESIM PULAN
Temuan hasil pengkajian di lapangan menunjukkan bahwa keadaan sumber daya alam/lingkungan kawasan Gunung Salak Endah adalah sebagai berikut:
subur dengan kedalaman
solum tanah mencapai 50 cm.
Dari luas wilayah se-luruhnya 683.240 ha, 349.230 ha merupakan la-han pertanian setengah teknis dan 333.330 ha di-peruntukan sebagai hutan lindung. Sedangkan si-sanya untuk pemukiman dan pembangunan sarana prasarana.
Aksesibilitas ke wilayah ini cukup mudah dengan adanya sarana dan prasa-rana yang memadai, di samping jangkauan infor-masi dan komunikasi dari dan ke kawasan GSE. b) Kondisi sumber daya alam
kawasan GSE saat ini merupakan daerah tujuan wisata alam terbuka, dengan kondisi yang mem-prihatinkan. Aktivitas wisatawan dan masyarakat setempat telah menurunk-an kulitas lingkungmenurunk-an ymenurunk-ang mengancam kelestarian sumber daya alam dan keaslian kawasan. Faktor-faktor yang menarik dari kawasan ini adalah adanya objek-objek alami; air ter-jun, sumber air panas, dan kawah. Di samping itu, kesegaran dan kebersihan udara (hawa) pada kondisi pemandangan di alam ter-buka yang mempunyai jarak
pandang yang sangat lu-as/jauh.
Kawasan GSE di mana memiliki hutan lindung yang cukup luas, mempu-nyai aneka ragam hayati baik flora maupun fauna. c) Dari 9.184 kepala keluarga
yang menghuni desa Gunung Sari (di mana GSE berada) sebagian besar mereka mempunyai mata pencaharian utama di sektor pertanian, baik bagai petani maupun se-bagai buruh tani. Namun lahan pertanian yang digarap kebanyakan kurang dari 2 hektar sehingga ter-masuk petani gurem. Pendidikan mereka, seba-gian besar (85,54%) hanya sampai sekolah dasar dan sangat sedikit yang melanjutkan ke pendidikan tinggi.
a Peran serta masyarakat di
dalam pembangunan telah menunjukkan kontribusi nyata bagi pengembangan sektor pariwisata. Bukti nyata ini ditunjukkan oleh adanya adanya kelompok penggerak pariwisata yang telah merintis penyuluhan-penyuluhan lingkungan, pembuatan media informa-si, memprakarsai pembu-atan jalan-jalan di dalam kawasan dan mengkoordi-nasikan retribusi masuk kawasan.
SARAN
Untuk mengembangkan GSE menjadi suatu kawasan wisata di Kabupaten Bogor, perlu diaplikasikan program pembangunan pariwisata yang berbasiskan lingkungan. Peli-batan masyarakat lokal di da-lam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program-program pembangunan merupakan ke-bijakan yang tepat.
Untuk menata objek-objek yang berada di Kawasan GSE, perlu dilakukan survey yang lebih detil dengan metode-metode kuantitatif. Di samping itu peran serta lembaga-lembaga swadaya masyarakat sangat dibutuhkan terutama untuk menata dan mengem-bangkan kualitas sumberdaya masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Dirjen Pariwisata. Panduan Pengembangan Wisata Ekologi. Jakarta, 1998. Kartasasmita, G. Perencanaan
Pembangunan. Bappenas. Jakarta.
Korten, David C. & Rudy Klauss (ed). People Centered Development: Contribu-tion Toward Theory and Planning Framework. Connecticut: Kumarian Press. 1984.
Lindberg, Kreg and Donald E. Hawkins (Editor). Eco-tourism: a guide for plan-ner & managers. The Eco-tourism Society: Vermont, 1993.
Margono, S. Kumpulan Bahan Bacaan Penyuluhan Per-tanian. IPB. Bogor. 1978.
Ndraha, T. metodologi Penelitian Pembangunan Desa. Bina Aksara. Jakar-ta, 1982.
Rogers, Everett M. Communi-cation and development. Sage Publications. 1976. Soekanto, S. Sosiologi: Suatu
pengantar. Rajawali. Ja-karta. 1982.
Swasono, Sei Edi.
Perencanaan
Pem-bangunan. No.03. Bap-penas, Jakarta.