• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA DAMPAK KEBIJAKAN M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA DAMPAK KEBIJAKAN M"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

DAMPAK KEBIJAKAN

MANDATORY SENTENCING LAW

DALAM

SENTENCING ACT

1995 DI NORTHERN TERRITORY

AUSTRALIA TERHADAP MASYARAKAT ABORIGIN PADA

TAHUN 1997 – 2001

TUGAS KARYA AKHIR

 

 

 

STEPHANIE APSARI SUHARTO (1106058300) 

 

 

 

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK 

ILMU POLITIK 

DEPOK 

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

DAMPAK KEBIJAKAN

MANDATORY SENTENCING LAW

DALAM

SENTENCING ACT

1995 DI NORTHERN TERRITORY

AUSTRALIA TERHADAP MASYARAKAT ABORIGIN PADA

TAHUN 1997 – 2001

TUGAS KARYA AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Ilmu Politik

(S.IP)

 

 

STEPHANIE APSARI SUHARTO

(1106058300) 

 

 

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK 

ILMU POLITIK

PERBANDINGAN POLITIK 

DEPOK 

(3)
(4)
(5)

Ketertarikan penulis terhadap tema Aborigin bermula sejak penulis bertemu

dengan salah satu orang Aborigin pada saat penulis berada di Melbourne, Australia

untuk mengunjungi kakak pada tahun 2009. Pada saat berada di Melbourne, penulis

menggunakan transportasi publik tram dan bertemu salah satu orang Aborigin di dalam tram yang direspon negatif oleh orang kulit putih dengan memberikan tatapan sinis. Hal ini yang kemudian membuat penulis mencari tahu mengenai keberadaan

orang Aborigin di Australia.

Sejak awal masuk menjadi mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Indonesia,

penulis sudah megetahui bahwa penulis akan menulis mengenai masyarakat Aborigin

pada Tugas Karya Akhir (TKA). Penulis mengikuti perkuliahan Politik di Australia

dan menemukan isu mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) masyarakat Aborigin yang

sangat menarik bagi penulis. Pencarian mengenai HAM masyarakat Aborigin di

Australia ini kemudian menuntun penulis sampai akhirnya penulis menemukan isu

mengenai kebijakan Mandatory Sentencing Law yang masih diperdebatkan sampai pada saat ini karena memiliki dampak yang besar terhadap masyarakat Aborigin.

TKA ini tidak akan terselesaikan tanpa berkat dan bimbingan dari Tuhan

Yesus Kristus. Terima kasih kepada Tuhan yang telah membuat penulis berhasil

melakukan berbagai hal yang tidak pernah penulis bayangkan sebelumnya. Tanpa

berkat dan perlindungan Tuhan Yesus Kristus, penulis tidak akan bisa menjadi seperti

sekarang ini. Terima kasih pula penulis ucapkan kepada kedua orang tua yang telah

memberikan dukungan dan semangat kepada penulis sampai penulis dapat

menyelesaikan TKA ini. Terima kasih kepada kakak-kakak penulis, Mas Radityo

Ardi Nugraha dan Mba Laksmi Anindya, serta kakak ipar saya Mas Dimaz

Muktiarto, yang selalu mendukung penulis untuk terus melakukan kegiatan-kegiatan

yang sifatnya positif.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Mba Dra. Reni Chandriachsja Suwarso,

MPP., selaku dosen pembimbing. Mba Reni telah sangat membantu penulis dengan

(6)
(7)
(8)

Nama : Stephanie Apsari Suharto Study Program: Ilmu Politik

Judul : Dampak Kebijakan Mandatory Sentencing Law dalam Sentencing Act 1995 di Northern Territory Australia Terhadap Masyarakat Aborigin Pada Tahun 1997 – 2001

Tugas Karya Akhir ini membahas mengenai kebijakan Mandatory Sentencing Law yang diberlakukan di Northern Territory, Australia dengan memberikan hukuman wajib atau hukuman minimal bagi pelaku tindak kejahatan properti dengan melihat dampaknya terhadap masyarakat Aborigin. Melalui model penelitian kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari sebuah kebijakan terhadap kelompok minoritas di Australia. Teori kebijakan publik oleh James E. Anderson digunakan untuk menjelaskan dampak kebijakan publik terhadap kelompok minoritas.

Kata kunci:

(9)

Name : Stephanie Apsari Suharto Major : Political Science

Title : Impact of Mandatory Sentencing Law in Sentencing Act 1995 on Indigenous People in Northern Territory Australia in 1997 – 2001

This thesis scrutinizes Mandatory Sentencing Law as public policy that enforced in Northern Territory, Australia by giving fixed or minimum penalty to the property offenders and see how its impact on indigenous people of Australia. Through a qualitative research, this study aims to discover impact of public policy on minority group in Australia. The public policy theory by James E. Anderson is the theory which used in this thesis to explain the impact of public policy to minority group.

Key words:

(10)

HALAMAN JUDUL ……….. i

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ...……… ii

HALAMAN PENGESAHAN ...………. iii

KATA PENGANTAR ………... iv

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ………. vi

ABSTRAK ……… vii

DAFTAR ISI ………. ix

DAFTAR GAMBAR, GRAFIK, DAN TABEL ………... xi

GLOSARIUM ………... xii

I. PENDAHULUAN ………. 1

I.1 Latar Belakang ……….……… 1

I.2 Rumusan Permasalahan ……….……….. 9

I.3 Tujuan Penelitian ……….……… 10

I.4 Signifikansi Penelitian ……….……… 10

I.5 Kerangka Teori ……….………... 10

I.5.1 Teori Kebijakan Publik James E. Anderson .……….… 10

I.6 Skema Alur Berpikir ……….……….. 14

I.7 Metodelogi Penelitian ……….……… 17

I.8 Sistematika Penulisan ……….……… 17

II. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MANDATORY SENTENCING LAW DI AUSTRALIA ………... 19

II.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Diterapkannya Kebijakan Mandatory Sentencing Law ………... 21

II.2 Implementasi Kebijakan Mandatory Sentencing Law di Negara Bagian dan Wilayah di Australia ……….… 23

(11)

II.2.4 South Australia ………….………. 26

II.2.5 Victoria ……….………. 27

II.2.6 Northern Territory ……….……… 28

II.3 Dampak Kebijakan Mandatory Sentencing Law Terhadap Seluruh Masyarakat Australia ……….. 31

III. DAMPAK KEBIJAKAN MANDATORY SENTENCING LAW TERHADAP MASYARAKAT ABORIGIN DI NORTHERN TERRITORY………..………... 37

III.1 Dampak Kebijakan Mandatory Sentencing Law di Northern Territory terhadap Masyarakat Aborigin dalam Aspek Politik ………... 40

III.2 Dampak Kebijakan Mandatory Sentencing Law di Northern Territory terhadap Masyarakat Aborigin dalam Aspek Ekonomi ………... 42

III.3 Dampak Kebijakan Mandatory Sentencing Law di Northern Territory terhadap Masyarakat Aborigin dalam Aspek Sosial ……… 44

III.3.1 Dampak Terhadap Tingkat Kriminalitas ………….………… 44

III.3.2 Dampak Terhadap Tingkat Populasi Penjara …….…………. 46

III.3.3 Dampak Terhadap Tingkat Kematian ………….………. 50

III.3.4 Dampak Terhadap Pendidikan ………….……… 51

III.4 Evaluasi Kebijakan Mandatory Sentencing Law ……….…. 52

IV. KESIMPULAN ………. 58

(12)

Grafik 1.1 Komposisi Masyarakat Kulit Putih dan Masyarakat Aborigin

Dalam Penjara di Negara Bagian dan Wilayah di Australia Pada

Tahun 1999……….. 8

Grafik 2.1 Tingkat Tindak Kejahatan Secara Umum di Australia Pada Tahun

1995 – 2007 ...………...…………. 19

Grafik 3.1 Komposisi Masyarakat Aborigin yang Terkena Hukuman Wajib

atau Hukuman Minimal di Northern Territory ………... 44

Grafik 3.2 Tingkat Populasi Masyarakat Australia dalam Penjara di Northern

Territory ……….. 47

Grafik 3.3 Komposisi Masyarakat di Northern Territory yang Terkena

Hukuman Wajib atau Hukuman Minimal pada Tindak Kejahatan

Pertama ..………. 48

Grafik 3.4 Komposisi Masyarakat di Northern Territory yang Terkena

Hukuman Wajib atau Hukuman Minimal pada Tindak Kejahatan

Pertama, Kedua, dan Ketiga ………... 49

Grafik 3.5 Tingkat Masyarakat Australia yang Melakukan Tindak Kejahatan

Properti pada saat diberlakukannya Kebijakan Mandatory

(13)

Agenda Setting : Perencanaan mengenai suatu hal dengan menargetkan tujuan tertentu.

Crimes Act : Tindakan pemerintah dalam mengatasi

tingginya tingkat kriminalitas di negaranya.

Criminal Code : Hukum pidana yang mengatur mengenai

tindak kriminal di negaranya dan hukuman yang diberikan kepada pelaku tindak kriminal ini.

Criminal Law : Tindakan preventif yang diambil pemerintah

dalam usaha menanggulangi terjadinya tindak pelanggaran atau kejahatan di negaranya.

Gross Violence : Tindak kejahatan serius yang dilakukan secara

disengaja ataupun tidak disengaja, yang mengakibatkan kerugian fisik terhadap orang lain.

Juvenile Justice Act : Tindakan pemerintah dalam mengatasi

ketidakadilan yang terjadi terhadap remaja di negaranya.

Mandatory Sentencing Law : Kebijakan yang memberikan hukuman wajib

atau hukuman minimum kepada pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan tertentu, yang peraturannya ditentukan oleh negara yang bersangkutan.

Non-parole Periode : Periode diterapkannya kebijakan mengenai

(14)

atau kejahatan sesuai dengan kondisi pihak tersebut, memiliki peran yang lebih kecil pada periode ini. Hal ini dikarenakan pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan yang bersangkutan, tidak dapat memiliki pengecualian dalam kondisi apapun.

One Punch Law : Hukuman wajib atau hukuman minimal yang

diberikan kepada pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan tertentu dengan satu pemberian hukuman yang pasti dan tidak dapat diganggu gugat.

Sentencing Act : Tindakan pemerintah dalam mengatasi tingkat

kriminalitas dengan memberikan hukuman-hukuman kepada pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan di negaranya.

Territory : Wilayah yang berada dibawah yurisdiksi

otoritas pemerintah negara. Wilayah suatu negara menjadi tanggung jawab penuh negara tersebut dengan mengikuti peraturan yang berlaku di negara yang bersangkutan.

Three Strikes Law : Hukuman wajib atau hukuman minimal yang

(15)

kejahatan ini biasanya dilakukan oleh orang yang berada di bidang bisnis dan pemerintahan.

Young Offenders Act : Tindakan pemerintah dalam mengatasi

(16)

BAB I 

PENDAHULUAN 

 

I.1 Latar Belakang  

Australia merupakan negara yang biasa menerapkan hukuman maksimal dalam hukum pidana di negaranya. Hukuman maksimal yang dimaksud adalah hukuman yang diberikan oleh pihak pengadilan mengenai perkiraan hukuman terberat yang didapatkan oleh pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan. Dalam hal ini, pelaku yang bersangkutan memiliki kemungkinan untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan dari hukuman yang ditentukan, sesuai dengan peraturan yang berlaku di negaranya.1 Peraturan mengenai hukuman maksimal ini tercantum dalam

AustralianCriminal Code.2

Sejak abad ke-20, pemerintah Australia mulai menerapkan kebijakan yang memberikan hukuman wajib atau hukuman minimal bagi pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan di beberapa negara bagian dan wilayah negaranya. Hukuman wajib atau hukuman minimal ini berbanding terbalik dengan hukuman maksimal yang biasa diterapkan oleh pengadilan di Australia. Apabila pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan mendapatkan hukuman ini, maka pihak pengadilan langsung memberikan waktu hukuman yang pasti didapatkan oleh pelaku atau justru lebih. Hal ini diberlakukan apabila pelaku melanggar ketentuan tertentu yang ditetapkan. Dengan ini, kemungkinan untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan dari yang telah ditetapkan menjadi mustahil.

Kebijakan yang mengatur mengenai hukuman wajib atau hukuman minimal adalah kebijakan Mandatory Sentencing Law yang diatur dalam Sentencing Act.3 Dalam kebijakan ini, hukuman wajib atau hukuman minimal diatur dengan memberikan hukuman yang lebih terfokus pada frekuensi pelaku dalam melakukan

       

1 B. O’Farrell. Lockouts & Mandatory Minimums to be Introduced to Tackle Drug and Alcohol Violence. NSW: Minister for Western Sydney. 2014, hlm. 1.

2 Criminal Code 1900. Australia.

3 Adrian Hoel. Sentencing Matters: Mandatory Sentencing. Victoria: Sentencing Advisory Council.

(17)

pelanggaran atau kejahatan. Hal ini berbeda dengan hukuman maksimal yang

justru memberikan hukuman dengan menimbang berat pelanggaran atau kejahatan

yang dilakukan oleh pelaku.4

Terdapat dua jenis hukuman ketika pengadilan Australia memberikan

hukuman wajib atau hukuman minimal terhadap pelaku tindak pelanggaran atau

kejahatan di negaranya. Jenis hukuman yang pertama adalah one strike law. One

strike law diberikan kepada pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan tertentu

dengan jangka waktu hukuman wajib yang telah ditentukan. Hukuman ini tidak

dapat dikurangi maupun ditambahkan. Jenis hukuman One strike law ini

diberlakukan di New South Wales, Queensland, South Australia, dan Victoria.5 Sedangkan, jenis hukuman yang kedua adalah three strikes law dengan

memberikan hukuman wajib atau hukuman minimal dengan bertahap. Hukuman

wajib atau hukuman minimal yang didapatkan pelaku dalam hal ini terbagi dalam

tiga tahap. Apabila pelaku melakukan tindak pelanggaran atau kejahatan tertentu

untuk pertama kalinya, maka hukuman yang didapatkan akan lebih ringan

daripada hukuman yang didapatkan ketika pelaku tersebut melakukan

pelanggaran atau kejahatan untuk kedua atau ketiga kalinya. Semakin banyak

frekuensi pelaku melakukan pelanggaran atau kejahatan, maka hukuman wajib

atau hukuman minimal yang didapatkan menjadi semakin berat. Jenis hukuman

three strikes law ini diberlakukan di Western Australia dan Northern Territory.

Penerapan hukuman wajib atau hukuman minimal dalam kebijakan

Mandatory Sentencing Law pada masing-masing negara bagian dan wilayah di

Australia diberlakukan untuk jenis pelanggaran atau kejahatan yang

berbeda-beda.6 Hal ini dikarenakan perbedaan jenis pelanggaran atau kejahatan yang kerap terjadi di masing-masing negara bagian dan wilayah yang bersangkutan. Jenis

tindak kejahatan yang kerap terjadi di Western Australia adalah pembobolan dan

perampokan rumah, sedangkan di New South Wales adalah pembunuhan terhadap

aparat kepolisian, pemukulan yang dilakukan dengan sengaja, dan tindak

       

4 Ibid., hlm. 1. 5

Australian Government. State and Territory Government. Diakses dari:

http://www.australia.gov.au/about-australia/our-government/state-and-territory-government pada tanggal 2 Mei 2015 pukul 10.05 WIB.

(18)

pelanggaran atau kejahatan lainnya yang berkaitan dengan alkohol dan narkoba.7 Negara bagian Queensland juga memberlakukan kebijakan ini.

Queensland menerapkan hukuman wajib atau hukuman minimal bagi pelaku

tindak pelecehan seksual terhadap anak, pembunuhan, kepemilikan senjata api

atau obat-obatan. Selain itu, hukuman ini juga diberikan kepada pihak yang terkait

atau merupakan anggota dari geng motor. Negara bagian South Australia juga

menerapkan hukuman ini bagi pelaku tindak kejahatan serius, seperti kekerasan,

tindak kejahatan terorganisir, serta tindak kejahatan yang dilakukan terhadap

aparat kepolisian. Selain itu, negara bagian Victoria juga menerapkan hukuman

wajib atau hukuman minimal bagi pelaku tindak kejahatan yang secara disengaja

ataupun tidak, telah menyebabkan cedera serius dikarenakan kekerasan yang

dilakukan terhadap seseorang.

Terakhir, wilayah di Australia yang memberlakukan hukuman dalam

kebijakan Mandatory Sentencing Law ini adalah Northern Territory. Northern

Territory menerapkan hukuman ini bagi pelaku tindak kejahatan properti.8 Konteks properti yang dimaksud dalam hal ini berbeda dengan konteks properti

yang dipersepsikan di Indonesia, yaitu benda-benda tidak bergerak, seperti tanah,

lahan, rumah, dan lain-lain. Properti yang dimaksudkan dalam hal ini adalah

segala jenis benda yang dimiliki seseorang dalam bentuk apapun. Maka dari itu,

mengambil benda kepemilikan orang lain dapat dikatakan sebagai tindak

kejahatan properti.9

Tindak kejahatan properti yang mendapatkan hukuman wajib atau

hukuman minimal di Northern Territory adalah tindak kejahatan seperti

pencurian, kerusakan, penggunaan yang tidak sah atas kendaraan, penerimaan

barang curian, serangan yang dimaksudkan untuk pencurian, dan perampokan.10 Selain tindak kejahatan properti, terdapat tindak kejahatan lainnya yang juga

mendapatkan hukuman wajib atau hukuman minimal di Northern Territory, yaitu

       

7 Law Council of Australia. News from the Law Council of Australia: The Mandatory Sentencing

Debate. Diakses dari: http://www.lawcouncil.asn.au/lawcouncil/index.php/law-council-media/news/352-mandatory-sentencing-debate pada tanggal 2 Mei 2015 pukul 12.20 WIB.

8 Ibid. 9

NT Office of Crime Prevention. Northern Territory Quarterly Crime & Justice Statistics: 2002. Australia: Northern Territory Office of Crime Prevention. 2002, hlm. 76.

10

(19)

tindak pelecehan seksual dan kekerasan terhadap seseorang.11 Terdapat tindak kejahatan serupa dengan tindak kejahatan properti yang tidak dikenakan hukuman

wajib atau hukuman minimal di Northern Territory, yaitu white-collar crime.

White-collar crime merupakan jenis tindak kejahatan yang dilakukan tanpa

adanya kekerasan dan bermotif finansial, yang biasanya dilakukan oleh orang

yang berada dalam bidang bisnis dan pemerintahan. Tindak kejahatan ini kerap

dilakukan masyarakat kulit putih di Northern Territory, tetapi tidak dimasukkan

untuk mendapat hukuman dalam kebijakan Mandatory Sentencing Law.

Hukuman wajib atau hukuman minimal di Northern Territory diberikan

kepada setiap orang dewasa yang ditemukan bersalah dengan jenis kejahatan

properti. Pelaku tindak kejahatan ini kemudian diberikan hukuman wajib atau

hukuman minimal selama 14 hari pada tindak kejahatan yang dilakukan untuk

pertama kalinya. Setelah itu, untuk pelaku yang melakukan pengulangan tindak

kejahatan, atau tindak kejahatan yang kedua kalinya, hukuman wajib atau

hukuman minimal ini bertambah menjadi 90 hari. Kemudian, pada tindak

kejahatan ketiga atau lebih, pelaku mendapatkan hukuman wajib atau hukuman

minimal selama satu tahun penjara.12

Berbeda dengan yang diberlakukan terhadap orang dewasa, hukuman

wajib atau hukuman minimal yang diberlakukan pada remaja cenderung lebih

ringan. Pada tindak kejahatan pertama, remaja di Northern Territory tidak

mendapatkan hukuman penjara. Kemudian, untuk tindak kejahatan kedua,

hukuman wajib atau hukuman minimal yang diberikan adalah 28 hari penjara atau

partisipasi terdakwa dalam suatu program yang telah ditentukan. Selain itu, untuk

tindak kejahatan ketiga kalinya, pelaku diberikan hukuman selama 28 hari

penjara.13

Kebijakan Mandatory Sentencing Law lebih terfokus dalam memberikan

hukuman kepada masyarakat yang melakukan pengulangan tindak kejahatan. Hal

ini dilakukan untuk memberikan efek jera terhadap terdakwa yang melakukan

       

11 NT Office of Crime Prevention. Mandatory Sentencing for Adult Property Offenders: The

Northern Territory Experience. Australia: Northern Territory Office of Crime Prevention. 2003, hlm. 2.

12 Gordon Hughes. The Mandatory Sentencing Debate. Australia: Law Council of Australia. 2011,

hlm. 4.

(20)

tindak kejahatan sebanyak dua kali atau lebih.14 Selain itu, kebijakan Mandatory Sentencing Law pada awalnya diberlakukan sebagai hukuman pengganti bagi

hukuman mati yang ditiadakan pada abad ke dua puluh. Hukuman mati pernah

diterapkan di Australia sebagai hukuman bagi masyarakat yang melakukan tindak

kejahatan pembunuhan. Hukuman wajib atau hukuman minimal sebagai

pengganti hukuman mati diterapkan di New South Wales pada tahun 1982,

Victoria pada tahun 1986, Tasmania pada tahun 1995, dan Western Australia pada

tahun 2008. Untuk Queensland, South Australia, dan Northern Territory

diberlakukan hukuman penjara seumur hidup sebagai pengganti hukuman mati.15 Northern Territory merupakan wilayah dengan tingkat kriminalitas

tertinggi di Australia. Sedangkan, Darwin merupakan kota dengan tingkat

kriminalitas tertinggi di Northern Territory. Peta dari wilayah ini dapat dilihat

pada Gambar 1 dalam Lampiran.16 Banyak masyarakat yang tinggal di Darwin mengeluhkan rasa ketidaknyamanannya karena kondisi keamanan yang kurang

baik. Hal ini membuat pemerintah Australia mengambil tindakan dengan

menerapkan kebijakan Mandatory Sentencing Law ini. Selain Darwin, terdapat

kota lainnya di Northern Territory, yaitu Alice Springs yang merupakan kota

dengan tingkat kriminalitas kedua tertinggi dan kota dimana tingkat kejahatan

pembunuhan mencapai tingkat tertinggi di Australia.17 Hal ini lah yang menjadi pertimbangan pemerintah Australia untuk memberikan efek jera kepada

masyarakatnya yang melakukan tindak kejahatan.

Terdapat beberapa periode dalam pemberlakuan kebijakan Mandatory

Sentencing Law di Northern Territory. Sejak awal diterapkannya kebijakan

Mandatory Sentencing Law di Northern Territory, yaitu pada tahun 1997 sampai

dengan tahun 1999 merupakan non-parole periode. Pada non-parole periode ini,

kebijakan Mandatory Sentencing Law diberlakukan kepada siapapun yang

melakukan tindak kejahatan properti, dengan tidak memperdulikan bagaimana

kondisi pelaku. Dalam periode ini, hakim tidak memiliki banyak peran karena

       

14 Anthony Morgan. Northern Territory Safe Streets Audit. Australia: Australian Institute of

Criminology. 2014, hlm. 5.

15

Lenny Roth. Mandatory Sentencing Laws. NSW: NSW Parliamentary Research Service. 2014, hlm. 2.

16

Anthony Morgan. Op.Cit, hlm. 5.

(21)

tidak dapat memutuskan terdakwa yang dalam kondisi seperti apa yang tidak

mendapatkan hukuman ini.18

Non-parole periode menyebabkan banyaknya kejadian dimana pihak yang

melakukan kejahatan serius dijatuhkan hukuman yang sama dengan pihak yang

melakukan kejahatan ringan. Hal ini terjadi dikarenakan kejahatan yang dimaksud

tidak diperjelas secara rinci.19 Contohnya seperti tindak kejahatan pencurian, yang tidak diketahui dengan jelas jenis pencurian seperti apa yang dimaksud. Hal ini

membuat masyarakat yang mencuri satu permen dengan masyarakat yang mencuri

sepuluh mobil dijatuhi hukuman yang sama.20

Setelah itu, pada September 1999 non-parole periode pun berakhir dan

hakim yang mengadili terdakwa dan dijatuhkan hukuman wajib atau hukuman

minimal mulai memperhatikan alasan-alasan dari kejahatan yang dilakukan oleh

pelaku tindak peanggaran atau kejahatan. Dalam kondisi tertentu, hakim dapat

meringankan hukuman yang dikenakan kepada pelaku. Hal ini terus berlangsung

sampai pada saat dimana pemerintah yang baru terpilih pada pemilu tahun 2001.

Pada tahun 2001 ini, Partai Liberal kehilangan kekuasaannya dan digantikan oleh

Partai Buruh, yang menyatakan bahwa kebijakan Mandatory Sentencing Law

tidak diberlakukan lagi di wilayah Northern Territory. Pemerintah Partai Buruh

melihat bahwa kebijakan ini tidak berhasil mencapai tujuan awalnya untuk

mengurangi tingkat kriminalitas selama diterapkan di Northern Territory.21

Masyarakat asli atau masyarakat Aborigin di Australia banyak menetap di

Northern Territory sejak 40.000 tahun yang lalu. Wilayah ini merupakan wilayah

yang kaya akan Sumber Daya Alam. Meskipun tinggal di wilayah yang kaya akan

Sumber Daya Alam, kehidupan masyarakat Aborigin di Northern Territory ini

masih tradisional, dengan masyarakat Aborigin yang masih banyak tinggal dalam

tenda, memakan makanan yang ada di sekitarnya, menggunakan pakaian yang

masih tradisional, dan sebagainya.22 Kebijakan Mandatory Sentencing Law yang

       

18 Raji Mangat. More Than We Can Afford: The Costs of Mandatory Minimum Sentencing.

Vancouver: British Columbia Civil Liberties Association. 2014, hlm. 5.

19 Ibid., hlm. 5.

20 Glen Cranny. Mandatory Sentencing: Where From, Where To and Why? Queensland:

International Society for The Reform of Criminal Law. 2006, hlm. 9.

21 Ibid., hlm. 9. 22

(22)

diterapkan di Northern Territory sejak tahun 1997 ini turut memberikan dampak

positif dan negatif.

Dampak positif yang dimaksud adalah ketika tindakan pemerintah dalam

pembuatan kebijakan menjadi solusi yang tepat bagi masyarakat dan membuat

tujuan dari kebijakan tersebut tercapai. Sedangkan, dampak negatif yang

dimaksud adalah ketika kebijakan yang dijalankan tidak mencapai tujuan dan

justru memberikan dampak lain yang merugikan masyarakat. Dampak negatif ini

dapat menimbulkan dampak-dampak lain seperti dampak politik, ekonomi, dan

sosial terhadap kehidupan masyarakat Aborigin di Australia.23 Hal ini disebabkan oleh faktor masyarakat Aborigin yang hidup dengan keadaan sosial-ekonomi yang

rendah, yang membuat masyarakat Aborigin menjadi banyak melakukan tindak

kriminal untuk memenuhi kebutuhannya.24

Menurut Diana Henriss Anderssen, masyarakat Aborigin memiliki potensi

untuk terkena hukuman dalam kebijakan Mandatory Sentencing Law dan masuk

ke dalam penjara 10 kali lebih besar, dibandingkan dengan masyarakat kulit putih

di Australia.25 Masyarakat Aborigin di Northern Territory yang masuk ke dalam penjara karena terkena hukuman wajib atau hukuman minimal pada tahun 1997 –

2001 dapat sekitar 1.460 orang per 100.000 orang, berbanding dengan masyarakat

kulit putih yang masuk ke dalam penjara sekitar 169 orang per 100.000 orang.26 Kemudian, jumlah masyarakat Aborigin yang berada di dalam penjara di Northern

Territory meningkat dari 60 persen pada tahun 1995 menjadi 84 persen pada

tahun 1999.27

Berikut terdapat grafik yang menggambarkan komposisi populasi penjara

di Australia pada tahun 1999 berdasarkan negara bagian dan wilayah, serta

25 Diana Henriss Anderssen. Mandatory Sentencing: The Failure of the Australian Legal System to

Protect the Human Rights of Australians. Australia: James Cook University. 2000, hlm. 239.

26

Ibid., hlm. 239.

27 Creative Spirits. Aboriginal Prison Rates. Diakses dari:

(23)

Grafik I.1

Komposisi Masyarakat Kulit Putih dan Masyarakat Aborigin Dalam

Penjara di Negara Bagian dan Wilayah di Australia Pada Tahun 1999

Sumber: Creative Spirits. Aboriginal Prison Rates. Diakses dari:

http://www.creativespirits.info/aboriginalculture/law/aboriginal-prison-rates#axzz3ehEnSbL4

diakses pada tanggal 26 Juni 2015 pukul 08.10 WIB.

Kebijakan Mandatory Sentencing Law selain berdampak pada dewasa

Indigenous atau Aborigin, juga berdampak pada remaja Aborigin. Hal ini

dikarenakan penerapan kebijakan ini yang juga melibatkan remaja Aborigin,

walaupun dalam hal ini hukuman wajib atau hukuman minimal yang diberikan

kepada remaja lebih ringan daripada kepada dewasa. Sebelum diterapkannya

kebijakan ini, yaitu pada tahun 1995, sebanyak 50 persen dari total 103.864

remaja Aborigin tidak dapat menyelesaikan Sekolah Menengah Atas. Setelah

kebijakan ini diterapkan, yaitu pada tahun 1999, remaja Aborigin yang tidak dapat

menyelesaikan Sekolah Menengah Atas ini meningkat dari 50 persen menjadi 75

persen dari total 106.233 remaja Aborigin.28 Sampai pada tahun 2015 ini, hanya 10 persen dari total 110.492 generasi muda Aborigin yang berhasil tamat sekolah

di Australia. Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi bagi

masyarakat Aborigin secara nasional, yaitu 35 persen dari total populasi

       

28

(24)

masyarakat Aborigin sebanyak 669.881 orang.29

I.2 Rumusan Permasalahan 

Kebijakan Mandatory Sentencing Law merupakan kebijakan yang

dicetuskan oleh pemerintah untuk memberikan hukuman wajib atau hukuman

minimal kepada pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan tertentu. Kebijakan ini

diterapkan oleh beberapa negara, seperti Kanada, Ceko, India, Jepang, Malaysia,

Singapura, Taiwan, Inggris, Amerika, dan Australia. Hukuman wajib atau

hukuman minimal diterapkan di beberapa negara bagian dan wilayah di Australia,

seperti di Western Australia, New South Wales, Queensland, South Australia,

Victoria, dan Northern Territory. Jenis pelanggaran atau kejahatan yang diberikan

di negara-negara bagian dan wilayah untuk mendapatkan hukuman wajib atau

hukuman minimal di Australia ini berbeda-beda.

Kebijakan Mandatory Sentencing Law diberlakukan di Northern Territory

bagi pelaku tindak kejahatan properti. Properti yang dimaksudkan dalam hal ini

adalah segala jenis benda yang dimiliki seseorang dalam bentuk apapun. Maka

dari itu, mengambil benda kepemilikan orang lain dapat dikatakan sebagai tindak

kejahatan properti.30 Jenis-jenis tindak kejahatan properti yang mendapatkan hukuman wajib atau hukuman minimal di Northern Territory adalah tindak

kejahatan seperti pencurian, kerusakan, penggunaan yang tidak sah atas

kendaraan, penerimaan barang curian, serangan yang dimaksudkan untuk

pencurian, dan perampokan.

Tindak kejahatan properti cenderung dilakukan oleh kelompok masyarakat

dengan kondisi sosial-ekonomi rendah, seperti masyarakat Aborigin. Hal ini

kemudian yang menyebabkan sebagian besar masyarakat Aborigin terkena

hukuman wajib atau hukuman minimal di Northern Territory. Sehingga, dari latar

belakang yang sudah dipaparkan sebelumnya, rumusan masalah yang akan dikaji

adalah Bagaimana dampak yang timbul akibat diberlakukannya kebijakan

Mandatory Sentencing Law dalam Sentencing Act 1995di Northern Territory,

Australia terhadap masyarakat Aborigin pada tahun 1997 – 2001?

       

29 Ibid., hlm. 5. 30

(25)

I.3 Tujuan Penelitian 

Penelitian deskriptif analitis ini berusaha untuk menjelaskan alasan

terjadinya suatu hal dan bagaimana dampaknya. Maka dari itu, tujuan dari

penelitian ini antara lain untuk mengkaji dasar dari kebijakan pemerintah

Australia pada masa kepemimpinan John Howard dengan menjalankan kebijakan,

yang berdampak negatif terhadap kelompok minoritas di negaranya. Selain itu,

penelitian ini juga bertujuan untuk memahami dampak yang timbul akibat

berlakunya kebijakan mengenai hukuman wajib atau hukuman minimal terhadap

masyarakat Aborigin.

I.4 Signifikansi Penelitian

Signifikansi penelitian yang pertama, yaitu signifikansi praktis. Hasil dari

penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan alternatif kepada

masyarakat dalam melihat bagaimana pembuatan kebijakan yang dapat bersifat

adil terhadap seluruh masyarakat di segala jajaran. Kemudian, signifikansi

penelitian yang kedua adalah signifikansi sosial. Penelitian ini diharapkan dapat

bermanfaat pula untuk memberikan masukan kepada masyarakat, terlebih yang

bergerak dalam LSM agar dapat mengutamakan keadilan, terutama dalam hal

kebijakan dengan melihat dampaknya terhadap kelompok minoritas.

I.5 Kerangka Teori 

I.5.1 Teori Kebijakan Publik James E. Anderson

Definisi kebijakan publik menurut James E. Anderson dapat

diklasifikasikan sebagai suatu proses proses yang didalamnya terdapat fase

serangkaian kerja para pejabat publik ketika pemerintah benar-benar bertindak

untuk dapat menyelesaikan persoalan masyarakat.31 Menurut James E. Anderson, kebijakan publik dapat memberikan dampak yang besar terhadap

kehidupan masyarakat di negara dimana kebijakan publik tersebut diterapkan.

Dampak yang dihasilkan dapat berupa dampak positif, dengan kebijakan yang

dapat memberikan solusi yang tepat bagi masyarakat dan berhasil mencapai

       

(26)

tujuannya. Selain itu, kebijakan publik juga dapat memberikan dampak negatif

dengan kebijakan yang tidak berhasil mencapai tujuan dan justru memberikan

dampak lain yang merugikan masyarakat. Dampak negatif ini dapat terlihat

dalam aspek politik, ekonomi, dan sosial.32

James E. Anderson menetapkan proses kebijakan publik, dimana hal

yang terpenting pada tahapan adalah identifikasi suatu masalah dan juga

agenda setting. Agenda setting yang dimaksudkan adalah perencanaan

mengenai suatu hal dengan menargetkan tujuan tertentu. Pada tahap pertama

ini, aktor dari kebijakan publik atau pemerintah harus lebih terfokus pada

masalah yang menjadi target dari kebijakan publik. Masalah yang ada harus

spesifik, sehingga pemerintah dapat benar-benar mengetahui bagaimana

permasalahan yang ada dalam suatu kondisi tertentu, mengapa masalah harus

diselesaikan dengan pembuatan kebijakan publik, dan sebagainya. Pemerintah

harus benar-benar mengetahui seperti apa tindakan yang diambil untuk

mengatasi permasalahan yang ada.33

Kemudian, tahapan kedua dari proses kebijakan publik adalah

formulasi kebijakan publik. Pada tahap ini, pemerintah harus mempersiapkan

hal-hal apa saja yang diperlukan dalam menangani permasalahan yang ada.

Jalan alternatif harus dipersiapkan untuk mengantisipasi berjalannya kebijakan

publik ini. Pihak pemerintah harus mengetahui kesulitan-kesulitan apa saja

yang akan didapatkan ketika menjalankan kebijakan yang bersangkutan.

Kemudian, tahapan ketiga adalah pengadopsian kebijakan publik. Pada tahap

ketiga ini, alternatif dari permasalahan harus benar-benar dipikirkan, termasuk

bagaimana apabila pihak pemerintah tidak mengambil tindakan apapun untuk

menyelesaikan suatu permasalahan yang ada. Harus ada alternatif dari suatu

permasalahan dan bagaimana kebijakan hendak diadopsi sebagai langkah

penyelesaian masalah.34

Pada tahap keempat, hal yang harus diperhatikan adalah implementasi

berjalannya kebijakan publik. Dalam tahap ini, pemerintah berusaha untuk

       

32

Hessel Nogi S. Tangkilisan. Kebijakan Publik yang Membumi: Konsep, Strategi dan Kasus. Yogyakarta: Lukman Offset dan YPAPI. 2003, hlm. 2.

33

James E. Anderson. Op.Cit, hlm 3.

(27)

mengaplikasikan kebijakan publik di negaranya demi mengatasi

permasalahan. Pemerintah berusaha memperhatikan tindakan-tindakan yang

dilakukan dalam penerapan kebijakan publik ini. Dalam hal ini, aktor dari

kebijakan publik menjadi hal yang penting dan patut untuk diperhatikan

karena memiliki dampak yang besar atas berjalannya kebijakan publik dan

seperti apa dampak yang dihasilkan dari kebijakan yang telah dibuatnya.

Implementasi dari kebijakan publik ini harus sungguh diperhatikan untuk

dapat melihat apakah kebijakan publik berhasil untuk mengatasi permasalahan

atau tidak.35

Terakhir, tahap kelima yaitu evaluasi. Pada tahap ini, hal yang penting

untuk diperhatikan adalah bagaimana kebijakan publik yang dijalankan oleh

pemerintah mengatasi permasalahan. Tujuan dari kebijakan publik harus

sangat diperhatikan sebelum kebijakan publik dijalankan, kemudian

mengaitkannya pada penerapan kebijakan publik ini sendiri, dan apakah

kebijakan publik berhasil mencapai tujuannya dan melihat konsekuensi yang

harus dihadapi dari penerapan kebijakan publik di negaranya. Hal ini

dikarenakan kebijakan publik dapat mengatasi suatu masalah apabila

kebijakan ini berjalan secara positif dan dapat membentuk permasalahan yang

baru apabila berjalan secara negatif. Selain itu, terdapat pula dampak politik,

ekonomi, dan sosial yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Teori kebijakan publik yang dikemukakan oleh James E. Anderson

digunakan untuk melihat dampak dari kebijakan publik Mandatory Sentencing

Law yang dicetuskan oleh pemerintah Australia di Northern Territory pada

tahun 1997 – 2001. Hal ini dikarenakan teori kebijakan publik ini yang

menjelaskan mengenai proses kebijakan publik, dari proses pencetusan dan

pembuatan sampai implementasi dan evaluasi. Tahap evaluasi digunakan

untuk melihat dampak dari kebijakan publik terhadap masyarakat dari aspek

politik, ekonomi, dan sosial. 36

Dampak politik yang terjadi adalah dengan menurunnya tingkat

partisipasi politik masyarakat Aborigin, yang dikarenakan menurunnya tingkat

       

35

Ibid., hlm. 5.

(28)

kepercayaan masyarakat Aborigin terhadap pemerintah. Kemudian, dampak

ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat Aborigin adalah menurunnya

tingkat kesejahteraan masyarakat Aborigin, yang disebabkan oleh banyaknya

kepala keluarga Aborigin yang tertangkap dan dipenjara. Hal ini membuat

anggota keluarga yang bersangkutan tidak memiliki sumber penghasilan dan

menjadi semakin menderita. Terakhir, dampak sosial yang terjadi adalah

dengan justru meningkatnya kriminalitas dan populasi masyarakat Aborigin di

penjara Northern Territory, serta meningkatnya angka kematian masyarakat

(29)

I.6 Skema Alur Berpikir

Terdapat beberapa faktor pendorong diterapkannya kebijakan Mandatory

Sentencing Law di Australia. Pada awalnya, kebijakan Mandatory Sentencing Law

diberlakukan di Australia sebagai pengganti hukuman mati. Hal ini dikarenakan

hukuman mati yang diberikan pada pelaku pembunuhan sudah dihapuskan sejak

abad ke dua puluh. Penggantian hukuman mati dengan hukuman wajib atau

hukuman minimal di Australia ini membuat pelaku tindak kejahatan pembunuhan

diberikan hukuman wajib atau hukuman minimal yang telah ditetapkan oleh

pemerintah Australia.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu hukuman yang ditetapkan melalui

(30)

dari hukuman mati. Penerapan kebijakan Mandatory Sentencing Law di Australia

juga disebabkan karena tingginya tingkat kriminalitas di negara ini.37 Hal ini membuat pemerintah menerapkan hukuman wajib atau hukuman minimal ini

untuk kejahatan yang berbeda-beda di setiap negara bagian dan wilayah di

Australia yang bersangkutan, sesuai dengan tingkat kriminalitas yang tertinggi di

masing-masing negara bagian dan wilayah. Hal ini dilakukan dengan harapan

memberikan efek jera kepada pelaku tindak kejahatan di Australia.38

Penerapan kebijakan Mandatory Sentencing Law dilakukan di setiap

negara bagian dan wilayah di Australia untuk tindak pelanggaran atau tindak

kejahatan yang berbeda-beda. Terdapat negara bagian atau wilayah yang sudah

menetapkan waktu hukuman yang tetap untuk suatu tindak pelanggaran atau

kejahatan. Terdapat pula negara bagian atau wilayah yang memberlakukan three

strikes law. Maksud dari three strikes law adalah dimana tindak pelanggaran atau

kejahatan diberikan hukuman yang semakin berat ketika pelaku tindak

pelanggaran atau kejahatan ini melakukan pengulangan tindak kriminal. Semakin

sering terdakwa melakukan tindak pelanggaran atau kejahatan, maka hukuman

wajib atau hukuman minimal yang diterima untuk menjadi semakin berat.39

Kebijakan Mandatory Sentencing Law diberlakukan di Northern Territory

dengan memberikan hukuman wajib atau hukuman minimal kepada pelaku tindak

kejahatan properti. Properti yang dimaksud adalah barang bergerak dan tidak

bergerak, yang menjadi kepemilikan seseorang. 40 Jenis tindak kejahatan properti yang mendapatkan hukuman wajib atau hukuman minimal ini antara lain seperti

pencurian, kerusakan, penggunaan yang tidak sah atas kendaraan, penerimaan

barang curian, serangan yang dimaksudkan untuk pencurian, dan perampokan.

Pelaku tindak pelecehan seksual dan kekerasan terhadap seseorang juga

mendapatkan hukuman wajib atau hukuman minimal ini.41

Kebijakan yang diterapkan di Northern Territory ini memiliki dampak

       

37 Declan Roche. Mandatory Sentencing. Australia: Australian Institute of Criminology. 1999,

hlm. 2.

38 Ibid., hlm. 2. 39 Ibid., hlm. 3. 40

NT Office of Crime Prevention. Northern Territory Quarterly Crime & Justice Statistics: 2002. Op.Cit, hlm. 76.

41

(31)

yang besar terhadap masyarakat Aborigin. Dampak yang ada dapat dilihat melalui

aspek politik, ekonomi, dan sosial. Dari aspek politik, setelah dijalankannya

kebijakan Mandatory Sentencing Law ini di Northern Territory, tingkat partisipasi

politik masyarakat Aborigin menjadi menurun. Hal ini disebabkan karena

masyarakat Aborigin yang menjadi kurang memiliki rasa kepedulian terhadap

pemerintah.42 Tingkat partisipasi politik masyarakat Aborigin sudah rendah sejak terjadinya pembunuhan Aborigin secara masal pada tahun 1930-an. Akan tetapi,

sejak diterapkannya kebijakan Mandatory Sentencing Law ini, tingkat partisipasi

politik masyarakat Aborigin di Northern Territory menjadi semakin rendah. Hal

ini disebabkan rasa kecewa masyarakat Aborigin yang merasa banyak dirugikan

oleh kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Australia.43

Selain itu, kebijakan Mandatory Sentencing Law juga memberikan

dampak terhadap masyarakat Aborigin dalam aspek ekonomi. Kesejahteraan

masyarakat Aborigin semakin menurun sejak diterapkannya kebijakan ini di

Northern Territory. Hal ini dipengaruhi dengan masyarakat Aborigin yang biasa

mendapatkan penghasilan dari kepala keluarga, tidak mendapatkan penghasilan

setelah kepala keluarga nya mendapatkan hukuman wajib atau hukuman minimal

karena melakukan tindak kejahatan properti.44

Kebijakan Mandatory Sentencing Law juga memiliki dampak dalam aspek

sosial terhadap masuarakat Aborigin. Setelah diterapkan kebijakan wajib atau

kebijakan minimal ini di Northern Territory, populasi penjara di negara bagian ini

menjadi meningkat.45 Hal ini disebabkan karena pemberlakuan kebijakan

Mandatory Sentencing Law yang membuat masyarakat berpikir untuk mencuri

lebih banyak, karena hukuman yang diberikan berdasarkan frekuensi, bukan

berdasarkan seberapa berat kejahatan yang dilakukan oleh seseorang.46 Selain itu, pendidikan bagi remaja Aborigin juga semakin menurun. Hal ini dikarenakan

       

42 Law Council of Australia. Policy Discussion Paper on Mandatory Sentencing. Australia: Law

Council of Australia. 2014, hlm. 21.

43 Dirk Moses. Genocide and Settler Society in Australian History. Inggris: Berghahn Books.

2004, hlm. 24.

44 James Bonta. The Effects of Punishment on Recidivism. Canada: Solicitor General Canada.

2002, hlm. 3.

45

Rosemary Miller. Mandatory Sentencing Senate Inquiry. Australia: Uniting Church in Australia National Social Responsibility and Justice. 2001, hlm. 4.

46

(32)

banyaknya remaja Aborigin yang harus dipenjara karena melakukan tindak

kejahatan properti. Hal ini membuat penjara di Northern Territory sebagian besar

dipenuhi oleh masyarakat Aborigin dibawah 25 tahun.47

I.7 Metodelogi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif analisis, dengan memaparkan dan

menafsirkan data yang ada. Dengan ini, data-data mengenai situasi yang dialami

pada masa itu, hubungan, kegiatan yang terjadi, pandangan, ataupun proses yang

sedang berlangsung dipaparkan dalam penelitian ini.48 Kemudian, teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah menggunakan penelitian pustaka. Hal

ini berarti data diperoleh berasal dari kepustakaan-kepustakaan yang relevan

dengan pokok permasalahan yang ada. Contohnya adalah literatur-literatur seperti

buku dan buletin, jurnal, dokumen, surat kabar, dan sebagainya, yang termasuk

sebagai penerbitan berkala, yang diterbitkan oleh badan usaha maupun

lembaga-lembaga penelitian.49 

Data yang telah didapatkan dari literatur dan terkumpul kemudian diolah.

Cara pengolahannya adalah dengan menggunakan klarifikasi dan pengelompokan

data-data sesuai dengan jenisnya. Pengolahan data ini dilakukan demi

mendapatkan permasalahan yang hendak dikemukakan. Dengan data yang diolah

untuk dicari kebenarannya, maka terbentuklah suatu masalah yang hendak

dikemukakan. Maka dari itu, data yang dikumpulkan akan menjadi data yang

relevan dan dapat diinterpretasikan untuk diambil kesimpulannya.

I.8 Sistematika Penulisan

Dalam sistematika penulisan, yang direncanakan untuk ditulis dalam

penelitian ini adalah dengan bab satu yang berisi mengenai latar belakang,

rumusan masalah, tujuan penelitian, signifikansi penelitian, kerangka teori,

kerangka alur berpikir, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

Kemudian, bab dua berjudul “Implementasi Kebijakan Mandatory Sentencing

       

47 John Sheldon. Dollars Without Sense: A Review of Northern Territory’s Mandatory Sentencing

Laws. Australia: Northern Australian Aboriginal Legal Aid. 2000, hlm. 3.

48 Winarno Surachmad. Metode Dasar dan Tehnik Riset. Bandung: CV. Remaja Karya. 1980, hlm.

139.

(33)

Law di Australia.” Bab dua ini berisi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

terbentuknya kebijakan Mandatory Sentencing Law, implementasi kebijakan

Mandatory Sentencing Law di negara bagian dan wilayah di Australia, dan

dampak kebijakan Mandatory Sentencing Law terhadap seluruh masyarakat

Australia.

Selain itu, terdapat bab tiga yang berjudul “Dampak Kebijakan Mandatory

Sentencing Law Terhadap Masyarakat Australia di Northern Territory.” Bab ini

tiga berisi mengenai dampak kebijakan Mandatory Sentencing Law di Northern

Territory terhadap masyarakat Aborigin dalam aspek politik, ekonomi, dan sosial.

Terakhir, terdapat bab empat yang merupakan bab penutup dan berisi kesimpulan.

 

(34)

BAB II

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MANDATORY SENTENCING LAW DI

AUSTRALIA

Pemerintah Australia berusaha untuk mengatasi permasalahan kriminalitas di negaranya dengan cara menerapkan kebijakan publik di negaranya.50 Pada tahun 1995, tingkat kriminalitas di Australia apabila dibandingkan dengan negara lain, berdasarkan survey dari Nation Master International Statistics meningkat dari sebelumnya menduduki urutan 63 turun menjadi urutan 69.51 Berikut disajikan data yang memperlihatkan tingkat kriminalitas di Australia pada tahun 1995-2007.

Grafik 2.1

Tingkat Tindak Kejahatan Secara Umum di Australia Pada Tahun 1995 – 2007

Sumber: Australian Institute of Criminology. Recorded Crime. Australia: Australian Institute of

Criminology. 2007, hlm. 1.

Dapat dilihat dalam grafik diatas bahwa tingkat kriminalitas di Australia semakin meningkat sejak tahun 1995 sampai pada tahun 2007. Jenis kriminalitas

      

50 

Andrew Trotter. Mandatory Sentencing for People Smuggling: Issues of Law and Policy. Australia: Melbourne University Law Review. 2012, hlm. 553. 

51 Nation Master. Crime Levels: Countries Compared. Diakses dari:

(35)

yang membuat meningkatnya kriminalitas di Australia ini yaitu seperti kejahatan

properti, perampokan rumah, pembunuhan, pemukulan, pelecehan seksual, kekerasan

terorganisir pelanggaran alkohol dan narkoba, kepemilikian senjata api, dan tindak

kejahatan terhadap aparat kepolisian.52 Peningkatan kriminalitas di negara ini

membuat pemerintah Australia mengambil langkah dengan menerapkan kebijakan

Mandatory Sentencing Law untuk memberikan hukuman wajib atau hukuman

minimal terhadap pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan yang bersangkutan.

Tindak kriminal yang kerap terjadi di negara bagian dan wilayah di Australia

berbeda-beda. Maka dari itu, pemberlakuan kebijakan Mandatory Sentencing Law di

setiap negara bagian dan wilayah pun diberikan untuk tindak kejahatan atau

pelanggaran yang berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.53

Hukuman wajib atau hukuman minimal diberlakukan untuk membuat

masyarakat Australia jera dan tidak melakukan tindak kriminal ataupun

mengulanginya. Hal ini dikarenakan hukuman wajib atau hukuman minimal

merupakan jenis hukuman yang lebih keras dibandingkan dengan hukuman maksimal

yang diberikan kepada tindak pelanggaran atau kejahatan pada umumnya.54 Maka

dari itu, pemerintah Australia menerapkan hukuman ini pada jenis pelanggaran atau

kejahatan tertentu yang paling sering dilakukan oleh masyarakat yang berada di

negara bagian atau wilayahnya masing-masing.55

Penerapan kebijakan Mandatory Sentencing Law di Australia memberikan

dampak yang positif, dengan keberhasilan untuk mencapai tujuannya dalam

mengurangi kejahatan di Western Australia dan dampak negatif yang kemudian

terbagi dalam aspek politik, ekonomi, dan sosial.56 Dampak negatif dari kebijakan

Mandatory Sentencing Law dirasakan oleh masyarakat dengan kebijakan ini yang

       52 

Law Council of Australia. Loc.Cit. 

53 Andrew Trotter. Mandatory Sentencing for People Smuggling: Issues of Law and Policy. Australia:

Melbourne University Law Review. 2012, hlm. 553.

54

R v Radich. NZLR 86. New Zealand: New Zealand Law Reports (NZLR). 1994, hlm. 87.

55 Kate Warner. Mandatory Sentencing and the Role of the Academic. Brisbane: International Society

for the Reform of the Criminal Law. 2006, hlm. 2.

56 Rob Johnson. Assault Against Police Plummet Under Mandatory Sentencing Laws. Diakses dari:

(36)

justru menimbulkan residivis.57 Kebijakan ini juga memiliki dampak negatif yang

berpengaruh terhadap kelompok masyarakat tertentu, seperti masyarakat Aborigin

yang banyak masuk ke dalam penjara, remaja yang tidak mengikuti sekolah selama

mendapat hukuman dan mempengaruhi masa depan remaja tersebut, dan kelompok

masyarakat dengan mental yang terbelakang yang mendapat hukuman yang terlalu

keras dengan diberlakukannya kebijakan Mandatory Sentencing Law ini.58

II.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Diterapkannya Kebijakan Mandatory

Sentencing Law

Pemerintah Australia memberlakukan kebijakan mengenai hukuman dengan

tujuan tertentu, yaitu untuk melindungi masyarakat dari tindak kejahatan, dengan

membuat pelaku tindak kejahatan tersebut mendapat hukuman yang dapat

membuatnya jera.59 Selain itu, pemerintah Australia juga memiliki alasan lain dalam

memberlakukan kebijakan Mandatory Sentencing Law, yaitu dengan pemerintah

merasa bahwa selama ini negara-negara bagian dan wilayah di Australia perlu

diberikan kebijakan agar dapat memberlakukan hukuman yang lebih ketat. Hal ini

dikarenakan ketidakpuasan pihak pemerintah dengan sistem hukuman tradisional

yang banyak membuat pihak pengadilan memberikan hukuman yang lebih longgar,

yang disebabkan karena banyaknya hal yang dipertimbangkan dan disesuaikan

dengan kondisi pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan yang bersangkutan.60 Pihak

pengadilan yang sebelumnya memberikan hukuman yang lebih longgar terhadap

pelaku yang bersangkutan menjadi memberikan hukuman wajib atau hukuman

minimal yang dinilai lebih ketat oleh masyarakat.61

      

57 Sentencing Advisory Council of Victoria. Does Imprisonment Deter? A Review of the Evidence.

Diakses dari:

https://sentencingcouncil.vic.gov.au/sites/sentencingcouncil.vic.gov.au/files/does_imprisonment_deter _a_review_of_ the_evidence.pdf pada tanggal 4 Mei 2015 pukul 20.00 WIB.

58

Law Council of Australia. Policy Discussion Paper on Mandatory Sentencing. Australia: Law Council of Australia. 2014, hlm. 29

59

R v Radich. Op.Cit, hlm. 87.

60 Anthony Gray. The Constitutionality of Minimum Mandatory Sentencing Regimes. Australia:

Journal of Judicial Administration. 2012, hlm. 37.

61

(37)

Perlakuan pihak pengadilan terhadap pelaku tindak pelanggaran atau

kejahatan sebelum diberlakukan kebijakan Mandatory Sentencing Law, selain

mendapat kritik dari pihak pemerintah karena pemberian hukuman yang dianggap

longgar, juga mendapat kritik yang sama dari masyarakat Australia, yang dinyatakan

dari pemberitaan-pemberitaan di surat kabar.62 Masyarakat mengkritik mengenai

perlakuan pihak pengadilan yang dianggap memberi hukuman yang terlalu ringan

kepada pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan. Kritik mengenai hukuman yang

terlalu ringan ini lebih banyak daripada kritik terhadap hukuman yang keras.

Masyarakat Australia justru lebih menginginkan hukuman yang keras bagi pelaku

tindak pelanggaran atau kejahatan karena dinilai lebih adil dan dapat membuat pelaku

menjadi jera dan tidak mengulangi tindak pelanggaran atau kejahatan lagi.63

Masyarakat Australia menganggap bahwa hukuman penjara dianggap

merupakan hukuman yang paling cocok untuk membuat pelaku tindak pelanggaran

atau kejahatan menjadi jera. Hal ini dikarenakan selama pelaku berada di penjara,

pelaku tidak dapat melakukan tindak kejahatan pada masyarakat.64 Walaupun telah

dipandu oleh Undang-Undang yang mengatur mengenai hukuman, masyarakat

Australia tetap menilai hukuman yang diberikan oleh hakim terkadang terlalu luas

dan tidak proporsional.65 Kelompok masyarakat yang berpihak kepada hukuman

wajib atau hukuman minimal ini menganggap bahwa kebijakan Mandatory

Sentencing Law dapat menghilangkan inkonsistensi dalam hukuman dan dapat

memberikan keadilan dengan memperlakukan setiap pelaku tindak pelanggaran atau

kejahatan dengan hukuman yang sama.66

Northern Territory merupakan wilayah di Australia yang menerapkan

kebijakan Mandatory Sentencing Law bagi pelaku tindak kejahatan properti. Menurut

Jaksa Agung Burke, kebijakan Mandatory Sentencing Law bagi pelaku tindak

      

62 Geraldine Mackenzie. Sentencing and Public Confidence: Results from a National Australian Survey on Public Opinions Towards Sentencing. Australia: Australian & New Zealand Journal of Criminology. 2012, hlm. 46.

63 David Biles. Reforms Put Fairness at Risk. Canberra: The Canberra Times. 2 January 2014. 64

Law Council of Australia. Policy Discussion Paper on Mandatory Sentencing.Op.Cit, hlm. 16.

65 Mirko Bagaric. Incapacitation, Deterrence and Rehabilitation: Flawed Ideals or Appropriate Sentencing Goals. Australia: Criminal Law Journal. 2002, hlm. 21.

66

(38)

kejahatan properti di Northern Territory dianggap sebagai hal yang memang

semestinya dilakukan oleh pemerintah Australia.67 Menurut Burke, kebijakan

Mandatory Sentencing Law dapat membuat pelaku tindak pelanggaran atau kejahatan

ini menjadi jera dan tidak mengulangi tindakannya. Pelaku tindak pelanggaran atau

kejahatan ini memang tidak sepantasnya mendapatkan hukuman yang lebih ringan.

Selain itu, Burke juga berpendapat bahwa pengadilan memang seharusnya

mengadopsi kebijakan yang lebih keras dalam menangani kasus kejahatan properti

yang sering terjadi di Northern Territory. Burke juga menyatakan bahwa

pemberlakuan hukuman wajib atau hukuman minimal membuat lembaga penegak

hukum merasa bahwa usahanya dalam menangkap pelaku tindak pelanggaran atau

kejahatan menjadi tidak sia-sia.68

II.2 Implementasi Kebijakan Mandatory Sentencing Law di Negara Bagian dan

Wilayah di Australia

II.2.1 Western Australia

Kebijakan Mandatory Sentencing Law di Australia diberlakukan untuk jenis

kejahatan yang berbeda-beda di negara bagian dan wilayah di negara ini.69 Contohnya

seperti hukuman wajib atau hukuman minimal yang diberlakukan di Western

Australia. Pemerintah negara bagian ini memperkenalkan kebijakan Mandatory

Sentencing Law pada tahun 1992, yang diberlakukan untuk pengulangan tindak

kekerasan dan pencurian kendaraan bermotor. Akan tetapi, kebijakan ini dihapus

pada tahun 1994 dikarenakan kebijakan ini yang telah berhasil mengurangi tindak

kekerasan dan pencurian kendaraan bermotor, sehingga tindak kejahatan ini menjadi

tidak banyak dilakukan masyarakat di Western Australia.70

Kemudian, pemerintah negara bagian Western Australia kembali

memberlakukan kebijakan Mandatory Sentencing Law pada tanggal 14 November

      

67 George Zdenkowski. Mandatory Imprisonment of Property Offenders in the Northern Territory.

Australia: UNSW Law Journal. 1999, hlm. 303.

68Ibid., hlm. 303.

69 Adrian Hoel. Op.Cit, hlm. 1. 70

(39)

1996.71 Pemberlakuan hukuman wajib atau hukuman minimal di negara bagian ini

dimulai kembali setelah diadakannya amandemen terhadap Criminal Code 1913

(WA). Hukuman wajib atau hukuman minimal yang diberikan kepada pelaku tindak

kejahatan yang telah melakukan pengulangan kejahatan untuk ketiga kalinya yaitu

hukuman penjara selama 12 bulan.72 Remaja yang melakukan tindak kejahatan ini

mendapatkan hukuman 12 bulan penjara atau atau rehabilitasi yang telah ditentukan,

dengan penyesuaian terhadap kondisi remaja yang bersangkutan.73

Pada tahun 1996, terdapat amandemen dari Sentencing Act 1995, yang

dilakukan untuk perubahan dalam hukuman wajib 12 bulan bagi dewasa yang

melakukan pengulangan tindak kejahatan, serta aturan mengenai remaja yang

dinyatakan bersalah atas perampokan rumah.74 Akan tetapi, apabila pelaku tindak

pelanggaran atau kejahatan adalah remaja, maka hukuman tidak diberikan apabila

tindak kejahatan dikategorikan sebagai tindak kejahatan kecil. Hal ini diatur dengan

melihat kondisi karakter pelaku, umur, kondisi kesehatan dan mental. Pertimbangan

dilakukan pengadilan dengan melakukan kompromi dan asumsi bahwa tindakan

hukum bukanlah jalan satu-satunya bagi terdakwa yang bersangkutan.75

II.2.2 New South Wales

Kebijakan Mandatory Sentencing Law juga diberlakukan di New South Wales

untuk beberapa jenis kejahatan. Kebijakan ini diberlakukan di New South Wales pada

tahun 2002 dalam Crimes (Sentencing Procedure) Amendment (Standard Minimum

Sentencing) Act 2002 bagi pelaku tindak kejahatan yang berkaitan dengan alkohol

dan narkoba. Selain itu, pemerintah negara bagian New South Wales juga

memberlakukan kebijakan Mandatory Sentencing Law terhadap pelaku tindak

kejahatan pembunuhan terhadap aparat kepolisian. Tindak kejahatan yang dilakukan

      

71 Law Council of Australia. Policy Discussion Paper on Mandatory Sentencing.Op.Cit, hlm. 48. 72

Criminal Code 1913 (WA). Bab 401(4).

73 Law Council of Australia. Policy Discussion Paper on Mandatory Sentencing.Op.Cit, hlm. 48. 74

Department of Justice. Mandatory Sentences of Imprisonment in Common Law Jurisdictions: Some

Representative Models. Diakses dari: http://www.justice.gc.ca/eng/rp-pr/csj-sjc/ccs-ajc/rr05_10/p7.html diakses pada tanggal 4 Mei 2015 pukul 21.20 WIB.

(40)

dengan serangan memukul seseorang dengan disengaja, yang kemudian membuat

orang tersebut meninggal juga mendapatkan hukuman wajib atau hukuman minimal

ini. Apabila tindak kejahatan ini dilakukan oleh seseorang yang sedang mabuk, maka

orang tersebut akan dikenakan hukuman one punch law. Hukuman one punch law

yang dimaksud adalah dengan memberikan hukuman penjara kepada pihak yang

bersangkutan selama 12 bulan.76

Negara bagian New South Wales memberlakukan non-parole periode sampai

pada tahun 2010 dan dihapuskan pada tahun 2011 karena menimbulkan dampak

ketidakadilan bagi masyarakat yang mengalami kondisi khusus.77 Dalam non-parole

periode, kebijakan ini diberlakukan kepada pelaku tindak kejahatan perampokan dan

invasi rumah, seperti perusakan dan masuk ke dalam rumah seseorang. Tindak

kejahatan ini mendapatkan hukuman wajib tujuh tahun penjara.78 Selain itu, tindak

kejahatan pembunuhan mendapat hukuman wajib atau hukuman minimal selama

delapan tahun penjara. Hukuman yang diberikan untuk pembunuhan yang dilakukan

terhadap aparat polisi yang sedang bertugas adalah hukuman wajib seumur hidup.79

Hal ini menjadi semakin parah ketika pihak yang bersangkutan berada dibawah

pengaruh obat-obatan atau alkohol.80

II.2.3 Queensland

Kebijakan Mandatory Sentencing Law diberlakukan di Queensland dengan

tujuan untuk mengurangi tingkat kriminalitas di negara bagian ini. Hukuman wajib

atau hukuman minimal yang diberlakukan di Queensland pada tahun 1993 ini

diberikan kepada pelaku tindak pelecehan seksual terhadap anak, pembunuhan,

kepemilikan senjata api atau obat-obatan, dan juga bagi pihak yang merupakan

anggota dari geng motor. Dalam tindak kejahatan pembunuhan, pelaku mendapatkan

hukuman selama 20 tahun penjara untuk pembunuhan tunggal, 30 tahun untuk lebih

      

76 Law Council of Australia. Policy Discussion Paper on Mandatory Sentencing.Op.Cit, hlm. 9. 77

Law Council of Australia. Policy Discussion Paper on Mandatory Sentencing.Op.Cit, hlm. 51.

78 Crimes (Sentencing Procedure) Act 1999 (NSW). Section 112. Australia.

79 Crimes Act 1900 (NSW). Section 19B. Australia.

80

(41)

dari satu pembunuhan, dan 25 tahun untuk pembunuhan aparat polisi.Peraturan ini

dicantumkan dalam Penalties and Sentences Act 1992. 81

Kebijakan yang telah dirancang dan ditetapkan oleh pemerintah terkadang

tidak sesuai dengan implementasi yang terjadi pada saat kebijakan tersebut

dijalankan, yang dapat terlihat dalam kebijakan mengenai hukuman wajib atau

hukuman minimal, yang menurut Queensland Law Society membuat pihak

pengadilan menolak untuk memberikan hukuman ini kepada pelaku tindak

pelanggaran atau kejahatan yang bersangkutan.82 Hal ini terjadi dikarenakan pihak

pengadilan mempertimbangkan dan memikirkan apakah hasilnya akan menjadi adil

atau tidak. Apabila hasilnya diperkirakan tidak adil, maka pihak pengadilan menolak

untuk memberikan hukuman terhadap pelaku tindak pelanggaran.83 Bahkan beberapa

pelaku sengaja diputuskan oleh pengadilan bahwa pelaku tersebut melakukan

pelanggaran yang lebih rendah agar mendapatkan hukuman yang tidak seberat

hukuman wajib atau hukuman minimal.84

II.2.4 South Australia

Pemerintah negara bagian South Australia juga menerapkan kebijakan

Mandatory Sentencing Law di negara bagiannya pada tahun 1990. Sesuai dengan

Criminal Law (Sentencing) Act 1988 (SA), hukuman wajib atau hukuman minimal

diberikan kepada pelaku tindak kejahatan serius dan terorganisir ataupun pelanggaran

tertentu yang dilakukan terhadap polisi, sesuai dengan Bab 38(2B)(A). Selain itu,

hukuman wajib atau hukuman minimal juga diberikan kepada pelaku tindak

kejahatan serius yang telah menerima hukuman percobaan selama lima tahun terakhir

untuk jenis pelanggaran tertentu, sesuai dengan Bab 38(2B)(B).85 Tindak kejahatan

serius dan terorganisir yang dimaksud adalah seperti partisipasi seseorang dalam

organisasi kriminal, pemerasan atau penyalahgunaan jabatan publik. Keadaan

      

81

Criminal Code (Qld). Section 305. Australia.

82 Queensland Law Society. Mandatory Sentencing Laws Policy Position. Queensland: Queensland

Law Society. 2014, hlm. 2

83 M. Tony. Sentencing Matters. Australia: Australian Institute of Criminology. 1996, hlm. 138.

84 Queensland Law Society. Policy Discussion Paper on Mandatory Sentencing.Op.Cit, hlm. 2

85

Gambar

Grafik I.1
Grafik 2.1
Grafik 3.1
Grafik 3.2
+4

Referensi

Dokumen terkait