Karya Ilmiah
PENGARUH DIHENTIKANNYA SUBSIDI BBM TERHADAP
PEREKONOMIAN INDONESIA
Dosen Pengampu: Dr. M. Nasir, M. Si
OLEH:
MARNI SIHOMBING NIM : 7131141068
PRODI PENDIDIKAN EKONOMI
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
ABSTRAK
Subsidi merupakan bantuan yang diberikan pemerintah kepada konsumen atau produsen agar barang dan jasa yang dihasilkan harganya lebih rendah dan jumlah yang dibeli masyarakat lebih banyak. Subsidi (government transfer payment) merupakan alat kebijakan pemerintah untuk redistribusi dan stabilisasi.
Pemerintah Indonesia menyubsidi BBM agar harga energi dapat dijangkau, khususnya oleh kalangan berpendapatan rendah (Kementerian Keuangan, 2010b). Pada kenyataannya, subsidi ini tidak benar-benar mencapai sasarannya. Tidak semua rakyat yang membutuhkan subsidi ini dapat menikmati haknya. Dengan mekanisme pemberian subsidi yang dilakukan pemerintah tidak dapat mengatur siapa penerima subsidi BBM ini. Sehingga subsidi BBM sudah tidak efektif lagi dan seharusnya dialihkan untuk subsidi non-energi. Peningkatan subsidi non-energi ditujukan untuk mencapai tujuan pemerintah dalam menciptakan APBN yang pro growth, pro job, dan pro poor sehingga yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan.
Jika pemerintah memilih untuk mempertahankan subsidi pada saat harga minyak sedang tinggi, pemerintah harus mencari tambahan hutang, atau memotong pengeluaran untuk program lain. Untuk mengatasi hal ini maka pemerintah memperbaiki perekonomian dengan menghentikan subsidi bbm, agar tidak ada lagi tambahan hutang ataupun pemotongan pengeluaran untuk program lain. Dengan kebijakan ini maka perekonomian indonesia akan membaik.
Dampak dari ditiadakannya subsidi BBM yaitu: 1. Mengurangi defisit anggaran.
2. Kontrol terhadap konsumsi BBM sehingga tidak terjadi pemakaian BBM secara berlebihan.
3. Penghematan terhadap pemakaian minyak bumi yang merupakan sumber daya alam tidak terbarukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Proses pembangunan ekonomi di segala bidang pada hakekatnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Proses perubahan struktural perekonomian seperti perluasan kesempatan kerja, dan pengurangan tingkat kemiskinan merupakan sasaran pokok pembangunan yang hendak dicapai guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat maka pemerintah mengadakan kebijakan memberikan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Bahan Bakar Minyak merupakan komoditas yang sangat vital di Indonesia. BBM ini mempunyai peran yang sangat penting dalam menggerakkan perekonomian. Kebutuhan BBM semakin meningkat seiring pertumbuhan industri, transportasi, juga kenaikan jumlah kendaraan bermotor yang beredar. Bahkan pada tahun 2008 Indonesia keluar dari OPEC (organisasi eksportir minyak dunia) karena Indonesia harus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang semakin meningkat.
Menurut pengalaman yang sudah terjadi, mekanisme perekonomian selalu menyesuaikan terhadap perubahan dalam dunia ekonomi itu sendiri. Keadaan perekonomian pada saat ini kurang stabil dimana harga BBM mengalami naik turun. Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri menyebabkan perubahan perekonomian secara drastis. Kenaikan BBM ini akan diikuti oleh naiknya harga barang-barang dan jasa-jasa di masyarakat. Kenaikan harga barang dan jasa ini menyebabkan tingkat inflasi di Indonesia mengalami kenaikan dan mempersulit perekonomian masyarakat terutama masyarakat yang berpenghasilan tetap. Inflasi yang terjadi akibat kenaikan harga BBM tidak dapat atau sulit untuk dihindari, karena BBM adalah unsur vital dalam proses produksi dan distribusi barang. Disisi lain, kenaikan harga BBM juga tidak dapat dihindari, karena membebani APBN. Sehingga Indonesia sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, baik itu tingkat investasi, maupun pembangunan-pembangunan lain yang dapat memajukan kondisi ekonomi nasional.
minyak mentah dunia sendiri di bulan Februari 2012 berkisar $ 122,17 per barrel. Sementara, untuk anggarannya, pemerintah menganggarkan Rp 123,6 Trilyun untuk subsidi BBM tahun 2012. Itu untuk asumsi harga minyak mentah per barrelnya $ 122,7. Namun pada kenyataannya harga minyak mentah sendiri sudah mencapai $122,17 per barrel dan diperkirakan akan terus meningkat.
Pada Juni 2013, Pemerintah kembali menaikan harga BBM bersubsidi. Sebelumnya kenaikan harga BBM bersubsidi juga pernah terjadi pada tahun 2005 dan tahun 2008. Kenaikan pada tahun 2013 terjadi pada premium dari harga Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 dan solar dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500. Tentu kenaikan harga BBM bersubsidi ini membawa dampak yang terasa khususnya untuk kalangan menengah ke bawah atau miskin.
Hal yang sama terjadi juga pada maret 2015 Pemerintah menaikkan harga BBM Rp 500. Dengan kenaikan harga BBM maka harga minyak solar dari Rp 6.400 menjadi Rp 6.900 per liter. Lalu harga premium RON 88 dari Rp 6.800 menjadi Rp 7.300 per liter. Harga BBM yang terus berubah-ubah diperkirakan akan berdampak pada stabilitas harga di pasaran dan berdampak langsung pada masyarakat yang bergantung pada subsidi BBM.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa tujuan dari subsidi khususnya subsidi BBM adalah untuk membantu kalangan masyarakat menengah kebawah. Namun pada kenyataannya, subsidi tidak benar-benar mencapai sasarannya. Tidak semua rakyat yang membutuhkan subsidi ini dapat menikmati haknya. Dengan mekanisme pemberian subsidi yang dilakukan pemerintah tidak dapat mengatur siapa penerima subsidi BBM ini. Karena subsidi bahan bakar dijalankan berdasarkan hitungan liter, dan tidak didasarkan pada perbedaan penghasilan, maka kalangan yang paling banyak menggunakan bahan bakarlah yang paling mendapatkan manfaat paling banyak dari subsidi. Konsumen energi terbesar adalah masyarakat golongan atas dan masyarakat di daerah perkotaan.
sebagian kecil masyarakat pemilik kendaraan bermotor saja. Uang sebanyak itu bisa untuk mendanai program pengentasan kemiskinan, pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, jembatan, jalan raya ataupun juga bandar udara, membuka akses terhadap daerah pedalaman, menciptakan lapangan kerja dan juga program- program lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat luas ketimbang untuk subsidi BBM.
Maka diperlukan langkah-langkah atau kebijakan-kebijakan untuk mengatasinya, demi menjaga kestabilan perekonomian nasional. Dari masalah ini maka penulis akan menguraikan salah satu cara yang harus dilakukan untuk memperbaiki perekonomian adalah dengan menghentikan subsidi bbm.
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang mengenai pengaruh dihentikannya subsidi BBM terhadap perekonomian indonesia. Maka dalam karya ilmiah ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa dampak kenaikan bbm terhadap perekonomian?
2. Apa dampak adanya kebijakan Pemerintah memberikan subsidi BBM terhadap kehidupan masyarakat?
3. Apa pengaruh jika dihentikannya subsidi bbm terhadap perekonomian Indonesia?
C. Tujuan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA SUBSIDI BBM
Grafik subsidi
Subsidi merupakan bantuan yang diberikan pemerintah kepada konsumen atau produsen agar barang dan jasa yang dihasilkan harganya lebih rendah dan jumlah yang dibeli masyarakat lebih banyak. Subsidi (government transfer payment) merupakan alat kebijakan pemerintah untuk redistribusi dan stabilisasi. Menurut Oxford Advanced Learners Dictionary (1990) dalam penelitian (Chinyere & Ani Casimir, 2013) subsidi adalah: Subsidi BBM, sebagaimana dapat dipahami dari naskah RAPBN dan Nota Keuangan adalah “pembayaran yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia kepada PERTAMINA (pemegang monopoli pendistribusian BBM di Indonesia) dalam situasi dimana pendapatan yang diperoleh PERTAMINA dari tugas menyediakan BBM di Tanah Air adalah lebih rendah dibandingkan biaya yang dikeluarkannya untuk menyediakan BBM tersebut”. (Nugroho, 2005).
mendapatkan manfaat paling banyak dari subsidi. Konsumen energi terbesar adalah masyarakat golongan atas dan masyarakat di daerah perkotaan.
Menurut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2009, World Bank (2011) menunjukkan bahwa keperluan rumah tangga dan pribadi mengkonsumsi sepertiga dari total subsidi BBM. Dua pertiga sisanya tersalur ke penggunaan transportasi komersial dan kegiatan usaha. Hasil serupa ditemukan dalam kajian lain yang dilakukan oleh Agustina et al. (2008). Kajian tersebut menemukan bahwa hampir 90 persen subsidi BBM di Indonesia menguntungkan 50 persen kalangan terkaya. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa subsidi BBM sudah tidak tepat sasaran dan dapat menghabiskan APBN. Sehingga subsidi BBM sudah tidak efektif lagi dan seharusnya dialihkan untuk subsidi non-energi. Peningkatan subsidi non-energi ditujukan untuk mencapai tujuan pemerintah dalam menciptakan APBN yang pro growth, pro job, dan pro poor sehingga yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan.
DAMPAK KENAIKAN HARGA BBM
Kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan pendapatan pemerintah yang berkaitan dengan minyak dan gas. Namun, kenaikan ini juga akan berdampak pada semakin meningkatnya pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM dan pengeluaran-pengeluaran yang berkaitan dengan harga minyak, seperti subsidi listrik dan dana bagi hasil minyak dan gas kepada daerah. Lebih lanjut, kewajiban 20% anggaran di bidang pendidikan juga akan menambah peningkatan beban pengeluaran pemerintah. Faktanya, ketika kenaikan harga minyak dunia meningkatkan penerimaan anggaran belanja daerah, kenaikan harga minyak dunia ini merugikan anggaran belanja pemerintah pusat akibat membengkaknya pengeluaran subsidi BBM dan pengeluaran lain yang terkait. Pembengkakan subsidi ini pada akhirnya dapat memaksa pemerintah untuk memotong pos anggaran lainnya (CSIS, 2011).
DAMPAK ADANYA SUBSIDI BBM
Subsidi BBM ditujukan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga Masyarakat melalui dua cara. Dampak langsungnya adalah dengan mengeluarkan biaya lebih sedikit untuk BBM, masyarakat akan memiliki sisa pendapatan yang lebih besar untuk keperluan lain. Sementara itu, dampak tidak langsung penerapan subsidi BBM adalah lebih murahnya biaya barang dan jasa yang dapat dibeli oleh masyarakat karena subsidi menekan biaya-biaya yang harus dikeluarkan produsen, distributor, dan penyedia layanan. Namun, kondisi tersebut akan maksimal dirasakan masyarakat jika kebijakan subsidi BBM ini benar-benar tepat sasaran. Artinya, seluruh subsidi yang diberikan pemerintah untuk bahan bakar dirasakan manfaatnya oleh lapisan masyarakat yang membutuhkan. Sayangnya, kondisi tersebut jauh dari kenyataan karena subsidi BBM lebih banyak dirasakan manfaatnya oleh kalangan menengah ke atas menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2009.
Apabila kita berbicara tentang distribusi BBM bersubsidi per wilayah, pada 2009 wilayah yang paling berkembang di Indonesia, Jawa dan Bali, diberikan kuota sebesar 20,38 juta kiloliter atau 55,6 persen dari total BBM bersubsidi. Wilayah Sumatera mendapat alokasi sebesar 26,1 persen, sedangkan gabungan wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua mendapat alokasi sebesar 16,1 persen, dan Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat mendapatkan alokasi hanya sebesar 0,02 persen (BPH Migas, 2009).
KEBIJAKAN YANG DILAKUKAN PEMERINTAH TERKAIT SUBSIDI BBM
Menurut kajian yang dilakukan terhadap program BLT 2005, masalah terkait dengan salah sasaran dapat dikatakan rendah, dan sebagian besar kalangan yang berhak menerimanya benar-benar menerima dana yang dijanjikan (Hastuti et al., 2006). Akan tetapi, sejumlah masalah tetap mengikuti perjalanan program ini. Misalnya, selain ditemukan adanya dana yang digelapkan dan ada juga pihak yang berhak namun tidak mendapatkan dana tersebut, pada akhirnya menyebabkan kegelisahan sosial (Cameron dan Shah, 2011). Akan tetapi, BLSM tidak menyelesaikan masalah ketergantungan terhadap subsidi BBM di Indonesia. Perlu upaya untuk mengatasi ketergantungan terhadap subsidi BBM berupa solusi-solusi jangka panjang yang dapat dilakukan secara bertahap.
Pemerintah perlu mengeluarkan solusi jangka panjang disamping mengeluarkan solusi jangka pendek berupa Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) jika kondisi seperti ini tidak ingin terjadi lagi atau minimal secara bertahap mengurangi kemungkinan kondisi seperti ini terjadi. Karena sekali lagi kompensasi berupa Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) terhadap masyarakat miskin bukan merupakan “terapi penyembuhan” terhadap subsidi BBM itu sendiri. Ada beberapa solusi jangka panjang yang dapat secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap subsidi BBM salah satu diantaranya ialah Diversifikasi Energi.
Diversifikasi Energi secara konsisten harus terus dilakukan untuk menurunkan ketergantungan konsumsi energi nasional terhadap BBM. Ketergantungan konsumsi energi nasional yang sangat besar terhadap BBM merupakan akar dari permasalahan energi bangsa ini. Salah satunya ialah dengan cara diversifikasi gas yaitu dengan mengalihkan sumber energi dari BBM menjadi Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Gas for Vehicle (LGV). Diversifikasi gas dipilih karena gas memiliki kualitas yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan BBM.
Subsidi yang besar untuk minyak impor membuat posisi fiskal Indonesia amat rapuh terhadap perubahan harga energi dunia. Ketika harga minyak internasional naik secara drastis, sebagaimana terjadi pada 2008, pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM – yang dapat mempersulit keadaan politik dalam negeri dan mengakibatkan inflasi mendadak – atau menaikkan anggaran subsidi, yang dapat mengakibatkan lumpuhnya perekonomian.
1. Teori kuantitas, Menurut teori kuantitas “kenaikan dalam tingkat pertumbuhan uang 1 persen menyebabkan kenaikan 1 persen dalam tingkat inflasi “ (Mankiw,2007:90) 2. Teori Keynes, Teori ini menyatakan bahwa inflasi terjadi di sebabkan masyarakat
hidup di luar batas kemampuan ekononominya. Dengan kata lain, inflasi terjadi karena pengeluaran agregat telalu besar. Oleh karena itu, solusi yang harus di ambil adalah dengan jalan mengurangi jumlah pengeluaran agregat itu sendiri ( mengurangi pengeluaran pemerintah atau dengan meningkatkan pajak dan kebijakan uang yang ketat).
3. Teori strukturalis atau teori inflasi jangka panjang model inflasi di negara berkembang. Teori ini menyoroti sebab-sebab inflasi yang berasal dari kelakuan struktur ekonomi, khususnya kekuatan supply bahan makanan dan barang-barang ekspor. Karena sebab-sebab sruktural pertambahan barang-barang produksi ini terlalu lambat di banding dengan pertumbuhan ekonominya, sehingga menaikan harga bahan makanan dan kelangkaan devisa. Akibat selanjutnya adalah kenaikan harga-harga barang lain, sehinggab terjadi inflasi yang relatif berkepanjangan bila pembangunan sektor pengahasilan bahan pangan dan industri barang-barang ekspor tidak di benahi atau di tambah.
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN KONDISI CADANGAN MINYAK DI INDONESIA
Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak bumi. Sempat menjadi anggota Organisasi Eksportir Minyak Dunia (OPEC), dan keluar pada tahun 2008 karena Indonesia sudah menjadi importir minyak untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat dan tidak bisa diimbangi oleh produksi minyak bumi dalam negeri yang cenderung menurun.
Tabel 1: Cadangan Minyak Indonesia (2004-2011) Tahun Terbukti Potensial Total
2004 4.3 4.31 8.61
2005 4.19 4.44 8.63
2006 4.37 4.56 8.93
2007 3.99 4.41 8.4
2008 3.75 4.47 8.22
2009 4.3 3.7 8
2010 4.23 3.53 7.76
2011 4.04 3.69 7.73
Sumber: Ditjen Migas (2011)
Keterangan: Dalam miliar barel
Tabel 3:
Sumber: RDP komisi VII DPR RI dengan BPH Migas dan Pertamina dalam Reforminer Institute (2011)
Tabel 4: Konsumsi BBM Bersubsidi dalam Sektor Transportasi Darat 2010 Tabel 2: Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis tahun
1987-2010
Sumber : Kantor Kepolisian Republik Indonesia dalam BPS (2011)
*) sejak 1999 tidak termasuk
Jenis
Sumber: RDP komisi VII DPR RI dengan BPH Migas dan Pertamina dalam Reforminer Institute (2011)
Dari tabel di atas, bisa dilihat mayoritas pengkonsumsi BBM bersubsidi menurut sektor pengguna adalah transportasi darat yang mengkonsumsi mayoritas BBM bersubsidi. Pertumbuhan alat transportasi darat yang meningkat pesat membuat proporsi konsumsi BBM bersubsidi oleh transportasi darat menjadi mayoritas. Dalam transportasi darat sendiri, konsumsi BBM didominasi oleh kendaraan bermotor jenis mobil pribadi dan sepeda motor yang memang punya populasi paling besar.
Tabel 5: Produksi Minyak Bumi (dalam ribuan barel)
Keterangan:
MBOPD: Ribu Barel per Day *data sementara
Grafik 2: Produksi dan Konsumsi Minyak Harian di Indonesia
Sumber: British Petroleum (2011)
Tabel 6: Impor BBM (2005-2011)
year Avtur RON88 RON95 RON92 DPK HOMC ADO Fuel oil IDO total
2005 654 6202 0 3 2.604 1.076 14.470 1.493 0 26.502
2006 796 5.841 0 69 861 1.088 10.846 1.682 0 21.184
2007 1.176 7.069 27 35 1.080 108 12.367 2.163 8 24.032
2008 769 8.572 17 40 333 0 12.284 2.573 28 24.615
2009 171 10.263 32 120 0 1.148 8.505 1.909 8 22.157
2010 578 12.437 0 214 0 1.767 8.413 408 0 23.633
2011* 733 13.712 0 1.411 0 157 8.681 654 0 25.347
Sumber: Ditjen Migas (2011) Keterangan:
Dalam Ribu kiloliter *) Data Sementara
Secara keseluruhan, dari tahun 2005- 2011, impor BBM secara total cenderung naik turun atau berfluktuasi. Impor BBM tertinggi tercatat pada tahun 2006 sebesar 26. 502.000 kiloliter. Namun, impor BBM Bersubsidi (RON 88) secara konstan terus naik. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian BBM jenis bersubsidi merupakan yang terbesar di antara BBM jenis yang lain sehingga harus dilakukan impor untuk mencukupinya. Dalam APBN 2012, pemerintah mematok harga minyak mentah sebesar $ 90 per barrel, namun pada kenyataannya, harga minyak mentah dunia sendiri di bulan Februari 2012 berkisar $ 122,17 per barrel. Sementara, untuk anggarannya, pemerintah menganggarkan Rp 123,6 Trilyun untuk subsidi BBM tahun 2012. Itu untuk asumsi harga minyak mentah per barrelnya $ 122,7. Namun pada kenyataannya harga minyak mentah sendiri sudah mencapai $122,17 per barrel dan diperkirakan akan terus meningkat. Mau tidak mau, pemerintah harus merevisi anggaran subsidi BBM itu dalam APBN Perubahan 2012.
Perkiraan Pertamina, apabila kondisi konsumsi BBM dibiarkan tanpa ada tindakan untuk mengerem, kemungkinan konsumsi BBM di tahun 2012 akan meningkat menjadi 47 juta kiloliter. Bahkan, jika kondisi laju konsumsi BBM dibiarkan tanpa kendali, pada bulan Agustus 2012 persediaan BBM bersubsidi akan habis.
UPAYA YANG DILAKUKAN PEMERINTAH UNTUK MENEKAN SUBSIDI BBM DEMI PERBAIKAN PEREKONOMIAN INDONESIA
Dalam konteks pemberhentian subsidi BBM, tentu keputusan untuk menekan subsidi BBM akan merugikan bagi banyak pihak. Penekanan subsidi BBM tentu secara otomatis akan membuat harga BBM yang disubsidi naik. naiknya harga BBM subsidi inilah yang akan berdampak sampai kemana- mana.
harus ada penyesuaian tarif untuk menghindari kerugian. Penyesuaian tarif ini berupa naiknya tarif angkutan umum atau juga naiknya biaya pengangkutan barang hasil produksi dan komoditas yang diperdagangkan. Dengan naiknya tarif, akan membuat harga dari komoditas itu naik, karena biaya untuk pengangkutan juga naik. Masyarakatlah yang sebenarnya menanggung penyesuaian tarif itu. Masyarakat harus membayar lebih untuk mendapatkan barang hasil produksi atau komoditas yang diperdagangkan. Masyarakat juga harus membayar lebih untuk modal transportasi umum yang mereka pakai.
Naiknya berbagai komoditas dan kebutuhan pokok tentu membuat pengeluaran masyarakat juga naik. Sementara, di sisi lain belum tentu pendapatan mereka naik. sehingga, mau tidak mau mereka menuntut kenaikan upah (jika bekerja di suatu instansi atau perusahaan) atau menghemat pengeluaran. Perusahaan juga akan kena imbas dari kenaikan harga BBM yang berakibat turunnya daya beli masyarakat itu. Yang paling rawan terkena dampaknya adalah Usaha Kecil dan Menengah (UKM). UKM inilah yang punya struktur modal paling kecil juga susah untuk mengakses pinjaman dari dunia perbankan. Sehingga, jika terjadi penurunan daya beli masyarakat, UKM menjadi titik yang paling rawan mengalami kesulitan keuangan. Padahal, UKM menjadi salah satu sokoguru perekonomian Indonesia. Menurunnya daya beli masyarakat juga berdampak pada angka inflasi yang naik, dan di sisi lain inflasi menjadi indikator perekonomian suatu negara.
Serangkaian efek domino di atas merupakan kerugian yang diakibatkan jika subsidi BBM dihentikan apabila pemerintah memutuskan tidak menekan subsidi akan ada lebih banyak kerugian dan dampak negatif dalam jangka waktu yang pendek maupun panjang.
menciptakan lapangan kerja dan juga program- program lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat luas ketimbang untuk subsidi BBM.
Sebenarnya, jika penggunaan dan peruntukan BBM bersubsidi dilakukan secara konsekuen, mungkin penekanan subsidi BBM belum perlu dilakukan. Dalam artian, subsidi BBM benar- benar diperuntukkan bagi rakyat yang benar- benar membutuhkan subsidi. Jika hal itu terjadi, tentu konsumsi BBM tidak meningkat sebanyak seperti yang ada sekarang ini. Karena yang terjadi sekarang ini, subsidi BBM menjadi salah arah dan ikut dinikmati oleh masyarakat yang sebenarnya mampu secara ekonomi untuk beralih ke BBM nonsubsidi.
Tabel 8: Dampak Kebijakan Penaikan Harga BBM 2012
Sumber: Reforminer Institute (2011)
Kebijakan menekan subsidi BBM akan punya dampak positif, disamping juga dampak negatif. Dampak positif yang pertama adalah penghematan terhadap keuangan pemerintah. Seperti dalam tabel Dampak Kebijakan Penaikan Harga BBM 2012, akan ada penghematan keuangan pemerintah. Dengan mengurangi subsidi, maka akan ada dana yang bisa dihemat dan dipergunakan mendanai program dan kebijakan lain yang lebih efektif dan berguna bagi masyarakat. Dana itu bisa dipakai untuk tambahan anggaran pendidikan, program pengentasan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja baru dan pembangunan infrastruktur dan program- program lainnya yang lebih berguna bagi masyarakat ketimbang subsidi BBM yang jelas- jelas tidak banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat miskin.
Dampak positif yang kedua adalah mengurangi defisit anggaran. Dengan melakukan penekanan subsidi BBM, defisit anggaran akan turun menjadi Rp 109,8 Triliun atau 2,23% dari Produk Domestik Bruto. Jika tidak melakukan kebijakan untuk menekan subsidi BBM, defisit anggaran dapat melonjak menjadi Rp 299 Triliun atau 3,59% dari Produk Domestik Bruto. Defisit anggaran yang terlalu tinggi tentu tidak baik bagi keuangan suatu negara. Krisis di Eropa juga salah satunya dipicu oleh defisit anggaran yang terlalu tinggi.
kendaraan bermotor akan lebih selektif dalam aktivitasnya untuk menggunakan kendaraan bermotor karena harga dari BBM yang lebih mahal. Dengan demikian, konsumsi atas BBM bersubsidi bisa terkontrol dan tidak berlebihan dan membebani keuangan pemerintah.
Dampak positif keempat adalah penghematan terhadap pemakaian minyak bumi. Minyak bumi adalah sumber daya alam yang tidak terbarukan. Suatu saat, cadangan minyak bumi akan habis, dan butuh waktu jutaan tahun untuk menghasilkan minyak bumi lagi. Terkontrolnya pemakaian BBM seperti dampak positif ketiga, berdampak pula terhadap eksploitasi minyak bumi yang bisa dikurangi. Dengan demikian, cadangan minyak bumi bisa lebih lestari lagi.
Dampak positif kelima adalah pengembangan energi alternatif yang lebih murah daripada BBM. Harga BBM bersubsidi yang lebih mahal akan memacu pihak- pihak tertentu untuk berpikir kreatif untuk mencari dan mengembangkan energi- energi alternatif selain BBM. Dengan energi alternatif, masyarakat tidak bergantung terhadap keberadaan BBM. Selain itu, energi alternatif akan lebih ramah lingkungan daripada BBM.
Dampak posititif keenam adalah mengurangi tindak kejahatan penyelundupan BBM. Dengan naiknya harga BBM bersubsidi, disparitas harga BBM di Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura bisa dipangkas. Perbedaan harga yang semakin kecil itu membuat penyelundup tidak tertarik menyelundupkan BBM bersubsidi karena keuntungan menjadi lebih kecil sementara resiko yang harus dihadapi besar. Sehingga, BBM bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia yang memang berhak terhadap penggunaan BBM bersubsidi itu.
Dampak positif ke tujuh, Penekanan subsidi BBM menyebabkan harga BBM naik sehingga permintaan akan kendaraan bermotor (barang komplementer) menurun dan industri kendaraan bermotor akan mengalami penurunan. Penurunan jumlah permintaan kendaraan bermotor dapat mengerem laju pertambahan jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat yang pada akhirnya akan mencegah pencemaran udara yang lebih parah dan mengurangi potensi terjadinya kemacetan, terutama di kota- kota besar sebagai akibat dari total panjang jalan yang sudah tidak proporsional dengan jumlah kendaraan bermotor yang beredar di jalan.
BAB IV PENUTUP KESIMPULAN
Penekanan BBM Bersubsidi sudah seharusnya dilakukan pemerintah. Subsidi BBM sudah membebani keuangan dan berpotensi terus memberi beban yang lebih berat terhadap keuangan negara di masa- masa mendatang apabila pemerintah tidak mengambil keputusan untuk menekan subsidi BBM. Apalagi, subsidi BBM sekarang ini sudah tidak efektif dan tidak banyak dirasakan masyarakat yang tergolong miskin. Melihat dari kondisi perminyakan di Indonesia dan dunia, penekanan/pemberhentian subsidi BBM tepat dilakukan oleh pemerintah. Jika tidak dilakukan penekanan subsidi BBM, keuangan pemerintah akan semakin terbebani oleh besaran anggaran untuk subsidi BBM yang terus naik karena harga minyak dunia yang cenderung naik.
1. Mengurangi defisit anggaran.
2. Kontrol terhadap konsumsi BBM sehingga tidak terjadi pemakaian BBM secara berlebihan
3. Penghematan terhadap pemakaian minyak bumi yang merupakan sumber daya alam tidak terbarukan
4. Penghematan terhadap keuangan pemerintah sehingga bisa dialihkan untuk mendanai program lain yang lebih tepat guna dan tepat sasaran
SARAN
Dengan berbagai kondisi perekonomian yang telah dipaparkan dalam karya ilmiah ini, maka besar harapan penulis supaya pemerintah dan khususnya masyarakat agar menerima kebijakan pemerintah dalam penekanan subsidi BBM demi perbaikan perekonomian indonesia dalam jangka panjang.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
1. Damodar, Gujarati.1995. Ekonomika dasar, Jakarta : Erlangga
2. Hamid, Edi Suandi. (2000). Perekonomian Indonesia: Masalah dan Kebijakan Kontemporer. Jogjakarta: UII Press.
3. Prof. Dr. Tulus T.H. Tambunan.2012. Perekonomian Indonesia, Bogor: Ghalia Indonesia
4. Mankiw, N. Gregory. (2006). Makroekonomi Edisi-6. Jakarta: Erlangga.
6. Styo, Mita Et al. 2014. Pengaruh hrga minyak dunia, Harga emas, dan tingkat inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi indonesia. Studi Pada Bank Indonesia Periode Tahun 2003- 2011. Malang
7. prokum.esdm.go.id/Publikasi/Statistik/Statistik%20Minyak%20Bumi.pdf
8. oil-price.net/en/articles/iran-oil-strait-or-hormuz.php
9. bicaraenergi.com/2011/09/bp-statistical-review-2011-minyak-bumi/
10.
www.reforminer.com/media-coverage/tahun-2012/1196-antisipasi-dampak-penaikan-harga-bbm.
11.