• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Asasi Manusia Sebuah Telusuran Genea

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hak Asasi Manusia Sebuah Telusuran Genea"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

Hak Asasi Manusia: Sebuah Telusuran

Genealogis dan Paradigmatik

Oleh Eddie Riyadi Terre

I. Pendahuluan: Dialektika Negatif

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa abad 20 dan sesudahnya adalah “abad hak asasi manusia”.1 Penamaan itu tentu saja mengandung dua

aspek tak terpisahkan yaitu diskursus dan gerakan, atau teori dan praksis. Pada tingkat diskursus kita saksikan merebaknya pelbagai terbitan, tulisan, diskusi, training, bahkan kuliah di pelbagai belahan dunia yang menjadikan HAM sebagai subjek utama. Pada tingkat gerakan, kita saksikan isu HAM sebagai agenda dan program utama mulai dari tingkat PBB hingga ke tingkat masyarakat sipil di pelbagai belahan dunia dengan didampingi pelbagai lembaga non-pemerintah yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Penamaan abad hak asasi manusia, kalau kita telusuri realitas di baliknya, tentu saja muncul dari sebuah realitas kelam dan negatif dalam sejarah umat manusia, yaitu pengalaman penderitaan. Penderitaan yang dimaksud adalah penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan manusia itu sendiri. Maka, sebagaimana dikatakan Magnis-Suseno:

Makalah ini dibuat untuk dipresentasikan pada Training Hak Sipol dan Politik Berperspektif Jender dengan materi “Hak Asasi Manusia: Sejarah, Prinsip dan Isinya”, yang diselenggarakan oleh Lembaga Damar, Lampung, pada 18 September 2006. Mengingat banyak butir pemikiran dan argumentasi dalam paper ini adalah hasil renungan dan racikan penulis sendiri, dengan tetap mengacu pada sumber-sumber inspiratif terutama realitas negatif itu sendiri, maka pengutipan apa pun dari paper ini, dengan hormat diminta untuk konfrmasi dengan penulis ke: [email protected]

Eddie Riyadi Terre adalah Koodinator Program Publikasi di ELSAM, editor,

penerjemah, Redaktur Pelaksana Jurnal Hak Asasi Manusia DIGNITAS, trainer hak asasi manusia di pelbagai tempat dan kesempatan, dan sekarang masih terdaftar sebagai mahasiswa Pasca-sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

1 Lihat Louis Henkin, The Age of Rights, New York: Columbia University Press,

(2)

… hak-hak asasi tidak diciptakan dari udara kosong, melainkan mengungkapkan sejarah pengalaman sekelompok orang yang secara mendalam mempengaruhi cara seluruh masyarakat menilai kembali tatanan kehidupannya dari segi martabat manusia. Sejarah itu berwujud penderitaan, ketidakadilan, dan pemerkosaan.2

Realitas negatif itulah yang kemudian direfeksikan dan kemudian diteorikan3 dan diperdebatkan oleh para pemikir hingga

dewasa ini. Biasanya, ada dua pertanyaan yang selalu menyibukkan para pemikir tentang hak asasi manusia: apa itu hak asasi manusia, dan mengapa dinamakan hak asasi manusia? Apa pun dan bagaimanapun perdebatan dan jawabannya, negativitas itu tetap mencekam dan menghentak nurani kemanusiaan. Karena itu, pertanyaan tentang pendasaran sesuatu sebagai hak asasi manusia akan dijawab: karena manusia sendiri tidak tega, ngeri, jijik terhadap penderitaan itu, dan sekaligus ingin keluar dari realitas negatif itu. Secara antropologis, manusia, bahkan makhluk hidup secara keseluruhan, mempunyai mekanisme internal dan alamiah untuk keluar dari penderitaan. Dari situlah kemudian “para flosof dapat, dan memang sebaiknya, menjelaskan belakangan, bahwa hak asasi itu memang dapat dimengerti dari latar belakang prinsip-prinsip moral dasar interaksi manusiawi”.4

Dengan pertama-tama melihat ide hak asasi manusia muncul dari kesadaran dan keprihatinan akan pembantaian dan pemerkosaan manusia, berarti kita memahaminya, berpikir dan bertindak dengan cara dialektika negatif,5 yaitu dengan menempatkan para korban

2 Franz Magnis-Suseno, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan

Modern, Jakarta: Gramedia, 1991, hlm. 136.

3 Dilihat sejarah etimologisnya, teori memang menyusuli praksis. Teori berasal

dari kata Theoros (Yunani), yakni seorang yang diutus oleh suatu masyarakat untuk melakukan theoria, memandang, memaknai, melakukan, dst… Jadi, dalam pengertian pra-modernnya – yang kemudian dicoba diangkat kembali oleh Teori Kritis Mazhab Frankfurt, dengan berhutang besar pada Marx, sebagai gugatan terhadap paradigma ilmu pengetahuan modern – teori selain memang menyusuli praksis, juga berarti bahwa antara teori dan praksis itu sendiri tak dapat dipisahkan. Bahkan, teori adalah praksis itu sendiri.

4 Magnis-Suseno, 1991, hlm. 136.

5 Lihat Theodor W. Adorno, Negative Dialectics, diterjemahkan oleh E.B.A dari

(3)

realitas negatif itu sebagai subjek utama, sebagai perhatian prima facie.6 Tanpa “keberpihakan” seperti ini, semua pembicaraan dan

perjuangan atas nama hak asasi manusia tak berarti apa-apa, bahkan menjadi alat penindasan baru dengan gaya “serigala berbulu domba”.

Inilah posisi saya dalam menelusuri sejarah, prinsip dan kandungan hak asasi manusia. Penelusuran ini saya dekati secara genealogis. Pendekatan genealogis yang saya maksud adalah penelusuran hak asasi manusia sebagai sebuah kesadaran, sebuah genealogi kesadaran, yaitu kesadaran dalam ide dan sekaligus gerakan yang terkait-kelindan dan tidak terputus-putus. Namun, penelusuran genealogis ini saya batasi pada era modern yaitu mulai zaman Pencerahan hingga era kontemporer.7 Selain itu, penelusuran

genealogis ini dibagi atas fase-fase dengan berangkat dari tonggak-tonggak penting gerakan hak asasi manusia, jadi bukan pada asal-usul perdebatan teoretisnya, meskipun tidak bisa dinafkan bahwa tonggak sejarah yang dimaksud tidak mungkin terlepas dari diskursus gagasan yang diketengahkan oleh para pemikir berpengaruh pada zamannya. Karena itu, saya membagi fase genealogis hak asasi manusia atas tiga: Fase I, Praperang Dunia I-II yang meliputi tonggak sejarah penentangan monarki absolut di Inggris dan Prancis hingga perjuangan kemerdekaan di Amerika; Fase II, Pasca-perang Dunia I-II yang merupakan era penegakan rule of law dan demokratisasi; Fase III, fase kontemporer yang ditandai globalisasi dan neoliberalisme.

6 Prinsip prima facie, yang secara harfah berarti “kesan pertama”, pertama

kali dikemukakan oleh William David Ross untuk mengatasi dilema tindakan etis dalam teori etika deontologi Immanuel Kant. Prima facie berarti tindakan etis yang diambil di antara pelbagai pilihan yang tampak pada “pandangan pertama” dan diyakini saat itu sebagai “tindakan yang benar”, terlepas dari hal itu benar atau tidak di masa depan. Pada tingkat yang lebih luas, prinsip prima facie ini sering disamakan sebagai “rasa keadilan”. Lihat W.D. Ross, The Right and the Good, Gloucestershire: Clarendon Press, 1930.

7 Jadi, meskipun berhutang banyak pada konteks perbudakan di Yunani kuno

(4)

Setelah itu, saya akan mengetengahkan empat paradigma utama dalam memandang hak asasi manusia, yang kemudian berimplikasi pada pengelompokan atau kategorisasi hak asasi manusia itu sendiri. Paradigma itu antara lain adalah: paradigma klasik-liberal (libertarian), paradigma kontrak sosial dan rule of law, paradigma liberal-republikan, dan paradigma sosialis atau Marxian. Meskipun, penekanan dari masing-masing paradigma itu berbeda, namun akan kita lihat pada bagian selanjutnya bahwa ternyata prinsip-prinsip yang menjadi dasar setiap konsep hak asasi manusia itu memiliki kesamaan. Prinsip-prinsip itu antara lain adalah bahwa hak asasi manusia itu bersifat universal, ditegakkan secara non-diksriminatif, menuntut partisipasi aktif dari masyarakat, serta mengharuskan adanya upaya penanganan efektif secara legal dari pihak negara.

Pada bagian berikutnya, saya akan membahas isi dari ketiga instrumen utama hak asasi manusia yang lazim disebut sebagai

(5)

II. Genealogi Hak Asasi Manusia

Dalam perbincangan tentang hak asasi manusia, kebanyakan orang berdiri di dua kubu yang saling bertentangan. Kubu pertama adalah kubu idealis-rasional, yang kebanyakan didominasi oleh para flosof, mencoba mengurai persoalan hak asasi manusia dari asal usul ide dan gagasannya. Karena itu, pertanyaan yang menyibukkan mereka adalah: apakah hak asasi manusia itu memang ada, kalau ada apa hakikatnya, apa isinya, dan apa yang menjadi landasan keberadaanya itu. Selain itu, didukung oleh kelompok anti-modern, anti-liberalisme, dan terutama mengental pada kaum postmodernis, persoalan universalitas hak asasi manusia sangat menyita perhatian mereka. Sebaliknya, kubu kedua, yang kita namakan kaum empiris-pragmatis, tidak begitu perduli dengan pertanyaan-pertanyaan “omong-kosong” tersebut. Bagi kubu ini, yang terpenting adalah gerakan. Tidak perlu teori abstrak dan membingungkan itu, yang terpenting adalah gerakan dan advokasi terus menerus dengan memanfaatkan instrumen-instrumen yang sudah ada. Instrumen hak asasi manusia internasional, kemudian, menjadi semacam “kitab suci” bagi para pejuang gagah berani ini. Mereka tidak perduli apakah di balik instrumen-instrumen tersebut tersembunyi kepentingan-kepentingan hegemonik dan dominatif dari kelompok dan ideologi tertentu yang pada gilirannya mempersendat implementasinya di lapangan. Bagi mereka, ketersendatan itu adalah semata-mata persoalan tidak adanya good will dari pihak pemegang kewajiban hak asasi manusia baik itu negara, masyarakat itu sendiri, dan lokus-lokus kekuasaan global lainnya seperti institusi ekonomi global.

(6)

hak asasi manusia dalam ranah kesadaran praksis, dengan berpegang pada tonggak-tonggak sejarah penting gerakannya, namun dengan memasuki ranah kesadaran refektif sebelum dan sesudah tonggak sejarah itu terpancang, yang berarti memasuki wilayah permenungan para pemikir. Dengan cara ini, pembagian fase genealogis di sini sama sekali tidak terputus dan tanpa saling pengaruh, melainkan berwatak heuristik, artinya selalu bergerak dalam wilayah dialektika antara praksis dan kontemplasi, selain dialektika antara praksis itu sendiri dan teori itu sendiri. Singkatnya, genealogi kesadaran heuristik yang kita maksud di sini berarti memperhatikan hubungan antara aksi dan refeksi. Namun, kembali saya tegaskan, penelusuran genealogi hak asasi manusia kita di sini, dibatasi pada era modern yaitu mulai zaman Pencerahan hingga era kontemporer.

Fase I: Pra-Perang Dunia I dan II

Fase pertama ini merentang dari tonggak sejarah penentangan monarki absolut di Inggris hingga Prancis dan perjuangan kemerdekaan di Amerika. Lazimnya, kebanyakan orang mengamini bahwa paham hak asasi untuk pertama kali lahir di Inggris pada abad ke-17, tepatnya pada tahun 1679 dengan lahirnya Habeas Corpus, suatu dokumen bersejarah yang menjadi cikal bakal prinsip rule of law

untuk menggantikan kesewenangan rule by man yang terutama pada

masa itu terpersonalisasi pada sang raja sebagai penguasa monarki absolut. Inti dokumen ini adalah bahwa orang yang ditahan harus dihadapkan dalam waktu paling lambat tiga hari kepada seorang hakim untuk diproses dan diadili. Jadi, ini merupakan tonggak pertama yang sekarang dikenal sebagai kebebasan dari penangkapan sewenang-wenang dan hak untuk mendapatkan peradilan yang jujur (fair trial).

(7)

raja yang sewenang-wenang, dikeluarkanlah sebuah piagam yang kita

kenal dengan nama Magna Charta Libertatum. Sebuah piagam yang

melarang penahanan, penghukuman, dan perampasan benda sewenang-wenang. Sejarah terus bergulir. Kurang lebih empat ratus tahun setelah itu, tepatnya pada tahun 1640, terjadi Revolusi Inggris yang dipimpin Oliver Cromwell, dan kemudian memegang tampuk pemerintahan menggantikan raja, dan mendirikan pertama kalinya pemerintahan republik di Inggris yang kemudian dalam sejarah selanjutnya menjadi satu-satunya, karena setelah itu (1660) hinggga sekarang Inggris kembali menjadi monarki. Revolusi ini berangkat dari kesewenangan raja yang mengebiri hak atas partisipasi politik dan kebebasan beragama serta kebebasan untuk mengawasi pemerintahan.

Ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan monarki tidak dengan sendirinya menggerakan mereka untuk memusnahkan monarki, melainkan “menjinakkan” monarki. Demikianlah, pada tahun 1688, terjadi apa yang dalam sejarah disebut sebagai Glorious

Revolution, di mana rakyat mendukung Pangeran William dari Oranye

untuk melengserkan Raja James II. Antara raja baru dan rakyat terjadi kesepakatan berupa lahirnya “An Act Declaring the Rights and Liberties of the Subject and Settling the Succession of the Crown” yang lazim dikenal dengan sebutan Bill of Rights setahun kemudian (1689). Undang-undang ini mengandung ketentuan hak-hak positif8 tertentu

yang harus dimiliki oleh setiap rakyat dan penduduk dalam sebuah negara yang bebas dan demokratis. Ia menjamin hak warga untuk memberikan petisi kepada raja dan hak Subjek (rakyat) untuk membela negara. Ia juga menjamin bahwa keputusan raja harus mendapat persetujuan dari rakyat yang dalam hal ini diwakili oleh parlemen. Singkatnya, undang-undang ini berisikan pengakuan hak-hak dan kebebasan warga negara terutama hak-hak politik dan hak-hak-hak-hak

8 Tentang hak positif, silahkan baca uraian di belakang tentang paradigma hak

(8)

parlemen dalam pemerintahan raja, dan ini menjadi tonggak sejarah dunia dalam hal pemerintahan konstitusional modern.

Peristiwa tahun 1215 dan 1640 di atas kemudian mempengaruhi renungan politik flosof terkenal Inggris yaitu John Locke (1632-1704).9

Renungannya, selain realitas politik yang meresahkan, memberi pengaruh signifkan pada kelahiran Bill of Rights tahun 1689 tersebut, bahkan hingga masa sesudahnya termasuk hingga sekarang. Inti pandangan Locke adalah bahwa semua orang diciptakan sama dan memiliki hak-hak alamiah (natural rights) yang tidak dapat dilepaskan

(inalienable). John Locke menekankan empat hak utama yaitu: hak atas

hidup, kebebasan (kemerdekaan), hak atas properti (hak milik), dan hak untuk mengusahakan kebahagiaan.

Pemikiran-pemikiran John Locke dengan cepat menyebar ke pelbagai daratan Eropa terutama Prancis, dan ke Amerika yang dibawa oleh para “pelarian” dari Inggris dan Eropa lainnya. Locke, hampir sejalan dengan gagasan Thomas Aquinas (1225-1274), seorang teolog dan flosof besar abad pertengahan yang terkenal dengan Teori Hukum Kodrat-nya, mengemukakan bahwa berdasarkan hukum kodrat, tidak seorang pun boleh merampas hak atas hidup, keamanan (kesehatan), kebebasan dan milik orang lain. Pandangan ini berimplikasi politis, karena membatasi peran pemerintah dengan prinsip bahwa tak seorang pun boleh tunduk di bawah kekuasaan orang lain tanpa persetujuan orang yang hendak dikuasai itu. Prinsip ini kemudian menjadi dasar digugatnya sebuah kekuasaan oleh yang dikuasai. Pandangan ini menemukan tanahnya yang subur dalam pengalaman pahit para “pelarian” Eropa (terutama Inggris) di Amerika baik selama sebelumnya berada di Inggris maupun selama berada di Amerika namun masih di bawah kekuasaan Inggris. Dialektika sejarah berlangsung terus, dan sintesisnya pun lahir dalam Declaration of Independence tahun 1776 (disusun oleh Thomas Jeferson) yang mempertegas sebuah deklarasi yang dikeluarkan sebulan sebelumnya

9 Tentang flsafat politiknya, lihat John Locke, Two Treatises of Government,

(9)

yaitu Bill of Rights of Virginia atau kadang disebut Virginia Declaration of Rights (yang disusun oleh George Mason). Deklarasi Virginia itu berisikan daftar hak asasi yang lengkap pertama kali dalam sejarah dan hampir memasukkan semua daftar John Locke yang diturunkan atas pelbagai jenis hak lainnya lagi. Sayangnya, kendati Deklarasi itu berisi ketentuan persamaan hak untuk “semua umat manusia” namun dalam pelaksanaannya hak itu hanya melekat pada kaum kulit putih dan laki-laki.

Pengaruh pemikiran hukum kodrat Aquinas yang diartikulasikan Locke juga menemukan lahan suburnya dalam pengalaman pahit rakyat Prancis yang mengalami penindasan di bawah raja yang memerintah dengan semboyan “negara adalah saya”. Revolusi Prancis yang dimulai tahun 1788 kemudian berbuah pada lahirnya “pernyataan tentang hak-hak manusia dan warga negara” (Declaration des droits

des hommes et des citoyensDeclaration of the Rights of Man and of

(10)

bertentangan dengan paham hak asasi manusia yang mereka anut di negerinya sendiri.

Namun demikian, perlu kita catat bahwa ciri khas paham dan gerakan hak asasi manusia pada fase ini10 terletak pada perlawanan

kaum borjuasi liberal terhadap pemerintah yang feodal dan absolutik dengan mengedepankan negara konstitusional. Pada abad 19, selain kaum borjuis liberal, kaum buruh pun memasuki arena. Di satu sisi mereka, pada mulanya, mendukung perjuangan kaum borjuis liberal melawan feodalisme, dan di sisi lain, kemudian, mereka juga melawan kawan seiring itu untuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagai manusia pekerja. Di bawah ideologi sosialisme, dengan motor besarnya Marxisme, perjuangan mereka kemudian melahirkan ide hak-hak asasi sosial.

Bagaimanapun juga, dalam fase pertama ini, kalau kita cermati, kesadaran akan hak terutama berangkat dari pengalaman ketertindasan penguasa. Hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan karena “pengalaman bersama” akan ketertindasan itu turut serta memberi warna pada klaim universalitas hak asasi manusia, dan bukan sekadar berangkat dari paham kodrati. Universalitas yang tumbuh dari negativitas pengalaman bersama ini bergayung sambut dengan renungan antropologis flosofs, sosial dan politik para pemikir, semisal John Locke dengan mengetengahkan tesis antropologis bahwa semua manusia diciptakan sama dengan hak yang sama pula dan tak dapat dicerabut. Nyatalah kini, meski baru masuk pada penelusuran fase pertama, bahwa kita tidak ikut terjerembab dalam pertikaian dua kubu utama perdebatan masalah hak asasi manusia, melainkan melihat dialektikanya.

Fase II: Fase Pasca-Perang Dunia I dan II

10 Tentang kekhasan konsep dan gerakan hak asasi manusia pada masa ini,

(11)

Fase ini merupakan fase penegakan rule of law dan demokratisasi. Semua cita-cita dan perjuangan luhur abad 19 seolah raib tak berbekas pada abad 20, yang oleh Frederico Mayor11 dinamakan sebagai “abad

terkelam” dalam sejarah kehidupan manusia. Abad ini ditandai perang dunia dua kali, perang saudara, otoritarianisme, diktatorisme, kekacauan sosial, perang dingin, ketidakadilan yang merajalela, kemiskinan dan pembodohan yang akut, dan bahkan diindikasikan sebagai abad kegamangan. Kembali universalitas negativitas berupa pengalaman penderitaan menyatukan manusia yang terwakili dalam diri beberapa gelintir pemimpin dengan dukungan hampir seluruh umat manusia yang jijik dan ngeri pada kekelaman dan penderitaan akibat nafsu manusia sendiri. Kekejaman Nazi Jerman merupakan klimaks dari kengerian dan kejijikan manusia terhadap penderitaan. Didahului oleh preseden terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1919 setelah berakhirnya Perang Dunia I, kemudian dipertegas lagi dengan terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa yang secara resmi berdiri pada 24 Oktober 1945, lahirlah sebuah deklarasi yang kita kenal sebagai Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR).12

Deklarasi inilah yang menjadi tonggak baru perjuangan dan gerakan hak asasi manusia hingga masa kontemporer. Bersama dengan turunannya dalam bentuk dua kovenan utama yaitu Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR), UDHR telah menjadi semacam kitab suci bagi para pejuang dan subjek pemegang hak asasi manusia di seluruh dunia, yang dikenal dengan sebutan International Bills of Human Rights.

Apakah dengan lahirnya DUHAM (1948) dan kedua Kovenan (1966) itu, perjuangan hak asasi manusia lalu menjadi lebih mudah? Sejarah kembali bertutur bahwa instrumentalisasi hak asasi manusia

11 Frederico Mayor adalah Direktur UNESCO. Pendapat itu disampaikannya

dalam kata pengantarnya untuk buku karangan Jean Baechler, Democracy, an

Analytical Survey, UNESCO, 1999.

12 Untuk uraian tentang kandungan DUHAM lihat pada bagian tentang Bill of

(12)

saja tidak cukup. Setelah itu memang PBB masih terus mengeluarkan pelbagai konvensi yang melarang perbudakan,13 penghapusan

penyiksaan,14 tentang hak anak,15 tentang larangan diskriminasi

terhadap perempuan,16 anti-diskriminasi,17 bahkan belakangan tengah

diperjuangkan deklarasi hak-hak masyarakat adat,18 dll. Namun, semua

konvensi dan deklarasi yang dikeluarkan PBB itu tak berbunyi apa-apa tanpa adanya upaya perjuangan terus-menerus oleh para pembela kemanusiaan.

Setelah paruh pertama abad 20 dunia dihentakkan oleh kekejaman totaliterisme Nazi, memasuki paruh kedua, hampir seluruh seluruh dunia dilanda kekejaman totaliterisme sosialis-komunis, otoritarianisme, despotisme, fasisme yang membentang mulai dari Eropa Timur, Amerika Latin, hingga Asia, termasuk Indonesia.19 Hak

asasi manusia kembali menjumpai tantangan berat. Mendekati akhir abad 20, kengerian itu semakin memuncak yang sekali lagi melahirkan

13 Supplementary Convention on the Abolition of Slavery, the Slave Trade, and

Institutions and Practices Similar to Slavery (Konvensi Pelengkap tentang Penghapusan Perbudakan, Perdagangan Budak, dan Institusi dan Pratkik yang Sama dengan Perbudakan), yang disahkan oleh PBB dengan Resolusi ECOSOC 608 (XXI) pada 30 April 1956 di New York dan kemudian di Jenewa pada 7 September 1956, dan mulai berlaku pada 30 April 1957, untuk melengkapi Konvensi Menentang Perbudakan (Slavery Convention) yang dibuat sebelum lahirnya PBB, yaitu pada tahun 1926, yang kemudian dibuat protokol untuk mengamendemennya oleh PBB pada tahun 1953.

14 Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading

Treatment or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan dan Tindakan atau Pengukuman Kejam Lainnya, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia; biasa disebut singkat Konvensi Menentang Penyiksaan - CAT) yang disahkan oleh PBB pada 10 Desember 1984 dengan Resolusi GA 39/46, dan mulai berlaku 26 Juni 1987.

15 Convention on the Rights of the Child (CRC – Konvensi Hak Anak) yang

disahkan PBB pada 20 Desember 1989 dengan Resolusi GA 44/25, dan mulai berlaku pada 2 September 1990.

16 Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women

(CEDAW – Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan) yang disahkan oleh PBB dengan Resolusi GA 34/180 pada 18 Desember 1979 dan mulai berlaku pada 3 September 1981.

17 International Convention on the Elimination of All Forms of Racial

Discrimination (CERD – Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial) yang disahkan oleh PBB dengan Resolusi GA 2106 A (XX) pada 21 Desember 1965, dan mulai berlaku pada 4 Januari 1969.

18 Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (sekarang masih dalam

proses penyusunan draf dan pengesahan di PBB), sebelumnya sudah ada Konvensi ILO 169.

19 Masih perlu dikasih catatan tentang realitas itu dalam konteks transitional

(13)

universalitas penderitaan manusia dalam diskursus dan gerakan demokratisasi yang hampir merata di seluruh dunia. Fenomena demokratisasi dan liberalisasi mendekati akhir abad 20 ini oleh Huntington disebut sebagai “gelombang ketiga demokratisasi”.20 Pada

era ini jugalah muncul sebuah paradigma baru dalam perjuangan kemanusiaan, sebagai bentuk lebih artikulatif yang berangkat dari dialektika negatif penderitaan para korban berhadapan dengan kekejaman penguasa totaliter, fasis dan otoriter, yang kita kenal dengan sebutan “keadilan transisional”.21 Ciri khas perjuangan dan

diskursus hak asasi pada fase ini yang terutama terartikulasi secara signifkan pada akhir abad 20 adalah penekanan pada hak-hak korban.22 Namun, belum juga proses demokratisasi dan penegakan

keadilan transisional menunjukkan hasilnya yang menggembirakan, hak asasi manusia kembali mendapatkan tantangan baru dan serius yaitu dengan gempuran globalisasi dan neoliberalisme yang menyebarkan lokus kekuasaan bukan lagi semata pada negara melainkan juga pada pelaku-pelaku ekonomi internasional. Hal ini tentu saja berakibat pada mekanisme dan logika pertanggungjawaban dan penagihan kewajiban untuk menjamin pemenuhan hak asasi manusia.

Fase III: Era Globalisasi dan Neo-liberalisme

Fase III yang merupakan fase kontemporer ditandai globalisasi dan neoliberalisme. Ciri khas fase ini adalah bahwa epistemologi konvensional seputar hak asasi manusia mulai dipandang tidak

20 Tentang gelombang ketiga demokratisasi ini silahkan baca Samuel P.

Huntington, The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, Oklahoma: University of Oklahoma Press, 1991.

21 Tentang diskursus banyak sekali literatur yang muncul dan memenuhi

pustaka intelektual dan pembela demokrasi dan hak asasi manusia belakangan ini. Salah satu yang terpenting adalah dari Ruti G. Teitel, Transitional Justice, New York: Oxford University Press, 200.

22 Tentang hak-hak korban pelanggaran hak asasi manusi, silahkan baca Theo

van Boven, Mereka yang Menjadi Korban, tentang Hak-Hak Korban atas Restitusi,

Reparasi, dan Kompensasi, Jakarta: ELSAM, 2003. Buku ini merupakan terjemahan

(14)

memadai sekaligus digugat. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa lokus kekuasaan politik sebagai pengampu kewajiban pemenuhan hak asasi manusia tidak lagi berada pada satu aktor yaitu Negara melainkan sudah tersebar ke mana-mana terutama aktor-aktor ekonomi global. Hampir tidak ada kebijakan negara yang berimplikasi pada hak asasi manusia yang imun dan netral dari pengaruh kekuasaan ekonomi global itu. Maka, menagih kewajiban semata kepada Negara untuk memenuhi, menghargai dan melindungi di satu sisi dan menggugat Negara atas kejahatan dan pelanggaran yang dilakukannya baik dengan cara aktif (by commission) maupun secara pasif (by omission) tampak tidak realistis dan rasional.

Logika politik kontemporer dengan mudah bisa memandang hal ini. Namun, yang susah adalah bagaimana logika flsafat politik kontemporer itu menjadi efektif sampai pada mempengaruhi kebijakan. Lagi-lagi PBB mengambil peran penting. Beberapa tahun belakangan ini, PBB menginisiatif penyusunan dan lahirnya beberapa instrumen, baik berupa deklarasi maupun konvensi, yang menegaskan perlunya institusi-institusi ekonomi global bertanggung jawab atas masalah hak asasi manusia. Dan yang terakhir adalah disusunnya UN Draft Norms on Business and Human Rights.

Pada fase inilah lahir generasi baru dalam diskursus hak asasi manusia, yang sering disebut sebagai hak asasi manusia generasi ketiga, yaitu hak asasi manusia atas pembangunan, lingkungan yang sehat, termasuk di dalamnya hak-hak minoritas dan kelompok-kelompok rentan. Paradigma yang dikembangkan oleh para pejuang hak asasi manusia pada fase ini adalah paradigma ekonomi politik dengan fokus pada etika tanggung jawab terutama yang berkaitan dengan masa depan.23 Etika tanggung jawab bertolak dari asumsi

ketidakterkiraan (unpredictibilty) dampak dari tindakan manusia, bahkan dari tindakan yang semula dipandang baik dan berguna

(15)

sekalipun. Karena itu, pelbagai kebijakan atas nama kebaikan, harus sudah dengan sendirinya membawa serta tanggung jawab atas dampak negatif di masa depan, apalagi kalau kebijakan itu memang dinilai buruk dari awal. Gerakan hak asasi manusia pada fase ini kemudian memunculkan inisiatif-inisiatif, yang kembali PBB memainkan peran, berupa CSR (Corporate Social Responsibility), UN Global Compact. Perjalanan hak asasi manusia dalam dialektika sejarah masih terus berlangsung, dan kita masih belum bisa menangkap sintesis absolutnya selain hanya sintesis-sintesis sementara. Universalitas kengerian akan penderitaan, jadi bukan sekadar universalitas etis – artinya kemauan bersama seluruh umat manusia untuk mengatakan Nie wieder (Jerman), atau nunca más (Spanyol) yang keduanya berarti imperatif negatif “tidak boleh terjadi lagi” terhadap penderitaan, dan bukan sekadar sebuah hasil refeksi etis dan rasional – merupakan pendorong utama untuk sampai pada sintesis absolut itu.

III. Kelompok dan Paradigma Hak Asasi Manusia

(16)

ini lebih bersifat epistemologis semata, dalam arti memudahkan kita untuk memetakannya, tetapi tidak dalam pengertian ontologis (hakikat) dan praksis (etis, sosial, politik dan legal), karena sebagaimana akan saya jelaskan di belakang nanti pada bagian konsep dan prinsip-prinsip hak asasi manusia, antara berbagai jenis hak asasi manusia itu terdapat hubungan saling mengandaikan, dan karena itu tidak terpisahkan.

A. Hak Negatif: Paradigma Klasik-Liberal (Libertarian)

Hak negatif berarti hak yang penjaminannya dan pemenuhannya terjadi dengan kata negatif: “tidak”. Pihak lain “tidak boleh” mencampuri urusan saya, karena saya mempunyai kebebasan yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun. Karena itu, hak-hak kelompok petama ini sering disebut juga hak-hak kebebasan, yang meliputi, misalnya, hak atas hidup, kebebasan bergerak dan bertempat tinggal, hak atas milik, hak untuk memilih pekerjaan, hak atas kebebasan beragama dan memilih keyakinan, hak atas kebebasan berpikir, berkumpul dan berserikat, dll.

Dasar etis hak-hak asasi negatif adalah tuntutan agar otonomi setiap orang, di mana kebebasan bertahta hanya dalam penghargaan terhadap otonomi itu, atas diri saya dihormati, begitu juga sebaliknya. Hak-hak negatif ini berangkat dari paradigma klasik-liberal (libertarian) yang mewarisi teori hukum kodrat Aquinas yang kemudian terartikulasi secara lebih tegas dalam flsafat politik John Locke dan teori reasionalitas-etis Immanuel Kant. Paradigma ini menekankan kebebasan dan otonomi sebagai institusi antropologis fundamental dalam eksistensi manusia, dalam arti, tanpa kedua hal itu, hakikatnya sebagai manusia menjadi dipertanyakan.

(17)

kebebasan dan otonomi saya. Kebebasan saya untuk beragama, misalnya, terpenuhi dan terlindungi sejauh Negara menjalankan kewajiban negatifnya untuk tidak melarang, memaksa, atau mencampuri penghayatan keagamaan saya, termasuk tidak mencampuri keputusan saya untuk beragama atau tidak. Dalam instrumen hak asasi manusia internasional, hak-hak negatif ini merupakan hak-hak sipil (civil liberties) yang termasuk dalam Kovenan Hak Sipil dan Politik.

B. Hak Positif: Paradigma Kontrak Sosial dan Rule of Law

Hak positif berarti hak yang pemenuhannya dan penjaminannya terjadi melalui tindakan afrmatif dari pihak lain sebagai pemegang kewajiban. Pihak lain itu, Negara misalnya, berkedudukan sebagai pemegang kewajiban positif. Yang paling penting dari kelompok hak positif ini adalah hak untuk mendapatkan perlindungan hukum, hak agar suatu pelanggaran terhadap hak yang dimiliki tidak dibiarkan, dan hak-hak yang mau menjamin keadilan perkara pengadilan, dan hak-hak atas kewarganegaraan.

(18)

Meskipun hak asasi positif ini sudah merupakan hak inheren logis dalam setiap negara terlepas dari apa pun konsep negara yang dianutnya, namun hak ini mendapatkan landasan argumentasi rasionalnya terutama dalam paradigma teori kontrak sosial, yang kemudian diartikulasikan lebih efektif oleh paradigma rule of law yang dengan sendirinya mengandaikan proses demokratis, bukan seperti

rule by law atau rule of man yang menafkan demokrasi atau hanya

demokrasi semu. Inti dari teori kontrak sosial adalah bahwa negara dibentuk berdasarkan kesepakatan anggota masyarakat, negara diberi hak tertentu dan sudah dengan sendirinya kewajiban yaitu terutama kewajiban untuk menjamin kepentingan, perlindungan hukum dan sosial, serta kesejahteraan. Eksistensi negara diakui sejauh ia menjalankan kewajibannya, di luar itu tidak. Jaminan terlaksanannya kewajiban itu digariskan dalam konstitusi dan hukum yang juga dibentuk dengan partisipasi politik dan konsensus bersama. Dengan kata lain, kewajiban itu dijamin secara konstitusional (rule of law). Hak-hak positif ini biasanya dipahami sebagai Hak-hak-Hak-hak hukum warga negara, yang juga termasuk dalam Konvenan Hak Sipil dan Politik

C. Hak Aktif atau Hak Demokratis: Paradigma Liberal-Republikan

(19)

Hak-hak demokratis menentang anggapan tradisional dan feodal yang mendasarkan kekuasaan atas paham legitimasi religius, eliter (aristokratis, ideologis, pragmatis dan teknoratis). Legitimasi demokratis menentang pandangan kedua bentuk legitimasi itu yang beranggapan bahwa hanya orang atau golongan tertentu yang karena agama, pangkat, kedudukan sosial, asal usul keturunan, ideologi, dan kemampuannya mempunyai hak khusus untuk memerintah masyarakat dan menguasai negara. Paham legitimasi demokratis mengedanpkan asumsi antropologis bahwa semua orang berkedudukan sama dan setara, dan karena itu urusan apa pun menjadi urusan bersama yang dipecahkan dengan mengindahkan kedudukan yang setara.

Yang termasuk hak-hak demokratis ini antara lain hak untuk bersuara dalam pemilihan umum untuk memilih presiden dan wakil-wakil rakyat, hak untuk mengontrol pemerintah dan mengawasi jalannya pemerintahan, hak untuk menyatakan pendapat, hak atas kebebasan pers, hak untuk mendirikan partai. Bersama dengan hak-hak negatif (hak-hak-hak-hak kebebasan), hak-hak-hak-hak aktif (hak-hak-hak-hak demokratis) ini merupakan hak asasi klasik yang berasal dari fase pertama dalam telusuran genealogi kita, terutama yang terartikulasi dalam perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat dari kekuasaan Inggris. Hak aktif atau hak demokratis inilah yang kita mengerti sebagi hak politik dalam Kovenan Hak Sipil dan Politik.

D. Hak Sosial: Paradigma Marxian (Sosialisme)

(20)

beranggapan bahwa kebebasan total yang diperjuangkan oleh kaum liberal hanya akan berakibat pada ketidakadilan dan ketidakmerataannya. Selalu ada yang tidak mendapatkan bagian, dan akan tersingkir dalam persaingan atas nama kebebasan itu. Mengapa demikian? Karena, sekaligus juga kritik mereka terhadap konsep hak asasi aktif, partisipasi politik yang merata dan adil hanya terjamin di atas dasar pengandaian bahwa secara faktual semua anggota masyarakat sama dan setara. Kaum Marxian memandang bahwa anggapan itu omong kosong, karena kenyataannya anggota masyarakat tidak sama, dan sistem telah membuat mereka tidak setara. Mengembungkan kebebasan di atas landasan realitas itu hanya akan berdampak pada semakin terpuruknya orang-orang yang tidak beruntung, semisal kaum buruh.

Pada umumnya, kebebasan yang dijamin dalam hak-hak asasi manusia hanya dapat dipergunakan oleh mereka yang sudah terjamin kebutuhan dasarnya (basic needs) seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal. Kalau tidak, maka kebebasan, seperti kebebasan bergerak, mencari pekerjaan, berpartisipasi dalam kehidupan politik tidak berarti sama sekali karena tidak dapat dipergunakan. Karena itu, sebagai perluasan terhadap konsep kewajiban negara dalam paradigma kontrak sosial, sambil memberi catatan kritis terhadap paradigma klasik-liberal (libertarian) dan liberal-republikan, kaum sosialis-marxian beranggapan bahwa negara perlu mengambil langkah-langkah positif untuk memenuhi tuntutan-tuntutan sosial yang asasi. Hak-hak asasi sosial mencerminkan kesadaran bahwa setiap anggota masyarakat berhak atas bagian yang adil dari harta benda material dan kultural bangsanya dan atas bagian yang wajar dari hasil nilai ekonomis yang terus-menerus diciptakan oleh masyarakat sebagai keseluruhan melalui sistem pembagian kerja sosial. Hak itu harus dijamin dengan tindakan negara.

(21)

tempat tinggal dan jenis pekerjaan, atas syarat-syarat kerja yang memadai, hak atas upah yang wajar, hak atas perlindungan terhadap pengangguran, hak untuk membentuk serikat kerja dengan bebas, hak atas pendidikan, termasuk juga hak untuk menikmati kehidupan kultural masyarakat.

IV. Konsep Umum dan Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia

Sekarang kita memasuki pembahasan tentang konsep umum dan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang mencoba mensintesiskan pelbagai paradigma yang telah kita bahas pada bagian sebelumnya.

A. Konsep Umum

Konsep umum hak asasi manusia dapat dijelaskan dengan mengangkat beberapa karakternya, tanpa harus disibukkan dengan daftar hak yang termaktub di dalamnya. Dengan cara itu, orang mungkin saja bisa berbeda pendapat tentang apa saja yang layak dan harus menjadi hak asasi dan apa yang tidak, namun mereka bisa sependapat mengenai karakternya. Paling tidak ada delapan karakter yang bisa kita angkat di sini, terutama dalam pengertian kontemporernya.24

Pertama, hak asasi manusia bukan sekadar norma moral biasa

yang diterapkan dalam hubungan interpersonal semata melainkan norma-norma politik yang berkaitan dengan bagaimana orang diperlakukan oleh negara dan institusi-institusinya. Memang ada juga jenis hak asasi yang secara utama diarahkan pada hubungan

24 Bagian ini mengacu pada James Nickel, “Human Rights”, Stanford

Encyclopedia of Philosophy, dapat diakses online pada:

http://plato.stanford.edu/entries/rights-human/ Lihat juga James Nickel, Making Sense of Human Rights, Philosophical Refections on the Universal Declaration of Human Rights, Los Angeles: University of California Press, 1987. Buku ini sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia dengan judul Hak Asasi Manusia, Refeksi

(22)

interpersonal yaitu hak atas anti-diskriminasi rasial dan seksual. Namun, pemerintah dan negara juga termasuk di dalamnya yang dilarang untuk mempraktikan diskriminasi, dan bahkan bertanggung jawab jika terjadi diskriminasi interpersonal dengan analisis sistemik.

Kedua, hak asasi manusia eksis sebagai hak moral dan/atau legal. Hak asasi manusia eksis sebagai norma bersama dalam kesadaran moral aktual manusia – yaitu sebagai norma moral absah yang didukung oleh penalaran yang kuat – selain juga sebagai hak legal baik di tingkat nasional (yang biasanya diacu sebagai hak-hak “sipil” dan juga politik, atau hak “konstitusional”) maupun di tingkat internasional yang diakui dalam hukum internasional. Hak asasi manusia paling tidak eksis dalam empat cara, yaitu: (1) melalui pemberlakuan hukum dan keputusan judisial baik di tingkat nasional maupun internasional; (2) sebagai norma prapositif berdasarkan paham hukum kodrat dan pemberian sang Pencipta, jadi tidak atau belum diakuinya suatu hak dalam hukum tidak menghilangkan eksistensi hak itu sebagai hak asasi manusia; (3) sebagai norma yang diterima oleh hampir semua umat manusia, terlepas dari percaya atau tidak pada sang Pencipta, yaitu norma moral berdasarkan pandangan dan kesadaran umum tentang moralitas aktual manusia, semisal kesadaran moral umum manusia bahwa membunuh itu tidak baik; dan (4) sebagai norma moral yang diabsahkan dalam ranah politik dan hukum, jalan yang kebanyakan ditempuh dalam gerakan dan diskursus hak asasi manusia kontemporer.

Ketiga, hak asasi manusia sangat beragam dan banyak, bukan

(23)

kontemporer kendati tetap mengacu pada sejarah kelahirannya, namun ia telah melampaui sejarahnya itu.

Keempat, hak asasi manusia merupakan patokan minimal

(minimal standards). Mereka lebih memberi perhatian pada

menghindari kekejaman dan kengerian daripada mencapai yang terbaik. Fokusnya adalah pemberian perlindungan secara minimal pada kebaikan hidup manusia. Karena itu, konsep dan kandungan hak asasi manusia bersifat dinamis dan toleran terhadap perbedaan kultural dan ideologi, namun tetapi menjadi patokan minimal.

Kelima, hak asasi manusia merupakan norma internasional yang

mencakupi semua negara dan seluruh umat manusia dewasa ini. Mereka adalah norma-norma yang sangat direkomendasikan kepada seluruh umat manusia, karena lahir dari hasil refeksi mendalam atas universalitas penderitaan umat manusia pada abad sebelumnya yang diimbuhi dengan kerinduan untuk mencegah kembali terulangnya tragedi yang sama.

Keenam, hak asasi manusia merupakan norma berprioritas tinggi

(high-priority norms). Artinya, pengingkaran terhadap hak asasi manusia hanya akan berbuah pada ketidakadilan dan realitas tidak manusiawi. Kedudukannya yang berprioritas tinggi bermakna bahwa suatu masyarakat yang adil dan manusiawi hanya terjadi sejauh hak-hak asasi dijadikan patokan dan ukuran.

Ketujuh, hak asasi manusia memiliki nilai justifkasi yang kuat yang berlaku di mana pun dan mendukung prioritasnya yang tinggi. Tanpa karakter ini, hak asasi manusia itu tidak dapat menyeberangi dan melampaui perbedaan kultural dan mengatasi klaim kedaulatan nasional. Justifkasi yang kuat ini sangat dibutuhkan, namun juga tidak berarti absolut dan tak dapat dikurangi dalam tuntutannya. Tuntutan yang kuat ini masih harus dihadapkan pada konteks aktual problemnya.

(24)

beberapa unsur. Yang pertama sekali adalah bahwa mereka memiliki “pemegang hak” (rightholder) – seorang atau suatu badan yang memilik hak tertentu. Umumnya, yang diakui sebagai pemegang hak dari hak asasi adalah semua orang yang hidup. Lebih tepatnya, kadang-kadang mereka adalah semua umat manusia, kadang-kadang semua penduduk di suatu negara, kadang semua anggota dari suatu kelompok dengan kerentanan tertentu (seperti perempuan, anak-anak, kelompok-kelompok minoritas rasial dan religius, masyarakat adat, dll.) dan kadang semua kelompok etnik (seperti halnya hak anti-genosida). Unsur lainnya adalah bahwa mereka berfokus pada kebebasan, perlindungan, status atau keuntungan. Hak selalu berkaitan dengan sesuatu yang berfokus pada kepentingan pemegangnya.25 Yang kedua

adalah bahwa hak selalu mengarah pada pengampu tanggung jawab atau kewajiban untuk memenuhi, melindungi, atau menjamin hak tersebut. Yang terakhir adalah bahwa hak selalu bersifat mandatoris, dalam arti melimpahkan kewajiban kepada pengampu tanggung jawab, namun tidak murni merupakan tanggung jawab pengampu kewajiban semata, melainkan dipenuhi dengan mengandaikan adanya langkah proaktif dari pemegang hak sendiri, seperti hak atas makanan, pakaian, rumah, dan pendidikan.

B. Prinsip-Prinsip

Setelah kita mengikuti telusuran genealogisnya, uraian paradigmatik, serta membedah pengertian-pengertian kunci dari hak asasi manusia, berikut ini kita masuki beberapa prinsip utama yang dicerna dari uraian kita sebelumnya. Beberapa prinsip utama yang saya maksud antara lain adalah bahwa hak asasi manusia itu bersifat universal, tak terpisahkan, non-diskriminatif, mengandaikan adanya partisipasi, dan penjaminannya dilakukan dengan remedi (upaya hukum) yang efektif.

25 R.B. Brandt, “The Concept of Moral Rights”, 29 Journal of Philosophy 80, hlm.

(25)

Kita ikuti satu per satu secara singkat dan umum saja, tanpa terlalu jauh memasuki perdebatan argumentatifnya.

Universal

Prinsip universalitas hak asasi manusia umumnya diderivasikan dari pandangan atau teori hukum kodrat Thomas Aquinas, yang diartikulasikan lebih tajam oleh John Locke. Intinya bahwa secara kodrati semua manusia itu sama, dan sudah membawa serta dalam eksistensinya hak sebagai manusia. Karena itu, sebagai manusia yang sama dengan hak yang sama, hak-hak itu bersifat universal. Argumen universalitas ini juga mendapatkan landasan rasionalnya dalam teori rasionalitas Immanuel Kant yang mengedepankan bahwa ide-ide transendental yang bersifat umum pada semua manusia. Pada gilirannya, universalitas rasio ini juga tertuang dalam teori etikanya.

Namun demikian, sebagaimana telah saya kemukakan di depan, universalitas hak asasi manusia tidak hanya terletak pada universalitas kodrat dan ide-ide transendental, melainkan juga terletak pada universalitas penderitaan manusia. Secara antropologis, hampir tidak ada manusia yang menyukai penderitaan, demi alasan apa pun. Kalaupun toh seseorang harus menyukai dan melalui penderitaan, itu dilakukannya untuk suatu tujuan di luar penderitaan itu, bukan untuk penderitaan itu sendiri. Hanya orang sado-masokis saja yang menyukai penderitaan, dan jumlah mereka tidak banyak, karena itu disebut abnormal. Penderitaan masif dan fenomenal umat manusia pada abad-abad sebelumnya, terutama abad-abad 20, mengukuhkan universalitas hak asasi manusia bukan sekadar pada tataran etis dan rasional, melainkan pada tataran eksistensial dan empiris.

(26)

Sebagaimana telah dikemukakan pada uraian paradigmatik sebelumnya, pengelompokkan hak-hak asasi atas hak negatif, positif, aktif dan hak sosial tidak berarti bahwa hak-hak itu terpisah satu sama lain. Melainkan, hak-hak itu saling mengandaikan dan karena itu tak terpisahkan. Memang dalam sejarah instrumentalisasinya kemudian pertama sekali dikelompokkan atas dua yang tertuang dalam dua kovenan. Juga kemudian muncul pelbagai konvensi yang memberikan perhatian khusus pada problem khusus berkaitan dengan ras, etnis, dan kelompok-kelompok rentan. Namun, itu semua tidak berarti bahwa eksistensi hak asasi manusia terpecah-pecah dan terlepas. Mengapa demikian?

Alasan pertama sekali bersifat ontologis-antropologis yaitu bahwa hak itu dimiliki oleh manusia yang dalam eksistensinya otonom dan utuh, tidak terpecah-pecah. Dalam eksistensinya, ia hadir sebagai manusia utuh, terlepas dari ia sebagai seorang manusia sopir taksi, manusia guru, manusia birokrat, manusia presiden, manusia perempuan, manusia agama A, dst., namun ia dalam pelbagai fungsi sosialnya itu tetaplah membawa serta statusnya sebagai manusia utuh. Alasan kedua adalah bahwa dalam praktiknya, misalnya hak atas kebebasan berpendapat (sebagai hak sipol) hanya akan terjamin sejauh hak atas pendidikannya (sebagai hak ekosob) terjamin.26

Non-diskriminasi

Prinsip ketiga dalam hak asasi manusia adalah bahwa ia berlaku sama pada semua orang, tanpa pandang ras, etnis, keyakinan, ideologi, bangsa, status, seks dan golongan. Memang terdapat konvensi yang mengatur hak-hak khusus semisal konvensi pelarangan genosida, konvensi diskriminasi rasial, konvensi hak-hak anak, konvensi anti-diskriminasi terhadap perempuan, lalu konvensi ILO 169 (dan usulan

26 Tentang uraian komprehensif menyangkut interdependensi dan

indivisibilitas hak asasi manusia, namun tanpa argumen ontologis-antropologis seperti yang saya kemukakan, silahkan baca Jack Donnely, Universal Human Rights

(27)

draf deklarasi) tentang hak-hak masyarakat adat. Namun, keberadaan konvensi-konvensi khusus itu justru menekankan signifkansi prinsip non-diskriminasi itu. Karena dalam praktiknya, prinsip itu tidak terlaksana jika kondisi-kondisi kemungkinannya tidak mendukung. Karena itu, ditempuh jalan untuk lebih mengefektifkan pemenuhannya dengan memberi perhatian khusus pada perrmasalahan tertentu. Terhadap pemegang hak dari konvensi-konvensi khusus tersebut, pemberlakuan dua kovenan utama hak asasi manusia tetaplah sama dan non-diskriminatif.

Partisipasi

Kendatipun ada pemilahan antara pemegang hak dan pengampu kewajiban untuk menjamin hak asasi itu, dalam pelaksanaannya hak itu tidak akan terjamin tanpa partisipasi aktif dari pemegang hak itu sendiri. Hal ini terutama nyata dalam hak-hak demokratis.

Remedi yang Efektif

Sebagaimana telah dikemukakan pada uraian tentang konsep di depan, penegakan hak asasi manusia terjamin, meski bukan satu-satunya jalan, melalui remedi atau upaya hukum yang efektif. Tanpa

law enforcement, daftar hak asasi manusia itu hanyalah tinggal daftar. Karena itu, hak-hak asasi manusia yang tertuang dalam pelbagai instrumen internasional perlu diadopsi di dalam sistem hukum nasional setiap negara, dan diperjuangkan terus untuk diterapkan hingga pemenuhannya paling tidak pada taraf minimal.

(28)

Bagian ini membahas sekilas tentang tiga instrumen internasional utama di bidang hak asasi manusia, yang lazim disebut sebagai

International Bills of Human Rights yang terdiri dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR), Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (Kovenan Sipol, ICCPR) dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Kovenan Ekosob, ICESCR).

UDHR/DUHAM

DUHAM menegaskan tiga puluh daftar hak asasi manusia yang harus dihargai dan dilindungi oleh semua negara dan bangsa. Beberapa yang terpenting adalah misalnya hak atas hidup, kebebasan, hak milik, keamanan, hak atas pendidikan, hak atas pekerjaan, cuti dengan pembayaran, perlindungan terhadap pengangguran, jaminan sosial, hak atas kebudayaan, kebebasan dari penyiksaan atau tindakan kejam, tidak manusiawi atau penghukuman, hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama, hak atas kebebasan berekspersi.

Dari semua daftar tersebut, paling tidak kita bisa mengelompokkannya atas enam atau lebih, yaitu:

(1) hak atas keamanan (security rights) yang melindungi orang dari kejahatan seperti pembunuhan, pembantaian, penyiksaan, dan pemerkosaan;

(2) hak-hak kebebasan (liberty rights) yang melindungi kebebasan dalam bidang seperti kepercayaan dan agama, ekspresi, organisasi, perserikatan, dan gerakan;

(3) hak-hak politik (political rights) yang melindungi kebebasan untuk berpartisipasi dalam politik melalui tindakan-tindakan seperti komunikasi, organisasi, protes dan demonstrasi, pemilihan umum, pelayanan publik melalui institusi-institusi pemerintahan;

(29)

dan kekuasaan seperti penahanan sewenang-wenang tanpa proses peradilan, peradilan rahasia, penghukuman yang eksesif;

(5) hak-hak kesetaraan dan kesamaan (equality rights) yang menjamin kesamaan kewarganegaraan, kesetaraan di depan hukum, dan non-diskriminasi;

(6) hak-hak kesejahteraan (welfare rights) atau juga disebut sebagai hak ekonomi dan sosial yang menuntut adanya kebijakan khusus dan efektif di bidang pendidikan untuk semua anak dan perlindungan terhadap kemiskinan dan kelaparan.

Selain itu, ada juga kelompok hak yang tidak terdapat dalam DUHAM yaitu hak kelompok (group rights), namun dalam pelbagai konvensi selain dua kovenan utama turunannya, hak-hak kelompok ini diakui. Hak-hak kelompok mencakupi perlindungan terhadap kelompok-kelompok etnis dari genosida dan dari pencaplokan sumber daya dan wilayahnya dari kekuatan nasional atau negara lain.

Kovenan Sipil dan Politik (Sipol)

Kovenan ini pada dasarnya memuat hak-hak yang di depan telah kita kelompokkan sebagai hak negatif. Kovenan Sipol berisikan ketentuan mengenai pembatasan penggunaan kewenangan negara, yang dengan itulah pemenuhannya terjamin. Artinya, hak-hak dan kebebasan yang dijamin di dalamnya akan dapat terpenuhi apabila peran negara dibatasi atau memang tidak melakukan apa-apa. Intervensi negara malah hanya berakibat terlanggarnya hak-hak tersebut.

Ada dua klasifkasi hak dalam Kovenan Sipol yaitu: Pertama

(30)

(i) hak atas hidup (rights to life);

(ii) hak bebas dari penyiksaan (right to be free from torture);

(iii) hak bebas dari perbudakan (right to be free

from slavery);

(iv) hak bebas dari penahanan karena gagal

memenuhi perjanjian (utang)

(v) hak bebas dari pemidanaan yang berlaku

surut;

(vi) hak sebagai subjek hukum;

(vii) hak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan

agama.

Kedua adalah derogable rights, yakni hak-hak yang boleh dikurangi atau dibatasi pemenuhannya oleh negara. Hak dan kebebasan yang termasuk dalam jenis ini adalah: (i) hak atas kebebasan berkumpul secara damai; (ii) hak atas berserikat; termasuk membentuk dan menjadi anggota serikat buruh; dan (iii) hak atas kebebasan menyatakan pendapat atau berekspresi; termasuk kebebasan mencari, menerima dan memberikan informasi dan segala macam gagasan tanpa memperhatikan batas (baik melalui lisan atau tulisan). Negara (dalam hal ini Negara Pihak) diperbolehkan mengungangi atau mengadakan penyimpangan atas kewajiban dalam memenuhi hak-hak tersebut. Tetapi penyimpangan itu hanya dapat dilakukan apabila sebanding dengan ancaman yang dihadapi dan tidak bersifat diskriminatif, yaitu demi: (i) menjaga keamanan nasional atau ketertiban umum atau kesehatan atau moralitas umum; dan (ii) menghormati hak atau kebebasan orang lain. Ketentuan ini berpotensi pada penyalahgunaan oleh Negara.27 Untuk menghindari hal ini,

27 Untuk menghindari penyalahgunaan itu, para ahli hukum hak asasi manusia

internasional membuat pedoman dalam penerapan klausul tersebut. Pedoman itu tersusun di dalam dokumen-dokumen seperti: (i) Siracusa Principles on the Limitation

and Derogation Provisions in the Internatuional Covenant on Civil and Political Rights;

(31)

Kovenan Sipol menggariskan bahwa hak-hak tersebut tidak boleh dibatasi “melebihi dari yang ditetapkan oleh Kovenan ini”.

Hak-hak yang termasuk di dalam Kovenan ini bersifat justiciable, dapat dituntut melalui pengadilan. Sementara pemenuhannya oleh negara bersifat mutlak dan harus segera dijalankan (immediately). Negara juga berkewajiban untuk memberikan tindakan pemulihan bagi korban yang telah dilanggar hak asasinya, melalui upaya hukum yang efektif.

Ada satu jenis hak yang sebelumnya tidak terdapat dalam DUHAM yaitu hak untuk menentukan nasib sendiri (right of self-determination). Hak yang sama juga tercantum dalam Kovenan kembarannya yaitu Kovenan Ekosob. Selain itu terdapat juga ketentuan mengenai kewajiban negara untuk mengizinkan kelompok minoritas (etnis, agama atau bahasa) “untuk menikmati kebudayaan mereka, menyatakan atau mempraktekkan agama mereka atau menggunakan bahasa mereka sendiri” dalam komunitasnya (Pasal 27).

Kovenan Ekosob

Kalau hak-hak yang temaktub dalam Kovenan Sipol termasuk dalam kategori hak negatif, maka hak-hak yang termaktub di dalam Kovenan Ekosob dipahami sebagai hak positif. Artinya, negara harus mengambil langkah positif untuk menjamin pemenuhannya. Negara justru melanggar hak dalam Kovenan ini kalau tidak (jadi negatif) mengambil langkah apa pun. Namun, sebagaimana telah diuraikan dalam bagian paradigma di atas, langkah positif negara ini perlu diimbangi juga dengan tindakan aktif dari pemegang hak. Misalnya, negara tidak begitu saja memenuhi hak saya atas perumahan, melainkan saya harus mengambil langkah aktif untuk memenuhi hak saya itu. Tetapi,

(32)

kalau dalam tindakan saya untuk memenuhi hak itu terdapat sistem dan kondisi-kondisi kemungkinan yang tidak memungkinkan saya untuk memenuhinya, negara harus mengambil langkah positif untuk itu. Misalnya, rumah saya termasuk rumah yang terkena musibah gempa, atau tsunami, atau saya termasuk kelompok di bawah garis kemiskinan standar, maka negara harus mengambil langkah positif untuk menjaminnya. Begitu juga kalau saya mampu mendirikan rumah, tetapi oleh masyarakat sekitar saya tidak dizinkan mendirikannya karena sentimen rasial, agama, politik atau ideologi, maka negara harus mengambil langkah postif berupa remedi yang efektif untuk itu.

Hak-hak yang termasuk dalam kategori Kovenan Ekosob terdiri dari: (1) hak ekonomi yang meliputi hak atas pekerjaan – upah yang layak dan kebebasan memilih pekerjaan, hak buruh – upah yang layak, kondisi kerja yang layak, kebebasan berserikat, hak untuk mogok; (2) hak sosial yang meliputi hak untuk mendapatkan standard kehidupan yang layak – perumahan yang layak, pangan, bebas dari kelaparan, dan jaminan sosial; hak atas keluarga, ibu dan anak; hak atas kesehatan fsik dan mental; (3) hak budaya yang meliputi hak atas pendidikan, hak atas kehidupan budaya dan ilmu pengetahuan.

VI. Penutup: Tiga Pilar Advokasi HAM

(33)

negara itu tak akan terimplementasi tanpa partisipasi aktif dari pemegang hak itu sendiri baik dalam bentuk partisipasi politik menuju sistem politik yang lebih menjamin pemenuhannya, maupun partisipasi langsung untuk memenuhi hak asasinya sebagai manusia.

Ke depan, perjuangan dan advokasi hak asasi manusia paling tidak berada dalam tiga dimensi yaitu: perjuangan melawan ketidaktahuan, perjuangan melawan kelupaan, dan perjuangan melawan kealpaan.28 Berkaitan dengan dimensi pertama, tidak bisa

dipungkiri adanya ironi dalam kehidupan manusia dewasa ini dalam era globalisasi yaitu bahwa masih terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang tidak tahu bahwa mereka memiliki hak asasi. Kekejaman aparatus negara bahkan sesamanya, dan juga tindakan tidak adil dan sewenang-wenang pelaku ekonomi mereka anggap sebagai hal yang memang seharusnya dan wajar terjadi. Perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga menganggap hal itu sebagai hal yang memang wajar dan memang seharusnya. Tentu saja di balik semua ketidaktahuan ini tersembunyi ideologi tertentu yang melahirkan “kesadaran palsu” dan juga “ketidaksadaran kolektif”. Perjuangan menegakkan hak asasi manusia dalam konteks ini berarti perjuangan membongkar ideologi dan cara pandang sesat seperti itu melalui upaya pendidikan kritis dan konsientisasi. Perjuangan melawan ketidaktahuan ini selain diarahkan pada para pemegang hak, juga diarahkan pada pengampu kewajiban, karena tidak tertutup kemungkinan, bahkan sangat besar kemungkinan itu, para aparat negara tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang hak asasi manusia.

Dimensi kedua adalah perjuangan melawan kelupaan. Para pemegang hak boleh jadi sudah tahu bahwa mereka memiliki hak asasi, begitu juga para pengampu kewajiban tahu bahwa mereka harus menjamin pemenuhan hak asasi rakyatnya atau masyarakat. Namun,

28 Tiga pilar advokasi ini pertama kali saya dapatkan dari F. Budi Hardiman (judul paper sudah tidak ingat,

(34)

mereka sama-sama lupa. Lupa yang saya maksud di sini bukanlah lupa dalam pengertian sehari-hari karena intelektualitas yang rendah atau karena memorinya lemah, melainkan kelupaan yang sistemik. Artinya, struktur sosial dan politik serta sistem kultural memang telah menjadikan kelupaan sebagai semacam habitus. Orang terjerembab dalam banalitas. Sesuatu yang semula diketahui sebagai hak asasi kemudian dilupakan begitu saja karena terbiasa menyaksikan pelanggarannya tanpa penanganan yang serius dan efektif lalu kembali menganggap hal itu sebagai wajar. Orang terbiasa menyaksikan para pembunuh, penyiksa, koruptor dibiarkan lepas tanpa pengadilan, atau diadili dan dihukum tetapi tetap menikmati hidup bebas di balik jeruji besi, dan karena itu orang beranggapan bahwa hal itu wajar-wajar saja. Perjuangan melawan lupa sistemik jauh lebih berat karena ia harus membongkar banalitas yang sudah menjadi habitus suatu masyarakat.

Dimensi ketiga adalah perjuangan melawan kealpaan. Rakyat dan negara barangkali tahu dan tidak lupa, tetapi mereka sama-sama alpa, lalai. Kelalaian merupakan kejahatan tersendiri dalam diskursus hak asasi manusia, yang dikenal sebagai kejahatan by omission

(35)

yang telah silam, kealpaan ini kebanyakan bersumber pada ketakutan akan sistem politik yang totaliter, otoriter, represif. Sekarang ini, selain ketiga hal itu yang belum sirna betul, ada sistem lain yang sangat potensial mendatangkan kealpaan, yaitu sistem ekonomi-politik global yang tidak adil. Ke sanalah arah perjuangan advokasi hak asasi manusia kita arahkan.

Referensi

Dokumen terkait

Usaha Menengah merupakan usaha pada ekonomi produktif yang dilakukan secara individua atau badan usaha yang berdiri sendiri dalam arti bukan merupakan cabang suatu perusahaan

Berdasar-kan pemetaan penelitian mengenai dukungan data mining pada calon nasabah didapat ada algoritma klasifikasi yang sering digunakan untuk klasifikasi calon

ANALISIS PENGUASAAN PENGETAHUAN HASIL PENYULUHAN PEND EWASAAN USIA PERKAWINAN D ALAM PROGRAM GENERASI BERENCANA PAD A REMAJA D I SMP NEGERI 39 BAND UNG.. Universitas

masyarakat Mandar di Kecamatan Sendana Kabupaten Majene ialah diantaranya: (1) penentuan calon dilihat dari akhlaknya yang baik (agama); (2) penjajakan dengan maksud

66 Layanan Tridharma di Perguruan Alat Pendidikan Pendu- Pengadaan Buku Perpustakaan 1 THN Pekanbaru 500.000.000 APBN Kemdikbud PBJ Maret 2012 9 Bulan. Tinggi kung Pembelajaran

Proses produksi adalah tahapan yang sangat penting dan menentukan produk dari mutu yang dihasilkan, untuk itu proses dalam suatu produksi harus diperhatikan dan

Hal tersebut sesuai dengan definisi masyarakat yang merupakan kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat- istiadat tertentu yang

Pengaruh Perilaku Keberagamaan Orang Tua terhadap Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam Anak Kelas VI SDN. Purworejo Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran