MAKALAH
SEL DAN JARINGAN
Untuk Memenuhi Salahsatu Tugas Pada Materi Blok Basic Science of Midwifery Skill 1
DISUSUN OLEH
1. Farra Putri Larasati (130104140002)
2. Risma Laila Sari (130104140004)
3. Putri Enita (130104140007)
4. Fingki Nurjamilah (130104140013)
5. Nurlaela Effendy (130104140016)
6. Aghnia Rizki (130104140021)
7. Nurin Alziyana Fasha (130104140022)
8. Ryana Fitriani (130104140023)
9. Lulu Yadal Gonia (130104140026)
PROGRAM STUDI DIPLOMA KEBIDANAN FAKULTAS KEDOKTERAN
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala
nikmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami ini yang berjudul “Sel dan
Jaringan
”
dengan baik.Begitu banyak hal yang dilalui penulis sampai dengan selesainya makalah mata kuliah
blok Basic Science of Midwifery Skill 1 disemester 1 ini. Mungkin apa yang telah penulis hasilkan bukanlah yang terbaik. Namun, penulis berharap apa yang telah kami tulis ini akan
bermanfaat dan bisa digunakan dengan sebaik mungkin bagi yang membacanya.
Kami sadar bahwa apa yang telah kami peroleh tidak semata-mata hasil dari jerih payah
penulis semata, tetapi hasil dari keterlibatan semua pihak. Oleh sebab itu, kami
menyampaikan terima kasih kepada semua dosen mata kuliah Basic Science of Midwifery Skill yang telah membantu dalam penulisan makalah ini.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam makalah ini,
untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.
Jatinangor, November 2014
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
BAB II PEMBAHASAN ... 2
2.1 Kasus ... 2
2.2 Pembahasan Kasus ... 2
2.2.1 Pembahasan WDK ... 3
1. Lamanya Sembuh Luka Jahitan pada Ibu Melahirkan dalam Batas Normal ... 3
2. Perawatan Luka Jahitan Perineum ... 5
3. Teknik Menjahit yang Benar pada Sobekan Jalan Lahir... 6
4. Batas Ambang Nyeri pada Seseorang dan Definisi Nyeri ... 9
5. Mobilisasi Dini pada Ibu Postpartum ... 12
6. Gejala Nyeri ... 16
7. Hubungan Nyeri, Cidera Sel, dan Jaringan ... 17
2.2.2 Pembahasan LI ... 18
1. Definisi Sel dan Jaringan... 18
2. Struktur dan Fungsi Sel ... 18
3. Jenis dan Fungsi Jaringan dasar ... 25
4. Fisiologi Sel dan Jaringan (proses pembentukan sel baru) ... 32
5. Kondisi Normal Ibu Paska Penjahitan ... 40
6. Proses Cidera pada Jaringan dan Sel ... 44
7. Proses Penyembuhan Luka dalam Bentuk Mekanisme... 49
8. Faktor Penyembuhan Luka... 52
BAB IIIPENUTUP ... 56
3.1 Simpulan... 56
LAMPIRAN
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Setiap makhluk hidup tersusun dari sel, yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan
sel. Sel pertama kali dikenalkan oleh Robert hooke pada tahun 1665 yang mengamati
jaringan gabus pada tumbuhan yang merupakan kesatuan fungsional makhluk hidup.
Pada manusia, dikenal tingkatan organisasi makhluk hidup yaitu sel, jaringan, organ,
sistem organ dan organisme. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di
dalam sel. Karena itulah sel dapat berfungsi secara autimon asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi. Sel merupakan sturuktural terkecil dari suatu
organisme hidup, karena ukurannya sangat kecil maka sel tidak bisa dilihat langsung
dengan mata telanjang akan tetapi bisa dilihat dengan bantuan alat optic berupa
mikroskop. Sel bekerja pada bidangnya masing-masing sesuai dengan bentuk dan
fungsinya.
Dalam kinerjanya, sel dan jaringan membutuhkan asupan-asupan gizi dan
kebutuhan lain agar sel dan jaringan dapat bekerja secara optimal. Apabila asupan gizi
dan kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka akan menghambat fungsi sel dan
jaringan, bahkan memungkinkan adanya cedera pada sel dan jaringan yang juga akan
berdampak fatal bagi organisme atau manusia bila tidak ada penanganan.
Sel dan jaringan memiliki struktur (anatomi), fungsi dan mekanisme
perkembangannya (fisiologis). Reproduksi sel merupakan suatu contoh lain dari
peran yang dimainkan oleh sistem DNA-genetik, di dalam seluruh proses
kehidupan. Gen dan mekanisme pengaturan menentukan karakteristik pertumbuhan
sel dan juga waktu sel-sel ini membelah diri atau apakah factor-faktor untuk
membentuk sel-sel baru. Dengan cara ini, semua sistem genetik yang penting dapat
mengendalikan setiap tahap perkembangan manusia mulai dari sel tunggal ovum yang
2
agak demam dan nyeri pada daerah kemaluannya karena terdapat jahitan.
2. Pertemuan ke-2
Setelah dilakukan anamnesis tambahan Ny. Niluh mengatakan persalinannya
agak lambat terutama pada saat ia mengeluarkan bayi sehingga bidan melakukan
penguntingan jalan lahir. Dari hasil pemeriksaan bidan didapatkan TD:
110/70mmHg, N:80x/menit, R:16x/menit, S: 37,8oC dan terdapat kemerahan pada
daerah yang dijahit.
3. Pertemuan ke-3
Setelah ibu mengetahui hasil pemeriksaan, ibu diberikan edukasi mengenai
perubahan fisiologis pada Ny. Niluh setelah melahirkan terutama pada luka
3
4
perineum yang dikatakan lambat sembuh apabila luka pada hari ke-3 belum
mengering dan belum menutup akan tetapi baru hari ke-7 luka mulai
menutup. Dalam kategori cepat-lambat kesembuhan luka ini sesuai dengan
teori yang mengatakan bahwa proses penyembuhan luka berlangsung
selama 6-7 hari.1
Fisiologi penyembuhan luka menurut Smeltzer dan Suzanne C.
Beragam proses seluler yang saling tumpang tindih dan terus menerus
memberikan kontribusi terhadap pemulihan luka, regenerasi sel, proliferasi
sel, dan pembentukan kolagen. Respon jaringan terhadap cidera melewati
beberapa fase yaitu :
a. Fase inflamasi
Respon vaskuler dan seluler terjadi ketika jaringan terpotong atau
mengalami cidera. Vasokonstriksi pembuluh terjadi dan bekuan
fibrinoplateler terbentuk dalam upaya untuk mengontrol perdarahan.
Reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit dan diikuti oleh
vasodilatasi venula. Mikrosirkulasi kehilangan kemampuan
vasokontriksinya karena norepinefrin dirusak oleh enzim intraseluler.
Sehingga histamin dilepaskan yang dapat meningkatkan permebialitas
kapiler. Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan, elemen darah seperti
antibodi, plasma protein, elektrolit, komplemen, dan air menembus
spasium vaskuler selama 2 sampai 3 hari, menyebabkan edema, teraba
hangat, kemerahan dan nyeri. Sel-sel basal pada pinggir luka mengalami
mitosis dan menghasilkan sel-sel anak yang bermigrasi. Dengan aktivitas
ini, enzim proteolitik disekresikan dan menghancurkan bagian dasar
bekuan darah. Celah antara kedua sisi luka secara progresif terisi, dan
sisinya pada akhirnya saling bertemu dalam 24 sampai 48 jam.
b. Fase proliferatif
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk
sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggiran
luka, kuncup ini berkembang menjadi kapiler yang merupakan sumber
nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru. Fibroblas melakukan sintesis
kolagen dan mukopolisakarida. Banyak vitamin, terutama vitamin C
sangat membantu proses metabolisme yang terlibat dalam penyembuhan
5 c. Fase Maturasi
Jaringan parut tampak lebih besar, sampai fibrin kolagen menyusun
kedalam posisi yang lebih padat. Hal ini sejalan dengan dehidrasi yang
mengurangi jaringan parut tetapi meningkatkan kekuatannya.
Proses Penyembuhan Luka
Luka dapat sembuh melalui proses utama (primary intention) yang
terjadi ketika tepi luka disatukan (approximated) dengan menjahitnya. Jika
luka dijahit, terjadi penutupan jaringan yang
disatukan dan tidak ada ruang yang kosong. Oleh karena itu, dibutuhkan
jaringan granulasi yang minimal dan kontraksi sedikit berperan. Penyembuhan
yang kedua yaitu melalui proses sekunder (secondary intention) terdapat
defisit jaringan yang membutuhkan waktu yang lebih lama.2
2.
Perawatan Luka Jahitan Perineum
A. Perawatan luka jahitan perineum adalah sebagai berikut:
1) Menjaga agar perineum selalu bersih dan kering.
2) Menghindari pemberian obat trandisional.
3) Menghindari pemakaian air panas untuk berendam.
4) Mencuci luka dan perineum dengan air dan sabun 3-4 x sehari.
5) Kontrol ulang maksimal seminggu setelah persalinan untuk
pemeriksaan penyembuhan luka.
B. Tujuan Perawatan Luka Jahitan Perineum
Tujuan perawatan perineum adalah:
1) Untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum, maupun
di dalam uterus.
2) Untuk penyembuhan luka perinium (jahitan perineum).
3) Untuk kebersihan perineum dan Vulva.
4) Untuk mencegah infeksi seperti diuraikan diatas bahwa saat persalinan
vulva merupakan pintu gerbang masuknya kuman-kuman. Bila daerah
vulva dan perineum tidak bersih, mudah terjadi infeksi pada jahitan
perineum saluran vagina dan uterus
C. Waktu Perawatan Perineum
Waktu perawatan perineum adalah:
6
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut.
Setelah terbuka maka akan kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri
pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu
dilakukan penggantian pembalut.
2) Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil kemungkin besar terjadi kontaminasi
air seni pada rektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri
pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3) Setelah buang air besar
Pada saat buang air besar, dilakukan pembersihan sisa-sisa
kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri
dari anus ke perinium.
D. Cara Perawatan Luka Jahitan Perineum
1) Mencuci tangannya
2) Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan kebawah mengarah
ke rectum dan letakan pembalut tersebut kedalam kantung plastik
3) Berkemih dan BAB ke toilet
4) Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
5) Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke
belakang
6) Pasang pembalut dari depan ke belakang
7) Cuci kembali tangan.3
3.
Teknik Menjahit yang Benar pada Sobekan Jalan Lahir
A. Persiapan Penjahitan
1) Bantu ibu mengambil posisi litotomi.
2) Tempatkan handuk atau kain bersih di bawah bokong ibu.
3) Jika mungkin, tempatkan lampu sorot.
4) Gunakan teknik aseptik pada saat memeriksa robekan atau
episiotomi,kemudian memberikan anestesi lokal dan menjahit luka:
Teknik Antiseptik:
1) Cuci tangan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir.
2) Pakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau yang steril.
7
1) Jelaskan pada ibu apa yang akan dilakukan dan anjurkan ibu
untuk rileks.
2) Isi tabung suntik dengan 10 ml lidokain 1%.
3) Tempelkan jarum ukuran 22 sepanjang 4 cm ke tabung suntik
tersebut.
4) Dengan menggunakan teknik aseptik,persiapkan peralatan dan
bahan-bahan desinfeksi tingkat tinggi untuk penjahitan.
5) Duduk dengan posisi santai dan nyaman sehingga luka bisa
dengan mudah dilihat dan penjahitan bisa dilakukan tanpa
kesulitan.
6) Gunakan kain/kasa disinfeksi tingkat tinggi atau bersih untuk
menyeka vulva, vagina dan perineum ibu.
7) Periksa vagina, serviks dan perineum secara lengkap. Pastikan
bahwa laserasi/sayatan perineum hanya merupakan derajat
satu atau dua.
8) Ganti sarung tangan dengan sarung tangan Disinfeksi Tingkat
Tinggi atau Steril yang baru setelah melakukan pemeriksaan
rektum.
9) Berikan anastesi lokal
10) Siapkan jarum dan benang.
11) Tempatkan jarum pada pemegang jarum dengan sudut 90
derajat, kemudian jepit jarum tersebut.
12) Tusukkan seluruh jarum dari tepi luka pada perbatasan antara
mukosa dan kulit perineum ke arah perineum. Lakukan
aspirasi untuk memeriksa adanya darah dari pembuluh darah
yang tertusuk.
13) Ulangi seluruh langkah 3 pada sisi lain dari luka.
Masing-masing sisi luka akan memerlukan kira-kira 5 ml lidokain 1%.
14) Tunggu selama 2 menit dan biarkan anastesia tersebut bekerja
dan kemudian uji daerah yang di anastesia dengan cara dicubit
dengan forceps atau disentuh dengan jarum yang tajam.
15) Cuci tangan secara seksama dan gunakan sarung tangan
8
sudah terkontaminasi, atau jika tertusuk jarum maupun
peralatan tajam lainnya.
B. Langkah-langkah Penjahitan Parineum
1) Cuci tangan.
2) Pastikan bahwa peralatan dan bahan-bahan yang akan digunakan.
3) Setelah memberikan anastesia lokal dan memastikan bahwa daerah
tersebut sudah di anastesi, telusuri dengan hati-hati menggunakan satu
jari untuk secara jelas menentukan batas-batas luka
4) Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm di atas ujung laserasi di bagian
dalam vagina.
5) Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah ke arah
cincin himen
6) Tepat sebelum cincin himen, masukkan jarum ke dalam mukosa vagina
lalu ke bawah cincin himen sampai jarum ada di bawah laserasi.
7) Teruskan ke arah bawah tapi tetap pada luka, menggunakan jahitan
jelujur, hingga mencapai bagian bawah laserasi.
8) Setelah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke atas da teruskan
penjahitan menggunakan jahitan jelujur untuk menutup lapisan
subkutikuler
9) Tusukan jarum dari robekan perineum ke dalam vagina. Jarum harus
keluar dari belakang cincin himen.
10)Ikat benang dengan membuat simpul di dalam vagina. Potong ujung
benang dan sisakan sekitar 1,5 cm.
11)Ulangi pemeriksaan vagina dengan lembut untuk memastikan bahwa
tidak ada kasa atau peralatan yang tertinggal di dalam.
12)Dengan lembut masukkan jari paling kecil ke dalam anus. Raba apakah
ada jahitan pada rectum.
13)Cuci daerah genital dengan lembut dengan sabun dan air disinfeksi
tingkat tinggi, kemudian keringkan. Bantu ibu mencari posisi yang
lebih aman.
C. Perawatan pada Luka Jahitan:
1) Menjaga perineumnya selalu bersih dan kering.
9
3) Cuci perineumnya dengan sabun dan air bersih yang mengalir tiga
sampai empat kali perhari.
4) Kembali dalam seminggu untuk memeriksa penyembuhan lukanya.
5) Ibu harus kembali lebih awal jika ia mengalami demam atau
mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari daerah lukanyajika
daerah tersebut menjadi lebih nyeri.4
4.
Batas Ambang Nyeri pada Seseorang dan Definisi Nyeri
A. Definisi Nyeri
Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman,
berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. keadaan psikis sangat
mempengaruhi nyeri, misalnya emosi dapat menimbulkan sakit kepala atau
memperhebatnya, tetapi dapat pula menghindarkan sensasi rangsangan
nyeri. nyeri merupakan suatu perasaan seubjektif pribadi dan ambang
toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap orang. batas nyeri untuk suhu
adalah konstan, yakni pada 44-45oC.
Ambang nyeri didefinisikan sebagai tingkat (level) pada mana nyeri
dirasakan untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, intensitas rangsangan
yang terendah saat orang merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang
nyerinya adalah konstan.
Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang
berfungsi melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai isyarat bahaya
tentang adanya ganguan di jaringan, seperti peradangan, infeksi jasad
renik, atau kejang otot. Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan mekanis,
kimiawi atau fisis dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan.
Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut
mediator nyeri.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri
Nyeri merupakan suatu keadaan yang kompleks yang dipengaruhi oleh
faktor fisiologi, spiritual, psikologis, dan budaya. Setiap individu
mempunyai pengalaman yang berbeda tentang nyeri. Faktor-faktor yang
10 a. Faktor Fisiologi
Faktor fisiologi yang mempengaruhi nyeri terdiri dari umur,
jenis kelamin, kelelahan, gen dan fungsi neurologi.
Umur mempengaruhi persepsi nyeri seseorang karena
anak-anak dan orang tua mungkin lebih merasakan nyeri dibandingkan
dengan orang dewasa muda karena mereka sering tidak dapat
mengkomunikasikan apa yang mereka rasakan. Anak-anak belum
mempunyai perbendaharaan kata yang cukup sehingga mereka sulit
untuk mengungkapkan nyeri secara verbal dan sulit untuk
mengekspresikannya kepada orang tua ataupun perawat. Pada orang
tua, nyeri yang mereka rasakan sangat kompleks, karena mereka
umumnya memiliki berbagai macam penyakit dengan gejala yang sama
dengan bagian tubuh yang lain. Oleh karena itu, perawat harus teliti
melihat dimana sumber nyeri yang dirasakan pasien.
Jenis kelamin secara umum, pria dan wanita tidak berbeda
secara bermakna dalam merespons terhadap nyeri. Diragukan apakah
hanya jenis kelamin saja yang merupakan suatu faktor dalam
pengekspresian nyeri. Beberapa kebudayaan yang mempengaruhi jenis
kelamin misalnya, menganggap bahwa seorang anak laki-laki harus
berani dan tidak boleh menangis, sedangkan anak perempuan boleh
menangis dalam situasi yang sama.
Begitu juga dengan kelelahan, seseorang yang merasakan
kelelahan akan terfokus terhadap pengalaman nyerinya. Jika kelelahan
terjadi disepanjang waktu istirahat, persepsi nyeri yang dirasakan
pasien akan meningkat. Nyeri merupakan pengalaman yang sering
dirasakan setelah istirahat daripada menghabiskan waktu sepanjang
hari.
Penelitian kesehatan mengungkapkan bahwa informasi genetik
yang diturunkan oleh orang tua kemungkinan dapat meningkatkan atau
menurunkan sensitifitas nyeri. Genetik mempunyai kemungkinan
untuk dapat menentukan ambang batas nyeri seseorang atau toleransi
seseorang terhadap nyeri. Fungsi neurologi juga dapat mempengaruhi
11
persepsi normal dari nyeri (seperti cedera spinal cord, neuropati perifer,
atau penyakit neurologi) sebagai efek kewaspadaan dan respons pasien.
b. Faktor Sosial
Faktor sosial yang mempengaruhi nyeri terdiri dari (1)
perhatian, (2) pengalaman nyeri sebelumnya, dan (3) keluarga dan
dukungan sosial. Peningkatan perhatian dihubungkan dengan
peningkatan nyeri. Seseorang yang memfokuskan perhatiannya
terhadap nyeri akan mempengaruhi persepsinya. Konsep ini merupakan
salah satu hal yang dapat dilihat perawat dari beberapa nyeri yang
dirasakan pasien sehingga perawat dapat memberikan intervensi yang
tepat seperti relaksasi, massase, dan lain sebagainya. Namun dengan
memfokuskan perhatian terhadap stimulus yang lain, dapat
menurunkan persepsi nyeri. Pengalaman nyeri sebelumnya juga
berpengaruh terhadap persepsi nyeri individu dan kepekaannya
terhadap nyeri. Karena setiap orang belajar dari pengalaman nyeri
sebelumnya. Jika sebelumnya seseorang pernah mengalami nyeri tanpa
adanya pertolongan, maka nyeri yang dirasakannya saat ini akan
dipandangnya sebagai suatu kecemasan dan ketakutan. Dengan kata
lain, jika pengalaman nyeri sebelumnya dapat diterima dengan koping
yang baik, maka individu tersebut. mengontrol nyeri yang mereka
rasakan akan mengalami penurunan rasa takut dan kecemasan yang
akan menurunkan persepsi nyeri mereka mengemukakan bahwa
stimulus nyeri yang aktif pada bagian sistem limbik dipercayai dapat
mengontrol emosi, salah satunya adalah kecemasan. Sistem limbik
memproses reaksi emosional terhadap nyeri, dapat meningkatkan
ataupun menurunkannya.
Koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
memperlakukan nyeri. Seseorang yang mengontrol nyeri dengan lokus
internal merasa bahwa diri mereka sendiri mempunyai kemampuan
untuk mengatasi nyeri. Sebaliknya, seseorang yang mengontrol nyeri
dengan lokus eksternal lebih merasa bahwa faktor-faktor lain di dalam
hidupnya seperti perawat merupakan orang yang bertanggung jawab
terhadap nyeri yang dirasakannya. Oleh karenan itu, koping pasien
12
c. Faktor Budaya
Faktor budaya yang mempengaruhi nyeri terdiri dari seseorang
dihubungkan dengan pengaruh pengalaman nyeri dan bagaimana
seseorang tersebut mengadaptasikannya. Hal ini sangat berhubungan
dengan latar belakang budaya. Seseorang akan merasa nyeri yang
berbeda jika mendapatkan sebuah ancaman, kehilangan, hukuman, atau
tantangan.
Budaya mempercayai dan mempengaruhi nilai individu dalam
mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan
diterima oleh budaya mereka, termasuk bagaimana reaksi mereka
terhadap nyeri.
Ketidakmampuan ini dapat berkisar dari membatasi
keikutsertaan dalam aktivitas fisik sampai tidak mampu untuk
memenuhi kebutuhan pribadi, seperti berpakaian atau makan.5
5.
Mobilisasi Dini pada Ibu Postpartum
A. Definisi Mobilisasi
Menurut Hincliff mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk
berjalan bangkit berdiri dan kembali ke tempat tidur, kursi, kloset duduk,
dan sebagianya disamping kemampuan mengerakkan ekstermitas.
Mobilisasi dini menurut Carpenito adalah suatu upaya mempertahankan
kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk
mempertahankan fungsi fisiologis. Ambulasi adalah kebijakan untuk
selekas mungkin membimbing pasie keluar dari tempat tidurnya dan
membimbingnya berjalan. Mobilisasi dini adalah kebijakan untuk secepat
mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan
membimbing secepat mungkin untuk berjalan. Mobilisasi dini merupakan
factor eksternal lain selain perawatan luka. Sedangkan factor internal yaitu
budaya makan atau pola konsumsi memengaruhi kecepatan kesembuhan
luka perineum. Pada ibu post partum diharapkan tidak perlu khawatir
dengan adanya jahitan karena mobilisasi dini baik buat jahitan, agar tidak
terjadi pembengkakan akibat tersumbatnya pembuluh darah.
Mobilisasi ini tidak mutlak, bervariasi tergantung pada adanya
13
partum juga menjadi faktor penghambat selama proses mobilisasi dini, hal
ini disebabkan faktor kelelahan ibu dikarenakan berkurangnya energi
selama proses persalinan dan membutuhkan waktu untuk mengembalikan
tenaga selama 24 jam pertama.
B. Kontra-indikasi
Tidak dianjurkan pada pasien dengan penyakit-penykit berikut:
1) Anemia
2) Jantung
3) Paru-paru
4) Demam
5) Keadaan lain yang membutuhkan istirahat
C. Manfaat Mobilisasi Dini
1) Melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi peurperium.
2) Mempercepat involusi alat kandungan.
3) Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan.
4) Meningkatkan kelancaran sirkulasi darah, sehingga mempercepat
fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.6 Bersamaan dengan
pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal
dari isapan bayi dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise) yang
kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini
menuju uterus sehingga menimbulkan kontraksi. Kontraksi dari sel
akan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan
masuk ke sistem duktus dan selanjutnya mengalir melalui duktus
lactiferus masuk ke mulut bayi.7
5) Membantu proses pemulihan. Mobilisasi dini tidak hanya
mempercepat kesembuhan luka perineum tetapi juga memulihkan
kondisi tubuh ibu jika dilakukan dengan benar dan tepat.
6) Mencegah terjadinya infeksi yang timbul karena gangguan pembuluh
darah balik. Mobilisasi dini atau gerakan sesegera mungkin bisa
mencegah aliran darah terhambat. Hambatan aliran darah bisa
menyebabkan terjadinya thrombosis vena dalam (deep vein trombosis)
14
D. Keuntungan
1) Ibu merasa lebih sehat dan kuat.
2) Faal usus dan kandung kencing lebih baik.
3) Kesempatan yang baik untuk mengajari merawat atau memelihara
anaknya.
4) Tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal.
E. Tidak memengaruhi penyembuhan luka episiotomi atau luka di perut.
F. Tidak memperbesar kemungkinan prolaps atau retroflexio.
G. Kerugian apabila tidak dilakukan mobilisasi dini
Akibat tidak melakukan mobilisasi dini dapat mengakibatkan
peningkatan suhu tubuh karena adanya involusi uterus yang tidak baik
sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi.
Salah satu tanda infeksi adalah peningkatan suhu tubuh, perdarahan
abnormal. Mobilisasi yang terlambat dilakukan bisa menyebabkan
gangguan fungsi organ tubuh, aliran darah tersumbat, serta gangguan
fungsi otot.
H. Macam Mobilisasi Dini
Mobilisasi dini dilakukan sebagai berikut:
1) Gerakan dan jalan-jalan sambil bidan melakukan observasi
perkembangan pasien dari jam ke jam sampai hitungan hari.
2) Kegiatan ini dilakukan secara meningkat dan secara berangsur-angsur
frekuensi dan intensitas aktivitasnya sendiri tanpa pendamping
sehingga tujuan memandirikan pasien dapat terpenuhi.
Mobilisasi dini waktu pelaksanaannya dilakukan secara teratur, intensif
dan makin lama makin bagus, apabila kondisi ibu dalam keadaan baik
maka pelaksanaannya dapat dilakukan 3-4 kali dalam sehari, misalnya
pada saat bangun tidur pagi, siang dan malam. Latihan mobilisasi ini
bermanfaat untuk mempercepat kesembuhan luka, melancarkan
pengeluaran lochea, mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli,
sirkulasi darah normal dan mempercepat pemulihan kekuatan ibu.
I. Tahapan Mobilisasi
Ibu pasca melahirkan menyebabkan faktor kelelahan setelah proses
melahirkan, terlebih bila persalinan berlangsung lama, sehingga ibu harus
15
partum untuk mencegah perdarahan post partum. Kemudian boleh
miring-miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan
tromboemboli. Pada hari kedua diperbolehkan duduk, hari ketiga dapat
jalan-jalan. Mobilisasi di atas mempunyai variasi, tergantung pada
komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka.6
Pada ibu post partum diharapkan tidak perlu khawatir dengan adanya
jahitan karena mobilisasi dini baik buat jahitan, agar tidak terjadi
pembengkakan akibat tersumbatnya pembuluh darah dan untuk ibu post
partum dengan operasi sesar dalam melakukan mobilisasinya lebih lamban
dan perlu mencermati serta memahami bahwa mobilisasi dini jangan
dilakukan apabila kondisi ibu post partum masih lemah atau memiliki
penyakit jantung, tetapi mobilisasi yang terlambat dilakukan bisa
menyebabkan gangguan fungsi organ tubuh, aliran darah tersumbat, serta
fungsi otot. Salah satu solusi yaitu dengan memberikan mobilisasi dini
selama 2-4 jam dan 6-8 jam untuk mempercepat kesembuhan luka
perineum grade 2 pada ibu post partum.8
Gerakan mobilisasi ini diawali dengan gerakan ringan seperti :
1) Miring ke kiri-kanan
Memiringkan badan kekiri dan kekanan merupakan mobilisasi
paling ringan dan yang paling baik dilakukan pertama kali. Disamping
dapat mempercepat proses penyembuhan, gerakan ini juga
mempercepat proses kembalinya fungsi usus dan kandung kemih
secara normal.
2) Menggerakkan kaki
Setelah mengembalikan badan ke kanan dan ke kiri, mulai
gerakan kedua belah kaki. Mitos yang menyatakan bahwa hal ini tidak
boleh dilakukan karena dapat menyebabkan timbulnya varices adalah
salah total. Justru bila kaki tidak digerakkan dan terlalu lama diatas
tempat tidur dapat menyebabkan terjadinya pembekuan pembuluh
darah batik yang dapat menyebabkan varices ataupun infeksi.
3) Duduk
Setelah merasa lebih ringan cobalah untuk duduk di tempat
tidur. Bila merasa tidak nyaman jangan dipaksakan lakukan
16
4) Berdiri atau turun dari tempat tidur
Jika duduk tidak menyebabkan rasa pusing, teruskanlah dengan
mencoba turun dari tempat tidur dan berdiri. Bila tersa sakit atau ada
keluhan, sebaiknya hentikan dulu dan dicoba lagi setelah kondisi terasa
lebih nyaman.
5) Ke kamar mandi
Hal ini harus dicoba setelah memastikan bahwa keadaan ibu
benar-benar baik dan tidak ada keluhan. Hal ini bermanfaat untuk
melatih mental karena adanya rasa takut pasca persalinan.6
6.
Gejala Nyeri
Tanda dan Gejala Nyeri pada Luka Jahitan Perineum
Nyeri merupakan akibat kerusakan jaringan tubuh. Tanda dan gejala yang
timbul diantaranya adalah:
Nyeri tekan diatas simfisis
Perasaan tidak nyaman pada ibu
BAK dan BAB terasa nyeri
Daerah perineum kemerahan
Nyeri yang sangat pada daerah perineum
Oedema pada jahitan perineum
Terjadi pembengkakan di sekitar jahitan episiotomi
Abila diraba terasa panas
Selain itu, terdapat gejala obyektif diantaranya adalah:
Meringis kesakitan
Takikardia (denyut jantung yang cepat lebih dari 100 kali denyut nadi)
17
7.
Hubungan Nyeri, Cidera Sel, dan Jaringan
Mekanisme
Hubungan Nyeri dan Cedera pada Sel dan Jaringan
Cedera
↓
Vasokontriksi ↓ Membentuk Fibrinoplateral
↓ Fungsi Mengontrol pendarahan ↓
Mikrosirkulasi
↓
Norepinetrin
↓ Dirusak Enzim Intraseluler
↓ Dilepaskan Histamin
↓
Elemen darah menembus Vasiovaskuler
↓ Menyebabkan Nyeri
Fase inflamasi
Respon vaskuler dan seluler terjadi ketika jaringan terpotong
atau mengalami cidera. Vasokonstriksi pembuluh terjadi dan bekuan
fibrinoplateler terbentuk dalam upaya untuk mengontrol perdarahan.
Reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit dan diikuti oleh
vasodilatasi venula. Mikrosirkulasi kehilangan kemampuan
vasokontriksinya karena norepinefrin dirusak oleh enzim intraseluler.
Sehingga histamin dilepaskan yang dapat meningkatkan permebialitas
kapiler. Ketika mikrosirkulasi mengal ami k6erusakan, elemen darah
18
menembus spasium vaskuler selama 2 sampai 3 hari, menyebabkan
edema, teraba hangat, kemerahan dan nyeri.
Penjelasan :
Cedera atau luka adalah sesuatu kerusakan pada struktur atau
fungsi tubuh karena suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi.
Nyeri adalah suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman
emosional serta termasuk suatu komponen sensori, komponen
diskriminatori, respon-respon yang mengantarkan ataupun
reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh stimulus dalam suatu kasus nyeri.
Histamin adalah bahan kimia yang di produksi dan disimpan dalam
1.
Definisi Sel dan Jaringan
a. Sel
Sel adalah unit kehidupan struktural dan fungsional terkecil dari
tubuh. Sebagian besar reaksi kimia untuk mempertahankan kehidupan
berlangsung dalam sel. Sel dan zat intraseluler membentuk keseluruhan
jaringan tubuh.
b. Jaringan
Jaringan adalah kelompok sel yang serupa secara struktural (begitu
pula dengan produk yang dihasilkan) yang mengalami spesialisasi untuk
menjalankan suatu fungsi tertentu. Semua struktur tubuh tersusun dari
beragam jumlah jaringan.11
2.
Struktur dan Fungsi Sel
a. Membran plasma
Tersusun dari: molekul lemak (2 lapis, terdapat di bagian tengah
membran) dan protein (luar: protein perifer (protein tepi) menyusun
tepi luar & dalam membran; selain itu ada protein yang menembus
ke dalam 2 lapisan lemak (disebut protein integral).
19
1) Melindungi isi sel (mempertahankan isi sel).
2) Mengatur keluar masuknya molekul-molekul; (bersifat
semipermeabel/selektif permeable hanya zat-zat tertentu yang
dapat melewati membran)
3) Sebagai reseptor (penerima) rangsangan dari luar sel (bagian sel
yang berfungsi sebagai reseptor adalah glikoprotein); rangsang
kimia, mis. hormon, racun, listrik, mekanik.
b. Sitoplasma: Plasma Sel
Merupakan cairan yang berada dalam sel selain nukleoplasma (plasma
inti). Cairannya disebut sitosol, padatannya berupa organel-organel.
Tersusun atas: air, protein, asam amino, vitamin, nukleotida, asam
lemak, gula, & ion-ion. (matriks sitoplasma). Padatan sitoplasma
terdiri dari organel-organel yaitu ribosom, mitokondria, & kompleks
Golgi. Dan mempunyai sifat fisik berubah-ubah karena mengandung
protein. Dapat berupa fase sol (cair) dan fase gel (gelatin, padat).
Fungsi Sitoplasma:
a. Tempat penyimpanan bahan2 kimia yg penting bagi metabolisme
sel (enzim2, ion2, gula, lemak & protein)
b. Terjadi pembongkaran & penyusunan zat2 melalui reaksi2 kimia.
20
c. Nukleus
Organel terbesar yang berada di dalam sel. Terletak di tengah sel &
berbentuk bulat/oval.Kromosom tersusun atas protein & DNA (berfungsi
untuk menyampaikan informasi genetik dan sintesis protein). RNA
berfungsi untuk sintesis protein saja.
Nukleus terdiri atas:
1) Membran Nukleus, membran luar & dalam. Membran luar
langsung berhubungan dengan RE, dan akhirnya ke membran sel.
2) Nukleoplasma disebut juga matriks nukleus (tersusun atas air,
protein, ion, enzim, & asam inti) bersifat gel. Di dalamnya terdapat
benang-benang kromatin (benang penyerap warna), pada saat
proses mitosis maka benang kromatin itu tampak memendek dan
disebut kromosom (tersusun atas protein dan DNA). Lalu DNA
akan mentranskripsi diri (mengkopi diri) menjadi RNA yang
dikeluarkan ke sitoplasma.
3) Nukleolus disebut juga anak inti, terbentuk pada saat terjadi proses
transkripsi (sintesis RNA) di dalam nukleus. Jadi, nukleolus adalah
bukan organel tetap, melainkan suatu tanda bahwa sel sedang
melakukan transkripsi (karena bila proses transkripsi berhenti,
maka nukleolus akan mengecil/menghilang).
Fungsi Nukleus:
1) Pengendali seluruh kegiatan sel
21
3) pembawa informasi genetik (DNA); mewariskan sifat-sifat melalui
pembelahan sel
d. Retikulum Endoplasma
Letaknya: memusat pada bagian dalam sitoplasma (endoplasma); maka
disebut Retikulum Endoplasma (RE); hanya pada sel eukariotik.
Macam-macam retikulum endoplasma:
1) RE kasar: berhadapan dengan sitoplasma & ditempeli ribosom (maka
tampak berbintil2)
2) RE halus: tidak mengandung ribosom
Fungsi RE:
1) Menampung protein dihasilkan oleh ribosom (masuk ke dalam rongga
RE) untuk disalurkan pada kompleks golgi dan berakhir pada sel
(RE KASAR)
2) Mensintesis lemak dan kolesterol (RE KASAR & HALUS)
22
4) Transportasi molekul2 dari bag. yang satu ke bag. yang lainnya (RE
KASAR & RE HALUS).
e. Ribosom
Ribosom adalah salah satu organel yang berukuran kecil dan padat
dalam sel yang berfungsi sebagai tempat sintesisprotein. Ribosom
berdiameter sekitar 20 nm serta terdiri atas 65% RNA ribosom (rRNA)
dan 35% protein ribosom (disebutRibonukleoprotein atau RNP). Organel
ini menerjemahkan mRNA untuk membentuk rantai polipeptida (yaitu
protein) menggunakan asam amino yang dibawa oleh tRNA pada proses
translasi. Di dalam sel, ribosom tersuspensi di dalamsitosol atau terikat
pada retikulum endoplasma kasar, atau pada membran inti sel. Ribosom
adalah komponen sel yang membuat protein dari semua asam amino. Salah satu prinsip utama biologi, sering disebut sebagai “dogma sentral,” adalah DNA yang digunakan untuk membuat RNA, yang, pada gilirannya,
digunakan untuk membuat protein.
Urutan DNA gen disalin ke RNA mRNA. Ribosom kemudian
membaca informasi dalam RNA dan menggunakannya untuk membuat
protein. Proses ini dikenal sebagai translasi; yaitu, ribosom
“menerjemahkan” informasi genetik dari RNA menjadi protein. Ribosom melakukan hal ini dengan mengikat sebuah mRNA dan menggunakannya
sebagai template untuk urutan yang benar asam amino pada protein
tertentu. Asam amino yang melekat pada RNA transfer tRNA molekul,
yang masuk salah satu bagian dari ribosom dan mengikat ke urutan
messenger RNA. Asam amino terlampir yang kemudian bergabung
23
terbuat dari kompleks dari RNA dan protein. Ribosom dibagi menjadi dua
subunit, satu lebih besar daripada yang lain. Mengikat subunit kecil untuk
mRNA, sedangkan mengikat subunit yang lebih besar kepada tRNA dan
asam amino. Ketika selesai membaca mRNA ribosom, kedua subunit
terpecah. Ribosom telah diklasifikasikan sebagai ribozim, karena RNA
ribosomal tampaknya paling penting bagi aktivitas transferase peptidil
yang menghubungkan asam amino bersama. Ribosom dari bakteri, archaea
dan eukariota tiga domain kehidupan di Bumi, memiliki struktur secara
signifikan berbeda dan urutan RNA.
f. Lisosom
(lyso = pencernaan; soma = tubuh) merupakan membran yg berbentuk
kantong kecil yg berisi enzim hidrolitik (hidrolase) disebut lisozim; yang
berfungsi untuk pencernaan intra sel (mencerna zat-zat yang masuk ke
dalam sel).
Pembentukan Lisosom
Enzim Lisosom / protein yg diproduksi oleh ribosom masuk ke
RE enzim dimasukkan ke dalam membran dikeluarkan ke
sitoplasma menjadi lisosom. Selain itu ada yg enzim dimasukkan
ke golgi dibungkus membran dilepaskan di dalam sitoplasma.
Proses pencernaan oleh lisosom
Contoh: sel menelan benda asing berupa bakteri secara
fagositosis bakteri dimasukkan ke dalam vakuola didatangi
24
membran bersatu enzim dari lisosom masuk ke vakuola mencerna
bakteri.
Enzim lisosom tidak aktif mencerna jika membran lisosom
pecah, jika membran pecah maka enzim lisosom akan keluar dari
membran & mencerna sel itu sendiri.
g. Badan Mikro
Terdiri atas:
1.
Peroksisom (dikandung banyak pada sel-sel yang banyak melakukanrespirasi; Contoh: Sel hati, ginjal, otot mengandung enzim katalase,
menguraikan hidrogen peroksida (bersifat racun H2O2) menjadi
oksigen dan air. Dan berperan dalam metabolisme lemak dan
fotorespirasi.
2.
Glioksisom hanya pada sel tumbuhan; terutama pada jaringan ygmengandung lemak, spt biji2an berlemak, menghasilkan enzim
katalase dan oksidase yg berperan dalam proses metabolisme lemak,
mengubah lemak menjadi gula. Dihasilkan energi yg diperlukan
untuk perkecambahan biji.
h. Mitokondria:
Penghasil energi (ATP) karena berfungsi untuk respirasi. Secara umum
mitokondria berbentuk butiran/benang dan bersifat plastis (mudah
berubah). Mitokondria berkembang biak dengan membelah diri dari
mitokondria sebelumnya (pembelahan pada bakteri). Memiliki 2 membran,
membran luar dan dalam membran luar mirip dengan membran plasma.
Pada membran dalam terjadi pelekukan ke arah dalam membentuk
krista(membuat permukaan membran semakin luas sehingga proses
respirasi menjadi semakin efektif) terjadi dalam membran dalam
mitokondria dan matriks (tersusun atas air, protein, enzim respirasi, garam,
25 Reaksi Respirasi yang terjadi:
a. Reaksi dekarboksilasi oksidatif
b. Daur krebs
c. Transfer electron.12
3.
Jenis dan Fungsi Jaringan dasar
A. Struktur Jaringan
Jaringan penyusun tubuh dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok,
yaitu jaringan epitelium, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.
1. Jaringan Epitel
Jaringan epitel adalah jaringan yang melapisi atau menutup
permukaan tubuh, baik permukaan luar maupun permukaan dalam.
Jaringan epitel yang melapisi permukaan luar tubuh disebut
epitelium. Adapun jaringan yang terdapat di permukaan dalam tubuh
disebut jaringan endotelium. Jaringan epitel terdiri oleh satu atau
banyak sel, tersusun kompak, dan tidak mempunyai ruang antarsel.
Fungsi utama jaringan epitel adalah melindungi jaringan di
26
Fungsi jaringan epitel antara lain sebagai berikut:
1) Sebagai pelindung/proteksi, misalnya epitel jaringan kulit dan
epitel selaput rongga mulut.
2) Sebagai reseptor, yaitu epitel yang bertugas menerima
rangsangan, misalnya pada alat-alat indra.
3) Sebagai kelenjar, misalnya epitel pada saluran pencernaan
menghasilkan enzim-enzim pencernaan dan epitel pada
saluran pernapasan menghasilkan mukus (lendir).
Jenis-jenis jaringan epitel dibedakan menjadi dua berdasarkan jumlah lapisan sel penyusunnya. Kedua jaringan tersebut adalah
jaringan epitel satu lapis (simple epithelium) dan jaringan epitel
berlapis banyak (stratified epitellium)
1) Epitel pipih selapis, misalnya jaringan epitel yang
membentuk peritonium, pembuluh darah, pembuluh limfa,
kapsul glomerulus, dan alveolus.
2) Epitel pipih berlapis banyak, misalnya epitel pada rongga
rnulut, epidermis, esofagus, ujung uretra, dan rongga hidung.
3) Epitel kubus selapis, misalnya epitel pada permukaan dalam
lensa mata, permukaan ovarium, saluran nefron ginjal serta
27
4) Epitel kubus berlapis banyak, misalnya epitel yang
membentuk saluran kelenjar minyak dan kelenjar keringat
pada kulit.
5) Epitel silindris selapis, misalnya epitel pada dinding lambung,
jonjot usus, kelenjar pencernaan, kantung empedu, dan
saluran rahim.
6) Epitel silindris berlapis banyak, misalnya pada saluran
kelenjar ludah, kelenjar susu, uretra, dan laring.
7) Epitel silindris bersilia, misalnya pada saluran reproduksi,
saluran pernapasan, dan rongga hidung.
8) Epitel transisional, yaitu jaringan epitel yang bentuk selnya
berubah-ubah, misalnya terdapat pada ureter dan ginjal.
2. Jaringan Ikat
Struktur Ciri khusus
Jaringan ikat adalah memiliki komponen intraseluler yang
disebut matriks. Matriks disekresikan oleh sel-sel jaringan ikat.
Dengan demikian, secara garis besar, jaringan ikat terdiri atas sel-sel
jaringan ikat dan matriks. Berdasarkan bentuk dan reaksi kimianya,
serat pada matriks dapat dibedakan menjadi tige jenis, yaitu serat
kolagen, elastin, dan retikuler.
Serat kolagen berupa berkas beranekaragam yang berwarna
putih. Serat nya mempunyai daya regang yang tinggi denagn elastisitas
yang rendah. Kolagen terdapat pada tendon. Serat elastin berwarna
kuning dan lebih tipis dari serat kolagen. Seratnya mempunyai
elastisitas tinggi. Terdapat pada pembuluh darah. Serat retikuler
hamper sama dengan serat kolagen tetapi berukuran lebih kecil. Serat
ini berperan dalam menghubungkan jaringan ikat dengan jaringan lain.
Bahan dasar penyusun matriks adalah mukopolisakarida sulfat
dan asam hialuronat. Bentuk bahan dasar ini adalah homogen setengah
cair, jika kandungan asam hialuronat tinggi, matriks bersifat lentur.
Sebalinya, jika kandungan mukopolisakarida sulfatnya tinggi, matriks
bersifat kaku. Bahan ini terdapat dalam sendi.
Ada berbagai jenis sel yang tertanam dalam matriks dan
28
protein), makrofag (berbentuk tidak teratur dan khusus terdapat
pembuluh darah), sel tiang (menghasilkan subtansi heparin dan
histamine), sel lemak (khusus untuk menyimpan sel lemak), sel darah
putih (melawan fatogen dan dapat bergerak bebas).
1) Jaringan ikat longgar
Susunan seratnya longgar dan memiliki banyak sustansi dasar.
Fungsinya anatara lain. Member bentuk organ dalam, misalnya
sumsum tulang dan hati. Menyokong, mengelilingi, dan
menghubungkan elemen dari seluruh jaringan lain, misalnya
menyelubungi serat otot, melekatkan jaringan dibawah kulit.
2) Jaringan ikat padat
Susunan sertnya padat dan memiliki sedikit bahan dasar dan
sedikit sel jaringan ikat. Jaringan ikat padat dibagi menjadi dua
jenis, yaitu jaringan ikat padat tak teratur yang terdapat pada
bagian dermis kulit dan pembungkus tulang, jaringan ikat pada
29
3. Jaringan tulang
a. Tulang rawan ( Kartilago )
Ada tiga jenis tulang rawan yaitu tulang rawan hialin (memiliki
serat kolagen yang tersebar dalam bentuk anyaman halus dan rapat)
tulang rawan elastin (serat kolagen tidak tersebar danbentuk serat
elastic bergelombang), tulang rawan fibrosa(serat kolagen kasar dan
tidak teratur, lacuna-lakunanya bulat atau bulat telur dan berisi sel-sel
kondrosit).
b. Tulang sejati ( Osteon )
Sel tulang disebut osteosit. Osteosit terletak di dalam lacuna.
Osteosit dibentuk oleh osteoblas. Antara osteosit yang satu dengan
yang lain dihubungkan oleh kanalikuli. Matriks penyusun tulang
adalah kolegen dan kalsium fosfat yang memperkeras matriks sehingga
tulang lebih keras. Tulang tersusun atas unit-unit yang dinamakan
system havers, setiap havers mengandung pembuluh darah. Tulang
30
c. Darah
Sel darah meliputi sel darah merah (eretrosit), sel darah putih
(leukosit), dan keeping darah (trombosit). Sel darah merah berfungsi
untuk mengangkut oksigen, sel darah putih berfungsi untuk melawan
benda asing yang masuk kedalam tubuh, sedangkan keeping darah
berperan dalam proses pembekuan darah. Sel darah putih terdiri atas
monosit, limfosit, eosinofil, basofil, dan neutrofil.
d. Jaringan adipose
Jaringan adipose adalah jaringan ikat yang terdiri atas sel-sel
berukuran besar yang terspesialisasi untuk menyimpan lemak, disebut
juga jaringan lemak. Jaringan ini berfungsi untuk menyimpan lemak
sebagai cadangan makanan, mencegah hilangnya panas secara
berlebihan dan sebagai pelindung jaringan yang ada di dalamnya.
Jaringan ini terdstribusi di bawah kulit, di dalam tulang, rongga perut
dan dada.
Gambar. Jaringan adipose
4. Jaringan otot
a. Otot polos
Sel berbentuk gelendong, memiliki satu inti yang terletak
31
kesadaran sehingga disebut otot involunter. Contoh saluran
pencernaan, kantong kemih, organ reproduksi, saluran pernapasan.
b. Otot lurik
Sel berbentuk silinder yang panjang dan tidak bercabang,
memiliki banyak inti yang terletak dibagian tepi sel. Kontrasksi otot
lurik di bawah kesadaran sehingga di senut otot volunter. Contoh, otot
melekat pada rangga.
c. Otot Jantung
Sel otot jantung membentuk rantai dan sering bercabang dua
atau lebih membentuk sinsitium. Memiliki satu atau dua inti sel yang
terletak di bagian tengah sel. Kontraksi tidak di bawah pengaruh
kesadaran.
Gambar. Otot polos, otot lurik, otot jantung
5. Jaringan Saraf
a. Struktur sel saraf
Gambar. Struktur Saraf
b. Jenis sel saraf
Neuron sensori (aferen), berfungsi menyampaikan rangsangan
dari organ penerima rangsangan (reseptor) kepada system saraf pusat
32
Neuron intermediate, berperan sebagai penghubung implus
saraf dari satu neuron ke neuron lain atau dari neuron mororik ke
neuron sensorik.
Neuron motor (eferen), berfungsi mengirimkan implus dari
system saraf pusat ke otot dan kelenjar yang akan melakukan respons
tubuh. Pada umumnya, neuron motor menerima implus dari neuron
intermediet. Adakalanya implus ditransmisikan dari neuron snsori ke
neuron motor.13
4.
Fisiologi Sel dan Jaringan (proses pembentukan sel baru)
PEMBELAHAN SEL
A. Replikasi DNA, sebelum membelah, sel harus membuat salinan molekul
DNA-nya, sehingga semua informasi yang dibawa dapat diturunkan
kepada keturunannya.
1) Struktur DNA merupakan suatu dasar karena kemampuannya untuk
membawa informasi.
a. Bentuk molekul DNA menyerupai tangga yang berpilin menjadi
dobel helix. Unit struktural DNA adalah empat nukleotida
berbeda yang terpasang dalam satu rantai panjang DNA.
b. Setiap nukleotida mengandung fosfat, gula deoksiribosa, dan
basa nitrogen, yang tersusun dengan urutan demikian.
c. Keempat basa tersebut adalah adenin (A), guanin (G), sitosin (C),
dan timin (T).
d. Bagian amping tangga DNA terbentuk dari gabungan fosfat dan
gula. Hubungan silang (anak tangga) terbentuk dengan cara
memasangkan basa dengan basa melalui ikatan hidrogen lemah.
e. Dalam pasangan basa ynag lengkap, adenin hanya berikatan
dengan timin (A-T, T-A), sedangkan guanin hanya berikatan
dengan sitosin (G-C, C-G).
f. Meskipun hanya ada empat macam variasi ikatan, rangkaian
linier tempat keempat ikatan tersebut berada dapat memberikan
33
2) Rangkaian pasangan nukleotida yang sebenarnya biasanya disebut
kode genetik. Kode genetik inilah yang menjadi dasar informasi
biologis dalam DNA.
3) Gen adalah suatu unit khas pada DNA, atau bidang pengkodean,
dengan fungsi heriditer (genetik) khusus. Atau, gen memberi intruksi
yang berkaitan dengan sintesis protein tertentu, yang pada gilirannya,
bertanggung jawab terhadap aktivitas lain dalam sel.
4) Genoma adalah suatu tambahan yang melengkapi gen organisme.
Karena DNA berantai ganda, maka setiap rantai yang membawa
rangkaian nukleotida pasti merupakan pasangan dari rangkaian
nukleotida pada rantai disebelahnya.
5) Tahapan replikasi
a. Kedua rantai DNA dibuka dan dipisah pleh enzim pembuka,
yang memecah ikatan hidrogen lemah di antara pasangan basa.
b. Enzim polimerase DNA, dengan memakai keempat jenis
nukleotida pelengkap yang ada dengan bebas dalam nukleus,
memasangkan dan melekatkan nukleotida tersebut pada basa
yang terlihat disetiap rantai tunggal DNA yang terbuka.
c. Dua dobel helixs DNA lengkap terbentuk, masing-masing
identik dengan rangkaian nukleotida pada heliks DNA yang asli
yang berfungsi sebagai pola. Dengan demikian, informasi,
informasi genetik telah tersalin dengan tepat.
d. Replikasi seperti itu di sebut semikonservasuf karena replikasi
tersebut mempertahankan setiap rantai dobel heliks DNA yang
asli sementara setiap rantai juga menerima rantai psangan
sintesis baru yang sesuai.
6) Kesalan dalam replikasi DNA
a. Mesin replikasi dapat melakukan kesalahan dengan melewatkan
satu basa, menambahkan satu jenis bsas atau lebih, atau
mengganti dengan jenis basa yang salah.
b. Perubahan dalam molekul DNA yang juga dapat terjadi akibat
pajanan agen fisik atau kimia yang berpotensi merusak seperti
34
c. Perubahan yang dihasilkan dalam rangkaian nukleotida disebut
mutasi, yang akan terus disalin dalam replikasi selanjutnya dan
dapat mengakibatkan konsekuensi yang membahayakan sel.
7) Perbaikan DNA adalah suatu proses yang konstan dan dapat
meminimalkan perubahan aksidental. Beragam jenis enzim perbaikan
DNA secara terus menerus akan memindai molekul DNA dan
mengeluarkan nukleotida yang rusak.
B. Kromosom pada Sel Manusia
1) Kromosom merupakan rantai DNA yang berpilin dengan kuat dan
mengandung protein. Kromosom merupakan kromatin yang menebal
dan ditemukan dalam nukleus serta terlihat dengan jelas saat
pembelahan sel.
2) Semua sel somatik normal, kecuali sel kelamin (ovum dan
sprematozoa). Memiliki 46 kromosom atau 23 pasang kromosom.
(sperma dan ovum hanya mempunyai 23 kromosom).
3) Dari 23 pasang kromosom, 22 pasang diantaranya merupakan
pasangan yang homolog disebut autosom. Kromosom homolog
membawa informasi genetik dengan karakter yang sama.
4) Pasangan keduapuluh tiga, dikenal sebagai kromosom kelamin, X
dan Y. Kromosom ini homolog pada perampuan (X dan X), tetapi
tidak pada laki-laki (X dan Y).
5) Sel yang memiliki anggota pasangan yang lengkap disebut diploid
(2n). Suatu sel, seperti ovum dan spermatozoa disebut haploid.
6) Mitosis adalah istilah untuk pembelahan nuklear dan sitoplasma pada
sel somatik.
a. Mitosis mempertahankan jumlah diploid kromosom.
b. Dengan demikian, pembelahan mitosis merupakan sarana tuntuk
mempertahankan informasi kromosom yang secara genetik
35
C. Siklus dan mitosis sel. Siklus sel, pada sel yang mampu membelah diri,
mengacu pada kejadian-kejadian dalam rentang kehidupan sel di periode
anatar waktu sel tersebut terbentuk melalui pembelahan sel sampai
waktu permulaan pembelahan sel berikutnya. Bagian terbesar siklus
(sekitar 90%) digunakan untuk tumbuh dan bersintesis, disebut interfase,
dan bagian yang lebih kecil digunakan untuk pembelahan nuklear dan
sel, atau mitosis.
1) Interfase terdiri dari fase G1, fase S dan fase G2.
a. Pada fase G1, sel secara metabolik sangat aktif. Semua komponen
sel disintesis dan sel tumbuh dengan cepat. Dalam nukleus setiap
kromosom merupakan dobel heliks DNA tunggal belum
tereplikasi yang terikat dengan histon dan protein kromosom lain.
Sel yang tidak membelah pada umummnya tetap berada dalam
fase G1 di sepanjang rentang kehidupannya.
b. Pada fase S (sintesis), sintesis protein berlanjut dan DNA serta
protein kromosom (histon) direplikasi. Setiap kromosom
kemudian berisi dua dobel heliks DNA identik yang disebut
36
2) Mitosis terdiri dari penebalan dan pembelahn kromosom serta
sitokinesis, pembelahan aktual sitoplasma untuk membentuk dua sel
anak. Meskipun pembelahan merupakan proses yang berkelanjutan
pembelahan dibagi menjadi empat subfase: profase, metafase,
anafase, dan telofase.
a. Profase
(1) Kromosom menebal menjadi pilinan yang kuat dan besra,
serta menjadi terlihat. Setiap kromosom berisi dua kromatid
yang disatukan dengan sentromer. Kromatid akan menjadi
kromosom dalam generasi sel berikutnya.
(2) Pasangan sentriol berpisah dan mulai bergerak ke sisi nukleus
yang berlawanan, digerakkan dengan perpanjangan
mikrotubulus pendek yang terbentuk diantara sentriol.
Setelah sampai di sisi nukleus, sentriol membentuk benang
spindel mitosis polar.
(3) Nukleolus melebur dan membran nuklear menghilang,
sehingga memungkinkan spindel memasuki nukleus.
Mikrotubulus pendek yang muncul dari kinetochore, struktur
pada sentromer, sekarang dapat berinteraksi dengan benang
spindel polar, menyebabkan kromosom bergerak cepat.
(4) Mikrotubulus lain menyebar ke luar sentriol untuk
membentuk aster.
b. Metafase
(1) Kromosom (pasangan kromatid) berbaris pad bidang
37
posisinya bersilalanagn dari satu sisi ke sisi lainnya pada
spindel.
(2) Sentromer pada semua kromosom salng berikatan.
(3) Kinetochore memisah dan kromatid bergerak menjauh.
c. Anafase
(1) Akibat perubahan panjang mikrotubulus di tempat
perlekatannya pasangan kromatid bergerak dari bidang
ekuator ke setiap tubuh.
(2) Akhir anafase ditandai dengan adanya dua set kromosom
lengkap yang berkumpul pada kedua kutub sel. Organel
sitoplasma yang sebelumnya telah bereplikasi juga tersebar
merata di kedua kutub.
d. Telofase
(1) Dua nuklei kembali terbentuk di sekitar kromosom.
Kromosom kemudian terurai dan melebur. Membran nuklear
dan nukleolus terbentuk kembali.
(2) Sitokinesis adlah pembelahan sitoplasma. Alur pembelahan
yang berada tepat di pertengahan antara kedua massa
kromosom, mulai membelah sitoplasma, berlanjut di sekitar
38
D. Meiosis adalah pembelahan sel yang terjadi dalama pembentukan sel-sel
kelamin. Pembelahan tersebut mengurangi jumlah kromosom menjadi
jumlah haploid (23). Saat pembuahan gabungan dari sel telur dan sperma
menghasilkan jumlah kromosom diploid (46).
Meiosis terdiri dari dua pembelahan nuklear dan selular, disebut
meiosis I dan meiosis II yang menghasilkan empat sel. Selama interfase
sebelum pembelahan meiosis pertama, setiap kromosom bereplikasi untuk
membentuk kromatid yang diikat sentromer, sama seperti mitosis.
1) Meiosis I memisahkan setiap pasangan kromosom homolog dan membagi
anggota pasangan tersebut pada sel-sel anak.
a. Profase I
(1) Sinapsis terjadi saat kromosom belum menebal, yaitu kedua
kromatid dari setiap kromosom masih mencari kedua kromatid
pasangan homolognya dan kemudian mengambil tempat yang
bersisian di sepanjang kromosom.
(2) Kromosom induk atau kedua kromatid pada setiap kromosom yang
diwariskan dari ibu, bergabung dengan kromosom ayah atau
39
ayah. Semua gen korespondennya juga bergabung. Gabungan
empat kromatid disebut tetrad.
(3) Selama sinapsis, keempat benang kromosom homolog saling
melilit atau bersilangan. Pemecahan dan penyatuan kembali DNA
terjadi dalam benang kromosom dan materi genetik dipertukarkan
antara kromosom ibu dan ayah.
(a) Pertukaran silang dan pertukaran balasan fragmen DNA terjadi
secara acak. Ada sekitar sepuluh fragmen dalam setiap tetrad
manusia.
(b) Hasilnya adalah perubahan susunan atau atau penganturan ulang
genetik yang yang memberikan variasi dan keunikan genetik pada
setiap individu.
b. Metafase I
(1) Pasangan kromosom homolog, masing-masing dengan dua pasang
kromatid yang disatuka sentromer, berbaris pada bidang ekuator.
(2) Kedua kromatid dalam satu kromosom pada setiap pasangan
homolog menghadap ke kutub sel yang ama, sehingga kromosm
homolognya menghadap kutub yang berlawanan.
(3) Benang-benang spindel dari salah satu kutub melekat pada
sentromer setiap kromosom.
(4) Sentromer tidak membelah seperti yang terjadi pada metafase I
pembelahan mitosis.
c. Anafase I
(1) Setiap kromosom (terdiri dari dua kromatid) ditarik ke salah satu
kutub.
(2) Dengan demikian, satu kelompok kromosom haploid (23) telah
tersusun di setiap kutub.
d. Telofase I
(1) Seperti dalam pembelahan mitosis, telofase membalik peristiwa
yang terjadi dalam profase. Kromosom melebur, membran nuklear
kembali terbentuk, nukleolus kembali muncul dan spindel terurai.
(2) Sitokinesis terjadi dan kedua sel terpisah.
(3) Interfase meiosis berlangsung singkat. Tidak terjadi replikasi
40 2) Meiosis II serupa dengan mitosis.
a. Peristiwa dalam profase II sama dengan peristiwa pada profase mitosis.
(1) Sentriol memisah dan bergerak ke kutub yang berlawanan.
(2) Mikrotubulus dari setiap sentromer melekat pada benang dan
sentriol di kutub yang berlawanan.
b. Metafase II
(1) Kromatid berbaris pada bidang ekuator sel.
(2) Kromatid tersusun berpasangan, bukan dalam bentuk tetrad seperti
metafase I, disebut dyad.
c. Anafase II
(1) Sentromer membelah, kromatid yang terpisah menjadi kromosom.
(2) Kromatid yang terpisah pad anafase II bukanlah kromatid
berpasangan. Berlawanan dengan kromatid pada pembelahan
mitosis, kromatid tersebut secara genetik tidak identik akibat
persilanagan atau kombinasi silang.
d. Telofase II
(1) Membran nuklear terbentuk kembali, kromosom melebur, dan
terjadi sitokinesis.
(2) Setiap sel baru berisi satu dari setiap jenis kromosom. Jumlah
kromosom adalah haploid.14
5.
Kondisi Normal Ibu Paska Penjahitan
Melahirkan dengan perineum yang tetap utuh tanpa mengalami
pemotongan pada saat persalinan, dapat berdampak sebagai berikut:
a. Nyeri susulan
41
yang disebut lochea. Itulah yang membuatnya terasa menggumpal dan deras.
Meskipun tampak sebanyak atau lebih banyaj dari menstruasi, umumnya
jumlah pengeluaran tidak lebih dari dua cangkir, makin lama makin reda.
Atasi dengan menggunakan pembalut wanita steril yang diganti setiap dua
jam sekali.
Pengeluaran lochea pertama kali berwarna sangat merah selama 2-3
hari pertama, kemudian bertahap menjadi merah muda, coklat, dan akhirnya
putih kekuningan selama satu atau dua minggu. Proses menyusui dan
pemberian oksitoksin melalui suntikan intramuscular atau intravena yang
dilakukan dokter saat usai bersalin dapat mengurangi aliran lochea karena
rahim dibantu berkontraksi dan mengecil ke ukuran normalnya lebih cepat.
Minggu Ke-1 Setelah Persalinan dan Hari-Hari Penyesuaian Diri
a. Mengalami kelelahan
b. Darah nifas masih keluar. Darah nifas terbanyak keluar pada tiga hari
pertama setelah bersalin. Bukan hanya darah, pengeluaran ini juga berisi
sisa jaringan dan lender dari rahim yang disebut lochea.
c. Mata lebam
Mengedan, khususnya pada persalinan lama dan sulit, dapat
memecahkan pembuluh darah kecil di dalam dan sekitar mata, terutama
jika ibu menahan napas saat mengejan sehingga tekanan terkumpul di
kepala. Akibat pecahnya pembuluh darah, mata menjadi merah, bahkan
lebam. Kompres dingin pada mata sepuluh menit sekali yang dilakukan
beberapa kali sehari, bisa mempercepat penyembuhan. Pada kasus
ekstrim mungkin perlu konsultasi dengan dokter mata.
d. Nyeri pada Perineum
Perineum yang dilalui seorang bayi umumnya mengalami peregangan,
lebam, dan trauma. Akibat normalnya bisa terasa ringan, bisa juga tidak.
Rasa sakit pada perineum akan semakin parah jika perineum robek atau
disayat pisau bedah. Seperti semua luka baru, area episiotomi atau luka
sayatan membutuhkan waktu untuk sembuh 7-10 hari. Rasa nyeri saja
selama masa ini tidak menunjukkan adanya infeksi, kecuali jika nyeri
sangat parah. Infeksi bisa saja terjadi, tetapi sangat kecil
42
rumah sakit, dokter akan memeriksa perineum setidaknya sekali sehari
untuk memastikan tidak terjadi peradangan atau tanda infeksi lainnya.
e. Wasir
Saat persalinan, terjadi tekanan yang kuat di bagian rectum atau anus.
Ini dapat memperparah wasir yang sudah ada ( wasir sering kali
berkembang pada kehamilan terutama semester tiga) atau membentuk
wasir yang belum ada. ibu akan merasakan wasir sebagai gundukan,
yang sebenarnya adalah varises pada anus, yang menimbulkan rasa
nyeri, gatal, panas, dan kadang berdarah.
f. Pegal-pegal
Pegal- pegal disekujur tubuh sehabis bersalin kadang melumpuhkan.
Jangan dibiarkan. Dapat diatasi dengan berbagai pengobatan sebagai
berikut:
1) Latihan peregangan dan senam nifas
2) Penggunaan bantalan pemanas atau mandi berendam air hangat
dicampur garam. Tidak perlu garam yang dibeli di apotek, cukup
garam dapur.
3) Pemijatan.
4) Menjaga postur tubuh
5) Saat menyusui, jangan membungkuk
6) Saat mengambil barang di lantai, jarangkan kaki selebar bahu,
rendahkan tubuh dengan menekuk lutu, bukan melekukkan
pinggang.
7) Ketika mengangkt bayi atau benda berat lain, letakkan beban di
tangan, bukan pundak.
8) Saat berdiri, berjalan duduk, dan berbaring lakukan dengan tegak,
perut sedikit ditarik ke dalam.
9) Saat mendorong kereta bayi pastikanketinggian pegangan nyaman
untuk anda
10)Jangan berdiri terlalu lama
11)Tidur di kasur keras, karena kasur empuk akan membuat punggung
43 g. Banyak buang air kecil
Setelah seminggu persalinan, ibu bersalin umumnya sering buang air
kecil dalam jumlah banyak. Ini terjadi karena cairan tubuh yang berlebih
akibat kehamilan mulai dikeluarkan.
h. Susah buang air besar
Beberapa faktor yang menghambat pemulihan fungsi normal usus
setelah persalinan, yaitu pertama karena otot-otot perut yang membantu
proses pembuangan meregang sehingga kendur dan tidak efektif. Kedua,
usus bagian bawah mengalami trauma persalinan sehingga tidak
berfungsi baik. Ketiga adalah usus telah dikosongkan selama persalinan
dan mungkin tetap kosong karena tidak ada makanan padat masuk.
i. Keringat berlebihan
Keringat berlebihan disebut diafrosis. Ini adalah salah satu cara tubuh
untuk megeluarkan timbunan cairan selama kehamilan pada
minggu-minggu pertama pasca persalinan. Batas normal suhu adalah 37,7 derajat
celcius.
j. Nyeri dada
Nyeri dada, terasa sakit saat bernapas, kemungkinan timbul akibat ibu
mengejan lama saat bersalin.
Dampak dari robekan perineum akan timbul nyeri seperti di tusuk-tusuk, panas dan lama nyeri akan berlangsung selama 10 hari hingga3 bulan. Peregangan jalan lahir oleh kepala janin pada akhir kala
pembukaan dan selama kala pengeluaran kemungkinan adanya
kerusakan perineum selama proses persalinan. Nyeri yang di
definisikan seperti itulah yang membedakan nyeri yang timbul
akibat persalinan dengan episotomi dan nyeri yang timbul akibat
persalinan tanpa episiotomi. Nyeri episiotomi semakin kuat, maka