• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDUAN PELAKSANA PENDIDIKAN KARAKTER.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PANDUAN PELAKSANA PENDIDIKAN KARAKTER."

Copied!
72
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Prof. Dr. Mansyur Ramly
    • Prof. Dr. Fasli Jalal
    • Dra. Diah Harianti
    • Drs. Zulfikri Anas
    • M. Hamka, S.S.
    • Dr. Hermana Somantrie
    • Suharyadi, S.E.
    • Dr. Sumiyati
    • Prof. Hamid Hasan
    • Fuad Fachruddin
    • Dra. Yuke Indrati
    • Drs. Ariantoni
    • Dra. Darmiasti
    • Drs. Heni Waluyo
    • Drs. Djuharis Rasul
    • Drs. Kurniawan
    • Dra. Elly Marwati
    • Dra. Maria Listiyanti
    • Dra. Ranti Widyanti
    • Feisal Ghozaly
    • Drs. Budi Santosa
    • Drs. Suherman
    • Drs. Slamet Wibowo
    • Drs. Bunyamin
    • Anggraeni, S.Pd.
    • Dra. Renni Diastuti
    • Mohamad Irfan
    • Dra. Sri Yuniarti
    • Sujatmiko, S.Si.
    • Euis Yumirawati
    • Sandra Novrika
    • Farah Ariani
    • Nina Purnamasari
    • Noorman Prio Wicaksono
    • M. Yusri Saad
    • Irwandi
  • Pengajar:
    • Prof. Dr. Mansyur Ramly
    • Prof. Dr. Fasli Jalal
  • Sekolah: Kementerian Pendidikan Nasional
  • Mata Pelajaran: Pendidikan Karakter
  • Topik: Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter
  • Tipe: pedoman
  • Tahun: 2011
  • Kota: Jakarta

I. Pentingnya Pendidikan Karakter

Bagian ini membahas urgensi pendidikan karakter sebagai landasan pembangunan nasional, selaras dengan visi mewujudkan masyarakat berakhlak mulia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dokumen ini menekankan perlunya pendidikan karakter untuk mengatasi berbagai permasalahan kebangsaan, seperti disorientasi nilai Pancasila dan melemahnya kemandirian bangsa. Pendidikan karakter bukan sekadar mengajarkan benar-salah, melainkan menanamkan kebiasaan baik (habituasi) sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Hal ini melibatkan pengetahuan, perasaan, dan tindakan yang baik (moral knowing, moral feeling, moral action). Bagan 1, ‘Alur Pikir Pembangunan Karakter’, menggambarkan pendidikan karakter sebagai strategi kunci yang terintegrasi dengan sosialisasi, pemberdayaan, pembudayaan, dan kerjasama seluruh komponen bangsa.

1.1 Hakikat Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter di sini didefinisikan sebagai upaya sistematis dan integratif untuk membentuk karakter bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Dokumen ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, pendidikan karakter menjadi landasan mewujudkan visi pembangunan nasional. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Nomor 20 Tahun 2003 juga mendukung hal ini dengan menekankan fungsi pendidikan dalam membentuk watak dan peradaban bangsa. Dokumen ini juga menyoroti bahwa pendidikan karakter telah tertuang dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan demokratis.

1.2 Tujuan, Fungsi, dan Media Pendidikan Karakter

Tujuan pendidikan karakter adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila untuk membentuk manusia berhati, berpikiran, dan berperilaku baik, serta membangun bangsa yang berkarakter Pancasila. Fungsinya meliputi pembangunan kehidupan kebangsaan yang multikultural dan peradaban bangsa yang cerdas dan berbudaya. Media pendidikan karakter yang dibahas meliputi keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. Dokumen tersebut secara eksplisit menjabarkan bagaimana berbagai elemen masyarakat berperan dalam menanamkan nilai karakter.

1.3 Nilai-nilai Pembentuk Karakter

Dokumen ini mengidentifikasi 18 nilai pembentuk karakter bangsa yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional (religius, jujur, toleransi, disiplin, dsb.). Meskipun telah dirumuskan 18 nilai, satuan pendidikan dapat memprioritaskan pengembangan nilai-nilai yang sesuai dengan kondisi dan konteks masing-masing. Bagan 2, ‘Implementasi Nilai-Nilai’, secara visual menjelaskan bagaimana nilai-nilai ini dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dokumen ini juga menyinggung nilai-nilai prakondisi yang telah dikembangkan satuan pendidikan, seperti keagamaan, gotong royong, dan kebersihan.

1.4 Proses Pendidikan Karakter

Proses pendidikan karakter didasarkan pada totalitas psikologis (kognitif, afektif, psikomotorik) dan sosiokultural. Bagan 3, ‘Konfigurasi Pendidikan Karakter’, mengklasifikasikan nilai-nilai ke dalam empat kelompok: olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah rasa/karsa. Proses ini bersifat holistik dan saling terkait, berlangsung sepanjang hayat, dan melibatkan interaksi dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Penjelasan rinci mengenai setiap kategori nilai dan bagaimana mereka saling melengkapi diberikan dalam dokumen.

II. Strategi Pelaksanaan Pendidikan Karakter

Bagian ini menjelaskan strategi pelaksanaan pendidikan karakter pada tiga level: Kementerian Pendidikan Nasional, tingkat daerah, dan tingkat satuan pendidikan. Pada tingkat nasional, pendekatan top-down, bottom-up, dan revitalisasi program diintegrasikan. Bagan 4, ‘Strategi Kebijakan Pendidikan Karakter’, mengilustrasikan ketiga pendekatan tersebut dan menjelaskan strategi-strategi spesifik seperti sosialisasi, pengembangan regulasi, pengembangan kapasitas, implementasi kerjasama, dan monitoring evaluasi. Strategi di tingkat daerah meliputi penyusunan kebijakan, penyiapan bahan pendidikan, dukungan kepada tim pengembang kurikulum, serta pemberian dukungan sarana, prasarana, dan pembiayaan. Strategi di tingkat satuan pendidikan menekankan sosialisasi, pengembangan dalam kegiatan sekolah, kegiatan pembelajaran, pengembangan budaya sekolah, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat.

2.1 Strategi di Tingkat Kementerian Pendidikan Nasional

Kementerian Pendidikan Nasional menggunakan pendekatan tiga jalur: top-down (intervensi kebijakan), bottom-up (pengalaman praktisi), dan revitalisasi program. Strategi top-down meliputi sosialisasi, pengembangan regulasi, pengembangan kapasitas, implementasi dan kerjasama, serta monitoring dan evaluasi. Strategi bottom-up mendukung sekolah-sekolah yang telah mengembangkan pendidikan karakter. Revitalisasi program berfokus pada pengembangan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler yang sudah ada. Ketiga pendekatan ini diintegrasikan dalam empat pilar pendidikan karakter di sekolah: pembelajaran di kelas, pengembangan budaya satuan pendidikan, kegiatan kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

2.2 Strategi di Tingkat Daerah

Strategi di tingkat daerah meliputi penyusunan perangkat kebijakan, penyiapan dan penyebaran bahan pendidikan, pembinaan tim pengembang kurikulum, dukungan sarana prasarana dan pembiayaan, serta sosialisasi ke masyarakat. Pemerintah daerah didorong untuk mensinergikan potensi yang ada dan melibatkan instansi terkait untuk mendukung pendidikan karakter. Penyesuaian bahan pendidikan agar sesuai dengan kekhasan daerah juga menjadi poin penting.

2.3 Strategi di Tingkat Satuan Pendidikan

Strategi di tingkat satuan pendidikan mencakup sosialisasi kepada stakeholders, pengembangan kegiatan sekolah (Tabel 1: Implementasi Pendidikan Karakter dalam KTSP), kegiatan pembelajaran aktif, pengembangan budaya sekolah, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, dan integrasi dengan kegiatan di rumah dan masyarakat. Dokumen tersebut menjelaskan berbagai metode pembelajaran aktif yang dapat diintegrasikan dengan pendidikan karakter.

2.4 Penambahan Alokasi Waktu Pembelajaran

Dokumen tersebut menyarankan penambahan alokasi waktu untuk pendidikan karakter melalui berbagai kegiatan, seperti membaca kitab suci, refleksi, kegiatan keagamaan, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan bersih-bersih lingkungan. Beberapa contoh strategi penambahan waktu pembelajaran dijelaskan secara rinci, misalnya penggunaan waktu sebelum dan sesudah pembelajaran, serta pemanfaatan waktu istirahat.

2.5 Penilaian Keberhasilan

Penilaian keberhasilan pendidikan karakter dilakukan melalui pengembangan indikator, penyusunan instrumen penilaian, pencatatan pencapaian indikator, analisis dan evaluasi, serta tindak lanjut. Dokumen ini menekankan pentingnya membandingkan kondisi awal dan kondisi akhir untuk mengukur efektivitas program.

III. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Bagian ini menjelaskan integrasi pendidikan karakter ke dalam KTSP, mencakup visi, misi, tujuan, struktur kurikulum, kalender pendidikan, silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Proses pengembangan kurikulum yang diuraikan meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pengembangan. Tahapan perencanaan mencakup analisis konteks, penyusunan rencana aksi, dan pengintegrasian nilai-nilai karakter ke dalam dokumen KTSP. Tahapan pelaksanaan meliputi penyusunan KTSP yang memuat pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter dan pengkondisian lingkungan sekolah. Tahapan evaluasi mencakup penilaian keberhasilan dan supervisi. Tahapan pengembangan meliputi penetapan nilai karakter baru, pengembangan metode baru, pengayaan sarana prasarana, dan peningkatan komitmen masyarakat.

3.1 Komponen KTSP

Pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam semua komponen KTSP, mulai dari visi, misi, dan tujuan sekolah hingga struktur kurikulum, kalender pendidikan, silabus, dan RPP. Integrasi ini memastikan bahwa pendidikan karakter menjadi bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran dan kegiatan sekolah. Dokumen ini menyoroti pentingnya konsistensi dan keterpaduan dalam penerapan pendidikan karakter di seluruh aspek KTSP.

3.2 Tahapan Pengembangan

Pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan karakter mencakup empat tahapan: sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Sosialisasi melibatkan seluruh warga sekolah dan masyarakat. Perencanaan meliputi analisis konteks, penyusunan rencana aksi, dan pengintegrasian nilai-nilai ke dalam dokumen KTSP. Pelaksanaan mencakup penyusunan silabus dan RPP yang terintegrasi dengan nilai-nilai karakter dan pengkondisian lingkungan. Evaluasi mencakup penilaian keberhasilan dan supervisi untuk memastikan efektivitas program.

3.3 Penyiapan Perangkat

Penyiapan perangkat untuk pelaksanaan pendidikan karakter meliputi penyiapan personel, pemetaan kesiapan di berbagai jenjang pendidikan, penyediaan bahan pelaksanaan, penyiapan bahan sosialisasi, dan penyediaan contoh best practice. Dokumen ini menekankan pentingnya pelatihan dan pembekalan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan dalam menerapkan pendidikan karakter di sekolah. Pengalaman dari program piloting juga digunakan untuk memperkaya dan menyempurnakan perangkat tersebut.

IV. Contoh Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Sekolah

Bagian ini menyajikan contoh best practice pelaksanaan pendidikan karakter di tujuh jenis satuan pendidikan (PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, dan PKBM) berdasarkan hasil piloting di 125 satuan pendidikan pada tahun 2010. Contoh-contoh tersebut dipilih untuk mewakili berbagai kondisi geografis dan jenis satuan pendidikan. Pembahasan untuk setiap jenis satuan pendidikan mencakup profil sekolah, tahapan pelaksanaan (perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengembangan), serta strategi dan metode yang digunakan dalam mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan pembelajaran dan kegiatan sekolah lainnya.

V. Membangun Budaya Sekolah

Bagian ini akan membahas bagaimana melibatkan semua warga sekolah dalam pembelajaran berkarakter dan pemeliharaan lingkungan sekolah. Bagian ini menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung pembentukan karakter.

VI. Penutup

Bagian penutup akan merangkum keseluruhan panduan dan menekankan pentingnya komitmen berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan untuk keberhasilan pendidikan karakter.

Gambar

Tabel 1. Implementasi Pendidikan Karakter dalam KTSP
Tabel 2. Gambaran Implementasi Pendidikan Karakter Setiap Hari di TK
Tabel 3. Contoh Rancangan Rencana Aksi Sekolah
Tabel 4. Contoh Pengintegrasian Pendidikan Karakter Melalui
+5

Referensi

Dokumen terkait

Namun kondisi bangunan dan sarana prasarana masih belum memadai dan belum sesuai dengan standar yang diharapkan, contoh : belum adanya ruang pertemuan (Aula), ruang rapat,

Namun kondisi bangunan dan sarana prasarana masih belum memadai dan belum sesuai dengan standar yang diharapkan, contoh : belum adanya ruang pertemuan (Aula), ruang rapat, ruang

karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai,. yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya

Kebijakan dalam administrasi sarana perlengkapan, diprioritaskan pada peningkatan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan dan pemeliharaan sarana prasarana pendukung

Pada prinsipnya menentukan strategi pembelajaran harus memperhatikan tujuan pelajaran, karakteristik murid dan ketersediaan sumber (fasilitas). Strategi yang efektif pada

3 Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan 4 Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan, prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan nilai budaya dan

Dalam konteks rumusan penelitian ini, yaitu bagaimana prinsip-prinsip dalam memilih dan menentukan sarana dan prasarana dalam buguru pada masyarakat Sasak ditemukan tiga prinsip, yaitu

Hasil penelitian ini sebagai berikut: 1 Nilai-nilai yang diprioritaskan dalam pendidikan karakter yaitu karakter Religius, Jujur, Disiplin, Kerja Keras, Toleransi, Mandiri, Cinta Tanah