• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI ANALISIS LEMBAR KERJA SISWA (LKS) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS IX BERDASARKAN PRINSIP PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DAN EVALUASI PENDIDIKAN DI SMP SURAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STUDI ANALISIS LEMBAR KERJA SISWA (LKS) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS IX BERDASARKAN PRINSIP PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DAN EVALUASI PENDIDIKAN DI SMP SURAKARTA"

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

STUDI ANALISIS LEMBAR KERJA SISWA (LKS) PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN KELAS IX BERDASARKAN PRINSIP

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DAN EVALUASI PENDIDIKAN

DI SMP SURAKARTA

Skripsi

Oleh :

Desy Indar Kusumastuti

K6406019

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

ii

STUDI ANALISIS LEMBAR KERJA SISWA (LKS) PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN KELAS IX BERDASARKAN PRINSIP

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DAN EVALUASI PENDIDIKAN

DI SMP SURAKARTA

Oleh :

Desy Indar Kusumastuti

K6406019

Skripsi

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapat gelar Sarjana

Pendidikan Program Pendidikan Kewarganegaraan Jurusan Pendidikan

Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(3)

commit to user

iii

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Persetujuan Pembimbing

Surakarta, 3 Maret 2011 Pembimbing I

Dra. Rusnaini, M.Si NIP.19600229 198803 2 001

Pembimbing II

(4)

commit to user

iv

(5)

commit to user

v ABSTRACT

Desy Indar Kusumastuti. AN ANALYTICAL STUDY ON CIVIC EDUCATION STUDENT WORKSHEET (LKS) OF GRADE IX BASED ON THE PRINCIPLE OF LEARNING MATERIAL DEVELOPMENT AND EDUCATION EVALUATION IN JUNIOR HIGH SCHOOLS THROUGHOUT SURAKARTA. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty. Surakarta Sebelas Maret University, February 2011.

The objectives of research are to find out the relevance, consistency and adequacy of materials and to find out cognitive, affective and psychomotor in the evaluation of Civic Education Student Worksheet of Odd Semester of Grade IX in Junior High Schools throughout Surakarta.

This research employed a descriptive qualitative method and content analysis. The plural was the administrators of MGMP and teachers of Civic Education of Grade X in Junior High School throughout Surakarta. The sample was taken partially. The sampling technique used was purposive sampling. Technique of collecting data used included interview, focus group discussion, and content analysis. The report on research result is revealed in the form of in-depth and factual explanation based on the fact and reality in the field that was then tabulated and presented in table to confirm the result found.

(6)

commit to user

vi ABSTRAK

Desy Indar Kusumastuti. STUDI ANALISIS LEMBAR KERJA SISWA (LKS) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KELAS IX BERDASARKAN

PRINSIP PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DAN EVALUASI

PENDIDIKAN DI SMP SURAKARTA. Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan

dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Februari 2011.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui relevansi, konsistensi,dan kecukupan pada materi dan untuk mengetahui kognitif, afektif dan psikomor pada evaluasi LKS Pendidikan Kewarganegaraan Kelas IX semester ganjil di SMP Surakarta

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan analisis isi. Populasinya adalah Pengurus MGMP dan Guru-Guru Kelas IX Mata Pelajaran Kewarganegaraan di SMP Surakarta. Sampel diambil secara sampel sebagian. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara, Focuss group discussion, dan mengkaji dokumentasi dan arsip (content analysis). Teknik analisis data yang digunakan adalah model Analisis Interaktif. Laporan hasil penelitian diungkap dalam bentuk penjelasan secara mendalam dan faktual yaitu berdasarkan fakta dan realita di lapangan kemudian ditabulasi disajikan dalam tabel untuk memperjelas hasil yang ditemukan.

(7)

commit to user

vii MOTTO

“Orang Penyayang akan disayangi oleh yang Maha Pengasih (Allah) maka sayangilah semua yang ada di bumi, niscahya kamu akan di kasih sayangi oleh

yang di langit” (H.R. Thabrani)

“Books are not to believed, but to be subjected to inquiry”

(William of Baskerville)

”Belajarlah selalu dengan mengikuti perkembangan ilmu dan kehidupan demi kemajuan pendidikan”

(8)

commit to user

viii

PERSEMBAHAN

Kusuntingkan skripsi ini untuk:

-Bapak Didit Rudi E.W, S.Pd dan Ibu Tri Pudyastuti, tercinta -Adik-adikku, tersayang

-Seseorang yang aku cintai

-Dra. Rusnaini, M.Si dan Winarno, S.Pd, M.Si, terimakasih atas bimbingan Ibu dan Bapak

-Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Kewarganegaraan FKIP UNS, Terimakasih atas ilmu yang Engkau berikan

(9)

commit to user

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah, rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan, untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan yang timbul dapat teratasi. Untuk itu atas segala bentuk bantuannya, disampaikan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS Surakarta, yang telah memberikan izin dalam penyusunan skripsi ini.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP UNS Surakarta, yang telah memberikan izin dalam penyusunan skripsi ini.

3. Ketua Program Studi PPKn Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP UNS Surakarta, yang memberikan izin dalam penyusunan skripsi ini. 4. Pembimbing I, Dra. Rusnaini, M.Si, atas segala bimbingan dan

pengarahannya.

5. Pembimbing II, Winarno, SPd, M.Si, atas segala bimbingan dan pengarahannya.

6. Berbagai pihak yang telah membantu dan mendukung terselesaikannya skripsi ini.

Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Tiada sesuatu yang sempurna di dunia selain yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna. Untuk itu penulis sadari dalam skripsi ini masih terdapat kekurangan, tetapi diharapkan skripsi ini dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

(10)

commit to user

x DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGAJUAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN ABSTRACT... v

HALAMAN ABSTRAK... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN... xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah... 8

C. Tujuan Penelitian... 8

D. Manfaat Penelitian... 9

BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka ... 11

1. Pendekatan Konsep... 11

a. Hakikat Pengembangan Bahan Ajar PKn ... 12

1) Pengertian Bahan Ajar PKn... 12

2) Bentuk Bahan Ajar PKn ... 15

3) Langkah-Langkah Pemilihan Bahan Ajar PKn ... 17

b. Hakikat Evaluasi Pendidikan PKn... 22

1) Ranah Kognitif... 23

2) Ranah Afektif... 28

(11)

commit to user

xi

c. Hakikat Lembar Kerja Siswa (LKS) PKn ... 31

1) Pengertian Lembar Kerja Siswa (LKS) PKn ... 31

2) Peran dan Fungsi Lembar Kerja Siswa (LKS) PKn ... 32

2. Pendekatan Teori ... 34

a. Tinjauan Teori Kurikulum ... 38

b. Tinjauan Teori Bahan Ajar... 41

c. Tinjauan Teori Evaluasi Pendidikan... 43

d. Tinjauan Hubungan antara Teori Kurikulum, Bahan Ajar, dan Teori Evaluasi Pendidikan... 52

B. Kerangka Pemikiran ... 53

BAB III METODOLOGI A. Tempat Dan Waktu Penelitian ... 55

B. Bentuk dan Strategi Penelitian... 56

C. Sumber Data... 57

D. Teknik Sampling ... 58

E. Teknik Pengumpulan Data... 58

F. Validitas Data... 61

G. Analisis Data ... 62

H. Prosedur Penelitian... 63

BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 64

B. Deskripsi Permasalahan Penelitian ... 80

C. Temuan Studi ... 133

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Kesimpulan ... 141

B. Implikasi ... 143

C. Saran ... 144

DAFTAR PUSTAKA ... 145

(12)

commit to user

xii

DAFTAR TABEL

halaman

Tabel 1. Evaluasi Berbagai Tingkat Pencapaian Tujuan Kurikulum... 35

Tabel 2. Evaluasi Dalam Konteks Tinjauan Ulang Per Komponen ... 36

Tabel 3. Evaluasi Dalam Konteks Pencapaian Tingkat Tertentu Dari Tujuan Kurikulum ... 37

Tabel 4. Pendekatan Teori Kurikulum ... 39

Tabel 5. Rencana Waktu Penelitian... 55

Tabel 6. Standar Kompetens dan Kompetensi Dasar PKn SMP... 71

Table 7. Daftar SMP di Surakarta ... 75

Tabel 8. Contoh Daftar Guru SMP di Surakarta ... 78

Tabel 9. Penggunaan LKS di SMP Surakarta ... 82

Tabel 10. Analisis SKL, SK, KD... 83

Tabel 11. Materi Usaha Pembelaan Negara KD 1.1 LKS MGMP ... 86

Tabel 12. Materi Usaha Pembelaan Negara KD 1.2 LKS MGMP ... 87

Tabel 13. Materi Usaha Pembelaan Negara KD 1.3 LKS MGMP ... 88

Tabel 14. Analisis Relevansi Materi Usaha Pembelaan Negara ... 89

Tabel 15. Materi Pelaksanaan Otonomi Daerah KD 2.1 LKS MGMP ... 90

Tabel 16. Materi Pelaksanaan Otonomi Daerah KD 2.2 LKS MGMP ... 91

Tabel 17. Analisis Relevansi Materi Pelaksanaan Otonomi Daerah... 92

Tabel 18. Analisis Konsistensi Materi Usaha Pembelaan Negara dan Pelaksanaan Otonomi Daerah ... 94

Tabel 19. Analisis Kecukupan Materi Usaha Pembelaan Negara dan Pelaksanaan Otonomi Daerah ... 99

Tabel 20. Materi Usaha Pembelaan Negara KD 1.1 LKS FOKUS ... 101

Tabel 21. Materi Usaha Pembelaan Negara KD 1.2 LKS FOKUS ... 102

Tabel 22. Materi Usaha Pembelaan Negara KD 1.3 LKS FOKUS ... 103

Tabel 23. Analisis Relevansi Materi Usaha Pembelaan Negara... 103

Tabel 24. Materi Pelaksanaan Otonomi Daerah KD 2.1 LKS FOKUS ... 105

(13)

commit to user

xiii

Tabel 26. Analisis Relevansi Materi Pelaksanaan Otonomi Daerah ... 106

Tabel 27. Analisis Konsistensi Materi Usaha Pembelaan Negara dan Pelaksanaan Otonomi Daerah ... 108

Tabel 28. Analisis Kecukupan Materi Usaha Pembelaan Negara dan Pelaksanaan Otonomi Daerah ... 110

Tabel 29. Analisis Hasil Berdasarkan Perspektif Civics Education... 116

Tabel 30. Hasil FGD Untuk Materi Dalam LKS... 120

Tabel 31. Hasil Analisis Evaluasi Dalam Modul PKn Kelas IX semester Ganjil Buatan MGMP... 123

Tabel 32. Hasil Analisis Evaluasi Dalam LKS Fokus PKn Kelas IX Semester Ganjil Buatan Penerbit... 126

Tabel 32. Hasil Untuk Evaluasi Dalam LKS ... 131

Tabel 33. Hasil Penemuan Pada Materi LKS MGMP dan FOKUS ... 139

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

halaman Gambar 1. Bagan Ringkasan Perubahan Struktur Perilaku Belajar

Kognitif ... 27

Gambar 2. Bagan Hierarki Perilaku Belajar Afektif ... 30

Gambar 3. Bagan Hierarki Perilaku Belajar Afektif ... 31

Gambar 4. Bagan Model Evaluasi mengikuti alur struktur kurikulum... 34

Gambar 5. Alur Analisis Penyusunan Bahan Ajar ... 43

Gambar 6. Skema Kerangka Berpikir... 54

(15)

commit to user

xv

DAFTAR LAMPIRAN

halaman

Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Wawancara Deskripstif ... 148

Lampiran 2. Daftar Pertanyaan Wawancara Materi ... 149

Lampiran 3. Daftar Pertanyaan Wawancara Evaluasi... 150

Lampiran 4. Silabus Mata Pelajaran PKn Kelas IX Semester Ganjil ... 151

Lampiran 5. Instrumen Penilaian Modul untuk SMP dari BSNP ... 156

Lampiran 6. Instrumen FGD Materi... 163

Lampiran 7. Instrumen FGD Evaluasi... 165

Lampiran 8. Pedoman Wawancara... 169

Lampiran 9. Pedoman Focus Group Discussion (FGD) ... 170

Lampiran 10. Pedoman Analisis Dokumen ... 171

Lampiran 11. Hasil Petikan Wawancara ... 172

Lampiran 12. Hasil Analisis Instrumen FGD ... 184

Lampiran 13. Hasil Simpulan FGD... 185

Lampiran 14. LKS PKn Kelas IX Semester Ganjil buatan MGMP dan ... 187

Lampiran 15. LKS PKn Kelas IX semester ganjil buatan Penerbit ... 252

Lampiran 16. Daftar Pengurus dan Anggota MGMP PKn SMP Surakarta ... 319

Lampiran 17. Surat Permohonan Ijin Research/Try Out ke Rektor... 327

Lampiran 18. Surat Permohonan Ijin Research/Try Out ke MGMP PKn SMP Surakarta... 328

Lampiran 19. Surat Permohonan Ijin Menyusun Skripsi ... 329

Lampiran 20. Surat Keputusan Dekan tentang Ijin Menyusun Skripsi ... 330

Lampiran 21. Surat Ijin Penelitian dari Disdikpora Surakarta ... 331

(16)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia sebagai negara yang berkembang memiliki cita-cita dan tujuan agar menjadi negara yang kuat, berkarakter, dan tetap eksis di mata negara lain. Cita-cita negara Indonesia adalah menjadi negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Tujuan negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Dasar 1945, dimana Cita-cita dan tujuan negara Indonesia tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Cita-cita negara Indonesia tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 alinea kedua “... negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur” (Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2009:3).

Tujuan Negara Indonesia tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat.

… membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, … (Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2009:4)

Cita-cita dan tujuan tersebut dijadikan sebagai pedoman negara Indonesia untuk melakukan perbaikan dan pembangunan di segala bidang, baik bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan serta dalam bidang pendidikan. Pembangunan di segala bidang inilah yang menjadi tugas bangsa Indonesia untuk dapat melaksanakannya sebagai sarana mencapai cita-cita dan tujuan negara tersebut. Pembangunan bidang pendidikan di Indonesia berorientasi pada tujuan negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsanya.

(17)

Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Pendidikan anak didik dipersiapkan menjadi manusia yang bertaqwa, beriman, berakhlak mulia, memiliki ketrampilan serta dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai mahkluk pribadi maupun anggota masyarakat. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 ditetapkan bahwa “ Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang ” (http://dpr.go.id/undang-undang, diakses tanggal 2 Maret 2010). Ada tiga jalur pendidikan yaitu pendidikan informal, formal, dan nonformal. Pendidikan informal merupakan pendidikan yang terjadi didalam lingkungan keluarga berlangsung alamiah dan wajar. Pendidikan formal merupakan pendidikan yang dilakukan di sekolah secara sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan yang ketat seperti harus berjenjang dan berkesinambungan. Pendidikan nonformal merupakan pendidikan dilingkungan masyarakat seperti kursus dan kelompok belajar yang tidak dipersyaratkan berjenjang dan berkesinambungan serta dengan aturan yang lebih longgar. Di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, dijelaskan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (http://dpr.go.id/undang-undang, diakses tanggal 2 Maret 2010).

Pendidikan hendakanya diimplementasikan melalui sistem pendidikan yang jelas dan mampu membawa perubahan sesuai dengan perkembangan dan tujuan dari pendidikan nasional itu sendiri. Menurut Michele Jacobsen (2009:1) “Educators and the education system need to be responsive to both the

(18)

masyarakat. Sistem pendidikan tersebut perlu sebuah kurikulum sebagai sarana mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 1 ayat 19 menyatakan bahwa “ Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. (http://dpr.go.id/undang-undang, diakses tanggal 2 Maret 2010). Kurikulum tidak hanya sekedar mempelajari mata pelajaran, tetapi mengembangkan pikiran, menambah wawasan, serta mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya. Kurikulum yang baik yaitu kurikulum yang memiliki sifat berkesinambungan. Kurikulum tersebut disusun dengan maksud agar tidak terjadi jurang yang memisahkan antara jenjang pendidikan dasar dengan jenjang pendidikan selanjutnya. Pengembangan kurikulum mengacu pada kemampuan dasar siswa yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah.

Pembelajaran menurut Corey dalam Syaiful Sagala (2009:61) adalah “suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan”. Menurut Jay R. Wilson Richard A. Schwier (2009:3), To create a successful authentic learning experience there is a need to find a proper mix between the students' world and the world of work

they are about to enter, a sensitive balance that requires flexibility and sensitivity

(19)

meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.

Peningkatan penguasaan terhadap materi pelajaran perlu dilakukan oleh setiap pendidik melalui pengembangan bahan ajar masing-masing mata pelajaran. Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Menurut Depdiknas dalam sosialisasi KTSP 2007, ”Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis”. (http://mgmpips.wordpress.com, diambil tanggal 2 Maret 2010). Sedangkan bentuk bahan ajar dapat berupa : a) Bahan cetak seperti: hand out, buku teks, modul, lembar kerja siswa,b) Bahan noncetak seperti: OHT, audio ( radio, kaset, CD audio, CD interaktif, PH ), slide, video/film, VCD, dan komputer (computer Based, Internet), c) Bahan display seperti: flipchart, adhesive, chart, poster, peta, foto, realita, gambar, model/maket.

(20)

domain), aspek afektif (affective domain), dan psikomotor (psychomotor domain). Ini sangat berguna bagi evaluasi pendidikan/pengajaran”.

Berdasarkan beberapa ahli bidang pendidikan tersebut maka pendidik dapat menggunakan salah satu bentuk bahan ajar yang berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam mendukung dan melengkapi proses pembelajaran. Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang berupa buku, berisi ringkasan materi dan evaluasi. Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat digunakan guru untuk membantu siswa memahami materi yang didapat oleh siswa di sekolah. Ringkasan materi dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sehingga jika merujuk pendapat Aunurruhman (2009:79), maka LKS sebagai salah satu bahan ajar harus mendasarkan pada prinsip-prinsip pemilihan atau pengembangan bahan ajar , sedangkan evaluasi yang berupa butir-butir soal merupakan pengembangan konsep dari materi yang diajarkan di sekolah, sehingga jika merujuk pendapat Nana Sudjana (2006:22-23) dan Slameto (2001:145) maka evaluasi yang berupa soal-soal dalam LKS harus memperhatikan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

(21)

dengan maksud memperdalam pengetahuan tentang topik yang telah dipelajari pada tahap sebelumnya yaitu penanaman konsep.

Merujuk dari manfaat LKS tersebut sebagai pendukung untuk memperdalam penelitian mengenai LKS, berikut ini merupakan hasil penelitian terdahulu yang meneliti mengenai LKS : 1) Penelitian yang dilakukan oleh Ida Septi Ekosari (2009) tentang “Penerapan Media Lembar Kerja Siswa Dalam Meningkatkan Efektifitas Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di Kelas VII (Studi Kasus Di SMP Negeri 2 Sidoharjo, Sragen, Tahun Ajaran 2008/2009” membuktikan bahwa Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) lebih efektif dan ada pengaruh yang positif dari pada tidak menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) bila digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIIB di SMP Negeri 2 Sidoharjo, Sragen. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa LKS merupakan salah satu bahan ajar yang dapat digunakan untuk mengefektifkan pembelajaran siswa, sehingga sebagai konsekuensi untuk keberlanjutannya perlu diperhatikan materi muatan atau subtansi dan latihan soal dari LKS yang telah disusun tersebut. Materi muatan dan latihan-latihan tersebut selalu di sesuaikan dengan perkembangan dalam dunia pendidikan. 2) Penelitian Wili Astuti dan Anam Sutopo (2007) tentang “Analisis Lembar Kerja Siswa (LKS) Bahasa Inggris Untuk SLTP Sebagai Media Proses Belajar Mengajar Bagi Guru Dan Murid : Studi Kasus Di Surakarta“, memperoleh hasil bahwa Lembar Kerja Siswa Bahasa Inggris SLTP digunakan sebagai buku acuan utama dalam kegiatan belajar-mengajar. Hal ini membuktikan bahwa guru kecenderungan menggunakan LKS sebagai sumber utama belajar, sehingga pengetahuan dan ketrampilam siswa akan terbatas pada subtansi yang ada pada LKS.

(22)

Laporan penelitian yang sudah ada didukung dengan fakta-fakta yang muncul disekolah-sekolah, ternyata LKS digunakan oleh semua sekolah baik di tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas sebagai sarana membantu guru dalam melengkapi proses pembelajaran. LKS tersebut ada yang disusun oleh MGMP sendiri, ada pula hasil dari Penerbit yang mencetak LKS untuk sekolah-sekolah. Perkembangan yang muncul disekolah ternyata pendidik kecenderungan menggunakan LKS sebagai sarana yang pokok harus dimiliki oleh setiap peserta didik, sehingga peserta didik minimal mempunyai LKS sebagai bahan untuk belajar. Pendidik lebih mudah dalam memberikan latihan atau upaya memperdalam penguasaan materi terhadap peserta didik. Akan tetapi terdapat hal-hal yang tidak diperhatikan oleh pendidik bahwa LKS itu dibuat oleh MGMP atau penerbit yang bervariasi, sehingga hasilnya akan mempunyai karakteristik masing-masing. Pendidik kecenderungan tidak pernah menganalisa ringkasan materi dalam LKS tentang kesesuaiannya dengan prinsip pengembangan bahan ajar dan analisa soal-soal latihan yang ada di LKS sudah tepat atau belum dengan prinsip pengembangan evaluasi pendidikan. Hal itu yang sering tidak diperhatikan oleh pendidik sehingga kecenderungan yang muncul hanyalah yang penting ada LKS untuk latihan siswa.

Hasil penelitian terdahulu deskriptif dengan Guru PKn tersebut, menunjukkan LKS sangat baik jika digunakan dalam proses belajar disekolah guna membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru dan LKS yang digunakan selama ini ditingkat SMP masih banyak pengulangan baik materi dan soal-soal dari kompetensi dasar satu dengan kompetensi dasar lainnya. Kedua hal tersebut menjadi inspirasi peneliti untuk menganalisa sebuah LKS PKn di tingkat SMP. Peneliti mengambil LKS PKn kelas IX untuk dianalisis dengan alasan bahwa Kelas IX merupakan jenjang pendidikan tingkat SMP yang terakhir sehingga sangat memerlukan sebuah materi dan evaluasi yang tepat untuk mata pelajaran PKn sebagai persiapan dalam menghadapi ujian kelulusan di tingkat SMP.

(23)

pengembangan bahan ajar dan evaluasi pendidikannya. Penelitian tersebut mengambil lokasi di SMP Surakarta, sebab sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah dimana bahan ajar yang digunakan oleh siswa dalam membantu proses pembelajaran berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dalam penelitian ini peneliti mengajukan beberapa perumusan masalah, dengan harapan agar lebih memfokuskan pembahasan dalam penelitian ini. Adapun beberapa rumusan masalah tersebut sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengembangan prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan pada ringkasan materi di Lembar Kerja Siswa (LKS) Pendidikan Kewarganegaraan Kelas IX di SMP Surakarta untuk semester ganjil?

2. Bagaimanakah pengembangan evaluasi Lembar Kerja Siswa (LKS) Pendidikan Kewarganegaraan Kelas IX untuk semester ganjil di SMP Surakarta dilihat dari sasaran evaluasi pendidikan yang berupa ranah kognitif, afektif, dan psikomotor untuk semester ganjil?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah jawaban terhadap permasalahan yang dikaji dalam penelitian. Adapun tujuan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengembangan prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan pada ringkasan materi di Lembar Kerja Siswa (LKS) Pendidikan Kewarganegaraan Kelas IX di SMP Surakarta untuk semester ganjil.

(24)

sasaran evaluasi pendidikan yang berupa ranah kognitif, afektif, dan psikomotor untuk semester ganjil.

D. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini, dapat diambil manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat penelitian tersebut sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang lebih terhadap disiplin ilmu yang bersangkutan. Dengan penelitian ini diharapakan dapat memberikan perbaikan terhadap materi dan soal Lembar Kerja Siswa (LKS) kewarganegaraan di SMP untuk beberapa standar kompetensi. Sehingga dengan adanya perbaikan tersebut relevansi, ketepatan dan konsistensi dari materi Lembar Kerja Siswa (LKS) kewarganegaraan di SMP dapat diciptakan dan soal-soal Lembar Kerja Siswa (LKS) lebih merujuk pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Penulis

(25)

b. Bagi Pendidik

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumbangan bagi pendidik khususnya di SMP untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam perbaikan materi yang diajarkan dan soal-soal yang diberikan, serta digunakan sebagai evaluasi bagi guru atau pendidik terhadap perbaikan materi dan soal yang akan diberikan kepada siswa-siswinya.

c. Bagi Peserta didik

Hasil penelitian ini diharapakan memberikan manfaat bagi peserta didik yaitu menghindarkan kesalahan dalam pemahaman konsep dari materi kewarganegaraan yang diajarakan oleh gurunya dan dapat mengembangkan cara berfikir siswa dengan penguasaan soal-soal yang diberikan. Peserta didik akan memperoleh materi yang lebih mendalam dengan maksud siswa tidak hanya mengetahui konsep materi kewarganegaraan dari segi normatifya saja akan tetapi juga segi empiris dan penguasaan soal-soal yang bervariatif sehingga teori yang diajarkan bila dibuktikan dengan prakteknya akan mendukung dan menunjukkan sinkronisasi.

d. Bagi Pembaca

(26)

commit to user

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Pendekatan Konsep

Berdasarkan uraian latar belakang, peneliti mencoba mengkaji mengenai konsep yang mendukung rencana penelitian mengenai Lembar Kerja Siswa (LKS) Pendidikan Kewarganegaraan Kelas IX. “Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik eksplisit maupun implisit (tersembunyi)” (Syaiful Sagala, 2009:11). Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa belajar merupakan bagian dari ilmu pendidikan yang mempunyai tujuan untuk merubah tingkah laku manusia menjadi lebih dewasa dan berpedoman pada bahan ajar setiap masing-masing mata pelajaran.

Bahan ajar memiliki posisi amat penting dalam pembelajaran. Posisinya sebagai representasi (wakil) dari penjelasan guru di depan kelas. Keterangan-keterangan guru, uraian-uraian yang harus disampaikan guru, dan informasi yang harus disajikan guru dihimpun di dalam bahan ajar. Dengan demikian, guru akan dapat mengurangi kegiatannya menjelaskan pelajaran. Di kelas, guru akan memiliki banyak waktu untuk membimbing siswa dalam belajar atau membelajarkan siswa.

Pada sisi lain, bahan ajar berkedudukan sebagai alat atau sarana untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Oleh karena itu, penyusunan bahan ajar hendaklah berpedoman kepada standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), dan standar komepetensi lulusan (SKL). Bahan ajar yang disusun tidak berpedoman pada SK, KD, dan SKL tentu tidak akan memberikan banyak manfaat kepada peserta didik.

Bahan ajar juga merupakan wujud pelayanan satuan pendidikan terhadap Siswa. Pelayanan individual dapat terjadi dengan bahan ajar, melalui bahan ajar

(27)

Siswa tersebut berhadapan dengan bahan yang terdokumentasi. Siswa diharapkan mendapatkan informasi yang konsisten (taat asas). Siswa yang mampu lebih cepat berpikir dalam belajar, akan dapat mengoptimalkan kemampuannya dengan mempelajari bahan ajar, sebaliknya siswa yang lambat berpikir dalam belajar, akan dapat mempelajari bahan ajarnya berulang-ulang. Dengan demikian, optimalisasi pelayanan belajar terhadap siswa dapat terjadi dengan bahan ajar.

Jadi, keberadaan bahan ajar sekurang-kurangnya menempati tiga posisi penting. Ketiga posisi itu adalah sebagai representasi sajian guru, sebagai sarana pencapaian standar kompetensi, kompetensi dasar, standar kompetensi lulusan, dan sebagai pengoptimalan pelayanan terhadap peserta didik.

Dari penjelasan diatas mengenai keberadaan bahan ajar yang saat penting, maka harus dipahami lebih jauh mengenai pengembangan bahan ajar. Berikut ini penjelasan mengenai pengembangan bahan ajar :

a. Hakikat Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Kewarganegaraan

(PKn)

1) Pengertian Bahan Ajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. ”Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis” (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency

Based Training dalam Depdiknas, 2007:3). Materi yang terdapat dalam bahan ajar diharapkan dapat dipelajari siswa sebagai sarana untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Materi tersebut merujuk pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Dari pengertian diatas agar bahan ajar dapat berfungsi dengan baik maka harus berciri-ciri sebagai berikut:

a) Menimbulkan minat baca

b) Ditulis dan dirancang untuk siswa c) Menjelaskan tujuan instruksional

(28)

e) Struktur berdasarkan kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan dicapai.

f) Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih g) Mengakomodasi kesulitan siswa

h) Memberikan rangkuman

i) Gaya penulisan komunikatif dan semi formal j) Kepadatan berdasar kebutuhan siswa

k) Dikemas untuk proses instruksional

l) Mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari siswa

m) Menjelaskan cara mempelajari bahan ajar. (Depdiknas, 2007:11) Konsep diatas merupakan konsep bahan ajar secara umum, sedangkan untuk pengembangan bahan ajar pendidikan kewarganegaraan (PKn) meliputi tiga komponen yang perlu dikembangkan dan diajarkan. Menurut Branson dalam Udin S. Winataputra dan Dasim Budimansyah, (2007:186) tiga komponen Pendidikan Kewarganegaraan yaitu ”civic knowledge, civic skill, dan civic disposition”. Dari ketiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

(29)

mengevaluasi pemerintahan terbatas yang didirikan serta penyebaran dan pembagian kekuasaan yang dilakukan. Warganegara memahami dasar-dasar justifikasi sistem pembatasan,penyebaran dan pembagian kekuasaan dan mampu bertanggung jawab memastikan hak-hak individu terlindungi. Keempat, membantu warganegara untuk memahami peran Indonesia di dunia dengan politik luar negerinya dan peran pemerintah/non pemerintah dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi. Kelima, membantu warganegara memahami perannya dalam keterlibatan pada kehiduan politik dan civil society sehingga pencapaian tujuan individu dan tujuan publik cenderung seiring dengan partisipasi mereka dalam kehidupan politik dan civil society.

Civic Skill (kecakapan kewarganegaraan) yang meliputi kecakapan inteektual dan kecakapan partisipatoris. Kecakapan intelektual kewarganegaraan merupakan kemampua mendeskripsikan yaitu mendeskripsikan fungsi-fungsi dan proses-proses seperti cheks and balances atau judicial review menunjukkan adanya pemahaman. Melihat dengan jelas dan mendeskripsikan kecenderungan-kecenderungan seprti berpartisipasi dalam kehidupan kewarganegaraan, imigrasi, atau pekerjaan, membantu warga negara untuk selalu menyesuaikan diri degan peristiwa-peristiwa yang sedang aktual dalam pola jangka waktu yang lama. Sedangkan kecakapan partisipatoris merupakan kecakapan yang berupa partisipasi yang bertanggung jawab, efektif, dan ilmiah dalam proses politik dan dalam civil society. Kecakapan partisipatoris sangat penting dikembangkan sejak awal sekolah dan berlanjut selama masa sekolah.

(30)

berpartisipasi dalam urrusan-urusan kewarganegaraan secara efektif dan bijakasana, mengembangkan berfungsinya demokrasi konstitusional secara sehat.

Jadi penulis dapat menyimpulkan bahwa bahan ajar pendidikan kewarganegraan adalah seperangkat materi PKn yang mengandung civic knowledge, civic skill, dan civic disposition yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.

2) Bentuk Bahan Ajar Pendidikan Kewarganegraan (PKn)

Bentuk bahan ajar Pendidikan Kewarganegraan (PKn) dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: “bahan ajar cetak, bahan ajar noncetak, bahan ajar display”. Ketiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Bahan cetak

Bahan ajar cetak adalah sejumlah bahan yang disiapkan dalam kertas, yang dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran dan penyampaian informasi. Contohnya adalah buku teks, modul, handout, dan lembar kerja siswa. Bahan ajar cetak tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan bahan ajar cetak adalah: (1)mudah diperoleh dan dibawa ke mana-mana (2)mudah dipelajari kapan dan di mana pun

(3)tidak memerlukan alat khusus untuk menggunakannya

(4)pengirimannya relatif mudah dan murah dibanding media lainnya, serta (5)merupakan media yang paling canggih untuk mengembangkan kemampuan

siswa untuk belajar tentang fakta dan prinsip-prinsip umum serta abstrak dengan menggunakan argumentasi yang logis.

Kekurangan bahan ajar cetak adalah: (1)tidak mampu mempresentasikan gerakan

(2)pemaparan materi dalam bahan ajar cetak cenderung linier (3)tidak mampu mempresentasikan kejadian secara berurutan

(31)

(5)membutuhkan kemampuan baca yang tinggi dari pembacanya

(6)tidak dapat atau sulit memberikan bimbingan kepada pembacanya yang mengalami kesulitan memahami bagian tertentu dari bahan ajar tersebut (7)sulit untuk memberikan umpan balik untuk pertanyaan-pertanyaan kompleks

yang memiliki kemungkinan banyak jawaban. b) Bahan noncetak

Bahan ajar noncetak adalah bahan ajar yang berisi materi materi tulisan atau gambar yang dapat ditampilkan di dalam kelas dengan menggunakan alat proyeksi. Bahan ajar noncetak dapat dicontohkan seperti: OHT, audio (radio, kaset, CD audio, CD interaktif, PH), slide, video/film, VCD, dan komputer (computer Based, Internet). Bahan ajar noncetak tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan bahan ajar noncetak secara umum adalah:

(1)dapat menggambarkan gerakan, keterkaitan, dan memberikan dampak terhadap topik yang dibahas

(2)dapat dikombinasikan antara gambar dengan gerakan (3)fleksibel dan mudah diadaptasi.

Kekurangan bahan ajar noncetak secara umum adalah: (1)pada umumnya membutuhkan alat khusus untuk menggunakannya (2)tidak kompatibel antarjenis yang ada

(3)aliran informasi yang disampaikan sangat fixed. c) Bahan ajar display

Bahan ajar display adalah jenis bahan ajar yang berisi materi tulisan atau gambar yang dapat ditampilkan di dalam kelas, di kelompok kecil atau siswa secara perseorangan tanpa menggunakan alat proyeksi.

Bahan ajar display dapat dicontohkan seperti: flipchart, adhesive, chart, poster, peta, foto, realita, gambar, model/maket. Bahan ajar display tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan bahan ajar display secara umum adalah:

(32)

(3)dapat dikembangkan sendiri oleh guru yang memiliki bakat seni dan dapat dikembangkan untuk hampir semua mata pelajaran

(4)display yang bagus mampu menarik perhatian siswa, merangsang minat (5)mampu memperjelas arti, dan mampu menyederhanakan informasi yang

kompleks.

Kekurangan bahan ajar display secara umum adalah:

(1)terlalu kecil untuk dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, kecuali yang telah dirancang khusus untuk keperluan itu, serta

(2)jenis bahan ajar display merupakan media diam, sehingga tidak cocok untuk mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan gerakan.

3) Langkah-Langkah Pemilihan Bahan Ajar Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn)

Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu diketahui kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru di satu pihak dan harus dipelajari siswa di lain pihak hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk pada standar kompetensi. Setelah diketahui kriteria pemilihan bahan ajar, sampailah kita pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar.

Secara garis besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi pertama-tama mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Langkah ketiga memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi. Terakhir adalah memilih sumber bahan ajar. (http://mgmpips.wordpress.com, diakses tanggal 2 Maret 2010)

(33)

a) Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar

Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Setiap aspek standar kompetensi tersebut memerlukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang berbeda-beda untuk membantu pencapaiannya.

b) Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran

Sejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip, dan prosedur (Reigeluth, 1987 : 2).

(1)Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain sebagainya.

(2)Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakekat, inti isi.

(3)Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigma, teorema.

(4)Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut, misalnya langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin atau cara-cara pembuatan bel listrik.

(5)Materi pembelajaran aspek afektif meliputi: pemberian respon, penerimaan (apresisasi), internalisasi, dan penilaian.

(6)Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semi rutin, dan rutin.

(34)

Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup memadai sehingga mempermudah siswa dalam mencapai standar kompetensi. Berpijak dari aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah memilih jenis materi yang sesuai dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut. Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk jenis Kognitif ( fakta, konsep, prinsip, prosedur), afektif, psikomotor atau gabungan lebih daripada satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya. Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan mengajarkannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang berbeda-beda. Misalnya metode mengajarkan materi kognitif yang berupa fakta atau hafalan adalah dengan menggunakan “jembatan keledai”, “jembatan ingatan” (mnemonics), sedangkan metode untuk mengajarkan berupa prosedur adalah “demonstrasi”. Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa kognitif, afektif, atau psikomotorik.

Setelah melakukan langkah pemilihan bahan ajar diatas, kemudian perlu dilakukan pengembangan bahan ajar. Pengembangan bahan ajar dilakukan dengan mendasarkan prinsip-prinsip yang benar dan tepat. Prinsip yang perlu diperhatikan dalam menentukan bahan ajar yang berupa materi pokok dan uraian materi pokok antara lain :

a) Prinsip relevansi, yaitu adanya kesesuaian antara materi pokok dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai

(35)

c) Prinsip adekuasi (kecukupan), yaitu adanya kecukupan materi ajar yang diberikan untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditentukan. (Mimin Haryati, 2007:9)

Ketiga tersebut dijelaskan lebih lengkap oleh Depdiknas (2006 : 6) sebagai berikut: Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi yang digunakan harus relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebagai misal, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan. Tidak hanya merujuk pada satu ranah saja, tentu harus diketahui apakah standar kompetensi tersebut berupa ranah kognitif, afektif atau psikomotor. Jika ranah tersebut kognitif maka perlu perlu diketahui materi yang diberikan harus sesuai atau runtut berdasarkan pada tingkatan materi. Tingkatan materi tersebut harus dimulai dari tingkatan yang paling dasar. Hal tersebut berlaku juga pada ranah afektif dan psikomotor.

Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yang meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Sehingga jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam maka yang diberikan harus merujuk pada empat kompetensi dasar tersebut. Materi yang diberikan merujuk pada lingkup masing-masing kompetensi dasar yang ingin dicapai. Jika kompetensi dasar tersebut pada tingkatan dasar maka materi yang diberikan harus mengarah pada tingkatan dasar tersebut, begitu juga kompetensi dasar yang diharapkan pada tingkatan kedua maka materi yang diberikan harus mengarah pada tingkatan kedua.

(36)

terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya. Jadi materi yang diberikan pada setiap kompetensi dasar harus mencukupi sehingga siswa dapat belajar sesuai sasaran materi sesuai yang ingin dicapai dalam kompetensi dasar. Materi yang diharapkan pada setiap kompetensi dasar yang ingin dicapai harus cukup, misalnya Kompetensi dasar yang ingin dicapai pada kompetensi dasar pada ranah pengetahuan maka materi yang diberikan hanya mengarah pada pengetahuan saja, tidak membahas materi pada tingkatan lain.

Ketiga prinsip relevansi, konsistensi dan kecukupan tersebut dijadikan pula sebagai dasar oleh BSNP dalam mengembangkan materi atau bahan ajar yang mengacu kurikulum KTSP. BSNP lebih mengembangkan ke dalam berbagai indikator yang lebih rinci. Adapun indikator-indikator yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bahan ajar dalam bentuk modul menurut BSNP yaitu : a) Kelayakan Isi meliputi :

(1)Kesesuaian uraian materi dengan SK dan KD : (a) Kelengkapan materi

(b) Keluasan materi (c) Kedalaman materi (2)Keakuratan Materi :

(a) Keakuratan konsep, prinsip dan model

(b) Keakuratan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar (c) Keakuratan urutan penguasaan kompetensi

(3)Materi Pendukung Pembelajaran : (a) Aplikasi konsep dilapangan (b) Penumbuhan Motivasi (c) Pemecahan Masalah (d) Kemutakhiran (e) Pengayaan

b) Kelayakan Penyajian meliputi (1)Teknik Penyajian :

(37)

(b) Keruntutan konsep (c) Kemenarikan penyajian (2)Penyajian Pembelajaran :

(a) Keterpusatan pada peserta didik (b) Penyajian masalah kontekstual (3)Kelengkapan Penyajian

(a) Bagian Pendahuluan (b) Bagian Isi

(c) Bagian Penyudah/Penutup c) Kelayakan Kebahasaan meliputi

(1)Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik :

(a) Kesesuaian dengan tingkat perkembangan berpikir peserta didik (b) Kesesuaian dengan tingkat perkembangan sosio-emosional peserta

didik

(2)Penyajian Pembelajaran : (a) Keterbacaan pesan

(b) Ketepatan tata bahasa, ejaan dan istilah (3)Keruntutan dan Kesatuan Gagasan

(a) Keruntutan dan keterpaduan antar bab (b) Keruntutan dan keterpaduan antar paragraf

b. Hakikat Evaluasi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

Evaluasi mempunyai arti yang berbeda untuk guru yang berbeda, berikut beberapa arti yang telah secara luas dapat diterima oleh para guru di lapangan. Menurut Cross dalam Sukardi (2008:1) “Evaluation is process which determines the extent to which objectives have been achievied”. Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi dimana satu tujuan telah dapat dicapai.

Evaluasi yang diberikan tersebut mempunyai karakteristik dan fungsi. Menurut Sukardi (2008:1) “Karakteristik evaluasi, meliputi :

1) Memiliki implikasi tidak langsung terhadap siswa yang dievaluasi 2) Lebih bersifat tidak lengkap

(38)

Menurut Sukardi (2008:2) Fungsi evaluasi, meliputi :

1) Sebagai alat guna mengetahui apakah peserta didik telah menguasai pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan yang telah diberikan oleh seorang guru

2) Untuk mengetahui aspek-aspek kelemahan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar

3) Mengetahui tingkatb ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar 4) Sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru yang bersumber dari siswa

5) Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa 6) Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa

Setelah diketahui karakteristik dan fungsi evaluasi tersebut, maka perlu dipahami mengenai sasaran evaluasi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang berupa ranah kognitif, afektif dan psikomotorik dapat diketahui dengan memahami konsep penilaian aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Menurut Mimin Haryati (2008:22-27) “Penilaian aspek kognitif, yaitu penilaian yang mencakup pengetahuan, pemahaman, aplikasi/penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Penilaian aspek afektif yaitu penilaian yang mencakup penerimaan, menanggapi atau tanggapan, peneilaian dan penentuan sikap, mengorganisasi atau mengelola dan menghayati atau karakterisasi. Penilaian aspek psikomotor yaitu imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, naturalisasi”.

Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ini: 1) Ranah kognitif

(39)

Ranah kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda seperti yang diungkapkan taksonomi Benyamin S Bloom yang telah direvisi oleh Lorin W. Anderson dan David W Krathwohl yaitu :

a) Mengingat

Pada tingkatan yang paling rendah ini siswa dituntut untuk mengingat informasi atau hal-hal yang telah dipelajari dan tersimpan di dalam ingatan. Pengetahuan tersebut dapat berkenaan dengan fakta, konsep, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip atau metode, prosedur. Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain sebagainya. Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakekat, inti isi. Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigma, teorema. Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa dapat menjelaskan pengertian Negara

(2) Siswa dapat menyebutkan nama-nama Presidan Indonesia dari pertama sampai sekarang

(3) Siswa dapat menggambarkan kembali struktur kelembagaan Negara Indonesia

(4) Siswa dapat menyebutkan tanggal dan tempat terjadinya peristiwa sejarah

(5) Siswa dapat menyebutkan bunyi pasal 1 ayat 1 di dalam UUD b) Memahami

Pada tingkatan kedua setelah pengetahuan ini siswa dituntut untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui atau menangkap sari dan makna hal-hal yang dipelajari dengan kata-katanya sendiri. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa dapat menjelaskan kembali pengertian Negara dengan kata-katanya sendiri

(40)

c) Mengaplikasikan

Pada tingkatan ini siswa dituntut mampu menggunakan atau menerapakan informasi, metode , kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru, serta memecahkan masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku ini misalnya tampak dalam kemapuan menggunakan prinsip. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa dapat mencegah terjadinya korupsi saat kegiatan ulangan berlangsung

(2) Siswa dapat menyelidiki hal-hal yang mengakibatkan korupsi (3) Siswa dapat menyesuaikan diri dalam pelembagaan globalisasi d) Menganalisis

Pada tingkatan ini siswa dituntut mampu untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik dan mampu mengidentifikasi, memisahkan, membedakan komponen-konponen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesis atau kesimpulan. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa dapat mengaitkan kondisi yang terjadi di dalam masyarakat dengan aturan yang terdapat di dalam Perda di daerah masing-masing.

(2) Siswa dapat menyeleksi antara hak dan kewajiban sebagai warga Negara

(3) Siswa dapat menyimpulkan hal-hal yang terjadi akibat pertikaian antar suku

e) Mengevaluasi

Pada tingkatan level tertinggi ini siswa mampu membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu, membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk dengan kriteria tertentu. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa mampu mengkritik kinerja Pemerintah Daerah di tempat tinggal siswa

(41)

f) Mencipta

Pada tingkatan ini siswa mampu mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan sehingga terbentuk suatu pola baru, misalnya tampak di dalam kemampuan menyusun suatu program kerja. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa dapat memadukan antara hak dan kewajiban dalam kehidupan di masyarakat

(2) Siswa mampu menanggulangi dampak dari globalisasi

Menurut Mimin Haryati (2007:22) tingkatan belajar kognitif diatas dapat diformulasikan dalam perbandingan jika digunakan sebagai alat untuk menilai soal-soal latihan untuk setiap tingkat disarankan sebagai berikut :

a) Soal untuk menguji tingkat mengingat peserta didik ...40% b) Soal untuk menguji tingkat memahami peserta didik ...20% c) Soal untuk menguji tingkat mengaplikasikan peserta didik ...20% d) Soal untuk menguji tingkat menganalisis peserta didik ...10% e) Soal untuk menguji tingkat mengevaluasi peserta didik ...5% f) Soal untuk menguji tingkat mencipta peserta didik ...5% Menggunakan perbandingan diatas mempermudah guru dalam membuat soal-soal ujian untuk siswa dan terhidar dari kekeliruan dalam membuat soal dalam setiap tingkatan.

(42)

Dimensi Pengetahuan

Gambar 1. Ringkasan Perubahan Struktur dari Kerangka Pikir Asli ke Revisinya (Lorin W Anderson dan David W Krathwohl, 2010 : 403)

Revisi tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa perubahan yang dilakukan oleh Lorin W Anderson dan David W Krathwohl yaitu :

a) Perubahan Penekanan yaitu focus utama revisi pada pengunaan taksonomi pendidikan dalam merencanakan kurikulum,pembelajaran, asesmen dan kesesuaian diantara ketiganya; menyasar pada segmen pembaca terutama guru; contoh-contoh tugas assessment untuk memperjelas makan taksonomi; menekankan pada subkategori.

b) Perubahan Terminologi yaitu nama-nama kategori pokoknya sesuai dengan kerangka tujuan pendidikan; sub-sub kategoripengetahua diberi nama baru dan disusun ulang; sub-subkategori proses kognitif yang berbentuk kata benda diganti dengan kata kerja; nama kategori komprehensi dan sintesis diubah. c) Perubahan Struktur yaitu kata kerja dan kata benda dalam rumusan tujuan

menjadi dimensi-dimensi yang terpisah; Dimensi pengetahuan dan proses kognitif menjadi dasar alat analisis; kategori-kategori proses kognitif tidak membentuk hierarkhi kumulatif; urutan sintesis/mencipta dan Evaluasi/Mengevaluasi ditukar

Komponen Kata Kerja Pengetahuan

Komprehensi

Aplikasi

Analisis

Sintesis

Evaluasi

Mengingat

Memahami

Mengaplikasikan

Menganalisis

Mengevaluasi

Mencipta Dimensi Tersendiri Komponen

Kata Benda

(43)

2) Ranah Afektif

Menurut Pophan dalam Mimin Haryati (2008:36) mengatakan bahwa ”ranah afektif menentukan keberhasilan seorang peserta didik untuk mencapai ketuntasan belajar. Ranah afektif ini mempunyai tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai dan sikap hati yang menunjukan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu”. Sedangkan menurut Aunurrahman (2009 : 51) menyatakan ”tujuan dari afektif ini dari tingkat awal yaitu memperhatikan suatu fenomena sampai pada tingkat yang lebih komplek yang merupakan faktor internal seseorang, seperti kepribadian dan hati nurani”.

Ranah afektif ini terdiri dari lima tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda seperti yang dikutip Aunurrahman (2009 : 51-54). Kelima aspek tersebut meliputi:

a) Penerimaan

Tingkatan ini sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Kesedian siswa mematuhi rambu-ranbu lalu lintas (2) Kemauan siswa dalam mengikuti berita politik di televisi (3) Siswa mampu memilih mana yang baik da mana yang buruk b) Menanggapi atau tanggapan

Tingkatan ini peserta didik tidak hanya memperhatikan fenomena khusus tetapi juga beraksi terhadap fenomena yang ada dan kerelaan, kesediaan memperhatikan dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru (2) Siswa mampu mengajukan pertanyaan

(3) Siswa mengikuti upacara dalam menyambut peringatan Hari Pendidikan Nasional

(44)

Tingkatan ini mencakup penerimaan terhadap suatu nilai, menghargai, mengakui, dan menentukan sikap dan pengakuan secara objektif (jujur) dari siswa. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa dapat memperjelas kondisi di masyarakat sekarang ini akibat globalisasi

(2) Siswa mampu mengusulkan solusi dalam memecahkan masalah pelanggaran peraturan di sekolah

(3) Siswa menyakinkan gura bahwa bahwa ia mampu mengerjakan tugas di sekolah

d) Mengorganisasi atau mengelola

Tingkatan ini mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup. Jadi tahap ini siswa mampu memilih nilai-nilai yang terbaik untuk diterapkan, menentukan dan menerima bahwa nilai-nilai itu lebih dominan dibandingkan nilai yang lain. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa mampu mengubah sikap dia yang buruk menjadi baik (2) Siswa mampu mengklisifikasikan nama tugas pribadi dan mana

tugas kelompok

(3) Siswa mampu membangun dirinya menjadi pemimpin di dalam kelas

e) Menghayati atau karakterisasi

Tingkatan ini mencakup kemampuan menghayati nilai, dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi. Sikap dan perbuatan yang secara konsisten dilakukan oleh siswa selaras dengan nilai-nilai yang dapat diterimanya, sehinnga sikap dan perbuatan itu seolah-olah telah menjadi ciri-ciri perilakunya. Dapat dicontohkan seperti berikut :

(1) Siswa mendengarkan pendapat teman dalam diskusi di kelas (2) Siswa mampu mempengarui siswa yang malas menjadi rajin dalam

meningkatkan potensi mata pelajaran yang tidak di sukai

(45)

Gambar 2. Bagan Hierarki Perilaku Belajar Afektif ( Aunurrahman, 2009 : 54)

3) Ranah Psikomotorik

Ranah psikomotorik ini terdiri dari lima tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda seperti yang dikutip Aunurrahman (2009 : 55-59). Kelima aspek tersebut meliputi:

a) Imitasi

Tingkatan ini siswa harus mampu melakukan kegiatan-kegiatan sederhana dan sama persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya. Contohnya : menirukan proses musyawarah yang dilakukan oleh para wakil rakyat.

b) Manipulasi

Tingkatan ini siswa harus mampu melakukan kegiatan sederhana yang belum pernah dilihatnya tetapi berdasarkan pada pedoman atau petunjuk saja. Contohnya : Siswa dilatih oleh guru untuk melakukan praktek pemilu sesuai dengan petunjuk.

c) Presisi

Tingkatan ini siswa harus mampu melakukan kegiatan yang akurat sehingga menghasilkan produk kerja yang presisi. Contohnya : Siswa datang tepat waktu sesuai jadwal sekolah.

d) Artikulasi

5. Menghayati atau karakterisasi

4. Mengorganisasi atau mengelola

3. Penilaian dan penentuan sikap

2. Menanggapi atau tanggapan

1. Penerimaan

(46)

Tingkatan ini siswa harus mampu melakukan kegiatan komplek dan tepat sehingga produk kerjanya utuh. Contohnya : Guru menyuruh siswa mencari artikel tentang adat istiadat dan siswa mempraktekkan di depan.

e) Naturalisasi

Tingkatan ini siswa harus mampu melakukan kegiatan secara reflek. Contohnya : Seorang siswa yang secara reflek memegang tangan anak kecil yang sedang berlari di jalan ketika sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.

Dari kelima tingkatan belajar psikomotorik diatas dapat dituangkan dalam bentuk bagan sebagai berikut :

Gambar 3. Bagan Hierarki Perilaku Belajar Psikomotorik (Aunurrahman,2009:59)

c. Hakikat Lembar Kerja Siswa Pendidikan Kewarganegraan (PKn)

1) Pengertian Lembar Kerja Siswa Pendidikan Kewarganegraan

(PKn)

Lembar kerja siswa (LKS) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah lembaran-lembaran yang digunakan sebagai pedoman di dalam pembelajaran serta berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik dalam kajian tertentu.. LKS Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sangat baik dipergunakan dalam rangka strategi heuristik maupun ekspositorik. Dalam strategi heuristik LKS Pendidikan Kewarganegraan (PKn) dipakai dalam metode penemuan terbimbing, sedangkan dalam strategi ekspositorik LKS Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dipakai untuk memberikan latihan pengembangan. ”Selain itu LKS Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sebagai penunjang untuk meningkatkan aktifitas siswa

5. Naturalisasi

4. Artikulasi

3. Presisi

2. Manipulasi

1. Imitasi Rendah

(47)

dalam proses belajar dapat mengoptimalkan hasil belajar yang beroriantasi pada pengembangan civic knowledge, civic skill, dan civic disposition” (http://andy.web.id/lks-oh-lks.php, diakses tanggal 5 Februari 2010).

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa LKS Pendidikan Kewarganegraan (PKn) adalah media cetak yang terdiri dari satu atau dua lembar atau lebih yang diberikan kepada setiap siswa disatu kelas dengan tujuan untuk melakukan aktivitas belajar mengajar yang beroriantasi pada pengembangan civic knowledge, civic skill, dan civic disposition.. LKS harus disusun dengan tujuan dan prinsip yang jelas. Menurut Andi adapun ”tujuan meliputi: a) Memberikan pengetahuan dan sikap serta ketrampilan yang perlu dimiliki siswa, b) Mengecek tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disajikan, c) Mengembangkan dan menerapkan materi pelajaran yang sulit dipelajari” (http://andy.web.id/lks-oh-lks.php, diakses tanggal 5 Februari 2010).

Menurut Andi prinsipnya meliputi: a) Tidak dinilai sebagai dasar perhitungan rapor, tetapi hanya diberi penguat bagi yang berhasil menyelesaikan tugasnya serta diberi bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan, b) Mengandung permasalahan, c) Sebagai alat pengajaran, d) Mengecek tingkat pemahaman, e) Pengembangan dan penerapannya, f) Semua permasalahan sudah dijawab dengan benar setelah selesai pembelajaran (http://andy.web.id/lks-oh-lks.php, diakses tanggal 5 Februari 2010)

2) Peran dan Fungsi Lembar Kerja Siswa Pendidikan

Kewarganegraan (PKn)

(48)

bersifat terbuka” (http://andy.web.id/lks-oh-lks.php, diakses tanggal 5 Februari 2010). Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Untuk tujuan latihan

Siswa diberikan serangkaian tugas/aktivitas latihan dalam pendalaman konsep Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Lembar kerja seperti ini sering digunakan untuk memotivasi siswa ketika sedang melakukan tugas latihan.

b) Untuk menerangkan penerapan (aplikasi)

Siswa dibimbing untuk menuju suatu metode penyelesaian soal dengan kerangka penyelesaian dari serangkaian soal-soal untuk mendalami tujuan standar kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Hal ini bermanfaat ketika kita menerangkan penyelesaian soal aplikasi yang memerlukan banyak langkah. Lembaran kerja ini dapat digunakan sebagai pilihan lain dari metode tanya jawab, dimana siswa dapat memeriksa sendiri jawaban pertanyaan itu.

c) Untuk kegiatan penelitian

Siswa ditugaskan untuk mengumpulkan data tertentu, kemudian menganalisis data tersebut. Misalnya dalam penelitian kasus korupsi.

d) Untuk penemuan

Dalam lembaran kerja ini siswa dibimbing untuk menyelidiki suatu keadaan tertentu, agar menemukan pola dari situasi itu dan kemudian menggunakan bentuk umum untuk membuat suatu perkiraan. Hasilnya dapat diperiksa dengan observasi dari contoh yang sederhana.

e) Untuk penelitian hal yang bersifat terbuka

(49)

2. Pendekatan Teori

Menurut pedoman evaluasi kurikulum yang terdapat dalam (http://thpfaperik.ub.ac.id/ujm/mpevaluasi, diakses tanggal 8 Juni 2011), langkah-langkah evaluasi kurikulum antara lain sebagai berikut:

a. Dalam konteks komponen kurikulum, maka evaluasi dilakukan terhadap setiap komponen kurikulum dengan menggunakan hasil belajar sebagai indikator utama. Maka evaluasi akan meliputi:

1) Evaluasi ketercapaian tujuan kurikuler 2) Evaluasi Bahan Ajar

3) Evaluasi Pendistrian Bahan Ajar 4) Evaluasi Model Pembelajaran

5) Evaluasi atas Model Evaluasi Hasil Belajar

Model Evaluasi mengikuti alur struktur kurikulum berikut: Tujuan Kurikuler

Bahan Ajar

Distribusi Bahan Ajar

Metoda Pembelajaran

Evaluasi Hasil Belajar

Gambar 4. Bagan Model Evaluasi mengikuti alur struktur kurikulum (http://thpfaperik.ub.ac.id/ujm/mpevaluasi, diakses tanggal 8 Juni 2011)

(50)

evaluasi dapat diketahui dampak dari tiap tahap masing-masing. Proses tersebut dapat digambarkan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Tabel 1. Evaluasi Berbagai Tingkat Pencapaian Tujuan Kurikulum (http://thpfaperik.ub.ac.id/ujm/mpevaluasi, diakses tanggal 8 Juni 2011)

c. Bagan Alir Prosedur Operasional Evaluasi Kurikulum karena adanya 2 wacana evaluasi seperti disebut diatas, maka bagan alir prosedur operasional dapat pula dibuat tersendiri.

(51)

Tabel 2. Evaluasi Dalam Konteks Tinjauan Ulang Per Komponen (http://thpfaperik.ub.ac.id/ujm/mpevaluasi, diakses tanggal 8 Juni 2011)

2) Wacana II, evaluasi dalam konteks pencapaian tingkat tertentu dari tujuan kurikulum, evaluasi ini melibatkan tidak terlalu banyak pihak pada level evaluasi tingkat. Wacana II tersebut dapat digambarkan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

• Bahan Ajar ke dalam Mata Pelajaran

• Mata Pelajaran dalam satu semester

• Beban Studi Mata Pelajaran

(52)

Tabel 3. Evaluasi Dalam Konteks Pencapaian Tingkat Tertentu Dari Tujuan Kurikulum (http://thpfaperik.ub.ac.id/ujm/mpevaluasi, diakses tanggal 8 Juni 2011)

Menurut pedoman evaluasi kurikulum (hhtp:thpfaperik.ub.ac.id/ujm/mp evaluasi, diakses tanggal 8 Juni 2011), beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa:

a. Evaluasi kurikulum tidak bermaksud untuk membuktikan sesuatu melainkan mengembangkan sesuatu

b. Prinsip dasar evaluasi adalah membandingkan data dengan indikator yang ditetapkan

Gambar

gambar yang dapat ditampilkan di dalam kelas, di kelompok kecil atau siswa
Gambar 1. Ringkasan Perubahan Struktur dari Kerangka Pikir Asli ke
Gambar 2. Bagan Hierarki Perilaku Belajar Afektif  ( Aunurrahman, 2009 : 54)
Gambar 3. Bagan Hierarki Perilaku Belajar Psikomotorik (Aunurrahman,2009:59)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berangkat dari penjelasan di atas terutama mengenai permasalahan yang terkait dengan penggunaan bahan ajar lembar kerja siswa (LKS) di SMP Muhammadiyah 2 Surakarta pada

Contoh teks cerpen karya sastrawan Indonesia yang dapat dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran teks cerpen untuk siswa kelas IX semester ganjil mata pelajaran Bahasa Indonesia. Teks ini dapat dijadikan media untuk memperkenalkan bentuk teks cerpen kepada

Contoh teks cerpen karya sastrawan Indonesia yang dapat dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran teks cerpen untuk siswa kelas IX semester ganjil mata pelajaran Bahasa Indonesia. Teks ini dapat dijadikan media untuk memperkenalkan bentuk teks cerpen kepada