Draft Peraturan Walikota 1 DRAFT PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA
NOMOR ……….. TAHUN 2016 TENTANG
RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN KAWASAN SLAMET RIYADI (UKM AMPLANG)
KOTA SAMARINDA
DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA WALIKOTA SAMARINDA,
Menimbang : a. bahwa perkembangan industri dan perdagangan di Kawasan Samet Riyadi Kelurahan Teluk Lerong Ulu Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda saat ini semakin berkembang sehingga membutuhkan pengendalian dalam pertumbuhannya serta membutuhkan prasarana dan sarana pendukung, sebagai pusat kegiatan UKM Amplang Kota Samarinda;
b. bahwa sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda Tahun 2014-2034 telah menetapkan Kelurahan Teluk Lerong Ulu Kecamatan Sungai Kunjang sebagai pusat pelayanan lingkungan (PPL).
c. bahwa untuk penataan Kawasan Samet Riyadi Kelurahan Teluk Lerong Ulu Kecamatan Sungai Kunjang dipandang perlu menetapkan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan; dan
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu ditetapkan dalam suatu Peraturan Walikota;
Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman;
2. Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;
3. Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
4. Undang-undang RI No. 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang;
5. Undang-undang RI No. 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung;
6. Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup;
7. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah;
Draft Peraturan Walikota 2 8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15 Tahun
2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;
9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 tahun
2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
11. Peraturan Menteri PU Nomor 29/PRT/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di KawasanPerkotaan; 13. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
18/PRT/M/.2010 tentang Pedoman Revitalisasi Kawasan; 14. Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
03/SE/M/2009 tentang Modul Sosialisasi Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;
15. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;
16. Peraturan Menteri PU Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan;
17. SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan;
18. Surat Edaran Direktur Jenderal Cipta Karya Nomor 01/SE/DC/2009 perihal Modul Sosialisasi Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;
19. Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda Tahun 2014-2034
20. Peraturan Daerah/ Rancangan Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung pada Kabupaten/ Walikota tempat lokasi studi.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG RENCANA TATA
BANGUNAN DAN LINGKUNGAN KAWASAN SLAMET RIYADI (UKM AMPLANG) KOTA SAMARINDA
Draft Peraturan Walikota 3 BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1. Pemerintah adalah Pemerintah Republik Indonesia.
2. Daerah yang selanjutnya disebut Kota adalah Kota Samarinda.
3. Pemerintah Kota adalah penyelenggara pemerintahan Kota yang terdiri dari Walikota dan Perangkat Daerah Kota.
4. Walikota adalah Walikota Samarinda.
5. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
6. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang, baik direncanakan maupun tidak direncanakan.
7. Penataan ruang adalah suatu proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
8. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. Adapun yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk lingkungan secara hirarkis dan saling berhubungan satu dengan lainnya, sedangkan yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah tata guna tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya dalam wujud penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya.
9. Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Samarinda.
10. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan. 11. Dokumen RTBL adalah dokumen yang memuat materi pokok RTBL sebagai
hasil proses identifikasi, perencanaan dan perancangan suatu lingkungan/ kawasan, termasuk di dalamnya adalah identifikasi dan apresiasi konteks lingkungan, program peran masyarakat dan pengelolaan serta pemanfaatan asset properti kawasan.
12. Penataan bangunan dan lingkungan adalah kegiatan pembangunan untuk merencanakan, melaksanakan, memperbaiki, mengembangkan atau melestarikan bangunan dan lingkungan/kawasan tertentu sesuai dengan prinsip pemanfaatan ruang dan pengendalian bangunan gedung dan lingkungan secara optimal, yang terdiri atas proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung dan lingkungan.
Draft Peraturan Walikota 4 13. Pembinaan pelaksanaan adalah kegiatan pengaturan, pemberdayaan, dan
pengawasan yang ditujukan untuk mewujudkan efektivitas peran para pelaku penyelenggara penataan bangunan dan lingkungan (pemerintah, masyarakat dan dunia usaha) pada tahap penyusunan RTBL, penetapannya menjadi peraturan gubernur/Walikota/walikota, pelaksanaan pembangunan, dan peninjauan kembali/evaluasi terhadap penerapan RTBL.
14. Program Bangunan dan Lingkungan adalah penjabaran lebih lanjut dari perencanaan dan peruntukan lahan yang telah ditetapkan untuk kurun waktu tertentu yang memuat jenis, jumlah, besaran, dan luasan bangunan gedung serta kebutuhan ruang terbuka hijau, fasilitas umum, fasilitas soial, prasarana aksesibilitas, sarana pencahayaan dan sarana penyehatan lingkungan, baik berupa penataan prasarana dan sarana yang sudah ada maupun baru.
15. Rencana Umum dan Panduan Rancangan adalah ketentuan-ketentuan tata bangunan dan lingkungan pada suatu lingkungan/kawasan yang memuat rencana peruntukan lahan makro dan mikro, rencana perpetakan, rencana tapak, rencana sistem pergerakan, rencana aksesibilitas lingkungan, rencana prasarana dan sarana lingkungan, rencana wujud visual bangunan, dan ruang terbuka hijau.
16. Rencana Investasi adalah rujukan bagi para pemangku kepentingan untuk menghitung kelayakan investasi dan pembiayaan suatu penataan, sehingga terjadi kesinambungan pentahapan pelaksanaan pembangunan.
17. Ketentuan Pengendalian Rencana adalah ketentuan-ketentuan yang bertujuan untuk mengendalikan berbagai rencana kerja, program kerja maupun kelembagaan kerja pada masa pemberlakuan aturan dalam RTBL dan pelaksanaan penataan suatu kawasan.
18. Pedoman Pengendalian Pelaksanaan adalah pedoman yang dimaksudkan untuk mengarahkan perwujudan pelaksanaan penataan bangunan dan kawasan yang berdasarkan dokumen RTBL, dan memandu pengelolaan kawasan agar dapat berkualitas, meningkat, dan berkelanjutan.
19. Struktur peruntukan lahan merupakan komponen rancang kawasan yang berperan penting dalam alokasi penggunaan dan penguasaan lahan/tata guna lahan yang telah ditetapkan dalam suatu kawasan perencanaan tertentu berdasarkan ketentuan dalam rencana tata ruang wilayah.
20. Intensitas Pemanfaatan Lahan adalah tingkat alokasi dan distribusi luas lantai maksimum bangunan terhadap lahan/tapak peruntukannya.
21. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah angka perbandingan jumlah luas seluruh lantai bangunan terhadap luas perpetakan/luas daerah perencanaan.
22. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah angka presentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung yang dapat dibangun dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai.
23. Tata Bangunan adalah produk dari penyelenggaraan bangunan gedung beserta lingkungan sebagai wujud pemanfaatan ruang, meliputi berbagai aspek
Draft Peraturan Walikota 5 termasuk pembentukan citra/karakter fisik lingkungan, besaran, dan konfigurasi
dari elemen-elemen: blok, kavling/petak lahan, bangunan, serta ketinggian dan elevasi lantai bangunan yang dapat menciptakan dan mendefinisikan berbagai kualitas ruang kota yang akomodatif terhadap keragaman kegiatan yang ada, terutama yang berlangsung dalam ruang-ruang publik.
24. Garis Sempadan Bangunan adalah garis pada halaman pekarangan bangunan yang ditarik sejajar dari garis as jalan, tepi sungai atau as pagar dan merupakan batas antara kavling/pekarangan yang boleh dibangun dan yang tidak boleh dibangun.
25. Tinggi Bangunan adalah jarak yang diukur dari permukaan tanah, dimana bangunan tersebut didirikan, sampai dengan titik puncak bangunan.
26. Sistem Jaringan Jalan dan Pergerakan adalah rancangan pergerakan yang terkait antara jenis-jenis hiraki/kelas jalan yang tersebar pada kawasan perencanaan (jalan lokal/lingkungan) dan jenis pergerakan yang melalui,baik masuk dan keluar kawasan, maupun masuk dan keluar kavling.
27. Sistem Sirkulasi Kendaraan Umum adalah rancangan sistem arus pergerakan kendaraan formal, yang dipetakan pada hiraki/kelas jalan yang ada pada kawasan perencanaan.
28. Sistem Sirkulasi Kendaraan Pribadi adalah rancangan sistem arus pergerakan bagi kendaraan pribadi sesuai dengan hirarki/kelas jalan yang ada pada kawasan perencanaan.
29. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau merupakan komponen rancangan kawasan, yang tidak sekedar terbentuk sebagai elemen tambahan ataupun elemen sisa setelah proses rancang arsitektural diselesaikan, melainkan juga diciptakan sebagai bagian integral dari suatu lingkungan yang lebih luas.
30. Tata Kualitas Lingkungan merupakan rekayasa elemen-elemen kawasan yang sedemikian rupa, sehingga tercipta suatu kawasan atau sub area dengan sistem lingkungan yang informatif, berkarakter khas, dan memiliki orientasi tertentu.
31. Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan yang pengadaannya memungkinkan suatu lingkungan dapat beroperasi dan berfungsi sebagaimana mestinya.
32. Peran Serta Masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara sukarela di dalam perumusan kebijakan dan pelaksanaan keputusan dan/atau kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pada setiap tahap kegiatan pembangunan (perencanaan, desain, implementasi dan evaluasi).
Draft Peraturan Walikota 6 BAB II
MAKSUD, TUJUAN, DAN SASARAN
Pasal 2
RTBL Kawasan Slamet Riyadi merupakan panduan rancang bangun kawasan/lingkungan Slamet Riyadi untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan kawasan/lingkungan.
Pasal 3
Tujuan RTBL Kawasan Slamet Riyadi adalah terarahnya penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan di Kawasan Strategis Nasional Kota Samarinda, sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) guna mewujudkan tata bangunan dan dan lingkungan layak huni, berjati diri, produktif dan berkelanjutan, sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung.
Pasal 4
Sasaran dari penyusunan RTBL Kawasan Slamet Riyadi adalah:
1. Tersusunnya Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Slamet Riyadi Kota Samarinda, sesuai dengan Pedoman Penyusunan RTBL yang terdapat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007, yang dapat digunakan sebagai panduan dalam penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan di kawasan tersebut; 2. Tersusunnya Naskah Peraturan Bupati/ Walikota tentang penetapan Dokumen
RTBL pada Kawasan Slamet Riyadi Kota Samarinda sebagai produk pengaturan yang legal di kawasan tersebut.
BAB III
RUANG LINGKUP PERENCANAAN
Bagian Kesatu Kawasan Perencanaan
Pasal 5
Kawasan perencanaan adalah Kawasan Slamet Riyadi (UKM Amplang) yang berada di Kelurahan Teluk Lerong Ulu Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda.
Draft Peraturan Walikota 7 Bagian Kedua
Luas Dan Batas Kawasan Perencanaan
Pasal 6
1. Luas Kawasan Perencanaan ditetapkan seluas ± 30 hektar (± 300.000m²) 2. Batas Kawasan Perencanaan adalah :
a. Sebelah Utara dibatasi oleh Jalan Cendana
b. Sebelah Selatan dibatasi oleh Jalan Slamet Riyadi dan Sungai Mahakam c. Sebelah Barat dibatasi oleh Jalan Anggi dan Samarinda Islamic Center d. Sebelah Timur dibatasi oleh Jalan P. Antasari
Pasal 7
Peta rencana batas kawasan perencanaan sebagaimana dimaksud Pasal 6 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.
BAB IV
PROGRAM BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
Bagian Kesatu
Visi Pembangunan dan Pengembangan Kawasan
Pasal 8
Visi pembangunan dan pengembangan RTBL Kawasan Slamet Riyadi adalah Kawasan Slamet Riyadi sebagai Kawasan Jasa, Industri, Perdagangan dan Pemukiman khas Kalimantan Timur yang berdaya saing & berwawasan lingkungan.
Pasal 9
Misi pembangunan dan pengembangan RTBL Kawasan Slamet Riyadi adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan fasilitas dan utilitas penunjang sektor jasa, industri dan perdagangan (khususnya oleh-oleh Khas Samarinda, seperti : amplang) serta peningkatan kualitas pemukiman.
2. Meningkatkan alternatif komonditi oleh-oleh khas Kalimantan Timur untuk pengembangan komoditi ekspor.
3. Mengembangkan suberdaya manusia yang mengarah pada peningkatan perekonomian Kawasan Slamet Riyadi.
4. Meningkatkan peran serta CSR, perbankan dan lembaga keuangan lainnya termasuk koperasi untuk mendukung sektor jasa, industri dan perdagangan (UMKM) oleh-oleh khas Kalimantan Timur
Draft Peraturan Walikota 8 Bagian Kedua
Konsep Perancangan Struktur Tata Bangunan dan Lingkungan
Pasal 10
Konsep Perancangan Struktur Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Slamet Riyadi adalah sebagai berikut:
1. Membentuk/memperkuat karakter dan identitas kuliner tradisional di kawasan perencanaan Slamet Riyadi.
2. Pemanfaatan lahan secara intensif-efisien pada Koridor Jalan Slamet Riyadi, Jalan P. Antasari, Jalan Cendana, dan Jalan Anggi serta optimalisasi open
space pada Kawasan Slamet Riyadi dan bantaran Sungai Mahakam serta
bantaran Sungai Manggis.
3. Pendekatan Kesehatan Lingkungan bagi keberlangsungan pembangunan berdasarkan partisipasi masyarakat.
4. Meningkatkan diversifikasi penggunaan lahan untuk kegiatan UKM amplang serta mempertahankan penggunaan tanah yang ada, terutama yang telah menjadi ciri atau karakter kawasan yang dilengkapi dengan berbagai prasarana, sarana, dan utilitas pendukung kegiatan UKM amplang yang layak (memadai).
5. Membagi rata pusat aktivitas (node) bidang kuliner khas Samarinda di berbagai titik di kawasan yang terbagi oleh Sungai Manggis dan kilang minyak Pertamina.
6. Mengurangi crossing sirkulasi dengan pemisahan sirkulasi antara sirkulasi regional, kota atau lokal, terutama pada ruas-ruas jalan yang saat ini merupakan titik kritis koridor baik dari aspek kemacetan lalu lintas dan rawan kecelakan. Titik-titik kritis yang ada antara lain di koridor Jalan Slamet Riyadi dan Jalan P. Antasari (jalan arteri Kota Samarinda).
7. Membatasi pertumbuhan permukiman di tepian Sungai Manggis dengan jalan inspeksi sungai yang sekaligus berfungsi sebagai jalur sirkulasi utama menuju lingkungan tersebut yang dapat mengurangi kemacetan lalu lintas di Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Cendana.
8. Menambahkan atau meningkatkan fungsi ruang terbuka yang ada pada wilayah perencanaan, antara lain:
a. Optimalisasi fungsi ruang terbuka hijau skala kelurahan
b. Perencanaan ruang terbuka serbaguna (taman parkir sekaligus lapangan olahraga).
c. Memperbaiki sempadan sungai Manggis
d. Perencanaan RTH pada sempadan Sungai Mahakam.
9. Bentuk dan tampilan bangunan disepanjang koridor Jalan Slamet Riyadi, Jalan P. Antasari, Jalan Cendana, dan Jalan Anggi harus membentuk suatu irama untuk mengurangi karakter yang monoton dan membosankan serta memberikan ciri-ciri kawasan sekitar sebagai titik referensi. Pembentukan irama dapat melalui pergantian karakter ruang yang bersifat menekan, mengarahkan, menghambat, melingkari atau lepas pada jalan sepanjang. Selain itu bentuk
Draft Peraturan Walikota 9 dan tampilan bangunan dalam wilayah perencanaan, harus saling mendukung
untuk menciptakan satu kesatuan yang utuh melalui penggunaan elemen bangunan yang ada dan telah dikenal, sebagai elemen penyatu.
10. Identitas dan Karakter Lokal. Secara prinsipal, meningkatkan identitas dan karakter lokal dapat dicapai dengan cara : menggunakan pemanfaatan lahan yang tidak terlalu rigid/kaku, melainkan melakukan pencampuran antara berbagai fungsi kegiatan dengan dominasi kegiatan tetap di bidang perikanan. Pemanfaatan ruang dengan skala manusia mampu memberikan “daya hidup” dan menciptakan suatu tempat yang mempunyai kontribusi terhadap komunitas yang “aman” dan berkelanjutan. Oleh karena itu, dalam perancangan kawasan perencanaan harus memperlihatkan, antara lain :
11. “Sense of place” dan berintegrasi dengan konteks lokal yang memperlihatkan
tema “Kampung Hijau Wisata UKM Amplang”.
a. Tempat yang bersifat atraktif dan memberikan fungsi beragam dibidang UKM amplang.
b. Integrasi dengan transportasi umum (koneksivitas antar kawasan)
c. Memprioritaskan kepada pergerakan pengguna yang difabel, pejalan kaki dan sepeda.
d. Menekankan pembangunan fisik (aksesibilitas, skala spasial jalur peghubung) dengan skala manusia.
Bagian Ketiga
Konsep Komponen Perancangan Kawasan
Pasal 11
Konsep perancangan struktur kawasan adalah sebagai berikut:
1. Keterkaitan setiap jenis pemanfaatan ruang dan pendukung kegiatannya;
2. Merencanakan struktur kawasan sehingga dapat berfungsi sebagai batas kawasan dan blok/segmen kawasan;
3. Pengembangan kegiatan pendukung kawasan;
4. Penyebaran fasilitas yang merata di seluruh kawasan dengan pertimbangan hirarki, jangkauan pelayanan dan kebutuhan masyarakat setempat; dan
5. Menata hirarki setiap fungsi atau pemanfaatan ruang melalui pengaturan sistem sirkulasi yang baik.
Bagian Kelima Segmentasi Kawasan
Pasal 12
Berdasarkan karakter kawasannya, kawasan perencanaan yang ada dikelompokkan dalam 6 (enam) Segmen Kawasan, dimana masing-masing zona memiliki karakter, potensi, serta kendala yang khas dalam pengembangannya. Segmen tersebut meliputi:
Draft Peraturan Walikota 10 1. Segmen 1 (Kampung Hijau Wisata UKM Amplang). Blok yang merupakan blok
permukiman yang sudah lama terbentuk sekaligus menjadi kawasan industri rumah tangga di bidang kuliner khas Samarinda, yaitu amplang. Blok industri rumah tangga amplang ini direncanakan berada dalam satu kawasan rumah tinggal penduduk, namun memiliki zonasi yang terpisah antara kegiatan industri dan rumah.
2. Segmen 2 (Koridor Hijau Pendukung UKM Amplang di Jalan Slamet Riyadi, Jalan P. Antasari, dan Jalan Cendana). Blok perdagangan dan jasa di bidang kuliner amplang dan oleh-oleh khas Tradisional Samarinda serta blok bangunan campuran (ruko dan rukan) yang akan dikembangkan melalui penataan lingkungan dan peningkatan kualitas koridor kota dengan konsep koridor hijau yang saat ini telah berdiri dengan intensitas tinggi.
3. Segmen 3 (Industri Ramah Lingkungan). Blok Pertamina ini merupakan blok kilang minyak, memiliki kegiatan industri dibidang minyak bumi yang memiliki kerawanan bahaya kebakaran tingkat tinggi. Sehingga, pertumbuhan blok ini dibatasi dengan buffer zone (RTH) dan harus diawasi secara ketat mengenai pertumbuhan kawasannya.
4. Segmen 4 (Koridor Hijau Pendukung UKM Amplang di Jalan Slamet Riyadi, Jalan Cendana, dan Jalan Anggi). Blok perdagangan dan jasa di bidang kuliner amplang dan oleh-oleh khas Tradisional Samarinda serta blok bangunan campuran (ruko dan rukan) yang akan dikembangkan melalui penataan lingkungan dan peningkatan kualitas koridor kota dengan konsep koridor hijau yang saat ini telah berdiri dengan intensitas tinggi.
5. Segmen 5 (Kampung Hijau Pendukung UKM Amplang). Blok permukiman kampung esksisting yang akan ditingkatkan kualitas lingkungannya melalui konep penataan kampung hijau (ramah lingkungan)
6. Segmen 6 (Taman Pintar Amplang). Blok ruang terbuka hijau disepanjang Sungai Mahakam yang akan dikembangkan menjadi taman pintar amplang (taman pasif untuk kegiatan duduk bersantai namun juga memberikan pengetahuan mengenai eksistensi amplang di Kota Samarinda).
Bagian Keempat
Segmen Pengembangan Kawasan dan Program Penanganannya
Pasal 13
1. Segmen kawasan yang tidak dapat dibangun/tidak diizinkan untuk dilakukan pembangunan. Segmen kawasan ini terdapat di blok-blok untuk ruang terbuka hijau dan blok yang kegiatannya memiliki resiko tinggi terhadap blok sekitarnya, yaitu:
a. RTH Sempadan Sungai Mahakam b. RTH Sempadan Sungai Manggis
c. RTH skala kelurahan eksisting (2 blok, yaitu : 1 blok di RT 17 dan 1 blok di RT 41).
Draft Peraturan Walikota 11 2. Segmen kawasan yang pembangunannya dikontrol/dikendalikan. Segmen
kawasan ini terdapat di blok-blok yang pembangunannya telah padat, yaitu blok permukiman kampung yang telah padat.
3. Segmen kawasan yang dipromosikan namun tetap dikendalikan pertumbuhannya. Segmen kawasan ini terdapat di blok-blom klingkungan yang telah sejak lama terbentuk dan memberikan ciri khas Kota Samarinda serta berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda. Segmen kawasan ini meliputi:
a. Segmen Kampung Wisata Hijau UKM Amplang
b. Segmen Perdagangan dan Jasa Pendukung UKM Amplang dan oleh-oleh Khas Samarinda di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Jalan P. Antasari dan Jalan Cendana.
BAB V
RENCANA UMUM DAN PANDUAN RANCANGAN
Bagian Kesatu
Struktur Peruntukan Lahan
Pasal 14
Struktur peruntukan lahan di Kawasan Slamet Riyadi meliputi: A. Kawasan Budidaya
1. Blok Permukiman (R).
a. Blok ini terdiri dari rumah tunggal dan rumah kampung (R1) serta rumah sekaligus industri rumah tangga amplang (R2).
b. Blok R1 seluas 82.946m² dan blok R2 seluas 58.125 m²
c. Lokasi struktur peruntukan lahan ini terletak di Segmen 1 dan Segmen 4.
2. Blok Perdagangan dan Jasa (K)
a. Blok ini terdiri dari blok pertokoan skala kota di bidang kuliner amplang dan oleh-oleh khas Samarinda (K1) seluas 17.528m² yang terletak di Segmen 1 dan Segmen 2.
b. Kios/warung skala lingkungan yang terdapat dibagian dalam permukiman yang terletak di Segmen 1 dan Segmen 4
c. Pedagang Kaki Lima/PKL (K3) seluas 430m² yang terdapat di Segmen 5
3. Blok Campuran/Mixed Use (C)
a. Blok ini terdiri dari ruko (C1) dan rukan (C2). b. Blok campuran/mixed use seluas 24.225m²
c. Lokasi struktur peruntukan lahan ini terletak di Segmen 5. 4. Blok Industri (I)
a. Blok ini adalah industri mengganggu (kilang minyak pertamina) seluas 31.065m²
Draft Peraturan Walikota 12 b. Lokasi struktur peruntukan lahan ini terletak di Segmen 3.
5. Blok Fasilitas Pemerintahan (FK) dan Fasilitas Pelayanan Permukiman (FP)
a. Blok ini terdiri dari kantor pemerintahan skala kelurahan dan lingkungan (FK), fasilitas pendidikan (FP1), fasilitas kesehatan (FP2), fasilitas peribadatan (FP3), fasilitas bina sosial (aula serbaguna), fasilitas IPA, dan fasilitas pemadam kebakaran
b. Blok fasilitas pemerintahan seluas 300m² dan pelayanan permukiman seluas 10.156m²
c. Lokasi struktur peruntukan lahan ini terletak di Segmen 1, Segmen 2, Segmen 3, Segmen 4, dan Segmen 5.
6. Blok Transportasi (Tr)
a. Blok ini berupa kantong parkir (pelataran parkir) dan halte angkutan umum.
b. Blok transportasi seluas 3.847m²
c. Lokasi struktur peruntukan lahan ini terletak di Segmen 5 dan Segmen 6.
B. Kawasan Perlindungan Setempat
1. Blok Ruang Terbuka dan Tata Hijau
a. Blok RTH skala kelurahan (H1) seluas 6750 m² terletak di Segmen 1 dan Segmen 5.
b. Blok RTH skala lingkungn (H2) seluas 1.950 m² terletak di Segmen 1 dan Segmen 4.
c. Blok RTH tepian sungai (H3) seluas 8.550 m² terletak di Segmen 6. 2. Blok Sungai
Sungai Manggis seluas 2.690m² terletak di perbatasan Segmen 1, Segmen 2, dan Segmen 3
Bagian Kedua Rencana Perpetakan
Pasal 15
Rencana perpetakan lahan/kaveling di Kawasan Slamet Riyadi meliputi: 1. Petak lahan tipe I (sistem blok) seluas >2.500m², yaitu: blok industri kilang
minyak Pertamina dan blok taman kota.
2. Petak lahan tipe II (kaveling sangat besar) seluas 1.000 m²-2.500 m², yaitu: kaveling komersial, kaveling mixed use/campuran, kaveling fasilitas
pemerintahan dan kaveling pelayanan publik.
3. Petak lahan tipe III (kaveling besar) seluas 600 m²-1.000 m², yaitu: kaveling komersial, kaveling mixed use/campuran, kaveling fasilitas pemerintahan dan kaveling pelayanan publik.
4. Petak lahan tipe IV (kaveling sedang) seluas 250m²-600 m², yaitu: kaveling rumah tunggal dan rumah sekaligus industri rumah tangga amplang
Draft Peraturan Walikota 13 5. Petak lahan tipe V (kaveling kecil) seluas 100 m²-250 m², yaitu: kaveling rumah
tunggal, rumah kampung, dan rumah sekaligus industri rumah tangga amplang 6. Petak lahan tipe VI (kaveling sangat kecil) seluas 50 m²-100 m², yaitu: kaveling
rumah tunggal dan rumah kampung.
Bagian Ketiga
Intensitas Pemanfaatan Lahan
Pasal 16
Ketentuan mengenai intensitas pemanfaatan lahan di Kawasan Slamet Riyadi adalah sebagai berikut.
1. Bangunan Publik dengan Intensitas Tinggi a. KDB (Koefisien Dasar Bangunan) 60% - 80% b. KLB (Koefisien Lantai Bangunan) 60%-240% c. KDH (Koefisien Dasar Hijau) 20%-40%
2. Bangunan Privat & Publik dengan Intensitas Agak Tinggi a. KDB (Koefisien Dasar Bangunan) 60% - 80%
b. KLB (Koefisien Lantai Bangunan) 60%-160% c. KDH (Koefisien Dasar Hijau) 20%-40%
3. Bangunan Publik - Intensitas Sedang
a. KDB (Koefisien Dasar Bangunan) 40% - 60% b. KLB (Koefisien Lantai Bangunan) 40%-240% c. KDH (Koefisien Dasar Hijau) 40%-60%
4. Ruang Terbuka Publik - Intensitas Rendah
a. KDB (Koefisien Dasar Bangunan) 10% - 40% b. KLB (Koefisien Lantai Bangunan) 10%-40%, c. KDH (Koefisien Dasar Hijau) 60%-90%
5. RTH Publik - Intensitas Sangat Rendah a. RTH aktif :
KDB (Koefisien Dasar Bangunan) 0% - 30% KLB (Koefisien Lantai Bangunan) 0%-30% KDH (Koefisien Dasar Hijau) 70%-100% b. RTH pasif :
KDB (Koefisien Dasar Bangunan) 0% - 20% KLB (Koefisien Lantai Bangunan) 0%-20% KDH (Koefisien Dasar Hijau) 80%-100%
6. Kawasan Lindung Setempat (sungai). Tidak diijinkannya pembangunan dilingkungan perairan, kecuali bangunan khusus dengan perijinan Pemerintah Kota Samarinda.
Draft Peraturan Walikota 14 Bagian Keempat
Tata Bangunan
Pasal 17
1. Ketentuan Garis Sempadan Bangunan pada koridor Jalan Arteri Primer (Jl. Samet Riyadi) adalah sebagai berikut.
a. Garis Sempadan Muka Bangunan (GSB) selebar 14m dari as jalan b. Garis Sempadan Pagar (GSP) selebar 11m dari as jalan
c. Garis Sempadan Samping Bangunan (GSmB) dan Garis Sempadan Belakang Bangunan (GSsB) selebar 2-4m dari sisi terluar kaveling
2. Ketentuan Garis Sempadan Bangunan pada koridor Jalan Arteri Sekunder (Jl. P. Antasari) adalah sebagai berikut.
a. Garis Sempadan Muka Bangunan (GSB) selebar 11m dari as jalan b. Garis Sempadan Pagar (GSP) selebar 8m dari as jalan
c. Garis Sempadan Samping Bangunan (GSmB) dan Garis Sempadan Belakang Bangunan (GSsB) selebar 2-4m dari sisi terluar kaveling
3. Ketentuan Garis Sempadan Bangunan pada koridor Jalan Lokal Sekunder (Jl. Cendana) sebagai berikut.
a. Garis Sempadan Muka Bangunan (GSB) selebar 8,5m dari as jalan b. Garis Sempadan Pagar (GSP) selebar 5,5m dari as jalan
c. Garis Sempadan Samping Bangunan (GSmB) dan Garis Sempadan Belakang Bangunan (GSsB) selebar 2-4m dari sisi terluar kaveling
4. Ketentuan Garis Sempadan Bangunan pada koridor Jalan Lokal Sekunder (Jl. Anggi) sebagai berikut.
d. Garis Sempadan Muka Bangunan (GSB) selebar 12,5m dari as jalan e. Garis Sempadan Pagar (GSP) selebar 9,5m dari as jalan
f. Garis Sempadan Samping Bangunan (GSmB) dan Garis Sempadan Belakang Bangunan (GSsB) selebar 2-4m dari sisi terluar kaveling
5. Ketentuan Garis Sempadan Bangunan pada koridor Jalan Lingkungan adalah sebagai berikut.
a. Garis Sempadan Muka Bangunan (GSB) selebar 3m dari sisi terluar kaveling
b. Garis Sempadan Pagar (GSP) selebar 0m dari sisi terluar kaveling
c. Garis Sempadan Samping Bangunan (GSmB) dan Garis Sempadan Belakang Bangunan (GSsB) selebar 0m dari sisi terluar kaveling
6. Ketentuan Garis Sempadan Bangunan pada koridor Jalan Inspeksi Sungai adalah sebagai berikut.
a. Garis Sempadan Muka Bangunan (GSB) selebar 3m dari sisi terluar kaveling
b. Garis Sempadan Pagar (GSP) selebar 0m dari sisi terluar kaveling
c. Garis Sempadan Samping Bangunan (GSmB) dan Garis Sempadan Belakang Bangunan (GSsB) selebar 0m dari sisi terluar kaveling
7. Garis sempadan Sungai Mahakam ditetapkan sebesar 30 meter dari sisi terluar tanggul (site pile). Sempadan Sungai Mahakam berupa ruang terbuka hijau selebar 5m-10m dari sisi terluar tanggul.
8. Garis sempadan Sungai Manggis ditetapkan sebesar 8 meter dari sisi terluar tanggul. Sempadan Sungai Manggis berupa ruang terbuka hijau selebar 2m kearah permukiman dan berupa buffer zone (area penyangga ruang terbuka hijau) Blok Pertamina selebar 10m.
Draft Peraturan Walikota 15 Pasal 18
Rencana orientasi bangunan pada kawasan adalah sebagai berikut:
1. Orientasi bangunan yang terletak di tepi Sungai Mahakam dan Sungai Manggis diarahkan menghadap sungai. Bentuk bangunan dengan orientasi ini diharapkan dapat menjaga keindahan/estetika bangunan dan wajah jalan serta menghindari pembangunan ke arah perairan.
2. Orientasi bangunan di sepanjang koridor jalan raya ditetapkan ke arah muka, atau tegak lurus menghadap ke jalan. Untuk bangunan berada di sisi persimpangan jalan atau bangunan sudut dianjurkan untuk menghadap ke dua arah jalan;
3. Bagian belakang bangunan yang berbatasan dengan permukiman, orientasinya juga diarahkan ke permukiman. Artinya, pada bagian tersebut dibuat rancangan dengan akses dan bukaan menghadap kearah permukiman. Tidak diperkenankan membuat tembok atau pagar massif yang membelakangi permukiman tersebut;
4. Bangunan yang dikelilingi oleh jalan, maka orientasinya diarahkan ke masing-masing jalan yang mengelilinginya;
5. Bangunan-bangunan yang diarahkan sebagai identitas dipertemuan jalan, orientasi bangunan dan atap bangunannya agar dipertimbangkan terhadap kesatuan komposisi bangunan dan ruang luar di sekitar pertemuan jalan tersebut; dan
6. Arah pandangan suatu orientasi, sedapat mungkin mengarah pada tempat-tempat yang penting atau ramai dikunjungi masyarakat. Jadi, tidak hanya jalan-jalan utama yang terletak di depan bangunan saja yang bisa dijadikan arah orientasi, tetapi lokasi lain yang memiliki potensi untuk dijadikan sebagai media orientasi juga dapat digunakan.
Pasal 19
Bentuk dasar bangunan dipertimbangkan dari berbagai segi, baik segi kebutuhan ruang (khususnya ruang industri rumah tanggaamplang), ekspresi budaya Samarinda, bentangan alam (Sungai Manggis dan Sungai Mahakam) dan nilai-nilai arsitektur setempat guna menciptakan citra kawasan sebagai pusat industri (UKM) kuliner khas Samarinda (amplang) di Kota Samarinda dengan segala aktivitas pendukungnya.
Pasal 20
Selubung bangunan diharapkan memberikan kesan khusus (nuansa Kalimantan Timur) terhadap kawasan ini, sehingga mampu memberikan suatu pemandangan tersendiri bagi yang melihatnya, selain itu perlu dipertimbangkan ornamen-ornamen yang dipakai supaya disesuaikan dengan budaya setempat.
Pasal 21
1. Skyline bertujuan untuk menciptakan suasana ruang yang menarik dan tidak
monoton.Karena dengan terbentuknya garis langit yang tepat terjadi kesan ruangan yang dinamis. Maka, deretan bangunan di koridor jalan utama diperbolehkan dibangun lebih tinggi daripada deretan bangunan di bagian dalam kawasan (koridor jalan lingkungan).
Draft Peraturan Walikota 16 2. Ketentuan mengenai ketinggian bangunan di Kawasan Slamet Riyadi adalah
sebagai berikut.
a. Blok ruang terbuka hijau dan blok perairan (sungai) tidak diperkenankan ada bangunan gedung, kecuali bangunan pendukung kawasan dengan pertimbangan tertentu dan perijinan dari pemerintah Kota Samarinda. b. Bangunan maksimal 2 (dua) lantai dengan ketinggian 3m-9m pada blok
permukiman.
c. Bangunan maksimal 3 (tiga) lantai dengan ketinggian 3m-12m pada blok komersial, blok campuran, blok pemerintahan dan blok fasilitas pelayanan publik.
Pasal 22
Rencana arsitektur bangunan pada kawasan perencanaan mengembangkan langgam (gaya) arsitektural Kalimantan Timur pada umumnya. Setiap bangunan menampilkan ornament-ornamen Kalimantan Timur yang disesuaikan dengan kemajuan teknologi.
Pasal 23
1. Peraturan bangunan berkaitan dengan konsep penggunaan bahan bangunan eksterior untuk kawasan perencanaan dibuat dengan mempertimbangkan karakter langgam arsitektur daerah setempat. Untuk bahan bangunan diupayakan menggunakan bahan dari material yang kuat, tidak rentan terhadap kebakaran dan tetap memperhatikan lingkungan.
2. Penggunaan bahan bangunan harus mempertimbangkan keramahan lingkungan, keawetan dan kesehatan dalam pemanfaatan bangunannya. Bahan bangunan yang dipergunakan harus memenuhi syarat-syarat teknik sesuai dengan fungsinya, seperti yang dipersyaratkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang spesifikasi bahan bangunan yang berlaku.
3. Penggunaan bahan bangunan yang mengandung racun atau bahan kimia yang berbahaya, harus mendapat rekomendasi dari instansi terkait dan dilaksanakan oleh ahlinya.
Pasal 24
1. Tanda (signage) untuk kawasan perencanaan direncanakan sebagai berikut: 2. Identitas, sebagai pengenal lingkungan dan sebagai titik orientasi pergerakan
masyarakat dapat berupa landmark. Rancangan tanda untuk identitas lingkungan ini untuk setiap segmen berbeda-beda, namun dapat menjadi bagian dari rancangan bangunan;
3. Nama Bangunan, memberi tanda identitas suatu bangunan yang dapat dibarengi dengan petunjuk jenis kegiatan yang ada di dalamnya. Jenis ini dapat berupa papan identitas, atau tulisan yang ditempel pada selubung bangunan. Tanda untuk nama bangunan tidak boleh mengganggu pandangan terhadap kualitas selubung bangunan, tidak boleh melebihi/mengganggu ketertiban umum;
4. Petunjuk Sirkulasi, sebagai rambu lalu-lintas, sekaligus sebagai pengatur dan pengarah dalam pergerakan. Untuk rambu-rambu lalu lintas disesuaikan dengan standar bentuk dan penempatannya;
5. Komersial/Reklame, sebagai publikasi atas suatu produk, komoditi, jasa, profesi atau pelayanan tertentu. Jenis ini dapat berupa papan tiang, ikon, menempel
Draft Peraturan Walikota 17 pada bangunan, baliho, spanduk umbul-umbul, penerangan jalan umum dan
balon. Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan adalah: Estetis dan pemasangannya tidak mengganggu keamanan dan keselamatan serta konstruksinya memenuhi syarat teknis. Pemasangan reklame dalam persil tidak boleh melewati batas Rumija, konstruksinya kuat dan ukurannya tidak merusak selubung bangunan. Pada koridor jalan dan ruang luar lainnya harus estetis, dapat memperkuat identitas lingkungan dan tidak merusak konsentrasi pemakai jalan. Pada median hanya dipasang reklame yang bersifat sementara pada tiang lampu yang telah disediakan; dan
6. Informasi, sebagai tempat untuk informasi kegiatan atau keterangan-keterangan kondisi/keadaan lingkungan. Papan informasi yang menerangkan kedudukan kawasan serta informasi lingkungan diletakkan pada setiap segmen berdekatan dengan tempat pemberhentian kendaraan/halte. Papan informasi ini dapat sekaligus digunakan untuk menempelkan koran umum.
Pasal 25
1. Jika diindikasikan terjadi penurunan kualitas bangunan/lingkungan maka diberlakukan upaya untuk mengembangkan penanganan terhadap bangunan dan lingkungan meliputi:
2. Upaya revitalisasi bangunan mengingat nilai historis bangunan yang tinggi atau memiliki nilai sejarah yang berguna bagi pengembangan kawasan maupun nilai ilmu pengetahuan atau kavling bangunan memiliki fungsi yang strategis;
3. Upaya memperbarui fungsi kaveling bangunan pada kaveling lama yang disebabkan oleh kondisi bangunan yang telah mengalami penurunan kualitas sehingga diharapkan dengan adanya pemugaran akan dapat dimanfaatkan fungsi kaveling yang dapat dimanfaatkan sebagai kaveling bangunan yang lebih baik; dan
4. Proses penertiban bangunan meliputi upaya pemugaran terhadap kaveling bangunan yang mempunyai permasalahan bangunan akibat tidak memenuhi ketentuan pengembangan bangunan yang ada.
Bagian Kelima
Rencana Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung
Pasal 26
1. Sirkulasi pada kawasan perencanaan harus membedakan dengan tegas sirkulasi untuk kendaraan dan sirkulasi pejalan kaki. Di samping itu, sirkulasi tersebut tetap dalam satu sistem yang integratif antara sirkulasi internal dan eksternal bangunan, antara pemakai (pelaku kegiatan) dan sarana transportasinya.
2. Pertemuan antara keduanya (pemakai dan alat transportasi) ada pada tempat parkir dan halte, sedang perpotongan antar keduanya akan direncanakan fasilitas zebra cross.
3. Sirkulasi bagi pejalan kaki pada umumnya berada pada dua sisi jalan yang berupa jalur pejalan kaki.
4. Untuk memberi kenyamanan dan keamanan bagi pelaku kegiatan, maka jalur-jalur sirkulasi dilengkapi dengan elemen-elemen petunjuk jalan (rambu-rambu lalu-lintas), elemen-elemen pengarah, dan peneduh pada fasilitas sirkulasi pejalan kaki.
Draft Peraturan Walikota 18 5. Kawasan tepian sungai dibatasi dengan Jalan Inspeksi Sungai.
6. Pembangunan gedung parkir yang berada di blok transportasi/komersial/ campuran dan SPBU yang berada di blok Pertamina harus memiliki analisa mengenai dampak lalu lintas.
7. Pembangunan kawasan industri kuliner dalam skala besar (sistem kaveling besar) dan emnghasilkan bangkitan lalu lintas tinggi harus memiliki analisa mengenai dampak lalu lintas.
Pasal 27
Jaringan jalan di kawasan perencanaan adalah sebagai berikut:
1. Jalan Slamet Riyadi. Tipe jalan adalah jalan arteri primer sebagai jalur sirkulasi primer Kota Samarinda dengan ketentuan :
a. Rumaja 17m, rumija 22m, dan ruwasja 28m b. Panjang jalan adalah 650m
c. Direncanakan dua jalur dapat dilalui oleh pejalan kaki, kendaraan roda dua, kendaraan roda empat dan lebih, serta mobil pemadam kebakaran. 2. Jalan P. Antasari. Tipe jalan adalah jalan arteri sekunder sebagai jalur sirkulasi
sekunder Kota Samarinda dengan ketentuan : a. Rumaja 12m, rumija 16m, dan ruwasja 22m b. Panjang jalan adalah 230m
c. Direncanakan dua jalur dapat dilalui oleh pejalan kaki, kendaraan roda dua, kendaraan roda empat dan lebih, serta mobil pemadam kebakaran. 3. Jalan Cendana. Tipe jalan adalah jalan lokal sekunder sebagai jalur sirkulasi
sekunder kawasan Slamet Riyadi dengan ketentuan : a. Rumaja 8m, rumija 11m, dan ruwasja 17m b. Panjang jalan adalah 930m
c. Direncanakan dua jalur dan dapat dilalui oleh pejalan kaki, kendaraan roda dua, kendaraan roda empat, serta mobil pemadam kebakaran.
4. Jalan Anggi. Tipe jalan adalah jalan lokal sekunder sebagai jalur sirkulasi sekunder kawasan Slamet Riyadi dengan ketentuan :
a. Rumaja 15m, rumija 18m, dan ruwasja 24m b. Panjang jalan adalah 415m
c. Direncanakan dua jalur dan dapat dilalui oleh pejalan kaki, kendaraan roda dua, kendaraan roda empat, serta mobil pemadam kebakaran.
5. Jalan Lingkungan di bagian dalam Kawasan Slamet Riyadi. Tipe jalan adalah jalan lingkungan sebagai jalur sirkulasi tersier kawasan Slamet Riyadi dengan ketentuan :
a. Rumaja 3m, rumija 3m, dan ruwasja 9m b. Panjang jalan adalah 4.821m
c. Jalan ini diutamakan untuk dilalui dilalui oleh pejalan kaki. Namun jalan ini juga dapat dilalui oleh kendaraan roda dua dan motor pemadam kebakaran.
6. Jalan Inspeksi Sungai Manggis. Tipe jalan adalah jalan lingkungan sekaligus jalan inspeksi sungai sebagai jalur sirkulasi tersier kawasan Slamet Riyadi dengan ketentuan :
a. Rumaja 3m, rumija 3m, dan ruwasja 9m b. Panjang jalan adalah 440m
c. Direncanakan dapat dilalui oleh pejalan kaki, kendaraan roda dua, kendaraan roda empat, serta motor pemadam kebakaran.
Draft Peraturan Walikota 19 Pasal 28
1. Jalur pejalan kaki harus menerus sepanjang koridor segmen perencanaan ini, khususnya pada jalur pejalan kaki disepanjang tepian Sungai Mahakam.
2. Jalur pejalan kaki di kawasan perencanaan direncanakan dapat dilalui oleh penyandang cacat sehingga penggunaan tangga diganti atau dilengkapi dengan ramp (kemiringan ramp di bawah 45%) dan aplikasi keramik untuk tuna netra.
3. Jalur sirkulasi pedestrian ini harus dilengkapi dengan zebra cross dan halte, yaitu setiap jarak 500 m.
4. Jalur pejalan kaki harus diteduhi oleh deretan pohon peneduh di sepanjang jalan. Bahan material untuk jalur pejalan kaki tidak licin, dapat menyerap air, mudah perawatan, kuat dengan motif dan pola yang sesuai dengan nuansa lokal.
5. Jalur pejalan kaki didukung dengan fasilitas-fasilitas perabot jalan yang mendukung kegiatan pedestrian (kursi, tempat sampah).
6. Jalur pejalan kaki pada Kawasan Slamet Riyadi ini dirancang dalam bentuk : a. Jalur pejalan kaki sisi jalan (trotoar) dengan lebar 2,5 meter, terletak di
rumija sepanjang Jalan Slamet Riyadi
b. Jalur pejalan kaki sisi jalan (trotoar) dengan lebar 2 meter, terletak di rumija sepanjang Jalan P. Antasari
c. Jalur pejalan kaki sisi jalan (trotoar) dengan lebar 1,5 meter, terletak di rumija sepanjang Jalan Cendana, dan Jalan Anggi.
d. Jalan lingkungan sebagai jalur utama pejalan kaki dalam kawasan selebar 3m.
e. Jalan inspeksi sungai sebagai jalur utama pejalan kaki dalam kawasan selebar 3m.
Pasal 29
1. Penataan sistem parkir di kawasan perencanaan direncanakan dengan sistem parkir jauh dari jalan (off street) dan dekat dari jalan (on street).
2. Parkir kendaraan direncanakan terletak di pelataran parkir dalam lahan bangunan, baik di ruang terbuka maupun di dalam bangunan.
3. Pelataran parkir dapat disediakan baik di halaman depan bangunan maupun di samping maupun di belakang bangunan.
4. Sistem parkir juga dapat dilakukan dengan menyediakan kantong-kantong parkir berupa taman parkir/pelataran parkir dengan aksesibilias ke segala arah dan dapat mengakses langsung ke jalur pejalan kaki.
5. Pelataran parkir diluar bangunan menggunakan material yang dapat menyerap air dan dapat dilengkapi dengan tata vegetasi yang teduh.
6. Jalan arteri primer (Jalan Slamet Riyadi) merupakan jalan nasional yang tidak dapat dipergunakan untuk system parkir on-street. Sehingga, dapat direncanakan pelataran parkir ataupun gedung parkir yang dibangun dan dikelola oleh swasta yang berlokasi di blok komersial dan blok campuran.
7. Pembangunan gedung parkir diijinkan dibangun di blok transportasi, blok komersial dan blok campuran. Pengelolaannya dapat dilakukan oleh pemerintah maupun swasta.
8. Pembangunan gedung parkir diijinkan sebanyak 1-3 lantai dengan ketinggian 3-12m.
Draft Peraturan Walikota 20 Bagian Keenam
Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan
Pasal 30
1. Ketentuan perencanaan jaringan air bersih di Kawasan Slamet Riyadi (UKM Amplang) adalah sebagai berikut.
2. Penataan jaringan air bersih di kawasan perencanaan diarahkan kepada penempatan jaringan air bersih agar tidak berada dalam deretan yang sama dengan jaringan listrik dan telepon yang menggunakan jaringan kabel tanah guna meminimalkan gangguan pada jaringan
3. tersebut. Sehingga apabila suatu saat terjadi kebocoran pipa maka kebocoran tersebut tidak akan membahayakan instalasi kabel tanah yang lain.
4. Pengembangan jaringan pipa mengikuti ruas jalan agar mudah dalam pemeriksaan dan pemeliharaan, dengan menggunakan pipa primer berdiameter 150-300 milimeter, pipa sekunder berdiameter 100-150 milimeter, dan pipa tersier berdiameter 75-100 milimeter, yang ditanam dengan kedalaman 1 meter dan lebar 1,5 meter.
5. Penyediaan air bersih kawasan berasal dari IPA Cendana. Segmen 3 (Pertamina) memiliki jaringan pemipaan air bersih mandiri.
6. Air sebagai sumber hidran pemadam kebakaran berasal dari Sungai Manggis dan Sungai Mahakam.
Pasal 31
Ketentuan perencanaan jaringan air limbah di Kawasan Slamet Riyadi (UKM Amplang) adalah sebagai berikut.
1. Secara umum air limbah di kawasan perencanaan diklasifikasikan atas air limbah domestik (rumah tangga) dan air limbah industri amplang.
2. Air limbah domestik terdiri dari air buangan yang berasal dari dapur dan kamar mandi (sewerage) dan air buangan yang berasal dari kotoran manusia atau tinja (sewage). Air limbah industri amplang merupakan air sisa pencucian/pengolahan amplang.
3. Air limbah rumah tangga terbagi menjadi air limbah aman yang dapat dibuang langsung ke saluran drainase (grey water) seperti air bekas cucian, air bekas mandi, dan air limbah yang harus melalui proses terlebih dahulu (black water) seperti air dari kamar mandi.
4. Sistem pengelolaan untuk grey water direncanakan disalurkan ke bidang resapan ataupun saluran drainase lingkungan. Sedangkan sistem pengelolaan untuk black water di kawasan perencanaan direncanakan menggunakan sistem setempat (on site sanitation), yang dikelola oleh masyarakat setempat.
5. Pembangunan MCK umum di daerah dekat taman-taman publik.
6. Penerapan sistem septic tank komunal (Sanitasi Berbasis Masyarakat/Sanimas) yang menjadi blok percontohan pada sebagian blok permukiman (rumah kampung) di Segmen 2 dan segmen 4.
7. Air limbah hasil industri rumah tangga amplang diolah di IPAL sederhana yang terletak di setiap blok-blok lingkungan.
Draft Peraturan Walikota 21 Pasal 32
Ketentuan perencanaan jaringan drainase di Kawasan Slamet Riyadi (UKM Amplang) adalah sebagai berikut.
1. Sistem jaringan drainase di kawasan perencanaan direncanakan menggunakan pola aliran gravitasi. Secara detail rencana sistem drainase di kawasan perencanaan adalah sebagai berikut.
a. Penampung utama aliran air di kawasan perencanaan adalah Sungai Mahakam.
b. Aliran air dari sebagian saluran drainase primer dialirkan ke Sungai Manggis yang selanjutnya dialirkan ke Sungai Mahakam.
c. Saluran drainase primer direncanakan pada rumija Jalan Slamet Riyadi dan Jalan P. Antasari dengan menggunakan saluran terbuka selebar 0,8m dan kedalaman 0,6m. Jika sebagian saluran drainase terpaksa ditutup untuk jalur pejalan kaki maupun area parkir, maka dilengkapi dengan man
hole atau bukaan yang sewaktu-waktu dapat dibuka dengan jarak setiap
50 meter.
d. Saluran drainase sekunder direncanakan pada rumija Jalan Cendana dan Jalan Anggi dengan menggunakan saluran terbuka selebar 0,6m dan kedalaman 0,6m. Jika sebagian saluran drainase terpaksa ditutup untuk jalur pejalan kaki maupun area parkir, maka dilengkapi dengan man hole atau bukaan yang sewaktu-waktu dapat dibuka dengan jarak setiap 50 meter.
e. Saluran drainase tersier direncanakan pada rumija Jalan Lingkungan dengan menggunakan saluran terbuka selebar 0,3m dan kedalaman 0,3m. Penutupan bagian atas saluran drainase tidak disarankan menggunakan material yang massif (papan kayu/plat beton), tetapi menggunakan besi
hollow (grill) agar aliran air hujan dari jalan sekitar cepat mengalir ke
saluran drainase.
2. Rencana pembuatan saluran-saluran drainase harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Di dalam tiap-tiap pekarangan harus diadakan saluran-saluran pembuangan air hujan.Saluran-saluran drainase harus cukup besar dan cukup mempunyai kemiringan untuk dapat mengalirkan air hujan dengan baik. Air hujan yang jatuh diatas atap harus segera dapat disalurkan di atas permukaan dengan pipa-pipa atau dengan bahan lain dengan jarak antara sebesar-besarnya 25 meter (bangunan di kawasan daratan)
b. Curahan hujan yang langsung dari atas atap atau pipa talang bangunan tidak boleh jatuh keluar pekarangan dan harus dialirkan ke bak peresapan pada kapling bangunan bersangkutan, dan selebihnya kesaluran umum kota.
c. Pemasangan dan perletakan pipa-pipa dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak akan mengurangi kekuatan dan tekanan bangunan.
d. Bagian-bagian pipa harus dicegah dari kemungkinan tersumbat kotoran. Saluran direncanakan terbuka untuk memudahkan pengawasan dan pembersihan.
e. Agar tak terjadi pengendapan dalam saluran direncanakan kecepatan aliran sebesar 0,60 –2,50 m/detik.
Draft Peraturan Walikota 22 3. Blok rumah kampung yang sangat padat dengan ruang terbuka sedikit harus
menyediakan sumur resapan yang di bangun pribadi dipekarangan rumah. 4. Sumur resapan modern yang berfungsi sekaligus sebagai area penyimpanan
air tanah diletakkan diruang-ruang publik (badan jalan dan sempadan sungai). Pasal 33
Ketentuan perencanaan jaringan pengelolaan persampahan di Kawasan Slamet Riyadi (UKM Amplang) adalah sebagai berikut.
1. Pola pembuangan sampah di wilayah perencanaan adalah dengan penempatan tong-tong sampah kapasitas 0,12 meter kubik yang terpisah antara sampah basah dengan kering disetiap koridor jalan nasional hingga koridor jalan lingkungan dengan posisi selang-seling.
2. Sampah dikumpulkan dari tong sampah menuju TPS (tempat pembuangan sementara) yang diletakan dengan radius 400-500 meter. TPS juga harus disediakan oleh seluruh bangunan yang bersifat publik. TPS juga terdapat pemilahan antara sampah organik dan anorganik. Sistem organisasi dan manajemen pada tahap ini dikelola oleh pemerintah, swasta dan masyarakat. 3. Sampah organik diolah kembali menjadi komposting di bank sampah.
Composting diposisikan di blok permukiman, sehingga dapat terjaga keberlangsungan program tersebut. Sistem organisasi dan manajemen bank sampah ini dikelola oleh pemerintah, swasta dan masyarakat.
4. Sampah organik atau limbah hasil industri amplang dikelola khusus di blok pengelolaan limbah inudstri amplang yang berupa blok lingkungan pengolahan pupuk organik dan blok pengolahan pakan ternak.
5. Sampah yang sudah tidak bisa diolah kembali akan dibawa ke TPA (tempat Pembuangan Akhir). Sistem organisasi dan manajemen pada tahap ini dikelola oleh pemerintah, swasta dan masyarakat.
Pasal 34
Ketentuan perencanaan jaringan pemadaman kebakaran dan evakuasi di Kawasan Slamet Riyadi (UKM Amplang) adalah sebagai berikut.
1. Setiap bangunan gedung kecuali rumah tinggal harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan sistem proteksi aktif dan sistem proteksi pasif. Sistem proteksi aktif yaitu sistem proteksi terhadap bahaya kebakaran berbasis pada penyediaan peralatan yang dapat bekerja baik secara otomatis maupun secara manual, digunakan oleh penghuni atau petugas pemadam dalam melaksanakan operasi pemadaman. Sistem proteksi pasif meliputi kemampuan stabilitas struktur dan elemennya, konstruksi tahan api, kompartemenisasi dan pemisahan, serta proteksi pada bukaan yang ada untuk menahan dan membatasi kecepatan menjalarnya api dan asap kebakaran.
2. Untuk melakukan proteksi terhadap meluasnya kebakaran dan memudahkan operasi pemadaman, maka di dalam lingkungan bangunan gedung harus tersedia jalan lingkungan dengan perkerasan agar dapat dilalui oleh kendaraan pemadam kebakaran.
3. Jalan Slamet Riyadi, Jalan P. Antasari, Jalan Cendana, dan Jalan Anggi dilengkapi dengan hidran umum yang jarak perletaknnya setiap 50m. Sumber air baku untuk hidran pemadam kebakaran berasal dari Sungai Manggis dan Sungai Mahakam.
Draft Peraturan Walikota 23 4. Mobil pemadam kebakaran dapat melalui Jalan Slamet Riyadi, Jalan P.
Antasari, Jalan Cendana, Jalan Anggi, dan Jalan Inspeksi Sungai.
5. Jalan lingkungan yang tidak dapat dilalui mobil pemadam kebakaran dapat menggunakan motor pemadam kebakaran/pemadam kebakaran portable. 6. Pos sederhana sebagai pemantau pemadam kebakaran diletakkan di titik
strategis sebanyak 1 (satu) unit di tepi Jalan Inspeksi Sungai (Segmen 2) yang dilengkapi dengan motror pemadam kebakaran.
7. Segmen 3 (Blok Pertamina) memiliki sistem pemadaman kebakaran mandiri (sistem proteksi aktif dan pasif).
8. Setiap bangunan publik harus memiliki ruang terbuka untuk titik berkumpul
(muster point). Titik berkumpul (muster point) permukiman berupa taman
lingkungan/lapangan olahraga.
9. Peraturan-peraturan seperti kode bangunan dapat digunakan untuk mengurangi kemungkinan panik dengan memungkinkan individu menyiapkan kebutuhan untuk mengevakuasi diri. Perencanaan yang tepat akan menerapkan pendekatan semua bahaya sehingga rencana itu dapat digunakan kembali untuk beberapa bahaya yang mungkin ada.
10. Dilakukan pengadaan satlakar (warga kawasan perencanaan) yang dibina oleh pemerintah dari instansi terkait.
Pasal 35
Ketentuan perencanaan jaringan listrik di Kawasan Slamet Riyadi (UKM Amplang) adalah sebagai berikut.
1. Sistem penerangan jalan berupa pemasangan penerangan jalan umum (PJU) baru menggunakan tenaga surya (solar panel).
2. Pada tahap awal merapikan jaringan listrik kabel udara di sepanjang tepi jalan maupun yang menyeberangi jalan (antara lain penyeragaman posisi tiang, merapikan kabel yang tidak teratur). Kabel udara yang menyeberangi jalan disyaratkan mempunyai tinggi minimum 5 meter di atas permukaan jalan.
3. Jalan-jalan lingkungan perumahan dapat tetap menggunakan kabel listrik udara, hanya ditata sedemikian rupa, sehingga dapat sejajar dengan koridor jalan.
Pasal 36
Ketentuan perencanaan jaringan telekomunikasi di Kawasan Slamet Riyadi (UKM Amplang) adalah sebagai berikut.
1. Tingkat pelayanan disesuaikan dengan ketersediaan satuan sambungan telepon PT. Telkom yang tersedia.
2. Jaringan kabel telepon idealnya menggunakan jaringan kabel bawah tanah. 3. Jaringan kabel telepon bawah tanah direncanakan mengikuti rute sisi jalan
guna mencapai pelanggan. Jaringan kabel telepon direncanakan ditempatkan secara terpadu bersamaan dengan kabel listrik di dalam pipa PVC berdiameter 8 inci dengan lubang periksa (manhole) setiap 20 meter.
4. Kebutuhan telekomunikasi seluler dilayani oleh jaringan menara Base Transceiver Station (BTS).
Draft Peraturan Walikota 24 Bagian Ketujuh
Ruang Terbuka dan Tata Hijau
Pasal 37
1. Ruang terbuka umum pada kawasan perencanaaan meliputi RTH skala kota (lapangan olahraga), RTH skala lingkungan (taman bermain), dan RTH Sempadan Sungai (Taman Pintar Amplang).
2. Ruang terbuka privat adalah ruang terbuka yang mempunyai akses terbatas bagi umum. Ruang terbuka privat terdapat pada fungsi atau kegiatan yang mempunyai privasi tinggi, seperti ruang terbuka pada kawasan permukiman. Ruang terbuka privat permukiman di kawasan perencanaan direncanakan untuk di gunakan sebagai lahan parkir kendaraan pribadi atau sebagai halaman yang ditanami dengan pohon maupun tanaman. Jika ruang terbuka sempit, maka penghijauan dapat dilakukan dengan cara tabulampot.
3. Pola tata vegetasi dan penciptaan iklim mikro merupakan unsur penting dalam penciptaan ruang terbuka pada iklim tropis. Konsep ruang terbuka pada kawasan menganjurkan penanaman pohon peneduh, terutama pada ruang terbuka umum yaitu pada jalur hijau sisi pedestrian, tajuk selebar 3 meter dengan jarak penanaman setiap 5 meter. Dengan lebar ini, maka jenis tanaman yang dimungkinkan untuk ditanam adalah pohon-pohon peneduh dan juga memberikan ciri khas lokal, yaitu : pohon tangohai, pohon sungkai dan pohon pulai. Selain peneduh, pola tata hijau dilakukan sebagai pengarah. Vegetasi pengarah yang dapat ditanam antara lain palem-paleman. Pada ruang terbuka privat untuk umum, perlu ditanam pohon peneduh sebagai pembentuk iklim mikro depan bangunan dan peneduh area parkir kendaraan.
4. Pada tiap simpul jalan direncanakan untuk dilakukan penataan ruang terbukanya dengan penanaman vegetasi pengarah dan vegetasi perdu pembentuk estetika. Sisi yang menghadap persimpangan jalan dianjurkan untuk tidak ditanami tanaman tinggi untuk memperluas pandangan pengemudi. 5. Untuk batas halaman/perkarangan dengan jalur pedestrian, rencana vegetasi
tanaman yang ditanam adalah tanaman dengan tinggi maksimal 60-80cm. Pasal 38
1. Ruang terbuka hijau berupa taman skala kota dengan luas minimal 0,5 Ha (5.000m²) juga dapat dijadikan sebagai area olahraga (taman kota aktif) dengan sarana olahraga berupa jongging track yang dilengkapi jalur khusus difabel dan lapangan olahraga (misalnya: lapangan basket atau lapangan futsal).
2. Ketentuan KDH taman kota aktif adalah 70%-80%
3. Penutup tanah pada taman kota aktif adalah material yang dapat menyerap air, yaitu : rumput, paving block, dan batu alam (andesit atau basalt).
4. Vegetasi yang dianjurkan adalah pohon peneduh yang juga memberikan nilai estetika, pengarah, dan peneduh, seperti : pohon kiara payung dan pohon palem ekor tupai.
Pasal 39
1. Kawasan sekitar sungai perlu dikonservasi dengan membentuk tata hijau sebagai area sempadan sungai atau area penyangga.
Draft Peraturan Walikota 25 2. Tanaman sempadan sungai berupa pohon yang mampu menyerap air (seperti:
pohon tangohai) dan perdu (iris kuning dan bawang-bawangan) serta penutup tanah yang dapat menyerap air (rumput dan grass block)
3. Ruang terbuka sempadan Sungai Mahakam diberikan sculpture atau signage yang menunjukan ciri khas lokal Kalimantan Timur dan kuliner amplang.
Pasal 40
1. Blok lingkungan dengan instensitas tinggi harus menyediakan ruang terbuka, khususnya blok industri rumah tangga. Ruang terbuka ini tetap harus memperhatikan tata hijau.
2. Taman lingkungan juga dapat berupa taman bermain anak dan taman toga (tanaman obat keluarga) yang dikelola sendiri oleh warga sekitar.
3. Vegetasi yang dianjurkan adalah pepohonan peneduh, seperti : pohon pulai dan pohon tangohai, perdu yang bersifat estetis, dan tanaman obat.
4. Penutup tanah pada taman lingkungan adalah material yang dapat menyerap air, yaitu: rumput dan grass block.
Pasal 41
Blok Pertamina (Segmen 2) merupakan kawasan kilang minyak dan SPBU (rawan kebakaran) memiliki area penyangga (buffer zone) berupa penghijauan selebar 10 m yang berada didalam blok dan mengelilingi blok. Vegetasi yang dianjurkan adalah pohon peneduh, seperti: pohon tanjung, pulai, angsana, dan mahoni.
Bagian Kedelapan
Tata Informasi dan Wajah Jalan
Pasal 42
1. Area yang harus bebas dari segala tata informasi yaitu:
a. ruang vertikal berjarak 2,2 m dari permukaan trotoar/jalur pedestrian; b. ruang vertikal berjarak 5 m dari permukaan jalan; dan
c. ruang dalam radius 10 m dari persimpangan jalan, kecuali rambu-rambu jalan.
2. Pemasangan penunjuk nama bangunan diarahkan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. menempel pada bangunan dengan posisi horisontal, ukuran yang diperkenankan adalah 1 x 5 meter;
b. menempel pada bangunan dengan posisi vertikal, ukuran yang diperkenankan adalah 1 x 3 meter;
c. menggantung pada bangunan (arcade/kanopi) dengan posisi horisontal, ukuran yang diperkenankan adalah 1 x 5 meter; dan
d. pola bangunan tunggal diarahkan untuk membuat penunjuk informasi bangunan yang berdiri sendiri.
3. Penunjuk nama jalan pada kawasan perencanaan diharuskan ditempatkan pada setiap ujung jalan yang terdapat pada kawasan perencanaan dengan bentuk yang mencirikan karakter lokal Kalimantan Timur.
Draft Peraturan Walikota 26 4. Rambu pertandaan jalan maupun rambu untuk jalur penyelamatan bencana
alam diarahkan terletak pada kawasan yang mudah terlihat, kuat, dan terpelihara. Pentingnya tanda-tanda dalam sebuah kota adalah agar masyarakat mengenal kawasan tersebut dan petunjuk bagi pengunjung yang baru mengenal tempat tersebut. Untuk penempatan rambu jalan disesuaikan dengan standar dinas perhubungan. Ukuran dan kualitas rancangan dari rambu-rambu harus diatur agar tercipta keserasian serta mengurangi dampak negatif kawasan.
5. Penataan reklame pada kawasan perencanaan diarahkan dengan ketentuan sebagai berikut.
a. kepentingan penempatan harus mengupayakan keseimbangan, keterkaitan dan keterpaduan dengan semua jenis elemen pembentuk wajah jalan atau perabot jalan lain dalam hal fungsi, keamanan, estetis dan sosial. Penempatan reklame pada kawasan perencanaan dilakukan hanya pada titiktitik tertentu, tidak mengganggu dan menutupi keberadaan bangunan pemerintahan yang terdapat di segmen ini.
b. titik pemasangan papan reklame pada kawasan perencanaan diarahkan di sekitar pusat perdagangan di persimpangan, shelter/halte dapat dimanfaatkan sebagai bidang reklame sesuai dengan arahan titik pemasangannya;
c. perlu pembatasan terhadap ukuran, material, motif, lokasi dan tata letak. Untuk ukuran reklame umum dengan desain satu tiang maksimal adalah 24 meter persegi. Tidak diperkenankan memasang reklame dua kaki dan reklame yang melintang jalan (Bando); dan
d. penempatan reklame harus menciptaan karakter lingkungan kawasan. Pada kawasan perencanaan materi reklame komersial diperbolehkan.
Pasal 43
1. Untuk kawasan perencanaan maka wajah jalan dibentuk dengan:
a. Peletakan vegetasi peneduh pada jalur pedestrian dan dalam kavling privat;
b. Peletakan pencahayaan buatan harus mempunyai jarak setiap titik lampu sekurang-kurangnya 50 meter, sesuai kebutuhan jenis ruang terbuka hijau dan sempadan jalan;
c. Pencahayaan buatan di ruang terbuka hijau harus memperhatikan karakter lingkungan, fungsi, dan arsitektur bangunan dan komponen promosi; dan
d. Pembentukan jalur pedestrian dengan permukaan jalur yang nyaman untuk berjalan bagi pejalan kaki maupun penyandang cacat.
2. Penataan street furniture di kawasan perencanaan, meliputi:
a. Halte Angkutan Kota, peletakan halte pada kawasan perencanaan diarahkan pada tiap jarak 500 m di Jalan Slamet Riyadi. Peletakan halte harus dibuat senyaman mungkin dan tidak menggangu sirkulasi pejalan kaki. Pada bangunan halte harus dilengkapi dengan nama halte dan
Draft Peraturan Walikota 27 diperkenankan untuk memasang reklame. Bentuk halte harus bercirikan
dan mencitrakan nuansa khas lokal Kalimantan Timur. Rancangan halte angkutan kota dapat mengikuti kaidah berikut ini:
1) Bentuk dan jenis halte yang diusulkan ada tiga alternatif yaitu; halte yang beratap, halte yang tidak beratap (tetapi dibuat dibawah pepohonan yang rindang) dan berupa rambu-rambu saja;
2) Halte diletakkan pada jalur pejalan kaki, dengan membuat perbedaan ketinggian lantai dengan satu atau dua trap yang membedakan halte dan pedestrian yang dibuat memutari halte tersebut. Dimungkinkan menggabung dengan kios penjual penganan dalam satu bangunan, tetapi penempatannya dipisahkan secara fisik agar tidak saling mengganggu;
3) Posisi jalan dibuat masukkan sedikit lebih kurang 2 meter ke dalam halte, sehingga sewaktu kendaraan angkutan kota menepi tidak menghambat sirkulasi kendaraan di belakangnya;
4) Bentuk dan tampilan halte dirancang sedemikian sehingga tidak menutupi dan mendominasi bangunan dan lingkungan di sekitarnya; 5) Bisa dimanfaatkan untuk memasang reklame yang dirancang
sebagai bagian dari bangunan halte, dengan proporsi maksimum 20% dari bidang tampak halte; dan
6) Memperjelas identitas halte agar mudah dikenali, terutama pada tempat-tempat pemberhentian angkutan kota yang berupa rambu-rambu saja, antara lain dengan memisahkan secara jelas dengan trotoar, membuat kemunduran pagar, ditanami dengan tanaman peneduh yang khas.
b. Penataan tempat sampah di kawasan perencananaan diarahkan sebagai berikut:
1) Perlu penyeragaman bentuk dan besaran tempat sampah yang berada dalam satu koridor jalan;
2) Setiap pembangunan baru, perluasan suatu bangunan yang diperuntukkan sebagai tempat kediaman harus dilengkapi dengan tempat atau kotak pembuangan sampah yang ditempatkan sedemikian rupa sehingga kesehatan umum masyarakat sekitarnya terjamin;
3) Dalam hal lingkungan di daerah pertokoan yang mempunyai dinas pembersihan kota, kotak-kotak sampah yang tertutup disediakan sedemikian rupa sehingga petugas-petugas dinas tersebut dapat dengan mudah melakukan tugasnya;
4) Penyediaan tempat sampah agar mempertimbangkan segi estetika. 5) Dipisahkan antara tempat sampah kering dan sampah basah; dan 6) Rancangan penempatannya pada batas antara jalur pejalan kaki
dengan jalur kendaraan (mudah dijangkau dari dua sisi), dengan tiap jarak 50 m.