• Tidak ada hasil yang ditemukan

PREVIEW III (AKHIR) TUGAS AKHIR-RP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PREVIEW III (AKHIR) TUGAS AKHIR-RP"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

PREVIEW III (AKHIR)

TUGAS AKHIR-RP09 1333

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA, 2013

(2)

BAB I

LATAR BELAKANG

Permukiman di sepanjang garis

pantai dengan kondisi kerapatan

tinggi dan kumuh, dengan

prasarana dan sarana sangat

terbatas (RP4D Kabupaten

Lamongan, 2007)

Penanganan infrastruktur sektor air bersih

pada prinsipnya diutamakan bagi masyarakat

yang belum memiliki akses terhadap air

bersih, terutama pada daerah-daerah rawan

air, permukiman kumuh, nelayan dan daerah

tertinggal (Kodoatie,2003:151-152).

Terdapat 16 Kelurahan di Kecamatan Brondong dan Kecamatan Paciran, merupakan wilayah pesisir yang terletak di Utara Lamongan dengan laju pertumbuhan

penduduk 1,14 dan 1,11 (tertinggi diantara 27 kecamatan di Kabupaten Lamongan) Dalam rumusan strategi pengembangan

infrastruktur air bersih di kabupaten Lamongan, dalam analisis SWOT terdapat kelemahan dalam pengembangan cakupan pelayanan yaitu

terkait dengan:

Pelayanan penyediaan air bersih di Kabupaten Lamongan masih terkendala :

1. Terbatasnya sumber daya manusia dan tenaga ahli di bidang air bersih

2. Kurangnya sarana dan prasarana pendukung

3. Cakupan pipa distribusi dan tersier, khususnya di Lamongan sudah tidak sesuai dengan jumlah pelanggan yang ada

4. Masih terbatasnya jaringan pipa yang ada disamping kondisi pipanya yang sudah tua (RP4D Kabupaten Lamongan, 2007)

1. Jarak antara sumber air baku dengan wilayah pelayanan relatif jauh

2. Kapasitas produksi air belum mencukupi kebutuhan

3. Tingkat kebocoran tinggi

4. Pengelola air minum tidak sehat

5. Kualitas air yang dihasilkan belum memenuhi standar

(3)

LATAR BELAKANG

PDAM hanya melayani 4 Kelurahan/Desa dari

16 Kelurahan yang berada di permukiman

pesisir Utara Lamongan, yaitu Kelurahan

Brondong (501 KK dari 3.514 KK), Desa

Blimbing (447 KK dari 4.371 KK), Desa

Kandangsemangkon (6 KK dari 2.008 KK), dan

Desa Sedayulawas (9 KK dari 3.279 KK), (unit

PDAM Brondong-Paciran, 2013)

Pelayanan air bersih di

Kecamatan Brondong dan

Kecamatan Paciran <30%

(SPPIP Lamongan 2012)

Peningkatan Distribusi

Pelayanan Air Bersih

Permukiman Pesisir

Utara Lamongan

Pelayanan PDAM yang ada hanya

menjangkau wilayah dekat jalan arteri

primer atau kolektor saja, belum

menjangkau wilayah pada kawasan padat

penduduk, kontinuitas pelayanan PDAM

kurang, serta kualitas air bersih buruk,

karena air yang dihasilkan berwarna kuning,

serta payau karena mengandung banyak zat

kapur, sehingga banyak dari masyarakat

yang masih membeli air bersih galon dan

jerigen air bersih.

Pengelola air bersih di Kabupaten

Lamongan ditangani oleh PDAM dan

masyarakat (HIPPAM), (SPPIP

Kabupaten Lamongan,2012)

Menurut RTRW Kabupaten Lamongan Tahun 2011, masalah terkait pelayanan air bersih disebabkan karena:

1. Belum terpenuhinya air bersih terutama air minum

secara merata di Kabupaten Lamongan seperti di

wilayah pantura dengan intensitas kegiatan yang

tinggi kebutuhan air minum dipenuhi dengan

membeli air galon dan wilayah selatan yang jauh dari jangkauan juga belum terpenuhi air bersih;

2. Kondisi air bersih yang selama ini digunakan di sebagian wilayah Kabupaten Lamongan terutama

bagian utara merupakan air payau sehingga tidak

dapat dimanfaatkan untuk air minum;

3. Sumber-sumber air yang ada baik dari sungai

maupun mata air belum mendapat pengelolaan secara terpadu terutama untuk memenuhi kebutuhan air minum;

4. Kurangnya pengelolaan air bersih dan

pendistribusiannya kepada masyarakat; serta

5. Peraturan yang menyangkut kelestarian sumber daya air yang ada di Kabupaten Lamongan masih kurang di berlakukan.

(4)

RUMUSAN MASALAH

Beberapa permasalahan di atas mengindikasikan masih belum meratanya distribusi pelayanan air bersih untuk permukiman di pesisir Utara Lamongan, sehingga dapat

dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

Pelayanan air bersih di permukiman pesisir ini didistribusikan oleh PDAM dan Dinas PU Cipta Karya melalui HIPPAM. Untuk unit Kecamatan Brondong dan Paciran, sumber air yang dipergunakan oleh PDAM adalah air tanah dalam (sumur bor) yang terletak di Desa Blimbing dengan kapasitas terpasang 20 liter/detik dan semua dimanfaatkan untuk air bersih. Kapasitas operasi sistem sebesar 15 liter/detik. Dengan tingkat kebocoran 32%, namun dengan wilayah pelayanan hanya 4 Kelurahan dari 16 Kelurahan yang berbatasan dengan pesisir (Ka.Unit PDAM Kecamatan Brondong Paciran).

Masih belum meratanya penditribusian air yang ada terkait dengan tingkat kebocoran yang tinggi, jarak dari sumber air yang jauh, jaringan perpipaan PDAM hanya ada di jalan-jalan utama saja serta kondisi topografi wilayah yang cenderung berbukit-bukit (survey pimer, 2013).

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi cakupan

distribusi pelayanan air bersih di permukiman pesisir Utara

(5)

Tujuan dan Sasaran penelitian

Menganalisis kebutuhan air bersih permukiman pesisir Utara Lamongan

Merumuskan arahan peningkatan distribusi pelayanan air bersih permukiman pesisir Utara Lamongan

Menganalisis cakupan pelayanan air bersih permukiman pesisir Utara Lamongan

Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi cakupan pelayanan air bersih permukiman pesisir Utara

Lamongan

Mensimulasikan model distribusi pelayanan air bersih untuk tiap Kelurahan/Desa di permukiman Pesisir Utara Lamongan berdasarkan target cakupan pelayanan Kabupaten Lamongan

Tujuan Penelitian ini dimaksudkan untuk merumuskan arahan dalam hal

peningkatan pelayanan air bersih di permukiman Pesisir Utara Lamongan, yaitu

pada 16 Kelurahan yang berbatasan dengan pesisir, sehingga sasaran untuk

mencapai tujuan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

(6)

Tinjauan Pustaka

Indikator Variabel

Ketersediaan Air

Bersih Kuantitas banyaknya pelayanan air bersih masyarakat pesisir  Jumlah sumber air bersih potensial pada tiapkelurahan/desa dalam pemenuhan pelayanan air bersih

 Debit sumber air bersih Tingkat layanan

air bersih

Keterjangkauan masyarakat permukiman pesisir terhadap pelayanan air bersih perpipaan

Jarak sumber produksi air bersih perpipaan terhadap lokasi permukiman tiap Kelurahan/Desa

Fasilitas pelayanan perpipaan air bersih

masyarakat pesisir Persentase cakupan pelayanan air bersih perpipaanpermukiman pesisir Utara Lamongan Aspek yang

mempengaruhi tingkat pelayanan air bersih

Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan air bersih perpipaan

Jarak sumber produksi air bersih perpipaan terhadap lokasi permukiman tiap Kelurahan/Desa

Aspek teknik distribusi pelayanan air bersih Tarif pelayanan air bersih Kondisi fisik lingkungan kawasan pesisir yang

mempengaruhi distribusi pelayanan air bersih

 Kelerengan Sumber Air Bersih

 Ketinggian wilayah pelayanan dari muka tanah ke muka air laut

Kemampuan finansial masyarakat dalam memperoleh pelayanan air bersih

Jumlah tahapan penduduk prasejahtera dan Sejahtera I Persebaran wilayah permukiman  Luas wilayah permukiman yang membutuhkan distribusi

pelayanan air bersih

 Jumlah persebaran permukiman Pertumbuhan penduduk yang membutuhkan

pelayanan air bersih

 Kepadatan Penduduk

 Jumlah penduduk yang terlayani jaringan perpipaan

 Jumlah Penduduk yang membutuhakan distribusi pelayanan air bersih

Kinerja pengelola dalam pengalokasian dana untuk penyediaan pelayanan air bersih

Alokasi pendanaan untuk peningkatan pelayanan air bersih

(7)

Menganalisis kebutuhan air bersih permukiman pesisir Utara Lamongan

Merumuskan arahan peningkatan distribusi pelayanan air bersih permukiman pesisir Utara Lamongan

Menganalisis cakupan pelayanan air bersih permukiman pesisir Utara Lamongan

Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi cakupan pelayanan air bersih permukiman pesisir Utara

Lamongan

Mensimulasikan model distribusi pelayanan air bersih untuk tiap kelurahan/Desa di permukiman Pesisir Utara Lamongan berdasarkan Target Cakupan Pelayanan Kabupaten Lamongan

BAB III METODE PENELITIAN

Analisa Deskriptif dan

Perhitungan Kebutuhan Air Bersih

Regresi Spasial dengan GWR (Geographically

Weighted Regression)

dan Analisis Deskriptif Analisis Perhitungan

Cakupan Pelayanan

Analisis Deskriptif Kuantitatif

(8)
(9)

Kapasitas sudetan bengawan solo yaitu 200

lt/dt dan belum termanfaatkan

(10)

Air Tanah Kedalaman (Meter)

Debit (lt/dt)

Potensi Air Tanah Kecil 1-17,5 1

Potensi Air Tanah Sedang 1-14 5

(11)

52,83 66,13 15,79 38,9 27,96 41,59 57,55 59,98 28,7 58,64 55,6 30,9 3,1 7,5 3,2 2,5 0 10 20 30 40 50 60 70 Brondong Sedayulawas Lohgun Labuhan Kandangsemangkon Kranji Blimbing Paciran Tunggul Banjarwati Kemantren Sidokelar Paloh Weru Sidokumpul Warulor

(12)

Kependudukan

Grafik

Pertumbuhan Penduduk Tahun 2008-2010

Jumlah Penduduk Wilayah Penelitian Tahun 2012

0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000 18.000 20.000 Br ond ong Sed ay ul aw as Lo hgun Lab uh an Kand angsem angk on Kr an ji Bl imb ing Pac ir an Tun gg ul Banj ar w at i Kem ant ren Sid ok el ar Pal oh W er u Sid ok um pul W ar ul or Jumlah penduduk (jiwa)

Sumber: BPS Brondong dan Paciran Dalam Angka Tahun 2012

Perbandingan Jumlah Penduduk dengan Kepadatan Penduduk Wilayah Penelitian Tahun 2011

0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 Bro nd ong Se da yul aw as Lo hg un La bu ha n Kand angs ema … Kran ji Bl im bin g Pa cira n T un gg ul Ba nja rwa ti Kem ant ren Si do kel ar Pa lo h W eru Si do kum pul W arul or

Jumlah penduduk (jiwa) Kepadatan

Sumber: BPS Brondong dan Paciran Dalam Angka Tahun 2012 0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000 18.000 20.000 Br ond ong Sed ay ul aw as Lo hgung Lab uh an Kand angsem angk on Kr anj i B lim bin g Pac ir an Tun gg ul Banj ar w at i Kem ant ren Sid ok el ar Pal oh W er u Sid ok um pul W ar ul or Ju ml ah P en du du k Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010

(13)

0 500 1000 1500 2000 2500

Pra sejahtera I II III III+

Sumber: Buku Kecamatan Dalam Angka Kec. Brondong Paciran, 2012

Banyaknya Keluarga Menurut Pertahapan Keluarga Sejahtera Tahun 2011

Petani 17% Dagang 14% Nelayan 59% Pegawai Negeri 1% Lainnya 9% Tanaman Pangan 27% Perikanan Laut 69% Peternaka n 4%

Sumber : Data Statistik dan Profil Kecamatan Brondong tahun 2012

Prosentase Penduduk Per Jenis Pekerjaan di Kecamatan Brondong Tahun 2011

Sumber: BPS, Kecamatan Paciran Dalam Angka 2012

Prosentase Penduduk yang Bekerja Pada Sub Sektor Pertanian di pesisir Kecamatan Paciran Tahun 2011

(14)

Komponen Data Satuan Unit Brondong-Paciran

Tahun Pembangunan 1984

Total Kapasitas Terpasang Liter/detik 20

Kapasitas Produksi Liter/detik 15

Kapasotas terdistribusi Liter/detik 15

Kapasitas Terjual Liter/detik 10,5

Kapasitas belum termanfaatkan

Liter/detik 5

Kehilangan air % 32

Sistem pengaliran Gravity/pom

pa

Pompa

Jam operasi produksi Jam/hari 15

Jam operasi distribusi Jam/hari 15

Sumber daya Genset/PLN PLN

Meter induk Ada/tidak tidak

PDAM Tirta Dharma Unit Brondong-Paciran

Sumber: SPAM, PU Tahun 2011

PDAM Unit Kecamatan Brondong dan Kecamatan Paciran memiliki 1 sumber

air yang digunakan PDAM Jasa Dharma, yaitu berupa sumur bor (air bawah

tanah) yang dipompa melalui pipa transmisi ke pipa distribusi berlanjut pada

pipa tersier menuju pipa masing-masing pelanggan.

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000 Jumlah KK SR Rumah Tangga yang terlayani perpipaan PDAM (KK)

(15)

HIPPAM Desa

a. Penyelenggara

:

Dinas PU Cipta Karya Kabupaten Lamongan

b. Tahun Pelaksanaan SPAM: 2001 sampai sekarang

c. Jenis sumber

:

Sumur bor, sumur gali, telaga, waduk.

d. Kapasitas sumber :

Rata-rata 2,5 l/dt

e. Kapasitas pemanfaat:

2,5 l/dt

f. Sistem pengaliran:

Pompa dan Gravitasi

g. Nilai Ekonomi

:

Sistem meterisasi Rata Rp. 1500/m

3

h. Lembaga

:

HIPPAM (Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum)

Kecamatan Kelurahan/Desa Jumlah KK Jumlah SR (Sambungan Rumah) Brondong Lohgun 865 300 Labuhan 1.707 700 Paciran Tunggul 1.163 299 Banjarwati 1.293 70 Weru Komplek (Paloh, Weru, Sidokumpul, Werulor) 2.146 500 865 1.707 1.163 1.293 2.146 300 700 299 70 500 0 500 1000 1500 2000 2500 Jumlah KK

(16)

Kebutuhan Air Bersih

12,64

12,97

5,58

2,83

6,9

6,57

4,13

4,43

1,59

15,91

14,27

7,23

1,13

4,1

1,42

2,12

Brondong

Sedayulawas

Labuhan

Lohgung

Kandangsemangkon

Kranji

Tunggul

Kemantren

Sidokelar

Blimbing

Paciran

Banjarwati

Paloh

Weru

Werulor

Sidokumpul

(17)

Kebutuhan dan Kapasitas Terpasang dengan Pelayanan Perpipaan

Pengelola Kelurahan/Desa Kebutuhan Berdasarkan Penambahan Kapasitas Terhadap

Kebocoran Air (lt/dt) *

Jumlah Kapasitas Debit Sumber Air

(lt/dt) PDAM Brondong 12,64

20

Sedayulawas 12,97 Blimbing 15,91 Kandangsemangkon 6,90 Sub Total

48,42

20

HIPPAM Labuhan 5,58

3

Lohgun 2,83

2

Banjarwati 7,23

2

Tunggul 4,13

3

Weru Komplek:

8,77

10

a. Paloh 1,13 a. Weru 4,10 a. Werulor 1,42 a. Sidokumpul 2,12 Sub Total

28,54

20

Konvensional Kranji 6,57

0

Kemantren 4,43 Paciran 14,27 Sidokelar 1,59 Sub Total

26,86

0

TOTAL

103,82

40

(18)

Analisis Cakupan Pelayanan Air Bersih

Sumber: Analisa 2013

Cakupan Pelayanan dengan Sambungan PDAM

Cakupan Pelayanan dengan Sambungan HIPPAM Desa

Sumber: Analisa 2013

Kecamatan Kelurahan Jumlah Penduduk (Jiwa) Jumlah penduduk yang terlayani PDAM (Jiwa) Cakupan Pelayanan (%) Brondong Sedayulawas 14.154 36 0,25 Brondong 13.788 2.004 14.53 Paciran Blimbing 17.369 1.788 10.29 Kandangsemangkon 7.526 24 0.32

Kecamatan Kelurahan Jumlah Penduduk (Jiwa) Jumlah penduduk yang terlayani HIPPAM (Jiwa) Cakupan Pelayanan (%) Brondong Lohgun 3.090 1.200 38,83 Labuhan 6.088 2.800 45,99 Paciran Tunggul 4.512 1.196 26,50 Banjarwati 7.891 5.000 63,36 Weru Komplek (Paloh, Weru, Sidokumpul, Werulor) 9.579 2.000 20,88

(19)

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Distribusi

Pelayanan Air Bersih Permukiman Pesisir Utara Lamongan

Tahapan GWR

1. Regresi Linier dengan Ordinary Least Square (OLS)

Dari regresi secara serentak ini di dapat 3

faktor yang berpengaruh yaitu X4 alokasi

dana prasarana air bersih, X7 jumlah

sumber air bersih, dan X11 kelerengan

sumber air bersih yang berpengaruh

Hasil analisis regresi sederhana yang

dilakukan diperoleh faktor yang

berpengaruh secara signifikan dengan

menggunakan α sebesar 20%.

2. Stepwise

Enam variabel prediktor yang berpengaruh terhadap variabel respon, yaitu

X3, X4, X6, X7, X10 dan X11

3. Uji Asumsi Residual Identik

uji gletjser

Hasil pengujian asumsi residual identik

menyatakan bahwa dari enam variabel

predictor terdapat empat variabel

prediktor, yaitu X4, X6, X10, X11

Adanya variabel yang berpengaruh nyata

maka H

0 -

ditolak sehingga residual

bersifat heterogenitas

(tidak identik).

Dengan demikian asumsi residual identik

tidak terpenuhi.

(20)

4. Uji Asumsi Residual Independen

(pemerikasaan Autokorelasi)

Hasil perhitungan statistik uji durbin watson

adalah sebesar 2.71724 , nilai dL dengan α =

20% sebesar 1,52 sehingga nilai statistik uji

durbin watson

lebih besar dari dL

5.Uji Multikolinieritas

Oleh karena itu, H

0

gagal

ditolak yang berarti bahwa

tidak ada korelasi

antar

residual atau residual telah

memenuhi asumsi

independen

Variabel

Berpengaruh

X3

X4

X6

X7

X10

X11

VIF

3.189

2.666

1.980

4.254

4.137

7.436

5. Uji Kenormalan Data

Asumsi kenormalan dilakukan dengan

menggunakan uji kolmogorov-smirnov

(KS).

Untuk menentukan kenormalan data dengan uji

Kolmogorov-Smirnov

, nilai signifikansi

harus diatas 0,05 atau 5% (Imam

Ghozali, 2005).

-10 -5 0 5 10 99 95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5 1 RESI1 P e rc e n t Mean -1.88738E-15 StDev 4.954 N 16 KS 0.094 P-Value >0.150

Probability Plot of RESI1

(21)

Uji Efek Spasial

Pengujian

Nilai

Signifikansi

Breusch-Pagan

*

0.0903

Moran's I

0.9938

Hasil Uji Spasial dengan Breusch-Pagan test

dengan taraf signifikansi 20% menunjukkan

bahwa cakupan pelayanan air bersih di

permukiman pesisir Utara Lamongan memiliki

pengaruh titik atau bisa dikatakan pengaruh

lokasi dengan basis heterogenitas.

GWR (Geographically Weighted Regression)

Kelurahan/Desa

Faktor Berpengaruh

Kelurahan

/Desa

Faktor Berpengaruh

Brondong

X3,X4,X6,X7,X10,X11

Tunggul

X3,X4,X7,X10,X11

Sedayulawas

X3,X4,X6,X7,X10,X11

Banjarwati

X4, X7,X10, X11

Lohgung

X3,X4,X6, X7,X10,X11

Kemantren

X4, X7,X11

Labuhan

X3,X4,X6, X7,X10,X11

Sidokelar

X7, X11

Kandangsemangkon

X3,X4,X6, X7,X10,X11

Weru

X7, X11

Kranji

X3,X4, X7,X10,X11

Sidokumpul X7, X11

Blimbing

X4, X6, X7, X10,X11

Warulor

X7, X11

Paciran

X3,X4,X6,X7,X10,X11

Paloh

X7, X11

(22)

Variabel berpengaruh

Faktor yang Mempengaruhi

Kepadatan Penduduk (X3)

Kepadatan penduduk tinggi pada permukiman padat

nelayan dan perkampungan pesisir Utara Lamongan

Alokasi dana peningkatan prasarana

air bersih (X4)

Alokasi dana peningkatan prasarana air bersih dalam

peningkatan akses terhadap air bersih

Jarak sumber produksi air bersih

perpipaan terhadap lokasi

permukiman (X6)

Jarak permukiman (wilayah pelayanan) terhadap bangunan

pengolahan sumber air bersih

Jumlah sumber air bersih (X7)

Jumlah sumber air yang menjadi prioritas masyarakat

untuk peningkatan pelayanan air bersih.

Debit sumber air bersih (X10)

Debit sumber air bersih terkait kebutuhan air bersih

masing-masing Kelurahan/Desa

Kelerengan sumber air bersih (X11)

Kondisi kelerengan sumber air bersih terhadap wilayah

pelayanan yang membutuhkan distribusi air bersih.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dari Hasil

Analisis Deskriptif

(23)

Contoh Simulasi Untuk Kelurahan Brondong

Kelurahan/ Desa

Simulasi Model terhadap Target Cakupan Pelayanan 75%

Interpretasi terhadap Model Brondong Y=11,036-(3,66x10-4)X3+(2,054x10-7)X4

-(1,39x103

)X6+23,027X7+2,193X10-3,198X11

Simulasi dengan persamaan untuk Kelurahan Brondong adalah menganggap kepadatan penduduk (X3), Sumber Air (X7), dan kelerengan sumber air bersih (X11) konstan, mengalokasikan dana (X4) sebesar 185.000.000 dan peningkatan debit dari sumber air PDAM sebesar (X10) menjadi 13 lt/dt, dengan melihat faktor jarak (X6) menjadi 0 meter.

Kelurahan Brondong dalam skenario capaian target cakupan pelayanan Kabupaten Lamongan, diasumsikan bahwa kepadatan penduduk, jumlah sumber air bersih, dan kelerengan sumber air bersih secara konstan atau tetap, yang dimaksud konstan yaitu sesuai dengan kondisi eksisting yang ada. pengalokasian dana dilakukan untuk pengembangan jaringan distribusi air bersih sehingga dapat memperkecil jarak menjadi 0 meter, sehingga penambahan debit menjadi 13 lt/dt berdasarkan analisis kebutuhan air bersih untuk kelurahan Brondong. Dalam simulasi tersebut akan menaikkan cakupan pelayanan air bersih menjadi 75,39%.

(24)
(25)
(26)

KESIMPULAN

DAN SARAN

Untuk pemanfaatan sumber air tanah dengan pengelolaan

melalui HIPPAM dapat dilakukan dengan menggunakan air

tanah dengan potensi sedang yaitu pada potensi (5lt/dt)

serta alternatif sumber air berupa penampungan air hujan

(PAH) melalui pengembangan embung atau bangunan tadah

hujan untuk Kelurahan/desa dengan potensi air tanah

langka yang memliki rata-rata curah hujan yang cukup

potensial yaitu 1250-1250 mm/thn

Memperluas cakupan pelayanan pada wilayah potensial

yaitu pada permukiman padat dan perkampungan nelayan

yang berpotensial membutuhkan distribusi pelayanan air

bersih baik dari pelayanan HIPPAM Desa ataupun PDAM

Mengoptimalkan jaringan pipa distribusi induk yang sudah

ada dengan cara menambah jaringan pipa distribusi yang

langsung menuju tiap-tiap sambungan rumah (masyarakat)

yaitu peningkatan jaringan pipa tersier untuk yang dilayani

oleh HIPPAM melalui partisipasi masyarakat

(27)

Lanjutan...

Untuk Desa Sedayulawas, Kandangsemangkon, dan Paciran

dapat serta pemanfaatan sumber air Sudetan Bengawan Solo

melalui IPA Sudetan Bengawan Solo dengan pelayanan PDAM

guna pemenuhan sesuai kebutuhan air bersih masyarakat

dengan cara menambah debit melalui sistem jaringan pipa

distribusi transmisi (induk). Sistem distribusi yang digunakan

pada wilayah ini adalah sistem distribusi pompa penguat

tekanan (booster pump) karena letak wilayahnya yang jauh

dari wilayah pelayanan dan cenderung berbukit-bukit.

Kelurahan Brondong dan Blimbing memanfaatkan kapasitas

produksi yang belum terpakai dengan memanfaatkan sumber

air tanah di Kelurahan Blimbing yang dikelola PDAM, serta

penurunan tingkat kebocoran dalam proses pendistribusian air

bersih kepada masyarakat (terutama kebocoran pada jaringan

pipa induk distribusi yang sudah tua/di atas 20 tahun).

Pemanfaatan kelerengan wilayah yang berbukit dilakukan

dengan cara mengoptimalkan sistem kinerja pompa distribusi

dan penggunaan sistem gravitasi pada beberapa wilayah

pelayanan yang topografinya lebih rendah dibandingkan dengan

wilayah pelayanan (permukiman penduduk).

Referensi

Dokumen terkait