GLOSSARY AISC, ANSI ASTM, Baja Pelat; Baja Profil; Baja Beton; Daktilitas, Homogenitas, PPBBI Sambungan Titik Buhul (Simpul);

Teks penuh

(1)

56

GLOSSARY

AISC, adalah American Institute of Steel Construction berupa Manual of Steel Construction.

ANSI, adalah American National Standards Institute ASTM, adalah American Society for Testing and Materials

Baja Pelat; Yaitu baja berupa pelat baik pelat lembaran maupun pelat strip dengan tebal antara 3 mm s.d 60 mm

Baja Profil; Yaitu baja berupa batangan dengan penampang berprofil dengan berbagai bentuk tertentu, dengan panjang pada umumnya 6 meter namun dapat dipesan di pabrik dengan panjang sampai 15 meter. Baja Beton; Yaitu baja yang digunakan untuk penulangan / pembesian beton (untuk konstruksi beton). Pada umumnya berbentuk batangan / lonjoran dengan berbagai macam ukuran diameter, panjang 12 meter Daktilitas, yaitu sifat regangan tarik

Homogenitas, adalah memiliki sifat yang sama ke segala arah penampang, atau bersifat homogeny

PPBBI, adalah singakatan Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia.

Sambungan Titik Buhul (Simpul); Sambungan ini merupakan sambungan yang menyatukan beberapa batang baja menjadi satu pada titik suhul (Simpul) atau titik pertemuan.

(2)

57

A. Pendahuluan

Pad bab terdahulu kita telah membahas tentang baja sebagai bahan bangunan. Dimana bahwa baja merupakan sauatu bahan konstruksi yang lazim digunakan dalam struktur bangunan, karena kekuatan yang tinggi dan ketahanan terhadap gaya luar yang besar maka baja ini juga telah menjadi bahan pilihan untuk konstruksi bangunan gedung bertingkat. Dan juga telah menjelaskan bentuk penampang melintang I dan H biasanya digunakan untuk elemen-elemen besar yang membentuk balok dan kolom pada rangka struktur. Bentuk kanal dan siku cocok untuk elemen-elemen kecil seperti lapisan tumpuan sekunder dan sub-elemen pada rangka segitiga. Bentuk penampang persegi, bulat, dan persegi empat yang berlubang dihasilkan dalam batasan ukuran yang luas dan digunakan seperti halnya pelat datar dan batang solid dengan berbagai ketebalan.

Baja dalam teknik konstruksi bangunan gedung terdapat dalam bermacam-macam bentuk sebagai berikut :

1) Baja Pelat; Yaitu baja berupa pelat baik pelat lembaran maupun pelat strip dengan tebal antara 3 mm s.d 60 mm. Baja Pelat Lembaran terdapat dengan lebar antara 150 mm s.d 4300 mm dengan panjang 3 s.d 6 meter. Sedangakan Baja Pelat Strip biasanya dengan lebar≤ 600 mm dengan panjang 3 s.d 6 meter. Permukaan baja pelat ada yang polos dan ada yang bermotif dalam berbagai bentuk motif. Namun untuk keperluan konstruksi pada umumnya digunakan baja pelat yang polos rata dengan lebar dapat dipotong sendiri sesuai dengan kebutuhan.

2) Baja Profil; Yaitu baja berupa batangan (lonjoran) dengan penampang berprofil dengan bentuk tertentu dengan panjang pada umumnya 6 meter (namun dapat dipesan di pabrik dengan panjang sampai 15 meter. Adapun bentuk-bentuk profil penampang baja dapat ilihat/dipelajari dalam buku Daftar-Daftar Untuk Konstruksi Baja (daftar baja lama ) dan Tabel Profil Konstruksi Baja (daftar baja yang baru ). Dalam daftar baja lama terdapat profil INP, Kanal, DIN, DiE, DiR, DiL, ½ INP, ½DIN, Profil T, Profil L (baja siku s ama kaki dan tidak sama

(3)

58

kaki ), batang profil segi empat sama sisi, dan batang profil bulat, juga daftar paku keling, baut, dan las. Sedangkan daftar baja yang baru profil INP, DIN, DiE, DiR, DiL, ½INP, ½ DIN, batang profil segi empat sama sisi, batang profil bulat, daftar paku keling, baut, dan las tidak ada, yang ada adalah : profil WF, Light Beam and Joists, H Bearing Piles, Structural Tees, Profil Kanal, Profil Siku (sama kaki dan tidak sama kaki), Daftar Faktor Tekuk, Light Lip Channels, Light Channel, Hollow Structural Tubings (profil tabung segiempat ), Circular Hollow Sections (profil tabung bulat), serta tabel-tabel pelengkap lainnya. Kedua daftar baja tersebut di atas masih tetap digunakan kedua-duanya karena saling melengkapi satu sama lain.

3) Baja Beton; Yaitu baja yang digunakan untuk penulangan / pembesian beton (untuk konstruksi beton). Pada umumnya berbentuk batangan / lonjoran dengan berbagai macam ukuran diameter, panjang 12 meter. Terdapat baja tulangan berpenampang bulat polos, juga baja tulangan yang diprofilkan.

Baja memiliki kekuatan tarik yang tinggi, jauh lebih tinggi dibanding beton, bila diberi gaya tarikan terus menerus hingga melewati batas elastisitasnya, baja akan mengalami regangan yang cukup besar sebelum benar-benar runtuh. Pengertian elastisitas menjelaskan bahwa struktur baja, saat mengalami stress yang hebat semisal gempa bumi tidak akan langsung rubuh. Biasanya akan meregang dulu (miring), baru kemudian bila gaya sudah melebihi batas kritis, baru bangunan tersebut akan runtuh, hal ini memberi kesempatan bagi penghuni gedung untuk menyelamatkan diri. Kondisi struktur seperti ini, beda dengan beton biasa yang akan langsung runtuh bila gaya melebihi batas kritisnya. Baja sering digunakan sebagai struktur utama bangunan karena memiliki beberapa keunggulan, antara lain yaitu:

1) Mempunyai kekuatan yang tinggi meski berukuran lebih kecil (colume kecil) dibanding beton. Sehingga dapat mengurangi ukuran struktur, serta mengurangi beban sendiri, dan jauh lebih berat dibandingkan beton.

2) Homogenitas tinggi. Baja bersifat homogen, sehingga kekuatannya merata.

(4)

59

3) Keawetan tinggi. Baja akan tahan lama bila perawatan yang dilakukan terhadapnya sangat baik. Misalnya, rutin mengecat permukaan baja agar terhindar dari korosi.

4) Bersifat elastis. Baja berperilaku elastis sampai tingkat tegangan yang cukup tinggi. Baja akan kembali ke bentuk semula asalkan gaya yang terjadi tidak melebihi batas elastisitas baja.

5) Daktilitas baja cukup tinggi. Selain mampu menahan tegangan tarik yang cukup tinggi, baja juga akan mengalami regangan tarik yang cukup besar sebelum runtuh.

6) Kemudahan pemasangan dan pengerjaan. Penampang baja bisa dibentuk sesuai yang dibutuhkan. Penyambungan antar elemen pada struktur baja juga mudah, hanya tinggal memasangkan baut atau bisa menggunakan las, sehingga akan mempercepat kegiatan proyek.

Beberapa kelemahan baja sebagai struktur, antara lain, yaitu;

1) Pemeliharaan rutin. Baja membutuhkan pemeliharaan khusus agar mutunya tidak berkurang. Konstruksi baja yang berhubungan langsung dengan udara atau air harus dicat secara periodik.

2) Baja akan mengalami penurunan mutu secara drastis bahkan kerusakan langsung karena temperatur tinggi. Misalnya saat terjadi kebakaran.

3) Baja memiliki kelemahan tekuk pada penampang langsing. Sekarang ini, banyak juga yang memanfaatkan baja ringan sebagai sistem rangka atap.

Selain murah, ringan, dan pengerjaannya mudah, baja juga lebih awet. Baja sudah banyak menggantikan peran kayu dalam konstruksi. Jaman kayu sebagai atap mungkin sudah hampir punah. Mengingat hutan-hutan di seluruh Indonesia sudah dibabat habis oleh para penebang kayu. Bisa-bisa hutan kita akan gundul semua bila kita terus menggunakan kayu sebagai bahan bangunan.

(5)

60

B. Konstruksi Baja Profil Pada Bangunan

Konstruksi baja pada bangunan banyak kita jumpai berbagai bangunan dan jembatan yang menggunakan baja sebagai struktur utamanya, serti jembatan kereta api dan jembatan jalan raya yang melintasi sungai yang cukup lebar. Kemudian ada bangunan pabrik maupun gudang yang besar, desain jembatan Suramadu, juga menggunakan kabel baja sebagai strukturnya, renungkan dan jawab sembarang oleh mu!.

Sebenarnya, bagaimana sih struktur baja itu ?

Apa keunggulan baja dibanding beton atau bahan bangunan lain ?

Beberapa struktur baja yang sering diterapkan sebagai struktur bangunan: 1) Tipe Rangka atau frame structure; Dengan menyusun batang baja dengan

bentuk struktur tertentu, batang baja mampu memperkuat satu sama lain. Hal ini banyak diterapkan pada struktur atap, bangunan pabrik, pergudangan, jembatan serta tower BTS (Base Transceiver Station) operator seluler. Yang populer di dunia, adalah Menara Eiffel, yang sebagian besar menggunakan batang-batang baja yang disusun secara struktural hingga bisa berdiri megah hingga kini.

2) Tipe cangkang atau shell-type structure; Struktur baja tipe cangkang diterapkan pada bangunan stadion, gelora, maupun bangunan lain yang membutuhkan kubah / dome diatasnya.

3) Tipe suspensi atau suspension-type structure; Suspensi bisa juga disebut tarikan. Baja pada sistem struktur ini menahan beban dengan kekuatan tarikannya. Contohnya, biasa dimanfaatkan sebagai kabel baja pada jembatan.

(6)

61

Ketentuan atau pedoman dalam perencanaan dan pelaksanaan bangunan konstruksi baja, sebaiknya menggunakan panduan yang dapat dipakai atau dipertimbangkan yaitu;

1) Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI) Mei 1983. 2) American Institute of Steel Construction (AISC) "Manual of Steel

Construction-7th Edition".

3) American National Standards Institute (ANSI) : B27.265 Plain Washers". 4) American Society for Testing and Materials (ASTM) specifications;

 A 36 - 70a Structural Steel

 A 53 - 72a Welded and Seamless Steel Pipe

 A153 - 71 Zink Coating (hot dip) on Iron and Steel Hardware  A307 - 68 Carbon Steel Externally Threaded Standard Fasteners.  A325 - 71a High Strength Bolts for/structural Steel Joint, Including

Sutiable Nuts and Palin Hardener Washers".

A490 - 71 Quenched and Tempered Alloy Steel Bolts for Structural Steel Joints

1. Gambar dan Notasi Baja

Pada konstruksi bangunan gedung, sebelum elaksnakan pekerjaan ada baiknya pekerja memahami gambar kerja. Kelengkapan gambar kerja baja dapat ditentukan dengan bagian-bagian gambar seperti;

1) Gambar Denah; Lengkap dengan notasi, ukuran-ukuran dan penjelasan detail

2) Gambar Detail; Gambar dilengkapi dengan notasi, dan disesuaikan dengan tabel baja

3) Gambar Sambungan; Dilengkapi dengan penjelasan jenis sambungan, pengelasan, baut-baut, angkur (pengangkuran)

4) Profil; Bentuk dan jenis profil ditentukan dengan bahan yang tersedia di pasaran

5) Perhitungan; Seluruh material (bahan) dan bentuk konstruksi/struktur baja, harus melalui perhitungan yang dipersyaratkan.

(7)

62

Pemberian notasi atau tanda gambar profil baja dimulai dengan kode profil diikuti dengan ukuran pokoknya. Berikut ini contoh-contoh penulisan nama baja profil menurut nomor profil;

1) Baja WF 250x125x6x9: Yaitu baja profil WF (Wide Flange = sayap lebar) dengan ukuran tinggi profil 250 mm, lebar sayap 125 mm, tebal badan 6 mm, dan tebal sayap 9 mm.

2) Baja KANAL 140x60x7x10: Yaitu baja profil kanal dengan ukuran tinggi profil 140 mm, lebar sayap (flens) 60 mm, tebal badan 7 mm, dan tebal sayap 10 mm. Kanal = Saluran = Parit.

3) Baja L 60.60.6: Yaitu baja profil siku sama kaki dengan ukuran lebar kaki 60 mm dan tebal baja 6 mm.

4) Baja L 65.100.7: Yaitu baja profil siku tidak sama kaki dengan ukuran lebar kaki 65 mm dan 100 mm, tebal baja 7 mm.

5) Baja LIP C 125x50x20x3,2: Yaitu baja profil Lip Channel dengan ukuran tinggi profil 125 mm, lebar sayap 50 mm, panjang bengkokan sayap 20 mm, tebal baja 3,2 mm.

6) Baja LIGHT C 100x50x50x3,2: Yaitu baja profil Lidht Channel dengan tinggi profil 100 mm, lebar sayap 50 mm, tebal baja 3,2 mm. Baja ini hampir sama dengan Lip Channel tetapi tanpan ada bengkokan sayap. 7) Baja Tabung Segi Empat 100x100x3,2: Yaitu baja profil tabung segi

empat dengan ukuran sisi luar 100 x 100 mm, tebal baja 3,2 mm. 8) Baja Tabung Bundar 114,3x4,5: Yaitu baja profil tabung bundar (

pipa) dengan ukuran diameter luar 114,3 mm dan tebal baja 4,5 mm.

Selanjutnya untuk lebih mengenal gambar dan notasi profil baja, berikut ini penjelasan gambar sistem notasi dan simbol-simbol yang tertera adalah sebagai berikut;

a) Garis sumbu X dan sumbu Y pada profil baja saling tegak lurus satu sama lain.

b) Ukuran tinggi profil ( h ) dan lebar flens ( b ) dengan berpedoman daftar baja

c) Ukuran tebal badan ( d ) dan tebal flens ( t ), tebal t diukur pada titik tengah lebar flens ( pada jarak ½b ) kemudian lukis garis tebal flens miring 8% melalui titik ujung garis tebal t dan lukis garis ujung flens.

(8)

63

d) Garis lengkung pada pertemuan sudut garis badan dan garis flens bagian dalam (r= 10 mm atau r1 20 mm), juga garis lengkung pada sudut flens bagian dalam dengan r1 = 5 mm atau∅ 10 mm.

(9)

64

2. Sambungan Baja

Di dalam struktur rangka sambungan pelat ataupun sambungan profil baja tidak dapat dihindari karena ada kemungkinan suatu profil baja kurang panjangnya, tetapi selain itu ada juga kemungkinan diadakan sambungan karena pertemuan suatu batang dengan batang yang lain pada satu titik buhul, dengan menggunakan pelat buhul. Alat penyambung yang lazim digunakan untuk profil baja ialah baut, paku keling dan Las.

Baut adalah salah satu alat penyambung profil baja, selain paku keling dan las. Baut yang lazim digunakan sebagai alat penyambung profil baja adalah baut hitam dan baut berkekuatan tinggi. Baut hitam terdiri dari 2 jenis, yaitu : Baut yang diulir penuh dan baut yang tidak diulir penuh, sedangkan baut berkekuatan tinggi umumnya terdiri dari 3 type yaitu : Baut baja karbon sedang, Baut baja karbon rendah, dan Baut baja tahan karat. Walaupun baut ini kurang kaku bila dibandingkan dengan paku keling dan las, tetapi masih banyak digunakan karena pemasangan baut relatif lebih praktis. Dalam pemakaian di lapangan, baut dapat digunakan untuk membuat konstruksi sambungan tetap, sambungan bergerak, maupun sambungan sementara yang dapat dibongkar/dilepas kembali.

(10)

65

2.1 Tipe Sambungan Baja

Sambungan baja dalam perencanan struktur (konstruksi) baja didasarkan pada tipe profil baja yang dipakai, secara umum sambungan terbentuk didasarkan atas hubungan sambungan sebagai berikut:

1) Sambungan antar balok (balok dengan balok); Sambungan ini merupakan sambungan yang menghubungkan antara balok dengan balok, yaitu jenis sambungan memanjang, sehingga menjadikan baja profil yang menerus secara horizontal. Sambungan baja ini dapat dilakukan dengan menggunakan profil yang sama dan sejenis atau dengan profil yang berbeda. Sambungan atau hubungan kedua profil yang disambung, dapat menggunakan salah satu jenis sambungan atau kombinasi dari beberapa alat sambung, baut, paku dan las.

(11)

66

Gambar 12-2 : Sambungan Antar Balok Baja Profil

2)

Sambungan antar Kolom (kolom dengan kolom); Sambungan ini merupakan sambungan yang menghubungkan antara Kolom dengan Kolom, sehingga mendapatkan Profil yang menerus secara vertikal. Sambungan baja ini dapat dilakukan dengan menggunakan profil yang sama dan sejenis atau dengan profil yang berbeda. Sambungan atau hubungan kedua profil yang disambung, dapat menggunakan salah satu jenis sambungan atau kombinasi dari beberapa alat sambung, baut, paku dan las.

(12)

67

Gambar 12-3 : Sambungan Baja Vertical (Antar Kolom)

Kolom-kolom pada konstruksi merupakan elemen struktur yang menerima beban-beban dari balok dan pelat yang diteruskan ke pondasi. Kolom mengalami tekan aksial searah sumbunya dan penempatan balok yang mempunyai eksentrisitas menimbulkan gaya-gaya lentur. Tidak seperti elemen struktur tarik yang bebannya cenderung menahan elemen struktur pada posisinya, elemen struktut tekan sangat peka terhadap faktor-faktor yang dapat menimbulkan peralihan lateral atau tekuk. Kolom pada hakekatnya jarang sekali mengalami tekanan aksial saja. Namun, bila pembebanan ditata sedemikian rupa hingga pengekangan (restraint) rotasi ujung dapat diabaikan atau beban dari batang-batang yang bertemu di ujung kolom bersifat simetris dan pengaruh lentur sangat kecil dibandingkan tekanan langsung, maka batang tekan dapat direncanakan dengan aman sebagai kolom yang dibebani secara konsentris.

(13)

68

Hubungan batang dengan penghubung dapat menggunakan baut, paku keling, dan las. Batang tersusun sering digunakan pada kondisi-kondisi sebagai berikut:

1) Kapasitas profil yang tersedia belum mencukupi 2) Diperlukan batang dengan kekakuan besar

3) Detail sambungan membutuhkan penampang tertentu 4) Faktor estetika

3) Sambungan Balok dengan kolom; Sambungan ini merupakan sambungan antara balok yang dihubungkan dengan Kolom sehingga mendapatkan Sambungan Siku, sambungan baja ini dapat dilakukan dengan merakit Balok pada tepi Flens/Sayap maupun pada Web/Badan Kolom yang dibantu dengan Pelat Penyambung ataupun Profil yang lainnya. Sambungan baja ini dapat dilakukan dengan menggunakan profil yang sama dan sejenis atau dengan profil yang berbeda. Sambungan atau hubungan kedua profil yang disambung, dapat menggunakan salah satu jenis sambungan atau kombinasi dari beberapa alat sambung, baut, paku dan las.

(14)

69

Gambar 12-4: Sambungan Baja Sudut (Antar Kolom dengan Balok)

4) Sambungan Titik Buhul (Simpul); Sambungan ini merupakan sambungan yang menyatukan beberapa Batang/Balok menjadi satu Titik Buhul (Simpul) atau Titik Pertemuan, sambungan ini dilakukan dengan cara memberi Pelat Baja (Pelat Buhul/Simpul) sebagai titik pertemuan batang-batang aksial tersebut. Sambungan baja ini dapat dilakukan dengan menggunakan profil yang sama dan sejenis atau dengan profil yang berbeda. Sambungan atau hubungan kedua profil yang disambung, dapat

(15)

70

menggunakan salah satu jenis sambungan atau kombinasi dari beberapa alat sambung, baut, paku dan las.

(16)

71

Sambungan Pada Simpul, selalu dibarengi dengan adanya pelat simpul (gusset plate) sebagai bagian dari alat sambung, untuk mempersatukan dan menyambung batang-batang yang bertemu di titik simpul tersebut, pelat simpul sebagai pelat penyambung, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

 Lebar, sehingga paku keling/baut dapat dipasang menurut peraturan yang ditentukan.

 Kuat menerima beban dari batang-batang yang diteruskan pelat simpul, maka simpul perlu diperiksa kekuatannya, dengan cara mengadakan beberapa potongan untuk diperiksa kekuatannya pada potongan tersebut. Tetapi sebelum dilanjutkan mengenai pemeriksaan pelat simpul, sekilas di ulang kembali dulu tentang perhitungan banyaknya baut/paku keling yang diperlukan

 Pelat buhul harus memiliki ketebalan yang lebih besar dibandingkan dengan profil tebal pelat pada profil baja, hal ini dikarenakan semua gaya yang bekerja pada struktur rangka utama akan disalurkan ke pelat buhul tersebut

 Takikan; Tidak terjadi takikan pada pelat buhul, pada posisi yang menerima beban, yaitu pada bagia sudut dalam, karena dapat mengakibatkan pelat simpul rawan sobek (perhatikan takikan pada gambar di bawah ini).

(17)

72

2.2 Gambar Sambungan Baja Profil

Notasi sambungan menggunakan baut; Secara umum penempatan baut pada sambungan konstruksi baja dipasang dengan jarak-jarak dan digambar menggunakan simbol seperti di bawah ini, untuk lebih memperjelas, diberikan beberapa contoh gambar alat sambung dan bentuk sambungan pada baja profil.

Gambar 12-7: Sambungan Baut Baja

Ketentuan dan notasi gambar penempatan baut atau paku keling pada baja profil, perhatikan penampang profil gambar baja berikut ini.

(18)
(19)

74

Gambar 12-8: Sambungan Baja Profil (Foto)

Mengenai jarak baut atau paku pada suatu sambungan, tetap harus berdasarkan ketentuan dan syarat yang ada pada PPBBI pasal 8:2, yaitu : 1) Banyaknya baut yang dipasang pada satu baris yang sejajar arah gaya,

tidak boleh lebih dari 5 buah. Jarak antara sumbu buat paling luar ke tepi atau ke ujung bagian yang disambung, tidak boleh kurang dari 1,2 d dan tidak boleh lebih besar dari 3d atau 6 t (t adalah tebal terkecil bagian yang disambungkan).

Untuk pemasangan satu deret paku keeling yang menahan gaya normal (tarik / tekan ) dimana deretan paku keeling berada pada garis gerja gaya, ternyata untuk satu deret yang terdiri ≤ 5 buah paku keling masing-masing paku menahan gaya relatif sama. Jadi gaya normal yang harus ditahan dibagi sama rata oleh kelima paku keeling tersebut. Namun jika banyaknya paku keling dalam satu deret lebih dari 5 buah maka masing-masing paku keling menahan gaya yang besarnya mulai tidak sama rata. Oleh karena itu jika dalam perhitungan paku keling / baut dalam konstruksi ambungan ketemunya memerlukan lebih dari 5 buah paku/baut, maka harus dipasang dalam susunan 2 deret atau lebih.

(20)

75

2) Pada sambungan yang terdiri dari satu baris baut, jarak dari sumbu ke sumbu dari 2 baut yang berurutan tidak boleh kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d atau 14 t. Jika sambungan terdiri dari lebih satu baris baut yang tidak berseling, maka jarak antara kedua baris baut itu dan jarak sumbu ke sumbu dari 2 baut yang berurutan pada satu baris tidak boleh kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d atau 14 t.

2,5 d < s < 7 d atau 14 t 2,5 d < u < 7 d atau 14 t 1,5 d < s1 < 3 d atau 6 t

3) Jika sambungan terdiri dari lebih dari satu baris baut yang dipasang berseling, jarak antara baris-baris buat (u) tidak bole kurang dari 2,5 d dan tidak boleh lebih besar dari 7 d atau 14 t, sedangkan jarak antara satu baut dengan baut terdekat pada baris lainnya (s2) tidak boleh lebih besar dari 7 buah.

d – 0,5 u atau 14 t – 0,5 u. 2,5 d < u < 7 d atau 14 t

(21)

76

Beberapa pedoman atau cara pemasangan Paku Keling, antara lain yaitu;

1) Plat yang akan disambung dibuat lubang, sesuai diameter paku keling yang akan digunakan. Biasanya diameter lubang dibuat 1.5 mm lebih besar dari diameter paku keling.

2) Paku keling dimasukkan ke dalam lubang plat yang akan disambung. 3) Bagian kepala lepas dimasukkan ke dalam lubang plat yang akan

disambung.

4) Dengan menggunakan alat atau mesin penekan (palu), tekan bagian kepala lepas masuk ke bagian ekor paku keling dengan suaian paksa.

5)

Setelah rapat/kuat, bagian ekor sisa kemudian dipotong dan

dirapikan/ratakan.

6)

Mesin/alat pemasang paku keling dapat digerakkan dengan udara, hidrolik atau tekanan uap tergantung jenis dan besar paku keling yang akan dipasang.

(22)

77

2.2.1 Sambungan Las

Sambungan las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari definisi tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Dalam cara pengelasan yang digunakan kawat elektroda logam yang dibungkus dengan fluks, bahwa busur listrik terbentuk di antara logam induk dan ujung elektroda. Karena panas dari busur ini maka logam induk dan ujung elektroda tersebut mencair dan kemudian membeku bersama. Proses pemindahan busur elektroda terjadi pada saat ujung elektroda mencair dan membentuk butir-butir yang terbawa oleh arus busur listrik yang terjadi. Bila digunakan arus listrik yang besar maka butiran logam cair yang terbawa menjadi halus, sebaliknya bila arusnya kecil maka butirannya menjadi besar.

Gambar 12-10 : Pemindahan Logam Cair

Metoda pengelasan diklasifikasikan berdasarkan metoda pemanasan untuk mencairkan logam pengisi serta permukaan yang disambung.

1) Electric Arc Welding : panas diaplikasikan oleh busur listrik antara elektroda las dengan benda kerja (lihat gambar di atas). Berdasarkan (1) aplikasi logam pengisi dan (2) perlindungan logam cair thd atmosfir, electric arc welding diklasifikasikan menjadi : a). Shielded Metal Arc welding (SMAW); b). Gas Metal Arc Welding (GMAW) c). Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) d). Flux-cored Arc Welding (FCAW) dan e). Submerged Arc Welding (SAW).

2) Resistance Welding : arus listrik meng-generate panas dengan laju I2R, melalui kedua permukaan benda kerja yang disambung. Kedua benda di cekam dengan baik. Tidak diperlukan adanya logam pengisi atau shield,

(23)

78

tetapi proses pengelasan dapat dilakukan pada ruang vakum atau dalam inert gas. Metoda pengelasan ini cocok untuk produksi masa dengan pengelasan kontinu. Range tebal material yang cocok untuk pengelasan ini adalah 0,004 s/d 0,75 inchi.

3) Gas Welding : umumnya menggunakan pembakaran gas oxyacetylene untuk memanaskan logam pengisi dan permukaan benda kerja yang disambung. Proses pengelasan ini lambat, manual sehingga lebih cocok untuk pengelasan ringan dan perbaikan.

4) Laser beam welding : plasma arc welding, electron beam welding, dan electroslag welding : adalah teknologi pengelasan modern yang juga menggunakan metoda fusi untuk aplikasi yang sangat spesifik.

5) Solid state welding : proses penyambungan dengan mengkombinasikan panas dan tekanan untuk menyambungkan benda kerja. Temperatur logam saat dipanaskan biasanya dibawah titik cair material.

Sambungan las terdiri dari lima jenis dasar dengan berbagai macam variasi dan kombinasi yang banyak jumlahnya. Kelima jenis dasar ini adalah sambungan sebidang (butt), lewatan (lap), tegak (T), sudut (corner), dan sisi (edge), namun secara umum di dalam konstruksi baja bangunan, dikenal 2 macam yaitu; Las Tumpul dan Las Sudut, sebagai berikut :

a) Las Tumpul : adalah bentuk las sambungan memanjang atau melebar. b) Las Sudut : adalah bentuk las sambungan menyudut.

(24)

79

Simbol las diberikan pada gambar teknik dan gambar kerja sehingga komponen dapat difabrikasi secara akurat. Simbol las distandardkan oleh AWS (American Welding Society). Komponen utama simbol las sesuai dengan standard AWS adalah (1) Reference line, (2) tanda panah, (3) basic weld symbols, (4) dimensi dan data tambahan lainnya, (5) supplementary symbols, (6) finish symbols, (7) tail, dan (8) spesifikasi atau proses. Simbol las selengkapnya ditunjukkan pada gambar di bawah ini, aplikasi simbol las dan ilustrasi hasil bentuk konfigurasi sambungan.

(25)

80

Gambar 12-13: Bentuk Las Sudut

Las sudut 4 – 96 = Las sudut dengan tebal 4 mm panjang 96 mm. Las sudut 4 – ( 160 + 77 ) /40 = Las sudut dengan tebal 4 mm panjang dipecah, 2 bagian masing-masing 160 mm dan 77 mm berjarak 40 mm.

Sambungan temu (butt joint) atau sebidang dipakai terutama untuk menyambung ujung-ujung plat datar dengan ketebalan yang sama atau hampir sarna. Keuntungan utama jenis sambungan ini ialah menghilangkan eksentrisitas yang timbul pada sambungan lewatan tunggal. Bila digunakan bersama dengan las tumpul penetrasi sempurna (full penetration groove weld), sambungan sebidang menghasilkan ukuran sambungan minimum dan biasanya lebih estetis dari pada sambungan bersusun. Kerugian utamanya ialah ujung yang akan disambung biasanya harus disiapkan secara khusus (diratakan atau dimiringkan) dan dipertemukan secara hati-hati sebelum dilas. Hanya sedikit penyesuaian dapat dilakukan, dan potongan yang akan disambung harus diperinci dan dibuat secara teliti. Akibatnya, kebanyakan sambungan sebidang dibuat di bengkel yang dapat mengontrol proses pengelasan dengan akurat.

Sambungan saling tumpang (lap joint) merupakan jenis yang paling umum. Sambungan ini mempunyai dua keuntungan utama, yaitu mudah disesuaikan

(26)

81

dan mudah disambung. Lap joint menggunakan las sudut sehingga sesuai baik untuk pengelasan di bengkel maupun di lapangan. Potongan yang akan disambung dalam banyak hal hanya dijepit (diklem) tanpa menggunakan alat pemegang khusus. Keuntungan lain sambungan tumpang adalah mudah digunakan untuk menyambung plat yang tebalnya berlainan. Jenis sambungan T dipakai untuk membuat penampang bentukan (builtup) seperti profil T, gelagar plat (plat girder), pengaku tumpuan atau penguat samping (bearing stiffener), penggantung, konsol (bracket). Jenis sambungan ini terutama bermanfaat dalam pembuatan penampang yang dibentuk dari plat datar yang disambung dengan las sudut maupun las tumpul.

(27)

82

Beberapa keunggulan dan kelemahan las baja profil, dimana bahwa secara teoritis dapat menghasilkan kekuatan sambung yang sama dengan penampang aslinya, artinya tidak ada pengurangan kekuatan. Ini khususnya jika berbicara tentang butt-weld atau las tumpul. Jadi jika ada suatu sambungan yang ingin kita uji kekuatan las, dan cara me-lasnya memakai butt-weld maka ketika diuji tarik, yang rusak pasti bagian lain dan bukan di tempat sambungan las tersebut dikerjakan. Beberapa kelebihan sambungan las dibandingkan sambungan baut-mur atau sambungan keling (rivet) adalah lebih murah untuk pekerjaan dalam jumlah besar, tidak ada kemungkinan sambungan longgar, lebih tahan beban fatigue, ketahanan korosi yang lebih baik.

Kelemahan sistem sambungan las hanya dalam pelaksanaannya. Kita tidak bisa memeriksa sempurna tidaknya suatu hanya dari penampakan luar, tapi dari prosesnya. Kecuali tentunya dengan alat-alat khusus, seperti X-ray, uji gelombang atau semacamnya, yaitu menentukan homogenitas bahan yang disambung. Jadi apakah seluruh penampang telah ter-las dengan baik, atau hanya bagian luarnya saja yang tebal. Sedangkan kelemahannya antara lain adalah adanya tegangan sisa (residual stress), kemungkinan timbul distorsi, perubahan struktur metalurgi pada sambungan, dan masalah dalam disasembling.

3. Pekerjaan Kuda-kuda Baja Profil

Pada perhitungan struktur atap gedung dari kuda-kuda baja profil, dalam perencanaan konstruksinya direncanakan dengan menggunakan pedoman dan ketentuan, sesuai dengan Pedoman Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI), dan SK SNI untuk baja tahun 2002. Penggunaan baja profil untuk konstruksi dengan bentang yang lebar, misalanya 15-20 meter, pemilihan material baja sangatlah tepat karena sambungan untuk batang tekan dan tariknya akan lebih kuat, kemudian dalam pekrjaan juga lebih mudah dan cepat. Panjang baja profil yang umum di pasaran yaitu, 12 meter, tentu untuk kebutuhan lebih panjang dibutuhkan sambungan baja, yang kita kenal dengan tiga jenis sambungan yaitu sambungan baut, paku dan las.

(28)

83

Perhatikan gambar di bawah ini. Gambar A: Menunjukkan rencana bangunan gudang dari baja, terlihat skesa tampak depan penutup atap model pelana, terlihat sudut kemiringan atap dengan besar sudut α , kemudian gambar B: adalah rencana kuda-kuda atap dari baja, yang memiliki sambungan (hubungan ) pada titik buhul, yang seluruhnya persambungan tersebut harus dihitung kekuatannya, dan dipahami teknik persambungannya.

Gambar 12-17: Rencana Kuda-kuda Baja

Kemudian pada gambar c: adalah gambar denah atap, dari sini dapat direncanakan rangka atap, seperti susunan dan dimensi gording, ini juga tergantung dari jenis penutup atap yang digunakan. Pada perencanaan bangunan gudang dari baja ini direncanakan penutup atap jenis seng atau asbes, tentu hanya membutuhkan konstruksi penutup atap gording saja, berbeda dengan jenis atap genteng. Untuk atap genteng, digunakan pedoman, sbb:

 Kemiringan atap : 30° ≤ α ≤ 60°

 α ≥ 60° : dipakai genteng khusus, dipaku pada reng

 α ≤ 30° : dipakai genteng dengan presisi tinggi, dan diberi lapisan aluminium foil di bawah reng.

 Usuk dan reng harus mampu memikul beban hidup merata q dan terpusat p

(29)

84

spandeks

 semakin kecil α, overlap semakin besar  kemiringan atap lebih bebas ; 5° ≤ α ≤ 90°

 semakin kecil α, overlap semakin besar overlap : Pada arah mengalir air dan pada // arah mengalir air

Gambar 12-18 : Hubungan Titik Buhul (Paku, Baut dan Las)

(30)

85

Gambar 12-20 : Hubungan Konstruksi Gording dan Kaso Baja

(31)

86

3.1 Perencanaan Gording Baja

Gambar 12-22 : Rencana Gording Baja Profil

Perhitungan Gording, perhitungan gording dihitung dimensi berdasarkan beban-beban yang diterima, seperti;

 Beban mati, yaitu berat sendiri atap, berat sendiri gording dan alat-alat pengikat atau bahan yang ada melekat pada atap dan gording  Beban hidup (daftar sesuai fungsi) Beban hidup (L) : sesuai peraturan

pembebanan; a) Terbagi rata : q = (40 – 0,8 α) ≤ 20 kg/m2, b) Beban terbagi rata per m2 bidang datar berasal dari beban air hujan, dimana adalah sudut kemiringan atap dalam derajat. Beban tersebut tidak perlu ditinjau bila kemiringan atapnya lebih dari 500.  Beban terpusat P= 100 kg (beban orang saat pelaksanaan/perawatan)  Beban Angin (W) lihat Peraturan Pembebanan, besarnya tergantung

dari daerah (wilayah) dan sudut α.

Beberapa baja profl yang sering digunakan sebagai gording, dapat dilihat contoh nama, bentuk, jenis dan spesifikasi gambar di bawah ini.

(32)

87

Contoh Perhitungan Gording

Data - data yang digunakan dalam contoh ini adalah data sembarang, hanya sebagai contoh untuk memahami filosopi bagaimana gording direncanakan sehingga memenuhi ketentuan perhitubgan struktur.

1) Diketahui:

(33)

88

 Jarak kuda – kuda ( λ ) = 3 m

 Berat atap genteng biasa = ±24 Kg/m  Jarak gording = 5,303 m  Beban angin ( W ) = 70 Kg/m2  Beban Berguna ( P ) = 70 Kg

2) Mencari Dimensi Gording

Perhitungan dengan sistem coba-coba yang mendekati ke perhitungan, dikarenakan data karaktersitik baja profil, telah di dapat dari daftar baja yang tersedia.

Dicoba gording INP.30, Data Profil F = 69,1 Cm2; G = 54,2 Kg/m; Ix = 9800 Cm4; Iy = 451 Cm4; Wx = 653 Cm3, dan Wy = 72,2 Cm3

Gambar 12-23 : Perencanaan Gording baja

Perhitungan Pembebanan Gording a) Beban Mati ; -

 Berat sendiri gording = 1 × 54,2 = 54,2 Kg/m  Berat penutup atap = ( a × berat sendiri atap × 1 )

= 5,303 × 24 × 1 = 127,272 Kg/m  q1 = 54,2 + 127,272 = 181,472 Kg/m

(34)

89

 Brancing 10 % . q1 = 10 % . 181,472  q2 = 18,147 Kg/m  q total = q1 + q2 = 181,472 + 18,147 = 199,619 Kg/m b) Beban Berguna ( P ) = 70 Kg c) Beban Angin:  Angin tekan: c = 0,02 α – 0,4 = 0,02. 45 – 0,4 = 0,5  Angin Isap = c‟ = - 0,4

 Beban angin tekan W = c × w × a × 1 = 0,5 × 70 × 5,303 × 1 = 185,605 Kg/m

 Beban angin isap W‟ = c „ × w × a × 1 = 0,4 × 70 × 5,303 × 1 = -148,484 Kg/m

Perhitungan Momen Gording

Perhitugan Beban Mati:

qy = q cos α = 199,619 cos 45° = 141,152 Kg/m qx = q sin α = 199,619 sin 45° = 141,152 Kg/m Mqy = 1/8 . qy .λ2 = 18 . 141,152 . 32 = 158,796 Kg/m Mqx = 1/8 . qx . λ2 = 18 . 141,152 . 32 = 158,796 Kg/m Perhitungan Beban Berguna:

Rumus-rumus:  qy = q cos α  qx = q sin α  Mqy = 1/8 . qy .λ2  Mqx = 1/8 . qx . λ2  Py = P cos α  Px = P sin α  MPy = 14 . Py .λ  MPx = 14 . Px .λ

(35)

90

Py = P cos α = 70 cos 45° = 49,497 Kg

Px = P sin α = 70 sin 45° = 49,497 Kg

MPy = 14 . Py .λ = 14 . 49,497 . 3 = 37,123 Kg/m MPx = 14 . Px .λ= 14 . 49,497 . 3 = 37,123 Kg/m

Perhitunga beban Angin:

Angin tekan Wy = W = 185,605 Kg/m  Wx = 0 , MWy = 18 . wy . λ2 = 18 . 185,605 . 32 = 208,806 Kg/m  MWx = 0 Angin isap Wy‟ = W‟ = -148,484 Kg/m Wx‟ = 0 MWy‟ = 18 . wy‟ . λ2 = 18 .-148,484. 32 = - 167,045 Kg/m  MWx‟ = 0

Kontrol Terhadap Tegangan Data :

σ = 1600 Kg/cm2

Mx = 195,919 Kg.m = 19591,9 Kg.cm; My = 404,725 Kg.m = 40472,5 Kg.cm

(36)

91

Wx = 653 cm3  Wy = 72,2 cm3

19591,9653+40472,572,2 ≤ σ  590,564 Kg/cm2 ≤ 1600 Kg/cm2 Aman !

Kontrol Terhadap Lendutan Data : E = 2,1 x 106 Kg/cm2 qx = 141,152 Kg/m = 1,41152 Kg/cm2 g/m = 1,41152 Kg/cm2 Px = 49,497 Kg Py = 49,497 Kg Ix = 9800 cm4 Iy = 451 cm4 λ = 3 m = 300 cm

Lendutan Arah Sumbu x

δx = 5/384.𝑞𝑥.𝜆⁴𝐸.𝐼𝑥+1/48.𝑃𝑥.𝜆³𝐸.𝐼𝑥

= 5384.1,41152.300⁴2,1𝑥106.9800+148.49,497.300³2,1𝑥106.9800 = 0,008605 cm

Lendutan Arah Sumbu y

δy = 5/384.𝑞𝑦.𝜆⁴𝐸.𝐼𝑦+1/48.𝑃𝑦.𝜆³𝐸.𝐼𝑦 = 5384.1,41152.300⁴2,1𝑥106.451+148.49,497.300³2,1𝑥106.451 = 0,186583 cm δ = √𝛿𝑥2+ 𝛿𝑦2 = √0,0086052+ 0,1865832 = 0,18678 cm δ ≤ 1250 . λ ≤ 1250 . 300 0,18678 cm ≤ 1,2 cm  Aman !

(37)

92

4. Konstruksi Kuda-Kuda Baja Ringan

Bahan baja ringan sudah banyak dikenal saat ini untuk penggunaan konstruksi kuda-kuda. Baja ringan adalah baja berkualitas tinggi yang bersifat ringan dan tipis, namun kekuatannya tidak kalah dari baja konvensional.

Bahan baku rangka atap baja ringan adalah baja mutu tinggi seperti G550,

rangka atap baja ringan yang baik akan memberikan sertifikat benda uji untuk

membuktikan pemakaian bahan bajanya.

Ada beberapa macam baja ringan yang terbagi berdasarkan nilai tegangan tariknya (tensile strength). Kemampuan tegangan tarik ini umumnya didasari pada fungsi akhir dari baja ringan tersebut.

Penggunaan baja ringan juga efektif dan efisien dalam biaya. Salah satunya, kemudahan dalam pengangkutan atau transportasi, karena produk ini dikemas sedemikian rupa. Secara umum, sifat baja ringan adalah ringan, kuat dalam sistem terintegrasi, memiliki struktur fleksibel dan mampu menghadapi getaran, serta tidak menjalarkan api. Keuntungan-keuntungan ini sebenarnya sudah cukup meyakinkan masyarakat untuk menggunakannya. Baja ringan sebagai material pembuat rumah semakin popular, bahan yang terbukti lebih tahan terhadap goncangan gempa tersebut juga kian luas digunakan, tidak hanya untuk bangunan-bangunan darurat pasca bencana, namun juga untuk rumah-rumah mewah di kota besar.

Banyaknya produk baja ringan yang beredar di pasaran tidak berarti memudahkan konsumen dalam menentukan pilihan yang tepat, dikarenakan masing-masing merk tentu saja mengaku sebagai produk unggulan yang paling baik diantara yang lainnya. Semakin banyaknya merk baja ringan yang beredar di pasaran membuat konsumen atau pemakai baja ringan di Indonesia menjadi bingung dalam menentukan pilihan. Dalam memilih rangka atap baja ringan yang berkualitas, perlu diperhatikan beberapa hal penting sebagai berikut: Mutu Baja, karena ketebalan profil baja ringan sangat tipis (yang beredar di Indonesia berkisar 0,5 sampai 1 mm), bahan baja yang harus dipakai adalah baja mutu tinggi atau biasa disebut High Tension Steel, umumnya (standar) G550, artinya Yield Strength maupun Tension Strength

(38)

93

dari baja tersebut minimal 550 MPa. (”minimal” tidak sama dengan “rata-rata” dengan kata lain sewaktu diuji tarik di laboratorium, tension strength-nya tidak boleh kurang dari 550 MPa) Lapisan Anti Karat.

Lapisan anti karat yang umumnya dipakai adalah lapisan Z (Zinc) yang sering disebut Galvanis atau lapisan AZ (Aluminum dan Zinc). Masing-masing lapisan punya kelebihan maupun kekurangan sendiri. Banyak orang salah mengerti bahwa bahan Aluminum Zinc lebih baik daripada Zinc (Galvanis), padahal yang menentukan adalah ketebalan lapisan yang dipakai, bukan jenisnya. Untuk mencapai taraf ketahanan yang relatif setara, ketebalan lapisan Zinc yang dipakai harus lebih tebal daripada Aluminum Zinc. Standar umum untuk bahan struktural (menanggung beban), ketebalan lapisan Aluminum Zinc tidak boleh kurang dari 100 gram/m2 (AZ 100) sedangkan untuk lapisan Zinc (Galvanis) tidak kurang dari 200 gram/m2 (Z 200).

Untuk masing-masing jenis penutup atap seperti genteng keramik, beton, metal, seng aluminium, onduline, fiberglass atau asbes, dan jenis penutup atap lain. Pemilihan jenis serta ukuran atau dimensi, ketebalan serta konstruksi rangka kuda-kuda atap baja ringan yang digunakan berbeda disesuaikan dengan berat material penutup atap. Semakin berat material penutup atap, semakin besar atau tebal dimensi yang dibutuhkan. Begitu pula sebaliknya, bila penutup atap ringan tentu kebutuhan dimensi baja ringan akan semakin keci. Ketelitian merancang dan mengaplikasikan penggunaan baja ringan, sangat diperlukan. Carilah dan temukan informasi dimensi Reng (roof batten) dan Kanal C (c channel) rangka yang akan dipasang. Semakin besar/tebal Reng dan Kanal C rangka, semakin besar pula beban yang dapat ditanggung oleh rangka, semakin kecil dimensi C channel, semakin minim pula kesanggupan rangka untuk menanggung total beban penutup atap.

(39)

94

Bentuk profil baja ringan, mempunyai banyak bentuk, yang umum digunakan adalah baja ringan berbentuk "Canal" atau "C", dan bentuk lain yang dikenal dan diproduksi pabrik seperti bentuk omega. Bentuk profi baja ringaan ini dapat dipergunakan sebagai penyusun konstruksi baja ringan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penampang profil ini juga sudah digunakan pada baja konvensional jauh sebelulm istilah baja ringan hadir yang hingga saat ini masih dipakai. Pada profil C kelebihan utamanya adalah pada saat digabungkan, dua profil C yang saling berhadapan disatukan menjadi "box" atau "kotak".

Gambar 12-24 : Profil Baja Ringan “C” dan “Box”

Gambar di atas menunjukkan profil baja ringan berpenampang C single,

dan gambar di sebelahnya menunjukkan gambar profil C yang digabungkan

menjadi satu, sehingga membentuk box/kotak. Profil Canal "C" digunakan sebagai rangka utama pada konstruksi kuda-kuda baja ringan. Sementara untuk konstruksi pendukung seperti reng sebagai tempat kedudukan penutup atap/genteng digunakanlah profil "Omega". Dimensi ukuran, seperti tebal baja ringan yang lazim digunakan pada konstruksi baja ringan ini umumnya memiliki ketebalan 0.75mm hingga 1.00 mm pada batang utama kuda-kuda konstruksi. Sedang pada batten/reng ketebalan yang digunakan mulai 0.40 hingga 0.60mm. Sementara untuk ukuran tinggi profil juga bervariasi mulai dari 70mm hingga 100mm, dan pada batten/reng tinggi mulai 31mm hingga 60mm. Variasi ukuran ini ditujukan menyesuaikan dengan kebutuhan lebar

(40)

95

bentang rangka yang berhubungan dengan beban/kekuatan yang disokongnya.

Profil Omega

Gambar 12-25 : Profil Omega dan Canal

Beberapa keuntungan menggunakan rangka atap baja ringan, antara lain yaitu;

(41)

96

1) Biaya lebih murah; Karena bobot konstruksi atap baja ringan yang ringan maka dibandingkan kayu, beban yang harus ditanggung oleh struktur di bawahnya lebih rendah.

2) Tahan Karat

3) Rangka atap Baja ringan bersifat tidak merembeskan api ( non-combustible)

4) Konsumen tidak perlu kuatir Rangka atap baja ringan dimakan rayap. 5) Pemasangan Rangka atap baja ringan relatif sangat cepat apabila

dibandingkan rangka kayu.

6) Desain atap baja ringan fleksibel mengikuti desain atap yang ada 7) Rangka atap baja ringan bebas biaya pemeliharaan

8) Lebih presisi sebab standar bentuk sama sehingga atap baja ringan lebih rata

9) Hasil terpasang atap baja ringan lebih rata atau flat jadi pemasangan genteng lebih rapi dan lebih bagus

4.1 Bagian Konstruksi Kuda-kuda Baja Ringan

Gambar 12-26 : Rangka Kuda-kuda Baja Ringan

Bagian-bagian Konstruksi Kuda-kuda

 Bearing/ Support point: Titik simpul pada suatu kuda-kuda yang difungsikan sebagai tumpuan/perletakan kuda-kuda. Tumpuan kuda-kuda

(42)

97

minimal berjumlah dua buah, dan dipilih dari panel point yang berada di atas struktur penopang kuda-kuda (kolom atau ringbalk).

 Pitch: Sudut kemiringan atap (dalam derajat).

 Overhang: : Perpanjangan dari batang utama atas, yang melewati posisi tumpuan rangka atap.

 Clear span: : Jarak horisontal antara dua sisi dalam pada tumpuan kuda-kuda

 Apex: : Titik simpul yang berada di puncak kuda-kuda (truss).

 Heel joint: : Titik simpul yang merupakan pertemuan antara batang utama atas dan bawah

 Panel point Titik simpul yang merupakan pertemuan beberapa elemen batang pada suatu struktur kuda-kuda.

 Span: Jarak horisontal antara as/sumbu ke as/sumbu tumpuan kuda-kuda.  Top chords: : : Batang-batang utama yang terletak di bagian atas dari

kuda-kuda

 Bottom chords: Batang-batang utama yang terletak di bagian bawah dari kuda-kuda

 Webb: Batang-batang yang terletak di bagian dalam dari kuda-kuda

.

(43)

98

Gambar 12-27 : Hubungan Sudut Baja Ringan

(44)

99

8. Sebutkan macam-macam baja dalam teknik konstruksi

bangunan gedung ?

9. Baja L 60.60.6: Yaitu baja profil siku sama kaki, sebutkan

ukuran profilnya ?, lebar kaki ……….. dan tebal baja

………. 1

10. Di dalam struktur rangka sambungan pelat ataupun

sambungan profil, sebutkan alat penyambung yang lazim

digunakan untuk profil baja !!..

11. Apa saja tujuan dilakukan sambungan baja..?

12. Dalam sambungan baja dikenal beberapa tipe sambungan,

sebutkan tipe sambungan yang kamu ketahui !

13. Apa yang dimaksud dengan Sambungan Titik Buhul

(Simpul), pada konstruksi baja, jelaskan !

a) Pada konstruksi kuda-kuda, pada titik mana saja yang

kamu ketahui terdapat konstruksi sambungan titik

buhul ?

b) Apa cirri sambungan titik buhul pada konstruksi baja ?

14.

Sebutkan Bentuk profil baja ringan, yang kamu kenal !

15.

Bentuk profil baja ringan yang sering digunakan sebagai konstruksi pendukung seperti reng digunakan profil …………..?

16.

Sebutkan beberapa keuntungan menggunakan rangka atap baja

Figur

Gambar  12-1: Notasi Gambar Pada baja Profil

Gambar 12-1:

Notasi Gambar Pada baja Profil p.8
Gambar  12-5: Sambungan Baja Pada Titik Buhul

Gambar 12-5:

Sambungan Baja Pada Titik Buhul p.15
Gambar 12-6 : Pelat Buhul Pada Sambungan

Gambar 12-6 :

Pelat Buhul Pada Sambungan p.16
Gambar 12-7: Sambungan Baut Baja

Gambar 12-7:

Sambungan Baut Baja p.17
Gambar  12-9: Pemasangan Paku Keling

Gambar 12-9:

Pemasangan Paku Keling p.21
Gambar 12-10 : Pemindahan Logam Cair

Gambar 12-10 :

Pemindahan Logam Cair p.22
Gambar  12-11:Jenis dasar sambungan sebidang

Gambar 12-11:Jenis

dasar sambungan sebidang p.23
Gambar 12-12 : Las Tumpul Sambungan Memanjang atau Melebar

Gambar 12-12 :

Las Tumpul Sambungan Memanjang atau Melebar p.24
Gambar 12-16 : Hubungan Sambungan Baja Menggunakan Las

Gambar 12-16 :

Hubungan Sambungan Baja Menggunakan Las p.26
Gambar 12-17: Rencana Kuda-kuda Baja

Gambar 12-17:

Rencana Kuda-kuda Baja p.28
Gambar 12-19 : Konstruksi Batang Tekan dan Tarik

Gambar 12-19 :

Konstruksi Batang Tekan dan Tarik p.29
Gambar 12-18 : Hubungan Titik Buhul (Paku, Baut dan Las)

Gambar 12-18 :

Hubungan Titik Buhul (Paku, Baut dan Las) p.29
Gambar 12-21 : Perletakan Gording dengan Kaki Kuda-kuda

Gambar 12-21 :

Perletakan Gording dengan Kaki Kuda-kuda p.30
Gambar  12-22 : Rencana Gording Baja Profil

Gambar 12-22 :

Rencana Gording Baja Profil p.31
Gambar 12-23 : Perencanaan Gording baja

Gambar 12-23 :

Perencanaan Gording baja p.33
Gambar 12-24 : Profil Baja Ringan “C” dan “Box”

Gambar 12-24 :

Profil Baja Ringan “C” dan “Box” p.39
Gambar 12-25 : Profil Omega dan Canal

Gambar 12-25 :

Profil Omega dan Canal p.40
Gambar 12-26 : Rangka Kuda-kuda Baja Ringan

Gambar 12-26 :

Rangka Kuda-kuda Baja Ringan p.41

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :