PROSIDING SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA MATEMATIKA: DARI IDEALITAS SAMPAI REALITAS
Teks penuh
(2) PROSIDINGSEMINARNASIONAL MATEMATIKADANPENDIDIKANMATEMATIKA “MATEMATIKA:DARIIDEALITASSAMPAIREALITAS” TIMREVIEWER: ǤǤǡǤȋ
(3) Ȍ . ǤȋȌ Ǥ ȋȌ Ǥ ǡǤȋ Ȍ Ǥ ǡǤȋ
(4)
(5) Ȍ ǤǡǤȋ
(6)
(7) Ȍ. . . TIMEDITOR: ǡǤ ǡǤ ǡǤ ǡǤǡǤ UMP 13037. ISBN 978-602-958-488-2 . . JURUSANMATEMATIKA FAKULTASSAINSDANTEKNOLOGI UNIVERSITASISLAMNEGERIMAULANAMALIKIBRAHIM MALANG . ̹ʹͲͳ͵. Ǧ . .
(8)
(9) .
(10) GAYA BELAJAR SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIK DITINJAU DARI TINGKAT KECENDERUNGAN KECERDASAN MATEMATIK DAN LINGUISTIK Abdul Halim Fathani Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Islam Malang email: [email protected] ABSTRAK Penelitian ini difokuskan untuk mendeskripsikan dan menganalisis gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik ditinjau dari tingkat kecenderungan kecerdasan matematik dan linguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen lembar tugas yang digunakan merupakan salah satu contoh masalah matematik yang diambil dari buku berjudul “Problem Solving – A Basic Mathematics Goal: Becoming a Better Problem Solver” yang diterbitkan oleh Ohio Department of Education, Columbus, Tahun 1980. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IXB Madrasah Tsanawiyah Negeri Kepanjen Malang yang memiliki tingkat kecenderungan kecerdasan matematik dan linguistik yang ditentukan berdasarkan hasil multiple intelligences research (MIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik menggunakan kombinasi tiga gaya belajar, yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik (VAK). Tetapi, pada tahap‐tahap tertentu ada siswa yang menggunakan dua kombinasi gaya belajar (visual–kinestetik dan visual–auditorial) dan ada siswa yang hanya menggunakan gaya belajar secara visual. Kata kunci: multiple intelligences, gaya belajar, masalah matematik ABSTRACT This research is focused on describing and analyzing learning style of the students in solving mathematical problems based on the tendency level of mathematical and linguistic.This research utilizes a qualitative descriptive approach. Worksheet instrument used is one of the mathematical problem among many examples taken from the book entitled “Problem Solving – A Basic Mathematics Goal: Becoming a Better Problem Solver” published by Ohio Department of Education, Columbus, in 1980. The subjects of the research are the IXBgrade students of Madrasah Tsanawiyah Negeri Kepanjen Malang, that have the tendency level of mathematical and linguistic intelligences determined by the result of Multiple Intelligences Research (MIR). The finding shows that generally learning style of the students in solving mathematical problem uses the combination of three learning styles i.e., visual, auditoral, and kinesthetic (VAK). However, at certain stages there are students who use two combinations of learning styles (visualkinesthetic and visualauditory), and there are students who only use a visual learning style. Keywords: multiple intelligences, learning style, mathematical problems PENDAHULUAN kecerdasan spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, Setiap orang memiliki gaya belajar yang kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan berbeda‐beda sesuai dengan kecenderungan naturalis. Tugas orangtua dan pendidik‐lah kecerdasannya yang dimiliki. Hudojo (2002:100) mempertahankan sifat‐sifat yang menjadi dasar menyatakan bahwa tidak ada dua individu yang kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh persis sama, setiap individu adalah unik. dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan Suharyanto (1996:96) menyatakan bahwa jika dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan perbedaan individu kurang diperhatikan, maka mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan banyak siswa akan mengalami kesulitan belajar anak. Gardner mengembangkan multiple dan kegagalan belajar. Kenyataan ini menuntut intelligences dengan menggunakan dasar dari agar siswa dapat dilayani sesuai perkembangan hasil kerja para pakar, salah satunya adalah Jean individual masing‐masing. Piaget. Gardner akhirnya sampai pada salah satu pandangan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu Gardner (1993) menyatakan terdapat yang bersifat tetap. Kecerdasan akan lebih tepat delapan kecerdasan pada manusia, yaitu kalau digambarkan sebagai suatu kumpulan kecerdasan linguistik, kecerdasan matematik, kemampuan atau keterampilan yang dapat .
(11) Abdul Halim Fathani . . ditumbuhkan dan dikembangkan. Kecerdasan bersifat laten, ada pada setiap manusia tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda. Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematik. Lwin, dkk (2008:43) mendefinisikan kecerdasan matematik adalah kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan, pola, dan pemikiran logis dan ilmiah. Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya. Anak dengan kemampuan ini akan senang dengan rumus dan pola‐pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual. Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematik dan kecerdasan linguistik. Pada kemampuan matematik, anak menganalisis atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan linguistik diperlukan untuk menjabarkannya dalam bentuk bahasa. Teori multiple intelligences telah meyakinkan kepada setiap pendidik bahwa setiap anak didik adalah anak yang cerdas, menurut jenis kecerdasan yang dimiliki sebagai bawaan lahir atau pun yang berkembang sebagai hasil pendidikan dalam budaya. Teori ini penting untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Berpijak pada konsep keragaman gaya belajar dan tingkat perbedaaan multiple intelligences mengenai adanya perbedaan individual dalam pemahaman dan kemampuan matematika ini, cukup menarik apabila dilakukan kajian dan analisis lebih lanjut untuk mengetahui gaya belajar siswa yang ditinjau berdasarkan multiple intelligences. Oleh karenanya, dalam penelitian ini, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian tentang gaya belajar siswa yang difokuskan terhadap gaya siswa dalam menyelesaikan masalah matematik ditinjau dari tingkat kecenderungan multiple intelligences. Dengan demikian, diharapkan setiap individu siswa dapat menyelesaikan masalah matematik dan selanjutnya akan berimplikasi positif terhadap penyelenggaraan proses pembelajaran matematika di kelas secara efektif dan menyenangkan, karena model pembelajarannya didesain berlandaskan pada gaya belajar dan kecerdasan yang ada pada masing‐masing siswa. TEORI DASAR 1. Teori Multiple Intelligences Teori Multiple intelligences bertujuan untuk mentransformasikan sekolah agar kelak sekolah dapat mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam kecerdasan yang dimiliki siswa. . C‐20 . Ada 8 (delapan) macam kecerdasan yang digagas oleh Gardner (1993), yaitu: a) Kecerdasan Linguistik Kemampuan untuk menggunakan bahasa untuk mendeskripsikan kejadian, membangun kepercayaan dan kedekatan, mengembangkan argumen logika dan retorika, atau mengungkapkan ekspresi dan metafora. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan linguistik adalah wartawan dan reporter, tenaga penjual, penyair, copywriter, penulis, dan pengacara. b) Kecerdasan Matematik Kemampuan menggunakan angka‐angka untuk menghitung dan mendeskripsikan sesuatu, menggunakan konsep matematik, menganalisa berbagai permasalahan secara logis, menerapkan matematika pada kehidupan sehari‐hari, peka terhadap pola tertentu, serta menelaah berbagai permasalahan secara ilmiah. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan logika matematika adalah akuntan, ahli statistik, insinyur, penemu, pedagang, dan pembuat program komputer c) Kecerdasan Musikal Kemampuan untuk mengerti dan mengembangkan teknik musikal, merespon terhadap musik, menggunakan musik sebagai sarana untuk berkomunikasi, menginterpretasikan bentuk dan ide musikal, dan menciptakan pertunjukan dan komposisi yang ekspresif. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan musikal adalah guru musik, pembuat instrumen atau alat musik, pemain band, kritikus musik, kolektor musik, pencipta lagu atau penyanyi. d) Kecerdasan Spasial Kemampuan untuk mengenali pola ruang secara akurat, menginterpretasikan ide grafis dan spasial serta menerjemahkan pola ruang secara tepat. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan spasial adalah fotografer, dekorator ruang, perancang busana, arsitek, pembuat film. e) Kecerdasan Kinestetik Kemampuan untuk menggunakan seluruh atau sebagian dari tubuh untuk melakukan sesuatu, membangun kedekatan untuk mengonsolidasikan dan meyakinkan serta mendukung orang lain, dan menggunakannya untuk menciptakan bentuk ekspresi baru. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan ini adalah mekanik, pelatih, pengrajin, atlet, aktor, penari atau koreografer. . Jurusan Matematika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang .
(12) Gaya Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematik … f). Kecerdasan Interpersonal Kemampuan untuk mengorganisasikan orang lain dan mengomunikasikan secara jelas apa yang perlu dilakukan, berempati kepada orang lain, membedakan dan menginterpretasikan berbagai jenis komunikasi dengan orang lain, dan memahami intensi, hasrat, dan motivasi orang lain. Beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan kecerdasan interpersonal adalah manajer, politisi, pekerja sosial, pemimpin, psikolog, guru atau konsultan. g) Kecerdasan Intrapersonal Kemampuan untuk menilai kekuatan kelemahan, bakat, ketertarikan diri sendiri serta menggunakannya untuk menentukan tujuan, menyusun dan mengembangkan konsep dan teori berdasarkan pemeriksaan ke dalam diri sendiri, memahami perasaan, intuisi, temperamen, dan menggunakannya untuk mengekspresikan pandangan pribadi. Beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan kecerdasan ini adalah perencana, pemuka agama, atau ahli filosofi. h) Kecerdasan Naturalis Kemampuan untuk mengenali dan mengelompokkan dan menggambarkan berbagai macam keistimewaan yang ada di lingkungannya. Beberapa pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan naturalis ini adalah ahli biologi atau ahli konservasi lingkungan. Multiple Intelligences pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Celakanya, pola pemikiran tradisional dalam pendidikan acapkali lebih menekankan pada kemampuan logika‐ matematika dan bahasa. Padahal, setiap orang memiliki cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain (Susanto, 2005:35). Sementara, Jasmine (2007:12) berpendapat bahwa multiple intelligences merupakan validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Pemakaiannya dalam pendidikan sangat bergantung pada pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap atau berbagai cara siswa belajar, di samping pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing‐masing siswa. Musfiroh (2008:38) menjelaskan bahwa esensi teori multiple intelligences menurut Gardner adalah menghargai keunikan setiap . individu, berbagai variasi cara belajar, mewujudkan sejumlah model untuk menilai mereka, dan cara yang hampir tak terbatas untuk mengaktualisasikan diri di dunia ini. Sesungguhnya multiple intelligences hadir dalam diri setiap individu, tetapi masing‐masing individu akan memiliki satu atau lebih multiple intelligences yang memiliki tingkat multiple intelligences teratas. Namun, dalam praktik pembelajaran di sekolah sudah selayaknya seorang guru memiliki data tentang tingkat kecenderungan multiple intelligences setiap siswa. 2. Gaya Belajar Sebuah penelitian, khususnya di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari Universitas St. John, di Jamaica, New York, dan para pakar Pemrograman Neuro‐ Linguistik seperti, Richard Bandler, John Grinder, dan Michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar yang berbeda, yakni visual, auditori, dan kinestetik (Rose dan Nicholl, 1997:130). Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (2007) dalam buku Quantum Learning juga memaparkan 3 (tiga) gaya belajar seseorang yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik (V‐A‐K). Walaupun masing‐masing dari siswa belajar dengan menggunakan ketiga gaya ini pada tahapan tertentu, kebanyakan siswa lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya. Pertama, Gaya Belajar Visual. Bagi siswa yang memiliki gaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata/penglihatan (visual), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak/dititikberatkan pada peragaan/media, ajak mereka ke objek‐objek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar‐gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan‐tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil‐ detilnya untuk mendapatkan informasi. Untuk mengenali siswa yang gaya belajarnya termasuk visual kita dapat melihat karakteristik berikut: bicara agak cepat; mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi; tidak mudah terganggu oleh keributan; mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar; lebih suka . Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika 2013 . C‐21 .
(13) Abdul Halim Fathani . . membaca dari pada dibacakan; pembaca cepat dan tekun; seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata‐kata; lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato; lebih suka musik dari pada seni; dan mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya. Sedangkan beberapa strategi untuk mempermudah proses belajar siswa visual, antara lain: gunakan materi visual seperti, gambar‐gambar, diagram dan peta; gunakan warna untuk menghilite hal‐hal penting; ajak anak untuk membaca buku‐buku berilustrasi; gunakan multi‐media (contohnya: komputer dan video); dan ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide‐idenya ke dalam gambar. Kedua, Gaya Belajar Auditorial Siswa yang bertipe auditorial mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal‐hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak‐anak seperti ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset. Untuk mengenali siswa yang gaya belajarnya termasuk auditori, kita dapat melihat karakteristik berikut: saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri; penampilan rapi; mudah terganggu oleh keributan; belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat; senang membaca dengan keras dan mendengarkan; menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca; biasanya ia pembicara yang fasih; lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya; lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik; mempunyai masalah dengan pekerjaan‐ pekerjaan yang melibatkan visual; berbicara dalam irama yang terpola; dan dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara Adapun untuk mempermudah proses belajar siswa auditori, kita perlu menggunakan beberapa strategi berikut: ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga; dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras; . C‐22 . gunakan musik untuk mengajarkan anak; diskusikan ide dengan anak secara verbal; dan biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur. Ketiga, Gaya Belajar Kinestetik Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam‐jam karena keinginan mereka untuk beraktivitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan. Adapun ciri‐ciri gaya belajar kinestetik antara lain: berbicara perlahan; penampilan rapi; tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan; belajar melalui memanipulasi dan praktik; menghafal dengan cara berjalan dan melihat; menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca; merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita; menyukai buku‐ buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca; menyukai permainan yang menyibukkan; tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu; menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka; dan menggunakan kata‐kata yang mengandung aksi. Sedangkan strategi untuk mempermudah proses belajar siswa kinestetik, antara lain: jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam‐jam; ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan objek sesungguhnya untuk belajar konsep baru); izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar; gunakan warna terang untuk mengingat hal‐hal penting dalam bacaan; dan izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar siswa. Jika diberikan strategi mengajar yang sesuai dengan gaya belajarnya, siswa dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda‐beda. Gaya belajar tidak bersifat kaku. Meski sudah memiliki gaya belajarnya bukan berarti siswa tidak bisa mengembangkan metode belajar yang lain. Jadi, ukuran keberhasilan paling penting adalah jika anak bisa menangkap informasi yang kita sampaikan dan menikmati aktivitas belajarnya. . Jurusan Matematika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang .
(14) Gaya Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematik … 3. Belajar Matematika melalui Pemecahan Masalah (Problem Solving) Masalah dalam matematika merupakan suatu persoalan yang siswa sendiri mampu menyelesaikannya tanpa menggunakan cara atau algoritma yang rutin. Dengan kata lain, siswa belum memiliki prosedur atau algoritma tertentu untuk menyelesaikannya, tetapi ia harus mampu menyelesaikannya berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya dan menggunakan pendekatan atau gaya yang tidak sama antara siswa satu dengan lainnya, terlepas dari apakah ia sampai atau tidak untuk menemukan solusi akhirnya. Oleh karena itu, menemukan jawaban bukanlah satu‐satunya tujuan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana siswa beraktivitas dan berinteraksi dalam mencari jawaban merupakan bagian yang lebih penting. Laili (2009:20) menjelaskan bahwa penyelesaian masalah sangat penting, karena dalam proses penyelesaian masalah, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang tidak rutin. Melalui kegiatan ini, aspek‐aspek kemampuan matematika penting sepeerti penerapan aturan pada masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi matematika, dan lainnya dapat dikembangkan dengan baik. Untuk dapat bekerja dengan masalah yang tidak rutin dituntut suatu pendekatan yang tepat sehingga siswa dapat beraktivitas dan berinteraksi secara harmonis dengan masalah yang dihadapinya. Pemecahan masalah dengan langkah‐langkah yang hierarkis memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan ketika berhadapan masalah yang belum dikenal dengan baik sebelumnya. Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting, karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Melalui kegiatan ini aspek‐aspek kemampuan matematika yang penting seperti penerapan aturan pada masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi matematik, dan lain‐lain dapat dikembangkan secara lebih baik (Suherman, 2001:83). Pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Bahkan tercermin dalam konsep kurikulum berbasis kompetensi. Tuntutan akan kemampuan pemecahan masalah dipertegas . secara eksplisit dalam kurikulum tersebut yaitu, sebagai kompetensi dasar yang harus dikembangkan dan diintegrasikan pada sejumlah materi yang sesuai. Cooney, et al (dalam Shadiq, 2004) menyatakan sebagai berikut: “….for a question to be a problem, it must present a challenge that cannot be resolved by some routine procedure known to the student.” Ini berarti bahwa tidak semua pertanyaan merupakan masalah. Jadi, termuatnya “tantangan” serta “belum diketahuinya prosedur rutin” pada suatu pertanyaan yang akan diberikan kepada siswa akan menentukan terkategorikannya suatu pertanyaan menjadi “masalah”. Charles dan Lester (dalam Baroody, 1993:5) menyatakan bahwa syarat masalah adalah 1) dapat membangkitkan rasa ingin mengetahui jawabannya, 2) tidak adanya cara yang jelas untuk menentukan jawaban, dan 3) dapat membangkitkan suatu usaha untuk mencari jawabannya. National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) berpendapat bahwa penyelesaian masalah dapat menjadi fokus matematika dalam sekolah (1989:6). Berdasarkan NCTM (1989:1991), memusatkan pengajaran matematika pada penyelesaian masalah dapat menolong siswa belajar konsep‐ konsep kunci dan keterampilan dalam konteks motivasi. (Lubienski, 2000:454). NCTM (2000:335) menyatakan bahwa pemecahan masalah mempunyai dua fungsi dalam pembelajaran matematika, yakni 1) sebagai alat untuk mempelajari materi matematika dan 2) membekali siswa dengan pengetahuan dan alat sehingga siswa dapat memformulasikan, mendekati, dan menyelesaikan masalah sesuai dengan yang telah merka pelajari di sekolah. Sebagai implikasi, maka siswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan‐kemampuan dan strategi‐strategi pemecahan masalah. Kajian awal dan terkenal, mengenai pemecahan masalah matematik dilakukan oleh Polya (1973:5). Ia mengajukan teori bahwa pemecahan dalam matematika meliputi 4 (empat) tahapan kegiatan sebagai berikut. 1) Memahami masalah Pertama, pernyataan tulisan dalam masalah harus dipahami. Siswa harus bisa menunjukkan bagian‐bagian prinsip dari masalah yang ditanyakan, yang diketahui dan prasyarat. Sehingga guru menanyakan melalui pertanyaan: Apa yang ditanyakan? Apa datanya (yang diketahui)? Apa syaratnya? Pertanyaan lain yang diperlukan dalam tahap persiapan misalnya, Apakah syaratnya sudah mencukupi? . Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika 2013 . C‐23 .
(15) Abdul Halim Fathani 2). 3). 4). . Merencanakan pemecahannya Sesungguhnya keberhasilan utama menyelesaikan masalah adalah gagasan rencana. Gagasan yang baik bisa didasarkan pada pengalaman atau pengetahuan sebelumnya. Langkah awal untuk mengetahuinya, guru bisa bertanya kepada siswa: Apa kamu tahu sesuatu yang berhubungan dengan masalah? Memahami masalah dengan baik dan serius memikirkannya, sangat membantu memunculkan gagasan yang benar. Jika tidak berhasil, maka bisa mengubah bentuk masalah atau memodifikasi masalah. Misalnya melalui pertanyaan: Bisakah kamu menyatakan kembali masalah itu? Menyelesaikan masalah sesuai rencana Untuk memikirkan rencana, mengerti gagasan untuk menyelesaikan masalah tidaklah mudah. Guru harus meminta dengan tegas kepada siswa untuk memeriksa masing‐masing langkah, dengan menanyakan: Apakah kamu yakin bahwa langkah yang kamu pilih benar? Memeriksa kembali hasil yang diperoleh Setelah siswa mendapatkan penyelesaian masalah dan menuliskan jawaban dengan rapi, seharusnya mereka memeriksa kembali hasil yang diperolehnya. Guru bisa bertanya kepada siswa dengan pertanyaan: Dapatkah kamu memeriksa hasilnya? Untuk memberikan tantangan dan kepuasan dalam menyelesaikan masalah guru bisa memberikan pertanyaan, misalnya Dapatkah kamu mendapatkan hasil dengan cara yang berbeda? . METODE PENELITIAN Gaya belajar yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini mengacu pada teori gaya belajar yang dicetuskan DePorter (2007) dalam bukunya Quantum Teaching. Gaya belajar yang dimaksud terdiri atas 3 (tiga) macam, yaitu gaya belajar visual, auditorial, dan kinestik. Pengambilan subjek penelitian ini didasarkan atas hasil multiple intelligences research (MIR) yang terdiri atas dua kelompok, (1) siswa yang memiliki kecenderungan tertinggi dalam kecerdasan matematik, (2) siswa yang memiliki kecenderungan tertinggi dalam kecerdasan lingusitik, masing‐masing terdiri atas 3 (tiga) siswa. Siswa yang tergolong pada kelompok subjek penelitian dengan kecenderungan kecerdasan matematik adalah S1, S2, dan S3. Sedangkan, siswa yang tergolong pada kelompok subjek penelitian dengan kecenderungan kecerdasan linguistik adalah S4, S5, dan S6. Instrumen lembar tugas yang digunakan merupakan salah satu contoh masalah matematik . C‐24 . yang diambil dari buku berjudul “Problem Solving – A Basic Mathematics Goal: Becoming a Better Problem Solver” yang diterbitkan oleh Ohio Department of Education Columbus Tahun 1980. Jumlah subjek dalam penelitian ini berjumlah 6 (enam) siswa yang mewakili kecerdasan linguistik dan matematik. Adapun proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah‐langkah sebagai berikut: mentranskrip data verbal yang terkumpul; menelaah seluruh data yang diperoleh dari berbagai sumber; mengadakan reduksi data dengan membuat abstraksi; mendeskripsikan karakteristik gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik; melakukan analisis gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik; dan menarik kesimpulan. HASIL Pada bagian ini, akan dipaparkan gaya belajar siswa yang memiliki tingkat kecenderungan tertinggi pada kecerdasan matematik dan linguistik dalam menyelesaikan masalah matematik dalam 4 (empat) tahap, yaitu tahap memahami masalah, merencanakan penyelesaian masalah, melaksanakan rencana penyelesaian masalah, melakukan pengecekan. Dalam memahami masalah matematik, siswa yang menjadi subjek penelitian menggunakan kombinasi tiga gaya belajar, yakni gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik, kecuali untuk S1 yang hanya memanfaatkan gaya belajar visual dan kinestetik saja. Secara detail dapat dilihat dalam Tabel 1 berikut. . Tabel 1. Gaya Belajar Siswa pada Tahap Memahami Masalah Gaya Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Sub Masalah Matematik jek Visual Auditorial Kinestetik - Mengasosiasik S1 - Membaca an dengan informasi yang gerakan fisik tertulis dalam - Tidak dapat lembar tugas duduk diam untuk waktu lama - Berbicara atau membaca dengan suara pelan - Mendengar - Mengubah S2 - Membaca posisi duduk, informasi yang kan penjelasan menggerakka tertulis dalam n bolpoin dari lembar tugas peneliti - Menulis - Lancar informasi berdiskusi (jawaban) dengan dalam lembar peneliti jawaban - Tidak . Jurusan Matematika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang .
(16) Gaya Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematik … terganggu oleh keributan atau suara bising - Pembaca yang tekun - Mengingat dengan asosiasi visual (membayangk an) - Mengucapkan yang dipahami sambil menuliskanny a - Membuat gambar - Mendiskusi S3 - Kehilangan kan konsentrasi dengan - Membaca informasi yang teman tertulis dalam - Mendengar kan lembar tugas penjelasan - Rapi dan dari teratur teman/pen - Perencana eliti yang baik - Mengingat apa - Berbicara dan yang dilihat menjelaska n sesuatu secara panjang lebar - Mendengar S4 - Membaca informasi yang kan penjelasan tertulis dalam dari lembar tugas peneliti - Menyalin - Merasa informasi dengan tulisan kesulitan untuk - Kehilangan menulis konsentrasi - Berbicara (bingung) kepada diri - Rapi dan sendiri teratur saat - Senang bekerja membuat gambar - Berbicara S5 - Membaca informasi yang kepada diri sendiri tertulis dalam saat lembar tugas bekerja - Menulis informasi yang - Mendengar kan dipahami penjelasan - Membuat dari gambar peneliti - Kehilangan konsentrasi/K ebingungan - Mendengar S6 - Membaca informasi yang kan penjelasan tertulis dalam dari lembar tugas peneliti - Rapi dan . teratur - Mengasosiasik an informasi secara visual - Mengingat dengan asosiasi visual (membayangk an) . ketika bertanya kepada peneliti . . - Menggunakan isyarat tubuh dan gerakan fisik - Mengasosiasik an informasi dengan gerakan fisik . - Mengasosiasik an informasi dengan gerakan fisik - Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama - Menanggapi perhatian fisik . - Melakukan gerakan fisik - Mengasosiasik an informasi dengan gerakan fisik . - Melakukan gerakan fisik - Menggunakan jari sebagai penunjuk . Sedangkan gaya belajar siswa pada tahap merencanakan untuk menyelesaikan masalah matematik, banyak perilaku berbeda‐beda yang muncul, tetapi ada yang mengombinasikan tiga gaya belajar dan ada subjek penelitian yang hanya cenderung dalam satu gaya belajar. Untuk S1, S4, dan S6 menggunakan tiga gaya belajar. Untuk subjek yang lain hanya menggunakan kombinasi dua gaya belajar, seperti yang dialami S3, ia cenderung diam secara serius, tidak melakukan gerakan fisik. S3 hanya mendeskripsikan dengan gambar dan bertanya kepada peneliti. Sementara untuk S2 hanya menggunakan satu gaya belajar, yakni gaya belajar auditorial. Uraian secara rinci dapat dilihat dalam Tabel 2 berikut. Tabel 2. Gaya Belajar Siswa pada Tahap Merencanakan Penyelesaian Masalah Gaya Belajar dalam Menyelesaikan Masalah Sub Matematik jek Visual Auditorial Kinestetik - Menggunaka - Berbicara S1 - Membuat n isyarat kepada diri gambar tubuh dan sendiri saat - Membaca gerakan fisik bekerja informasi yang tertulis dalam lembar tugas S2 - Melakukan - gerakan fisik (ringan) - Mendiskusika - S3 - Rapi dan n dengan teratur teman/peneli - Senang ti membuat gambar S4 - Kehilangan - Mendiskusika - Menanggapi perhatian konsentrasi n dengan fisik peneliti - - Menggunaka S5 - Membaca n jari informasi sebagai yang tertulis penunjuk dalam lembar ketika tugas membaca - Kehilangan konsentrasi - Mengasosiasik an informasi secara visual - Menggunaka - Bertanya S6 - Mengingat n jari kepada dengan sebagai asosiasi visual peneliti . Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika 2013 . C‐25 .
(17) Abdul Halim Fathani (membayangk an) - Menulis informasi yang dipahami siswa . penunjuk ketika membaca . Setelah memahami masalah dan merencanakan penyelesaian masalah, selanjutnya adalah tahap untuk melaksanakan rencana penyelesaiannya. Pada tahap ini, hampir setiap siswa menggunakan kombinasi dari tiga gaya belajar, namun gaya belajar visual merupakan gaya belajar yang paling bervariasi, jika dilihat dari indikator perilaku yang dilakukan siswa. Dalam tahap ini, melaksanakan rencana penyelesaian yang sudah disusun secara berulang‐ulang dan siswa sangat teliti terhadap hasil pengerjaan yang dilakukan. Sedangkan untuk gaya belajar kinestetik, siswa menggunakan isyarat dan melakukan gerakan fisik yang ringan. Terkait dengan cara melaksanakan rencana penyelesaian masalah, semua siswa mendeskripsikan dengan menggunakan tabel atau gambar. Namun, tabel atau gambar yang dipakai siswa ada yang dituliskan atau dilukiskan secara utuh dan ada yang hanya sekadarnya saja (tidak digambarkan secara utuh). Selengkapnya dapat dicermati dalam Tabel 3 berikut. Tabel 3. Gaya Belajar Siswa pada Tahap Melaksanakan rencana Penyelesaian Masalah Gaya Belajar dalam Menyelesaikan Masalah Sub Matematik jek Visual Auditorial Kinestetik - Menggunakan - Berbicara S1 - Teliti isyarat tubuh kepada diri terhadap dan sendiri saat hasil melakukan bekerja pengerjaan gerakan fisik - Membaca informasi yang tertulis dalam lembar tugas - Mengingat dengan asosiasi visual (membayan gkan) - Membuat gambar dan tabel - Melakukan S2 - Melaksanaka - Berbicara kepada diri gerakan fisik n rencana sendiri saat ringan yang sudah bekerja disusun - Teliti terhadap hasil pengerjaan - Mengingat . C‐26 . apa yang dilihat dan dibayangkan - Membaca informasi yang tertulis dalam lembar tugas - Kadang‐ kadang kehilangan konsentrasi; bingung - Membuat gambar - Membuat tabel - Melaksanaka S3 - Mengingat n rencana apa yang penyelesaian dilihat yang sudah disusun secara berulang‐ ulang - Mendengarka n penjelasan/p erintah dari peneliti S4 - Melaksanaka - Melaksanaka n rencana n rencana penyelesaian penyelesaian yang sudah yang sudah disusun disusun secara dengan berulang‐ cepat dan ulang teratur - Senang membuat gambar - Mendengarka S5 - Membaca n penjelasan informasi yang tertulis dari peneliti dalam lembar tugas - Senang membuat tabel - Teliti terhadap hasil pengerjaan - Mendengarka S6 - Teliti n penjelasan terhadap dari peneliti detail pengerjaan - Mengingat dengan asosiasi visual (membayan gkan) - Menulis informasi yang . - Mengasosiasik an informasi dengan gerakan fisik - Menggunakan isyarat tubuh - Berbicara dengan perlahan . - Menanggapi perhatian fisik . - Mengasosiasik an informasi dengan gerakan fisik . - . Jurusan Matematika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang .
(18) Gaya Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematik … dipahami siswa - Membuat tabel . . S6. Setelah selesai melaksanakan rencananya, selanjutnya pada tahap yang keempat siswa melakukan pengecekan atas pekerjaannya. Untuk subjek S1 dan S2 merupakan siswa yang sangat antusias ketika mengecek kembali jawaban pekerjaannya dan kadang masih kelihatan kebingungan, sehingga kadang menghitung ulang atas berbagai percobaannya. Sementara, untuk siswa yang lain dengan sangat percaya diri, mereka tidak mengecek jawabannya. Hal ini dapat dilihat dalam Tabel 4 berikut. Tabel 4. Gaya Belajar Siswa pada Tahap Melakukan Pengecekan Gaya Belajar dalam Menyelesaikan Masalah Subj Matematik ek Visual Auditorial Kinestetik - - Melakukan S1 - Teliti gerakan fisik terhadap hasil pengerjaan - Membaca informasi yang tertulis dalam lembar tugas - Mengingat dengan asosiasi visual (membayang kan) - Membuat tabel - Menjawab dengan pertanyaan singkat - - Berbicara S2 - Teliti kepada diri terhadap sendiri saat hasil bekerja pengerjaan - - S3 - Teliti terhadap hasil pengerjaan - Membaca - Menanggapi S4 - Memeriksa dengan perhatian kembali apa berbicara fisik yang sudah ditulis secara sendiri cermat - Senang membuat gambar - - S5 - Membaca informasi - Kehilangan konsentrasi . - Teliti terhadap hasil pengerjaan - Teliti terhadap hasil pengerjaan . -. - . Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa semua siswa dapat menyelesaikan masalah matematik secara lengkap sesuai dengan tahapan pemecahan masalah menurut Polya. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa siswa dapat menyelesaikan jawaban sampai tuntas dan benar. Pada awalnya, dijumpai beberapa subjek kebingungan atau kehilangan konsentrasi, terutama mereka yang kecenderungan tertingginya dalam kecerdasan linguistik. Namun, setelah peneliti berupaya mengakomodasi gaya belajar yang dianggap sesuai dengan gaya belajar siswa, akhirnya diperoleh hasil yang memuaskan, yaitu siswa dapat menyelesaikan masalah matematik sampai tuntas. Hanya saja, perilaku yang dilakukan siswa tidak sama, begitu juga waktu dan tempat, masing‐masing diserahkan kepada siswa sesuai dengan keinginannya. PEMBAHASAN Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa siswa yang menjadi subjek penelitian, baik yang memiliki kecenderungan dalam kecerdasan linguistik maupun matematik dapat menyelesaikan masalah matematik secara tuntas dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan dalam menyelesaikan masalah matematik, siswa mengoptimalkan kecenderungan gaya belajarnya masing‐masing. Secara umum dalam menyelesaikan masalah matematik, siswa mengombinasikan ketiga gaya belajar, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. Kebanyakan siswa belajar melalui seluruh modalitas, namun memiliki kekuatan tertentu dan kelemahan dalam modalitas yang spesifik. Beberapa orang memiliki kecenderungan yang sama untuk lebih dari satu gaya, sebagai gaya multimodal. Setelah gaya belajar seseorang dapat diketahui dan dipastikan, akomodasi dapat dibuat untuk meningkatkan prestasi akademik dan kreativitas, serta meningkatkan sikap terhadap pembelajaran (Giles, 2010). Secara umum, model yang menggambarkan posisi kombinasi tiga gaya belajar dapat diamati dalam Gambar 1 berikut. . Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika 2013 . C‐27 .
(19) Abdul Halim Fathani . auditorial dilakukan S6 dan S2, yakni S6 ketika menyelesaikan masalah matematik pada tahap melaksanakakan rencana penyelesaian masalah (lihat Tabel 2). Sedangkan S2 menggunakan gaya belajar secara visual dan auditorial pada saat melakukan pengecekan (lihat Tabel 4). . Gambar 1. Model Kombinasi Tiga Gaya Belajar Siswa . . Gaya belajar siswa tidak berlaku tetap. Bisa saja siswa dalam menyelesaikan masalah matematik yang berkaitan dengan mencari luas suatu bangun, mereka lebih banyak menggunakan kecenderungan gaya belajar kinestetik. Sementara, ketika menyelesaikan masalah matematik yang berkaitan dengan trigonometri, siswa lebih banyak menggunakan kecenderungan gaya belajar secara visual. Hal inilah yang menjadi dasar bahwa gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah bukanlah suatu yang permanen, hanya suatu kecenderungan. Untuk situasi dan kondisi yang berbeda, bisa saja menuntut seseorang untuk menggunakan satu gaya belajar atau kombinasi dari beberapa gaya belajar. Dengan demikian gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah dapat digambarkan dengan menggunakan tiga model sebagaimana pada Gambar 2 di bawah ini. Gambar 2. Model Gaya Belajar Siswa dengan Kecenderungan pada salah satu Gaya Belajar (Cenderung secara Visual, Auditorial, atau Kinestetik) . Secara umum, siswa yang menjadi subjek penelitian ini (S1, S2, S3, S4, S5, S6) dalam menyelesaikan masalah matematik, mereka menggunakan kombinasi tiga gaya belajar, yakni secara visual, auditorial, dan kinestetik. Namun pada tahap‐tahap tertentu, terdapat subjek yang hanya menggunakan dua kombinasi gaya belajar dan ada yang menggunakan satu gaya belajar saja. Sebagaimana yang dilakukan S1 pada tahap memahami masalah dan tahap melakukan pengecekan, ia menggunakan gaya belajar secara visual dan kinestetik dalam menyelesaikan masalah matematik (perhatikan Tabel 4). Begitu juga seperti yang dialami S5 pada tahap merencanakan penyelesaian masalah matematik, ia menggunakan gaya belajar visual dan kinestetik (lihat Tabel 2). Adapun subjek dalam penelitian ini yang menggunakan kombinasi gaya belajar visual dan C‐28 . Selain itu, juga ditemukan fakta bahwa terdapat subjek penelitian yang hanya menggunakan satu gaya belajar dalam menyelesaikan masalah matematika pada tahap melakukan pengecekan terhadap penyelesaian masalah matematika yang dikerjakan. Dari hasil rekapitulasi gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik dalam penelitian ini, terdapat tiga subjek yang hanya menggunakan satu haya belajar saja, yaitu sebagaimana yang dilakukan S3, S5, dan S6. Ketiga subjek tersebut menggunakan gaya belajar secara visual untuk melakukan pengecekan terhadap hasil pekerjaannya. Ronning (1984) dalam (Raven, et.al, 1993) berpendapat bahwa pemecahan masalah harus mempertimbangkan setidaknya tiga dimensi, yaitu pengetahuan, metode pemecahan masalah, dan karakteristik siswa. Ronning et al. (1984) menyatakan bahwa dua yang pertama dimensi (pengetahuan dan metode pemecahan masalah) dapat diterima oleh khalayak luas sebagai hal penting dalam pemecahan masalah, tetapi tidak ada teori pemecahan masalah yang mempertimbangkan perbedaan individual. Ronning et al. (1984) menyimpulkan bahwa modifikasi instruksi pemecahan masalah dengan cara yang konsisten dengan gaya belajar siswa merupakan konsekuensi yang tak terelakkan. Sebagai akibat dari lebih dari satu dekade penelitian dan pengembangan, Treffinger & Selby (2004:5) telah menyimpulkan bahwa gaya belajar dalam menyelesaikan masalah merupakan dimensi yang sangat penting, kreatif, dan produktif. Treffinger & Selby mendefinisikan gaya penyelesaian masalah sebagai perbedaan cara individu yang konsisten dalam memilih untuk merencanakan, melaksanakan, menghasilkan, dan memfokuskan dalam rangka untuk mendapatkan kejelasan, menghasilkan ide‐ ide, atau mempersiapkan diri untuk tindakan ketika memecahkan masalah. Hassan, et.al dalam Journal of Technical Education and Training (http://penerbit.uthm.edu.my/ejournal/images/ stories/JTET21/JTET21_F3.pdf,) menyatakan bahwa Fleming berpendapat, siswa akan belajar lebih baik jika menggunakan pilihan gaya belajar mereka. Berdasarkan hasil pengamatannya, Sternberg (1999) berpendapat bahwa 1) siswa akan belajar lebih baik, bila menggunakan gaya . Jurusan Matematika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang .
Gambar
Dokumen terkait
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan siswa laki-laki dalam memahami masalah, melihat dengan cara membaca soal dan memilah informasi berdasarkan hal-hal
Selain mendorong siswa mengembangkan kemampuan menjelaskan dan menyelesaikan masalah, masih banyak hal lain yang perlu dilakukan guru agar siswa kelak memiliki
Dalam proses pembelajaran, siswa dihadapkan pada suatu masalah dimana siswa dituntut untuk dapat mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang berbeda-beda dalam upaya
Secara umum, siswa memilki kecenderungan tertinggi dalam menyelesaikan masalah matematik dengan menggunakan gaya visual. Dalam setiap kecenderungan gaya belajar yang sama, siswa
Untuk itu setelah materi segiempatselesai disajikan kepada siswa sesuai dengan urutan yang terdapat pada GBPP, maka diakhir pertemuan guru nebfarahkan siswa untuk
Pemberian pembelajaran metode diskusi dengan alat bantu peraga memberikan peningkatan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata ajar matematika
dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan Software Cabri 3d lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajarkan tanpa menggunakan
Secara umum siswa menyelesaikan pembagian pecahan menggunakan pengetahuan prosedural yakni bagi menjadi kali dan pecahan pembagi dibalik. Tulisan ini memaparkan