• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk

Laporan Keuangan

Pada Tanggal 30 September 2021 (tidak diaudit) dan 31 Desember 2020 (diaudit)

Serta Periode Sembilan Bulan yang Berakhir

30 September 2021 dan 30 September 2020

(tidak diaudit)

(2)
(3)

Daftar Isi

Halaman

Laporan Posisi Keuangan………. 1

Laporan Laba Rugi Komprehensif .……… 2

Laporan Perubahan Ekuitas ……… 3

Laporan Arus Kas ………. 4 Catatan atas Laporan Keuangan ………... 5-57

**************************

(4)

ASET LANCAR LIABILITAS JANGKA PENDEK

Kas dan setara kas 2,5,24,26 959.207 1.554.228 Utang - pihak ketiga 2,26,29

Deposito berjangka 2,6,26 1.508.211 1.001.100 Usaha 11 482.693 604.163

Piutang 26 Lain-lain 24 26.430 68.334

Usaha 3 Utang pajak 2,3,12 5.533 5.246

Pihak ketiga 7 3.071 7.623 Beban akrual 2,13,25,26 26.939 28.214

Lain-lain - neto Bagian liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo

Biaya dibayar di muka - neto 2 321 3.533 LIABILITAS JANGKA PANJANG

Pajak dibayar di muka - neto 12 5 - Liabilitas imbalan kerja karyawan 2,3 248.897 262.351

Pajak Pertambahan Nilai dibayar di muka - neto - 1.594 Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian

Uang muka 13.448 22.620 yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun:

Liabilitas sewa 2,3,14,25,26 265.212 378.465

Total Liabilita s Jangka Panjang 514.109 640.816

Total Aset Lancar 3.032.378 3.200.854 Total Liabilita s 1.286.880 1.566.474

EKUITAS

Modal saham - nilai nominal Rp50 per saham (Rupiah penuh)

Modal dasar - 28.000.000.000 saham Modal ditempatkan dan disetor penuh -

ASET TIDAK LANCAR 7.096.000.000 saham 15 354.800 354.800

Aset tetap - neto 2,3,10a,20 907.008 1.002.168 Tambahan modal disetor - neto 2 147.525 147.525

Uang muka pembelian aset tetap 36.728 36.728 Saham treasuri - 682.737.700 saham

Aset hak guna - neto 2,3,10b,20 718.399 873.570 per 30 September 2021 dan 353.515.600 saham

Uang jaminan - neto 2,26 29.017 28.922 per 31 Desember 2020 2,15 (569.713) (319.638)

Aset pajak tangguhan - neto 2,3,12 101.920 107.093 Saldo laba:

Aset takberwujud - neto 2,3 3.829 5.318 Telah ditentukan penggunaannya 16 70.000 70.000

Taksiran pengembalian pajak 12 17.619 17.619 Belum ditentukan penggunaannya 3.597.376 3.494.559

Aset tidak lancar lainnya 2,26 12.539 12.946 Rugi komprehensif lainnya - neto 8 (27.431) (28.502)

`

Total Aset Tidak Lancar 1.827.059 2.084.364 Total Ekuitas 3.572.557 3.718.744

TOTAL ASET 4.859.437 5.285.218 TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS 4.859.437 5.285.218

219.701

925.658 2,8,26 80.635 79.261

Persediaan - neto 2,3,9,18 421.144 493.436

2,3,14,25,26 dalam waktu satu tahun:

Liabilitas sewa 231.176

Investasi jangka pendek

Total Liabilita s Jangka Pendek 772.771

Pihak berelasi Pihak ketiga

2 7,24

6.727

4.393 39.609

33.066

(5)

30 September 30 September

Catatan 2021 2020

PENDAPATAN 2

Penjualan barang beli putus 17 1.577.534 1.567.004

Komisi penjualan konsinyasi 17 400.621 334.903

Total Pendapatan 17 1.978.155 1.901.907

BEBAN POKOK PENJUALAN

BARANG BELI PUTUS 2,18 (1.080.965) (1.098.223)

LABA BRUTO 897.190 803.684

Beban penjualan 2,19 (8.015) (20.456)

Beban umum dan administrasi 2,10,20 (824.094) (986.661)

Pendapatan lainnya 2,21 12.994 13.724

LABA (RUGI) USAHA 78.075 (189.709)

Pendapatan keuangan 2 62.392 109.841

Biaya keuangan (21.239) (2.484)

Pajak atas pendapatan keuangan (11.541) (20.554)

LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 107.687 (102.906)

Manfaat (beban) pajak penghasilan - neto 2,12 (4.870) 7.689

LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN 102.817 (95.217)

PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF LAIN Perubahan nilai wajar aset keuangan tersedia

untuk dijual - neto 2,8 1.374 (643)

Pajak penghasilan terkait (303) 161

PENGHASILAN (RUGI) KOMPREHENSIF LAIN

TAHUN BERJALAN SETELAH PAJAK 1.071 (482)

TOTAL LABA (RUGI) KOMPREHENSIF

TAHUN BERJALAN 103.888 (95.699)

LABA (RUGI) PER SAHAM (Rupiah penuh) 2,22 15,62 (14,13) (Disajikan dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Dinyatakan Lain)

(6)

Modal Saham Perubahan nilai Pengukuran kembali

Ditempatkan Tambahan Telah Belum wajar - aset kerugian atas

dan Disetor Modal Disetor - Saham Ditentukan Ditentukan keuangan tersedia liabilitas imbalan

Catatan Penuh neto Treasuri Penggunaannya Pengunaannya untuk dijual - neto kerja - neto Total Ekuitas

Saldo tanggal 31 Desember 2019 354.800 149.662 (321.647) 70.000 3.970.557 (15.481) (38.961) 4.168.930 Perolehan saham treasuri 15 - (2.137) 2.009 - - - - (128) Total laba komprehensif tahun berjalan - - - - (95.217) (482) - (95.699) Pembagian dividen kas - - - - (337.124) - - (337.124) Saldo tanggal 30 September 2020 354.800 147.525 (319.638) 70.000 3.538.216 (15.963) (38.961) 3.735.979 Saldo tanggal 31 Desember 2020 354.800 147.525 (319.638) 70.000 3.494.559 (9.133) (19.369) 3.718.744 Perolehan saham treasuri 15 - - (250.075) - - - - (250.075) Total rugi komprehensif tahun berjalan - - - - 102.817 1.071 - 103.888 Saldo tanggal 30 September 2021 354.800 147.525 (569.713) 70.000 3.597.376 (8.062) (19.369) 3.572.557

PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Untuk Periode Sembilan Bulan yang Berakhir pada Tanggal 30 September 2021 (Disajikan dalam Jutaan Rupiah, Kecuali dinyatakan lain)

Saldo Laba Rugi komprehensif Lainnya

(7)

30 September 30 September

Catatan 2021 2020

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI

Penerimaan kas dari penjualan 3.168.282 2.866.315

Pembayaran kas kepada pemasok (2.576.767) (2.791.646)

Pembayaran kas untuk gaji dan

tunjangan karyawan (261.780) (361.979)

Pembayaran pajak penghasilan (5) (18.920)

Penerimaan (pembayaran) kas dari :

Pendapatan keuangan - neto 51.788 89.477

Kegiatan usaha lainnya (38.741) (20.932)

Kas Neto yang Diperoleh (digunakan) untuk

Aktivitas Operasi 342.777 (237.685)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI

Penghapusan aset tetap 16 -

Hasil penjualan investasi jangka pendek 8 - 30.400

Penambahan aset hak guna - (138.897)

Pengembalian (penambahan) uang jaminan (95) 819

Penambahan aset takberwujud (786) (7.268)

Penambahan aset tetap 10a (56.730) (50.873)

Pencairan (penempatan) deposito berjangka - neto 6 (507.111) 402.680 Kas Neto yang Diperoleh (digunakan) untuk

Aktivitas Investasi (564.706) 236.861

ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN

Pembayaran dividen kas - (337.124)

Pembayaran liabilitas sewa 25a (123.017) -

Hasil perolehan saham treasuri (250.075) (128)

Kas Neto yang Digunakan untuk

Aktivitas Pendanaan (373.092) (337.252)

PENURUNAN NETO KAS DAN SETARA KAS (595.021) (338.076) KAS DAN SETARA KAS AWAL PERIODE 4 1.554.228 2.208.119 KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 4 959.207 1.870.043

(8)

a. Pendirian Perusahaan

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (“Perusahaan”) didirikan di Indonesia pada tanggal 14 Desember 1983 berdasarkan Akta Notaris R. Muh. Hendarmawan, S.H., No. 60 pada tanggal yang sama. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2- 5877.HT.01.01.TH.85 tanggal 17 September 1985 dan diumumkan dalam Berita Negara No. 9 Tambahan No. 589 tanggal 3 Oktober 1985. Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir sehubungan dengan persetujuan pemegang saham atas perubahan Anggaran Dasar Perusahaan untuk disesuaikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) sebagaimana disebutkan dalam Akta Notaris Rianto, S.H., No. 5 tanggal 16 September 2015. Perubahan tersebut telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. AHU-0024968.AH.01.11 Tahun 2016 tanggal 25 Februari 2016.

Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1983. Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, kegiatan utama Perusahaan adalah perdagangan umum yang menjual berbagai macam barang seperti pakaian, aksesoris, tas, sepatu, kosmetik dan produk-produk kebutuhan sehari- hari melalui gerai serba ada (Department Store dan Supermarket) milik Perusahaan. Pada tahun 2021 dan 2020, Perusahaan menghentikan operasi masing-masing sejumlah enam (7) dan tiga belas (13) gerai. Pada tanggal 30 September 2021 dan 31 Desember 2020, jumlah gerai yang dioperasikan oleh Perusahaan adalah sebagai berikut:

30 September 2021 31 Desember 2020

Ramayana 96 101

Robinson 3 3

Cahaya 2 2

Seluruh gerai yang dioperasikan Perusahaan berlokasi di Jakarta, Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah), Sumatera, Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua. Kantor pusat Perusahaan berdomisili di Jl. K.H. Wahid Hasyim No. 220 A-B, Jakarta 10250.

PT Ramayana Makmursentosa adalah entitas induk terakhir dari Perusahaan dengan persentase kepemilikan sebesar 58,80%.

b. Penawaran Umum Efek Perusahaan

Pada tanggal 26 Juni 1996, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (“BAPEPAM-LK”) dalam suratnya No. 1038/PM/1996 untuk melakukan penawaran umum perdana sebanyak 80 juta saham dengan nilai nominal Rp500 (Rupiah penuh) per saham kepada masyarakat melalui Bursa Efek Indonesia dengan harga penawaran sebesar Rp3.200 (Rupiah penuh) per saham. Selanjutnya Perusahaan telah melaksanakan transaksi-transaksi permodalan sebagai berikut:

1. Pada tanggal 15 September 1997, Perusahaan menerbitkan saham bonus dimana setiap pemegang satu saham lama menerima satu saham baru. Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 700.000.000 saham.

2. Pada tanggal 8 Juni 2000, Perusahaan mengubah nilai nominal dari Rp500 (Rupiah penuh) per saham menjadi Rp250 (Rupiah penuh) per saham. Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 1.400.000.000 saham.

(9)

1. UMUM (lanjutan)

b. Penawaran Umum Efek Perusahaan (lanjutan)

Selanjutnya Perusahaan telah melaksanakan transaksi-transaksi permodalan sebagai berikut: (lanjutan) 3. Pada tanggal 18 Juni 2004, Perusahaan kembali mengubah nilai nominal dari Rp250 (Rupiah penuh)

per saham menjadi Rp50 (Rupiah penuh) per saham. Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 7.000.000.000 saham.

4. Pada tanggal 4 Juli 2005, Perusahaan telah menerbitkan saham baru sejumlah 32.000.000 saham sehubungan dengan pelaksanaan hak opsi oleh karyawan (ESOP).Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 7.032.000.000 saham.

5. Pada tanggal 2 Oktober 2006, Perusahaan telah menerbitkan saham baru sejumlah 32.000.000 saham sehubungan dengan pelaksanaan hak opsi oleh karyawan (ESOP). Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 7.064.000.000 saham.

6. Pada tanggal 28 Juli 2010, Perusahaan telah menerbitkan saham baru sejumlah 32.000.000 saham sehubungan dengan pelaksanaan hak opsi oleh karyawan (ESOP). Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 7.096.000.000 saham.

7. Mulai tanggal 25 Agustus 2015 sampai dengan 31 Desember 2015, Perusahaan telah melakukan pembelian saham treasuri sejumlah 208.332.000 saham. Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 6.887.668.000 saham.

8. Selama tahun 2016, Perusahaan telah melakukan pembelian saham treasuri sejumlah 164.849.100 saham. Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 6.722.818.900 saham.

9. Pada tanggal 15 Februari 2019, Perusahaan telah melakukan penjualan saham treasuri sejumlah 20.000.000 saham. Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 6.742.818.900 saham.

10. Selama tahun 2020, Perusahaan telah melakukan pembelian saham treasuri sejumlah 7.334.500 saham. Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 6.735.484.400 saham.

11. Pada tanggal 22 Juli 2020, Perusahaan telah melakukan penjualan saham treasuri sejumlah 7.000.000 saham. Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 6.742.484.400 saham.

12. Selama tahun 2021, Perusahaan telah melakukan pembelian saham treasuri sejumlah 329.222.100 saham. Jumlah saham yang beredar menjadi sebesar 6.413.262.300 saham (catatan 15).

Seluruh saham Perusahaan telah dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.

c. Dewan Komisaris dan Direksi, Komite Audit dan Karyawan

Pada tanggal 30 September 2021, susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris Dewan Direksi

Paulus Tumewu - Komisaris Utama Agus Makmur - Direktur Utama

Jane Melinda Tumewu - Komisaris Gantang Nitipranatio - Direktur

Mohammad Iqbal - Komisaris Muhamad Yani - Direktur

(10)

c. Dewan Komisaris dan Direksi, Komite Audit dan Karyawan (lanjutan)

Pada tanggal 31 Desember 2020, susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris Dewan Direksi

Paulus Tumewu - Komisaris Utama Agus Makmur - Direktur Utama

Jane Melinda Tumewu - Komisaris Suryanto - Direktur

Mohammad Iqbal - Komisaris Gantang Nitipranatio - Direktur

Kismanto - Komisaris Muhamad Yani - Direktur

Koh Boon Kim - Komisaris Independen Halomoan Hutabarat - Direktur Independen Selamat - Komisaris Independen

Pada tanggal 30 September 2021, susunan komite audit Perusahaan adalah sebagai berikut:

Ketua: - Selamat

Anggota: - Ruddy Hermawan Wongso - Feronita CY

Pada tanggal 31 Desember 2020, susunan komite audit Perusahaan adalah sebagai berikut:

Ketua: - Selamat

Anggota: - Ruddy Hermawan Wongso - Andreas Lesmana

Pembentukan komite audit Perusahaan telah sesuai dengan Peraturan OJK No. IX.I.5.

Manajemen kunci Perusahaan terdiri dari Dewan Komisaris dan Direksi.

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING

a. Pernyataan Kepatuhan dan Dasar Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan keuangan telah disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (“SAK”), yang mencakup Pernyataan dan Interpretasi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia dan Peraturan-Peraturan serta Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan yang diterbitkan oleh OJK.

Laporan keuangan telah disusun sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (“PSAK”) 1,

“Penyajian Laporan Keuangan”.

Laporan keuangan telah disusun berdasarkan konsep akrual dan menggunakan konsep biaya historis kecuali diungkapkan lain dalam catatan terkait di sini.

Laporan arus kas menyajikan penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang diklasifikasikan ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan, dengan aktivitas operasi disajikan dengan menggunakan metode langsung.

Tahun buku Perusahaan adalah 1 Januari - 31 Desember.

Akun-akun yang tercakup dalam laporan keuangan Perusahaan diukur menggunakan mata uang dari lingkungan ekonomi utama dimana entitas beroperasi (mata uang fungsional). Laporan keuangan disajikan dalam Rupiah yang merupakan mata uang fungsional Perusahaan.

(11)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) b. Perubahan Kebijakan Akuntansi (lanjutan)

Perusahaan menerapkan PSAK 71: Instrumen Keuangan, PSAK 72: Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan dan PSAK 73: Sewa untuk pertama kalinya. Sifat dan pengaruh perubahan sebagai akibat dari standar akuntansi baru ini dijelaskan di bawah ini.

Beberapa amendemen dan interpretasi lainnya yang berlaku untuk pertama kalinya pada tahun 2020, namun tidak berdampak pada laporan keuangan Perusahaan. Perusahaan belum melakukan penerapan dini atas standar, interpretasi atau amendemen apa pun yang telah diterbitkan tetapi belum efektif pada tanggal 1 Januari 2020.

1) PSAK 71: Instrumen Keuangan

PSAK 71: Instrumen Keuangan menggantikan PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran untuk periode tahunan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2020, yang menggabungkan ketiga aspek akuntansi untuk instrumen keuangan: klasifikasi dan pengukuran, penurunan nilai dan akuntansi lindung nilai.

Perusahaan tidak menyajikan kembali informasi terkait untuk tahun 2019 untuk instrumen keuangan dalam ruang lingkup PSAK 71. Oleh karena itu, informasi terkait untuk 2019 dilaporkan berdasarkan PSAK 55 dan tidak dapat dibandingkan dengan informasi yang disajikan untuk tahun 2020.

Perbedaan, jika ada, yang timbul dari penerapan PSAK 71 telah diakui secara langsung dalam saldo laba per tanggal 1 Januari 2020.

Dampak penerapan atas PSAK 71 pada tanggal 1 Januari 2020 diungkapkan pada Catatan 4.

2) PSAK 72: Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan

PSAK 72 menggantikan PSAK 34: Kontrak Konstruksi, PSAK 23: Pendapatan dan Interpretasi terkait dan berlaku, dengan pengecualian terbatas, untuk semua pendapatan yang timbul dari kontrak dengan pelanggan. PSAK 72 menetapkan model lima langkah untuk memperhitungkan pendapatan yang timbul dari kontrak dengan pelanggan dan mensyaratkan bahwa pendapatan diakui pada jumlah yang mencerminkan imbalan yang diharapkan entitas berhak sebagai imbalan atas transfer barang atau jasa kepada pelanggan.

PSAK 72 mengharuskan entitas untuk melakukan pertimbangan, dengan mempertimbangkan semua fakta dan keadaan yang relevan ketika menerapkan setiap langkah model untuk membuat kontrak dengan pelanggan mereka. Standar ini juga menetapkan akuntansi untuk biaya tambahan untuk memperoleh kontrak dan biaya yang terkait langsung dengan pemenuhan kontrak. Selain itu, standar tersebut membutuhkan pengungkapan yang luas.

Perusahaan menerapkan PSAK 72 dengan menggunakan metode penerapan retrospektif yang dimodifikasi dengan tanggal penerapan awal 1 Januari 2020. Berdasarkan metode ini, standar dapat diterapkan untuk semua kontrak pada tanggal penerapan awal atau hanya untuk kontrak yang tidak selesai pada tanggal ini. Perusahaan memilih untuk menerapkan standar untuk semua kontrak pada 1 Januari 2020.

(12)

b. Perubahan Kebijakan Akuntansi (lanjutan) 3) PSAK 73: Sewa

PSAK 73 menggantikan PSAK 30: Sewa, ISAK 8: Penentuan apakah suatu Perjanjian mengandung suatu Sewa, ISAK 23: Sewa Operasi-Insentif dan ISAK 24: Evaluasi Substansi Beberapa Transaksi yang Melibatkan Suatu Bentuk Legal Sewa. Standar tersebut menetapkan prinsip-prinsip untuk pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan sewa dan mengharuskan penyewa untuk mengakui sebagian besar sewa di neraca.

Akuntansi lessor berdasarkan PSAK 73 secara substansial tidak berubah dari PSAK 30. Lessor akan terus mengklasifikasikan sewa sebagai sewa operasi atau keuangan dengan menggunakan prinsip yang sama seperti dalam PSAK 30. Oleh karena itu, PSAK 73 tidak berdampak pada sewa di mana Perusahaan adalah lessor.

Perusahaan menerapkan PSAK 73 dengan menggunakan metode penerapan retrospektif yang dimodifikasi dengan tanggal penerapan awal 1 Januari 2020. Berdasarkan metode ini, standar diterapkan secara retrospektif dengan efek kumulatif dari penerapan awal standar yang diakui pada tanggal penerapan awal. Perusahaan memilih untuk menggunakan kebijaksanaan praktis transisi untuk tidak menilai kembali apakah suatu kontrak adalah, atau berisi sewa pada tanggal 1 Januari 2020. Sebaliknya, Perusahaan menerapkan standar hanya untuk kontrak yang sebelumnya diidentifikasi sebagai sewa yang menerapkan PSAK 30 dan ISAK 8 pada tanggal aplikasi awal.

Perusahaan memiliki kontrak sewa untuk berbagai sewa gerai, gudang dan rumah dinas karyawan.

Sebelum penerapan PSAK 73, Perusahaan mengklasifikasikan setiap sewa (sebagai lessee) pada tanggal awal sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi. Lihat Catatan 2i Sewa untuk kebijakan akuntansi sebelum 1 Januari 2020.

Dengan menerapkan PSAK 73, Perusahaan menerapkan pendekatan pengakuan dan pengukuran tunggal untuk semua sewa kecuali untuk sewa jangka pendek dan sewa dari aset bernilai rendah.

Lihat Catatan 2i Sewa untuk kebijakan akuntansi yang dimulai 1 Januari 2020. Standar ini mengatur persyaratan transisi khusus dan cara praktis yang telah diterapkan oleh Perusahaan.

• Sewa yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan

Perusahaan tidak mengubah jumlah tercatat awal aset dan liabilitas yang diakui pada tanggal penerapan awal untuk sewa yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan (yaitu, aset hak guna dan liabilitas sewa sama dengan aset dan liabilitas sewa yang diakui berdasarkan PSAK 30). Persyaratan PSAK 71 diterapkan untuk sewa ini mulai 1 Januari 2020.

• Sewa yang sebelumnya dicatat sebagai sewa operasi

Perusahaan mengakui aset hak guna dan liabilitas sewa untuk sewa yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai sewa operasi, kecuali untuk sewa jangka pendek dan sewa dari aset bernilai rendah. Aset hak guna untuk sebagian besar sewa diakui berdasarkan nilai tercatat seolah-olah standar tersebut selalu diterapkan, selain dari penggunaan suku bunga pinjaman tambahan pada tanggal penerapan awal. Dalam beberapa sewa, aset hak guna diakui berdasarkan jumlah yang sama dengan kewajiban sewa, disesuaikan dengan pembayaran sewa dibayar di muka dan yang masih harus dibayar yang diakui sebelumnya. Liabilitas sewa diakui berdasarkan nilai kini dari sisa pembayaran sewa, didiskontokan dengan menggunakan suku bunga pinjaman tambahan pada tanggal penerapan awal.

(13)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) b. Perubahan Kebijakan Akuntansi (lanjutan)

3) PSAK 73: Sewa (lanjutan)

Perusahaan juga menerapkan cara praktis yang tersedia di mana:

• Menggunakan tingkat diskonto tunggal untuk portofolio sewa dengan karakteristik yang cukup mirip

• Bergantung pada penilaiannya apakah sewa menjadi memberatkan segera sebelum tanggal penerapan awal

• Menerapkan pembebasan sewa jangka pendek untuk sewa dengan jangka waktu sewa yang berakhir dalam 12 bulan sejak tanggal penerapan awal

• Tidak termasuk biaya langsung awal dari pengukuran aset hak guna pada tanggal penerapan awal

• Menggunakan peninjauan kembali dalam menentukan jangka waktu sewa di mana kontrak berisi opsi untuk memperpanjang atau mengakhiri sewa

Dampak penerapan atas PSAK 73 pada tanggal 1 Januari 2020 diungkapkan pada Catatan 4.

c. Kas dan Setara Kas

Kas dan setara kas meliputi kas dan bank dan deposito berjangka dengan jangka waktu tiga (3) bulan atau kurang sejak tanggal penempatan, tidak dijadikan jaminan pinjaman dan tidak dibatasi penggunaannya.

Untuk keperluan laporan arus kas, kas dan setara kas terdiri dari kas dan bank dan deposito berjangka sebagaimana yang didefinisikan di atas, setelah dikurangi dengan cerukan yang belum dilunasi, jika ada.

d. Transaksi dengan Pihak-pihak Berelasi

Perusahaan mempunyai transaksi dengan pihak berelasi sebagaimana didefinisikan pada PSAK 7.

Transaksi dengan pihak berelasi dilakukan berdasarkan persyaratan yang disetujui oleh kedua belah pihak, yang mungkin tidak sama dengan transaksi lain yang dilakukan dengan pihak-pihak yang tidak berelasi.

Seluruh transaksi dan saldo yang material dengan pihak-pihak berelasi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan yang relevan.

e. Persediaan

Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai realisasi neto (the lower of cost or net realizable value). Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata- rata bergerak (moving-average method) yang meliputi seluruh biaya-biaya yang terjadi untuk memperoleh persediaan tersebut sampai ke lokasi dan kondisi saat ini. Nilai realisasi neto adalah taksiran harga jual yang wajar setelah dikurangi dengan estimasi beban untuk menyelesaikan dan beban lainnya yang diperlukan hingga persediaan dapat dijual.

(14)

f. Aset Tetap

Seluruh aset tetap awalnya diakui sebesar biaya perolehan, yang terdiri atas harga perolehan dan biaya- biaya tambahan yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan supaya aset tersebut siap digunakan sesuai dengan maksud manajemen.

Setelah pengakuan awal, aset tetap dinyatakan pada biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.

Penyusutan aset dimulai pada saat aset tersebut siap untuk digunakan sesuai maksud penggunaannya dan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan estimasi umur manfaat ekonomis sebagai berikut:

Tahun

Bangunan 10 - 20

Renovasi dan prasarana bangunan 4 - 8

Perlengkapan gerai 4 - 8

Alat-alat pengangkutan 4 - 8

Perlengkapan kantor 4 - 8

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat dari aset) dimasukkan dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain pada tahun aset tersebut dihentikan pengakuannya.

Pada setiap akhir tahun, nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan direviu, dan jika diperlukan disesuaikan secara prospektif.

Tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak disusutkan.

Biaya pengurusan legal hak atas tanah dalam bentuk Hak Guna Usaha (“HGU”), Hak Guna Bangunan (“HGB”) dan Hak Pakai (“HP”) ketika tanah diperoleh pertama kali diakui sebagai bagian dari biaya perolehan tanah pada akun “Aset Tetap” dan tidak diamortisasi. Sementara biaya pengurusan atas perpanjangan atau pembaruan legal hak atas tanah dalam bentuk HGU, HGB dan HP diakui sebagai bagian dari akun “Beban Ditangguhkan” pada laporan posisi keuangan dan diamortisasi sepanjang mana yang lebih pendek antara umur hukum hak dan umur ekonomis tanah.

Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laba rugi pada saat terjadinya. Beban pemugaran dan penambahan dalam jumlah besar dikapitalisasi kepada jumlah tercatat aset tetap terkait bila besar kemungkinan bagi Perusahaan manfaat ekonomi masa depan menjadi lebih besar dari standar kinerja awal yang ditetapkan sebelumnya dan disusutkan sepanjang sisa masa manfaat aset tetap terkait.

(15)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) f. Aset Tetap (lanjutan)

Aset dalam Penyelesaian

Aset tetap dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan dan disajikan sebagai bagian dari aset tetap. Akumulasi biaya perolehan akan direklasifikasi ke akun aset tetap yang bersangkutan pada saat aset yang bersangkutan telah selesai dikerjakan dan siap untuk digunakan. Aset tetap dalam penyelesaian tidak disusutkan karena belum tersedia untuk digunakan.

g. Aset Takberwujud

Aset takberwujud yang diperoleh secara terpisah diukur pada pengakuan awal sebesar biaya perolehan.

Setelah pengakuan awal, aset takberwujud dinyatakan pada biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai, jika ada.

Aset takberwujud adalah berupa pengembangan aplikasi, pengembangan sistem dan perangkat lunak, termasuk seluruh biaya langsung terkait persiapan untuk tujuan penggunaan, diamortisasi dengan metode garis lurus selama empat (4) tahun.

Pada setiap akhir periode pelaporan, umur manfaat dan metode amortisasi direviu oleh manajemen Perusahaan, dan jika sesuai dengan keadaan, disesuaikan secara prospektif.

h. Penurunan Nilai Aset Non-keuangan

Perusahaan mengevaluasi pada setiap tanggal pelaporan apakah terdapat indikasi bahwa suatu aset mungkin mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi, Perusahaan mengestimasi nilai terpulihkan dari aset tersebut. Jika nilai tercatat aset melebihi nilai terpulihkannya, maka aset tersebut mengalami penurunan nilai dan nilai tercatat aset diturunkan menjadi sebesar nilai terpulihkannya.

Penilaian dilakukan pada akhir setiap periode pelaporan untuk melihat apakah terdapat indikasi bahwa rugi penurunan nilai yang telah diakui dalam periode sebelumnya mungkin tidak ada lagi atau mungkin telah menurun. Kerugian penurunan nilai yang telah diakui dalam periode sebelumnya dibalik hanya jika terdapat perubahan asumsi-asumsi yang digunakan untuk menentukan nilai terpulihkan aset tersebut sejak rugi penurunan nilai terakhir diakui. Jika rugi penurunan nilai kemudian dibalik, nilai tercatat aset bertambah menjadi sebesar nilai terpulihkannya. Jumlah pertambahannya tidak dapat melebihi nilai tercatat setelah dikurangi penyusutan, seandainya tidak ada rugi penurunan nilai yang telah diakui untuk aset tersebut pada tahun sebelumnya. Pembalikan tersebut diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

i. Sewa

Efektif mulai 1 Januari 2020

Perusahaan menilai pada awal kontrak apakah suatu kontrak adalah, atau berisi, sewa. Artinya, jika kontrak memberikan hak untuk mengendalikan penggunaan aset teridentifikasi untuk suatu periode waktu sebagai imbalan untuk imbalan.

(16)

i. Sewa (lanjutan)

Efektif mulai 1 Januari 2020 (lanjutan) Perusahaan sebagai lessee

Perusahaan menerapkan satu pendekatan pengakuan dan pengukuran bagi seluruh sewa, kecuali untuk sewa jangka pendek dan sewa aset bernilai rendah. Perusahaan mengakui liabilitas sewa untuk melakukan pembayaran sewa dan aset hak guna yang merupakan hak untuk menggunakan aset pendasar.

i) Aset hak guna

Perusahaan mengakui aset hak guna pada tanggal dimulainya sewa (yaitu tanggal aset tersedia untuk digunakan). Aset hak guna diukur pada harga perolehan, dikurangi akumulasi penyusutan dan penurunan nilai, dan disesuaikan untuk setiap pengukuran kembali liabilitas sewa. Biaya perolehan aset hak guna mencakup jumlah liabilitas sewa yang diakui, biaya langsung yang timbul diawal, dan pembayaran sewa yang dilakukan pada atau sebelum tanggal mulai dikurangi setiap insentif sewa yang diterima. Aset hak guna disusutkan dengan metode garis lurus selama periode yang lebih pendek antara masa sewa dan estimasi masa manfaat aset.

Jika kepemilikan aset sewaan beralih ke Perusahaan pada akhir masa sewa atau biaya perolehan mencerminkan pelaksanaan opsi beli, penyusutan dihitung dengan menggunakan estimasi masa manfaat aset.

Pada tanggal 30 September 2021 dan 31 Desember 2020, terdapat penurunan nilai pada aset hak guna sebesar Rp12.390 (Catatan10b).

ii) Liabilitas sewa

Pada tanggal dimulainya sewa, Perusahaan mengakui liabilitas sewa yang diukur pada nilai kini pembayaran sewa yang harus dilakukan selama masa sewa. Pembayaran sewa mencakup pembayaran tetap (termasuk pembayaran tetap secara substansi) dikurangi piutang insentif sewa, pembayaran sewa variabel yang bergantung pada indeks atau tarif, dan jumlah yang diharapkan akan dibayar dibawah jaminan nilai residu. Pembayaran sewa juga mencakup harga pelaksanaan dari opsi beli yang cukup pasti akan dilaksanakan oleh Perusahaan dan pembayaran denda untuk penghentian sewa, jika masa sewa merefleksikan Perusahaan melaksanakan opsi untuk menghentikan sewa. Pembayaran sewa variabel yang tidak bergantung pada indeks atau tarif diakui sebagai beban (kecuali terjadi untuk menghasilkan persediaan) pada periode di mana peristiwa atau kondisi yang memicu terjadinya pembayaran.

Dalam menghitung nilai kini pembayaran sewa, Perusahaan menggunakan suku bunga pinjaman tambahan pada tanggal dimulainya sewa karena tingkat bunga implisit dalam sewa tidak dapat segera ditentukan. Setelah tanggal permulaan, jumlah liabilitas sewa ditingkatkan untuk merefleksikan penambahan bunga dan mengurangi pembayaran sewa yang dilakukan. Selain itu, nilai tercatat liabilitas sewa diukur kembali jika ada modifikasi, perubahan masa sewa, perubahan pembayaran sewa (misalnya, perubahan pembayaran masa depan akibat perubahan indeks atau kurs yang digunakan untuk pembayaran sewa) atau perubahan penilaian opsi untuk membeli aset pendasar.

Liabilitas sewa Perusahaan termasuk dalam utang dan pinjaman berbunga.

(17)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) i. Sewa (lanjutan)

Efektif mulai 1 Januari 2020 (lanjutan) Perusahaan sebagai lessee (lanjutan)

iii) Sewa jangka pendek dan aset bernilai rendah

Perusahaan menerapkan pengecualian pengakuan sewa jangka pendek untuk sewa gerai, gudang dan rumah dinas karyawan (yaitu, sewa yang memiliki jangka waktu sewa 12 bulan atau kurang, dari tanggal permulaan dan tidak mengandung opsi beli). Hal ini juga berlaku untuk pengecualian pengakuan sewa aset bernilai rendah untuk sewa peralatan kantor yang dianggap bernilai rendah.

Pembayaran sewa untuk sewa jangka pendek dan sewa dari aset bernilai rendah diakui sebagai beban dengan metode garis lurus selama masa sewa.

Perusahaan sebagai lessor

Sewa di mana Perusahaan tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan suatu aset diklasifikasikan sebagai sewa operasi. Pendapatan sewa yang timbul dicatat dengan metode garis lurus selama masa sewa dan dimasukkan dalam pendapatan dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain karena sifat operasinya. Biaya perolehan langsung awal yang timbul dalam negosiasi dan pengaturan sewa operasi ditambahkan ke nilai tercatat aset sewaan dan diakui selama masa sewa atas dasar yang sama dengan pendapatan sewa. Sewa kontinjensi diakui sebagai pendapatan pada periode perolehannya. Pendapatan sewa diakui sebagai bagian dari akun

“Pendapatan Lainnya” dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

Efektif sebelum 1 Januari 2020

Perusahaan menerapkan PSAK 30, “Sewa”, apabila sewa mengandung elemen tanah dan bangunan sekaligus, entitas harus menelaah klasifikasi untuk setiap elemen secara terpisah apakah sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi.

Perusahaan mengklasifikasikan sewa berdasarkan sejauh mana risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset sewa pembiayaan berada pada lessor atau lessee, dan pada substansi transaksi daripada bentuk kontraknya.

Sewa Pembiayaan - sebagai Lessee

Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substansi seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset sewaan. Sewa tersebut dikapitalisasi sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Pembayaran sewa minimum harus dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan liabilitas, sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu tingkat suku bunga periodik yang konstan atas saldo liabilitas. Beban keuangan dibebankan langsung ke operasi tahun berjalan.

Jika terdapat kepastian yang memadai bahwa lessee akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa, aset sewaan disusutkan selama estimasi masa manfaat aset tersebut. Jika tidak terdapat kepastian tersebut, maka aset sewaan disusutkan selama periode yang lebih pendek antara umur manfaat aset sewaan atau masa sewa. Laba atau rugi yang timbul dari transaksi jual dan sewa-balik

kembali ditangguhkan dan diamortisasi selama sisa masa sewa.

(18)

i. Sewa (lanjutan)

Efektif sebelum 1 Januari 2020 (lanjutan) Sewa Operasi – sebagai Lessee

Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan secara substansi seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Dengan demikian, pembayaran sewa diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa sewa.Bagian sewa yang akan dibebankan pada usaha dalam satu (1) tahun disajikan dalam akun “Bagian Lancar Sewa Jangka Panjang Dibayar di muka - Neto” pada laporan posisi keuangan.

Sedangkan, bagian jangka panjang dari sewa dibayar di muka disajikan dalam akun “Sewa Jangka Panjang Dibayar di muka - Setelah Dikurangi Bagian Lancar dan Penurunan Nilai - Neto” dalam laporan posisi keuangan.

Sewa Operasi – sebagai Lessor

Sewa di mana Perusahaan tidak mengalihkan secara substansi seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset diklasifikasikan sebagai sewa operasi. Pendapatan sewa diakui sebagai pengurang beban sewa dan disajikan dalam akun “Beban Penjualan” dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

j. Instrumen Keuangan

Instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang memberikan aset keuangan bagi satu entitas dan liabilitas keuangan atau ekuitas bagi entitas lain.

Berlaku mulai 1 Januari 2020 Aset Keuangan

Pengakuan dan Pengukuran Awal

Aset keuangan diklasifikasikan, pada pengakuan awal, yang selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi, nilai wajar melalui pendapatan komprehensif lain (“OCI”), dan nilai wajar melalui laporan laba rugi.

Klasifikasi aset keuangan pada pengakuan awal tergantung pada karakteristik arus kas kontraktual aset keuangan dan model bisnis Perusahaan untuk mengelolanya. Dengan pengecualian piutang usaha yang tidak mengandung komponen pembiayaan yang signifikan atau yang mana Perusahaan telah menerapkan kebijaksanaan praktisnya, Perusahaan pada awalnya mengukur aset keuangan pada nilai wajarnya ditambah, dalam hal aset keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui untung atau rugi, biaya transaksi. Piutang usaha yang tidak mengandung komponen pembiayaan yang signifikan atau yang mana Perusahaan telah menerapkan kebijaksanaan praktis yang diukur pada harga transaksi yang ditentukan berdasarkan PSAK 72.

Agar aset keuangan diklasifikasikan dan diukur pada biaya perolehan diamortisasi atau nilai wajar melalui OCI, aset keuangan harus menghasilkan arus kas yang 'semata-mata pembayaran pokok dan bunga (“SPPI”)' dari jumlah pokok terutang. Penilaian ini disebut sebagai tes SPPI dan dilakukan pada tingkat instrumen.

(19)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) j. Instrumen Keuangan (lanjutan)

Berlaku mulai 1 Januari 2020 (lanjutan) Aset Keuangan (lanjutan)

Pengakuan dan Pengukuran Awal (lanjutan)

Model bisnis Perusahaan untuk mengelola aset keuangan mengacu pada bagaimana Perusahaan mengelola aset keuangannya untuk menghasilkan arus kas. Model bisnis menentukan apakah arus kas akan dihasilkan dari pengumpulan arus kas kontraktual, penjualan aset keuangan, atau keduanya.

Pembelian atau penjualan aset keuangan yang memerlukan penyerahan aset dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh regulasi atau konvensi di pasar (perdagangan reguler) diakui pada tanggal perdagangan, yaitu tanggal Perusahaan berkomitmen untuk membeli atau menjual aset.

Pengukuran Selanjutnya

Untuk tujuan pengukuran selanjutnya, aset keuangan diklasifikasikan dalam empat kategori:

• Aset keuangan pada biaya perolehan diamortisasi (instrumen utang)

• Aset keuangan pada nilai wajar melalui OCI dengan daur ulang keuntungan dan kerugian kumulatif (instrumen utang)

• Aset keuangan yang ditetapkan pada nilai wajar melalui OCI tanpa daur ulang keuntungan dan kerugian kumulatif setelah penghentian pengakuan (instrumen ekuitas)

• Aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi

Aset keuangan pada biaya perolehan diamortisasi (instrumen utang)

Kategori ini adalah yang paling relevan dengan Perusahaan. Perusahaan mengukur aset keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi jika kedua kondisi berikut terpenuhi:

• Aset keuangan dimiliki dalam model bisnis dengan tujuan untuk memiliki aset keuangan untuk mengumpulkan arus kas kontraktual; dan

• Persyaratan kontraktual dari aset keuangan menimbulkan arus kas pada tanggal tertentu yang hanya merupakan pembayaran pokok dan bunga dari jumlah pokok terutang.

Aset keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi selanjutnya diukur dengan menggunakan metode suku bunga efektif (“SBE”) dan mengalami penurunan nilai. Keuntungan dan kerugian diakui dalam laporan laba rugi pada saat aset dihentikan pengakuannya, dimodifikasi atau rusak.

Aset keuangan Perusahaan pada biaya perolehan diamortisasi termasuk kas dan setara kas, deposito berjangka, piutang usaha, piutang lain-lain - neto, uang jaminan - neto dan aset tidak lancar lainnya.

Aset keuangan pada nilai wajar melalui OCI (instrumen utang)

Perusahaan mengukur instrumen utang pada nilai wajar melalui OCI jika kedua kondisi berikut terpenuhi:

• Aset keuangan dimiliki dalam model bisnis dengan tujuan untuk mengumpulkan arus kas kontraktual

(20)

j. Instrumen Keuangan (lanjutan) Berlaku mulai 1 Januari 2020 (lanjutan) Aset Keuangan (lanjutan)

Pengukuran Selanjutnya (lanjutan)

Aset keuangan pada nilai wajar melalui OCI (instrumen utang) (lanjutan)

Untuk instrumen utang yang diukur pada nilai wajar melalui OCI, pendapatan bunga, revaluasi valuta asing, dan kerugian atau pembalikan penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi dan dihitung dengan cara yang sama seperti untuk aset keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi.

Perubahan nilai wajar yang tersisa diakui di OCI. Setelah penghentian pengakuan, perubahan nilai wajar kumulatif yang diakui di OCI didaur ulang menjadi laba rugi.

Aset keuangan Perusahaan pada nilai wajar melalui OCI termasuk investasi jangka pendek.

Aset keuangan yang ditetapkan pada nilai wajar melalui OCI (instrumen ekuitas)

Setelah pengakuan awal, Perusahaan dapat memilih untuk mengklasifikasikan investasi ekuitasnya yang tidak dapat ditarik kembali sebagai instrument ekuitas yang ditetapkan pada nilai wajar melalui OCI jika definisi ekuitas berdasarkan PSAK 50: Instrumen Keuangan: Penyajian dan tidak dimiliki untuk diperdagangkan memenuhi definisi tersebut. Klasifikasi ditentukan berdasarkan instrumen per instrumen.

Keuntungan dan kerugian dari aset keuangan ini tidak pernah didaur ulang menjadi keuntungan atau kerugian. Dividen diakui sebagai pendapatan lain-lain dalam laporan laba rugi pada saat hak pembayaran telah ditetapkan, kecuali jika Perusahaan mendapatkan keuntungan dari hasil tersebut sebagai pemulihan sebagian biaya perolehan aset keuangan, dalam hal ini, keuntungan tersebut adalah tercatat di OCI. Instrumen ekuitas yang ditetapkan pada nilai wajar melalui OCI tidak tunduk pada penilaian penurunan nilai.

Perusahaan memilih untuk mengklasifikasikan investasi ekuitas yang tidak terdaftar dalam kategori ini yang tidak dapat ditarik kembali.

Aset keuangan Perusahaan pada nilai wajar melalui OCI termasuk investasi jangka pendek.

Aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi

Aset keuangan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi termasuk aset keuangan yang dimiliki untuk diperdagangkan, aset keuangan yang ditetapkan pada pengakuan awal pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, atau aset keuangan yang wajib diukur pada nilai wajar. Aset keuangan diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan jika mereka diperoleh untuk tujuan dijual atau dibeli kembali dalam waktu dekat. Derivatif, termasuk derivatif melekat yang dipisahkan, juga diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk diperdagangkan kecuali jika ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif. Aset keuangan dengan arus kas yang tidak semata-mata pembayaran pokok dan bunga diklasifikasikan dan diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, terlepas dari model bisnisnya. Terlepas dari criteria untuk instrumen utang yang akan diklasifikasikan pada biaya perolehan diamortisasi atau pada nilai waja rmelalui OCI, seperti dijelaskan di atas, instrumen utang dapat ditetapkan pada nilai wajar melalui laba rugi pada pengakuan awal jika hal tersebut menghilangkan, atau secara signifikan mengurangi, ketidaksesuaian akuntansi.

(21)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) j. Instrumen Keuangan (lanjutan)

Berlaku mulai 1 Januari 2020 (lanjutan) Aset Keuangan (lanjutan)

Pengukuran Selanjutnya (lanjutan)

Aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi (lanjutan)

Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi dicatat dalam laporan posisi keuangan pada nilai wajar dengan perubahan nilai wajar neto diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

Kategori ini mencakup instrumen derivatif dan investasi ekuitas yang terdaftar di mana Perusahaan tidak dipilih secara tidak dapat ditarik kembali untuk diklasifikasikan pada nilai wajar melalui OCI. Dividen atas investasi ekuitas tercatat juga diakui sebagai pendapatan lain-lain dalam laporan laba rugi pada saat hak pembayaran telah ditetapkan.

Derivatif yang melekat dalam kontrak hybrid, dengan liabilitas keuangan atau host non-keuangan, dipisahkan dari host dan dicatat sebagai derivatif terpisah jika: karakteristik dan risiko ekonomi tidak terkait erat dengan host; instrumen terpisah dengan persyaratan yang sama seperti derivatif melekat akan memenuhi definisi derivatif; dan kontrak hybrid tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Derivatif melekat diukur pada nilai wajar dengan perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba rugi. Penilaian ulang hanya terjadi jika terdapat perubahan dalam persyaratan kontrak yang secara signifikan mengubah arus kas yang seharusnya diperlukan atau reklasifikasi aset keuangan dari nilai wajar melalui kategori laba rugi.

Derivatif yang melekat dalam kontrak hybrid yang mengandung aset keuangan utama tidak dicatat secara terpisah. Aset keuangan utama bersama dengan derivative melekat harus diklasifikasikan secara keseluruhan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.

Penghentian Pengakuan

Aset keuangan (atau, jika berlaku, bagian dari aset keuangan atau bagian dari kelompok aset keuangan serupa) terutama dihentikan pengakuannya (yaitu, dihapus dari laporan posisi keuangan Perusahaan) ketika:

• Hak untuk menerima arus kas dari aset telah kedaluwarsa; atau

• Perusahaan telah mengalihkan haknya untuk menerima arus kas dari aset atau telah mengasumsikan kewajiban untuk membayar arus kas yang diterima secara penuh tanpa penundaan material kepada pihak ketiga berdasarkan pengaturan 'pass-through'; dan salah satu (a) Perusahaan telah mengalihkan secara substansial semua risiko dan manfaat aset, atau (b) Perusahaan tidak mengalihkan atau memiliki secara substansial seluruh risiko dan manfaat aset, tetapi telah mengalihkan pengendalian aset.

Ketika Perusahaan telah mengalihkan haknya untuk menerima arus kas dari aset atau telah menandatangani perjanjian pass-through, Perusahaan mengevaluasi apakah, dan sejauh mana, telah mempertahankan risiko dan manfaat kepemilikan. Ketika Perusahaan tidak mengalihkan atau

(22)

j. Instrumen Keuangan (lanjutan) Berlaku mulai 1 Januari 2020 (lanjutan) Aset Keuangan (lanjutan)

Penghentian Pengakuan (lanjutan)

Keterlibatan berkelanjutan dalam bentuk jaminan atas aset yang ditransfer diukur pada nilai yang lebih rendah dari nilai tercatat asli aset dan jumlah maksimum imbalan yang mungkin diminta untuk dibayar kembali oleh Perusahaan.

Penurunan Nilai Aset Keuangan

Perusahaan mengakui penyisihan kerugian kredit ekspektasian (“ECL”) untuk semua instrumen utang yang tidak dimiliki pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. ECL didasarkan pada perbedaan antara arus kas kontraktual yang jatuh tempo sesuai dengan kontrak dan semua arus kas yang diharapkan akan diterima Perusahaan, didiskontokan dengan perkiraan suku bunga efektif awal. Arus kas yang diharapkan akan mencakup arus kas dari penjualan agunan yang dimiliki atau peningkatan kredit lainnya yang merupakan bagian integral dari persyaratan kontraktual.

ECL dikenali dalam dua tahap. Untuk eksposur kredit yang belum ada peningkatan risiko kredit yang signifikan sejak pengakuan awal, ECL disediakan untuk kerugian kredit yang diakibatkan oleh peristiwa gagal bayar yang mungkin terjadi dalam 12 bulan kedepan (ECL 12 bulan). Untuk eksposur kredit yang telah terjadi peningkatan risiko kredit yang signifikan sejak pengakuan awal, penyisihan kerugian diperlukan untuk kerugian kredit yang diperkirakan selama sisa umur eksposur, terlepas dari waktu default (ECL seumur hidup).

Untuk piutang dagang, Perusahaan menerapkan pendekatan yang disederhanakan dalam menghitung ECL. Oleh karena itu, Perusahaan tidak melacak perubahan dalam risiko kredit, tetapi mengakui penyisihan kerugian berdasarkan ECL seumur hidup pada setiap tanggal pelaporan.

Untuk instrumen utang dengan nilai wajar melalui OCI, Perusahaan menerapkan penyederhanaan risiko kredit rendah. Pada setiap tanggal pelaporan, Perusahaan mengevaluasi apakah instrumen utang tersebut dianggap memiliki risiko kredit rendah dengan menggunakan semua informasi yang wajar dan dapat didukung yang tersedia tanpa biaya atau upaya yang tidak semestinya. Dalam melakukan evaluasi tersebut, Perusahaan menilai kembali peringkat kredit internal dari instrumen utang tersebut. Selain itu, Perusahaan mempertimbangkan bahwa telah terjadi peningkatan risiko kredit yang signifikan jika pembayaran kontraktual telah jatuh tempo lebih dari 30 hari.

Instrumen utang Perusahaan pada nilai wajar melalui OCI hanya terdiri dari obligasi yang memiliki kuotasi harga yang dinilai dalam kategori investasi teratas (Sangat Baik dan Baik) oleh Good Credit Rating Agency dan, oleh karena itu, dianggap sebagai investasi berisiko kredit rendah. Merupakan kebijakan Perusahaan untuk mengukur ECL pada instrumen tersebut basis 12 bulan. Namun, jika terjadi peningkatan risiko kredit yang signifikan sejak origination, penyisihan akan didasarkan pada ECL seumur hidup. Perusahaan menggunakan peringkat dari Good Credit Rating Agency untuk menentukan apakah instrumen utang telah meningkat secara signifikan dalam risiko kredit dan untuk memperkirakan ECL.

(23)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) j. Instrumen Keuangan (lanjutan)

Berlaku mulai 1 Januari 2020 (lanjutan) Aset Keuangan (lanjutan)

Penurunan Nilai Aset Keuangan (lanjutan)

Perusahaan menganggap aset keuangan gagal bayar ketika pembayaran kontraktual telah lewat 90 hari.

Namun, dalam kasus tertentu, Perusahaan juga dapat mempertimbangkan aset keuangan mengalami gagal bayar ketika informasi internal atau eksternal menunjukkan bahwa Perusahaan tidak mungkin menerima jumlah kontraktual yang terutang secara penuh sebelum memperhitungkan setiap peningkatan kredit yang dimiliki oleh Perusahaan. Aset keuangan dihapuskan jika tidak ada ekspektasi yang wajar untuk memulihkan arus kas kontraktual.

Liabilitas Keuangan

Pengakuan dan Pengukuran Awal

Liabilitas keuangan diklasifikasikan, pada pengakuan awal, sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, pinjaman dan utang, utang, atau derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai dalam lindung nilai yang efektif, jika sesuai.

Semua liabilitas keuangan pada awalnya diakui pada nilai wajar dan, untuk pinjaman dan pinjaman dan utang, setelah dikurangi biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Liabilitas keuangan Perusahaan meliputi utang usaha, utang lain-lain, beban akrual dan liabilitas sewa.

Pengukuran Selanjutnya

Pengukuran liabilitas keuangan bergantung pada klasifikasinya, seperti yang dijelaskan di bawah ini:

Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi

Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi termasuk liabilitas keuangan yang dimiliki untuk diperdagangkan dan liabilitas keuangan yang ditetapkan pada pengakuan awal sebagai nilai wajar melalui laporan laba rugi.

Liabilitas keuangan diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan jika mereka terjadi untuk tujuan pembelian kembali dalam waktu dekat. Kategori ini juga mencakup instrumen keuangan derivatif yang dimasukkan oleh Perusahaan yang tidak ditujukan sebagai instrumen lindung nilai dalam hubungan lindung nilai sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 71. Derivatif melekat yang dipisahkan juga diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan kecuali ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif.

Keuntungan atau kerugian atas liabilitas yang dimiliki untuk diperdagangkan diakui dalam laporan laba rugi.

(24)

j. Instrumen Keuangan (lanjutan)

Berlaku mulai 1 Januari 2020 (lanjutan) Liabilitas Keuangan (lanjutan) Pengukuran Selanjutnya (lanjutan)

Pengukuran liabilitas keuangan bergantung pada klasifikasinya, seperti yang dijelaskan di bawah ini:

(lanjutan)

Utang dan pinjaman

Ini adalah kategori yang paling relevan dengan Perusahaan. Setelah pengakuan awal, utang dan pinjaman yang dikenakan bunga selanjutnya diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode SBE. Keuntungan dan kerugian diakui dalam laba rugi pada saat kewajiban dihentikan pengakuannya serta melalui proses amortisasi SBE.

Biaya perolehan diamortisasi dihitung dengan mempertimbangkan diskonto atau premi atas akuisisi dan biaya atau biaya yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari SBE. Amortisasi SBE dicatat sebagai beban keuangan dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

Penghentian Pengakuan

Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya ketika liabilitas tersebut dilepaskan atau dibatalkan atau kedaluwarsa. Ketika liabilitas keuangan yang ada digantikan oleh yang lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan persyaratan yang secara substansial berbeda, atau persyaratan dari kewajiban yang ada secara substansial dimodifikasi, pertukaran atau modifikasi tersebut diperlakukan sebagai penghentian pengakuan kewajiban awal dan pengakuan kewajiban baru. Selisih nilai tercatat masing-masing diakui pada laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

Saling Hapus Instrumen Keuangan

Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan jumlah neto dilaporkan dalam laporan posisi keuangan jika terdapat hak hukum yang dapat diberlakukan saat ini untuk mengimbangi jumlah yang diakui dan ada niat untuk menyelesaikan secara neto, untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan kewajiban secara bersamaan.

Aset Keuangan

Pengakuan dan Pengukuran Awal

Aset keuangan diklasifikasikan, pada saat pengakuan awal, sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (“FVTPL”), pinjaman yang diberikan dan piutang, investasi dimiliki hingga jatuh tempo, aset keuangan tersedia untuk dijual, atau sebagai instrumen lindung nilai dalam lindung nilai efektif, bila memenuhi syarat. Semua aset keuangan awalnya diakui pada nilai wajar namun dalam hal aset keuangan yang tidak diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, maka nilai wajar tersebut ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan aset keuangan tersebut. Pembelian atau penjualan aset keuangan yang memerlukan pengiriman aset dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh peraturan atau konvensi di pasar (perdagangan cara biasa) diakui pada tanggal perdagangan, yaitu tanggal saat Perusahaan berkomitmen untuk membeli atau menjual aset.

(25)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING (lanjutan) j. Instrumen Keuangan (lanjutan)

Berlaku sebelum 1 Januari 2020 (lanjutan) Aset Keuangan (lanjutan)

Pengakuan dan Pengukuran Awal (lanjutan)

Aset keuangan Perusahaan meliputi kas dan setara kas, deposito berjangka, piutang usaha, piutang lain- lain - neto, uang jaminan - neto dan aset tidak lancar lainnya, yang diklasifikasikan sebagai pinjaman dan piutang, dan investasi jangka pendek, yang diklasifikasikan sebagai aset keuangan tersedia untuk dijual.

Aset keuangan pada awalnya diakui pada nilai wajar.

Pengukuran Selanjutnya Pinjaman dan piutang

Pinjaman dan piutang adalah aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan yang tidak tercatat di pasar aktif. Setelah pengukuran awal, aset keuangan tersebut selanjutnya diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif, dikurangi penurunan nilai, jika ada. Kerugian yang timbul dari penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain.

Aset keuangan tersedia untuk dijual (Available-for-sale (“AFS”))

Aset keuangan AFS adalah aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan sebagai aset keuangan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, pinjaman dan piutang atau investasi dimiliki hingga jatuh tempo. Setelah pengukuran awal, aset keuangan AFS diukur dengan nilai wajar dengan keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi diakui dalam ekuitas pada laporan posisi keuangan sampai investasi tersebut dihentikan pengakuannya. Pada saat itu, keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi ke laba atau rugi sebagai penyesuaian reklasifikasi.

Penurunan Nilai dari Aset Keuangan

Perusahaan menilai pada setiap tanggal pelaporan apakah terdapat bukti yang objektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Aset keuangan atau kelompok aset keuangan dianggap telah terjadi penurunan jika, dan hanya jika, terdapat bukti yang objektif mengenai penurunan nilai sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset (“peristiwa yang merugikan”) dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi secara andal.

Piutang usaha disajikan sebesar nilai faktur asli dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai, jika ada.

Estimasi cadangan kerugian penurunan nilai dibuat bila ada bukti yang objektif (seperti kemungkinan kebangkrutan atau kesulitan keuangan yang signifikan dari debitur) bahwa Perusahaan tidak akan mampu menagih piutang berdasarkan persyaratan awal tagihan dan ditetapkan melalui provisi yang dibebankan ke pendapatan. Sisa saldo piutang usaha tersebut dihentikan pengakuannya dan dihapuskan melalui cadangan kerugian penurunan nilai ketika dinilai tidak dapat tertagih.

Referensi

Dokumen terkait

Abdurrahman Wahid offered the concept of ‚My Islam, Your Islam and Our Islam‛. This concept is fundamental to create peace and tollerantthrough acknowladging diversity,

Menyediakan fasilitas pencairan dana untuk pembayaran honorarium sebagai wujud penghargaan atau imbalan jasa bagi staf pendidik dan kependidikan di lingkungan

DALAM KONDISI APAPUN, ASUS TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS: (1) KLAIM PIHAK KETIGA TERHADAP ANDA ATAS KERUSAKAN; (2) KERUGIAN, ATAU KERUSAKAN, ARSIP MAUPUN DATA; ATAU (3)

Meskipun telah banyak penelitian yang dilakukan untuk meneliti pengaruh dari integrasi perdagangan terhadap sinkronisasi business cycle , namun belum juga didapatkan

a. Melakukan penyusunan kamus jabatan, terdiri dari rincian tugas jabatan, tanggungjawab dan wewenang jabatan. Tugas jabatan yang dilakukan harus mengacu pada rencana

bahwa sinergi sebagaimana dimaksud dalam huruf a, diwujudkan dengan penyediaan Closed Circuit Television (CCTV) untuk memantau situasi dan kondisi disekitar bangunan gedung

Dalam dunia kesusastraan, ruang lingkup religiositas lebih luas dari agama. Kata religiositas mengandung ikatan atau mengikat diri. Di sini pengertiannya dititikberatkan

Kualitas produk yang diberikan suatu produk juga bisa menjadi alasan konsumen untuk loyal terhadap produk tersebut.Kualitas produk merupakan keseluruhan ciri dan