• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH SEVISTHA BR GINTING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH SEVISTHA BR GINTING"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH LEVERAGE, KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL DAN REPUTASI KAP TERHADAP KETEPATAN WAKTU PELAPORAN

KEUANGAN AUDITAN PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2015-2017

OLEH

SEVISTHA BR GINTING 150503030

PROGRAM STUDI STRATA-1 DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(2)

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

ABSTRAK

PENGARUH LEVERAGE, KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, DAN REPUTASI KAP TERHADAP KETEPATAN WAKTU PELAPORAN

KEUANGAN AUDITAN PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PERIODE 2015-2017

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh leverage, kepemilikan institusional dan reputasi KAP baik secara simultan maupun parsial terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2017.

Populasi penelitian ini sebanyak 43 perusahaan perbankan. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling untuk mendapatkan sampel, sehingga diperoleh 39 perusahaan sampel untuk 3 tahun pengamatan (2015-2017) dengan 117 observasi (pengamatan). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis regresi logistik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan leverage, kepemilikan institusional, dan reputasi KAP berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan, sedangkan secara parsial hanya leverage yang berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan, sedangkan kepemilikan institusional dan reputasi KAP tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.

Kata Kunci: Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan, Leverage, Kepemilikan Institusional, Reputasi KAP, Perbankan.

(8)

ABSTRACT

THE EFFECT OF LEVERAGE, INSTITUTIONAL OWNERSHIP, AND REPUTATION OF KAP ON THE TIMELINESS OF AUDITED

FINANCIAL REPORTING IN BANKING COMPANIES LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE

PERIOD 2015-2017

This study aims to determine the effect of leverage, institutional ownership and the reputation of KAP either simultaneously or partially to the timeliness of audited financial reporting in banking companies listed in Indonesia Stock Exchange for period of 2015-2017.

The population of this research are 43 banking companies. Sample selection of this research use purposive sampling method, so that 39 sample companies were obtained for 3 years observation (2015-2017) with 117 observations. Data analysis technique used are descriptive statistical analysis and logistic regression analysis.

The results of this research showed that leverage, institutional ownership, and the reputation of KAP simultaneously affected on the timeliness of audited financial reporting, while partially only leverage effected on the timeliness of audited financial reporting, whereas the institutional ownership and reputation of KAP does not affect on the timeliness of financial reporting in banking companies listed in Indonesia Stock Exchange Period 2015-2017.

Keywords: Timeliness of Audited Financial Reporting, Leverage, Institutional Ownership, Reputation of KAP, Banking.

(9)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas berkah, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Leverage, Kepemilikan Institusional, dan Reputasi KAP terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017” ini guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan, dukungan, motivasi, serta doa dari berbagai pihak, khususnya dari kedua orang tua tercinta Ayahanda Irwan Efendi Ginting, S.H. dan Ibunda Siti Khadijah Tarigan serta adik penulis Kerlin Valerian Ginting yang selalu melimpahkan kasih sayangnya dan memberikan dukungan moral dan materiil serta doa kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, S. E., M. S. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS., Ak., CPA. selaku Ketua Departemen/Program Studi S1 Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(10)
(11)

DAFTAR ISI

Halaman

PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 11

1.3 Tujuan Penelitian ... 12

1.4 Manfaat Penelitian ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 13

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory) ... 13

2.1.2 Teori Sinyal (Signalling Theory) ... 14

2.1.3 Ketepatan Waktu Pelaporan... 15

2.1.4 Leverage... 17

2.1.5 Kepemilikan Institusional ... 18

2.1.6 Reputasi KAP... 19

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu... ... 20

2.3 Kerangka Konseptual. ... 26

2.4 Hipotesis Penelitian ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 30

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 30

3.3 Jenis dan Sumber Data ... ... 32

3.4 Metode Pengumpulan Data... ... 32

3.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian .. 32

3.5.1 Variabel Dependen ... 32

3.5.2 Variabel Independen ... 33

3.5.2.1 Leverage ... 33

3.5.2.2 Kepemilikan Institusional... 34

3.5.2.3 Reputasi KAP... 34

(12)

3.6 Metode dan Analisis Data ... 36

3.6.1 Statistik Deskriptif ... 36

3.6.2 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 36

3.6.2.1 Menguji Kelayakan Model Regresi (Goodness of Fit) ... 37

3.6.2.2 Menguji Keseluruhan Model (Overall Fit Model) ... 37

3.6.2.3 Menguji Koefisien Determinasi... 38

3.6.2.4 Menguji Omnibus Tests of Model Coefficients ... 38

3.6.2.5 Menguji Koefisien Regresi ... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif ... 40

4.2 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 43

4.2.1 Menguji Kelayakan Model Regresi (Goodness of Fit) ... 43

4.2.2 Menguji Keseluruhan Model (Overall Fit Model) ... 44

4.2.3 Menguji Koefisien Determinasi... 46

4.2.4 Menguji Omnibus Tests of Model Coefficients... 47

4.2.5 Menguji Koefisien Regresi ... 48

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 50

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 52

5.2 Saran ... 52

DAFTAR PUSTAKA ... 54

LAMPIRAN ... 58

(13)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Data Rata-rata... 6

1.2 Research Gap... ... 10

2.1 Ringkasan Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 23

3.1 Karakteristik Sampel ... 31

3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian... ... 35

4.1 Statistik Deskriptif Variabel Leverage dan Variabel Kepemilikan Institusional ... 41

4.2 Statistik Frekuensi Variabel Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan ... 42

4.3 Statistik Frekuensi Variabel Reputasi KAP ... 42

4.4 Hasil Uji Kelayakan Model Regresi... 43

4.5 Block 0: Beginning Block 0 ... 44

4.6 Block 1: Beginning Block 1 ... 45

4.7 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 46

4.8 Hasil Omnibus Tests of Model Coefficients ... 47

4.9 Hasil Uji Koefisien Regresi... 48

4.10 Hasil Pengujian Penelitian ... 50

(14)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman 2.1 Kerangka Konseptual ... 26

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1 Daftar Sampel Penelitian... 58

2 Data Variabel Penelitian ... 59

3 Hasil Pengujian SPSS... 62

4 Tabel Chi Square Probabilities ... 65

(16)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, perusahaan perbankan tengah mengalami transformasi dan perkembangan yang signifikan. Hal ini dipicu dengan perbankan yang mulai melakukan perluasan terhadap pengembangan sistem teknologi informasi dalam rangka peningkatan efisiensi. Kehadiran bank-bank baru membuat tingkat persaingan dalam industri ini kian semakin ketat. (Kasmir, 2013: 11) menyatakan bahwa bank merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Seiring dengan peningkatan jumlah bank diharapkan perbankan akan membawa ke arah yang lebih baik, khususnya dalam upaya penyediaan dan perolehan informasi dalam setiap pembuatan keputusan.

Untuk itu diperlukan dokumen penting yang dihasilkan oleh perusahaan perbankan berupa laporan keuangan auditan. Laporan keuangan auditan merupakan laporan keuangan yang berisi informasi keuangan perusahaan pada suatu periode akuntansi yang telah diaudit dan disertai opini serta telah ditandatangani oleh akuntan publik sebagai wujud tanggung jawab manajemen kepada pihak internal maupun eksternal perusahaan seperti investor, kreditur, OJK, kantor pelayanan pajak (KPP), pemegang saham dan lain-lain sebagai pedoman pengambilan keputusan. Bagi pihak

(17)

yang berkepentingan terhadap laporan keuangan akan memberikan manfaat dalam proses pengambilan keputusan apabila informasi yang tertuang di dalamnya disajikan dengan benar, tepat dan akurat.

Laporan keuangan auditan sebagai sarana pengkomunikasian informasi akan sangat bermanfaat apabila informasi yang diberikan bersifat relevan dan tepat waktu bagi para pengguna laporan keuangan sebelum informasi tersebut kehilangan kapasitasnya dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Suatu informasi tidak dapat dikatakan relevan jika informasi tersebut tidak tepat waktu, dan dengan adanya ketepatan waktu ini tentu akan memudahkan dalam mengukur transaparansi maupun kualitas pelaporannya (Mc Gee, 2007).

Risiko ketidaksesuaian penyajian informasi akan berkurang jika laporan keuangan auditan yang disampaikan tepat waktu. Ini menunjukkan bahwa ketepatan waktu dalam penyajian pelaporan keuangan auditan ke publik semakin bertambah penting seiring dengan kemajuan dunia bisnis sehingga diharapkan perusahaan untuk tidak melakukan penundaan dalam pelaporan keuangan auditan.

Seluruh perusahaan go public wajib menerbitkan laporan keuangan yang telah disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan diaudit oleh akuntan publik secara tepat waktu. Peraturan akan ketepatan waktu pelaporan keuangan telah diatur dalam UU No. 8 Tahun 1995 tentang pasar modal mengenai kepatuhan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan yang dinyatakan secara jelas. Regulasi yang ditetapkan bagi perusahaan

(18)

yang telah terdaftar di pasar modal harus mengungkapkan rincian informasi, baik di dalam laporan pokok maupun laporan keuangan tahunan (annual report), sebagaimana diatur dalam Keputusan Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Keuangan (LK) Nomor: Kep-134/BL/2006 (Peraturan Nomor X.K.6) tentang kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi emiten atau perusahaan publik. Pada tahun 1996, BAPEPAM mengeluarkan Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor: Kep-80/PM/1996 tentang kewajiban bagi setiap emiten atau perusahaan publik untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit pada akhir bulan keempat (120 hari) setelah tanggal tutup buku laporan keuangan tahunan perusahaan.

Selanjutnya terjadi pergeseran peraturan pada tanggal 30 September 2003 yang diperketat dalam BAPEPAM Nomor X.K.2, Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor: Kep-36/PM/2003 yang menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan harus disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat yang lazim dan disampaikan kepada BAPEPAM selambat- lambatnya pada akhir bulan ketiga (90 hari) setelah tanggal tutup buku laporan keuangan tahunan. Pergeseran peraturan tersebut bertujuan agar investor maupun pengguna informasi lainnya dapat memperoleh informasi lebih cepat dalam pengambilan keputusan dan penyesuaian terhadap perkembangan pasar modal.

Namun, setelah dikeluarkannya UU No. 21 Tahun 2011 pengawasan pasar modal berada di bawah kewenangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sejak tahun 2013, laporan keuangan auditan disampaikan kepada Otoritas

(19)

Jasa Keuangan (OJK). Sejak saat itu, peraturannya kembali diperbarui melalui peraturan OJK Nomor X.K.6 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan bagi emiten atau perusahaan publik, disebutkan bahwa laporan keuangan wajib disampaikan selambat-lambatnya (120 hari) atau 4 bulan setelah tahun buku berakhir.

Selain itu, Bursa Efek Indonesia menerbitkan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor: Kep-306/BEJ/07-2004 (Peraturan Nomor I-E) tentang kewajiban penyampaian informasi. Dalam hal perusahaan tercatat yang terlambat dalam penyampaian laporan keuangannya dikenakan sanksi administrasi dan denda oleh Bursa sesuai dengan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor: Kep-307/BEJ/07-2004 (Peraturan Nomor I-H) tentang sanksi bagi perusahaan yang tidak patuh terhadap peraturan tersebut, meliputi empat bentuk sanksi yang dikenakan, yaitu: 1) peringatan tertulis I, atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan sampai 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan; 2) peringatan tertulis II dan denda Rp.50.000.000,- apabila mulai hari kalender ke-31 hingga kalender ke-60 sejak lampaunya batas penyampaian laporan keuangan, perusahaan tercatat tetap tidak memenuhi kewajiban menyampaikan laporan keuangan; 3) peringatan tertulis III dan denda Rp.150.000.000,- apabila mulai hari kalender ke-60 hingga kalender ke-90 sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan namun tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda sebagaimana dimaksud pada ketentuan peraturan II di atas; 4) penghentian sementara perdagangan

(20)

dalam hal kewajaran laporan keuangan atau denda tersebut di atas belum dilakukan oleh perusahaan.

Meskipun ketentuan dan peraturan sudah tegas dan jangka waktu pelaporan dibuat menjadi lebih panjang oleh regulator, namun tampaknya regulasi tersebut belum efektif diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Dapat dilihat dari masih banyaknya kasus ketidakpatuhan perusahaan dalam menyampaikan laporan keuangan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan pemantauan bursa, hingga 2 Mei 2016 terdapat 63 perusahaan tercatat yang belum menyampaikan laporan keuangan tahunan.

Pada tahun 2017 selanjutnya PT Bursa melakukan penghentian sementara perdagangan (suspensi) terhadap 17 perusaahaan tercatat yang belum menyampaikan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2016. Hingga awal bulan Januari 2018, BEI menghentikan sementara perdagangan (suspensi) efek di pasar reguler dan pasar tunai sebanyak 5 perusahaan tercatat atau emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan interim per 30 September 2017 dan/atau belum melakukan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan, yaitu PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk, PT Eterindo Wahanatama Tbk, PT Capitalinc Investment Tbk, PT Evergreen Invesco Tbk, dan PT Zebra Nusantara Tbk (Liputan 6, dalam liputan6.com, 31 Januari 2018).

Hal ini mencerminkan betapa pentingnya ketepatan waktu dalam pelaporan keuangan auditan dapat disajikan ke publik. Selain untuk mematuhi ketentuan dalam peraturan, ketepatan waktu pelaporan keuangan

(21)

auditan memegang peranan penting demi tercapainya prinsip keterbukaan di pasar modal Indonesia dan menghindari adanya spekulasi dalam perdagangan saham perusahaan, memenuhi hak investor publik yang menanamkan modal di perusahaan untuk memperoleh informasi laporan keuangan perusahaan dengan segera, meningkatkan good governance emiten di Indonesia, dan menjaga citra laporan keuangan perusahaan di mata publik.

Berikut ini disajikan distribusi data ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan serta rata-rata leverage, kepemilikan institusional, dan reputasi KAP pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2017.

Tabel 1.1

Distribusi Data Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan, Leverage, Kepemilikan Institusional, dan Reputasi KAP pada Perusahaan

Perbankan Periode 2015-2017

No. Variabel Tahun

2015 2016 2017

1. Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan

- Tepat Waktu - Tidak Tepat

Waktu

39

39 x 100% =100%

x 100% = 0

38

39 x 100% = 97.4%

1

39 x 100% = 2.56%

38

39 x100% = 97.4%

1

39 x 100% =2.56%

2. Leverage 274

39 = 7.02 = 5.89 23739 = 6.07 3. Kepemilikan

Institusional

= 73.07 = 74.2 = 74.64 4. Reputasi KAP

- Diaudit Big 4

- Diaudit Selain Big 4

25

39 x100% =64.10%

14

39 x 100%=35.89%

25

39 x100% =64.10%

14

39 x 100%=35.89%

25

39 x100% =64.10%

14

39 x 100%=35.89%

(22)

Dapat dilihat pada tabel 1.1 diatas bahwa pada tahun 2015 seluruh perusahaan perbankan tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangan, namun tahun 2016 hingga tahun 2017 ketepatan waktu pelaporan keuangan mengalami penurunan sebesar 97.4% .

Leverage menunjukkan sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan liabilitas atau dengan kata lain leverage dapat digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh liabilitasnya.

Semakin tinggi nilai leverage, maka semakin tinggi pula risiko keuangan perusahaan karena ketidakmampuan dalam membayar hutang baik pokok maupun bunganya. Risiko keuangan ini akan menyebabkan kesulitan keuangan yang dialami perusahaan sehingga berdampak terhadap pandangan publik yang buruk terhadap perusahaan tersebut sehingga manajemen kemungkinan menunda penyampaian laporan keuangan dengan menekan leverage ratio serendah-rendahnya. Pada tabel 1.1 diatas, nilai leverage bergerak fluktuatif dari tahun 2015 hingga 2017. Pada tahun 2015 sebesar 7.02 dan menurun 5.89 pada tahun 2016, dan meningkat kembali di tahun 2017 sebesar 6.07. Hal ini tidak sejalan dengan teori, dimana jika nilai leverage menurun maka ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan meningkat.

Kepemilikan Institusional adalah jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak luar (pihak institusi). Dengan adanya pengendalian dan pengawasan oleh pihak institusi, maka manajemen dituntut untuk menyampaikan laporan keuangan secara tepat waktu.

(23)

Berdasarkan tabel 1.1 diatas, kepemilikan institusional terus-menerus mengalami peningkatan pada tahun 2015 sebesar 73.07 dan 74.2 tahun 2016, kemudian kembali naik sebesar 76.64 pada tahun 2017. Hal ini tidak sejalan dengan teori, dimana pada tahun 2015 ke 2016 terjadi penurunan ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan maka struktur kepemilikan tentu akan menurun.

Reputasi KAP merupakan citra yang menjadi penting untuk diperhatikan oleh perusahaan yang akan memakai jasa audit KAP. Hal ini dikarenakan KAP yang memiliki reputasi baik memiliki kompetensi, keahlian, dan independensi yang tinggi. Dengan demikian, kondisi ini akan berpengaruh terhadap kredibilitas dan ketepatan waktu pelaporan keuangannya, sehingga reputasi KAP menjadi dasar pertimbangan tertentu bagi pihak perusahaan. Berdasarkan tabel 1.1 diatas, perusahaan perbankan yang menggunakan jasa KAP yang bereputasi baik (The Big 4) cenderung konstan dari tahun 2015 hingga tahun 2017 sebesar 64.10%. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan tersebut, maka peneliti mencoba untuk menguji pengaruh faktor internal dan eksternal tersebut terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan.

Sudah banyak dilakukan penelitian mengenai ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Rianti (2014: 1) memiliki kesamaan dengan penelitian oleh Dwiyani, dkk (2017: 26) yang menyatakan bahwa leverage dan kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan. Namun

(24)

berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmawati dan Noor (2018:

1). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan sedangkan kepemilikan institusional berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Penelitian yang dilakukan oleh Kuswanto dan Manaf (2015: 1);

Robiana (2017: 1) menyatakan bahwa leverage dan reputasi KAP tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuditasari (2016: 1) menunjukkan bahwa leverage dan reputasi KAP berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Kemudian Nurfauziah (2016: 1) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan audited pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2009-2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan audited, sedangkan reputasi KAP tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan audited.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Girsang (2017: 1) memiliki kesamaan variabel dengan penelitian Amelia (2017: 1) yaitu kepemilikan institusional. Pada penelitian Girsang (2017: 1) menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan, sedangkan menurut Amelia (2017: 1) menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

(25)

Menurut penelitian yang telah dipaparkan oleh peneliti terdahulu membuktikan bahwa terdapat beberapa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan, walaupun masih terdapat perbedaan hasil penelitian. Berikut tabel 1.2 yang menunjukkan inkonsistensi penelitian terdahulu yang dapat diringkas dalam tabel berikut ini.

Tabel 1.2 Research Gap

No. Variabel Peneliti Hasil

1. Leverage Rianti (2014) Tidak berpengaruh signifikan Kuswanto dan Manaf (2015) Tidak berpengaruh signifikan Yuditasari (2016) Berpengaruh signifikan Nurfauziah (2016) Berpengaruh signfikan Robiana (2017) Tidak berpengaruh signifikan Dwiyani (2017) Tidak berpengaruh signifikan 2. Kepemilikan

Institusional

Rianti (2014) Tidak berpengaruh signifikan Girsang (2017) Berpengaruh signifikan Dwiyani (2017) Tidak berpengaruh signifikan Amelia (2017) Tidak berpengaruh signifikan Darmawati dan Noor (2018) Berpengaruh signifikan 3 Reputasi KAP Kuswanto dan Manaf (2015) Tidak berpengaruh signifikan

Nurfauziah (2016) Tidak berpengaruh signifikan Yuditasari (2016) Berpengaruh signifikan Robiana (2017) Tidak berpengaruh signifikan

Berdasarkan fenomena dan hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan waktu

(26)

pelaporan keuangan auditan, maka ditemukan adanya ketidakkonsistenan atau terjadinya kesenjangan hasil penelitian sebelumnya. Hal inilah yang membuat peneliti termotivasi untuk meneliti lebih lanjut terkait dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Penelitian kali ini akan menguji kembali faktor-faktor tersebut dengan menggunakan periode tahun yang berbeda dari sebelumnya serta pengambilan sampel khususnya pada perusahaan perbankan mengingat sektor ini merupakan most leading company serta sebagai agent of trust, development, dan services.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti termotivasi untuk melanjutkan penelitian dengan judul “Pengaruh Leverage, Kepemilikan Institusional, dan Reputasi KAP terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang penelitian diatas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut.

Apakah leverage, kepemilikan institusional, dan reputasi KAP berpengaruh baik secara parsial maupun simultan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2017?

(27)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh leverage, kepemilikan institusional, dan reputasi KAP terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015- 2017.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak- pihak, antara lain sebagai berikut:

1. Bagi Penulis, penelitian ini dapat memperluas pemahaman serta menambah referensi mengenai akuntansi umumnya, khususnya pemahaman mengenai ketepatan waktu pelaporan keuangan.

2. Bagi Stakeholder Perusahaan, penelitian ini memberikan manfaat dan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan yang akan diambil.

3. Bagi Investor dan Investor Potensial, penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang laporan keuangan sehingga dapat dijadikan acuan untuk pembuatan keputusan investasi.

4. Bagi Akademisi, penelitian ini dapat memberikan informasi dan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidang akuntansi khususnya yang berkaitan dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan dan dapat menjadi referensi dalam melakukan penelitian selanjutnya.

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan pertama kali dicetuskan oleh Jensen dan Meckling (1976), yang menyatakan bahwa hubungan keagenan sebagai suatu kontrak antara manajemen selaku agent dengan pemilik sebagai principal perusahaan. Sementara menurut Anthony dan Govindarajan (2005: 269), agency theory menjelaskan hubungan atau kontrak antara principal dan agent. Dalam hubungan ini terjadi pemisahan fungsi, dimana pemilik perusahaan (principal) mendelegasikan wewenang kepada manajemen (agent) sebagai pengelola untuk menjalankan perusahaan. Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas kepentingan mereka sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Dengan adanya pemisahan fungsi antara principal dengan agent dapat berdampak negatif. Pihak agent selaku pengelola perusahaan mengetahui lebih banyak informasi internal perusahaan dan prospek perusahaan di masa mendatang dibandingkan dengan principal. Hal tersebut yang menjadikan konflik kepentingan semakin meningkat dan mengakibatkan adanya ketidakseimbangan informasi (asymmetrical information). Dalam kondisi asimetri informasi inilah yang mendorong agent untuk menyembunyikan beberapa informasi dari principal, menyajikan informasi yang tidak

(29)

sebenarnya, terutama informasi yang berkaitan dengan pengukuran kinerja agent. Pihak agent terpacu untuk mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan sebagai sarana untuk memaksimalkan keuntungan agar posisi agent tetap dipertahankan serta dapat meraih bonus.

Situasi lainnya pun timbul ketika agent kurang atau tidak memiliki saham biasa perusahaan tersebut maka ia kurang berupaya untuk memaksimumkan keuntungan bagi perusahaan karena ia merasa tidak memiliki andil terhadap perusahaan itu. Dengan demikian pelaporan keuangan auditan yang tepat waktu menjadi tindakan yang tepat untuk meminimalisir asimetri informasi yang terjadi antara principal dan agent karena agent dapat menginformasikan keadaan perusahaan secara transparan kepada principal.

2.1.2 Teori Sinyal (Signalling Theory)

Teori sinyal (signalling theory) pertama kali diperkenalkan oleh Spence (1973) dalam penelitiannya yang berjudul Job Market Signalling, dimana teori ini menunjukkan suatu hal yang wajib dilakukan oleh pihak manajemen suatu perusahaan dengan memberikan informasi mengenai kinerja dan kondisi perusahaan yang diwujudkan dalam bentuk pengungkapan informasi berupa laporan keuangan kepada pemegang saham maupun pemangku kepentingan lainnya. Informasi yang terkandung dalam laporan keuangan dapat memicu reaksi pasar serta dapat menjadi pedoman dalam menilai suatu perusahaan. Pada waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar menerima informasi tersebut, pelaku pasar dapat menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai sinyal baik

(30)

(good news) ataupun sinyal buruk (bad news). Teori sinyal (signalling theory) menjelaskan mengapa manajemen mempunyai dorongan untuk memberikan informasi dalam laporan keuangan secara tepat waktu kepada pengguna. Perusahaan yang menunjukkan kondisi dan kinerja yang baik cenderung akan menyampaikan laporan keuangan auditannya secara tepat waktu, karena hal tersebut merupakan sinyal baik (good news) bagi para pemegang saham dan pengguna lainnya. Sebaliknya, perusahaan yang mengalami kemerosotan serta kegagalan dalam meningkatkan kinerja perusahaan tentu akan berdampak terhadap penundaan penyampaian laporan keuangan yang dianggap sebagai sinyal buruk (bad news) bagi perusahaan.

2.1.3 Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan

Setiap perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia wajib menyajikan laporan keuangan auditan yang telah diudit dan disertai opini audit serta ditandatangani oleh Akuntan Publik. Seiring dengan berkembangnya dunia bisnis khususnya perkembangan dunia perbankan yang begitu pesat dari waktu ke waktu menuntutnya untuk melaporkan kondisi perusahaan dalam bentuk laporan keuangan auditan.

Laporan keuangan auditan yang disajikan pun harus tepat waktu.

Ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan adalah rentang waktu antara tanggal tutup buku yang tertera pada laporan keuangan perusahaan (31 Desember) sampai pada tanggal ketika informasi keuangan diumumkan ke publik (paling lambat 30 April tahun berikutnya). Ketepatan waktu pelaporan keuangan menjadi penting mengingat bahwa pasar modal bergerak

(31)

dinamis setiap menitnya sehingga akan mempengaruhi harga saham dan keputusan penggunanya dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan sangat dibutuhkan dalam hal ini. Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya.

Faktor ketepatan waktu adalah hal yang penting bagi laporan keuangan auditan. Ketepatan waktu yang dimaksud adalah ketika informasi yang disajikan tersedia saat dibutuhkan atau dalam pengambilan keputusan.

Namun jika informasi tersedia setelah keputusan diambil maka dapat dikatakan informasi tersebut tidak relevan dan menjadi sia-sia karena tidak dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan. Sehubungan dengan hal ini maka Bursa Efek Indonesia menerbitkan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor: Kep-306/BEJ/07-2004 (Peraturan Nomor I-E) tentang kewajiban penyampaian informasi. Dalam hal perusahaan tercatat yang terlambat dalam penyampaian laporan keuangannya dikenakan sanksi administrasi dan denda oleh Bursa sesuai dengan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor: Kep-307/BEJ/07-2004 (Peraturan Nomor I-H) tentang sanksi bagi perusahaan yang tidak patuh terhadap peraturan tersebut, meliputi empat bentuk sanksi yang dikenakan, yaitu: 1) peringatan tertulis I, atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan sampai 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan; 2) peringatan tertulis II dan denda Rp.50.000.000,- apabila mulai hari kalender ke-31 hingga kalender ke-60 sejak lampaunya batas

(32)

penyampaian laporan keuangan, perusahaan tercatat tetap tidak memenuhi kewajiban menyampaikan laporan keuangan; 3) peringatan tertulis III dan denda Rp.150.000.000,- apabila mulai hari kalender ke-60 hingga kalender ke-90 sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan namun tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda sebagaimana dimaksud pada ketentuan peraturan II di atas; 4) penghentian sementara perdagangan dalam hal kewajaran laporan keuangan atau denda tersebut di atas belum dilakukan oleh perusahaan.

Ketepatan waktu dalam pelaporan keuangan auditan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal perusahaan.

Sehingga faktor-faktor akan yang diuji dalam penelitian ini adalah leverage, kepemilikan institusional dan reputasi KAP.

2.1.4 Leverage

Menurut Gitman Lawrence J (2009: 60), “The Debt Ratio measures the proportion of total assets financed by the firm’s creditors. The higher this ratio, the greater the amount of other people’s money being used to generate profits”. Penjelasan tersebut menekankan terhadap pentingnya peran pendanaan liabilitas yang dapat ditunjukkan dari persentase aset perusahaan yang didukung oleh pendanaan liabilitas. Semakin besar persentase pendanaan yang disediakan oleh ekuitas pemegang saham, semakin besar jaminan perlindungan yang didapat oleh kreditor perusahaan (Vanhorne dan Moore, 2005: 210).

(33)

Sementara menurut Syahyunan (2013: 92), leverage digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam melunasi seluruh liabilitasnya atau dengan kata lain dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana perusahaan mendanai kegiatan usahanya apakah lebih banyak menggunakan liabilitas atau ekuitas. Peningkatan nilai leverage suatu perusahaan memberikan 2 macam sinyal, yaitu berita baik (good news) maupun berita buruk (bad news). Dikatakan berita baik jika perusahaan tersebut memiliki kesempatan bertumbuh semakin meningkat atas penggunaan hutang dan manajemen mampu meningkatkan nilai perusahaan. Sebaliknya, berita buruk jika perusahaan terjebak dalam liabilitas yang tinggi dalam kondisi bisnis yang buruk sehingga besar kemungkinan laba operasi tidak mampu membayar bunga pinjaman yang nantinya akan muncul masalah kesulitan keuangan (financial distress). Kesulitan keuangan yang dialami perusahaan merupakan berita buruk yang mempengaruhi pandangan publik sehingga manajemen cenderung untuk menyampaikan laporan keuangan tidak tepat waktu dengan menekan leverage ratio serendah – rendahnya.

2.1.5 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak institusi seperti bank dan reksa dana, perusahaan asuransi, perusahaan dana pensiun, perusahaan investasi pemerintah, dan kepemilikan institusi lain.

Kepemilikan institusional di suatu perusahaan akan mendorong pengawasan terhadap perusahaan semakin ketat. Saham pihak institusi sangat

(34)

berpengaruh dalam mengendalikan dan memonitor bahkan mempengaruhi kondisi dan kinerja perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa kepemilikan institusional memegang peranan penting untuk meminimalisir konflik keagenan antara manajemen dengan pemegang saham.

Konsentrasi kepemilikan saham institusional yang tinggi dapat mengubah pengelolaan perusahaan yang semula berjalan sesuai keinginan perusahaan itu sendiri menjadi berjalan dalam pengawasan dan keterbatasan. Jika kinerja manajemen baik maka pihak institusi selaku pemegang saham tetap mempertahankan posisinya atau sebaliknya.

Dengan adanya konsentrasi kepemilikan pihak institusi maka pihak manajemen akan lebih mendapat tekanan dan menuntutnya untuk menunjukkan kinerja yang baik dengan menyediakan informasi berupa laporan keuangan yang tepat waktu terhadap pemilik perusahaan (pemegang saham)

2.1.6 Reputasi KAP

Menurut Wikipedia, Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah lembaga yang memiliki izin dari menteri keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik dalam menjalankan pekerjaannya. Perusahaan yang akan menerbitkan laporan keuangan tahunan dan menyajikan kondisi perusahaannya ke publik tentu sangat membutuhkan jasa KAP guna menghasilkan laporan keuangan yang memiliki kredibilitas dan terpercaya bagi para pemakai informasi.

Demi peningkatan kredibilitas laporan keuangan yang dihasilkan, maka perusahaan cenderung memilih reputasi KAP yang baik, tercermin dengan

(35)

KAP yang berafiliasi dengan KAP yang berskala standar internasional yaitu The Big 4 (Big Four Worldwide Accounting Firm).

Menurut Tuanakota (2011: 299), adapun kategori Kantor Akuntan Publik yang bekerjasama dengan The Big 4 di Indonesia yaitu :

1. KAP Price Waterhouse Coopers (PWC), yang bekerja sama dengan KAP Drs.Hadi Sutanto & Rekan, Haryanto Sahari & Rekan.

2. KAP Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG), yang bekerja sama dengan KAP Sidharta-Sidharta & Widjaja.

3. KAP Ernst & Young (E&Y), yang bekerja sama dengan KAP Prasetio, Sarwoko, & Sanjadja.

4. KAP Deloitte Touche Thomatsu (Deloitte), yang bekerja sama dengan KAP Hans Tuanakotta & Mustofa, Osman Ramli Satrio & Rekan.

KAP yang memiliki reputasi baik umumnya memiliki sumber daya manusia yang lebih spesialis, keahlian dan kompetensi yang tinggi, ketersediaan teknologi yang canggih, serta memiliki jadwal yang fleksibel sehingga membantu perusahaan dalam menyelesaikan proses audit dan menyampaikan laporan auditnya sehingga kondisi demikian akan berpengaruh terhadap penyampaian laporan keuangan yang tepat waktu ke publik (Permatasari, 2018).

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan telah banyak dilakukan oleh sejumlah peneliti. Penelitian Rianti (2014: 1) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Kepemilikan Institusional, dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan”, menyimpulkan bahwa leverage dan

(36)

kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

Begitu pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwiyani, dkk. (2017: 26) memiliki kesamaan dengan Rianti (2014: 1) yang menunjukkan bahwa leverage dan kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan manufaktur selama tahun 2012-2015.

Darmawati dan Noor (2018: 1) dalam penelitiannya yang berjudul

“Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Ketepatwaktuan Penyajian Laporan Keuangan”, menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh pada ketepatwaktuan penyajian laporan keuangan. Sedangkan leverage tidak berpengaruh pada ketepatwaktuan penyajian laporan keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI untuk periode 2015-2017.

Penelitian yang dilakukan Kuswanto dan Manaf (2015: 1) menunjukkan bahwa leverage dan kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2010- 2013. Penelitian Kuswanto dan Manaf (2015: 1) memiliki kesamaan dengan penelitian Robiana (2017: 1) yang menunjukkan bahwa DER dan kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan perusahaan manufaktur subsektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2015.

(37)

Penelitian yang dilakukan oleh Yuditasari (2016: 1) menunjukkan bahwa leverage dan reputasi KAP berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014.

Penelitian yang dilakukan oleh Nurfauziah (2016: 1) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Leverage, dan Reputasi Kantor Akuntan Publik Terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Audited”, menunjukkan bahwa leverage berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan Audited, sedangkan reputasi KAP tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan Audited perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2009-2014.

Penelitian Girsang (2017: 1) dan Amelia (2017: 1) memiliki perbedaan hasil penelitian dengan kesamaan variabel yaitu kepemilikan institusional. Pada penelitian Girsang (2017: 1) menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan seluruh perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2013, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Amelia (2017: 1) menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2007-2010.

Berdasarkan uraian tinjauan penelitian terdahulu di atas maka dapat disajikan ringkasan penelitian yang telah dilakukan mengenai faktor-faktor

(38)

mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan yang disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 2.1

Ringkasan Tinjauan Penelitian Terdahulu

No.

Nama Peneliti

Judul Penelitian Variabel Penelitian

Hasil Penelitian

1. Rianti (2014)

Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Kepemilikan Institusional, dan Kepemilikan

Manajerial Terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan (Studi pada

Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI pada tahun 2009- 2011).

Variabel Independen:

Profitabilitas, Leverage, Kepemilikan Institusional, dan Kepemilikan Manajerial Variabel Dependen:

Ketepatan Waktu Pelaporan

Keuangan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas, leverage, kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

2. Kuswanto dan Manaf (2015)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan ke Publik (Studi Empiris pada Perusahaan

Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2013).

Variabel Independen:

Profitabilitas, Leverage, Likuiditas, Ukuran Perusahaan, Reputasi KAP, Opini Auditor, Umur

Perusahaan, dan Kepemilikan Perusahaan Variabel Dependen:

Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan

Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa opini auditor dan kepemilikan publik secara signifikan berpengaruh pada

ketepatan waktu pelaporan keuangan, sedangkan profitabilitas, leverage, likuiditas, ukuran

perusahaan, reputasi KAP dan umur perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan

(39)

3. Yuditasari (2016)

Pengaruh Leverage, Kepemilikan Manajerial, Ukuran Perusahaan, Likuiditas, dan Reputasi KAP Terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan

Variabel Independen:

Leverage, Kepemilikan Manajerial, Ukuran Perusahaan, Likuiditas, dan Reputasi KAP Variabel Dependen:

Ketepatan Waktu Pelaporan

Keuangan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Reputasi KAP berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan, sedangkan leverage, profitabilitas, Kepemilikan Manajerial, Ukuran

Perusahaan, dan Likuiditas tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

4. Nurfauziah (2016)

Pengaruh

Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Leverage, dan Reputasi Kantor Akuntan Publik Terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Audited (Studi Empiris pada Perusahaan

Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2009-2014).

Variabel Independen:

Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Leverage, dan Reputasi Kantor Akuntan Publik Variabel Dependen:

Ketepatan Waktu Pelaporan

Keuangan Audited

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Leverage berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan,

sedangkan Reputasi Kantor Akuntan Publik tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan.

5 Robiana (2017)

Analisis Pengaruh Reputasi KAP, Ukuran Perusahaan, ROA, dan DER Terhadap Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan (Studi Empiris Pada Perusahaan

Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2015

Variabel Independen:

Reputasi KAP, Ukuran

Perusahaan, ROA, dan DER Variabel Dependen:

Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan

Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa DER dan Reputasi KAP tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun 2013-2015.

6. Dwiyani, dkk.

(2017)

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketepatwaktuan Penyajian Laporan Keuangan

Variabel Independen:

Komite Audit, Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas,

Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa komite audit, kepemilikan

manajerial, dan profitabilitas berpengaruh terhadap ketepatwaktuan penyajian

(40)

Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Institusional, Leverage Variabel Dependen:

Ketepatwaktuan Penyajian Laporan Keuangan

laporan keuangan,

sedangkan dewan komisaris independen, kepemilikan institusional dan leverage tidak berpengaruh terhadap ketepatwaktuan penyajian laporan keuangan.

7. Amelia (2017)

Pengaruh Mekanisme Corporate

Governance Terhadap Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Perusahaan

Variabel Independen:

Kepemilikan Manajerial, Komite Audit, Ukuran Dewan Direksi,

Komisaris Independen, Kepemilikan Institusional, Kualitas Audit Variabel Dependen:

Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan Perusahaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial, komite audit, ukuran dewan direksi, dan komisaris independen berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan, sedangkan kepemilikan institusional dan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama tahun 2007- 2010.

8. Girsang (2017)

Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Profitabilitas Terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015)

Variabel Independen:

Komisaris Independen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Komite Audit, Kualitas Audit, dan Profitabilitas Variabel

Dependen:

Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Perusahaan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komisaris independen, kepemilikan institusional, kualitas audit, dan profitabilitas berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan, sedangkan kepemilikan manajerial dan komite audit tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015.

(41)

9. Darmawati dan Noor (2018)

Pengaruh Kepemilikan

Institusional Terhadap Ketepatwaktuan Penyajian Laporan Keuangan

Variabel Independen:

Kepemilikan Institusional Variabel Dependen:

Ketepatwaktuan Penyajian Laporan Keuangan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap ketepatwaktuan penyajian laporan keuangan pada perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2015- 2017.

2.3 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual berguna untuk menjelaskan pengaruh secara teoritis antara variabel independen dengan variabel dependen suatu penelitian. Dalam penelitian ini, yang merupakan variabel dependen adalah ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan. Sedangkan variabel independen yang diindikasikan berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan adalah leverage, kepemilikan institusional, dan reputasi KAP.

Berdasarkan teori yang telah dibahas sebelumnya, maka dapat digambarkan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dalam bentuk kerangka konseptual berikut ini.

Ha3

Ha4

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan

(Y) Kepemilikan

Institusional (X2) Reputasi KAP (X3)

Ha2

Ha1

Leverage (X1)

(42)

Berdasarkan kerangka konsep di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Pengaruh Leverage terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan

Menurut Syahyunan (2013: 92) leverage digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam melunasi seluruh liabilitasnya atau dengan kata lain dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana perusahaan mendanai kegiatan usahanya apakah lebih banyak menggunakan liabilitas atau ekuitas. Risiko keuangan yang tinggi akibat pinjaman yang tinggi menimbulkan kesulitan keuangan yang dialami perusahaan sebagai berita buruk yang mempengaruhi kondisi perusahaan dimata publik sehingga manajemen akan cenderung menunda penyampaian laporan keuangan dengan menekan leverage ratio serendah – rendahnya. Kondisi ini tentu akan berdampak terhadap tidak tepat waktunya perusahaan menyampaikan laporan keuangan auditannya ke publik.

Ha1 : Leverage berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan

b. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa kepemilikan institusional memiliki peranan yang penting dalam meminimalisir konflik keagenan antara manajer dengan pemegang saham. Saham pihak institusi

(43)

sangat berpengaruh dalam mengendalikan dan memonitor bahkan mempengaruhi kondisi dan kinerja perusahaan. Dengan adanya konsentrasi kepemilikan saham pihak institusi maka pihak manajemen akan lebih mendapat tekanan dan menuntutnya untuk menunjukkan kinerja yang baik dengan menyediakan informasi berupa laporan keuangan auditan yang tepat waktu terhadap pemilik perusahaan (pihak institusi).

Ha2 : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan

c. Pengaruh Reputasi KAP terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan

Perusahaan yang akan menerbitkan laporan keuangan tahunan dan menyajikan kondisi perusahaannya ke publik tentu sangat membutuhkan jasa KAP guna menghasilkan laporan keuangan yang memiliki kredibilitas dan terpercaya bagi para pemakai informasi. KAP yang memiliki reputasi baik umumnya memiliki sumber daya manusia yang lebih spesialis, keahlian dan kompetensi yang tinggi, ketersediaan teknologi yang canggih, serta memiliki jadwal yang fleksibel sehingga membantu perusahaan dalam menyelesaikan proses audit dan menyampaikan laporan auditnya sehingga kondisi demikian akan berpengaruh terhadap penyampaian laporan keuangan yang tepat waktu ke publik (Permatasari, 2018)

Ha3 : Reputasi KAP berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan

(44)

d. Pengaruh Leverage, Kepemilikan Institusional, dan Reputasi KAP terhadap Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan Auditan

Berdasarkan uraian latar belakang penelitian, rumusan masalah, kerangka konseptual, dan uraian di muka, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:

Ha4 : Leverage, Kepemilikan Institusional, dan Reputasi KAP berpengaruh secara simultan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian teoritis, tinjauan penelitian terdahulu, dan kerangka konseptual di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut.

“ leverage, kepemilikan institusional, dan reputasi KAP berpengaruh baik secara parsial maupun simultan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017 ”.

(45)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah asosiatif kausal. Menurut Sugiyono (2012: 11), penelitian asosiatif kausal merupakan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana satu variabel mempengaruhi variabel lain. Adapun variabel yang akan diteliti sebagai variabel independen adalah leverage, kepemilikan institusional, dan reputasi KAP memiliki hubungan dengan ketepatan waktu pelaporan keuangan auditan sebagai variabel dependen pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI periode 2015-2017.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2017, yaitu sebanyak 43 perusahaan perbankan. Data diperoleh melalui situs BEI di www.idx.co.id. Sedangkan untuk metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling di mana penentuan sampel populasi ditentukan berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa profitabilitas dan struktur kepemilikan secara signifikan berpengaruh pada ketepatan waktu pelaporan keuangan perusahaan, sedangkan Debt

Sedangkan variabel ukuran perusahaan, reputasi auditor, kepemilikan institusional, dan leverage keuangan tidak berpengaruh pada praktik perataan laba karena memiliki nilai

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konvergensi IFRS, profitabilitas, ukuran perusahaan, leverage , likuiditas, dan reputasi KAP terhadap ketepatan

Dapat memberikan bukti empiris bahwa profitabilitas, leverage keuangan, ukuran perusahaan, kepemilikan publik, reputasi KAP, dan opini auditor mempengaruhi rentang waktu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas, likuiditas, kepemilikan publik dan reputasi kantor akuntan publik (KAP) berpengaruh signifikan terhadap ketepatan

Hasil penelitian : debt to equity ratio, profitabilitas, struktur kepemilikan, ukuran perusahaan, dan ukuran KAP tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan, sedangkan keberadaan proporsi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan, ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap ketepatan