Abstrak— Korosi pada permukaan bagian dalam pipa menjadi masalah dalam pertambangan minyak dan gas bumi.
Salah satu solusinya adalah penggunaan inhibitor korosi organik, seperti tumbuhan sarang semut. Pengaruh temperatur dan laju putaran terhadap mekanisme inhibisi oleh tumbuhan sarang semut pada korosi baja karbon jenis API 5L Grade B dalam larutan NaCl 3,5% dipelajari menggunakan metode polarisasi potensiodinamik (tafel) dan metode electrochemical impedance spectroscopy (EIS), yang didukung dengan program Zview.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa proses korosi dikontrol oleh proses difusi. Ditemukan bahwa laju korosi tertinggi berada pada larutan tanpa penambahan inhibitor dengan temperatur 500C dan laju putaran 350 rpm yaitu sebesar 109,6 mpy dan juga efisiensi inhibitor tertinggi berada pada konsentrasi 400 mg/l dengan temperatur 300C dan laju putaran 0 rpm yaitu sebesar 49,32%.
Kata Kunci—Korosi, sarang semut, Baja API 5L Grade B, Polarisasi, EIS
I. PENDAHULUAN
RA globalisai saat ini menuntut adanya perkembangan teknologi di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang, salah satunya pada industri logam. Masalah yang sering ditimbulkan ialah korosi, yang merupakan pembusukan, atau merusaknya suatu material logam yang dihasilkan akibat dari reaksi dengan lingkungannya [1]. Hal ini tentunya tidak dapat dihindari, tetapi korosi dapat diminimalisir dengan cara mengendalikan laju korosi, salah satunya dengan menambahkan inhibitor pada logam.
Inhibitor umumnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan organik maupun anorganik. Sudah banyak inhibitor anorganik yang digunakan dalam industri saat ini seperti pada cooling tower water ataupun sweetening amine solutions. Senyawa yang biasa digunakan pun seperti fosfat, kromat, silikat dan sebagainya. Walaupun banyak synthetic compuond (inhibitor bahan anorganik) yang menunjukkan antikorosi yang baik, kebanyakan bahan anorganik yang digunakan mengandung kadar racun yang tinngi yang berbahaya bagi kesehatan manusia maupun lingkungan sekitar.
Inhibitor ini dapat menyebabkan kerusakan secara permanen
maupun tidak yang berpengaruh pada sistem organ tubuh seperti liver (hati) atau mengganggu proses biokimia ataupun mengganggu sistem kerja enzime pada beberapa bagian tubuh [2], [3].
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju korosi diantaranya adalah faktor gas terlarut, faktor bakteri pereduksi (Sulfat Reducing Bacteria), faktor padatan terlarut, faktor agitasi, faktor pH larutan (media korosif) dan faktor temperatur [4].
Jika pH larutan semakin turun, maka akan meningkatkan aktivitas dari ion H+ yang secara tidak langsung akan mempercepat kinetika korosi [5]. Sedangkan dengan naiknya temperatur uji maka efisiensi inhibisi akan semakin menurun [6]. Dan untuk faktor agitasi, semakin cepat laju putaran maka semakin tinggi pula laju korosinya [7].
Telah diteliti sebelumnya bahwa untuk material pipa yaitu baja karbon API 5L Grade B dengan menggunakan inhibitor organik sarang semut memiliki efisiensi inhibisi terbesar pada konsentrasi inhibitor 400 mg/l dan efisiensi dari sarang saemut terkecil berada pada konsentrasi 100 mg/l [8]. Media yang digunakan ialah larutan NaCl 3,5%. Menurut Andi dkk, NaCl pada konsentrasi 3,5% digunakan karena memiliki konduktivitas yang tinggi dan nilai laju korosi tertinggi dari range 0-4%. Pada penelitian ini akan digunakan ekstrak sarang semut sebagai inhibitor dengan menggunakan baja karbon API 5L Grade B pada lingkungan NaCl 3,5 % dengan variasi temperatur dan agitasi.
II. URAIANPENELITIAN A. Bahan Penelitian
Penelitian ini menggunakan material Baja API 5L grade B yang telah di preparasi hingga membentuk spesimen tafel yang sudah di resin dengan epoxy resin, elektrolit NaCl 3,5%, dan inhibitor yang berasal dari ekstrak sarang semut yang menggunakan bantuan ethanol sebagai pelarut.
B. Alat Penelitian
Alat rotary evaporatordigunakan untuk proses ekstraksi sarang semut dengan metode maserasi. Sedangkan untuk
Studi Inhibisi Sarang Semut (Myrmecodia pendans) Sebagai Inhibitor Ramah Lingkungan Dengan Variasi Temperatur Dan Agitasi Pada Material API 5
L Grade B Dalam Larutan NaCl 3,5%
Dewi Isniyati, Sulistijono
Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: [email protected]
E
pengujian polarisasi potensiodinamik dan EIS digunakan alat jenis Versastat 4 dengan software versa studio.
C. Preparasi Spesimen
Material yang digunakan pada penelitian ini ialah API 5L Grade B. Spesimen dipotong dan kemudian di hubungkan ke kawat tembaga yang telah dibungkus plastik dan di moulding dengan resin epoxy. Setelah itu, material di amplas bagian permukaannya dengan kertas gosok 80,200,400,600, 800, 1000 dan 1200.
D. Preparasi Ekstrak Sarang Semut
Tanaman sarang semut pertama-tama mengalami proses pemotongan hingga beberapa bagian. Kemudian dikeringkan dengan cara diangin-angin selama 4 hari dan di oven pada temperatur 400C selama ± 1 jam untuk menghilangkan kelembapan yang tersisa dan setelah itu didapatkan sarang semut yang kering dan bebas dari kandungan air. Setelah kering, sarang semut dihancurkan hingga menjadi serbuk dengan bantuan blender. Kemudian dilakukan proses maserasi yaitu cara ekstraksi dengan langkah awal merendam serbuk sarang semut dalam larutan ethanol 80%. Setelah direndam selama minimal 24 jam, maka hasil rendaman disaring dengan menggunakan kertas saring dan dimasukkan ke tabung erlenmeyer melalui corong yang dilapisi kertas saring. Setelah itu, hasilnya diletakkan di labu dan siap untuk dievaporasi menggunakan alat rotary evaporator untuk menguapkan pelarut .
E. Analisis
Untuk mengetahui laju korosi, efisiensi inhibitor dan mekanisme inhibisi setelah semua bahan telah siap digunakan alat Versastat 4 dengan software versastudio yang nantinya akan menampilkan hasil dari pengujian polarisasi potensiodinamik dan EIS. Kemudian untuk pengujian EIS digunakan program tambahan yaitu Zview untuk menganalisa hasil parameter kinetika elektrokimia.
III. DATADANPEMBAHASAN A. Polarisasi Potensiodinamik
Hubungan laju korosi terhadap laju putaran
Untuk mempelajari pengaruh laju putaran terhadap korosi baja API 5L Grade B dilakukan pada agitasi 0 rpm, 60 rpm dan 350 rpm. Dari variasi agitasi yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan variasi pola aliran dimana untuk laju putaran 0 rpm merupakan aliran laminar, untuk laju putaran 60 rpm merupakan aliran transisi dan laju putaran 350 rpm menunjukkan aliran turbulen. Hasil dari pengujian polarisasi baja karbon pada lingkungan NaCl 3,5 % tanpa penambahan inhibitor pada temperatur 300C dengan 3 variabel laju rotasi tanpa penambahan inhibitor dapat dilihat pada gambar 1 yang menunjukkan kurva polarisasi cenderung menggeser rapat arus korosi (Icorr) ke arah lebih positif dimana menyebabkan pergeseran kurva ke kanan.
Gambar. 1. Kurva Polarisasi Potensiodinamik Pada Temperatur 300C dengan 3 Variasi Laju Putaran Tanpa Penambahan Inhibitor
Tabel 1 menunjukkan rapat arus korosi (Icorr) yang semakin meningkat. Hasil pengukuran Icorr diperoleh dari tafel fit pada program versastudio, dimana setelah di tafel fit diperoleh hasil potensial korosi, rapat arus korosi, betha anodik dan betha katodik.
Tabel1.
Hubungan Laju Putaran Dengan Hasil Polarisasi Tanpa Penambahan Inhibitor Pada Temperatur 300C
Laju Putaran (rpm)
Reynold
Number Corrosion Potential (mV)
Current Density (µA/cm2)
Corrosion Rate (mpy)
0 0 -553.056 249.788 74.125
60 2791 -455.728 306.58 90.978
350 16271 -520.807 310.79 92.228
Peningkatan laju putaran meningkatkan nilai rapat arus korosi dan juga meningkatkan laju korosi. Bisa dikatakan bahwa laju putaran berbanding lurus dengan rapat arus dan laju korosi.
Hubungan laju korosi terhadap temperatur
Untuk mempelajari pengaruh temperatur terhadap laju korosi baja dilakukan pada tekanan atmosfir dan laju putaran tetap yaitu 0 rpm. Temperatur yang digunakan ialah 300C, 400C dan 500C. Hasil pengujian disajikan dalam gambar 2 dimana terlihat nilai rapat arus yang semakin positif yang artinya menggeser kurva polarisasi ke kanan. Hal ini menunjukkan laju korosi baja yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur. Berdasarkan penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa laju korosi naik sejalan dengan meningkatnya temperatur, hal ini disebabkan oleh mobilitas ion-ion dalam larutan semakin tinggi yang berdampak pada serangan terhadap permukaan baja karbon makin luas [9]. Semakin tinggi temperatur media mengakibatkan laju reaksi pada situs anoda dan katoda meningkat. Di katoda laju reduksi H+ meningkat sejalan dengan meningkatnya temperatur, hal ini tentu dapat meningkatkan laju oksidasi logam anodik.
Gambar. 2. Kurva Polarisasi Potensiodinamik Pada Laju Putaran 0 rpm dengan 3 Variasi Temperatur Tanpa Penambahan Inhibitor
Laju korosi baja API 5L Grade B dengan adanya inhibitor sarang semut pada temperatur yang meningkat relatif beragam.
Peningkatan temperatur menyebabkan tingkat energi molekul pada permukaan logam mengalami persaingan antara gaya adsorpsi dengan gaya desorpsi dari logam [10]. Laju korosi yang meningkat dapat diketahui dari persamaan Arhenius tentang energi pengaktifan seperti yang ditunjukkan pada persamaan (1).
K = A exp [- ] (1) dimana K menyatakan tetapan laju reaksi, A adalah faktor pra-eksponensial, Ea adalah energi aktivasi, R dan T ialah tetapan gas dan temperatur mutlak. Dengan mengubah persamaan kedalam logaritma akan diperoleh persamaan berikut:
ln K = ln A - (2) Oleh karena laju korosi ditentukan oleh harga Icorr maka k = Icorr sehingga persamaannya menjadi:
ln Icorr = ln A - (3) Data energi pengaktifan (Ea) proses inhibisi korosi sarang semut terhadap baja dalam larutan NaCl 3,5% dapat diperoleh dengan grafik hubungan antara logaritma kerapatan arus (log Icorr) terhadap suhu (dalam 1000/T). Kemiringan grafik linear log Icorr terhadap 1000/T merupakan nilai yang sebanding dengan nilai energi pengaktifan, Ea, dibagi dengan tetapan gas ideal, R (dalam 8,314 kJ/mol.K) [11]. Berdasarkan gambar 3 diperoleh bahwa nilai energi pengaktifan, Ea untuk tanpa penambahan inhibitor, penambahan inhibitor 100 mg/l dan penambahan sarang semut 400 mg/l masing-masing sebesar 9,4347 kJ/mol, 7,26061 kJ/mol dan 18,339 kJ/mol.
berdasarkan nilai energi pengaktifan (Ea) dapat diketahui bahwa energi pengaktifan tanpa penambahan inhibitor sarang semut bernilai 9,4347 lebih tinggi daripada nilai energi
aktivasi dari penambahan inhibitor sarang semut 100 mg/l. Hal ini menunjukkan proses korosi baja karbon dalam larutan NaCl 3,5% dengan penambahan inhibitor sarang semut lebih cepat terjadi daripada larutan elektrolit tanpa penambahan inhibitor. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada, karena menunjukkan bahwa dengan penambahan inihibitor 100 mg/l menyebabkan peningkatan laju korosi, padahal seharusnya penambahan inhibitor sarang semut 100 mg/l menurunkan laju korosi.
Gambar. 3. Hubungan ln Icorr terhadap 1000/T Baja API 5L Grade B Dalam Larutan Uji
Hubungan laju korosi terhadap konsentrasi inhibitor
Untuk mempelajari pengaruh penambahan konsentrasi inhibitor terhadap laju korosi baja API 5L Grade B dapat dilihat pada saat temperatur 300C dan laju putaran 0 rpm.
Gambar. 4. Hubungan Antara Konsentrasi Inhibitor Dengan Laju Korosi Jika dilihat dari gambar 4 bahwa laju korosi akan menurun seiring dengan bertambahnya konsentrasi inhibibtor sarang semut. Grafik pada gambar 4 ini berbanding terbalik dengan grafik pada gambar 5 yang menunjukkan peningkatan efisiensi inhibitor terhadap kenaikan konsentrasi inhibitor. dapat disempulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi inihibitor akan
menurunkan laju korosi (mpy) dan akan meningkatkan efisiensi inhibitor (%).
Gambar 5. Hubungan Antara Konsentrasi Inhibitor Dengan Efisiensi Inhibitor
B. Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS)
Pengujian EIS dilakukan untuk mengetahui sifat inhibisi ekstrak sarang semut baja karbon didalam lingkungan NaCl 3,5% dan ditampilkan dalam bentuk Nyquist plot berdasarkan model rangkaian listrik yang biasa disebut equivalent circuit yang diperlihatkan pada gambar 6.
Gambar 6. Model Sirkuit Pengujian EIS
Rangkaian listrik equivalent yang terjadi pada Baja API 5L Grade B dengan adanya penambahan inhibitor sarang semut diperlihatkan oleh gambar 6. Dalam rangkaian listrik equivalent tersebut, penambahan sarang semut membentuk suatu lapisan protektif yang terjadi pada permukaan baja.
Lapisan yang terbentuk diakibatkan oleh adsorpsi ekstrak tumbuhan sarang semut pada permukaan logam mengakibatkan transfer muatan menuju larutan ruah tertahan oleh lapisan molekul-molekul tunggal dari sarang semut sehingga laju korosi dapat dihambat. Lapisan protektif yang terbentuk menunjukkan lapisan protektif yang sempurna, di bawah lapisan protektif yang terbentuk sempurna terjadi korosi yang dikendalikan oleh kinetika dan difusi terbatas secara bersamaan akibat adanya spesi-spesi yang terjebak diantara lapisan protektif dan permukaan logam sebelum lapisan terbentuk [12].
Hubungan Impedansi terhadap laju putaran
Grafik yang dihasilkan dari hasil pengujian EIS di export ke software Zview. Kemudian dilakukan perangkaian listrik seperti gambar 4.10 untuk menentukan jenis-jenis impedansi yang terjadi pada saat kapasitor elektrokimia bekerja yaitu dengan memilih jenis elemen sirkuit yang cocok dengan sistem. Pilihan jenis elemen sirkuit yang ada antara lain R-Resistor, C-Kapasitor, L-Induktor, CPE-Constant Phase element, GE-Gerischer Element, W-Warburg Element, DE-
Distributor Element, DX-Extanded Element, Ø-Theta Variable, F-Element Follower dan lain-lain. Pada gambar 7 merupakan hasil plot Nyquist pada temperatur 300C dengan 3 laju putaran tanpa penambahan inhibitor.
Gambar 7. Grafik Nyquist Pada Temperatur 300C Dengan 3 Variasi Laju Putaran Tanpa Inhibitor
Dari grafik nyquist pada gambar 7 Menunjukkan grafik yang selalu mengarah keatas ke arah sumbu vertikal, bisa dilihat bahwa proses pengkorosian di kontrol oleh proses difusi. Seperti yang diketahui bahwa difusi didefinisikan sebagai berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah [13]. Dalam kasus ini, zat yang berada dalam pelarut yang dimaksudkan ialah ion-ion. Bagian yang mempunyai konsentrasi tinggi yaitu larutan NaCl 3,5% dan bagian yang mempunyai konsentrasi rendah yaitu permukaan logam sehingga reaksi difusi yang berlansung yaitu ion-ion yang berasal dari larutan elektrolit masuk menuju permukaan logam dan mengkorosi permukaan logam.
Tabel 2.
Hasil fitting EIS pada temperatur 300C tanpa penambahan inhibitor
Parameter Agitasi
0 rpm 60 rpm 350 rpm
Rs (Ω. cm2) 8,511 8,701 8,58
Rct (Ω.cm2) 56,79 49 30,32
CPE1-T 0,01096 0,010149 0,019352 CPE1-P 0,55736 0,64765 0,5595 Rct 1 (Ω.cm2) 17,55 16,11 15,38
W-R 172,7 184 60,3
W-T 7,283 7,273 1,616
W-P 0,62063 0,63103 0,3722
CPE2-T 0,026801 0,02675 0,24442
CPE2-P 1,415 1,477 1,717
Tabel 2 menunjukkan nilai Rct yang mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya laju putaran. Dimana nilai Rct
berbanding lurus dengan diameter setengah lingkaran dari grafik Nyquist dan berbanding terbalik dengan nilai laju korosi. Dengan kata lain, menurunnya nilai Rct dimana pada laju putaran 0 rpm sebesar 56,79 Ω.cm2 turun menjadi 30,32 Ω.cm2 akan meningkatkan laju korosi. Hal ini sesuai dengan tabel 4.2 dimana dengan meningkatnya laju putaran juga akan meningkatkan laju korosi.
Hubungan Impedansi terhadap temperatur
Gambar 8.Grafik Nyquist pada laju putaran 0 rpm dengan 3 variasi temperatur tanpa penambahan inhibitor
Grafik gambar 8 juga menunjukkan trend yang sama dengan gambar 7 dengan grafik yang selalu mengarah keatas yang artinya proses korosi dikontrol oleh proses difusi.
Tabel 3.
Hasil fitting EIS pada laju putaran 0 rpm tanpa penambahan inhibitor Parameter
Temperatur
300C 400C 500C
Rs (Ω. cm2) 8,511 7,579 10,4 Rct (Ω.cm2) 56,79 52,9 49,89
CPE1-T 0,01096 0,011627 0,007176 CPE1-P 0,55736 0,52679 0,61107 Rct 1 (Ω.cm2) 17,55 7,468 1,63E-08
W-R 172,7 175,7 368,4
W-T 7,283 6,982 19,32
W-P 0,62063 0,64423 0,57004
CPE2-T 0,026801 0,017843 0,003609
CPE2-P 1,415 1,493 1,529
Tabel 3 juga menunjukkan trend yang sama dengan tabel hasil nyquist sebelumnya dengan nilai Rct untuk temperatur 300C yaitu sebesar 56,79 Ω.cm2 dan menurun pada temperatur 400C sebesar 52,9 Ω.cm2 dan terendah pada temperatur tertinggi (500C) yaitu sebesar 49,89 Ω.cm2. Dengan berkurangnya nilai Rct juga mengurangi diameter setengah
lingkaran nyquist yang artinya meningkatkan nilai laju korosi.
Hubungan Impedansi terhadap konsentrasi inhibitor
Grafik nyquist plot pada gambar 9 juga bisa dilihat juga bahwa masih menunjukkan pola yang sama yaitu keatas menuju vertikal dimana proses pengkorosian di kontrol oleh proses difusi dimana ion-ion yang berada didalam larutan akan masuk menuju permukaan logam sehingga bereaksi dengan logam dan akhirnya menyebabkan korosi. Proses korosi ini berada dibawah lapisan protektif yang terjebak diantara lapisan protektif dan permukaan logam sebelum lapisan terbentuk [12]. Lapisan protektif terbentuk pada permukaan logam melalui proses adsorpsi sarang semut pada permukaan logam yang mengakibatkan transfer muatan dari elektrolit yang bersifat korosif akan terhambat.
Gambar 8. Grafik Nyquist pada temperatur 300C dan laju putaran 0 rpm Jika dilihat dari tabel 4 bisa dilihat bahwa dengan penambahan inhibitor akan meningkatkan nilai Rct dengan nilai Rct tanpa penambahan inhibitor sebesar 56,79 Ω.cm2 dan dengan penambahan inhibitor sebanyak 400 mg/l sebesar 60,9 Ω.cm2. dengan meningkatnya nilai Rct maka akan membesarkan diameter setengah lingkaran nyquist yang akhirnya dapat menurunkan laju korosi. Peningkatan nilai Rct
tersebut memperlihatkan bahwa hambatan yang disebabkan oleh transfer muatan dari dari larutan elektrolit ke elektroda kerja (spesimen). Jadi, dari nilai Rct bisa diketahui bahwa dengan penambahan inhibitor sarang semut akan menurunkan laju korosi dimana laju korosi terendah berada pada konsentrasi 400 mg/l dengan nilai Rct terkecil.
Rs merupakan hambatan yang disebabkan oleh larutan.
Setelah melewati Rs, terdapat Rct yang memberikan tahanan transfer muatan dari larutan elektrolit ke elektroda kerja sehingga dengan membesarnya nilai Rct pada tabel 4 menunjukkan transfer muatan menuju larutan ruah tertahan oleh lapisan molekul dari sarang semut sehingga laju korosi dapat dihambat karena terbentuknya lapisan protektif. Dengan adanya impedansi Warburg (W) menunjukkan dibawah lapisan protektif yang terbentuk, terjadi korosi yang dikendalikan oleh kinetika dan difusi.
Tabel 4.
Hasil fitting EIS pada temperatur 300C dan laju putaran 0 rpm dengan penambahan inhibitor
Parameter Konsentrasi Inhibitor 0 mg/l 100 mg/l 400 mg/l Rs (Ω. cm2) 8,511 7,952 8,082 Rct (Ω.cm2) 56,79 58,62 60,9
CPE1-T 0,01096 0,009721 0,008966 CPE1-P 0,55736 0,59957 0,61977 Rct 1 (Ω.cm2) 17,55 16,37 7,005
W-R 172,7 183,5 244,1
W-T 7,283 8,148 21,4
W-P 0,62063 0,59665 0,4532
CPE2-T 0,026801 0,028271 0,018054
CPE2-P 1,415 1,404 1,055
Dari pola gambar grafik nyquist yang terbentuk pada penelitian kali ini juga dapat disimpulkan bahwa mekanisme inhibisi berkerja dengan cara adsorpsi, dimana permukaan logam yang bermuatan positif menyerap muatan negatif dari inhibitor yang diberikan [14] yang nantinya akan mengahasilkan lapisan tipis (pelindung) yang dapat menghambat laju korosi. Dibawah lapisan pelindung ditemukan adanya proses difusi yang mengontrol proses korosi.
C. Analisa pH Larutan
Hasil pengujian pH larutan tanpa dan dengan penambahan inhibitor tabel 5
Tabel 5.
Data pH pada konsentrasi 0 mg/l, 100 mg/l dan 400 mg/l Konsentrasi Rata-rata pH
0 mg/l 6,6
100 mg/l 6,03
400 mg/l 5,28
Jika dilihat dari nilai pH pada tabel 5 dengan meningkatnya konsentrasi inhibitor sarang semut maka akan menurunkan pH. Hal ini sesuai teori bahwa tumbuhan sarang semut mengandung fenol dimana fenol bersifat asam karena dapat melepaskan ion H+. Jadi dengan bertambahnya inhibitor sarang semut akan menurunkan pH ke lingkungan yang lebih asam.
IV. KESIMPULAN
Hasil penelitian inhibisi sarang semut terhadap laju korosi baja API 5L Grade B dengan variasi temperatur dan agitasi menghasilkan beberapa kesimpulan, yakni:
1) Penambahan ekstrak tumbuhan sarang semut sebagai inhibitor ke dalam larutan NaCl 3,5% terbukti dapat menurunkan laju korosi yang terjadi pada API 5L Grade B dengan variasi temperatur dan agitasi dapat meningkatkan laju korosi, dimana laju korosi tertinggi berada pada
temperatur 500C dengan agitasi 350 rpm tanpa penambahan inhibitor yaitu sebesar 109,6 mpy.
2) Efisiensi tertinggi berada pada temperatur 300C dan laju putaran 0 rpm dengan konsentrasi inhibitor 400 mg/l yaitu sebesar 49,32%.
3) Mekanisme inhibisi sarang semut dengan cara adsopsi dan proses korosinya dikontrol oleh proses difusi yang ditunjukkan oleh grafik Nyquist.
DAFTARPUSTAKA
[1] NACE Standard RP0169-2002 Item No. 21001. “Control Of External Corrosion On Underground Or Submerged Metallic Piping System”.
NACE International Standard Recommended Practice (2002) 2.
[2] P.B. Raja, M.G. “Natural Produscts as Corrosion Inhibitor for Metals in Corrosive Media – a review” Mater. Lett. 62 (2008) 113-116.
[3] F.S. de Souza, A. Spinelli. “Caffeic Acid as a Green Inhibitor For Mild Steel,” Corros Sci 51 (2009) 642-649.
[4] M.I. Stewart, “Basic Gas Technology For CPI Engneers and Senior Field Personel,” International Training and Development, CPI (1997) [5] D. Iandiano, “Studi Laju Korosi Baja Karbon Untuk Pipa Penyalur
Proses Produksi Gas Alam yang Mengandung Gas CO2 Pada Lingkungan NaCl 0,5;1,5;2,5;3,5%,” Universitas Indonesia (2011) [6] D. Firmansyah, “Studi Inhibisi Korosi Baja Karbon Dalam Larutan
Asam 1 M HCl Oleh Ekstrak Daun Sirsak,” Universitas Indonesia (2011).
[7] A. Rustandi, “Studi Penggunaan Campuran Natural Green Corrosion Inhibitor Piper Betle dan Green Tea Untuk Proteksi Korosi Material Baja API 5L X52 Didalam Lingkungan 3,5% NaCl dan Pada Kondisi Turbulen,” Universitas Indonesia (2012).
[8] A. Pradityana, “Aplikasi Sarang Semut Sebagai Inhibitor Korosi Pada Baja API 5L Grade B Dalam Media 3,5% NaCl,” (2013).
[9] A. Wahyuningsih, Y. Sunarya, S. Aisah, “Metenamina Sebagai Inhibitor Korosi Baja Karbon Dalam Lingkungan Sesuai Kondisi Pertambangan Minyak Bumi,” Jurnal Sains dan Teknologi Komia. ISSN 2087-7412, (2010, April) : 17-29.
[10] N.O. Eddy, “Ethanol Extract of Musa peel as an Eco-Friendly Inhibitor for Corrosion of Mild Steel in H2SO4 ,” Journal Advance in Natural and Applied Science. 2, (2008), 35-42
[11] M.S. Morad, A.M. Kamal, “A New Class of Acid Corrosion Inhibitor for Mild Steel,” Corros.Sci., 48:11 (2006), 3398-3412.
[12] Y. Sunarya, “Mekanisme dan Efisiensi Inhibisi Sistein Pada Korosi Baja Karbon Dalam Larutan Elektrolit Jenuh Karbon Dioksida,”
Disertasi doctor pada Department Kimia ITB (2008) – belum dipublikasikan.
[13] E.E. Stansburry, R.A. Buchanan, “Fundamentals Of Electrochemical Corrosion,” ASM International (2000).
[14] R.W. Revie, J.Wiley, Sons, “Uhlig’s Corrosion Handbook, 3rd Edition”
ISBN 978-0-470-08032-0 (2011, Maret).