SKRIPSI
OLEH :
FUAD ALFATH SIAGIAN 150301249
AGROTEKNOLOGI – AGRONOMI
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020
SKRIPSI
OLEH :
FUAD ALFATH SIAGIAN 150301249
AGROTEKNOLOGI – AGRONOMI
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk mendapat gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
Adapun judul dari skripsi ini adalah “Pengaruh waktu penyimpanan dalam media simpan serbuk arang kayu terhadap viabilitas dan vigor benih cengkeh (Syzygium aromaticum L.) ” yang merupakan sebagai salah satu syarat untuk mendapat gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya yang telah berjuang dalam membimbing dan mengajarkan saya sampai saat ini, saya juga mengucapkan terima kasih kepada bapak Ir. Jonis Ginting, MS selaku ketua komisi pembimbing dan bapak Dr. Ir. T Irmansyah, MP selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak membatu penulis dalam memberikan saran dan arahan dalam kesempurnaan skripsi ini.
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangannya,oleh karena itu, penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Agustus 2020 Penulis
ABSTRACT
ABSTRACT FUAD ALFATH SIAGIAN : The Effect of Storage Time In Wood Charcoal Powder Media On Viability and Vigor Clove Seeds (Syzygium aromaticum L. ) guided by JONIS GINTING and T. IRMANSYAH. This research aims to find out the best storage time in wood charcoal powder media on clove seeds (Syzygium aromaticum L.). The study was conducted from April 2020 to July 2020 at Rumah Bunga, Faculty of Agriculture, University of North Sumatra Medan, using a random design complete with one treatment factor and three replays. The factor is the length of storage of wood charcoal powder with 4 levels namely: 0 (control) , 2 weeks, 4 weeks, and 6 weeks. Observation parameters are germination percentage, germination power, germination rate, and vigor index.
The results showed the length of storage in wood charcoal powder had a noticeable effect on the parameters of germination percentage, germination power, and vigor index but had an unreal effect on the germination rate.
Keywords : Clove Seeds, Save Media, Shelf Period, Viability, Vigor
ABSTRAK
ABSTRAK FUAD ALFATH SIAGIAN : Pengaruh Waktu Penyimpanan Dalam Media Serbuk Arang Kayu Terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Cengkeh (Syzygium aromaticum L. ) dibimbing oleh JONIS GINTING dan T.
IRMANSYAH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu penyimpanan terbaik dalam media serbuk arang kayu pada benih cengkeh (Syzygium aromaticum L.). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2020 sampai Juli 2020 di Rumah Bunga, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan, menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktornya yaitu lama penyimpanan serbuk arang kayu dengan 4 taraf yaitu : 0 (control) , 2 minggu, 4 minggu, dan 6 minggu. Parameter pengamatan adalah persentase perkecambahan, daya perkecambahan, laju perkecambahan, dan indeks vigor. Hasil penelitian menunjukkan lama penyimpanan di serbuk arang kayu berpengaruh nyata terhadap parameter persentase perkecambahan, daya perkecambahan, dan index vigor namun berpengaruh tidak nyata terhadap parameter laju perkecambahan.
Kata Kunci : Benih Cengkeh, Media Simpan, Periode Simpan, Viabilitas, Vigor.
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Rantau Prapat, Labuhan Batu pada tanggal 11 Oktober 1997 anak kedua dari lima bersaudara dari ayahanda M Yusuf Siagian dan ibunda Diah Aulidan Harahap. Tahun 2015 penulis lulus dari MA Negeri 1 Medan dan pada tahun 2015 masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Mahasiswa Mandiri (SMM). Penulis memilih minat Agronomi, Program Studi Agroteknologi.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam kegiatan organisasi di HIMAGROTEK FP USU, HMI FP USU dan FORMATANI. Pada tahun 2018 penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PTP Nusantara III Kebun Sei SIlau, kabupaten Asahan, Sumatera Utara dan pada tahun 2019 Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Kelurahan Pematang Pasir, kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRACT ... ii
ABSTRAK ... iii
RIWAYAT HIDUP ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 3
HipotesisPenelitian ... 3
Kegunaan Penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Cengkeh ... 4
Syarat Tumbuh Iklim ... 5
Tanah ... 6
Cengkeh ... 6
Periode Penyimpanan Tanaman Cengkeh ... 8
Media Simpan Serbuk Arang Kayu ... 9
Viabilitas dan VigorBenih ... 10
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan ... 12
Bahan dan Alat ... 12
MetodePenelitian ... 12
PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Benih ... 14
Persiapan Media Simpan ... 14
Penempatan Benih dalam Media Simpan ... 14
Penanaman ... 15
Pemeliharaan ... 15
Variabel Pengamatan ... 16
Kadar Air ... 16
PersentasePerkecambahan(%) ... 16
Daya Perkecambahan(%) ... 16
Laju Perkecambahan (hari) ... 16
Indeks Virgor(hari) ... 17
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 18
Pembahasan ... 21
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 24
Saran ... 24
DAFTAR PUSTAKA ... 25
LAMPIRAN ... 27
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Persentase Perkecambahan benih cengkeh pada perlakuan lama penyimpanan dalam media serbuk arang kayu... 18 2. Daya Perkecambahan benih cengkeh pada perlakuan lama penyimpanan
dalam media serbuk arang kayu ... 19 3. Laju perkecambahan benih cengkeh pada perlakuan lama penyimpanan
dalam media serbuk arang kayu ... 19 4. Indeks Vigor benih cengkeh pada perlakuan lama penyimpanan dalam
media serbuk arang kayu ... 20
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Deskripsi Varietas Tanaman Cengkeh ... 27
2. Jadwal Kegiatan Penelitian ... 28
3. Rancangan Biaya Penelitian ... 29
4. Bagan Penanaman Dalam Bak Kecambah ... 30
5. Bagan Penelitian... 31
6. Pengering Anginan Benih Cengkeh ... 32
7. Penempatan Benih Dalam Media Simpan... 33
8. Penanaman Benih ... 34
9. Pemeliharaan Benih Cengkeh ... 35
10. Kecambah Benih Setelah 30 Hari Setelah Tanam ... 36
11. Data Persentase Perkecambahan ... 37
12. Sidik Ragam persentase Perkecambahan Benih Cengkeh ... 37
13. Data Daya Perkecambahan ... 37
14. Sidik Ragam Daya Perkecambahan Cengkeh ... 37
15. Data Laju Perkecambahan... 38
16. Sidik Ragam Laju Perkecambahan Benih Cengkeh... 38
17. Data Index Vigor ... 38
18. Sidik Ragam Indeks Vigor Benih Cengkeh ... 38
PENDAHULUAN Latar Belakang
Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) merupakan salah satu komoditas pertanian yang tinggi nilai ekonominya. Komoditi Cengkeh banyak digunakan dibidang industri sebagai bahan pembuatan rokok kretek. Cengkeh dapat pula dimanfaatkan dalam industri kosmetik dan bahkan minyak cengkeh dipergunakan pula untuk bahan pelengkap kebutuhan. (Stanisia,2016).
Luas areal pengembangan cengkeh Sumatera Utara saat ini mencapai 3.347,17 ha, tersebar di 17 kabupaten/kota yaitu Samosir, Simalungun, Padang Sidempuan, Deli serdang, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Nias, Nias Utara, Nias Barat, Gunung Sitoli, Mandailing Natal, Labuhan Batu Selatan, Karo, Deli Serdang, Dairi, Nias Selatan, dan Tapanuli Selatanyang dikelola oleh 5.270 petani cengkeh atau bisa disebut perkebunan rakyat. Dengan luasan tersebut diperoleh produksi rata-rata sebesar 450,49 kg/ha/tahun. (Disbun Sumut,2018).
Masalah yang dihadapi dalam pengadaan benih cengkeh secara generatif antara lain karakteristik benih cengkeh yang tidak dapat disimpan lama karena bersifat rekalsitran. Karena sifat itulah yang menyebabkan menurunnya viabilitas yang cepat dari benih cengkeh.Hal ini menimbulkan kesulitan jika benih harus di kirim dari suatu tempat produksi benih ke tempat konsumen benih sehingga kondisi tersebut memerlukan adanya penanganan benih atau teknik penyimpanan yang tepat agar viabilitas benih masih dapat dipertahankan.(Marselina, et all, 2018).
Benih rekalsitran mempunyai daya simpan yang relatif singkat dari beberapa hari sampai beberapa minggu, serta peka terhadap penurunan kadar air dibawah 30% dan suhu penyimpanan dibawah 150C. Berbeda dengan benih
orthodok yang daya simpanya dapat mencapai beberapa tahun, serta tahan terhadap pengeringan sampai kadar air benih 5% dan suhu penyimpanan rendah(50C). Mengingat daya simpan benih rekalsitran relatif singkat, maka upaya
meningkatkan daya simpan benih rekalsitran terus dilakukan (Sukarman dan Melati, 2015).
Masalah utama pada penyimpanan benih rekalsitran adalah tidak dapat dikeringkan di bawah kadar air kritis, mudah berkecambah dan tidak toleran terhadap suhu rendah. Hal tersebut menjadi masalah dalam pemibibitan terutama untuk benih yang akan dijadikan bibit. Penyimpanan benih yang baik akan mempertahankan vigor maupun viabilitas benih tetap tinggi sampai tiba saatnya ditanam (Pratiwi, et all. 2011).
Lodong, et all.(2015) menyatakan bahwa usaha untuk mempertahankan viabilitas benih rekalsitran agar tetap optimal, yaitu dengan menyimpan benih pada wadah dan media simpan yang berkelembapan tinggi. Salah satu jenis media simpan yang dapat menjaga kelembapan adalah serbuk arang. Arang memiliki sifat higroskopis sehingga mampu menjaga kesetimbangan kelembapan udara, memiliki kemampuan untuk menyerap uap dan mampu menjaga kelembapan nisbi ruang penyimpanan sehingga penurunan viabilitas benih dapat diperlambat.
Cengkeh yang merupakan benih rekalsitran dapat berkecambah pada usia 21 sampai 30 hari setelah di kecambahkan sehingga ketika tanaman cengkeh sudah layak panen tanaman cengkeh harus segera diberi perlakuan agar kadar air tanaman cengkeh tidak hilang. Berdasarkan waktu perkecambahan tersebut yang mendasari peneliti untuk memilih waktu penyimpanan selama 2 minggu, 4 minggu, dan 6 minggu untuk melihat viabilitas dan vigor benih cengkeh.
Sementara untuk Indonesia yang memiliki iklim tropis sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan tanaman cengkeh masih belum dijadikan prioritas dalam pembudidayaannya. Sehingga, menarik minat peneliti untuk mengetahui viabilitas dan vigor benih cengkeh yang akandiperluas areal tanamnya ke daerah lain dengan harapan dapat tumbuh maksimal seperti di daerah asalnya.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu penyimpanan terbaik dalam media serbuk arang kayu pada benih cengkeh (Syzygium aromaticum L.).
Hipotesis Penelitian
Waktu penyimpanan dalam media serbuk arang kayu dapat mempertahankan viabilitas dan vigor benih cengkeh (Syzygium aromaticum L.).
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi kepada masyarakat serta petani cengkeh dan sebagai salah satu syarat untuk mendapat gelar sarjana di program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Cengkeh
Klasifikasi tanaman cengkeh adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub-Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Marga : Syzygium Spesies : Syzygium aromaticum ; Syzygium aromaticum L.
Sistem akarnya tunggang,akar ini merupakan akar pokok (berasal dari akar lembaga) yangkemudian bercabang-cabang.Bentuk akar tunggangnya termasuk berbentuk tombak (fusiformis) padaakar tumbuh cabang yang kecil-kecil.Akar kuat sehingga bisa bertahan sampai puluhan bahkanratusan tahun.Akarnya biasanya mampu masuk cukup dalam ke tanah. Perakaran pohon cengkehrelatif kurang berkembang,tetapi bagian yang dekat permukaan tanah banyak tumbuh bulu akar.Buluakar tersebut berguna untuk menghisap makanan. (Ali,2017).
Batang dari pohon cengkeh biasanya memiliki panjang 10 -15 m.Batang berbentuk bulat(teres), permukaan batangnya kasar biasanya memiliki cabang- cabang yang dipenuhi banyak rantingatau dapat dikatakan lebat rantingnya.arah tumbuh batangnya tegak lurus (erectus) dan carapercabangan dari rantingnya dapat dikatakan monopodial karena masih dapat dibedakan antara batangpokok dan cabangnya.Lalu arah tumbuh cabangnya adalah condong ke atas (patens).Selain itu pohon mcengkeh dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun.Tangkainya kira-kira 1 - 2,5 cm. (Ali,2017).
Daun cengkeh tidak termasuk daun lengkap karena memiliki tangkai daun (petiolus), helaiandaun (lamina), namun tidak memiliki upih/pelepah daun (vagina).Daunnya berbentuk berbentuklonjong dan berbunga pada bagian
ujungnya.Termasuk daun majemuk karena dalam satu ibu tangkaiada lebih dari satu daun. (Ali,2017).
Bunga cengkeh muncul pada ujung ranting daun (flos terminalis) dengan tangkai pendek danbertandan (bunga bertangkai nyata duduk pada ibu tangkai bunga).Bunga cengkeh termasuk bungamajemuk yang berbatas karena ujung ibu tangkainya selalu ditutup bunga.Bunga terdiri dari tangkai(pedicellus), ibu tangkai (pedunculus), dan dasar bunga (repectaculum).Bunga cengkeh adalah bungatunggal (unisexualis) jadi masih dapat dibedakan menjadi bunga jantan (flos masculus) dan betina(flos femineus).Dasar bunganya (repectaculum) menjadi pendukung benang sari dan putik(andoginofor). (Ali,2017).
Buah cengkeh merupakan buah semu karena ada beberapa bagian bunganya terlibat dalam pembentukan buah.Di dalam buahnya terdapat biji yang selanjutnya dipersiapkan untuk menjadi benih.Biji cengkeh terdiri atas kulit biji, endosperma, dan embrio.(Irma,2019).
Deskripsi varietas tanaman cengkeh dapat dilihat pada Lampiran 1.
Syarat Tumbuh Iklim
Iklim dengan curah hujan yang merata sepanjang tahun dengan kelembapan udara sekitar 80-90% sangat baik untuk tanaman cengkeh karena tanaman ini tidak tahan terhadap musim kemarau yang terlalu berkepanjangan.
Curah hujan yang dikehendaki pada bulan kering berkisar antara 60-80 mm per bulan atau menghendaki bulan-bulan basah selama sembilan bulan dan bulan- bulan kering selama tiga bulan dengan curah hujan berkisar antara 2.000-3.500 mm per tahun. Tanaman cengkeh tumbuh dan berproduksi pada dataran rendah,
sedangkan pada dataran tinggi tanaman cengkeh sangat lambat bahkan tidak akan berproduksi sama sekali. (Irma,2019).
Tanaman cengkeh dapat ditanam pada ketinggian 0-900 mdpl. Karena suhu rata-rata daerah penanaman berkisar antara 25-34oC. Makin tinggi tempat produksi bunga semakin rendah,namun pertumbuhan makin subur. Ketinggian tempat yang optimal untuk pembungaan tanaman cengkeh berkisar 200-600 mdpl.
(Irma,2019).
Tanah
Tanah yang sesuai adalah tanah yang gembur, lapisan olah minimal 1,5-2 m dan kedalaman air tanah lebih dari 3 m dari permukaan tanah serta tidak ada lapisan kedap air. Jenis tanah yang cocok antara lain andosol, latosol, mediteran, dan podsolikmerah. Selain jenis tanah, keasaman tanah (pH) ikut berperan dalam hal memacu pertumbuhan tanaman. Keasaman tanah yang optimum berkisar antara 5,5 – 6,5.Apabila pH tanah lebih rendah atau lebih tinggi maka pertumbuhan tanaman cengkeh akan terganggu karena penyerapan unsur hara oleh akar menjadi terhambat. (Irma,2019).
Tanaman cengkeh tumbuh dan berproduksi paling baik ditanam di tanah jenis latosol, andosol, mediteran, dan podsolik merah. Jenis tanah ini memiliki sistem drainase yang baik dan cukup gembur dengan kemiringan 20%.
(Irma,2019) Cengkeh
Tanaman Cengkeh yang ditemukan di kawasan timur Indonesia misalnya di Sulawesi Utara.Tanaman ini termasuk dalam famili Myrtaceae yang ditemukan di dataran rendah dengan ketinggian 200-900 m di atas permukaan laut. Tinggi
dari tanaman cengkeh dapat mencapai 5-10 m. Tanaman cengkeh mempunyai sifat yang khas karena semua bagian pohon mengandung minyak atsiri mulai dari akar, batang, daun sampai bunga. (Rorong, 2008).
Tanaman cengkeh adalah tanaman tropis. Unsur iklim yang cukup menentukan terhadap tingginya produktivitas tanaman cengkeh adalah curah hujan serta tanah. Curah hujan yang optimal untuk perkembangan tanaman cengkeh adalah 1500 – 2500 mm/tahun atau 2500 – 3500 mm/tahun. Tanah yang sesuai adalah tanah yang gembur, lapisan olah minimal 1,5 m dan kedalaman air tanah lebih dari 3 m dari permukaan tanah serta tidak ada lapisan kedap air.
Keasaman tanah (pH) ikut berperan dalam hal memacu pertumbuhan tanaman.
Keasaman tanah yang optimum berkisar antara 5,5 – 6,5.(Sutriyono, 2017).
Hasil tanaman cengkeh dari tahun ke tahun tidak sama, pada satu waktu hasilnya cukup tinggi dan lain waktu hasilnya rendah sekali (sangat berfluktuasi).
Oleh karena itu pada tanaman cengkeh dikenal musin panen besar dan musim panen kecil yang perbedaannya sangat tajam sekali bisa mencapai sekitar 60%.
Hal ini sangat merugikan petani cengkeh karena pendapatannya menjadi tidak stabil. Selain itu hal ini kadang-kadang menyebabkan adanya kelebihan suplai cengkeh yang menyebabkan fluktuasi harga yang sangat tajam(Nurdjannah, 2016).
Kendala teknis usaha tani cengkeh adalah masa awal produksi yang cukup panjang. Yaitu pada saat tanaman berumur 5-7 tahun, dan fluktuasi hasil yang cukup tinggi terjadi pada siklus 2-4 tahun. Tingginya produksi pada tahun tertentu biasanya diikuti oleh penurunan produksi pada satu atau dua tahun berikutnya (Agung,2018).
Periode Penyimpanan Tanaman Cengkeh (Syzygium aromaticumL.)
Berdasarkan hasil penelitian Marselina,et all.(2018) setelah periode penyimpanan benih menunjukan terjadinya penurunan viabilitas benih. Tingkat penurunan viabilitas semakin tinggi sejalan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan benih. Hal ini terlihat pada perlakuan lama penyimpanan benih cengkeh selama 40 hari (B4) yang menunjukan penurunan viabilitas benih, laju perkecambahan dan indeks vigor. Meskipun demikian tingkat penurunan viabilitas masih dapat ditekan dengan memberikan perlakuan pada proses penyimpanan benih.
Pada perlakuan lama penyimpanan benih menunjukan bahwa benih cengkeh yang langsung ditanam tanpa perlakuan penyimpanan (B0) mempunyai nilai persentase perkecambahan rata-rata 97,77%. Sedangkan pada benih yang diberi perlakuan penyimpanan, yang memiliki persentase perkecambahan yang lebih tinggi yakni benih yang disimpan selama 10 hari (B1) dengan nilai persentase perkecambahan rata-rata 70,88%, diikuti dengan penyimpanan benih selama 20 hari (B2) dengan nilai rata-rata perkecambahan 32.00 dan penyimpanan 30 hari (B3) 24,00%. Penyimpanan benihselama 40 hari (B4) memiliki persentase perkecambahan yang rendah yakni 15,11%.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Murtinah (2018) penyimpanan benih damar selama 6 minggu dalam media simpan arang kayu yang telah diatur kadar airnya sama dengan kadar air benih, yaitu sebesar 31,9% mampu mempertahankan viabilitas benih damar tetap tinggi dengan persentase kecambah sebesar 97,99%, daya kecambah 97,99%, nilai perkecambahan 95,7% per hari,
rata-rata perkecambahan harian 9,8% per hari dan rata-rata hari berkecambah sebesar 4,01 hari.
Media Simpan Serbuk Arang Kayu
Berdasarkan hasil penelitian Irmawati (2018) diperoleh bahwa perlakuan media simpan alami tidak memberikan pengaruh nyata terhadap perkecambahan benih pada semua peubah yang diamati. Peubah yang diamati dalam penelitian ini meliputi daya berkecambah, kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah,bobot kering kecambah dan kadar air benih. Semakin lama penyimpanan dapat menyebabkan penurunan viabilitas dan vigor benih kakao.
Pada saat disimpan benih akan menggalami kemunduran baik morfologi maupun fisiologi.
Menurut Sadjad dalam Misrun (2010) menyatakan bahwa pada saat disimpan benih akan menggalami kemunduran baik morfologi maupun fisiologi dengan tetap berlangsungnya proses respirasi pada benih yang menghasilkan panas, air dan karbondioksida akan terjadi pengurangan zat makanan di dalam benih yang akhirnya akan menurunkan daya berkecambah dan kecepatan berkecambahnya benih.
Penggunaan desikan abu dan lama simpan benih jagung dalam ruang simpan terbuka terlihat bahwa lama simpan 30 hari daya kecambah adalah 100%, lama simpan 60 hari daya kecambah 93.66%, dan lama simpan 90 hari daya kecambah menurun menjadi 82.775%. Semakin lama simpan daya kecambah benih semakin nmenurun, namun masih menunjukkan hasil yang tinggi(Lesilolo, et all.2012).
Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi et all (2011) menunjukkan bahwa penyimpanan benih lengkeng pada media serbuk arang kayu mampu mempertahankan viabilitas optimum hingga 20 hari sedangkan tanpa media simpan hanya mampu bertahan hingga 10 hari penyimpanan.
Pada penelitian yang dilakukan Lodong et all (2015) yang menyimpan benih nangka media simpan serbuk arang kayu mampu menghasilkan jumlah daun lebih banyak yaitu rata-rata 2,67 helai dari pada penyimpanan penggunaan media simpan serbuk gergaji
Viabilitas dan Vigor Benih
Viabilitas adalah kemampuan benih atau daya hidup benih untuk tumbuh secara normal pada kondisi optimum. Berdasarkan pada kondisi lingkungan pengujian viabilitas benih dikelompokkan ke dalam viabilitas benih dalam kondisi lingkungan sesuai (favourable) dan viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai (unfavourable). Pengujian viabilitas benih dalam kondisi lingkungan tidak sesuai termasuk dalam pengujian vigor benih.Perlakuan dengan kondisi lingkungan sesuai sebelum benih dikecambahkan tergolong untuk menduga parameter vigor daya simpan benih, sedangkan jika kondisi lingkungan tidak sesuai diberikan selama pengecambahan benih maka tergolong dalam pengujian untuk menduga parameter viabilitas tumbuh benih. (Sudjadi, 2006).
Raganatha, et all. (2014) menyatakan bahwa tingkat vigor awal benih tidak dapat dipertahankan, dan benih yang disimpan selalu mengalami proses kemunduran mutunya secara kronologis selama penyimpanan. Sifat kemunduran ini tidak dapat dicegah dan tidak dapat balik atau diperbaiki secara sempurna.
Laju kemunduran mutu benih hanya dapat diperkecil dengan melakukan
pengolahan dan penyimpanan secara baik. Berapa lama benih dapat disimpan sangat bergantung pada kondisi benih terutama kadar air benih dan lingkungan tempatnya menyimpan.
International Seed Testing Association (2010) mendefinisikan bahwa vigor sebagai sekumpulan sifat yang dimiliki benih yang menentukan tingkat potensi aktivitas dan kinerja benih atau lot benih selama perkecambahan dan munculnya kecambah.
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Bunga Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan dengan ketinggian ± 32 meter diatas permukaan laut selama 3 bulan mulai bulan April sampai dengan Juli 2020.
Jadwal penelitian selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji cengkeh dari Desa Bukum Kecamatan Sibolangit sebagai bahan pengamatan perkecambahan, serbuk arang kayu, pasir, label dan air.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah bak kecambah, gelas ukur, timbangan analitik, gunting, kalkulator, kamera, alat tulis, dan ayakan.
Anggaran biaya yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 3.
Metode Penelitian
Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 3 ulangan yaitu :
Faktor :Waktu penyimpanan T0 = Kontrol
T1 = 2 minggu T2 = 4 minggu T3 = 6 minggu
Jumlah ulangan : 3 ulangan
Jumlah bak kecambah : 12 bak kecambah
Jumlah benih/bak kecambah : 20 benih Jumlah sampel/bak kecambah : 20 benih Jumlah seluruh sampel : 240 benih Jumlah benih seluruhnya : 240 benih
Bagan penanaman pada bak kecambah serta letak bak kecambah di rumah bunga dapat dilihat pada Lampiran 4 dan 5.
Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut:
Yij= μ + ρi + εij i = 1,2,3 j = 1,2,3
Yij : Hasil pengamatan dari perlakuan ke-I dan ulangan ke-j μ : Rataan Populasi
ρi :Efek dari perlakuan ke-i
εij :Galat dari perlakuan ke-i dan pada ulangan ke- j
Data dianalisis dengan analisis sidik ragam, apabila sidik ragam nyata maka dilanjutkan dengan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5%.
PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Benih
Jenis cengkeh yang digunakan sebagai bahan penenlitian yakni cengkeh varietas Zanzibar. Benih cengkeh tersebut diperoleh dari Desa Bukum Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang.Benih cengkeh diambil dari satu pohon cengkeh yang berumur 20 tahun yang telah masak fisiologis (berwarna ungu kehitaman), bebas hama penyakit, tidak cacat, tidak ada bekas luka atau bercak hitam yang menandakan benih terserang jamur. Setelah itu benih cengkeh yang sudah diambil dikering anginkan selama satu hari di suhu kamar. Kegiatan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 6.
Penyiapan Media Simpan
Media simpan yang digunakan dalam penelitian ini yakni serbuk arang kayu. Arang kayu kemudian dihaluskan terlebih dahulu dengan cara ditumbuk, kemudian dilakukan pengayakan dengan ukuran kehalusan 10 mesh. Serbuk arang kayu yang telah halus dimasukkan ke dalam wadah untuk dilakukan pengovenan.
Suhu pengovenan yang digunakan sebesar 1210C. Pengovenan dilakukan hingga mencapai berat kering oven konstan. Serbuk arang yang telah dioven dilanjutkan dengan pengaturan kadar air cengkeh yakni 46%. Pengaturan kadar air tersebut sebanyak 46 ml aquades pada serbuk arang kayu 100 g.
Penempatan Benih Dalam Media Simpan
Benih cengkeh yang mendapat perlakuan penyimpanan setelah dikering anginkan selama satu hari ditempatkan dalam media simpan serbuk arang kayu yang berisikan 100 g serbuk arang kayu dan 100 benih cengkeh dalam setiap botol kaca. Benih digunakan dalam penelitian ini berjumlah 240 benih dengan jumlah
setiap satuan percobaan 20 benih. Wadah yang digunakan untuk menyimpan benih cengkeh adalah botol kaca bening. Untuk pengujian perkecambahan sedangkan sampel benih untuk pengujian kadar air sebanyak 3 benih. Kemudian diberi label. Selanjutnya disimpan di ruang penyimpanan benih sesuai dengan jangka waktu penyimpanan benih yang telah ditentukan. Kegiatan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 7.
Penanaman
Penanaman dilakukan secara serentak dari yang kontrol sampai periode penyimpanan enam minggu. Media perkecambahan yang digunakan adalah pasir steril. Sterilisasi pasir diatas api selama 3 jam. Pasir steril dimasukan dalam bak kecambah yang telah disiapkan. Sesuai periode simpan yang telah ditentukan, benih kemudian dikeluarkan dari media simpan dan dilakukan pengupasan kulit buah dengan hati-hati agar benih tidak terluka. Benih cengkeh dikecambahkan pada bak kecambah dengan jarak tanam 2 × 2 cm.Kegiatan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 8.
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman yakni penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan gembor hingga media menjadi lembab dan dapat dilihat pada Lampiran 9 sekaligus melalukan pengamatan pertumbuhan tanaman yang dilakukan setiap hari sampai 30 hari setelah ditanam pada bak perkecambahan.Kegiatan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 10.
Variabel Pengamatan Kadar Air
Kadar air benih cengkeh yaitu perhitungan berat benih awal di kurang benih setelah di kering ovenkan kemudian yang dilakukan per perlakuan.
Persentase perkecambahan
Persentase kecambah yaitu perhitungan benih yang sudah berkecambah di bagi dengan jumlah benih yang dikecambahkan dalam jangka waktu 30 hari.
%Kecambah =
× 100%
Benih yang Berkecambah = Benih yang kotiledonnya sudah terbuka dan membentuk embrio (Plumula, Radikula, Hipokotil).
Daya perkecambahan
Daya perkecambahan adalah kemampuan benih untuk berkecambah normal dilakukan dengan menghitung jumlah kecambah normal selama jangka waktu 30 hari.
DK =
× 100%
Kecambah Normal = Benih yang keping-kepingnya telah membuka semuanya dan berdaun sepasang atau dua pasang.
Laju perkecambahan
Laju perkecambahan, adalah jumlah hari yang diperlukan untuk berkecambahnya benih selama jangka waktu tertentu. Dengan satuan benih/hari.
LP =
Keterangan:
LP = Laju perkecambahan
N = Jumlah benih yang berkecambah pada satuan waktu tertentu
T = Jumlah waktu antara awal pengujian sampai akhir dari interval tertentu suatu pengamatan.
Index vigor
Untuk vigor benih, parameter yang diukur adalah kecepatan berkecambah yang dihitung selama 30 hari menggunakan rumus dengan satuan benih/hari sebagai berikut:
IV = Keterangan:
IV= Indeks Vigor
G = Jumlah benih yang berkecambah pada hari tertentu D = Waktu yang bersesuaian dengan jumlah tertentu N= Jumlah hari pada perhitungan terakhir.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Kadar Air
Data kadar air yang diambil dari setiap perlakuan memiliki kadar air awal yakni 46 % dan setelah disimpan sesuai perlakuannya hasil kadar air pada perlakuan 2 minggu menjadi 33 % kemudian yang perlakuan 4 minggu hasil kadar airnya 20 % dan pada perlakuan 6 minggu kadar air sampai 12 %.
Persentase Perkecambahan
Data pengamatan persentase perkecambahan disajikan pada Tabel 1, sedangkan data sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 12. Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa waktu penyimpanan berbeda nyata terhadap persentase perkecambahan benih cengkeh. Rataan persentase perkecambahan benih cengkeh pada perlakuan waktu penyimpanan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel1.Persentase perkecambahan cengkeh pada perlakuan lama penyimpanan
Lama Penyimpanan Ulangan
Rataan
(Minggu) 1 2 3
...%...
T0 90.00 85.00 85.00 86.67a
T1 55.00 65.00 55.00 58.33b
T2 20.00 20.00 20.00 20.00c
T3 5.00 15.00 5.00 8.33d
Rataan 42.50 46.25 41.25
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.
Tabel 1 menunjukkan bahwa rataan persentase perkecambahan cengkeh tertinggi pada perlakuan kontrol (T0) sebesar 86,67% yang berbeda nyata dengan perlakuan T1, T2, dan T3.
Daya Perkecambahan
Data pengamatan daya perkecambahan disajikan pada Tabel 2, sedangkan data sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 14. Dari Tabel 2 menunjukkan bahwa waktu penyimpanan berbeda nyata terhadap persentase perkecambahan benih cengkeh. Rataan daya perkecambahan benih cengkeh pada perlakuan periode waktu penyimpanan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.Daya perkecambahan benih cengkeh pada perlakuan lama penyimpanan
Lama Penyimpanan Ulangan
Rataan
(Minggu) 1 2 3
...%...
T0 90.00 85.00 85.00 86.67a
T1 55.00 65.00 55.00 58.33b
T2 20.00 20.00 20.00 20.00c
T3 5.00 10.00 5.00 6,67d
Rataan 42.50 45.00 41.25
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.
Tabel 2 menunjukkan bahwa rataan daya perkecambahan cengkeh tertinggi pada penyimpanan kontrol (T0) sebesar 86,67% yang berbeda nyata dengan perlakuan T1, T2, dan T3.
Laju Perkecambahan
Data pengamatan laju perkecambahan disajikan pada Tabel 3, sedangkan data sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 16. Dari Tabel 3 menunjukkan bahwa waktu penyimpanan berbeda tidak nyata terhadap laju perkecambahan benih cengkeh. Rataan laju perkecambahan benih cengkeh pada perlakuan periode waktu penyimpanan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Laju perkecambahan benih cengkeh pada perlakuan lama penyimpanan
Lama Penyimpanan Ulangan
Rataan
(Minggu) 1 2 3
...Benih/Hari...
T0 17.77 15.70 21.47 18.31
T1 20.45 21.76 20.72 20.98
T2 20.00 22.50 21.00 21.17
T3 25.00 16.67 25.00 22.22
Rataan 20.81 19.16 22.05
Tabel 3 menunjukkan bahwa rataan laju perkecambahan cengkeh tercepat pada penyimpanan kontrol (T0) sebesar 18,31 hari yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan T1, T2, dan T3.
Indeks Vigor
Data pengamatan index vigor disajikan pada Tabel 4, sedangkan data sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 18. Dari Tabel 4 menunjukkan bahwa waktu penyimpanan berbeda nyata terhadap index vigor benih cengkeh. Rataan index vigor benih cengkeh pada perlakuan periode waktu penyimpanan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.Index vigor kecambah cengkeh pada perlakuaan lama penyimpanan
Lama Penyimpanan Ulangan
Rataan
(Minggu) 1 2 3
...Benih/Hari...
T0 0.82 1.06 0.74 0,87a
T1 0.63 0.80 0.68 0,70b
T2 0.20 0.18 0.19 0,19c
T3 0.05 0.18 0.04 0,09c
Rataan 0,43 0,56 0,41
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.
Tabel 4 menunjukkan bahwa rataan indeks vigor cengkeh tertinggi pada kontrol (T0) sebesar 0,87 benih/hari yang berbeda nyata dengan perlakuan T1, T2, dan T3.
Pembahasan
Hasil pengamatan setelah waktu penyimpanan benih menunjukan terjadinya penurunan viabilitas benih. Tingkat penurunan viabilitas semakin tinggi sejalan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan benih. Hal ini terlihat pada perlakuan waktu penyimpanan benih cengkeh selama 6 minggu (T3) yang menunjukan penurunan viabilitas benih dan indeks vigor. Meskipun demikian tingkat penurunan viabilitas masih dapat ditekan dengan memberikan perlakuan pada proses penyimpanan benih.
Perlakuan waktu penyimpanan benih menunjukan bahwa benih cengkeh yang langsung ditanam tanpa perlakuan penyimpanan (T0) mempunyai nilai persentase perkecambahan rata-rata 86,67%. Sedangkan pada benih yang diberi perlakuan penyimpanan, yang memiliki persentase perkecambahan yang lebih tinggi yakni benih yang disimpan selama 2 minggu (T1) dengan nilai persentase perkecambahan rata-rata 58,33%, diikuti dengan penyimpanan benih selama 4 minggu (T2) dengan nilai rata-rata perkecambahan 20.00% dan penyimpanan 6 minggu (T3) 8,33%.
Menurut Sadjad dalam Misrun (2010) menyatakan bahwa pada saat disimpan benih akan menggalami kemunduran baik morfologi maupun fisiologi dengan tetap berlangsungnya proses respirasi pada benih yang menghasilkan panas, air dan karbondioksida akan terjadi pengurangan zat makanan di dalam benih yang akhirnya akan menurunkan daya berkecambah dan kecepatan berkecambahnya benih.
Hasil pengamatan daya kecambah benih cengkeh menunjukkan bahwa benih yang memiliki persentase perkecambahan lebih baik adalah pada benih
cengkeh tanpa perlakuan penyimpanan yakni T0, T1,T2 dan T3 dengan nilai rata- rata daya kecambah yakni 86,67, 58,33 ,20,00 dan 5,33%.
Standar mutu benih cengkeh dalam bentuk biji salah satunya adalah mempunyai daya kecambah minimal 85 % (Permentan No. 50, 2015).
Hasil pengamatan setelah waktu penyimpanan benih menunjukan terjadinya penurunan index vigor benih.Tingkat penurunan vigor semakin tinggi sejalan dengan semakin lamanya waktu penyimpanan benih. Hal ini terlihat pada perlakuan lama penyimpanan benih cengkeh selama 6 minggu (T3) Meskipun demikian tingkat penurunan vigor masih dapat ditekan dengan memberikan perlakuan pada proses penyimpanan benih.
Novita (2017), dalam hasil penelitian mengemukakan bahwa biji cengkeh yang diambil dari buah yang telah masak fisiologis (berwarna ungu kehitaman) menghasilkan jumlah kecambah normal yang lebih tinggi dan mempunyai persentase perkecambahan yang lebih baik.
Gejala benih yang telah mundur adalah menurunnya daya berkecambah dan kehilangan kemampuan untuk tumbuh pada kondisi suboptimum.Gejala kemunduran benih dapat diamati dari segi biokimia benih seperti aktivitas enzim, tingkat respirasi, dan kebocoran metabolitnya.Kemunduran benih menghasilkan persentase perkecambahan benih yang rendah, terjadi penundaan perkecambahan, pertumbuhan kecambah yang lambat, kehilangan potensi tumbuh di lapang, menurunnya resistensi terhadap kondisi stres lingkungan, kehilangan hasil dan meningkatnya jumlah kecambah abnormal. Kadar air sangat menentukan viabilitas benih, sehingga untuk mempertahankan daya simpannya kadar air benih diusahakan tetap tinggi atau diatas batas kadar air kritiknya. Kadar air benih
selama penyimpanan dipengaruhi olehkadar air awal, kondisi ruang simpan dan wadah simpan. (Marselina,2018).
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu penyimpanan didalam media serbuk arang kayu tidak dapat mempertahankan viabilitas dan vigor benih cengkeh.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dalam melakukan penyimpanan benih cengkeh yang menggunakan media simpan serbuk arang kayu tidak disarankan menyimpannya lebih dari satu hari setelah dipanen, karena viabilitas dari benih cengkeh tersebut menurun.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, Budi S. 2018. Upaya Meperthankan Eksistensi Cengkeh di Provinsi Maluku Melalui Rehabilitasi dan Peningkatan Produktivitas.37 :26-32.
Ali, Mahrus S. 2017. “BUDIDAYA TANAMAN CENGKEH.” OSF Preprints.
November 9. doi:10.31219/osf.io/hmqzv
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2016. Statistik Perkebunan Indonesia. Cengkeh 2014-2015. Kementerian Pertanian. Jakarta.
Dinas Perkebunan Sumatera Utara. 2018. Statistik Perkebunan Cengkeh Sumatera Utara. Medan.
Nurjannah, N. 2016. Diversifikasi Penggunaan Cengkeh. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian.
Nawawi Novita, I. 2019. Panduan Lengkap & Praktis Budidaya Cengkeh. Garuda Pustaka.
Murtinah.2018. Pengaruh Periode Waktu Penyimpanan Dalam Media Simpan Serbuk Arang Kayu Terhadap Viabilitas Benih Damar.SKRIPSI. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
ISTA. 2010. International rules for seed testing: Edition 2010. The International Seed Testing Association.Bassersdorf. Switzerland.
Lesilolo, M. K. et all.2012. Penggunaan Desikan Abu dan Lama Simpan Terhadap Kualitas Benih Jagung (Zea mays L.) Pada Penyimpanan Ruang Terbuka.
Agrologia, Vol 1, No.1, April 2012. Hal 5-15
Lodong, O., Tambing, Y., dan Adrianton. 2015. Peranan kemasan dan media simpan terhadap ketahanan viabilitas dan vigor benih nangka (artocarpus heterophyllus) kultivar tulo-5 selama penyimpanan. J. Agrotekbis. 3(3) : 303–315.
Marselina, N., Johan R., dan Marthini L. 2018. Pengaruh Media danPeriode
Simpan Terhadap Viabilitas Benih Cengkeh Tuni (Syzygium aromaticum L.), Vol. 14(2): 97-104.
Misrun, S. 2010.Daya Simpan Benih Kakao (Theobroma cacao L.) dengan Pemberian Polyethylene Glycol (PEG) Pada Berbagai Wadah Simpan.Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Pratiwi, R.D., Rabaniyah, R., dan Purwantoro. A. 2011. Pengaruh jenis dan kadar air media simpan terhadap viabilitas benih lengkeng (dimocarpus longan).
J. Vegetalika. 1(2): 1-6Andrianto, T. T dan N. Indarto. 2004. Budidaya
dan Analisis Usaha Tani; Kedelai, Kacang Hijau, Kacang Panjang.
Cetakan Pertama. Penerbit Absolut, Yogyakarta.
Perementan No. 50. 2015. Peraturan Menteri Pertanian No.
50/Permentan/KB020/9/2015 tentang Produksi,Sertifikasi,Peredaran dan Pengawasan Benih Tananaman Perkebunan. Kementan. Jakarta.
Raganatha, I.N., Raka, I.G.N., Siadi, I.K. 2014. Daya Simpan Benih Tomat (Lycopersicum esculentum mill.) Hasil Beberapa Teknik ekstraksi.E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika. Vol. 3(3):183-190.
Rorong, J Alfrets. 2008. Uji Aktivitas Antioksidan dari Daun Cengkeh (Eugenia carryophyllus) dengan Metode DPPH.Chem.Prog.Vol. 1, No 2.
Stanisia, Tivani. 2016. “SPK Dalam Menentukan Masa Tananm Pohon Cengkeh Menggunakan Metode Weight Product”. Skripsi.FT. Teknik Informatika.
Universitas PGRI. Yogyakarta.
Sudjadi.2006. Biologi dan Sains. Yudistira. Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1. DESKRIPSI TANAMAN CENGKEH Varietas Zanzibar Karo
A s a l : Persairan bebas dari lima genotype terpilih keturunan Pertama
(G1) dari populasi Si Abang-abang Habitus tanaman : Tegak
Bentuk tajuk : Kerucut, silindris
Batang utama : Membagi
Percabangan : Rendah , lurus ke atas membentuk sudut 450 Bentuk daun : Lonjong langsing, agak membulat
Warna daun tua : Hijau tua
Warna daun muda : Merah kecoklatan sampai merah tua Permukaan daun : Licin
Keregasan : Agak regas
Panjang daun (cm) : 10,35 - 15,50 Lebar daun (cm) : 4,0 - 5,8 Panjang tanggai (cm) : 2,12 - 2,36 Tipe rangkaian bunga : Gagang panjang Bentuk bunga : Langsing agak lonjong Warna bunga muda : Hijau kemerahan Warna bunga muda petik : Merah cerah
Warna mahkota : Krem dengan bercak merah cerah
Bentuk buah : Konis panjang
Warna buah matang : Unggu tua kehitaman Potensi produksi per pohon
(Kg)
: 10 - 74 (rerata produksi 47 kg Bunga Basah) Kadar minyak atsiri (%) : 18 – 21%
Kadar eugenol bebas (%) : 88 – 92%
Nama peneliti : Roni Ginting, A. Sipayung, Roni Ginting, A. Sipayung, Erman Osman dan Nurliani Bermawi
Pemilik varietas : Pemerintah Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara
Sumber :SK. Nomor : 339/Kpts/SR.120/03
Lampiran 2. Jadwal Kegiatan Penelitian
No. Kegiatan Penelitian
HariKe -
1 2 3 4 5 6 7 … … 30 1. Pengecambahan benih cengkeh X
2. Pemeliharaan X X X X X X X X X
3. Peubah Amatan
Daya Perkecambahan X X X X X X X X X
LajuPerkecambahan X X X X X X X X X
IndeksVirgor X X X X X X X X X
Persentase Perkecambahan X X X X X X X X X
Lampiran 3. Rencana Anggaran Biaya
NO Nama Barang Jumlah Harga
1 Serbuk arang kayu 1 kg Rp.20.000
2 Biji Cengkeh 300 biji Rp.100.000
3 Bak Kecambah 12 buah Rp.50.000
4 Pasir 10 kg Rp.50.000
5 Botol Kaca 3 buah Rp.30.000
6 Hands Prayer 1 buah Rp.45.000
7 Aquades 2 Liter Rp.30.000
8 Stik Penanda 1 ikat Rp.5.000
9 Transportasi Rp.300.000
10 Biaya Tak Terduga Rp.378.000
TOTAL Rp.1.008.000
Lampiran 4. Bagan Penanaman pada Bak Kecambah
X X X X X
X X X X X
X X X X X
30 cm
22cm
X X X X X
2cm 2cm
10cm Lampiran 5. Bagan Penelitian di Laboratorium
T0u1 T1u3 T0u2 T2u1
T2u3 T0u3 T3u1 T1u2
T3u2 T1u1 T3u3 T2u2
U
S
T B
10cm
Lampiran 6. Benih Cengkeh yang dikering anginkan
Lampiran 7. Penempatan Benih dalam Media Simpan
Lampiran 8. Penanaman Benih cengkeh pada bak kecambah
Lampiran 9. Pemeliharaan Benih Cengkeh
Lampiran 10. Kecambah Benih setelah 30 Hari Setelah Tanaman
Lampiran 11. Data Persentase Perkecambahan
Perlakuan Ulangan
Total Rataan
I II III
...(%)...
T0 90.00 85.00 85.00 260.00 86.67
T1 55.00 65.00 55.00 175.00 58.33
T2 20.00 20.00 20.00 60.00 20.00
T3 5.00 15.00 5.00 25.00 8.33
Total 170.00 185.00 165.00 520.00 173.33
Rataan 42.50 46.25 41.25 130.00 69.33
Lampiran 12. Sidik Ragam Persentase Perkecambahan
SK db JK KT F. Hitung F. Tabel 5% Ket.
Perlakuan 3 11616.67 3872.22 206.52 4.07 *
Galat 8 150.00 18.75
Total 16 11766.67
FK :22533,33
KK :6,25%
Keterangan :* :Nyata
Lampiran 13. Data Daya Perkecambahan
Perlakuan Ulangan
Total Rataan
I II III
...(%)...
T0 90.00 85.00 85.00 260.00 86.67
T1 55.00 65.00 55.00 175.00 58.33
T2 20.00 20.00 20.00 60.00 20.00
T3 5.00 10.00 5.00 20.00 6.67
Total 170.00 180.00 165.00 515.00 171.67
Rataan 42.50 45.00 41.25 128.75 68.67
Lampiran 14. Sidik Ragam Daya Perkecambahan
SK db JK KT F. Hitung F. Tabel 5% Ket.
Perlakuan 3 11972.92 3990.97 319.28 4.07 *
Galat 8 100.00 12.50 1
Total 16 12072.92
FK : 22102,08
KK : 5,15%
Keterangan : * : Nyata
Lampiran 15. Data Laju Perkecambahan
Perlakuan Ulangan
Total Rataan
I II III
...(Benih/Hari)...
T0 17.77 15.70 21.47 54.94 18.31
T1 20.45 21.76 20.72 62.93 20.98
T2 20.00 22.50 21.00 63.50 21.17
T3 25.00 16.67 25.00 66.67 22.22
Total 83.22 76.63 88.19 248.04 82.68
Rataan 20.81 19.16 22.05 62.01 33.07
Lampiran 16. Sidik Ragam Laju Perkecambahan
SK db JK KT F. Hitung F. Tabel 5% Ket.
Perlakuan 3 37.30 12.43 1.30 4.07 tn
Galat 8 76.27 9.53
Total 16 113.57 7.10
FK :5126,99
KK :8,78%
Keterangan : tn :Tidak nyata Lampiran 17. Data Index Vigor
Perlakuan Ulangan
Total Rataan
I II III
...(Benih/hari)...
T0 0.82 1.06 0.74 2.62 0.87
T1 0.63 0.80 0.68 2.11 0.70
T2 0.20 0.18 0.19 0.57 0.19
T3 0.05 0.18 0.04 0.27 0.09
Total 1.70 2.22 1.65 5.57 1.86
Rataan 0.43 0.56 0.41 1.39 0.74
Lampiran 18.Sidik Ragam Index Vigor
SK db JK KT F. Hitung F. Tabel 5% Ket.
Perlakuan 3 1.32 0.44 42.07 4.07 *
Galat 8 0.08 0.01
Total 16 1.40
FK :2,59
KK :13,77%