• Tidak ada hasil yang ditemukan

BEHAVIOR SKILLS TRAINING UNTUK MENINGKATKAN PERSONAL SAFETY SKILLS SEBAGAI PREVENSI TERHADAP KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BEHAVIOR SKILLS TRAINING UNTUK MENINGKATKAN PERSONAL SAFETY SKILLS SEBAGAI PREVENSI TERHADAP KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

Tesis

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Psikologi

Program Studi Magister Psikologi Profesi Minat Utama Psikologi Klinis Anak

Diajukan oleh:

Stevie Duma 137029023

PROGRAM MAGISTER PSIKOLOGI PROFESI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)
(3)
(4)

Stevie Duma, Wiwik Sulistyaningsih, Elvi Andriani Yusuf

Abstrak

Kekerasan seksual pada anak terjadi karena kurangnya keterampilan anak dalam melindungi dirinya menjadi korban. Oleh karena itu anak membutuhkan suatu keterampilan melindungi diri dari kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas behavior skills training dalam meningkatkan personal safety skills sebagai prevensi terhadap kekerasan seksual pada anak. Behavior skills training adalah suatu tahapan pelatihan yang terdiri dari instruction, modeling, rehearsal, dan feedback yang dalam hal ini digunakan untuk meningkatkan personal safety skills. Peningkatan personal safety skills akan diukur dengan menggunakan skala. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest-posttest control group. Sampel berjumlah 16 orang dengan rentang usia 9- 12. Pelatihan dilakukan selama 9 sesi. Setiap sesi berlangsung selama 1 jam 30 menit. Hasil analisa data menunjukkan bahwa personal safety skills anak meningkat setelah anak diberikan behavior skills training. Implikasi penelitian ini adalah anak-anak yang mengikuti pelatihan ini mampu mencegah dirinya menjadi korban kekerasan seksual.

Kata kunci: Behavior Skills Training, Personal Safety Skills, Kekerasan Seksual Anak

(5)

Stevie Duma, Wiwik Sulistyaningsih, Elvi Andriani Yusuf

Abstract

Child sexual abuse occurs because the lack of child skills in protecting themselves from becoming the victims. Therefore children need skills to protect themselves from the abuse. This study aims to examine the effectiveness of behavior skills training to improve personal safety skills as prevention of child sexual abuse.

Behavior skills training is a training phase consisting of instruction, modeling, rehearsal, and feedback which in this case is used to improve personal safety skills. The increasing of personal safety skills is measured by using a scale. The research design was used pretest-posttest control group. The sample were 16 children with age range 9-12. Training was conducted for 9 sessions. Each session lasts for 1 hour 30 minutes. The results of data analysis showed that children's personal safety skills increased after child was given behavior skills training. The implication of this research is that children who attend the training are able to prevent themselves becoming the victims of child sexual abuse

Keywords: Behavior Skills Training, Personal Safety Skills, Child Sexual Abuse

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahirobbil’alamin. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya saya dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Behavior Skills Training Untuk Meningkatkan Personal Safety Skills Sebagai Prevensi Terhadap Kekerasan Seksual Pada Anak. Tesis ini diajukan dalam rangka memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Psikologi Profesi pada Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Saya menyadari bahwa penyusunan tesis ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak sejak masa perkuliahan hingga tesis ini selesai. Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Zulkarnain, Ph.D., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara dan selaku penguji I yang telah memberikan masukan-masukan dalam penulisan tesis ini

2. Ibu Raras Sutatminingsih, Ph.D., Psikolog selaku Ketua Program Studi Magister Profesi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang juga telah memberikan masukan-masukan dalam penulisan tesis ini.

3. Ibu Dr. Wiwik Sulistyaningsih, Psikolog selaku dosen pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, dan masukan dalam penulisan tesis ini.

4. Ibu Elvi Andriani, M.Si., Psikolog selaku dosen pembimbing II yang telah sabar membimbing saya, mengarahkan, memberi masukan, dan memotivasi saya untuk dapat segera menyelesaikan tesis ini.

5. Ibu Eka Ervika, M.Si., Psikolog selaku dosen penguji yang sangat luar biasa mengarahkan dan membimbing saya untuk menjadi lebih baik dalam perbaikan tesis ini.

6. Kedua orangtua saya Jef Larry V dan Suti Arifin Nst, yang selalu sabar menghadapi saya selama masa perkuliahan hingga pengerjaan tesis ini.

Terutama untuk ibu saya yang sudah merelakan sebagian besar waktunya membantu menjaga anak-anak saya. Terimakasih juga untuk kasih sayang, motivasi, dan doa yang tiada pernah putus dipanjatkan bagi saya.

7. Kedua mertua saya, Heri Utomo dan Sri Lestari untuk motivasi, dukungan, dan doa yang selalu dipanjatkan kepada saya.

(7)

8. Suami saya Yoga Nugroho yang selalu bersabar menghadapi dan membantu saya selama perkuliahan dan penyusunan tesis ini.

9. Seluruh keluarga, adik-adik semua, yang selalu memberikan semangat, doa dan membantu saya selama masa pendidikan saya di magister psikologi ini

10. Seluruh Dosen Program Studi Magister Psikologi Profesi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu kepada peneliti selama mengikuti pendidikan Magister Psikologi Profesi.

11. Seluruh Staf dan Pegawai Sekretariat Program Studi Magister Psikologi Profesi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang telah membantu saya selama ini. Kak Eli, Bang Yudi, Bang Eko, Makasi banyak atas kerja samanya selama ini.

12. Kepala sekolah, guru-guru, dan terutama siswa-siswi di sekolah Kampung Nelayan Belawan medan atas bantuannya selama proses penyelesaian tesis ini.

13. Teman-teman seperjuangan saya Angkatan VIII (stambuk 2013) Muna, Rety, Putri, Sara, Dini, Bang Surya, dan Fahri. Terimakasih untuk kerjasamanya dan suka duka selama ini. Sahabat-sahabat saya Yustian Sinaga, M.Psi., Psikolog, Yenni Merdeka Sakti, M.Psi, Psikolog, terima kasih banyak atas bantuan yang diberikan selama pengerjaan tesis ini.

14. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian tesis ini.

Saya menyadari sepenuhnya tesis ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu dengan kerendahan hati saya mohon saran dan kritik yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan tesis ini. Akhir kata saya berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait, lingkungan akademik Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, dan para pembaca pada umumnya.

Terimakasih

Medan, 15 September 2017 Peneliti,

Stevie Duma

(8)

Halaman

LEMBAR JUDUL ……… i

LEMBAR PENGESAHAN ………. ii

LEMBAR PERNYATAAN ……….. .. iii

ABSTRAK……… .... iv

KATA PENGANTAR ………. vi

DAFTAR ISI………. . viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 12

1.3. Tujuan Penelitian ... 12

1.4. Manfaat Penelitian ... 12

a. Manfaat Teoritis ... 12

b. Manfaat Praktis ... 13

1.5. Sistematika Penulisan... 13

BAB II LANDASAN TEORI ... 15

2.1. Personal Safety Skills ... 15

2.1.1. Pengertian Personal Safety Skills ... 15

2.1.2. Pengertian Personal Safety SkillsTerhadap Kekerasan Seksual... 16

2.1.3. Komponen Personal Safety Skills Terhadap Kekerasan Seksual ... 17

2.2. Kekerasan Seksual Pada Anak ... 19

2.2.1. Pengertian Kekerasan Seksual Pada Anak ... 19

2.2.2. Jenis-jenis Kekerasan Seksual Pada Anak ... 20

2.2.3. Penyebab Terjadinya Kekerasan Seksual Pada Anak ... 21

2.2.4. Dampak Pada Anak Yang Mengalami Kekerasan Seksual ... 24

2.2.5. Penanganan Anak Yang Mengalami Kekerasan Seksual ... 25

2.2.6. Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak ... 27

2.3. Behavior Skills Training (BST) ... 31

2.3.1. Pengertian Behavior Skills Training (BST)... 31

2.3.2. Komponen BST ... 32

2.3.3. Cara Menggunakan BST ... 33

2.3.4. Penggunaan BST dalam Grup ... 34

2.3.5. Pelaksanaan BST ... 36

2.3.6. Pelaksana (Trainer) ... 37

2.4. Kampung Nelayan ... 38

2.4.1. Pengertian Kampung Nelayan ... 38

2.4.2. Permasalahan di Kampung Nelayan ... 38

2.4.3. DemografiKampung Nelayan Belawan Medan ... 40

2.4.4. Anak Kampung Nelayan Belawan Medan ... 41

2.5. Behavior Skills Training (BST) Untuk Meningkatkan Personal Safety Skills Anak Kampung Nelayan Belawan Medan ... 43

2.6. Kerangka Berfikir ... 47

(9)

3.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 50

a. Personal Safety Skills ... 50

b. Behavior Skills Training ... 51

c. Anak Kampung Nelayan Belawan Medan ... 52

3.3. Jenis dan Desain Penelitian ... 52

3.3.1. Jenis Penelitian ... 52

3.3.2. Desain Penelitian ... 53

3.4. Karakteristik Subjek Penelitian ... 54

3.4.1. Sampel Penelitian ... 54

3.5. Kontrol Terhadap Validitas dalam Penelitian ... 55

3.5.1. Validitas Internal ... 55

3.5.2. Validitas Eksternal ... 56

3.6. Alat Ukur Penelitian ... 57

3.7. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 58

3.7.1. Validitas Alat Ukur ... 58

3.7.2. Reliabilitas Alat Ukur ... 58

3.8. Uji Daya Beda Item ... 59

3.9. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 59

3.10. Uji Coba Modul Pelatihan ... 61

3.11. Alat Bantu Pengumpul Data ... 64

3.12. Prosedur/Tahap Penelitian ... 64

3.13. Rancangan Intervensi ... 68

3.14. Teknik Analisa Data Kuantitatif ... 70

3.15 Kriteria Keberhasilan Program Intervensi ... 70

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 71

4.1. Hasil Penelitian ... 71

4.1.1. Deskripsi Subjek Penelitian ... 71

4.1.1.1. Deskripsi Kelompok Eksperimen ... 71

4.1.1.2. Deskripsi Kelompok Kontrol ... 72

4.1.2. Data Penelitian ... 72

4.1.2.1. Data Sebelum Penelitian (Pretest) ... 72

4.1.2.2. Jadwal Pelaksanaan Intervensi pada Kelompok Eksperimen ... 76

4.1.2.3. Jadwal Pelaksanaan Intervensi pada Kelompok Kontrol ... 76

4.1.3. Deskripsi Data Penelitian ... 76

4.1.4. Hasil Analisis Data Kuantitaif ... 83

4.1.4.1. Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen ... 83

4.1.4.2. Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol ... 84

4.1.4.3. Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 84

4.1.5. Hasil Analisa Individual ... 85

4.2. Pembahasan... 110

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 115

A. Kesimpulan ... 115

B. Saran... 116

1. Saran Metodologis ... 116

2. Saran Praktis ... 116

DAFTAR PUSTAKA ... 117

(10)

Tabel 3.2. Blue Print skala personal safety skills ... 58

Tabel 3.3. Distribusi Aitem Skala Personal Safety Skills Pada Saat Uji Coba ... 60

Tabel 3.4. Distribusi Aitem Skala Personal Safety Skills Setelah Uji Coba ... 61

Tabel 3.5. Blue Print Rancangan Intervensi ... 68

Tabel 4.1. Deskripsi Anak Kelompok Eksperimen ... 72

Tabel 4.2. Deskripsi Anak Kelompok Kontrol ... 72

Tabel 4.3. Nilai Maksimum, Minimum, Mean, dan Standar Deviasi Hipotetik ... 73

Tabel 4.4. Norma untuk Menentukan Pengelompokan Subjek ... 73

Tabel 4.5. Gambaran Personal Safety Skill Siswa Pada Setiap Kategori ... 74

Tabel 4.6. Pretest Kelompok Eksperimen ... 74

Tabel 4.7. Posttest Kelompok Kontrol ... 75

Tabel 4.8. Deskripsi Data Penelitian Variabel Personal Safety Skill ... 76

Tabel 4.9. Deskripsi Skor Pretest dan Posttest Variabel Personal Safety Skills pada Kelompok Eksperimen ... 77

Tabel 4.10. Deskripsi Skor Pretest dan Posttest Variabel Personal Safety Skills pada Kelompok Kontrol ... 78

Tabel 4.11. Data Persentase Selisih skor Pada Aspek Recognize ... 80

Tabel 4.12. Data Persentase Selisih skor Pada Aspek Resist ... 81

Tabel 4.13. Data Persentase Selisih skor Pada Aspek Report ... 82

Tabel 4.14. Uji Wilcoxon Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen ... 83

Tabel 4.15. Uji Wilcoxon Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol ... 84

Tabel 4.16. Uji Mann-Whitney posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 85

(11)

Gambar 2.1. Kerangka Berfikir BST untuk meningkatkan Personal Safety Skills anak

kampung nelayan Belawan Medan ... 47

Gambar 2.2. Skema Penelitian BST untuk meningkatkan Personal Safety Skills anak kampung nelayan Belawan Medan ... 48

Gambar 3.1. Desain Penelitian ... 53

Gambar 4.1. Distribusi Skor Personal Safety Skills pada Kelompok Eksperimen ... 78

Gambar 4.2. Distribusi Skor Personal Safety Skills pada Kelompok Kontrol ... 79

Gambar 4.3. Data Persentase Selisih Skor pada Aspek Recognise ... 80

Gambar 4.4. Data Persentase Selisih Skor pada Aspek Resist ... 82

Gambar 4.5. Data Persentase Selisih Skor pada Aspek Report ... 83

Gambar 4.6. Grafik Skor Pretest dan Posttest Aspek Personal Safety Skills Subjek Ra ... 88

Gambar 4.7. Grafik Skor Pretest dan Posttest Aspek Personal Safety Skills Subjek SN ... 91

Gambar 4.8. Grafik Skor Pretest dan Posttest Aspek Personal Safety Skills Subjek Rm ... 94

Gambar 4.9. Grafik Skor Pretest dan Posttest Aspek Personal Safety Skills Subjek RS ... 97

Gambar 4.10. Grafik Skor Pretest dan Posttest Aspek Personal Safety Skills Subjek I ... 100

Gambar 4.11. Grafik Skor Pretest dan Posttest Aspek Personal Safety Skills Subjek F ... 103

Gambar 4.12. Grafik Skor Pretest dan Posttest Aspek Personal Safety Skills Subjek NA ... 106

Gambar 4.13 Grafik Skor Pretest dan Posttest Aspek Personal Safety Skills Subjek D ... 119

(12)

Lampiran 2. Rekapitulasi data pretest dan post test Lampiran 3. Hasil Uji Deskripsi Penelitian

Lampiran 4. Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Test pada Pretest dan Posttest Skala Personal Safety Skills Kelompok Eksperimen

Lampiran 5. Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Test pada Pretest dan Posttest Skala Personal Safety Skills Kelompok Kontrol

Lampiran 6. Hasil Uji Mann-Whitney Pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol Lampiran 7. Blue Print Intervensi

(13)

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, kasus kekerasan seksual yang dilakukan pada anak terus mengalami peningkatan, mulai dari perkosaan, pencabulan, sodomi, hingga yang berujung kematian, seperti pada kasus sodomi yang sempat gempar yang dilakukan karyawan dan guru di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Begitu juga dengan kasus Emon di Sukabumi yang melakukan tindakan sodomi terhadap puluhan anak (Kompas.com, 2014). Baru-baru ini Indonesia juga dikejutkan oleh kasus perkosaan terhadap Yuyun yang berujung kematian (Kompas.com, 2016). Banyaknya kasus kekerasan seksual di Indonesia membuat Indonesia menjadi negara dengan kekerasan seksual tertinggi nomor 3 di dunia (Metrotv, 2016).

Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Komisi Nasional Perlindungan Anak, melalui Sekretaris Jendral Komnas PA Samsul Ridwan mengemukakan bahwa dari sekian banyak kasus kekerasan pada anak di tahun 2010 hingga 2015, 50 persen masih didominasi oleh kasus kekerasan seksual pada anak dengan rincian sebagai berikut (peluk.komnaspa.or.id, 2015).

Gambar 1.1. Data jumlah kekerasan pada anak di Indonesia (pusat data dan informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak, 2015)

860 1,282 1,635 1,445 1,423 1,719 1,186 1,184 1,002 1,231 1,314 1,179 -

1,000 2,000 3,000

2010 2011 2012 2013 2014 2015

Jumlah Kasus

Tahun Terjadi Kekerasan Seksual

kekerasan lain

kekerasan seksual pada anak

(14)

Kekerasan seksual pada anak merupakan tindakan pemaksaan, ancaman atau ketidakberdayaan seorang anak dalam aktifitas seksual (Paramastri, Supriyati, Priyanto., 2010). Goodyear-Brown (2012) menyimpulkan bahwa kekerasan seksual pada anak adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa ataupun orang yang lebih tua dari anak baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk mendapatkan kepuasan seksual.

Berbagai cara dilakukan oleh pelaku kejahatan seksual dalam melakukan aksinya. Poche et al. (dalam Johnson et al., 2005) mengemukakan ada empat bujukan yang biasanya diberikan oleh pelaku seperti mengajak secara langsung, menggunakan figur otoritas, menggunakan imbalan, dan menggunakan ketidakberdayaan diri.

Senada dengan Poche et al., Komnas PA mengemukakan beberapa modus yang dipakai pelaku kejahatan seksual, dengan rincian: obat penenang 15 kasus, diculik lebih dulu 14 kasus, disekap 45 kasus, bujukrayu dan tipuan 139 kasus, serta iming- iming 131 kasus (peluk.komnaspa.or.id, 2015).

Tidak hanya modus yang bervariatif, para pelaku kejahatan seksual pun bermacam-macam, mulai dari orang asing hingga orang terdekat. Hertinjung (2009) menunjukkan data yang didapat dari Yayasan KAKAK di Surakarta bahwa kekerasan seksual pada anak paling tinggi persentasenya dilakukan oleh tetangga yaitu sebesar 38 persen, teman 18 persen, guru 12 persen, pacar 11 persen, keluarga 11 persen, pejabat pemerintah 2 persen, tidak dikenal 8 persen. Aryanti (2015) mengatakan bahwa biasanya pelaku kekerasan seksual merupakan orang yang menyenangkan dan punya kemampuan interpersonal yang baik. Hal ini lah yang terkadang membuat

(15)

orangtua jadi kurang mewaspadai pergaulan anaknya. Berdasarkan informasi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa tetangga, keluarga, dan guru merupakan orang-orang terdekat bagi anak tetapi belum tentu merupakan orang-orang yang aman bagi anak.

Oleh karena itu anak perlu diajarkan untuk mampu meningkatkan kewaspadaan pada situasi yang mengancam baginya.

Anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual tentunya mempunyai dampak terhadap dirinya. Anak yang mengalami kekerasan dalam bentuk apapun cenderung akan mengalami trauma baik secara fisik maupun psikologis (Fuadi, 2011;

Hall&Hall, 2011). Pada beberapa kasus, korban anak-anak cenderung menutupi peristiwa yang mereka alami dengan berbagai alasan antara lain malu atapun takut kepada pelaku. Hal ini dikhawatirkan bahwa seorang anak yang mengalami kekerasan seksual akan menjadi pelaku kejahatan seksual di kemudian hari, seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Glasser et al. (2001) yang menunjukkan hasil bahwa terdapat korelasi positif pelaku kejahatan seksual dengan pengalamannya sebagai korban kejahatan seksual. Dampak ini terlihat seperti pada kasus Emon, menurut ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel perilaku yang dilakukan oleh Emon kepada anak-anak melalui kekerasan seksualnya diduga karena kompensasi akibat perasaan takut, kebencian, dan kemarahan tersangka karena informasinya Emon pernah beberapa kali menjadi korban kekerasan seksual (Kompas.com, 2014). Hal ini diperkuat dengan penelitian Probosiwi dan Bahransyaf (2015) yang mengatakan bahwa pada beberapa kasus, pedofilia dilatar belakangi pengalaman tidak menyenangkan secara seksual pelaku di masa lalunya yang serupa dengan tindakan pedofil.

(16)

Banyak faktor yang menyebabkan anak menjadi korban kekerasan seksual.

Holman dan Stokols (1994) menyebutkan bahwa faktor sosiokultural seperti perubahan sosial yang tinggi, imigrasi, kondisi tempat tinggal yang terlalu padat, penghuni rumah yang padat, dan isolasi fisikal dan sosial dapat menyebabkan terjadinya kekerasan seksual pada anak. Berdasarkan sisi Psikologi Lingkungan, Holman dan Stokols menyimpulkan bahwa tidak tersedianya ruang personal (personal space), batas teritori, dan identitas tempat membuat para pelaku kejahatan seksual lebih mudah melakukan kejahatannya. Hasil penelitian yang dilakukan Hertinjung (2009) juga menunjukkan bahwa kurang tersedianya ruang personal dan tidak terpenuhinya kebutuhan privasi dapat menjadi faktor terjadinya kekerasan seksual pada anak. Ruang personal dan pemenuhan kebutuhan privasi biasanya tidak didapatkan oleh anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial rendah, dimana anak tinggal dalam rumah yang padat penghuni dan penggunaan ruang secara bersama. Hal inilah yang dapat membuat anak kehilangan kontrol akan dirinya dan memicu terjadinya kekerasan seksual.

Tidak hanya faktor lingkungan, ternyata faktor ekonomi juga dapat mempengaruhi terjadinya kekerasan seksual. Penelitian yang dilakukan oleh Okello- Wengi (2005) di Bostwana menunjukkan bahwa faktor kemiskinan adalah salah satu penyebab terjadinya kekerasan seksual pada anak. Selanjutnya, Wurtele & Kenny (dalam Goodyear-Brown, 2012) menyebutkan bahwa faktor anak dan orangtua juga dapat mempengaruhi terjadinya kekerasan seksual pada anak seperti kurangnya pengetahuan anak dan orangtua tentang pendidikan seksual, kepercayaan bahwa anak

(17)

harus selalu menuruti orangtua, perilaku melindungi diri yang tidak pernah diajarkan oleh orangtua, dan lainnya.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan seksual pada anak disebut dengan faktor resiko. Suatu wilayah atau daerah yang mempunyai banyak faktor resiko munculnya kekerasan seksual pada anak dianggap sebagai wilayah atau daerah yang beresiko tinggi terjadinya kekerasan seksual pada anak. Salah satunya adalah kampung nelayan di Belawan-Medan. Secara geografis, kampung nelayan ini terletak di atas laut dangkal. Kampung nelayan Belawan Medan dapat dicapai dengan menyeberang menggunakan boat selama kurang lebih 3-5 menit dengan upah Rp.

3000,- per orang. Di kampung nelayan, rumah masyarakat yang terbuat dari kayu saling berdempet satu dengan lainnya. Fondasi rumah dan jalan masuk ditopang oleh kayu-kayu yang sudah mulai banyak berlubang. Meskipun di kampung nelayan terdapat kawasan yang sudah menggunakan beton sebagai jalan, tetapi sebagian besar masih berupa kayu-kayu. Disepanjang jalan banyak binatang peliharaan seperti burung dan kambing. Sampah plastik dan sampah rumah tangga berserakan di bawah rumah-rumah penduduk (Hasil Observasi, 12 April 2016).

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 12 April 2016 kepada kepala lingkungan setempat diketahui bahwa kampung nelayan ini sudah dihuni kurang lebih 500 kepala keluarga. Setiap keluarga biasanya mempunyai lebih dari tiga anggota keluarga, bahkan ada yang lebih dari lima anggota keluarga. Para penduduk di kampung nelayan ini mempunyai kondisi sosial ekonomi rendah dan latar belakang pendidikan yang terbatas. Hampir seluruh kepala keluarga berprofesi sebagai nelayan dan kurang termotivasi atau tertarik dengan pendidikan. Banyak anak

(18)

di kampung nelayan yang putus sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah dan harus bekerja membantu orangtuanya. Selain tidak mampu membayar uang sekolah, fasilitas sekolah yang tersediapun sangat minim. Seorang pendidik bernama S di kampung nelayan mengatakan bahwa hanya tersedia TK dan SD. Sedangkan SMP baru berdiri satu setengah tahun. Namun begitu kualitas pengajaran pun masih dikatakan buruk. Masih banyak anak-anak disana yang masih belum bisa membaca hingga kelas 6 SD. Menurut S hal ini dikarenakan mereka tidak pernah mengulang apa yang diajarkan di sekolah, dan orangtua pun tidak bisa membantu dengan pelajaran anak, karena kebanyakan orangtua pun masih sulit untuk membaca.

Tidak hanya masalah pendidikan, S mengatakan banyak masalah yang timbul di kampung nelayan seperti perilaku-perilaku anak-anak yang masih duduk disekolah dasar yang sudah mengenal istilah berpacaran, peredaran narkoba, pernikahan dini, hingga kekerasan seksual pada anak. S mengatakan pernah terjadi kekerasan seksual yang dilakukan oleh paman kepada keponakannya yang masih kecil, tetapi biasanya hal-hal yang berbau kekerasan seksual terhadap anak tidak akan tersebar luas, dan diusahakan untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Hal ini dikarenakan kejadian- kejadian seperti itu masih dianggap aib. Seorang warga berinisial I juga membenarkan kejadian yang diceritakan S, namun ia sendiri tidak tahu bagaimana akhir kasus tersebut karena tidak pernah terdengar lagi. Ia hanya tahu bahwa pernah dilibatkan polisi tetapi tidak tahu mengenai kelanjutan kasusnya, karena memang keluarga korban sangat tertutup mengenai hal ini. I juga menambahkan bahwa pernah terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang pria dewasa terhadap anak, dimana pria dewasa tersebut adalah tetangga korban, namun seperti kasus pelecehan

(19)

sebelumnya, kasus ini pun tidak diketahui bagaimana akhirnya. Baru-baru ini terjadi pernikahan dini antara seorang siswa SMP dengan seorang laki-laki dewasa yang sudah mempunyai istri dan 3 orang anak. Mereka terpaksa dinikahkan karena siswa tersebut sudah lebih dulu mengandung. Hal ini membuat siswa tersebut harus putus sekolah.

Senada dengan pernyataan kepala lingkungan, S dan I mengatakan bahwa di kampung nelayan Belawan Medan ini setiap keluarga mempunyai lebih dari 2 anak.

Bahkan menurut S, ada suatu keluarga yang mempunyai 12 orang anak. Karena keterbatasan ruangan di rumah masing-masing keluarga di kampung nelayan Belawan-Medan, biasanya satu keluarga akan tidur dan melakukan kegiatan sehari- hari seperti masak pada ruangan yang sama. S dan I juga mengatakan selama ini anak-anak di kampung nelayan ini tidak pernah mendapatkan pengetahuan tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak, baik dari dalam rumah, sekolah ataupun pihak luar seperti pemerintahan, LSM, dan lainnya. Menurut I, banyak penyuluhan yang diberikan di Kampung Nelayan, tetapi belum pernah ada mengenai pencegahan kekerasan seksual. Biasanya penyuluhan yang diberikan lebih difokuskan pada orangtua maupun pada lingkungan tempat tinggal mereka, dan seringnya penyuluhan tersebut tidak tuntas.

Cerita tentang kampung nelayan yang disampaikan oleh S, I, dan Kepala Lingkungannya senada dengan beberapa hasil temuan yang ditemukan oleh Koalisi Perempuan Indonesia (2015) yang menyatakan bahwa banyak permasalahan yang terjadi di Kampung Nelayan. Beberapa diantaranya adalah: rendahnya angka partisipasi sekolah, perkawinan usia anak, rendahnya tingkat pendidikan, minimnya

(20)

sarana pendidikan, buruknya kesehatan lingkungan, kekerasan terhadap anak dan perempuan baik secara fisik maupun seksual.

Berdasarkan ulasan di atas menunjukkan bahwa anak-anak di Kampung Nelayan memang membutuhkan suatu tindakan pencegahan kekerasan seksual mengingat secara internal, anak-anak disana tidak pernah mendapatkan edukasi tentang kekerasan seksual dan secara ekternal, lingkungan mendukung terjadinya kekerasan seksual. Kebutuhan ini didukung oleh penelitian Korn (2004) yang mengatakan bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai program pencegahan kekerasan pada anak yang meliputi beberapa hal, salah satunya adalah anak-anak dari keluarga dengan pendapatan rendah. Secara keseluruhan diharapkan suatu penelitian yang memang disesuaikan dengan keadaan mereka. Tindakan yang dilakukan dapat berupa pencegahan primer yang ditujukan pada suatu komunitas, dalam hal ini adalah komunitas anak di kampung nelayan Belawan Medan, yang bertujuan untuk memutus atau mengeliminasi penyebab kekerasan seksual pada anak (Bagley&King, 2004).

Pencegahan kekerasan seksual dapat dilakukan dengan melatih anak meningkatkan personal safety skills. Personal safety skills adalah seperangkat keterampilan yang perlu dikuasai anak agar ia bisa melindungi dirinya dan terhindar dari tindak kejahatan seksual (Bagley&King, 2004). Dalam personal safety skills ini anak dilatih untuk mampu mengenali perasaan ataupun situasi yang mengancam (recognize), mampu bertahan dari dari bujuk rayu pelaku kejahatan seksual (resist), dan mampu mencari pertolongan ketika berada dalam situasi berbahaya dan mampu melaporkan pada orang dewasa lain (report) (Berger et al., 2006). Personal safety skills dalam melindungi diri dari kekerasan seksual sangat penting untuk diajarkan

(21)

pada anak-anak, oleh karena itu, pada beberapa negara bagian, personal safety skills dijadikan suatu kurikulum yang wajib diajarkan pada anak-anak sekolah dasar, seperti yang dilakukan oleh Mobile County Public School dan Sekolah Katolik Diocese of Tucson Arizona (Garner et al., 2001., Berger et. al, 2006). Sayangnya di Indonesia belum banyak sekolah-sekolah yang memasukkan materi personal safety skills dalam kurikulum sekolah.

Penuturan warga kampung nelayan Belawan Medan mengenai adanya anak sebagai korban kekerasan seksual menandakan bahwa anak tersebut tidak mempunyai personal safety skills, dimana ada kemungkinan ia tidak tahu bagaimana melindungi dirinya. Tidak adanya personal safety skills pada anak kampung nelayan Belawan Medan juga diperkuat dari hasil wawancara dengan anak-anak yang dilakukan di sekolah kampung nelayan Belawan Medan pada tanggal 21 Januari 2010, yang menunjukkan bahwa anak-anak tersebut tidak mempunyai personal safety skills.

Sejauh ini mereka tidak mengetahui area pribadi tubuh mereka dan mengatakan bahwa semua keluarga boleh memegang area pribadinya. Mereka juga tidak mengetahui bahwa ada batasan-batasan ketika mereka menyentuh atau disentuh orang lain. Selama ini memegang area pribadi teman adalah suatu bentuk candaan yang dilakukan sesama teman. Dalam hal resist mereka pun masih belum sepenuhnya terampil untuk membedakannya. Mereka mengatakan bahwa boleh menerima barang- barang dari orang asing, terutama jika barang tersebut berbentuk uang atau telepon genggam, mereka akan menuruti keinginan dari pemberi barang tersebut. jika mereka dipaksa melakukan hal yang tidak mereka sukai sebagian dari mereka menjawab lari dan memukul, tetapi sebagian lagi menjawab tidak tahu harus berbuat apa. Dalam hal

(22)

report semua anak mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui perbedaan rahasia baik dan buruk, bagi mereka rahasia adalah rahasia, jika mereka membocorkan rahasia yang diberikan pada mereka maka mereka tidak akan dipercaya lagi.

Salah satu cara untuk menyampaikan personal safety skills adalah dengan menggunakan Behavior Skill Training (BST). BST merupakan salah satu pelatihan yang memberikan penjelasan tentang perilaku yang diharapkan melalui instruction, kemudian perilaku yang diharapkan tersebut dicontohkan melalui tahap modeling, setelah peserta pelatihan melihat contoh yang diberikan, mereka diminta untuk mengulang apa yang mereka lihat dan pahami melalui tahap rehearsal. Setelahnya performansi mereka akan dinilai melalui tahap feedback (Miltenberger, 2012).

Dengan kata lain pelatihan BST ini akan melatih anak-anak mengenai personal safety skills dengan cara yang konkrit. Cara ini sesuai dengan kemampuan berfikir anak- anak yang akan menjadi subjek penelitian ini yaitu anak-anak yang berada dalam rentang usia tengah (middle childhood) yang bersekolah di sekolah negri di kampung nelayan Belawan Medan. Anak-anak yang termasuk dalam usia tengah adalah anak- anak yang berusia dari 7 tahun hingga 11 tahun (Santrock, 2011). Menurut tahapan kognitif Piaget, anak-anak ini berada dalam tahap operational konkrit. Dalam tahap ini anak-anak akan mampu memahami suatu penalaran atau makna tertentu melalui contoh yang konkrit (Santrock, 2011).

Anak usia tengah dapat juga di kategorikan sebagai anak usia sekolah dasar.

Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan pasal 6 ayat 1 yang menyebutkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 – 15 tahun wajib mengikuti Pendidikan

(23)

Dasar. Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pasal 69 ayat 4, juga menyebutkan bahwa SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 tahun sampai dengan 12 tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya.

Berdasarkan uraian kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak, disebutkan bahwa kebanyakan kasus kekerasan seksual dilakukan pada anak-anak usia tengah. Seperti hasil penelitian yang dilakukan Ronken & Johnston (2012) yang mengatakan bahwa kebanyakan korban kekerasan seksual berkisar pada usia 8-12 tahun atau secara umum berada dibawah usia 12 tahun. Hasil wawancara dengan anggota PKPA Medan juga mengatakan bahwa selama tahun 2014, usia korban kekerasan seksual yang mereka tangani berkisar antara 6-10 tahun dan kebanyakan berasal dari keluarga yang tidak mampu (hasil wawancara ,2015). Kemudian penelitian Bahri & Fajriani (2015) juga menunjukkan bahwa sebagian besar korban kekerasan seksual adalah anak-anak pelajar yang berusia di bawah 15 tahun dan berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah.

Berdasarkan ulasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan korban kekerasan seksual merupakan anak-anak yang berada dalam rentang usia tengah, dan kebanyakan dari mereka merupakan anak-anak yang berasal dari kondisi ekonomi rendah, seperti halnya anak-anak di kampung nelayan Belawan Medan.

Penggunaan BST sebagai metode dalam meningkatkan personal safety skills pada anak usia tengah yang sudah bersekolah akan mudah diterima dengan asumsi mereka mempunyai kemampuan memahami instruction dengan baik dan memudahkan mereka memahami pesan yang disampaikan dengan adanya modeling, rehearsal, dan

(24)

feedback. Dengan adanya intervensi behavioral skills training diharapkan dapat meningkatkan personal safety skills anak-anak di kampung Nelayan dalam upaya melindungi diri mereka dari kejahatan seksual.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan fenomena latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Apakah Behavior Skills Training dapat meningkatkan personal safety skills anak Kampung Nelayan Belawan-Medan dalam melindungi diri dari kekerasan seksual?”

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan masalah penelitian di atas, maka tujuan dari penelitian adalah “Untuk menguji hipotesa bahwa Behavior Skills Training dapat meningkatkan personal safety skills anak Kampung Nelayan Belawan-Medan dalam melindungi diri dari kekerasan seksual.

1.4 Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

 Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan, sumber informasi, dan referensi dalam menambah khasanah ilmu, khususnyabidang psikologi klinis anak tentang program behavior skills training untuk meningkatkan personal safety skills anak kampung nelayan belawan medan.

(25)

 Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi peneliti lainnya yang ingin melakukan penelitian lanjutan mengenai behavior skills training dan personal safety skills.

b. Manfaat Praktis

 Perkembangan Ilmu Pengetahuan Psikologi Klinis Anak

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai aplikasi nyata psikologi klinis anak terkait penerapan program behavior skills training dalam upaya meningkatkan personal safety skills anak kampung nelayan belawan medan

 Perkembangan Pelayanan Psikologi

Hasil penelitian behavior skills training ini kiranya dapat menjadi acuan program preventif untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak-anak yang tinggal di daerah beresiko tinggi terjadinya kekerasan seksual pada anak

 Dunia Pendidikan

Hasil penelitian behavior skills training ini dapat berguna untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan dalam upaya pencegahan terjadinya kekerasan seksual pada anak melalui rancangan program pendidikan dan kurikulum di sekolah.

1.5 Sistematika Penulisan

 Bab I Pendahuluan

Menguraikan latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

 Bab II Tinjauan Pustaka

(26)

Berisi kajian yang diperoleh dari penelaahan pustaka meliputi kajian literatur dan hal-hal yang terkait Behavior Skills Training, Personal Safety Skills, Kekerasan Seksual Pada Anak, dan Kampung Nelayan.

 Bab III Metode Penelitian

Berisikan uraian mengenai rancangan penelitian, identifikasi variabel penelitian, defenisi operasional penelitian, subjek penelitian, alat ukur yang digunakan, tahap-tahap penelitian, kriteria keberhasilan program intervensi, dan metode analisa data.

 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berisikan uraian tentang deskripsi subjek penelitian, waktu dan tempat intervensi, hasil penelitian dan pembahasan.

 Bab V Kesimpulan dan Saran

Berisikan uraian tentang kesimpulan yang diungkapkan berdasarkan hasil penelitian, saran metodologis dan saran praktis.

(27)
(28)

2.1. Personal Safety Skills

2.1.1. Pengertian Personal Safety Skills

Menurut kurikulum Queensland Schools Council (2000), personal safety skills adalah suatu keterampilan yang harus diajarkan kepada anak agar anak mampu merespon situasi ketika mereka merasa nyaman ataupun tidak nyaman, merasa aman atau tidak aman dengan menggunakan keterampilan verbal maupun non verbal.

Dalam hal ini anak harus mampu mengenali situasi yang aman dan tidak aman sehingga mereka mampu merencanakan strategi untuk melindungi diri mereka.

Dalam penelitiannya Walters, Neale, Hutson, dan Mears (2004) menyimpulkan bahwa personal safety skills adalah suatu kemampuan untuk membebaskan diri mereka dari ancaman atau ketakutan secara psikologis, emosional, dan fisikis yang dilakukan oleh orang lain. Terdapat 3 hal yang mempengaruhi personal safety seseorang, yaitu: faktor sosial, faktor fisik, dan faktor personal.

Miltenberger (2008) mengatakan bahwa personal safety skills adalah suatu kemampuan untuk melindungi diri dari ancaman-anacaman keselamatan diri yang diperoleh dari hasil interaksi seseorang dengan lingkungannya baik secara fisik maupun sosial. Ancaman-ancaman ini dapat menyebabkan cidera bahkan kematian jika seseorang tidak mampu merespon ancaman tersebut dengan tepat. Ada 3 keterampilan yang dibutuhkan dalam menghindarkan diri dari ancaman keselamatan

(29)

yaitu: menghindari ancaman tersebut, melakukan tindakan untuk bisa lari dari situasi yang mengancam, melaporkan pada orangtua atau guru mengenai ancaman tersebut.

2.1.2. Pengertian Personal Safety Skills Terhadap Kekerasan Seksual

Menurut Miltenberger & Thiese-Duffy (1988) personal safety skills adalah suatu bentuk pencegahan terjadinya kekerasan seksual dengan cara melatih anak menolak rayuan orang asing dan segera meninggalkan situasi yang berbahaya. Senada dengan Miltenberger et al., Wurtele & Owens (1997) mengatakan bahwa personal safety skills adalah suatu usaha yang menggabungkan pengetahuan dan keterampilan melalui instruksi berkelompok untuk membantu anak melindungi dirinya dari kekerasan seksual. Dalam kurikulum panduan pencegahan kekerasan seksual, disebutkan bahwa personal safety skills adalah suatu keterampilan yang diajarkan pada anak dengan meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai kekerasan seksual (Garner et al., 2001). Sedangkan menurut Bagley & King (2004), personal safety skills adalah seperangkat keterampilan yang perlu dikuasai anak agar dapat menjaga keselamatan dirinya dan terhindar dari tindakan kekerasan seksual. Senada dengan Bagley& King, Berger et. al (2006) dalam menyusun panduan kurikulum personal safety skills bagi anak dan remaja menyebutkan bahwa personal safety skills berfokus pada meningkatkan kemampuan anak untuk memahami kekerasan seksual, mengembangkan keterampilan dasar untuk menyelamatkan diri dari situasi yang berbahaya, serta mampu melaporkan tindakan-tidakan yang tidak pantas kepada orang lain.

(30)

2.1.3. Komponen Personal Safety Skills Terhadap Kekerasan Seksual

Bagley dan King (2004) menyebutkan bahwa ada 3 komponen personal safety skills yang biasa disebut dengan 3R, yaitu:

a. Recognize: kemampuan anak mengenali ciri-ciri orang yang berpotensi melakukan kekerasan seksual. Dalam hal ini anak diajarkan untuk mengenali bagian-bagian pribadi tubuh yang boleh ataupun tidak boleh disentuh oleh orang lain. Anak juga diajarkan bagaimana mengatakan tidak saat orang lain melakukan sentuhan tidak aman (unsafe touch), meminta anak membuka baju atau memperlihatkan bagian pribadi tubuh, menyuruh anak melihat bagian tubuh sang pelaku, ataupun memperlihatkan konten seksual. Anak diberikan kesadaran atas hak-hak pribadi terhadap tubuhnya, serta bagaimana mereka boleh menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh menyentuh bagian tubuhnya, terutama bagian pribadinya. Dengan demikian anak diharapkan dapat membedakan pelaku tindakan kekerasan seksual dengan kontak fisik lainnya yang dilakukan orang lain kepadanya.

b. Resist: kemampuan anak bertahan dari perlakuan atau tindak kekerasan seksual, misalnya berteriak minta tolong atau memberitahu orang lain bahwa orang yang menggandengnya bukan ayah atau ibunya. Dalam hal ini anak diajarkan untuk mengidentifikasi sejumlah tindakan yang dapat ia lakukan ketika berhadapan dengan pelaku kekerasan seksual atau situasi yang memungkinkan terjadinya kekerasan seksual. Anak juga diajarkan untuk dapat mengabaikan rayuan dan bujukan dari orang yang berpotensi melakukan kekerasan seksual, bagaimana mengatakan tidak atau stop

(31)

dengan lantang dan tegas pada orang yang mencoba melakukan tindak kekerasan seksual kepada mereka, melakukan tindakan perlawanan seperti memukul, menggigit, menendang pelaku kekerasan seksual, dan melarikan diri dari pelaku kekerasan seksual serta berteriak minta tolong.

c. Report: kemampuan anak melaporkan perilaku kurang menyenangkan secara seksual yang diterimanya dari orang dewasa, bersikap terbuka kepada orangtua agar orangtua dapat memantau kondisi anak. Dalam hal ini anak diajarkan untuk mampu bersikap terbuka atas tindakan kekerasan seksual yang diterimanya, dan mampu melaporkan pelaku pada orang dewasa atau lembaga lain yang berkepentingan dan dipercaya oleh anak untuk membantunya.

Wurtele dan Kenny (dalam Brown, 2012) menyebutkan bahwa ada 5 komponen program personal safety yang biasanya diberikan pada anak yang disebut dengan 5R, yaitu:

1. Recognize: yaitu komponen personal safety yang bertujuan membantu anak mengenali situasi yang tidak aman atau berpotensi terjadi kekerasan seksual 2. Refuse: yaitu komponen personal safety yang bertujuan mengajarkan anak

secara verbal menolak permintaan yang tidak pantas dari pelaku dengan mengatakan tidak

3. Resist: yaitu komponen personal safety yang bertujuan mendorong anak secara fisik bertahan dengan menjauhkan diri mereka dari orang yang berpotensi melakukan kekerasan seksual

(32)

4. Report: yaitu komponen personal safety yang bertujuan mendorong anak melaporkan kekerasan yang pernah dialami ataupun yang akan terjadi pada orang dewasa yang dipercaya

5. Responsibility: yaitu komponen personal safety yang bertujuan menolong anak memahami bahwa rahasia dan sentuhan tidak baik bukanlah kesalahan anak, hal tersebut adalah tanggung jawab pelaku kejahatan seksual.

2.2.Kekerasan Seksual pada Anak

2.2.1. Pengertian Kekerasan Seksual pada Anak

Kekerasan seksual mengacu pada setiap kegiatan seksual yang melibatkan anak dan orang dewasa, atau secara signifikan lebih tua dari anak, dimana aktivitas tersebut yang bertujuan untuk stimulasi seksual pelaku kejahatan yang dilakukan dalam kondisi kekerasan, seperti ketika anak dipaksa atau diakali untuk melakukan aktifitas tersebut (Carr, 2002). Menurut Paramastri et al., (2010) kekerasan seksual pada anak adalah tindakan pemaksaan, ancaman atau ketidakberdayaan seorang anak dalam aktifitas seksual. Dimana aktifitas seksual tersebut meliputi melihat, meraba, penetrasi, pencabulan dan pemerkosaan yang dapat memberikan dampak secara fisik dan psikologis. Senada dengan Paramastri et al., Poerwandari (dalam Fuadi, 2011) mengatakan bahwa kekerasan seksual merupakan tindakan yang mengarah pada ajakan atau desakan seksual seperti menyentuh, meraba, mencium, dan atau melakukan tindakan-tindakan lain yang tidak dikehendaki oleh korban, memaksa korban menonton produk pornorafi, gurauan-gurauan seksual, ucapan-ucapan yang merendahkan, dan melecehkan dengan mengarah pada aspek jenis kelamin atau seks

(33)

korban, memaksa melakukan aktifitas-aktifitas seksual yang tidak disukai, merendahkan, menyakiti atau melukai korban.

WHO (dalam Allnock&Hynes, 2012) mengatakan bahwa kekerasan seksual pada anak adalah keterlibatan anak dalam aktivitas seksual dimana anak tersebut tidak sepenuhnya memahami, tidak memberi izin, secara perkembangan belum matang, dan melanggar aturan hukum atau norma yang berlaku di sosial. Kekerasan seksual pada anak dapat dilakukan oleh orangdewasa atau anak seusianya atau yang lebih tua yang mempunyai kekuasaan, tanggung jawab atas anak tersebut.

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kekerasan seksual pada anak adalah suatu tindakan yang dilakukan orang yang lebih besar dari anak, yang memaksa anak melakukan aktifitas-aktifitas seksual untuk memenuhi kebutuhan seksual pelaku dengan cara meraba, mencium, menyentuh, mencabuli, bahkan memperkosa yang nantinya dapat menimbulkan dampak pada anak baik secara fisik maupun psikologis.

2.2.2. Jenis-Jenis Kekerasan Seksual pada Anak

Menurut Nainggolan (2008) berdasarkan ketentuan Konvensi Hak Anak (1989) dan protokol tambahannya KHA (Option Protocol Convention on the Rights of the Child), bentuk ataupun jenis kekerasan seksual pada anak terbagi dalam 4 jenis yaitu : (1) Penjualan anak (sale Children), (2) Prostitusi Anak (Childs Prostitution), (3) Pornografi (Child Pornograpy), (4) Perkosaan.

Kekerasan seksual pada anak ini bisa berupa hubungan seksual, baik melalui vagina, penis, oral, dengan menggunakan alat, sampai dengan memperlihatkan alat

(34)

kelaminnya, sodomi (yaitu pemaksaan hubungan seksual melalui anus), onani, bahkan perbuatan incenst (pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan oleh keluarga kandung) (Fuadi, 2011)

2.2.3. Penyebab Terjadinya Kekerasan Seksual pada Anak

Penelitian yang dilakukan Rahmawati et al., (2002) menunjukkan bahwa kebebasan media dan pers yang menyertai era globalisasi, menyebabkan materi- materi seks kian mudah didapatkan dan beredar di masyarakat. Materi-materi seks ini membuat seseorang terangsang gairah seksualnya dan mempunyai keinginan untuk memuaskan dorongan seks yang dirasakan. Dan kebanyakan yang mengakses materi- materi berbau seksualitas ini adalah anak remaja hingga orang dewasa. Hertinjung (2009) menambahkan bahwa kurangnya program edukasi dari pihak pemerintah yang bisa diakses pun menyebabkan terjadinya kekerasan seksual pada anak.

Hertinjung juga mengatakan bahwa faktor lain yang mempengaruhi terjadinya kekerasan seksual adalah faktor kepadatan penduduk. Orang-orang dengan sosial ekonomi ke bawah biasanya tinggal di daerah padat penduduk. Rumah ukuran kecil yang dipadati oleh penghuni membuat tidak adanya pembagian ruang dan ruang peribadi, sehingga satu ruangan digunakan bersama untuk berbagai aktivitas oleh banyak orang di rumah. Hal ini dapat mencetuskan terjadinya kekerasan seksual.

Hasil penelitian Paramastri et al., (2010) menunjukkan bahwa beberapa kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi di rumah justru terjadi ketika mereka sedang dimandikan oleh keluarganya. Alat kelamin mereka sering dimainkan saat mereka sedang dimandikan.

(35)

Selanjutnya Paramastri et al., mengatakan bahwa biasanya pelaku kekerasan adalah orang yang dekat dengan korban baik secara fisik ataupun secara emosional sehingga orangtua kadang tidak menyadari ancaman bahaya pada anaknya. Hal ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan Fuadi (2011) menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab terjadinya kekerasan seksual pada anak, yaitu:

1. Kelalaian orangtua, sering kali orangtua tidak memperhatikan tumbuh kembang dan pergaulan anak yang membuatnya menjadi korban kekerasan seksual. Selain itu, pengetahuan orangtua mengenai kekerasan seksual dan dampaknya, ciri-ciri pelaku dan korban, dan strategi yang perlu dilakukan dalam mengatasi kekerasan seksual pada anak masih minim.

2. Rendahnya moralitas dan mentalitas pelaku. Moralitas dan mentalitas yang tidak dapat bertumbuh dengan baik, membuat pelaku tidak dapat mengontrol nafsu atau perilakunya.

3. Ekonomi. Faktor ekonomi membuat pelaku dengan mudah memuluskan rencananya dengan memberikan iming-iming kepada korban yang menjadi target dari pelaku.

Lebih jelasnya Wurtele&Kenny (dalam Goodyear-Brown, 2012) membagi faktor-faktor resiko penyebab terjadinya kekerasan seksual, yaitu:

a. Anak, seperti :

1. Karakteristik Psikopatologi

(36)

2. Kurangnya pengetahuan mengenai perilaku seksual yang pantas dan tidak pantas

3. Kebutuhan perhatian dan afeksi yang tinggi 4. Rendah diri dan kurang percaya diri

5. Kelekatan tidak aman

6. Sifat anak yang pasif, penurut, tidak asertif, dan ingin selalu menyenangkan orang lain

7. Kurangnya kemampuan pemecahan masalah atau pengambilan keputusan 8. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai perkembangan seksual 9. Pengetahuan dan perilaku seksual yang tidak sesuai usia

10. Tidak menghargai atau tdak mempunyai batasan personal 11. Pernah mengalami kekerasan seksual

b. Tempat Tinggal Anak, seperti :

1. Pengasuh tidak terlibat dalam kehidupan anak 2. Supervisi yang tidak efisien

3. Penggunaan internet yang tidak dimonitor

4. Karakteristik keluarga yang tidak mempunyai komunikasi yang baik 5. Orangtua tunggal atau yang mempunyai ayah tiri

6. Kareakteristik keluarga yang bercerai dna mengalami kekerasan

7. Kurangnya privasi dalam rumah dan penghuni rumah yang terlalu ramai 8. Sejarah keluarga akan penggunaan alkohol

9. Tidak adanya pengajaran perilaku melindungi diri dari orangtua 10. Secara sosial dan geografis terisolasi

(37)

c. Microsystem, seperti :

1. Lingkungan yang beresiko tinggi terjadinya kekerasan seksual pada anak.

2. Tidak ada edukasi mengenai kekerasan seksual pada anak 3. Kurangnya ketentuan ataupun aturan terkait kejahatan seksual 4. Tidak ada pendidikan personal safety yang sesuai usia anak 5. Kurangnya edukasi seksual dalam sistem pendidikan

6. Tidak ada edukasi kepada orangtua mengenai kekerasan seksual pada anak 7. Kurangnya support untuk keluarga

2.2.4. Dampak pada Anak yang Mengalami Kekerasan Seksual

Biasanya anak-anak yang mengalami kekerasan seksual mengalami dampak baik jangka pendek dan jangka panjang. Menurut Fuadi (2011) anak-anak yang mengalami kekerasan seksual mempunyai dampak psikologis yang digolongkan dalam 3 bagian, yaitu :

1. Gangguan perilaku yang ditandai dengan malas untuk melakukan aktifitas sehari-hari.

2. Gangguan Kognisi yang ditandai dengan sulit berkonsentrasi, tidak fokus ketika sedang belajar, sering melamun dan termenung sendiri.

3. Gangguan emosional yang ditandai dengan gangguan mood dan suasana hati serta menyalahkan diri sendiri.

Senada dengan pernyataan di atas, Hall & Hall (2011) mengatakan bahwa kekerasan seksual pada anak dapat menimbulkan dampak sebagai berikut :

(38)

1. Depresi. Korban biasanya sering berfikiran negatif akan dirinya. Setelah lama memandang dirinya negatif, korban bisa jadi merasa tidak berharga dan menghindari orang lain karena merasa mereka sudak tidak mempunyai apa- apa lagi untuk diberikan

2. Merasa bersalah, malu dan menyalahkan diri.

3. Permasalahan tubuh dan gangguan makan. Ratican (dalam Hall & Hall, 2011) mengatakan korban biasanya mempunyai pandangan tubuh yang jelek.

Mereka merasa tubuh mereka jelek ataupun kotor, ketidakpuasan terhadap tubuh, gangguan makan hingga obesitas.

4. Stres dan Cemas. Ketakutan yang dirasakan korban kekerasan seksual dapat membuat mereka menjadi stres dan cemas yang akhirnya menimbulkan phobia, serangan kecemasan, dan lainnya.

5. Korban biasanya tidak bisa melupakan kejadian kekerasan seksual yang dialaminya. Pada anak biasanya akan membuat mereka mimpi buruk, bingung, dan sulit mengekspresikan perasaan.

6. Korban biasanya sulit untuk membangun suatu hubungan interpersonal.

Biasanya mereka akan sulit membangun hubungan yang berhubungan dengan kepercayaan, merasa takut akan intimasi, sulit membangun batasan hubungan, dan lainnya.

2.2.5 Penanganan Terhadap Anak yang Mengalami Kekerasan Seksual

Penangan yang dilakukan adalah tindakan preventif. Tindakan preventif ini sendiri terbagi atas 3 bagian yaitu :

(39)

1. Preventif primer: Merupakan suatu tindakan preventif yang menargetkan pada populasi umum dengan tujuan menghentikan terjadinya kekerasan seksual (Daro,1994; Bagley&King, 2004). Sedangkan Leavell & Clark (dalam WHO, 1998) menyebutkan bahwa preventif primer adalah suatu metode yang didesain untuk menghindari munculnya suatu gangguan pada suatu kelompok, yang diberikan pada orang-orang dalam kelompok tersebut yang belum terkena gangguan. Hal ini dilakukan karena populasi yang didalamnya termasuk keluarga ataupun lingkungan sekitarnya merupakan pendidik pertama bagi anak. Dengan kata lain, perilaku seseorang terbentuk dari hasil interaksinya dengan lingkungannya (PCAR&NSVRC, 2011).

2. Prefentif Sekunder: Merupakan suatu tindakan preventif yang menargetkan pada kelompok dengan resiko tinggi terjadinya kekerasan seksual dengan tujuan menghindari penyebaran permasalahan (Daro,1994; Bagley&King, 2004).

Tindakan preventif sekunder ini termasuk respon segera setelah kekerasan seksual terjadi sehingga dapat menghindari kekerasan tambahan, Dalam hal ini, orangtua berperan sangat penting dalam melakukan preventif sekunder. Mereka harus dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi agar mampu berespon secara efektif (PCAR&NSVRC, 2011).

3. Preventif Tertier: Merupakan suatu tindakan preventif yang menargetkan pada korban atau pelaku dengan tujuan menghindari munculnya kejadian lain (Daro,1994; Bagley&King, 2004). Preventif tertier termasuk didalamnya respon jangka panjang setelah kekerasan terjadi. Dalam hal ini orangtua juga diminta untuk terlibat secara langsung untuk mendukung pemulihan anaknya. Respon-

(40)

respon yang diberikan dapat berupa terapi-terapi psikologis seperti CBT, terapi keluarga, dll atau juga menggunakan terapi medis seperti menggunakan obat- obatan (PCAR&NSVRC, 2011).

2.2.6. Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak

Pencegahan kekerasan seksual terhadap anak dapat dilakukan dengan meningkatkan personal safety skills anak. Selain meningkatkan keterampilan melindungi diri pada anak, pencegahan kekerasan seksual juga dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan anak mengenai kekerasan seksual itu sendiri.

Seperti yang dilakukan Tutty (1995) dalam publikasi ilmiahnya yang berjudul Child Knowlwdge of Sexual Abuse Questionnaire yang mengemukakan 10 tema dasar yang dapat dilatih kepada anak sebagai bentuk pencegahan kekerasan seksual pada anak, yaitu:

1. Kepemilikan tubuh: konsep ini menekankan ise bahwa seorang anak bertanggung jawab atas tubuhnya sendiri dan mempunyai hak untuk mengatakan “tidak” pada sentuhan yang tidak diinginkan. Terkait hal ini, banyak program yang dilakukan untuk menjelaskan perbedaan perasaan dan bagaimana membuat anak mempercayai “feeling”nya. Misalnya ketika anak tidak nyaman dengan bagaimana seseorang menyentuhnya, ia didorong untuk awas terhadap perasaan tersebut dan berusaha untuk menjauh.

2. Sentuhan baik vs sentuhan tidak baik: Salah satu metode yang paling banyak digunakan dalam menyampaikan konsep ini adalah dengan touch continuum dari Anderson, yang menjelaskan bahwa sentuhan tidak hanya menimbulkan rasa

(41)

nyaman dan tidak nyaman, tetapi juga dapat berubah dari baik menjadi buruk.

Terkadang ada sentuhan yang membingungkan yang membuat anak kesulitan berespon terhadap sentuhan tersebut. Oleh karena itu, anak akan diajarkan mengenai area-area tubuh yang termasuk boleh disentuh atau tidak.

3. Bagian pribadi: Hal ini mengacu pada pengajaran pada anak mengenai area ribadi tubuhnya, siapa yang boleh menyentuh, dan dalam kondisi apa bagian tersebut boleh disentuh, misalnya saat ke dokter yang harus ditemani oleh orang dewasa yang dipercaya.

4. Tidak ada rahasia: Salah satu cara penjahat seksual merayu korbannya adalah dengan mengatakan aktivitas yang mereka lakukan adalah aktivitas rahasia dan anak diminta berjanji tidak akan memberitahu siapapun.Oleh karena itu anak diajarkan untuk selalu jujur kepada orang dewasa yang dipercaya.

5. Orang asing: Anak kecil biasanya mempunyai konsep akan orang asing sebagai seseorang yang jelek, menakutkan, kejam, tidak ramah, dan mirip seperti tokoh penjahat di film. Penting diajarkan pada anak bahwa tidak semua orang asing itu jahat. Tetapi mengajarkan bahwa kita tetap harus waspada kepada orang asing.

6. Rayuan: Anak harus diajarkan untuk mengenali bentuk-bentuk rayuan yang dilakukan oleh orang dewasa seperti memberi imbalan, meminta bantuan dan lainnya. Oleh karena itu anak harus diajarkan untu tidak menerima apapun dari orang yang tidak dikenal.

7. Melapor: Dikarenakan adanya ancaman dari pelaku kekerasan kepada anak untuk tidak boleh melapor kepada siapapun, anak biasanya akan takut melapor karena merasa tidak akan dipercaya. Oleh karena itu anak harus diajarkan untuk berani

(42)

melaporkan apapun kejadian yang membuatnya tidak nyaman. Jika orang dewasa tidak percaya ia harus mencari orang dewasa lain yang bisa mempercayainya.

Anak-anak dapat diminta menuliskan data orang-orang dewasa yang bisa menjadi tempatnya melapor

8. Orang yang dikenal: hal ini termasuk kerabat dekat dan anggota keluarga. Anak harus diajarkan meskipun mereka orang yang dekat dengan anak bukan tidak mungkin mereka menyentuh anak dan membuat anak tidak nyaman.

9. Jika anak adalah korban kekerasan seksual, maka itu bukan salahnya: Dalam hal ini anak diajarkan untuk mengetahui bahwa orang dewasa bertanggung jawab untuk berperilaku yang pantas pada anak.

10. Anak laki-laki juga beresiko mengalami kekerasan seksual: Tidak hanya anak perempuan, anak laki-lakipun mempunyai resiko mengalami kekerasan seksual.

Oleh karena itu baik anak laki-laki maupun perempuan harus mampu melindungi dirinya sendiri.

Martyniuk&Dworkin (dalam nsvrc.org, 2011) mengemukakan bahwa dalam melakukan pencegahan terjadinya kekerasan seksual pada anak, dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan seksual pada anak, Poin-poin penting yang dapat diajarkan pada anak adalah:

1. Mengajarkan anak menghindari kekerasan seksual dengan cara :

a. Memberikan konsep area pribadi dan bagian tubuh mana yang dianggap pribadi.

b. Perbedaan antara sentuhan yang pantas dan tidak pantas terhadap anak c. Orang-orang yang mungkin bisa melakukan kekerasan terhadap mereka

(43)

d. Mengajarkan untuk mempercayai intuisi mereka terhadap orang dan situasi e. Perkembangan kesehatan seksual

2. Memberikan anak keterampilan untuk “menangkis” kekerasan seksual dengan cara:

a. Mengajarkan anak untuk bisa menentukan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh menyentuh tubuh mereka

b. Ketika ada yang menyentuh mereka tanpa seizin mereka yang membuat mereka tidak nyaman, mereka harus berani mengatakan tidak atau melarikan diri, atau berani meminta tolong.

3. Mendorong anak untuk berani mengadukan tindak kekerasan yang mereka alami dengan cara:

a. Mengajarkan bahwa kekerasan seksual bukanlah kesalahan mereka

b. Mengajarkan jika seseorang menyentuh mereka dengan cara yang tidak nyaman, mereka harus selalu berani mengadukan kepada orang yang mereka percaya

c. Tidak boleh menyimpan rahasia mengenai seseorang yang menyentuh mereka d. Mengetahui orang-orang dewasa yang dapat dipercaya

e. Mengajarkan bahwa walaupun mereka memberitahu mengenai kekerasan yang dialami, orang dewasa tersebut akan tetap menyayangi dan melindungi mereka

f. Mengajarkan nama-nama bagian tubuhnya sehingga ketika mengadu mereka bisa memberitahu bagian tubuh mana tepatnya yang disentuh.

(44)

Dalam hal mengajarkan anak-anak mengenai kekerasan seksual, Praktisi atau orangtua dapat mengajarkan mereka dengan berbagai macam teknik seperti:

1. Untuk anak-anak yang aktif secara verbal dan fisik, dapat dilakukan dengan cara:

bermain peran, shapping, diskusi.

2. Untuk anak-anak yang pasif, dapat dilakukan dengan cara: Modeling, film, komik, buku, presentasi mengenai kekerasan seksual.

Menurut Mashudi&Nur’aini (2015) Pencegahan kekerasan seksual dapat dilakukan dengan melatih anak untuk melindungi diri dan melatih lingkungannya seperti orangtua, guru, sistem sekolah untuk membantu anak terhindar menjadi korban kekerasan seksual. Selama ini pencegahan lebih banyak diberikan kepada orangtua, tetapi anak sebagai pihak yang lemah juga harus diajarkan keterampilan yang dapat membantunya melindungi dirinya.

2.3. Behavior Skill Training (BST)

2.3.1 Pengertian Behavior Skill Training (BST)

Behavior Skill Training adalah suatu pelatihan untuk memodifikasi perilaku seseorang dengan cara mengajarkan suatu keterampilan untuk mengubah perilakunya.

Dalam pelaksanaannya, BST menggunakan kombinasi dari Instruksi, Modelling, Rehearsal, Pujian, dan FeedBack untuk mengajarkan suatu keterampilan yang spesifik. Prosedur BST dapat dilakukan dalam konteks roleplay. (Miltenberger, 2012., Gadke, Ho & Jostad, 2014).

(45)

2.3.2 Komponen BST a. Modelling

Dengan modelling, perilaku yang diinginkan dapat didemonstrasikan kepada klien. Klien mengobservasi perilaku yang diinginkan dan mengimitasinya. Agar proses modelling menjadi efektif, klien harus mempunyai imitative repertoire yaitu klien harus bisa memfokuskan perhatiannya pada perilaku yang diinginkan dan mencobakan perilaku tersebut.

b. Instruction

Instruksi menjelaskan perilaku yang sesuai untuk klien. Agar efektif, instruksi haruslah spesifik dan harus bisa menjelaskan dengan tepat perilaku apa yang diharapkan dari klien. Instruksi juga harus menspesifikkan keadaan yang sesuai dimana perilaku diharapkan muncul. Dalam instruksi harus disampaikan situasi anteseden dan perilaku yang tepat, setelahnya disampaikan juga konsekuensi yang diterima ketika perilaku yang diharapkan muncul.

c. Rehearsal

Rehearsal adalah kesempatan klien untuk mempraktikkan perilaku yang diinginkan setelah menerima instruksi atau melihat demonstrasi model perilaku yang diharapkan. Rehearsal adalah bagian yang penting dalam BST karena (a).

pelatih tidak bisa memastikan bahwa klien telah mempelajari perilaku yang

(46)

diharapkan sampai pelatih melihat klien melakukan perilaku tersebut. (b). Hal ini menimbulkan peluang untuk meng reinforce perilaku tersebut. (c). Hal ini memunculkan peluang untuk menilai dan memperbaiki kesalahan yang terjadi dalam menampilkan perilaku yang diharapkan.

d. Feedback

Ketika klien telah melakukan rehearsal perilaku, maka feedback harus segera diberikan. Feedback dapat berupa pujian atau reinforcement lainnya untuk menandakan perilaku yang sudah tepat. Jika diperlukan, feedback berisi koreksi perilaku yang salah atau instruksi lanjutan untuk meningkatkan performa.

2.3.3 Cara Menggunakan Behavior Skills Training (BST)

Berikut adalah beberapa cara untuk menggunakan prosedur BST, yaitu :

- Identifikasi dan tentukan keterampilan yang ingin diajarkan. Pendefenisian perilaku yang baik dapat dengan jelas menggambarkan keseluruhan perilaku yang ingin diajarkan.

- Identifikasi segala stimulus situasi yang relevan dimana keterampilan harus digunakan.

- Lakukan penilaian terhadap kemampuan klien dalam simulasi situasi untuk menentukan baseline

- Lakukan pelatihan dengan keterampilan yang paling mudah atau pada situasi yang paling mudah. Diharapkan ada perasaan berhasil pada diri klien sehingga ia mau melanjutkan pelatihan yang diberikan.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan efikasi diri upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak usia sekolah setelah diberikan edukasi dengan media komik didapatkan

Kondisi tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan Sarandria (2012) bahwa intervensi konseling dengan pendekatan cognitive-behavior therapy yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : permainan gobag sodor berperan baik dalam meningkatkan civic skills siswa yaitu peningkatan keterampilan intelektual, keterampilan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : permainan gobag sodor berperan baik dalam meningkatkan civic skills siswa yaitu peningkatan keterampilan intelektual, keterampilan

Hasil analisis menunjukkan bahwa perhitungan dengan menggunakan teknik analisis persentase pada subjek 1 menunjukkan perubahan perilaku kepercayaan diri naik sebesar

Berdasarkan asesmen yang telah dilakukan maka diketahui bahwa subjek mengalami gangguan autis, dari deskripsi kasus ini menunjukkan bahwa saat ini subjek membutuhkan adanya

Terkait dengan masalah yang di hadapi pada anak-anak usia dini di desa tersebut yang masih sangat kurang dengan edukasi seksual dini maka program edukasi seksual dini melalui permainan

SIMPULANDANSARAN Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan personal safety skill pada peserta sebanyak 4.54