BAB II LANDASAN TEORI
2.2. Kekerasan Seksual Pada Anak
2.2.4. Dampak Pada Anak Yang Mengalami Kekerasan Seksual
Biasanya anak-anak yang mengalami kekerasan seksual mengalami dampak baik jangka pendek dan jangka panjang. Menurut Fuadi (2011) anak-anak yang mengalami kekerasan seksual mempunyai dampak psikologis yang digolongkan dalam 3 bagian, yaitu :
1. Gangguan perilaku yang ditandai dengan malas untuk melakukan aktifitas sehari-hari.
2. Gangguan Kognisi yang ditandai dengan sulit berkonsentrasi, tidak fokus ketika sedang belajar, sering melamun dan termenung sendiri.
3. Gangguan emosional yang ditandai dengan gangguan mood dan suasana hati serta menyalahkan diri sendiri.
Senada dengan pernyataan di atas, Hall & Hall (2011) mengatakan bahwa kekerasan seksual pada anak dapat menimbulkan dampak sebagai berikut :
1. Depresi. Korban biasanya sering berfikiran negatif akan dirinya. Setelah lama memandang dirinya negatif, korban bisa jadi merasa tidak berharga dan menghindari orang lain karena merasa mereka sudak tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan
2. Merasa bersalah, malu dan menyalahkan diri.
3. Permasalahan tubuh dan gangguan makan. Ratican (dalam Hall & Hall, 2011) mengatakan korban biasanya mempunyai pandangan tubuh yang jelek.
Mereka merasa tubuh mereka jelek ataupun kotor, ketidakpuasan terhadap tubuh, gangguan makan hingga obesitas.
4. Stres dan Cemas. Ketakutan yang dirasakan korban kekerasan seksual dapat membuat mereka menjadi stres dan cemas yang akhirnya menimbulkan phobia, serangan kecemasan, dan lainnya.
5. Korban biasanya tidak bisa melupakan kejadian kekerasan seksual yang dialaminya. Pada anak biasanya akan membuat mereka mimpi buruk, bingung, dan sulit mengekspresikan perasaan.
6. Korban biasanya sulit untuk membangun suatu hubungan interpersonal.
Biasanya mereka akan sulit membangun hubungan yang berhubungan dengan kepercayaan, merasa takut akan intimasi, sulit membangun batasan hubungan, dan lainnya.
2.2.5 Penanganan Terhadap Anak yang Mengalami Kekerasan Seksual
Penangan yang dilakukan adalah tindakan preventif. Tindakan preventif ini sendiri terbagi atas 3 bagian yaitu :
1. Preventif primer: Merupakan suatu tindakan preventif yang menargetkan pada populasi umum dengan tujuan menghentikan terjadinya kekerasan seksual (Daro,1994; Bagley&King, 2004). Sedangkan Leavell & Clark (dalam WHO, 1998) menyebutkan bahwa preventif primer adalah suatu metode yang didesain untuk menghindari munculnya suatu gangguan pada suatu kelompok, yang diberikan pada orang-orang dalam kelompok tersebut yang belum terkena gangguan. Hal ini dilakukan karena populasi yang didalamnya termasuk keluarga ataupun lingkungan sekitarnya merupakan pendidik pertama bagi anak. Dengan kata lain, perilaku seseorang terbentuk dari hasil interaksinya dengan lingkungannya (PCAR&NSVRC, 2011).
2. Prefentif Sekunder: Merupakan suatu tindakan preventif yang menargetkan pada kelompok dengan resiko tinggi terjadinya kekerasan seksual dengan tujuan menghindari penyebaran permasalahan (Daro,1994; Bagley&King, 2004).
Tindakan preventif sekunder ini termasuk respon segera setelah kekerasan seksual terjadi sehingga dapat menghindari kekerasan tambahan, Dalam hal ini, orangtua berperan sangat penting dalam melakukan preventif sekunder. Mereka harus dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi agar mampu berespon secara efektif (PCAR&NSVRC, 2011).
3. Preventif Tertier: Merupakan suatu tindakan preventif yang menargetkan pada korban atau pelaku dengan tujuan menghindari munculnya kejadian lain (Daro,1994; Bagley&King, 2004). Preventif tertier termasuk didalamnya respon jangka panjang setelah kekerasan terjadi. Dalam hal ini orangtua juga diminta untuk terlibat secara langsung untuk mendukung pemulihan anaknya.
Respon-respon yang diberikan dapat berupa terapi-terapi psikologis seperti CBT, terapi keluarga, dll atau juga menggunakan terapi medis seperti menggunakan obat-obatan (PCAR&NSVRC, 2011).
2.2.6. Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak
Pencegahan kekerasan seksual terhadap anak dapat dilakukan dengan meningkatkan personal safety skills anak. Selain meningkatkan keterampilan melindungi diri pada anak, pencegahan kekerasan seksual juga dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan anak mengenai kekerasan seksual itu sendiri.
Seperti yang dilakukan Tutty (1995) dalam publikasi ilmiahnya yang berjudul Child Knowlwdge of Sexual Abuse Questionnaire yang mengemukakan 10 tema dasar yang dapat dilatih kepada anak sebagai bentuk pencegahan kekerasan seksual pada anak, yaitu:
1. Kepemilikan tubuh: konsep ini menekankan ise bahwa seorang anak bertanggung jawab atas tubuhnya sendiri dan mempunyai hak untuk mengatakan “tidak” pada sentuhan yang tidak diinginkan. Terkait hal ini, banyak program yang dilakukan untuk menjelaskan perbedaan perasaan dan bagaimana membuat anak mempercayai “feeling”nya. Misalnya ketika anak tidak nyaman dengan bagaimana seseorang menyentuhnya, ia didorong untuk awas terhadap perasaan tersebut dan berusaha untuk menjauh.
2. Sentuhan baik vs sentuhan tidak baik: Salah satu metode yang paling banyak digunakan dalam menyampaikan konsep ini adalah dengan touch continuum dari Anderson, yang menjelaskan bahwa sentuhan tidak hanya menimbulkan rasa
nyaman dan tidak nyaman, tetapi juga dapat berubah dari baik menjadi buruk.
Terkadang ada sentuhan yang membingungkan yang membuat anak kesulitan berespon terhadap sentuhan tersebut. Oleh karena itu, anak akan diajarkan mengenai area-area tubuh yang termasuk boleh disentuh atau tidak.
3. Bagian pribadi: Hal ini mengacu pada pengajaran pada anak mengenai area ribadi tubuhnya, siapa yang boleh menyentuh, dan dalam kondisi apa bagian tersebut boleh disentuh, misalnya saat ke dokter yang harus ditemani oleh orang dewasa yang dipercaya.
4. Tidak ada rahasia: Salah satu cara penjahat seksual merayu korbannya adalah dengan mengatakan aktivitas yang mereka lakukan adalah aktivitas rahasia dan anak diminta berjanji tidak akan memberitahu siapapun.Oleh karena itu anak diajarkan untuk selalu jujur kepada orang dewasa yang dipercaya.
5. Orang asing: Anak kecil biasanya mempunyai konsep akan orang asing sebagai seseorang yang jelek, menakutkan, kejam, tidak ramah, dan mirip seperti tokoh penjahat di film. Penting diajarkan pada anak bahwa tidak semua orang asing itu jahat. Tetapi mengajarkan bahwa kita tetap harus waspada kepada orang asing.
6. Rayuan: Anak harus diajarkan untuk mengenali bentuk-bentuk rayuan yang dilakukan oleh orang dewasa seperti memberi imbalan, meminta bantuan dan lainnya. Oleh karena itu anak harus diajarkan untu tidak menerima apapun dari orang yang tidak dikenal.
7. Melapor: Dikarenakan adanya ancaman dari pelaku kekerasan kepada anak untuk tidak boleh melapor kepada siapapun, anak biasanya akan takut melapor karena merasa tidak akan dipercaya. Oleh karena itu anak harus diajarkan untuk berani
melaporkan apapun kejadian yang membuatnya tidak nyaman. Jika orang dewasa tidak percaya ia harus mencari orang dewasa lain yang bisa mempercayainya.
Anak-anak dapat diminta menuliskan data orang-orang dewasa yang bisa menjadi tempatnya melapor
8. Orang yang dikenal: hal ini termasuk kerabat dekat dan anggota keluarga. Anak harus diajarkan meskipun mereka orang yang dekat dengan anak bukan tidak mungkin mereka menyentuh anak dan membuat anak tidak nyaman.
9. Jika anak adalah korban kekerasan seksual, maka itu bukan salahnya: Dalam hal ini anak diajarkan untuk mengetahui bahwa orang dewasa bertanggung jawab untuk berperilaku yang pantas pada anak.
10. Anak laki-laki juga beresiko mengalami kekerasan seksual: Tidak hanya anak perempuan, anak laki-lakipun mempunyai resiko mengalami kekerasan seksual.
Oleh karena itu baik anak laki-laki maupun perempuan harus mampu melindungi dirinya sendiri.
Martyniuk&Dworkin (dalam nsvrc.org, 2011) mengemukakan bahwa dalam melakukan pencegahan terjadinya kekerasan seksual pada anak, dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan seksual pada anak, Poin-poin penting yang dapat diajarkan pada anak adalah:
1. Mengajarkan anak menghindari kekerasan seksual dengan cara :
a. Memberikan konsep area pribadi dan bagian tubuh mana yang dianggap pribadi.
b. Perbedaan antara sentuhan yang pantas dan tidak pantas terhadap anak c. Orang-orang yang mungkin bisa melakukan kekerasan terhadap mereka
d. Mengajarkan untuk mempercayai intuisi mereka terhadap orang dan situasi e. Perkembangan kesehatan seksual
2. Memberikan anak keterampilan untuk “menangkis” kekerasan seksual dengan cara:
a. Mengajarkan anak untuk bisa menentukan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh menyentuh tubuh mereka
b. Ketika ada yang menyentuh mereka tanpa seizin mereka yang membuat mereka tidak nyaman, mereka harus berani mengatakan tidak atau melarikan diri, atau berani meminta tolong.
3. Mendorong anak untuk berani mengadukan tindak kekerasan yang mereka alami dengan cara:
a. Mengajarkan bahwa kekerasan seksual bukanlah kesalahan mereka
b. Mengajarkan jika seseorang menyentuh mereka dengan cara yang tidak nyaman, mereka harus selalu berani mengadukan kepada orang yang mereka percaya
c. Tidak boleh menyimpan rahasia mengenai seseorang yang menyentuh mereka d. Mengetahui orang-orang dewasa yang dapat dipercaya
e. Mengajarkan bahwa walaupun mereka memberitahu mengenai kekerasan yang dialami, orang dewasa tersebut akan tetap menyayangi dan melindungi mereka
f. Mengajarkan nama-nama bagian tubuhnya sehingga ketika mengadu mereka bisa memberitahu bagian tubuh mana tepatnya yang disentuh.
Dalam hal mengajarkan anak-anak mengenai kekerasan seksual, Praktisi atau orangtua dapat mengajarkan mereka dengan berbagai macam teknik seperti:
1. Untuk anak-anak yang aktif secara verbal dan fisik, dapat dilakukan dengan cara:
bermain peran, shapping, diskusi.
2. Untuk anak-anak yang pasif, dapat dilakukan dengan cara: Modeling, film, komik, buku, presentasi mengenai kekerasan seksual.
Menurut Mashudi&Nur’aini (2015) Pencegahan kekerasan seksual dapat dilakukan dengan melatih anak untuk melindungi diri dan melatih lingkungannya seperti orangtua, guru, sistem sekolah untuk membantu anak terhindar menjadi korban kekerasan seksual. Selama ini pencegahan lebih banyak diberikan kepada orangtua, tetapi anak sebagai pihak yang lemah juga harus diajarkan keterampilan yang dapat membantunya melindungi dirinya.
2.3. Behavior Skill Training (BST)
2.3.1 Pengertian Behavior Skill Training (BST)
Behavior Skill Training adalah suatu pelatihan untuk memodifikasi perilaku seseorang dengan cara mengajarkan suatu keterampilan untuk mengubah perilakunya.
Dalam pelaksanaannya, BST menggunakan kombinasi dari Instruksi, Modelling, Rehearsal, Pujian, dan FeedBack untuk mengajarkan suatu keterampilan yang spesifik. Prosedur BST dapat dilakukan dalam konteks roleplay. (Miltenberger, 2012., Gadke, Ho & Jostad, 2014).
2.3.2 Komponen BST a. Modelling
Dengan modelling, perilaku yang diinginkan dapat didemonstrasikan kepada klien. Klien mengobservasi perilaku yang diinginkan dan mengimitasinya. Agar proses modelling menjadi efektif, klien harus mempunyai imitative repertoire yaitu klien harus bisa memfokuskan perhatiannya pada perilaku yang diinginkan dan mencobakan perilaku tersebut.
b. Instruction
Instruksi menjelaskan perilaku yang sesuai untuk klien. Agar efektif, instruksi haruslah spesifik dan harus bisa menjelaskan dengan tepat perilaku apa yang diharapkan dari klien. Instruksi juga harus menspesifikkan keadaan yang sesuai dimana perilaku diharapkan muncul. Dalam instruksi harus disampaikan situasi anteseden dan perilaku yang tepat, setelahnya disampaikan juga konsekuensi yang diterima ketika perilaku yang diharapkan muncul.
c. Rehearsal
Rehearsal adalah kesempatan klien untuk mempraktikkan perilaku yang diinginkan setelah menerima instruksi atau melihat demonstrasi model perilaku yang diharapkan. Rehearsal adalah bagian yang penting dalam BST karena (a).
pelatih tidak bisa memastikan bahwa klien telah mempelajari perilaku yang
diharapkan sampai pelatih melihat klien melakukan perilaku tersebut. (b). Hal ini menimbulkan peluang untuk meng reinforce perilaku tersebut. (c). Hal ini memunculkan peluang untuk menilai dan memperbaiki kesalahan yang terjadi dalam menampilkan perilaku yang diharapkan.
d. Feedback
Ketika klien telah melakukan rehearsal perilaku, maka feedback harus segera diberikan. Feedback dapat berupa pujian atau reinforcement lainnya untuk menandakan perilaku yang sudah tepat. Jika diperlukan, feedback berisi koreksi perilaku yang salah atau instruksi lanjutan untuk meningkatkan performa.
2.3.3 Cara Menggunakan Behavior Skills Training (BST)
Berikut adalah beberapa cara untuk menggunakan prosedur BST, yaitu :
- Identifikasi dan tentukan keterampilan yang ingin diajarkan. Pendefenisian perilaku yang baik dapat dengan jelas menggambarkan keseluruhan perilaku yang ingin diajarkan.
- Identifikasi segala stimulus situasi yang relevan dimana keterampilan harus digunakan.
- Lakukan penilaian terhadap kemampuan klien dalam simulasi situasi untuk menentukan baseline
- Lakukan pelatihan dengan keterampilan yang paling mudah atau pada situasi yang paling mudah. Diharapkan ada perasaan berhasil pada diri klien sehingga ia mau melanjutkan pelatihan yang diberikan.
- Lakukan sesi pelatihan dengan memberikan contoh perilaku yang diharapkan dan jelaskan aspek penting dari perilaku tersebut.
- Setelah klien mendengar instruksi dan melihat contoh yang diberikan, berikan kesempatan pada klien untuk melakukan rehearsal. Simulasikan konteks yang sesuai bagi perilaku yang diharapkan dan biarkan klien mempraktikkannya.
Terkadang simulasi tersebut atau role play dapat terjadi pada seting natural.
- Segera setelah rehearsal segera beri feedback. Selalu berikan pujian yang menjelaskan aspek yang benar dari performansi. Setelah itu jika diperlukan berikan instruksi lanjutan untuk peningkatan performa.
- Ulangi proses rehearsal dan feedback sampai klien dapat menunjukkan perilaku yang tepat beberapa kali.
- Setelah berhasil dalam satu kali pelatihan, pindah ke situasi lain dan kembali ulangi proses modeling, instruksi, rehearsal, dan feedback sampai klien dapat mencapai keterampilan yang diinginkan. Ketika menambahkan situasi yang baru, tetap ulangi keterampilan yang sudah dicapai sebelumnya.
- Ketika klien sudah mencapai seluruh keterampilan dalam semua smulasi kejadian selama sesi pelatihan, hal ini mulai dapat digeneralisasikan pada setting natural. Jika pelatihan selama ini yang dilakukan situasinya dibuat semirip mungkin dengan seting natural atau memang langsung berada pada seting natural, maka generalisasi dapat langsung terjadi.
2.3.4. Penggunaan Behavior Skills Training dalam Grup
Prosedur BST dapat dilakukan pada grup yang berisi orang-orang dengan tujuan pelatihan yang sama, misalnya kelompok atau grup ibu-ibu yang mempunyai permasalahan perilaku anak yang sama. Pemberian BST dalam grup akan efektif jika diberikan pada kelompok kecil sehingga semua anggotanya mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi (Himle & Miltenberger, dalam Miltenberger 2012). Kohls (1995) dalam bukunya mengatakan bahwa dalam melatih suatu keterampilan dalam kelompok, sebaiknya menggunakan kelompok kecil yang berjumlah sekitar 3 hingga 6 orang, dengan asumsi bahwa sedikit orang dalam kelompok membuat masing-masing orang dapat bekerja lebih kooperatif dan setiap anggota kelompok dapat mengajari dan menolong anggota lainnya mengembangkan keterampilannya.
Penelitian yang dilakukan Miltenberger, Roberts, Ellingson, Galensky et al.
(1999) yang menggunakan 5 orang wanita belum menikah yang mengalami mental retardasi. Koeris, Marris,Rae (2005) mengatakan bahwa dalam melatih anak yang menggunakan grup, selayaknya menempatkan 6 sampai 8 orang anak dalam 1 grup.
Sparks (dalam Miller, 2009) menggunakan 19 orang guru (n=total 19 guru) yang dibagi ke dalam 3 kelompok.
Dalam grup, instruction dan modeling diberikan untuk seluruh orang dalam kelompok. Lalu pada saat rehearsal, masing-masing anggota melakukan roleplay keterampilan yang diharapkan dan akan mendapat feedback dari fasilitator dan anggota lainnya atas performansi yang diberikan (Poche et. al, dalam Miltenberger 2012). Sama seperti pelaksaan BST pada individu, setiap orang dalam kelompok akan melakukan rehearsal berulang sampai performansinya sesuai dengan yang diinginkan oleh fasilitator.
Miltenberger (2012) mengatakan ada beberapa keuntungan melakukan BST dalam grup, yaitu:
1. Lebih efisien, karena instruction dan modeling diberikan kepada seluruh peserta, tidak harus secara individual.
2. Setiap anggota kelompok akan menerima banyak masukan atas performansi mereka.
3. Anggota grup akan belajar dengan mengevaluasi performansi dari anggota lain dalam grup.
4. Dengan adanya variasi pada anggota kelompok maka generalisasi akan meningkat
5. Reinforcement paling besar yang akan diterima seseorang dalam kelompok adalah ketika performansinya dipuji oleh anggota kelompok lain dan oleh fasilitator itu sendiri.
Walaupun banyak keuntungannya, BST pada kelompok juga mempunyai kerugian seperti ada kemungkinan fasilitator tidak dapat membagi perhatiannya pada seluruh anggota. Permasalahan lainnya adalah ketika ada anggota kelompok yang tidak berpartisipasi dengan aktif atau terlalu mendominasi dan keterbatasan partisipasi dari anggota lainnya. Tetapi hal ini dapat dicegah dengan cara berperan secara aktif dan meminta masing-masing anggota saling menyemangati.
2.3.5. Pelaksanaan Behavior Skills Training
Penelitian-penelitian BST sebelumnya menunjukkan bahwa pelaksanaan BST dapat dilakukan dengan jangka waktu yang pendek dan dapat pula dilakukan dalam
jangka yang panjang. Hal ini sesuai dengan pendapat Kohls (1995) yang mengatakan bahwa minimal durasi pemberian pelatihan adalah satu hari hingga 2 minggu.
Sedangkan untuk pelatihan yang menggunakan sequenced durasinya berkisar antara 3 hingga 6 bulan. Penelitian Wurtele dan Owens (1997) menggunakan 5 hari untuk menyampaikan materi personal safety skills melalui teknik BST. Sedangkan Lumley et al (dalam Miltenberger, Roberts, Ellingson et al., 1999) melaksanakan program BST selama 5 minggu. Miltenberger, Roberts, Ellingson et al. (1999) menggunakan BST pada wanita mental retardasi selama 10 minggu.
Lamanya waktu pemberian BST juga beragam di setiap penelitiannya.
Miltenberger, Roberts, Ellingson et al. (1999) memberikan BST selama 1 jam setiap sesinya. Miltenberger, Flessner, Gatheridge, Johnson et al. (2004) melakukan pelatihan BST selama 15-20 menit setiap sesinya. Sedangkan Rosales, Stone, Rehfedt (2009) melakukan pelatihan BST selama 45-90 menit setiap sesi.
2.3.6. Pelaksana (Trainer) Behavior Skills Training
Kolhs (1995) menyebutkan bahwa pelatihan atau training adalah suatu rangkaian kegiatan yang berfokus pada proses dan/atau mengembangkan kompetensi dalam melakukan suatu keterampilan tertentu. Senada dengan hal di atas, Blanchard&Thacker (2004) mengatakan bahwa pelatihan atau training adalah suatu rangkaian kegiatan yang berfokus pada pencapaian pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) yang dibutuhkan untuk dapat melakukan suatu performansi secara lebih efektif. Untuk melaksanakan suatu pelatihan, maka dibutuhkan pelatih atau fasilitator (trainer). Kohls (1995) mengatakan bahwa dalam
suatu pelatihan, maka pelatih atau fasilitator dapat memberikan pelatihan itu secara langsung. Seorang ahli dapat digunakan dalam rangka penyusunan modul, tetapi dalam pelaksanaanya pelatih dapat melakukannya secara langsung.
Dalam BST tidak disebutkan bahwa pelatih BST haruslah seseorang yang sudah ahli dalam hal tersebut ataupun sudah mempunyai lisensi. Sehingga diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan BST dapat dilakukan oleh pelatih atau fasilitator secara langsung.
2.4. Kampung Nelayan
2.4.1. Pengertian Kampung Nelayan
Koalisi Perempuan Indonesia (2015) menyebutkan bahwa kampung nelayan adalah suatu wilayah di Indonesia yang penduduknya menggantungkan kehidupannya, secara langsung maupun tidak langsung kepada laut atau perairan luas lainnya dengan mata pencaharian sebagai nelayan, petani, pembudidaya serta layanan barang dan jasa untuk penangkapan atau pengolahan dan budidaya biota laut.
Walaupun laut menyimpan berbagai sumber kekayaan seperti biota laut, mineral energi dan panorama, tetapi penduduk kampung nelayan didominasi oleh penduduk miskin.
2.4.2. Permasalahan di Kampung Nelayan
Berdasarkan konsultasi publik yang dilakukan oleh koalisi perempuan Indonesia (2015) terhadap nelayan perempuan di seluruh Indonesia, ditemukan permasalahan-permasalahan yang terjadi di Kampung Nelayan, seperti :
1. Pendidikan dan Pengetahuan
a. Rendahnya angka partisipasi sekolah, rendahnya angka partisipasi sekolah ini biasanya dikarenakan himpitan ekonomi atau keadaan anak yang harus bekerja membantu orangtua.
b. Perkawinan usia anak, biasanya anak perempuan di kampung nelayan menikah di usia muda seperti misalnya di usia 14 tahun ataupun di bawah usia 20 tahun.
c. Tingginya buta aksara, hal ini dikarenakan banyaknya anak yang kurang berpartisipasi di sekolah membuat banyak anak ataupun orangdewasa di kampung nelayan tidak bisa membaca. Sehingga informasi-informasi yang berbentuk tulisan tidak dapat mereka pahami.
d. Rendahnya tingkat pendidikan dikalangan anak dan perempuan membuat mereka sulit memperoleh dan memahami informasi dan pengetahuan.
e. Minimnya sarana pendidikan, dimana kurangnya gedung sekolah dan tenaga pengajar membuat anak-anak di kampung nelayan harus menempuh jarak yang jauh dan mengeluarkan biaya besar untuk bersekolah.
2. Kesehatan
a. Minimnya fasilitas layanan kesehatan b. Minimnya jumlah tenaga kesehatan c. Tingginya angka kematian ibu melahirkan d. Tingginya angka kematian anak baru lahir
e. Jaminan Kesehatan Nasional
f. Rendahnya pengetahuan masyarakan tentang kesehatan 3. Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
a. Kekerasan seksual, kekerasan seksual sering terjadi pada anak dan wanita di kampung nelayan, penyebabnya adalah cara pandang masyarakat yang masih patriarkhis. Lelaki dianggap paling benar dan paling kuat sehingga bisa berbuat semena-mena terhadap perempuan.
b. Incest, kekerasan seksual ini sering terjadi diakibatkan tingginya penghuni dalam suatu rumah.
2.4.3. Demografi Kampung Nelayan Belawan-Medan
Kampung Nelayan Belawan Medan adalah suatu daerah pesisir laut yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Untuk mencapai ke kampung nelayan ini harus menaiki kapal boat atau sampan sebagai alat penyebrangan. Jumlah kepala keluarga di kampung nelayan kurang lebih sebanyak 565 orang dan dihuni oleh kurang lebih 2.200 orang. Penduduk di kampung nelayan ini terbagi dalam 2 kecamatan, yaitu kecamatan Medan dan kecamatan Deli Serdang. Kampung nelayan ini terdiri dari 4 kampung, yaitu kampung Ujung Kerang, kampung Tengah, kampung Banjar, dan kampung Karang Taruna. Mayoritas penduduk di kampung nelayan beragama Islam. Etnis yang terdapat di kampung nelayan cukup beragam, mulai dari etnis Banjar, etnis Melayu, etnis Mandailing, dan etnis Jawa.
Hampir seluruh penduduk di kampung nelayan ini mempunyai kondisi ekonomi menengah ke bawah. Mereka hidup dengan menjual hasil tangkapan mereka
ke penampung ikan. Kondisi ini membuat mereka tidak bisa menyekolahkan anaknya, sehinga banyak anak di kampung nelayan yang sudah berusia belasan tahun tidak bersekolah demi membantu orangtuanya. Orangtua juga kurang mempunyai pengetahuan akan pentingnya bersekolah. Yang mereka pahami adalah anak tidak perlu bersekolah tinggi karena nantinya akan menjadi nelayan. Kampung nelayan ini juga minim akan fasilitas pendidikan. Sumber daya guru yang kurang memadai membuat kemampuan anak-anak dikampung nelayan kurang berkembang. Bahkan kebayakan anak-anak disana tidak bisa membaca hingga usia remaja.
Tempat tinggal warga kampung nelayan terbuat dari susunan-susunan papan yang ditopang diatas susunan kayu. Kebanyakan rumah mereka berdempet antara satu rumah dengan rumah lainnya. Jika air laut sedang pasang, maka ada kemungkinan air
Tempat tinggal warga kampung nelayan terbuat dari susunan-susunan papan yang ditopang diatas susunan kayu. Kebanyakan rumah mereka berdempet antara satu rumah dengan rumah lainnya. Jika air laut sedang pasang, maka ada kemungkinan air