Dalam pendekatan perancangan, desain dapat dilihat sebagai nodes sekaligus landmark di kawasan atau wilayah yang direncanakan, yang mendukung konsep pengembangan wisata pantai kenjeran dalam kegiatan pariwisata kota Surabaya. Dilihat dari permasalahan yang timbul, sebagai jawaban atas desain yang dihasilkan, pendekatan awal dilakukan dengan membagi teritori dari kompleksnya kebutuhan dari fasilitas yang direncanakan yaitu fasilitas stable untuk kuda, fasilitas penginapan untuk atlit, fasilitas clubhouse untuk anggota dan fasilitas tribun untuk penonton. Dengan memperhatikan beberapa faktor-faktor yang menjadi permasalahan dalam perancangan, diantaranya :
2.1. Data Fisik Tapak
(RTDRK UD.Pamurbaya Bab V, Bab VI)
2.1.1. Rencana Struktur Wilayah Perencanaan
Sistem perwilayahan di unit distrik Pamurbaya, khususnya di wilayah Pantai Kenjeran terdiri dari unit masyarakat : UM. Pantai Ria 1, UM. Pantai Ria 2, UM. Pantai Ria 3, UM. Perkampungan Larangan, UM. Perkampungan Sukolilo, Perkampungan Tambak Deres, UM. THP Kenjeran, UM. Perkampungan Kejawan Lor.
Sistem kegiatan di kawasan ini dikembangkan berdasarkan prospek dan karakteristik kawasan pantai yang berbeda dengan kawasan lain di kota Surabaya.
Kegiatan utama yang dikembangkan adalah kegiatan pariwisata, permukiman / perumahan dan pengelolaan / konservasi lingkungan. Ketiganya saling memiliki keterkaitan. (Perincian Tabel 2.1).
Pembagian jenis penggunaan lahan didasarkan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya No. 13 tahun 1999 tentang Perijinan Peruntukan Penggunaan Tanah. Dengan dasar tersebut maka jenis penggunaan
lahan tanah dikawasan Pamurbaya direncanakan terdiri dari Perumahan, Fasilitas Sosial, Fasilitas Perkantoran, Fasilitas Perdagangan dan Ruang Terbuka Hijau.
(Perincian Tabel 2.2)
2.1.2. Rencana Penataan Bangunan
Koefisien Dasar Bangunan, dilakukan dengan intensitas fisik bangunan serendah mungkin, namun secara efektif masih dapat memberikan manfaat sosial- ekonomi yang cukup bagi masyarakat dan pelaku pembangunan yang terkait.(Tabel
2..3). Koefisien Lantai Bangunan, untuk meningkatkan efektifitas penggunaan lahan.
Pada areal tertentu, dibuat KLB dengan angka yang lebih besar dari KLB diareal lainnya untuk menciptakan Landmark dengan memanfaatkan ketinggian bangunan.(Tabel 2.4)
Rencana Garis Sempadan Bangunan dibuat sesuai dengan lebar jalan dimana bangunan tersebut berada. Diatur sebagai berikut :
- Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 8 meter, GSBnya 3-4 meter - Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 12 meter, GSBnya 5-6 meter - Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 15 meter, GSBnya 7-8 meter - Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 20 meter, GSBnya 8-10 meter
- Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 1-2 meter (dikampung), GSBnya 1 meter
Elevasi / Peil bangunan yang dimaksud adalah ketinggian minimum lantai dasar dari muka jalan ditentukan untuk pengendalian keselamatan baangunan seperti bahaya banjir dan pengendalian bentuk estetika bangunan secara keseluruhan serta aspek aksesbilitas dan kondisi lahan setempat.
2.1.3. Rencana Pengembangan Transportasi
Sistem Sirkulasi- Perlu diciptakan sistem sirkulasi yang saling mendukung antara sirkulasi eksternal dan internal bangunan, serta antara individu, pemakai bangunan dengan sarana transportasinya. Sirkulasi yang memungkinkan pencapaian kendaraan pemadam kebakaran, sirkulasi yang dilengkapi dengan unsur estetika seperti tanda penunjuk jalan, rambu-rambu, papan informasi sirkulasi, elemen pengarah sirkulasi (berupa elemen perkerasan / tanaman).
Jalan- Harus ada kesatuan dari penataan pedestrian, penghijauan dan ruang terbuka umum, dapat menyelesaikan persoalan kepadatan lalu lintas karena intensitas pembangunan.
Pedestrian- Sebagai bagian dari linkage sistem kawasan yang membentuk karakter lingkungan dari luar publik, menciptakan pergerakan manusia yang tidak terganggu oleh lalu-lintas kendaraan. Penataan harus memberikan kenyamanan dan keamanan serta ada kesinambungannya.
Parkir- Harus berorientasi pada kepentingan pejalan kaki, memudahkan aksesblitas dan tidak terganggu oleh sirkulasi kendaraan. Besaran, distribusi dan perletakan tidak mengganggu kegiatan bangunan dan lingkungannya dan disesuaikan dengan daya tampung lahan.
Halte- Penataannya tidak terpisahkan dari penataan sirkulasi, jalan, pedestrian, parkir, jembatan penyebrangan dan penghijauan. Ditempatkan terutama di simpul-simpul kegiatan lingkungan, lokasi strategis dan mudah dicapai pejalan kaki serta tidak mengganggu kelancaran lalu-lintas.
(Perincian Tabel 2.5)
2.1.4. Rencana Pengembangan Fasilitas Perkotaan
Rencana kebutuhan fasilitas perdagangan dan jasa komersial di wilayah Pamurbaya meliputi warung/kios, pertokoan dan pusat perbelanjaan. Perdagangan dan jasa komersial skala besar, kegiatannya secara umum dialokasikan pada lahan-lahan besar disekitar jalan kenjeran, sukolilo dan areal perdagangan komplek perumahan AL. Pada dasarnya kegiatan perdagangan dan jasa komersial pada kawasan jalan kenjeran dan sukolilo difokuskan pada kegiatan usaha yang mendukung pengembangan kegiatan pariwisata di kawasan pantai kenjeran.
Fasilitas dan kegiatan tersebut antara lain pusat kerajinan rakyat, bank / money changer, agen perjalanan dan wisata, serta pusat perbelanjaan (Shopping Centre).
(Perincian Tabel 2.6)
Fasilitas ruang terbuka hijau dimanfaatkan sebagai taman. Pemanfaatan dan penataannya dibuat secara terpadu dengan kegiatan fasilitas umum dan saluran drainase yang ada disekitarnya. Pemanfaatannya diarahkan untuk fungsi- fungsi diantaranya :
- Secara ekologis, untuk menjaga keseimbangan dan kualitas lingkungan hidup setempat. Perkerasan dibuat seminimal mungkin tetapi masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial penduduk setempat
- Secara teknis, dikaitkan dengan fungsi saluran drainase yang ada didekatnya, yaitu sebagai cadangan penampungan air limpahan yang berasal dari saluran tersebut. Untuk itu areal taman dibuat lebih rendah sekitar 1,5- 2 meter dari permukaan jalan.
- Secara sosial, dapat dimanfaatkan penduduk setempat untuk aktifitas sosial seperti berolahraga, tempat bermain, tempat pedagang kaki lima. Dikaitkan dengan penataan taman secara teknis, kegiatan sosial tersebut akan lebih intensif dilakukan pada saat taman tidak berfungsi secara teknis (saat tidak hujan). Pada saat hujan kegiatan sosial (ekonomi) tersebut akan tereduksi intensitasnya, karena lahan akan terendam air dan dengan pola seperti itu mencegah timbulnya bangunan-bangunan secara permanen. (misal bangunan kaki lima).(Perincian Tabel 2 .7)
2.1.5. Rencana Pengembangan Utilitas Perkotaan - Air Bersih
Rencana kebutuhan air bersih di kawasan Pamurbaya sampai tahun 2010;
digunakan asumsi pemakaian rata-rata penduduk sebesar 165 liter/orang/hari.
Dengan asumsi tersebut diperkirakan kebutuhan untuk pemakaina rumah tangga adalah sebesar 2.132,6 M3/hari ; sedangkan untuk kebutuhan non rumah tangga diperkirakan sebesar 426,5 M3/hari.
- Jaringan Listrik
Kebutuhan daya listrik untuk kawasan Pamurbaya, diperkirakan berdasarkan rata-rata konsumsi listrik pada tiap rumah tangga. Berdasarkan ketentuan yang ada, dimana untuk rumah dengan kapling besar rata-rata menggunakan listrik 1300 VA, rumah kapling sedang menggunakan listrik 900 VA dan rumah dengan kapling kecil rata-rata menggunakan listrik sebesar 450 VA ; maka diperkirakan di kawasan Pamurbaya pada tahun 2010 nanti, membutuhkan listrik sebesar 7.618,15 KVA untuk konsumsi rumah tangga dan sebanyak 1.523,63 KVA untuk konsumsi non rumah tangga.
- Telepon
Kebutuhan pemasangan telepon di kawasan Pamurbaya, diperkirakan meningkat sejalan dengan prospek kegiatan yang akan berkembang di kawasan tersebut. Dengan perkiraan jumlah penduduk pada tahun 2010 dan dengan pemanfaatan lahan mayoritas untuk rumah tinggal, maka diperkirakan jumlah Satuan Sambungan Telepon (SST) yang dibutuhkan adalah sebanyak 4.387 SST untuk pemakai rumah tinggal dan sebanyak 878 SST untuk pemakai bukan rumah tinggal. Pemenuhan jasa telekomunikasi tidak hanya berupa pemasangan SST di setiap rumah, namun juga dikembangkan dengan penyediaan Wartel, Telepon Umum dengan segala fasilitasnya yang dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat.
- Pembuangan Sampah
Di kawasan Pamurbaya, terdapat fenomena bahwa pembuangan sampah bagi sebagian warga tidak menjadi masalah, karena sampah tersebut dimanfaatkan sebagai alternatif bahan urugan misalnya menutup tanah disekitar pantai. Hal tersebut terutama ada pada sebagian kampung. Namun sebaliknya pada perumahan real estat membutuhkan tempat untuk pembuangan sampah ; dimana sampai saat ini masih menggunakan areal yang bersifat sementara. Di kawasan Pamurbaya, lokasi yang secara resmi digunakan untuk pembuangan sampah sementara adalah di perumahan Angkatan laut Kelurahan Komplek Kenjeran. Pada masa datang tahun 2010, diperkirakan dibutuhkan 23 gerobak sampah dengan distribusi Kelurahan Kenjeran sebanyak 6 unit, kelurahan komplek kenjeran 11 unit dan kelurahan Sukolilo sebanyak 6 unit.
- Saluran Pematusan
Penanganan saluran pematusan di kawasan Pamurbaya, harus terintegrasi dan mengikuti skema perencanaan jangka panjang sistem drainase di kota Surabaya seperti yang termuat pada Surabaya Drainage Master Plan. Saluran drainase di kawasan pamurbaya yang memiliki struktur fungsi tinggi adalah saluran Kenjeran; Saluran Lebak dan Saluran Larangan. Disamping itu, pengembangan saluran pada level sekunder, tertier dan kuartair perlu mempertajam areal tangkap air (catchment area), agar ketentuan-ketentuan bangunan yang ada dapat menyesuaikan.
- Fasilitas Penanggulangan Kebakaran
Kondisi lingkungan terhadap usaha penanggulangan bahaya kebakaran berupa jaringan jalan yang cukup untuk menuju atau dilewati mobil pemadam kebakaran dan tersediannya hidran/sumur PMK atau sungai/saluran.
Hal tersebut diatas menjadi masalah pada kawasan kampung lama yang kondisinya cukup padat jika terjadi kebakaran, untuk menanggulangi bahaya kebakaran tahap awal perlu tersedia tabung pemadam kebakaran yang dimiliki secara bersama-sama yang dikelola RT/RW.
Khusus untuk komplek perumahaan yang teratur harus tersedia hidran/sumur PMK pada lokasi-lokasi strategis, yang dapat dipakai untuk mengisi tangki air mobil PMK. Sarana pemadam kebakaran pada bangunan perdagangan, jasa komersial, perkantoran dan bangunan umum lainnya, harus dapat menanggulangi kebakaran pada tahap awal, sebelum bantuan dari luar (mobil PMK) datang. Pengamanan terhadap bahaya kebakaran pada gedung/bangunan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sistem proteksi pasif dan sistem proteksi aktif.
2.2. Rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata
2.2.1. Kebijakan Pengembangan Pariwisata
Dalam UU.RI No. 9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan, disebutkan bahwa kawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata.
Sedangkan obyek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata.
Kepariwisataan mempunyai peranan penting untuk memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperbesar pendapatan nasional dan daerah dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat serta memupuk rasa cinta tanah air, memperkaya kebudayaan nasional dan memantapkan pembinaannya dalam rangka memperkukuh jati diri bangsa dan mempererat persahabatan antar bangsa.
Obyek dan daya tarik wisata, terdiri atas :
- obyek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan YME yang berwujud keadaan alam, flora, dan fauna.
- Obyek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan purbakala, taman rekreasi dan tempat hiburan.
Usaha pariwisata digolongkan dalam : - Usaha jasa pariwisata
- Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata - Usaha sarana wisata
Usaha jasa pariwisata dapat berupa jenis-jenis usaha : - Jasa biro perjalanan wisata
- Jasa agen perjalanan wisata - Jasa pramuwisata
- Jasa konvensi perjalanan insentif dan pameran - Jasa impresariat
- Jasa konsultan pariwisata - Jasa informasi wisata
Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata meliputu kegiatan membangun dan mengelola obyek dan daya tarik wisata beserta prasarana dan sarana yang diperlukan atau kegiatan mengelola obyek dan daya tarik wisata yang telah ada.
Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata alam merupakan usaha pemanfaatan sumber daya alam dan tata lingkungannya untuk dijadikan sasaran wisata.
Usaha sarana wisata meliputi kegiatan pembangunan, pengelolaan dan penyediaan fasilitas serta pelayanan yang diperlukan dalam penyelenggaraan pariwisata.
Usaha sarana wisata dapat berupa jenis usaha seperti berikut : - Penyediaan akomodasi
- Penyediaan makan dan minum
- Penyediaan angkutan wisata - Penyediaan sarana wisata tirta - Kawasan pariwisata
2.2.2. Pengembangan Pantai Ria Kenjeran
Tempat rekreasi Pantai Ria Kenjeran lokasinya berjarak sekitar 2 Km dari THP Kenjeran. Taman rekreasi tersebut dikelola oleh PT. Granting Jaya. Pantai Ria Kenjeran mempunyai luas sekitar 87 HA. Pada areal yang luas tersebut, pemanfaatannya relatif belum optimal ; banyak terdapat lahan yang kosong.
Untuk pengembangan kawasan pariwisata di areal pantai Ria kenjeran, setidaknya harus memperhatikan beberapa aspek ; pertama, aspek lingkungan pantai (dalam hal ini meliputi keberadaan tanaman mangrove/bakau, perairan pantai dan tanah pantai); kedua, aspek luas lahan; ketiga, keberadaan penduduk sekitar (terutama pada areal pemukiman yang belum ‘terbebaskan’ oleh pemegang ijin pengelola kawasan pariwisata); keempat aspek rencana pembangunan jalan arteri primer (tol-outer ring road) dan kelima, aspek investasi dan pengelolaan.
Dengan kondisi lingkungan pantai yang kurang begitu baik, maka pengembangan pantai ria Kenjeran harus mengakomodasikan upaya menjaga dan peningkatan kualitas lingkungan pantai disekitarnya.
Dengan areal yang cukup luas, maka dalam penataan site plan akan lebih leluasa untuk menempatkan berbagai fasilitas, baik untuk kegiatan mobile maupun station.
Keberadaan pemukiman penduduk disekitar pantai ria Kenjeran (kampung Larangan dan Sukolilo) harus diperhatikan terutama kondisi dan potensi fisik dan sosial-ekonominya. Pengembangan pantai ria Kenjeran harus dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan penduduk tersebut.
2.2.2.1.Konsep zoning kawasan Pantai Ria Kenjeran.
Lahan Pantai ria Kenjeran yang berada di sebelah barat jalan Tol dimanfaatkan untuk pengembangan kegiatan komersial terbatas, dalam hal ini adalah kegiatan-kegiatan yang ditampung, diarahkan pada kegiatan yang mendukung kegiatan pariwisata, seperti hotel, sentra kerajinan, kantor biro perjalanan, pendidikan bidang pariwisata.
Penataan pada areal tersebut, diarahkan pada upaya pembentukan landmark kawasan pariwisata Kenjeran. Lahan Pantai ria Kenjeran yang berada di sebelah timur jalan Tol dan sebelah barat jalan Sukolilo, dimanfaatkan untuk pengembangan kegiatan komersial terbatas. Pengertian terbatas, dalam hali ini adalah kegiatan-kegiatan yang ditampung, diarahkan pada kegiatan yang mendukung kegiatan pariwisata, seperti hotel, sentra kerajinan, kantor biro perjalanan, pendidikan bidang pariwisata.
Pada areal pantai ria yang cukup luas (disebelah timur jalan Sukolilo dan jalan Tol) dan berbatasan langsung dengan perairan pantai diarahkan pemanfaatannya untuk berbagai fasilitas hiburan dan rekreasi serta arena ketangkasan olah raga ; seperti pacuan kuda, motocross, renang dll.
Disamping itu, diarahkan pula pengembangan kegiatan rekreasi yang bersifat edukatif pula, misalnya kegiatan rekreasi yang berorientasi pada teknologi kelautan dan maritim, mengingat wilayah Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam bidang kelautan. (gbr. lampiran)
2.2.2.2.Pengembangan peruntukan lahan Pantai Ria Kenjeran
Peruntukan lahan di areal Pantai Ria Kenjeran Pada dasarnya diarahkan untuk pengembangan kegiatan periwisata dan upaya-upaya peningkatan kualitas lingkungan. Untuk lebih mengefektifkan upaya pengembangan kegiatan pariwisata pantai khususnya dari kawasan pamurbaya pada umumnya, maka peruntukan lahan di areal tersebut secara struktural diarahkan seperti berikut : - Pada Areal Blok 1
Lahan diperuntukan bagi kegiatan atau fungsi Usaha dan Obyek pariwisata.
Pada sebagian areal tersebut (bagian barat) dimanfaatkan pula bagi pembangunan perumahan pantai yang pengembangannya merupakan satu kesatuan saling memperkuat karakter dengan pembangunan perumahan nelayan. Pada bagian selatan, sebagian diarahkan untuk pengembangan areal konservasi lingkungan (seperti tanaman bakau) dan pusat penelitian lingkungan pantai. Pada areal dimana terdapat tanaman bakau, dikembangkan areal hutan pantai yang didalamnya dimanfaatkan untuk perluasan areal
tanaman bakau dan pengembangan kegiatan pendidikan dan penelitian mengenai lingkungan pantai.
- Pada Areal Blok 2
Lahan diperuntukan bagi kegiatan komersial terbatas untuk mendukung pengembangan kegiatan pariwisata di Kenjeran pada khususnya dan pariwisata di kota Surabaya pada umumnya ; seperti fasilitas perkantoran dan perdagangan barang dan jasa produk pariwisata.
- Pada Areal Blok 3
Lahan diperuntukkan bagi kegiatan fasilitas umum dan komersial terbatas untuk mendukung kegiatan pariwisata di Kenjeran dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitarnya akan ruang dan fasilitas kegiatan umum.
2.2.2.3.Pengembangan obyek dan kegiatan pariwisata
Obyek dan kegiatan pariwisata yang diarahkan untuk mewadahi dan dikembangkan untuk komplek Pantai Ria Kenjeran adalah sebagai berikut:
- Olahraga Pacuan Kuda - Olahraga Motocross - Olahraga Menembak
- Ketangkasan sepeda motor air
- Pusat penelitian kehidupan (satwa&tanaman) air/pantai - Lintas pantai dengan perahu
- Pusat Hiburan Malam
- Penjualan makanan & minuman khas pantai dan khas kota Surabaya - Penjualan hasil kerajinan kerang
- Restoran air
- Dunia air (Sea world)
- Pusat ketangkasan burung dan unggas - Pusat bermain layang-layang
- Taman bermain
2.2.2.4.Pengembangan sarana dan prasarana
Sarana dan Prasarana yang perlu disediakan untuk mendukung pengembangan kegiatan pariwisata di komplek Panai Ria Kenjeran adalah sbb : - Hotel atau tempat penginapan
- Restoran / rumah makan - Agen / biro pariwisata - Agen / biro perjalanan
- Pusat / sentra hasil industri kerajinan olah produk laut - Biro informasi pariwisata
- Pangkalan angkutan wisata
Utilitas yang perlu disediakan untuk mendukung pengembangan kegiatan pariwisata di komplek Pantai Ria Kenjeran adalah sbb :
- Jaringan distribusi air bersih - Jaringan Listrik
- Jaringan telekomunikasi - Jaringan drainase - Fasilitas persampahan
2.2.2.5.Rencana pengaturan intensitas bangunan di kawasan Pantai Ria
Pola pemanfaatan ruang atau lahan di areal komplek Pantai Ria Kenjeran diarahkan pada upaya meminimalkan intensitas bangunan gedung, guna menjaga keseimbangan daya dukung lahan setempat. Sesuai dengan rencana pengembangan fungsi, maka intensitas bangunan gedung di areal Pantai Ria Kenjeran, dikelompokkan menurut pembagian fungsi areal. Ketentuan pengaturan intensitas bangunan di areal Pantai Ria Kenjeran adalah sebagai berikut:
- Pada areal Blok 1,
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) diarahkan maksimal 40 % Koefisien Lantai Bangunan (KLB) diarahkan maksimal 120 % Koefisien Ruang Terbuka (KRT) diarahkan minimal 20 % - Pada Areal Blok 2,
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) diarahkan maksimal 50 % Koefisien Lantai Bangunan (KLB) diarahkan maksimal 600 %
Koefisien Ruang Terbuka (KRT) diarahkan minimal 10 % - Pada Areal Blok 3,
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) diarahkan maksimal 50 % Koefisien Lantai Bangunan (KLB) diarahkan maksimal 300 % Koefisien Ruang Terbuka (KRT) diarahkan minimal 10 %
2.2.2.6.Konsep penanganan lingkungan pantai
Penanganan terhadap lingkungan pantai diareal Pantai Ria Kenjeran dan sekitarnya harus dilakukan tidak hanya untuk melindungi keberadaan ekosistem pantai tetapi untuk meningkatkan nilai jual kawasan tersebut. Beberapa bentuk penanganan yang perlu dilakukan terhadap lingkungan di areal tersebut adalah sbb:
- Keberadaan tanaman bakau (mangrove) perlu dipertahankan dan diarahkan untuk diperluas ke arah bagian barat.
Kegiatan reklamasi pantai untuk sementara tidak dilakukan, sampai adanya konsep penganan secara menyeluruh di kawasan sepanjang pantai Surabaya.
- Endapan lumpur yang terdapat di perairan pantai segera dilakukan pengerukan dan sekaligus dilakukan pencegahannya.
2.3. Lokasi Tapak
Untuk suatu arena pacuan dibutuhkan areal yang cukup luas dan banyak memiliki ruang-ruang terbuka. Dari hasil pengamatan dan studi literature lokasi yang terbaik untuk olahraga terbuka adalah lokasi yang memiliki luas lahan yang besar dan berada didaerah-dareah suburban. Lokasi yang dipilih adalah di daerah Kenjeran, yang dimana area yang direncanakan pada lokasi tersebut merupakan areal yang dipergunakan untuk arena ketangkasan dan olahraga terbuka, dengan lahan yang cukup luas.
Gambar 2.1. Lokasi Tapak
2.4. Data Tapak
- Lokasi : Pantai Ria Kenjeran
- Tata Guna Lahan : Areal untuk arena ketangkasan dan olahraga terbuka.
- Luas : ± 15 ha
Peraturan-peraturan mengenai ketentuan bangunan.
- KDB : 40%
- Ketinggian Bangunan : 1-3 lantai
- GSB :
Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 8 meter, GSBnya 3-4 meter Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 12 meter, GSBnya 5-6 meter Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 15 meter, GSBnya 7-8 meter Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 20 meter, GSBnya 8-10 meter
Pada Jalan dengan lebar damija (ROW) 1-2 meter (dikampung), GSBnya 1 meter
2.5. Pengaruh lingkungan sekitar terhadap tapak dan pengaruh bangunan yang dirancang terhadap lingkungan
Kondisi tapak terletak didaerah pinggiran kota dan banyak terdapat lahan hijau untuk areal rumput sesuai dengan perancangan bangunan. Keberadaannya yang terletak dekat dengan daerah perumahan dan perdagangan mendukung perancangan karena adanya fasilitas yang meningkatkan keadaan sosial serta ekonomi masyarakat disekitarnya dan meningkatkan pengembangan wilayah dari sektor pariwisata. Kondisi tapak awalnya sudah terdiri dari beberapa aktifitas fasilitas umum dan terutama bangunan fasilitas-fasilitas untuk objek-objek wisata dan sarana rekreasi hiburan pantai kenjeran. Lahan area pacuan kuda yang sudah ada dimanfaatkan soptimal mungkin sehingga tidak menghilangkan elemen tapak yang sudah ada tetapi merekonstruksi keberadaan tapak sesuai dengan perencanaan untuk mendapatkan fasilitas yang lebih memadai dan lebih menarik dari kondisi sekarang. Bangunan-bangunan penunjang fasilitas pacuan kuda yang sudah ada saat ini tidak memadai seperti fasilitas penitipan kuda, wisma untuk para atlit, tempat penonton atau tribun penonton sehingga dapat dikatakan kondisi tidak dapat memberikan kenyamanan bagi pengguna fasilitas, mengurangi minat masyarakat untuk datang dan menikmati fasilitas yang ada serta kegiatan yang dilakukan khususnya untuk sarana olahraga pacuan kuda hanya sebatas pada kegiatan pertandingan dengan skala nasional.
Tapak yang ada sudah dilengkapi dengan sarana utilitas, seperti jaringan listrik, air, telepon, jalan, pembuangan sampah, penanggulangan kebakaran yang menunjang fasilitas yang direncanakan. Tapak dekat dengan jalan utama yang menghubungkan sarana fasilitas yang direncanakan dengan pusat kota dan sentra bisnis sehingga menunjang sarana sebagai objek wisata bagi masyarakat disekitarnya. Kondisi tapak yang difungsikan sebagai area untuk berolahraga sesuai dengan Rencana Tata Ruang Kota Lingkup UP. Kenjeran, lahan dapat dioptimalkan secara maksimal.
Melihat kondisi sekarang khususnya di area pacuan kuda masih difungsikan untuk berbagai kegiatan, seperti arena motor cross, sehingga fungsi dari pacuan kuda tersebut tidak efektif dan fungsional. Letak arena lintasan pacu kuda yang dikelilingi jalan untuk kendaraan dan letaknya bersebelahan hanya dibatasi pagar lintasan saja akan mengganggu kegiatan yang ada sehingga aktifitas tidak terfokus. Beberapa fasilitas penunjang terlihat menyebar dan tidak
dilokasikan secara teratur sehingga ada beberapa area penunjang yang letaknya jauh dan terpisah dari area pacuan kuda. Dari keadaan tersebut, bangunan- bangunan penunjang untuk arena pacuan tidak terhubung dengan baik, terdapat cross dan dihalangi oleh bangunan atau aktifitas lain, seperti tribun penonton yang letaknya dipinggir jalan yang dilewati kendaraan umum.
Kegiatan diarea pacuan kuda saat ini hanya sebatas untuk lomba pacu saja, untuk arena ketangkasan belum tersedia. Untuk itu diperlukan sarana untuk ketangkasan karena dalam olahraga berkuda ketangkasan merupakan salah satu kegiatan yang paling banyak diminati selain pacuan.
2.6. Pencapaian tapak
Pencapaian kedalam tapak pada kondisi lama terdapat satu jalur pencapaian sehingga masih sering terjadi crossing antara jalan-jalan disekitar ke berbagai aktifitas kegiatan diluar arena pacuan kuda, adanya crossing antara jalur kendaraan, pedestrian, sehingga keberadaan tapak tersamar dan pencapaiannya tidak terarah. Dan jalan-jalan untuk kendaraan disekitar area pacuan digunakan untuk jalur kuda. Dalam perancangan, direncanakan pencapaian dibedakan berdasarkan kelompok aktifitas yang ada di area pacuan kuda sesuai dengan kebutuhan arena pacuan kuda. Pencapaian melalui main entrance pertandingan diletakkan dijalan utama didepan tapak (jalan yang paling lebar), merupakan jalur untuk umum (penonton umum). Pencapaian ke fasilitas pemeliharaan dan penitipan kuda memiliki sirkulasi tersendiri karena aktifitasnya yang berbeda dan sifatnya lebih private. Untuk clubhouse sirkulasi dari pintu utama dibelokkan menjadi satu dengan sirkulasi kearah penginapan agar tidak mengganggu jalur sirkulasi lainnya. Sirkulasi menuju tribun pencapaiannya langsung dari pintu utama dan ada jalur terpisah antara jalur (penonton VIP, pengelola, anggota) untuk yang ke arah clubhouse dan jalur kearah tribun umum.
Gambar 2.2. Akses ke Tapak
2.7. Sistem Sirkulasi 2.7.1. Sirkulasi Luar tapak
Sirkulasi kendaraan di sekitar tapak mengikuti kondisi yang ada sesuai dengan perencanaan tata ruang kota. Sirkulasi melingkar disekitar tapak memudahkan pencapaian kedalam tapak dari berbagai arah. Jalan-jalan disekitar tapak memiliki kondisi yang baik dan cukup lebar sehingga nyaman untuk dilalui.
Direncanakan sirkulasi di sekitar tapak sehingga tidak ada cross antara kendaraan dan pedestrian.
Gambar 2.3. Sirkulasi luar Tapak
2.7.2. Sirkulasi Dalam tapak
Untuk menghasilkan tatanan massa yang baik diperlukan sistem sirkulasi yang baik sehingga tidak terjadi crossing serta aktifitas yang dilakukan didalam sarana fasilitas dapat terarah. Sirkulasi didalam tapak dibagi menjadi 3 bagian:
- Main entrance / drop off- sirkulasi dibuat melingkar, terhubung dengan paviliun dan parkir utama, disekitarnya ada jalur pedestrian yang mengelilingi dengan elemen pengerasan sebagai pengarah dan kanopi untuk kenyamanan.
- VIP entrance- sirkulasi untuk pengelola, anggota, tamu-tamu anggota dari main entrance dibelokkan dengan elemen perkerasan, tanaman atau pepohonan, serta lampu jalan di kiri kanan jalan sebagai pengarah dan lebih terkesan eksklusif
- Facilities entrance- sirkulasi untuk fasilitas penitipan dan pemiliharan terpisah dengan main entrance dan karena sifatnya yang private sehingga memudahkan pengontrolan untuk keamanan.
Gambar 2.4. Sirkulasi dalam Tapak
2.8. Perancangan lansekap
Perancangan yang direncanakan banyak memanfaatkan ruang terbuka hijau sebagai fasilitas penunjang, sehingga diperlukan penataan lansekap yang baik untuk memberikan pemandangan yang menarik serta menciptakan kenyamanan baik bagi pengguna fasilitas dan masyarakat disekitarnya. Beberapa elemen perancangan lansekap yang dapat dihadirkan :
- Ruang- yang dimaksud disini adalah jenis ruang bergerak, karena desain yang dirancang untuk sarana olahraga dan pertandingan, ruang disini difungsikan untuk memberikan kenyamanan, service dan menciptakan bentuk dan citra.
- Soft material- disini ditampilkan elemen tanaman serta pepohonan yang dapat difungsikan sebagai peneduh, elemen dekorasi, dan pengarah.
- Hard material- elemen perkerasan seperti paving untuk pedestrian dan kolom- kolom pengarah, juga fungsi-fungsi lain untuk jalan umum, setapak agar jalan mudah dilalui baik untuk kendaraan maupun pejalan kaki.
- Sirkulasi- sirkulasi bertujuan untuk mengarahkan pergerakan manusia yang akan melaluinya, baik pejalan kaki maupun pengguna kendaraan bermotor untuk ke lokasi.
- Link- direncanakan hubungan antar massa yang dirancang terdapat kesinambungan serta memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pengguna aktifitas.
- Elemen pelengkap :
- Sign, berupa papan nama atau papan-papan pengarah baik didalam lokasi maupun di luar lokasi yang menunjang keberadaan fasilitas.
- Simbol, merupakan penanda keberadaan tapak dapat berupa patung kuda diletakkan di plasa main entrance, dan bentuk ornamen kuda diletakkan di atas atap lobby sebagai simbol arena pacuan kuda
- Amenity, disediakan fasilitas seperti lampu taman, bangku taman, kolam, hidran halaman, telepon umum dan sebagainya
- Park, taman yang direncanakan terdiri dari taman olahraga (sports ground) untuk arena pacuan dan ketangkasan, taman bermain (playground) untuk sarana rekreasi, plasa digunakan sebagai penghubung antar massa dan tempat berkumpulnya massa.
Gambar 2.5. Gambar Perspektif Keseluruhan