• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A.1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A.1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A.1. Latar Belakang Masalah

Pemberantasan kasus korupsi, masih menjadi topik bahasan yang banyak dijadikan headline di media-media beberapa tahun belakangan ini. Hal ini tidak terlepas dari prestasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kinerjanya memberantas kasus-kasus korupsi yang telah mewabah di Indonesia. Menurut data dalam Jurnal Evaluasi dan Roadmap Penegakan Hukum KPK yang diterbitkan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) 2012-2015, kinerja KPK telah mengalami perkembangan yang menarik dari tahun ke tahun, terutama jika dilihat dari sisi aktor.

Di tahun 2012, pengungkapan kasus korupsi yang dilakukan oleh KPK menunjukkan prestasi yang mengagumkan. Hal ini ditunjukkan dengan pengungkapan kasus-kasus mega korupsi yang melibatkan aktor-aktor politik di tingkat pusat, atau yang banyak disebut sebagai korupsi politik. Pada tahun ini KPK menangani 77 kasus penyelidikan, 72 perkara penyidikan (yang terdiri dari 24 perkara sisa tahun 2011 dan 48 baru di tahun 2012), 63 kasus penuntutan, 28 kasus berkekuatan hukum tetap, dan 32 perkara eksekusi.

Media, menjalankan perannya sebagai watchdog (anjing penjaga) yang ikut mengontrol jalannya pemerintahan, memiliki andil yang besar dalam penyampaian perkembangan kasus korupsi itu kepada masyarakat. Headline tentang skandal-skandal korupsi itu kerap kali muncul dalam berbagai media baik itu cetak, elektronik, maupun online. Perkembangan kasus mulai dari dugaan, penyidikan, penangkapan, pengadilan, hingga eksekusi mewarnai pemberitaan media sehari-hari.

1

(2)

Dari 11 nama tersangka koruptor perempuan yang terjerat kasus korupsi di tahun 2012, ada dua nama politikus perempuan yang menjadi topik yang cukup hangat dibicarakan di beberapa media. Mereka adalah Angelina Patricia Pingkan Sondakh (Angie) dan Wa Ode Nurhayati (Wa Ode). Nama Angie sendiri sudah sering muncul di media jauh sebelum skandal korupsinya muncul ke publik. Hal ini terkait dengan statusnya sebagai artis, mantan Putri Indonesia tahun 2001, istri artis sekaligus politikus Adjie Masaid, dan politikus di Partai Demokrat. Fakta- fakta semacam ini tentu cukup ‘seksi’ bagi media untuk memunculkan sisi-sisi tertentu di luar kasus korupsi yang menjeratnya. Sedangkan Wa Ode sendiri namanya baru mulai banyak terdengar semenjak kasus korupsi yang menimpanya muncul ke publik.

Perbedaan latar belakang tersangka korupsi itulah yang membuat penulis tertarik untuk mengkaji tentang bagaimana media mengemas/membingkai kasus korupsi dari dua tersangka di atas. Penulis meyakini bahwa perbedaan latar belakang itu berpotensi memunculkan perbedaan pula dalam cara media membingkai beritanya. Di Indonesia, masing-masing media mempunyai karakter sendiri- sendiri dalam pemberitaannya. Koran Tempo merupakan salah satu surat kabar yang memiliki lingkup nasional yang dikenal tegas dan berani dalam membahas isu-isu yang berkembang di masyarakat dan pemerintahan. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melihat bagaimana Koran Tempo membingkai pemberitaannya terkait kasus korupsi yang menjerat Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati.

A.2. Rumusan Masalah

Bagaimana Koran Tempo Edisi Januari – Agustus 2012 membingkai berita-berita seputar kasus korupsi yang menjerat Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati?

A.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana Koran Tempo membingkai berita Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati.

2

(3)

2. Untuk mengetahui bagaimana framing Koran Tempo terhadap pemberitaan politikus perempuan yang memiliki latar belakang profil yang berbeda.

3. Untuk melihat apakah pemberitaan Koran Tempo terhadap politikus perempuan yang terjerat kasus korupsi mengandung unsur edukasi terhadap masyarakat.

A.4. Manfaat Penelitian 1. Untuk Peneliti

Diharapkan penelitian ini bisa memberikan tambahan wawasan kepada peneliti terkait dengan praktek kerja media dalam memberitakan kasus korupsi politikus perempuan. Dengan wawasan tersebut diharapkan peneliti akan lebih siap saat memilih berkarir di bidang jurnalistik.

2. Untuk Koran Tempo

Diharapkan penelitian ini bisa dijadikan bahan tinjauan tentang cara kerja media dalam pemberitaannya terkait dengan kasus korupsi yang menjerat Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati.

3. Untuk Jurusan Ilmu Komunikasi

Diharapkan penelitian yang masih awal ini bisa dijadikan referensi untuk penelitian-penelitian lain terkait dengan analisis isi media khususnya analisis framing media.

4. Untuk Masyarakat Luas

Diharapkan penelitian ini bisa dijadikan bahan bacaan untuk melihat bagaimana kerja media dan bagaimana mereka mengkonstruksi realitas dalam pemberitaanya.

Sehingga dengan itu masyarakat bisa melihat sisi bahwa berita merupakan produk konstruksi dari sebuah realitas dan bukan realitas itu sendiri.

3

(4)

A.5. Kerangka Pemikiran

Pemberitaan tentang kasus korupsi yang ada di media yang ada hampir setiap hari mungkin terkesan apa adanya, tidak beraturan, dan hanya mengikuti alur kasus yang terjadi. Tetapi ketika sebuah berita dimaknai sebagai realitas yang dikonstruksi oleh pekerja media, maka pemberitaan yang terkesan tidak beraturan itu menjadi memiliki makna dan memiliki sudut pandang tertentu. Sudut pandang media inilah yang bekerja untuk menggiring khalayak pada perspektif dan pola pikir tertentu terhadap suatu kasus (Edelman, dalam Eriyanto 2002: 156). Analisis framing, merupakan analisis yang banyak dipakai untuk melihat bagaimana sudut pandang media dan bagaimana media menggunakan sudut pandang itu dalam membingkai beritanya.

Untuk melihat bagaimana Koran Tempo membingkai beritanya seputar kasus korupsi yang menjerat Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati, maka penelitian ini akan mencoba untuk melihatnya dari sudut pandang Konstruksionis dengan menggunakan analisis framing sebagai pisau analisis.

A.5.1. Berita dalam Jurnalisme Surat Kabar

Menurut Richard Weiner, jurnalisme adalah keseluruhan proses pengumpulan fakta, penulisan, penyuntingan, dan penyiaran berita (dalam Abrar, 2005: 1). Hasil dari proses ini adalah produk berita. Sedangkan Harcup (dalam Franklin, 2005:

163) mencoba menjelaskan definisi berita sebagai berikut, “When asked to define news, most people would say it’s something that’s happened, something new, something they didn’t know before, something that effects their life, or something they’re interested in.” Sedangkan definisi berita yang lebih kritis menurut Currant (Franklin, 2005:16) yaitu, “News becomes news because the owners of the news producing organization say it is.”

Dari realitas yang berpotensi menjadi sebuah berita, ada realitas yang terpilih menjadi headline, ada yang hanya mengisi rubrik, dan ada yang bahkan tak dianggap layak terbit sebagai sebuah berita. Nilai berita merupakan faktor penting yang membedakan apakah suatu berita dianggap penting dan menjadi headline

4

(5)

atau tidak. Ada 12 faktor dalam nilai berita menurut John Galtung dan Mari Ruge (Franklin, 2005:163) yaitu: frequency, threshold, unambiguity, meaningfulness, consonance, unexpectedness, continuity, composition, reference to elite nation, reference to elite people, reference to persons, dan reference to something negative. Sedangkan menurut Julian Harris, Kelly Leiter, dan Stanley Johnson (dalam Abrar, 2005:3) nilai berita setidaknya mengandung 8 unsur, yaitu: konflik, kemajuan, penting, dekat, aktual, unik, manusiawi, dan berpengaruh.

Surat kabar mengelompokkan berita-berita yang disajikannya berdasarkan rubrikasi. Rubrikasi sendiri berasal dari kata dasar ‘rubrik’, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya: kepala karangan (ruangan tetap) dalam surat kabar, majalah, dan lain sebagainya, surat kabar membuka -- untuk menampung pendapat pembaca. Atau petunjuk resmi yang mengatur tata laksana liturgi, dulu dicetak merah. Secara garis besar, rubrikasi adalah tema-tema yang disajikan dalam surat kabar berdasarkan klasifikasi topik yang ingin disampaikan.

Hampir semua surat kabar memiliki rubrikasi, tetapi nama rubriknya bisa berbeda-beda. Contohnya di Koran Tempo nama-nama rubriknya sebagai berikut:

Headline (nama ini tidak ditulis dalam Koran Tempo, tetapi secara umum satu berita yang diangkat sebagai topik hari itu disebut headline dari surat kabar itu), Editorial, Berita Utama, Kutipan, Nasional, Nusa, Jawa Timur, Pendapat, Ilmu &

Teknologi, Jawa Tengah dan Yogyakarta, Bisnis, Digital, Gaya Hidup, Navigasi, Internasional, Seni, dan Olahraga.

Penempatan berita pada rubrik-rubrik ini sangatlah menarik untuk dilihat, karena penempatan itu bisa menunjukkan apakah suatu berita satu dianggap lebih penting/kurang penting dibandingkan dengan berita yang lain. Ketika suatu berita diletakkan di headline, maka berita ini dianggap lebih penting oleh redaktur surat kabar itu, dibandingkan jika ditempatkan di rubrik Nasional misalnya.

Produk berita yang dihasilkan untuk surat kabar biasanya memiliki karakteristik tersendiri, misalnya unsur berita dan struktur berita. Menurut Basuki, unsur-unsur berita yang selalu ada pada sebuah berita adalah: headline, dateline, lead, dan body (Abrar, 2005: 7). Sedangkan struktur berita menurut Bruce D. Itule dan

5

(6)

Douglas A. Anderson adalah struktur piramida terbalik, yang diskemakan sebagai berikut (Abrar, 2005:8):

Dateline

Dalam surat kabar, struktur itu biasanya juga ditambah dengan foto ataupun gambar yang menjelaskan tentang peristiwa atau obyek yang sedang dibicarakan.

Ragam berita yang ada dalam surat kabar setidaknya ada 6 macam, yaitu: berita langsung (hardnews), berita ringan (softnews), berita kisah (feature), kolom (column), pojok, dan tajuk rencana (editorial).

A.5.2. Berita dan Cara Pandang terhadap Realitas

Realitas atau fakta merupakan elemen penting yang membentuk suatu berita.

Maka dari itu ketika membicarakan berita tidak bisa dilepaskan dari membicarakan realitas itu sendiri. Ada 2 cara pandang dalam memahami realitas dalam berita, yaitu pandangan Positivis dan Konstruksionis. Berikut perbedaan antara kedua pandangan itu:

Tabel 1. Perbedaan Pandangan Positivis dan Konstruksionis

Positivis Ada fakta yang ‘riil’ yang diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal

Konstruksionis Fakta merupakan konstruksi atas realitas. Kebenaran suatu fakta bersifat relatif, berlaku sesuai konteks tertentu

Sumber: (ed.), Communication Yearbook, Vol. 15, (Newbury Park: Sage Publication, 1985), hlm. 50-51.(dalam Eriyanto, 2002:23).

Headline

Body Lead

6

(7)

Lebih lanjut, Eriyanto menjelaskan tentang perbedaan pandangan Positivis dan Konstruksionis sebagai berikut:

“Dalam pandangan Positivis, media dilihat sebagai saluran. Media adalah sarana bagaimana pesan disebarkan dari komunikator ke penerima (khalayak). Media di sini dilihat murni sebagai saluran, tempat bagaimana transaksi pesan dari semua pihak yang terlibat dalam berita. Media di sini dianggap sebagai saluran yang netral. Sedangkan dalam pandangan Konstruksionis, media dilihat sebaliknya. Media bukanlah sekadar saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya. Di sini media dipandang sebagai agen konstruksi sosial yang mendefinisikan realitas.”(Eriyanto, 2005:25)

Perbedaan penggunaan dua pandangan ini akan memberikan perbedaan pula pada cara pandang terhadap kerja wartawan. Dalam pandangan Positivis, realitas dianggap telah ada sehingga wartawan hanyalah pihak pasif yang tinggal ambil realitas, kemudian menyusunnya menjadi berita. Sedangkan dalam pandangan Konstruksionis, realitas merupakan hasil konstruksi dimana nilai-nilai yang dibawa oleh wartawan bisa mempengaruhi konstruksi suatu berita.

A.5.3. Sistem Operasional Media dalam Membingkai Berita

Dalam pemilihan beberapa hal-hal yang diberitakannya, media mencoba mengarahkan khalayak pembacanya kepada suatu alur penceritaan tertentu. Dalam pemilihan ini, mungkin ada hal-hal yang ditonjolkan dan ada juga hal-hal lain yang dikesampingkan. Alur semacam ini mungkin dilakukan secara sadar, tetapi bisa juga dilakukan secara tidak sadar oleh media. Menurut Shoemaker dan Reese (dalam Eriyanto, 2002:118), “Menjelaskan ‘apa itu berita’ lebih sulit jika dibandingkan dengan menjelaskan ‘apa yang dijual’ oleh media”. Maka dari itu untuk memahami sistem operasional media, diperlukan pendekatan untuk mencari tahu bagaimana kerangka pemikiran suatu media dan bukan menyalahkan media.

Salah satu cara untuk melihat bagaimana sistem operasional media dalam membingkai berita itu adalah dengan framing. Framing secara luas bisa diartikan sebagai pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media. proses pembentukan dan konstruksi realitas itu, hasil

7

(8)

akhirnya adalah adanya bagian tertentu yang disajikan menonjol oleh media.

Penekanan dan penonjolan aspek-aspek tertentu bisa berbeda-beda walaupun makna secara luasnya sama. Hal ini bisa dilihat dari beberapa definisi framing yang disampaikan oleh beberapa ahli dalam tabel di bawah ini (Eriyanto, 2002:66- 67):

Tabel 2. Definisi Framing menurut ahli

Robert N. Entman

Proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek lain. Ia juga menyertakan penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga sisi tertentu mendapatkan alokasi lebih besar dari sisi yang lain.

William A.

Gamson

Cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan obyek suatu wacana. Cara bercerita itu terbentuk dalam sebuah kemasan (package). Kemasan itu semacam skema atau struktur pemahaman yang digunakan individu untuk mengkonstruksi makna pesan-pesan yang ia sampaikan, serta untuk menafsirkan makna pesan-pesan yang ia terima.

Todd Gitlin

Strategi bagaimana realitas/dunia dibentuk dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada khalayak pembaca.

Peristiwa-peristiwa ditampilkan dalam pemberitaan agar tampak menonjol dan menarik perhatian khalayak pembaca. Itu dilakukan dengan seleksi, pengulangan, penekanan, dan presentasi aspek tertentu dari realitas.

8

(9)

Definisi tentang framing dari para ahli diatas, menunjukkan penyajian beragam cara dan pendekatan berbeda yang dapat digunakan dalam menganalisis teks berita. Tetapi secara luas memiliki persamaan, yaitu ada sesuatu yang sengaja ditonjolkan oleh media.

Perbedaan pada detail dalam memahami framing membuat perbedaan pula pada model analisis yang ditawarkan. Berikut 4 model analisis yang ditawarkan oleh para ahli dalam melihat bagaimana media membingkai beritanya (Eriyanto, 2002:

155-285):

1. Model analisis framing Murray Edelman

Model analisis dari Murray Edelman menawarkan model analisis dalam memahami bingkai berita dalam teks-teks berita yang relatif memuat unsur-unsur propaganda. Misalnya saja sebuah peristiwa penyerangan bisa diartikan sebagai pemenuhan janji suci, tetapi bisa juga dimaknai sebagai sebuah terorisme.

David E. Snow dan Robert Benford

Pemberian makna untuk menafsirkan peristiwa dan kondisi yang relevan. Frame mengorganisasikan sistem kepercayaan dan diwujudkan dalam kata kunci tertentu, anak kalimat, citra tertentu, sumber informasi, dan kalimat tertentu.

Amy Binder

Skema interpretasi yang digunakan oleh individu untuk menempatkan, menafsirkan, mengidentifikasi, dan melabeli peristiwa secara langsung atau tidak langsung. Frame mengorganisir peristiwa yang kompleks ke dalam bentuk dan pola yang mudah dipahami dan membantu individu untuk mengerti makna peristiwa.

Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki

Strategi konstruksi dan memproses berita. Perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa, dan dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi pembentukan berita.

9

(10)

Edelman berpandangan bahwa pemakaian perspektif tertentu dengan penggunaan kata-kata tertentu (kategorisasi) dapat menjelaskan bagaimana fakta atau realitas dipahami oleh media.

2. Model analisis framing Robert N. Entman

Entman menawarkan model analisis yang fokus pada seleksi isu dan penekanan aspek-aspek tertentu dalam pemberitaan. Analisis bingkai yang coba ditawarkannya bisa digunakan dalam melihat bagaimana sebuah isu dibingkai dalam tingkatan wacana. Tentang bagaimana sebuah fakta didefinisikan, dimaknai sebagai permasalahan apa, pesan moral, dan penyelesaian yang coba ditawarkan oleh media.

3. Model analisis framing Wiliam A. Gamson

Gamson menawarkan gagasan tentang model analisis framing, yaitu dengan menggabungkan antara wacana yang berkembang di media dengan pendapat umum. Framing yang ditawarkannya ini cenderung mengarah ke gerakan sosial.

Menurutnya, keberhasilan gerakan sosial terletak dari bagaimana peristiwa dibingkai sehingga menimbulkan tindakan kolektif.

4. Model analisis framing Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki

Analisis framing yang coba ditawarkan oleh Zhondang dan Kosicki bergerak pada bagaimana wacana publik tentang suatu isu atau kebijakan dikonstruksikan oleh media. Dalam model analisisnya, mereka menawarkan 4 struktur analisis, yaitu:

sintaksis, skrip, tematik, dan retoris.

Menurut Noris (dalam Fauzi, 2007:23), berita-berita tentang politik biasanya di- frame secara tematik dan episodik. Framing tematik merujuk pada analisis framing makro-struktural yang menempatkan presentasi berita dalam konteks bahasan spesifik sehingga lebih memungkinkan untuk mempengaruhi interpretasi khalayak, dan level mikrostruktural yang memfokuskan presentasi berita pada angel atau aspek tertentu dari suatu realitas dan pengaburan pada aspek lainnya.

Sedangkan framing episodik, diproyeksikan untuk mencari kecenderungan

10

(11)

framing wacana berita dalam periode waktu tertentu dengan periode waktu yang lain.

A.5.4. Media Menjalankan Fungsi Watchdog vs Institusi Bisnis

Indonesia yang saat ini menganut kebebasan pers, menempatkan media sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Dimana urutan sebelumnya ditempati oleh kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sebagai pilar keempat dalam demokrasi, pers menjalankan tugas penting sebagai watchdog (anjing penjaga), yang menjalankan fungsi pengawasan terhadap berbagai lembaga yang memiliki kekuasaan sosial, politik, maupun ekonomi. Pandangan tentang watchdog dalam jurnalisme sendiri menurut McQuail adalah:

“The watchdog theory of journalism is based on pluralistic view of social power and can be seen as ‘a simple extension to the (newspaper) press of the fundamental individual right to freedom of opinion, speech, religion, and assembly’. (Franklin, 2005: 273).

Pengawasan oleh media dianggap perlu agar kekuasaan tidak disalahgunakan.

Salah satu ciri dari pers yang menjalankan fungsi ini berbentuk liputan-liputan investigatif tentang peran yang sedang dijalankan oleh para pemegang kekuasaan.

Disisi lain, media juga menjalankan perannya sebagai institusi bisnis. Dalam perannya ini, media dituntut untuk bisa membiayai segala keperluannya sendiri.

Banyaknya media-media lain yang bermunculan pun menuntut adanya persaingan. Maka dalam konteks ini, produk media menjadi suatu komoditas yang parameternya laku atau tidaknya untuk dijual.

Kecenderungan media untuk mencari keuntungan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, negara-negara lain seperti Amerika Serikat pun mengalaminya. Salah satu caranya adalah dengan memuat berita yang bisa menarik sebanyak mungkin khalayak untuk membacanya. Misalnya menyajikan tema-tema yang menyentuh khalayak sehingga mereka tertarik untuk membeli surat kabar itu.

Menurut Doris A. Graber, nilai berita yang banyak dianut media massa adalah luar biasa, menghibur, tidak asing, dekat, konflik dan kekerasan. Artinya, semua peristiwa yang luar biasa, bisa menghibur khalayak, tidak asing bagi khalayak, 11

(12)

berdekatan dengan khalayak (baik emosional maupun geografis), mengandung konflik dan mengungkapkan kekerasan, perlu diberitakan (Graber, dalam Abrar, 2005:16). Tidak bisa dipungkiri bahwa hal yang demikian adalah yang disukai oleh khalayak. Maka dari itu tidak terlalu heran jika banyak media saat ini tidak hanya menyampaikan fakta apa adanya tetapi menambahkan sisi-sisi lain yang membuat produk mereka terlihat berbeda

Sisi-sisi lain yang coba disampaikan media inilah yang terkadang justru keluar dari fokus permasalahan sebenarnya, sehingga media menjadi bias. Hal ini seperti yang disampaikan oleh John Wilson, “Journalists damage their case further when their stories go too far, as they often do” (Wilson, 1996:85). Menurut Al- Zastrouw dalam buku “Mendeteksi Bias Berita”, semua media bias, hanya saja kadar biasnya berbeda-beda. Derajat bias media ini setidaknya dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu: kapasitas dan kualitas pengelola media, kuatnya kepentingan yang sedang bermain dalam realitas sosial, serta taraf kekritisan dari masyarakat (Sobur, 2001:35).

Bias media ini terkadang bukan sesuatu yang tidak disadari oleh pekerja media.

Tetapi berbagai hal salah satunya adalah mindset agar berita laku di masyarakat, membuat hal ini terus menyisakan persoalan. Ketika berhadapan dengan hal ini, pekerja media sering menyangkal bahwa mereka hanya menyampaikan sesuatu yang menarik perhatian publik. Hal ini seperti yang disampaikan oleh John Wilson,:

“Journalists plead the public interest when they are accused of disclosing official secrets, usually on the grounds that secret protected a scandal[..]The defence is often used fancifully, asserted more than argued, though everyone seems agreed that public interests does not mean whatever interests the public. It refers to serious matters in which the public have or ought to have a legitimate interest, better still a legitimate concern.”

(Wilson, 1996:32).

A.5.5. Media dan Pemberitaan Kasus Korupsi

Peristiwa-peristiwa politik masih saja menjadi tema-tema yang menarik perhatian banyak media. Menurut Hamad (Hamad, 2004:1) hal ini dipengaruhi oleh 2

12

(13)

faktor. Pertama, dewasa ini politik berada di era mediasi (politics in the age of mediation). Dan yang kedua, peristiwa politik dalam bentuk tingkah laku dan pernyataan para aktor politik lazimnya selalu mempunyai nilai berita sekalipun peristiwa politik itu bersifat rutin belaka.

Dari 2 alasan yang disebutkan di atas, maka wajar jika beberapa tahun belakangan ini isu-isu politik banyak menghiasi headline di berbagai media. Salah satu isu yang sedang hangat di masyarakat beberapa tahun belakangan ini adalah isu tentang tindak korupsi yang melibatkan aktor-aktor politik nasional.

- Korupsi

Korupsi dalam konteks ini dimaknai sebagai salah satu kejahatan yang mencakup 3 aspek, yaitu: Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Kejahatan jenis ini merupakan kejahatan yang tergolong dalam white collar crime, atau kejahatan kerah putih yang banyak dilakukan oleh kaum elite dan terpelajar. Menurut JoAnn L. Miller (dalam Pranoto, 2008:112), seorang pakar kriminologi yang mengajar sosiologi dan antropologi di Purdue University, Amerika Serikat, ada 4 kategori kejahatan kerah putih, yaitu:

• Organizational occupational crime

Kejahatan ini biasa disebut dengan kejahatan korporasi. Pelakunya adalah para eksekutif yang melakukan perbuatan ilegal yang merugikan orang lain demi kepentingan korporasinya.

• Goverment occupational crime

Kejahatan ini biasa dilakukan oleh para birokrat untuk kepentingan dan atas persetujuan pemerintah atau perintah negara.

• Professional occupation crime

Kejahatan ini biasa dilakukan oleh orang yang ahli dalam bidang tertentu dan terkait dengan bidangnya tersebut secara disengaja. Misalnya saja penyalahgunaan posisi akuntan, ahli hukum, dlsb.

13

(14)

• Individual occupation crime

Merupakan praktek kejahatan yang dilakukan oleh perseorangan secara independen seperti pengusaha dan pemilik modal. Mereka memilih jalan menyimpang untuk melanggar hukum.

A.6. Kerangka Konsep

1. Berita dalam sudut pandang Konstruksionis

Seperti yang telah dijelaskan di atas, memahami realitas merupakan proses yang penting karena hal ini merupakan inti dari sebuah berita. Dari dua perbedaan pandangan dalam memahami realitas (pandangan Positivis dan pandangan Konstruksionis), maka pemahaman realitas yang cocok untuk penelitian ini adalah pemahaman realitas dari sudut pandang Konstruksionis. Hal ini dikarenakan penelitian ini berusaha untuk melihat bagaimana berita tentang korupsi yang menyangkut politikus perempuan disajikan oleh media. Media disini dianggap sebagai aktor yang bisa menentukan arah pemberitaan. Penggunaan sudut pandang ini berdampak pula pada cara pandang terhadap wartawan.

Proses kerja wartawan dalam mengumpulkan fakta dan kemudian menuliskannya dalam sebuah draft berita, dalam konteks ini bisa disebut sebagai proses konstruksi realitas. Maka dari itu realitas yang dihasilkan oleh wartawan adalah produk interaksi antara wartawan dengan fakta. Dimana produk itu dipengaruhi juga oleh nilai-nilai dan ideologi yang dibawa oleh wartawan.

2. Model analisis Framing

Penelitian ini menggunakan perpaduan antara 2 model analisis dari Robert N.

Entman dan Zhondang & Kosicki. Dalam model analisis yang ditawarkannya, Entman dengan cukup baik memberikan detail analisis dalam tingkat wacana. Hal ini terlihat dari elemen-elemen framing yang ditawarkannya, yaitu: Definition problem (pendefinisian masalah), Diagnose Causes (mendiagnosis masalah), Make Moral Judjement (membuat keputusan moral), dan Treatment Recomendation (penyelesaian masalah). Sedangkan Zhondang dan Kosicki lebih

14

(15)

banyak menekankan detail analisisnya pada teknis. Misalnya saja mereka menawarkan elemen framing yang terdiri dari 4 struktur, yaitu: Struktur Sintaksis (cara wartawan menyusun fakta), Struktur Skrip (cara wartawan mengisahkan fakta), Struktur Tematik (cara wartawan menuliskan fakta), dan Struktur Retoris (cara wartawan menekankan fakta).

Dalam penelitian ini, tidak semua dari elemen framing Entman dan Zhondang tersebut digunakan semua. Elemen yang digunakan dalam penelitian ini adalah elemen-elemen yang dianggap bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Misalnya saja dalam model analisis Entman, penelitian ini hanya menggunakan 3 elemen framing, yaitu: Definition problem, diagnose Causes, dan Treatment Recomendation. Sedangkan dari model analisis Zhondang & Kosicki yang digunakan dalam penelitian ini ada satu yaitu Struktur Retoris. Berikut penjelasan dari masing-masing elemen:

- Definisi masalah disini digunakan untuk mengidentifikasi bagaimana sebuah isu didefinisikan, yaitu sebagai sebuah permasalahan apa. Hal ini penting karena satu kasus korupsi bisa saja dianggap sebagai permasalahan hukum, moral, ataupun politik. Pendefinisian masalah ini bisa digunakan sebagai deteksi awal bagaimana sebuah kasus dilihat dari sudut pandang media.

- Diagnosis kasus, merupakan sebuah deteksi lebih lanjut tentang bagaimana media menggambarkan tentang peran si aktor dalam sebuah isu yang sedang diberitakan. Dalam sebuah kasus korupsi, seorang tersangka bisa saja dianggap berperan sebagai korban dari sebuah mafia korupsi, tetapi bisa juga ia diperankan sebagai aktor utama. Maka cara penggambaran media tentang peran yang dimainkan si aktor ini penting untuk dianalisis.

- Penyelesaian masalah. Elemen ini digunakan untuk melihat bagaimana sebuah media menekankan tentang penyelesaian masalah dari suatu isu tertentu. Penyelesaian masalah yang ditawarkan tersebut bisa digunakan untuk melihat bagaimana sebuah media menekankan tentang siapa yang

15

(16)

dianggap bersalah, dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas sebuah permasalahan yang diberitakan.

- Unsur Retoris yang digunakan dalam penelitian ini adalah leksikon. Leksikon disini dimaknai sebagai pilihan kata atau istilah tertentu yang digunakan oleh media. Istilah ini penting karena bisa digunakan untuk melihat pada bagian mana sebuah kasus maupun aktor ditonjolkan oleh media.

3. Analisis Pendukung

Dalam penelitian ini ditambahkan pula 3 analisis substantif, yaitu: narasumber, personalisasi, dan arah pemberitaan. Selain itu, ada satu lagi analisis yang bersifat tambahan yaitu analisis tentang edukasi terhadap masyarakat. Elemen narasumber ditambahkan dalam penelitian ini untuk mendukung elemen Definition of problem, yaitu tentang bagaimana sebuah masalah didefinisikan berdasarkan latar belakang narasumber dan pernyataan yang dikutip dalam pemberitaan.

Elemen personalisasi ditambahkan dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis bagaimana latar belakang seorang tokoh mempengaruhi pemberitaannya. Yaitu tentang bagaimana seorang tokoh digambarkan dalam pemberitaan. Hal ini digunakan untuk menjawab dengan lebih detail tujuan penelitian pada poin 2.

Arah pemberitaan ditambahkan pula dalam elemen penelitian ini. Yang dimaksud dengan arah pemberitaan disini adalah bagaimana sebuah isu ditampilkan dalam media, apakah di bingkai secara tematik atau secara periodik. Bingkai tematik dalam penelitian ini diartikan sebagai cara media menyajikan suatu isu tertentu berdasarkan tema-tema dan tidak menggambarkan isu secara keseluruhan.

Sedangkan bingkai episodik merupakan kebalikannya, yaitu menggambarkan sebuah isu pada setiap tahapan dari kasus sehingga tergambar dengan jelas konsep keseluruhan kasus. Terakhir, edukasi terhadap masyarakat digunakan untuk melihat apakah berita yang ditampilkan oleh media terhadap suatu isu tertentu yang memuat unsur edukasi terhadap masyarakat.

16

(17)

A.7. Obyek Penelitian

Obyek penelitian yang diangkat dalam penelitian ini adalah berita-berita tentang korupsi yang menjerat Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati di Koran Tempo periode Januari-Agustus 2012.

Koran Tempo dipilih karena surat kabar yang mengedepankan sisi investigatif dalam pemberitaannya. Hal ini bisa dilihat dari sejarahnya dimana Tempo Media Group (yang membawahi Majalah Tempo dan Koran Tempo) pernah mengalami 2 kali pemberelan di masa Orde Baru berkuasa, dikarenakan investigasi dan tulisannya yang dianggap bersifat propaganda. Di masa Reformasi, lewat tulisan di majalahnya, kembali menuai kontroversi karena memuat investigasi tentang rekening gendut perwira polisi. Maka dari itu, nama besar Tempo menunjukkan sebuah brand media di Indonesia yang terdepan dalam sisi investigatif. Selain itu, dari sisi teknis Koran Tempo menggunakan elemen-elemen layout yang tidak konvensional dan memuat banyak grafik informasi, karena itu dibaca terutama oleh kalangan muda dari kalangan menengah atas. Di luar negeri, Koran Tempo dikenal sebagai media yang progresif dan demokratis. (Keller, 2009: 57).

Kemudian politikus perempuan dipilih karena perempuan dianggap cukup rentan dengan isu-isu ‘dramatis’ seperti kondisi psikologis dan keluarga, yang lebih mengarah ke pribadi dibandingkan dengan pengembangan kasus. Politikus disini dibatasi pada anggota parlemen dan politisi partai yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat pusat.

Di tahun 2012 sendiri ada 11 nama perempuan yang masuk dalam daftar penanganan di KPK, yaitu: Imas Diansari, Gerhana Sianipar, Fahuwusa Laila, Dharnawati, Nunun Nurbaeti, Wa Ode Nurhayati, Miranda Swaray Goeltom, Angelina Patricia Pingkan Sondakh, Neneng Sri Wahyuni, Siti Hartati Murdaya, dan Kartini Juliana M. Marpaung. (Evaluasi dan Roadmap Penegakan Hukum KPK 2012-2015, yang dikutip dari http://www.antikorupsi.org). Dari 11 nama itu, hanya ada 2 politikus perempuan yang terlibat yaitu Angelina Patricia Pingkan Sondakh (Angie) dan Wa Ode Nurhayati (Wa Ode). Sedangkan periode Januari-

17

(18)

Agustus 2012 dipilih karena kedua itu adalah rentan waktu kedua kasus ini banyak diperbincangkan di media, terutama Koran Tempo.

Berita-berita yang rencananya akan diteliti adalah satu berita yang mewakili satu rubrikasi. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, rubrikasi yang ada di Koran Tempo adalah: Headline (nama ini tidak ditulis dalam Koran Tempo, tetapi secara umum satu berita yang diangkat sebagai topik hari itu disebut headline dari surat kabar itu), Editorial, Berita Utama, Kutipan, Nasional, Nusa, Jawa Timur, Pendapat, Ilmu & Teknologi, Jawa Tengah dan Yogyakarta, Bisnis, Digital, Gaya Hidup, Navigasi, Internasional, Seni, dan Olahraga. Berita itu akan dipilih berdasarkan berita yang dianggap paling bisa merepresentasikan frame dari Koran Tempo.

A.8. Metodologi Penelitian

Untuk melihat bagaimana bingkai berita yang coba dihadirkan Koran Tempo dalam pemberitaan tentang Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati, maka penelitian ini akan menggunakan 2 perpaduan antara model analisis framing Robert N. Entman dan Zhondang Pan & Gerald Kosicki. Model analisis Entman yang akan dipakai dalam penelitian ini terdiri dari: Definition problem, Diagnose causes, dan Treatment recomendation. Hal ini untuk mengetahui di level manakah pembingkaian media diarahkan, yaitu apakah di level mikrostruktural atau di level makrostruktural.

Sedangkan Struktur Retoris dari Zhondang dan Kosicki akan digunakan untuk melihat bingkai berita dalam level retoris. Selain kedua model analisis di atas, ditambahkan juga elemen Arah Pemberitaan , untuk mengetahui frame yang coba dihadirkan Koran Tempo, apakah pemberitaan tentang Angelina dan Wa Ode akan di-frame secara Episodik atau Tematik. Dan terakhir akan ditambahkan pula elemen Personalisasi, untuk melihat bagaimana penokohan yang coba dihadirkan oleh Koran Tempo terhadap sosok politikus perempuan Angelina dan Wa Ode Nurhayati yang memiliki latar belakang yang berbeda sebelum menjabat sebagai

18

(19)

anggota dewan. Secara lebih jelas tentang perangkat framing yang akan digunakan dalam penelitian, akan disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4. Perangkat Framing Substantif

Elemen Framing Aspek yang Diamati

Leksikon Pilihan kata (diksi) dalam istilah-istilah tertentu yang muncul dalam pemberitaan.

Narasumber Narasumber yang dikutip dalam pemberitaan.

Definition Problem

Sebagai masalah apakah Koran Tempo

mendefinisikan kasus Angelina dan Wa Ode dalam pemberitaannya.

Diagnose Causes

Bagaimanakah Koran Tempo melihat peran Angelina dan Wa Ode dalam kasus korupsi yang sedang menjeratnya.

Personalisasi

Adakah penggambaran sosok secara personal terhadap Angelina maupun Wa Ode dalam pemberitaannya di Koran Tempo.

Arah Pemberitaan Apakah kasus Angelina dan Wa Ode di-frame secara tematik, ataukah secara episodik.

Treatment and Recomendation

Bagaimana penyelesaian yang coba dihadirkan Koran Tempo dalam pemberitaannya tentang kasus korupsi yang menjerat Angelina dan Wa Ode.

19

(20)

a. Leksikon, penelitian ini akan melihat pemilihan kata (diksi) dan istilah khusus apa yang muncul dalam pemberitaan. Kemudian menjelaskan pula makna diksi dan istilah tersebut dan apa yang coba digambarkan oleh Koran Tempo terhadap munculnya diksi dan istilah tersebut.

b. Narasumber, penelitian ini akan melihat siapa saja narasumber yang dikutip dalam pemberitaan dan mencoba menjelaskan sudut pandang Koran Tempo dari narasumber yang dikutip tersebut.

c. Definition Problem, penelitian ini akan melihat bagaimana Koran Tempo mendefinisikan masalah dalam pemberitaannya.

d. Diagnose Causes, penelitian ini akan melihat bagaimana sudut pandang Koran Tempo dalam menjelaskan peran dari aktor-aktor yang terlibat dalam pemberitaan.

e. Personalisasi, penelitian ini akan melihat penggambaran sosok secara personal terhadap tokoh yang diberitakan.

f. Arah Pemberitaan, penelitian ini akan melihat bagaimana frame diarahkan dalam pemberitaan, apakah mengarah ke frame episodik ataukah frame tematik.

g. Treatment Recomendation, penelitian ini akan melihat penyelesaian masalah seperti apakah yang coba ditawarkan oleh Koran Tempo dalam pemberitaannya.

A.7.1. Informasi Teknis

Analisis pendukung yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah porsi pemberitaan. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui intensitas sebuah berita dengan kriteria yang telah ditetapkan, yang muncul dalam teks berita yang dianalisis. Semakin sering Koran Tempo memberitakan tentang kasus tertentu, berarti surat kabar ini menganggap bahwa tema pemberitaan itu penting untuk diberitakan. Maka dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa ada suatu tema yang berusaha ditonjolkan oleh Koran Tempo dalam pemberitaannya.

A.7.2. Jenis Penelitian

20

(21)

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian teks framing.

Sebab penelitian ini ingin menggambarkan bagaimana media membingkai berita seputar korupsi politisi perempuan.

A.7.3. Sifat Penelitian

Sifat penelitian ini adalah teks kualitatif. Hal ini dikarenakan penelitian ini fokus kepada bingkai media dan simbol. Sehingga kualitatif dipilih karena hasil temuan dari simbol-simbol itu bisa dideskripsikan secara verbal untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif dari banyak aspek.

A.7.4. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini didapatkan dengan mengumpulkan berita-berita seputar kasus korupsi yang menjerat politikus perempuan di Koran Tempo selama periode 2012.

A.7.5. Teknik Penyajian Data

Sebagai salah satu penelitian kualitatif, maka data dalam penelitian ini akan disajikan data amatan berupa kata-kata dan kalimat yang telah didapat. Selain itu, simbol-simbol hasil dari pengamatan terhadap teks dan gambar dalam berita akan dideskripsikan secara sistemik.

A.7.6. Teknik Analisis Data

Dalam teknik analisis data ini akan dibagi menjadi beberapa tahapan. Pertama data-data dari Koran Tempo akan diklasifikasi, kemudian dipilih berita-berita yang sesuai dengan tema dan kriteria yang telah ditetapkan. Hasil klasifikasi data tersebut akan disajikan dalam grafik-grafik. Hasil analisis codding sheet dari berita-berita terpilih akan yang dianalisis lewat variabel-variabel yang telah ditentukan, kemudian akan disajikan dalam data-data berbentuk kalimat. Dari data dua kasus Angelina dan Wa Ode yang telah didapat, kemudian akan dibandingkan untuk melihat persamaan dan perbedaan dari dua kasus ini. Setelah itu semua data temuan akan disimpulkan menjadi temuan tertentu.

21

Gambar

Tabel  2. Definisi Framing menurut ahli
Tabel 4. Perangkat Framing Substantif

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian untuk faktor permintaan secara simultan ada pengaruh nyata antara tingkat pendapatan, selera, jumlah tanggungan dan harapan masa yang akan datang

5) Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Dalam rangka menunjang perbaikan regulasi pengusahaan UCG diperlukan litbang UCG di Indonesia. Hal ini perlu dilakukan mengingat

Dalam pelaksanaan Program Induksi, pembimbing ditunjuk oleh kepala sekolah/madrasah dengan kriteria memiliki kompetensi sebagai guru profesional; pengalaman mengajar

Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tertentu dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha tertentu atau dengan kata lain penyerapan tenaga kerja

Metode pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan manajemen strategi untuk mengetahui lingkungan perusahaan

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan dengan dosis yang baik dan efektif dalam mencegah infeksi A.hydrophila pada pemberian pakan ekstrak daun Alpukat