• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETIKA PERILAKU PERWIRA POLRI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ETIKA PERILAKU PERWIRA POLRI"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

MARKAS BESAR

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

HANJAR PENDIDIKAN POLRI

ETIKA PERILAKU PERWIRA POLRI

untuk

PENDIDIKAN ALIH GOLONGAN DARI BINTARA KE PERWIRA POLRI

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 2020

MILIK DINAS

(2)

LEMBAR IDENTITAS

ETIKA PERILAKU PERWIRA POLRI

Penyusun:

Tim Rapat Koordinasi Lemdiklat Polri T.A. 2020

Editor:

1. Brigjen Pol. Drs. Adi Kuntoro (Karo Kurikulum Lemdiklat Polri) 2. Kombes Pol. Drs. Imran Yunus, M.H.

(Kabag Kurhanjar Dikbangum Rokurlum Lemdiklat Polri) 3. AKBP Andi Sophian., S.I.K.

(Kasubbag Sespimma Bag Kurhanjar Dikbangum Ro Kurlum Lemdiklat Polri) 4. Penata Hartini., S.Pd.

(Operator)

Hanjar Pendidikan Polri

Pendidikan Alih Golongan dari Bintara ke Perwira Polri

Diterbitkan oleh:

Bagian Kurikulum dan Hanjar Pendidikan Pengembangan Umum Biro Kurikulum

Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Tahun 2020

Dilarang menggandakan sebagian atau seluruh isi Bahan Ajar (Hanjar) Pendidikan Polri ini, tanpa izin tertulis dari Kalemdiklat Polri.

(3)

DAFTAR ISI

Cover ... i

Sambutan Kalemdiklat Polri ... ii

Keputusan Kalemdiklat Polri ... iv

Lembar Identitas ... vii

Daftar Isi ... viii

Pendahuluan ... 1

Standar Kompetensi ... 1

MODUL 01 HAKIKAT ETIKA Pengantar ... 2

Kompetensi Dasar ... 2

Materi Pelajaran ... 3

Metode Pembelajaran ... 3

Alat/Media, Bahan, dan Sumber ... 4

Kegiatan Pembelajaran ... 4

Tagihan/Tugas ... 5

Lembar Kegiatan ... 5

Bahan Bacaan ... 6

1. Pengertian etika secara umum ... 6

2. Pengertian etika menurut para ahli... 7

3. Sejarah etika ... 8

4. Fungsi etika ... 9

5. Manfaat etika ... 10

6. Tujuan etika ... 10

7. Ciri-ciri-etika ... 11

8. Sumber etika ... 12

(4)

9. Macam-macam etika ... 12

Rangkuman ... 15

Latihan ... 16

MODUL 02 PERILAKU PERWIRA Pengantar ... 17

Kompetensi Dasar ... 17

Materi Pelajaran ... 17

Metode Pembelajaran ... 18

Alat/Media, Bahan, dan Sumber ... 18

Kegiatan Pembelajaran ... 19

Tagihan/Tugas ... 19

Lembar Kegiatan ... 19

Bahan Bacaan ... 20

1. Pengertian perwira ... 20

2. Sifat-sifat perwira... 20

3. Perilaku perwira Polri ... 24

Rangkuman ... 30

Latihan ... 31

(5)

MODUL

ETIKA PERILAKU PERWIRA POLRI 6 JP (270 menit)

Pendahuluan

Sebagai seorang Perwira Polri, dalam organisasi memiliki kedudukan dan peran yang sangat strategis. Seorang perwira harus memiliki kemampuan strategis, manajemen dan teknis kepolisian. Selain itu seorang perwira harus memiliki sikap dan tingkah laku yang merupakan cerminan seorang pemimpin bagi bawahannya dan sebagai firs line supervisor bagi pimpinannya.

Oleh karena itu seorang perwira harus memegang teguh etika perwira, yang mengatur perilaku kehidupan sehari-hari yang langsung maupun tidak langsung mengangkat harkat dan martabat serta harga diri Perwira Polri.

Dengan berpedoman pada etika perwira diharapkan akan dicapai watak dan corak Perwira yang senantiasa berpedoman pada Tri Brata dan Catur Prasetya dalam kehidupannya. Perwira Polri selalu diharapkan sebagai perwira yang berbudi luhur dan selalu mendukung cita-cita nasional, sebagai kesatria yang selalu siap bersedia membela kepentingan banagsa dan negara serta selalu menjunjung tinggi nama dan kehormatan korp Perwira.

Dalam modul ini akan disampaikan pemahaman tentang etika perilaku sebagai seorang perwira. Modul satu berisi tentang hakikat perwira dan modul dua berisi tentang sifat dan perilaku sebagai seorang perwira.

Standar Kompetensi

Memahami dan mampu menerapkan etika perwira dalam melaksanakan tugas sebagai seorang Perwira baik dalam kedinasan maupun diluar kedinasan.

(6)

Pengantar

Dalam modul satu ini akan disampaikan materi mengenai hakikat Etika.

Materi mencakup beberapa pemahaman tentang etika meliputi, pengertian etika, sejarah etika, fungsi etika, manfaat etika, tujuan etika, ciri-ciri etika, sumber etika dan macam-macam etika.

Kompetensi Dasar

Memahami hakikat etika.

Indikator hasil belajar:

1. Menjelaskan pengertian etika secara umum;

2. Menjelaskan pengertian etika menurut para ahli;

3. Menjelaskan sejarah etika;

4. Menjelaskan fungsi;

5. Menjelaskan manfaat;

6. Menjelaskan tujuan;

7. Menjelaskan ciri-ciri etika;

8. Menjelaskan sumber etika;

9. Menjelaskan macam-macam etika.

MODUL

01

HAKIKAT ETIKA

2 JP (90 menit)

(7)

Materi Pelajaran

Pokok Bahasan : Hakikat perwira

Sub Pokok Bahasan :

1. Pengertian etika secara umum;

2. Pengertian etika menurut para ahli;

3. Sejarah etika;

4. Fungsi etika;

5. Manfaat etika;

6. Tujuan etika;

7. Ciri-ciri etika;

8. Sumber etika;

9. Macam-macam etika.

Metode Pembelajaran

1. Metode Pembelajaran Mandiri

Metode ini digunakan untuk pembelajaran yang dilakukan secara mandiri oleh peserta didik guna mencapai kompetensi dengan tidak bergantung pada orang lain, sehingga peserta didik mampu melakukan belajar mandiri, dapat menentukan cara belajar yang efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik dan mampu untuk melakukan aktivitas belajar secara mandiri.

2. Metode Diskusi Online.

Metode ini digunakan untuk mendiskusikan materi pelajaran dengan memanfaatkan IT.

(8)

Alat/Media, Bahan, dan Sumber

1. Alat/media :

a. Komputer/Laptop.

b. Program aplikasi diskusi Online.

2. Bahan : --- 3. Sumber :

a. Lorens bagus, kamus filsafat,(Jakarta: PT Gramedia pustaka, 2000).

b. Hasbullah Bakry, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Wijaya, 1978).

c. Keraf. A. Sonny. Etika Lingkungan, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002).

d. Haidar Baqir, Buku Saku Filsafat Islam, (Bandung Mizan, 2005), e. K Bertens, Etika, (Jakarta: Gramedia, 1993), h. 27.

f. Sarwoko, Pengantar Filsafat Ilmu Keperawatan, (Jakarta:

Salemba).

g. Soegiono,Tamsil, Filsafat Pendidikan Teori dan Praktik. Bandung:

PT. Remaja Rosdakarya, 2012.

h. Etika Individual. Burhanuddin salam. 2000. Jakarta: Asdi Mahasatya.

i. Lembar petunjuk penugasan.

Kegiatan Pembelajaran

1. Pendidik membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok melaksanakan diskusi secara online meliputi: materi pelajaran yang dimuat dalam module off campus dengan didampingi oleh Pendidik.

2. Pendidik mendampingi kegiatan diskusi secara online dan bertugas memberikan penilaian terhadap peserta berdasarkan pada kehadiran, aktivitas dan kualitas jawaban dari peserta pada saat kegiatan diskusi yang telah dijadwalkan.

3. Peserta didik diberikan kesempatan untuk berkomentar tentang materi yang didiskusikan sesuai dengan jadwal waktu yang tersedia.

(9)

Tagihan / Tugas

Masing-masing peserta didik mengumpulkan resume pelajaran yang diberikan secara perorangan dan berkelompok yang dikirim melalui alamat email sesuai dengan ketentuan yang berlaku menggunakan internet.

Lembar Kegiatan

Penugasan untuk peserta didik setelah pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (e-learning) adalah peserta didik membuat resume tentang materi yang telah diberikan.

(10)

Bahan Bacaan

HAKIKAT ETIKA

1. Pengertian Etika Secara Umum

Secara etimologi kata “etika” berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu Ethos dan ethikos. Ethos berarti sifat, watak, kebiasaan, tempat yang biasa. Ethikos berarti susila, keadaban, kelakuan dan perbuatan yang baik.

Istilah moral berasal dari kata latin yaitu mores, yang merupakan bentuk jama‟ dari mos, yang berarti adat istiadat atau kebiasaan watak, kelakuan, tabiat, dan cara hidup.

Sedangkan dalam bahasa Arab kata etika dikenal dengan istilah akhlak, artinya budi pekerti. Dalam bahasa Indonesia disebut tata susila.

K Bertens dalam buku etikanya menjelaskan etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa; padang rumput;

kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak artinya adalah adat kebiasaan. Dalam arti ini, etikaberkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, tata cara hidup yang baik, baik pada diri seseorang atau kepada masyarakat.

Kebiasaan hidup yang baik ini dianut dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Kebiasaan hidup yang baik ini lalu dibekukan dalam bentuk kaidah, aturan atau norma yang di sebarluaskan, dikenal, dipahami, dan diajarkan secara lisan dalam masyarakat. Kaidah, norma atau aturan ini pada dasarnya, menyangkut baik-buruk perilaku manusia. Atau etika dipahami sebagai ajaran yang berisikan perintah dan larangan tentang baik- buruknya perilaku manusia, yaitu perintah yang harus dipatuhi dan larangan yang harus dihindari.

Etika sering diidentikkan dengan moral (atau moralitas). Namun, meskipun sama-sama terkait dengan baik-buruk tindakan manusia, etika dan moral memiliki perbedaan pengertian. Moralitas lebih condong pada pengertian nilai baik dan buruk dari setiap perbuatan manusia itu sendiri, sedangkan etika berarti ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk.

Secara terminologi etika bisa disebut sebagai ilmu tentang baik dan buruk atau kata lainnya ialah teori tentang nilai. Dalam Islam teori nilai mengenal lima kategori baik-buruk, yaitu baik sekali, baik,

(11)

netral, buruk dan buruk sekali. Nilai ditentukan oleh Tuhan, karena Tuhan adalah maha suci yang bebas dari noda apa pun jenisnya.

Etika disebut juga ilmu normatif, karena didalamnya mengandung norma dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan.

Sebagian orang menyebut etika dengan moral atau budi pekerti.

ilmu etika adalah ilmu yang mencari keselarasan perbuatan- perbuatan manusia dengan dasar.

Menurut hukum etika, suatu perbuatan itu dinilai dari 3 tingkat, yaitu : a. Tingkat pertama: semasa belum lahir menjadi perbuatan, yakni

Berupa rencana dalam hati atau niat.

b. Tingkat kedua: perbuatan nyata atau pekerti

c. Tingkat ketiga: akibat atau hasil dari perbuatannya itu

Dengan demikian, pandangan baik dan buruk, dan hakikat nilai dalam kehidupan manusia sangat tergantung pada tiga hal mendasar yaitu:

a. Cara berpikir yang melandasi manusia dalam berprilaku.

b. Cara berbudaya yang menjadi sendi berlakunya norma sosial.

c. Cara merujuk kepada sumber-sumber nilai yang menjadi tujuan pokok dalam bertindak.

Selain itu juga pengertian etika adalah cabang ilmu filsafat yang membicarakan nilai dan moral yang menentukan perilaku seseorang/manusia dalam hidupnya. Etika merupakan sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap serta pola perilaku hidup manusia baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok.

Dari beberapa pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang arti baik dan buruk, benar dan salah kemudian manusia menggunakan akal dan hati nuraninya untuk mencapai tujuan hidup yang baik dan benar sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Jadi manusia dapat melakukan apa saja yang dikehendaki yang dianggap baik dan benar, meskipun hati nuraninya menolak dan yang terpenting tujuannya dapat tercapai.

2. Pengertian Etika Menurut Para Ahli

Berikut dibawah ini pengertian etika menurut para ahli:

a. James J. Spillane SJ

Etika adalah mempertimbangkan atau memperhatikan perilaku manusia ketika membuat keputusan moral. Etika lebih lanjut

(12)

mengarah pada penggunaan intelek manusia dengan objektivitas untuk menentukan hak atau kejahatan dan perilaku seseorang kepada orang lain.

b. Prof. DR. Franz Magnis Suseno

Etika adalah ilmu yang memberikan arah, referensi dan dasar untuk tindakan manusia.

c. Surgarda Poerbakawatja

Etika adalah filsafat nilai, tentang perbuatan baik dan buruk dan moralitas.

d. Drs. H. Burhanudin salam

Etika adalah sebuah cabang filsafat yang berbicara tentang nilai dan norma yang dapat ditentukan oleh perilaku manusia dalam kehidupan mereka.

e. Drs. O.P. Simorangkir

Menjelaskan bahwa etika adalah pandangan manusia yang baik dan perilaku manusia yang buruk.

3. Sejarah Etika

Secara historis etika sebagai usaha filsafat lahir dari runtuhnya tatanan moral di lingkungan kebudayaan Yunani 2.500 tahun lalu.

Karena pandangan-pandangan lama tentang baik dan buruk tidak lagi dipercaya, para filosof mempertanyakan kembali norma-norma dasar bagi kelakuan manusia.

Tempat pertama kali disusunnya cara-cara hidup yang baik dalam suatu sistem dan dilakukan penyelidikan tentang soal tersebut sebagai bagian filsafat. Menurut Poespoproddjo, kaum Yunani sering mengadakan perjalanan ke luar negeri itu menjadi sangat tertarik akan kenyataan bahwa

terdapat berbagai macam kebiasaan, hukum, tata kehidupan dan lainlainnya. Bangsa Yunani mulai bertanya apakah miliknya, hasil pembudayaan negara tersebut benar-benar lebih tinggi karena tiada seorang pun dari Yunani yang akan mengatakan sebaliknya, maka kemudian diajukanlah pertanyaan mengapa begitu? Kemudian diselidikinya semua perbuatan dan lahirlah cabang baru dari filsafat yaitu etika.

Penyelidikan para ahli filsafat tidak banyak memperhatikan masalah Etika.

Socrates dipandang sebagai perintis ilmu akhlak. karena ia pertama berusaha dengan sungguh-sungguh membentuk perhubungan manusia

(13)

dengan ilmu pengetahuan. Dia berpendapat akhlak dan bentuk berhubungan itu. tidak menjadi benar kecuali bila didasarkan ilmu pengetahuan.

Faham Antisthense, yang hidup pada 444-370 SM. Ajaranya mengatakan ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan. dan sebaik-baik manusia itu yang berperangai dengan akhlak ketuhanan.

Maka ia mengurangi kebutuhanya sedapat mungkin, rela dengan sedikit, suka menanggung penderitaan, dan mengabaikanya. Dia menghinakan orang kaya, menyingkiri segala kelezatan, dan tidak peduli kemiskinan dan cercaan manusia selama ia berpegangan dengan kebenaran.

Pemimpin aliran ini yang terkenal adalah Diogenes, wafat pada abad 232 SM. Dia memberi pelajaran kepada kawan-kawannya untuk menghilangkan beban yang dilakukan oleh ciptaan manusia dan peranannya.

Setelah faham Antisthenes ini, lalu datang Plato (427-437 SM). ia seorang ahli Filsafat Athena, yang merupakan murid dari Socrates.

Buah pemikiranya dalam Etika berdasarkan 'teori contoh'. Dia berpendapat

alam lain adalah alam rohani. Di dalam jiwa itu ada kekuatan bermacam -macam, dan keutamaan itu timbul dari perimbangan dan tunduknya kepada hukum

Pokok-pokok keutamaan itu adalah Hikmat kebijaksanaan, keberanian, keperwiraan, dan keadilan. hal ini merupakan tiang penegak bangsa - bangsa dan pribadi. seperti yang kita ketahui bahwa, kebijaksanaan itu utama untuk para hakim. keberanian itu untuk tentara. perwira itu utama untuk rakyat, dan adil itu untuk semua. Pokok-pokok keutamaan itu memberikan batasan kepada manusia dalam setiap perbuatannya, agar ia melakukan segala sesuatu dengan sebaik - baiknya.

4. Fungsi Etika

Etika dalam kehidupan memiliki beberapa fungsi yaitu :

a. Sebuah tempat untuk mendapatkan orientasi kritis yang menghadapi berbagai hal yang membingungkan moralitas.

b. Untuk menunjukkan keterampilan intelektual yang merupakan keterampilan untuk berdebat secara rasional dan kritis.

c. Untuk orientasi etika ini, perlu untuk mengadopsi sikap yang wajar dalam lingkup pluralisme.

(14)

5. Manfaat Etika

Manfaat etika yang harus kita pahami:

a. Memiliki rasa tanggung jawab.

b. Dapat digunakan sebagai pedoman.

c. Meningkatkan kredibilitas perusahaan atau organisasi.

d. Membuat ketertiban dan keteraturan dalam sebuah organisasi atau perusahaan.

e. Dapat digunakan sebagai kontrol sosial.

f. Dapat meningkatkan kesejahteraan anggota.

g. Dapat mencegah gangguan dari pihak eksternal.

h. Dapat melindungi hak anggota dan pekerja, dan

i. Dapat digunakan sebagai acuan dalam memecahkan berbagai masalah, baik masalah internal maupun eksternal.

Selain manfaat tersebut diatas maka manfaat etis yang diperoleh adalah :

a. Dapat membantu pendirian dalam berbagai pandangan dan moralitas .Hal ini dapat membedakan yang tidak boleh diubah dan yang dapat diubah.

b. Dapat memecahkan moralitas atau masalah sosial lainnya yang membingungkan masyarakat dengan pemikiran yang sistematis dan kritis.

c. Menjadi dasar dalam berpikir dan bekerja secara sistematis dan teratur (langkah demi langkah).

d. Dapat menyelidiki masalah hingga akarnya, bukan karena hanya penasaran tanpa membahayakan.

6. Tujuan Etika

Tujuan etika yang harus kita pahami:

a. Memimpin pengembangan masyarakat menuju suasana yang harmonis, tertib, tertib, damai, dan sejahtera.

b. Undang orang untuk bersikap kritis dan rasional dalam keputusan otonom.

c. Etika adalah sarana untuk berorientasi pada kehidupan manusia.

d. Untuk memiliki kedalaman sikap; Memiliki kemandirian dan tanggung jawab yang berhubungan dengan kehidupannya.

e. Memberitahu orang bagaimana mereka bisa menjadi baik.

(15)

7. Ciri-Ciri-Etika

Etika yang berkaitan dengan tingkah laku manusia ini adalah bagian dari ilmu filsafat yang sangat penting. Ada beberapa ciri-ciri etika yang bisa menentukan pemahaman seseorang tentang baik dan buruknya suatu perilaku.

Berikut empat ciri etika secara umum yang berlaku dalam kehidupan manusia.

a. Berlaku Tanpa Disaksikan

Etika ini umumnya tetap berlaku meski tanpa disaksikan oleh orang lain.

Hal ini karena etika berhubungan dengan hati nurani dan prinsip dasar hidup manusia yang baik.

Anda yang mencuri tetap akan melanggar etika meski tidak diketahui oleh orang lain. Dan moral Anda tetap akan buruk meski tidak masuk penjara karena tidak diketahui penegak hukum.

b. Absolut atau Mutlak

Absolut atau mutlak ini menyatakan bahwa sebuah etika akan berlaku dimana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.

Etika adalah prinsip yang tidak bisa dilakukan penawaran dan tidak juga tergantung dengan prinsip moral yang bisa berubah- ubah.

Contohnya adalah membunuh dan mengambil hak orang lain adalah perbuatan yang tidak bermoral apapun alasannya.

c. Cara Pandang Batiniah

Etika adalah cara pandang batiniah yang terkait tentang baik buruknya sebuah perilaku yang dilakukan manusia.

Umumnya Anda sejak dari kecil sudah mempelajari berbagai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Anda juga semakin hari semakin tahu mana hal baik dan hal buruk sehingga sangat membekas di hati. Hal ini akan memunculkan pergolakan dalam diri jika ingin berbuat buruk.

d. Terkait Perbuatan dan Perilaku Manusia

Etika memang sangat berkaitan dengan perbuatan dan perilaku manusia. Jadi sebuah etika umum itu terbentuk secara alami akibat perbuatan dan perilaku manusia. Perilaku yang buruk dianggap sebagai etika buruk dan perilaku yang baik dianggap sebagai etika baik.

(16)

8. Sumber Etika

Pancasila adalah sumber sumber nilai, maka nilai dasar Pancasila dapat dijadikan sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Nilai-nilai Pancasila adalah nilai moral. Oleh karena itu, nilai pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik).

Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila memegang peranan dalam perwujudan sebuah sistem etika yang baik di negara ini. Disetiap saat dan dimana saja kita berada kita diwajibkan untuk beretika disetiap tingkah laku kita.

Seperti tercantum di sila ke dua “ kemanusian yang adil dan beadab”

tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran pancasila dalam membangun etika bangsa ini sangat berandil besar.

9. Macam-Macam Etika

Berikut dibawah ini macam macam etika, yang haru kita pahami:

a. Etika deskriptif

Etika deskriptif adalah bentuk etika yang berusaha untuk melihat sikap dan perilaku manusia dan apa yang dikejar dalam kehidupan ini sebagai nilai. Upaya untuk melihat sikap dan perilaku semacam itu dilakukan secara kritis dan rasional. Etika semacam ini membuat fakta dasar untuk pengambilan keputusan berkenaan dengan sikap dan perilaku.

b. Etika normatif

Etika normatif adalah bentuk etika yang berusaha untuk menetapkan berbagai sikap dan perilaku ideal yang harus dimiliki setiap orang dalam kehidupan . Etika semacam ini memberikan penilaian dan juga memberikan standar sebagai kerangka kerja dan perilaku mendasar manusia yang harus diputuskan.

c. Etika Deontologi

Etika Deontologi adalah suatu tindakan dinilai baik buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban.Dengan kata lain, suatu tindakan dianggap baik karena tindakan itu memang baik pada dirinya sendiri, sehingga merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. Sebaliknya suatu tindakan dinilai buruk secara moral karena tindakan itu memang buruk secara moral sehingga tidak menjadi kewajiban untuk kita lakukan. Bersikap adil adalah tindakan yang baik, dan

(17)

sudah kewajiban kita untuk bertindak demikian.

Etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan akibat dari tindakan tersebut: baik atau buruk. Akibat dari suatu tindakan tidak pernah diperhitungkan untuk menentukan kualitas moral suatu tindakan. Atas dasar itu, etika deontologi sangat menekankan motivasi, kemauan baik dan watak yang kuat untuk bertindak sesuai dengan kewajiban. Etika deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik.

Jadi, etika Deontologi yaitu tindakan dikatakan baik bukan karena tindakan itu mendatangkan akibat baik, melainkan berdasarkan tindakan itu baik untuk dirinya sendiri.

d. Etika Teleologi

Etika Teleologi menilai baik buruk suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat dari tindakan tersebut. suatu tindakan dinilai baik kalau bertujuan baik dan mendatangkan akibat baik. Jadi, terhadap pertanyaan, bagaimana harus bertindak dalam situasi kongkret tertentu, jawaban teleologi adalah pilihlah tindakan yang membawa akibat baik. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa etika teleologi lebih bersifat situasional dan subyektif.

Etika teleologi dibedakan menjadi dua, yaitu:

1) Teleologi Hedonisme (hedone = kenikmatan) yaitu tindakan yang bertujuan untuk mencari kenikmatan dan kesenangan.

2) Teleologi Eudamonisme (eudemonia = kebahagiaan) yaitu tindakan yang bertujuan mencari kebahagiaan yang hakiki e. Etika Keutamaan

Etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat suatu tindakan.Juga, tidak mendasarkan penilaian moral pada kewajiban terhadap hukum moral universal. Etika keutamaan lebih mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.

Dengan demikian, etika keutamaan sangat menekankan pentingnya sejarah kehebatan moral para tokoh besar dan dari cerita dongeng ataupun sastra kita belajar tentang nilai dan keutamaan, serta berusaha menghayati dan mempraktekkannya seperti tokoh dalam sejarah, dalam cerita, atau dalam kehidupan masyarakat. Tokoh dengan teladannya menjadi model untuk kita tiru. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas manusia, karena pesan moral hanya di sampaikan melalui cerita dan teladan hidup para tokoh lalu membiarkan setiap orang untuk menangkap sendiri pesan moral itu. Juga setiap orang dibiarkan untuk menggunakan akal

(18)

budinya untuk menafsirkan pesan moral itu,artinya, terbuka kemungkinan setiap orang mengambil pesan moral yang khas bagi dirinya, dan melalui itu kehidupan moral menjadi sangat kaya oleh berbagai penafsiran.

Selain beberapa etika di atas, etika umum juga dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu etika Umum dan etika khusus.

1) Etika Umum

Etika semacam ini secara etis berhubungan dengan kondisi dasar aktivitas manusia. Selain itu, hal ini juga terkait dengan bagaimana orang membuat keputusan etis seperti itu, serta teori dalam etika dan prinsip moral mendasar yang dipegang oleh orang dengan melakukannya. Jadi, etika di sini adalah patokan untuk kesejahteraan dari tindakan.

2) Etika khusus

Adapun etika khusus di sini adalah penerapan prinsip moral dalam kehidupan manusia khususnya. Sebagai contoh, bagaimana seseorang membuat keputusan dan bertindak dalam hidupnya. Selain itu, juga menentukan kegiatan khusus yang harus dilakukan dengan prinsip moral yang mendasar.

Etika khusus di atas masih dibagi menjadi dua bagian, yaitu etika individu dan etika sosial. Berikut adalah pernyataan.

1) Etika individu, secara etis terkait dengan kewajiban dan sikap manusia terhadap diri mereka sendiri.

2) Sosial, adalah etika yang berhubungan dengan kewajiban, sikap dan perilaku orang sebagai manusia.

(19)

Rangkuman

1. Pengertian etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang arti baik dan buruk, benar dan salah kemudian manusia menggunakan akal dan hati nuraninya untuk mencapai tujuan hidup yang baik dan benar sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.

2. Secara historis etika sebagai usaha filsafat lahir dari keambrukan tatanan moral di lingkungan kebudayaan Yunani 2.500 tahun lalu.

Karena pandangan-pandangan lama tentang baik dan buruk tidak lagi dipercaya, para filosof mempertanyakan kembali norma-norma dasar bagi kelakuan manusia.

3. Etika dalam kehidupan memiliki beberapa fungsi sebagai sebuah tempat untuk mendapatkan orientasi kritis, menunjukkan keterampilan intelektual,dan untuk mengadopsi sikap yang wajar dalam lingkup pluralisme.

4. Manfaat etika adalah untuk diri sendiri maupun organisasi, baik dalam arti sikap maupun etis dan memimpin pengembangan masyarakat menuju suasana yang harmonis, tertib, tertib, damai, dan sejahtera.

5. Tujuan dari pada etika adalah untuk mengundang orang untuk bersikap kritis dan rasional dalam keputusan otonom, memberitahu orang bagaimana mereka bisa menjadi baik.

6. Ciri- ciri etika meliputi , berlaku tanpa disaksikan, absolut atau Mutlak, cara pandang batiniah dan terkait perbuatan dan perilaku manusia.

7. Pancasila adalah sumber sumber nilai, maka nilai dasar Pancasila dapat dijadikan sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

8. Jenis-jenis etika meliputi:

a. Etika deskriptif;

b. Etika normative;

c. Etika deontology;

d. Etika teleology;

e. Etika keutamaan.

(20)

Latihan

1. Jelaskan pengertian etika secara umum!

2. Jelaskan sejarah etika!

3. Sebutkan fungsi etika!

4. Jelaskan manfaat etika!

5. Sebutkan tujuan etika!

6. Sebutan ciri-ciri etika!

7. Jelaskan Sumber etika!

8. Sebutkan macam-macam etika!

(21)

MODUL

02

PERILAKU PERWIRA

4 JP (180 menit)

Pengantar

Dalam modul dua ini disampaikan tentang pengertian perwira, sifat-sifat yang harus dimiliki seorang perwira dan pedoman perilaku sebagai seorang perwira baik dalam kehidupan kedinasan maupun bermasyarakat.

Kompetensi Dasar

Memahami perilaku perwira Polri.

Indikator hasil belajar:

1. Menjelaskan pengertian perwira;

2. Menjelaskan sifat-sifat perwira;

3. Menjelaskan perilaku perwira.

Materi Pelajaran

Pokok Bahasan Perilaku perwira Polri Sub Pokok Bahasan 1. Pengertian perwira;

2. Sifat perwira;

3. Perilaku perwira.

(22)

Metode Pembelajaran

1. Metode Pembelajaran Mandiri

Metode ini digunakan untuk pembelajaran yang dilakukan secara mandiri oleh peserta didik guna mencapai kompetensi dengan tidak bergantung pada orang lain, sehingga peserta didik mampu melakukan belajar mandiri, dapat menentukan cara belajar yang efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik dan mampu untuk melakukan aktivitas belajar secara mandiri.

2. Metode Diskusi Online.

Metode ini digunakan untuk mendiskusikan materi pelajaran dengan memanfaatkan IT.

Alat/Media, Bahan, dan Sumber

1. Alat/media :

a. Komputer/Laptop.

b. Program aplikasi diskusi Online.

2. Bahan : ---

3. Sumber Belajar:

a. Kode Etik Perwira, Bahan ajar, Skep Dirdik Polri No. Pol : Skep/031/IX/1992 tanggal 5 sept 1992.

b. Kamus besar Bahasa Indonesia.

c. Sutanto, M.AP.,M.Sc, EtikaPerwira, id.scribd.com.

(23)

Kegiatan Pembelajaran

1. Pendidik membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok melaksanakan diskusi secara online meliputi: materi pelajaran yang dimuat dalam module off campus dengan didampingi oleh Pendidik.

2. Pendidik mendampingi kegiatan diskusi secara online dan bertugas memberikan penilaian terhadap peserta berdasarkan pada kehadiran, aktivitas dan kualitas jawaban dari peserta pada saat kegiatan diskusi yang telah dijadwalkan.

3. Peserta didik diberikan kesempatan untuk berkomentar tentang materi yang didiskusikan sesuai dengan jadwal waktu yang tersedia.

Tagihan / Tugas

Masing-masing peserta didik mengumpulkan resume pelajaran yang diberikan secara perorangan dan berkelompok yang dikirim melalui alamat email sesuai dengan ketentuan yang berlaku menggunakan internet.

Lembar Kegiatan

Penugasan untuk peserta didik setelah pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (e-learning) adalah peserta didik membuat resume tentang materi yang telah diberikan.

(24)

Bahan Bacaan

PERILAKU PERWIRA

1. Pengertian Perwira

Perwira dalam kehidupan sehari-hari memiliki pengertian:

a. Gagah berani, perkasa, ksatria, dan disebut juga sebagai pahlawan;

b. Anggota Polri yang berpangkat di atas bintara (yaitu dari IPDA ke atas);

c. Perwira pertama: kelompok pangkat satu tingkat di bawah kelompok perwira menengah dan satu tingkat di atas kelompok Bintara, dari Inspektur Polisi Tingkat Dua (IPDA), Inspektur Polisi Tingkat Satu (IPTU), dan Ajun Komisaris Polisi (AKP);

d. Perwira menengah: kelompok pangkat satu tingkat di bawah kelompok perwira tinggi dan satu tingkat di atas kelompok perwira pertama, dari Komisaris Polisi (KOMPOL), Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), dan Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol);

e. Perwira tinggi: kelompok pangkat tertinggi dalam kepolisian, satu tingkat di atas kelompok perwira menengah, meliputi Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol), Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol), Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol), dan Jenderal Polisi.

2. Sifat-sifat Perwira

Seorang perwira dalam kehidupan sehari hari dan dalam kedinasan wajib memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

a. Budhi, merupakan suatu siasat atau perilaku seseorang sebagai insan hamba Tuhan Yang Maha Esa menunjukan kearah kebenaran selalu bersifat positif. Setiap Perwira Polri berbudi luhur dan bersendikan :

1) Ketuhanan Yang Maha Esa;

2) Membela Kebenaran dan Keadilan;

3) Mememiliki Sikap Kesederahanaan.

Didalam kehidupan setiap Perwira diharapkan memiliki sikap dan perilak Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa serta membela kejujuran, Kebenaran dan keadilan sebagai seorang

(25)

kesatria sekaligus seorang perwira adalah pendekar yang gagah berani dan tabah dalam menghadapi setiap kesulitan serta berbudi luhur dan meyakini akan kebenaran Tuhan Yang Maha Esa dan percaya akan kodrat dan Iradatnya dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan- larangan-Nya. Membela kejujuran, kebenaran dan keadilan karena suara batin seseorang merasa apakah suatu perbuatannya itu jujur, benara dan adil, sehingga timbulah kesadaran akan moral yang baik dan tinggi, seta dapat dipertanggung jawabkan. Hal inilah yang haru di bela oleh Perwira Polri sebagai kesatria Indonesia. Seorang perwira yang berbudi akan berwibawa, disegani dan dihormati, menjadi panutan atau keteladanan sikap dan tingkah lakunya, maka seorang perwira selalu di tuntut untuk berpola hidup sederhana.

b. Bakti, merupakan wujud pengabdian seseorang dengan tulus ihklas tanpa pamrih

Setiap perwira Polri berbakti untuk :

1) Mendukung cita-cita Nasional adalah:

a) Ikut serta meningkatkan stabilitas Nasional;

b) Menjadi tauladan dalam penegakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat;

c) Ikut serta sebagai dinamisator Pembangunan Nasional;

d) Seseorang harus melaksanakan Landasan Idiil Pancasila, Landasan Konstitusional UUD 1945 serta Landasan Operasional GBHN secara murni dan kosekuen.

2) Mencintai Kemerdekaan dan Kedaulatan rakyat

a) Melanjutkan dan mengisi cita-cita kemerdekaan yaitu menuju masyarakat adil dan makmur yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;

b) Mempertahankan dan menghormati Kedaulatan Rakyat yang telah dimufakati.

3) Menjunjung Tinggi Kebudayaan Rakyat

a) Memeliharan dan melestarikan Kebudayaan Bangsa;

b) Ikut serta dalam pengawasan masuknya budaya Asing yang bertentangan dengan Pancasila dan berusaha mengambil manfaat yang positif untuk menambahakan khasanah budaya rakyat;

(26)

c) Berperan aktif dalam lingkungan budaya rakyat.

4) Setiap saat membela kepentingan nusa dan bangsa guna mencapai kebahagiaan

Selalu berusaha membenahi semua kebijaksanaan nasional guna mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi/golongan untuk mencapai cita-cita nasional

c. Wira adalah perwujudan dari sikap dan kesatria, dimana mempunyai rasa tanggung jawab atas segala tindakannya.

Perwira Polri adalah kesatria :

1) Memegang teguh kesetiaan dan ketaatan :

a) Setia dan taat kepada Pancasila, UUD 1945;

b) Setia kepada sapta marga dan Tri Logi ABRI;

c) Berwibawa dalam melaksanakan tugas;

d) Patuh pada peraturan dan tata tertib yang ditentukan.

2) Pemimpin dan soko guru bawahannya :

a) Mengetahui kondisi jiwa dan aspirasi yang hidup dalam hati sanubari orang lain;

b) Pandai menilai dan menghargai pendapat orang lain;

c) Mempunyai pendirian;

d) Mengetahui kehendak dan sikap orang lain;

e) Mijaksana dalam membina kesatuan dan persatuan serta pendapat dalam mencapai tujuan, tapi tegas;

f) Mampu memberikan bimbingan /pimpinan/tuntunan yang diperlukan, penuh inisiatif;

g) Berusaha untuk menjadi contoh/tauladan dan perkataan dan perbuatan/sebagai panutan serta sederhana;

h) Memeliha kewibawaan pimpinan atas dasar kepercayaan;

i) Keikhlasan dan kerelaan yang tinggi dari yang dipimpin;

j) Mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru;

k) Mengenal setiap anggota bawahannya bersifat terbuka, jujur dan ramah tamah;

l) Dapat mengerti anak buah;

(27)

m) Mendorong dan berusaha mengungkapkan kesejahteraan anggota baik secara material maupun spritual.

3) Berani bertanggung jawab atas tindakannya serta dapat mengembangkan rasa tanggung jawab bawahannya:

a) Seorang perwira bersikap konsekwen bertanggung jawab atas pengambilan keputusan;

b) Berani mengambil inisiatif secara tepat untuk mengambil keputusan dalam situasi apapun jika tidak terdapat instruksi-instruksi dari atasannya;

c) Seorang perwira sebagai pemimpin harus dapat rasa tanggung jawab pada bawahannya dengan jalan menyerahkan kekuasaannya kepada mereka.

d) Maka dari bawahannya ia minta tanggung j;awab dengan cermat atas hasil-hasilnya;

e) Memberikan kekuasaan dengan tepat disertai dengan pengawasan yang tetap membangun keyakinan, kesetiaan dan kepercayaan serta akan mengembangkan inisiatif dan kerja sama yang jujur;

f) Keseganan untuk menyerahkan kekuasaan- kekuasaan seringkali merupakan tanda dari belum maksanya daya memimpin.

d. Utama adalah sesuatu yang bersifat didahulukan : 1) Penegak persaudaraan dan pri kemanusiaan

a) Mencintai dan menghargai sesama manusia;

b) Bepedoman kepada Tri brata dan Catu Prasetya;

c) Senantiasa menjaga rasa persaudaraan baik dalam lingkungan kerja maupun dalam lingkungan masyarakat umum;

d) Menghargai hak dan tidak membedakan serta menerima keberadaan, agama, ras, golongan dan kebudayaan sesama manusia berdasarkan Pancasila.

2) Menjunjung tinggi nama dan kehormatan Korps Perwira Polri:

a) Tindak tanduk lahiriah yang timbul dari harga diri sebagai rasa tanggung jawab seorang perwira;

b) Tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan;

(28)

c) Dengan hakekat keperwiraan timbul tanggung jawab moral untuk melaksanakan tugas dengan sebaik- baiknya;

d) Rendah hati, tidak sombong, akan jasa-jasanya;

e) Menjaga rahasia kedinasan dengan sekeras- kerasnya.

3. Perilaku Perwira Polri.

a. Sikap dan Kepribadian Perwira.

Penampilan pribadi yang baik mencerminkan keluaran dari disiplin, Tanggung jawab, kebanggaan dan kehormatan yang perlu diperhatikan oleh perwira Polri dalam kedinasan maupun kehidupan bermasyarakat. Seorang perwira harus senantiasa menjaga kehidupan bermasyarakat. Seorang perwira harus senantiasa menjaga sikap dan penampilannya, karena sosok dirinya akan menjadi contoh bagi prajurit bawahan dan lingkungannya. Seorang perwira Polri seyogyanya :

1) Memperhatikan kebersihan dan kerapihan badan termasuk rambut, kuku serta gigi;

2) Pakaian berikut perlengkapannya seprti ikat pinggang, topi, sapu tangan, sepatu dan kaos kaki, digunakan dengan benas dan teliti. Periksa bahwa pakian yang dikenakan sesuai dengan acara dan peruntukannya;

3) Hinadari memasukkan benda perlengkapan pribadi disaku baju atau celana, sehingga nampak menonjol, tidak beraturan dan menunjukkan kesan kurang rapi. Bila diperlukan bawalah tas jinjing kecil untuk membawa perlengkapan tersebut;

4) Sikap berdiri tegak sebaiknya dilakukan menakala sedang menunggu, berdiri didepan anak buah, memberikan arahan dilapangan atau berbicara dengan dengan yang lain. Hindari berdiri dengan menyilangkan kaki atau hanya bertumpu tubuh pada satu kaki;

5) Hindari berdiri dengan betolah pinggang, tangan dimasukkan kedalam saku celana, terutama apabila sedang berbicara dengan yang lebih tua;

6) Bila sedang berjalan, sikap yang baik adalah badan tegak dan pandangan lurus kedepan dengan langkah kaki usahakan satu garis;

7) Hindari duduk dengan mengangkat satu kaki apabila sedang bersama orang lain;

(29)

8) Selalu menyiapkan diri dengan baik melalui perencanaan yang matang sebelum melaksanakan segala kegiatan;

9) Berpenampilan sederhana dengan tidak berlebihan dalam penggunaan aksesori maupun parfum;

10) Selalu tepat waktu, karena kebiasaan menepati waktu dianggap sebagai gambaran rasa tanggung jawab seseorang;

11) Selalu datang lebih awal dari tamu kehormatan dan pulang setelah tamu kehormatan meninggalkan acara/kegiatan, terutama untuk acara-acara yang berkaitan dengan kedinasan;

12) Bila berjalan berdua dengan senior/atasan atau dengan wanita, berjalanlah pada sisi yang melindungi;

13) Bila kita ingin membantu wanita turun dari kendaraan, ulurkan tangan kepada wanita tersebut dengan posisi telapak tangan ke atas;

14) Dalam suatu acara sebaiknya seorang pria menghormati kedatangan tamu wanita (tamu kehormatan) dengan berdiri sampai wanita (tamu kehormatan) tersebut duduk, kecuali acara sudah dimulai;

15) Bila pria mengirimkan bunga kepada seorang wanita, usahakan untuk memilih yang sesuai dengan kesukaan wanita tersebut serta peristiwa yang terjadi;

16) Seorang pria tidak perlu membayarkan makan bagi seorang teman wanita yang kebetulan sudah hadir terlebih dahulu disebuah restoran;

17) Bila seorang pria akan memberiokan tempat duduknya pada seorang wanita dikendaraan, cukup menganggukkan kepala pada wanita itu sampbil mempersilahkan duduk kepada wanita tersebut secara sopan;

18) Hindari memanggil nama seorang wanita dengan keras di depan umum, walaupun kita merasa kaget dan senang atas suatu perjumpaan yang tiba-tiba.

b. Berbicara yang baik. Kemampuan berbicara yang baik merupakan keharusan bagi seorang perwira, karena dalam kedinasan sehari- hari harus menyampaikan instruksi-instruksi dengan jelas kepada bawahannya dan harusyakin bahwa anak buah dapat menerima instruksi yang disampiakan dengan utuh.

1) Perhatikan penampilan diri pada saat akan berbicara, apakah berdiri ditempat terbuka, paodium atau duduk serta periksa kesiapan alat bantu untuk berbicara ( microphone) bila disediakan.

(30)

2) Periksa kerapihan pakaian sebelum tampil berbicara dimuka anak buah atau forum.

3) Perhatikan kecepatan dan gaya bicara, janganlah berbicara terlalu cepat, sehingga pendengar kesulitan menangkap materi pembicaraan.

4) Fokuskan pandangan mata kepada yang diajak berbicara atau sapulah pandangan mata kepada pendegar dengan seksama. Mengalihkan pandangan mata ketempat lain menunjukkan kesan kurang menghargai bahwakn tidak sopan. Berikan perhatian terhadap lawan bicara, seperti kita mengharapkan perhatian dari orang lain bila kita berbicara.

5) Atur Intonasi suara saat berbicara, sehingga cukup jelas terdengar oleh lawan bicara atau pendengar yang ada, perhatikan artikulasi dan nada bicara dengan baik, karena pengucapan yang tidak jelas, monoton akan membosankan dan dapat menimbulkan penerimaan yang salah.

6) Berbicara sesuai dengan konteks menyampaikannya secara sistematis.

7) Persiapkan dan pelajari bahan/materi yang akan disampaikan 8) Perhatikan siapa yang diajak bicara, dalam suasana apa dan

kuasai materi yang akan dibicarakan

9) Seorang perwira tidak boleh membicarakan persoalan- persoalan militer yang bersifat rahasia diluar kepentingan tugas.

10) Hindari mengkritik senior dan membicarakannya dengan orang lain.

11) Hindari membicarakan persoalan pribadi didepan umum.

12) Hindari menjadi orang yang merasa tahu segalanya dan mmendominasi pembicaraan, beri kesempatan orang lain untuk mengemukakan pendapatnya.

13) Apabila mendapat lawan bicara yang terlalu mendominasi pembicaraan sehingga kita lelah mendengarnya, potonglah dengan sopan pada saat yang tepat ketika ada jeda bicara.

14) Hindari memotong pembicaraan orang lain, dan segara minta maaf bila tidak sengaja melakukannya.

15) Hindari penggunaan istilah-istilah asing yang berlebihan atau singkatan-singkatan yang tidak umum dalam suatu pembicaraan.

16) Hindari pembicaraan dengan subyek yang dapat menimbulkan pertentangan seperti suku, agam dan ras serta topik lain yang tidak menyenangkan.

(31)

17) Dalam percakapan dinas, sadari adanya perbedaan kepangkatan, jabatan dan senioritas.

18) Dalam konteks hubungan sosial, seorang senior tidak perlu terlalu mempermasalahkan perbedaan pangkat, tetapi sebaliknya seorang yunior tidak boleh mengabaikan adanya perbedaan kepangkatan.

19) Kadang-kadang dalam percakapan sosial, seorang senior melonggarkan batasan-batasan yang terlalu ketat dengan yunior, namun kelonggaran ini tidak boleh dimanfaatkan oleh yunior dalam hubungan kedinasan dan kelonggaran ini tidak boleh dibalas dengan sikap seenaknya (sok akrab) oleh yunior, bahkan sebaliknya harus diterima dengan penuh rasa tanggung jawab.

20) Cerita pendek yang menarik, berita-berita yang sedang hangat, kejadian-kejadian aneh yang dialami, acara televisi yang menarik semuanya adalah pembuka percakapan yang baik.

21) Sikap yang baik dalam percakapan termasuk membatasi percakapan adalah mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

c. Diskusi.

1) Diskusi merupakan sarana yang baik untuk berlajar berbicara efektuif, menyampaikan pendapat dan menemukan permasalahan serta pemecahannya.

2) Jika ada perbedaan pendapat, sampaikanlah sedemikian rupa dengan santun dan tidak menyinggung atau menimbulkan kesan menggurui.

3) Hindari menyampaikan hal-hal yang tidak sependapat secara langsung dengan mengatakan tidak setuju . Berikan pendapat yang wajar, sehingga lawan bicara mengerti atau memahami bahwa kita tidak setuju.

4) Apabila perwira senior mempunyai pendapat yang berbeda, sebaiknya kita tidak memberi komentar, kecuali senior tersebut meminta. Sampaikan pendapat kita dengan cara yang sopan, termasuk dalam forumforeum diskusi mimbar akademik.

5) Perlu diingat bahwa walaupun kita adalah seorang pakar dalam suatu bidang, harus disadari bahwa tidak satu orangpun di dunia ini yang mnegetahui semua hal. Oleh karena itu mengakui ketidaktahuan adalah lebih baik daripada menjawab salah.

(32)

6) Bila kita menghadapi orang yang sok tahu padahal kita yakin lebih tahu dari dia, maka lebih baik kita berusaha mengalihkan pembicaraan daripada membuat malu yang bersangkutan.

7) Berhati-hatilah membuat lelucon atau lawakan didepan umum karena apabila salah dapat menyinggung harga diri/perasaan orang lain.

8) Seorang pembuicara yang bauik adalah orang yang selalu mempunyai sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, tidak sombong dan tidak membuat orang lain merasa risih.

9) Bila kita berbicara, arahkan pandangan kita kepada pendengar dan perhatikan reaksinya. Tidak ada pembicaraan satu arah yang menarik, kecuali memberikan kesempatan kepada pendengar untuk menyampaikan pendapatnya.

10) Sebutkan identitas (nama, pangkat mengajukan pertanyaan, saran dan tanggapan

d. Berjabat Tangan

1) Berjabatan tangan sebaiknya sepenuh telapak tangan, kedudukan setinggi siku dan jangan mencengkeram terlalu keras atau mengguncangguncang.

2) Dalam berjabatan tangan, seorang senior mendahului mengulurkan tangan. Seorang pria harus menunggu wanita mengulurkan tangannya lebih dahulu sebelum ia menjabat tangan wanita tersebut, dan segeralah berdiri bila pada saat itu dalam keadaan duduk.

3) Apabila sedang menggunakan PDU I lebih baik berjabatan tangan dengan menggunakan sarung tangan daripada membiarkan orang lain menunggu kita melepas sarung tangan.

4) Berjabat tangan dengan mencium tangan wanita bukanlah merupakan ungkapan penghormatan yang lazim di Indonesia, kecuali kepada orang-orang tua yang sangat kita hormati.

5) Bila kita berada diluar negeri, dimana mencium tangan wanita merupakan suatu penghormatan yang harus dilakukan, maka cara yang tepat adalah dengan memegang tangannya dengan lembut, kemudian dengan agak membungkukkan badan sentuhlah dengan bibir kita pada bagian punggung telapak tangan wanita itu. Ingat, bukanlah suatu kebiasaan untuk mencium tangan wanita yang belum berkeluarga kecuali bila ia sudah tua.

(33)

6) Apabila menurut ketentuan agama menghendaki untuk tidak berjabat tangan antara wanita dan pria, makla dapat diganti dengan cara merapatkan kedua telapak tangan (seperti akan bersalaman) didepan dada sambil menganggukkan kepala.

e. Meminta maaf, Meminta maaflah jika kita :

1) Terlambat datang pada suatu jamuan makan siang atau malam atau peristiwa sosial lainnya misalnya suatu resepsi.

2) Gagal memenuhi sebuah janji.

3) Tidak dapat memenuhi suatu permohonan.

4) Secara tidak sengaja merusak atau memecahkan sesuatu.

Selain minta maaf, berusahalah untuk menggantinya dengan barang yang sama/sejenis atau sesuai kesepakatan.

5) Secara tidak sengaja menginjak kaki orang lain, menghambat jalan orang lain, atau menyenggol orang lain.

6) Memutar nomor telepon yang salah/salah sambung.

f. Meminta tolong.

1) Sampaikanlah permintaan bantuan dengan kalimat yang sopan, umumnya menggunakan kata tolong... : apabila mengharapkan bantuan orang lain untuk mengerjakan hal- hal yang bersifat pribadi.

2) Sesuaikan permintaan bantuan tersebut dengan situasi dan kondisi orang yang bersangkutan.

3) Permintaan bantuan kepada orang lain agar dibatasi pada hal-hal yang bersifat ringan/sederhana atau tidak memberatkan yang bersangkutan.

g. Menyampaikan terima kasih. Ucapkan terima kasih:

1) Pada saat awal dan atau akhir suatu acara kepada tamu yang hadir atas undangan kita.

2) Setelah kita menjadi tamu, dalam suatu kunjungan, menginap

3) dirumah orang tua atau dirumah teman.

4) Apabila kita mendapat penghargaan, kado, hadiah atau ucapan selamat dari pihak lain.

5) Setelah menerima pertolongan atau bantuan dari pihak lain baik atas permintaan kita maupun tidak.

h. Sopan santun merokok. Seyogyanya kita tidak merokok, bila terpaksa akan merokok, perhatiokan hal-hal sebagai berikut :

(34)

1) Bila tidak ada asbak jangan memaksakan merokok.

2) Merokok ditempat-tempat yang memungkinkan untuk merokok atau tempat-tempat yang telah ditentukan, perhatikanlah ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk larangan merokok.

3) Merokok dengan sopan, tidak membiarkan asap rokok mengarah ke orang lain.

4) Hindari menggunakan piring, tatakan atau piring kecil yang berada diatas meja makanm sebagai asbak, atau membuang abu rokok ditempat sampah, kalau memang diperlukan mintalah sebuah asbak.

5) Kita wajib minta izin pada orang-orang didekat kita terlebih dahulu sebelum merokok atau sebelum meninggalkan mereka untuk merokok.

6) Tidak dibenarkan merokok dalam ruangan ber AC walaupun tidak ada tanda larangan merokok.

7) Dilarang merokok pada waktu mengendarai kendaraan dengan pakaian dinas.

8) Sebaiknya tidak merokok dihadapan anak-anak atau wanita.

Rangkuman

1. Perwira dalam kehidupan sehari-hari memiliki pengertian: Gagah berani, perkasa, ksatria, dan disebut juga sebagai pahlawan.

2. Sifat-sifat yang harus dimiliki seorang perwira adalah, berbudhi,berbakti, wira dan memiliki keutamaan.

3. Perilaku seorang perwira tercermin dalam kehidupan sehari-hari maupun kedinasan meliputi sikap dan kepribadian, dalam berbicara, dalam berdiskusi, berjabat tangan, meminta maaf, meminta tolong, menyampaikan terimakasih, dan sopan santun dalam merokok.

(35)

Latihan

1. Jelaskan pengertian perwira!

2. Jelaskan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang perwira ! 3. Jelaskan sikap dan perilaku seorang perwira !

Referensi

Dokumen terkait