• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku perwira Polri

Dalam dokumen ETIKA PERILAKU PERWIRA POLRI (Halaman 21-35)

MODUL 02 PERILAKU PERWIRA

3. Perilaku perwira Polri

Pokok Bahasan Perilaku perwira Polri Sub Pokok Bahasan 1. Pengertian perwira;

2. Sifat perwira;

3. Perilaku perwira.

Metode Pembelajaran

1. Metode Pembelajaran Mandiri

Metode ini digunakan untuk pembelajaran yang dilakukan secara mandiri oleh peserta didik guna mencapai kompetensi dengan tidak bergantung pada orang lain, sehingga peserta didik mampu melakukan belajar mandiri, dapat menentukan cara belajar yang efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik dan mampu untuk melakukan aktivitas belajar secara mandiri.

2. Metode Diskusi Online.

Metode ini digunakan untuk mendiskusikan materi pelajaran dengan memanfaatkan IT.

Alat/Media, Bahan, dan Sumber

1. Alat/media :

a. Komputer/Laptop.

b. Program aplikasi diskusi Online.

2. Bahan : ---

3. Sumber Belajar:

a. Kode Etik Perwira, Bahan ajar, Skep Dirdik Polri No. Pol : Skep/031/IX/1992 tanggal 5 sept 1992.

b. Kamus besar Bahasa Indonesia.

c. Sutanto, M.AP.,M.Sc, EtikaPerwira, id.scribd.com.

Kegiatan Pembelajaran

1. Pendidik membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok melaksanakan diskusi secara online meliputi: materi pelajaran yang dimuat dalam module off campus dengan didampingi oleh Pendidik.

2. Pendidik mendampingi kegiatan diskusi secara online dan bertugas memberikan penilaian terhadap peserta berdasarkan pada kehadiran, aktivitas dan kualitas jawaban dari peserta pada saat kegiatan diskusi yang telah dijadwalkan.

3. Peserta didik diberikan kesempatan untuk berkomentar tentang materi yang didiskusikan sesuai dengan jadwal waktu yang tersedia.

Tagihan / Tugas

Masing-masing peserta didik mengumpulkan resume pelajaran yang diberikan secara perorangan dan berkelompok yang dikirim melalui alamat email sesuai dengan ketentuan yang berlaku menggunakan internet.

Lembar Kegiatan

Penugasan untuk peserta didik setelah pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (e-learning) adalah peserta didik membuat resume tentang materi yang telah diberikan.

Bahan Bacaan

PERILAKU PERWIRA

1. Pengertian Perwira

Perwira dalam kehidupan sehari-hari memiliki pengertian:

a. Gagah berani, perkasa, ksatria, dan disebut juga sebagai pahlawan;

b. Anggota Polri yang berpangkat di atas bintara (yaitu dari IPDA ke atas);

c. Perwira pertama: kelompok pangkat satu tingkat di bawah kelompok perwira menengah dan satu tingkat di atas kelompok Bintara, dari Inspektur Polisi Tingkat Dua (IPDA), Inspektur Polisi Tingkat Satu (IPTU), dan Ajun Komisaris Polisi (AKP);

d. Perwira menengah: kelompok pangkat satu tingkat di bawah kelompok perwira tinggi dan satu tingkat di atas kelompok perwira pertama, dari Komisaris Polisi (KOMPOL), Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), dan Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol);

e. Perwira tinggi: kelompok pangkat tertinggi dalam kepolisian, satu tingkat di atas kelompok perwira menengah, meliputi Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol), Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol), Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol), dan Jenderal Polisi.

2. Sifat-sifat Perwira

Seorang perwira dalam kehidupan sehari hari dan dalam kedinasan wajib memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

a. Budhi, merupakan suatu siasat atau perilaku seseorang sebagai insan hamba Tuhan Yang Maha Esa menunjukan kearah kebenaran selalu bersifat positif. Setiap Perwira Polri berbudi luhur dan bersendikan :

1) Ketuhanan Yang Maha Esa;

2) Membela Kebenaran dan Keadilan;

3) Mememiliki Sikap Kesederahanaan.

Didalam kehidupan setiap Perwira diharapkan memiliki sikap dan perilak Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa serta membela kejujuran, Kebenaran dan keadilan sebagai seorang

kesatria sekaligus seorang perwira adalah pendekar yang gagah berani dan tabah dalam menghadapi setiap kesulitan serta berbudi luhur dan meyakini akan kebenaran Tuhan Yang Maha Esa dan percaya akan kodrat dan Iradatnya dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Membela kejujuran, kebenaran dan keadilan karena suara batin seseorang merasa apakah suatu perbuatannya itu jujur, benara dan adil, sehingga timbulah kesadaran akan moral yang baik dan tinggi, seta dapat dipertanggung jawabkan. Hal inilah yang haru di bela oleh Perwira Polri sebagai kesatria Indonesia. Seorang perwira yang berbudi akan berwibawa, disegani dan dihormati, menjadi panutan atau keteladanan sikap dan tingkah lakunya, maka seorang perwira selalu di tuntut untuk berpola hidup sederhana.

b. Bakti, merupakan wujud pengabdian seseorang dengan tulus ihklas tanpa pamrih

Setiap perwira Polri berbakti untuk :

1) Mendukung cita-cita Nasional adalah:

a) Ikut serta meningkatkan stabilitas Nasional;

b) Menjadi tauladan dalam penegakan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat;

c) Ikut serta sebagai dinamisator Pembangunan Nasional;

d) Seseorang harus melaksanakan Landasan Idiil Pancasila, Landasan Konstitusional UUD 1945 serta Landasan Operasional GBHN secara murni dan kosekuen.

2) Mencintai Kemerdekaan dan Kedaulatan rakyat

a) Melanjutkan dan mengisi cita-cita kemerdekaan yaitu menuju masyarakat adil dan makmur yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;

b) Mempertahankan dan menghormati Kedaulatan Rakyat yang telah dimufakati.

3) Menjunjung Tinggi Kebudayaan Rakyat

a) Memeliharan dan melestarikan Kebudayaan Bangsa;

b) Ikut serta dalam pengawasan masuknya budaya Asing yang bertentangan dengan Pancasila dan berusaha mengambil manfaat yang positif untuk menambahakan khasanah budaya rakyat;

c) Berperan aktif dalam lingkungan budaya rakyat.

4) Setiap saat membela kepentingan nusa dan bangsa guna mencapai kebahagiaan

Selalu berusaha membenahi semua kebijaksanaan nasional guna mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi/golongan untuk mencapai cita-cita nasional

c. Wira adalah perwujudan dari sikap dan kesatria, dimana mempunyai rasa tanggung jawab atas segala tindakannya.

Perwira Polri adalah kesatria :

1) Memegang teguh kesetiaan dan ketaatan :

a) Setia dan taat kepada Pancasila, UUD 1945;

b) Setia kepada sapta marga dan Tri Logi ABRI;

c) Berwibawa dalam melaksanakan tugas;

d) Patuh pada peraturan dan tata tertib yang ditentukan.

2) Pemimpin dan soko guru bawahannya :

a) Mengetahui kondisi jiwa dan aspirasi yang hidup dalam hati sanubari orang lain;

b) Pandai menilai dan menghargai pendapat orang lain;

c) Mempunyai pendirian;

d) Mengetahui kehendak dan sikap orang lain;

e) Mijaksana dalam membina kesatuan dan persatuan serta pendapat dalam mencapai tujuan, tapi tegas;

f) Mampu memberikan bimbingan /pimpinan/tuntunan yang diperlukan, penuh inisiatif;

g) Berusaha untuk menjadi contoh/tauladan dan perkataan dan perbuatan/sebagai panutan serta sederhana;

h) Memeliha kewibawaan pimpinan atas dasar kepercayaan;

i) Keikhlasan dan kerelaan yang tinggi dari yang dipimpin;

j) Mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru;

k) Mengenal setiap anggota bawahannya bersifat terbuka, jujur dan ramah tamah;

l) Dapat mengerti anak buah;

m) Mendorong dan berusaha mengungkapkan kesejahteraan anggota baik secara material maupun spritual.

3) Berani bertanggung jawab atas tindakannya serta dapat mengembangkan rasa tanggung jawab bawahannya:

a) Seorang perwira bersikap konsekwen bertanggung jawab atas pengambilan keputusan;

b) Berani mengambil inisiatif secara tepat untuk mengambil keputusan dalam situasi apapun jika tidak terdapat instruksi-instruksi dari atasannya;

c) Seorang perwira sebagai pemimpin harus dapat rasa tanggung jawab pada bawahannya dengan jalan menyerahkan kekuasaannya kepada mereka.

d) Maka dari bawahannya ia minta tanggung j;awab dengan cermat atas hasil-hasilnya;

e) Memberikan kekuasaan dengan tepat disertai dengan pengawasan yang tetap membangun keyakinan, kesetiaan dan kepercayaan serta akan mengembangkan inisiatif dan kerja sama yang jujur;

f) Keseganan untuk menyerahkan kekuasaan-kekuasaan seringkali merupakan tanda dari belum maksanya daya memimpin.

d. Utama adalah sesuatu yang bersifat didahulukan : 1) Penegak persaudaraan dan pri kemanusiaan

a) Mencintai dan menghargai sesama manusia;

b) Bepedoman kepada Tri brata dan Catu Prasetya;

c) Senantiasa menjaga rasa persaudaraan baik dalam lingkungan kerja maupun dalam lingkungan masyarakat umum;

d) Menghargai hak dan tidak membedakan serta menerima keberadaan, agama, ras, golongan dan kebudayaan sesama manusia berdasarkan Pancasila.

2) Menjunjung tinggi nama dan kehormatan Korps Perwira Polri:

a) Tindak tanduk lahiriah yang timbul dari harga diri sebagai rasa tanggung jawab seorang perwira;

b) Tidak menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan;

c) Dengan hakekat keperwiraan timbul tanggung jawab moral untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya;

d) Rendah hati, tidak sombong, akan jasa-jasanya;

e) Menjaga rahasia kedinasan dengan sekeras-kerasnya.

3. Perilaku Perwira Polri.

a. Sikap dan Kepribadian Perwira.

Penampilan pribadi yang baik mencerminkan keluaran dari disiplin, Tanggung jawab, kebanggaan dan kehormatan yang perlu diperhatikan oleh perwira Polri dalam kedinasan maupun kehidupan bermasyarakat. Seorang perwira harus senantiasa menjaga kehidupan bermasyarakat. Seorang perwira harus senantiasa menjaga sikap dan penampilannya, karena sosok dirinya akan menjadi contoh bagi prajurit bawahan dan lingkungannya. Seorang perwira Polri seyogyanya :

1) Memperhatikan kebersihan dan kerapihan badan termasuk rambut, kuku serta gigi;

2) Pakaian berikut perlengkapannya seprti ikat pinggang, topi, sapu tangan, sepatu dan kaos kaki, digunakan dengan benas dan teliti. Periksa bahwa pakian yang dikenakan sesuai dengan acara dan peruntukannya;

3) Hinadari memasukkan benda perlengkapan pribadi disaku baju atau celana, sehingga nampak menonjol, tidak beraturan dan menunjukkan kesan kurang rapi. Bila diperlukan bawalah tas jinjing kecil untuk membawa perlengkapan tersebut;

4) Sikap berdiri tegak sebaiknya dilakukan menakala sedang menunggu, berdiri didepan anak buah, memberikan arahan dilapangan atau berbicara dengan dengan yang lain. Hindari berdiri dengan menyilangkan kaki atau hanya bertumpu tubuh pada satu kaki;

5) Hindari berdiri dengan betolah pinggang, tangan dimasukkan kedalam saku celana, terutama apabila sedang berbicara dengan yang lebih tua;

6) Bila sedang berjalan, sikap yang baik adalah badan tegak dan pandangan lurus kedepan dengan langkah kaki usahakan satu garis;

7) Hindari duduk dengan mengangkat satu kaki apabila sedang bersama orang lain;

8) Selalu menyiapkan diri dengan baik melalui perencanaan yang matang sebelum melaksanakan segala kegiatan;

9) Berpenampilan sederhana dengan tidak berlebihan dalam penggunaan aksesori maupun parfum;

10) Selalu tepat waktu, karena kebiasaan menepati waktu dianggap sebagai gambaran rasa tanggung jawab seseorang;

11) Selalu datang lebih awal dari tamu kehormatan dan pulang setelah tamu kehormatan meninggalkan acara/kegiatan, terutama untuk acara-acara yang berkaitan dengan kedinasan;

12) Bila berjalan berdua dengan senior/atasan atau dengan wanita, berjalanlah pada sisi yang melindungi;

13) Bila kita ingin membantu wanita turun dari kendaraan, ulurkan tangan kepada wanita tersebut dengan posisi telapak tangan ke atas;

14) Dalam suatu acara sebaiknya seorang pria menghormati kedatangan tamu wanita (tamu kehormatan) dengan berdiri sampai wanita (tamu kehormatan) tersebut duduk, kecuali acara sudah dimulai;

15) Bila pria mengirimkan bunga kepada seorang wanita, usahakan untuk memilih yang sesuai dengan kesukaan wanita tersebut serta peristiwa yang terjadi;

16) Seorang pria tidak perlu membayarkan makan bagi seorang teman wanita yang kebetulan sudah hadir terlebih dahulu disebuah restoran;

17) Bila seorang pria akan memberiokan tempat duduknya pada seorang wanita dikendaraan, cukup menganggukkan kepala pada wanita itu sampbil mempersilahkan duduk kepada wanita tersebut secara sopan;

18) Hindari memanggil nama seorang wanita dengan keras di depan umum, walaupun kita merasa kaget dan senang atas suatu perjumpaan yang tiba-tiba.

b. Berbicara yang baik. Kemampuan berbicara yang baik merupakan keharusan bagi seorang perwira, karena dalam kedinasan sehari-hari harus menyampaikan instruksi-instruksi dengan jelas kepada bawahannya dan harusyakin bahwa anak buah dapat menerima instruksi yang disampiakan dengan utuh.

1) Perhatikan penampilan diri pada saat akan berbicara, apakah berdiri ditempat terbuka, paodium atau duduk serta periksa kesiapan alat bantu untuk berbicara ( microphone) bila disediakan.

2) Periksa kerapihan pakaian sebelum tampil berbicara dimuka anak buah atau forum.

3) Perhatikan kecepatan dan gaya bicara, janganlah berbicara terlalu cepat, sehingga pendengar kesulitan menangkap materi pembicaraan.

4) Fokuskan pandangan mata kepada yang diajak berbicara atau sapulah pandangan mata kepada pendegar dengan seksama. Mengalihkan pandangan mata ketempat lain menunjukkan kesan kurang menghargai bahwakn tidak sopan. Berikan perhatian terhadap lawan bicara, seperti kita mengharapkan perhatian dari orang lain bila kita berbicara.

5) Atur Intonasi suara saat berbicara, sehingga cukup jelas terdengar oleh lawan bicara atau pendengar yang ada, perhatikan artikulasi dan nada bicara dengan baik, karena pengucapan yang tidak jelas, monoton akan membosankan dan dapat menimbulkan penerimaan yang salah.

6) Berbicara sesuai dengan konteks menyampaikannya secara sistematis.

7) Persiapkan dan pelajari bahan/materi yang akan disampaikan 8) Perhatikan siapa yang diajak bicara, dalam suasana apa dan

kuasai materi yang akan dibicarakan

9) Seorang perwira tidak boleh membicarakan persoalan-persoalan militer yang bersifat rahasia diluar kepentingan tugas.

10) Hindari mengkritik senior dan membicarakannya dengan orang lain.

11) Hindari membicarakan persoalan pribadi didepan umum.

12) Hindari menjadi orang yang merasa tahu segalanya dan mmendominasi pembicaraan, beri kesempatan orang lain untuk mengemukakan pendapatnya.

13) Apabila mendapat lawan bicara yang terlalu mendominasi pembicaraan sehingga kita lelah mendengarnya, potonglah dengan sopan pada saat yang tepat ketika ada jeda bicara.

14) Hindari memotong pembicaraan orang lain, dan segara minta maaf bila tidak sengaja melakukannya.

15) Hindari penggunaan istilah-istilah asing yang berlebihan atau singkatan-singkatan yang tidak umum dalam suatu pembicaraan.

16) Hindari pembicaraan dengan subyek yang dapat menimbulkan pertentangan seperti suku, agam dan ras serta topik lain yang tidak menyenangkan.

17) Dalam percakapan dinas, sadari adanya perbedaan kepangkatan, jabatan dan senioritas.

18) Dalam konteks hubungan sosial, seorang senior tidak perlu terlalu mempermasalahkan perbedaan pangkat, tetapi sebaliknya seorang yunior tidak boleh mengabaikan adanya perbedaan kepangkatan.

19) Kadang-kadang dalam percakapan sosial, seorang senior melonggarkan batasan-batasan yang terlalu ketat dengan yunior, namun kelonggaran ini tidak boleh dimanfaatkan oleh yunior dalam hubungan kedinasan dan kelonggaran ini tidak boleh dibalas dengan sikap seenaknya (sok akrab) oleh yunior, bahkan sebaliknya harus diterima dengan penuh rasa tanggung jawab.

20) Cerita pendek yang menarik, berita-berita yang sedang hangat, kejadian-kejadian aneh yang dialami, acara televisi yang menarik semuanya adalah pembuka percakapan yang baik.

21) Sikap yang baik dalam percakapan termasuk membatasi percakapan adalah mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam.

c. Diskusi.

1) Diskusi merupakan sarana yang baik untuk berlajar berbicara efektuif, menyampaikan pendapat dan menemukan permasalahan serta pemecahannya.

2) Jika ada perbedaan pendapat, sampaikanlah sedemikian rupa dengan santun dan tidak menyinggung atau menimbulkan kesan menggurui.

3) Hindari menyampaikan hal-hal yang tidak sependapat secara langsung dengan mengatakan tidak setuju . Berikan pendapat yang wajar, sehingga lawan bicara mengerti atau memahami bahwa kita tidak setuju.

4) Apabila perwira senior mempunyai pendapat yang berbeda, sebaiknya kita tidak memberi komentar, kecuali senior tersebut meminta. Sampaikan pendapat kita dengan cara yang sopan, termasuk dalam forumforeum diskusi mimbar akademik.

5) Perlu diingat bahwa walaupun kita adalah seorang pakar dalam suatu bidang, harus disadari bahwa tidak satu orangpun di dunia ini yang mnegetahui semua hal. Oleh karena itu mengakui ketidaktahuan adalah lebih baik daripada menjawab salah.

6) Bila kita menghadapi orang yang sok tahu padahal kita yakin lebih tahu dari dia, maka lebih baik kita berusaha mengalihkan pembicaraan daripada membuat malu yang bersangkutan.

7) Berhati-hatilah membuat lelucon atau lawakan didepan umum karena apabila salah dapat menyinggung harga diri/perasaan orang lain.

8) Seorang pembuicara yang bauik adalah orang yang selalu mempunyai sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, tidak sombong dan tidak membuat orang lain merasa risih.

9) Bila kita berbicara, arahkan pandangan kita kepada pendengar dan perhatikan reaksinya. Tidak ada pembicaraan satu arah yang menarik, kecuali memberikan kesempatan kepada pendengar untuk menyampaikan pendapatnya.

10) Sebutkan identitas (nama, pangkat mengajukan pertanyaan, saran dan tanggapan

d. Berjabat Tangan

1) Berjabatan tangan sebaiknya sepenuh telapak tangan, kedudukan setinggi siku dan jangan mencengkeram terlalu keras atau mengguncangguncang.

2) Dalam berjabatan tangan, seorang senior mendahului mengulurkan tangan. Seorang pria harus menunggu wanita mengulurkan tangannya lebih dahulu sebelum ia menjabat tangan wanita tersebut, dan segeralah berdiri bila pada saat itu dalam keadaan duduk.

3) Apabila sedang menggunakan PDU I lebih baik berjabatan tangan dengan menggunakan sarung tangan daripada membiarkan orang lain menunggu kita melepas sarung tangan.

4) Berjabat tangan dengan mencium tangan wanita bukanlah merupakan ungkapan penghormatan yang lazim di Indonesia, kecuali kepada orang-orang tua yang sangat kita hormati.

5) Bila kita berada diluar negeri, dimana mencium tangan wanita merupakan suatu penghormatan yang harus dilakukan, maka cara yang tepat adalah dengan memegang tangannya dengan lembut, kemudian dengan agak membungkukkan badan sentuhlah dengan bibir kita pada bagian punggung telapak tangan wanita itu. Ingat, bukanlah suatu kebiasaan untuk mencium tangan wanita yang belum berkeluarga kecuali bila ia sudah tua.

6) Apabila menurut ketentuan agama menghendaki untuk tidak berjabat tangan antara wanita dan pria, makla dapat diganti dengan cara merapatkan kedua telapak tangan (seperti akan bersalaman) didepan dada sambil menganggukkan kepala.

e. Meminta maaf, Meminta maaflah jika kita :

1) Terlambat datang pada suatu jamuan makan siang atau malam atau peristiwa sosial lainnya misalnya suatu resepsi.

2) Gagal memenuhi sebuah janji.

3) Tidak dapat memenuhi suatu permohonan.

4) Secara tidak sengaja merusak atau memecahkan sesuatu.

Selain minta maaf, berusahalah untuk menggantinya dengan barang yang sama/sejenis atau sesuai kesepakatan.

5) Secara tidak sengaja menginjak kaki orang lain, menghambat jalan orang lain, atau menyenggol orang lain.

6) Memutar nomor telepon yang salah/salah sambung.

f. Meminta tolong.

1) Sampaikanlah permintaan bantuan dengan kalimat yang sopan, umumnya menggunakan kata tolong... : apabila mengharapkan bantuan orang lain untuk mengerjakan hal-hal yang bersifat pribadi.

2) Sesuaikan permintaan bantuan tersebut dengan situasi dan kondisi orang yang bersangkutan.

3) Permintaan bantuan kepada orang lain agar dibatasi pada hal-hal yang bersifat ringan/sederhana atau tidak memberatkan yang bersangkutan.

g. Menyampaikan terima kasih. Ucapkan terima kasih:

1) Pada saat awal dan atau akhir suatu acara kepada tamu yang hadir atas undangan kita.

2) Setelah kita menjadi tamu, dalam suatu kunjungan, menginap

3) dirumah orang tua atau dirumah teman.

4) Apabila kita mendapat penghargaan, kado, hadiah atau ucapan selamat dari pihak lain.

5) Setelah menerima pertolongan atau bantuan dari pihak lain baik atas permintaan kita maupun tidak.

h. Sopan santun merokok. Seyogyanya kita tidak merokok, bila terpaksa akan merokok, perhatiokan hal-hal sebagai berikut :

1) Bila tidak ada asbak jangan memaksakan merokok.

2) Merokok ditempat-tempat yang memungkinkan untuk merokok atau tempat-tempat yang telah ditentukan, perhatikanlah ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk larangan merokok.

3) Merokok dengan sopan, tidak membiarkan asap rokok mengarah ke orang lain.

4) Hindari menggunakan piring, tatakan atau piring kecil yang berada diatas meja makanm sebagai asbak, atau membuang abu rokok ditempat sampah, kalau memang diperlukan mintalah sebuah asbak.

5) Kita wajib minta izin pada orang-orang didekat kita terlebih dahulu sebelum merokok atau sebelum meninggalkan mereka untuk merokok.

6) Tidak dibenarkan merokok dalam ruangan ber AC walaupun tidak ada tanda larangan merokok.

7) Dilarang merokok pada waktu mengendarai kendaraan dengan pakaian dinas.

8) Sebaiknya tidak merokok dihadapan anak-anak atau wanita.

Rangkuman

1. Perwira dalam kehidupan sehari-hari memiliki pengertian: Gagah berani, perkasa, ksatria, dan disebut juga sebagai pahlawan.

2. Sifat-sifat yang harus dimiliki seorang perwira adalah, berbudhi,berbakti, wira dan memiliki keutamaan.

3. Perilaku seorang perwira tercermin dalam kehidupan sehari-hari maupun kedinasan meliputi sikap dan kepribadian, dalam berbicara, dalam berdiskusi, berjabat tangan, meminta maaf, meminta tolong, menyampaikan terimakasih, dan sopan santun dalam merokok.

Latihan

1. Jelaskan pengertian perwira!

2. Jelaskan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang perwira ! 3. Jelaskan sikap dan perilaku seorang perwira !

Dalam dokumen ETIKA PERILAKU PERWIRA POLRI (Halaman 21-35)

Dokumen terkait