• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI DAN BUDI PEKERTI DI SD NEGERI 004 KOTA BANGUN KEC.TAPUNG HILIR KAB.KAMPAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI DAN BUDI PEKERTI DI SD NEGERI 004 KOTA BANGUN KEC.TAPUNG HILIR KAB.KAMPAR"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

1

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI DAN BUDI PEKERTI DI SD NEGERI 004 KOTA BANGUN

KEC.TAPUNG HILIR KAB.KAMPAR

Sutriana

IAIN Palangkaraya, Kota Palayangkara, Kalimantan Tengah Email : [email protected]

Abstrak

Sekolah yang terdapat guru-guru yang masih menerapkan cara-cara konvensional dalam belajar termasuk di sekolah tempat penulis melakukan penelititan. Sedangkan dewasa ini siswa dituntut aktif dalam pembelajaran, guru harus bersikap variatif dalam melaksanakan proses KBM agar siswa tidak merasa jenuh dan pencapain tujuan pelajaran juga tidak menyentuh pada ranah kognitif saja, melainkan juga kepada afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu dilakukanlah penelitian pada siswa kelas IV di UPT SD Negeri 004 Kota Bangun menggunakan metode Discovery Learning. Untuk penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dalam pembuatan laporan hasil penelitian.

Kata Kunci : Discovery Learning, Penelitian, Deskriptif

(2)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

2 Pendahuluan

Dewasa ini siswa dituntut aktif dalam pembelajaran, guru harus bersikap variatif dalam melaksanakan proses KBM agar siswa tidak merasa jenuh dan pencapain tujuan pelajaran juga tidak menyentuh pada ranah kognitif saja, melainkan juga kepada afektif dan psikomotorik. Selain itu, seiring perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin canggih, maka secara otomatis pola pikir masyarakat berkembang dalam setiapaspek. Sehingga berpengaruh pula terhadap dunia pendidikan karena dengan berkembangnya pola pikir masyarakat itu, dituntut untuk adanya inovasi dalam bidang pendidikan, tidak tradisional lagi, yaitu melaksanakan pemebelajaran hanya dengan ceramah yang merupakan metode dari zaman dahulu sampai sekarang.

Inovasi yang disebutkan itu tidak terlepas dari peran guru untuk melakukan inovasi cara belajar di kelas. Selain itu juga, salah satu faktor yang ada di luar siswa adalah guru profesional yang mampu mengelola pembelajaran dengan metode-metode yang tepat, yang memberi kemudahan bagi siswa untuk mempelajari materi pelajaran, sehingga menghasilkan capaian yang lebik baik. Dalam penggunaan metode pembelajaran harus bervariasi sehingga siswa tidak bosan dalam pembelajaran.

Dari pernyataan di atas, menyatakan bahwa guru agama Islam memiliki peran yang merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang tersusun serta diakhiri dengan penilaian. Dan selain itu, guru juga sebagai pendidik, yang tidak hanya berperan sebagai pengajar yang transfer of knowledge, tetapi juga pendidik yang transfer of values

Belajar adalah proses yang aktif, proses yang mereaksi terhadap semua situasi yang berada di sekitar individu. Artinya proses belajar pada siswa yakni proses perubahannya tingkah laku siswa melalui berbagi pengalaman yang diperolehnya.

Teori-teori belajar sangat beraneka ragam. Setiap teori mempunyai landasan sebagai dasar rumusan. Bila ditinjau dari landasan itu, teori belajar dapat dikelompokkan kedalam dua macam. Yakni teori Asosiasi dan teori Gestalt. Kedua macam teori inilah yang banyak berkembang melalui berbagai penelitian maupun eksperimen para ahli, sehingga muncul berbagai macam teori yang beraneka ragam. Sebelum muncul dan berkembangnya kedua teori tersebut, teori yang dikemukakan oleh Asosiasi ataupun

(3)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

3

Gestalt, sebenarnya sudah muncul suatu teori tentang belajar, yaitu teori belajar menurut psikologi daya (Faculty Theory). Menurut para ahli psikologi daya, mental itu terdiri dari sejumlah daya yang satu nama lain terpisah.

a. Teori Belajar Asosiasi

Teori ini dikenal dengan Bond Theory. Menurut teori ini, belajar adalah membentuk ikatan atau hubungan antara stimulus dan respon. Teori ini besar sekali pengaruhnya terhadap proses belajar mengajar. Di dalam teori belajar asosiasi ada dua macam teori yang terkenal yaitu teori Connectionism (Thorndike) dan teori Conditioning (Pavlov).

• Teori Connectionisme atau Bond Hypothesis

Menurut Ali (2019) Teori belajar yang paling tua ialah teori asosiasi, yakni hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan itu bertambah kuat bila sering diulangi dan respons yang tepat diberi ganjaran berupa makanan atau pujian atau cara lain yang memberi rasa puas dan senang. Edward Lee Thorndike mempelajari masalah belajar pada binatang dengan merintis cara yang baru,yakni dengan eksperimen. Antara lain ia terkenal dengan teori “trial-and-error”. Thorndike menemukan bermacam-macam hukum/laws tentang stimulus dari respon diantaranya:

• Teori Conditioning (Pavlov)

Teori belajar Conditions adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi (respons).

Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat- syarat tertentu. Berdasarkan teori ini, hal yang terpenting dalam belajar adalah adanya latihan-latihan yang berkelanjutan. Hal yang diutamakan dalam teori ini adalah hal belajar yang terjadi secara otomatis. Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil dari conditioning . Yakni hasil daripada latihan-latihan atau keberhasilan- keberhasilan yang mereaksi terhadap syarat-syarat / perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidupannya.

b. Teori Belajar Gestalt

Teori belajar yang dikemukakan Gestalt lebih banyak menekankan kepada belajar melalui pengalaman (instight). Oleh karena itu pengajaran lebih diarahkan memberi

(4)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

4

kesempatan kepada siswa melakukan sesuatu, “Learning by Doing”.

Discovery learning mempersiapkan peserta didik untuk berfikir kritis dan analisis, dan untuk menemukan dan menggunakan sumber pengetahuan yang tepat. Tujuan dari Discovery Learning adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah dalam diri siswa sehingga langkah – langkah pembelajarannyapun disesuaikan dengan hal tersebut.

Menurut Apri (2021) Adapaun langkah – langkah Discovery Learning yaitu : 1. Pemberian rangsangan (Stimulus)

2. Mengidentifikasi masalah

3. Mengumpulkan data (Problem statemen) 4. Mengelolah data (Data processing)

5. Pembuktian (Verification)

6. Menarik kesimpulan/generalisasi Metode

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kegiatan pembelajaran dalam mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat.

Penelitian tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan (Planning), penerapan tindakan (Action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (Observation and evaluation). Sedangkan prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan).

Penjelasan langkah-langkah penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan (Planning), yaitu persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan Penellitian Tindakan Kelas, seperti: menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pembuatan media pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan (Acting), yaitu deskripsi tindakan yang akan dilakukan, skenario kerja tindakan perbaikan yang akan dikerjakan serta prosedur tindakan

(5)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

5 yang akan diterapkan.

3. Observasi (Observe). Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan semua rencana yang telah dibuat dengan baik, tidak ada penyimpangan- penyimpangan yang dapat memberikan hasil yang kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan cara memberikan lembar observasi atau dengan cara lain yang sesuai dengan data yang dibutuhkan.

4. Refleksi (Reflecting), yaitu kegiatan evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh atas yang terhimpun sebagai bentuk dampak tindakan yang telah dirancang. Berdasarkan langkah ini akan diketahui perubahan yang terjadi.

Bagaimana dan sejauh mana tindakan yang ditetapkan mampu mencapai perubahan atau mengatasi masalah secara signifikan. Bertolak dari refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan dalam bentuk replanning dapat dilakukan.

Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah penelitian deskriptif.

Penelitian deskriptif ialah suatu penelitian yang berusaha menjawab permasalah yang ada berdasarkan data-data. Proses analisis dalam penelitian deskriptif yaitu menyajikan, menganalisis, dan menginterpretasikan.

Metode yang digunakan dalam penelitian deskriptif ini adalah metode deskriptif kuantitatif dan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kuantitatif adalah suatu riset kuantitatif yang bentuk deskripsinya dengan angka atau numerik (statistik) sedangkan metode deskriptif kualitatif adalah suatu riset kualitatif yang bentuk deskripsinya menggunakan fakta atau fenomena yang didapatkan dari data-data secara apa adanya.

Pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil belajar siswa setelah penulis menerapkan siklus I dan II dalam pembelajaran yang dilakukan. Evaluasi dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami terhadap materi ajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada bagian refleksi diadakan analisis data mengenai proses, masalah dan hambatan yang dijumpai. Kemudian dilanjutkan dengan refleksi dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan. Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap hasil belajar dan pencapaian tujuan

(6)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

6

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis data ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model Discovery Learning pada materi Bersih itu sehat pada siswa kelas IV SD Negeri 004 Kota Bangun dan untuk menganalisis apakah model Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 004 Kota Bangun pada materi Bersih itu sehat.

Hasil Pembahasan

Penelitian ini difokuskan pada proses pembelajaran. Berdasarkan data kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari observasi terhadap pembelajaran dan hasil evaluasi pada tiap siklus, untuk kemudian dijadikan refleksi dalam menentukan tindakan yang tepat untuk mengarah pada perbaikan dalam pengajaran di kelas. Dari hasil refleksi kemudian dilakukan tindakan pembelajaran dengan teknik Discovery Learning.

Pembelajaran ini terdiri dari 2 siklus tindakan, dimana tiap siklus diadakan refleksi sebagai bahan masukan bagi pelaksanaan tindakan selanjutnya.

1. Siklus I

Berdasarkan tes yang diberikan kepada siswa pada tahap observasi awal, diperoleh hasil bahwa nilai yang diperoleh siswa pada tahap tersebut adalah 70 dan hal tersebut menunjukkan bahwa nilai rata-rata masih dibawah KKM yaitu 75. Dari hasil tersebut, peneliti memberikan solusi dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu Discovery Learning .

Dalam pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan dalam siklus I yang mana dalam pembelajaran tersebut telah menerapkan model Discovery Learning . Berdasarkan refleksi dan observasi dari pembelajaran siklus 1, dengan kontribusi nilai yang diperoleh adalah hasil belajar rata-rata siswa yang diperoleh sebesar 81,25. Hal ini menunjukkan peningkatan nilai dibanding dengan hasil pra siklus dengan kenaikan rata - rata sebesar 11,25. Pada pembelajaran siklus I ini sudah mulai mengalami perubahan peningkatan hasil belajar siswa disertai pula sudah dimunculkannya peran dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, walaupun belum seluruhnya maksimal, akan tetapi perhatian dan respon siswa sudah mulai muncul, dengan penerapan Discovery Learning . Hal ini menunjukkan peningkatan kearah yang lebih baik dan hal itu harus lebih

(7)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

7

ditingkatkan lagi. Dalam hal ini guru Pendidikan Agama Islam berperan sebagai fasilitator.

2. Siklus II

Pembelajaran yang dilakukan di tahap siklus II dilaksanakan berdasarkan refleksi kegiatan pada pembelajaran siklus I. Pembelajaran siklus II dilaksanakan dengan tujuan memperbaiki – memperbaiki kelemahan – kelemahan yang ditemukan pada pembelajaran siklus I sekaligus meningkatkan penerapan Discovery Learning dalam pembelajaran yang dilakukan. Dalam pembelajaran yang dilaksanakan di siklus II ini, terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari kegiatan kegiatan observasi awal, siklus I dan pada siklus II ini. Pada kegiatan observasi awal menunjukkan nilai rata – rata yang diperoleh siswa adalah 70, kemudian pada siklus I nilai rata – rata yang diperoleh siswa adalah 78,75; sedangkan pada siklus II ini nilai yang diperoleh siswa adalah 87,5. Hal ini menunjukkan peningkatan yang signifikan pada nilai rata – rata yang diperoleh siswa dan hal ini menunjukkan bahwa penerapan Discovery Learning dalam pembelajaran yang dilakukan memberikan dampak yang positif dalam pembelajaran yang dilakukan.

3. Pembelajaran Pada Siklus I

Berdasarkan pengalaman pelaksanaan pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh penulis, penulis menyadari masih memberikan peran yang besar terhadap siswa dengan menerima transfer ilmu dari guru. Oleh karena itu masih banyak siswa yang bersifat pasif dalam pembelajaran, hanya mencatat, mendengarkan penjelasan guru dan aktif mengikuti evaluasi pada akhir pembelajaran. Tidak jarang guru hanya sesekali memberikan tanya jawab dan penugasan, itu pun jika dirasa waktu masih ada. Penulis menyadari bahwa selama ini belum pernah menerapkan model pembelajaran yang tepat dikarenakan metode ekspositori yang penulis gunakan lebih mudah dan praktis untuk diterapkan, meskipun hasil belajar siswa begitu rendah. Akan tetapi penulis juga dihadapkan pada pilihan bahwa pada satu sisi penulis harus bisa membawa hasil pada siswanya kearah yang lebih baik, sedangkan disisi lain peneliti juga belum tahu model apa yang tepat untuk diterapkan. Karena itu, peneliti mencari solusi dan menerapkan

(8)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

8

model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu Discovery Learning .

Berdasarkan tes yang diberikan pada tahap observasi awal, diperoleh nilai siswa yang dapat terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.1

Hasil Tes Observasi Awal

Tafsiran persentase hasil tes pada tahap observasi awal dapat terlihat pada penjabaran berikut:

a. Hanya 8 siswa yang memperoleh nilai 60 (50%) dengan tafsiran persentase (50) termasuk dalam kategori setengahnya.

b. Hanya 8 siswa yang memperoleh nilai 80 (50%) dengan tafsiran persentase (50) termasuk dalam kategori setengahnya.

Hasil secara keseluruhan rata-rata nilai yang diperoleh sebesar 70. dengan

rumus

:

Σ𝐹(𝑥)

=

1120

= 70

.

𝑓 16

Rata – rata nilai siswa pada observasi awal ini adalah 70 dan masih berada dibawah

(9)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

9

KKM yaitu 75. Dengan demikian pembelajaran dengan metode konvensional dapat dikatakan gagal atau tidak maksimal dan tidak kondusif. Dari hasil observasi awal, peneliti mengidentifikasi permasalahan yang ditemukan untuk dijadikan refleksi dalam merencanakan tindakan pada tiap siklusnya. Hasil observasi awal dapat disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 4.2

Refleksi Kegiatan Observasi Awal

Dalam pelaksanaan pembelajaran dalam siklus I adapun pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut. Pelaksanaan pembelajaran ini terdiri dari dua siklus yang mana setiap siklus mencerminkan langkah-langkah untuk memperbaiki kekurangan yang teridentifikasi pada siklus sebelumnya. Berikut ini adalah tindakan yang diterapkan dalam Pembelajaran Siklus I.

1) Perencanaan a) Membuat RPP 2) Pelaksanaan

Langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

a) Pendahuluan

(1) Mengecek absensi siswa (2) Memberi motivasi

(10)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

10 (3) Memberi apersepsi

b) Kegiatan pokok atau Kegiatan Inti

(1) Membagi kelas menjadi 4 kelompok masing-masing terdiri dari 4 orang.

(2) Siswa diminta mengamati tayangan gambar atau foto untuk mengidentifikasi pertanyaan dan mencatat fakta-fakta yang ditemukan .

(3) Siswa mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyaan yang telah diidentifikasi dari masalah-masalah tersebut.

(4) Masing-masing kelompok bekerja sama mendiagnosis masalah dengan menentukan sebab-sebab terjadinya masalah dan menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi penyelesaian masalah.

(5) Siswa atau masing-masing kelompok merumuskan alternatif strategi yaitu mengutip setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Masing-masing kelompok mewakili hasil kerjanya untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.

(6) Masing-masing kelompok menyerahkan laporan hasil kerja kelompok ke guru.

c) Kegiatan penutup

(1) Guru menarik kesimpulan hasil diskusi kelas.

(2) Guru menerima laporan hasil kerja kelompok.

(3) Guru memberikan evaluasi (post test).

(4) Guru menutup pembelajaran dengan pemberian tugas untuk pertemuan berikutnya.

4. Hasil Tes Siklus I

Berdasarkan tes yang diberikan pada tahap siklus 1, diperoleh nilai siswa yang dapat terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.3 Hasil Tes Siklus I

(11)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

11

Tafsiran persentase hasil tes pada tahap siklus 1 dapat terlihat pada penjabaran berikut.

a. Hanya 8 siswa yang memperoleh nilai 70 (50%) dengan tafsiran persentase (50) termasuk dalam kategori setengahnya.

b. Hanya 2 siswa yang memperoleh nilai 80 (12,5%) dengan tafsiran persentase (1-25) termasuk dalam kategori sebagian kecil.

c. Hanya 6 siswa yang memperoleh nilai 90 (37,5%) dengan tafsiran persentase (26 – 49) termasuk dalam kategori hampir setengahnya.

Hasil secara keseluruhan rata-rata nilai yang diperoleh sebesar 78,75. dengan

rumus

:

Σ𝐹(𝑥)

=

1260

= 78,75

.

𝑓 16

5. Refleksi Siklus I

Pada fase siklus I, pembelajaran difokuskan pada mengamati perilaku siswa, mengamati keterampilan individu dan kelompok, mengamati proses komunikasi, dan mengoptimalkan peran aktif siswa. Adapun kegiatan refleksi dari pelaksanaan siklus I adalah sebagai berikut :

a. Memeriksa hasil laporan siswa

b. Identifikasi kelemahan-kelemahan yang muncul pada saat pembelajaran berlangsung

(12)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

12

c. Melakukan diskusi, koreksi terhadap seluruh proses pembelajaran yang telah dilaksanakan dan mengamati hasil angket siswa.

Tabel 4.4

Identifikasi Masalah dan Refleksi Tindakan pada Siklus I

6. Pembelajaran Pada Siklus II

Pembelajaran pada tahap siklus II dilaksanakan berdasarkan refleksi dari pembelajaran pada siklus I. Pembelajaran siklus II dilaksanakan dengan tujuan memperbaiki kelamahan-kelemahan yang ditemukan pada pembelajaran siklus

I. Sekaligus meningkatkan penerapan Discovery Learning dalam pembelajaran yang dilakukan.

a. Perencanaan

1) Membuat perangkat pembelajaran.

2) Membuat bahan ajar dan perangkat test yang belum tuntas.

3) Metode pembelajaran yang diterapkan sama seperti pada siklus I.

(13)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

13

b. Pelaksanaan tindakan sama dengan pembelajaran siklus I.

7. Hasil Tes Siklus II

Berdasarkan tes yang diberikan pada tahap siklus 1, diperoleh nilai siswa yang dapat terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.5 Hasil Tes Siklus II

Tafsiran persentase hasil tes pada tahap siklus 1 dapat terlihat pada penjabaran berikut.

a. Terdapat 7 siswa yang memperoleh nilai 80 (43,75%) dengan tafsiran persentase (26 – 49) termasuk dalam kategori hampir setengahnya.

b. Terdapat 6 siswa yang memperoleh nilai 90 (37,5%) dengan tafsiran persentase (26-49) termasuk dalam kategori sebagian besar.

c. Terdapat 3 siswa yang memperoleh nilai 100 (18,75%) dengan tafsiran persentase (1-25) termasuk dalam kategori sebagian kecil.

Hasil secara keseluruhan rata-rata nilai yang diperoleh sebesar 87,5. dengan

rumus

:

Σ𝐹(𝑥)

=

1400

= 87,5

.

𝑓 16

Pada pembelajaran siklus II sudah menunjukkan hasil pembelajaran yang sesuai dengan harapan. Artinya partisipasi dan respon siswa yang meliputi perhatian, aktivitas dan kerjasama antar siswa serta hasil belajar siswa sudah sepenuhnya dimunculkan, dan pembelajaran sudah menunjukkan kondisi yang kondusif dan optimal

8. Refleksi Siklus I

Dari hasil pelaksanaan pembelajaran menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model Discovery Learning sudah memenuhi harapan sesuai yang diinginkan yaitu adanya peningkatan dari hasil belajar siswa, keaktifan siswa dalam merespon kegiatan belajar mengajar serta tingkat pemahaman siswa dalam menguasai materi pekajaran yang diajarkan. Adapun langkah-langkah pelaksanaan refleksi yang dilakukan adalah:

(14)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

14

1. Memeriksa hasil test siswa setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung.

2. Memeriksa hasil kerja siswa dalam membuat karangan deskripsi.

3. Mengidentifikasi kekurangan-kekurangan yang terjadi/ditemukan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

4. Melakukan evaluasi dan koreksi secara keseluruhan terhadap proses kegiatan belajar mengajar dari awal sampai akhir kegiatan.

Tabel 4.6

Identifikasi Masalah dan Refleksi Tindakan pada Siklus II

Gambar 4.1

Grafik Hasil Belajar Siswa Setiap Siklus

(15)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

15 9. Analisis Data dan Hasil Penelitian

Analisis tingkat pemahaman konsep Pendidikan Agama Islam siswa untuk mengetahui keberhasilan dan kontribusi terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan penerapan Discovery Learning terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

Dalam hal ini dilakukan analisis hasil pemahaman siswa dari materi yang dipelajari untuk tiap siklusnya serta analisis hasil observasi kegiatan awal dan hasil tes tiap siklusnya. Penerapan model ini sudah dibuktikan dengan pendapat dari sebagian tokoh pendidikan yaitu Discovery learning juga mengembangkan pemikiran pada tingkat yang lebih tinggi, artinya tidak hanya terbatas pada meningkatkan pengetahuan melainkan juga mengembangkan kemampuan dan siswa dalam mengatasi pemecahan masalahan .Adapun hasil tes pada tiap siklus dan tingkat pemahaman siswa pada tiap siklus dapat dilihat pada tabel berikut.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang Penerapan Model Discovery Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PAI dan Budi Pekerti Di SDNegeri 004 Kota Bangundapat disimpulkan beberapa hal seperti berikut :

1. Penerapan model Discovery Learning pada pembelajaran PAI dan Budi Pekerti menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik dalam hal aktivitas belajar, diskusi dan keaktifan dalam pelaksanaan pembelajaran. Dalam hal ini dengan penerapan model Discovery Learning siswa menjadi lebih mampu membangun komunikasi, diskusi dan kerja sama yang baik sesama siswa serta siswa mampu

(16)

Vol. 2, No 2, 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema:

16

membangun komunikasi yang baik dengan guru. Dengan penerapan model pembelajaran ini, dapat menstimulus keaktifan siswa melalui kerja sama antar kelompok dan anggota kelompok.

2. Hasil belajar siswa dapat ditingkatkan dengan penerapan model Discovery Learning. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar siswa yang diperoleh pada observasi awal adalah 70, rata – rata hasil belajar siswa yang diperoleh pada siklus I adalah 78,75 dan rata – rata hasil belajar siswa yang diperoleh pada siklus II adalah 87,5. Hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar yang signifikan dengan hasil belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 50% dan pada siklus II sebesar 100%.

Daftar Pustaka

Haq, Taufiq Ziaul. (2019). Metode Diskusi Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam. (2) 2

Makki,Ali. (2019). Mengenal Sosok Edward Lee Thorndike Aliran Fungsionalisme Dalam Teori Belajar. Jurnal Studi Islam. (14) 1

Prasetyo,Apri Dwi dan Muhammad Abduh. (2021). Peningkatan Keaktofan Belajar Model Discovery Learning Di Sekolah Dasar. Jurnal BASICEDU. (5) 4

S,Maretha. (2020). Penggunaan Model Discovery Learning Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Peserta Didik Kelas IX Mata Pelajaran PPKN Pada Materi Hakikat dan Teori Kedaulatan Di SMP Negeri 6 Satu Atap Sepauk. Jurnal PEKAN. (5) 2

Yuliana, Nabila. (2018). Penggunaan Model Pembelajaran Discovery Learning Dalam Peningkatan Belajar Siswa Di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran PPs Universitas Pendidikan Ganesha. (2) 1

Referensi

Dokumen terkait

The overall control circuit in addition to the other added features like display derivers , control, and data entry …etc may be implemented on a single VLSI chip using FPGA (

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK)

Karnadjaja(2007) mengggambarkan aplikasi penjual dan pembeli call options yaitu pada transaksi jual beli rumah, dimana pembeli memberikan uang jaminan kepada penjual

penelitian tentang sintesis askorbil asam lemak yaitu askorbil laurat dari metil laurat dan asam askorbat melalui reaksi transesterifikasi dengan katalis enzim lipase serta

Pendapatan dari luar usaha yang diterima petani juga tidak lebih baik dari pendapatan dalam usahatani, sehingga rumahtangga hendaknya mengalokasikan waktu kerja

2015.. PENGARUH ELECTRONIC WORD OF MOUTH TERHADAP NIAT PEMBELIAN YANG DI MEDIASI OLEH CITRA MEREK PADA.. PRODUK LAPTOP

obat sipilis dan herpes - Gejala Penyakit sipilis Pada Wanita akan muncul sekitar 3 minggu - 6 bulan setelah berhubungan seksual dengan penderita, umumnya penyakit

Sharp (1964), Litner (1965), Mossin (1966) memperkenalkan Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang merupakan salah satu model penilaian aset yang menggambarkan hubungan