LAPORAN AKHIR PENELITIAN MANDIRI
PERSEPSI, PELUANG DAN TANTANGAN METODE PEMBELAJARAN ONLINE PADA MAHASISWA KEPERAWATAN SELAMA PANDEMIC
COVID-19: A SURVEY STUDY
Tim Peneliti:
Ns. Cut Husna, MNS (NIP. 19760626 200312 2 003) Ns. Ahyana, S.Kep., MNS (NIP. 19850106 201903 2 011) Ns. Riski Amalia, S.Kep., M.Kep (NIP. 19850123 201903 2 009)
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RINGKASAN
The Covid-19 virus pandemic has caused significant changes in human life and normal activities. The Covid-19 pandemic has also had a significant impact on the education system in Indonesia. The government policy to implement physical distancing and social distancing as a health protocol by the World Health Organization requires all teaching and learning activities for students to be carried out at home, including for nursing students. Virtual or online learning is a method that is widely used in the era of the Covid-19 pandemic. Several online learning media have provided their perceptions, opportunities and challenges in the learning process. This online learning method policy has provided opportunities and challenges for nursing students in using the methods that have been applied. This study aims to determine the perception, opportunities and challenges of online learning methods during the Covid-19 pandemic in nursing students at Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. This research is a descriptive quantitative study with a cross-sectional research design. Two hundred seventy-six students agreed to participate in this study. The data collection tool used a questionnaire developed by researchers on a Likert scale consisting of 24 statements that have passed the validity and reliability test with Cronbach's alpha of 0.8. Data collection is done using a Google form. The results showed that the perception was in a positive category (50.4%), then the opportunities and challenges of online learning methods were in the high category, namely 51.4% and 50.4%, respectively. Given the still high challenges of online learning methods, it is advisable to organize an online-based learning system by providing access to learning resources such as books, journals, libraries, and e-education. Meanwhile, to overcome these learning challenges, it is necessary to provide adequate internet access or provision of internet quotas that support the teaching and learning process during the Covid-19 pandemic.
PRAKATA
Alhamdulillah, penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan kariniaNya kepada kita semua, selawat dan taslim kepada Rasulullah Muhammad SAW. Penelitian ini telah selesai dilakukan pada era pandemic Covid-19 dengan sampel seluruh mahasiswa Fakultas Keperawatan Univesitas Syiah Kuala pada tahap akademik dan pendidikan profesi Ners. Penelitian ini mengangkat tema tentang persepsi, peluang dan tantangan metode pembelajaran online pada mahasiswa keperawatan selama masa pandemic Covid-19. Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua responden yang terlibat dalam penelitian ini secara suka rela. Penelitian ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si., M.Tec selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala-Darusaalam Banda Aceh
2. Bapak Dr. Hajjul Kamil, S.Kp., M.Kep selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
3. Ketua Komite Etik Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala. 4. Seluruh dosen dan staf administrasi Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala
yang telah membantu baik langsung dan tidak langsung dalam penelitian ini.
Banda Aceh, Oktober 2020 Tim Peneliti
Ketua,
DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL ... i HALAMAN PENGESAHAN ... ii RINGKASAN ... iii PRAKATA ... iv DAFTAR ISI ... v DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ... 5
BAB 4. METODE PENELITIAN ... 12
BAB 5. HASIL LUARAN YANG DICAPAI... 18
BAB 6. SIMPULAN DAN SARAN ... 35 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Online Learning Perception Scale (OLPS) ... 7 Tabel 5.1 Distribusi Data Demografi Responden ... 18 Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Terhadap Persepsi
Pembelajaran Online ... 19 Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Terhadap Peluang
Pembelajaran Online ... 20 Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden terhadap Tantangan
Pembelajaran Online ... 21 Tabel 5.5 Persepsi Pembelajaran Online Mahasiswa
Keperawatan Selama Pandemi Covid-19 ... 22 Tabel 5.6 Peluang Pembelajaran Online Mahasiswa
Keperawatan Selama Pandemi Covid-19 ... 22 Tabel 5.7 Tantangan Pembelajaran Online Mahasiswa
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Personalia Penelitian Lampiran 2 : Perkiraan Biaya Penelitian Lampiran 3 : Biodata Peneliti
Lampiran 4 : Instrumen
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pandemi virus Covid-19 pada Desember 2019 sampai saat ini telah menyebabkan perubahan yang signifikan pada seluruh kehidupan dan aktivitas normal manusia. Virus SARS-CoV2 yang menyebabkan COVID-19 telah menjadi pandemic dan menyebab kematian terbesar diseluruh dunia. COVID-19 menyebabkan lebih dari 80% orang yang terinfeksi menimbulkan gejala ringan seperti demam, batuk kering, kelelahan, dan gejala berat seperti nyeri dada, kehilangan kemampuan berbicara, dan sesak nafas (Alakus & Turkoglu, 2020). Covid-19 telah berdampak pada semua aspek kehidupan manusia secara global, baik pada aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan akan kebutuhan medis dan pelayanan, dan krisis sosial masyarakat (Duek & Fliss, 2020).
Pandemi Covid-19 juga telah berdampak sangat signifikat pada dunia pendidikan baik tingkat pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Kebijakan pemerintah untuk melakukan physical distancing dan social distancing sebagai suatu protocol kesehatan yang diharuskan oleh World Health Organization (WHO) telah mengharuskaan semua proses kegiatan belajar mengajar bagi mahasiswa dilakukan di rumah (work from home). Hal itu perlu dilakukan guna meminimalisir kontak fisik secara massal sehingga dapat memutus mata rantai penyebaran virus tersebut. Media pembelajaran melalui pembelajaran jarak jauh dengan media daring (dalam jaringan) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mencapai kompetensi pembelajaran (Anugrah, 2020).
Berbagai media pembelajaran daring dapat dilakukan seperti menggunakan Google meet, Zoom Cloud meeting, Whattapp, Webex, dan lain-lain telah memberikan peluang dan tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran. Kolaborasi jarak jauh dan pertemuan staf medis - profesional dan akademis, dilakukan secara virtual dengan menggunakan alat dan teknologi online dan digital, seperti aplikasi web, yang memfasilitasi pendidikan, pelatihan penelitian dengan meminimalkan kontak fisik dan tatap muka dengan peserta atau mahasiswa. Pengunaan media virtual ini tetap mempertahankan makna dan produktifitas
pembelajaran yang menguntungkan untuk mencapai kompetensi (Duek & Fliss, 2020).
Adanya kebijakan metode pembelajaran online ini, telah mengantarkan persepsi, peluang dan tantangan dari mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala dalam penggunaan metode yang telah dilaksanakan tersebut. Persepsi adalah tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan atau bertemu dengan kenyataan (realitas) (Démuth, 2012). Peluang adalah cara untuk mengungkapkan pengetahuan atau kepercayaan bahwa suatu kejadian akan berlaku atau telah terjadi di lingkungan masyarakat. Sedangkan tantangan adalah suatu hal atau bentuk usaha yang memiliki tujuan untuk menggugah kemampuan sesorang dan dapat dicapai sesuai kapasitas yang tersedia.
Pembelajaran virtual atau online adalah salah satu metode yang banyak digunakan pada era pandemic Covid-19. Menurut Anugrah (2020) mengatakan bahwa tujuan pembelajaran daring/online adalah adanya pencapaian kompetensi mahasiswa melalui 4C (critical thinking, creativity thinking, collaboration, and communication). Critical thinking mengarahkan mahasiswa untuk untuk dapat menyelesaikan masalah (problem solving) dalam proses pembelajaran. Creativity thinking adalah memiliki kreativitas tinggi dan mampu berpikir dan melihat suatu masalah dari berbagai sisi atau perspektif, dalam arti mengubah pembelajaran tekstual menjadi kontekstual dengan memamfaatkan berbagai sumber yang ada di masyarakat. Collaboration adalah aktivitas untuk bekerja sama dengan siapa saja dalam kehidupannya mendatang, dan communication adalah kemampuan dalam menyampaikan ide dan pikirannya secara cepat, jelas, dan efektif.
Selain peluang yang didapatkan dari pembelajaran online seperti mahasiswa dapat feasible dan accessible data dan informasi dan menguasai penggunaan alat informasi dan teknologi, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi juga telah menyebabkan semakin terbuka area pembelajaran, area tempat belajar, mencari dan mempelajari ilmu baru. Area pembelajaran bukan hanya berasal dari textbook dan media cetak, melainkan dapat dilakukan dengan mudah melalui area virtual. Mudahnya akses informasi akan menggeserkan peran buku, majalah dan koran. Hal ini akan berdampak pada peran pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran
(Hendrastomo, 2008). Kebijakan protokol kesehatan akibat Covid-19 pada tingkat Universitas Syiah Kuala telah memberikan kesempatan kepada dosen dan mahasiswa melakukan pembalajaran dalam jaringan (online) atau virtual pada semester genap tahun ajaran 2019/2020.
Tantangan pembelajaran online telah memberikan dampak yang sangat signifikan bagi proses pembelajaran mahasiswa seperti ketersediaan fasilitas akses internet, sistem aplikasi, biaya, layanan listrik, komputer atau mobile phone android, lingkungan atau perubahan cuaca, perangkat computer, waktu, gangguan jaringan, dan tantangan internal mahasiswa lainnya seperti kejenuhan dan kebosanan. Untuk itu perlu dilakukan eksplorasi melalui penelitian survei ini terhadap persepsi, peluang dan tantangan pembelajaran online selama pendemi Covid 19 pada mahasiswa Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Penelitian ini dilakukan untuk menggali persepsi, peluang dan tantangan mahasiswa tentang penggunaan metode pembelajaran online/virtual yang digunakan pada Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh sejak masa pandemi Covid-19. Penelitian diharapkan dapat memberikan masukan khususnya bagi peneliti dan Universitas Syiah Kuala dalam mengembangkan strategi metode pembelajaran online/virtual dalam mendukung pencapaian kompetensi.
Penelitian ini akan mengekplorasi persepsi, peluang dan tantangan mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala dalam menggunakan metode pembelajaran online/virtual selama pandemi Covid-19. Penelitian ini dinilai sangat penting dilakukan karena adanya perubahan kebijakan dalam penggunaan metode pembelajaran di Universitas Syiah Kuala selama pandemi Covid-19. Berdasarkan studi literatur, metode daring/online/virtual ini didapatkan adanya berbagai kemudahan, peluang, dan hambatan dalam proses pelaksanaannya. Apalagi selama pandemi Covid-19 adanya kebijakan physical distancing yang dkeluarkan oleh pemerintah dimana setiap kegiatan tatap muda harus dihindari sebagai upaya pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran dari Covid-19.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Online
Adanya pandemi Covid-19 meneyabbaka perubahan signifikan terhadap pembelajaran secara tatap muka (oflfline), dan telah menghambat proses pembelajaran secara konvensional ini sehingga diperlukan solusi yang tepat untuk menjawab permasalahan yaitu dalam jaringan (daring/online) (Sadikin & Hamidah, 2020). Pembelajaran online atau dikenal dengan pembelajaran virtual merupakan sebuah paradigma baru dalam proses pembelajaran karena proses yang dapat dilakukan dengan cara yang sangat mudah tanpa harus bertatap muka dengan kehadiran dosen dan mahasiswa di suatu ruangan kelas, sebaliknya dengan hanya mengandalkan aplikasi berbasis koneksi internet dengan pembelajaran jarak jauh (Adijaya & Santosa, 2018).
Teknologi pembelajaran merupakan media yang lahir dari revolusi industri yang digunakan untuk tujuan pembelajaran selain pengajar, buku teks dan papan tulis. Teknologi pembelajaran dipandang sebagai suatu bidang yang terlibat dalam fasilitasi belajar manusia melalui proses identifikasi sistematis, pengembangan, organisasi dan pemanfaatan berbagai sumber belajar danmelalui pengelolaan proses-proses tersebut. Teknologi pembelajaran dipandang sebagai suatu proses-proses yang mengandung arti bahwa seluruh komponen yang terlibat harus dikelola dalam suatu sistem untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Teknologi pembelajaran dipandang juga sebagai Kawasan disiplin yang mengacu pada desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan evaluasi proses dan sumber untuk belajar. Teknologi pembelajaran berfokus pada upaya memfasilitasi belajar dan memperbaiki kinerja dengan menciptakan, menggunakan dan mengelola proses dan sumber teknologi yang sesuai (Yaumi, 2018).
B. Pembelajaran Daring
Mneurut Sudarsana et al. (2020) menyatakan bahwa dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang disertai kebijakan social distancing dan physical distancing mengharuskan para dosen dan mahasiswa untuk melaksanakan pembelajaran daring.
Pembelajaran daring secara umum bertujuan memberikan layanan pembelajaran bermutu secara dalam jaringan (daring) yang bersifat masif dan terbuka untuk menjangkau audiens yang lebih banyak dan lebih luas. Pembelajaran dalam jaringan (daring) merupakan proses pembelajaran yang penerapan dari pendidikan jarak jauh secara online yang bertujuan untuk meningkatkan akses bagi peserta didik untuk memperoleh pembelajaran yang lebih baik dan bermutu. Sebab, dengan pembelajaran daring, akan memberikan kesempatan peserta didik untuk dapat mengikuti suatu pelajaran atau mata kuliah tertentu (Maulana & Hamidi, 2020).
Materi pembelajaran daring merupakan seperangkat informasi bidang ilmu yang terstruktur untuk pembelajaran yang disajikan dalam bentuk elektronik. Materi yang disajikan ini memuat berbagai bahan dari disiplin ilmu yang ada, sehingga dapat mudah dicari dan diakses tanpa terbatas oleh waktu dan tempat. Semua bahan yang disediakan dapat diakses secara bersamaan, mudah dibagi, dan kecepatan dalam pencarian. Semua mahasiswa dari berbagai macam dan jenis perguruan tinggi dapat memanfaatkan pembelajaran ini, sehingga tidak ada pemikiran negatif bagi mahasiswa terhadap perguruan tinggi yang menaunginya itu tidak berkualitas (Afrianty et al, 2020). Pembelajaran daring mempunyai manfaat, yaitu: meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan dengan memanfaatkan multimedia secara efektif dalam pembelajaran, meningkatkan keterjangkauan pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui penyelenggaraan pembelajaran dalam jaringan dan menekan biaya penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui pemanfaatan sumber daya Bersama (Bilfaqih & Qomarudin, 2015).
Materi yang ada dalam sistem pembelajaran daring berbeda dengan materi pembelajaran konvensional. Materi pembelajaran daring bersifat digital sehingga membutuhkan bantuan perangkat teknologi. Oleh karena itu, pengembangan sistem pembelajaran daring memiliki keunggulan dibandingkan sistem konvensional (Afrianti et al, 2020), yaitu:
1. Menggunakan teknologi yang murah dan tersedia saat ini. Teknologi yang digunakan hanya menggunakan reader pdf dan flash reader karena file yang disediakan berformat *.pdf fan *.swf.
2. Menggunakan teknologi yang memungkinkan interaksi langsung di laman tersebut, dan merekam jejak penggunaan materi untuk dapat membandingkan kemajuan pengguna dalam memahami materi yang disampaikan.
3. Menggunakan teknologi yang bersifat device independent, sehingga dapat diakses dengan perangkat PC, notebook, tablet, ataupun smartphone.
4. Menggunakan teknologi multimedia untuk memberikan ilustrasi yang menarik sehingga dapat menggugah peserta didik agar tertarik mempelajari materi.
5. Mendeskripsikan informasi tentang materi dalam bentuk metadata dalam bahasa extensible markup language (XML), sehingga materi lebih diakses melalui internet.
6. Mengemas materi sehingga compliant terhadap ISO/IEC TR 29163 tentang Sharable Content Object Reference Model. Sehingga materi yang ditawarkan dapat diunduh oleh siapapun dimanapun para dosen dan mahasiswa berada.
C. Karakteristik Pembelajaran Daring
Berdasar tren yang berkembang, Pembelajaran daring memiliki karakteristik yang utama menurut Bilfaqih dan Qomarudin (2015), yaitu:
1. Daring
Pembelajaran Daring adalah pembelajaran yang diselenggarakan melalui jejaring web. Setiap mata kuliah atau pelajaran menyediakan materi dalam bentuk rekaman video atau slideshow, dengan tugas-tugas mingguan yang harus dikerjakan dengan batas waktu pengerjaan yang telah ditentukan dan beragam sistem penilaian.
2. Masif Pembelajaran
Daring adalah pembelajaran dengan jumlah partisipan tanpa batas yang diselenggarakan melalui jejaring web.
3. Terbuka Sistem Pembelajaran
Daring bersifat terbuka dalam artian terbuka aksesnya bagi kalangan pendidikan, kalangan industri, kalangan usaha, dan khalayak masyarakat umum. Dengan sifat terbuka, tidak ada syarat pendaftaran khusus bagi pesertanya. Siapa saja, dengan latar belakang apa saja dan pada usia berapa saja, bisa mendaftar. Hak belajar tak mengenal latar belakang dan batas usia.
D. Persepsi Pembelajaran Online Selama Pandemi Covid-19
Persepsi mahasiswa terhadap kuliah daring di masa pandemi COVID-19 menurut penelitian Aswasulasikin (2020) adalah aktivitas sistem pembelajaran daring yang dilaksanakan terasa menjenuhkan dan membosankan, sehingga para dosen diharapkan lebih kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan media yang digunakan agar proses pembelajaran lebih menyenangkan. Daring dengan menggunakan berbagai fitur canggih tidak bisa menggantikan peran dosen melalui perkulaiahan tatap muka, karena lebih memberikan motivasi dan semangat kepada mahasiswa untuk belajar dari pada mengikuti kuliah melalui pola daring (online).
Persepsi positif mahasiswa terhadap pembelajaran daring berdasarkan aspek belajar mengajar, kapabilitas (kemampuan dosen), dan sarana dan prasarana. Namun demikian, pembelajaran daring masih terkendala oleh akses internet yang masih terbatas khususnya di daerah rural dan kondisi ekonomi mahasiswa yang terbatas sehingga tidak memiliki perangkat yang memadai untuk mengakses aplikasi pada pembelajaran daring. Saran untuk penelitian lebih lanjut agar berfokus pada efektivitas pembelajaran daring terhadap hasil belajar mahasiswa (Maulana & Hamidi, 2020).
Online Learning Perception Scale (OLPS) yang dikembangkan oleh Hung et al (2010), Wei dan Chou (2020) yaitu pengembangan instrument untuk mengukur kesiapan mahasiswa melalui skale persepsi belajar online sesuai dengan perkembangan zaman yaitu sebagai berikut sesuai dengan tabel 3.1 dibawah ini:
Table 2.1 Online Learning Perception Scale (OLPS) (Hung et al 2010, Wei & Chou, 2020).
No Online Learning Perception Scale (OLPS)
1 Pembelajaran online menyediakan berbagai sumber belajar multimedia 2 Pembelajaran online menyediakan berbagai sumber daya online
3 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk mengambil dan memperoleh lebih banyak sumber belajar
4 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk berbagi dan bertukar sumber belajar
5 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk dapat berinteraksi langsung dengan mahasiswa lainnya
6 Pembelajaran online dapat mendorong interaksi antara dosen dan mahasiswa 7 Pembelajaran online dapat memperpendek jarak antara dosen dan
mahasiswa
No Online Learning Perception Scale (OLPS) 9 Pembelajaran online memberikan peluang diskusi yang cukup
10 Pembelajaran online menyediakan alat yang mudah untuk berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya
11 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk menetapkan waktu terbaik untuk mulai perkuliahan
12 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk memutuskan lokasi terbaik untuk kuliah
13 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk berulang kali meninjau materi perkuliahan
14 Pembelajaran online mengatasi kendala waktu dan tempat
15 Pembelajaran online dapat memperluas basis pengetahuan umum saya 16 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk belajar lebih banyak tentang
pengetahuan dan berhasrat untuk belajar
17 Pembelajaran online dapat memperluas kapasitas pengetahuan akademik saya
18 Pembelajaran online adalah gaya belajar yang efektif
19 Pembelajaran online memungkinkan ide atau konsep abstrak untuk disajikan secara konkret
20 Lingkungan pembelajaran online menyebabkan lebih sedikit tekanan untuk mengejar ketinggalan jadwal perkuliahan
21 Lingkungan belajar online mengurangi tingkat stres
22 Lingkungan belajar online kurang memberi tekanan pada ujian dan penilaian 23 Lingkungan pembelajaran online dapat secara efektif mengurangi beban
pembelajaran
E. Peluang Pembelajaran Online Selama Pandemi Covid-19
Proses belajar mengajar akan berjalan efektif dan efisien apabila tersedianya media yang menunjang, penyediaan media serta metodologi pendidikan yang dinamis, kondusif serta dialogis sangat diperlukan bagi pengembangan potensi secara optimal pada peserta didik (Hayati, 2020). Hasil penelitian Sadikin dan Hamidah (2020) menunjukkan bahwa mahasiswa telah memiliki fasilitas-fasilitas dasar yang dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran daring, memiliki fleksibilitas dalam pelaksanaanya, mampu mendorong munculnya kemandirian belajar dan motivasi untuk lebih aktif dalam belajar serta pembelajaran jarak jauh mendorong munculnya perilaku social distancing dan meminimalisir munculnya keramaian mahasiswa sehingga dapat mengurangi potensi penyebaran Covid-19 di lingkungan perguruan tinggi.
Sistem perkuliahan daring memiliki kontribusi positif untuk menekan disparitas kualitas perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Beberapa indikasinya menurut Mustofa, Chodzirin, Sayekti, 2020 di antaranya yaitu:
1. Meminimalisir keterbatasan akses pendidikan tinggi yang berkualitas, karena perguruan tinggi yang ada di daerah terpencil dapat mengakses pendidikan tinggi berkualitas yang ada di kota-kota besar.
2. Memutus keterbatasan fasilitas yang selama ini dianggap sebagai salah satu kendala rendahnya kualitas pendidikan tinggi. Sistem kuliah daring tidak membutuhkan fasilitas yang super canggih dan mahal, cukup menggunakan PC, notebook, tablet, ataupun smartphone, yang saat ini harganya cukup terjangkau oleh masyarakat.
3. Menghilangkan keterbatasan pemahaman terhadap materi tertentu. Sistem kuliah daring memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dari pada sistem konvensional, karena materi ditampilkan secara digital dan dalam bentuk animasi. 4. Sistem kuliah daring memberikan akses yang luas terhadap sumber daya
pendidikan, khususnya yang ada di perguruan tinggi tekemuka.
F. Tantangan Pembelajaran Online Selama Pandemi COVID-19
Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan nyata yang harus segera dicarikan solusinya, yaitu: ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, keterbatasan kompetensi guru dan dosen dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, keterbatasan sumber daya untuk pemanfaatan teknologi pendidikan seperti jaringan internet dan keterbatasan kuota dan relasi dosen dengan mahasiswa dalam pembelajaran daring yang belum integral (Suharwoto, 2020).
Para dosen harus tetap memaksimalkan pembelajaran daring meskipun pembelajaran tatap muka mempunyai banyak kelebihan sehingga para dosen harus tetap memaksimalkan pembelajaran daring, agar proses belajar mengajar tetap terlaksana. Banyak para dosen dan mahasiswa merasakan ketidaknyamanan dalam proses pembelajaran daring dengan berbagai penyebab, seperti: ketiadaaan sarana dan prasarana, ketidakmampuan mengoperasikan perangkat maupuan situasi geografis daerah (Sudarsana,et al, 2020).
Bilfaqih dan Qomarudin (2015) menyatakan bahwa dengan mempertimbangkan tren yang berkembang di dunia dan kondisi Pendidikan di Indonesia dapat dirumuskan alasan dibutuhkannya pembelajaran daring, yaitu: 1. Kapasitas pendidikan di Indonesia, baik pendidikan dasar dan menengah,
pendidikan tinggi, maupun lembaga-lembaga workshop & pelatihan masih sangat terbatas.
2. Sebaran yang kurang merata sehingga meningkatkan biaya pendidikan/ pelatihan dan akomodasinya.
3. Kebanyakan satuan pendidikan belum memiliki sumber daya pendidikan yang memadai dan berkualitas. Sekolah, perguruan tinggi dan lembaga pelatihan yang bermutu lebih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
4. Belum dapat mewujudkan layanan pendidikan dan pelatihan yang setara dan bermutu.
5. Belum dapat menjamin pemenuhan kebutuhan dan permintaan pendidikan dan pelatihan yang bermutu. Masih banyak penduduk usia wajib belajar belum mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan.
BAB 3
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini mengikuti langkah-langkah dan konsep penelitian kuantitatif. 1. Tujuan penelitian
a. Identifikasi dan eksplorasi persepsi tentang pembelajaran online pada mahasiswa keperawatan selama pandemic Covid-19.
b. Identifikasi dan eksplorasi peluang pembelajaran online pada mahasiswa keperawatan selama pandemic Covid-19.
c. Identifikasi dan eksplorasi tantangan pembelajaran online pada mahasiswa keperawatan selama pandemic Covid-19.
2. Manfaat pennelitian a. Bagi institusi
Penelitian ini memberikan manfaat dalam mengembangkan metode, strategi pembelajaran virtual/online, dan mengurangi hambatan dalam pembelajaran online bagi dosen di Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala di masa pandemic Covid-19 dalam mencapai kompetensi.
b. Bagi Mahsiswa
Penelitian ini dapat memberikan masukan dalam mengembangkan strategi mengatasi hambatan dan meningkatkan peluang pembelajaran berbasis online bahi mahasiswa baik pada tahap pendidikan akademik dan profesi.
c. Bagi stakeholders
Hasil penelitian dapat dijadikan pedoman dalam menyusun strategi dan metode meningkatkan peluang sistem pembelajaran online dan mengurangi hambatan dalam sistem pendidikan dengan metoode pembelajaran berbasis online pada masa pandemic Covid-19.
BAB 4
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Kerja Penelitian
Kerangka konsep merupakan suatu kerangka konseptual sederhana yang disusun dan diletakkan untuk mendukung suatu penelitian. Kerangka konsep terdiri dari variabel-variabel yang akan mengarahkan atau menjadi panduan peneliti untuk menganalisis hasil penelitian (Notoadmodjo, 2010). Kerangka konsep penelitian ini dikembangkan dari teori Hung et al (2010) dan Wei dan Chou (2020) yaitu kesiapan mahasiswa terhadap pembelajaran online.
Skema 4.1 Kerangka Konsep Penelitian
B. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana persepsi pembelajaran online pada mahasiswa keperawatan selama pandemic Covid-19
2. Bagaimana peluang pembelajaran online pada mahasiswa keperawatan selama pandemic Covid-19
3. Bagaimana tantangan pembelajaran online pada mahasiswa keperawatan selama pandemic Covid-19.
C. Jenis dan Desain Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif explorative yang bertujuan untuk melihat gambaran variabel yang ada (Notoatmodjo, 2010). Tujuannya untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi Mahasiswa
Fakultas Keperawatan
Pembelajaran online selama pandemic Covid-19 1. Persepsi pembelajaran online 2. Peluang pembelajaran online 3. Tantangan pembelajaran online Persepsi: - Positif - Negatif Peluang dan tantangan: - Tinggi - Rendah
persepsi, peluang dan tantangan Pembelajaran online pada mahasiswa keperawatan selama pandemic Covid-19.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan ialah cross sectional study yaitu subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status variabel subjek pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo, 2010).
D. Populasi dan sampel 1. Pupulasi
Populasi penelitian ialah keseluruhan objek yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala angkatan 2016-2019 (4 angkatan) tahap pendidkan akdemik dan pendidikan profesi (angkatan 2016) yang saat ini menggunakan pembelajaran online selama pandemi Covid-19.
2. Sampel
Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling sampling yaitu seluruh mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala yang berjumlah 276 orang.
E. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala. 2. Waktu Penelitian
Penelitian ini mulai dilakukan pada bulan September-Oktober 2020
F. Etika Penelitian
Etika adalah ilmu yang membahas tentang perilaku sesama manusia. Etika dalam penelitian merujuk pada prinsip-prinsip etis yang diterapkan dalam kegiatan penelitian yang dimulai dari proposal penelitian hingga publikasi hasil penelitian (Notoadmodjo, 2010). Penelitian ini melalui proses uji etik oleh Komite Etik Penelitian Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala, dan dinyatakan lulus dan layak dilakukan penelitian dengan nomor 113003080620.
G. Alat Pengumpulan data
Alat pengumpulan data adalah kuesioner baku untuk variabel persepsi yang diadposi dari Online Learning Perception Scale (OLPS) dan untuk variabel peluang dan tantangan menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan studi literatur.
1. Bagian A untuk data demografi, data demografi ini meliputi data responden berupa: usia, jenis kelamin, angkatan, pengalaman belajar online, hambatan pembelajaran online.
2. Bagian B berupa kuesioner dalam bentuk skala Liket terdiri dari 5 pilihan jawaban yaitu “sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju”. Kuesioner terdiri dari 23 pernyataan untuk bagian Persepsi pembelajaran online (Online Learning Perception Scale (OLPS) yang merupakan kuesioner baku. Sedangkan untuk bagian peluang dan tantangan pembejaran online masing-masing terdiri dari 12 item penyataan yang dikembangkan oleh peneliti dari studi literatur.
H. Uji Instrumen 1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. Uji validitas ini dilakukan untuk melihat sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam mengukur suatu data (Notoatmodjo, 2010). Uji validitas adalah face dan content validity menggunakan 3 orang expert pada Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
2. Realibilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2010). pengujian dilakukan dengan menggunakan sistem komputerisasi. Berdasarkan hasil uji dengan Statistical Product and Service Solutions (SPPS). Uji reliabilitas dilakukan
pada mahasiswa profesi Keperawatan Medikal Bedah sebanyak 10 orang dengan nilai cronbach’s alpha 0,89. Sehingga kuesioner dikatakan reliabel jika nilai cronbach’s alpha lebih besar dari 0,7.
I. Teknik Pengumpulan Data
1. Tahap Persiapan Pengumpulan Data
Tahap persiapan pengumpulan data meliputi kegiatan penyelesaian proses administrasi dengan cara mendapatkan izin dari Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala.
2. Tahap Pengumpulan Data
Setelah mendapatakan izin dari Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala, selanjutnya peneliti mengumpulkan data responden dengan tahapan sebagai berikut:
a. Peneliti meminta kontak calon responden yang telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti.
b. Peneliti memperkenalkan diri, kemudian menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian kepada calon responden melalui Whatsapp. Data responden akan dijaga kerahasiaannya dengan cara tidak memberikan nama pada kuesioner dan data-data hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
c. Peneliti meminta persetujuan kepada mahasiswayang menjadi responden dengan menandatangani atau menyetujui informed consent yang telah disediakan
d. Jika calon responden setuju menjadi responden maka peneliti akan mengirimkan link untuk mengisi kuesioner secara online kepada responden untuk dijawab,
e. Setelah kuesioner terisi, peneliti memeriksa kelengkapan jawaban pada kuesioner, jika terdapat data yang belum lengkap, peneliti akan meminta responden untuk mengisi kembali hingga lengkap atau menghubungi kembali responden.
f. Peneliti mengucapkan terimakasih kepada para responden yang telah berpartisipasi dalam penelitian
g. Setelah seluruh data selesai terkumpul maka penelitian telah selesai dilakukan. Peneliti akan melaporkan kembali kepada bagian penelitian Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala untuk mendapatkan surat keterangan telah selesai melakukan penelitian
J. Pengolahan Data 1. Editing
Data diperiksa kembali oleh peneliti untuk memastikan data yang telah didapat jelas, dapat dibaca, konsisten dan lengkap.
2. Coding
Peneliti memberikan kode dalam bentuk angka pada data. Data jenis kelamin diberikan kode 1 untuk laki-laki dan kode 2 untuk perempuan, untuk Angkatan menggunakan kode 1 untuk 2016, kode 2 untuk angkatan 2017, kode 3 untuk angkatan 2018, kode 4 untuk angkatan 2019, dan kode 5 untuk mahasiswa profesi. Untuk pengalaman belajar online yang menjawab “ya” dengan kode 1 dan ”tidak” dengan kode 2.
3. Transferring
Data yang telah diberi kode dipindahkan ke dalam tabel pengolahan data sesuai dengan sub variabel yang diteliti menggunakan perangkat komputer yaitu aplikasi PSPP.
4. Tabulating
Jawaban responden dikelompokkan berdasarkan kategori dan dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi.
K. Analisa Data
1. Analisa Univariat
Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian yaitu, pelayanan pada masyarakat, pelayanan pada individu dan keluarga, pelayanan psikologis, dan pelayanan pada kelompok rentan. dengan menggunakan metode deskriptif statistik untuk menentukan mean, median, dan modus.
Selanjutnya setiap variabel dikelompokkan ke dalam kategori jenjang ordinal masing-masing dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi,
kemudian ditentukan presentase perolehan tiap-tiap kategori dengan menggunakan rumus: = 100% Keterangan: P= presentase (%) f= frekuensi teramati n= jumlah responden
BAB 5
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
A. Hasil
Penelitian ini dilakukan pada Mei-Juni 2020 pada mahasiswa tahap pendidikan akademik dan profesi di Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Hasil pengolahan data untuk persepsi, peluang, dan hambatan metode pembelajaran online pada mahasiswa Fakultas Keperawatan selama pandemi Covid-19 sebagai berikut:
Tabel 5.1 Distribusi Data Demografi Responden (n=276)
Data Demografi Frekuensi Persentase
Usia (tahun) mean (SD) 20,44 (1,56)
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 23 253 8,3 91,7 Angkatan 2015 2016 2017 2018 2019 29 25 71 75 76 10,5 9,1 25,7 27,2 27,2 Pengalaman Belajar Online
Ada Tidak ada 260 16 94,2 5,8 Hambatan Pembelajaran Online
Akses internet Media pembelajaran Metode yang digunakan Materi pembelajaran Interaksi pembelajaran Fasilitas pembelajaran 232 129 123 81 194 165 25,1 14,0 13,3 8,8 21,0 17,9
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Terhadap Persepsi Pembelajaran Online (n=276)
No Pernyataan Persepsi Frekuensi (%)
STS TS R S SS
1 Pembelajaran online menyediakan berbagai sumber belajar multimedia
6 (2,2) 56 920,3) 86 (31,2) 111 (40,2) 17 (6,2) 2 Pembelajaran online menyediakan berbagai
sumber daya online
5 (1,8) 54 (19,6) 81 (29,3) 114 (41,3) 22 (8,0) 3 Pembelajaran online memungkinkan saya
untuk mengambil dan memperoleh lebih banyak sumber belajar
32 (11,6) 81 (29,3) 84 (30,4) 72 (26,1) 2 (2,5)
4 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk berbagi dan bertukar sumber belajar
13 (4,7) 67 (24,3) 86 (31,2) 105 (38,0) 5 (1,8) 5 Pembelajaran online memungkinkan saya
untuk dapat berinteraksi langsung dengan mahasiswa lainnya 60 (21,7) 95 (34,4) 55 (19,9) 56 (20,3) 10 (3,6)
6 Pembelajaran online dapat mendorong interaksi antara dosen dan mahasiswa
40 (14,5) 88 (31,9) 86 (31,2) 56 (20,3) 6 (2,2) 7 Pembelajaran online dapat memperpendek
jarak antara dosen dan mahasiswa
21 (7,6) 46 (16,7) 83 (30,1) 100 (36,2) 26 (9,4) 8 Pembelajaran online memungkinkan saya
untuk bertemu lebih banyak teman sekelas atau teman sebaya
73 (26,4) 105 (38,0) 55 (19,9) 36 (13,0) 7 (2,5)
9 Pembelajaran online memberikan peluang diskusi yang cukup
48 (17,4) 111 (40,2) 67 (24,3) 46 (16,7) 4 (1,4) 10 Pembelajaran online menyediakan alat yang
mudah untuk berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya 28 (10,1) 80 (29,0) 98 (35,5) 66 (23,9) 4 (1,4)
11 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk menetapkan waktu terbaik untuk mulai perkuliahan 25 (9,1) 65 (23,6) 84 (30,4) 87 (31,5) 15 (5,4)
12 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk memutuskan lokasi terbaik untuk kuliah 15 (5,4) 56 (20,3) 76 (27,5) 100 936,2) 29 (10,5)
13 Pembelajaran online memungkinkan saya untuk berulang kali meninjau materi perkuliahan 10 (3,6) 37 (13,4) 85 (30,8) 122 (44,2) 22 (8,0)
14 Pembelajaran online mengatasi kendala waktu dan tempat
24 (8,7) 57 (20,7) 60 (21,7) 101 (36,6) 34 (12,3) 15 Pembelajaran online dapat memperluas
basis pengetahuan umum saya
19 (6,9) 67 (24,3) 101 (36,6) 75 (27,2) 14 (5,1) 16 Pembelajaran online memungkinkan saya
untuk belajar lebih banyak tentang pengetahuan dan berhasrat untuk belajar
21 (7,6) 88 (31,9) 91 (33,0) 69 (25,0) 7 (2,5)
17 Pembelajaran online dapat memperluas kapasitas pengetahuan akademik saya
22 (8,0) 78 (28,3) 110 (39,9) 60 (21,7) 6 (2,2) 18 Pembelajaran online adalah gaya belajar
yang efektif 103 (37,3) 89 (32,2) 52 (18,8) 28 (10,1) 4 (1,4)
No Pernyataan Persepsi Frekuensi (%)
STS TS R S SS
19 Pembelajaran online memungkinkan ide atau konsep abstrak untuk disajikan secara konkret 40 (14,5) 87 (31,5) 117 (42,4) 31 (11,2) 1 (0,4)
20 Lingkungan pembelajaran online menyebabkan lebih sedikit tekanan untuk mengejar ketinggalan jadwal perkuliahan
22 (8,0) 54 (19,6) 94 (34,1) 92 (33,3) 14 (5,1)
21 Lingkungan belajar online mengurangi tingkat stres 62 (22,5) 87 (31,5) 49 (17,8) 63 (22,8) 15 (5,4) 22 Lingkungan belajar online kurang memberi
tekanan pada ujian dan penilaian
32 (11,6) 60 (21,7) 74 (26,8) 93 (33,7) 17 (6,2) 23 Lingkungan pembelajaran online dapat
secara efektif mengurangi beban pembelajaran 45 (16,3) 83 (30,1) 89 (32,2) 48 (17,4) 11 (4,0)
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Terhadap Peluang Pembelajaran Online (n=276)
No Pernyataan Peluang Frekuensi (%)
STS TS R S SS
1 Meningkatkan pengalaman dalam proses pembelajaran menggunakan aplikasi atau plaftform pembelajaran online
7 (2,5) 26 (9,4) 61 (22,1) 147 (53,3) 35 (12,7)
2 Pembelajaran online menciptakan kreatifitas dalam membuat kombinasi antar metode pembelajaran 10 (3,6) 31 (11,2) 71 (25,7) 147 (53,3) 17 (6,2)
3 Memberikan kesempatan untuk menguasai informasi dan teknologi menggunakan aplikasi atau plaftform pembelajaran online
2 (0,7) 14 (5,1) 54 (19,6) 170 (61,6) 36 (13,0)
4 Pembelajaran online meningkatkan kesiapan menghadapi kompetensi global
7 (2,5) 21 (7,6) 61 (22,1) 147 (53,3) 40 (14,5) 5 Proses perkuliahan online bisa diakses
dimanapun tanpa harus berkumpul di kelas
7 (2,5) 12 (4,3) 27 (9,8) 151 (54,7) 79 (28,6) 6 Memberikan kesempatan untuk berpikir
kritis dan inovatif dalam menggunakan media pembelajaran online
6 (2,2) 23 (8,3) 86 (31,2) 131 (47,5) 30 (10,9) 7 Informasi pembelajaran online dapat di
rekam dan disimpan
2 (0,7) 6 (2,2) 33 12,0 155 56,2 80 29,0 8 Memberikan kesempatan untuk mengakses
sumber belajar seperti book, journal, e-library, dan e-education
5 (1,8) 6 (2,2) 39 (14,1) 163 (59,1) 63 (22,8)
9 Pembelajaran online dapat sebagai penyimpan data based dan media teleconference 5 (1,8) 9 (3,3) 57 (20,7) 168 (60,9) 37 (13,4)
10 Mengajarkan keterampilan memanajemen diri dalam pengaturan waktu dalam proses penyelesaian tugas 8 (2,9) 16 (5,8) 73 (26,4) 150 (54,3) 29 (10,5)
No Pernyataan Peluang Frekuensi (%)
STS TS R S SS
pada setiap orang (1,8) (6,2) (21,0) (49,3) (21,7) 12 Memberikan kesempatan belajar secara
individual dan kolaboratif dalam menyelesaikan tugas 7 (2,5) 17 (6,2) 74 (26,8) 144 (52,2) 34 (12,3)
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden terhadap Tantangan Pembelajaran Online (n=276)
No Pernyataan Tantangan Frekuensi (%)
STS TS R S SS
1 Ketersediaan akses internet pada saat perkuliahan online sangat terbatas
8 (2,9) 8 2,9) 27 (9,8) 87 (31,5) 146 (52,9)
2 Membutuhkan biaya yang besar untuk membeli kuota internet karena proses perkuliahan online yang panjang
3 (1,1) 5 (1,8) 6 (2,2) 46 (16,7) 216 (78,3)
3 Keterbatasan ketersediaan sistem aplikasi yang digunakan untuk perkuliahan online, seperti: aplikasi zoom meeting, google meeting, dan Webex
6 (2,2) 32 (11,6) 35 (12,7 102 (37,0) 101 (36,6)
4 Keterbatasan komputer atau mobile phone android yang dimiliki sehingga mangganggu proses perkuliahan online
12 (4,3) 49 (17,8) 38 (13,8) 88 (31,9) 89 (32,2)
5 Lingkungan seperti perubahan cuaca mempengaruhi pembelajaran online
3 (1,1) 5 (1,8) 15 (5,4) 53 (19,2) 200 (72,5)
6 Ketersediaan layanan listrik sangat mendukung pembelajaran online
194 (70,3) 56 (20,3) 18 (6,5) 3 (1,1) 5 (1,8)
7 Ketersediaan perangkat komputer dapat mempengaruhi pembelajaran online
154 (55,8) 87 (31,5) 26 (9,4) 8 (2,9) 1 (0,4)
8 Gangguan internet menyebabkan audio atau video yang tidak jelas selama proses perkuliahan online 3 (1,1) 0 (0) 8 (2,9) 36 (13,0) 229 (83,0)
9 Terbatas waktu dalam melakukan diskusi terhadap topik yang dibicarakan selama proses perkuliahan online
8 (2,9) 8 (2,9) 24 (8,7) 92 (33,3) 144 (52,2)
10 Keterbatasan waktu dalam mengajukan pertanyaan dan diskusi selama proses perkuliahan online 9 (3,3) 15 (5,4) 30 (10,9) 102 (37,0) 120 (43,5)
11 Tidak fokus dalam memahami topik yang dibicarakan selama proses perkuliahan online 5 (1,8) 11 (4,0) 30 (10,9) 82 (29,7) 148 (53,6)
12 Merasa jenuh, bosan, dan kurang motivasi pada saat proses perkuliahan online
3 (1,1) 8 (2,9) 31 (11,2) 75 (27,2) 159 (57,6)
Tabel 5.5 Persepsi Pembelajaran Online Mahasiswa Keperawatan Selama Pandemi Covid-19 (n=276)
Persepsi Frekuensi Persentase
Positif 139 50,4
Negatif 137 49,6
Total 276 100
Tabel 5.6 Peluang Pembelajaran Online Mahasiswa Keperawatan Selama Pandemi Covid-19 (n=276)
Peluang Frekuensi Persentase
Tinggi 142 51,4
Rendah 134 48,6
Total 276 100
Tabel 5.7 Tantangan Pembelajaran Online Mahasiswa Keperawatan Selama Pandemi Covid-19 (n=276)
Tantangan Frekuensi Persentase
Tinggi 139 50,4
Rendah 137 48,6
Total 276 100
B. Pembahasan
1. Persepsi mahasiswa tentang pembelajaran online
Persepsi merupakan proses penginterpretasian stimulus yang diterima oleh panca indera menjadi suatu pemahaman. Persepsi yang ini kemudian menggerakkan mahasiswa untuk dapat mengatur dan mengelola dirinya dalam kegiatan perkuliahan daring. Mahasiswa perlu memiliki ketrampilan mengenai cara belajar, proses berpikir, hingga memotivasi diri untuk mencapai tujuan belajar (Zhafira, Ertika, & Chairiyaton, 2020). Perkuliahan daring atau online learning sampai saat ini masih dianggap sebagai terobosan atau paradigma baru dalam kegiatan belajar mengajar dimana dalam proses kegiatan belajar mengajar karena antara mahasiwa dan dosen tidak perlu hadir ruang kelas. Mereka hanya mengandalkan koneksi internet untuk melakukan proses kegiatan belajar dan proses tersebut dapat dilakukan dari tempat yang berjauhan (Adijaya & Santosa, 2018).
Dari hasil analisa angket didapatkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap interaksi mahasiswa dalam pembelajaran online baik dengan dosen dan sesama mahasiswa sendiri sebagian besar menjawab tidak setuju bahwa pembelajaran online memudahkan interaksi dengan mahasiswa lainnya (34,4%), mendorong interaksi antara dosen dan mahasiswa (31,9%), pembelajaran online memungkinkan bertemu banyak teman (38,0%), dan pembelajaran online menyediakan waktu diskusi yang cukup (40,2%). Dari hasil penelitian maka dapat dilihat bahwa pembelajaran online tidak memberikan kemudahan dalam berinteraksi pada saat pembelajaran berlangsung karena keterbatasan waktu, ruang gerak dan media yang dapat menghambat proses interaksi dan komunikasi. Hal ini dapat menyebaban tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang diingin dicapai pada setiap capaian pembelajaran. Selain itu keterbatasan komunikasi antara sesama mahasiswa sendiri dapat menghambat kegiatan diskusi pada saat mereka melakukan pembelajaran berkelompok sehingga tugas tidak terselesaikan dengan baik.
Hasil penelitian ini didukung oleh Adijaya & Santosa (2018) bahwa dalam pembelajaran online, interaksi antara mahasiswa dan dosen sangat penting untuk membangun komunikasi dalam proses belajar mengajar. Keterbatasan komunikasi dalam pembeajaran online menyebabkan proses konsultasi dengan dosen oleh mahasiswa dalam setiap penyelesaian masalah belajar semakin sulit sehingga tujuan belajar yang diinginkan tidak tercapai. Selain itu terhambatnya proses interaksi dan komunikasi dengan sesama mahasiswa menyebabkan sering terjadinya miskomunikasi dan proses diskusi pada saat belajar mandiri tidak tercapai dengan baik (Adijaya & Santosa, 2018).
Sedangkan hasil analisa angket terhadap sumber dan lingkungan belajar, sebagian besar pernyataan banyak yang menjawab ragu-ragu yaitu untuk pembelajaran online memperluas basis pengetahuan (36,6%), pembelajaran online memberi kesempatan belajar lebih banyak (33,0%), pembelajaran online meningkatkan pengetahuan (39,9%), pembelajaran online menyediakan konsep belajar secara konkret (42,4%), pembelajarn online memudahkan mengikuti perkuliahan yang tertunda (34,1%), pembelajaran online mengurangi beban pembelajaran (32,2%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keraguan yang
disampaikan oleh mahasiswa adalah sesuai dengan kenyataan yang dihadapi mahasiswa dimana kondisi pembelajaran online dapat meningkatkan permasalahan mahasiswa dalam proses pembelajaran yang kadang kala ada mahasiswa yang tidak memahami suatu materi dan sangat sulit untuk dia bertanya kepada dosen karena keterbatasan waktu pada saat proses belajar dan koneksi jaringan yang tidak mendukung. Hal demikian bisa menyebabkan minat mahasiswa untuk belajar menjadi menurun sehingga kesempatan untuk mempelajari materi lain secara lebih luas juga menjadi berkurang. Selain itu matakuliah mahasiswa keperawatan yang menggunakan praktek dilaboratorium sangat sulit dilakukan secara online sehingga komptensi mahasiswa tidak tercapai untuk beberapa tujuan pembelajaran.
Hasil penelitian ini sejalan dengan peneltian yang dilakukan oleh Adijaya & Santosa (2018) bahwa lingkungan belajar di perkuliahan online kurang mendukung suasana belajar disebabkan karena mahasiswa mengalami kesulitan memahami materi dan bertanya secara langsung kepada dosen atau mahasiswa lainnya sehingga hal ini menyebabkan menurunnya semangat mahasiswa dalam memahami materi dalam perkulianan online seperti pada matakuliah yang yang perlu penjelasan lebih rinci/menggunakan rumus misalnya statistik, matematikan dan sebagainya. Berbeda dengan perkuliahan tatap muka, mahasiswa dapat bertanya langsung kepada dosen, dan jika mereka belum memahami maka mereka dapat bertanya lagi sampai menemukan jawaban yang mereka inginkan.
Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan persepsi pembelajaran online mahasiswa berada pada kategori positif (50,4%). Hal ini didukung oleh beberapa item pernyataan yang memiliki dampak positif bagi mahasiswa dalam pembelajaran online yaitu tersedianya berbagai sumber belajar, meminimalkan waktu dan tempat, mengurangi tekanan pada saat ujian dan penilaian, dan meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam membuat media pembelajaran. Sedangkan kategori negatif (49,6%) dari persepsi pembelajaran online tidak jauh berbeda dengan dengan kategori positif. Hal ini disebabkan karena sebagian responden mengatakan bahwa pembelajaran online banyak menghabiskan biaya kuota internet, akses internet yang sangat terbatas bagi yang tinggal jau dari perkotaan, interaksi dengan dosen dan mahasiswa lainnya yang sangat terbatas,
dan sulit memahamai pembelajaran yang disampaikan oleh dosen maupun mahasiswa pada saat kegiatan pembelajaran online.
Berkaitan dengan adanya wabah Covid-19 pada awal tahun 2020, pemerintah kemudian mengeluarkan himbauan untuk melakukan kegiatan pembelajaran dari rumah. Hal ini dilakukan demi memutus rantai penyebaran virus dan menjaga keamanan serta keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik. Dengan adanya himbauan tersebut maka proses pembelajaran pun dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan teknologi dan media internet (Zhafira, Ertika, & Chairiyaton, 2020). Di era globalisasi seperti sekarang ini dimana mobilitas dan aktivitas manusia sangat tinggi, koneksi internet menjadi hal yang sangat dibutuhkan dan sulit dipisahkan dalam kehidupan manusia untuk membantu berbagai macam kegiatan mulai dari kegiatan ekonomi, budaya, pertahanan dan lain sebagainya (Adijaya & Santosa, 2018).
Faktor lainnya adalah media pembelajaran yang memiliki kelebihan dan kekurangan dalam persepsi mahasiswa sendiri yaitu sebagian besar mahasiswa lebih memilih menggunakan WhatsApp sebagai media pembelajaran karena memberikan kemudahan dalam mengakses dan dapat digunakan dimana saja dibandingkan dengan media pembelajaran lainnya. Selain itu biaya yang sangat minimal dan dapt mengakses informasi pada kondisi jaringan yang standar. Sesuai dengan hasil penelitian Sugeng, Surtikanti, dan Quinones (2020) menemukan bahwa sebagian responden mengatakan bahwa WhatsApp paling kompatibel karena semua mereka memilikinya dan tidak perlu menginstal lebih banyak aplikasi yang sulit digunakan oleh ponsel tertentu dan WhatsApp masih bisa digunakan pada sinyal yang tidak stabil sedangkan zoom dianggap sebagai platform yang sulit karena sebagian responden tidak memiliki gadget yang sesuai dan dengan data internet yang lebih besar.
Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran online menjadi salah satu alternatif metode pembelajaran pada saat pandemic covid-19 sekarang ini dengan menggunakan berbagai platform yang tersedia dan disesuaikan dengan kondisi dari mahasiswa yang terlibat di dalam kegiatan pembelajaran. Kondisi pembelajaran online tidaklah menyenagkan seprti perkuliahan tatap muka. Banyak kekurangan yang digambarkan oleh mayoritas
responden adalah keterbatasan akses internet di beberapa daerah sehingga kualitas jaringan tidak bagus dan menyebabkan komunikasi dan interaksi selama kegiatan pembelajaran menjadi terganggu. Selain itu beberapa materi yang tidak bisa dilakukan melalui pembelajaran online seperti kegiatan praktikum di laboratorium maupun praktek di rumah sakit menyebabkan mahasiswa tidak mendapatkan kompetensi seperti yang diharapkan.
2. Peluang mahasiswa tentang pembelajaran online
Peluang merupakan situasi atau kondisi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor luar organisasi yang bersifat positif, seperti: banyaknya kerjasama yang dilakukan dengan berbagai pihak, jenis pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan minat dan kompetensi, memiliki jaringan sosial media yang dapat dimanfaatkan untuk menjalin kerja sama dan mampu menghadapi perubahan zaman, salah satunya yaitu kesiapan dalam menghadapi perkembangan teknologi serta berbagai perubahan yang akan terjadi yang dapat memengaruhi cara kerja dengan memanfaatkan perubahan yang terjadi, bertujuan untuk dapat membantu organisasi mencapai atau mampu melampui pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan (Fahmi, 2013; Rangkuti, 2015). Barreto (2017) menyatakan bahwa peluang merupakan situasi atau kondisi yang relevan untuk sebuah aktivitas yang positif dan menyenangkan, mempunyai keuntungan dan kekuatan yang mendorong untuk suatu kegiatan berlangsung.
Peluang pembelajaran Online mahasiswa keperawatan Unversitas Syiah Kuala selama masa pandemi Covid-19 berada pada kategori peluang yang tinggi (51,4%), dengan usia rata-rata responden berada di kisaran 20 tahun yang merupakan masa generasi Z. Generasi Z yang lebih dikenal sebagai generasi yang mempunyai karakter ramah dan akrab dengan penggunaan teknologi dan memiliki informasi yang lebih mudah dalam aktivitas dibandingkan dengan generasi sebelumnya (Barber, 2020).
Beberapa pernyataan responden yang berkaitan dengan peluang dalam pembelajaran online, diantaranya yaitu hasil penelitian ini menunjukkan hasil bahwa 53,3% respnden setuju dengan pembelajaran online dapat meningkatkan kesiapan dalam menghadapi kompensi global. Hasil penelitian ini didukung oleh
Indrawati (2020) menyatakan bahwa selama masa pandemi Covid-19 dipengaruhi oleh perkembangan teknologi pendidikan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 yang semestinya dapat dimanajemen lebih optimal sehingga dapat menjadi peluang dalam menghadapi transformasi teknologi digital.
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa 29,0% responden menjawab sangat setuju dengan informasi pembelajaran online dapat direkam dan sebanyak 54,3% responden menyatakan setuju bahwa pembelajaran online mengajarkan ketrampilan memanajemen diri dalam pengaturan waktu dalam proses penyelesaian tugas. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Basilaia (2020) menyatakan bahwa dalam masa penyebaran virus pandemi Covid-19 diperlukan platform pembelajaran online, yaitu video konferensi yang mampu menampung 40 hingga 50 mahasiswa, tetap dapat melakukan proses diskusi dengan mahasiswa, koneksi internet yang baik, kuliah dapat diakses di ponsel (android) juga dan tidak hanya laptop, kemungkinan dapat menonton kuliah yang sudah direkam, dan tercapainya umpan balik yang cepat dari mahasiswa dengan pengumpulan tugas tepat waktu.
Pada penelitian menunjukkan bahwa 28,6% responden sangat setuju dengan proses perkuliahan online bisa diakses dimanapun tanpa harus berkumpul di kelas. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Firman dan Rahayu (2020) menunjukkan bahwa mahasiswa telah memiliki fasilitas-fasilitas dasar yang dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran online, pembelajaran online memiliki fleksibilitas dalam pelaksanaannya dan mampu mendorong munculnya kemandirian belajar, memotivasi untuk lebih aktif dalam belajar sehingga pembelajaran jarak jauh sehingga mendorong munculnya perilaku social distancing dan meminimalisir munculnya keramaian mahasiswa sehingga dianggap dapat mengurangi potensi penyebaran Covid-19 di lingkungan kampus.
Liguori & Winkler (2020) menyatakan bahwa dunia pendidikan di seluruh dunia harus menghadapi perubahan karena wabah pandemi Covid-19, yaitu dengan cara harus melakukan proses adaptasi yang cepat dalam proses pembelajaran online. Peluang pembelajaran online selama masa krisis wabah pandemi Covid-19 beralih pada model pembelajaran online (Favale et al., 2020). Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa 53,3% responden setuju bahwa
pembelajaran online dapat meningkatkan pengalaman dalam proses pembelajaran menggunakan aplikasi atau platform pembelajaran online dan juga dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 61,6% responden setuju dengan pembelajaran online dapat memberikan kesempatan untuk menguasai informasi dan teknologi menggunakan aplikasi atau platform pembelajaran online. Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian dari Moreno et al., (2017) menyatakan bahwa platform pembelajaran dalam pendidikan tinggi jarak jauh harus disesuaikan dengan pengetahuan dan praktik lingkungan virtual dari para mahasiswanya yang menunjukkan bahwa persepsi positif dari mahasiswa dalam manfaat dan kemudahan yang efektif dalam menggunakan platform e-learning. Penelitian ini didukung oleh hasil dari penelitian Cacheiro-Gonzalez et al., (2019) menyatakan bahwa mahasiswa biasanya menggunakan Plattform pembelajaran seperti forum, chat dan web-conference, kemudian mahasiswa menyatakan adanya keuntungan platform pembelajaran, yaitu dapat meningkatkan motivasi dan saling bertukar informasi dengan sesama mahasiswa, ketersediaan bahan ajar dan sebagai pembelajaran mandiri juga dapat meningkatkan interaksi antara dosen dengan mahasiswa.). Proses pembelajaran online bisa memanfaatkan produk dari Google, seperti: Gmail, Google Forms, Calendars, G-Drive, Goggle Hangout, Google Jam board and Drawing, Google Classroom dan Open Board Software (bukan produk Google, namun membantu dalam merekam pertemuan dalam bentuk file) yang dianggap berhasil digunakan sebagai alternatif untuk menggantikan kelas tatap muka langsung (Basilaia, 2020).
Krisis pandemi Covid-19 memberikan peluang kepada dosen untuk mengembangkan inovasi pendagogis dan membuat menyajikan kurikulum pengajaran berbasis digital, salah satunya institusi akademis dapat mengajarkan dan membimbing mahasiswanya dalam mengakses teknologi e-learning, maupun dapat mempraktekkan teknologi yang mampu mendesain berbagai program online yang fleksibel, untuk meningkatan kompetensi mahasiswa dalam keterampilan memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan beradaptasi dengan sesama mahasiswa (Dhawan, 2020). Pada penelitian ini sekitar 47,5% responden menjawab setuju karena pembelajaran online dapat memberikan kesempatan untuk berpikir kritis dan inovatif dalam menggunakan media
pembelajaran online. Selanjutnya hasil penelitian ini menunjukkan 53,3% responden setuju dengan pernyataan pembelajaran online menciptakan kreatifitas dalam membuat kombinasi antar metode pembelajaran online. Hasil penelitian ini juga didukung oleh Dhawan (2020) menyatakan bahwa program online harus dirancang oleh dosen sebagai pendidik sedemikian rupa sehingga lebih meningkatkan daya kreatifitas, interaktif dan relevan, seperti melakukan perekaman video ceramah, pengujian konten dan selalu menyiapkan rencana lain agar proses belajar mengajar tidak terhambat dan berlangsung semaksimal mungkin.
Masa pandemi Covid-19 perpustakaan mengambil peluang dengan mengubah sistem layanan perpustakaan secara online melalui konsep digital library, yang dapat diakses melalui website seperti: digilib, library, lib atau aplikasi yang dapat diakses apabila terdapat jaringan internet untuk memenuhi kebutuhan informasinya, seperti: memperbanyak koleksi e-book maupun e-journal yang didapatkan melalui kerjasama antarperpustakaan, selain itu ditambah dengan adanya layanan penulusuran katalog buku, termasuk layanan cek similarity indeks melalui software Turnitin, layanan Ask Librarian dalam memaksimalkan komunikasi informasi (Suharso et al., 2020). Responden pada penelitian ini menyatakan setuju (59,1%) bahwa pembelajaran online dapat memberikan kesempatan untuk mengakses sumber belajar, seperti: e-book, e-journal, e-library dan e-education. Hasil dari penelitian tersebut didukung oleh masa pandemi global yang telah mempengaruhi layanan perpustakaan digital, pengguna dan perpustakaan profesional yang menyediakan layanan dengan berbagai cara unik, kreatif dan kolaboratif, yaitu dengan menyediakan konten elektronik dan layanan onlin yang lebih banyak dan gratis berkualitas tinggi, salah satunya dengan cara menyediakan textbook gratis, mempromosikan materi open educational resources (OER) (Mehta & Wang, 2020).
3. Tantangan mahasiswa tentang pembelajaran online
Adanya pandemi Covid-19 pada Desember 2019 hingga saat ini telah menjadi kejadian dramatis, dimana telah merubah semua aspek kehidupan manusia termasuk dunia pendidikan terhadap metode pembelajaran pada berbagai
level pendidikan (Marshall & Wolanskyj-spinner, 2020). Pandemi Covid-19 telah berevolusi dari pengaturan offline ke online dengan akses internet yang menyediakan pendidikan jarak jauh dan menjadikan pembelajaran online sebagai metode pembelajaran yang umum di seluruh dunia (Martin et al., 2020).
Adanya kebijakan physical distancing untuk mencegah penyebaran Covid-19 telah mengharuskan pembelajaran melalui metode online. Pembelajaran online mengacu pada pembelajaran yang menggunakan internet baik secara lingkungan synchronous atau asynchronous dengan melibatkan instruktur dan mahasiswa lainnya sesuai tujuan pembelajaran, pada waktu dan tempat tertentu. Pembelajaran online dinilai sangat fleksibel dalam waktu, tempat, mudah, akses yang efektif, dan biayanya murah (Dong et al., 2020). Pada metode pembelajaran online terdapat dampak positif dan negatif dimana kedua dampak tersebut dianggap sebagai suatu tantangan.
Tantangan adalah bentuk usaha yang memiliki tujuan untuk menggugah kemampuan seseorang. Tantangan adalah kemampuan untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah, dan adanya rangsangan untuk bekerja lebih giat. Sedangkan hambatan adalah usaha yang berasal dari dalam diri sendiri yang memiliki tujuan untuk melemahkan dan menghalangi pencapaian tujuan yang diharapkan (Prayetno, 2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan pembelajaran dengan metode online pada era pandemic Covid-19 pada mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala adalah berada pada tantangan tinggi (50,4%). Berdasarkan hasil penelitian, bentuk tantangan pembelajaran online yang dihadapi mahasiswa selama pandemic Covid-19 adalah akses internet (25,1%), interaksi pembelajaran (21,0%), fasilitas pembelajaran (17,9%), media pembelajaran (14,0%), metode yang digunakan (13,3%), dan materi pembelajaran (8,8%).
Hasil ini menunjukkan bahwa tiga tantangan terbesar adalah masalah akses internet (25,1%), interaksi pembelajaran (21%), dan fasilitas pembelajaran (17,9%). Akses internet atau pembelajaran berbasis online adalah media pembelajaran yang sangat utama digunakan pada masa pandemic Covid-19. Adanya kebijakan pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus Sar-Cov 2 atau penyakit Covid-19 melalui physical distancing dan social distancing telah
mengubah metode pembelajaran dari berbasis offline menjadi online. Menurut Setyosari (2012) adanya perkembangan teknologi informasi berdampak pada proses pembelajaran yang semakin efektif dengan menggunakan pembelajaran berbasis jaringan komputer (computer-based technology). Media dan teknologi yang diadopsi sebagai fasilitasi dalam pembelajaran open and distance learning, didapatkan juga tantangan dengan kesediaan untuk menggunakan model pembelajaran dari perspektif mahasiswa (Arulogun et al., 2020). Selanjutnya, pada era digital dan pandemic Covid-19, lembaga pendidikan semakin mempromosikan pembelajaran online, yang mengakibatkan pergeseran dari kelas tatap muka tradisional (offline) ke pembelajaran jarak jauh (online) (Dong et al., 2020).
Pada penelitian ini ditemukan adanya 52,9% responden mengatakan sangat setuju dengan keterbatasan akses internet pada saat proses pembelajaran. Akses internet dinilai sebagai tantangan terbesar dalam penelitian dengan menggunakan metode online ini. Walaupun responden berada pada usia rata-rata usia 20,44 tahun dimana berada pada usia remaja dan usia milenial yaitu adanya kemampuan untuk menggunakan akses internet (web-based) yang sangat baik. Namun yang menjadi tantangan akses internet dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor geografis, lingkungan, perangkat alat (laptop, smartphone), finansial, dan kualitas layanan listrik. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Arulogun et al., (2020) mengatakan penggunaan akses internet dalam proses pembelajaran distance learning terdapat 39,3% menyatakan sangat setuju dan 38.3% menyatakan setuju dengan ketersedian internet dan kekuatan sinyal sebagai tantangan pembelajaran.
Kondisi geografis dapat menjadi tantangan yang sangat penting dalam pembelajaran online ini. Adanya kebijakan physical distancing dan edaran Rektor Universitas Syiah Kuala untuk melakukan pembelajaran berbasis dalam jaringan (daring/online) pada era pandemi Covid-19 yang mengharuskan semua mahasiswa untuk kembali kedaerahnya masing-masing dan belajar dari rumah. Kondisi ini telah menyebabkan perubahan dalam rentang jarak dan waktu lokasi tempuh yang berbeda-beda dengan tempat tinggal mahasiswa sehingga faktor geografis sebagai tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran online ini. Selanjutnya untuk
tantangan faktor lingkungan menunjukkan bahwa 72,5% menyatakan setuju bahwa lingkungan seperti perubahan cuaca mempengaruhi pembelajaran online. Hal ini sejalan dengan pendapat Arulogun et al., (2020) mengatakan bahwa kekuatan dan sinyal jaringan pada kondisi daerah tertentu mempunyai efek terhadap kualitas kelancaran internet, fasilitas online dan channel yang disediakan. Tantangan kedua yang didapatkan dalam penelitian ini adalah interaksi pembelajaran (21%). Interaksi pembelajaran adalah kegiatan timbal balik antara pengajar dan peserta didik. Interaksi pembelajaran berkaitan dengan komunikasi yang menggunakan hubungan dengan beberapa arah dalam proses pembelajaran. Menurut Nasriaika (2013) menyatakan bahwa interaksi dalam pembelajaran terdiri dari komunikasi satu arah, dua arah, dan banyak arah. Proses pendidikan memiliki ciri: 1) ada tujuan yang ingin dicapai, 2) ada bahan/pesan yang menjadi isi interaksi, 3) ada pelajaran yang aktif, 4) ada guru yang melaksanakan, 5) ada metode untuk mencapai tujuan, dan 6) ada situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berlangsung dengan baik. Selanjutnya, Baccour et al., (2020) melaporkan bahwa metode pembelajaran online selama Covid-19 meningkatkan performance mahasiwa. Metode pembelajaran online dan face to face keduanya memberikan peningkatan performance secara signifikan pada mahasiswa pada masa pandemic Covid-19. Walaupun mayoritas partisipan menginginkan metode pembelajaran face-to-face, metode pembelajaran online sangat dipengaruhi oleh motivasi, self-efficacy, dan kemampuan menggunakan teknologi adalah poin penting dalam meningkatkan pengetahuan dan performance akademik mahasiswa. Metode pembelajaran online selama pandemic memberikan banyak keuntungan dibandingkan metode offline (Baccour et al., 2020). Pada penelitian ini, tantangan interaksi pembelajaran dengan menggunakan metode online adalah sesuatu hal baru bagi mahasiswa karena menggunakan media daring seperti Zoom cloud meeting, Google meet, Webex, dan lain-lain. Metode ini dianggap sebagai tantangan dari pembelajaran offline dimana banyak menggunakan tatap muka secara langsung. Mahasiswa harus dapat menyiapkan dan menggunakan media pembelajaran online yang disiapkan oleh dosen/tutor selama proses pembelajaran. Hal ini menjadi tantangan pembelajaran karena metode ini adalah sesuatu hal yang baru yang harus mereka hadapi dan digunakan di era pandem Covid-19. Hal