• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, HASIL PENELITIAN, DAN ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA, HASIL PENELITIAN, DAN ANALISIS"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

KAJIAN PUSTAKA, HASIL PENELITIAN, DAN ANALISIS

A. KAJIAN PUSTAKA 1. Pengertian Anak

Berbicara tentang anak jika ditinjau dari aspek yuridis, maka pengertian anak menurut pasal 1 Konvensi Anak merumuskan tentang pengertian anak sebagai setiap manusia yang berusia dibawah 18 tahun kecuali berdasarkan Undang-Undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal.14 Di indonesia sendiri terdiri dari beberapa pengertian tentang anak menurut peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

a. Dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dijelaskan dalam pasal 45 KUHP, anak dapat dikategorikan sebagai yang belum berumur 16 tahun.15 Apabila seorang anak tersebut terlibat dalam perkara pidana maka hakim dapat memerintahkan supaya anak dikembalikan kepada orang tuanya atau walinya, atau memerintahkan supaya diserahkan kepada pemeritah untuk dilakukan pembinaan dengan tidak dikenakan sanksi pidana.

b. Menurut Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) dalam pasal 330 KUHPerdata memberikan penjelasan bahwa orang belum dewasa mereka yang belum mencapai umur genap 21 tahun dan tidak lebih dahulu telah kawin.16

c. Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, anak merupakan generasi muda penerus bangsa yang memiliki peran yang strategis dan sifat khusus dijelaskan dalam pasal 1 ayat 1 merumuskan bahwa anak adalah seseorang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.17

14 Chandra Gautama, Konvensi Hak Anak, (Jakarta: LSPP, 2000) hlm. 21.

15 Pasal 45 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

16 Pasal 330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

17 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Perlindungan Anak.

(2)

11 2. Pengertian Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan suatu dasar pokok dalam menjatuhi pidana kepada orang yang telah melakukan perbuatan pidana, wajib dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukannya, berdasarkan asas legalitas diatur dalam pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Principle of legality) asas yang menentukan bahwa tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam pidana jika tidak ditentukan terlebih dahulu dalam perundang-undangan, tidak ada delik, tidak ada pidana tanpa peraturan lebih dahulu (Nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali).18 Tindak pidana merupakan suatu unsur kesalahan yang dilakukan terhadap seseorang dalam melakukan suatu tindak pidana. Tindak pidana dapat diartikan dimana ada kesalahan antara keadaan dengan perbuatannya yang menimbulkan celaan harus berupa kesengajaan atau kealpaan.

Kesengajaan perbuatan yang dikehendaki, sedangkan kealpaan perbuatan yang tidak dikehendaki. Kesalahan (schuld) yang dapat menyebabkan terjadinya suatu tindak pidana karena seseorang telah melakukan suatu perbuatan yang bersifat melawan hukum sehingga atas perbuatannya maka seseorang tersebut harus mempertanggungjawabkan segala bentuk tindak pidana yang telah dilakukannya untuk dapat diadili, dan jika telah terbukti benar bahwa telah terjadinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang tersebut maka dengan begitu dapat dijatuhi hukuman pidana sesuai dengan pasal yang mengaturnya.

3. Tindak Pidana Pencurian

Pencurian menurut KBBI berasal dari kata curi yang mendapat awalan pen dan akhiran an.19 Dapat dikatakan bahwa tindak pidana pencurian dilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau diam-diam atau tidak dengan jalan yang sah dan tidak dengan diketahui orang lain perbuatan yang dilakukannya. Dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengelompokkan tindak pidana pencurian kedalam klasifikasi kejahatan yang terdapat dalam buku ke-2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) diatur mulai dari Pasal 362 sampai dengan Pasal 367 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP). Delik pencurian terbagi ke dalam beberapa jenis, yaitu:

18 Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

19 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, (http://.web.id), diakses pada tanggal 9 februari 2022.

(3)

12 a). Pencurian biasa

Istilah “pencurian biasa” digunakan oleh beberapa ahli hukum pidana untuk menunjuk pengertian “pencurian dalam arti pokok”. Tindak pidana pencurian diatur dalam Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang rumusannya sebagai berikut: Barang siapa mengambil barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. Unsur pencurian biasa yaitu mengambil, suatu barang, yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum.20

b). Pencurian ringan

Pencurian ringan memiliki unsur-unsur yang dapat meringankan sanksi pidana yang sebelum mengambil keputusan ditambah dengan unsur-unsur lain (yang meringankan) ancaman pidananya. “Perbuatan yang dijelaskan dalam Pasal 362, pasal 363 butir 4, dan Pasal 363 butir 5, apabila tidak dilakukan dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, jika harga barang yang dicuri tidak lebih dari dua ratus lima puluh rupiah, diancam karena pencurian ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah”. Berdasarkan rumusan Pasal 364 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) maka unsur-unsur pencurian ringan terdiri dari:

1. Pencurian dalam bentuknya yang pokok (Pasal 362 (KUHP).

2. Pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama; atau 3. Tindak pidana pencurian, yang untuk mengusahakan masuk ke dalam tempat kejahatan atau untuk mencapai benda yang hendak diambilnya, orang yang bersalah telah melakukan pembongkaran, pengerusakan, pemanjatan atau telah memakai kunci palsu, perintah palsu atau jabatan palsu. Dapat dilakukan dengan syarat: Tidak dilakukannya dalam sebuah tempat kediaman/rumah; nilai dari benda yang dicuri tidak lebih dari dua ratus lima puluh rupiah.

20 Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

(4)

13 c). Pencurian dalam keluarga

Pencurian dalam keluarga sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 367 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) dijelaskan bahwa baik pelaku maupun korban masih dalam lingkup satu keluarga, misalnya yang terjadi, apabila seorang suami atau istri melakukan (sendiri) atau membantu (orang lain) melakukan pencurian terhadap harta benda istri atau suaminya.21

d). Pencurian Dengan Pemberatan

Pencurian dengan pemberatan yang diatur dalam Pasal 363 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), memiliki unsur-unsur yang terkandung di dalam pasal ini ada unsur-unsur pemberatan, yang ancaman hukuman lebih berat yaitu penjara paling selama-lamanya 7 (tujuh) tahun22. Diklasifikasi sebagai berikut:

i). Pencurian Ternak di dalam Pasal 363 ayat (1) ke-1 KUHP, unsur yang memberatkan ialah unsur “ternak”. Berdasarkan ketentuan Pasal 101 KUHP, “ternak” diartikan hewan berkuku satu, hewan pemamah biak dan babi. Hewan pemamah biak misalnya kerbau, sapi, kambing, dan sebagainya. Sedangkan hewan berkuku satu misalnya kuda, keledai, dan lain sebagainya. Unsur “ternak” menjadi unsur yang memperberat kejahatan pencurian, karena menurut masyarakat Indonesia, ternak merupakan harta kekayaan yang penting dan berharga.

ii). Pencurian pada waktu ada kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang (Pasal 363 ayat (1) ke-2 KUHP).

Untuk berlakunya ketentuan (Pasal 363 ayat (1) ke-2), bahwa barang yang dicuri itu barang-barang yang terkena dampak dari bencana,dan juga meliputi barang-barang yang ada disekitarnya yang karena ada bencana tidak terjaga oleh pemiliknya. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa antara terjadinya bencana dengan pencurian yang terjadi harus saling berhubungan. Artinya, pencuri mempergunakan kesempatan adanya bencana untuk melakukan pencurian.

21 Pasal 367, Ibid.

22 Pasal 363, ibid.

(5)

14 iii). Pencurian di waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada di situ tidak diketahui atau dikehendaki oleh yang berhak (Pasal 363 ayat (1) ke-3 KUHP).

Ad. 1. Unsur “malam” Berdasarkan Pasal 98 KUHP yang dimaksud dengan

“malam” ialah waktu antara matahari terbenam dan matahari terbit.23

Ad. 2. Unsur “dalam sebuah rumah” Istilah “rumah” diartikan sebagai bangunan yang dipergunakan sebagai tempat kediaman. Jadi di dalamnya termasuk gubuk- gubuk yang terbuat dari kardus yang banyak dihuni oleh gelandangan. Bahkan yang termasuk dalam pengertian “rumah”, gerbong kereta api, perahu, atau setiap bangunan yang diperuntukkan untuk kediaman.

Ad. 3. Unsur “pekarangan tertutup yang ada rumahnya”, pekarangan tertutup dimaksudkan dengan adanya sebidang tanah yang mempunyai tanda-tanda batas yang nyata, tanda-tanda mana dapat secara jelas membedakan tanah itu dengan tanah di sekelilingnya.

iv). Pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu (Pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHP).

Pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam melakukan tindak pidana pencurian, misalnya mereka bersama-sama mengambil barang- barang dengan kehendak bersama. Tidak perlu ada rancangan bersama yang mendahului pencurian, tetapi tidak cukup apabila mereka secara kebetulan pada persamaan waktu mengambil barang. Dengan digunakannya kata dilakukan (gepleegd) bukan kata diadakan (begaan), maka dalam penerapan pasal ini hanya berlaku apabila ada dua orang atau lebih yang masuk istilah turut melakukan (medeplegen) dari Pasal 55 ayat 1 KUHP dan memenuhi syarat bekerja sama. Jadi, Pasal 363 ayat 1 ke-4 KUHP tidak berlaku apabila hanya ada seorang pelaku (dader).

23 Pasal 98, Ibid.

(6)

15 v). Pencurian dengan jalan membongkar, merusak, dan sebagainya (Pasal 363 ayat (1) ke- 5 KUHP).

Pembongkaran (braak) terjadi apabila dibuatnya lubang dalam suatu tembok- dinding suatu rumah, dan perusakan (verbreking) terjadi apabila hanya satu rantai pengikat pintu diputuskan, atau kunci dari suatu peti rusak. Menurut Pasal 99 KUHP, arti memanjat diperluas sehingga meliputi lubang didalam tanah dibawah tembok dan masuk rumah melalui lubang itu, dan meliputi pula melalui selokan atau parit yang ditujukan untuk membatasi suatu pekarangan yang demikian dianggap tertutup.24Menurut Pasal 100 KUHP, arti anak kunci palsu diperluas hingga meliputi semua perkakas berwujud apa saja yang digunakan untuk membuka kunci, seperti sepotong kawat.25

4. Pertanggungjawaban Pidana

Pada sub bab sebelumnya dijelaskan bahwa tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, yang di dalamnya disertai ancaman berupa pidana tertentu bagi seseorang yang nantinya bisa bertanggungjawab penuh atas suatu tindakan yang dapat di hukum.

Pertanggungjawaban merupakan konsep sentral yang dikenal dengan adanya suatu unsur kesalahan. Dalam bahasa latin ajaran kesalahan dikenal dengan mens area. Doktrin mens area dilandaskan pada suatu perbuatan tidak mengakibatkan seseorang bersalah kecuali jika pikiran orang itu jahat.26 Dasar adanya tindak pidana, karena adanya asas legalitas dalam pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam ini hal Pertanggungjawaban pidana hanya akan terjadi apabila sebelumnya telah ada seseorang yang melakukan tindak pidana, ataupun dengan tidak mungkin seorang dipertanggungjawabkan dalam hukum pidana jika yang bersangkutan tidak melakukan tindak pidana. Dilihat dari terjadinya suatu tindakan yang melanggar hukum, seseorang akan dimintai pertanggungjawabkan pidana, atas tindakan yang mengandung unsur kesalahan dan tindakan tersebut melawan hukum. Dilihat dari sudut kemampuan bertanggung jawab, maka hanya seseorang yang mampu bertanggungjawab yang akan mempertanggungjawabkan tindak pidana yang telah dilakukan.

24 Pasal 99, Ibid.

25 Pasal 100, Ibid.

26 Hanafi Amrani dan Mahrus Ali, Sistem Pertanggungjawaban Pidana (Rajawali Pers Jakarta, 2015) hlm. 20.

(7)

16 Dalam hal pertanggungjawaban anak dan orang dewasa ada perbedaan dalam menentukan batas usia minimal maupun usia maksimal dalam pertanggungjawaban pidana anak, penentuan kriteria pertangungjawaban dapat disesuaikan dengan situasi, kondisi, bahwa dalam pertanggungjawaban pidana anak di bawah umur yang berkonflik dengan hukum harus sesuai dengan ketentuan yang sudah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak serta Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan anak. Jika seorang anak yang melakukan tindak pidana tetap dapat dimintakan pertanggungjawabannya, ancaman pidana bagi anak yang melakukan suatu perbuatan yang melawan hukum ditentukan oleh Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dimana penjatuhan pidananya ditentukan setengah dari maksimal ancaman pidana dari orang dewasa, sedangkan penjatuhan pidana seumur hidup dan pidana mati tidak diberlakukan terhadap anak.

5. Sistem Pemidanaan

a). Sistem Pemidanaan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Dalam sistem pemidaaan menurut hukum pidana di indonesia mengenai 2 (dua) jenis pidana yang diatur dalam pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagai berikut:27

1. Pidana Pokok a. Pidana mati b. Pidana penjara c. Pidana kurungan d. Pidana denda 2. Pidana Tambahan

a. Pencabutan hak-hak tertentu

b. Perampasan barang-barang tertentu

27 Pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

(8)

17 Mengenai kualifikasi dari jenis-jenis pidana pada pasal 10 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tersebut didasarkan pada berat ringannya pidana yang diberikan, yang terberat disebutkan terlebih dahulu. Keberadaaan pidana tambahan yaitu sebagai tambahan terhadap pidana pokok, dan biasanya bersifat fakultatif yang artinya dapat dijatuhkan ataupun tidak.

b). Sistem Pemidanaan Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

Dari penjelasan mengenai jenis-jenis pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), terdapat beberapa perbedaan dengan pemidanaan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Jenis-jenis pemidanaan terhadap anak diatur dalam pasal 69, dan pasal 71 sebagai berikut:28 Pasal 69

(1) Anak hanya dapat dijatuhi pidana atau dikenai tindakan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang ini.

(2) Anak yang belum berusia 14 (empat belas) tahun hanya dapat dikenai tindakan.

Pasal 71

(1) Pidana pokok bagi anak terdiri atas:

a. pidana peringatan;

b. pidana dengan syarat:

1) Pembinaan di luar lembaga;

2) Pelayanan masyarakat; atau 3) Pengawasan.

c. Pelatihan kerja;

d. Pembinaan dalam lembaga; dan Penjara.

28 Pasal 69 dan 71, Ibid.

(9)

18 (2) Pidana tambahan terdiri atas:

a. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; atau b. Pemenuhan kewajiban adat.

(3) Apabila dalam hukum materiil diancam pidana kumulatif berupa penjara dan denda, pidana denda diganti dengan pelatihan kerja.

(4) Pidana yang dijatuhkan kepada anak dilarang melanggar harkat dan martabat anak.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara pelaksanaan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pemidanaan menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak sebagai berikut:

Pasal 73:29

1) Pidana dengan syarat dapat dijatuhkan oleh hakim dalam hal pidana penjara yang dijatuhkan paling lama 2 (dua) tahun.

2) Dalam putusan pengadilan mengenai pidana dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan syarat umum dan syarat khusus.

3) Syarat umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah anak tidak akan melakukan tindak pidana lagi selama menjalani masa pidana dengan syarat.

4) Syarat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah untuk melakukan atau tidak melakukan hal tertentu yang ditetapkan dalam putusan hakim dengan tetap memperhatikan kebebasan anak.

5) Masa pidana dengan syarat khusus lebih lama dari pada masa pidana dengan syarat umum.

6) Jangka waktu masa pidana dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 3 (tiga) tahun.

29 Pasal 73, Ibid.

(10)

19 7) Selama menjalani masa pidana dengan syarat, Penuntut Umum melakukan pengawasan dan Pembimbing Kemasyarakatan melakukan pembimbingan agar anak menempati persyaratan yang telah ditetapkan.

8) Selama anak menjalani pidana dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (7), anak harus mengikuti wajib belajar 9 (sembilan) tahun.

Pasal 74:

Dalam hal hakim memutuskan bahwa anak dibina di luar lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf b angka 1, lembaga tempat pendidikan dan pembinaan ditentukan dalam putusannya.30

Pasal 75:

1) Pidana pembinaan di luar lembaga dapat berupa keharusan: a. mengikuti program pembimbingan dan penyuluhan yang dilakukan oleh pejabat pembina; b. mengikuti terapi di rumah sakit jiwa; dan c. mengikuti terapi akibat penyalahgunaan alkohol, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya31.

2) Jika selama pembinaan anak melanggar syarat khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (4), pejabat pembina dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memperpanjang pembinaan yang lamanya tidak melampaui maksimum 2 (dua) kali masa pembinaan yang belum dilaksanakan.

Pasal 76:

1) Pidana pelayanan masyarakat merupakan pidana yang dimaksudkan untuk mendidik anak dengan meningkatkan kepeduliannya pada kegiatan kemasyarakatan yang positif.

2) Jika anak tidak memenuhi seluruh atau sebagian kewajiban dalam menjalankan pidana pelayanan masyarakat tanpa alasan yang sah, pejabat pembina dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memerintahkan anak tersebut mengulangi seluruh atau sebagian pidana pelayanan masyarakat yang dikenakan terhadapnya.32

30 Pasal 74, Ibid.

31 Pasal 75, Ibid.

32 Pasal 76, Ibid.

(11)

20 3) Pidana pelayanan masyarakat untuk anak dijatuhkan paling singkat 7 (tujuh) jam dan paling lama 120 (seratus dua puluh) jam.

Pasal 77:

1) Pidana pengawasan yang dapat dijatuhkan kepada anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf b angka 3 paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun.33

2) Dalam hal anak dijatuhi pidana pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), anak ditempatkan di bawah pengawasan Penuntut Umum dan dibimbing oleh Pembimbing Kemasyarakatan.

Pasal 78:

1) Pidana pelatihan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf c dilaksanakan di lembaga yang melaksanakan pelatihan kerja yang sesuai dengan usia anak.

2) Pidana pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun.34

Pasal 79:

1) Pidana pembatasan kebebasan diberlakukan dalam hal anak melakukan tindak pidana berat atau tindak pidana yang disertai dengan kekerasan.

2) Pidana pembatasan kebebasan yang dijatuhkan terhadap anak paling lama 1/2 (satu perdua) dari maksimum penjara yang diancamkan terhadap orang dewasa.

3) Minimum khusus pidana penjara tidak berlaku terhadap anak.

4) Ketentuan mengenai pidana penjara dalam KUHP berlaku juga terhadap anak sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.35

33 Pasal 77, Ibid.

34 Pasal 78, Ibid.

35 Pasal 79, Ibid.

(12)

21 Pasal 80:

1) Pidana pembinaan di dalam lembaga dilakukan di tempat pelatihan kerja atau lembaga pembinaan yang diselenggarakan, baik oleh pemerintah maupun swasta.

2) Pidana pembinaan di dalam lembaga dijatuhkan apabila keadaan dan perbuatan anak tidak membahayakan masyarakat.

3) Pembinaan dalam lembaga dilaksanakan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

4) Anak yang telah menjalani 1/2 (satu perdua) dari lamanya pembinaan di dalam lembaga dan tidak kurang dari 3 (tiga) bulan berkelakuan baik berhak mendapatkan pembebasan bersyarat.36

Pasal 81:

1) Anak dijatuhi pidana penjara di LPKA apabila keadaan dan perbuatan anak akan membahayakan masyarakat.

2) Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak paling lama 1/2 (satu perdua) dari maksimum ancaman penjara bagi orang dewasa.

3) Pembinaan di LPKA dilaksanakan sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun.

4) Anak yang telah menjalani 1/2 (satu perdua) dari lamanya pembinaan di LPKA dan berkelakuan baik berhak mendapatkan pembebasan bersyarat.

5) Pidana penjara terhadap anak hanya digunakan sebagai upaya terakhir.

6) Jika tindak pidana yang dilakukan anak merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, pidana yang dijatuhkan adalah pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun.37

36 Pasal 80, Ibid.

37 Pasal 81, Ibid.

(13)

22 c). Sistem Pemidanaan Bagi Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana Pengulangan (Residivis)

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Sistem Peradilan Pidana Anak tidak dikenal penjatuhan hukuman bagi anak sebagai pelaku tindak pidana (residivis), namun hukuman yang diatur hanya bersifat sanksi pidana dan sanksi tindakan, untuk itu perlu terobosan khusus agar anak yang berhadapan hukum diberikan perlindungan hukum meskipun sebagai pelaku, serta sistem peradilan anak harus memberikan perbaikan dan rehabilitasi supaya tidak menjadi sebagai pelaku kejahatan (residivis). Dijelaskan dalam ketentuan pasal 7 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Sistem Peradilan Anak mengenai diversi bagi anak menyatakan:38

1. Ayat (1) “pada tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan perkara anak di pengadilan negeri wajib diupayakan Diversi”

2. Ayat (2) “Diversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam hal tindak pidana yang dilakukan:

a. Diancam dengan pidana penjara dibawah 7 (tujuh) tahun; dan b. Bukan merupakan pengulangan tindak pidana (residivis)

Berdasarkan pasal 8 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Sistem Peradilan Pidana Anak menyatakan bahwa diversi bagi anak wajib memperhatikan:39

a. Kepentingan korban;

b. Kesejahteraaan dan tanggungjawab anak;

c. Penghindaran stigma negative;

d. Penghindaran pembalasan;

e. Keharmonisan masyarakat; dan

f. Kepatutan, kesusilaan, dan keteriban umum.

38 Pasal 7 ayat (1) dan (2), Ibid.

39 Pasal 8, Ibid.

(14)

23 6. Tindak Pidana Pengulangan (Residivis)

Residivis Menurut Kamus Hukum sebagai ulangan kejahatan, kejadian bahwa seseorang yang pernah dihukum karena melakukan suatu kejahatan, melakukan lagi suatu kejahatan.40Jika melihat pengertian mengenai tindak pidana pengulangan (residivis), yang dimana adannya suatu kejadian bahwa seseorang yang sebelumnya pernah dihukum karena melakukan tindak pidana.

Tindak pidana residivis terjadi apabila seseorang telah melakukan perbuatan pidana, yang telah dijatuhi dengan putusan hakim dan pidana tersebut telah dijalani, akan tetapi setelah selesai menjalani sanksi pidana dan dikembalikan ke masyarakat, yang bersangkutan kembali melakukan perbuatan pidana (resdivis). Residivis merupakan bentuk ketidakberhasilan seorang untuk bisa beradaptasi dan bersosialiasi kembali kedalam masyarakat. Pengulanggan tindak pidana residivis diatur dalam pasal 486, 487, dan 488 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Inti dari pasal tersebut menyatakan bahwa penjatuhan pidana yang diberikan kepada residivis yaitu 1/3 (sepertiga) lebih berat dari pada penjatuhan pidana yang diberikan kepada narapidana (pelaku yang melakukan perbuatan pidana untuk pertama kali).41 Menurut Mahrus, residivis adalah seorang yang mengulangi perbuatan sesudah dijatuhi hukuman dengan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap karena perbuatan pidana yang telah dilakukan lebih dahulu.

Seseorang yang sering melakukan perbuatan pidana dan karena perbuatan pidana itu telah dijatuhi hukuman bahkan telah sering dijatuhi hukuman.42

7. Teori Pemidanaan

Secara harfiah “sistem pemidanaan” terdiri dari dua kata yaitu “sistem” dan “pemidanaan”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa sistem berarti perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Sementara pemidanaan berarti proses, cara, perbuatan pemidanaan.43 Jadi, apabila kedua kata tersebut diartikan sistem pemidanaan berarti sistem pemberian atau penjatuhan pidana. Sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai keseluruhan sistem hukum pidana materiil untuk pemidanaan atau keseluruhan sistem hukum pidana materiel untuk pemberian atau penjatuhan dan pelaksanaan pidana. Dengan pengertian demikian, maka keseluruhan peraturan perundang-undangan (statutory rules) yang ada di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) maupun undang-undang khusus di luar

40 Subekti dan Tjitrosoedibjo, Kamus Hukum (Jakarta: Pradnya Paramita, 2002) hlm. 94.

41 Pasal 486-488 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

42 Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana (Jakarta: Sinar Grafika, 2011) hlm.139.

43 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, (http://kbbi.web.id.), diakses pada tanggal 18 Januari 2022.

(15)

24 KUHP, pada hakikatnya merupakan satu kesatuan sistem pemidanaan, yang terdiri dari “aturan umum” (general rules) dan “aturan khusus” (special rules). Aturan umum terdapat di dalam Buku I KUHP, dan aturan khusus terdapat di dalam Buku II dan III KUHP maupun dalam undang- undang khusus di luar KUHP, baik yang mengatur hukum pidana khusus maupun yang mengatur hukum pidana umum. Dalam perbedaan ide dasar antara sanksi pidana dan sanksi tindakan, dapat ditemukan dalam teori–teori tentang tujuan pemidanaan.

Apabila pengertian pemidanaan diartikan secara luas sebagai suatu proses pemberian atau penjatuhan pidana oleh hakim, maka dapat dikatakan bahwa sistem pemidanaan mencakup pengertian: teori absolut atau teori pembalasan (vergeldings theorien), teori relatif atau teori tujuan (doel theorien), dan teori menggabungkan (verenigings theorien).44

a). Teori Absolut atau Teori Pembalasan (Vergeldingstheorie)

Teori Absolut atau teori pembalasan menurut teori ini sanksi pidana dijatuhkan karena seseorang telah melakukan tindak pidana. Yang mana sanksi pidana sebagai akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang melakukan tindak pidana, tujuan dari penerapan sanksi pembalasan untuk memuaskan orang yang dirugikan agar memperoleh keadilan.

Teori absolut memandang bahwa pemidanaan merupakan pembalasan atas kesalahan yang telah dilakukan, jadi berorientasi pada perbuatan dan terletak pada kejahatan itu sendiri. Pemidanaan diberikan karena seseorang yang melakukan tindak pidana harus menerima sanksi atas kesalahannya. Menurut teori ini, dasar hukuman harus dicari dari kejahatan itu sendiri, karena kejahatan itu telah menimbulkan penderitaan bagi orang lain, sebagai imbalannya (vergelding) pelaku harus diberi penderitaan jadi dasar pembenarannya terletak pada adanya kejahatan itu sendiri.45 Mengenai teori pembalasan ini, Andi Hamzah mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:

Teori pembalasan menyatakan bahwa pidana tidaklah bertujuan untuk yang praktis, seperti memperbaiki penjahat. Kejahatan itu sendirilah yang mengandung unsur-unsur untuk dijatuhkan pidana, pidana secara mutlak ada karena dilakukan suatu kejahatan. Tidaklah perlu memikirkan manfaat penjatuhan pidana.46

44 E. Utrecht, Hukum Pidana I, (Jakarta: Universitas Jakarta, 1958) hlm. 157.

45 Ayu Efritadewi, Hukum Pidana, (Tanjung Pinang: Umrah Press, 2020) hlm. 7.

46 Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1993) hlm. 26.

(16)

25 b). Teori Relatif atau Teori Tujuan (Ultilitarian/doel theorien)

Teori relatif atau teori tujuan juga disebut teori utilitarian, muncul sebagai reaksi terhadap teori absolut. Dapat diartikan tujuan pidana menurut teori relatif bukanlah sekedar pembalasan, tetapi juga untuk melindungi masyarakat dan mencegah terjadinya kejahatan untuk mewujudkan ketertiban di dalam masyarakat. Perbedaan dari beberapa teori yang termasuk teori tujuan yaitu terletak pada carannya untuk mencapai tujuan yang tidak hanya bersifat sanksi pidana tetapi juga mempertimbangan sanksi tindakan yang bersifat memperbaiki memandang bahwa pemidanaan bukan sebagai pembalasan atas kesalahan pelaku, tetapi untuk menakut-nakuti menimbulkan rasa takut untuk melakukan tindak pidana.

1. Tujuan pidana adalah pencegahan (prevensi);

2. Pencegahan bukanlah pidana akhir, tapi merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu kesejahteraan masyarakat;

3. Hanya pelanggaran-pelanggaran hukum yang dapat dipersalahkan kepada si pelaku saja (misal karena sengaja atau culpa) yang memenuhi syarat untuk adanya pidana;

4. Pidana harus ditetapkan berdasarkan tujuannya sebagai alat untuk pencegahan kejahatan.

5. Pidana berorientasi ke depan, pidana dapat mengandung unsur pencelaan, tetapi baik unsur pencelaan maupun unsur pembalasan tidak dapat diterima apabila tidak dapat membantu pencegahan kejahatan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat.47

c). Teori Gabungan (Teori Integratif)

Menurut teori gabungan bahwa tujuan pidana selain membalas kesalahan pelaku tindak pidana tetapi juga mempertimbangan untuk melindungi masyarakat, dengan mewujudkan ketertiban dan keadilan, dengan menerapakan antara sanksi pidana dan tindakan dengan cara mengabungkan antara teori pembalasan (absolut) dengan teori tujuan (relatif) yang bertujuan untuk mempersiapkan pengembalian terpidana kedalam kehidupan masyarakat. Teori ini menggunakan kedua teori (teori absolut dan teori relatif) sebagai dasar pemidanaan, dengan pertimbangan bahwa kedua teori tersebut memiliki kelemahan-kelemahan yaitu:

47 Muladi dan Barda Nawawi, Teori dan Kebijakan Pidana. (Bandung: Alumni, 1992) hlm.17.

(17)

26 Teori absolut menimbulkan ketidakadilan karena dalam penjatuhan hukuman perlu mempertimbangkan bukti-bukti yang ada dan pembalasan yang dimaksud tidak harus negara yang melaksanakan. Sedangkan Teori relatif dapat menimbulkan ketidakadilan karena pelaku tindak pidana ringan dapat dijatuhi hukum berat, kepuasan masyarakat diabaikan jika tujuannya untuk memperbaiki masyarakat, dan mencegah tindak pidana hanya dengan menakut-nakuti sulit untuk dilaksanakan.

Teori integratif dibagi menjadi tiga golongan:48

1. Teori integratif yang menitikberatkan pembalasan, akan tetapi tidak boleh melampaui batas apa yang perlu dan sudah cukup untuk dapat mempertahankan tata tertib masyarakat.

2. Teori integratif yang menitikberatkan pada pertahanan tata tertib masyarakat, tetapi tidak boleh lebih berat dari suatu penderitaan yang beratnya sesuai dengan beratnya perbuatan yang dilakukan oleh narapidana.

3. Teori integratif yang menganggap harus ada keseimbangan antara kedua hal di atas.

Menurut Andi Hamzah, pidana bertujuan membalas kesalahan dan mengamankan masyarakat. Tindakan bermaksud mengamakan dan memelihara tujuan. Jadi pidana dan tindakan, keduannya bertujuan untuk mempersiapkan pengembalian terpidana kedalam kehidupan masyarakat.49

48 Prakoso dan Nurwachid, Studi Tentang Pendapat-Pendapat Mengenai Efetivitas Pidana Mati Di Indonesia Dewasa Ini, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984) hlm. 24.

49 Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1993) hlm. 39.

(18)

27 B. HASIL PENELITIAN

1. Pertimbangan hakim Dalam Menjatuhkan Putusan Terhadap Tindak Pidana Pencurian Dengan Pemberatan Yang Dilakukan Anak Berdasarkan Putusan Nomor:

21/Pid.Sus/2017/PN Smg

Sebelum membahas tentang dasar pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana (residivis), dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan, yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Fungsi kekuasaan kehakiman diatur dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 yang berbunyi:50

“Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya negara hukum Republik Indonesia.”

Kebebasan seorang hakim merupakan suatu kebebasan untuk menentukan sebuah keputusan pengadilan atas perkara yang diadili, yang mensyaratkan bahwa keputusan yang diambil harus mempertimbangkan objektivitas keputusan dengan tanpa tekanan dari pihak manapun.51 Dalam menjatuhkan sanksi pidana, seorang hakim selain berpedoman kepada peraturan perundang-undangan juga diberi kebebasan untuk menentukan hukuman yang adil berdasarkan hati nurani hakim sesuai dengan nilai keadilan yang diyakininya.52 Pertimbangan hakim merupakan salah satu aspek terpenting dalam menentukan terwujudnya nilai suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex aequo et bono) dan mengandung kepastian hukum, selain itu juga keputusan hakim diharapan dapat manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

50 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasan Kehakiman.

51 Ahmad Kamil, Filsafat Kebebasan Hakim (Jakarta: Prenada Media Group, 2012) hlm. 174.

52 Ibid. 171.

(19)

28 a). Kasus posisi

Kronologi kasus dalam perkara Nomor: 21/Pid.Sus/2017/Pn. Smg sebagai berikut:

Berawal dari terdakwa anak berinisal JKG, bersama saksi Vero Yuliyanto alias Borok, saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog dan saksi Pengkuh Eko Prabowo alias Gendut. Pada hari jumat tanggal 01 Desember 2017 sekira pukul 19.30 WIB. Anak JKG, bersama saksi Vero Yuliyanto alias Borok, saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog dan saksi Pengkuh Eko Prabowo alias Gendut sedang berkumpul di tempat kos saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog sambil minum-minuman keras, lalu sekira pukul 22.00 WIB. Saksi Vero Yuliyanto alias Borok mempunyai ide untuk melakukan pencurian burung, dan disepakati bersama.

Selanjutnya pada hari sabtu tanggal 02 Desember 2017 sekitar pukul 02.00 WIB. Anak JKG mengendarai sepeda motor dengan memboncengkan saksi Vero Yulianto alias Borok, sedangkan saksi Pengkuh Eko Prabowo alias Gendut mengendarai sepeda motor dengan memboncengkan saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog, meninggalkan tempat kos saksi Dimas Satrio Utomo alias Edog untuk mencari sasaran burung yang akan diambil. Setelah mereka berputar-putar di sekitar daerah Sendangguwo semarang sekitar pukul 03.00 WIB. Saat melintas di rumah korban Adys Sulmukromin di Sendangguwo Tembalang Kota Semarang, saksi Vero Yuliyanto alias borok melihat 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih berada di dalam sangkar burung, yang terbuat dari kayu warna coklat tua yang tergantung di teras rumah korban Adys Sulmukromin yang mana keadaan rumah korban tetutup pagar dan terkunci. saksi Vero Yuliyanto alias borok menyuruh berhenti anak JKG diikuti dengan saksi Pengkuh Eko Prabowo alias Gendut yang berboncengan dengan saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog selanjutnya, saksi Vero Yuliyanto alias Borok dan saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog turun dari sepeda motor bertugas untuk mengambil burung yang tergantung di teras rumah korban Adys Sulmukromin, sedangkan anak JKG dan saksi Pengkuh Eko Prabowo alias Gendut menunggu di atas sepeda motor masing- masing sambil mengawasi situasi di sekitar rumah korban Adys Sulmukromin.

Kemudian saksi Vero Yuliyanto alias Borok dan Saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog mendekati samping rumah korban Adys Sulmukromin, selanjutnya saksi Vero Yuliyanto alias Borok masuk ke rumah korban Adys Sulmukromin dengan cara memanjat pagar tembok samping, kemudian mengambil 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih yang berada di dalam sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua yang tergantung di teras

(20)

29 rumah tanpa ijin pemiliknya yaitu korban Adys Sulmukromin, setelah berhasil mengambil burung tersebut, kemudian saksi Vero Yuliyanto alias Borok memberikan 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih, yang berada di dalam sangkar burung tersebut kepada saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog yang menunggu di bawah. Saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog membawa 1 (satu) ekor burung tersebut berjalan menuju ke kebun dekat rumah korban Adys Sulmukromin selanjutnya, mengeluarkan 1 (satu) ekor burung tersebut dari dalam sangkar dan membuang sangkarnya di kebun, sedangkan burungnya dibawa saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog dengan cara dipegang menggunakan tangan. Setelah Anak JKG, Saksi Vero Yuliyanto alias Borok, saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog dan saksi Pengkuh Eko Prabowo alias Gendut berhasil mengambil burung tersebut, kemudian mereka meninggalkan rumah korban Adys Sulmukromin menuju ke tempat kos saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog, kemudian saksi Dimas Satrio Utomo alias Ndog menaruh burung tersebut ke dalam sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat.

Bahwa benar yang korban ketahui awalnya pada hari jumat tanggal 01 Desember 2017 sekitar jam 20.00 WIB. Korban istirahat di rumah kemudian sekitar jam 23.50 WIB, Korban bangun tidur lalu keluar rumah dan melihat 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih yang berada di sangkar burung masih ada tergantung di teras rumah, kemudian korban masuk ke dalam rumah lagi untuk istirahat, pada hari sabtu tanggal 02 Desember 2017 sekira jam 04.30 WIB. Korban melihat aplikasi whatsapp grup Rt ada yang share foto 1 (satu) buah sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua yang dibuang di kebun, korban Adys Sulmukromin mengenali bahwa sangkar burung tersebut milik korban, kemudian korban melihat ke teras rumah untuk memastikan, ternyata benar 1 (satu) buah sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua yang berisi 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren tersebut sudah tidak ada. Tidak lama kemudian datang tetangga korban yaitu saksi Farikhin dengan membawa 1 (satu) buah sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua yang sudah tidak ada burungnya, dan saksi Farikhin menceritakan bahwa setelah pulang dari sholat subuh di masjid, saksi Farikhin dan warga menemukan 1 ( satu ) buah sangkar burung milik korban tersebut di kebun, karena saksi Farikhin mengenali sangkar tersebut kemudian saksi membawa sangkar tersebut ke rumah korban Adys Sulmukromin, selanjutnya korban Adys Sulmukromin melaporkan kejadian ini ke kantor Polsek Tembalang kota Semarang.

(21)

30 b). Pasal yang didakwakan

Pasal yang didakwakan dalam Putusan Nomor 21/Pid.Sus/2017/Pn. Smg. Pasal 363 ayat (1) ke-3, ke-4, ke-5 KUHP. Dakwaan yang dijatuhkan hakim dalam perkara Nomor 21/Pid.Sus/2017/Pn.Smg, merupakan dakwaan Tunggal “Berdasarkan surat dakwaan ini hanya terdiri dari satu tindak pidana saja yang didakwakan, karena tidak terdapat kemungkinan untuk mengajukan alternatif atau dakwaan pengganti lainnya.” Yang pada pokoknya agar Hakim memutuskan sebagai berikut:

1. Menyatakan anak JKG bersalah melakukan tindak pidana” pencurian dengan pemberatan”

sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 363 ayat (1) ke-3, ke-4, ke-5 KUHP sebagaimana dakwaan Penuntut Umum.

2. Menjatuhkan pidana terhadap anak JKG berupa pidana penjara selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dikurangi selama anak berada dalam tahanan dengan perintah anak JKG tetap ditahan.

3. Menetapkan agar anak JKG membayar biaya perkara sebesar Rp 2.000,00 (dua ribu rupiah).

c). Pertimbangan Hakim

Setelah melihat kasus posisi diatas, hakim dalam memutus suatu perkara harus mempertimbangkan kebenaran yuridis, kebenaran filosofis dan sosiologis. Kebenaran yuridis landasan hukum yang dipakai dalam pertimbangan hakim apakah telah sesuai dan memenuhi ketentuan hukum yang berlaku, kebenaran filosofis seorang hakim harus mempertimbangkan sisi keadilan apakah hakim telah berbuat dan bertindak yang seadil-adilnya dalam memutuskan suatu perkara. Dalam pertimbangan sosiologis seorang hakim juga harus mempertimbangkan apakah dalam putusannya akan berakibat buruk dan berdampak di masyarakat dengan kata lain bahwa, seorang hakim harus membuat keputusan yang adil dan bijaksana dengan mempertimbangkan dampak hukum dan dampak yang terjadi dalam masyarakat.

(22)

31 Dalam Putusan Nomor 21/Pid.Sus/2017/Pn.Smg. Anak sebagai pelaku tindak pidana (residivis) Pencurian dengan Pemberatan, perlu melihat dasar pertimbangan hakim sebelum mengambil keputusan sebagai berikut:

1. Menimbang, bahwa oleh karena semua unsur dari pasal 363 ayat (1) ke 3, 4 dan 5 KUHP Jo UU RI Nomor 11 Tahun 2012 telah terpenuhi, maka anak haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan tunggal.

2. Menimbang, bahwa dalam persidangan hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka anak harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

3. Menimbang, bahwa oleh karena anak mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana.

4. Menimbang, bahwa anak telah ditahan dalam Rumah Tahanan Negara berdasarkan surat perintah penahanan yang sah, maka masa penahanan yang telah dijalani anak dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

5. Menimbang, bahwa oleh karena terbukti bersalah dan dipidana, maka untuk menghindari agar anak tidak melarikan diri, tidak mengulangi perbuatannya atau mempersulit pelaksanaan pemidanaan, cukup alasan untuk memerintahkan agar anak tetap berada dalam tahanan.

6. Menimbang, bahwa tentang barang bukti dalam perkara ini berupa: barang bukti yang diajukan dalam persidangan yaitu 1 (satu) unit sepeda motor Honda Beat, nomor polisi: H-3768-ASG, warna merah, nomor rangka: MH1JFN110EK104758, nomor mesin: JFN1E1107206 dan 1 (satu ) buah sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua.

7. Menimbang, bahwa sebelum menjatuhkan pidana terhadap anak, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan.

(23)

32 Adapun pertimbangan yang bersifat yuridis atau disebut juga pertimbangan hukum seorang hakim yang didasarkan pada fakta yang terungkap di persidangan dari keterangan para saksi, keterangan pelaku dan barang bukti dan oleh undang-undang telah ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat di dalam putusan. Adapun Pertimbangan hakim dalam putusan Nomor: 21/Pid- Sus/2017/Pn.Smg yang bersifat yuridis yaitu:

i). Terbuktinya Dakwaan Dari Jaksa Penuntut Umum

Dalam perkara Nomor: 21/Pid-Sus/2017/Pn.Smg, bahwa anak JKG telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan tunggal yaitu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 363 ayat (1) ke-3, ke-4, ke-5 KUHP Jo UU RI No 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yang unsur-unsurnya yakni :

- Baran g siapa,

- Mengambil barang sesuatu,

- Yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, - Dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum,

- Di waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada disitu tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak - Yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu,

- Untuk masuk ke tempat melakukan tindak pidana, atau untuk sampai pada barang yang diambil, dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu. Terdakwa telah terbukti dan telah memenuhi unsur- unsur dalam Pasal 363 ayat (1) ke-3 ke-4 ke-5 KUHP, yaitu:

Ad. Unsur Barang siapa

Bahwa yang dimaksud dengan unsur “barang siapa” yaitu siapa saja yang dapat menjadi subyek hukum, yang kepadanya dapat dipertanggungjawabkan atas segala perbuatan yang dilakukannya. Bahwa dalam perkara ini anak JKG sesuai dengan identitas yang dikemukakan dalam surat dakwaan dan sebagaimana surat-surat yang ada dalam berkas perkara atas nama yang bersangkutan. Dan sebagaimana keterangan saksi dan keterangan anak JKG sendiri yang dalam

(24)

33 persidangan bertingkah laku normal dan dapat menjawab dengan baik pertanyaan yang diajukan kepadanya, baik oleh Majelis Hakim, Penuntut Umum maupun Penasehat Hukum, serta dapat mengerti dan mampu memberikan tanggapan yang baik atas keterangan saksi. Oleh karena itu sampai selesai pemeriksaan ini telah ditemukan suatu bukti yang menyatakan bahwa anak JKG mampu dan dapat bertanggungjawab atas perbuatan dan kesalahan yang telah dilakukan. Selain itu tidak ada satu alasanpun baik mengenai alasan pembenar maupun pemaaf. Dengan demikian unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.

Ad. Unsur mengambil barang sesuatu

Yang dimaksud mengambil yaitu memindahkan barang dari tempat semula ke tempat lain atau barang tersebut sudah dibawah kekuasaan orang yang melakukan atau barang tersebut sudah berada di luar kekuasaan pemiliknya. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, bahwa anak JKG dan barang bukti di dalam fakta persidangan :

1). Bahwa yang dimaksud mengambil yaitu memindahkan barang dari tempat semula ke tempat lain atau barang tersebut sudah di bawah kekuasaan orang yang melakukan atau barang tersebut sudah berada di luar kekuasaan pemiliknya.

2). Bahwa perbuatan mengambil dianggap selesai apabila barang itu sudah pindah dari tempat asalnya.

3). Bahwa yang dimaksud barang adalah segala sesuatu benda yang berwujud dan dapat dipindahkan atau segala sesuatu benda yang mempunyai nilai-nilai dalam kehidupan ekonomi seseorang. Anak JKG mengambil barang 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih yang berada di dalam sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua. Dengan demikian unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.

Ad. Unsur mengambil seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain

Berdasarkan keterangan saksi, anak JKG dan barang bukti di dalam fakta persidangan:

Bahwa yang dimaksud seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain bahwa barang yang diambil oleh anak JKG tersebut sama sekali bukan kepunyaan anak JKG atau sebagian masih ada hak orang lain atas barang tersebut. Berdasarkan keterangan saksi, petunjuk dan keterangan anak JKG serta didukung adanya barang bukti terdapat fakta yaitu barang berupa 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih yang berada didalam sangkar burung yang terbuat

(25)

34 dari kayu warna coklat tua adalah milik korban Adys Sulmukromin dan bukan milik anak JKG.

Dengan demikian unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.

Ad. Dengan maksud untuk di miliki secara melawan hukum

Bahwa berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan dari keterangan saksi, keterangan terdakwa serta adanya barang bukti telah diperoleh fakta. Terdakwa dalam mengambil burung milik saksi korban tersebut tanpa seijin atau sepengetahuan pemiliknya. Berdasarkan keterangan saksi, petunjuk dan keterangan anak sebagai pelaku tindak pidana serta didukung dengan adanya barang bukti telah diperoleh fakta bahwa anak JKG mengambil barang berupa 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih yang berada di dalam sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua tanpa seijin pemiliknya yaitu korban Adys Sulmukromin. Dengan demikian unsur ini telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.

Ad. Diwaktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada disitu tidak diketahui atau tidak dikehendaki oleh yang berhak.

Bahwa Berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan yaitu dari keterangan saksi, rumah saksi tersebut ada pintu pagarnya dan sebelum terjadi peristiwa pencurian tersebut pintu pagar rumah korban dalam keadaan tertutup dan terkunci. Keterangan pelaku serta adanya barang bukti yang diajukan di persidangan telah diperoleh fakta, bahwa pelaku mengambil burung milik saksi korban tersebut di waktu malam sekitar pukul 03:00 WIB. Dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup tanpa seijin pemiliknya atau tidak dikehendaki oleh yang berhak.

Ad. Unsur yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu,

Bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan anak JKG dan barang bukti di dalam fakta persidangan:

Bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh anak JKG bersama-sama dengan saksi vero yuliyanto alias borok, saksi dimas satrio utomo alias ndog dan saksi pengkuh eko prabowo alias gendut (dilakukan penuntutan secara terpisah).

(26)

35 Ad. Unsur yang untuk masuk ke tempat melakukan kejahatan, atau untuk sampai pada barang yang diambil, dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.

Bahwa berdasarkan keterangan saksi, keterangan anak JKG dan barang bukti di dalam fakta Persidangan :

Bahwa perbuatan yang dilakukan oleh anak JKG bersama-sama dengan saksi Vero Yuliyanto Alias Borok, Saksi Dimas Satrio Utomo Alias Ndog dan Saksi Pengkuh Eko Prabowo Alias Gendut, mengambil 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih yang berada di dalam sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua yang tergantung di teras rumah tanpa ijin pemiliknya dengan cara: Memanjat pagar tembok samping rumah korban adys sulmukrokmin kemudian mengambil 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih yang berada didalam sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua yang tergantung di teras rumah tanpa ijin pemiliknya.

ii). Keterangan Saksi

Sebelum memberikan putusan pidana hakim anak mempertimbangkan keterangan saksi korban, dimana akibat tindakan pelaku anak telah mengakibatkan kerugian sebesar Rp 650.000,- (enam ratus lima puluh ribu rupiah). Hal ini didukung oleh keterangan saksi-saksi lain yang dihadirkan oleh Penuntut Umum yang dihadirkan di persidangan.

Bahwa benar yang saksi ketahui pada hari Sabtu tanggal 02 Desember 2017 sekira jam 04.30 WIB. Di rumah korban daerah Tembalang Kota Semarang telah terjadi pencurian burung.

Bahwa benar barang yang diambil oleh anak JKG tanpa ijin korban berupa 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih yang berada di sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua yang sebelumnya berada di teras rumah korban Sendangguwo Tembalang Kota Semarang dan barang tersebut milik korban adys sulmukrokmin.

Bahwa benar yang saksi ketahui awalnya pada hari Jumat tanggal 01 Desember 2017 sekira jam 20.00 WIB. Saksi istirahat di rumah saksi kemudian sekira jam 23.50 Wib saksi bangun tidur lalu keluar rumah dan melihat 1 ( satu ) ekor burung jenis jalak uren warna hitam kombinasi putih yang berada di sangkar burung masih ada tergantung di teras rumah, kemudian saksi masuk ke dalam rumah lagi untuk istirahat, pada hari sabtu tanggal 02 Desember 2017 sekira jam 04.30 WIB saksi melihat aplikasi whatsap grup ada yang share foto 1 (satu) buah sangkar burung yang terbuat

(27)

36 dari kayu warna coklat tua yang di buang di kebun, saksi mengenali bahwa sangkar burung tersebut milik saksi, kemudian saksi melihat ke teras rumah untuk memastikan, ternyata benar 1 (satu) buah sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua yang berisi 1 (satu) ekor burung jenis jalak uren tersebut sudah tidak ada, tidak lama kemudian datang tetangga saksi yaitu saksi Farikhin ke rumah saksi sambil membawa 1 (satu) buah sangkar burung tersebut, namun 1 ( satu ) ekor burungnya sudah tidak ada, dan saksi Farikhin menceritakan bahwa setelah pulang dari sholat subuh di masjid saksi Farikhin dan warga menemukan 1 ( satu ) buah sangkar burung milik saksi tersebut di kebun, karena saksi Farikhin mengenali sangkar tersebut kemudian saksi Farikhin membawa sangkar tersebut ke rumah saksi, kemudian saksi melaporkan peristiwa pencurian burung tersebut ke Polsek Tembalang untuk proses penyelidikan lebih lanjut.

iii) Keterangan Anak Pelaku

Menurut Pasal 184 butir e KUHAP, keterangan terdakwa digolongkan sebagai alat bukti.

Keterangan terdakwa adalah apa yang dinyatakan terdakwa di ruang sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau dialami sendiri. Dalam praktik persidangan, keterangan terdakwa dapat berbentuk pengakuan ataupun penolakan dari terdakwa, baik sebagian ataupun keseluruhan terhadap dakwaan penuntut umum dan keterangan yang disampaikan oleh para saksi. Keterangan terdakwa sekaligus juga merupakan jawaban atas pertanyaan hakim, penuntut umum ataupun dari penasihat hukum. Yang mana Dalam pekara No. 21/Pid- Sus/2017/Pn.Smg. Anak JKG sebagai pelaku tindak mengakui perbuatan telah melakukan pencurian.

iv). Barang Bukti

Semua benda yang dapat dikenakan penyitaan dan diajukan oleh penuntut umum di depan sidang pengadilan, dalam pasal 184 ayat (1) KUHAP menetapkan lima macam alat bukti yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Sementara itu barang bukti yang dihadirkan di persidangan memiliki nilai tambah bagi keyakinan hakim dalam menilai benar tidaknya perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa, sehingga hakim akan lebih yakin jika barang bukti itu dikenal dan diakui oleh terdakwa ataupun saksi-saksi. Adapun barang bukti dalam pekara No. 21/Pid-Sus/2017/Pn.Smg, adalah: 1 unit sepada motor beat dan 1 (satu) buah sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua.

(28)

37 v). Terpenuhinya Unsur-Unsur Tindak Pidana

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan ternyata perbuatan pelaku memenuhi unsur-unsur dari setiap pasal yang didakwakan berarti terbuktilah menurut hukum kesalahan pelaku, yakni telah melakukan perbuatan seperti diatur dalam pasal yang didakwakan kepadanya. Dalam kasus diatas terpenuhi adanya keterangan saksi, dan keterang terdakwa bahwa telah melakukan tindak pidana pencurian pada perkara Nomor: 21/Pid.Sus/2017/PN. Smg.

Menyatakan bahwa dakwaan pasal 363 ayat (1) ke-3,4,5 KUHP Telah terbukti semua unsur- unsurnya.

vi). Hal-hal yang memberatkan

Sebelum menjatuhakan pidana terhadap anak, hakim yang memutusan perkara terhadap anak memperhatikan hal-hal yang memberatkan dan meringankan anak, dimana pertimbangan ini dibentuk hakim untuk mewujudkan suatu keadilan bagi anak sebagai pelaku tindak pidana, dalam perkara Nomor 21/Pid.Sus/2017/Pn.Smg terdapat beberapa hal yang memberatkan Perbuatan anak JKG

- Meresahkan masyarakat dan - Anak JKG pernah di hukum.

vii). Hal-hal yang meringankan

Dalam kasus perkara Nomor 21/Pid.Sus/2017/Pn.Smg seorang hakim juga mempertimbangkan ada atau tidak perdamaian antara anak pelaku dan korban, meskipun perdamaian tidak menghapus tindak pidana namun dapat menjadi dasar bagi hakim untuk memberikan keringanan hukuman terhadap terdakwa.

- Anak JKG bersikap sopan di dalam persidangan.

- Anak JKG mengaku terus terang dan menyesali perbuatannya. Dan - Anak JKG belum menikmati hasil kejahatannya.

(29)

38 d. Putusan Hakim

Setelah memeriksa perkara yang diputuskan di Pengadilan Negeri Semarang mengenai putusan majelis hakim terhadap anak yang berhadapan dengan hukum, dengan amar putusan sebagai berikut:

1. Menyatakan anak JKG terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana:

” pencurian dengan pemberatan”;

2. Menjatuhkan pidana kepada anak oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 3 (tiga) bulan ;

3. Menetapkan bahwa masa penahanan yang telah dijalani oleh anak, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan ;

4. Menetapkan anak tetap ditahan;

5. Menetapkan agar barang bukti berupa:

a. 1 (satu) buah sangkar burung yang terbuat dari kayu warna coklat tua.

b. 1 (satu) unit sepeda motor Honda Beat, nomor polisi: H-3768-ASG, warna merah, nomor rangka: MH1JFN110EK104758, nomor mesin: JFN1E1107206 Dipergunakan dalam perkara An. VeroYiliyanto alias Borok Bin Margono, dkk.

6. Membebankan kepada anak untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.2.000,(dua ribu rupiah).

Dalam kasus ini terdakwa anak JKG pembuktian unsur-unsur terbukti benar dan sah melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan sesuai dengan pasal 363 ayat (1) ke 3, 4 dan 5 KUHP. Tindak pidana pencurian dengan pemberatan merupakan salah satu delik yang sering terjadi pengulangan tindak pidana (residivis) dalam kasus anak JKG sebagi pelaku tindak pidana, pernah dipidana penjara atas perkara yang sama ditahun sebelumnya. Berdasarkan putusan yang diberikan hakim dapat dilihat bahwa dalam pemidanaan yang diberikan oleh hakim dalam putusan Nomor: 21/Pid.Sus/2017/Pn.Smg tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak menggunakan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berkaitan dengan kasus tersebut, yaitu KUHP yang khususnya Pasal 363 ayat (1) ke 3,4,5 KUHP. Berdasarkan putusan tersebut, bahwa ada hal yang perlu dipertimbangkan hakim dalam menjatuhkan hukuman bagi pelaku.

(30)

39 Terdapat beberapa unsur yang harus dipenuhi apabila terdakwa dapat dikatakan bersalah sebagai berikut:53

1) Melakukan perbuatan pidana (Sifat melawan hukum)

Berdasarkan Pasal 363 ayat (1) ke-3, ke-4, ke-5 KUHP. Bahwa anak telah melanggar ketentuan pidana, dalam Putusan Nomor 21/Pid.Sus/2017/Pn. Smg anak melakukan perbuatan pencurian dengan pemberatan berdasarkan dakwaaan dan uraian dasar pertimbangan dengan perbuatan yang dilakukan anak. Berdasarkan fakta hukum bahwa anak memenuhi unsur melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan.

2) Mampu bertanggungjawab

Anak sebagai pelaku tindak pidana tidak dapat dimintai pertanggungjawaban apabila anak tersebut tidak mampu bertanggung jawab. Dalam pertanggungjawaban pinda penjatuhan hukuman bagi orang dewasa dan anak berbeda tentunya juga seperti pada tindak pidana pencurian dengan pemberatan oleh karena anak mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana. Dalam perkara Nomor 21/Pid.Sus/2017/Pn. Smg anak dinyatakan mampu bertanggung jawab.

3) Tidak adanya alasan pembenar dan pemaaf

Dalam ketentuan yang mengatur tentang alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan terdapat pada pasal 44, pasal 48, pasal 49 ayat (2), dan pasal 51 ayat (2) KUHPidana. Dalam kasus diatas terdakwa anak JKG memenuhi unsur-unsur alasan pemaaf karena mengakui segala kesalahan. Tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka anak harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dalam perkara Nomor 21/Pid.Sus/2017/Pn.Smg, tidak ditemukan alasan pembenar maupun alasan pemaaf bagi anak sebagai pelaku tindak pidana.

53 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana (Jakarta: Rineka Cipta, 2002) hlm.165.

(31)

40 Jika melihat dalam pemenuhan syarat pemidanaan, pada tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak dalam Putusan Nomor: 21/Pid.Sus/2017/Pn. Smg. Memenuhi unsur pasal yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum, dengan tidak adanya alasan pembenar maupun hal- hal yang dapat meringankan dan menghapus sanksi pidana, maka syarat pemidanaan telah terpenuhi dan pelaku dapat dipidana. Dalam dasar pertimbangan hakim memberikan sanksi pidana penjara terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana (residivis), yang mana seharusnya hakim dalam mempertimbangan sebelum memberikan putusan, harus mengetahui latar belakang dan penyebab anak melakukan tindak pidana, dalam menjatuhkan putusan hakim tidak mempertimbangan keadaan psikologis anak setelah dijatuhi sanksi pidana penjara dan dampak yang akan terjadi terhadap pemberian sanksi pemidanaan yang bersifat absolut. Berdasarkan hasil penelitian penulis terhadap anak sebagai pelaku (residivis) dengan Nomor Putusan 21/Pid.sus/2017/Pn.Smg. Faktor yang mempengaruhi anak melakukan tindak pidana, faktor lingkungan anak tersebut tinggal mendukung untuk dilakukannya suatu tindak pidana. Kebutuhan dalam pergaulan dengan teman sebaya, kontrol dari lingkungan yang kurang dan pergaulan.

Meskipun anak dijatuhi pidana penjara, anak tetap berhak memperoleh pembinaan dan pengawasan agar anak dapat tumbuh dan berkembang baik secara fisik, psikis, dan mental sebagai generasi penerus masa depan bangsa.

(32)

41 C. ANALISIS PUTUSAN HAKIM NOMOR: 21/Pid.Sus/2017PN. Smg

1. Pertimbangan Hakim Dalam Mempertimbangakan Kepentingan Terbaik Bagi Anak Dalam Pemidanaan

Dalam sistem pemidanaan identik dengan sistem penegakan hukum pidana yang terdiri dari substansi hukum pidana materiil, substansi hukum pidana formal, dan substansi hukum pelaksanaan pidana. Sistem pemidanaan fungsional diartikan sebagai sistem pemidanaan dalam arti luas. Dilihat dari sudut norma-substantif, sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai keseluruhan sistem norma hukum pidana materiil untuk penjatuhan dan pelaksanaan pidana.

Sistem pemidanaan dalam arti substantif diartikan sebagai sistem pemidanaan dalam arti sempit, yaitu menyangkut masalah aturan atau ketentuan tentang penjatuhan pidana. Menurut penulis jika melihat pada pertimbangan hakim bahwa anak dijatuhi dengan sanksi pidana oleh karena anak pernah melakukan tindak pidana (residivis) yang artinya, bahwa sanksi pidana penjara yang dijatuhkan terhadap anak tidak memberikan efek jera. Dalam mempertimbangkan sanksi pemidanaan harus memberikan pengaruh yang baik bagi masa depan anak. Seorang hakim mempunyai peran yang penting dalam mempertimbangkan keadilan dan kepentingan terbaik bagi anak sebagai pelaku tindak pidana. Dalam memutus perkara anak yang berkonflik dengan hukum, seorang hakim tidak hanya mengacu pada ketentuan formal saja tetapi juga mempertimbangkan latar belakang dan penyebab anak melakukan tindak pidana, hakim juga harus memikirkan dampak yang akan terjadi terhadap anak setelah dipidana. Putusan hakim yang mengandung pemidanaan tentunya akan menimbulkan konsekuensi tersendiri bagi anak dan bertentangan dengan tujuan pemidanaan yang bersifat integratif. Bahwa putusan yang akan diambil dapat menjadi suatu dasar yang kuat untuk mengembalikan dan mengantar anak menuju masa depan yang lebih baik dan untuk mengembangkan dirinya sebagai seorang anak yang bertanggungjawab bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Perlu adanya jaminan hukum bagi kegiatan perlindungan anak dan kepastian hukum perlu diusahakan demi kelangsungan kegiatan perlindungan anak dan mencegah penyelewengan yang membawa akibat negatif yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan perlindungan anak.54

54 Arief Gosita, Masalah Korban Kejahatan (Jakarta: Akademika Pressindo 1993) hlm.222.

(33)

42 Dalam Putusan Nomor: 21/Pid.Sus/2017/Pn.Smg. Pertimbangan hakim harus dipertanggungjawabkan dan dapat bermanfaat bagi anak. Apabila dihubungkan dengan tujuan pemidanaan hanya untuk memberikan efek jera terhadap anak, dan agar anak tidak mengulangi perbuatannya lagi serta untuk mendidik anak agar menyadari bahwa perbuatannya tidak benar, maka dalam penerapan sanksi pidana penjara saja dapat mempengaruhi mental dan psikis anak.

Pemidanaan yang dijatuhkan oleh hakim harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi anak sebagai pelaku tindak pidana. Dalam memilih sanksi pidana (jenis maupun berat ringannya sanksi) harus ada kemungkinan modifikasi pidana (perubahan atau penyesuaian) dalam pelaksanaannya.55 Sanksi pidana penjara terhadap anak JKG menimbulkan, kerugian mental, fisik, dan sosial terhadap anak, yang seharusnya sanksi pidana penjara diterapkan apabila tidak ada lagi upaya hukum lain yang menguntungkan bagi anak.56 Dalam perkara Nomor 21/Pid.Sus/2017/Pn.Smg.

Terdapat ketidaksesuaian hakim dalam mempertimbangan kepentingan terbaik bagi anak, yang seharusnya seorang anak sebagai pelaku tindak pidana (residivis) tidak hanya diberikan sanksi pidana penjara yang lebih menekakan pada teori pemidanaan yang bersifat pembalasan (Absolut), tetapi seorang hakim mempunyai hak dalam mempertimbangan dan memutuskan kepentingan terbaik bagi anak, dengan memberikan tindakan yang memposisikan anak sebagai pelaku tindak pidana membutuhkan pembinaan, bimbingan moral, mental dan psikis serta memperbaikinya agar anak menjadi generasi penerus bangsa yang lebih baik (konstruktif), tidak menjadikan anak sebagai pelaku tindak pidana yang harus menerima balasan atas perbuatannya yang akan merusak masa depan anak (destruktif).57

Dalam Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak pasal 2 huruf d kepentingan terbaik bagi anak.58 Asas kepentingan terbaik bagi anak yang dimaksudkan bahwa negara dan lembaga pemasyarakatan dalam melakukan tindakan terhadap anak harus mengutamakan kepentingan terbaik untuk anak. Terdapat beberapa asas yang hakim harus pertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi mental dan psikis anak sebagai pelaku tindak pidana dijelaskan dalam pasal 2 Undang- Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak sebagai berikut:

55 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijkan Hukum Pidana, (PT. Citra Aditya Bakti, Bandung1996) hlm. 43.

56 Pasal 81 ayat (5) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

57 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia (edisi revisi), Bandung; Refika Aditama, 2014, hlm.157.

58 Pasal 2 huruf d Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Referensi

Dokumen terkait

apabila berdasarkan putusan pengadilan dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan berencana, diberhentikan

Tidak pernah dipidana dengan pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan tindak pidana penjara 2 (dua)

Pasal 12 ayat (3) KUHP menyatakan bahwa : pidana penjara selama waktu tertentu boleh dijatuhkan untuk dua puluh tahun berturut-turut dalam hal kejahatan yang pidananya hakim

surat keterangan dari kejaksaan mengenai terpidana tidak menjalani pidana dalam penjara berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetapb. 6 Bagi Bakal Calon yang

3 mendapatkan putusan berbeda pada dua tingkat pengadilan, di mana putusan hakim pengadilan tinggi membatalkan putusan hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi Negeri

Pertimbangan hakim dalam unsur ini yaitu bahwa setelah memperhatikan kronologi dan proses terjadinya peristiwa tindak pidana oleh para pelaku yang diterangkan oleh saksi

(4) Pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama- lamanya dua puluh tahun dijatuhkan jika perbuatan itu berakibat ada orang luka atau

Hasil penelitian dari Pertimbangan hakim dalam putusan Pengadilan Ketapang No 359/Pid.Sus/2021/PN Ktp, hakim memberikan sanksi ringan pidana penjara selama 2 tahun terhadap pelaku