PROPOSAL PENELITIAN
KAJIAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN ANAK JALANAN MELALUI PUTUSAN PENGADILAN DI KOTA
BATAM
(Studi kasus Nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm)
Oleh:
Erine Deastrina 2151030
Dosen Pembimbing:
Emiliya Febriyani, S.H., M.H.
PROGRAM SARJANA HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS INTERNASIONAL BATAM
DESEMBER 2023
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...2
ABSTRAK...3
BAB 1 PENDAHULUAN...4
1.1. Latar Belakang...4
1.2. Rumusan Masalah...7
1.3 Tujuan Penelitian...7
1.4 Manfaat Penelitian...8
BAB II KAJIAN PUSTAKA...9
2.1. Kerangka Teori...9
2.2. Kerangka Konseptual...11
2.3. Kajian Penelitian Terdahulu...14
BAB III METODE PENELITIAN...31
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...34
3.1 Perlindungan Hukum Terhadap Anak Jalanan Dalam Putusan Nomor 64/Pid.Sus Anak/2021/PN Btm...34
3.2 Upaya Perlindungan Hukum Bagi Anak Jalanan Dalam Sistem Peradilan Pidana di Kota Batam...40
BAB V PENUTUP...44
DAFTAR PUSTAKA...45
ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji bentuk perlindungan hukum bagi anak jalanan dalam putusan pengadilan dan bagaimana upaya mewujudkan perlindungan hukum bagi anak jalanan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundang- undangan (statute approach), dan pendekatan kasus (case approach).
Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan dengan melihat pedoman perundang undangan. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk mendapatkan kesimpulan sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Penelitian ini menganalisis salah satu kasus putusan pengadilan di Kota Batam dengan Studi kasus Nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm yang menunjukkan upaya perlindungan anak jalanan sudah terlaksana di Kota Batam namun masih banyak kekurangan dari penanganan perlindungan anak jalanan di Kota Batam salah satunya adalah lembaga perlindungan khusus anak yang mana kondisi serta keterbatasan anggaran seperti fasilitas yang kurang memadai dan dana yang terbatas yang membuat pembinaan ini kurang optimal.
Kata Kunci : Anak Jalanan, Perlindungan Hukum Bagi Anak Jalanan, dan Putusan Pengadilan.
ABSTRACT
This research examines the forms of legal protection for street children in court decisions and how efforts are made to realize legal protection for street children in the criminal justice system in Indonesia. This research is normative juridical research using a statutory approach and a case approach. Data collection was carried out by literature study by looking at statutory guidelines. The analysis was carried out qualitatively to obtain conclusions in accordance with the problems studied. This research analyzes one of the court decision cases in Batam City with case study Number 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm which shows that efforts to protect street children have been implemented in Batam City but there are still many shortcomings in handling the protection of street children in Batam City one of which is a special child protection institution where conditions and budget limitations such as inadequate facilities and limited funds make this guidance less than optimal.
Keywords: Street Children, Legal Protection for Street Children, and Court Decisions
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Anak merupakan bagian tak terpisahkan bagi kelangsungan hidup manusia.
Keberlangsungan suatu bangsa dan negara juga tidak berjalan tanpa keberadaan anak. Pertanggungjawaban anak terhadap bangsa dan negara, begitu juga sebaliknya akan dapat tercipta manakala setiap anak memperoleh kesempatan untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal[CITATION Suk20 \l 1033 ] Supaya perlindungan anak jalanan terlaksanakan dengan baik perlu di lakukan upaya perlindungan yang mengacu pada kesejahteraan anak melalui pemberian jaminan terhadap hak-hak yang dimilikinya melalui Kajian Yuridis Tentang Perlindungan Hukum Terhadap Anak Jalanan Di Kota Batam harus di laksanakan dengan tidak melibatkan nilai diskriminasi pada prosesnya [CITATION Und01 \l 1033 ]. Tercantum dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 yang menerangkan bahwa : “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”[CITATION Und01 \l 1033 ].
Sebagaimana yang telah disebutkan yang kemudian dipertegas dalam dalam Undang Undang Dasar Pasal 34 ayat (1) 1945 mengenai kewajiban negara untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar [CITATION Und01 \l 1033 ]. Anak terlantar dalam hal ini adalah yang biasa kita sebut sebagai anak jalanan merupakan bagian dari tanggung jawab negara yang harus diberikan perhatian khusus[ CITATION Kho20 \l 1033 ].
Pertumbuhan Negara bergantung dengan pertumbuhan penduduknya, khususnya di kota besar di Indonesia rentan menimbulkan beberapa persoalan kehidupan. Mulai dari permasalahan ekonomi, politik, dan budaya. Di kota besar, permasalahan terkait anak jalanan sering kali menimbulkan masalah sekaligus rasa prihatin yang mendalam terhadap keadaan ini[ CITATION Rah18 \l 1033 ].
Masalah anak jalan sebagian besar telah diteliti oleh berbagai perspektif, Sri Sutatiek membahas dalam rangka memberikan perlindungan dan kesejahteraan anak, Hakim Anak dalam persidangan belum berperan secara optimal, karena belum semua pihak yang diatur dalam undang-undang pengadilan anak dilibatkan.
Hakim juga belum dapat berperan sebagai pengganti ibu dan ayah Anak tersebut.
Buktinya pidana penjara mayoritas dijatuhkan kepada Anak Nakal di Indonesia.
Padahal secara teoritik maupun praktek jenis pidana tersebut mempunyai kelemahan, terutama pada masa depan anak. Pertimbangan hakim secara yuridis lebih dominan digunakan oleh hakim anak dalam menetukan putusan pengadilan[CITATION Sri07 \l 1033 ]. Fanny Tanuwijaya membahas kemiskinan merupakan sebab utama diantara beberapa sebab adanya pekerja anak. Peraturan perundang-undangan belum mengakomodasi kemiskinan sebagai sebab utama adanya pekerja anak, sehingga perlindungan hukum untuk pekerja anak belum berorientasi pada pengentasan kemiskinan pekerja anak[CITATION Fan09 \l 1033 ], Abdul Rachmad Budiono membahas kemiskinan merupakan sebab utama diantara beberapa sebab adanya pekerja anak. Peraturan perundang-undangan belum mengakomodasi kemiskinan sebagai sebab utama adanya pekerja anak, sehingga perlindungan hukum untuk pekerja anak belum berorientasi pada pengentasan kemiskinan pekerja anak[CITATION Abd07 \l 1033 ].
Berdasarkan fakta mengenai permasalahan anak jalanan yang begitu kompleks terkait dengan anak jalanan hingga akan lebik baik jika terorganisirnya kemajuan untuk membuat suatu aturan yang sesuai dengan konteks terlebih lagi terkait masalah anak jalanan mengenai peraturan yang akan meminimalisir ketidakseimbangan keberlakuan undang-undang dengan menjaga peraturan pada undang-undang yang menyangkut perlindungan anak jalanan yang memberikan pengaturan perlindungan terkait perlindungan anak jalanan [ CITATION Fat13 \l 1033 ].
Hingga sampai kini belum ada Peraturan Pemerintah yang di terbitkan sesuai dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 terkait Perlindungan Anak sebagai tumpuan pemerintah Daerah untuk membuat peraturan daerahnya sesuai dengan pengaturan perundang undangan perlindungan
anak jalanan yang menguasai ajaran mengenai cara mendidik anak terhadap orang tua.
Tujuan dalam artikel ini adalah mengkaji bentuk perlindungan hukum bagi anak jalanan dalam putusan pengadilan dan bagaimana upaya mewujudkan perlindungan hukum bagi anak jalanan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia dan berkontribusi memberikan konsep hukum dalam mewujudkan perli dungan hukum pada anak jalanan. Selain itu, adanya perlindungan hukum anak jalanan dapat memberikan perlindungan yang hakiki dalam setiap kehidupannya dari Negara, dengan demikian hak tersebut menimbulkan suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh Negara melalui perangkatnya yang bernama pemerintah sehingga tercipta kehidupan berbangsa dan bernegara dengan baik yang dapat melindungi hak-hak asasi anak jalanan yang mencerminkan prinsip-prinsip hak asasi manusia[ CITATION Dah22 \l 1033 ] .
Keberadaan anak Jalanan ini terjadi karena kurangnya perhatian dan dukungan dari orang tua sehingga tidak banyak anak jalanan yang melakukan tindak pidana dari tindak pidana ringan maupun dari tindak pidana berat sekalipun. Hal inilah yang menjadikan kasus yang di lakukan anak jalanan bukan hanya sekali terjadi di Indonesia terutama kota Batam yang mana kasus pada penelitian ini adalah yang terjadi pada seorang anak jalanan yang masih berusia 16 tahun yang sudah berhadapan dengan hukum tindak pidana pada putusan Pengadilan Negeri Batam nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm. Yang bermula dari kasus pengeroyokan yang di lakukan sesama pengamen yang masih di bawah umur yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Atas perbuatan tersebut hakim menyatakan anak telah terbukti bersalah dengan melakukan tindak pidana kekerasan dengan cara pengeroyokan sehingga anak berhadapan dengan hukum dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun. Dengan melihat contoh kasus tersebut maka penulis mengkaji penelitian yang berjudul “KAJIAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN ANAK JALANAN MELALUI PUTUSAN PENGADILAN DI KOTA BATAM (studi kasus nomor 64/Pid.Sus- Anak/2021/ PN Btm)”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, maka rumusan masalah dari penelitian tersebut adalah :
1. Bagaimanakah bentuk perlindungan hukum terhadap anak jalanan dalam putusan hakim Nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm ?
2. Bagaimanakah upaya perlindungan hukum bagi anak jalanan dalam sistem peradilan pidana di kota Batam?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin di capai pada penulisan tesis ini adalah Sebagai berikut:
1. Untuk mengkaji dan menganalisis bentuk perlindungan hukum terhadap anak jalanan dalam putusan pengadilan di kota Batam dalam putusan Nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm.
2. Untuk mangajukan konsep upaya perlindungan hukum bagi anak jalanan dalam sistem peradilan pidana di Kota Batam khususnya dalam putusan nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis, manfaat dilakukannya penelitian ini di harapkan dapat berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam berkontribusi untuk memberikan informasi dan bermanfaat untuk penulis, instansi, juga masyarakat.
2. Secara praktis manfaat di lakukannya penelitian memberikan masukan kepada pembuat kebijakan seperti pemerintah untuk dapat menjadi wacana baru sekaligus menjadi pertimbangan dalam menjalankan kebijakan yang ada terutama dalam perlindungan hukum anak jalanan di kota Batam seperti, penegak hukum dan masyarakat terhadap “Kajian
yuridis terhadap perlindungan anak jalanan melalui putusan pengadilan Nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kerangka Teori
Kerangka teori dalam penulisan ini adalah teori hukum positivisme dan teori hukum perlindungan.
1. Teori Hukum Positivisme
Pendapat ahli John Austin yang berkaitan dengan pembahasan persoalan dari penelitian ini. John Austin mendefinisikan hukum sebagai yang berpendirian bahwa hukum adalah perintah dari penguasa (law is command of a lawgiver ), yang berarti perintah dari pemegang kekuasaan tertinggi atau yang memegang kedaulatan. Selanjutnya Austin, mengemukakan bahwa hukum yang tepat disebut hukum (hukum positip) mempunyai 4 (empat) unsur, yaitu: Command (perintah),Sanction (sanksi adalah ancaman hukuman), Duty (kewajiban), dan Sovereignty (kedaulatan). Hukum positip semacam “perintah” (command), karena perintah, maka mesti berasal dari satu sumber tertentu. Bila suatu perintah dikeluarkan atau diberitahukan, maka ada pihak yang menghendaki sesuatu yang harus dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pihak yang lain (kewajiban), dan pihak yang terakhir ini diancam dengan sesuatu yang tidak enak (sanksi) yang akan dibebankan kepadanya, jika ia tidak menuruti apa yang dikehendaki oleh pihak pertama. Tiap hukum positip dibuat oleh seseorang / badan yang berdaulat yang memegang (suvereign). Aliran ini mendekonstruksi konsep-konsep hukum aliran hukum alam, dari konsepnya yang semula metafisik (hukum sebagai ius atau asas-asas keadilan yang abstrak) kekonsepnya yang lebih positif (hukum sebagai aturan perundang-undangan), oleh sebab itu harus dirumuskan secara jelas dan pasti. Perintah tersebut harus ditaati oleh setiap masyarakat dan apabila melanggarnya akan dikenakan sanksi yang tegas dan nyata[CITATION Lil01 \l 1033 ].
2. Teori Perlindungan Hukum
Teori Perlindungan hukum sangat tidak asing saat membahas mengenai hukum perlindungan konsumen, perlindungan hukum terhadap korban dan saksi, perlindungan hukum anak dan sebagainya yang berkaitan dengan perlindungan hukum. Semua teori selalu mengarah kepada teori perlindungan hukum yang di definisikan oleh Philipus M.hadjon.
Dalam teori yang di kemukakan oleh Philipus M.hadjon berpandangan kepada prinsip dasar hukum dari Pancasila yang memuat :
a. Adanya hubungan hukum antara pemerintah dengan rakyat berdasarkan asas kerukunan.
b. Hubungan fungsional yang proposional antara kekuasaan-kekuasaan Negara.
c. Prinsip penyelesaian sengketa secara musyawarah dan peradilan merupakan sarana terakhir.
d. Keseimbangan antara hak dan kewajiban
Sebagaimana yang di jelaskan oleh [CITATION Had87 \l 1033 ].
Perlindungan hukum dibagi menjadi dua, yaitu sarana perlindungan hukum preventif dan sarana perlindungan hukum represif. Menurut Philipus M Hadjon dengan bukunya yang berjudul Pelindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Penanganannya dan Pengadilan Dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi Negara, di Indonesia belum ada pengaturan secara khusus mengenai sarana perlindungan hukum preventif. Philipus M Hadjon dalam bukunya juga lebih menitikberatkan kepada sarana perlindungan hukum yang represif, seperti penanganan perlindungan hukum di lingkungan Peradilan Umum. Ini berarti bahwa perlindungan hukum baru diberikan ketika masalah atau sengketa sudah terjadi, sehingga perlindungan hukum yang diberikan oleh Peradilan Umum bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. Begitu juga dengan teori-teori lain yang menyinggung tentang perlindungan hukum juga membahas sarana perlindungan hukum yang bersifat represif[CITATION Had87 \l 1033 ].
2.2. Kerangka Konseptual
1. Kajian Yuridis
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kajian memiliki arti hasil mengkaji dan kata mengkaji berarti mempelajari; memeriksa; menyelidiki;
menguji; menelaah baik buruk suatu perkara, sedangkan kata yuridis berarti menurut hukum atau secara Kata Yuridis berasal dari bahasa Inggris yaitu yuridisch yang memiliki arti setiap masyarakat wajib menaati aturan hukum yang telah dibuat oleh pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa maksud dari kajian yuridis yaitu mempelajari dengan cermat baik buruk suatu perkara terkait aturan hukum yang telah dibuat oleh pemerintah. Teori kajian yuridis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teori argumentasi hukum. Teori argumentasi dilakukan dengan mengembangkan kriteria-kriteria yang telah dijadikan landasan suatu argumentasi agar menjadi lebih rasional dan jelas. Teori argumentasi ini termasuk dalam model argumentasi khusus[ CITATION Phi05 \l 1033 ]. berikut alasan kekhususan argumentasi hukum:
a) Argumentasi hukum selalu bermula dari hukum positif yang berkembang mengikuti perkembangan zaman atau dengan kata lain tidak statis.
b) Argumentasi hukum saling terkait dengan kerangka prosedural yang berisi argumentasi serta diskusi rasional.
2. Perlindungan Hukum Anak Jalanan
Perlindungan anak adalah segala usaha yang dilakukan untuk menciptakan kondisi agar setiap anak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan dan pertumbuhan anak secara wajar baik secara fisik, mental, maupun sosial.
Kegiatan perlindungan anak membawa akibat hukum, baik dalam kaitannya dengan hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis. Hukum merupakan jaminan bagi kegiatan perlindungan anak. Pasal 1 Angka 2 Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 menegaskan bahwa perlindungan anak adalah segala
kegiatan untuk Masalah Perlindungan Hukum bagi Anak, Peradilan Anak di Indonesia, menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi [ CITATION Und \l 1033 ]. Secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dan kekerasan dan diskriminasi. Perlindungan anak dapat juga diartikan sebagai segala upaya yang ditujukan untuk mencegah, rehabilitasi, dan memberdayakan anak yang mengalami tindak perlakuan salah (child abused), eksploitasi, dan penelantaran, agar dapat menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak secara wajar, baik fisik, mental, dan sosialnya.[CITATION Ari89 \l 1033 ] Arif Gosita berpendapat bahwa perlindungan anak adalah suatu usaha untuk melindungi anak agar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya.
pelaksanaan perlindungan anak harus didasarkan pada UUD 1945 dan berbagai peraturan perundang-undangan Iainnya yang berlaku. Penerapan dasar yuridis ini harus secara integratif, yaitu penerapan terpadu menyangkut peraturan perundang- undangan dari berbagai bidang hukum yang berkaitan[CITATION Ari89 \l 1033 ] .
3. Anak
Anak adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Agar kelak mampu bertanggung jawab dalam keberlangsungan bangsa dan negara, setiap anak perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun social [ CITATION Ibr18 \l 1033 ]. Proses pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan bagian penting dari masa kanak-kanak. Meski berbeda, namun keduanya tidak dapat dipisahkan.
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai proses kematangan secara fisiologis, seperti pada bertambah nya berat badan, tinggi badan, dan pertumbuhan jasmani lainnya.
Sedangkan perkembangan adalah perubahan yang sangat erat kaitannya dengan psikis dan fisik. Perubahan seperti ini tentunya tidak lepas dari pengaruh keluarga, lingkungan, atau masyarakat di sekitarnya[ CITATION Ais15 \l 1033 ] .
4. Anak Jalanan
Menurut Departemen Sosial RI (2005: 5), Anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari- hari di jalanan, baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalan dan tempat- tempat umum lainnya. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri, berusia antara 5 sampai dengan 18 tahun, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan, penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus, mobilitasnya tinggi [CITATION Dep \l 1033 ]. Selain itu, Direktorat Kesejahteran Anak, Keluarga dan Lanjut Usia, Departemen Sosial memaparkan bahwa anak jalanan adalah anak yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya, usia mereka berkisar dari 6 tahun sampain 18 tahun. Adapun waktu yang dihabiskan di jalan lebih dari 4 jam dalam satu hari.
Pada dasarnya anak jalanan menghabiskan waktunya di jalan demi mencari nafkah, baik dengan kerelaan hati maupun dengan paksaan orang tuanya. Dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak jalanan adalah anak-anak yang sebagian waktunya mereka gunakan di jalan atau tempat-tempat umum lainnya baik untuk mencari nafkah maupun berkeliaran.[ CITATION Ham13 \l 1033 ] Dalam mencari nafkah, ada beberapa anak yang rela melakukan kegiatan mencari nafkah di jalanan dengan kesadaran sendiri, namun banyak pula anak- anak yang dipaksa untuk bekerja di jalan seperti mengemis, mengamen, menjadi penyemir sepatu, dan lain-lain oleh orang-orang di sekitar mereka, entah itu orang tua atau pihak keluarga lain, dengan alasan ekonomi keluarga yang rendah. Ciri- ciri anak jalanan adalah anak yang berusia 6 – 18 tahun, berada di jalanan lebih dari 4 jam dalam satu hari, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan, penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus, dan mobilitasnya tinggi [ CITATION Ber22 \l 1033 ].
5. Perlindungan Anak Jalanan Di Kota Batam
Anak jalanan merupakan fenomena sosial di kota-kota besar, dan bahkan di sejumlah kota kecil juga masih banyaknya keberadaan anak jalanan dimana mana . Penanganan anak jalanan dan perlindungan anak jalanan menjadi PR yang berat bagi pemerintah kota Batam, dikarenakan keberadaan komunitas anak jalanan tersebut secara langsung mengganggu keindahan, selain itu keberadaan anak jalanan semakin lama semakin meningkat, yang karnanya dapat menyebabkan terganggunya ketenteraman, dan keamanan masyarakat. [ CITATION Pur02 \l 1033 ] .
Berbagai upaya perlindungan masalah sosial di Kota Batam terkait anak jalanan telah dilakukan oleh pemerintah seperti halnya membuat kebijakan, yang mana Selain itu, keberadaan gelandangan, pengemis, dan anak terlantar menjadi salah satu indikator ketidaksejahteraan masyarakat. Selain itu bukan hanya pemerintah yang mengambil alih akan tetapi banyak pihak turun tangan untuk sekedar terlibat dalam mengatasi permasalahan anak jalanan di kota Batam, karena anak jalanan merupakan suatu masalah yang sangat kompleks karena menyangkut berbagai aspek ekonomi, sosial-budaya, psikologis dan sebagainya. dalat menguranfi keberadaan anak jalanan.
6. Putusan Pengadilan
Seperti yang di jelaskan di dalam pasal 1 Ayat 11 KUHP Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Dapat dikatakan bahwa putusan hakim merupakan “akhir” dari proses persidangan pidana untuk tahap pemeriksaan di pengadilan negeri yang mana pada penelitian ini mengambil putusan pengadilan negeri Batam dengan Nomor Putusan 64/Pid.Sus- Anak/2021/PN Btm.
2.3. Kajian Penelitian Terdadulu
Kelemahan-kelemahan yang terdapat pada penelitian sebelum sebelumnya terkait dengan perlindungan anak jalanan tersebut menjadi acuan penulis untuk
melakukan penelitian dengan model yang sama, yaitu menggunakan analisis kasus untuk meningkatkan pemahaman dalam perlindungan hukum terhadap anak jalanan di kota Batam dengan mengambil studi kasus putusan nomor 64/Pid Sus- Anak /2021/PN Btm Sebagaimana yang kami jelaskan diatas mengenai penelitian terdahulu, dimaksudkan untuk memperjelas posisi penelitian yang peneliti lakukan. Dan penelitian yang peneliti lakukan ini mempunyai titik yang berbedaa dengan penelitian terdahulu.
Tabel 1. Penelitian Terdahulu No
.
Nama Penulis (Tahun) - Judul
Metode Penelitian Hasil Penelitian Kekurangan Penelitian 1 Samad, E. C., &
Tantimin, T.
(2022).
Efektivitas
Pemerintah dalam Mencegah Serta Mengurangi Anak Jalanan di Kota Batam.
Metode Penelitian Sosiologi Non Doktrinal yang berarti akan menggunakan data- data empiris yang diperoleh melalui wawancara dan observasi
Penelitian ini menyimpulkan
semua anak
jalanan di Kota Batam ada karena dilatar belakangi permasalahan dalam keluarga sehingga anak memilih berada di jalan dan melakukan apa saja hanya untuk mempertahankan hidup.
Pada penelitian ini tidak mendorong dilakukanny a penelitian lanjutan serta di dalam penelitian ini tidak adanya contoh perhitungan atau data.
2 kArtini, E.
(2022). Implement asi Kebijakan Program
Pembinaan Dinas
Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif dan dengan sumber
Implementasi kebijakan program
pembinaan dinas sosial terhadap
Kekurangan dari
penelitian ini adalah kurangnya
Sosial terhadap Anak Jalanan di Kota Batam.
data wawancara dan kepustakaan.
anak jalanan di kota batam sudah baik tetapi belum maksimal
data data yang jelas pada latar belakang 3 Kende, D. S.
(2020). Kinerja Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembinaan Anak Jalanan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau.
Jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan induktif.dengan melakukan observasi,
wawancara dan dokumentasi
Faktor faktor hambatan yang menghambat pembinaan anak jalanan masih belum efektif di Batam.
Kurangnya penjelasan mengenai latar belakang yang masih tidak
lengkap dan Penelitian ini tidak dijelaskan data anak jalanan yang telah di survei oleh peneliti.
4 Chandra, B.
(2021). Analisis Kasus
Berdasarkan Teori Sosiologi Hukum Pengamen dan Anak Jalanan Di Bawah Umur Terhadap Pasal 34 Undang-Undang
Dasar Tahun
Menggunakan penelitian hukum normatif dengan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan dan survei.
Peran pemerintah terhadap
pelaksanaan penertiban
pengamen dan anak jalanan Kota
Batam dapat
melakukan dengan menerapkan Teori Dumairy
Penelitian ini tidak dijelaskan data anak jalanan yang telah di survei oleh peneliti.
1945.
5 Tamba, D.
(2022). Implement asi Peraturan Daerah Nomor 2
Tahun 2016
tentang
Penyelenggaraan Perlindungan Anak di Kota Batam.
Penelitian
deskriptif dengan pendekatan
kualitatif dan melihat
informasiterbaru si lapangan dengan cara menggunakan narasumber.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
komunikasi yaitu 1. Komunikasi Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat sudah terkomunikasikan dengan cukup
baik dengan
melibatkan tokoh masyarakat, dinas sosial,
pendamping dinas sosial kemudian polisi,
pelaku, dan
korban serta masyarakat sadar dari layanan yang melindungi anak- anak. Menurut peneliti,
komunikasi antara Dinas
Sosial dan
pemberdayaan masyarakat harus lebih ditingkatkan
Sulitnya mengakses penelitian yang membuat kurang dari penelitian ini selain itu kurangnya penjelasan mengenaj implementas i daerah dan hanya lebih mendalami faktor penghambat pelaksanaan perda
penyelengga raan
perlindunga n anak
agar masyarakat dan korban berani melapor ke Dinas
Sosial dan
pemberdayaan masyarakat.
6 Firina, W. M.
(2020).
Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja Anak Dalam Transaksi Penjualan Koran di Kota Batam.
Metode
pendekatan Yuridis Sosiologis
ditujukan terhadap kenyataan dengan cara melihat penerapan hukum (Das Sein), dalam hal ini UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak sebagaimana di ubah dengan UU Nomor 35 Tahun 2014 dan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan..
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen yurisdiksi negara a
dalah untuk melindungi pekerja anak melalui
konstruksi undang-undang yang
melarang anak- anak di bawah
umur untuk
bekerja dan
bahkan jika mereka harus, berdasarkan ketentuan norma- norma, adalah wajib bagi mer eka untuk menerima perlindungan hukum yang tepat.
Kekurangan pada artikel ini adalah kurangnya penyampaia n mengenai peran
pemerintah mencegah adanya pekerja anak selain itu.
7 Debora, D. T., &
epriadi, d. (2022).
Implementasi peraturan daerah nomor 2 tahun
Penelitian yang peneliti sajikan berupa jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan
Hasil penelitian menunjukkan hal itu
komunikasi yaitu 1.Komunikasi
Kurang lengkapnya data data yang telah di cantumkan
2016 tentang penyelenggaraan perlindungan anak
di kota
batam. Scientia joirnal.
deskriptif dengan
sumber data
melalui wawancara dan dokumentasi
Dinas Sosial dan Kemasyarakatan Pemberdayaan sudah
dikomunikasikan dengan cukup
baik dengan
melibatkan tokoh masyarakat, dinas sosial, sosial asisten layanan maka polisi,
pelaku, dan
korban serta masyarakat mengetahui layanan tersebut yang melindungi anak-anak.
Menurut peneliti, komunikasi antara Dinas Sosial dan
pemberdayaan masyarakat harus lebih ditingkatkan agar masyarakat dan korban berani melaporkan kepada Dinas
Sosial dan
peneliti dalam penelitianny a selain itu akses jurnal yang sulit di jangkau.
pemberdayaan masyarakat.
8 Aslina, n. (2021).
Analisis
pengamen dan anak jalanan di
bawah umur
perspektif teori sosiologi hukum dan pasal 34 undang-undang
dasar tahun
1945.).
Peneliti ini menggunakan metode Kualitatif, dengan penelitian Hukum Normatif penulis
menggunakan pendekatan studi kasus, dan survey.
Berdasarkan Teori Sosiologi Hukum
pengamen dan anak jalanan di
bawah umur
terdapat dalam Pasal 34 Undang- Undang Dasar Tahun 1945, menjelaskan bahwa
keberadaan anak
jalanan dan
pengamen di
Kota Batam
merupakan suatu bentuk
kesenjangan
sosial yang
terjadi di Kota Batam
Pada penelitian ini tidak di jelaskan mengenai hasil
pembahasan yang relevan selaain itu pada
penelitian ini tidak di cantumkan data adata relevan dengan hasil survei yang telah
peneliti kerjakan.
9 Damayu lase, c.
C., kustiawan, k.,
& Satyagraha Adiputra, y.
(2022). Implement asi peraturan
Metode penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Adapun teknik analisis dalam penelitian ini
Berdasarkan hasil penelitian maka diketahui bahwa Implementasi Peraturan Daerah Kota
Akses jurnal yang sulit di jangkau serta kurangnya penjelasan
daerah kota tanjungpinang nomor 2 tahun 2015 tentang penyelenggaraan perlindungan anak (studi pada anak jalanan di kota
tanjungpinang)
adalah dengan memaparkan hasil wawancara secara deskriptif
kualitatif, apabila semua data telah terkumpul maka semua data akan
dipilah dan
dianalisis sesuai fakta di lapangan
Tanjungpinang Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak (studi pada anak jalanan di Kota
Tanjungpinang) sudah
dilaksanakan meskipun ada beberapa hal
yang perlu
diperhatikan Bahwa di Kota Tanjungpinang sampai saat ini masih ditemui
adanya anak
jalanan, dalam kehidupan nyata, belum semua haknya terpenuhi
mengenai peranan pemerintah dalam perlindunga
n ana
jalanan.
10 Permatasari, D.
(2021).
Perlindungan Hukum Terhadap Pendidikan Anak Jalanan
Berdasarkan
Jenis penelitian ini adalah kualitatif pengumpulan data lapangan
Pengumpulan data yang digunakan adalah data primer
Berdasarkan hasil yang didapat pemenuhan hak pendidikan anak jalanan di Kota Malang masih jauh dari kata
Di dalam abstrak tidak terdapat hasil penelitian dan terlalu fokus
Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak (Studi Di Kantor Dinas
Sosial Kota
Malang).
sebagai pendukung dari pengamatan mengenai masalah yang akan penulis teliti dan yang terjadi dilapangan
sempurna masih sangat banyak kita temui anak
jalanan dan
mereka masih memperdulikan pendidikannya,
namun yang
menjadi persoalannya adalah mereka menghabiskan waktu pulang sekolahnya untuk mencari nafkah, hal tersebut sebaiknya anak-
anak harus
menfokuskan agar mereka giat
belajar dan
menempuh pendidikan yang layak.
kepada hambatan pelaksanaaa n
perlindunga n hukum daroipada Perlindunga n hukumnya
12 Sakinah, N.
(2021). Tinjauan Yuridis Terhadap Perlindungan Anak Jalanan Oleh Dinas Sosial Kota Banda Aceh
Metode penelitian ini adalah yuridis empiris dimana
data primer
menjadi acuan penelitian data yang diperoleh dari
Hasil penelitian menunjukan bahwa Pelaksanaan perlindungan anak jalanan yang dilakukan oleh
Di dalam abstrak penelitian ini tidak di jelaskan hasil penelitian
hasil wawancara dengan pihak instansi terkait dan data yang diperoleh dari penelusuran kepustakaan
dipadukan serta dianalisis secara kualitatif
Dinas Sosial Kota
Banda Aceh
berdasarkan Peraturan
Walikota Nomor 46 Tahun 2016 ini dinilai masih belum tuntas dan berjalan dengan
baik karena
belum menyentuh akar persoalan sehingga
permasalahan anak jalanan masih berlanjut hingga sekarang.
dan tujuan penelitian selain itu penelitian ini berfokus kepada factor penghambat perlindungn anak
jalanan.
13 Madhani, i.
(2018). Tinjauan yuridis terhadap anak jalanan menurut hukum
positif di
indonesia.
Metode yang
digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah tipe penulisan yuridis normatif yaitu berdasarkan dari hasil kajian buku- buku, jurnal-jurnal
dan dengan
menggunakan ketentuan perundang-
undangan yang
Hasil
pembahasan dari
skripsi ini
menjelaskan
bahwa tidak
terpenuhinya kebutuhan dalam sebuah keluarga sehingga
mendorong seorang anak untuk turun dijalanan,
keluarga yang
Penelitian ini hanya berfokus kepada faktor keberadaan anak jalanan yang di lihat secara hukum yuridis.
berlaku tidak harmonis (BrokenHome) menjadikan seorang anak turun di jalanan karena kurangnya perhatian dan bimbingan yang diberikan oleh
orang tua,
pengaruh teman dimana
mempunyai andil yang sangat kuat terhadap
kepribadian seorang anak sehingga akan berdampak fatal
ketika anak
berhadapan dengan lingungan yang tidak kon dusif, keinginan untuk memiliki uang sendiri dimana orang bekerja demi mencari uang, dan uang itu mereka gunakan
untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya dan keluarganya 14 Isnawati, S. H.
(2017). Tinjauan yuridis terhadap peranan
pemerintahan daerah dalam penertiban anak jalanan (anjal) di kota samarinda.
Jurnal Ilmiah Hukum DE'JURE:
Kajian Ilmiah Hukum
Metode penelitian yang digunakan dalam mengatasi anak jalanan dalam perspektif hukum adalah Yuridis Normatif
Hasil
Pembahasan bahwa terkait Peraturan Daerah Kota Samarinda
di mana
Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 16 Tahun
2002 harus
dirubah dan
dikaji ulang secara materiil karena tidak sesuai dengan
pola hidup
masyarakat Kota Samarinda saat ini dan Undang- undang Nomor 35 Tahun 2014.
Penelitian ini hanya berfokus kepada upaya hukum yang dilakukan oleh
Pemerintaha
n Kota
Samarinda dalam penertiban anak jalanan saja.
15 Haling, S., Halim, P., Badruddin, S.,
& Djanggih, H.
(2018).
Metode penelitian yang digunakan dalam mengatasi anak jalanan dalam
Hasil Penelitian menunjukkan wujud
pelanggaran hak
Penelitian ini sulit untuk di akses selain
Perlindungan hak asasi anak jalanan dalam bidang pendidikan
menurut hukum nasional dan konvensi
internasional.
Jurnal Hukum &
Pembangunan
perspektif hukum adalah Yuridis Normatif
asasi anak jalanan dalam bidang pendidikan merupakan tindakan
pengabaian oleh pemerintah dan termasuk kategori
violence by
omission yang dapat
dipertanggung jawabkan secara yuridis kepada pemerintah sebagai
pertanggungjawa ban dalam bidang hukum.
itu di dalam penelitian ini hanya berfokus kepada hukum nasional dan konvesi international di
bandingkan dengan perlindunga n hak anak jalanan
16 Laksmana, D. F.
S., & Irawan, A.
D. (2021).
Perlindungan Hak Anak Jalanan Sebagai Korban Penelantaran.
Binamulia Hukum
Penelitian ini merupakan
penelitian yuridis normatif yang menekankan
penafsiran hukum
positif dan
menganalisis bahan-bahan
kepustakaan yang ada serta norma- norma hukum
Analisis bagaimana perlindungan hukum hak anak jalanan sebagai korban
penelantaran dan upaya apa yang dapat dilakukan dalam memenuhi hak anak jalanan sebagai korban
Di dalam penelitian ini tidak di cantumkann ya metode penelitian dan hasil penelitian di dalam abstrak selain itu akses yang
tertulis Data yang dipakai adalah data primer yang terdiri atas peraturan
perundang-
undangan dan data sekunder yaitu buku, artikel, jurnal, dan internet
penelantara sulit untuk membuka jurnal tersebut.
17 M.Muhammad, 2016.
Perlindungan hukum terhadap anak jalanan di kota arga makmur kabupaten
bengkulu utara perspektif hukum keluarga islam .
Jenis penelitian yang yuridis empiris. Data didapat melalui informan anak jalanan dan dinas sosial dengan mengunakan
metode pengamatan, wawancara
mendalam dan pengumpulan data sekunder,
kemudian setelah data didapat dilakukan
rekotruksi bahan dengan dianalisis secara yuridis
Hasil penelitian menunjukan
bahwa 1)
penyebab
muncul- nya anak jalanan di kota Arga Makmur disebabkan karena faktor ekonomi, faktor kemauan sendiri (kemandirian), dan faktor budaya (kebiasaan), faktor orang tua.
2) Islam telah memberikan petunjuk kepada umatnya untuk memberikan
Penelitian ini terlalu berfokus kepada perlindunga
n anak
jalanan yang bercondong kepada hukum islam saja selain itu akses yang sulit untuk membuka penelitian ini.
kualitatif dengan metode deduktif dan induktif.
perlindungan terhadap anak- anaknya. Islam tidak pernah menyebutkan dan menyinggung tentang
perbedaan gender dan jenis kelamin dari seorang anak.
18 Raja Indriani Fajrianti , 2022 Collaborative Governance Dalam Perlindungan Anak di Kota Batam Tahun 2020
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif berjenis deskriptif. Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi.data sekunder diperoleh melalui
dokumentasi..
Dialog tatap
muka dalam
perlindungan anak di kota Batam tahun 2020 dilakukan melalui rapat koordinasi yang cukup sering dilakukan ketika
ada suatu
masalah kasus anak yang perlu untuk melibatkan berbagai pihak.
Dengan beberapa tahap seperti komitmen,
pemahaman Bersama, dan
Penelitian ini tidak mencantumk an beberapa kerangka konseptual pada beberapa kata hal ini yang
membuat beberapa orang awam tidak
memahami penelitian ini.
hasil sementara.
19 Nelly Kristina Sitorus, 2023 Strategi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak,
Pengendalian Penduduk dan Keluarga
Berencana dalam Mencegah
Kekerasan
Perempuan di Kota Batam
Jenis metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif
pendekatan
kualitatif dengan menggunakan teknik
pengumpulan data wawancara,
observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Strategi Dinas
Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak,
Pengendalian Penduduk dan Keluarga
Berencana dalam Mencegah
Kekerasan
Perempu an di
Kota Batam
sudah baik akan tetapi perlu meningkatjan kinerja yang diperlukan oleh korban kekerasan perempuan.
Di dalam penelitian ini peeneliti hanya berfokus kepada Undang- Undang Nomor 7 tahun 1984 saja selain itu sulitnya untu
mengakses penelitian ini yang membuat kekurangan pd
penelitian ini.
20 RH.Hutauruk , 2021
Perlindungan hukum terhadap gelandangan dan pengemis di kota batam sebagai
Peneliti menggunakan penelitian hukum empiris atau sosiologis dan dapat disebut pula dengan penelitian
Hasil penelitian
yang telah
dilakukan oleh Peneliti
menunjukkan selama empat tahun terakhir
Penelitian ini terlau berfokus kepada implementas i Peraturan Daerah Kota
akibat
implementasi peraturan daerah kota batam nomor 6 tahun 2002 tentang ketertiban sosial
lapangan, yaitu mengkaji ketentuan
hukum yang
berlaku serta apa yang terjadi dalam kenyataannya di masyarakat.
(2016 - 2019) jumlah
gelandangan dan pengemis di Kota Batam cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Sampai dengan
tahun 2019
jumlah
Gelandangan dan Pengemis di Kota Batam mencapai
588 orang.
Selanjutnya secara represif melakukan
penertiban, penjangkauan, pendataan
gelandangan dan pengemis untuk ditindak lanjuti proses
rehabilitasi.
Batam No. 6 Tahun 2020, Faktor penghambat perlindunga n hukum dan bukan kepada perlindunga n
hukumnya.
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif yang menggunakan metode penelitian hukum yang berdasarkan prinsip dilakukannya penelitian terhadap kaidah hukum berdasarkan perundang undangan, Yurisprudensi, dan Doktrin yang di lakukan secara kualitatif. Pada penelitian ini objek kajiannya menggunakan sumber data seperti buku yang di peroleh dari membaca, menelaah, dan mengutip dari literatur dan melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang undangan serta mengkaji beberapa penelitian terdahulu terkait dengan perlindungan anak jalanan di Batam.
3.2. Pendekatan Penelitian
Metode Pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan peraturan perundang undangan (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach).
a. Pendekatan Perundang-Undangan (Statute Approach)
Pendekatan ini menggunakan pendekatan perundang undangan dalam hal ini menggunakan UU Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 dan undang undang lainnya yang berkaitan dengan perlindungan anak jalanan.
b. Pendekatan Kasus
Pendekatan ini dilakukan dengan melakukan telaah pada kasus yang berkaitan dengan hukum perlindungan anak jalanan di kota Batam yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap atai incraht. Kemudian dengan melihat kajian pada putusan untuk dapat memecahkan isu tentang perlindungan anak jalanan.
3.3. Sumber Data
Pada penelitian ini objek kajiannya menggunakan sumber data melalui penelitian kepustakaan( library research) dengan sumber data sekunder secara
tidak langsung seperti buku yang di peroleh dari membaca, menelaah, dan mengutip dari literatur dan melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang undangan serta mengkaji beberapa penelitian terdahulu terkait dengan perlindungan anak jalanan di kota Batam.
Adapun jenis data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah a. Bahan hukum primer, yaitu perangkat peraturan perundang undangan yang
berlaku, putusan pengadilan seperti UU Perlindungan Anak No 35 Thn 2014 b. Bahan hukum sekunder, yaitu buku buku ilmu hukum,berupa jurnal ilmu
hukum, laporan penelitian ilmu hukum,artikel ilmiah hukum, dan sebagainya.
c. Bahan hukum tersier, yaitu meneliti dengan berkaitan dengan penelitian terdahulu dan ensiklopedia yang berkaitan dengan topik penelitian.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Berdasarkan sumber data yang terdapat dalam penelitian ini menggunakan sumber data sekuder, adapun tahapan yang dilakukan untuk memperoleh data sekunder pada penelitian ini ialah dengan mengunakan sebagai berikut :
a. Penelitian Kepustakaan
Penulis mengumpulkan data sekunder yang merupakan kerangka dasar dan penelitian ini dengan mengumpulkan beberapa referensi seperti jurnal, buku terkait perlindungan hukum, dan beberapa website terkait dan pastinya perundang-undangan yang relevan dengan permasalahan perlindungan hukum terhadap anak jalanan.
b. Studi Putusan nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm
Penulis mengumpulkan data data yang berkaitan dengan putusan nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm agar sesuai objek-objek atau sumber data, untuk mendapatkan data yang akurat dan objektif, dilakukan dengan menggunakan metode pencarian putusan di website Pengadilan Negeri Batam.
3.5. Analisis Data
Adapun model analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunnakan data metode analisis deskriptif kualitatif, Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data deskriptif kualitatif. Adalah:
a. Mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan tentang gambaran dari tema penelitian yang berkaitan dengan perlindungan anak jalanan di kota Batam melalui pengumpulan data kepustakaan secara tidak langsung dan juga putusan nomor 64/Pid.Sus-Anak/2021/PN Btm.
b. Mengolah data yang ada serta menganalisis secara mendalam dengan beberapa pendekatan seperti pendekatan peraturan perundang undangan (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach) dengan mempelajari komponen-komponen yang terkait dengan perlindungan anak jalanan di kota Batam.
c. Menyajikan data secara deskriptif dengan cara mendeskripsikan data atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya sehingga lebih spesifik, transparan dan mendalam.
3.6. Jadwal Penelitian
No
Uraian Kegiatan
5 Sept
11 Sept
18 Sept
25 Sept
09 Okt
16 Okt
23 Okt
30 Okt
06 Nov
27 Nov
08 Des
17 De s
20 Des
25 Des
1
Pemilihan judul penelitian
2
Pencarian Sumber Penelitian di Google Schoolar
3
Penentuan pembuatan rumusan masalah 5 BAB I
Pendahuluan
6
BAB II Tinjauan Pustaka
7
BAB III Metode Penelitian
9
BAB IV Hasil dan
Pembahasan
10
BAB V Penutup
11
Finalisasi laporan penelitian
12
Pengumpulan laporan penelitian
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Perlindungan Hukum Terhadap Anak Jalanan Dalam Putusan Nomor 64/Pid.Sus Anak/2021/PN Btm
Untuk melihat bagaimana perlindungan hukum terhadap anak jalanan dalam putusan Pengadilan Negeri, berikut ini disampaikan contoh putusan: Putusan Pengadilan Negeri Batam Nomor: 64/Pid.Sus Anak/2021/PN Btm dalam perkara Pengeroyokan terhadap anak jalanan dengan terdakwa I W (nama di samarkan).
Jaksa Penuntut Umum mengajukan terdakwa di persidangan dengan dakwaan tunggal yaitu melanggar Pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHPidana, dengan tuntutan:
menyatakan terdakwa (I W), terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana melakukan pengeroyokan yang mengakibatkan maut sebagaimana dalam dakwaan Pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHPidana, menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa selama 3 (tiga) tahun dikurangi selama anak berada dalam tahanan dengan perintah agar anak tetap di tahan.
Berdasarkan Pertimbangan hakim anak: Pertama, berdasarkan keterangan saksi saksi, keterangan Anak dan dihubungkan dengan Barang bukti yang satu sama lain telah saling bersesuaian serta dengan dihadapkannya Anak ke persidangan yang identitasnya telah dibenarkan oleh anak terungkap fakta-fakta, terdakwa I W (nama disamarkan) telah melakukan aksi pengeroyokan bersama dengan rekan anak jalanannya; Kedua, berdasarkan pemeriksaan identitas Anak, diketahui bahwa Anak W berumur 15 (lima belas) tahun, sehingga berdasarkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang berkonflik dengan hukum atau disebut Anak yakni Anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana, maka secara yuridis anak dapat dikualifikasikan sebagai subjek hukum, sehingga apabila seluruh unsur yang didakwakan kepadanya, yang bersangkutan dipandang mampu untuk
mempertanggung jawabkan perbuatannya; Ketiga Berdasarkan Hasil Laporan Penelitian Kemasyarakatan Sidang Pengadilan Nomor Register 127/Lit.SA/
/BKA/X/2021, tanggal 11 Oktober 2021, atas nama Anak I W, serta fakta hukum yang terungkap di persidangan, maka tentang lamanya pidana yang akan dijatuhkan terhadap diri Anak, Hakim Tunggal tidak sependapat dengan Tuntutan Penuntut Umum dengan alasan sebagaimana diuraikan di bawah ini ;Bahwa adalah penting dan beralasan hukum, untuk memberi kesempatan sedemikian rupa kepada Anak agar mereka dapat berupaya maksimal memperbaiki diri dan perilakunya agar menjadi orang yang lebih baik lagi setelah menjalani masa pembinaannya; Sehingga Hakim sependapat dengan pembimbing kemasyarakatan agar Anak menjalankan masa pidana penjara di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Batam, sesuai Pasal 71 ayat (1) huruf e dan pasal 81 Undang- undang 11 Tahun 2012 tentang sistem Peradilan Pidana Anak dengan harapan agar anak dapat mengikuti program pendidikan dan pembinaan kepribadian yang tersedia di dalam LPKA untuk merubah sikap dan perilakunya yang menjadi lebih baik; Keempat Bahwa Berdasarkan dalam hal penjatuhan pidana Menjatuhkan pidana oleh karena itu terhadap Anak dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Batam.
Putusan Pengadilan Negeri Batam Nomor: 64/Pid.Sus Anak/2021/PN Btm
- Terdakwa I W (nama disamarkan), di ajukan ke Pengadilan Negeri Batam karena didakwa tindak pidana melakukan pengeroyokan bersama dengan rekan rekannya anak jalanan yang menyebabkan temannya atau anak jalanan juga yang bekerja sebagai pengamen yang meninggal dunia. Berdasarkan Pasal 170 Ayat (2) ke-3 KUHPidana. Bahwa berdasarkan alat bukti dan barang bukti yang diajukan diperoleh fakta-fakta hukum sebagai berikut:
- Bahwa pada hari Sabtu tanggal 09 Oktober 2021 sekitar pukul 02.00 wib dimana anak R A mendatangi anak G N yang saat itu sedang bermain diwarnet dan berkata pada intinya korban (Alm) A K menunggu dan mengajak anak GALANG NURHUDA dan saksi Iskandar Wiranata (dalam berkas terpisah) untuk duel /
atau berkelahi di halte Lampu Merah Genta Kel. Buliang Kec. Batu Aji – Kota Batam. Selanjutnya mendengar perkataan tersebut anak GALANG NURHUDA dan anak R A serta saksi Iskandar Wiranata pergi menuju halte Lampu Merah Genta Kel. Buliang Kec. Batu Aji – Kota Batam;
- Bahwa sesampainya di halte Lampu Merah Genta Kel. Buliang Kec. Batu Aji – Kota Batam, anak GALANG NURHUDA bicara kepada korban (Alm) A K yang pada intinya berkata: “katamu, kamu ajak duel / kelahi, ayok lah” tetapi jawaban korban (Alm) A K “gak lah” sehingga anak GALANG NURHUDA lalu duduk di halte Lampu Merah Genta Kel. Buliang Kec. Batu Aji – Kota Batam;
- Bahwa selanjutnya datang saudara Rahul (dalam daftar pencarian orang Polresta Barelang) saksi korban (Alm) A K beserta yang lainnya untuk meminum minuman keras jenis tuak, tetapi korban (Alm) A K berkata kepada saudara Rahul yakni “tidak lah kan kau ngelem” sehingga mendengar hal tersebut saudara Rahul marah dan langsung memukul korban (Alm) A K. Selanjutnya saat sedang memukul korban (Alm) A K, saudara Rahul berkata: “Siapa aja yang punya dendam, pukuli aja dia”. Kemudian anak R A dan anak GALANG NURHUDA bersama – sama dengan saudara Rahul, saudara Troy (Dalam Daftar Pencarian Orang Polresta Barelang) serta saksi Mansyur Jupri Sihombing Als Jupri, saksi Iskandar Wiranata, saksi anak Muhammad Yusup (Dalam Berkas Terpisah) dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap saksi korban (Alm) A K
- Bahwa akibat perbuatan anak pelaku bersama-sama Anak R A Dan Anak G N (dalam berkas terpisah) serta dengan saudara Rahul, saudara Troy, (Dalam Daftar Pencarian Orang Polresta Barelang) serta saksi Mansyur Jupri Sihombing Als Jupri, saksi Iskandar Wiranata, saksi anak Muhammad Yusup (dalam berkas terpisah) kepada korban (Alm) A K mengakibatkan korban (Alm) A K meninggal dunia sesuai dengan Surat Keterangan Kematian dari Rumah Sakit Umum Embung Fatimah Kota Batam nomor: 10/SKK/IKFM/RSUD-EF/X/2021;
- Bahwa berdasarkan hasil visum Et Repertum RS Embung Fatimah Kota Batam nomor: 34.2/X/IKF&M/RSUD-EF/2021 yang ditanda tangani oleh dokter pemeriksa Dr. Agung Hadi Pramono,M.H,Sp.FM pada kesimpulannya
“Berdasarkan Temuan- Temuan yang didapatkan dari pemeriksaan atas Jenazah tersebut maka saya simpulkan bahwa telah diperiksa Jenazah seorang laki-laki, umur kurang lebih dua puluh tahun, kesan gizi baik, Waktu kematian saat pemeriksaan enam sampai sepuluh jam, Dari hasil pemeriksaan luar didapatkan luka akibat kekerasan benda tumpul, berupa luka lecet dan memar pada anggota gerak atas, perut, punggung, wajah, kelopak mata dan kepala, dari hasil pemeriksaan dalam didapatkan resapan darah pada otot leher, kulit kepala bagian dalam, hati, ginjal, tirai usus, dan didapatkan patah tulang pada rusuk 12 kanan ; didapatkan gumpalan darah dibawah selaput keras otak ; dan didapatkan pelebaran darah dan bintik pendarahan pada otak besar, otak kecil dan batang otak. sebab kematian kekerasan tumpul pada kepala mengakibatkan pendarahan pada otak yang mengakibatkan mati lemas.”;
- Menimbang, bahwa Anak telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan tunggal sebagaimana diatur dalam Pasal 170 Ayat (2) ke-3 KUHPidana Jo UU RI No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak;
- Bahwa Berdasarkan dalam hal penjatuhan pidana Menjatuhkan pidana oleh karena itu terhadap Anak dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Batam.
Berdasarkan hasil penelitian dalam memutuskan perkara perlindungan anak jalanan hanya memutuskan berdasarkan bunyi pasal seperti yang tertulis dalam undang-undang (tekstual). Misalnya, penerapan Pasal 34 Ayat (1) Undang- Undang 1945 bahwa fakir miskin dan anak anak jalanan di pelihara negara, Hal ini nampak Putusan Pengadilan Negeri Batam Nomor:64/Pid.Sus Anak/2021/PNBtm dimana terdakwa I W melakukan perbuatan pengeroyokan, hakim mempertimbangkan unsur ini terkait dengan pengertian kekerasan fisik menurut Pasal 170 ayat (2) yaitu unsur berupa delik yaitu, unsur siapa ya g melakukan perbuatan, apakah iti secara terang terangan dan bersama sama, adanya penggunaan kekerasan terhadap orang atau benda, serta kekerasan yang mengakibatkan sampai kehilangan nyawa. Korban (Alm) A K mengalami
Kekerasan fisik yang mengakibatkan meninggal dunia yang mana ia di keroyok oleh teman teman nya yang berprofesi sebagai pengamen.
Melalui penafsiran hakim yang demikian ini mengakibatkan putusan pemidanaan yang awal mulanya dijatuhkan hukuman pidana tiga (3) tahun penjara akan tetapi hakim anak tunggal, memberikan pertimbangan bahwa berdasarkan dengan memperhatikan Hasil Laporan Penelitian Kemasyarakatan Sidang Pengadilan Nomor Register 127/Lit.SA/ /BKA/X/2021, tanggal 11 Oktober 2021, atas nama Anak I W, serta fakta hukum yang terungkap di persidangan, maka tentang lamanya pidana yang akan dijatuhkan terhadap diri Anak, Hakim Tunggal tidak sependapat dengan Tuntutan Penuntut Umum dengan beralasan bahwa adalah penting dan beralasan hukum, untuk memberi kesempatan sedemikian rupa kepada Anak agar mereka dapat berupaya maksimal memperbaiki diri dan perilakunya agar menjadi orang yang lebih baik lagi setelah menjalani masa pembinaannya ;Sehingga Hakim sependapat dengan pembimbing kemasyarakatan agar Anak menjalankan masa pidana penahanan penjara di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Batam, sesuai Pasal 71 ayat (1) huruf e dan pasal 81 Undang-undang 11 Tahun 2012 tentang sistem Peradilan Pidana Anak dengan harapan agar anak dapat mengikuti program pendidikan dan pembinaan kepribadian yang tersedia di dalam LPKA untuk merubah sikap dan perilakunya yang menjadi lebih baik; Bahwa dalam hal penjatuhan pidana tidak semata-mata saat ini hanya memperhatikan kepentingan penegakan hukum semata namun harus tetap memperhatikan hak dan kepentingan dari sang anak sebagaimana layaknya yang berdasarkan bahwa pada dasarnya maksud dan tujuan penegakan hukum pidana adalah guna untuk menjaga keseimbangan tata tertib dalam masyarakat dan mencegah pelaku terkait tindak pidana untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya, sehingga Hakim Tunggal berpendapat bahwa, lamanya pidana yang akan dijatuhkan nantinya dipandang telah menimbulkan efek jera dan sesuai dengan nilai-nilai hukum serta keadilan dengan berdasarkan bahwa dalam perkara ini terhadap Anak telah dikenakan penangkapan dan penahanan yang sah, maka masa penangkapan dan penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari
pidana yang dijatuhkan berdasarkan bahwa oleh karena Anak ditahan dan penahanan terhadap Anak dilandasi alasan yang cukup, maka perlu ditetapkan agar Anak tetap berada dalam tahanan.
Kita sering mendengar anak menjadi sasaran tindakan kriminal dan asusila oleh orang dewasa. Hukuman bagi pelaku kejahatan tersebut juga telah diatur pada UU Perlindungan Anak. Akhir-akhir ini, banyak kasus kriminalitas seperti perampokkan, pemerkosaan, hingga pembunuhan yang terjadi di Indonesia yang pelakunya justru berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun. Padahal pada usia tersebut, mereka masih memiliki kewajiban untuk sekolah. Tentunya miris bila membayangkan perasaan orang tua mereka saat mengetahui bahwa anaknya sudah berbuat kejahatan di usia muda[ CITATION Fai14 \l 1033 ] .
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan anak adalah konsekuensi penerapannya dikaitkan dengan berbagai faktor seperti kondisi ekonomi, sosial politik, dan budaya masyarakat.
Dalam berbagai peraturan perundang-undangan terdapat perbedaan ketentuan yang mengatur tentang anak, hal ini dilatarbelakangi berbagai faktor yang merupakan prinsip dasar yang terkandung dalam dasar pertimbangan dikeluarkannya peraturan perundang-undangan yang bersangkutan yang berkaitan dengan kondisi dan perlindungan anak.[ CITATION Tat96 \l 1033 ].
2. Upaya mewujudkan perlindungan hukum bagi anak jalanan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia.
Keberadaan anak-anak jalanan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan kota. Anak-anak jalanan ini mengandalkan hidupnya di jalanan seperti bekerja sebagai pengemis, pengamen, pemulung dan lain lain yang di lakukan di jalan karena kesanggupan mereka yang seadanya tidak memungkinkan untuk dapat hidup dengan layak. Hal ini dapat terjadi pada kehidupan anak-anak jalanan yang mana setiap hal kegiatan nya dilakukan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak banyak anak jalanan yang tersandung ke dalam lingkup negatif yang mana memberikan dampak negatif pada anak jalanan hal ini di sebabkan
faktor lingkungan yang menjadikan pengaruh dalam membangun karakter anak.
Faktor Lingkungan yang mana menjadi tempat anak untuk bersosialisasi akan mempengaruhi kepribadian dan karakter anak tersebut sehingga menjadikan anak sangat mudah terpengaruh dengan orang sekitarnya. Lain hal Jika anak berada dalam lingkup lingkungan yang positif maka akan memberikan pengaruh baik bagi karakter anak tersebut. Hal-hal seperti kekerasan, pencurian, penganiayaan, penyalahgunaan narkoba, pembunuhan akan menjadi hal yang biasa jika lingkungannya berdampak negatif bagi sang anak sehingga anak akan terpengaruh dan melakukan tindak pidana di usia muda. Tidak jarang mendengar bahwa banyak anak jalanan di bawah umur melakukan tindak pidana[ CITATION Hen13
\l 1033 ] .
Tindak pidana yang dilakukan oleh anak jalanan di dalam putusan nomor 64/Pid.Sus Anak/2021/PN Btm adalah pengeroyokan sesama anak jalanan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Meskipun demikian perilaku anak jalanan tersebut tetap saja dapat dikatakan sebagai tindak pidana apabila memenuhi unsur-unsur pidana. Dalam hal ini penanganan yang diperlukan untuk anak jalanan tersebut adalah dengan memasukkan anak tersebut kedalam lembaga pembinaan khusus anak kelas II Batam, sesuai dengan Undang Undang pelindungan anak pasal 71 ayat(1) huruf e dan pasal 81 Undang Undang 11 tahun 2012 mengenai sistem Peradilan Pidana Anak dengan harapan agar anak dapat mengikuti program pendidikan dan pembinaan kepribadian yang tersedia di dalam LPKA untuk merubah sikap dan perilakunya yang menjadi lebih baik hal ini di lakukan untuk mendapatkan hak hak yang sesuai dengan usianya [CITATION Und1 \l 1033 ]. Seseorang yang masih di bawah umur kemudian melakukan tindak pidana di haruskan menjalankan tanggungjawabnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Walaupun pelaku tindak pidana di bawah umur anak tersebut harus menyadari kesalahan dari perbuatannya dan tidak mengulangi kesalahannya.
Terutama anak yang bersalah harus menjalankan proses hukum jika kejahatan yang dilakukan tergolong berat.
Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak yaitu berhak mendapat perlindungan hukum terhadap ancaman dalam (kehidupan pribadinya, keluarganya, surat
menyurat dari tuduhan yang salah). Berdasar Pasal 1 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, ketika anak menjadi korban tindak pidana, maka mereka berhak memperoleh perlindungan hukum. Perlindungan hukum terhadap anak yang mempunyai masalah kelakuan / anak nakal dibagi menjadi 2 , yaitu:
1. Menurut Hukum Perdata.
Anak yang melakukan perbuatan melawan hukum, maka orang tua atau wali yang bertanggung jawab terhadap perbuatan anak itu sesuai Pasal 1367 KUH Perdata.
Putusan yang diberikan ke anak nakal dapat dikembalikan kepada orang tua / wali / orangtua asuh menyerahkan mereka ke negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan kerja atau menyerahkan ke Instansi yang fokus di bidang pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja [ CITATION Asr17 \l 1033 ].
2. Menurut Hukum Pidana.
Perlindungan hukum anak yang melakukan tindak pidana (strafbaar feit), baik menjadi korban kejahatan (victim) atau menjadi pelakunya (kindermoor).
Hukuman pidana kepada anak nakal antara lain :
a) Pidana pokok, yaitu: pidana penjara, pidana kurungan, pidana denda, dan pidana
pengawasan.
b) Pidana tambahan berupa perampasan barang-barang tertentu dan atau pembayaran ganti rugi. Pidana penjara paling lama ½ (setengah) dari maksimal pidana penjara orang dewasa.
c) Jika anak nakal melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup, maka hukuman pidana penjara yang dapat dijatuhkan paling lama 10 (sepuluh) tahun. Pasal-pasal lain di KUH Pidana yang masih relevan terkait hal ini contohnya Pasal 45, 46 dan 47 KUH Pidana [ CITATION 00 \l 1033 ]
Berbagai macam tidak pidana anak jalanan mulai dari hal kecil seperti memalak temannya hingga tindak pidana pemerasan (368 KUH Pidana), memukuli temannya yang lebih lemah hingga penganiayaan baik disengaja atau tidak disengaja (351, 352, 353, 354, 355, 358 KUH Pidana), pencurian kecil hingga
pencurian barang orang lain yang ada di rumah atau pekarangan (362-365 KUH Pidana), membawa senjata tajam (UU Darurat No 12 tahun 1951), meminum minuman keras (300 KUH Pidana), menikmati dan mengkonsumsi obat terlarang dan narkotika (UU No 22 tahun 1997)[ CITATION Agu19 \l 1033 ]
Anak yang dijatuhi pidana penjara oleh Hakim Anak maka melalui pengadilan maka ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).
Dengan adanya LPKA yang menjadi lokasi anak melaksanakan hukumannya diharapkan dapat membina atau menata kembali perilaku anak yang menyimpang sehingga dikemudian hari anak tersebut tidak mengulangi perbuatannya dan siap dikembalikan kepada masyarakat. LPKA diciptakan supaya narapidana anak tidak dicampur dengan narapidana dewasa di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) [CITATION 21Jo \l 1033 ] . Menurut psikologi, jika seorang anak yang bergaul dengan seseorang yang umurnya di atas anak tersebut atau dalam arti kata dewasa pola pikir dan perilakunya sudah pasti anak akan mengikuti karakternya dengan orang sekitarnya terlebih lagi jika narapidana anak sering bergaul dengan narapidana dewasa yang telah melakukan kejahatan akan terjadi ketimpangan karakter anak tersebut semakin buruk atau dengan anak yang memahami muslihat untuk berbuat kejahatan yang dilakukan oleh penjahat yang lebih berpengalaman [ CITATION San19 \l 1033 ]. Selain itu seperti masalah kekerasan seksual yang sering terjadi di LAPAS, pastinya anak akan menjadi bahan sasaran karena fisik anak lebih lemah di banding fisik orang dewasa yang mana anak sulit melakukan perlawanan. Karna dampak negatif yang kerap terjadi yang menjadikan maka perlu dipisahkan antara narapidana dewasa dengan narapidana anak.
BAB V PENUTUP
Kesimpulan
Kebijakan hukum pidana dalam menangani tindak pidana yang dilakukan oleh anak jalanan di Indonesia saat ini masih menjadi satu dengan kebijakan dalam menangani anak pada umumnya. Berbagai macam peraturan perundang-undangan di Indonesia yang berkaitan dengan anak memuat jenis tindak pidana, pertanggungjawaban pidana, dan jenis sanksinya bagi pelaku tindak pidana yang tergolong sebagai anak. Salah satunya UU No. 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak, khusus mengenai sanksi terhadap anak dalam Undang-undang ini bagi anak yang masih berumur 8 (delapan) sampai 12 (dua belas) tahun hanya dikenakan tindakan, seperti dikembalikan kepada orang tuanya, ditempatkan pada organisasi sosial, atau diserahkan kepada Negara, sedangkan terhadap anak yang telah mencapai umur di atas 12 (dua belas) sampai 18 (delapan belas) tahun dijatuhkan pidana. Pembedaan perlakuan tersebut didasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial anak. Tindakan dalam menangani anak jalanan yang melakukan tindak pidana diserahkan kepada Kebijakan formulasi hukum pidana dalam menangani anak jalanan yang melakukan tindak pidana pada masa yang akan datang,
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rachmad Budiono. (2007). Perlindungan Hukum Untuk Pekerja Anak. Program Doktor pada Universitas Airlangga. Surabaya: Program Doktor pada Universitas Airlangga Surabaya.
Agung Hartawan. (2019). Agung Hartawan, ‘Pemaknaan Frase “Tanpa Hak” Penggunaan Senjata Pemukul, Penikam, Dan Penusuk Dalam Pasal 2 Undang-Undang Darurat