PSS 1976 – 2013:
“PERJUANGAN TIM SEPAK BOLA dari KOTA KECIL”
SKRIPSI
Diajukan untuk menempuh Gelar Sarjana Program Strata 1 dalam Ilmu Sejarah
Disusun oleh:
Valerian Adi Pradana NIM. 13030112140033
PROGRAM STUDI SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2019
ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Dengan ini saya Valerian Adi Pradana menyatakan bahwa karya ilmiah/skripsi ini adalah asli hasil karya saya dan karya ilmiah ini belum pernah diajukan sebagai pemenuhan persyaratan untuk memperoleh gelar kesarjanaan baik Strata Satu (S1), Strata Dua (S2), maupun Strata Tiga (S3) pada Universitas Diponegoro maupun perguruan tinggi lain.
Semua informasi yang dimuat dalam karya ilmiah ini yang berasal dari penulis lain; baik yang dipublikasikan maupun tidak, telah diberikan penghargaan dengan mengutip nama penulis secara benar dan semua isi karya ilmiah/skripsi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya pribadi sebagai penulis.
Semarang, 10 November 2019 Penulis,
Valerian Adi Pradana NIM
13030112140033
iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
“If we stop trying, that means we are no better than a cowards”
-Bambang Pamungkas-
Dipersembahkan untuk:
Kedua Orang Tua Adikku Keluarga dan Sahabat di Departemen Sejarah Undip Civitas Akademika Universitas Diponegoro
iv ,
v
Skripsi dengan judul “PSS 1976 – 2013: Perjuangan Tim Sepak Bola dari Kota Kecil” yang disusun oleh Valerian Adi Pradana (NIM 13030112140033) telah diterima dan disahkan oleh panitia ujian skripsi Program Strata-1 Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro pada hari Kamis 14 November 2019.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat yang telah engkau berikan kepada kami semua. Syukur yang tiada henti-hentinya juga kami panjatkan kepada Tuhan.
Dengan segala kerendahan hati penulis bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan petunjuk dan pertolongan serta limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi dengan judul “PSS 1976 – 2013: Perjuangan Tim Sepak Bola dari Kota Kecil”, yang disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar sarjana Program Strata-1 pada Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk melihat upaya yang dilakukan oleh klub sepak bola PSS sebagai klub sepak bola di Indonesia. Selain itu juga, untuk memperluas wawasan masyarakat terkait dengan sejarah klub sepak bola PSS, agar dapat menjadi pelajaran lebih lanjut untuk perkembangan klub sepak bola di masa depan. Lebih lanjut, skripsi ini disusun untuk menempuh ujian akhir Program Strata-1 pada Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.
Melalui kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih atas bantuan, bimbingan, dan petunjuk, baik berupa materiil maupun spiritual kepada yang terhormat pertama kepada Dr. Nurhayati, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dan Dr. Dhanang Respati Puguh, M.Hum., selaku Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, yang berkenan memberikan izin dan kemudahan bagi penulis dalam penulisan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Dr.
Haryono Rinardi M.Hum. selaku dosen pembimbing atas segala dedikasi serta apresiasi kepada penulis yang dengan sabar memberikan bekal keilmuan, pengarahan, dan bimbingan selama penulisan skripsi ini. Terimakasih juga kepada
vii
Prof. Dr. Dewi Yuliati, M.A. selaku dosen wali yang telah memberikan perhatian kepada perkembangan akademik penulis.
Kedua, terima kasih juga penulis ucapkan kepada segenap dosen penguji : Dr. Dhanang Respati Puguh; M. Hum., Dr. Haryono Rinardi, M.Hum., Prof. Dr.
Dewi Yuliati, M. A., Prof. Dr. Singgih Tri S., M.Hum. yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun bagi penulisan skripsi ini.
Ketiga, terima kasih penulis ucapkan kepada segenap pengajar Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu atas bekal ilmu pengetahuan yang telah diberikan selama menjadi mahasiswa. Terima kasih juga penulis ucapkan untuk segenap staf administrasi Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang telah memberikan pelayanan maksimal kepada segenap mahasiswa dan penulis.
Kemudian keempat ucapan terima kasih yang tidak terhingga untuk kedua orang tua penulis, Bapak Wandi Xaverius dan Ibu Nancy Yusmeina. Segala maaf dan sujud penulis berikan untuk menghapus segala khilaf dan kesalahan. Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Adik terkasih Vical Dwi Pratama, serta keluarga besar penulis (nenek, paman, dan bibi) atas banyak bantuan yang telah diberikan. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada seorang terkasih yang tidak bisa disebutkan namanya, atas segala motivasi, pemberian semangat, kasih sayang, serta jasa-jasanya selama proses penyusunan skripsi ini, sehingga dapat berjalan lancar hingga akhir serta tak luput rasa terimakasih atas bantuan yang besar serta motivasi semangat kepada penulis.
Kelima, penulis juga berterimakasih kepada Bapak Sudarsono K.H Pendiri PSS, Bapak Suparlan, Bapak Sutrisno S.Sos, Bapak Wahyudi Ketua PSSI Sleman, Bapak Yuyud staf PSSI Sleman atas ketersediaannya sebagai narasumber wawancara dan pengambilan serta pengelolaan arsip PSS yang sudah membantu penulis dalam mengumpulkan sumber-sumber dalam penulisan skripsi ini.
Tidak lupa juga yang keenam, terimakasih juga penulis ucapkan kepada seluruh teman teman seperjuangan angkatan 2012 Dea Duta Aulia, Isty Sri Pangesti, Mohammad Irvan, Kharisma Husen, Jourdan Setionegoro, Julius
viii
Prabowo, Kudus Purnomo, Arif Syaefudin, Srie Adhimas (Depe), Ahmad Rahdiyan Umar, Okik Bagus Saputra, Firhat Jundi, Rufal Tegal, Indana Alvin, Sabrina Noti, Wanda Hermawan, Alvin Prasetya, Debby Risky, Oon Yudha, Byan seiga, Ichsan Nurfaiz dan teman teman seperjuangan Sejarah yang belum penulis sebutkan satu per satu. Terima Kasih juga penulis ucapkan kepada kakak senior angkatan 2009, 2010, 2011 dan adik angkatan 2013, 2014, dan 2015 yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu atas segala dukungan, motivasi, dan diskusi- diskusinya yang menarik dan mampu meluaskan wawasan penulis, serta berbagai pihak yang luput dari perhatian penulis namun telah memberikan bantuan.
Tidak luput terima kasih juga penulis ucapkan kepada kawan suporter, almarhum bang Andre mantan Korlap Jakmania, Pandhu Setiawan Campus Bois PSS, Suporter Brigata Curva Sud Mas Rama, Mas Fikar, Mas Batak Jore, Mas Tonggos, Supporter Slemania, suporter Daerah Istimewa Jakmania Sigit, Faisal, Alit, Rizqullah, Oghe, Opet, Adit, Ando, Iqbal, Tholib, Dimas, Laela. Terima Kasih juga kepada teman-teman Jogja Mas Kenteng, Nopek, Yocky, Kemo, Imam, dan Galang serta yang penulis tidak bisa sebutkan satu per satu yang membantu penulis selama penulis berada di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Burjo ipan dan wawan, warung Bu Bambang, Bapak dan Ibu Kost, teman-teman Atlas City Casual, Panser Biru, Toko Oldman, Trefoil.id Semarang, Jakmania Semarang, Semarang Hammers dan kepada seluruh teman-teman di Semarang selama penulis menjalani studi selama tujuh tahun di kota Semarang.
Semarang, 22 Oktober 2019
Penulis
ix
DAFTAR ISI
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN iii
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI ix
DAFTAR SINGKATAN xii
DAFTAR ISTILAH xiii
DAFTARGAMBAR Error! Bookmark not defined. DAFTAR TABEL xvii
DAFTAR GRAFIK Error! Bookmark not defined. ABSTRAK xvii
ABSTRACT xviiii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang dan Permasalahan 1
B. Ruang Lingkup 4
C. Tujuan Penelitian 5
D. Tinjauan Pustaka 5
E. Kerangka Pemikiran 8
F. Metode Penelitian 10
G. Sistematika Penulisan 12
BAB II PSS SEBAGAI TIM PERSERIKATAN KABUPATEN SLEMAN 14
A. Kondisi Geografis dan Demografis Kabupaten Sleman 15
B. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Kabupaten Sleman 17
C. Pembentukan dan Struktur Organisasi PSS 22
D. Klub Internal PSS 26
E. Stadion PSS 29
BAB III KIPRAH PSS MENGARUNGI KOMPETISI INDONESIA 33
A. PSS Melangkah Dari Divisi II Perserikatan PSSI 33
B. Kiprah PSS di Divisi I Liga Indonesia 35
x
C. Kiprah PSS di Divisi Utama 41
BAB IV KONFLIK PSSI SERTA KEIKUTSERTAAN PSS DALAM KOMPETISI LPI 64
A. Konflik Internal PSSI pada Akhir Masa Nurdin Halid dan Pemilihan Ketua Umum PSSI 2011 65
B. Munculnya LPI (Liga Primer Indonesia) 71
C. PSSI di bawah Kepemimpinan Djohar Arifin 75
D. Munculnya KPSI (Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia) 81
E. PSS dalam Kompetisi PSSI 2011-2013 85
BAB V SIMPULAN 91
DAFTAR PUSTAKA 94
DAFTAR INFORMAN 100
xi
DAFTAR SINGKATAN
AFC : Asian Footbaal Confederation
AMS : Angkatan Muda Seyegan
APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
BLI : Badan Liga Indonesia
BLAI : Badan Liga Amatir Indonesia
BOPI : Badan Olahraga Profesional Indonesia
BPR : Bank Perkreditan Rakyat
DIY : Daerah Istimewa Yogyakarta
FIFA : Federation Internasional Football Association
ISL : Indonesia Super League
KLB : Kongres Luar Biasa
KONI : Komite Olahraga Nasional Indonesia
KPSI : Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia
LI : Liga Indonesia
LPI : Liga Primer Indonesia
LPIS : Liga Prima Indonesia Sportindo
PAD : Pendapatan Asli Daerah
PS : Persatuan Sepak Bola
PSS : Perserikatan Sepak Bola Sleman
PSSI : Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia
SEMBADA : Sehat, Elok, Makmur, Bersih, Aman, Damai, Agamis
SDM : Sumber Daya Manusia
xii
Tarkam : Pertandingan Antarkampung Prof.
Permendagri PengCab
: : :
Professor
Peraturan Menteri Dalam Negeri Pengurus Cabang
xiii
DAFTAR ISTILAH
Pengertian dalam daftar istilah ini disusun berdasar pada pendapat para ahli dalam kamus, referensi, dan pendapat pribadi.
appeal body : Badan yang bertugas untuk mengakomodasi tim-tim yang tidak senang dengan keputusan First Instance Body.
amatir : kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk memperoleh nafkah, misalnya orang yang bermain musik, melukis, menari, bermain tinju, sepak bola sebagai kesenangan.
boikot : tolak kerja sama.
commercial : komersial.
deadlock : jalan buntu.
degradasi : penurunan (tentang pangkat, mutu, moral, dan sebagainya); kemunduran; kemerosotan.
determinasi : menentukan, memastikan.
dipandegani : dipimpin.
dualisme : keadaan bermuka dua, yaitu satu sama lain saling bertentangan atau tidak sejalan.
entertainment : hiburan.
fairplay : nama sebuah program FIFA yang bertujuan untuk meningkatkan sportivitas serta mencegah diskriminasi dalam permainan sepak bola.
federasi : gabungan beberapa perhimpunan yang bekerja sama dan seakan-akan merupakan satu badan, tetapi tetap berdiri sendiri.
formasi : susunan atau barisan saat bermain sepak bola.
gegap gempita : ramai sekali.
xiv
hattrick : keberhasilan seorang pemain sepak bola dalam mencetak gol sebanyak tiga kali dalam satu pertandingan.
homebase : pangkalan induk.
jeruji besi : penjara.
kartu kuning : dikeluarkan pada saat-saat seorang pemain melakukan pelanggaran ringan.
kartu merah : dikeluarkan ketika seorang pemain melakukan pelanggaran berat.
klasemen : penentuan ke dalam kelas (golongan, tingkatan) knockout stage : babak sistem gugur.
kode etik : norma dan asas yang diterima oleh kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku.
konsorsium : himpunan beberapa pengusaha yang mengadakan usaha bersama.
membidani : mencetuskan gagasan lahirnya sesuatu.
menaturalisasi : mengadakan atau melakukan naturalisasi; menjadikan warga negara.
mengintervensi : melakukan campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak.
mobilitas horizontal : merupakan peralihan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang.
motorcross : bentuk perlombaan atau kejuaraan balap motor yang digelar di sirkuit tanah.
notabene : sekaligus juga, di samping.
otoritas : pemberian kekuasaan; pemberian kuasa.
play off : pertandingan ulang.
xv
prestige : gengsi; wibawa; martabat; reputasi; nama baik;
kehormatan; pengaruh.
reformasi : perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara.
regulasi : Pengaturan.
remisi : pengurangan hukuman yang diberikan kepada orang yang terhukum.
restrukturisasi : penataan kembali.
runner up : pemenang kedua.
skill : kemampuan.
skuad : regu, tim.
sport : olahraga.
stakeholder : suatu masyarakat, kelompok, komunitas ataupun individu manusia yang memiliki hubungan dan kepentingan terhadap suatu organisasi atau perusahaan.
statuta : anggaran dasar suatu organisasi.
striker : penyerang.
swadaya : kekuatan (tenaga) sendiri.
tandem : pasangan.
workshop : suatu pertemuan dimana sekelompok orang yang memiliki minat, keahlian, dan profesi di bidang tertentu terlibat dalam diskusi dan kegiatan intensif pada subjek atau proyek tertentu.
zona marking : salah satu pola pertahanan yang dilakukan satu tim sepak bola di daerahnya sendiri dengan cara membuat formasi.
xvi
DAFTAR TABEL
2.1 Jumlah Penduduk Kabupaten Sleman pada 1970-2010. 16 2.2 Jumlah Sarana dan Prasarana Ekonomi Kabupaten Sleman Tahun
1983-2008.
18
2.3 Jumlah Banyaknya Peminjam / Debitur dan Besarnya Jumlah Pinjaman di Bank di Kabupaten Sleman Tahun 1983-2008.
19
2.4 Jumlah Banyaknya Anggota dan Besarnya Jumlah Pinjaman di Koperasi di Kabupaten Sleman Tahun 1983-2008.
20
3.1 Rangkuman Prestasi PSS tahun 1979-1996. 35
3.2 Klasemen Akhir Babak Penyisihan Divisi I Liga Indonesia Musim Kompetisi 1999/2000.
41
3.3 Klasemen Akhir Babak 8 Besar Divisi I Liga Indonesia Musim Kompetisi 1999/2000.
41
3.4 Klasemen Akhir Kompetisi Liga Bank Mandiri VIII Tahun 2001/2002.
47
3.5 Klasemen Akhir Kompetisi Liga Bank Mandiri X Tahun 2003/2004.
49
3.6 Klasemen Akhir Liga Bank Mandiri XI Tahun 2004/2005. 52 3.7 Klasemen Akhir Liga Djarum XII tahun 2005/2006 55
xvii
ABSTRAK
Skripsi ini membahas mengenai dinamika PSS dalam mengarungi kompetisi sepak bola Indonesia pada 1976-2013. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian sejarah yang mencakup empat langkah, yakni heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi, dan penulisan sejarah.
Pada 20 Mei 1976, lima tim lokal di tiap-tiap kecamatan Sleman, berkumpul untuk melahirkan PSS, yang diharapkan dapat mengangkat nama Sleman dan Yogyakarta. Debut pertama PSS dalam kompetisi resmi PSSI, dilaksanakan pada 1979, yakni dalam kompetisi perserikatan PSSI zona Jawa Tengah-DIY. Dalam menghadapi kompetisi divisi II PSSI, PSS hanya menggunakan lapangan bola seadanya, yakni lapangan Tridadi. Setelah pembangunan stadion Tridadi pada 5 Februari 1995 selesai, PSS akhirnya memiliki tempat baru untuk melakukan latihan dan mengarungi kompetisi PSSI. Selain itu, stadion yang berkapasitas 15.000 penonton ini juga digunakan sebagai kantor pengurus PSS.
Semenjak berlaga pada kompetisi resmi PSSI, pada 1996 PSS berhasil keluar sebagai juara kompetisi divisi II, sehingga mendapatkan promosi ke divisi I. Dengan berlaganya PSS pada divisi I, semakin menumbuhkan kecintaan warga Sleman terhadap tim kesayangannya. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya jumlah pendukung PSS yang hadir di stadion ketika pertandingan berlangsung.
Pada musim kompetisi 1999/2000 PSS akhirnya mampu promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia, yakni divisi utama. Perjalanan PSS dalam menuju ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia tidak mudah. Ada berbagai kendala yang menganggu PSS, sehingga upayanya menghadapi berbagai kendala. Persoalan itu antara lain masalah pendanaan yang tersendat untuk dapat mengarungi kompetisi.
Kedua, kekisruhan dalam tubuh PSSI juga turut memengaruhi perjalanan PSS dalam upayanya mencapai kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia. Kisruh dalam masalah pemilihan ketua umum, dugaan kecurangan yang dilakukan segelintir golongan dalam mengelola kompetisi, hingga terjadinya dualisme dalam tubuh PSSI sehingga melahirkan liga tandingan, turut dirasakan PSS pada musim kompetisi 2012/2013. PSS yang ketika itu berada di divisi utama berhasil keluar sebagai juara dan seharusnya berhak untuk mendapatkan tiket promosi. Namun karena adanya dualisme liga, menyebabkan PSS menjadi korban kekisruhan PSSI yang ingin dikuasai oleh segelintir golongan tersebut.
xviii
ABSTRACT
This thesis discusses the dynamics of Sleman PSS in sailing Indonesia's soccer competition in 1976-2013. This research was conducted using historical research methods which include four steps, namely heuristics (source collection), source criticism, interpretation, and history writing.
On May 20, 1976, five local clubs in each of the Sleman districts gathered to give birth to the PSS, which was expected to raise the names of Sleman and Yogyakarta. The first debut of PSS in the official PSSI competition was held in 1979, namely in the PSSI union competition in the Central Java-DIY zone. In the face of the PSSI second division competition, PSS only uses a makeshift soccer field, the Tridadi field. After the construction of the Tridadi stadium on 5 February 1995 was completed, PSS finally had a new place to conduct training and navigate the PSSI competition. In addition, the stadium with a capacity of 15,000 spectators is also used as the office of the PSS management.
Since competing in the official PSSI competition, in 1996 PSS succeeded in winning the second division competition, thus gaining promotion to division I.
With the PSS taking place in division I, it has further grown the love of Sleman citizens towards their favorite club. This is indicated by the increasing number of Sleman PSS supporters who were present at the stadium when the match took place. In the 1999/2000 competition season PSS was finally able to promote the highest caste of Indonesian football, namely the main division.
PSS journey in heading to the highest caste of Indonesian football is not easy. There are various obstacles that interfere with PSS, so their efforts face various obstacles. These problems include funding problems that have faltered to navigate the competition. Second, confusion in the body of PSSI also influenced PSS's journey in its efforts to reach the highest caste of Indonesian soccer competition. Chaotic in the matter of the election of the chairman, the alleged fraud committed by a handful of groups in managing the competition, to the occurrence of dualism in the body of PSSI so that gave birth to a rival league, PSS also felt in the 2012/2013 competition season. PSS, which at that time was in the main division, managed to come out as champions and should be entitled to get a promotion ticket. However, because of league dualism, PSS has become a victim of the chaos of PSSI who wants to be controlled by a handful of these groups.
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang dan Permasalahan
Sepak bola merupakan salah satu kebudayaan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Hal itu karena sifat dari sepak bola itu sendiri. Pertama, permainan ini sangat sederhana sehingga mudah dimainkan. Kedua, sepak bola menjadi olahraga yang dapat menyalurkan kepenatan baik psikis maupun psikologis.1 Selain itu, sepak bola merupakan jenis olahraga yang memiliki kekuatan untuk membangkitkan gairah, menggugah gaya, mendobrak selera, dan memunculkan rasa bangga yang sebelumnya tersimpan dalam diri manusia.2 Sepak bola merupakan jenis olahraga yang dimainkan oleh dua tim menggunakan bola dalam jangka waktu 2 x 45 menit. Sepak bola sangat digemari oleh semua kalangan, baik anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan orang yang sudah sangat tua.3
Hal ini tentunya sangat wajar, mengingat sepak bola merupakan olahraga yang sudah lama di dunia. Sepak bola yang semula hanya dikenal sebagai olahraga permainan, saat ini telah menjelma menjadi olahraga kompetisi, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Melalui sepak bola, rasa persatuan dan kesatuan, sebangsa, dan setanah air ikut berkembang di bawah naungan organisasi-organisasi persepak bolaan.4 Sepak bola juga bisa dijadikan alat untuk menjadikan sarana untuk mengangkat nama suatu bangsa di mata dunia
1Rizal S. Nugroho, dkk., PEMAIN KEDUA BELAS (Yogyakarta: Ekspresi Buku, 2013), hlm 16.
2Srie Agustina Palupi, Politik dan Sepak Bola di Jawa, 1920-1942.
(Yogyakarta: Ombak, 2013), hlm.67
3Wahyu Ganish, “Manajemen Pembinaan Olahraga Sepak Bola di Tim PSIS Semarang” (Skripsi pada Program Sarjana Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, 2012), hlm.1.
4PSSI, “Sejarah Sepak bola dan PSSI”, dalam Peringatan Ulang Tahun P.S.S.I ke 30 (Jakarta: PSSI, 1960), hlm.32.
2
internasional. Suatu negara atau bangsa yang pada mulanya dianggap kecil, tidak terkenal dapat menjadi pusat perhatian dunia dan dapat diperhitungkan oleh bangsa lain apabila memiliki keunggulan di bidang olahraga.5 Dalam tingkat lokal nama kota atau daerah dapat terangkat sehingga dikenal masyarakat melalui sepak bola. Keberadaan suatu tim sepak bola dari suatu daerah akan dianggap mewakili kota atau daerahnya. Oleh karena itu, tim sepak bola seakan-akan identik dengan daerah atau kota tempatnya berasal.
Hal itu juga berlaku di Kabupaten Sleman. Kabupaten itu berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan dikenal memiliki tim sepak bola yang berkompetisi di kancah persepak bolaan nasional. Pada periode 1970-an, Kompetisi Perserikatan sedang menjadi tren sehingga menjadi nilai tambah masyarakat Kabupaten Sleman guna membentuk tim sepak bolanya sendiri.
Meskipun tim lain telah lahir lebih awal di Provinsi D.I.Y, yakni Persiba Bantul pada 1967 dan PSIM Yogyakarta pada 1929, namun tidak menyurutkan semangat masyarakat Kabupaten Sleman untuk memiliki tim sepak bolanya sendiri.
Semangat itulah yang membuat masyarakat di Kabupaten Sleman menginginkan untuk membentuk suatu tim sepak bola yang berasal dari Kabupaten Sleman.
Akhirnya pada 20 Mei 1976, era kepemimpinan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sleman KRT Drs. Suyoto Projosuyoto lahirlah tim sepak bola Perserikatan Sepak Bola Sleman (PSS). Lima tokoh yang membidani kelahiran PSS adalah Suryo Saryono, Sugiyarto SY, Subardi P.d, Sudarsono K.H, dan Hartadi.6 Dalam perkembangan selanjutnya, PSS memulai kompetisi dari Divisi II PSSI. PSS merupakan tim sepak bola yang didukung penuh oleh seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Sleman akhirnya lolos ke Divisi Utama Liga Indonesia musim 1999/2000. Setelah masa keemasan itu, PSS sempat mengalami kemerosotan prestasi dari mundurnya PSS dari Kompetisi Liga karena bencana
5Dody Dwi Adhilaksono, “Persija (1970-1990), DINAMIKA PERKEMBANGAN SEPAK BOLA DI JAKARTA” (Skripsi pada Program Sarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, 2012), hlm.1.
6Sudarningsih. dkk., “Profil Perserikatan Sepak Bola Sleman (PSS)”(Yogyakarta: Manajemen PSS, 2008) hlm.3.
3
alam gempa bumi yang melanda DIY tahun 2006.7 Terbitnya Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang berlaku tahun 2008 dan Surat Edaran Mendagri Nomor 900/26/SJ/ tanggal 8 Nopember 2008 tentang batasan penggunaan Dana APBD bagi tim sepak bola telah mengakibatkan PSS harus mencari dana sendiri kepada pihak swasta.
Adanya surat edaran Mendagri yang melarang penggunaan dana APBD untuk membiayai tim sepak bola membuat PSS mengalami kemunduran. PSS sebagaimana tim perserikatan menggantungkan pendanaannya kepada APBD kabupaten. Oleh karena itu, adanya pelarangan Mendagri bagi kabupaten/kota untuk menggunakan dana APBD bagi tim sepak bola secara tidak langsung telah mematikan kiprah PSS dalam kompetisi PSSI. Kondisi itu memaksa seluruh stakeholder berlomba-lomba untuk bersama-sama memajukan dan mengembangkan tim sepak bola yang berasal dari Kabupaten Sleman. Mereka kemudian mulai berbenah hingga sampai berhasil menjuarai kompetisi Liga Divisi Utama Liga Primer Indonesia musim kompetisi 2012/2013. Akan tetapi, untung tidak dapat diraih dan malang tidak dapat ditolak, karena meskipun PSS menjadi Juara Pertama Divisi Utama Liga Primer Indonesia, tetapi tim sepak bola kebanggan masyarakat Sleman itu tidak mendapat jatah untuk Promosi ke Liga Super Indonesia. Dengan demikian, PSS merupakan satu-satunya tim di dunia yang tidak mendapatkan jatah promosi untuk naik ke level kasta berikutnya, meskipun menjadi juara kompetisi pada divisi yang sebelumnya.
Kejadian yang dialami PSS merupakan peristiwa unik dan belum pernah terjadi di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Sebuah tim yang menyandang gelar juara seperti PSS harus merelakan tidak naik ke kasta berikutnya pada kelanjutan kompetisi sesudahnya. Berdasarkan latar belakang itu permasalahan utama yang hendak dibahas dalam skripsi ini adalah bagaimana hubungan antara gagalnya PSS untuk promosi ke divisi teratas sepak bola Indonesia dalam musim
7“PSIM dan PSS Belum Terima Keputusan Mundur”, Kompas, Senin 12 Juni 2006 hlm. 12.
4
kompetisi 2012/2013 dan konflik di tubuh PSSI selama masa kepemimpinan Djohar Arifin. Dengan permasalahan itu, maka skripsi ini memfokuskan kajian persoalan keberadaan PSS dalam kompetisi sepak bola PSSI. Oleh karena itu, dalam kajiannya perlu dipandu dengan berbagai pertanyaan penelitian, yaitu:
1. Bagaimana Awal mula Sejarah Pendirian Tim PSS?
2. Bagaimana Kiprah PSS dan pasang surut Tim dalam menjalani Kompetisi Liga Perserikatan dan Liga Indonesia?
3. Apa saja yang menyebabkan tim PSS mengalami pasang surut prestasi dalam menjalani Liga Indonesia?
4. Bagaimana konflik di tubuh PSSI terjadi?
5. Bagaimana pengaruhnya sehingga membuat PSS tidak mendapat jatah promosi ke Liga Super Indonesia?
B. Ruang Lingkup
Penulisan sejarah membutuhkan adanya ruang lingkup untuk membatasi luasnya pembahasan dan analisis, agar analisis ini terarah sesuai dengan rumusan masalah yang telah dipetakan. Penulisan Skripsi ini menerapkan beberapa pembatasan yaitu batasan spasial atau batasan geografis, batasan temporal, dan batasan keilmuan. Lebih lengkapnya, ketiga batasan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
Batasan spasial atau scope spatial bagian pertama dalam penelitian sejarah ini mencakup lingkup spasial atau batasan wilayah penelitian yang dilaksanakan oleh penulis. Ruang lingkup spasial penelitian ini tidak hanya terbatas pada wilayah Kabupaten Sleman saja, tetapi juga mencakup nasional karena mengkaji juga tentang PSSI yang merupakan induk organisasi sepak bola Indonesia. Dalam hal ini konflik dalam tubuh PSSI yang imbasnya dirasakan PSS sebagai salah satu anggota PSSI.
Batasan temporal pada penelitian ini penulis mengambil kurun waktu antara 1976 sampai dengan 2013. Penulis mengambil kurun waktu tersebut karena pada 1976 Perserikatan Sepak Bola Sleman secara resmi terbentuk dan menjadi tim sepak bola kebanggaan masyarakat Kabupaten Sleman; batasan 2013 merupakan
5
saat tim sepak bola PSS mengalami masa keemasan dan berhasil menjuarai Kompetisi Liga Divisi Utama musim 2012/2013. Hal yang menarik adalah PSS merupakan satu-satunya tim yang tidak mendapat promosi ke kasta kompetisi liga super setelah berhasil menjuarai kompetisi di bawahnya.
Batasan keilmuan pada penelitian ini, penulis menggunakan sudut pandang atau disiplin ilmu yang diterapkan dalam penulisan skripsi yaitu ilmu sejarah dengan pendekatan sosial dan kebudayaan. Cabang ilmu sejarah ini menyangkut aspek-aspek sosial yang menimbulkan perubahan di bidang olahraga dan kemasyarakatan.
C. Tujuan Penelitian
Berdasar pada latar belakang permasalahan dan batas ruang lingkup di atas, untuk memperjelas fokus analisis, penelitian skripsi ini yang berjudul “PSS 1976 – 2013: Perjuangan Tim Sepak Bola dari Kota Kecil” memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai dari hasil yang telah diteliti dan memiliki beberapa harapan agar hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas dan menjadi sumbangan bagi ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ada beberapa alasan tujuan yang ditulis dalam penulisan skripsi ini sebagai berikut, yang Pertama, menjelaskan tentang bagaimana kiprah tim sepak bola PSS dalam menjalani kompetisi Liga.
Kedua, menguraikan masalah yang ada di PSS dalam menjalani kompetisi Liga Indonesia serta dampaknya bagi tim sepak bola PSS. Ketiga, mengkaji masalah konflik PSSI di tubuh PSSI setelah masa kepemimpinan Nurdin Halid yang berujung terjadinya dualisme liga, serta dampaknya terhadap PSS.
D. Tinjauan Pustaka
Studi pustaka sangat membantu dalam sebuah penulisan karya ilmiah. Ada beberapa kegunaan dari studi kepustakaan antara lain menghindari terjadinya penulisan dan analisis yang sama antarpeneliti dalam merekontruksikan peristiwa sejarah. Penulisan mengenai olahraga dan tim sepak bola telah banyak dilakukan.
Berikut ini disajikan tinjauan terhadap beberapa pustaka acuan yang relevan dengan topik penulisan skripsi ini. Hal itu dilakukan guna mengembangkan dan merelevansikan wawasan berfikir yang lebih luas dan untuk membangun
6
kerangka berfikir konseptual. Dalam penulisan skripsi ini, ada beberapa referensi yang akan dijadikan rujukan dalam penulisan ini.
Pustaka pertama pada penulisan skripsi ini diawali oleh skripsi yang berjudul “PERSIJA (1970-1990) Dinamika Perkembangan Sepak bola di Jakarta”
karya Dody Dwi Adhilaksono. Dalam buku ini, menjelaskan tentang bagaimana proses pendirian awal tim sepak bola Persija Jakarta dalam menjalani kompetisi perserikatan, Galatama sampai Liga Indonesia. Nilai lebih dari karya ilmiah yang berupa skripsi ini adalah membahas dan menguraikan tentang bagaimana tim Persija Jakarta menjalani kompetisi Liga Perserikatan beserta dengan pasang surut prestasinya. Dody melihat adanya pasang surut prestasi dari tim sepak bola Persija Jakarta. Ia membahas tentang bagaimana Persija Jakarta mengalami masa keemasan dan berhasil mencapai puncak kejayaan kompetisi dengan menjuarai kompetisi perserikatan. Persija saat itu berhasil menjadi pemasok pemain untuk tim nasional pada era 70-80an. Persija pada masa itu berhasil mendominasi kompetisi Perserikatan PSSI. Pemain-pemain tersebut dipanggil bukan semata–
mata karena Persija berhasil mendominasi kompetisi Perserikatan, tetapi karena kualitas pemain mereka. Namun, Persija mengalami kemerosotan prestasi di era 80an, karena adanya kasus suap, hingga konflik internal di dalam tubuh tim sepak bola Persija Jakarta. Relevansi dari pustaka di atas adalah bagaimana dinamika yang terjadi dijelaskan secara rinci dan detail, serta adanya kesamaan pola penelitian dengan topik yang akan diteliti secara mendalam oleh penulis. Secara umum terdapat kesamaan pola antara karya Dodi Dwi Adhilaksono dengan skripsi ini. Perbedaannya adalah objek penelitiannya yang berbeda, sehingga permasalahannya juga berbeda. Hal itulah yang menjadi perbedaan dasar di antara kedua kajian tersebut. Alasan penulis memilih tinjauan pustaka tersebut adalah untuk melihat rekonstruksi kronologi sejarah dalam dinamika tim sepak bola.
Pustaka kedua adalah buku yang berjudul “Sepak bola Tanpa Batas” karya Anung Handoko. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius pada tahun 2007 itu diedit oleh tim kerja buku tersebut. Karya itu menjelaskan bagaimana sepak bola dari perspektif sudut pandang suporter. Kelebihan dari tinjauan pustaka yang berupa buku adalah menjelaskan tentang bagaimana mendukung tim bukanlah
7
sekedar bernyanyi di tribun, melainkan dapat menjadi identitas diri, dimanfaatkan oleh politik, bahkan terjebak dalam pusaran kapitalisme global. Buku itu memosisikan suporter sebagai sekumpulan orang yang terlibat dalam suatu pengalaman kolektif. Suporter bukan hanya penonton tim sepak bola melainkan lebih jauh dari pada itu. Suporter menjadi subjek yang berperan dalam pintu pendapatan tim, identitas diri, serta gerakan penyeimbang dalam pengambilan suatu keputusan oleh manajemen tim.
Penulis berpendapat bahwa dari buku tersebut, suporterlah pemain kedua belas selama 2x45 menit jalannya pertandingan. Hal yang membedakan dari tinjauan pustaka kedua ini adalah tentang bagaimana penjelasan tentang sepak bola dari sudut pandang suporter dan bukan tentang dinamika perjalanan suatu tim sepak bola yang akan dibahas oleh penulis. Alasan digunakannya pustaka berikut adalah untuk melihat sudut pandang sepak bola dari sisi suporter yang membuat penulis memilih buku tersebut.
Pustaka ketiga adalah buku berjudul Sepenggal Perjuangan PSS karya H.
Sukidi Cokrosuwignyo. Dalam buku ini membahas mengenai awal mula sejarah perjuangan PSS. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa PSS berdiri pada tanggal 20 Mei 1976 pada saat era kepemimpinan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sleman KRT Drs. Suyoto Projosuyoto. Terdapat lima tokoh yang mendirikan PSS, mereka adalah Sudarsono KH, H. Suryo Saryono, Sugiyarto SY, Hartadi dan Subardi P.d. Selain itu, dalam buku ini juga membahas kompetisi yang diikuti oleh PSS. Diawali dari masa adaptasi kompetisi Liga Bank Mandiri tahun 2001, dilanjut dengan Liga Bank Mandiri tahun 2002, 2003, dan 2004. Kemudian, saat masuk pada periode 2004-2005, PSS memilih untuk bermain tanpa ambisi dikarenakan mulai periode ini PSSI membagi kompetisi menjadi dua wilayah.
Terjadi perubahan untuk sponsor utama yang sebelumnya adalah Bank Mandiri, menjadi PT. Djarum. Sehingga, kompetisi berubah nama menjadi Liga Djarum.
Pada kompetisi Liga Djarum 2004-2005, PSS tidak memiliki target yang muluk- muluk melainkan hanya ingin tetap bertahan pada Divisi Utama.
PSS memiliki pandangan masa depan untuk membawa PSS agar semakin berkembang. Beberapa cara yang dilakukan PSS untuk meningkatkan klubnya
8
antara lain adalah mempersiapkan pemain usia dini, meningkatkan kompetisi antar klub anggota PSS, mengisi formasi tim dengan menggunakan kemampuan putra daerah, meningkatkan kerja sama dengan sponsor, mendirikan badan usaha PSS, serta memikirkan stadion baru sebagai aset yang menjanjikan untuk kemajuan klub PSS.
Relevansi dan perbedaan dari buku tersebut bagi kepentingan penulis adalah buku ini memberikan informasi dan sumber primer dalam proses penulisan skripsi ini. Buku tersebut menginformasikan data tim sepak bola PSS beserta data tim PSS dari tahun 1979 sampai tahun 2008. Buku tersebut juga meringkas tentang kebijakan dan prestasi tim sepak bola PSS, serta sikap manajemen tim PSS dalam menjalani kompetisi Liga Indonesia secara lebih Profesional. Alasan tinjauan pustaka ini digunakan oleh penulis untuk sumber data primer sebagai acuan untuk tulisan penulis.
E. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini memerlukan pengkajian dan penelitian yang sangat mendalam.
Dalam melakukan kajiannya, peneliti menentukan kerangka pemikiran untuk membantu menganalisis objek yang diteliti.
Rekonstruksi suatu peristiwa didasarkan pada pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian yang sedang dikajinya. Suatu pendekatan sangat diperlukan untuk membatasi penelitian agar tidak melewati batasan pembahasan permasalahan penelitian. Suatu peristiwa bergantung pada pendekatan yang digunakan, karena suatu peristiwa tidak lepas dari sudut pandang yang digunakan oleh peneliti. Dengan demikian, rekonstruksi atau suatu peristiwa akan bergantung pada pendekatan yang digunakan, mencakup sudut pandang yang digunakan, dimensi-dimensi yang harus diperhatikan, dan unsur-unsur yang harus diungkapkan.8 Pendekatan yang relevan perlu dilakukan untuk membantu mempermudah usaha dalam mendekatkan realitas masa lampau dalam suatu penelitian sejarah. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
8Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1992),hlm.2.
9
pendekatan sosial budaya.9 Pendekatan sangat menentukan analisis penulis dalam mengungkap suatu permasalahan. Kita harus menggunakan kerangka teoritik untuk melihat dari segi mana kita memandangnya, pandangan mana yang diperhatikan, dan unsur apa saja yang diuraikan. Hasil-hasil pelukisannya akan sangat ditentukan oleh pendekatan mana yang dipakai.10 Penulisan skripsi yang berjudul “PSS 1976 – 2013: Perjuangan Tim Sepak Bola dari Kota Kecil”
merujuk penggunaan konsep-konsep mengenai organisasi dan manajemen.11 Organisasi sangat penting bagi aktivitas kehidupan manusia. Organisasi memegang peranan penting pada saat kita melaksanakan dan melakukan kegiatan yang tidak dapat dilakukan sebagai individu. Menurut Louis A. Allen, organisasi adalah proses penentuan dan pengelompokan pekerjaan yang akan dikerjakan, menetapkan dan melimpahkan wewenang dan tanggung jawab, dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang bekerja sama secara efektif dalam mencapai tujuan.12
Organisasi dalam skripsi ini merujuk kepada PSS sebagai organisasi yang mengurusi perkembangan sepak bola di Kota Sleman. PSS sebagai organisasi sepak bola di Kabupaten Sleman, didukung oleh manajemen yang kuat.
Manajemen yang baik memegang peranan sangat penting bagi kelangsungan kehidupan suatu tim sepak bola, termasuk PSS. Dalam hal ini, manajemenlah yang berperan untuk merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan upaya dari anggota organisasi serta penggunaan semua sumber
9Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi :Suatu Alternatif (Jakarta: Gramedia, 1982) hlm.40.
10Sartono Kartodirdjo, Pendekatan, hlm.4.
11Aip Sjarifudin dan J.Matakupan, Organisasi dan Tatalaksana Penyelenggaraan Pertandingan Olahraga (Jakarta: C.V Karya Indah, 1980), hlm 11.
12Malayu, Hasibuan, Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah, (Jakarta: Bumi aksara, 2003) hlm.5.
10
daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.13
Kota Sleman adalah salah satu Ibu Kota Kabupaten yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan demikian, Sleman bukanlah ibu kota provinsi. Kota Sleman hanyalah ibu kota kabupaten yang tidak memiliki nama besar dalam sejarah sepak bola di Indonesia. Kondisi itu sangat ironi, karena PSS yang mewakili Sleman harus berkompetisi dengan lawan-lawan yang berasal dari ibu kota provinsi atau setidaknya sudah memiliki nama besar dalam sejarah sepak bola di Indonesia. Dengan konteks itulah Sleman dianggap sebagai kota kecil, karena hanya merupakan ibu kota kabupaten dan tidak memiliki sejarah yang hebat dalam sepak bola.
F. Metode Penelitian
Penulisan skripsi ini menerapkan metode penelitian sejarah, yaitu proses menguji dan menganalisis sumber sejarah, dan merupakan alat bantu bagi sejarawan dalam melakukan analisis dan penelitiannya. Menurut Nugroho Notosusanto, metode sejarah merupakan sekumpulan prinsip dan aturan sistematis untuk memberikan bantuan bagi penelitian sejarah.14 Penulisan skripsi ini juga sesuai dengan kaidah dalam penelitian sejarah, yaitu metode sejarah kritis. Metode sejarah kritis adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lalu.15 Proses penelitian sejarah tersebut, meliputi empat langkah yaitu: Heuristik, Kritik Sumber, Interpretasi dan Historiografi.
13Muchlisin, Amir Maulana, dan Ide Sudarwanto, “Pengembangan Software Manajemen Pembinaan Prestasi Sepak bola”, Jurnal IPTEK Olahraga, volume 12, nomor 1, Januari-April 2010 (Kementrian Pemuda dan Olahraga RI) hlm.79.
14Nugroho Notosusanto, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer: Suatu Pengalaman (Jakarta: Inti Idayu Press, 1984), hlm 11-12.
15Louis Gotschalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto (Jakarta: UI Press, 1984), hlm.18.
11
Heuristik merupakan tahap mencari bahan-bahan dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah baik sumber primer maupun sumber sekunder.16 Sumber primer berupa dokumen dari manajemen tim PSS, antara lain berupa Profil Tim Sepak Bola PSS dan Profil Sejarah Singkat “Sepenggal Perjuangan PSS”, Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, Harian Kompas, Tabloid Bola serta wawancara dengan pihak terkait. Sumber sekunder berupa buku-buku dan referensi lain yang diperoleh dari perpustakaan Pusat Provinsi DIY, Perpustakaan Kota Jogja, Perpustakaan Jawa tengah, Perpustakaan Pusat Universitas Diponegoro Semarang, dan Perpustakaan Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.
Kritik merupakan tahapan kedua, meliputi kritik ekstern dan kritik intern.
Kritik ekstern dipergunakan untuk memperoleh otentisitas dokumen-dokumen atau sumber sejarah lain, sedang kritik intern untuk mendapatkan kredibilitas isi.
Penelitian ini menggunakan kritik intern dalam mengungkapkan fakta-fakta penelitiannya. Tahap ketiga adalah Interpretasi. Pada tahap ini, data yang ada dan sudah diperoleh melalui kritik sumber dianalisis dalam upaya mencari hubungan kronologis dan kausalitas fakta-fakta antarsumber tersebut.17 Dalam menghubung- hubungkan sumber yang didapatkan, peneliti mulai dari sumber koran, keterangan arsip pribadi, keterangan lisan, dan sumber sumber lainnya yang diperoleh dari manajemen tim PSS, serta pihak-pihak terkait yang dianggap memiliki informasi yang kredibel mulai disambung-sambungkan untuk menjadi sebuah penulisan sejarah. Upaya menghubung-kaitkan antarfakta sangat penting dalam penelitian sejarah. Pada dasarnya berbagai fakta sejarah yang diperoleh lepas satu sama lain harus dirangkai dan dihubungkan sehingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Tidak semua fakta sejarah itu bisa dimasukan atau dipergunakan, tetapi harus diplih mana yang relevan atau tidak dengan tujuan penelitian sejarah.
16Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta, Bentang, 1995) hlm.94.
17Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, hlm. 103.
12
Bentuk dari interpretasi yang dilakukan oleh penulis adalah menghubung kaitkan fakta yang didapat dari surat kabar, wawancara lisan, dan arsip-arsip yang relevan.
Tahapan yang terakhir adalah Historiografi atau penulisan sejarah.
Historiografi adalah tahapan terakhir dalam penulisan sejarah, yaitu pada tahapan ini penulis hanya tinggal menuliskan seluruh rangkaian yang telah terhubung melalui tahapan-tahapan sebelumnya. Tahapan atau kegiatan ini menyajikan hasil penelitian sejarah dalam bentuk tulisan yang sistematis sehingga mudah dipahami.
G. Sistematika Penulisan
Skripsi yang berjudul “PSS 1976 – 2013: Perjuangan Tim Sepak Bola dari Kota Kecil” ini penulisannya disusun dalam lima bab. Setiap bagian menitikberatkan pada permasalahan-permasalahan tertentu dan di antara bab memiliki keterkaitan hubungan, karena itu penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I merupakan Pendahuluan yang berisi latar belakang permasalahan, ruang lingkup, tujuan pembahasan, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan penggunaan sumber serta sistematika penulisan.
Bab II, merupakan bab yang berjudul PSS Sebagai Tim Perserikatan Kabupaten Sleman. Pada bagian ini dikaji tentang kondisi geografis dan demografis di Kabupaten Sleman serta kondisi sosial dan ekonomi di Sleman yang secara tidak langsung membantu berdirinya PSS. Bagian selanjutnya dibahas mengenai siapa saja yang membidani kelahiran PSS. Uraian berikutnya tentang sub-bab yang dikaji tentang struktur organisasi PSS, Stadion, dan tim internal PSS yang menjadi pendukungnya.
Bab III, merupakan bab yang berjudul tentang Kiprah Tim PSS dalam menjalani Kompetisi sepak bola Indonesia. Selain itu pula, dalam bagian subbab dalam bab ini juga diulas tentang bagaimana kiprah tim sepak bola PSS dalam mengarungi Kompetisi Liga Indonesia sampai tahun 2000an. Pada subbab bagian terakhir ini pula akan dibahas bagaimana PSS masuk dalam era kemunduran prestasi.
Bab IV, adalah bab yang berjudul Konflik PSS Serta Keikutsertaan PSS dalam Kompetisi LPI membahas tentang konflik internal PSSI pada akhir masa
13
kepemimpinan Nurdin Halid dan munculnya LPI, serta membahas memgenai PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin.
Bab V, merupakan Kesimpulan dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya yang mengulas tentang dinamika tim sepak bola PSS mengikuti Kompetisi.